Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES PARAFARING
A. Definisi
Abses merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati) yang
terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya
karena bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan,
jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk
mencegah penyebaran/ perluasan infeksi ke bagian lain dari tubuh.
Abses parafaring adalah kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang
parafaring. Abses parafaring terjadi karena ruang parafaring mengalami infeksi.

B. Etiologi
Ruang parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara :
1. Langsung, yaitu akibat tusukan jarum akibat melakukan tonsilektomi dengan
analgesia. Peradangan terjadi karena jarum suntik telah terkontamiunasi
kuman yang menembus lapisan otot tipis (muskulus konstriktor faring
superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris.
2. Proses supurasi kelenjar leher limfa bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung,
sinus paranasal, mastoid dan serebra servikal dapat merupakan sumber infeksi
untuk terjadinya abses ruang parafaring.
3. Penjelasan infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring atau submandibula.

C. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda yang utama ialah :
1. Trismus.
2. Indurasi atau pembengkakan di daerah sekitar angulus mandibuila.
3. Demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring, sehingga menonjol ke
arah medial.

D. Penatalaksanaan
1. Bed rest
2. Posisi tundelen berg (kepala lebih rendah dari pada badan )
3. Bila terdapat pus dilakukan evakuasi bedah (insisi)
4. Insisi intraoral, bila penonjolan dalam faring dilanjutkan insisi dan drainase
5. Insisi ekstraoral bila abses menonjol ke luar/ tampak pembengkakan yang
jelas
6. Antibiotika dosis tinggi seperti gentamisin 2 x 40-80 mg dan metronidazole 3
x 250-500 mg.
E. Pemeriksaan Penunjang
Foto jaringan lunak AP menunjukkan penebalan jaringan lunak parafaring dan
pendorongan trakhea ke samping depan. Dengan tomografi komputer terlihat jelas
abses dan penjalarannya.
Konsep Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian
Pengkajian pada klien dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi:
1. Identitas

2. Riwayat Penyakit dahulu


Pernah menderita sakit gigi, pernah dilakukan insisi di daerah muskulus
konstriktor faring superior

3. Observasi dan pemeriksaan fisik


a. Keadaan umum
Keadaan umum klien biasanya lemah
b. Tanda-tanda vital
Terjadi hipertermi
c. Body sistem
1. Pernapasan (B1: Breathing)
Terjadi obstuksi saluran napas seperti mengorok dan dispnea, suara
klien menjadi sengau.

2. Cardiovaskuler (B2: Bleeding)


Terdapat edema pada laring, edema di daerah submandibula dan di uvula.

3. Persyarafan (B3:Brain)
Kesadaran biasanya komposmentis. Adanya nyeri pada leher, leher terasa kaku.

4. Perkemihan (B4: Bladder)


Umumnya tidak ada gangguan pada sistem perkemihan.

5. Pencernaan (B5: Bowel)


Terdapat nyeri telan, anoreksia, konstipasi dapat terjadi karena terlalu lama
bedrest.

6. Tulang-Otot-Integumen (B6: Bone)


Terjadi kekakuan otot leher (neck stiffnes) disertai nyeri pada pergerakan, terjadi
trismus

7. Reproduksi-Seksual
Umumnya tidak terjadi gangguan pada sistem reproduksi.

II. Diagnoisa Keperawatan


1. Hipertermi b.d proses infeksi
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubu b.d intake yang kurang,
anoreksia, kesulitan menelan.
3. Perubahan pola istirahat dan tidur bd nyeri, hipertermi
4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
b.d kurangnya informasi
III. Intervensi

1. Hipertermi b.d proses infeksi


Tujuan : Setelah dilakukan perawatan suhu tubuh menurun

Kriteria hasil :
1. Suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5)
2. K/U membaik
3. Akral hangat kering merah
4. klien nyaman

Intervensi
1. Pantau tanda-tanda vital tiap 4 jam sekali
R: Untuk mengetahu kedaan klien
2. Kompres air hangat pada pusat panas seperti axilla dan dahi
R: Untuk menurunkan panas
3. anjurkan pada keluarga klien untuk memakaikan pakaian yang tipis dan
mudah menyerap keringat
R: Agar klien nyaman
4. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik dan antipiretik
R: Antibiotik dapat mencegah dan mengantisipasi terjadinya infeksi, antipiretik
dapat memblok pusat panas sehingga panas dapat teratasi.

2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubu b.d intake yang kurang,
anoreksia, kesulitan menelan.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan jumlah kalori klien sesuai dengan kebutuhan
tubuh
Kriteria hasil :
1. Berat badan stabil
2. Masukan oral meningkat
3. Nafsu makan meningkat

Intervensi
1. Monitor balance intake dan output
2. Beri penjelasan pada klien tentang pentingnya nutrisi untuk kesembuhan
3. Berikan makanan lunak/cair
4. beri makanan dalam porsi sedikit tapi sering
5. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet

3. Perubahan pola istirahat dan tidur bd nyeri, hipertermi


Tujuan : Kebutuhan tidur dapat terpenuhi
Kriteria hasil:
1. Tidur kembali normal (7-8 jam / hari)
2. Klien tampak segar
Intervensi:
1. Kaji penyebab gngguan tidur pada klien
2. Ciptakan suasana yang nyaman
3. Berikan posisi yang nyaman pada klien
4. Hindari melakukan tindakan saat klien tidur

4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan


pengobatan b.d kurangnya informasi
Tujuan : Klien dan keluarga mengerti tentang penyakit
Kriteria hasil:
1. Klien dan keluarga tidak cemas
2. Klien dan keluarga dapat menjawab pertanyaan yg diajukan perawat

Intervensi
1. Beri informasi yang akurat tentang proses pnyakit dan anjurkan klien untuk
ikut serta dalam tindakan perawatan
R: Informasi yang akurat tentang penyakit dan keikutseraat klien dalam perawatan
dapat mengurangi beban pikiran klien
2. Kaji tingkat pengetahuan pasien/ keluarga tentang penyakit
R: Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan klien dfan keluarga
3. Kaji latar belakang dan pendidikan klien.
R: Agar perawat dapat menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh
klien dan keluarga
4. Gunakan gambar-gambar dalam melakukan penjelasan (bila memungkinkan).
R: Gambar dapat membantu mengimgat penjelasan yang telah diberikan.
Diposkan oleh D'sheldon di 08.20
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

1. Definisi (pengertian)
Abses adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati) yang terakumulasi pada
sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya karena bakteri dan
virus atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, jarum
suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran/perluasan infeksi ke bagian lain dalam tubuh. Maka, Abses
parafaring adalah penumpukan nanah di dalam kelenjar getah bening yang
terletak di samping tenggorokan (faring) karena ruang parafaringeal mengalami
infeksi. Abses parafaringeal biasanya terjadi setelah faringitis (radang
tenggorokan) atau tonsilitis (radang amandel).

#2. Penyebab (etiologi)


Penyebab terjadinya abses parafaringeal adalah infeksi bakteri atau virus pada
tubuh para penderita. Infeksi virus dan bakteri pada penderita abses parafaringeal
tentu juga berpengaruh pada lemahnya sistem imun atau antibody para penderita
abses parafaringeal. Sistem imun dan antibody yang lemah akan memudahkan
jalan masuk infeksi virus dan juga bakteri ke dalam jaringan tubuh penderita itu
sendiri.
Ruang parafaringeal dapat mengalami infeksi dengan cara:

 Langsung, yaitu akibat tusukan jarum akibat melakukan tonsilektomi


dengan analgesia. Peradangan terjadi karena jarum suntik telah
terkontamiunasi kuman yang menembus lapisan otot tipis (muskulus
konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaringeal dari
fosa tonsilaris (amandel).
 Proses supurasi kelenjar leher limfa bagian dalam, gigi, tonsil, faring,
hidung, sinus paranasal, mastoid dan serebra servikal dapat merupakan
sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang parafaring.
 Penjelasan infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring atau submandibula.

#3. Gejala (manifestasi)


Yang menjadi gejala sebelum para penderita mengalami abses parafaringeal
adalah gejala dimana leher bagian depan yang berada di bagian bawah rahang
tampak membesar karena pembengkakan. Oleh karena pembengkakan ini maka
penderita akan mengalami gangguan menelan dan nyeri pada tenggorokan dan
leher bagian depan. Selain itu, pasien akan mengalami demam tinggi.

#4. Diagnosis (pemeriksaan dokter)


Jika para dokter dan ahli kesehatan lain akan mendiagnosais para pasien abses
parafaringeal maka proses diagnosis tersebut harus ditegakkan berdasarkan gejala-
gejala penyakit abses parafaringeal. Selain itu, penyebab abses parafaringeal dan
pemeriksaan fisik atau check up body pada penderita abses parafaringeal juga
dapat mendukung dan membantu terlaksananya proses diagnosis.

#5. Pantangan penderita


Penderita penyakit ini harus memantangi segala hal yang berhubungan dengan
penyakit ini. Dan karena penyakit ini disebabkan oleh virus atau bakteri, maka
penderita harus menghindari lingkungan yang faktor kesehatanya buruk, supaya
tidak membuat penyakit ini bertambah parah. Selain itu, penyakit ini juga
berhubungan dengan gangguan pada tenggorokan penderita, oleh karena itu
penderita sebaiknya memantangi segala makanan yang dapat memperparah
penyakitnya itu, khususnya makanan yang terlalu banyak mengandung minyak
atau pedas.

#6. Obat medis dan alami Abses Parafaringeal


Pengobatan medis yang dilakukan pada penderita abses parafaringeal pada
awalnya diberikan suntikan penicillin, lalu dilanjutkan dengan penicillin per-oral
atau melalui mulut penderita abses parafaringeal.