Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

MATA KULIAH EKOLOGI


“ PENGAMATAN EKOSISTEM PANTAI DAN PEKARANGAN”

DISUSUN OLEH :

1. Olivia Maharani (P07133116041)


2. Anis Dwi Kurniawati (P07133116042)
3. Diah Ayu Monika (P07133116043)
4. Yuyun Mualifah (P07133116044)
5. Avita Ayunda Putri (P07133116045)
6. Erny Setyowati (P07133116046)
7. Mia Wulandari (P07133116047)
8. Mailola Anli Kusumadewi (P07133116048)

I REGULER B

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA


JURUSAN D III - KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
LAPORAN PENGAMATAN

EKOSISTEM PANTAI DAN PEKARANGAN

I. HARI, TANGGAL

Hari : Selasa

Tanggal : 12 Oktober 2016

Tempat : Pantai dan Pekarangan

II. MATERI

Ekosistem merupakan penggabungan dari unit biosistem yang melibatkan hubungan


interaksi timbal balik antara organisme serta lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju
struktur biotik tertentu sehingga terjadi siklus materi antara organisme dan anorganisme.
Dalam suatu ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang secara bersama-sama
dengan lingkungan fisik. Organisme tersebut akan beradaptasi dengan lingkungan fisik dan
sebaliknya organisme juga dapat memengaruhi lingkungan fisik yang digunakan untuk
keperluan hidup.

III. PENDAHULUAN

A. Tujuan
1. Untuk mengetahui aliran energi yang terjadi pada ekosistem pekarangan
2. Untuk mengetahui rantai makanan atau jarring-jaring makanan pada ekosistem
pekarangan
3. Untuk mengetahui komponen biotik penyusun ekosistem pekarangan
4. Untuk mengetahui komponen abiotik penyusun ekosistem pekarangan
5. Untuk mengetahui interaksi antar komponen-komponen penyusun ekosistem pekarangan.
B. Dasar Teori
(1). Komponen Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimiayang
merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat
hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen
abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi
distribusi organisme, yaitu:

1. Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggasmembutuhkan energi


untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2. Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun
beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3. Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme
melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan
dengan kandungan garam tinggi.
4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi prosesfotosintesis. Air
dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar
permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar
membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan
komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan
sumber makanannya di tanah.
6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim
makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam
suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

(2). Komponen Biotik

Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup
(organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem
selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

1. Produsen
Produsen adalah makhluk hidup yang mampu mengubah zat anorganik menjadi zat
organik (organisme autotrof). Proses tersebut hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan
yang berklorofil dengan cara fotosintesis. Contoh produsen
adalah alga, lumut dan tumbuhan hijau.
1. Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-
bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen
heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan
berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur,
dan mikroba.
2. Pengurai / dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang
berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof)
karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap
sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana
yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai
adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan
pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu.

Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu :

a. Aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan


b. Anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron
/oksidan
c. Fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai
penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat
dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang
teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini
terdiri dari ikansebagai komponen heterotrof, tumbuhan air
sebagai komponen autotrof,plankton yang terapung di air sebagai
komponen pengurai, sedangkan yang termasuk
komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan
oksigen yang terlarut dalam air.

Menurut Herti Maryani (1991) Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui :

1. Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan
dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat
trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat
makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau
sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan
pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen
primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap
pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan
hilang.
2. Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu
sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring
makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis
makhluk hidup lainnya.
3. Antar komponen biotik dan abiotik, Ketergantungan antara komponen biotik dan
abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti: sikluskarbon, siklus air,
siklus nitrogen, siklus sulfur.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengamatan ini yaitu:

1) Kertas
2) pensil,
3) penggaris/pengukur meteran.

IV. CARA KERJA


1) Cari lokasi pekarangan yang sesuai
2) Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung
3) Hasil observasi dikelompokkan tingkatan trofiknya berdasarkan konsep pyramid
4) Dari tabulasi data, lalu dianalisis dan dibuat rantai makanan dan jarring-jaring makanan.

V. HASIL PENGAMATAN

Lokasi : Pekarangan
1. Tabel Data Komponen Biotik

No Tumbuhan Jumlah

1 Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) 3

2 Keladi hias (Caladium Sp) 2

3 Bungan Asoka (Saraca indica) 1

4 Aglonema 2

5 Rumput (Cyperus rotundus L) Banyak

6 Lumut (Bryophyta) Banyak

7 Palm kipas (Livistona Sp) 1

8 Rambutan (Nephelium lappaceum) 1

9 Bunga pacar (Impatiens balsamina) 1

10 Tumbuhan Biji
No Hewan Jumlah

1 Cacing (Lumbricus terrestris) 2

2 Semut (Hymenoptera Sp) Banyak

3 Belalang (Atractomorpha crenulata) 2

4 Tikus (Mus musculus) 1

5 Kucing (Felis silvestris) 2

6 Lebah (Apis) Banyak

7 Capung (Neurothemis Sp) 1

8 Ayam (Gallus gallus) 1

9 Kupu-kupu (Appias libythea) 2

10 Ulat bulu (Lymantridae) 2

11 Kadal Banyak

12 Burung (Prinia familiaris) 2

2. Tabel Data Komponen Abiotik

No Komponen abiotik Jumlah

1 Air Banyak

2 pH Tanah Cukup

3 Suhu dan kelembaban Cukup

4 Intensitas cahaya Terang

5 Batu Banyak

6 Temperatur Cukup
3. Rantai Makanan

Rumput Belalang Katak

Tubuhan biji Tikus Anjing/Kucing

Bunga Kupu-Kupu Capung Katak

Bunga Kupu-kupu/Lalat Burung

Bunga lalat capung Katak


4. Jaring-Jaring Makanan

Lokasi : Pantai
1. Tabel Data Komponen Biotik

No Tumbuhan Jumlah

1 Zooplankton Banyak

2 Rumput laut Banyak

3 Pohon Waru 12

4 Pohon kelapa 7

5 Rumput (Cyperus rotundus L) Banyak

6 Lumut (Bryophyta) Banyak

7 Alga merah Banyak

8 Tumbuhan karang Banyak

9 Alga hijau Banyak


No Hewan Jumlah

1 Lobster 9

2 Burung 6

3 Kerang 2

4 Siput 3

5 Kelomang 5

6 Kepiting 4

7 Teripang 5

8 Bulu babi 2

9 Ikan kecil Banyak

10 Ikan besar Banyak

11 Udang Banyak

12 Ular ularan 2

13 Bintang laut 3

2. Tabel Data Komponen Abiotik

No Komponen abiotik Jumlah

1 Air Banyak

2 pH Tanah Cukup

3 Suhu dan kelembaban Cukup

4 Intensitas cahaya Terang

5 Batu Banyak

6 Temperatur Cukup
3. Rantai Makanan

Udang Ikan besar

Kerang Kepiting Burung

Burung

Kerang Lobster
4. Jaring-Jaring Makanan
VII. PEMBAHASAN
A. Analisis Data Komponen Abiotik
Berikut ini adalah komponen abiotik ekosistem pekarangan:
1. Suhu dan Kelembaban
Suhu merupakan faktor pembatas bagi makhluk hidup, karena berpengaruh terhadap
reaksi-reaksi enzimatis tubuh. Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan
syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Umumnya makhluk hidup bertahan pada suhu
4-45°C. Suhu < 4°C, reaksi enzimatis berlangsug sangat lambat. Suhu>45°C, enzim-enzim
mengalami denaturasi sehingga menyebabkan kematian (Fitter, 1991). Pada praktikum yang
kami laksanakan, suhu di pekarangan dan pantai sedang karena praktikum dilaksanakan pada
pagi hari dengan cuaca cerah.
2. Intensitas Cahaya
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena cahaya matahari berperan
dalam menaikkan suhu lingkungan. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang
dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Banyaknya cahaya yang
mencapai permukaan bumi ditentukan oleh lintang geografinya, selain itu juga dipengaruhi
oleh ada tidaknya penghalang cahaya. Intensitas cahaya pada saat praktikum dilaksanakan
cukup bagus karena pekarangan berada didepan rumah dan letak pemukiman tidak terlalu
padat sehingga cahaya matahari tidak terhalang dan bisa masuk dengan baik, begitu pula
dengan pantai sehingga apabila suatu daerah memiliki intensitas cahaya yang cukup,
tumbuhan tersebut akan tumbuh dengan baik (Fitter, 1991).
3. pH Tanah
Tanah yang baik untuk tempat tumbuh tanaman memiliki pH 5,0-8,0 dan pH sangat
berpengaruh langsung pada pertumbuhan akar. pH tanah diekosistem pekarangan yang saya
amati cocok dengan tumbuhan yang ada karena tumbuhan yang ada tumbuh dengan subur
(Istamar, 1997).

4. Temperatur
Menurut Mackenzie, et all (1998) bahwa salah satu hal yang menyebabkan temperatur
udara disuatu tempat meningkat adalah karena adanya peningkatan intensitas cahaya.
Dalam pengamatan yang telah dilakukan mempunyai temperatur normal karena intensitas
cahaya di pekarangan dan pantai tersebut juga cukup bagus, dalam arti tidak terlalu tinggi
yang tidak terlalu rendah.

B. Analisis Tingkatan Trofik dengan Konsep Piramid


Produsen > Konsumen I > Konsumen II > Konsumen III > Pengurai
Tingkat tropik pertama yaitu produsen ditempati oleh rumput dan tumbuhan lain yang
bersifat produsen (tumbuhan/rumput/bunga/algae/zooplankton). Konsumen tingkat I
(belalang, ulat, ikan kecil, udang), konsumen tingkat II ( ikan besar, kepiting, kerang,katak,
capung), konsumen tingkat III (burung, anjing, lobster, ikan besar), konsumen tingkat IV
manusia dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik
utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga,
dan seterusnya. Jumlah produsen selalu lebih banyak dari pada konsumen dengan tujuan
untuk menjadikannya sebagai keseimbangan sebuah ekosistem. Jika salah satu konsumen
lebih banyak dari pada produsen, maka akan menimbulkan ketidak seimbangan ekosistem itu
sendiri. Seperti halnya apabila jumlah populasi belalang lebih banyak dari pada rumput maka
akan mengakibatkan jumlah rumput akan semakin berkurang, dan apabila jumlah rumput
berkurang, populasi belalang sebagai pemakan rumput itu sendiri juga akan berkurang, dan
seterusnya.

C. Analisis Rantai Makanan


Rantai makanan merupakan proses aliran energi melalui memakan dan dimakan antar
organisme yang berlangsung secara teratur dan membentuk suatu garis tertentu. Misal:
Rumput-Ulat-Burung-Manusia. Tumbuhan atau rumput dimakan ulat. Ulat dimakan burung,
burung dimakan manusia. Akhirnya manusia mati diuraikan oleh dekomposer atau pengurai.
Dari rantai makanan tersebut tumbuhan merupakan produsen, ulat disebut konsumen tingkat
I, burung sebagai konsumen tingkat II. Manusia sebagai konsumen tingkat III dan sebagai
konsumen tingkat IV, berkedudukan sebagai konsumen puncak (merupakan konsumen yang
tidak dimakan lagi oleh konsumen lain). Peristiwa di atas disebut rantai makanan dengan
urutan tertentu, yaitu produsen → konsumen tingkat I → konsumen tingkat II → konsumen
tingkat III → konsumen tingkat IV. Pada rantai makanan terjadi perpindahan zat makanan
dari sumbernya, yaitu tumbuhan melalui sederetan makhluk hidup tertentu dengan cara
makan dan dimakan. Rantai makanan tidak terpisah satu sama lainnya, tetapi saling
berkaitan.

D. Analisis Jaring-jaring Makanan


Jaring-jaring makanan adalah kumpulan dari rantai makanan yang saling berhubungan
dan membentuk skema mirip jaring. Kelangsungan hidup organisme membutuhkan energi
dari bahan organik yang dimakan. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur
kimia transfer dari satu organisme ke organisme lain berlangsung melalui interaksi makan
dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem
membentuk struktur trofik yang bertingkat-tingkat. Setiap tingkat trofik merupakan kumpulan
berbagai organisme dengan sumber makanan tertentu. Tingkat trofik pertama adalah
kelompok organisme autotrop yang disebut produsen. Organisme autotrof adalah organisme
yang dapat membuat bahan organik sendiri dari bahan anorganik dengan bantuan sumber
energi. Bila dapat menggunakan energi cahaya seperti cahaya, matahari disebut fotoautotrof,
contohnya tumbuhan hijau. Tingkat tropik kedua ditempati oleh berbagai organisme yang
tidak dapat menyusun bahan organik sendiri yang disebut organisme heterotrof. Organisme
heterotrof ini hanya menggunakan zat organik dari organisme lain sehingga disebut juga
konsumen.
VIII. KESIMPULAN
Dari pengamatan ekosistem yang telah dilaksanakan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
dalam masing-masing ekosistem berbeda keragaman komponennya. Komponen ekosistem
ada dua yaitu abiotik dan biotik, antar komponen saling berinteraksi dan membentuk sebuah
keseimbangan. Bila salah satu komponen tidak ada, maka akan terjadi kesenjangan. Dalam
suatu ekosistem terdapat interaksi antara komponen biotik dengan biotik membentuk suatu
simbiosis, predasi, kompetisi, dll, dan interaksi komponen abiotik dengan biotik membentuk
suatu hubungan saling membutuhkan dan mempengaruhi.Aliran energi