Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan Penunjang

1. Permeriksaan Darah
Pemeriksaan darah merupakan hal yang penting untuk dilakukan saat seseorang
dicurigai menderita anemia aplastic. Pemeriksaan harus dilakukan dengan
pengecekan darah lengkap dan perhitungan retikulosit. Dalam kasus Anemia
Aplastic, akan terjadi penurunan jumlah pada semua sel darah. Umumnya akan
akan ditemukan keadaan dimana platelet dan leukosit berkurang dalam apusan
darah tepi. Hasil pemeriksaan juga akan menunjukkan keadaan eritrosit yang
normositik dan normokromik. Jumlah trombosit tidak meningkat dan memiliki
ukuran normal. Jumlah retikulosit juga akan menurun beserta dengan granulosit,
seperti halnya pada monosit dan limfosit. Tingkat keparahan Anemia Aplastik
dapat dinilai berdasarkan jumlah sel darah tepi.

2. Pemeriksaan Sumsum Tulang


Selain pemeriksaan darah, pemeriksaan sumsum tulang harus dilakukan.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara aspirasi dan biopsi sehingga dapat
dibandingkan secara kualitatif dan kuantitatif. Pada seseorang dengan anemia
aplastic, sumsum tulangnya akan bersifat hiposeluler yaitu keadaan dimana
terjadi penurunan jumlah sel normal pada sumsum tulang. Selain itu, terdapat
peningkatan jumlah lemak pada sumsum tulang. Jaringan hemopoietik akan
menurun dan digantikan oleh lemak hingga 75%.
Pemeriksaan Sumsum merupakan cara yang lebih baik untuk pemeriksaan
Anemia Aplastik karena dapat memberikan informasi penting mengenai keadaan
sumsum tulang. Hasil aspirasi sumsum tulang juga dapat dianalisis dengan
metode kariotipe dan hibridisasi fluoresensi in situ (FISH) untuk mengetahui
jumlah, jenis sel, dan melihat ada tidaknya kelainan genetik.
Temuan Laboratorium

Setelah dilakukan pemeriksaan, biasanya akan ditemukan beberapa keadaan seperti :


jumlah retikulosit yang sangat rendah, leukopenia yaitu keadaan dimana jumlah leukosit
berkurang di bawah normal, dan akan ditemukan keadaan hypoplasia pada sumsum
tulang.

Epidemiologi

Usia dan Distribusi Geografis


Dalam studi yang dilaksanakan oleh International Aplastic Anemia and
Agranulocytosis Study (IAAAS) di Eropa dan Israel, ditemukan bahwa anemia
aplastic terjadi pada 2 dari 1 juta orang, dan kemungkinan kejadian meningkat
pada orang yang berada di Asia Tenggara. Anemia Aplastic biasanya ditemukan
pada anak-anak dan orang dewasa muda biasanya pada usia 15 dan 25 tahun
namun dapat terjadi juga pada orang-orang yang berumur lebih dari 60 tahun.

Etiologi

1. Benzene dan Bahan Kimia Beracun


Bahan kimia tertentu seperti benzene berhubungan dengan anemia aplastik dan
akut myelositik leukimia (AML). Selain benzene, bahan -bahan seperti insektisida
dan logam berat juga dapat mengakibatkan kerusakan sumsum tulang dan
pansitopenia.
2. Radiasi
Radiasi sangat berpengaruh pada sumsum tulang khususnya pada sel
progenitor dan stem tulang belakang. Pada radiasi tingkat tinggi, dapat
mengakibatkan pansitopenia atau keadaan dimana jumlah sel darah berkurang
secara drastis 2 sampai 4 minggu setelah radiasi dilakukan. Seseorang yang
terpapar radiasi atau kemoterapi dapat merusak sel-sel punca, yang kemudian
akan mengakibatkan orang tersebut mengalami anemia kemudian.