Anda di halaman 1dari 27

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH DIETETIKA PENYAKIT INFEKSI DAN


DEFISIENSI
“KASUS HEPATITIS”

Disusun oleh :

Salsabila Farahdea N. (101611231003)


Kartini (101611233007)
Tia Eka Novianti (101611233008)
Amelliya Nur Heriyana (101611233011)
Anggita Rifky Setyanurlia (101611233015)
Chusnul Fadilla (101611233019)
Maghfira Alif Fadilla (101611233032)
Martha Ria Wijayanti (101611233035)
Mutiara Arsya V. W. (101611233039)
Sekarsari Nuraini (101611233040)
Fedora Ivena Thom (101611233042)
Yulianti Wulansari (101611233050)
Aprilia Durotun Nasikhah (101611233060)

PROGRAM STUDI S1 GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
BAB I
STUDI KASUS
Tn. D seorang PNS berusia 49 tahun masuk rumah sakit dengan diagnosis medis sirosis
hati dan hepatitis B. Saat MRS, Tn.D merasa lemas dan tidak bisa berdiri sehingga hanya
diukur tinggi lutut (47 cm) dan lila (24,4 cm). Saat observasi, diketahui pasien mengalami
pembengkakan perut (hepatomegaly), edema pada kaki (ekstrimitas bawah), pusing, mual,
KU lemas, dan kesadaran CM. Hasil pemeriksaan vital tekanan darag 133/82 mmHg, PR
94x/menit dan RR 20x/menit. Dalam rekam medis pasien, diketahui sebelumnya pasien
pernah mengalami asites karena gangguan liver, riwayat penyakit dahulu dyspepsia,
hipertensi (2,5 tahun yang lalu), dan gangguan liver (1 tahun yang lalu).

Sebelum didiagnosis mengalami sirosis hati, Tn.D memiliki kebiasaan makan yang
kurang beragam, jarang suka minum air putih tetapi sering mengonsumsi energy drink
(merek: Kratindeng), dan jarang mengonsumsi buah dan sayur. Ada penurunan nafsu makan selama
beberapa hari terakhir. Berikut hasil recall SMRS:

Tanggal Waktu Makan Menu URT Berat (gram)


05-09-18 Makan Malam Putih Telur 1 btr 40
(18.00) Nasi Tim ½ entong 50
Tahu Bali 1 ptg 30
Sayur Asem 1 sdk sayur 30
Pisang 1 bh 100
Air mineral 1 gls 225 ml
Makan Siang Putih Telur 1 btr 40
(13.00) Nasi Tim ½ entong 50
Tahu Bali 1 ptg 30
Sayur Asem 1 sdk sayur 30
Apel 1 bh 250
Air mineral 1 gls 225 ml
Makan Pagi Putih Telur 1 btr 40
(07.00) Nasi Tim ½ entong 50
Tahu Bali 1 ptg 30
Sayur Asem 1 sdk sayur 30
Air Mineral 1 gls 225 ml
Hasil Lab saat MRS
Data Laboratorium Nilai Nilai Normal Satuan
BUN 20 9-20 mg/dL
Albumin 2,1 3,5-5,9 g/dL
SGOT 66 3-45 mc/L
SGPT 37 0-35 mc/L
Bilirubin Direct 0,91 0-0,3 mg/dL
Bilirubin Total 1,95 0,3-1,9 mg/dL

Obat-obatan yang diberikan terdiri dari injeksi ranitidin 2 x 50 mg, injeksi omeprazole 2 x 40
mg, injeksi ondancentron 3 x 8 mg, dan furosemid 2 x 1.

Bagaimana patofisiologi penyakit Tn.D dan buatlah NCP-nya!.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum Penyakit
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B,
suatu anggota famili hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut
atau kronis yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Penyakit hati
berkaitan dengan infeksi virus banyak diderita oleh manusia di dunia. WHO
memperkirakan terdapat puluhan juta manusia di dunia terinveksi virus hepatitis per
tahunnya. WHO juga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan endemisitas
hepatitis B menengah sampai tinggi dengan prevalensi HbsAg 30-17% (WHO, 2000).
Infeksi virus hepatitis B merupakan penyebab utama hepatitis akut, hepatitis kronis,
sirosis, dan kanker hati di dunia. Pasien hepatitis B yang meninggal sekitar satu juta
setiap tahunnya. Selain itu, hepatitis B juga menyumbang 80% penyebab terjadinya
karsinoma hepatoseluler primer dan menjadi peringkat kedua sebagai penyebab
kanker setelah rokok. (Moviana, 2017). Persentase Hepatitis B tertinggi pada
kelompok umur 45- 49 tahun (11,92%), umur >60 13 tahun (10.57%) dan umur 10-14
tahun (10,02%), selanjutnya HBsAg positif pada kelompok laki-laki dan perempuan
hampir sama (9,7% dan 9,3%). Hal ini menunjukkan bahwa 1 dari 10 penduduk
Indonesia telah terinfeksi virus Hepatitis B (Kemenkes, 2012).
Hati merupakan organ tambahan di saluran cerna yang membantu proses
pencernaan dan metabolisme zat gizi. Gangguan yang terjadi pada hati berdampak
terhadap status gizi seseorang. Hal ini dikarenakan hati merupakan organ yang
penting dalam metabolisme, penyimpanan, dan distribusi zat gizi. Pada penyakit hati
baik akut maupun kronis, perlu diperhatikan pemberian gizi yang optimal, sehingga
dapat menurunkan komplikasi dan memperbaiki morbiditas dan mortalitas pada
penyakit hati. (Moviana, 2017)
2.2. Faktor Risiko Penyakit
Penularan HBV sama seperti penularan HIV yaitu melalui kontak dengan
darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi virus. Namun, HBV berpotensi 50-
100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan HIV. Cara penularan HBV bisa melalui
transfusi darah dan hemodialisis. Virus hepatitis B dapat masuk ke dalam tubuh
melalui luka/lecet pada kulit dan selaput lendir. Penularan infeksi juga dapat terjadi
melalui ibu kepada bayi sebelum persalinan (perinatal) (Glynn, dkk., 2000).
Menurut WHO (2002), terdapat beberapa kelompok yang berisiko terinfeksi
virus hepatitis B:
1. Anak yang baru lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B.
2. Anak-anak kecil di tempat perawatan anak yang tinggal di lingkungan yang
endemis.
3. Tinggal serumah atau berhubungan seksual (suami -istri) dengan penderita. Risiko
tertular untuk orang yang tinggal serumah terjadi karena menggunakan peralatan
rumah tangga yang bisa terkena darah seperti pisau cukur, sikat gigi.
4. Pekerja Kesehatan. Paparan terhadap darah secara rutin menjadi potensi utama
terjadinya penularan di kalangan kesehatan.
5. Pasien cuci darah
6. Pengguna narkoba dengan jarum suntik
7. Mereka yang menggunakan peralatan kesehatan bersama seperti pasien dokter
gigi, dan lain lain. Karena itu, seharusnya dokter menggunakan alat sekali pakai
atau mensterilkan alat setiap kali pemakaian.
8. Orang yang memberi terapi akupuntur atau orang yang menerima terapi
akupuntur.
9. Mereka yang tinggal di daerah endemis, atau seri ng bepergian ke daerah endemis
hepatits B.
10. Mereka yang berganti-ganti pasangan, dan mengetahui kondisi kesehatan
pasangan.
11. Kaum homoseksual.
2.3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi hepatitis B diantaranya :
1. Jaundice (kulit, kuku,mata berwarna kuning), urin gelap seperti teh, anoreksia,
fatigue, sakit kepala, nausea, muntah, dan demam/panas.
2. Hepatomegali dan pada beberapa mengalami splenomegali.
3. Pemeriksaan biokimia menunjukkan adanya peningkatan kadar bilirubin darah,
enzim alkaline phosphatase (ALT), dan enzim alanine transferase (AST).
Virus hepatitis B dapat bertahan 7 hari di luar tubuh. Gejala wal ketika virus
terinkubasi (60-90 hari) di butuh adalah flu-like illness, jaundice, mual, fatigue,
muntah, demam, dan bahkan seringkali tanpa gejala. (Moviana, 2017)

2.4. Patofisiologi Penyakit


Sumber : Kowalak, 2011
Peradangan hati dapat disebabkan oleh salah satunya virus hepatitis B. Selain
itu, adanya kebiasaan mengonsumsi alkohol maupun paparan toksik lainnya dapat
meningkatkan risiko penyakit hepatitis. Terjadinya infeksi menimbulkan aktivasi
neutrofil dan makrofag yang mengakibatkan hipertermi (suhu tubuh meningkat).
Peradangan hati menghambat suplai darah dan lama-kelamaan merusak sel hati
maupun empedu dan berakibat pada terjadinya retensi bilirubin. Hati yang meradang
dapat membesar atau yang sering disebut dengan hepatomegali. Volume hati yang
membesar mendesak organ intraabdominal, termasuk saluran pencernaan dan
meransang mual dan muntah sehingga mengganggu asupan zat gizi. Seringnya
muntah mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit penderita. Hepatomegali
yang menekan organ intraabdominal membuat rasa nyeri dan tidak nyaman pada
bagian perut. Pada penderita hepatitis, hipertensi porta seringkali terjadi dan berakibat
pada penumpukan cairan di perut (asites).
2.5. Tatalaksana Diet
Tatalaksana diet untuk pasien hepatitis adalah diet tinggi kalori tinggi protein
(TKTP), cukup lemak, vitamin, dan mineral dan diet DASH.
1. Diet TKTP
Diet TKTP diberikan agar pasien hepatitis mendapat cukup makanan untuk
memenuhi kebutuhan kalori dan protein yang meningkat. Umumnya kebutuhan
energi penderita penyakit infeksi lebih tinggi karena selain terjadi
hiperkatabolisme, juga terjadi malnutrisi. Kedua kondisi tersebut diperhitungkan
dalam menentukan kebutuhan energi dan protein. Oleh karena itu, rekomendasi
kebutuhan energi total untuk pasien hepatitis ditingkatkan menjadi 35- 45
kkal/kgbb.
Rekomendasi kecukupan energi untuk pasien hepatitis dengan infeksi lainnya
dilakukan melalui diet yang disesuaikan dengan peningkatan kebutuhan energi
masing- masing individu. Protein pada pasien hepatitis diberikan lebih tinggi dari
kebutuhan normal karena protein sangat diperlukan untuk mencegah/mengurangi
progresivitas terjadinya wasting otot. Asupan protein pada pasien hepatitis yang
dianggap adekuat adalah antara 1,2- 1,5 g/kg bb/hari atau 15% dari kebutuhan
energi total, yaitu kira-kira 75- 100 g/hari. Lemak dianjurkan cukup, sesuai dengan
pola makan seimbang, yaitu 25-30% . Kebutuhan energi total dengan komposisi
asam lemak jenuh (saturated fatty acid/sfa) <7%, tak jenuh ganda (polyunsaturated
fatty acid/pufa) <10% dan tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/mufa)
hingga 15%.
Makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk mudah dicerna dan porsi makanan
disesuaikan dengan kemampuan pasien mengonsumsinya. Cairan diberikan cukup,
yaitu 35 ml/kg atau 2 liter/hari kecuali pada pasien tertentu di mana diperlukan
restriksi cairan.
2. Diet DASH
DASH merupakan kependekan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension.
Diet DASH mengikuti pedoman jantung sehat untuk membatasi lemak jenuh dan
kolesterol. Diet DASH juga memperhatikan asupan natrium. Pada penderita
hepatitis, asupan natrium perlu diperhatikan berkaitan dengan terjadinya oedema
agar tidak semakin parah. DASH berfokus pada peningkatan asupan zat gizi yang
diharapkan dapar menurunkan tekanan darah, terutama mineral (seperti kalium,
kalsium, dan magnesium), protein, dan serat.
Tujuan dari diet DASH adalah :
a. Mencegah dan mengontrol tekanan darah.
b. Menurunkan kolesterol LDL, saat bersamaan dengan menurunkan
tekanan darah, dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung.
BAB III
PATOFISIOLOGI
3.1. Kerangka Patofisiologi
3.2. Penjelasan Patofisiologi
Hepatitis merupakan suatu proses nekroinflamatorik yang mengenai sel hati.
Prosesnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya yaitu virus berupa virus
hepatitis B. Kelainan sel hati yang terjadi akibat infeksi HBV disebabkan oleh reaksi sel
imun terhadap sel hepatosit yang terinfeksi HBV dengan tujuan untuk mengeliminir HBV
tersebut (Pasaribu, 2014). Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai
keluarga dengan riwayat hipertensi (Sartik, 2017). Dalam penelitian Mackenzie dkk, pada
tahun 1976 memperlihatkan bahwa sejalan dengan peningkatan tekanan darah, maka
pembuluh darah otak akan semakin menciut. Pembuluh darah otak yang menciut
(spasme) akan mengurangi aliran darah ke otak. Proses penciutan pembuluh darah
tersebut merupakan upaya tubuh dalam melindungi otak dari lonjakan tekanan darah
(Amalia, 2018).
Sirosis hati merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya
pengerasan dari hati yang akan menyebabkan penurunan fungsi hati dan bentuk hati yang
normal akan berubah disertai terjadinya penekanan pada pembuluh darah dan
terganggunya aliran darah vena porta yang akhirnya menyebabkan hipertensi portal.
Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang memetap di atas
nilai normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan resistensi terhadap aliran
darah melalui hati (Marselina, 2014). Turunnya nafsu makan tidak hanya berkaitan
dengan kesulitan mengunyah, tetapi juga peningkatan leptin di tubuh. Hal ini dikarenakan
jumlah sitokin yang tinggi dapat meransang hipotalamus untuk meningkatkan produksi
prostaglandin. Prostaglandin merangsang cortex cerebral sehingga kadar leptin meningkat
dan menekan nafsu makan (Puspita,dkk.,2016).
Minuman berenergi mengandung aspartam yang akan dimetabolisme tubuh
menjadi metanol dan aspartil fenilalanin. Metabolit tersebut akan dimetabolisme kembali
menjadi formaldehid yang dapat menimbulkan stres oksidatif dengan cara menurunkan
kadar glutation dalam tubuh sehingga sel-sel hapatosit mengalami kerusakan (Rafwiani
dan Suryani, 2018). Penderita memiliki riwayat penyakit dyspepsia sehingga kondisi
saluran pencernaan rentan mengalami gangguan. Pembesaran hati (hepatomegali) dapat
mendesak organ intraabdominal termasuk lambung dan mengakibatkan mual pada
penderita (Kowalak, 2011).
Enzim transaminase yang meliputi enzim alanine transaminase (ALT) atau serum
glutamate piruvattransferase (SGPT) dan aspartate transaminase (AST) atau serum
glutamate oxaloacetate transferase (SGOT) merupakan enzim yang berfungsi dalam
metabolisme protein dalam hati. Ketika terjadi gangguan pada hati, permeabilitas dinding
sel hati menurun dan komponen-komponen sitoplasma akan keluar sel termasuk enzim
transaminase. Oleh karena itu, tingginya kadar SGPT dan SGOT pada serum darah
seringkali berkaitan dengan penyakit hati (Rosida,2016). Hati yang membesar adalah
dampak dari sirosis hati. Hepatomegali adalah tanda klinis dari penyakit sirosis.
Pembesaran hati dapat ke atas mendesak diafragma dan ke bawah. Hati membesar sekitar
2-3 cm, dengan konsistensi lembek dan menimbulkan rasa nyeri bila ditekan (Hadi, 2002)
Pemeriksaan bilirubin untuk menilai fungsi eksresi hati di laboratorium terdiri dari
pemeriksaan bilirubin serum total, bilirubin serum direk, dan bilirubin serum indirek,
bilirubin urin dan produk turunannya seperti urobilinogen dan urobilin di urin, serta
sterkobilin dan sterkobilinogen di tinja. Apabila terdapat gangguan fungsi eksresi
bilirubin maka kadar bilirubin serum total meningkat. Kadar bilirubin serum yang
meningkat dapat menyebabkan ikterik (Sherlock, 2002 &Dufour DR, 2007). Bilirubin
berasal dari pemecahan heme akibat penghancuran sel darah merah oleh sel
retikuloendotel. Akumulasi bilirubin berlebihandi kulit, sklera, dan membran mukosa
menyebabkan warna kuning yang disebut ikterus. Kadar bilirubin lebih dari 3 mg/dL
biasanya baru dapat menyebabkan ikterus. Ikterus mengindikasikan gangguan
metabolisme bilirubin, gangguan fungsi hati, penyakit bilier, atau gabungan ketiganya
(Sherlock, dkk, 2002 & Edward RA, dkk, 2006).
Penyebab ikterus berdasarkan tempat dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu
prehepatik, hepatik dan pasca hepatik (kolestatik). Peningkatan bilirubin prehepatik
sering disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlebihan. Bilirubin tidak
terkonjugasi di darah tinggi sedangkan serum transaminasedan alkalin fosfatase normal,
di urin tidak ditemukan bilirubin. Peningkatan bilirubin akibat kelainan hepatik berkaitan
dengan penurunan kecepatan penyerapan bilirubin oleh sel hati misalnya pada sindrom
Gilbert, gangguan konjugasi bilirubin karena kekurangan atau tidak ada enzim glukoronil
transferase misalnya karena obat-obatan atau sindrom Crigler-Najjar. Enzim hati akan
meningkat sesuai penyakit yang mendasarinya, ikterus biasanya berlangsung cepat.
Peningkatan bilirubinpasca hepatik akibat kegagalan sel hati mengeluarkan bilirubin
terkonjugasi ke dalam saluran empedu karena rusaknya sel hati atau terdapat obstruksi
saluran empedu di dalam hati atau di luar hati (Sherlock, 2002; Giannini dkk, 2003 dan
Ringsrud dkk, 1995)
Albumin merupakan substansi terbesar dari protein yang dihasilkan oleh
hati.Fungsi albumin adalah mengatur tekanan onkotik, mengangkut nutrisi, hormon, asam
lemak, dan zat sampah dari tubuh.Apabila terdapat gangguan fungsi sintesis sel hati maka
kadar albumin serum akan menurun (hipoalbumin) terutama apabila terjadi lesi sel hati
yang luas dan kronik (Sherlock, dkk, 2002 & Edward RA, dkk, 2006). Ketika liver
kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk pada kaki (edema)
dan abdomen (ascites). Faktor utama asites adalah peningkatan tekanan hidrostatik pada
kapiler usus. Edema umumnya timbul setelah timbulnya asites sebagai akibat dari
hipoalbuminemia dan resistensi garam dan air (Price, 2006). Hal ini berkaitan dengan faal
hati yang terganggung oleh karna proses fibrotic pada kasus sirosis hati. Antara lain
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Gangguan pada pembentukan glukosa hasil
metabolisme monosakarida diperlukan mengakibatkan kebutuhan tubuh berkurang
sehingga timbul keluhan lemas. Cadangan energi yang berasal dari protein dan lemak
juga terganggu oleh karena gangguan produksi protein plasma dan lipoprotein serta zat
lainnya (Sudoyo, 2006, Nurdjanah, 2009 & Joel, dkk, 2006) lemas yang dirasakan oleh
pasien dapat menyebabkan pasien tidak mampu berdiri.
Antioksidan mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh
manusia karena fungsinya dapat menghambat dan menetralisir terjadinya reaksi oksidasi
yang melibatkan radikal–radikal bebas. Mekanisme hambatan dari antioksidan biasanya
terjadi pada saat reaksi-reaksi inisiasi atau propagasi pada reaksi oksidasi lemak atau
molekul lainnya di dalam tubuh dengan cara menyerap dan menetralisir radikal bebas
atau mendekomposisi peroksida (Zheng dan Wang, 2009). Netralisir ini dilakukan dengan
cara memberikan satu elektronnya sehingga menjadi senyawa yang lebih stabil atau
terjadi reaksi terminasi dan reaksi–reaksi radikal berakhir atau stres oksidatif tidak terjadi
pada sel. Disamping mencegah atau menghambat terjadinya stres oksidatif dan kerusakan
jaringan sel, antioksidan (Vitamin E) berperan penting dalam menghambat peningkatan
produksi sitokin seperti interleukin-6 (Il-6) atau Tumor Necrosis Factor (TNF-α) yang
merupakan sitokin proinflamasi atau peradangan. Sirosis pancanekrotik adalah salah satu
pola khas yang terjadi pada kasus sirosis hati. Sirosis ini yang terjadi setelah nekrosis
berbecak atau tampak pada jaringan hati. Hepatosit yang ada dikelilingi dan terpisah oleh
jaringan parut. Sekitar 25%-70% memiliki hasil HBsAG yang positif sehingga
menunjukkan hepatis kronis. Ciri dari sirosis ini adalah terlihat faktor predisposisi
timbulnya neoplasma hati primer (Nurjanah, 2007). Enzim GALT memiliki fungsi
bimolekuler. Terlebih dahulu mengubah UDP-glukosa menjadi galaktosa. Ketika aktivitas
enzim GALT tidak mencukupi, gal-1-p, galaktosa dan terjadi penumpukan galaktitol.
Akibatnya, terjadi galaktosemia (Restuningwiyani, 2012).
BAB IV
NUTRITION CARE PROSES
4.1 Identitas Pasien
Nama : Tn. D No RM :-
Umur : 49 tahun Ruang :-
Tgl Kasus :-
Sex : Laki-laki
Alamat :-
Pekerjaan : PNS Diagnosis medis : sirosis hati dan
Pendidikan :- hepatitis B
Agama :-

4.2 Assessment
Food History
Kode/Indikator Hasil Assesment Nilai Standard Kesimpulan
FH-1.1.Asupan Zat FH-1.1.1 Asupan energi yang Asupan energi
Gizi (kuantitatif) Asupan energi rendah dianjurkan sebesar kurang dari yang
(704,7 kkal / 30,63%) 2300 kkal dianjurkan
FH-1.5.1 Asupan lemak Asupan lemak
yang dianjurkan kurang dari yang
Asupan lemak rendah
sebesar dianjurkan
(22,5 gram /
79,95 gr
28,14%)
FH-1.5.2 Asupan protein Asupan protein
yang dianjurkan kurang dari yang
Asupan protein
sebesar dianjurkan
rendah (26 gram /
63,1 gr
41,2%)
FH-1.5.3 Asupan karbohidrat Asupan
yang dianjurkan karbohidrat kurang
Asupan
sebesar 346,2 gr dari yang
Karbohidrat
dianjurkan
Rendah(107,8
gram /31,13%)
FH – 1.6.1 Asupan Na yang Asupan Na
Asupan Na (1172,5 mg dianjurkan sebesar tercukupi
/ 97,7%) 1200 mg
FH – 1.6.1 Asupan K yang Asupan K kurang
Asupan K (968,2 mg / dianjurkan sebesar dari yang
20,6%) 4700 mg dianjurkan
FH – 1.6.2 Asupan vitamin C Asupan vitamin C
Asupan vitamin C yang dianjurkan kurang dari yang
(35,7 mg / 39,6%) sebesar 90 mg dianjurkan
FH – 1.6.2. Asupan vitamin E Asupan vitamin E
Asupan vitamin E yang dianjurkan 15 kurang dari yang
rendah mg dianjurkan
(4,3 mg / 28,7%)
FH-5.4 Pola Makan Konsumsi jenis bahan
makanan kurang
beragam
Jarang minum air putih
Sering mengkonsumsi
energy drink merk
kratindeng
Jarang mengonsumsi
buah dan sayur
Nafsu makan menurun
dalam beberapa hari
terakhir
FH-3.1 Konsumsi Injeksi ranitidin 2x50 Untuk dewasa Sesuai
Obat mg dispepsia 50 mg/6-8
jam
injeksi omeprazole Untuk dewasa 20-40 Berlebihan
2x40 mg mg/hari
injeksi ondancentron 32 mg/hari Sesuai
3x8 mg
furosemid 2x1 Diberikan 1-2 Sesuai
kali/hari
Kesimpulan Domain Food History: Pasien kekurangan asupan gizi mikro dan gizi
makro

Antropometri
Kode/Indikator Hasil Assesment Nilai Standard Kesimpulan
AD-1.1.1 – TB 157,17 cm (estimasi)
AD-1.1.2 – BB 53,3 kg (estimasi) BB = 48,6 kg BB Normal
AD-1.1.7 – LILA 24,4 cm 29,3 cm Rendah
Tinggi Lutut 47 cm
Kesimpulan Domain Antropometri: Pasien terkategori memiliki status gizi rendah
berdasarkan LILA

Biokimia
Kode/Indikator Hasil Assesment Nilai Standard Kesimpulan
BD-1.2.1 BUN 20 mg/dL 9-20 mg/dL Normal
BD-1.11.1 Albumin 2,1 g/dL 3,5-5,9 g/dL Rendah
SGOT 66 mc/L 3-45 mc/L Tinggi
SGPT 37 mc/L 0-35 mc/L Tinggi
BD-1.4.6 Bilirubin 0,91 mg/dL 0-0,3 mg/dL Tinggi
Direct
BD-1.4.6 Bilirubin 1,95 mg/dL 0,3-1,9 mg/dL Tinggi
Total
Kesimpulan Domain Biokimia: Pasien mengalami gangguan fungsi hati

Fisik/Klinis
Kode/Indikator Hasil Assesment Nilai Standard Kesimpulan
PD-1.1.4 Lemas Pasien dapat
Kondisi Fisik beraktifitas dengan
baik
PD-1.1.5 Mual Mual Pasien tidak merasa
mual
PD-1.1.7 Pusing Tidak merasa pusing
PD-1.1.9 TD 133/82 mm/Hg 130-140/85 mmHg Hipertensi stage I
Tekanan Darah
PD-1.1.9 PR 94x / mnt 80-100x /mnt Normal
Pulmonary Rate
PD-1.1.9 RR 20x/ mnt 12-20x /mnt Normal
Respiratory
Rate
Edema Tidak terdapat edema
Hepatomegali Tidak terdapat
pembesaran hati
Kesadaran CM
Kesimpulan Domain Fisik/Klinis: pasien menunjukkan adanya gejala kerusakan
fungsi hati

4.3 Diagnosis
Kode Diagnosis
Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (P)
berkaitan dengan sirosis hati (E)
NC 2.2 ditandai dengan hasil laboratorium SGPT 37 mc/L, SGOT 66 mc/L,
bilirubin direct 0,91 mg/dL, bilirubin total 1,95 mg/dL, albumin 2,1 g/dL,
edema di kaki, dan riwayat asites(S).
Asupan oral tidak cukup (P)
berkaitan dengan penurunan kemampuan dalam mengonsumsi energi yang
cukup karena sirosis hati, hepatitis B dan gangguan saluran pencernaan(E)
NI 2.1
ditandai dengan mual, penurunan nafsu makan dan hasil recall asupan
energi 30,56%, protein 30,7%, karbohidrat 31%, Vitamin C 39,6%,
Natrium, Kalium (S).
Keterbatasan penerimaan makanan (P)
Berkaitan dengan gangguan saluran pencernaan (riwayat dyspepsia) dan
pembatasan terhadap makanan/minuman tertentu(E)
NI 2.9
Ditandai dengan konsumsi jenis bahan makanan kurang beragam, jarang
konsumsi air putih tetapi sering mengkonsumsi energy drink merk
kratindeng (S)
Peningkatan kebutuhan lemak MCT dan asam amino BCAA (P)
NI 5.1 Berkaitan dengan penurunan kemampuan organ hati (E)
Ditandai dengan penyakit hepatitis dan sirosis hati (S)
Penurunan kebutuhan cairan dan natrium (P)
Berkaitan dengan penyakit hati yang didiagnosis membutuhkan pembatasan
NI 5.4
natrium (E)
Ditandai dengan edema (S)

4.4 Intervensi
Tujuan:
Jangka Pendek :
1. Memenuhi kebutuhan gizi harian pasien
2. Meningkatkan sistem imun
Jangka Panjang :
1. Mencegah kerusakan hati lebih lanjut dan memperbaiki jaringan hati yang rusak
2. Menurunkan tekanan darah
3. Mengurangi edema kaki, pusing, mual, dan lemas.
Prinsip Diet:
TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dan Diet DASH (rendah garam)
Syarat Diet :
1. Energi diberikan dalam 3 kali makan dan 2 kali selingan, dihitung dengan
menggunakan Harris Benedict dengan memperhitungkan aktifitas fisik dan faktor
stress sebesar 2272,9 kkal ~ 2300kkal
2. Protein diberikan sebesar319,8 kkal atau setara dengan 79,95 gram utamanya
BCAA (branched chain amino acid)
3. Lemak diberikan sebesar 568,22 kkal atau setara dengan 63,1 gram utamanya MCT
(medium chain tryglicerides)
4. Karbohidrat diberikan sebesar 1384,8 kkal atau setara dengan 346,2 gram
5. Natrium diberikan sebesar 1200 mg
6. Kalium diberikan sebesar 4700 mg
7. Vitamin C diberikan sebesar 90 mg
8. Vitamin E diberikan sebesar 15 mg
Tahap I Tahap II Tahap III
Energi = 1363,8 kkal Energi = 1818,4 kkal (80%) Energi = 2272,9 kkal
(60%) ~ 1400 kkal ~ 1800 kkal (100%) ~ 2300 kkal
Protein (1,5 g/kgBB) = Protein (1,5 g/kgBB) = Protein (1,5 g/kgBB) =
47,97 gram ~ 48 gr 63,96 gram ~ 64 gr 79,95 gram ~ 80 gr
Lemak (25% E) = 37,88 Lemak (25% E) = 50,5 Lemak (25% E) = 63,1
gram ~ 38 gr gram ~ 50 gr gram ~ 63 gr
Karbohidrat (60% E) = Karbohidrat (60% E) = Karbohidrat (57% E) =
204,57 gram ~ 205 gr 272,76 gram ~ 273 gr 346,2 gram ~ 346 gr
Natrium = 1200 mg Natrium = 1200 mg Natrium = 1200 mg
Kalium = 4700 mg Kalium = 4700 mg Kalium = 4700 mg
Vitamin C = 90 mg Vitamin C = 90 mg Vitamin C = 90 mg
Vitamin E = 15 mg Vitamin E = 15 mg Vitamin E = 15 mg
Perhitungan Kebutuhan :
TB (Cumlea) = 64,19 – (0,04 x U) + (2,02 x TL)
= 64,19 – (0,04 x 49) + (2,02 x 47)
= 64,19– 1,96 + 94,94
= 157,17 cm (estimasi)

BB (estimasi) = (0,826 x TL) + (2,116 x LILA) – (U x 0,113) – 31,486


= (0,826 x 47) + (2,116 x 24,4) – (49 x 0,113) – 31,486
= 38,8 + 51,6 – 5,537 – 31,486
= 53,3 kg

AMB = 66 + (13,7 x BB) + (5 + TB) – (6,8 x U)


= 66 + (13,7 x 53,3) + (5 + 157,17) – (6,8 x 49)
= 66 + (730,21) + (785,85) – (333,2)
= 1248,86

Energi = AMB x AF x Faktor Stress


= 1248,86 x 1,3 x 1,4
= 2272,9 kkal ~ 2300 kkal

Protein= 1,2 – 1,5gr/BB


= 1,5 x 53,3
= 79,95 gr = 319,8 kkal (13%) ~ 80 gr

Lemak= 25% x E
= 25% x 2272,9
= 568,22 kkal = 63,1 gr ~ 63 gr

Karbohidrat = E - (P+L)
= 2272,9 – (319,8 + 568,22)
= 1384,8 kkal
= 346,2 gr (60%) ~ 350 gr

Vitamin C = 90 mg
Vitamin E = 15 mg
Natrium = 1200 mg
Kalium = 4700 mcg
Jenis Diet, Bentuk
Cara Pemberian Frekuensi
Makanan
Jenis diet : makanan Oral dan bertahap sebanyak 3 tahap Diberikan 3x
tinggi Kalori dan tinggi hingga mencapai kebutuhan kalori makan utama
protein, rendah garam yang dianjurkan, yaitu 2272,9 kkal dan 2x makanan
Bentuk makanan: 2 hari -Hari ke-1 (60%) = 1363,8 kkal selingan
pertama makanan lunak, -Hari ke-2 (80%) = 1818,4 kkal
dan hari ke 4-6 makanan -Hari ke-3 s/d 6 (100%) = 2272,9 kkal
biasa

4.5 Pangan Fungsional


Sumber Zat Bioaktif Kegunaan
Bahan
Makanan
Strawbery, anthocyanin dan Antioksidan, melindungi tubuh dari
Rasbery polyphenols bahaya radikal bebas.
Yogurt Probiotik, peptida, Anti kanker, sistem kekebalan, anti inflamasi
laktoferin
Jeruk Flavonoid, Vitamin C, Sebagai antioksidan yang dapat bereaksi
beta-karoten,dan asam dengan radikal bebas. Dan asam folat
folat, pektin berperan dalam metabolisme sebagai
koenzim yang mentransfer fragmen karbon
tunggal dari satu senyawa ke senyawa yang
lain.
Kefir peptida dan Dapat meningkatkan respons imun melalui
eksopolisakarida stimulasi sekresi IL-10 secara in vitro. Kefir
juga memiliki fungsi imunomodulator, yaitu
adalah memperbaiki sistem imun yaitu
dengan cara stimulasi (imunostimulan) atau
menekan/ menormalkan reaksi imun yang
abnormal (imunosupresan).
Imunomodulator terutama dibutuhkan untuk
kondisi dimana status sistem imun akan
mempengaruhi kondisi pasien dan
penyebaran penyakit, seperti pada kasus
terapi ajuvan yang melibatkan infeksi bakteri,
fungi atau virus (Tjandrawinata etal., 2005)
Bekatul karbohidrat, protein, Antioksidan, menurunkan kadar kolesterol
mineral, lemak, vitamin dalam darah, mencegah terjadinya kanker,
B kompleks (B1, B2, memperlancar sekresi hormonal, dan
B3, B5, B6, dan B15), memperlancar proses metabolisme dalam
komponen - komponen tubuh. (Taurita,2017)
bioaktif termasuk
nitrilosid, dan serat.

Rumput laut Fenolik (florotanin, Sebagai antioksidan untuk menangkap radikal


flafonoid), fukosantin dan bebas, menetralkan radikal bebas pada tubuh
β- karoten manusia
4.6 Perencanaan Menu
4.7 Interaksi Makanan dan Obat
Interaksi dengan
Nama Obat Dosis Kegunaan
Makanan
Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg Mengurangi produksi Mengurangi
asam lambung yang penyerapan vitamin
berlebih. Produksi B12 (Pakar Gizi
asam lambung yang Indonesia, 2017).
berlebih akan
mengakibatkan perut
terasa perih ataupun
mual, dengan adanya
antagonis H2 akan
mengurangi produksi
asam lambung yang
berlebih (Hadi, 2013)
Injeksi Omeprazole 2 x 40 mg Memblokir kerja dari Mengganggu
enzim K+H+ATP ase penyerapan kalsium,
yang akan memecah besi, zink, asam folat
K+H+ATP ase dan beta karoten
sehingga akibat efek samping
menghasilkan energi obat berupa
yang digunakan peningkatan pH
untuk mengeluarkan lambung (Pakar Gizi
asam HCl dari sel Indonesia, 2017).
parietal ke lumen
lambung (Finkel et
al., 2009).
Injeksi Ondansetron 3 x8 mg Ondansetron Boleh dapat
merupakan obat dikonsumsi dengan
selektif terhadap atau tanpa makanan
reseptor antagonis 5-
Hidroksi-Triptamin
(5-HT3) di otak dan
mungkin juga pada
aferen vagal saluran
cerna. Di mana
selektif dan
kompetitif untuk
mencegah mual dan
muntah setelah
operasi dan
radioterapi.
Interaksi dengan
Nama Obat Dosis Kegunaan
Makanan
Ondansetron
memblok reseptor di
gastrointestinal dan
area postrema di
CNS (Philip et al.,
2002).
Furosemid 2x1 Terapi furosemid Meningkatkan
bertujuan untuk ekskresi kalium,
mengurangi edema magnesium, natrium,
pada pasien (Depkes klorida dan kalsium
RI, 2007). sehingga pasien perlu
tambahan suplemen
bagi yang
menggunakan dalam
waktu lama, dosis
tinggi, diet buruk ;
kadar elektrolit darah
harus dimonitor.

4.8 Edukasi
Tujuan:
(E - 1.1) Memberikan pengetahuan terkait konsumsi makanan untuk pemenuhan kebutuhan
kalori dan makanan yang lebih bervariasi
Materi :
1. Pentingnya konsumsi makanan beragam
2. Pentingnya konsumsi sayur dan buah
3. Sumber makanan rendah garam dan lemak jenuh
Media: Poster, Leaflet
Sasaran: Tuan D dan Keluarga
Metode, Durasi:
Waktu Materi Tempat Durasi Metode
Minggu ke-1 Pentingnya konsumsi Poli Gizi 30 menit Ceramah
makanan beragam
Minggu ke-2 -Pentingnya konsumsi Poli Gizi 45 menit Ceramah
sayur dan buah
-Sumber makanan
rendah garam dan lemak
jenuh
4.9 Monitoring dan Evaluasi
Parameter Waktu Metode Target Pencapaian
Peningkatan Albumin 1 minggu Rekam medis Peningkatan Albumin hingga
mencapai batas normal (3.5-
5.9 g/dL)
Penurunan SGOT 1 minggu Rekam medis Penurunan SGOT hingga
mencapai nilai normal (3-45
mc/L)
Penurunan SGPT 1 minggu Rekam medis Penurunan SGPT hingga
mencapai batas normal (3-45
mc/L)
Penurunan Bilirubin 1 minggu Rekam medis Penurunan Bilirubin Direct
Direct hingga mencapai batas normal
(0-0.3 mg/dL)
Penurunan Bilirubin 1 minggu Rekam medis
Penurunan Bilirubin Total
Total
hingga mencapai batas normal
(0.3-1.9 mg/dL)
Mual Setiap hari wawancara
Tidak terdapat gejala mual
Lemas Setiap hari wawancara Pasien tidak mengalami
lemas
Fisik/Klinis

Pusing Setiap hari wawancara Tidak terdapat gejala


pusing
Edema Setiap hari Palpasi
Tidak terdapat edema

Hepatomegali Setiap hari wawancara Tidak ada rasa nyeri di


perut bagian atas.
Asupan Energi Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
Food History

energi dengan pemberian


bertahap
hingga mencapai 2300 kkal
Asupan Protein Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
protein dengan
pemberian bertahap
hingga mencapai 319.8 kkal
atau 80 gram
Asupan Lemak Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
lemak dengan pemberian
bertahap
hingga mencapai 568 kkal atau
63 gram
Asupan Karbohidrat Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
karbohidrat dengan
pemberian bertahap
hingga mencapai 1384 kkal
atau 346.2 gram
Asupan Natrium Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
Natrium dengan
pemberian bertahap
hingga mencapai 1200 mg
Asupan Kalium Setiap hari Food Recall Peningkatan asupan
Natrium dengan
pemberian bertahap
hingga mencapai 4700 mg
Asupan Vitamin C Setiap hari Food recall Pemberian vitamin C
secara bertahap hingga
mencapai 90 mg
Asupan Vitamin E Setiap hari Food recall Pemberian vitamin E
secara bertahap hingga
mencapai 15 mg
Asupan Lemak Jenuh Setiap hari Food recall Pemberian lemak jenuh
tidak lebih dari <7% total
energi yaitu 161 kkal atau
17.8 gram
DAFTAR PUSTAKA
Dufour DR. 2006. Liver disease. In:Carl AB, Edward RA, David EB editors. Clinical
chemistry and molecular diagnostics. Fourth ed. Missouri: Elsevier saunders; p 1777-
1827
Giannini EG, Roberto T, Vincenzo S. Liver enzyme alteration : guide for clinicians. Postgrad
Med J. 2003;79:307312.
Glynn SA, Kleinmann SH, Schreiber GB. 2000. Trands in incidence and prevalence of major
transfusion-transmissible viral infection in US blood donors. The Retrovirus
Epidemiology Donor Study (REDS). JAMA; 284: 229-53
Hadi, S. 2002. Gastroenterologi. Bandung: Penerbit Alumni Bandung
Joel, J. Maryann, Sherbondy. 2006. Cirrhosis and Chronic Liver Failure: Part II.
Complications and Treatment. (Online), (http://www.aafp.org/afp/ 20060901/767.html,
diakses 15 Desember 2008).
Kemenkes RI. 2012. Pedoman Pengendalian Virus Hepatitis. Jakarta : Bakti Husada
Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Hal 363. Jakarta: EGC.
Lawrence, M. 2007. Current Medical Diagnosis & Treatment, forty-sixth edition. McGraw-
Hill/Appleton & Lange. P 1440-1441.
Moviana, Yenny. 2017. Dietetika Penyakit Infeksi. Jakarta : Pusat Pendidikan Sumber Daya
Manusia Kesehatan, p 228-233
Mustofa S, Kurniawaty E. 2013. Manajemen gangguan saluran serna : Panduan bagi dokter
umum. Bandar Lampung: Aura Printing & Publishing. hlm.272-7
Nawaly, Hermanus,dkk. Senyawa Bioaktif Dari Rumput Laut Sebagai Antioksidan.
Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Diponegoro
Nurdjanah Siti. 2009. Sirosis Hati. Buku Ajar Penyakit Dalam, Edisi ke 5, Jilid I. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.p. 668-673
Pasaribu, Donna Mesina R. 2014. Patogenesis Virus Hepatitis B. Alamat Web :
http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.php/Ked/article/viewFile/871/862
Puspita, Elsa, Erwin Christianto, Indra Yovi. 2016. Gambaran status gizi pada pasien
tuberkulosis paru (tb paru) yang menjalani rawat jalan di rsud arifin achmad pekanbaru.
JOM FK; 3(2)
Price S.A. 2006 Patofisiologi konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi VI. Jakarta: EGC.
Rafwiani, Zakiya, dan Des Suryani. 2018. Minuman Berenergi Mengandung Aspartam
Merusak Hepar Tikus Jantan (Rattus Norvegicus L.). Anatomica Medical Journal Vol.
1(1).
Restuningwiyani, Sintha. 2012. Gangguan Metabolisme Karbohidrat Galaktosemia. Malang :
Universitas Brawijaya.

Rosida, Azma. 2016. Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati. Berkala Kedokteran, 12(1):
123-131.
Ringsrud KM, Linne JJ. Urinalysis and body fluids. Boston: Mosby; 1995. p. 6580.
Sartik, RM. Suryadi Tjekyan, M. Zulkarnain. 2017. Faktor-Faktor Risiko dan Angka
Kejadian Hipertensi pada Penduduk Palembang. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat 8
(3) : 180-191.
Setiawan, Poernomo Budi. 2007. Sirosis hati. Buku Ajar Penyakit Dalam. Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. P. 129-136
Sherlock S, Dooley J. 2002. Diseases of the liver and biliary system.United State of
America: Blackwell publishing
Sudoyo, Aru W, et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ke 4, jilid I. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Tuarita, Mirna Zena. 2017. Pengembangan Bekatul Sebagai Pangan Fungsional: Peluang,
Hambatan, Dan Tantangan. Bogor : Institut Pertanian Bogor
World Health Organization. 2000. Fact Sheet WHO.
Xu, H.C. and Wang, M.Y. 2014. Effect of flavonoid from Lotus (Nelumbo nuficera Gaertn)
leaf on biochemical parameters related to oxidative stress induced by exhaustive
swimming exercise of mice. Biomedical Research. 25 (1) : 1-5. China