Anda di halaman 1dari 19

PENELITIAN MINI RISET PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan seperti telah kita ketahui bersama merupakan salah satu faktor penentu kemajuan
sebuah Negara, apabila pendidikannya bagus maka kemungkinan bangsa tersebut maju juga
besar, akan tetapi apabila pendidikannya kurang bagus maka bangsanya pun juga kemungkinan
besar kurang maju. Dengan pendidikan yang bagus di harapkan penduduk suatu Negara memiliki
kemampuan yang lebih dan memiliki moral yang lebih bermartabat serta memiliki sudut pandang
yang lebih luas dalam menghadapi suatu masalah ataupun perbedaan yang terjadi dalam
kehidupannya.
Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik
merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa
dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.
Perkembangan setiap peserta didik tidak semuanya rata, ada yang cepat dan ada yang lambat,
ada yang normal dan ada yang tidak. seorang pendidik harus mengetahui perkembangan peserta
didiknya, juga harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang
terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik
tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik
tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang
dimilikinya. Untuk menyikapi hal tersebut, maka disusunlah “Laporan Penelitian Perkembangan
Peserta Didik Usia Sekolah Menengah Atas”

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana perkembangan yang terjadi pada peserta didik usia sekolah menengah atas?
2. Seberapa jauh pentingnya peran pendidik bagi peserta didik usia sekolah menengah atas?
3. Seberapa jauh pentingnya peran orang tua bagi peserta didik usia sekolah menengah atas?
4. Bagaimana solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh remaja usia sekoah
menengah atas?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Memahami perkembangan yang terjadi pada peserta didik usia sekolah menengah atas
2. Memahami seberapa jauh pentingnya peran pendidik bagi peserta didik usia sekolah
menengah atas
3. Memahami seberapa jauh pentingnya peran orang tua bagi peserta didik usia sekolah
menengah atas
4. Mengetahui solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh remaja usia sekolah
menengah atas

1.4 Metode Penelitian


1.4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA JOSUA MEDAN dari tanggal 4 DESEMBER 2017 sampai
dengan 5 DESEMBER 2017

1.4.2 Subjek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah Peserta didik Sekolah Menengah Atas.

1.4.3 Prosedur Penelitian


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. Perkembangan Fisik
Pada usia anak SMA terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Tidak hanya ppada anggota
tubuh tertentu tetapi juga proporsi tubuh yang semakin besar. Pada perkembangan seksualitas
anak SMA ditandai dua ciri yaitu seks primer dan seks sekunder.
1. Seks primer
Pada siswa laki-laki SMA ditandai dengan semakin besarnya ukuran testis, pembuluh mani
dan kelenjar prostat semakin besar sehingga organ seks semakin matang (lebih matang dari anak
SMP). Pada siswi SMA tumbuhnya rahim, vagina , dan ovarium yang semakin matang, hormon-
hormon yang diperlukan dalam prooses kehamilan dan menstruasi semakin banyak.
2. Seks sekunder
Pada siswa laki-laki SMA ditandai dengan tumbuhnya kumis, bulu disekitar kemaluan dan
ketiak serta perubahan suara, semakin besarnya jakun. Pada siswa perempuan ditandai dengan
tumbuhnya rambut pubik atau bulu disekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besarnya buah
dada,bertambah besarnya pinggul.

2. Perkembangan Sikap Kognitif


Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan
kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal
(period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir
sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan
berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat
membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.
Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu
berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya,
tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran
mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang
untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan
kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan
lingkungan sekitar mereka.
Perkembangan kognitif remaja mencapai tahap operasional formal yang memungkinkan
remaja berpikir secara abstrak dan komplek, sehingga remaja mampu mengambil keputusan
untuk dirinya. Selama masa remaja, kemampuan untuk mengerti masalah-masalah kompleks
berkembang secara bertahap. Masa remaja adalah awal dari tahap pikiran formal operasional,
yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan atau
deduksi. Tahap ini terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman mereka.
Namun, bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang menunjukkan bahwa kemampuan remaja
untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang
terkumpul.
Unsur yang terpenting dalam mengembangkan pemikiran seseorang adalah latihan dan
pengalaman. Latihan berpikir, merumuskan masalah dan memecahkannya, serta mengambil
kesimpulan akan membantu seseorang untuk mengembangkan pemikirannya ataupun
intelegensinya.
Piaget membedakan dua macam pengalaman, yaitu :
1. Pengalaman fisis: terdiri dari tindakan atau aksi seseorang terhadap objek yang di hadapi
untuk mengabstraksi sifat-sifatnya.
2. Pengalaman matematis-logis: terdiri dari tindakan terhadap objek untuk mempelajari akibat
tindakan-tindakan terhadap objek itu.
Kemampuan yang dimiliki pada tahap operasional formal ini adalah:
a. Abstrak
Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang
benar-benar terjadi. Mampu memunculkan kemungkinan-kemungkinan hipotesis atau dalil-dalil
dan penalaran yang benar-benar abstrak.

b. Fleksibel dan kompleks


Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal.
Mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal bagi mereka sendiri, orang lain, dan dunia, serta
membandingkan diri mereka dengan orang lain dan standard-standard ideal ini. Berbeda dengan
seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu
penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja
sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan
(Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat
memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu
memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat
membahayakan dirinya. Di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia), masih banyak
sekali remaja yang belum mampu berpikir dewasa. Sebagian masih memiliki pola pikir yang
sangat sederhana. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan di Indonesia banyak menggunakan
metode belajar mengajar satu arah atau ceramah, sehingga daya kritis belajar seorang anak
kurang terasah. Bisa juga pola asuh orang tua yang cenderung masih memperlakukan remaja
seperti anak-anak sehingga mereka tidak punya keleluasan dalam memenuhi tugas
perkembangan sesuai dengan usianya. Seharusnya seorang remaja harus sudah mencapai tahap
perkembangan pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa
berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
c. Logis
Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu
membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001). Mulai
mampu mengembangkan hipotesis atau dugaan terbaik akan jalan keluar suatu masalah,
menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan-
pemecahan masalah secara sistematis. Misal : Dalam pengambilan keputusan oleh remaja mulai
dari pemikiran, keputusan sampai pada konsekuensinya, bagaimana lingkungannya yang
menunjukkan peran lingkungan dalam membantu pengambilan keputusan pada remaja.
3. Perkembangan dalam Sikap Emosional
Pada masa ini, tingkat karateristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya.
Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga dan rasa
malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik.
Sebagai calon pendidik dan pendidik kita harus mengetahui setiap aspek yang berhubungan
dengan perubahan pola tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau
gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja.
Perkembangan pada masa SMA (remaja) merupakan suatu titik yang mengarah pada proses
dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sifat kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja
karena pengaruh didikan orang tua.
Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Menengah Atas (SMA)
Psikolog memandang anak usia SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas
dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada
periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa
tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak
mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara
riil belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa.
Ada perubahan-perubahan yang bersifat universal pada masa remaja, yaitu meningginya
emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis, perubahan tubuh,
perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial tertentu untuk dimainkannya
yang kemudian menimbulkan masalah, berubahnya minat, perilaku, dan nilai-nilai, bersikap
mendua (ambivalen) terhadap perubahan. Perubahan-perubahan tersebut akhirnya berdampak
pada perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan juga psikomotorik mereka.

4. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana
mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan
masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan
kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah.
Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan
kaidah-kaedah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala
ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem
budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya)
terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa
pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa
sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar
yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa prokem terutama secara khusus
untuk kepentingan khusus pula.
Dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesama sebayanya, remaja seringkali
menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal dengan bahasa ‘gaul’. Disamping bukan
merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya
dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya. Menurut Piaget (dalam
Papalia, 2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal
operasional. Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan
kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya. Sejalan
dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat.
Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan
dengan topik-topik yang lebih kompleks. Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) remaja mulai
peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphora,
ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang
mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah
yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul.
Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan
bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja. Menurut Erikson
(1968), remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role
confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan
identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang
terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian
dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang
dewasa dan anak-anak.
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam
perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain.
Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial
keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak
menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat
terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih
selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.
Telah disebutkan bahwa bahasa remaja diperkaya dan dilengkapi oleh lingkungan sekitar
tempat mereka tinggal. Remaja cenderung bergaul dengan sesamanya, yaitu remaja usia sekolah.
Dari pergaulan dengan teman sebaya ini, kemudian timbul gaya atau pola bahasa yang mereka
gunakan sebagai sarana dalam proses penyampaian atau sosialisasi. Bahasa yang cenderung
digunakan oleh remaja ini, yaitu bahasa praktis, sehingga lebih mempermudah dalam proses
sosialisasi tersebut. Bahasa seperti ini sering disebut sebagai “Bahasa Gaul”. Bahasa pergaulan
ini bertujuan untuk memberikan ciri khas atau identitas tertentu dalam pergaulan sesama remaja.
Terkadang, bahasa ini mereka bawa ke dalam lingkungan sekolah, sehingga menyebabkan
Guru/Pendidik kadang-kadang kebingungan dengan kondisi siswa-siswanya yang berbahasa
tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar.
Selain pergaulan teman sebaya, status sosial ekonomi keluarga juga memiliki andil dalam
mempengaruhi pola atau gaya bahasa remaja. Keluarga terdidik yang pada dasarnya telah
membawa kebiasaan-kebiasaan terdidik, baik dari latar belakang pendidikan maupun latar
belakang keluarganya, secara langsung telah mempengaruhi cara berpikir dan berbahasa anak
remajanya. Mereka biasanya menggunakan bahasa yang lebih sopan dan fleksibel. Fleksibel
disini, dimaksudkan bahwa saat remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, mereka memiliki
gaya dan kosakata yang sesuai. Begitu pula sebaliknya, saat mereka berhadapan dengan orang
dewasa, mereka juga punya cara tersendiri yang tentunya lebih sopan. Sedangkan remaja yang
berasal dari keluarga kurang terdidik, umumnya menggunakan bahasa yang kasar, tidak
terstruktur dan tidak fleksibel. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan orang tua akan
pola perkembangan anak-anaknya, khususnya perkembangan bahasanya.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bahasa remaja sangat dipengaruhi oleh
pergaulan dengan sesamanya. Oleh karena itu, peran lingkungan keluarga dan sekolah sangat
dibutuhkan agar terdapat keseimbangan diantaranya.

5. Perkembangan Kepribadian

Hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik pribadi yang mempengaruhi pemilihan program
studi maupun karir individu, diantaranya bakat minat, kepribadian, dan intelektual. Sudah
banyak lembaga pendidikan SMA yang mengadakan tes psikologi dengan membantu siswa-
siswinya dalam menentukan jurusan agar sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal ini untuk
menghindari penyesalan dalam pengambilan studinya atau merasa tidak cocok dengan minat
bakatnya.
Keberhasilan dalam memilih dan menjalankan program studi serta karir pekerjaan sangat
ditentukan karakteristik kepribadian individu yang bersangkutan. Individu yang memiliki minat,
kemampuan, kecerdasan, motivasi internal, tanpa ada paksaan dari orang lain, biasanya akan
mencapai keberhasilan dengan baik. Keberhasilan tidak dapat diukur secara materi finansial yang
melimpah, tetapi seberapa besar nilai kepuasan hidup yang diperoleh melalui pilihan-pilhan
tersebut.

6. Perkembangan Sosial

Pada usia anak SMA terjadi perkembangan sosial yaitu kemampuan untuk memahami orang
lain. Anak usia SMA memahami orang lain sebagai individu yang unik baik menyangkut sifat
pribadi, minat nilai-nilai maupun perasaanya. Pemahaman ini mendorong mereka untuk menjalin
hubungan sosial yang lebih akrab dengan orang lain (terutama teman sebaya), baik melalui
jalinan persahabatan maupun percintaan.

Dalam hubungan persahabatan anak usia SMA memilih teman yang memiliki kualitas
psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interest, sikap, nilai, dan
kepribadian. Pada masa ini juga berkembang sikap conformity yaitu kecenderungan untuk
mengikutu opini, kebiasaan, dan keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap imi
dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi dirinya.
Anak usia SMA mencapai perkembangan sosial yang matang, dalam arti memiliki
penyesuaiaan sosial yang tepat. Penyesuaiaan sosial yang tepat ini dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi.
Karakteristik penyesuaian anak usia SMA di tiga lingkungan adalah sebagai berikut:
 Lingkungan Keluarga
1. Menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga
2. Menerima otoritas orang tua
3. Menerima tanggung jawab dan batasan-batasaan keluarga
4. Berusaha untuk membantu keluarga sebagai individu ataupun kelompok dalam
mencapai tujuan

 Lingkungan Sekolah
1. Bersikap respek dan mau menerima peratuaran sekolah
2. Berpartisipasi dalam kegiatan sekolah
3. Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah
4. Bersikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf lainnya
5. Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya
 Lingkungan Masyarakat
1. Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain
2. Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain
3. Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain
4. Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan-kebijakan
masyarakat

7. Perkembangan Moral

Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai
fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri
mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri
dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka,
misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil
pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa
bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan
mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak
melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini
diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya
“kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa
ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia
menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu
lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang
karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka
percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu
mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan
inilah yang seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau
otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak
diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa
remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh
subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu
saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat
laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.
Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua
atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak
mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung
penerapan nilai-nilai tersebut.
Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari
hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan
lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih
yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap
kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di
luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan
baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh
orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.
8. Perkembangan Agama
Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa remaja awal, ditandai antara lain :
a. Sikap negatif, disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang
beragama secara pura-pura yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan
perbuatannya.
b. Pandangan dalam hal ketuhanan menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar
berbagai konsep aliran-aliran yang tidak cocok
c. Penghayatan rohaniah cenderung skeptik (diliputi kewaswasan) sehingga tidak ingin
melakukan kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya.
Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa remaja akhir:
a. Sikap kembali ke arah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual.
Pandangan dalam hal ketuhanan dan dipahamkannya konteks agama yang dianut dan dipilihnya
b. Penghayatan rohaniah kembali tenang setelah ia dapat membedakan antara agama sebagai
doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya dari yang baik dan tidak baik. Ia juga memahami
bahwa terdapat berbagai aliran dan paham jenis keagamaan yang penuh toleransi diterima
sebagai kenyataan yang hidup di dunia ini.
BAB III
KONDISI OBJEKTIF

JODI DAN JEFRI HILMAWAN NASUTION


Nama : Jefri Hilmawan Nasution
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat dan tanggal lahir : Medan, 31 Desember 2000
Agama : Islam
Pendidikan
Nama Sekolah : SMA JOSUA MEDAN
Kelas : XII
Ekskul yang di ikuti : Futsal
Pelajaran yang disukai : IPS
Hobi : Bermain sepak bola
Cita-cita : Atlit sepak bola
Jumlah Saudara :3
Tinggi badan : 162 cm
Berat Badan : 51 Kg

Identitas Orang Tua


Nama Ayah : Muhammad Akrab Hakimi Nasution
Usia Ayah : 48 tahun
Suku Bangsa : Batak Mandailing
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendapatan per bulan : ± Rp.2.000.000/bln
Nama Ibu : Juli
Usia Ibu : 43 tahun
Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendapatan per bulan : : ± Rp.2.000.000/bln

BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1. Perkembangan Fisik dan Motorik


Jefri hilmawan Nasution yang akrab disapa Jefri memiliki tinggi badan 162 cm dan berat
badan 51 Kg. Kondisi fisik Jefri saat ini sangat baik sesuai dengan perkembangannya. Namun,
sebelumnya Jefri pernah menderita penyakit tipes selama 2 minggu. Untuk mengoptimalkan
kondisi fisiknya, Jefri sering berolah raga. Selain rajin mengikuti pelajaran olah raga yang ada di
sekolah, Jefri juga sering beroah raga di lingkungan luar sekolah seperti jogging di waktu libur,
bermain sepak bola dengan teman sebaya di rumah, bersepeda santai di waktu libur, dan bermain
badminton di sore hari. Agar kesehatannya tetap terjaga, Jefri tidak pernah melewatkan sarapan
pagi. Ketika Jefri hendak pergi ke sekolah, ibunya selalu memberi bekal untuk makan siang. Hal
tersebut di lakukan ibunya agar Jefri tidak memakan makanan sembarangan yang kadar
kesehatan dan kesterilannya belum jelas seperti yang di jual oleh pedagang kaki lima atau yang
sering di jual di kantin sekolah.
Jefri sangat senang bermain, pada usianya saat ini Jefri lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk bermain bersama teman-temannya. Hampir setiap sore dia menghabiskan
waktunya untuk bersepeda di sekitar mess bersama teman-teman sebayanya.
Jefri sangat menyukai aktivitas olah raga, sehingga waktunya setiap hari selain belajar di
sekolah dia lebih senang bermain atau berolah raga bersama teman sebayanya. Hal tersebut
membuat wawan kurang terampil dalam mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan bisa dikatakan
Jefri adalah seseorang yang pemalas dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju,
mencuci piring, menyetrika dan menyapu rumah.

2. Perkembangan dalam Sikap Kognitif


Berdasarkan pengamatan, Jefri tergolong siswa yang mudah menerima pelajaran yang di
terangkan oleh gurunya. Hal tersebut terbukti dengan prestasi yang pernah dia raih di sekolah
yaitu pernah masuk peringkat 3 besar di kelasnya. Selama dia sekolah di SMK dia belum pernah
mendapatkan peringkat di bawah 10. Ketika dia mengikuti tes IQ dia mendapat hasil yang baik
yaitu 127 yang berarti wawan termasuk ke dalam kategori anak yang superior. Hanya saja
minatnya untuk belajar mandiri atau sekedar mengulang materi yang telah di dapat di sekolah
sangat kurang. Bahkan wawan hampir tidak pernah belajar mandiri di luar lingkungan sekolah
terkecuali ketika dia akan menghadapi ulangan atau tes di sekolahnya. Ketika ada jam kosong di
kelas atau ketika guru mata pelajaran belum hadir pun, Jefri lebih suka mengobrol dengan
teman-temannya di bandingkan belajar. Waktu istirahat sekolah sering dia pergunakan di kantin
sekolah bersama teman-temannya, jarang sekali dia mempergunakan waktu istirahatnya untuk
belajar. Akan tetapi hal tersebut tidak terlalu berakibat buruk terhadap dirinya, karena Jefri
sebagai pelajar pada usia remaja adalah hal yang wajar ketika dia menyeimbangkan waktu
belajar dan bersantai.
Meskipun Jefri tergolong siswa yang malas untuk belajar, tetapi minat dia terhadap
membaca sangat tinggi. Ketika kakinya sudah memasuki area perpustakaan, dia selalu
terhipnotis dengan berbagai bacaan yang menurutnya menarik sehingga dia sangat senang
berlama-lama di dalam perpustakaan. Minatnya yang tinggi terhadap membaca membuat Jefri
sering mengunjungi bazaar buku yang ada di lingkungan sekolah ataupun yang ada di luar
lingkungan sekolah seperti Bandung Book Fire yang setiap tahun selalu di adakan diLandmark
Braga.
Sifat malas yang dimiliki oleh Jefri tidak membuatnya untuk tidak mengumpulkan tugas
tepat waktu. Baginya tugas sekolah merupakan salah satu kewajibannya sebagai pelajar yang
harus dia kerjakan. Beda halnya dengan belajar mandiri di rumah, yang merupakan tindakan
yang berlandaskan kesadaran dan keinginan yang muncul dari diri sendiri.
Jefri tergolong siswa yang aktif di kelasnya. Ketika ada pembahasan gurunya yang kurang
dimengerti, Jefri selalu menanyakan kembali pada gurunya tersebut. Ketika sedang ada diskusi
kelopok di kelaspun rasanya belum lengkap jika wawan belum mengajukan pertanyaan.
Jefri tergolong siswa yang kurang menyukai pelajaran hafalan dan pelajaran eksak. Jefri
lebih menyukai pelajaran terapan yang berhubungan dengan keterampilan yang dia miliki.
Setiap pagi Jefri selalu sarapan terlebih dahulu sebelum dia pergi ke sekolah, hal tersebut dia
lakukan agar dia dapat berkonsentrasi menerima pelajaran di sekolah di samping menjaga
kesehatannya.
Dapat disimpulkan bahwa wawan termasuk kedalam kategori siswa malas yang bertanggung
jawab.
3. Perkembangan dalam Sikap Emosional
Jefri termasuk anak yang tidak mudah tersinggung. Hal tersebut karena usianya yang
semakin dewasa yang membuat emosinya lebih matang pula. Jefri terkadang suka merasa kesal
ketika ada teman yang menjahilinya. Tetapi rasa kesal tersebut tidak membuat Jefri berkeinginan
untuk membalas perbuatan temannya.
Gejala-gejala emosional dalam diri wawan mulai timbul pada masa ini. Dia mulai menyukai
lawan jenisnya, dia lebih senang menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya. Ketika
Jefri dinasehati orangtuanya terkadang suka melawan. Saat Jefri di nasehati oleh ayahnya harus
banyak belajar dan jangan terlalu sering berpacaran, Jefri malah membalikan nasehat ayahnya
dengan perkataan “biarin atuh pa, kaya yang ga pernah muda aja”.
Jefri mulai terlibat dalam permasalahan-permasalahan yang sering terjadi pada anak usia
remaja. Dia sering mengatakan dirinya sedang dilanda kegalauan ketika sedang dihadapkan pada
dua pilihan yang membuat dia kebingungan. Jefri tidak mau di anggap anak kecil lagi, tapi dia
pun tidak mau ketika disebut orang dewasa.
4. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa pada Jefri berjalan dengan baik. Saat ini Jefri menguasai 3 bahasa
dengan baik, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa jawa sebagai bahasa daerah
asalnya, dan bahasa sunda sebagai bahasa yang berada di lingkungannya saat ini. Dalam
kesehariannya, Jefri lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa daerahnya
yaitu bahasa jawa. Jefri senang mempelajari bahasa asing seperti bahasa inggris, bahasa jepang,
bahasa jerman, dan sebagainya. Walaupun dia belum menerapkan bahasa tersebut pada
kehidupan kesehariannya.
Dalam kesehariannya juga Jefri sudah bisa menempatkan penggunaan bahasa yang baik. Dia
sudah bisa membedakan yang mana bahasa untuk teman sebayanya, yang mana bahasa untuk
anak-anak yang lebih muda darinya, dan mana bahasa yang baik di pergunakan kepada orang
yang lebih tua darinya.
Dalam penggunaan bahasa kepada teman sebayanya terkadang sering terselip bahasa-bahasa
gaul yang sering di pergunakan oleh remaja masa kini seperti keleus, bingits, kepo, dan
sebagainya.

5. Perkembangan Kepribadian

Ketika Jefri dihadapkan pada suatu masalah, maka dia akan memikirkan masalah tersebut
hingga membuatnya gelisah dan susah tidur. Jefri tidak suka memendam masalah yang dia punya
seorang diri, dia selalu bercerita kepada teman dekatnya yang dia anggap dapat di percaya. Jefri
sangat jarang berkonsultasi tentang masalah yang dia hadapi kepada orangtuanya, karena dia
menganggap teman sebayanya akan lebih mengerti jika dia menceritakan masalahnya pada
temannya. Jefri tidak termasuk kedalam kategori remaja yang suka meluapkan emosi dalam
bentuk tulisan. Jefri lebih senang menatap layar handphone yang dia miliki ketimbang menatap
buku-buku pelajaran.

6. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial Jefri berjalan dengan baik. Dalam usianya yang sekarang ini dia sudah
bisa bergaul dengan baik dengan teman-teman sebayanya. Hal tersebut dibuktikan dengan
keterlibatannya dalam beberapa perkumpulan remaja yang ada di lingkungan sekolah dan di
lingkungan rumahnya. Walaupun wawan terlibat dalam suatu kumpulan remaja, hal tersebut
tidak menghalanginya untuk bergaul dengan semua teman-temannya.

Di sekolah, wawan tidak saja pandai bergaul dengan teman-teman sebayanya, dia juga
termasuk salah satu siswa yang dekat dengan guru-guru yang ada di sekolahnya. Hal tersebut
dapat membantunya ketika dia mendapat kesulitan atau ketidak mengertian dalam pelajaran.
Selain dekat dengan guru wawan juga dekat dengan para pekerja yang ada di sekolahnya. Dia
sering berbincang-bincang dengan penjaga sekolah, dengan tukang sapu, dan dengan ibu kantin.

Di lingkungan rumahpun sama, tidak saja pandai bergaul dengan teman-teman sebayanya,
Jefri juga pandai bergaul dengan orang-orang yang lebih tua darinya, Jefri juga sangat dekat
dengan anak-anak kecil. Baginya perilaku anak kecil sangat menggemaskan, sama sekali tidak
membuatnya jengkel ataupun kesal.

Selain dekat dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya, Jefripun sangat dekat dengan
saudara-saudara jauhnya. Dia tetap berkomunikasi dengan saudaranya lewat telepon genggam
yang di belikan oleh orangtuanya.

7. Perkembangan Moral

Di usianya yang sudah terbilang bukan anak kecil lagi, tentunya Jefri sudah bisa
membedakan hal yang baik dan yang buruk. Kepekaannya akan kedua sisi yang berbeda tersebut
tidak membuatnya untuk selalu patuh terhadap peraturan. Sebagai seorang remaja yang selalu
penasaran dengan segala hal tentunya Jefri ingin merasakan sensasi baru dengan melanggar
peraturan baik yang ada di ingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.

Walaupun Jefri terbilang siswa yang cukup pintar, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa
Jefri pun pernah melakukan perbuatan menyimpang saat ulangan yaitu mencontek dan memberi
contekan pada teman-temannya. Hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan pelajar
Indonesia. Peran pendidiklah yang sangat di butuhkan disini untuk mengubah penctraan pelajar
Indonesia yang masih belum bisa di kupas tuntas sampai saat ini.
8. Perkembangan Agama

Di lingkungan rumah, Jefri mendapat pendidikan agama dari kedua orangtuanya, selain itu
pula Jefri sering mengikuti pengajian yang diadakan di lingkungan rumahnya. Dia di tuntut oleh
kedua orangtuanya untuk menghafal surat-surat pendek.

Kesadarannya terhadap kewajiban menjalankan shalat 5 waktu sudah tumbuh pada dirinya.
Ketika berada di lingkungan sekolah dia melaksanakan shalat fardu berjamaah di mesjid yang
ada di lingkungan sekolah. Namun ketika di lingkungan rumah, dia lebih memilih untuk shalat
fardu di rumah ketimbang pergi shaat berjamaah di mesjid. Dalam diri Jefri belum tumbuh
kesadaran untuk menjalankan shalat selain shalat fardu seperti shalat tahajud, shalat hajat, shalat
duha, dll.

BAB V
SOLUSI

1. Perkembangan Fisik dan Motorik


Hobi berolah raga yang dimiliki oleh Jefri sebenarnya dapat di kembangkan. Jefri harus
lebih banyak diberi motivasi dan di fasilitasi oleh orangtua dan juga guru di sekolah agar Jefri
dapat mengembangkan minat dan bakatnya.

2. Perkembangan dalam Sikap Kognitif


Kecerdasan yang dimiliki oleh Jefri harus di asah agar menjadi cerdas yang bermanfaat
dalam kebaikan. Sikap tak acuh Jefri terhadap belajar juga sedikit demi sedikit harus di rubah
agar Jefri menjadi siswa yang rajin dan pintar.

3. Perkembangan dalam Sikap Emosional


Emosi Jefri yang masih labil terkadang menjadi hambatan dalam menjalankan aktivitas
sehari-hari Jefri. Jika Jefri tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri maka orangtuanya harus
membantu dalam pengendalian tersebut.

4. Perkembangan Bahasa
Minat Jefri terhadap belajar bahasa asing sudah bagus, hanya saja minat tersebut kurang di
dukung dengan fasilitas yang tidak tersedia. Baiknya guru sebagai pendidik terutama guru mata
pelajaran bahasa asing dapat memfasilitasi siswa yang berminat terhadap mata pelajarannya.
Orang tua juga garus selalu mengingatkan dan mencontohkan dengan baik tata cara
penggunaan bahasa yang sopan dan santun.
5. Perkembangan Kepribadian

Kepribadian seseorang hanya dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri. Kita sebagai
seseorang yang lebih tua darinya hanya bertugas untuk mengarahkan kea rah yang lebih baik.

6. Perkembangan Sosial

Kepandaian Jefri dalam bergaul harus tetap di damping oleh pengawasan orang tua. Jangan
sampai kepandaiannya dalam bersoaialisasi membuatnya menjadi salah arah dalam artian salah
pergaulan.

7. Perkembangan Moral

Guru dan orang tua harus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya mematuhi peraturan
demi kebaikan dirinya sendiri. Karena jika di biarkan, melanggar peraturan akan menjadi
kebiasaan.

8. Perkembangan Agama

Orang tua sebagai orang yang tahu kebiasaan anaknya harus dapat member contoh agar anak
semakin mengerti dan memahami bahwa di samping shalat wajib pun terdapat shalat sunat yang
sebaiknya di jalankan.
BAB VI
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peserta didik usia remaja tingkat
sekolah menengah atas atau lebih spesifiknya anak yang bernama Jefri Hilmawan Nasution yang
akrab disapa Jefri berkembang dengan baik sesuai usianya.
Dalam masa ini orang tua dan guru berperan penting dalam masa perkembangannya
sebagai seseorang yang di anggap dapat menengahi segala permasalahan yang dihadapi oleh
Jefri.
Berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh remaja masih dapat di kendalikan
dengan adanya bimbingan dan peran aktif orangtua juga guru di sekolah.

5.2 Saran
Jefri adalah anak yang berada dalam tahap remaja yang masih memerlukan banyak
bimbingan dan arahan dari orang-orang sekelilingnya. Untuk itu bagi orang tua dan juga guru
harus dapat membimbing Jefri dalam tahap pencarian jati dirinya.
Sebagai seorang anak yang baik, Jefri harus mematuhi segala sesuatu yang di arahkan orang
tua dan gurunya. Karena orang tua dan guru tidak mungkin menjerumuskan Jefri ke dalam
keburukan.
Sebagai calon pendidik dan seseorang yang di anggap lebih tua dari Jefri, alangkah baiknya
kita juga ikut serta member arahan dan motivasi-motivasi yang positif agar perkembangannya
kea rah yang baik lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://akromislamiccenter.blogspot.com/2011/05/peserta-didik-pengertian-kewajiban-dan.html
http://ekobudiprasetyonugroho.wordpress.com/2011/04/02/perkembangan-peserta-didik-periode-
sekolah-menengah-atas-sma/
MINI RISET PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
D

OLEH :

RAJA SYAHNI ( 6143121057 )

SEFTIAN ELDIN SIREGAR ( 6143121067 )

HASANUL ARIFIN RITONGA ( 6143121028 )

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA