Anda di halaman 1dari 24

ARSITEKTUR NUSANTARA

-PURI AGUNG KARANGASEM-

Kelompok 2 :

1. Putut Brahmantyo 1662122001


2. I Putu Sastra Winata 1662122016
3. Muhammad Rivan 1662122035
4. I Gede Ferry Pratama G. 1662122045
5. I Kadek Indra Pradipta 1662122051
6. I Putu Roy Aditya Prayoga 1662122054
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan & saran
1.3 Manfaat
1.4 Metode Penelitian

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bangunan Puri


2.2 Bangunan Puri Agung Karangansem

BAB III. TINJAUAN LOKASI PENELITIAN (FOTO)

3.1 Lokasi
3.2 Sejarah Bangunan (Nama Bangunan, Tahun Dibangun/Renovasi)’
3.3 Bentuk Bangunan (Denah)
3.4 Fasad Bangunan (Tampak)
3.5 Elemen Arsitektur (Atap, Pintu, Jendela, Dinding)

BAB IV. UNSUR ARSITEKTUR PADA BANGUNAN PURI (GAMBAR CAD &
SKETCHUP)

4.1 Bentuk Bangunan (Denah)


4.2 Fasad Bangunan (Tampak)
4.3 Elemen Arsitektur (Potongan Dan Detail)
4.4 Wujud Bangunan (3D)

BAB V. PENUTUP

5.1 Simpulan
5.2 Saran
BAB I

1.1 LATAR BELAKANG


Pada masa zaman kerajaan di Indonesia, Bali merupakan salah satu tujuan ekspansi dari
beberapa kerajaan yang diantaranya adalah kerajaan Jawa Kuno. Semenjak masuknya
kekuasaan kerajaan Jawa di Bali, pengaruh kebudayaan Jawa pun mulai berkembang dan
mempengaruhi masyarakat Bali. Seperti misalnya bangunan candi yang dibangun oleh
kerajaan Hindu-Budha, Bali yang merupakan salah satu pusat masyarakat penganut
agama Hindu juga memiliki banyak Pura.
Salah satu pengaruh kerajaan-kerajaan Jawa terhadap kerajaan-kerajaan di Bali terlihat
pada bangunan Pura dan Purinya yang terlihat mirip dengan bangunan candi kerajaan-
kerajaan di Jawa namun memiliki beberapa perbedaan-perbedaan aturan dan esensi.
Bangunan Puri tersebar pada beberapa daerah di Bali dan masih ada hingga saat ini.
Daerah kekuasaan puri-puri tersebut tidak berbeda jauh dengan wilayah administrative
pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali saat ini. Setelah kerajaan Gelgel
terpecah pada pertengahan abad ke-18, terciptalah beberapa kerajaan baru yang salah
satunya adalah kerajaan Karangasem dengan Puri Karangasem sebagai pusat
pemerintahan utamanya. Setelah masa colonial Belanda masuk ke Bali hingga masa
kemerdekaan Indonesia, fungsi kekuasaan puri bersifat lebih simbolis dimana peranan
Puri di Bali pada umumnya, dan Puri Karangasem pada khususnya umumnya masih
tinggi sebagai panutan terhadap berbagai kegiatan atau aktivitas yang berhubungan
dengan adat dan ritual keagamaan (Hindu) masyarakat setempat.

1.2 TUJUAN DAN SARAN


1.2.1 TUJUAN
 Memahami sejarah berdirinya kerajaan Puri Agung Karangasem.
 Mengenal jenis-jenis bangunan Puri di Bali terutama bangunan Puri
Agung Karangasem.
 Mengenal aspek-aspek yang terdapat dalam Puri Agung Karangasem
terutama pada aspek arsitektural.
1.2.2 SARAN
Pihak pengelola Puri Agung Karangasem diharapkan dapat menambah artikel-
artikel yang tertulis mengenai bangunan Puri Karangasem secara keseluruhan
untuk meingkatkan daya tarik masyarakat, wisatawan lokal, wisatawan domestic,
maupun wisatawan mancanegara agar dapat memahami fungsi atau manfaat dari
setiap bangunan yang terdapat pada Puri Agung Karangasem.
1.3 MANFAAT
Manfaat yang nantinya diharapkan akan didapat pada penelitian ini adalah :
 Mengetahui sejarah berdirinya bangunan Puri di Bali pada umumnya, dan Puri
Agung Karangasem pada khususnya.
 Mengetahui fungsi , struktur, aturan, dan estetika bentuk dalam bangunan Puri di
Bali pada umumnya, dan Puri Agung Karangasem pada khususnya.
 Mengetahui hubungan budaya, adat, system pemerintahan dan agama yang dianut
oleh masyarakat Bali pada umumnya, dan Karangasem pada khususnya terhadap
bentuk bangunan Puri.
 Untuk mengetahui aspek-aspek yang terdapat pada Puri Agung Karangasem yang
dapat dikembangkan sebagai sumber pembelajaran terutama dari aspek
arsitektural dan structural.

1.4 METODE PENELITIAN

Penilitian mengenai “ Puri Agung Karang Asem “, merupakan suatu penelitian historis
karena penelitian ini di arah untuk meneliti, mengungkapkan dan menjelaskan peristiwa
masa lampau sehingga jelas diarah kepada metode sejarah yang bersifat kualitatif.
Tujuannya yaitu menemukan dan mendeskripsi kan secara analisis sejarah Puri Agung
Karang Asem

Dalam meneliti kajian objek tersebut, penelitian menggunakan metode kualitatif dengan
menggunakan pendekatan kebudayaan, dengan harapan mendapatkan data yang lengkap
di samping itu untuk menghasilkan peneliatian yang baik, di perlukan beberapa
tahap.tahap – tahapan tersebut terdiri dari 4 tahap diantaranya : Heuristik, verifikasi (
keritik sumber), interpretasi dan historiografi.

a. Tahap Heuristik

Tahap pertama yaitu mencari dan mengumpulkan sumber yang berhubungan dengan
topic yang akan di bahas, 3 topik utama yang hendak di bahas dalam penelitian : 1.
sejarah bali mulai dari datangnya invasi majapahit ke Bali, 2. Dinamika pergesaran
fungsi peninggalan – peninggalan dari Puri Agung Karangasem, 3. Upaya pelestarian dan
pemanfaatan peninggalan – peninggalan daro Puri Agung Karangasem.

Selanjutnya untuk memperoleh data tentang topik dinamika perubahan fungsi, kami
menggunakan data pustaka dan wawancara secara langsung dengan pengelola Puri
Agung Karangasem.

b. Tahap Verifikasi
Pada tahap ini, dalam pencarian sumber tentang latar belakang berdirinya Puri Agung
Karangasem, kami menggunakan kajian pustaka dengan berbagai sumber.

Kemudian dalam hal sumber tentang hal dinamika pergeseran fungsi dan upaya
pelestarian dan pemanfaatan, kami memadukan antara narasumber satu dengan
narasumber yang lain

c. Tahap Interpretasi

Setelah melakukan tahap verifikasi kemudian dilakukan tahap interpretasi terhadap fakta
sejarah yang telah diperoleh. Pada tahap ini dibutuhkan intgritas penulis untuk
menghindari interpretasi subjektif terhadap fakta yang sebenarnya, agar ditemukan
kesimpulan atau gambran sejarah yang ilmiah.

d. Tahap Historiografi

Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian dari
metode historis. Pada tahap ini rangkaian tulisan harus sistematis yang berasal dari
pengolahan data, mulai dari pencarian sumber, menguji kebenaran sumber dengan kritisi
secara teliti, kemudian dari data yang valid menghasilkan tafsiran yang objektif, kemudia
setelah itu ditulis secara sistematis.

BAB II

2.1 BANGUNAN PURI


Puri merupakan salah satu Arsitektur Bali yang berfungsi sebagai hunian dan tempat tinggal bagi
raja dan keturannya, puri juga bisa sebagai pusat pemerintahan. Sebagai pusat pemerintahan, puri
dikenal memiliki kompleks atau zona yang dibagi menjadi beberapa pekarangan yang berjumlah
Sembilan atau lebih yang dikenal sebagai palebahan.
Puri-Puri di Bali umumnya dibagi atas beberapa pelebahan, yakni halaman tempat berdirinya
bangunan-bangunan. Masing-masing pelebahan mempunyai fungsi dan nama yang berbeda-beda.
Di halaman Puri itu sendiri terdapat bangunan-bangunan yang kadang kadang dinamai sesuai
dengan nama pelebahan-nya. Pelebahan itu tidak berubah meskipun banyak bangunan Puri yang
dibongkar dan diganti bangunan baru. Pelebahan yang berupa bangunan, taman dan bagian
tempat persemayaman raja itu merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.

Dalam pembangunan puri terdapat konsep khusus yang harus diikuti para perencana atau
pembangunnya, aturan itu dinamakan Sanga Mandala. Suatu lahan yang diperuntukkan bagi
pembangunan Puri, selayaknya berdenah empat persegi panjang atau bujur sangkar. Lahan
itu dibagi dalam 9 petak tanah (karang) yang dibatasi tembok keliling. Masing-masing karang
satu dengan lainnya dihubungkan dengan celah pintu (pemeda) atau pintu yang dilengkapi
dengan kori (angkul-angkul).
Pada sebuah Puri dalam pembagian berdasarkan konsep Sanga Mandala dikenal sembilan
pelebahan (karang):

1. Añcak Saji (Bañcingah) adalah halaman paling depan (halaman pertama, fungsinya sebagai
daerah untuk mempersiapkan diri jika para pengunjung akan memasuki Puri. Añcak saji
biasanya terdapat di sudut barat daya.
2. Sumanggen adalah pelebahan tempat melaksanakan upacara kematian (pitra yadnya) bagi
keluarga raja penghuni Puri. Umumnya terletak di Puri bagian selatan.
3. Rangki adalah pelebahan dan juga nama bangunannya untuk memeriksa tamu,mengadakan
persidangan dan pemeriksaan.
4. Pewarěgan adalah tempat dapur raja (paon raja), tempat menyimpan makanan yang siap
dimasak. Pewarěgan umumnya berada di sudut tenggara Puri.
5. Lumbung adalah bangunan untuk menyimpan padi, biasanya terletak di barat laut
kompleksPuri
6. Sarèn Kaja adalah pelebahan tempat didirikannya bangunan-bangunan untuk tempat tinggal
istri raja, umumnya terletak di utara lingkungan Puri
7. Sarèn Kangin atau disebut juga Sarèn Agung merupakan daerah inti Puri, karena di pelebahan
itulah raja sehari-hari bertempat tinggal.
8. Paséban adalah pelebahan sebagai tempat duduk para pejabat kerajaan menunggu keluarnya
sang raja, juga dapat dijadikan tempat persidangan agung kerajaan.
9. Paměrajan Agung adalah pelebahan tempat didirikannya bangunan-bangunan suci
untukmemuliakan leluhur keluarga raja. Karena merupakan Pura milik keluarga raja,
umumnya Paměrajan Agung cukup luas, hampir menyamai Pura yang diperuntukkan bagi
masyarakat pada umumnya. Biasanya Paměrajan Agung terletak di wilayah timur laut (kaja
kangin).

2.2 BANGUNAN PURI AGUNG KARANGASEM


Dari segi arsitektur Puri Agung Karangasem pada beberapa bangunannya mempunyai
gaya dan corak hiasan yang menunjukkan kena pengaruh kebudayaan Tiongkok dan
kebudayaan Barat. Pada masa pemerintahan I Gusti Gde Jelantik di Karangasem (raja
Anak Agung Gde Karangasem), tercatat ada 19 orang penduduk Tionghoa, di antaranya
ada yang pandai di bidang ilmu bangunan (Cik A. Tuang?), dan seorang lagi diangkat
sebagai syahbandar di Pasir Putih, bernama Yap Sian Liat. Untuk tempat menerima tamu
Belanda seperti residen, kontrolir dan lain-lainnya, Gusti Gde Jelantik membuat
bangunan gaya Barat dengan pintu bercorak ukiran Tiongkok yang diberi nama
Amsterdam, kemudian diucapkan dengan lafal Bali menjadi ”Maskerdam”. Beberapa
bangunan yang dibuat kemudian diberi nama Gedong Betawi, Gedong Yogya, Londen
(London) menunjukkan nama-nama kota negeri Belanda dan Inggris serta Jawa. Raja ini
juga membuat bancingah baru sekaligus dipakai kantor dan tempat menyimpan barang-
barang. Yang unik lainnya dari bangunan di Puri Agung Karangasem adalah dibangunnya
sebuah gili, yaitu sebuah bangunan yang berada di tengah-tengah kolam disebut Pepelik.
Di salah satu sudut bancingah didirikan sebuah bangunan tinggi disebut Lembu Agung
atau Bale Tegeh, yang diperuntukkan sebagai tempat melepaskan lelah bagi raja dan
keluarganya (Putra Agung, 1996: 207-208). Untuk keperluan pembangunan puri dan
taman, raja memelihara beberapa seniman ukir di Puri, baik sebagai pemahat atau
pematung di samping beberapa orang ahli bangunan. Mereka diberi tanah pecantu yang
terdiri atas sawah dan perkebunan. Pembuatan taman merupakan kegemaran raja-raja
Karangasem dan Lombok. Peninggalan berupa taman dari raja Karangasem yang dapat
diwarisi sampai kini yaitu: Taman Sitisrengga, Taman Ujung Sukasada, Taman Sekuta
dan yang terakhir taman Tirtha Gangga, sedangkan di Lombok terdapat Taman Mayura
dan Taman Narmada (Putra Agung, 1996: 215). Pembangunan Puri Agung Karangasem
sekitar tahun 1900-an sampai 1920-an, dilanjutkan oleh I Gusti Bagus Jelantik sebagai
raja yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem, dengan mengambil
arsitek dari orang Belanda dan orang Tionghoa yang ada di Karangasem, tetapi ide-ide
dan kendali tetap berada pada raja sebagai arsitek. Sedangkan para pekerjanya diambil
dari para tukang dan sangging masyarakat Bali Karangasem sendiri. Raja ini sangat
tertarik dengan masalah inovasi arsitektur dan merupakan tokoh yang pertama
mengadopsi struktur modern (Eropa) dan ornamen Tiongkok ke dalam arsitektur Bali.
Berkat ide-ide besar beliaulah kemudian lahir karyakarya arsitektur inovatif pertama dan
beberapa unsur inovasi ini kemudian mampu memberi kontribusi bagi keberadaan
arsitektur tradisional Bali keseluruhan. Salah satu kontribusi tersebut adalah: a)
diperkenalkannya penggunaan struktur modern ke dalam arsitektur tradisional Bali; b)
diperkenalkannya kembali ornamen asing (baru) yang disebut Mesir dan Cina serta Sae.
Sebenarnya bentuk motif Cina dan Sae ini telah pernah diperkenalkan di Bali pada masa
pemerintahan Bali Kuna oleh seniman-seniman Tionghoa, seperti ditemukan pada
peninggalan purbakala dari abad XII, yaitu Gapura Pura Dalem Balingkang, Sukawana,
Kintamani, Bangli, tetapi gaungnya belum meluas ke penjuru Bali. Nama mesir dan cina
diberikan oleh arsiteknya, tidak ada hubungannya dengan pengaruh dari Mesir atau
Tiongkok sebagai negara, tetapi hanya sebuah nama yang diberi 6 oleh arsiteknya untuk
pengenal bentuk-bentuk tersebut, yang kemudian di Bali dikembangkan atau dimodifikasi
lebih lanjut oleh para undagi, tukang dan sangging dan diberi nama patra mesir dan patra
cina serta karang sae. Dengan demikian, boleh dibilang dari Puri Agung Karangasemlah
awal lahirnya kembali bentuk motif asli Tiongkok Patra Cina dan Patra Mesir serta
Karang Sae, yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ornamentasi arsitektur
tradisional Bali (Wawancara dengan Anak Agung Putra Agung, 19 Oktober 2007). Lebih
lanjut Anak Agung Putra Agung mengatakan bahwa “adalah wajar kalau bentuk-bentuk
Patra Cina seperti di Bali ini tidak dapat ditemukan di negeri Tiongkok, dan demikian
pula dengan Patra Mesir tidak ditemukan di negeri Mesir, karena nama Cina dan Mesir
itu hanya suatu nama dari bentuk ornamen yang diberikan oleh arsitek/senimannya yang
berasal dari keturunan etnis Tionghoa (Cina) Karangasem, yang membangun Puri Agung
Karangasem. Terlebih lagi bentuk-bentuk yang bernama Cina dan Mesir ini telah
mengalami transformasi di tangan para undagi, sangging Bali di masa kemudian,
sehingga bentuk-bentuknya sudah menjadi khas Bali, walau inspirasinya tetap berasal
dari karyakarya arsitek sekaligus seniman Tionghoa Karangasem yang mengerjakan Puri
Agung Karangasem. Jadi, tidaklah tepat kalau kemudian Patra Mesir disebut pengaruh
yang datang dari negara Mesir, tetapi kalau disebut pengaruh seniman Tionghoa (Cina)
mungkin ada benarnya, karena arsitek atau seniman yang melahirkan bentuk-bentuk itu di
Bali berasal dari keturunan etnis Tionghoa, yang telah lama menjadi warga Bali tepatnya
Karangasem, tetapi bukan pengaruh Cina sebagai negara”. Kalam (1988: 19-21) melihat,
nilai-nilai ragam hias lama di Puri Agung Karangasem sudah merupakan bentuk-bentuk
karya tradisi yang telah melahirkan identitas puri Amlapura. Pada masa lalu, kerajaan
(puri) merupakan pusat berbagai jenis kehidupan sosial dan kebudayaan. Aspek sosial
puri dapat dilihat dari berbagai fungsi, antara lain: perlindungan keamanan, kesejahteraan
hidup, permusyawaratan, penyelenggaraan seni hiburan, tempat mengabdi. Sedangkan
aspek budaya puri dapat dilihat dari berbagai fungsi, antara lain: tempat pengembangan
berbagai jenis kesenian, tempat mempelajari sejarah, tempat meneliti hasil-hasil
kebudayaan masa lalu, tempat rekreasi. Di dalam bangunan puri terlihat bahwa,
penampilan hiasan-hiasan dalam berbagai bentuknya, pada hakekatnya merupakan
cermin dari aktivitas kepemimpinan. Di samping itu, puri juga sebagai alat komunikasi
yaitu mencerminkan unsur-unsur pendidikan dan mengagungkan identitas serta
kewibawaan di lingkungan bangunan puri. Puri dapat memotivasi perkembangan ragam
hias dan selanjutnya dapat lebih dikembangkan di luar lingkungan puri. Karena itu puri
dapat menjadi sumber potensial bagi penggalian nilai-nilai tradisi yang menjadi akar
kepribadian dan kebudayaan bangsa. Menurut Kalam (1988: 15-16), orang-orang yang
mengerjakan atau pemahat motifmotif hiasan di puri Amlapura (Puri Agung
Karangasem) tersebut memang sengaja ditatangkan dari negeri Tiongkok dan Balanda.
Motif hiasan style Tiongkok, dengan jelas dapat dijumpai pada pintu masuk bangunan
Gedong Maskerdam dengan ciri-ciri spesifik sebagai berikut: a) Bentuknya berupa relief
dengan teknik pahatan krawangan; b) Obyek yang dipahatkan berupa motif binatang,
tumbuhan, manusia dan awan-awanan; c) Susunan komposisi bidang dan garis-garisnya
serba simetris; d) Bidangnya penuh dengan motif hias; e) Bentuk karakter hiasan yang
dipahatkan mencerminkan keadaan negeri Tiongkok, tercermin dari beberapa ciri pada
nama ornamen di bawah ini sesuai hasil penelitian Kalam 7 dan kawan-kawan. Patra Cina
di Puri Agung Karangasem, bentuknya memperlihatkan pengaruh unsur kebudayaan
negeri Tiongkok asli, terdapat pada hiasan dinding dan daun-daun pintu gedong
Maskerdam. Patra Cina ini merupakan bentuk stiliran dari kembang sepatu, yang dalam
pengolahan batang, daun dan bunganya dibuat dengan garis tegas sehingga
mencerminkan pola yang konstruktif (Kalam, 1988: 10). Karang Sae di Puri Agung
Karangasem bentuknya juga memperlihatkan pengaruh unsur kebudayaan negeri
Tiongkok asli, yang dapat dibedakan dari bentuk karang sae yang biasa dilihat di daerah-
daerah Bali lainnya. Karang sae tersebut wujudnya montok dan kesan garisnya lebih
tegas. Karang sae yang merupakan stilirian kepala kelelawar, diyakini mempunyai
kekuatan gaib untuk menjaga rumah di malam hari, agar mendapatkan keselamatan, oleh
karena binatang kelelawar selalu terjaga dan waktu kegiatannya di malam hari (Kalam,
1988: 11).
ADAPTASI ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI
PADA BALAI PERTEMUAN DPRD RENON, BALI

ABSTRACT

Balinese traditional architecture style has the strong character of which brought a strong
identity of architecture in Bali which influenced by Hindu. It’s reflected on the principle
of form which convey its unique architecture identityand its architectural values. The
application of traditional architecture in modern buildings such as office buildings, has
to follow the local regulation to protect the local architecture values. Therefore, the
values would not beextinct, and still exist for the next generations. This object of research
is Balai Pertemuan DPRD building whichadopted the form and value of traditional Bale
Kambang. Qualitative method applied to this research with the useof descriptive analysis
and comparison between object of study and the theories. The result shows that
theapplication of the form of roof, body, base of the building and the ornaments adopted
the traditional concept.
Keywords: bale kambang, balai pertemuan DPRD Renon, comparison

ABSTRAK

Gaya arsitektur tradisional Bali adalah corak penampilan arsitektur yang dapat
memberikan citra/nuansa arsitektur berlandasarkan budaya Bali yang dijiwai oleh agama
Hindu melalui penerapan berbagai perinsip bentuk
yang mengandung identitas maupun nilai-nilai arsitektur. Pengaplikasian arsitektur
tradisional pada gedunggedung
modern salah satu contohnya ialah perkantoran tidak terlepas dari menjaga arsitektur
lokal agar tidak tergerus oleh jaman dan hilang terlupakan generasi mendatang. Penelitian
ini mengambil bangunan BalaiPertemuan DPRD Bali yang mengadaptasikan bentuk Bale
Kambang dengan menggunakan metode kualitatifdengan analisa deskriptif kompartif
sehingga hasil penelitian ini mampu mengetahui bentuk atap, badanbangunan dan kaki
bangunan serta ornamen yang diadaptasikan.
Kata Kunci: bale kambang, balai pertemuan DPRD renon, komparasi
PENDAHULUAN

Renon merupakan kawasan civic centre atau pusat pemerintahan provinsi bali di kota
denpasar yang berdiri kantor-kantor pemerintahan secara berdampingan agar
memudahkan secara aksesbilitas dan pelayanan terhadap masyarakat bali. Bangunan-
bangunan perkantoran tersebut memiliki gaya bangunan berbeda-beda namun tetap
menampilkan arsitektur tradisional bali sebagai tampilan wajah dari kawasan renon itu
sendiri yang sudah diatur pada perda nomor 5 tahun 2005 yang mewajibkan bangunan
gedung mengaplikasikan gaya arsitektur tradisional bali agar selaras dan harmonis
terhadap lingkungan setempatnya. Pengaplikasian arsitektur tradisional pada gedung-
gedung modern salah satu contohnya ialah perkantoran tidak terlepas dari menjaga
arsitektur lokal agar tidak tergerus oleh jaman dan hilang terlupakan generasi mendatang.
Kantor DPR Renon menjadi salah satu contoh bangunan yang menarik dari segi bentuk
dan tampilannya yang menampilkan arsitektur tradisional bali. Terdapat 3 masa
bangunan yaitu gedung utama,wantilan dan balai pertemuan. Dalam tulisan ini membahas
balai pertemuannya yang terlihat mengambil bentuk menyerupai bale kambang. Tulisan
ini menjelaskan dari makna tata bangunan, bentuk atap, badan dan kaki bangunannya
serta ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan
balai pertemuan tersebut yang dikomparasikan dengan bale kambang di kertagosa, di puri
agung karangasem dan di taman ujung sukasada. Tulisan ini dibuat untuk mengetahui
bagaimana adaptasi dari konsep arsitektur tradisional bali terhadap bangunan
kontemporer yang ada di bali.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI

Arsitektur tradisional adalah perwujudan ruang untuk menampung aktifitas kehidupan


manusia dengan pengulangan bentuk dari generasi ke generasi berikutnya dengan sedikit
atau tanpa perubahan, yang dilatarbelakangi oleh norma-norma agama dan dilandasi oleh
adat kebiasaan setempat dijiwai kondisi dan potensi alam lingkungannya (Gelebet, I
Nyoman.1982). Menurut Suartika, (2010, dikutip dari Putro, Hedro T, Makalah Kajian
Komparasi Arsitektur Tradisional Jawa dan Bali) menuliskan bahwa perwujudan praktik
dan bentuk budaya spasial di Bali mengacu pada penerapan Konsep Tri Angga dan Sanga
Mandala. secara umum arah timur laut memiliki nilai religius yang signifikan dalam
kaitannya dengan orientasi kosmik dan alamiah, Dalam praktik zona ini sangat
disakralkan dan merupakan zona tempat struktur – stuktur berfungsi ritual ditempatkan.
Kombinasi antara konsep hirarki Tri Angga, Konsep keseimbangan Tri Hita Kharana dan
Konsep Perbedaan Rwa Bhineda, telah mengarahkan absennya demarkasi absolut antara
zona satu dengan zona lainnya. .Arsitektur tradisional Bali mempunyai konsep-konsep
dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya yaitu sebagai berikut:
(1) Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala. Sanga Mandala
merupakan acuan mutlak dalam arsitektur tradisional Bali, dimana Sanga Mandala
tersusun dari tiga buah sumbu yaitu:Sumbu Tri Loka: Bhur, Bhwah, Swah; (litosfer,
hidrosfer, atmosfer). Sumbu ritual: Kangin (terbitnya Matahari) dan Kauh (terbenamnya
Matahari) Sumbu natural: Gunung dan Laut; (2) Keseimbangan Kosmologi, Manik Ring
Cucupu. (3) Hierarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga.Tri Angga adalah salah
satu bagian dari Tri Hita Karana, (Atma, Angga dan Khaya). Tri Angga merupakan
sistem pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali. Utama,
bagian yang diposisikan pada kedudukan yang paling tinggi, kepala. Madya, bagian yang
terletak ditengah, badan. Nista, bagian yang terletak di bagian bawah, kotor, rendah, kaki.

TINJAUAN TENTANG BALE KAMBANG


Pada bagian ini akan dijelaskan tentang beberapa buah Bale Kambang yang terdapat di
Bali.
Beberapa Bale Kambang itu diantaranya yang terdapat di Kabupaten Karangasem dan
Kabupaten Kelungkung. Bale kambang yang ada di Puri Agung Karangasem berfungsi
sebagai tempat pertemuan keluarga puri, tempat pementasan pertunjukkan kesenin dan
ruang makan jika ada pesta.
Bale kambang yang yang terdapat pada Taman Ujung Sukasada yang merupakan
peninggalan dari Kerajan Karangasem memiliki 2 buah bangunan yang berbeda namun
material bangunanya hampir sama. Dan yang membedakan kedua bangunan itu
adalahdindingnya ada yang tertutup dan ada yang terbuka, yang tertutup fungsinya
sebagai tempat peristirahatan raja dahulunya dan tempat menerima tamu begitu juga
dengan bale kambang terbuka sebagai penerima tamu dan untuk pementasan kesenian
Bale Kambang di Taman Kertagosa terletak di tengah-tengah kompleks situs Kertagosa,
bangunannya berbentuk segi empat panjang berfungsi sebagai tempat rekreasi, tempat
penerima tamu, dan tempat jamuan bagi para tamu kerajaan.

Gambar 1. Bale Kambang (kiri) Puri Agung Karangasem, (tengah) Taman Ujung,
(kanan) Kerta Gosha
Sumber: Penulis, 2017

METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisa menggunakan metode
deskriptif komparatif. Menjelaskan objek faktual yang ada di lapangan serta
membandingkannya dengan bentukbangunan-bangunan yang sudah ada berbentuk bale
kambang yang nantinya menghasilkankesimpulan dengan kecenderungan.

PEMBAHASAN

Balai Pertemuan DPRD ini mengadaptasi dari gaya arsitektur tradisional Bali baik itu
dari tatanan bangunannya, dan wujud fisik bangunannya baik itu dari bagian atas, dinding
dan bawah bangunanyang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tata bangunan balai Pertemuan DPRD ini terlihat simetris dan diempat sudut
kolam terdapat bale bengongnya.

2. Bentuk Bangunan, bentuk bangunan menerapkan konsep arsitektur tradisional


Bali yaitu tri lokaatas, tengah dan bawah. Terdapat bagian kepala (atap), badan (dinding)
dan kaki (bataran). Yang masing-masing dapat dijelaskan:
(a) Atap, balai pertemuan ini bisa dilihat sebenarnya terdapat duamasa bangunan yang mana
dihubungkan dengan selasar beratap beton dan juga dari kori agung menuju bangunan di
buatkan selasar terbuka menggunakan plat beton.
(b) Dinding, dindingnya menggunakan bata pasang gosok yang biasa terdapat pada
bangunan rumah dengan gaya tradisional bali. Terdapat tiang/pilar-pilar dibuat secara
pengulangan diluar bangunan utama yang berjumlah 5 buah tiap satu sudutnya yang diisi
pada empat sudut bangunan. Selain memperkokoh bangunan juga segi estetikanya
sebagai penghias.

(c) Bataran pada bagian bawahnya menggunakan material paras dengan adanya tempelan
karangdaun dan karang tapel pada bangunan pertama dan bangunan utama dan bale
bengong terdapat tempelan ornamen berupa karang gajah. Bisa dilihat bagian bawah
bangunan seperti ada duatingkatan yaitu bagian yang menyentuh dasar kolam sebagai
pondasi dan kemudian diatasnya adalahbagian bataran bangunan balai pertemuan
tersebut.
(d) Jembatan, ada jembatan terdapat ornamen gajah mina bentuknya berkepala gajah
dengan badan berbentuk ikan yang merupakan simbol dari cerita perputaran mandara giri
yang memunculkan banyak ikan. Bila dilihat dari segi estetika sangat cocok dengan
bentuk bangunannya yang terdapat kolam air sehingga menyesuaikan dengan tema
bangunannya.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Hasil dari penelitian dari mengkomparasikan bangunan balai pertemuan DPRD Bali
dengan 3 bangunan bale kambang menunjukkan bahwa balai pertemuan mempunyai
persamaan konsep dengan ketiga bale kambang tersebut dan dari tabel diatas persamaan
yang lebih banyak condong pada Bale Kambang di Taman Ujung Sukasada namun begitu
Balai Pertemuan dibuat lebih bervariatif dari bentuk atapnya yang bertingkat,
ornamennya yang mengambil gaya khas badung yang polos tanpa ukuran detail dan
pemilihan materialnya. Bagian bangunan yang diadaptasikan dapat dijelaskan sebagai
berikut: (Atap/ Kepala) yaitu Atap Balai Pertemuan DPRD menggunakan atap genteng
sama dengan di Bale Kambang di Puri Agung Karangasem dan di Taman Ujung
Sukasada.. Pada badan terutama pada kolom/pilar. Pada kaki bangunan yaitu pada bataran dan
pada penggunaan jembatan dan dapat dilihat pada gambar berikut:
Penelitian ini masih bersifat awal yang dapat memberikan suatu gambaran bagaimana
adaptasi dari beberapa konsep arsitektur tradisional Bali terhadap sebuah bangunan
kontemporer. Penelitian ini nanatinya akan mamapu menjadi sebuah acuan penelitian
sejenis dan menjadi sebuah lansadan terhadap penelitian yang terkait dengan adaptasi
konsep arsitektur tradisional dalam sebuah bangunan kontemporer.
PURI AGUNG KARANGASEM

Puri Agung Karangasem

PURI AGUNG KARANGASEM

Puri ini dibangun pada akhir abad ke 19 oleh Anak Agung Gede Jelantik yaitu Raja
Karangasem yang pertama. Daya tarik yang utama dari puri ini adalah arsitektur
bangunannya perpaduan antara arsitektur Bali, China dan eropah. Arsitektur Bali dapat
dilihat pada ukiran Candi, Patung dan Relief wayang pada dinding bangunan, pengaruh
Eropah terlihat dari bentuk bangunan induk dan beranda yang luas dengan nama
Maskerdam. Arsitektur China terletak pada motif ukiran pada pintu, jendela dan ornamen
bangunannya.

Bahkan di halaman Puri terdapat pohon leci yang umurnya sudah tua. Daya tarik khas
dari Puri Agung Karangasem selain perpaduan beberapa arsitektur, juga terletak pada
candi-candinya yang menjulang tinggi mencapai ketinggian 25 meter terbuat dari batu
bata dan dihiasi cetakan motif wayang. Di depan candi terdapat sepasang patung singa
dan sepasang patung penjaga pintu dan sepasang pos penjagaan.

Ada dua buah puri lainnya yaitu Puri Gede dan Puri Kerta Sura letaknya di sebelah Barat
Puri Agung Karangasem terdiri dari 3 bagian yaitu halaman pertama bernama Bencingah,
halaman kedua bernama Jaba Tengah dan halaman paling dalam adalah bangunan utama
bernama Maskerdam. Puri Agung Karangasem sekarang dikelola oleh suatu yayasan
bernama Amertha Jiwa yang dibentuk oleh keluarga besar puri dan pengurusnya juga dari
keluarga puri. Disamping itu identitasnya yang khas, Gapuranya yang sangat tinggi,
dipinggir jalan diluar tembok terdapat dua buah pos penjagaan, sepasang patung singa
dikiri kanan dan Selatan terdapat dua buah bangunan dan kamar-kamarnya disediakan
untuk para tamu yang diundang. Tempat ini biasanya digunakan untuk kegiatan
pertunjukan tradisional. Untuk mencapai Jaba Tengah kita akan memasuki pula pintu
gerbang dengan candi yang tinggi dan diapit pula oleh sepasang patung penjaga pintu dan
sepasang patung singa dikiri kanan pintu masuk. Di halaman Jaba Tengah digunakan
sebagai taman dan kita jumpai pohon leci yang umurnya sudah tua, kolam air yang
ditengah-tengahnya terdapat gili, di pinggir kolam terdapat patung-patung dan pot bunga
yang besar. Halaman yang paling dalam terletak bangunan utama yang bernama
Maskerdam. Pemberian nama demikian ada kaitannya dengan nama kota Amsterdam di
negeri Belanda, sebab pada saat pembangunan gedung tersebut sedang dijalin hubungan
baik antara Raja Karangasem dengan Kerajaan Belanda. Bangunan induk ini digunakan
sebagai istana raja. Bangunan yang terletak di belakang Maskerdam disebut "London"
untuk tempat tinggal keluarga raja. Pemberian nama demikian karena Kota London di
Inggris bertetangga dengan kota Amsterdam di Negeri Belanda. Di depan istana
Maskerdam terdapat sebuah bangunan bernama "Bale Pemandesan", ungsinya untuk
tempat upacara potong gigi atau juga tempat menyimpan untuk sementara jenasah para
keluarga puri yang meninggal sampai upacara pelebon dilaksanakan . Di dekat bangunan
ini menghadap ke kolam terdapat patung singa bersayap yang besar. Di depan Bale
Pemandesan terdapat "Bale Pewedaan" atau "Bale Lunjuk" tempat para pendeta memuja
bila ada upacara keagamaan. Di depan komplek Maskerdam terdapat "Bale Kambang"
atau Gilii di tengah-tengah kolam air fungsinya untuk tempat rapat keluarga besar puri.
Di sebelah Selatan kolam terdapat bangunan tua bernama "Bale Werdastana" yang
pembangunannya dilaksanakan oleh orang-orang China. Bangunan ini seluruhnya
menggunakan arsitektur dan motif China. Sayang bangunan ini telah hancur karena usia
tua dan terutama karena akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1979.

Sejarah Kerajaan Karangasem

Dalam menguraikan sejarah Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang
dipakai sebagaimana yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama
‘Karangasem’ sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang
memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti
Sading C yang terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan
bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura, pada
mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M)
tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra, Bhatara Guru
menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang Agnijaya untuk
turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana
Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke
Adri Karang membuat Pura (Dharma) untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi
Pulau Dewata. Hyang Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya
yaitu Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di
sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai
tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk
menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah
keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan
‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau
Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi.
Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.

Sejarah Kerajaan Karangasem tidaklah bisa dilepaskan dengan Kerajaan Gelgel terutama
pada masa puncak kebesaran di masa pemerintahan Dalem Waturenggong diperkirakan
abad XV. Dalam sejarah, kerajaan Gelgel pertama diperintah oleh putra Brahmana
Pendeta Dang Hyang Kepakisan bernama Kresna Wang Bang Kepakisan yang diberi
jabatan sebagai adipati oleh Patih Gajah Mada.

Setelah dilantik, beliau bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang berkedudukan di
Samprangan pada tahun saka 1274 (1352 M). Dalam pengangkatan ini disertai pula
dengan pakaian kebesaran serta keris yang bernama I Ganja Dungkul dan sebilah tombak
diberi nama I Olang Guguh.
Dalem Ketut Kresna Kepakisan kemudian wafat pada tahun caka 1302(1380 M) yang
meninggalkan tiga orang putra yakni I Dewa Samprangan (Dalem Ile) sebagai pengganti
raja, I Dewa Tarukan, dan I Dewa Ktut Tegal Besung (Dalem Ktut Ngulesir). Pada saat
Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari
Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura). Beliau abiseka Dalem Ktut Semara Kepakisan pada
caka 1305 (1383 M). Beliau inilah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang masih
sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit untuk menyatakan kesetiaan. Di
Majapahit beliau mendapat hadiah keris Ki Bengawan Canggu yang semula bernama Ki
Naga Besuki, dan karena tuahnya juga dijuluki Ki Sudamala.

Dalem Ketut Semara Kepakisan juga sempat disucikan oleh Mpu Kayu Manis. Namun,
beberapa tahun lamanya setelah datang dari Majapahit, beliau wafat pada caka 1382
(1460 M), dan digantikan oleh putra beliau bernama Dalem Waturenggong. Beliau ini
dinobatkan semasih ayahnya hidup pada caka 1380 (1458 M). Jaman keemasan Dalem
Waturenggong dicirikan oleh pemberian perhatian terhadap kehidupan rakyat secara lahir
dan batin. Masyarakat menjadi aman, tenteram, makmur, dan kerajaan meluas sampai ke
Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang kesusastraan juga mencapai puncak
keemasan dengan lahirnya beberapa karya sastra. Keadaan ini mencerminkan bahwa raja
memiliki pribadi yang sakti, berwibawa, adil, serta tegas dalam memutar jalannya roda
pemerintahan.

Setelah wafat, Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yang belum dewasa yaitu
Dewa Pemayun (Dalem Bekung) dan I Dewa Anom Saganing (Dalem Saganing). Karena
umurnya yang masih muda maka diperlukan pendamping dalam hal menjalankan roda
pemerintahan.

Adapun lima orang putra yang menjadi pendamping raja yaitu putra I Dewa Tegal
Besung (adik Dalem Waturenggong) diantaranya I Dewa Gedong Arta, I Dewa
Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan. Jabatan Patih Agung
pada saat itu dipegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk dan semua kebijakan pemerintahan
dipegang oleh Patih Arya Batanjeruk. Melihat situasi seperti ini, pejabat kerajaan menjadi
tidak puas. Suatu ketika disebutkan kepekaan para pembesar istana saat raja yang masih
belia itu dihadap para pembesar. Raja yang masih suka bermain-main ke sana-ke mari
selalu duduk di pangkuan Ki Patih Agung. Dalem Pemayun duduk di atas pupu sebelah
kanan dan Ida I Dewa Anom Saganing di sebelah kiri. Kemudian kedua raja ini turun lagi
dan duduk di belakang punggung Ki Patih. Isu berkembang bahwa I Gusti Arya
Batanjeruk akan mengadakan perebutan kekuasaan. Nasehat Dang Hyang Astapaka
terhadap maksud ini tidak diperhatikan oleh Ki Patih Agung sehingga kekecewaan ini
menyebabkan hijrahnya Dang Hyang Astapaka menuju ke sebuah desa bernama
Budakeling di Karangasem.

Kekacauan di Gelgel terjadi pada tahun 1556 saat Patih Agung Batanjeruk dan salah
seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan
yang diikuti oleh I Gusti Pande dan I Gusti Tohjiwa. I Gusti Kubon Tubuh dan I Gusti
Dauh Manginte akhirnya dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Diceritakan
Batanjeruk lari ke arah timur dan sampai di Jungutan, Desa Bungaya ia dibunuh oleh
pasukan Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka
(putra I Gusti Bebengan, adik dari I Gusti Arya Batanjeruk) serta keluarga lainnya seperti
I Gusti Arya Bebengan, I Gusti Arya Tusan, dan I Gusti Arya Gunung Nangka dapat
menyelamatkan diri berkat pohon jawawut dan burung perkutut yang seolah olah
melindungi mereka dari persembunyian, sehingga sampai kini keturunannya tidak makan
buah jawawut dan burung perkutut. I Gusti Oka kemudian mengungsi di kediaman Dang
Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di
Watuaya, Karangasem. Sedikit diceritakan bahwa Dang Hyang Astapaka juga punya
asrama di Bukit Mangun di Desa Toya Anyar (Tianyar) dan I Gusti Oka selalu mengikuti
Danghyang Astapaka di Bukit Mangun, sedangkan ibunya tinggal di Budakeling
membantu sang pendeta bila ada keperluan pergi ke pasar Karangasem.

Pada waktu itu, Karangasem ada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dan yang menjadi
raja adalah I Dewa Karangamla yang berkedudukan di Selagumi (Balepunduk). I Dewa
Karangamla inilah yang mengawini janda Batanjeruk dengan suatu syarat sesuai nasehat
Dang Hyang Astapaka bahwa setelah kawin, kelak I Gusti Pangeran Oka atau
keturunannyalah yang menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I
Dewa Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga
mempunyai putra dari istrinya yang lain yakni bernama I Dewa Gde Batuaya. Penyerahan
pemerintahan kepada I Gusti Oka (raja Karangasem I) inilah menandai kekuasaan di
Karangasem dipegang oleh dinasti Batanjeruk.

I Gusti Oka atau dikenal dengan Pangeran Oka memiliki tiga orang istri, dua orang
prebali yang seorang diantaranya treh I Gusti Akah. Para istri ini menurunkan enam
orang putra yaitu tertua bernama I Gusti Wayahan Teruna dan I Gusti Nengah Begbeg.
Sedangkan istri yang merupakan treh I Gusti Akah berputra I Gusti Nyoman Karang.
Putra dari istri prebali yang lain adalah I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan
dan I Gusti Wayahan Bantas. Setelah putranya dewasa, I Gusti Pangeran Oka
meninggalkan Batuaya pergi bertapa di Bukit Mangun, Toya Anyar. Beliau mengikuti
jejak Dang Hyang Astapaka sampai wafat di Bukit Mangun. I Gusti Nyoman Karang
inilah yang meggantikan ayahnya menjadi raja (raja Karangasem II) yang diperkirakan
tahun 1611 Masehi.

I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ktut Karang yang
setelah menjadi raja bergelar (abhiseka) I Gusti Anglurah Ktut Karang (raja Karangasem
III). Beliau ini diperikirakan mendirikan Puri Amlaraja yang kemudian bernama Puri
Kelodan pada pertengahan abad XVII (sekitar tahun caka 1583, atau tahun 1661 M). I
Gusti Anglurah Ktut Karang berputra empat orang yaitu tiga orang laki-laki dan
satuperempuan. Putranyayang tertuabernama I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I
Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai dan I Gusti Anglurah
Ktut Karangasem. Ketiga orang putra inilah yang didaulat menjadi raja Karangasem (raja
Karangasem IV/Tri Tunggal I) yang memerintah secara kolektif sebagai suatu hal yang
dianggap lazim pada jaman itu. Pemerintahan ini diperkirakan tahun 1680-1705.

Selanjutnya yang menjadi raja Karangasem adalah putra I Gusti Anglurah Nengah
Karangasem yaitu I Gusti Anglurah Made Karang (raja Karangasem V). Selanjutnya I
Gusti Anglurah Made Karang berputra enam orang, empat orang laki-laki dan dua orang
wanita. Salah seorang dari enam putranya yang sulung bernama I Gusti Anglurah Made
Karangasem Sakti yang dijuluki Sang Atapa Rare karena gemar menjalankan yoga
semadi sebagai pengikut Dang Hyang Astapaka. Dalam keadaan atapa rare inilah beliau
menghadapi maut dibunuh oleh prajurit Gelgel atas perintah Cokorda Jambe ketika beliau
kembali dari Sangeh.

Diceritakan, atas perkenan Raja Mengwi Sang Atape Rare membangun Pura Bukit Sari
yang ada di Sangeh. Sekembalinya dari Sangeh beliau sempat mampir di Gelgel yang
pada waktu itu berkuasa adalah Cokorda Jambe. Karena tingkah yang aneh-aneh di istana
yang tidak bisa menahan kencing menyebabkan terjadi salah paham, dan dianggap telah
menghina raja. Maka setelah keberangkatannya ke Karangasem, beliau dicegat di sebelah
timur Desa Kusamba, di padasan Bulatri. sebelum beliau wafat, beliau sempat pula
memberikan pesan-pesan kediatmikan kepada putranya yakni I Gusti Anglurah Nyoman
Karangasem. Beliau ini kemudian dikenal dengan sebutan Dewata di Bulatri. Peristiwa
ini menyebabkan perang antara Karangasem dan Klungkung (Gelgel) yang dikenal
dengan pepet (dalam keadaan perang). Setelah gugurnya Cokorda Jambe, maka
ketegangan antara Karangasem dan Klungkung menjadi reda.

Tahta di Karangasem kemudian dilanjutkan oleh tiga orang putranya yaitu I Gusti
Anglurah Made Karangasem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem, dan I Gusti
Anglurah Ktut Karangasem (raja Karangasem Tri Tunggal II) yang diperkirakan
memerintah 1755-1801. Setelah raja Tri Tunggal wafat, pemerintahan Kerajaan
Karangasem dipegang oleh I Gusti Gde Karangasem (Dewata di Tohpati) antara tahun
1801-1806. Pada saat ini Kerajaan Karangasem semakin besar yang meluaskan
kekuasaannya sampai ke Buleleng dan Jembrana.

Setelah wafat, I Gusti Gde Ngurah Karangasem digantikan oleh anaknya bernama I Gusti
Lanang Peguyangan yang juga dikenal dengan I Gusti Gde Lanang Karangasem.
Kemenangan Kerajaan Buleleng melawan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja
Karangasem (I Gusti Lanang Peguyangan) menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem
dikuasai oleh raja Buleleng I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat direbut kembali
oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan punggawa yang bernama I Gusti Bagus
Karang tahun 1827 berhasil menggulingkan I Gusti Lanang Peguyangan sehingga
melarikan diri ke Lombok, dan tahta Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus
Karang.

Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat yang sama Raja
Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil menaklukan Karangasem dan
mengangkat menantunya I Gusti Gde Cotong menjadi raja Karangasem. Setelah I Gusti
Gde Cotong terbunuh akibat perebutan kekuasaan, tahta Karangasem dilanjutkan oleh
saudara sepupu raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gde Karangasem.

Pada saat Kerajaan Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20 Mei 1849, raja
Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karangasem gugur dalam peristiwa tersebut sehingga
pemerintahan di Karangasem mengalami kekosongan (vacuum). Maka dinobatkanlah raja
Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem sebagai raja di Karangasem oleh pemerintah
Hindia Belanda. Setelah berselang beberapa waktu kemudian, raja Mataram menugaskan
kemenakannya menjadi raja yaitu I Gusti Gde Putu (Anak Agung Gde Putu) yang juga
disebut ‘Raja Jumeneng’, I Gusti Gde Oka (Anak Agung Gde Oka), dan Anak Agung
Gde Jelantik.

Setelah masuknya Belanda, membawa pengaruh pula dalam hal birokrasi pemerintahan.
Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk pemerintahan yaitu (1) Rechtstreeks
bestuurd gebied (pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok, (2)
Zelfbesturend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung,
dan Bangli, (3) Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) ialah Gianyar dan Karangasem.
Demikianlah di Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder yaitu tahun 1896-
1908; I Gusti Gde Jelantik (Dewata di Maskerdam), dan Stedehouder I Gusti Bagus
Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem (Dewata di
Maskerdam) antar tahun 1908-1941.

Demikian sajian ringkas sejarah Kerajaan Karangasem yang dijadikan gambaran umum
kajian pokok objek penelitian. Deskripsi historis hal ini sangat penting mengingat dalam
mengupas bagian peristiwa yang termasuk rentetan sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari
rangkaian peristiwa yang terjadi. Sehingga dalam segi manfaat, dimensi waktu akan
dapat ditangkap oleh pembaca mengenai kurun waktu peristiwa dimaksud. Demikian
pula dalam kajian ini, maka objek penekanannya adalah saat masa raja Karangasem
dinasti Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah
Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem.

Masa Dinasti Tri Tunggal I

Masa kekuasaan Kerajaan Karangasem Tri Tunggal I menjadi sajian yang perlu
mendapat pemahaman dalam relevansinya menjabarkan objek penelitian. Ketika
pemerintahan Kerajaan Karangasem yang diperintah oleh Tri Tunggal I yaitu I Gusti
Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti
Anglurah Ktut Karangasem inilah muncul mitologi Pura Bukit sebagaimana diceritakan
dalam buku Kupu-Kupu Kuning. Saudara raja Tri Tunggal yang bernama I Gusti Ayu
Nyoman Rai diambil menjadi istri oleh Ida Bhatara Gde di Gunung Agung yang
kemudian melahirkan Ida Bhatara Alit Sakti yang kini bermukim di Pura Bukit.
DAFTAR PUSTAKA

http://agunkbangli.blogspot.co.id/2009/07/puri-agung-karangasem.html
Anonim.ArsitekturTradisionalBali.https://linkstudiodesign.blogspot.co.id/2017/02/makna-arsitekturrumah-
adat-bali.html diakses tanggal 26 Mei 2017
Gelebet, I Nyoman.1982. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Bali: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Laksmi, A.A Rai Sita.2013. Nuansa Kearifan Lokal Situs Kerta Gosa Dalam Mengkonstruksi Jatidiri
pada Era Global.Universitas Warmadewa Denpasar. diakses tanggal 26 Mei 2017
Maurina,Anastasia Dkk.2015 Artikel Komparasi Tektonika Bambu pada rumah adat di tataran sunda.
Universitas Katolik Parahyangan diakses tanggal 26 Mei 2017
Megawangi, Yuika.2013. Artikel Puri Agung Karangasem : Perspektif Sejarah, Struktur Dan Fungsi
Serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal. Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja diakses tanggal 26 Mei 2017
Putro,Hendri T.2013 Makalah Antropologi Kajian Komparasi Arsitektur Tradisional Jawa dan Bali.
Unversitas Gadjah Mada. diakses tanggal 26 Mei 2017
Yuni Anita S, Ida Ayu Dkk.2014. Laporan Kegiatan Inventarisasi Cagar Budaya Di Kab.
Karangasem.Bali:Kantor BPCB Bali
https://www.google.co.id/search?q=adaptasi+arsitektur+tradisional+bali+pada+balai+per
temuan+dprd+renon%2c+bali&rlz=1c1nhxl_idid779id780&oq=adaptasi+arsitektur+tradi
sional+bali+pada+balai+pertemuan+dprd+renon%2c+bali&aqs=chrome..69i57.13943j0j
8&sourceid=chrome&ie=utf-8