Anda di halaman 1dari 539

PEMBAHASAN

LATIHAN SOAL II UKDI CLINIC

Optimaprep
Batch II UKDI 2014
Office Address:
Jakarta :
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Numbers:
021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694
Medan :
Jl Setiabudi no 65G, Medan
Phone numbers : 061 82292290 dr. Ratna, dr. Yusuf, dr. Dini,
pin BB : 24BF7CD2
www.optimaprep.com dr. Cemara, dr. Carolina
ILMU PENYAKIT DALAM
1. Tuberkulosis
• Tuberkulosis primer
– M. tb → saluran napas → sarang/afek primer di bagian paru mana
pun → saluran getah bening → kgb hilus (limfadenitis regional).
– Dapat sembuh tanpa bekas atau terdapat garis fibrotik, sarang
perkapuran di hilus.
– Morfologi: radang puth keabuan, perkejuan sental.

• Tuberkulosis postprimer
– Muncul bertahun-tahun setelah tb primer, di segmen apikal lobus
superior atau lobus inferior.
– Dapat sembuh tanpa bekas atau sembuh dengan jaringan fibrosis,
pengapuran, atau kavitas yang menciut & terlihat seperti bintang.
– Morfologi: fokus putih keabuan-kuning berbatas tegas, perkejuan
sentral, & fbrosis perifer.

• Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpuan Dokter Paru Indonesia. 2006
• Robbins & Cotran pathologic basis of disease. 8th ed.
2. Infeksi Dengue
2. Infeksi Dengue
• NS1:
– antigen nonstructural untuk replikasi virus yang dapat dideteksi
sejak hari pertama demam.
– Puncak deteksi NS1: hari ke 2-3 (sensitivitas 75%) & mulai tidak
terdeteksi hari ke 5-6.

• Untuk membedakan infeksi dengue primer atau sekunder


digunakan pemeriksaan IgM & IgG antidengue.
– Infeksi primer IgM (+) setelah hari ke 3-6 & hilang dlm 2 bulan,
IgG muncul belakangan.
– IgG bertahan berbulan-bulan & dapat (+) seumur hidup
sehingga diagnosis infeksi sekunder dilihat dari peningkatan
titernya.
– IgG antidengue dengan titer 1:2560  infeksi sekunder.

WHO SEARO, Dengue prevention & management. 2011.


2. Infeksi Dengue

Shock
Bleeding
Primary infection: Secondary infection:
• IgM: detectable by days 3–5 after the onset of • IgG: detectable at high levels in the initial phase,
illness,  by about 2 weeks & undetectable after persist from several months to a lifelong period.
2–3 months.
• IgG: detectable at low level by the end of the first • IgM: significantly lower in secondary infection
week & remain for a longer period (for many cases.
years).
3. Regulasi
Osmolaritas
• Hiperglikemia
meningkatkan
osmolaritas.
4. Infeksi Terkait Okupasi
• Infeksi terkait okupasi pada petugas kesehatan:
– HIV
• Tertusuk jarum dari pasien stadium akhir atau dengan viral load
tinggi
• Pemeriksaan: ELISA
– Hepatitis B
• Tertusuk jarum suntik & benda tajam terkontaminasi lainnya
• Kontaminasi ke membran mukosa (mata, hidung, mulut)
• HBsAg dan antiHBs
– Hepatitis C
• Tertusuk jarum suntik & benda tajam lain
• Kontaminasi ke membran mukosa
• AntiHCV
4. Infeksi Terkait Okupasi
• Penularan hepatitis
5. Hepatologi
• Hepatoma
– Risk factors: chronic hepatitis infection, aflatoxin, cirrhosis.
– Frequently asymptomatic with normal or minimally abnormal
liver tests.
– Elevated ɑ-fetoprotein in 50% or more of hepatocellular
carcinomas.
– Physical examination may reveal rock hard hepatomegaly,
tender hepatomegaly, or signs of chronic liver disease, or may
be completely normal.
– Presence of a bruit or friction rub over the liver strongly
suggests liver tumor.
– Imaging studies are the key to diagnostic evaluation.
– Biopsy is usually necessary to confirm and differentiate
malignancies.

Current diagnosis & treatment in gastroenterology.


5. Hepatologi
• Pyogenic Liver Abscess
– Clinical features:
• fever, malaise, weight loss, and right upper quadrant abdominal
pain.
• Hepatomegaly and right upper quadrant abdominal tenderness
• Jaundice is seen in approximately 25% of cases.
– Laboratory findings: leukocytosis & anemia, elevations of the
alkaline phosphatase and GGT, & hyperbilirubinemia in about
25% of cases.
• Acute hepatitis
– Clinical features: anorexia, nausea, vomiting, severe fatigue,
abdominal pain, mild fever, jaundice, dark urine, and light
stools.
– Hepatomegaly
Current diagnosis & treatment in gastroenterology.
6. Arthritis
Rheumatoid arthritis (RA)
• Penyakit inflamasi kronik ditandai oleh poliarteritis perifer.
simetrik
• RA adalah peyakit sistemik → manifestasi ekstraartikular.
• Skoring pada tabel di atas > 6: definite RA.
Boutonnoere deformity caused by Swan neck deformity caused by
flexion of the PIP joint with Hyperextension of the PIP joint with
hyperextension of the DIP joint. flexion of the DIP joint .

Rheumatoid Arthritis
Ulnar deviation of the fingers with wasting of the
Rheumatoid nodules & small muscles of the hands and synovial swelling at
olecranon bursitis. the wrists, the extensor tendon sheaths, MCP & PIP.
Ciri OA RA Gout SA

Perevalens

Awitan
Female>male, >50
thn, obesitas
gradual
Arthritis
Female>male
40-70 thn
gradual
Male>female, >30
thn, hiperurisemia
akut
Male>female,
dekade 2-3
Variabel

Inflamasi - + + +

Patologi Degenerasi Pannus Mikrotophi Enthesitis

Jumlah Sendi Poli Poli Mono-poli Oligo/poli

Tipe Sendi Kecil/besar Kecil Kecil-besar Besar

Predileksi Pinggul, lutut, MCP, PIP, MTP, kaki, Sacroiliac


punggung, 1st CMC, pergelangan pergelangan kaki & Spine
DIP, PIP tangan/kaki, kaki tangan Perifer besar

Temuan Sendi Bouchard’s nodes Ulnar dev, Swan Kristal urat En bloc spine
Heberden’s nodes neck, Boutonniere enthesopathy
Perubahan Osteofit Osteopenia erosi Erosi
tulang erosi ankilosis

Temuan - Nodul SK, Tophi, Uveitis, IBD,


Extraartikular pulmonari cardiac olecranon bursitis, konjungtivitis, insuf
splenomegaly batu ginjal aorta, psoriasis

Lab Normal RF +, anti CCP Asam urat


7. Nyeri Abdomen
• Kolelitiasis:
– Nyeri kanan atas/epigastrik
mendadak, hilang dalam 30
menit-3 jam, mual, setelah makan
berlemak.
• Kolesistitis:
– Nyeri kanan atas →
bahu/punggung, mual, muntah,
demam
– Nyeri tekan kanan atas (murphy
sign)
• Koledokolitiasis:
– Nyeri kanan atas, ikterik, pruritis,
mual.
• Kolangitis:
– Triad Charcot: nyeri kanan atas,
ikterik, demam/menggigil
– Reynold pentad: charcot + syok &
mitral stenosis
Pathophysiology of disease. 2nd ed. Springer; 2006.
7. Nyeri Abdomen
Lokasi Nyeri Anamnesis Pemeriksaan Pemeriksaan Diagnosis Terapi
Fisis Penunjang
Nyeri epigastrik Membaik dgn Tidak spesifik Urea breath test Dispepsia PPI:
Kembung makan (ulkus (+): H. pylori ome/lansoprazol
duodenum), Endoskopi: H. pylori:
Memburuk dgn eritema (gastritis klaritromisin+amok
makan (ulkus akut) silin+PPI
gastrikum) atropi (gastritis
kronik)
luka sd submukosa
(ulkus)
Nyeri epigastrik Gejala: mual & Nyeri tekan & Peningkatan enzim Pankreatitis Resusitasi cairan
menjalar ke muntah, Demam defans, perdarahan amylase & lipase di Nutrisi enteral
punggung Penyebab: alkohol retroperitoneal darah Analgesik
(30%), batu (Cullen:
empedu (35%) periumbilikal, Gray
Turner: pinggang),
Hipotensi
Nyeri kanan atas/ Prodromal Ikterus, Transaminase, Hepatitis Akut Suportif
epigastrium (demam, malaise, Hepatomegali Serologi HAV,
mual)  kuning. HBSAg, Anti HBS
Nyeri kanan atas/ Risk: Female, Fat, Nyeri tekan USG: hiperekoik Kolelitiasis Kolesistektomi
epigastrium Fourty, Hamil abdomen dgn acoustic Asam
Prepitasi makanan Berlangsung 30-180 window ursodeoksikolat
berlemak, Mual, menit
TIDAK Demam
Nyeri epigastrik/ Mual/muntah, Murphy Sign USG: penebalan Kolesistitis Resusitasi cairan
kanan atas Demam dinding kandung AB: sefalosporin
menjalar ke bahu/ empedu (double gen. 3 +
punggung rims) metronidazol
Kolesistektomi
8. Lung Disease
• Diagnosis pneumonia:
Infiltrat baru/infiltrat progresif + ≥2 gejala:
1. Batuk progresif
2. Perubahan karakter dahak/purulen
3. Suhu aksila ≥38 oC/riw. Demam
4. Fisis: tanda konsolidasi, napas bronkial, ronkhi
5. Lab: Leukositosis ≥10.000/leukopenia ≤4.500

• Air bronchogram: gambaran lusen pada bronkiolus yang


tampak karena alveoli tampak opak akibat inflamasi.
8. Lung Disease

• Asma bronkiale:
– Mengi, riwayat atopi (+)
• Abses paru:
– Air fluid lesion
• TB paru:
– Batuk > 2 minggu, keringat malam, turun berat badan
• PPOK:
– Perokok, batuk kronik berdahak.
9. Infark Miokard Akut
9. Infark
Miokard Akut

Lilly LS. Pathophysiology of heart


disease. 5th ed. Lipincott Williams &
Wilkins; 2011.
9. Infark Miokard Akut
Localization of Myocard Infarction
Anatomic Area ECG Leads with ST elevation Coronary Artery
Septal V1-V2 Proximal LAD
Anterior V3-V4 LAD
Apical V5-V6 Distal LAD, LCx, or RCA
Lateral I, aVL LCx
Inferior II, III, aVF (RCA (85%), LCx (15%)
Right ventricle V1-V2 & V4R Proximal RCA
Posterior ST depression V1-V2 RCA or LCx
10. Infektif Endokarditis
10. Infektif Endokarditis
• Clinical Manifestations:
– Persistent bacteremia: fever, weight loss, anorexia,
night sweat, fatigue
– Valvular/perivalvular infection: murmur, CHF,
conduction abnormality
– Septic emboli
– Immune complex phenomena: arthritis,
glomerulonephritis, ESR 
10. Infektif Endokarditis
10. Infektif Endokarditis
11. Demam Tifoid
11. Demam Tifoid

Widal test:
• Antibody detection to somatic antigen O & flagel antigen H from salmonella.
• Diagnostic result: the titer increase by >4 x after 5-10 days from the first
result.
• Titer for antibody O increase at 6-8 days after the first symptoms, while
antibody H increase at 10-12 days.
11. Demam Tifoid

Blood cultures: often (+) in the 1st week.


Stools cultures: yield (+) from the 2nd or 3rd week on.
Urine cultures: may be (+) after the 2nd week.
(+) culture of duodenal drainage: presence of Salmonella in carriers.
Jawetz medical microbiology.
12. Murmur & Heart Sounds
12. Murmur & Heart Sound

Lilly LS. Pathophysiology of heart disease.


12. Murmur & Heart Sound
13. Disorder of Calcium Balance
• Hypoparathyroidism may
occur as a complication of
thyroidectomy
– PTH released is inadequate
→ hypocalcemia.
– Proximal tubular effect of
PTH to promote phosphate
excretion is lost →
hyperphosphatemia
– Low level of 1,25-(OH)2D
– Less PTH is available to act
in the distal nephron →
increase calcium excretion
– Less PTH → less Mg
reabsorption at ansa Henle.

McPhee SJ, et al. Pathophysiology of disease: an introduction


to clinical medicine. 5th ed. McGraw-Hill; 2006.
13. Disorder of Calcium Balance
Organ Symptoms & Signs

Systemic Confusion
Weakness
Neuromuscular Paresthesias
Psychosis
Seizures
Carpopedal spasms
Chvostek's and Trousseau's signs
Depression
Muscle cramping
Parkinsonism
Irritability
Cardiac Prolonged QT interval
T-wave changes
Carpal spasm
Congestive heart failure
Ocular Cataracts

Dental Enamel hypoplasia of teeth

Respiratory Laryngospasm
Bronchospasm
Stridor
McPhee SJ, et al. Pathophysiology of disease: an introduction to clinical medicine. 5th ed. McGraw-Hill; 2006.
13. Disorder of Calcium Balance
• Parenteral calcium replacement at a low level should
be instituted when hypocalcemia is symptomatic.
– The rate and duration of IV therapy are determined by the
severity of the symptoms and the response of the serum
calcium to treatment.
– An infusion of 0.5–2 mg/kg per hour or 30–100 mL/h of a
1-mg/mL solution usually suffices to relieve symptoms.
– Usually, parenteral therapy is required for only a few days.
– If symptoms worsen or if parenteral calcium is needed for
>2–3 days, therapy with a vitamin D analogue and/or oral
calcium (2–4 g/d) should be started.

Harrison’s principles of internal medicine. McGraw-Hill; 2011.


14. Bloody Diarrhea
• IBD: a chronic condition
resulting from inappropriate
mucosal immune activation.
• Ulcerative colitis
– a severe ulcerating
inflammatory disease that is
limited to the colon and rectum
and extends only into the
mucosa and submucosa.
• Crohn disease
– Also been referred to as
regional enteritis (because of
frequent ileal involvement) may
involve any area of the GI tract
and is typically transmural.

Robbins & Kumar Pathologic basis of disease. 2010.


14. Bloody Diarrhea
Diagnosis Characteristic
Crohn disease Diare; nyeri abdomen kuadran kanan bawah, sering timbul setelah
makanan; turun berat badan & terdapat nyeri tekan abdomen.
Diare biasanya tidak berdarah.

Colitis ulcerative Diare, dengan atau tanpa darah. Jika inflamasi terdapat di rektum
(proktitis), darah dapat muncul di permukaan feses; gejala lain:
tenesmus, urgensi, nyeri rektum, keluar mukus tanpa diare.
Disentri Diare akut dengan BAB berdarah, tenesmus, demam.
IBS Nyeri perut hilang dengan defekasi, hilang timbul, terkait stres,
tidak ada kelainan anatomis.

Fauci et al. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
14. Diarrhea
15. Infeksi Saluran Kemih
• Sistitis: disuria, frekuensi, urgensi, nyeri suprapubik,
urin bau & kelabu.

• Pyelonefritis: demam, menggigil, mual, muntah, nyeri


abdomen, diare, silinder leukosit.

• Uretritis: disuria, frekuensi, pyuria.

• Urinalisis sebaiknya menggunakan urin pagi hari karena


urin terakumulasi sepanjang malam sehingga lebih
banyak kelainan, seperti silinder atau nitrit, yang dapat
ditemukan untuk diagnostik.
15. Infeksi Saluran Kemih
• Mild pyelonephritis:
– low-grade fever with or without lower-back/CVA pain.
• Severe pyelonephritis:
– high fever,
– rigors,
– nausea, vomiting, &
– flank and/or loin pain.
• Symptoms of cystitis may not be present. Fever is the main
feature distinguishing cystitis & pyelonephritis.
• Lab: leukocytosispyuria, bacteriuria, hematuria, cillinder
• Therapy:
– DOC: 7-day course of ciprofloxacin
– TMP-SMX (one double-strength tablet twice daily for 14 days) is also
effective if the uropathogen is known to be susceptible

Harrison’s principles of internal medicine. McGraw-Hill; 2011.


16. Malignancy
• Multiple myeloma: a malignant proliferation
of plasma cells derived from a single clone.
• The classic triad of myeloma:
– marrow plasmacytosis (>10%),
– lytic bone lesions,
– serum and/or urine M component. "punched out" lesions represents
• In 20% of myelomas, only light chains are a purely osteolytic lesion with
produced and in most cases are secreted in little or no osteoblastic activity
the urine as Bence Jones proteins.
16. Malignancy
Initial investigations in patients with myeloma:
• Screening tests:
– Full blood count (FBC), ESR or plasma viscosity
– Urea, creatinine, calcium, albumin
– Electrophoresis of serum and concentrated urine
– Quantification of non-isotypic immunoglobulins
– X-ray of symptomatic areas

• Tests to establish diagnosis


– Bone marrow aspirate + trephine biopsy with plasma cell
phenotyping
– Immunofixation of serum & urine
Guidelines on the diagnosis and management of multiple myeloma.
British Committee for Standards in Haematology in conjunction with the UK Myeloma Forum (UKMF)
17. Chronic Kidney Disease
• Chronic kidney disease (CKD)
– encompasses a spectrum of different pathophysiologic
processes associated with abnormal kidney function and a
progressive decline in GFR.
• Etiology: DM, hypertension, glomerulonephritis, drug-
induced, myeloma.
Signs & Symptoms of Uremia
General Nausea, anorexia, malaise, fetor uremicus, pruritus
Neurologic Encephalopathy, seizures, neuropathy
Cardiovascular Pericarditis, accelerated atherosclerosis
Hematologic Anemia due to erythropoietin deficiency, bleeding
(due to platelet dysfunction)
Metabolic Hyperkalemia, hyperphosphatemia, hypocalcemia
17. Chronic Kidney Disease
Stage GFR Therapeutic Goals
1 (N or  GFR) > 90 Treat underlying disease
2 (mild) 60-89 Estimate progression
3 (moderate) 30-59 Evaluate & treat progression
4 (severe) 15-29 Prepare for renal replacement therapy
5 (kidney failure) < 15 or dyalisis Dialysis if uremic, renal tranplantation

• Treatment:
• Dietary restriction: Na (if hypertensive),
K (if hyperkalemic), protein
• Blood pressure control <130/80
• Metabolic acidosis: bicnat
• Anemia: erythropoietin
• Hyperparathyroidism: phosporous
binder

Harrison’s principles of internal medicine. McGraw-Hill; 2011.


Pocket medicine. 3rd ed. LWW; 2008.
18-19. Hematemesis
• Cirrhosis
– the development of fibrosis to the
point that there is architectural
distortion with the formation of
regenerative nodules.
– This results in a decrease in
hepatocellular mass, and thus
function, & an alteration of blood
flow.
18-19. Hematemesis
• Portal hypertension caused by:
–  intrahepatic resistance to the
passage of blood flow through
the liver due to cirrhosis &
regenerative nodules
–  splanchnic blood flow
secondary to vasodilation
within the splanchnic vascular
bed.

• Portal hypertension cause


varices around the sites of
portosystemic anastomoses:
– hemorrhoids at the anorectal
junction;
– esophageal varices at the
gastroesophageal junction;
– caput medusae at the
umbilicus.
18-19. Hematemesis
• Lab:
– Anemia, a frequent finding, is often macrocytic
– Modest elevations of AST & alkaline phosphatase and
elevation of the bilirubin.
– Serum albumin is low
• Imaging:
– Ultrasound is helpful for assessing liver size and detecting
ascites or hepatic nodules, including small hepatocellular
carcinomas.
– Hepatic nodules are characterized further by contrast-
enhanced CT scan or MRI.
– Nodules suspicious for malignancy may be biopsied under
ultrasound or CT guidance.
18-19. Hematemesis
The following are common sites of porto-systemic shunts:
• Between the left gastric and lower oesophageal veins (portal) and the
lower branches of the oesophageal veins draining into the azygos and
accessory hemiazygos veins (systemic). Enlargement of these anastomoses
may result in the formation of varices, either oesophageal or gastric.
• Between the superior rectal veins (portal) and the middle and inferior
rectal veins draining into the internal iliac and pudendal veins (systemic).
• Between persistent tributaries of the left branch of the portal vein running
in the ligamentum teres and the peri-umbilical branches of the superior
and inferior epigastric veins (systemic), forming the so-called 'caput
medusae'.
• Between intraparenchymal branches of the right branch of the portal vein
lying in liver tissue exposed in the 'bare area' and retroperitoneal veins
draining into the lumbar, azygos & hemiazygos veins.
• Between omental and colonic veins (portal) and retroperitoneal veins
(systemic) in the region of the hepatic and splenic flexure.

Standring et al. Gray’s Anatomy. 39th ed.


20. Organophosphate Intoxication
• Organophosphorus pesticides inhibit esterase enzymes, especially
acetylcholinesterase in synapses and on red-cell membranes.

• Acetylcholinesterase inhibition → accumulation of acetylcholine &


overstimulation of acetylcholine receptors in synapses of the
autonomic nervous system, CNS, and neuromuscular junctions 
DUMBELS.

• DUMBELS: diarrhea, urination, miosis,


bradycardia/bronchorea/bronchospasm, emesis, lacrimation,
salivation.

• Atropinisasi ditandai oleh midriasis & dapat diteruskan hingga


mengi atau bronkorea reda.

Review article: Allergic rhinitis management pocket reference 2008. Journal compilation 2008
Blackwell Munksgaard. Allergy 2008: 63: 990–996.
20. Organophosphate Intoxication
21. Dyslipidemia
21. Dyslipidemia
22. Thyroid Disease
• Skor > 19:
– hipertiroidisme.
• Skor < 11:
– eutiroidism.
• Skor antara 11-19:
– equivocal
22. Thyroid Disease
• A score > 25:
– hypothyroidism.
• A score < - 30:
– Exclude
hypothyrodism
23. Gagal Jantung
24. Cerebral Malaria
• Possible cause:
• Binding of
parasitized red cells
in cerebral capillaries
→ sekuestrasi →
severe malaria
•  permeability of the
blood brain barrier
• Excessive induction
ofcytokines

http://www.microbiol.unimelb.edu.au
25. Hepatitis
• More than 600 medicines have been reported to cause liver injury.
• Hepatocellular, cholestatic, & mixed injury patterns are typically
distinguished by ALT & alkaline phosphatase (AP) values & ratios.
• Cholestatic or hepatocellular liver injury occurs typically 5-90 days
after initial exposure.
• On withdrawal of the drug, biochemical improvement in
hepatocellular injury is seen within 2 weeks, whereas cholestatic or
mixed injury may not improve for 4 weeks.
• Persistence of abnormal liver biochemistries beyond these intervals
suggests a coexistent or independent cause of liver disease.

1. GI-Liver Secrets.
2. 2. Current Diagnosis & Treatment in Gastroenterology.
25. Hepatitis
• Hepatitis Imbas Obat e.c. pirazinamid, rifampisin, isoniazid.

• Bila klinis (+) (ikterik, mual/muntah) → OAT stop.

• Gejala (-), lab:


– Bilirubin >2x  OAT stop
– SGOT, SGPT ≥5x  OAT stop
– SGOT, SGPT ≥3x  teruskan dengan pengawasan

• Setelah klinis & lab (ALT, AST, bilirubin) normal →


desensitisasi dengan INH, lalu Rifampisin.

• Pirazinamid tidak diberikan lagi.


Tuberkulosis: pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006.
26. Hipertensi
26. Hipertensi

• If a drug is not
tolerated or is
contraindicated, then
one of the other
classes proven to
reduce cardiovascular
events should be used
instead.
• Treating SBP and DBP
to targets that are
<140/90 mmHg is
associated with a
decrease in CVD
complications.
• In patients with
hypertension and
diabetes or renal
disease, the BP goal is
<130/80 mmHg.
26. Hipertensi
ILMU BEDAH, ANESTESIOLOGI &
RADIOLOGI
http://emedicine.medscape.com/article/ http://en.wikipedia.org/wiki/

27. Male Genital Disorders


Disorders Etiology Clinical
Testicular torsion Intra/extra-vaginal Sudden onset of severe testicular pain followed by
torsion inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal
upset with nausea and vomiting.
Chriptorchimus Congenital anomaly Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other
area, hidden or palpated as a mass in
inguinal.Complication:esticular neoplasm,
subfertility, testicular torsion and inguinal hernia
Varicocoele Vein insufficiency Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is
often described as feeling like a bag of worms
Hernia skrotalis persistent patency of Mass in scrotum when coughing or crying. Bowel
the processus sound on scrotum. Strangulated → nausea,
vaginalis vomiting, fever, edematous, erythematous,
discolored
Radang testis Mumps virus Testicular pain and swelling, fatigue, fever, chills,
sinistra/Orchitis Testicular enlargement, induration of the testis,
Erythematous scrotal skin
Testicular torsion
Signs and symptoms of testicular torsion include:
• Sudden or severe pain in the scrotum — the
loose bag of skin under your penis that contains
the testicles
• Swelling of the scrotum
• Abdominal pain
• Nausea and vomiting
• A testicle that's positioned higher than normal or
at an unusual angle
http://emedicine.medscape.com/article/2047916

28. Chest Trauma


Disorders Etiology Clinical

Hemothorax lacerated blood Anxiety/Restlessness,Tachypnea,Signs of


vessel in thorax Shock,Tachycardia
Frothy, Bloody Sputum
Diminished Breath Sounds on Affected
Side,Flat Neck Veins, Dullness to percussion
Simple/Closed Blunt trauma Opening in lung tissue that leaks air into
Pneumothorax spontaneous chest cavity, Chest Pain,Dyspnea,Tachypnea
Decreased Breath Sounds on Affected
Side,hipersonor
Open Pneumothorx Penetrating Opening in chest cavity that allows air to
chest wound enter pleural cavity, Dyspnea,Sudden sharp
pain,Subcutaneous Emphysema
Decreased lung sounds on affected side
Red Bubbles on Exhalation from wound
(Sucking chest wound)
Disorders Etiology Clinical
Tension Penumothorax Anxiety/Restlessness, Severe ,Poor Color
Dyspnea,Tachypnea,Tachycardia
Absent Breath sounds on affected side, Accessory
Muscle Use, JV Distention
Narrowing Pulse Pressures,Hypotension
Tracheal Deviation, hypersonor

Flail Chest Trauma a segment of the rib cage breaks becomes


detached from the rest of the chest wall, 3 ribs
broken in 2 or more places,painful when
breathing,Paradoxical breathing

Pleural Efusion congestive heart Dyspnea, cough, chest pain, which results from
failure, pleural irritation, Dullness to percussion,
pneumonia, decreased tactile fremitus, and asymmetrical
malignancy, or chest expansion, with diminished or delayed
pulmonary expansion on the side of the effusion, decreased
embolism tactile fremitus, and asymmetrical chest
infection expansion, diminished or delayed expansion on
the side of the effusion

Pneumonia Infection, Fever,dysnea,cough,rales in ausultation


inflammation
http://emedicine.medscape.com/ As blood increases, it puts pressure on heart
pleural space fills with blood and other vessels in chest cavity

Treatment for Hemothorax


• ABC’s with c-spine control as indicated
• Secure Airway assist ventilation if
necessary
• General Shock Care due to Blood loss
• Consider Left Lateral Recumbent position
if not contraindicated
• RAPID TRANSPORT
• Contact Hospital and ALS Unit as soon as
possible
Upright chest radiograph:
• needle decompression → if indicated blunting at the costophrenic angle or
• Chest tube → as soon as patient stable an air-fluid interface
29. Tibia-fibula Shaft Fracture/ Cruris
Fracture
• Kruris → tungkai bawah yang
terdiri dari dua tulang panjang
yaitu tulang tibia dan fibula
• Tscherne Classification
– 0-3
– Based on degree of displacement
and comminution
• C0 → simple fracture configuration with
little or no soft tissue injury
• C1 → superficial abrasion, mild to
moderately severe fracture
configuration
• C2 → deep contamination with local
skin or muscle contusion, moderately
severe fracture configuration
• C3 → extensive contusion or crushing
of skin or destruction of muscle, severe
fracture
Clinical Features of Fracture
• History of trauma
• Symptoms & signs:
– Pain & tenderness
– Swelling
– Deformity
– Crepitus
– Loss of function
– Abnormal move
– N.V. injuries
Treatment
Nonoperative
• Fracture reduction followed by
application of a long leg cast with
progressive weight bearing can
be used for isolated, closed, low-
energy fractures with minimal
displacement and comminution.
• Cast above knee, with the knee in
0 to 5 degrees of flexion
• After 4 to 6 weeks, the long leg
cast may be exchanged for a
patella-bearing cast or fracture
brace.
• Union rates as high as 97%

Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D. Handbook of Fractures,


3rd Edition
Lippincott Williams & Wilkins 2006 https://www2.aofoundation.org
Operative fracture management
• Operative treatment of displaced unstable
tibia shaft fractures is the treatment of choice
if it can be performed in facilities with the
necessary equipment and skills
• Surgical treatment is necessary for open
fractures (wound debridement), compartment
syndromes, and repair of arterial injuries
30. Head Injury
31. LUTS → BPH
What’s LUTS?
Voiding (obstructive) Storage (irritative or
symptoms filling) symptoms
• Hesitancy • Urgency
• Weak stream • Frequency
• Straining to pass urine • Nocturia
• Prolonged micturition • Urge incontinence
• Feeling of incomplete
bladder emptying
• Urinary retention
LUTS is not specific to BPH – not everyone with
LUTS has BPH and not everyone with BPH has LUTS
Blaivas JG. Urol Clin North Am 1985;12:215–24
Causes of BPH
 BPH is part of the natural aging process,
like getting gray hair or wearing glasses
 BPH cannot be prevented
 Half of all men over the age of 60 will
develop an enlarged prostate.
 By the time men reach their 70’s and
80’s, 80% will experience urinary
symptoms
 But only 25% of men aged 80 will be
receiving BPH treatment
BPH
Proposed Etiologies

• Alterations in the testosterone/estrogen balance:


enlarged prostate may be caused by lower levels of
testosterone (male hormone) production in middle to
old age
• Pro-growth role of a testosterone metabolite DHT
(dihydrotestosterone)
• Induction of prostatic growth factors.
• Increased stem cells/decreased stromal cell death

European Association of Urology 2008


32. Cardiac Tamponade
• Tamponade → suspected
– Echocardiography
– Pericardiocentesis
• done immediately for
diagnosis and treatment → a
brief delay might be life
threatening.
• Needle pericardiocentesis
is often best when the
etiology is known or the
presence of tamponade is
in question
33. Buerger’s Disease (Thrombangiitis Obliterans)
• Exclusively associated with cigarette smoking
• Occlusive lesions seen in muscular arteries, with a
predilection for tibial vessels
• Presentation
– rest pain
– Gangrene
– Ulceration
• Recurrent superficial thrombophlebitis (“phlebitis
migrans”)
• Young adults, heavy smokers, no other atherosclerotic
risk factors
• Angiography - diffuse occlusion of distal extremity
vessels
• Progression - distal to proximal
• Clinical remission with smoking cessation
Disorder Onset Etiology Clinical Feat.
Buerger Disease chronic Segmental vascular Intermitten claudicatio, Smoking
inflammation
Polyarteritis nodosa acute immune complex– Fever,Malaise,Fatigue,Anorexia,
induced disease weight loss,Myalgia,Arthralgia in large
necrotizing joints,polyneuropathy, cerebral
inflammatory lesions ischemia, rash, purpura, gangrene,
small and medium- Abdominal pain, does not involve the
sized arteries lungs

Vasculitis hypersensitif Acute/ Circulating immune a small vessel vasculitis,usually affect


chronic complexes→drugsf skin, but can also affect joints,
ood,other gastrointestinal tract, and the
unknown cause kidneys→itching, a burning
sensation, or pain, purpura
Wegener chronic autoimmune tissue destruction of upper
granulomatosis respiratory tract (sinuses, nose, ears,
and trachea [the “windpipe”]), the
lungs, and the kidneys
Takayasu arteritis chronic unknown of systolic blood pressure difference
inflammatory (>10 mm Hg) between arms,
proscess pulselessness,bruit a.carotid
34. Urolithiasis
• Urinary tract stone disease
• Signs:
– Flank pain
– Irritative voiding symptom
– Nausea
– microscopic hematuria
• Urinary crystals of calcium
oxalate, uric acid, or cystine
may occasionally be found
upon urinalysis
• Diagnosis: IVP

optimized by optima
35. Hemorrhoid

External Hemorrhoids Internal Hemorrhoids


Outside anal canal, around sphincter Inside anal canal
Symptoms due to thrombosis Symtomps due to bleeding and/or
irritation of mucosa
Can not be inserted to anal canal Can be inserted to anal canal up to grade
III
• Internal Hemorrhoids →
Internal hemorrhoidal plexus
– V. Rectus Inferior
– V. Rectus Media
• External Hemorrhoids →
external hemrroidal plexus
– V. Rectus Inferior
Histological Feature
• Hemorrhoids vascular
structures in the anal
canal
• Histological Feature
– Simple columnar
epithelium and
stratified squamous
epithelium with
distention of veins in
the lamina propria and
submucosa of the anal
canal
36. Obstruction
Accounts for 5% of all acute surgical admissions
Patients are often extremely ill requiring prompt
assessment, resuscitation and intensive monitoring

Obstruction A mechanical blockage arising from a


structural abnormality that presents a
physical barrier to the progression of gut
contents.
Ileus is a paralytic or functional variety of
obstruction

Obstruction is: Partial or complete


Simple or strangulated
Causes- Small Bowel
Luminal Mural Extraluminal
F. Body Neoplasims Postoperative
Bezoars lipoma adhesions
Gall stone polyps
Food Particles leiyomayoma Congenital
A. lumbricoides hematoma adhesions
lymphoma
carcimoid Hernia
carinoma
secondary Tumors Volvulus
Crohns
TB
Stricture
Intussusception
Congenital
1. History
The Universal Features
Colicky abdominal pain, vomiting, constipation (absolute), abdominal distension.
Complete HX ( PMH, PSH, ROS, Medication, FH, SH)

High Distal small bowel Colonic


•Pain is rapid •Pain: central and colicky • Preexisting change in
•Vomitus is feculunt bowel habit
•Vomiting copious and •Distension is severe •Colicky in the lower
contains bile jejunal content abdomin
•Visible peristalsis
•May continue to pass •Vomiting is late
•Abdominal distension is •Distension prominent
flatus and feacus before
limited or localized
absolute constipation •Cecum ? distended

•Rapid dehydration
Persistent pain may be a sign of strangulation
Relative and absolute constipation
2. Examination
General Abdominal Others

•Vital signs: •Abdominal distension and it’s Systemic


pattern examination
P, BP, RR, T, Sat
•Hernial orifices If deemed necessary.
•dehydration
•Visible peristalsis •CNS
•Anaemia, jaundice, LN
•Cecal distension •Vascular
•Assessment of vomitus •Tenderness, guarding and rebound •Gynaecological
if possible •Organomegaly •muscuoloskeltal
•Full lung and heart •Bowel sounds
examination –High pitched (metallic sound)
–Absent
•Rectal examination

• Darm kontur: visible shape of


intestines on the abdomen
• Darm Steifung: visible peristaltic
movement on the abdomen
Radiological Evaluation
Normal Scout
Always request: Supine, Erect and CXR
Gas pattern:
• Gastric,
• Colonic and 1-2 small bowel
Fluid Levels:
• Gastric
• 1-2 small bowel
Check gasses in 4 areas:
1. Caecal
2. Hepatobiliary
3. Free gas under diaphragm
4. Rectum
Look for calcification
Look for soft tissue masses, psoas shadow
Look for fecal pattern
The Difference between small
and large bowel obstruction
Large bowel Small Bowel
•Peripheral ( diameter 8 cm max) •Central ( diameter 5 cm max)
•Presence of haustration •Vulvulae coniventae
•Ileum: may appear tubeless
Radiology: Flat and upright (or decubitus) abdominal
X-Ray
A. Sensitivity: 60% (up to 90%)
B. Typical findings of Bowel Obstruction
1. Bowel distention proximal to obstruction
2. Bowel collapsed distal to obstruction
3. Upright or decubitus view: Air-fluid levels
4. Supine view findings
a. Sharply angulated distended bowel loops
b. Step-ladder arrangement or parallel bowel
loops
37. Male Genital Disorder
Epispadia → the urethra ends in an opening
on the upper aspect (the dorsum) of the
penis
• Penis → typically broad, shortened
upward curvature (dorsal chordee)
• Attached to the pelvic bones, which are
widely separated
• Classification:
• the glans (glanular)
• along the shaft of the penis (penile)
• near the pubic bone (penopubic)

http://www.genitalsurgerybelgrade.com/urogenital_surgery_detail.php?Epispadias-4
http://emedicine.medscape.com/article/1015227

Hypospadia
• The urethral opening is
ectopically located on the
ventrum of the penis proximal
to the tip of the glans penis
• Three anatomical
characteristics
• An ectopic urethral meatus
• An incompleteprepuce
• Chordee → ventral shortening
and curvature
38. Epididymitis
• Inflammation of
epididymis
• If involving testicle →
epididymoorchitis
• STD is usually the cause
of epididymitis
• Common sexually
transmitted pathogen,
Chlamydia
PRESENTATION
• Scrotal pain radiating to groin &flank.
• Scrotal swelling due to infl. Or hydrocele.
• Symp. Of ureth.,cystitis,prostatitis.
• O/E tendered red scrotal swelling.
• Elevation of scrotum relieves pain → phren
sign (+)
TREATMENT
• ORAL ANTIBIOTIC.
• SCROTAL ELEVATION, bed rest,&use of NSAID.
• admission & IV drugs used.
• in STD treat partner.
• in chronic pain do epididymectomy.
Orchitis
• Orchitis is an inflammation of the testes.
• Etiology Treatment
– Mumps
• Rest - bed
– Testicular congestion
• Elevate scrotum
– Viral
– Parasitic • Ice pack
– Trauma • Antibiotics
• Signs & Symptoms • Analgesics
– Pain • Anti-inflammatory
– Swollen
39. Urinary Tract Obstruction
Etiology : • Previous history of
• Acquired urinary tract Loin/flank pain,
obstruction may be due to
– inflammatory or traumatic vomiting, and
urethral strictures, sometimes fever
– bladder outlet obstruction → suggestive for
– neuropathic bladder,
urinary tract stone
– extrinsic ureteral
compression
– ureteral or pelvic stones
– ureteral strictures,
– ureteral or pelvic tumors.
40. Choking
Child choking

Abdominal thrust =
“Heimlich manouvre”

www.resus.org.uk/pages/pchkalgo.pdf
41. Trauma Uretra
• Suspect that a patient
may have injured his
lower urinary tract if:
– he has some injury
which makes this likely
(especially a fractured
pelvis)
– cannot pass urine after
an accident
– there is blood at the tip
of his urethra
Management of Trauma Patient
42. Intracranial Hemorrhage
• Epidural hematoma:
– Interval lucid → decreased of
consciousness
– Etiology: trauma → rupture of a.
meningeal media

• Subdural hematoma
– Hemiparesis, decrease of
consciousness, cephalgia
– Etiology: trauma → rupture of bridging
vein in elderly or infant

• Subarachnoid hemorrhage (stroke)


– Thunderclap headache, meningeal
signs, decreased of consciousness
– Etiology: aneurysma rupture e.c. heavy
exertion/sexual intercourse

• Intracerebral hemorrhage (stroke)


– Paresis, hypesthesia, ataxia, decreased
of consciousness
Misulis KE, Head TC. Netter’s concise neurology. 1st ed. Saunders; 2007
– Etiology: Hypertension
Imaging in head trauma
• Epidural Hematoma
– Potential space between
the dura in the inner
table of the skull
– Can’t cross sutures
– Middle meningeal artery
– Lucid interval
– CT without contrast
– Lenticular or biconvex
shape
Imaging in head trauma
• Subdural Hematoma
– Between the dura mater
and the arachnoid mater
– Can cross sutures
– Cortical bridging veins
– Loss of consciousness
– CT without contrast
– Crescent shape
43. Colonic Carcinoma
Time Course Symptoms Findings
Early None None
Occult blood
in stool
Mid Rectal Rectal mass
bleeding Blood in stool
Change in
bowel habits
Late Fatigue Weight loss
Anemia Abdominal
Abdominal mass
pain Bowel
obstruction
Pathogenesis

Janne PA, Mayer RJ. N Engl J Med 2000;342:1960.


Site Distribution Staging
Double-contrast Barium Enema
• Advantage
– Examines entire colon
– Relatively low cost
• Disadvantge
– Never studied as a screening test
– Missed 50% of polyps > 1cm
in one study
– Detects 50-75% of cancers in those with
positive FOBT
– Interval between exams unknown
Winawer et al. Gastroenterology 1997; 112:599
Rex, Endoscopy 1995; 27:200
Lieberman et al. N Engl J Med 2000; 343:163
http://emedicine.medscape.com/article/120034

44. Thyroid Enlargement (goiter)


• Abnormal enlargement of the thyroid gland
and can occur for a number of different
reasons

Multinodular Goiter

Diffuse Goiter
Thyroid Workup
• TSH – first-line serum test
– Identifies subclinical thyrotoxicosis
• T4, T3
• Serum Testing
• Calcium
• Thyroglobulin
– Post-treatment good to detect recurrence
• Calcitonin – only in cases of medullary
• Antibodies – Hashimoto’s
• RET proto-oncogene
121
Ultrasonography
• Thyroid vs. non-thyroid
– Good screen for thyroid presence in children
• Cystic vs. solid
• Localization for FNA or injection
• Serial exam of nodule size
– 2-3 mm lower end of resolution
• May distinguish solitary nodule from
multinodular goiter
– Dominant nodule risks no different
122
Ultrasonography
• Findings suggestive of malignancy:
– Presence of halo
– Irregular border
– Presence of cystic components
– Presence of calcifications
– Heterogeneous echo pattern
– Extrathyroidal extension
• No findings are definitive

123
Pearls from an Expert (Mazzaferri)
• No imaging on asymptomatic pts with normal
glands by palpation – too many false positives
• Symptoms suggestive of invasion need tissue dx
• Two or more suspicious features (Hamming study)
need surgery, regardless of FNA
• Multinodular goiter carries a substantial risk of
cancer
• Greater suspicion of nodules in males
• Male over 60: consider surgery regardless of FNA,
due to high likelihood of cancer
124
45. The Breast
Tumors Onset Feature
Breast cancer 30-menopause Invasive Ductal Carcinoma , Paget’s disease (Ca Insitu),
Peau d’orange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass
Fibroadenoma < 30 years They are solid, round, rubbery lumps that move freely in
mammae the breast when pushed upon and are usually painless.
Fibrocystic 20 to 40 years lumps in both breasts that increase in size and
mammae tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge
Mastitis 18-50 years Localized breast erythema, warmth, and pain. May be
lactating and may have recently missed feedings.fever.
Philloides 30-55 years intralobular stroma . “leaf-like”configuration.Firm,
Tumors smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.
Duct Papilloma 45-50 years occurs mainly in large ducts, present with a serous or
bloody nipple discharge
• Flu-like symptoms, malaise, and
myalgia
• Fever
• Breast pain
• Decreased milk outflow
• Breast warmth
• Breast tenderness
• Breast firmness
• Breast swelling
• Breast erythema
• Breast mass
• If left untreated → breast abscess
– spontaneous drainage from the mass or
nipple
– Palpation → Fluctuation +
GALACTOCELE

• A milk-containing cyst that results from occlusion of


a lactiferous duct and is lined by flattened cuboidal
epithelium
• Retention of milk-like fluid (fatty material) in areas of
cystic duct dilatation appearing usually during or
shortly after lactation
– SOME GALACTOCELES HAVE BEEN REPORTED WITH NO
HISTORY OF LACTATION AND EVEN PREGNANCY, PROBABLY
DUE TO DUCTAL OBSTRUCTION OF ANOTHER ETIOLOGY.
GALACTOCELE

• Palpable, firm, mobile mass in IMAGING


pregnant, lactating or early • Well-circumscribed mass
post lactational patient. • Echogenicity depends on the
• May be seen up to several amount of fat and protein
years post lactation within the milk
• May be seen in chronic • Frequently subareolar but may
galactorrhea, in patients be anywhere in the breast
receiving prolactin stimulating • Solitary, multiple, unilateral or
agents or in pituitary adenoma bilateral
• May occur after breast • Average size 2 cm, may exceed
augmentation 5 cm.
• Rarely reported in
postmenopausal women, in
males and in infants
soundnet.cs.princeton.edu
46. Posterior Hip
Dislocation
Symptoms
• knee pain
• pain in the back
hip
• difficulty moving
the lower
extremity
• The leg is
shortened and
internally rotated
with flexion and
adduction at the
hip
Risk Factor
• Accident
• Improper seating
adjustment
• sudden break in
the car

netterimages.com
Complication Hip Dislocation
• Up to 50% of
patients sustain
concomitant
fractures elsewhere
at the time of hip
dislocation.
• Sciatic nerve injury
is present in 10% to
20% of posterior
dislocations
Sciatic nerve injury
• Usually, the peroneal portion of the nerve is
affected, with little if any dysfunction of the
tibial nerve
• Symptoms:
– Drop foot
• Cannot dorsoflex the foot
Peroneal Nerve Injury
Foot drop :
• Complete
– sciatic or lateral
popliteal nerve injury
• Incomplete
– superficial or deep
peroneal nerve
• High lesions → total foot
drop
• Low lesions →
incomplete foot drop
Type 1 :
– Dorsiflexion and inversion is not possible
– Front of the leg is wasted
– Sensation over the dorsal web space is lost

Type 2 :
– Cannot evert but can dorsiflex and invert the foot
– Wasting of the outer half of the leg
– Sensation lost over outer leg and foot

• Gait : - high stepping gait is characteristic .


47. Cerebral Contusion
• Most common Focal brain
Injury
• Sites → Impact site/ under
skull #
• Anteroinferior frontal
• Anterior Temporal
• Occipital Regions
• Petechial hemorrahges → • Most patients with cerebral contusions have
coalesce → Intracerebral had a serious head injury with a loss of
Hematomas later on consciousness.

• Cerebral edema, or swelling, typically develops


around contusions within 48 to 72 hours after
injury.
Brainstem Reflexes
Facial palsy unilateral 7 N injury- Basilar skull #
Corneal reflex ( V1+V2) Rostral Pontine function
Dolls eye maneuver Vestibuloocular function
Ice water caloric test ( never in awake child) COWS normal response
Coma – same side deviation
Stuporous/obtunded – nystagmus to
contralateral rapid component
Gag and cough reflex 9,10th N + brainstem swallowing centers
Periodic( Cheyne-stokes) b/l hemispheric/diencephalic injury to as
caudal as upper pons
Apneustic ( prolonged ispiratory plateau) Mid- caudal pons injury
Ataxic breathing( irregular stuttering resp) Medullary respiratory generator center.

Presence of one or more brainstem reflexes (even if one sided) should withheld the
decision of “Brain death”
48. GIT Congenital Malformation
Disorder Clinical Presentation
Hirschprung Congenital aganglionic megacolon (Auerbach's Plexus)
Fails to pass meconium within 24-48 hours after birth,chronic constipation
since birth, bowel obstruction with bilious vomiting, abdominal distention,
poor feeding, and failure to thrive, Chronic Enterocolitis.
RT:Explosive stools .
Criterion standard→full-thickness rectal biopsy.
Treatment → remove the poorly functioning aganglionic bowel and create an
anastomosis to the distal rectum with the healthy innervated bowel (with or
without an initial diversion)
Anal Atresia Anal opening (-), The anal opening in the wrong place,abdominal distention,
failed to pass meconium,meconium excretion from the fistula (perineum,
rectovagina, rectovesica, rectovestibuler).
Low lesion→the colon remains close to the skin→ stenosis anus, or the rectum
ending in a blind pouch.
High lesion→the colon is higher up in the pelvis →fistula
Hypertrophic Hypertrophy and hyperplasia of the muscular layers of the pylorus
Pyloric →functional gastric outlet obstruction
Stenosis Projectile vomiting, visible peristalsis, and a palpable pyloric tumor(Olive
sign).Vomiting → occur after every feeding,starts 3-4 weeks of age
Disorder Clinical Presentation

Oesophagus Congenitally interrupted esophagus


Atresia Drools and has substantial mucus, with excessive oral secretions,.
Bluish coloration to the skin (cyanosis) with attempted feedings
Coughing, gagging, and choking, respiratory distressPoor feeding
Intestine Atresia Malformation where there is a narrowing or absence of a portion
of the intestine
Abdominal distension (inflation), fails to pass stools, Bilious
vomiting

http://en.wikipedia.org/wiki/ http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth
Hirschsprung’s disease
Clinical symptoms
• The disease can considered to be incomplete
intestinal obstruction
• The lenght of the aganglionic segment is
variable
• The symptoms are variable too
• The symptoms appears in different ages
Symptoms in Symptoms in newborn
newborn age age(enterocolitis)
• Fail to pass meconium (in • Life-threatening condition
24 hours of life) • Diarrhea: it can be an
• Abdominal distension, early sign
but the abdomen is • Toxic megacolon
palpable • Abdominal distension
• Vomiting • Bile-stained vomiting
• The rectal tube can’t be • Fiver and signs of
put easily dehydration
• After irrigation the signs • Rectal tube:explosive
and symptoms return expulsion of gas and foul-
again in a few days smelling stools
Symptoms in Symptoms in childhood
infants • Gracile limbs
• Constipation • Dilated drumlike belly
• Meteorism • Long history of constipation
• Palpable faecaloma • Defecation in 7-10 days
• Sometimes
putrescent diarrhea • Multiple fecal masses
• Ulceration, • The stimulus of defecation
bleeding is missing
• Hypoproteinaemia, • Rectum is empty and
anaemia narrow
• Electrolyt disorders
• Darm kontur: visible shape of intestines on the
abdomen
• Darm Steifung: visible peristaltic movement
on the abdomen
Rontgen :
• Plain abdominal radiography
– Dilated bowel
– Air-fluid levels.
– Empty rectum
• Contrast enema
– Transition zone
– Abnormal, irregular contractions of
aganglionic segment
– Delayed evacuation of barium
• Biopsy :
– absence of ganglion cells
– hypertrophy and hyperplasia of nerve
fibers,
Duodenal atresia

Atresia anii

Intussusception

Hirschprung

http://emedicine.medscape.com/ Learningradiology.om
49. Vertebral Pain
• Spondylolysis
– Also known as pars defect
– Also known as pars fracture
– With or without
spondylolisthesis
– A fracture or defect in the
vertebra, usually in the
posterior elements—most
frequently in the pars
interarticularis
• Symptoms
Spondylolysis
– Low back pain/stiffness
– Forward bending
increases pain
– Symptoms get worse
with activity
– May include a stenotic component resulting in
leg symptoms
– Seen most often in athletes
• Gymnasts at risk
• Caused by repeated strain
• Diagnosis
– Plain oblique radiographs
– CT, in some cases
• Nonoperative care
– Limit athletic activities
– Physical therapy
• Most fractures heal without other medical
intervention
• Surgical care
– Failure of nonoperative treatment
– Posterior fusion
• Instrumented
• May require decompression
Spondylolisthesis
• Spondylolisthesis is a condition in
which a bone (vertebra) in the
spine slips out of the proper Spondylolisis
position onto the bone below it.
• Symptoms may include:
– Lower back pain
– Muscle tightness (tight hamstring
muscle)
– Pain, numbness, or tingling in the
thighs and buttocks
– Stiffness
– Tenderness in the area of the
slipped disc
– Weakness in the legs
Spondylolisthesis
• Gradation of
spondylolisthesis
– Meyerding’s Scale
• Grade 1 = up to 25%
• Grade 2 = up to 50%
• Grade 3 = up to 75%
• Grade 4 = up to 100%
• Grade 5 >100%
(complete dislocation,
spondyloloptosis)
Spondylolisthesis
• Diagnosis
– Plain radiographs
– CT, in some cases with
leg symptoms
• Nonoperative Care
– Rest
– NSAID medication
– Physical therapy
– Steroid injections
• Surgical care
– Failure of nonoperative
treatment
– Decompression and fusion
• Instrumented
• Posterior approach
• With interbody fusion
50. Epidermal Cyst

• A raised nodule on the skin of the face or neck


• May be noted intraorally on occasion
• Histologic
– Lined by keratinizing epithelium the resembles
the epithelium of the skin
– The lumen is usually filled with keratin scales
• Treatment
– Surgical excision
Dermoid Cyst and Benign Cystic Teratoma

• A developmental cyst often present at birth or noted in


young children
– It is usually found on the floor of the mouth when it is located in
the oral cavity.
– May have a doughy consistency when palpated
• Histologic
– Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium
surrounded by a connective tissue wall
– The lumen is usually filled with keratin
– Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen
in the cyst wall
– Benign cystic teratoma
• Resembles a dermoid cyst
• Treatment
– Surgical excision
Diagnosis Histologic

Lipoma Soft mass, pseudofluctuant with a


slippery edge

Atherom cyst Occur when a pilosebaceous unit or a


sebaceous gland becomes blocked. Skin
Color is usually normal, and there is a
punctum (comedo, blackhead) on the
dome
51. Volume Perdarahan Fraktur Femur

• Femur bone anatomy


– Near major blood
vessel (femoral artery)
• Femur Fracture blood
loss Up to 1,500 ml
per femur
Hemorrhaegic Shock
52. Colloid For Resuscitation
• Colloids are large molecules
that do not pass across
diffusional barriers as
readily as crystalloid
• Colloid fluids infused into
the vascular space therefore
have a greater tendency to
stay put and enhance the
plasma volume than do
crystalloid fluids
• Much of this potency is
related to the colloid
osmotic pressure exerted
by each fluid
ILMU PENYAKIT MATA
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

53. Glaukoma
• Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang berhubungan dengan peningkatan
tekanan bola mata (TIO Normal : 10-24mmHg)
• Ditandai : meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan
diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang
• Jenis Glaukoma :
 Primer yaitu timbul pada mata yang mempunyai bakat bawaan, biasanya bilateral
dan diturunkan.
 Sekunder yang merupakan penyulit penyakit mata lainnya (ada penyebabnya)
biasanya Unilateral
• Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat kelainan sitem
drainase sudut kamera anterior (sudut terbuka) atau gangguan akses humor
akueus ke sistem drainase (sudut tertutup)
• Pemeriksaan :
 Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO)
 Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus dan pemucatan
diskus
 Lapang pandang
 Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior → sudut terbuka atau sudut tertutup
• Pengobatan : menurunkan TIO → obat-obatan, terapi bedah atau laser
http://emedicine.medscape.com/article/1206147 www.wikipedia.org

Types of Glaucoma
Causes Etiology Clinical
Acute Glaucoma Pupilllary block Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred
vision, haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg),
conjunctival injection, corneal epithelial edema, mid-dilated
nonreactive pupil, elderly, suffer from hyperopia, and have no
history of glaucoma
Open-angle Unknown History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache,
(chronic) IOP steadily increase, Gonioscopy Open anterior chamber
glaucoma angles, Progressive visual field loss
Congenital abnormal eye present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,
glaucoma development, buphtalmus (>12 mm)
congenital infection
Secondary Drugs Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision
glaucoma (corticosteroids)
Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma
Absolute end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of
glaucoma pupillary light reflex and pupillary response, stony appearance.
Severe eye pain. The treatment → destructive procedure like
cyclocryoapplication, cyclophotocoagulation,injection of 100%
alcohol
Glaukoma

glaucoma that develops


after the 3rd year of life 158
Primary Angle-Closure Glaucoma
• Narrow angles are not present in young people. As people
age, the lens of the eye continues to grow. In some but
not all people, this growth pushes the iris forward,
narrowing the angle. Risk factors for developing narrow
angles include family history, advanced age, and ethnicity;
risk is higher among people of Asian and Inuit ethnicity
and lower among people of European and African
ethnicity.
• In people with narrow angles, the distance between the
pupillary iris and the lens is also very narrow.
• When the iris dilates, forces pull it centripetally and
posteriorly causing iris–lens contact, which prevents
aqueous from passing between the lens and iris into the
anterior chamber (this mechanism is termed pupillary
block). Pressure from the continued secretion of aqueous
into the posterior chamber by the ciliary body pushes the
peripheral iris anteriorly (causing a forward-bowing iris
called iris bombe), closing the angle → blocks aqueous
outflow, resulting in rapid (within hours) and severe (> 40
mm Hg) elevation of IOP.
• Because of the rapid onset, this condition is called
primary acute angle-closure glaucoma and is an
ophthalmic emergency requiring immediate treatment.
• Non-pupillary block mechanisms include plateau iris
syndrome in which the central anterior chamber is deep,
but the peripheral anterior chamber is made shallow by a
ciliary body that is displaced forward.
http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/glaucoma/angle-
closure_glaucoma.html
54. Kelainan Refraksi

/ Hipermetropia

Pocket Atlas of Ophthalmology, 2006


http://en.wikipedia.org/wiki/ http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/

55. Eyelids Disorders


Pathology Feature

Chalazion Chronic inflamation of Zeis/Meibom gland; when acutely inflammed → Warm,


(meibomian gland swollen, and firm eyelids, granulomatous reaction, lipogranuloma, usually on the
lipogranuloma) upper eyelid and inside the lid, painless nodules, Increased tearing, Sensitivity to
light
Hordeolum Localized infection or inflammation of the eyelid margin involving hair follicles of the
eyelashes (external hordeolum) or meibomian glands (internal
hordeolum),Staphylococcal infection; painful, warm, swollen, and tender eyelids,
focal collection of PMN cells and necrotic tissue. erythematous, and
localized,Purulent material exudates
56. DIABETIC CATARACT
• Cataract in diabetic patients is a major cause of blindness in developed and developing countries.
• The pathogenesis of diabetic cataract development is still not fully understood.
• Recent basic research studies have emphasized the role of the polyol pathway in the initiation of the
disease process.
• The enzyme aldose reductase (AR) catalyzes the reduction of glucose to sorbitol through the polyol
pathway (a process linked to the development of diabetic cataract)
• The intracellular accumulation of sorbitol leads to osmotic changes resulting in hydropic lens fibers that
degenerate and form sugar cataracts
• In the lens, sorbitol is produced faster than it is converted to fructose by the enzyme sorbitol
dehydrogenase. In addition, the polar character of sorbitol prevents its intracellular removal through
diffusion. The increased accumulation of sorbitol creates a hyperosmotic effect that results in an
infusion of fluid to countervail the osmotic gradient  results in formation of lens opacities
• The “Osmotic Hypothesis” of sugar cataract formation, emphasizing that the intracellular increase of
fluid in response to AR-mediated accumulation of polyols results in lens swelling associated with
complex biochemical changes ultimately leading to cataract formation
• In conclusion, a variety of publications support the hypothesis that the initiating mechanism in diabetic
cataract formation is the generation of polyols from glucose by Aldose Reductase, which results in
increased osmotic stress in the lens fibers leading to their swelling and rupture.
Journal of Ophthalmology: Diabetic Cataract-Pathogenesis, Epidemiology, and Treatment, Hindawi, 2010
57. Trauma Mekanik Bola Mata
• Cedera langsung berupa ruda • Pemeriksaan Rutin :
paksa yang mengenai jaringan  Visus : dgn kartu Snellen/chart
mata. projector + pinhole
• Beratnya kerusakan jaringan  TIO : dgn tonometer
bergantung dari jenis trauma aplanasi/schiotz/palpasi
serta jaringan yang terkena  Slit lamp : utk melihat segmen
anterior
• Gejala : penurunan tajam  USG : utk melihat segmen
penglihatan; tanda-tanda posterior (jika memungkinkan)
trauma pada bola mata  Ro orbita : jika curiga fraktur
• Komplikasi : dinding orbita/benda asing
 Endoftalmitis • Tatalaksana :
 Uveitis  Bergantung pada berat trauma,
 Perdarahan vitreous mulai dari hanya pemberian
 Hifema antibiotik sistemik dan atau
topikal, perban tekan, hingga
 Retinal detachment operasi repair
 Glaukoma
 Oftalmia simpatetik

Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012


Hifema
• Blood in the front (anterior) chamber of the eye a reddish tinge,
or a small pool of blood at the bottom of the iris or in the cornea.
• May partially or completely block vision.
• The most common causes of hyphema are intraocular surgery,
blunt trauma, and lacerating trauma
• The main goals of treatment are to decrease the risk of rebleeding
within the eye, corneal blood staining, and atrophy of the optic
nerve.
• Treatment :elevating the head at night, wearing an patch and
shield, and controlling any increase in intraocular pressure. Surgery
if non-resolving hyphema or high IOP
• Complication: rebleeding, peripheral anterior synechiea, atrophy
optic nerve, glaucoma (months or years after due to angle closure)
Definisi Tanda dan Gejala

Erosi Kornea keadaan terlepasnya epitel kornea yang Sakit sekali, mata menjadi berair, fotofobia dan
disebabkan trauma tumpul ataupun penglihatan akan terganggu oleh media yang
tajam pada kornea keruh.

Perdarahan Subkonjungtiva Pecahnya pembuluh darah yang Pemeriksaan funduskopi perlu dilakukan pada
terdapat dibawah konjungtiva, seperti setiap penderita dengan perdarahan
arteri konjungtiva dan arteri episklera. subkonjungtiva akibat trauma tumpul. Akan
Bisa akibat dari batu rejan, trauma hilang atau diabsorbsi dengan sendirinya dalam 1
tumpul atau pada keadaan pembuluh – 2 minggu tanpa diobati.
darah yang mudah pecah.
Ulkus Kornea Hilangnya sebagian permukaan kornea Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva,
akibat kematian jaringan kornea, yang Sekret mukopurulen, Merasa ada benda asing di
ditandai dengan adanya infiltrat mata, Pandangan kabur, Mata berair, Bintik putih
supuratif disertai defek kornea pada kornea, sesuai lokasi ulkus, Silau, Nyeri,
bergaung, dan diskontinuitas jaringan injeksi siliar, infiltrat (+), hipopion
kornea yang dapat terjadi dari epitel
sampai stroma.

Edema Kornea Terjadi akibat disfungsi endotel kornea Penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar
local atau difus. Biasanya terkait dengan bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat.
pelipatan pada membran Descemet dan Kornea akan terlihat keruh dengan uji plasedo
penebalan stroma. Rupturnya membran yang positif.
Descemet biasanya terjadi vertikal dan
paling sering terjadi akibat trauma
kelahiran.
58. Astigmatisma
• Berkas sinar tidak difokuskan pada 1 titik dengan tajam pada retina, akan tetapi
pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus
• Penyebab : kelainan lengkung permukaan kornea (paling sering), dapat juga
kelainan lensa
• Gejala : Penglihatan buram, Head tilting, Menengok untuk melihat jelas,
Mempersempit palpebra, Memegang bahan bacaan lebih dekat
• Tatalaksana : koreksi dengan lensa silindris dan atau sferis (bila perlu)
• Tipe-tipe astigmatisma:
 Astigmatisma hipermetropikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik,
meridian yang lainnya hipermetropik.
 Astigmatisma miopikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik, meridian
lainnya miopi
 Astigmatisma hipermetropikus kompositus, kedua meridian utama hipermetropik
dengan derajat berbeda.
 Astigmatisma miopikus kompositus, kedua meridian utamanya miopik dengan
derajat berbeda
 Astigmatisma mikstus, satu meridian utamanya hipermetropik, meridian yang lain
miopik.

http://marsenorhudy.wordpress.com/2011/01/05/kelainan-refraksi/
59. Diabetic Retinopathy
DM ophthalmic complications :
• Corneal abnormalities Pemeriksaan :
• Glaucoma • Tajam penglihatan
• Iris neovascularization • Funduskopi dalam keadaan
• Cataracts pupil dilatasi : direk/indirek
• Neuropathies • Foto Fundus
• Diabetic retinopathy → most • USG bila ada perdarahan
common and potentially most vitreus
blinding
Signs and Symptoms : Tatalaksana :
• Seeing spots or floaters in the • Fotokoagulasi laser
field of vision
• Blurred vision
• Having a dark or empty spot in
the center of the vision
• Difficulty seeing well at night
• On funduscopic exam : cotton
wool spot, flame hemorrhages,
dot-blot hemorrhages, hard
exudates
CLASSIFICATION SYMPTOMS FEATURE
No DR None Normal retina
Mild non-proliferative (mild None Microaneurysms only, reflects
pre-proliferative) structural changes in the retina
Moderate non-proliferative, None Extensive Microaneurysm, intraretinal
moderate pre-proliferative haemorrhage, and hard exudates.
Severe non-proliferative None Venous abnormalities, large blot
severe pre-proliferative haemorrhages, cotton wool spots (small
infarcts), venous loop, venous
reduplication, >20 intraretinal
haemorrhages in each of 4 quadrants;
definite venous beading in 2 or more
quadrants; prominent intraretinal
microvascular abnormalities in 1 or
more quadrants
Proliferative retinopathy Floaters, New vessel formation either at the disc
sudden visual (NVD) or elsewhere (NVE), vitreous or
loss preretinal haemorrhage

http://bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/532/basics/classification.html http://medweb.bham.ac.uk/easdec/gradingretinopathy.htm
60. Cataract Surgery
Complication
• Eye bruising
• Swelling of the cornea (corneal
edema)
– accumulation of fluid in the
cornea stroma.
– Cloudy vision and pain
– Temporary
• Posterior capsular opacification
(Secondary cataract)
– compromise visual acuity →
cloudy vision
• Increased pressure in the eye
(raised intraocular
pressure/gloucoma)
– associated with inflammation
– blurring and aching around the
eye
– nausea and sickness
– temporary http://www.emeraldinsight.com/journals.htm
http://www.vision-and-eye-health.com/cataractsurgery-complications-early.html

• Uveitis
– acute, sterile anterior segment inflammation
– develop symptoms within 12 to 24 hours of the surgery
– Red eye and painfull
– Slit lamp → increased cell and flare, hypopyon formation,
diffuse corneal edema
• Swelling of the macula (cystoid macular edema)
– between 2 and 12 weeks after cataract surgery
– vision becomes blurry after a period of clear vision
– Risk Factor:age-related macular degeneration, diabetic
retinopathy
• Retinal detachment I
– Fluid seeps through a tear in the retina
– shadow in field of vision, floaters or flashing lights
• Endophthalmitis
– Painful eyeball, Lid oedema, chemosis, conjunctival injection
– very poor vision
– sensitivity to light
– Purulent discharge → hypopyon, corneal infiltrates
Sign and Symptoms
Disorder
Decreased visual Red eye Others
acuity
Uveitis Yes Yes Photophobia, miopisation, eye
pain,excessive tearing, decreased vision,
limbic injection, miosis, might be followed by
glaucoma

Endophtalmitis Yes Yes History of eye trauma or operation, deep


ocular pain, corneal edema, anterior
chamber & cells, keratic precipitates,
palpebra edema, pericorneal injection,
corneal injection, photophobia, ocular
discharge, hypopion, proptosis
Retinitis = Inflammation of the Yes (in night or No Loss of peripheral vision, loss of central
part of the eye called the retina, low light) vision (in advanced stage)
which may lead to blindness
Panuveitis = Inflammation of the Yes Yes Visual disturbance, Eye pain, Blurred vision,
whole uvea, involves retina and Sensitivity to light, Seeing spots, Red eyes,
vitreous humor Reduced vision
Selulitis N/A N/A suatu penyakit infeksi atau peradangan
didaerah jaringan bawah kulit (Subkutis).
Gejala : malaise, menggigil, demam, lesi
kemerahan pada wajah atau tungkai
61. Myopia
• Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina, ketika
mata tidak dalam kondisi berakomodasi
• Keadaan pada mata dimana cahaya atau benda yang jauh letaknya jatuh atau difokuskan
didepan retina
• Terjadi karena bola mata yang terlalu panjang atau karena kelengkungan kornea yang terlalu
besar sehingga cahaya yang masuk tidak difokuskan secara baik dan objek jauh tampak buram
• Dapat ditolong dengan menggunakan kacamata negatif (cekung)
• Miopia secara klinis :
 Simpleks: kelainan fundus ringan, < -6D
 Patologis: Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif, adanya
progresifitas kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan oftalmoskopik, > -6D
• Miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa :
 Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
 Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
 Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.
• Miopia berdasarkan umur :
 Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.
 Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
 Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 thn.
 Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).
Myopia
• Titik dekat (Punctum Proximum/PP):jarak terdekat
yang masih dapat dilihat jelas oleh mata dengan
berakomodasi maksimum. Untuk mata normal
(emetrop), nilai titik dekat mata/ PP = 25 cm.
• Titik jauh (Punctum Remotum/PR): jarak terjauh yang
dapat dilihat jelas oleh mata tanpa berakomodasi.
Untuk mata normal (emetrop), nilai titik jauh mata/PR
= °° (tak terhingga).
• Agar dapat melihat benda-benda jauh s = , penderita
miopi harus menggunakan lensa kacamata cekung
untuk menghasilkan bayangan maya di depan lensa
pada jarak yang sama dengan titik jauh mata (s' = - • Pada soal, didapatkan P=-1,25, maka
PR). Sehingga berlaku s = ∞ , s' = -PR. :
• Berdasarkan persamaan umum lensa tipis:
f = 0,8 meter
• Bila diketahui titik jauh sekarang
lebih dekat 25%, maka :
f’ = 0,8 – (25% x 0,8) = 0,6 meter
• Maka : P’ = -1,67

• Sehingga saat ini pasien dapat


digolongkan miopia simpleks (< -6D)
• f = jarak fokus lensa dan PR = jarak titik terjauh yang
dapat dilihat penderita

http://fisikadantikonline.blogspot.com/2011/11/alat-alat-optik.html
62. KATARAK
ANAMNESIS
MATA MERAH
VISUS NORMAL
MATA TENANG
• struktur yang MATA MERAH MATA TENANG
VISUS TURUN VISUS TURUN
bervaskuler → VISUS TURUN
MENDADAK PERLAHAN
sklera
konjungtiva mengenai media
refraksi (kornea, • uveitis posterior
• tidak • Katarak
uvea, atau • perdarahan vitreous
menghalangi • Glaukoma
seluruh mata) • Ablasio retina
media refraksi • retinopati
• oklusi arteri atau
penyakit
• Konjungtivitis vena retinal
• Keratitis sistemik
murni • neuritis optik
• Keratokonjungti • retinitis
• Trakoma • neuropati optik akut
vitis pigmentosa
• mata kering, karena obat
• Ulkus Kornea • kelainan
xeroftalmia (misalnya
• Uveitis refraksi
• Pterigium etambutol),
• glaukoma akut
• Pinguekula migrain, tumor otak
• Endoftalmitis
• Episkleritis
• panoftalmitis
• skleritis
Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

KATARAK-SENILIS
• Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun
• Epidemiologi : 90% dari semua jenis katarak
• Etiologi :belum diketahui secara pasti → multifaktorial:
 Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik
 Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek buruk terhadap serabu-serabut lensa.
 Faktor imunologik
 Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya
matahari.
 Gangguan metabolisme umum
• 4 stadium: insipien, imatur, matur, hipermatur
• Gejala : distorsi penglihatan, penglihatan kabur/seperti berkabut/berasap, mata tenang
• Penyulit : Glaukoma, uveitis
• Tatalaksana : operasi (ICCE/ECCE)
Anel Tes Uji patensi saluran lakrimalis
Uji Fluoresin untuk melihat adanya defek pada epitel kornea. Kertas fluoresin dibasahi terlebih
dahulu dengan garam fisiologis kemudian diletakkan pada saccus konjungtiva inferior
setelah terlebih dahulu penderita diberi anestesi lokal. Penderita diminta menutup
matanya selama 20 detik, kemudian kertas diangkat. Defek kornea akan terlihat
berwarna hijau dan disebut sebagai uji fluoresin positif.
Schirmer tes yang digunakan untuk memeriksa apakah mata dapat memproduksi air mata yang
test cukup untuk tetap cukup membasahinya. Digunakan bila seorang pasien mengalami
kekeringan mata atau produksi air mata yang berlebihan. Tes ini tidak bersifat invasif
atau merusak jaringan tubuh. Hasil normal tes ini adalah negatif dengan hasil lebih
dari 10 mm dari kertas saring yang basah selama 5 menit. Kedua mata seharusnya
memproduksi air mata yang sama jumlahnya.
Shadow Test Utk mengetahui stadium katarak. Apabila lensa belum keruh seluruhnya, ketika disinari
menggunakan senter dari depan bola mata dengan sudut ± 45o, sinar akan
dipantulkan dan mengenai iris sehingga terbentuk bayangan iris pada pupil yang
terlihat seperti bulan sabit. → shadow test (+).
Hirschberg a screening test that can be used to assess whether a person has strabismus (ocular
Test misalignment). Performed by shining a light in the person's eyes and observing where
the light reflects off the corneas. When doing the test, the light reflexes of both eyes
are compared, and will be symmetrical in an individual with normal fixation.
63. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)

Pathology Etiology Feature Treatment


Bacterial staphylococci Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics
streptococci, burning sensation, usually bilateral Artificial tears
gonocci eyelids difficult to open on waking,
Corynebacter diffuse conjungtival injection,
ium strains mucopurulent discharge, Papillae
(+)
Viral Adenovirus Unilateral watery eye, redness, Days 3-5 of → worst, clear
herpes discomfort, photophobia, eyelid up in 7–14 days without
simplex virus edema & pre-auricular treatment
or varicella- lymphadenopathy, follicular Artificial tears →relieve
zoster virus conjungtivitis, pseudomembrane dryness and inflammation
(+/-) (swelling)
Antiviral →herpes simplex
virus or varicella-zoster
http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html virus
Pathology Etiology Feature Treatment
Fungal Candida spp. can Not common, mostly occur in Topical antifungal
cause immunocompromised patient,
conjunctivitis after topical corticosteroid and
Blastomyces antibacterial therapy to an
dermatitidis inflamed eye
Sporothrix
schenckii
Vernal Allergy Chronic conjungtival bilateral Removal allergen
inflammation, associated atopic Topical antihistamine
family history, itching, Vasoconstrictors
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Horner-
trantas dots
Inclusion Chlamydia several weeks/months of red, Doxycycline 100 mg PO
trachomatis irritable eye with mucopurulent bid for 21 days OR
sticky discharge, acute or Erythromycin 250 mg
subacute onset, ocular irritation, PO qid for 21 days
foreign body sensation, watering, Topical antibiotics
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles
64. Tajam Penglihatan
• Bila tajam penglihatan 6/6: dapat melihat huruf pada jarak 6
meter, yang oleh orang normal dapat dilihat pada jarak 6 mtr
• Bila tidak dapat melihat huruf terbesar pada kartu Snellen :
dilakukan uji hitung jari. Jari dapat terlihat oleh orang normal
pada jarak 60 mtr
• Bila pasien tidak dapat menghitung jari pada jarak 1 mtr  uji
lambaian tangan. Orang normal dapat melihat lambaian tangan
pada jarak 300mtr. Bila mata hanya dapat melihat pada jarak
1mtr : visus 1/300
• Bila hanya mengenal adanya sinar : 1/~
• Bila tidak mengenal adanya sinar: visus 0 atau buta total

Ilmu Penyakit Mata,Sidarta Ilyas


NEUROLOGI
65. Cephalgia - Migraine
• Cephalgia : Nyeri/sakit sekitar kepala, termasuk nyeri di belakang mata serta
perbatasan antara leher dan kepala bagian belakang
• Migraine : nyeri kepala berulang dengan adanya interval bebas gejala dan
sedikitnya memiliki 3 dari gejala berikut: nyeri perut, mual atau muntah, nyeri
kepala berdenyut, unilateral, adanya aura (visual, sensori, motorik), gejala
berkurang dengan tidur, dan adanya riwayat keluarga yang sama
• Lama serangan pada anak adalah 2 sampai 4 jam, sedang pada dewasa 4 sampai 72
jam
• Klasifikasi : migren tanpa aura, migren dengan aura, childhood periodic syndrome,
retinal migraine, probable migraine, migren dengan komplikasi, dan kejang yang
dicetuskan oleh migren

International Headache Society


www.ihs-headache.org
Migren
• Patofisiologi masih belum jelas, terdapat 3 teori : vasodilatasi arteri ekstra kranial, perubahan
neuronal yang terjadi di area otak, vasodilatasi meningeal
• Diagnosis klinik International Headache Society menjadi standar baku emas migren, sebab lebih
mudah dan mempunyai akurasi yang baik

Migren Tanpa Aura (Common Migren dengan Aura (Classic Migraine)


Migraine) A. Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan yang
A. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan memenuhi kriteria B
yang memenuhi kriteria B-D B. Adanya aura yang terdiri paling sedikit satu
B. Serangan nyeri kepala berlangsung 1 dari dibawah ini:
sampai 72 jam 1. Gangguan visual yang reversibel termasuk: positif
C. Nyeri kepala mempunyai sedikitnya dua atau negatif (seperti cahaya yang berkedip-kedip,
diantara karakteristik berikut: bintik-bintik atau garis-garis)
1. Lokasi unilateral, mungkin bilateral, 2. Gangguan sensoris yang reversibel termasuk
frontotemporal (tanpa oksipital) positif (seperti diuji dengan peniti dan jarum) atau
2. Kualitas berdenyut negatif (hilang rasa/kebas)
3. Intensitas nyeri sedang atau berat 3. Gangguan bicara disfasia yang reversibel
4. Keadaan bertambah berat oleh aktifitas sempurna
fisik atau penderita menghindari aktifitas
fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga) C. Paling sedikit dua dari dibawah ini:
D. Selama nyeri kepala disertai salah satu 1. Gejala visual homonim atau gejala sensoris
dibawah ini : unilateral
1. Mual dan atau muntah 2. Paling tidak timbul satu macam aura secara
2. Fotofobia dan fonofobia gradual ≥ 5 menit atau aura yang lainnya ≥ 5
E. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain menit
3. Tiap gejala berlangsung ≥ 5 menit dan ≤ 60 menit
D. Tidak berkaitan dengan kelainan lain

International Headache Society www.ihs-headache.org


66. Spinal Injury

http://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_ne
rve_disorders/spinal_cord_disorders/overview_of_spinal_cord_dis
orders.html
PARESTESIA-DERMATOME
• Paresthesia : a sensation of tingling,
tickling, prickling, pricking, or burning
of a person's skin with no apparent
long-term physical effect.
• The manifestation of a paresthesia may
be transient or chronic
• indicates a problem with the
functioning of neurons or poor
circulation
• A dermatome : an area of skin that is
mainly supplied by a single spinal
nerve.
• Each of these nerves relays sensation
(including pain) from a particular region
of skin to the brain.
• Symptoms that follow a dermatome
(e.g. like pain or a rash) may indicate a
pathology that involves the related
nerve root
http://en.wikipedia.org/wiki/Dermatome_(anatomy)#Clinical_significance
67. Epilepsi
• Kejang : manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat
berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau
otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di
neuron otak → bukan merupakan suatu penyakit, tetapi gejala
• Epilepsi : kumpulan gejala dan tanda-tanda klinis yang muncul disebabkan
gangguan fungsi otak secara intermiten, yang terjadi akibat lepas muatan listrik
abnormal atau berlebihan dari neuron-neuron secara paroksismal dengan
berbagai macam etiologi
• Epileptic seizure adalah manifestasi klinis yang serupa dan berulang secara
paroksismal, yang disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di
otak yang spontan dan bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut
(“unprovoked”)
• Etiologi : idiopatik, kriptogenik, simtomatik
• Diagnosis : ditegakkan berdasarkan bangkitan epilepsi berulang (min 2x) + EEG
(gambaran epileptiform)
• Klasifikasi berdasarkan ILAE :
 Bangkitan epilepsi (bangkitan parsial, umum, dan tak tergolongkan)
 Sindrom Epilepsi (berkaitan dengan lokasi kelainan, epilepsi umum dan berkaitan dengan
berbagai sindrom epilepsi sesuai umur, epilepsi dan sindrom yang tidak dapat ditentukan fokal
atau umum, sindrom khusus)
PERDOSSI 2007
PPM Dept. Neurologi

STATUS EPILEPTIKUS
• Suatu keadaan kejang atau serangan epilepsi yang terus-
menerus disertai kesadaran menurun selama > 30 menit;
atau kejang beruntun tanpa disertai pemulihan
kesadaran yang sempurna
• Merupakan keadaan gawat darurat → menyebabkan
kematian dan kecacatan permanen
• Klasifikasi : Konvulsif dan Non-Konvulsif
• Tatalaksana : Perbaiki jalan nafas, pasang jalur IV,
diazepam 0,3mg/kgBB IV sampai maksimum 20 mg,
dapat diulang jika masih kejang stlh 5 menit, bila kejang
teratasi lanjutkan dengan fenitoin IV 18mg/kgBB
Kejang umum sekunder terhadap Kejang partial menjadi umum, dari kompleks partial
partial seizure seizure lalu berkembang menjadi kejang pada seluruh
tubuh dan kesadaran terganggu

General seizure Gangguan keseluruhan saraf di otak dan dapat


menyebabkan kehilangan kesadaran

Encephalopathy metabolic Bukanlah sebuah diagnosa melainkan merupakan


sebuah sindrom dari disfungsi umum serebral yang
dirangsang oleh stres sistemik dan bisa memiliki gejala
klinis yang beragam mulai dari disfungsi ringan hingga
delirium agitasi, sampai koma dalam dengan postur
deserebrasi; semua tergantung dari kelainan metabolik
yang dialami
Partial seizure Bermula dari suatu fokus tertentu korteks serebri, dapat
bersifat mototrik, sensorik, autonomic, psikis
68. Meningitis
• Meningitis: radang pada selaput otak yang melapisi otak dan sumsum
tulang belakang
• Manifestasi klinis : nyeri kepala, dapat menjalar ke tengkuk dan punggung,
kaku kuduk, kernig (+), brudzinsky (+)
• Klasifikasi (berdasarkan perubahan pada cairan otak) :
 Meningitis serosa : cairan otak jernih, paling sering disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosa, penyebab lain: virus, toxoplasma gondhii,
ricketsia
 Meningitis purulenta : cairan mengandung pus, penyebabnya antara lain
diplococcus pneumoniae, neisseria meningitidis, streptococcus haemolyticus,
staphylococcus aureus, haemophilus influenza, pseudomonas aeruginosa

Kapita Selekta
Meningitis Tuberkulosis
• Merupakan peradangan pada selaput otak (meningen) yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberkulosis.
• Penyakit ini merupakan salah satu bentuk komplikasi yang sering muncul pada penyakit
tuberkulosis paru.
• Infeksi primer muncul di paru-paru dan dapat menyebar secara limfogen dan hematogen
ke berbagai daerah tubuh di luar paru, seperti perikardium, usus, kulit, tulang, sendi, dan
selaput otak
• Manifestasi klinis dari meningitis tuberculosa dikelompokkan dalam tiga stadium:
• Stadium I (stadium inisial / stadium non spesifik / fase prodromal), 1 - 3 minggu :
Biasanya gejalanya tidak khas, timbul perlahan- lahan, tanpa kelainan neurologis
 demam (tidak terlalu tinggi)
 rasa lemah
 nafsu makan menurun (anorexia)
 nyeri perut
 sakit kepala
 tidur terganggu
 mual, muntah
 Konstipasi
 Apatis
 irritable
Kapita Selekta
Meningitis TB
Stadium II (stadium transisional / fase Stadium III (koma / fase paralitik)
meningitik) : •Terjadi percepatan penyakit, berlandsung
•Akibat rangsang meningen " sakit kepala selama ± 2-3 minggu
berat dan muntah (keluhan utama) •Gangguan fungsi otak semakin jelas.
•Akibat peradangan / penyempitan arteri di •Terjadi akibat infark batang otak akibat lesi
otak: pembuluh darah atau strangulasi oleh
 Disorientasi eksudat yang mengalami organisasi.
 Bingung
•Gejala:
 Kejang
 pernapasan irregular
 Tremor
 demam tinggi
 hemibalismus / hemikorea
 edema papil
 hemiparesis / quadriparesis
 Hiperglikemia
 penurunan kesadaran
 kesadaran makin menurun, irritable dan apatik,
•Gangguan otak / batang otak / gangguan mengantuk, stupor, koma, otot ekstensor
saraf kranial: yang sering terkena adalah menjadi kaku dan spasme, opistotonus, pupil
saraf otak III, IV, VI, dan VII; Tanda: melebar dan tidak bereaksi sama sekali.
 nadi dan pernafasan menjadi tidak teratur
 strabismus – diplopia
 Hiperpireksia
 ptosis - reaksi pupil lambat
 akhirnya, pasien dapat meninggal.
 gangguan penglihatan kabur

Kapita Selekta
Meningitis TB
Laboratorium :
•Cairan otak dan tulang belakang / liquor cerebrospinalis (dengan cara pungsi lumbal) :
 Warna: jernih (khas), bila dibiarkan mengendap akan membentuk batang-batang. Dapat juga berwarna
xanhtochrom bila penyakitnya telah berlangsung lama dan ada hambatan di medulla spinalis.
 Jumlah sel: 100 – 500 sel / μl. Mula-mula, sel polimorfonuklear dan limfosit sama banyak jumlahnya, atau kadang-
kadang sel polimorfonuklear lebih banyak (pleositosis mononuklear). Kadang-kadang, jumlah sel pada fase akut
dapat mencapai 1000 / mm3.
 Kadar protein: meningkat (dapat lebih dari 200 mg / mm3). Hal ini menyebabkan liquor cerebrospinalis dapat
berwarna xanthochrom dan pada permukaan dapat tampak sarang laba-laba ataupun bekuan yang menunjukkan
tingginya kadar fibrinogen
 Kadar glukosa: biasanya menurun (<>liquor cerebrospinalis dikenal sebagai hipoglikorazia. –
 Kadar klorida normal pada stadium awal, kemudian menurun
 Pada pewarnaan Gram dan kultur liquor cerebrospinalis dapat ditemukan kuman

Kapita Selekta
69. Polyneuropathy
• A neurological disorder that occurs when many nerves throughout the
body malfunction simultaneously.
• It may be acute and appear without warning, or chronic and develop
gradually over a longer period of time.
• Many polyneuropathies have both motor and sensory involvement; some
also involve dysfunction of the autonomic nervous system.
• These disorders are often symmetric and frequently affect the feet and
hands, causing weakness, loss of sensation, pins-and-needle sensations or
burning pain.
• Damage may occur to axon, myelin sheath, cell body, supporting
connective tissue and nutrient blood supply to nerves. 3 basic pathological
process occurs : wallerian degeneration, segmental demyelination, distal
axon degeneration
Guillaine Barre Syndrome
• Acute immune-mediated polyneuropathies
• Peripheral nerve myelin is target of an immune attack
• Starts at level of nerve root → conduction blocks → muscle
weakness. Eventually get widespread patchy demyelination →
increased paralysis
• Usually postinfection
• Immune-mediated: infectious agents thought to induce Ab
production against specific gangliosides/glycolipids
• Lymphocytic infiltration of spinal roots/peripheral nerves & then
macrophage-mediated, multifocal stripping of myelin
• Result: defects in the propagation of electrical nerve impulses, with
eventual conduction block and flaccid paralysis
GBS
Clinical Feature : Diagnosis :
Progressive, fairly symmetric muscle • CSF : protein elevated
weakness, typically starts in • Nerve conduction studies: findings of
multifocal demyelination with slowing of
proximal legs, weakness in face arm, motor conduction, conduction block,
severe respiratory muscle weakness prolonged distal motor latencies
Absent or depressed DTR
Often prominent severe pain in lower Treatment:
back • Supportive, with management of the
paralyzed patient and with elective
Common to have paresthesias in ventilation for impending respiratory
hands and feet failure
Dysautonomia is very common: • Subsequent treatment consists of
attempting to reduce the body's attack
tachycardia, urinary retention, on the nervous system, either by
hypertenison alternating w/ plasmapheresis, filtering antibodies out
hypotension, ileus of the blood stream, or by administering
intravenous immunoglobulins (IVIG), to
neutralize harmful antibodies and
Neurology Illustrated inflammation causing disease
Polimiositis a type of chronic inflammation of the muscles (inflammatory myopathy) related
to dermatomyositis and inclusion body myositis. Symptoms include pain, with
marked weakness and/or loss of muscle mass in the proximal musculature,
particularly in the shoulder and pelvic girdle. The hip extensors are often
severely affected, leading to particular difficulty in ascending stairs and rising
from a seated position.
Lesi Medulla spinalis rusak total secara mendadak, merusak segenap lintasan
transversal asenden dan desenden, dan motonueron yang terdapat di dalamnya, terdapat 3
medula macam gangguan yang muncul serentak : 3 macam gangguan yang muncul
spinalis serentak yaitu : semua gerak otot pada bagian tubuh yang terletak di bawah lesi
akan hilang fungsinya secara mendadak dan menetap, semua sensibilitas daerah
di bawah lesi menghilang, semua fungsi reflektorik pada semua segmen
dibawah lesi akan hilang.
Polimielitis often called polio or infantile paralysis, is an acute, viral, infectious disease
spread from person to person, primarily via the fecal-oral route. May be
clinically suspected in individuals experiencing acute onset of flaccid paralysis in
one or more limbs with decreased or absent tendon reflexes in the affected
limbs that cannot be attributed to another apparent cause, and without sensory
or cognitive loss
Polineuropati Kelainan fungsi saraf-saraf tepi (perifer) di seluruh tubuh yang terjadi secara
bersamaan, dapat terjadi akut ataupun kronik
70. Tetanus
• Suatu penyakit toksemik akut dan fatal yang disebabkan
oleh Clostridium tetani dengan tanda utama spasme tanpa
gangguan kesadaran.
• Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps
ganglion spinal dan neuromuscular junction serta saraf
autonom.
• Masa inkubasi 5-14 hari.
• Gejala awal adalah trismus; pada neonatus tidak
dapat/sulit menetek, mulut mencucu. Disertai dengan kaku
kuduk, resus sardonikus, opistotonus, perut papan.
Selanjutnya dapat diikuti kejang apabila dirangsang atau
kejang spontan; pada kasus berat dijumpai status
konvulsivus.
Tetanus-Derajat Penyakit
Derajat I (tetanus ringan) : Derajat III (tetanus berat) :
• Trismus ringan sampai sedang • Trismus berat
• Kekakuan umum: kaku kuduk, • Otot spastis, kejang spontan
opistotonus, perut papan • Takipne, takikardia
• Tidak dijumpai disfagia atau ringan • Serangan apne (apneic spell)
• Tidak dijumpai kejang • Disfagia berat
• Tidak dijumpai gangguan respirasi • Aktivitas sistem autonom meningkat
Derajat II (tetanus sedang) : Derajat IV (stadium terminal), derajat III
• Trismus sedang ditambah dengan :
• Kekakuan jelas • Gangguan autonom berat
• Dijumpai kejang rangsang, tidak ada • Hipertensi berat dan takikardi, atau
kejang spontan • Hipotensi dan bradikardi
• Takipneu • Hipertensi berat atau hipotensi berat
• Disfagia ringan
Tetanus-Tatalaksana
1. Antibiotik (penisilin prokain, ampisilin, tetrasiklin, metronidazol, eritromisi
Bila terdapat sepsis/ pneumonia dapat ditambahkan sefalosporin.
2. Netralisasi toksin :
 Anti tetanus serum (ATS), dilakukan uji kulit lebih dulu.
 Bila tersedia, dapat diberikan human tetanus immunoglobulin (HTIG)
3. Anti konvulsan (diazepam).
4. Perawatan luka atau port d’entree dilakukan setelah diberi antitoksin dan
anti-konvulsan
5. Terapi suportif :
 Bebaskan jalan napas
 Hindarkan aspirasi dengan mengisap lendir perlahan-lahan dan memindah-mindahkan posisi
pasien
 Pemberian oksigen
 Perawatan dengan stimulasi minimal
 Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila trismus berat dapat dipasang sonde nasogastrik
 Bantuan napas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum
 Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit
71. Carpal Tunnel Syndrome
• Carpal tunnel syndrome, the most
common focal peripheral
neuropathy, results from
compression of the median nerve
at the wrist.
• Clinical Features:
 Pain
 Numbness
 Tingling
 Symptoms are usually worse at night
and can awaken patients from sleep.
 To relieve the symptoms, patients
often “flick” their wrist as if shaking
down a thermometer (flick sign).
Physical examination
• Phalen’s maneuver (Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila dalam
waktu 60 detik timbul gejala → CTS +)
• Tinel’s sign (timbul parestesia atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus
kalau dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit
dorsofleksi)
• Luthy's sign/bottle's sign (Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari
telunjuknya pada botol atau gelas. Bila kulit tangan penderita tidak dapat
menyentuh dindingnya dengan rapat → CTS +)
• Pemeriksaan sensibilitas/two-point discrimination (Bila penderita tidak dapat
membedakan dua titik pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus medianus →
CTS +)

Tinel’s sign
Phalen’s maneuver
Treatment
• CONSERVATIVE TREATMENTS
– GENERAL MEASURES (resting the arm)
– WRIST SPLINTS
– ORAL MEDICATIONS (Vit. B6, NSAIDs)
– LOCAL INJECTION
– ULTRASOUND THERAPY (physiotherapy)
• SURGERY
Cubita tunnel a condition brought on by increased pressure on the ulnar nerve at the elbow.
syndrome Symptoms: numbness, tingling, and pain may be felt in the elbow, forearm, hand, and/or
fingers (most often occurs in the ring and little fingers). The symptoms are usually felt
when there is pressure on the nerve, such as sitting with the elbow on an arm rest, or
with repetitive elbow bending and straightening.

Posterior The posterior interosseous nerve may be entrapped at the Arcade of Frohse, which is
interosseous part of the Supinator muscle. Posterior interosseous neuropathy is purely a motor
syndrome syndrome resulting in finger drop, and radial wrist deviation on extension.
Guyon’s Sometimes referred to as Handlebar palsy, is caused by entrapment of the ulnar nerve in
channal the Guyon canal as it passes through the wrist. Symptoms usually begin with a feeling of
syndrome pins and needles in the ring and little fingers before progressing to a loss of sensation
and/or impaired motor function of the intrinsic muscles of the hand which are innervated
by the ulnar nerve. Commonly seen in regular cyclists due to prolonged pressure of the
Guyon canal against bicycle handlebars.
Thoracic A syndrome involving compression at the resulting from excess pressure placed on a
outlet neurovascular bundle passing between the anterior scalene and middle scalene muscles.
syndrome TOS affects mainly the upper limbs, with signs and symptoms manifesting in the arms and
hands. Pain is almost always present and can be sharp, burning, or aching. Decoloration
of the hands, one hand colder than the other hand, weakness of the hand and arm
muscles, and tingling
72. Gerak Bola Mata
73. Cedera Kepala

Tipe Perdarahan Lokasi Gejala/Tanda

Perdarahan Perdarahan di dalam jaringan Nyeri kepala hebat, penurunan


intraserebral otak tingkat kesadaran dalam 24-48jam,
hemiparesis/hemiplegia,
hemisensorik, pin point pupil (bila di
pons)
Perdarahan subdural Perdarahan antara duramater Sakit kepala, mual, muntah, vertigo,
dan arakhnoid papil edema, diplopia, hingga
penurunan kesadaran
Perdarahan epidural Perdarahan antara tengkorak Lucid interval (pada 20-50%),
dan duramater, biasanya akibat hemiparesis, penurunan kesadaran
robekan pada a.meningens progresif, pupil anisokor
Edema otak merupakan keadaan-gejala patologis, radiologis,
maupun tampilan ntra-operatif dimana keadaan ini
mempunyai peranan yang sangat bermakna pada
kejadian pergeseran otak (brain shift) dan peningkatan
tekanan intrakranial
Perdarahan intraventrikuler Perdarahan ke dalam ventrikel otak. Gejala : nyeri
kepala hebat, kaku kuduk, muntah, letargi, penurunan
kesadaran
74. Kegawatan Neurologi
Definisi Tanda dan Gejala

Syok kegagalan pusat vasomotor sehingga terjadi Tekanan darah turun (hipotensi), nadi tidak
neurogenik hipotensi dan penimbunan darah pada bertambah cepat, bahkan dapat lebih lambat
pembuluh tampung (capacitance vessels), (bradikardi), kadang disertai dengan adanya defisit
terjadi karena hilangnya tonus pembuluh darah neurologis berupa quadriplegia atau paraplegia
secara mendadak di
seluruh tubuh
Trias Cushing A sign of increased intracranial pressure, Hypertension (progressively increasing systolic blood
suggests a cerebral hemorrhage in the setting of pressure), Bradycardia, Widening pulse pressure (an
trauma or an space occupying lesion (e.g. brain increase in the difference between systolic and
tumor) that is growing and a possible impending diastolic pressure over time)
fatal herniation of the brain.
Disosiasi Gangguan suhu, nyeri, dan raba, sebagai gejala
sensibilitas dari gangguan pada medulla spinalis
Locked-in a condition in which a patient is aware and results in quadriplegia and the inability to speak in
syndrome awake but cannot move or communicate otherwise cognitively intact individuals
verbally due to complete paralysis of nearly all
voluntary muscles in the body except for the
eyes
Brown- a loss of sensation and motor function (paralysis finding motor (muscle) paralysis on the same
sequard and anesthesia) that is caused by the lateral (ipsilateral) side as the lesion and deficits in pain and
syndrome hemisection (cutting) of the spinal cord temperature sensation on the opposite (contralateral)
side  ipsilateral hemiplegia and contralateral pain
and temperature sensation deficits. The loss of
sensation on the opposite side of the lesion is because
the nerve fibers of the spinothalamic tract crossover
75. Cerebrovascular Disease
• Cerebrovascular disease : a group of brain dysfunctions
related to disease of the blood vessels supplying the brain
Secara Klinis Infark Di Otak :
1. TIA (Transient Ischemic Attack) → Gejala dan tanda hilang dalam waktu
beberapa detik sampai dengan 24 jam. Difisit neurologis dapat berupa
hemiparise, monoparise, gangguan penglihatan, sulit bicara.
2. RIND (Reversible Ischemic Neurological Deficit ) → Tanda dan gejala hilang
dalam lebih dari 24 jam namun kurang dari 72 jam
3. Stroke in evolution atau progressive Stroke → defisit neurologis bersifat
fluktuatif, progresif kearah jelek, biasanya disertai penyakit penyerta (DM,
Gangguan fungsi jantung, gangguan fungsi ginjal, dll)
4. Completed Stroke (Stroke Komplit) → Defisit neurologis bersifat permanen
TIA
76. Amnesia
• A deficit in memory caused by brain damage, disease, or psychological
trauma, can also be caused temporarily by the use of various sedatives
and hypnotic drugs
• 2 main types :
 Retrograde amnesia : the inability to retrieve information that was acquired before a
particular date, usually the date of an accident or operation. In some cases the memory
loss can extend back decades, while in others the person may lose only a few months of
memory.
 Anterograde amnesia : the inability to transfer new information from the short-term
store into the long-term store. People with this type of amnesia cannot remember
things for long periods of time.
• These two types are not mutually exclusive. Both can occur within a
patient at one time.

www.wikipedia.org
ILMU PSIKIATRI
77. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:
• Harus ada minimal 1 gejala berikut:
– Thought echo
– Thought insertion or withdrawal
– Thought broadcasting
– Delusion of control
– Delusion of influence
– Delusion of passivity
– Delusion of perception
– Halusinasi auditorik

• Atau minimal 2 gejala berikut:


– Halusinasi dari panca-indera apa saja
– Arus pikiran yang terputus
– Perilaku katatonik
– Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

• Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
77. Skizofrenia
Diagnosis Gejala Khas
Paranoid merasa terancam/dikendalikan
Hebefrenik 15-25 tahun, afek tidak wajar, tidak dapat
diramalkan, senyum sendiri
Katatonik stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea
Skizotipal perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh,
bersifat magik, pikiran obsesif berulang
Waham menetap hanya waham
Psikotik akut gejala psikotik <2 minggu.
Skizoafektif gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
78. Depresi
• Gejala utama: • Gejala lainnya:
1. afek depresif, 1. konsentrasi menurun,
2. hilang minat & 2. harga diri & kepercayaan diri
berkurang,
kegembiraan,
3. rasa bersalah & tidak berguna
3. mudah lelah & yang tidak beralasan,
menurunnya 4. merasa masa depan suram &
aktivitas. pesimistis,
5. gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh
diri,
6. tidur terganggu,
7. perubahan nafsu makan (naik
atau turun).

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
78. Depresi
• Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala lain > 2
minggu

• Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala lain, >2


minggu.

• Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain > 2


minggu. Jika gejala amat berat & awitannya cepat,
diagnosis boleh ditegakkan meski kurang dari 2 minggu.

• Episode depresif berat dengan gejala psikotik: episode


depresif berat + waham, halusinasi, atau stupor depresif.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
78. Depresi
• Kombinasi psikoterapi & farmakoterapi adalah terapi
paling efektif.

• Efek samping SSRI lebih dapat ditoleransi daripada


tricyclic antidepressant → sering menjadi obat lini
pertama untuk depresi.
79. Gangguan Neurotik
Diagnosis Karakteristik
Amnesia Hilang daya ingat mengenai kejadian stressful atau traumatik yang
baru terjadi (selektif)
Fugue Melakukan perjalanan tertentu ke tempat di luar kebiasaan, tapi
tidak mengingat perjalanan tersebut.
Trans Kehilangan sementara penghayatan akan identitias diri &
kesadaran, berperilaku seakan-akan dikuasai kepribadian lain.
Depersonalisasi Perasaan dan/atau pengalamannya lepas dari dirinya, jauh, bukan
dari dirinya, hilang.
Derealisasi Objek, orang, dan/atau lingkungan menjadi seperti tidak
sesungguhnya, jauh, semu, tidak hidup.
Kepribadian Adanya dua identitas berbeda yang mengontrol perilaku individu
ganda secara berulang, disertai sulit mengingat informasi pribadi yang
penting.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
80. Waham
Diagnosis Karakteristik
Skizofrenia Terdapat gejala waham, halusinasi, perubahan perilaku yang telah
berlangsung minimal 1 bulan.
Psikotik akut Onset < 2 minggu, gejala beraneka ragam & berubah cepat atau
schizophrenia like, adanya stres akut yang berkaitan.
Waham Waham merupakan satu-satunya ciri khas yang mencolok & harus
menetap sudah ada minimal 3 bulan.
Gangguan Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik
cemas (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
menyeluruh otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).
Gangguan Adanya disharmoni sikap & perilaku, berlangsung lama, maladaptif,
kepribadian muncul pada masa kanak/remaja & berlanjut sampai dewasa.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
81. Delirium
• Pedoman diagnostik:
– Gangguan kesadaran & perhatian
– Gangguan kognitif (distorsi persepsi, halusinasi, hendaya daya pikir,
daya ingat, disorientasi)
– Gangguan psikomotor: hipo/hiperaktivitas
– Gangguan siklus tidur-bangun
– Gangguan emosional: depresi, ansietas, lekas marah
– Onset cepat, hilang timbul, kurang dari 6 bulan

• Penyebab:
– SSP: kejang (postictal)
– Metabolik: gangguan elektrolit, hipo/hiperglikemia
– Penyakit sistemik: infeksi, trauma, dehidrasi/ovehidrasi
– Obat-obatan

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
81. Delirium
Diagnosis Karakteristik
Psikotik akut Onset < 2 minggu, gejala beraneka ragam & berubah cepat atau
schizophrenia like, adanya stres akut yang berkaitan.
Psikotik akut lir Onset < 2 minggu, terdapat gejala skizofrenia untuk sebagian besar
skizofrenia waktu, tidak memenuhi kriteria psikosis polimorfik akut.
Polimorfik 1) Onset < 2 minggu, 2) ada beberapa jenis halusinasi/waham yang jenis
psikotik akut & intensitasnya berubah-ubah, 3) terdapat keadaan emosional yang
tanpa gejala beragam, 4) walau gejala beragam tapi tidak satupun dari gejala itu
skizofrenia konsisten memenuhi kriteria skizofrenia/manik/depresi
Polimorfik Onset < 2 minggu, ada beberapa jenis halusinasi/waham yang jenis &
psikotik akut intensitasnya berubah-ubah, memenuhi poin 1-3 psikotik polimorfik akut
dengan gejala disertai gejala yang memenuhi skizofrenia. Jika lebih dari 1 bulan maka
skizofrenia diagnosis menjadi skizofrenia
Gangguan Onset < 2 minggu, waham & halusinasi harus sudah ada dalam sebagian
psikotik akut lain, besar waktu, tidak memenuhi skizofrenia & gangguan psikotik polimorfik
predominan akut.
waham
82. Gangguan Afektif
Mania
• Mood harus meningkat, ekspansif, atau iritabel, dan abnormal
untuk individu yang bersangkutan. Perubahan mood minimal
berlangsung 1 minggu.
• Gejala:
– 1) peningkatan aktivitas,
– 2) banyak bicara,
– 3) flight of idea,
– 4) hilangnya inhibisi dari norma sosial,
– 5) berkurangnya kebutuhan tidur,
– 6) harga diri atau ide-ide kebesaran yang berlebihan,
– 7) distraktibillitas atau perubahan aktivitas atau rencana yang konstan,
– 8) perilaku berisiko atau ceroboh tanpa menyadari akibatnya,
– 9) peningkatan energi seksual.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
82. Gangguan Afektif
Diagnosis Karakteristik
Skizofrenia Terdapat gejala waham, halusinasi, perubahan perilaku yang telah
berlangsung minimal 1 bulan.
Waham Waham merupakan satu-satunya ciri khas yang mencolok & harus
menetap sudah ada minimal 3 bulan.
Siklotimia Ketidakstabilan menetap dari afek, meliputi banyak periode depresi
ringan & hipomania, di antaranya tidak ada yg cukup parah atau lama
untuk memenuhi gangguan afektif ipolar atau depresi.
Distimia Afek depresif yang berlangsung sangat lama, tapi tidak penah cukup
parah untuk memenuhi kriteria depresi.
Skizoafektif gejala skizofrenia & afektif muncul bersamaan & sama-sama
menonjol.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
83. Gangguan Ansietas
Diagnosis Karakteristik
Gangguan cemas Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik
menyeluruh (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).
Gangguan Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku
penyesuaian dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.
Gangguan panik Serangan ansietas yang intens & akut disertai perasaan akan
datangnya kejadian menakutkan. Tanda utama: serangan
panik yang tidak diduga tanpa adanya stimulus.
Reaksi stres akut Gangguan yang muncul segera setelah stresor luar biasa.
Klinis: depresi, ansietas, marah, overaktif, penarikan diri.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
84. Gangguan Disosiatif
Diagnosis Karakteristik
Amnesia Hilang daya ingat mengenai kejadian stressful atau traumatik yang
baru terjadi (selektif)
Fugue Melakukan perjalanan tertentu ke tempat di luar kebiasaan, tapi
tidak mengingat perjalanan tersebut.
Stupor Sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan volunter & respons
normal terhadap rangsangan luar (cahay, suara, raba)
Trans Kehilangan sementara penghayatan akan identitias diri &
kesadaran, berperilaku seakan-akan dikuasai kepribadian lain.
Motorik Tidak mampu menggerakkan seluruh/sebagian anggota gerak.
Konvulsi Sangat mirip kejang epileptik, tapi tidak dijumpai kehilangan
kesadaran, mengompol, atau jatuh.
Anestesi & Anestesi pada kulit yang tidak sesuai dermatom.
kehilangan Penurunan tajam penglihatan atau tunnel vision (area lapang
sensorik pandang sama, tidak tergantung jarak).
Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
85. Gangguan Psikomotor
Diagnosis Karakteristik
Coprolalia Mengucapkan kata-kata jorok atau kasar secara involunter.
Echolalia Mengulangi kata-kata orang lain, cenderung berulang &
persisten.
Echopraxia Mengikuti gerakan orang lain.
Cataplexy Kehilangan tonus otot untuk sementara, menyebabkan
kelemahan & imobilisasi.

Palilalia Mengulangi kata-kata yang sama, biasanya di akhir kalimat.

Catalepsy Kondisi mempertahankan posisi tubuh yang diberikan, disebut


juga dengan fleksibilitas cerea.

Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
86. Psikosomatis
Dalam DSM-4 psikosomatis dimasukkan ke dalam faktor
psikologis yang mempengaruhi kondisi medis dengan kriteria:
• Adanya kondisi medis
• Faktor psikologi mempengaruhi kondisi medis umum,
melalui 1 cara di bawah:
– Faktor psikologi mempengaruhi perjalanan penyakit, dilihat dari
hubungan waktu antara stresor dengan timbulnya gejala
– Faktor psikologi mengganggu terapi medis
– Faktor psikologi menambah risiko pada kesehatan
– Respons fisiologis terakit stres mempresipitasi atau
mengeksaserbasi kondisi medis

Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
86. Psikosomatis
• Gangguan psikokutan terdiri dari berbagai penyakit kulit yang
dipengaruhi oleh gejala psikiatri atau stres di mana kulit
menjadi sasaran gangguan pikir, perilaku, atau persepsi.
– Atopic Dermatitis
– Psoriasis
– Psychogenic Excoriation
– Localized Pruritus
– Hyperhidrosis
– Urticaria

Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
87. Gangguan Afektif
• Gangguan Afektif Bipolar:
– episode berulang minimal 2 kali,
– pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek &
penambahan energi dan aktivitas,
– pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan
energi & aktivitas.
– Biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
– Tipe:
• Afektif bipolar, episode kini hipomanik
• Afektif bipolar episode kini manik tanpa/dengan gejala psikotik
• Afektif bipolar episode kini depresif ringan atau sedang
• Afektif bipolar episode kini depresif berat tanpa/dengan gejala
psikotik
• Afektif bipolar episode kini campuran

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
88. Psychosomatic Disorders
Management in Children
• Treatment may include individual or family
counseling, stress management techniques,
antidepressant medication, and regularly
scheduled ongoing follow-up visits to the
primary care provider to assess the child’s
progress.

http://pedsinreview.aappublications.org/content/15/11/448
ILMU PENYAKIT KULIT & KELAMIN
DAN PARASITOLOGI
89. Cutaneous Larva Migrans
(Creeping Eruption)
• Peradangan berbentuk linear,
berkelok-kelok, menimbul dan
progresif
• Penyebab: Ancylostoma braziliense
dan Ancylostoma caninum
• Larva masuk kulit, menimbulkan rasa
gatal dan panas, diikuti lesi linear
berkelok-kelok, menimbul,
serpiginosa membentuk terowongan
• Gatal hebat pada malam hari
• Pengobatan: tiabendazole,
albendazole, cryotherapy, kloretil

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
90. Ichthyosis Vulgaris

• Icthyosis Vulgaris is the • Homeostatic mechanism


of cell kinetics of
most common genetic differentiation is altered
skin disorder • Causes skin to regenerate
• Derived from the word (go through mitosis)
ichthys (fish) faster than it sheds.
• Primary ichthyoses are • mutated gene for
Ichthyosis Vulgaris is
heterogenous group of found on chromosome
inherited disorders Iq21
featuring excessive • abnormality in levels of
scale the protein filaggrin
• Effects of Ichthyosis • There is no known cure,
Vulgaris include: but the following can
– Dry Skin aid in easing the pain of
– Scaly Skin ichthyosis vulgaris:
– Itchy – Retinoids (from Vitamin-
– Discoloration of Skin A)
– Flaky Scalp – Constant moisture to
affected area
– Painful deep cracks in
palms and soles
Different Types of Ichthyosis
• Ichthyosis vulgaris
– Mild skin scaling and dryness
– Ichthyosis vulgaris and recessive X-linked ichthyosis → relatively
common and appear similar
• Epidermolytic ichthyosis (previously called epidermolytic
hyperkeratisis)
– Characterized by thick, often spiny dark scales and skin that may
blister easily following trauma
• Lamellar ichthyosis
– Characterized by large, platelike scales and thickening of the skin
• Congenital ichthyosiform erythroderma
– Characterized by red skin and fine scales.
• Localized ichthyosis
– Characterized by thick or scaly skin that is localized to particular
regions such as the palms of the hands and soles of the feet
91. Vitiligo
• Vitiligo adalah sebuah keadaan hipomelanosis
idiopatik.
• Etiologi masih belum diketahui namun
dilaporkan faktor pencetus berupa krisis emosi
dan trauma fisik.
• Gejala klinis: makula berwarna putih dengan
diameter beberapa milimeter sampai beberapa
sentimeter, bulat lonjong berbatas tegas. Dengan
predileksi ekstensor tulang terutama di atas jari,
sekitar mata, mulut dan hidung
Vitiligo
• Usually begins in • An acquired pigmentary
childhood or young anomaly of the skin
adulthood • Manifested by
• 50% of cases begin before depigmented white
age 20 patches surrounded by a
• Prevalence ranges from normal or a
0.5% to 1% hyperpigmented border
• Hairs in vitiliginous areas
usually become white
also
• Rarely, the patches may
have a red, inflammatory
border
Types
• Localized or focal(including • Generalized is the most
segmental) common
• Generalized • Involvement is symmetrical
• Universal • Most commonly involving
the face, upper chest, dorsal
• Acrofacial aspects of the hands,
axillae, and groin
Acral Vitiligo • Tendency for skin around
orifices to be affected
(eyes,nose, mouth, ears,
nipples, umbilicus, penis,
vulva, anus)
• Lesions also favor areas of
Generalized Vitiligo trauma (elbows and knees

Segmental Vitiligo
Pengobatan
• Psoralen 2 jam sebelum penyinaran dengan
ultraviolet (dosis psoralen 0,6 mg/kg).
Psoralen topikal sering menyebabkan
dermatitis kontak iritan
• Losio metoksalen kemudian dijemur selama
10 menit di bawah sinar matahari
• Keadaan generalisata dapat digabungkan
dengan kapsul metoksalen oral
92. Tinea Unguium
3 bentuk:
• Subungual distalis
→ bagian distal
hancur
• Leuconychia
trichophyta
• Subungual
proksimalis
• Predisposisi Diagnosis Diferensial:
– Keadaan basah dan • Dermatitis pada
lembab pada kuku punggung jari
– Penggunaan kuku palsu
• Paronychia (cantengan)
• Diagnosis
• Acrodermatitis perstans
– Menemukan hifa pada
pemeriksaan • Psoriasis
mikroskopik kerokan • Pachyonychia
kuku dengan KOH 10% congenital
Pengobatan Pengobatan Lokal:
– Sistemik: Derivat imidazol
• Griseofulvin 10 - 25 mg/ – Mikonazol (Jansen)
kgBB (max. 1 g/hr)
– Ekonazol (Chilag-chemie)
• Terbinafin 250mg/hari
• Ketokonazol 200mg/hari
– Klotrimazol (Bayer,
Schering)
– Lokal:
– Isokonazol (Schering)
– Salap (Unguentum)
whitfield
– Salap asam lemak tidak
jenuh
– Tolnaftat
93. Skabies
• Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis
• Transmisi: kontak langsung (skin to skin), tidak langsung
• Kelainan kulit akibat terowongan tungau atau karena garukan
penderita
• Gejala:
– Pruritus nokturna
– Menyerang manusia secara kelompok
– Adanya terowongan (kunikulus) yang berwarna putih/keabuan,
lurus/berkelok, panjang 1 cm, pada ujung didapatkan papul/vesikel.
Predileksi: sela jari tangan, pergelangan tangan bag volar, siku luar,
lipat ketiak depan, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia
eksterna, perut bawah
– Ditemukan tungau
• Obat: sulfur presipitat 4-20%, benzil benzoat 20-25%, gameksan 1%,
krotamiton 10%, permetrin 5%

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Anti-Skabies Drugs
Drugs Possible Adverse Effect
Benzyl benzoat 25% Irritation, anesthesia & hypoesthesia, ocular irritation, rash,
Pregnancy category B
Permethrine 5% Mild & transient burning & stinging, pruritus, pregnancy
category B
Gameksan 1%
Krotamiton 10% Allergic contact dermatitis/primary irritation, pregnancy
category C
Sulfur Precipitate 6% Erythema, desquamation, irritation, pregnancy category C
94. Herpes zoster

• Penyakit yang disebabkan virus varicella zoster yang menyerang kulit dan
mukosa, merupakan reaktivasi setelah infeksi primer (varicella)
• Predileksi: daerah torakal, unilateral, bersifat dermatomal
• Gejala:
– Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) & lokal (myalgia, gatal,
pegal)
– Timbul eritema yang kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan
dasar eritematosa & edema, kemudian menjadi pustul dan krusta
– Pembesaran KGB regional
• Herpes zoster oftalmikus: infeksi n.V-1
• Sindrom Ramsay-Hunt: gangguan n. fasialis & otikus
• Komplikasi: neuralgia pascaherpetik: nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan lebih dari sebulan setelah sembuh
• Pengobatan: acyclovir (pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imun)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Pathogenesis Clinical Features of Herpes Zoster
• Following initial infection Prodrome: headache, photophobia,
(varicella), VZV establishes malaise, fever, abnormal skin
sensations and pain
permanent latent infection in
dorsal root and cranial nerve Rash:
ganglia • Unilateral, involving 1-3 adjacent
• Years to decades later VZV dermatomes
reactivates and spreads to skin • Thoracic , cervical, ophthalmic
involvement most common
through peripheral nerves
causing pain and a unilateral • Initially erythematous,
maculopapular
vesicular rash in a dermatomal • Vesicles form over several days, then
distribution crust over
• Lifetime risk of developing • Full resolution in 2-4 weeks
zoster: about 30% • Occasionally, rash never develops (zoster
sine herpete)
Penyakit Karakteristik
Variola (small pox) Makula eritematosa → papul → vesikel → pustula →
krusta. Sifat lesi monomorfik. Sudah tereradikasi.
Herpes zoster Reaktivasi dari varicella. Gejala prodromal → vesikel
jernih → vesikel keruh → pustula → krusta. Predileksi
unilateral dan sesuai dermatom.
Herpes simpleks Vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa pada daerah dekat mukokutan
•HSV tipe I: predileksi di daerah pinggang ke atas
terutama daerah mulut dan hidung
•HSV tipe II: predileksi di daerah pinggang ke bawah
terutama daerah genital
Impetigo vesikobulosa Disebabkan S. aureus. Predileksi di ketiak, dada,
punggung. Berupa eritema, bula, dan bula hipopion.
95. Melasma
• Acquired bilateral symmetrical hypermelonosis
• Irregular light to gray brown macule and patch
• Ill defined margin
• Involved sun exposure area
• Most common in women , 30-44 years old
• particularly affects those with Fitzpatrick skin
types IV–VI
Cause of melasma Distribution of melasma
• Light : UVA, UVB, visible light • Central facial pattern (63%)
• Hormone : pregnancy, : cheek, forehead, nose,
contraceptive pill, chin
menstruation • Malar pattern (21%) :
• Drug : dilantin, anti-malarial cheek, nose
drug, tetracycline, minocycline
• Mandibular pattern (16%)
• Cosmetic : perfume, color
:chin
• Genetic
• Malnutrition : liver
dysfunction, B12 def.
96. Dermatitis Atopik
• DA infantil (2 bulan – 2 tahun)
– Lesi sering di muka (dahi dan pipi) berupa eritema, papulovesikel, yang
kemudian menjadi eksudat dan krusta akibat digaruk
– Lesi juga meluas ke tempat lain seperti skalp, leher, pergelangan
tangan, lengan dan tungkai
• DA anak (2 – 10 tahun)
– Merupakan kelanjutan dari bentuk infantil atau de novo
– Lesi lebih kering, papul, likenifikasi dengan sedikit skuama
– Predileksi: lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan fleksor, kelopak
mata, leher
• DA remaja dan dewasa
– Lesi sama dengan lesi anak

• Terapi: hidrasi kulit, KS topikal, imunomodulator, preparat ter,


antihistamin

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
• Kriteria mayor:
– Pruritus
– Dermatitis di muka/ekstensor pada bayi/anak
– Dermatitis di fleksura pada dewasa
– Dermatitis kronis atau residif
– Riwayat atopi pada penderita/keluarga
• Kriteria minor:
Xerosis, infeksi kulit, dermatitis nonspesifik, iktiosis, pitiriasis alba,
dermatitis di papila mammae, white dermographism, keilitis, lipatan
infraorbital, konjungtivitis berulang, keratokonus, katarak subskapular
anterior, orbita menjadi gelap, muka pucat/eritem, gatal bila berkeringat,
intolerans terhadap wol/pelarut lemak, aksentuasi perifolikular,
hipersensitif terhadap makanan, dipengaruhi lingkungan/emosi, tes kulit
alergi (+), IgE serum meningkat, awitan usia dini

• Diagnosis: 3 mayor + 3 minor


Allergen Testing
• Skin prick test
– Placing a drop of a solution containing a possible allergen
on the skin, and a series of scratches or needle pricks
allows the solution to enter the skin → Result read in 20
minutes
– Positive reaction → skin develops a red, raised itchy area
(called a wheal)
– antihistamines must be discontinued for 1 week and
topical steroids for 2 weeks prior to testing
• Skin patch test
– the allergen solution is placed on a pad that is taped to the
skin for 24 to 72 hours
– This test is used to detect a contact dermatitis

http://www.webmd.com/allergies/allergy-tests#hw198353
Treatment

http://www.aafp.org/afp/2007/0215/p523.html
97. Pitiriasis Rosea
• Dermatitis eritroskuamosa yang disebabkan
oleh infeksi virus (self-limiting disease)
• Bentuk klinis:
– Dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema
berskuama halus dengan kolaret (herald patch)
– Disusul dengan lesi yang lebih kecil di badan, paha
dan lengan atas, tersusun sesuai lipatan kulit
(inverted christmas tree appearance)
• Pengobatan: simtomatik

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Herald patch
98. Pitiriasis Versikolor
• Penyakit jamur superfisial yang kronik disebabkan
Malassezia furfur
• Gejala:
– Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai
coklat hitam, meliputi badan, ketiak, lipat paha, lengan,
tungkai atas, leher, muka, kulit kepala yang berambut
– Asimtomatik – gatal ringan, berfluoresensi
• Pemeriksaan: lampu Wood (kuning keemasan), KOH
20% (hifa pendek, spora bulat: meatball & spaghetti
appearance)
• Obat: selenium sulfida, azole, sulfur presipitat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Lampu Wood
• Tinea kapitis (M. canis, M. audouinii, M. rivalieri, M.
distortum, M. ferrugineum dan M. gypseum): hijau terang
• Pitiriasis versikolor : putih kekuningan, orange tembaga, kuning
keemasan, atau putih kebiruan (metabolit koproporfirin)
• Tinea favosa (Trichophyton schoenleinii): biru suram/hijau suram
(akibat metabolit pteridin)
• Eritrasma (Corynebacterium minutissimum): merah koral
(metabolit porfirin)
• Infeksi pseudomonas: hijau (metabolit pioverdin atau fluoresein)
• Hasil positif palsu:
– Salep dan krim di kulit atau eksudat: biru – jingga
– Tetrasiklin, asam salisilat dan petrolatum: kuning
99. Moluskum
Kontagiosum
• Penyakit yang disebabkan oleh poxvirus berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum
• Transmisi: kontak langsung, autoinokulasi
• Gejala:
– Masa inkubasi: satu hingga beberapa minggu
– Papul miliar, kadang-kadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin, berbentuk
kubah yang ditengahnya terdapat lekukan, jika dipijat keluar massa yang berwarna
putih seperti nasi
– Predileksi: muka, badan, ekstremitas, pubis (hanya pada dewasa)
• Pemeriksaan:
– Sebagian besar berdasarkan klinis
– Pemeriksaan mikroskopik badan moluskum (Henderson-Paterson bodies) –
menggunakan pewarnaan Giemsa atau gram
– Diagnosis pasti: biopsi kulit menggunakan pewarnaan HE
• Tata laksana: mengeluarkan massa (manual, elektrokauterisasi, bedah beku)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Bhatia AC. Molluscum contagiosum. http://emedicine.medscape.com/article/910570-overview
100. Veruka
• Hiperplasia epidermis disebabkan oleh HPV
• Transmisi: kontak kulit, autoinokulasi
• Bentuk klinis:
– Veruka vulgaris (common wart): predileksi di ekstremitas ekstensor,
muka & kulit kepala, kutil bulat berwarna abu-abu/sewarna kulit,
lentikular, dapat berkonfluensi, permukaan kasar
– Veruka plana juvenilis: kutil miliar/lentikular, sewarna
kulit/kecoklatan, permukaan licin dan rata, predileksi di muka, leher,
dorsum manus/pedis, pergelangan tangan, lutut
– Veruka plantaris (plantar wart): predileksi di telapak kaki terutama
daerah yang mengalami tekanan, berupa cincin keras di tengahnya
agak lunak dan berwarna kekuningan, nyeri
– Kondiloma akuminata
• Pemeriksaan penunjang: biopsi kulit

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Wolff K. Fitzpatrick’s color atlas & synopsis of clinical dermatology, 5th ed. McGraw-Hill; 2007.
101. Amoebiasis
Immature Entamoeba histolytica Trophozoites of Entamoeba histolytica with
cyst (mature cysts have 4 nuclei) ingested erythrocytes
METRONIDAZOLE
• Mixed amoebicide.
• Drug of choice for intestinal &
extraintestinal amoebiasis.
• Acts on trophozoites.
• Has no effect on cysts.
• Nitro group of metronidazole is
reduced by protozoan leading to
cytotoxic reduced product that binds
to DNA and proteins resulting into
parasite death.
102. Gonorrhea
• Penyakit yang disebabkan infeksi Neisseria
gonorrhoeae
• Masa tunas 2-5 hari
• Jenis infeksi:
– Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis,
cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis,
trigonitis
– Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul
disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai
darah, nyeri saat ereksi
– Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis,
salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi
baru lahir), gonorrhea diseminata

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Gonorrhea
• Pemeriksaan:
– Sediaan langsung: diplokokus gram negatif
– Kultur: agar Thayer-Martin
• Pengobatan
Diagnosis Pilihan pengobatan
Uncomplicated gonococcal First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime
infection of the cervix, (400 mg PO, single dose)
urethra, pharynx, or rectum plus
Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled
out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg
PO bid for 7 days)

Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or


Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM,
single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid
(1 g PO, single dose) or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus
probenecid (1 g PO, single dose)

Longo DL. Harrison’s principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
103. Vehikulum Obat Topikal
• Cairan (solusio, tingtura, kompres)
– Membersihkan kulit dari debris
– Perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, pustula
– Keadaan yang basah menjadi kering
– Merangsang epitelisasi
• Bedak
– Penetrasi sedikit
– Diberikan pada dermatosis yang kering dan superfisial
– Berguna untuk mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah
• Salep
– Diberikan pada dermatosis yang kering dan kronik, berkrusta
– Penetrasi paling kuat
– Kontraindikasi pada dermatitis madidans (dengan eksudasi), tidak
dianjurkan pada bagian tubuh yang berambut
Vehikulum obat topikal
• Bedak kocok
– Diberikan pada dermatosis yang kering, superfisial, agak luas. Pada keadaan
yang subakut
– Penetrasi sedikit
– Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut
• Krim
– Indikasi kosmetik
– Dermatosis subakut yang luas, penetrasi >> bedah kocok
– Boleh digunakan di daerah berambut
– Kontaindikasi: dermatitis madidans
• Pasta (campuran bedak & vaselin)
– Dermatosis yang agak basah (bersifat mengeringkan)
– Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut, tidak dianjurkan pada
daerah lipatan
• Linimen (campuran cairan, bedak, salep)
– Diberikan pada dermatosis yang subakut
– Kontraindikasi: dermatosis madidans

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
104. Varicella (chicken pox)
• Infeksi akut oleh virus varicella-zoster yang menyerang kulit
dan mukosa
• Transmisi secara aerogen
• Gejala
– Masa inkubasi 14-21 hari
– Gejala prodromal: demam subfebris, malaise, nyeri kepala
– Disusul erupsi berupa papul eritematosa yang kemudian
berubah menjadi vesikel berupa tetesan air (tear drops) 
mejadi pustula  menjadi krusta. Bisa menimbulkan gejala
polimorfik karena timbul vesikel baru. Predileksi: daerah badan
kemudian menyebar secara sentrifugal
• Pemeriksaan: percobaan Tzanck
• Pengobatan: simtomatik (antipiretik, analgesik,
antipruritus) acyclovir

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
105. Sindrom Stevens-Johnson → TEN
• Sindrom yang mengenai kulit, selaputlendir di orifisium,
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan
sampai berat
• Penyebab: alergi obat (>50%), infeksi, vaksinasi, graft vs
host disease, neoplasma, radiasi
• Reaksi hipersensitivitas tipe 2
• Trias kelainan
– Kelainan kulit: eritema, vesikel, bula
– Kelainan mukosa orifisium: vesikel/bula/pseudomembran pada
mukosa mulut (100%), genitalia (50%). Berkembang menjadi
krusta kehitaman
– Kelainan mata: konjungtivitis
• Komplikasi: bronkopneumonia, gangguan elektrolit, syok
• Pengobatan: KS sistemik-oral, antibiotik, suportif

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
TEN Definitions
• SJS/TEN:
– Lesions: Small blisters on dusky purpuric macules or atypical
targets
– Mucosal involvement common
– Prodrome of fever and malaise common
• Stevens-Johnson Syndrome:
– Rare areas of confluence.
– Detachment </= 10% BSA
• Toxic Epidermal Necrolysis:
– Confluent erythema is common.
– Outer layer of epidermis separates easily from basal layer with
lateral pressure.
– Large sheet of necrotic epidermis often present.
– >30% BSA involved.
Presentation
• Fever (often >39) and flu-like illness 1-3 days before
mucocutaneous lesions appear
• Confluent erythema
• Facial edema or central facial involvement
• Lesions are painful
• Palpable purpura
• Skin necrosis, blisters and/or epidermal detachment
• Mucous membrane erosions/crusting, sore throat
• Visual Impairment (secondary to ocular involvement)
• Rash 1-3 weeks after exposure, or days after 2nd exposure
Eritema multiforme Nekrolisis epidermal toksik
• Erupsi mendadak dan rekuren • Bentuk parah SSJ
pada kulit dan kadang-kadang
pada mukosa dengan gambaran • Gejala:
bermacam-macam spektrum – Mirip SSJ namun lebih berat
• Penyebab pasti belum diketahui – Hampir seluruh tubuh
• Gejala:
– Tipe makula-eritema
– Epidermolisis: tanda Nikolsky
• Mendadak, simetrik, predileksi di (+)
punggung tangan, telapak tangan,
ekstensor ekstremitas, mukosa. • Obat:
Gejala khas: bentuk iris
– KS sistemik dosis tinggi
– Tipe vesikobulosa
• Makula, papula, urtika yang – Sulfadiazin perak topikal
kemudian timbul lesi vesikobulosa (sama seperti luka bakar)
di tengah
• Obat: simtomatik, KS oral – Suportif
106. Giardiasis
• Giardia lamblia
– Flagellated protozoan that infects the duodenum and small
intestine
– Asymptomatic colonization to acute or chronic diarrhea
and malabsorption
– More prevalent in children
• Usually occurs sporadically
• Transmission:
– water contaminated with giardia cysts
• Giardia cysts are relatively resistant to chlorination and to
ultraviolet light irradiation
• Boiling is effective for inactivating cysts
– fecal-oral route
Giardiasis
Giardia intestinalis =(lamblia)

Trophozoites Cysts
Giardia – Life cycle
CLINICAL MANIFESTATIONS
• Incubation period :1–2 wk
• Asymptomatic
– acute infectious diarrhea
– chronic diarrhea with failure to thrive and abdominal pain or
cramping
• Symptomatic
– Occur more frequently in children than in adults
– acute diarrhea
– Low-grade fever, nausea, and anorexia;
– abdominal distention and cramps, bloating, malaise,
flatulence
CLINICAL MANIFESTATIONS
• Stools
– profuse and watery and later become greasy and foul
smelling
– do not contain blood, mucus, or fecal
leukocytes
– Varying degrees of malabsorption may occur.
DIAGNOSIS
• Microscopic
– trophozoites or cysts in stool specimens,
– 3 stool specimens are required to achieve a sensitivity
of >90%.
• Stool enzyme immunoassay (EIA) or direct
fluorescent antibody tests
– more sensitive
• Aspiration or biopsy of the duodenum or upper
jejunum
TREATMENT
• Should receive therapy
– acute diarrhea
– failure to thrive
– exhibit malabsorption
• Therapy
– First Line
• Tinidazole: >3 yr: 50 mg/kg/day once daily
• nitazoxanide
• Metronidazole: 15 mg/kg/day in 3 divided doses for 5–7
days
– Second line alternatives:
• furazolidone 6 mg/kg/day in 4 divided doses for 10 days
• albendazole: >6 yr: 400 mg once a day for 5 days
paromomycin, and
• quinacrine :6 mg/kg/day in 3 divided doses for 5 days
PREVENTION
• Handwashing
• Purify public water supplies adequately include
chlorination and filtration.
• Travelers to endemic areas are advised to avoid
uncooked foods that might have been grown, washed,
or prepared with water that was potentially
contaminated.
• Purification of drinking water can be achieved by a
filter or by brisk boiling of water for at least 1 min
107. Akne Vulgaris
• Penyakit peradangan kronik folikel pilosebasea
• Faktor: perubahan pola keratinisasi dalam folikel,
produksi sebum ↑, terbentuknya fraksi asam lemak
bebas, peningkatan jumlah flora folikel
(Propionibacterium acnes), pembentukan circulating
antibodies, peningkatan kadar hormon androgen, stres
psikis, faktor lain (usia, ras, familial, makanan, cuaca)
• Gejala klinis:
– Predileksi: muka, bahu, dada atas, punggung atas
– Erupsi kulit polimorfi:
• Tak beradang: komedo, papula tidak beradang
• Beradang: pustula, nodus, kista beradang

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Derajat Acne
Ringan Sedang Berat
5 – 10 lesi, tak meradang > 10 lesi tak meradang pada
pada 1 predileksi 1 predileksi
< 5 lesi tak meradang pada 5 – 10 lesi tak meradang > 10 lesi tak meradang pada
beberapa tempat predileksi pada lebih dari 1 predileksi lebih dari 1 predilksi
< 5 lesi meradang pada 1 5 – 10 lesi meradang pada 1 Lebih dari 10 lesi meradang
predileksi predileksi pada 1 atau lebih predileksi
< 5 lesi meradang pada lebih
dari 1 predileksi

• Tak meradangkomedo
putih,lomedo hitam,papul
• Meradangpustul,nodus,kista
Akne vulgaris
• Pengobatan
– Topikal:
• Iritan: sulfur, asam salisilat, peroksida benzoil, asam retinoat
• Antibiotik: oksitetrasiklin, eritromisin
• Antiinflamasi: hidrokortison, triamsinolon intralesi
– Sistemik
• Antibiotik: tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin, trimethoprim
• Obat hormonal: estrogen, siproteron asetat
• Vitamin A
• Antiinflamasi
– Terapi oral (Sistemik) diberikan pada acne sedang-berat
Kelainan Karakteristik
Erupsi akneiformis Erupsi papulopustula mendadak tanpa ada komedo
hampir di seluruh bagian tubuh. Disebabkan oleh induksi
obat
Akne venenata Akne akibat rangsangan kimia/fisis. Lesi monomorfik,
predileksi di tempat kontak
Akne rosasea (Rosasea) Penyakit radang kronik di daerah muka dengan gejala
eritema, pustula, talangiektasia dan hipertrofi kelenjar
sebasea. Tidak terdapat komedo.
108. Sifilis
• Penyakit infeksi yang disebabkan Treponema
pallidum, kronik, bersifat sistemik
• Dapat menyerang hampir semua organ, dapat
menyerupai banyak penyakit (the great
imitator), mempunyai masa laten, dapat
ditularkan dari ibu ke janin
Stadium sifilis
• Stadium dini (menular)
– Stadium I (sifilis primer): papul lentikular yang kemudian
menjadi ulkus dinding tidak bergaung, indolen, teraba indurasi,
tidak ada radang akut (ulkus durum) biasanya di genitalia
eksterna. Seminggu setelah afek primer terdapat pembesaran
KGB inguinal
– Stadium II (sifilis sekunder): 6-8 minggu sejak S I, dapat
menyerupai berbagai kelainan kulit (the great imitator), dapat
memberi kelainan pada mukosa, KGB, mata, hepar, tulang, saraf.
Kelainan biasanya tidak gatal, sering disertai limfadenitis
generalisata
– Sifilis laten dini: tidak ada gejala klinis, tetapi infeksi masih aktif.
Tes serologi darah (VDRL, TPHA) positif
– Stadium rekuren: relaps dapat terjadi berupa kelainan kulit mirip
sifilis sekunder
Stadium sifilis (cont’d)
• Stadium lanjut (tidak menular)
– Sifilis laten lanjut: lama bertahun-tahun, tidak
menular, diagnosis dengan tes serologik
– Stadium III (sifilis tersier): 3-10 tahun sejak S I,
kelainan khas adalah guma (infiltrat sirkumskrip,
kronis, biasanya melunak, destruktif), nodus, dapat
menyerang mukosa, tulang, hepar, jantung & aorta
(sifilis kardiovaskular), otak (neurosifilis)

• Tata laksana: penisilin G prokain/penisilin G


benzatin

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Chancre of Primary Syphilis on
Labium

Chancre of Primary Syphilis on Penis

Chancre of Primary Syphilis on Lip


Mucocutaneous Lesions of Secondary
Syphilis

Condyloma Lata in Secondary Syphilis


Tes Serologi Sifilis
Non Treponemal
• Menggunakan antigen tidak spesifik → kardiolipin, lesitin,dan
kolesterol
• Antibodi → Reagin
• Dapat dipakai sebagai tes screening dan keberhasilan
pengobatan
• Contoh → VDRL(Venereal Disease Research Laboratory)
– Screening
• Titer ¼ atau lebih → tersangka sifilis
• Mulai positif setelah 2-4 minggu sejak S I muncul
• Mencapai puncak pada S II Lanjut → berangsur-angsur negatif
– Keberhasilan terapi
• Titer akan turun dengan cepat, dalam 6 minggu titer akan menjadi normal
Treponemal
• Bersifat spesifik → antigen treponemal
• Contoh:
– TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay)
• Kelebihan: Hasil mudah dibaca, cukup sensitif dan spesifik,
menjadi reaktif cukup dini
• Kekurangan: tidak dapat dipakai untu menilai hasil terapitetap
positif dalam waktu yang lama
– FTA-Abs (Fluorecent Treponemal Antibody Absorption
Test)
• Reaktif 1 minggu setelah afek primer
• Paling sensitif (90%) dua macam IgM, IgG.
• IgM penting untuk sifilis kongenital
109. TB Kutis
KLASIFIKASI
• Tuberkulosis kutis sejati
kuman penyebab terdapat pada kelainan kulit disertai
gambaran histopatologi khas
– Tuberkulosis kutis primer
• Inokulasi TB primer / Tuberculosis chancre
– Tuberkulosis kutis sekunder
• Tuberkulosis kutis miliaris
• Skrofuloderma
• Tuberkulosis kutis verukosa
• Tuberkulosis kutis gumosa
• Lupus vulgaris
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
• Tuberkulid → reaksi Id
Pada kelainan kulit tidak ditemukan kuman penyebab →
kuman terdapat pada tempat lain didalam tubuh (paru)
– Bentuk papul
• Lupus Miliaris diseminatus fasiei
• Tuberkulosis papulonekrotika
• Liken sklofulosorum
– Bentuk granuloma dan ulseronodulus
• Eritema nodosum
• Eritema induratum

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Patogenesis
• Penjalaran langsung ke kulit dari organ dibawah kulit
yang telah terinfeksi tuberkulosis (skrofuloderma)
• Inokulasi langsung pada kulit sekitar orifisium
(tuberculosis kutis orifisialis)
• Penjalaran secara hematogen (TB kutis miliaris)
• Penjalaran secara limfogen (Lupus vulgaris)
• Penjalaran langsung dari selaput lendir yang sudah
diserang penyakit TB (Lupus vulgaris)
• Kuman langsung masuk ke kulit yang resistensi
lokalnya telah menurun (TB kutis verukosa)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
SKROFULODERMA
• Penjalaran perkontinuitatum dari organ dibawah kulit yang
diserang penyakit TB (kelenjar getah bening, sendi, tulang)
• Lokasi
– leher : dari tonsil atau paru
– ketiak : dari apeks pleura
– lipat paha : dari ekstremitas bawah → KGB Inguinal lateral
• Perjalanan penyakit:
– Awal : limfadenitis TB
• KGB membesar tanpa tanda radang akut
– Periadenitis
• perlekatan kelenjar dengan jaringan sekitar sekitar
– Perlunakan tidak serentak → cold abses → Pecah
– Fistel → memanjang, tidak teratur, sekitarnya livide
menggaung tertutup pus seropurulen
– Sikatrik → skin bridge
• DD/ : limfosarkoma, limfoma malignum, hidradenitis
supurativa LGV
Periadenitis
Limfadenitis TB

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Cold Abses
Fistel Sikatrik → skin bridge

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Diagnosis Banding
Kelainan Karakteristik
Hidradenitis Supuratif Infeksi Piokokus pada kelenjar apokrin. Tanda radang
akut +, terdapat gejala konstitusi. Predileksi: Kelenjar
apokrin daerah ketiak
Limfogranuloma Venerum Coitus suspectus, gejala konstitusi +, tanda radang akut +
Predileksi: KGB Inguinal medial. Stadium lanjut→ bubo
bertingkat→pembesaran KGB di inguinal medial dan
fossa iliaka
Dermatitis Kontak Riwayat kontak dengan bahan/benda tertentu.edema,
eritem,papul,vesikel. Ulkus -
110. Cutaneous Anthrax
• 95% of all cases globally
• Incubation: 2 to 3 days
• Spores enter skin through open wound or
abrasion
• Papule → vesicle → ulcer → eschar
• Case fatality rate 5 to 20%
• Untreated – septicemia and death

Center for Food Security and Public Health,


Iowa State University, 2011
Day 6
Day 2

Day 4

Day 6
Day 6

Day 10
Center for Food Security and Public Health,
Iowa State University, 2011
The Organism
• Bacillus anthracis
• Large, gram-positive, non-
motile rod
• Two forms
– Vegetative, spore
• Over 1,200 strains
• Nearly worldwide distribution

Center for Food Security and Public Health,


Iowa State University, 2011
111. Kandidosis
• Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus Candida
• Klasifikasi
– Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
– Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
– Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
– Reaksi id (kandidid)
• Faktor
– Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
– Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Kandidosis kutis
• Bentuk klinis:
– Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi ileh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
– Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
– Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia
• Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur
di agar Sabouraud
• Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian
violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
110.malaria
The Malarial Parasite
Malaria the disease

• 9-14 day incubation


period
• Fever, chills, headache,
back and joint pain
• Gastrointestinal
symptoms (nausea,
vomiting, etc.)
Malaria the disease
Malaria the disease
• Malaria tertiana: 48h
between fevers (P. vivax
and ovale)

• Malaria quartana: 72h


between fevers (P.
malariae)

• Malaria tropica: irregular


high fever (P. falciparum)
• The disease spectrum and clinical features of
large numbers of patients infected with P.
knowlesi have not been described
• To reliably differentiate P. malariae from P.
knowlesi infections by using only microscopy is
difficult
• The only reliable method to identify parasite is
PCR
ILMU KESEHATAN ANAK
113. Dehidrasi
• Evaluasi Diare dan Dehidrasi
– Anamnesis
• Frekuensi BAB
• Lamanya diare
• Adanya darah dalam tinja
• Muntah
• Pengobatan yang baru diminum (antibiotik dan obat lainnya)
– Pemeriksaan Fisik
• Evaluasi tanda dehidrasi (rewel/gelisah, kesadaran, mata cekung,
turgor kulit, kehausan/malas minum)
• Darah dalam tinja
• Tanda-tanda gizi buruk
• Perut kembung
• Tanda invaginasi (massa intraabdomen, tinja lendir dan darah)
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
Klasifikasi Tingkat Dehidrasi Anak
Klasifikasi Tanda-Tanda atau Gejala
Dehidrasi Berat Terdapat dua atau lebih dari tanda di bawah ini:
• Letargis/tidak sadar
• Mata sangat cekung
• Tidak bisa minum atau malas minum
• Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥ 2 detik)
Dehidrasi Terdapat dua atau lebih tanda di bawah ini:
Ringan/Sedang • Rewel, gelisah
• Mata cekung
• Minum dengan lahap, haus
• Cubitan kulit kembali lambat
Tanpa Dehidrasi Tidak terdapat cukup tanda untuk diklasifikasikan sebagai
dehidrasi ringan atau berat
Penanganan
• Rehidrasi: dapat diberikan oral/parenteral tergantung
status dehidrasinya
– Tanpa dehidrasi
• 5 cc/kg ORS setiap habis muntah
• 10cc/kg ORS setiap habis mencret
– Dehidrasi ringan sedang
• 75 cc/kg ORS dalam 3 jam (Rencana Terapi B, WHO)
• Bila per oral tidak memungkinkan, dapat diberikan parenteral
tergantung kebutuhan maintenance cairan + defisit cairan
– Dehidrasi berat (parenteral)
Pemberian Pertama Pemberian Berikut
Golongan Umur 30 ml/kgbb selama : 70 ml/kgbb selama :
Bayi ( < umur 12 bulan ) 1 jam 5 jam
Anak ( 12 bln – 5 tahun ) 30 menit 2.5 jam
114. Anemia Mikrositik Hipokrom
Thalassemia
• Penyakit genetik yang ditandai dengan supresi produksi
hemoglobin karena defek pada sintesis rantai globin
• Diturunkan secara autosomal resesif
• Secara fenotip: mayor, intermedia, minor
• Secara genotip:
– Thalassemia beta
• Tergantung tipe mutasi, bervariasi antara ringan (++, +) ke berat (0)
– Thalassemia alfa
• -thal 2 /silent carrier state: delesi 1 gen
• -thal 1 / -thal carrier: delesi 2 gen: anemia ringan
• Penyakit HbH: delesi 3 gen: anemia hemolitik sedang, splenomegali
• Hydrops foetalis / Hb Barts: delesi 4 gen, mati dalam kandungan

Wahidiyat PA. Thalassemia and hemoglobinopathy.


Diagnosis thalassemia
• Pucat kronik
• Hepatosplenomegali
• Ikterik
• Perubahan penulangan
• Perubahan bentuk wajah
• Hiperpigmentasi
• Riwayat keluarga +
Diagnosis thalassemia (cont’d)
• Pemeriksaan darah
– CBC: Hb , MCV , MCH , MCHC , Rt , RDW  
– Apusan darah: mikrositik, hipokrom, anisositosis,
poikilositosis, sel target, fragmented cell, normoblas +
• Analisis Hb (hanya untuk thalassemia beta)
– HbF , HbA2 n/, Hb abnormal (HbE, HbO, dll)
Tata laksana thalassemia
• Transfusi darah rutin
• Medikamentosa
– Asam folat
– Kelasi besi
– Vitamin E
– Vitamin C (dosis rendah, pada terapi denga n deferoxamin)
• Nutrisi: kurangi asupan besi
• Splenektomi
• Transplantasi (sumsum tulang, darah umbilikal)
• Fetal hemoglobin inducer
• Terapi gen
• Support psikososial
114. Algoritme Penanganan Kejang
ALGORITME PENANGANAN KEJANG AKUT & STATUS KONVULSIF 3
Diazepam 5-
Prehospital 10mg/rekt max 2x 0-10 mnt
jarak 5 menit

Hospital/ED Diazepam 0,25-0,5mg/kg/iv/io Monitor


Airway 10-20 mnt
(kec 2mg/mnt, max dosis 20mg) Tanda vital
Breathing, O2
Circulation atau EKG
Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus Gula darah
atau Elektrolit serum
NOTE : JIKA DIAZ RECTAL 1X PRE
HOSPITAL BOLEH RECTAL 1X Lorazepam 0,05-0,1mg/kg/iv (Na, K, Ca, Mg, Cl)
(rate <2mg/mnt) Analisa Gas Darah
KEJANG (-) Koreksi kelainan
5 – 7 mg/kg
12 jam kemudian Fenitoin Pulse oxymetri
20mg/kg/iv
20-30 mnt Kadar obat darah
ICU/ED Note : Aditional (20mnt /50ml NS)
5-10mg/kg/iv Max 1000mg

KEJANG (-) Phenobarbitone


4 – 5 mg/kg 30-60 mnt
20mg/kg/iv
12 jam kemudian
(rate >5-10min; max 1g)

ICU Refrakter

Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus Pentotal - Tiopental Propofol 3-5mg/kg/infusion


Dilanjut infus 0,02-0,4 mg/kg/jam 5 – 8 mg/kg/iv
116. Kejang demam
• Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38,4° C
tanpa adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit pada anak di atas
usia 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya (ILAE,
1993)
• Umumnya berusia 6 bulan – 5 tahun
• Kejang demam sederhana (simpleks)
– Berlangsung singkat, tonik klonik, umum, tidak berulang dalam 24 jam
• Kejang demam kompleks
– Lama kejang > 15 menit
– Kejang fokal atau parsial menjadi umum
– Berulang dalam 24 jam
• Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk usia < 12 bulan dan
dianjurkan untuk usia 12-18 bulan

Mangunatmadja I. Kejang demam: diagnosis dan tata laksananya.


117. Resusitasi Neonatus
Kattwinkel J, Perlman JM. Part 15: neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909 –S919
When to stop?
• In a newly-born baby with no detectable cardiac
activity, and with cardiac activity that remains
undetectable for 10 min, it is appropriate to consider
stopping resuscitation.
• The decision to continue resuscitation efforts beyond
10 min with no cardiac activity is often complex and
may be influenced by issues such as the presumed
aetiology of the arrest, the gestation of the baby, the
presence or absence of complications, and the parents’
previous expressed feelings about acceptable risk of
morbidity.

Resuscitation Council (UK). Resuscitation Guidelines: Newborn Life Support. 2010.


118. Eksantema akut

Hadinegoro SRS. Acute exanthema. PPT presentation.


Morbili/Rubeola/Campak
• Pre-eruptive Stage
– Demam
– Catarrhal Symptoms – coryza, conjunctivitis
– Respiratory Symptoms – cough
• Eruptive Stage/Stage of Skin Rashes
– Exanthem sign
• Maculopapular Rashes – Muncul 2-7
hari setelah onset
• Demam tinggi yang menetap
• Anoreksia dan iritabilitas
• Diare, pruritis, letargi dan
limfadenopati oksipital
• Stage of Convalescence
– Rash – menghilang sama dengan urutan
munculnya (muka lalu ke tubuh bag bawah)
→ membekas kecoklatan
– Demam akan perlahan menghilang saat
erupsi di tangan dan kaki memudar

• Tindakan Pencegahan :
– Imunisasi Campak pada usia 9 bulan
– Mencegah terjadinya komplikasi berat
119&120. Anemia Mikrositik Hipokrom
Anemia Defisiensi Fe (IDA)
Stage Iron Depletion Iron Deficiency Iron Deficiency
I II Anemia
III
Iron Store ↓ ↓↓ ↓↓↓
(Ferritin)
Serum Iron Normal ↓ ↓↓
Hb Normal Normal MCV, MCH MCHC ↓

• Penyebab:
– Peningkatan kebutuhan (pemakaian Fe , infeksi berulang)
– Perdarahan kronik
– Asupan diet kurang
– Malabsorpsi
– Kurangnya cadangan besi (prematur, gemelli, anemia pada ibu hamil)

Windiastuti E. Anemia in children.


Tatalaksana IDA
• Atasi penyakit yang mendasari
• Nutrisi yang cukup
• Besi elemental
– 3-6 mg/kg/hari dibagi 2 dosis, sebelum makan. Dilanjutkan hingga 2
bulan (8 minggu) setelah anemia terkoreksi dan penyakit etiologi
teratasi.
• Transfusi PRC dibutuhkan bila Hb <6 g/dl; atau Hb ≥6 g/dl dengan
penyerta (dehidrasi, persiapan operasi, infeksi berat, gagal jantung,
distress pernafasan)
• Pencegahan
– Primer
• Diet: makanan yang kaya besi dan vitamin C
• ASI eksklusif. Suplemen besi dimulai pada 4-6 bulan (non prematur) atau 2
bulan (prematur)
– Sekunder: skrining

Harper JL. Iron deficiency anemia. http://emedicine.medscape.com/article/202333-overview


121. Hipotiroid Kongenital
• Hipotiroid kongenital (kretinisme) ditandai produksi
hormon tiroid yang inadekuat pada neonatus
• Penyebab:
– Defek anatomis kelenjar tiroid atau jalur metabolisme hormon
tiroid
– Inborn error of metabolism
• Merupakan salah satu penyebab retardasi mental yang
dapat dicegah. Bila terdeteksi setelah usia 3 bulan, akan
terjadi penurunan IQ bermakna.
• Tata laksana tergantung penyebab. Sebaiknya diagnosis
etiologi ditegakkan sebelum usia 2 minggu dan normalisasi
hormon tiroid (levotiroksin)sebelum usia 3 minggu.

Postellon DC. Congenital hypothyroidism.


http://emedicine.medscape.com/article/919758-overview
• Most affected infants have few or no
symptoms, because their thyroid
hormone level is only slightly low.
However, infants with severe
hypothyroidism often have a unique
appearance, including:
– Dull look
– Puffy face
– Thick tongue that sticks out
• This appearance usually develops as
the disease gets worse. The child may
also have:
– Choking episodes
– Constipation
– Dry, brittle hair
– Jaundice
– Lack of muscle tone (floppy infant)
– Low hairline
– Poor feeding
– Short height (failure to thrive)
– Sleepiness
– Sluggishness

Neeonatal hypothyroidism. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002174/


Longo DL. Harrison’s principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
Diagnosa Lain Karakteristik
Defisiensi Growth Growth hormone deficiency may result from disruption of the
Hormone growth hormone axis in the higher brain, hypothalamus, or
pituitary.
Poor growth and/or shortness is the hallmark of childhood GH
deficiency, tends to be accompanied by delayed physical
maturation so that bone maturation and puberty may be several
years delayed. Tidak ada retardasi mental
Defisiensi Epinefrin Hypoglycemia, dehydration, weight loss, and disorientation.
dan cortisol Symptoms may also include weakness, tiredness,
(Adrenocortical dizziness, orthostatic hypotension, cardiovascular collapse,
Deficiency) muscle aches, nausea, vomiting, and diarrhea
Defisiensi Iodium Diffuse enlargement of the thyroid gland, signs and symptoms
of hypothyroidism (weight gain, cold intolerance, dry skin,
constipation, or depression, periorbital edema, and delayed
relaxation phase of the deep tendon reflexes), Reduction in IQ.
Tidak ada gangguan pertumbuhan.
122. Imunisasi dan HIV prenatal
• Immunizations play an important role in the prevention of childhood
diseases.
• It is recommended that children infected with HIV/AIDS follow an
accelerated immunization schedule.
• The bacille Calmette–Guérin vaccine is the most commonly used vaccine
in the world and is the only vaccine available for Mycobacterium
tuberculosis but should not be used in HIV-infected children.
• The World Health Organization recommends the use of the oral polio
vaccine in asymptomatic HIV-infected children in areas of the world where
the inactivated polio vaccine is not available.
• The measles and varicella vaccines are administered to HIV-infected
children who are not severely immunocompromised.
• The hepatitis B virus vaccine is recommended for HIV-infected children.
• The yellow fever vaccine is recommended at 9 months of age and every 10
years thereafter for asymptomatic HIV-infected children living in or
traveling to HIV-endemic areas of the world.
123. Bronchiolitis
• Infection (inflammation) at bronchioli
• Etiology: predominantly RSV (Respiratory Syncytial
Virus), adenovirus etc
• Clinical syndromes: fast breathing, retractions,
wheezing
• Predominantly < 2 years of age (2-6 months)
• Difficult to differentiate with pneumonia and asthma
• Clinical Symptoms
– Cough, cold, fever, fast breathing, irritable, vomitus, poor
intake
• Physical Examinations
– Tachypnea, tachycardia, retraction, prolonged expiration,
wheezing, pharyngitis, conjunctivitis, otitis media.
Bronchiolitis: Radiological Finding
PA view
• Diffuse hyperinflation (air
trapping) ;
• Flat diaphragm;
• Subcostal widened
• Retrosternal space
increased (on lateral
view),
• Peribronchial infiltrates
(interstitial pneumonia),
• Pleural effusion (rare)
Bronchiolitis: Management
Mild disease
• Symptomatic therapy
Moderate to Severe diseases
• Life Support Treatment : O2, IVFD
• Etiological Treatment
– Anti viral therapy (rare)
– Antibiotic (if etiology bacteria)
• Symptomatic Therapy
– Bronchodilator: controversial
– Corticosteroid: controversial (not effective)
124. Berat Bayi Lahir
• Neonatus Kurang Bulan (Pre-term infant) : Usia gestasi < 37
minggu
• Neonatus Lebih Bulan (Post-term infant) : Usia gestasi > 42
minggu
• Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : Usia gestasi 37 s/d 42
• Small for Gestational Age (SGA, Kecil Masa Kehamilan) : Berat
lahir dibawah 2SD / persentil 10th dari populasi usia gestasi yang
sama
• Large for Gestational Age (LGA, Besar Masa Kehamilan) : Berat
lahir diatas persentil 90 untuk populasi usia gestasi yang sama
• Appropriate for Gestational Age (Sesuai Masa Kehamilan) :
Diantaranya
The Fetus and the Neonatal Infant. Nelson Textbook of
Pediatrics 17th ed
Mathai SS. Management of respiratory distress in the newborn. MJAFI 2007; 63: 269-72.
125. Ikterus Neonatorum
• Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
• Ikterus fisiologis:
– Awitan terjadi setelah 24 jam
– Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
– Ikterus fisiologis berlebihan → ketika bilirubin serum puncak adalah 7-
15 mg/dl pada NCB
• Ikterus non fisiologis:
– Awitan terjadi sebelum usia 24 jam
– Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
– Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
– Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
– Tanda penyakit lain
• Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk.
Ditandai bilirubin direk > 2 mg/dl. Penyebab: kolestasis, atresia
bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.


20
18
16
14
12
fisiologis
10
non- fisiologis
8
6
4
2
0
hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7

• Ikterus yang berkembang cepat pada hari ke-1


– Kemungkinan besar: inkompatibilitas ABO, Rh, penyakit hemolitik,
atau sferositosis. Penyebab lebih jarang: infeksi kongenital,
defisiensi G6PD
• Ikterus yang berkembang cepat setelah usia 48 jam
– Kemungkinan besar: infeksi, defisiensi G6PD. Penyebab lebih
jarang: inkompatibilitas ABO, Rh, sferositosis.
Ikterus yang Berhubungan dengan ASI
Breast Feeding Jaundice (BFJ) Breast Milk Jaundice (BMJ)
• Disebabkan oleh kurangnya asupan • Berhubungan dengan pemberian ASI
ASI sehingga sirkulasi enterohepatik dari ibu tertentu dan bergantung
meningkat (pada hari ke-2 atau 3 saat pada kemampuan bayi
ASI belum banyak) mengkonjugasi bilirubin indirek

Indikator BFJ BMJ


Awitan Usia 2-5 hari Usia 5-10 hari
Lama 10 hari >30 hari
Volume ASI Kurang sering diberi ASI atau ASI Tidak tergantung dari volume ASI
masih sedikit
BAB Tertunda atau jarang Normal
Kadar Bilirubin Tertinggi 15 mg/dl Bisa mencapai >20 mg/dl
Pengobatan Tidak ada, Teruskan ASI disertai Fototerapi, Hentikan ASI jika kadar
monitor dan evaluasi pemberian ASI bilirubin > 16 mg/dl selama lebih dari 24
jam (untuk diagnostik)
126&127 Malnutrisi Energi Protein
• Malnutrisi: Ketidakseimbangan seluler antara asupan
dan kebutuhan energi dan nutrien tubuh untuk
tumbuh dan mempertahankan fungsinya (WHO)
• Dibagi menjadi 3:
– Overnutrition (overweight, obesitas)
– Undernutrition (gizi kurang, gizi buruk)
– Defisiensi nutrien spesifik
• Malnutrisi energi protein:
– Marasmus
– Kwashiorkor
– Marasmik-kwashiorkor
Sjarif DR. Nutrition management of well infant, children, and
adolescents.
Scheinfeld NS. Protein-energy malnutrition.
http://emedicine.medscape.com/article/1104623-overview
Marasmus

 Wajah seperti orang


tua
 Kulit mengendor,
keriput, lemak subkutan
menghilang
 tulang rusuk tampak
terlihat jelas, otot atrofi
 terlihat tulang belakang
lebih menonjol dan kulit
di pantat berkeriput
( baggy pant )
Kwashiorkor

 edema
 rambut kemerahan, mudah
dicabut
 kurang aktif, rewel/cengeng
 pengurusan otot
 Kelainan kulit berupa bercak
merah muda yg meluas &
berubah warna menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis)
 gangguan sistem gastrointestinal
 anemia
Marasmik-kwashiorkor
Cause difference
Marasmus Kwashiorkor
Marasmus is multi nutritional Kwashiorkor occurs due to the lack of
deficiency proteins in a person's diet
Marasmus usually affects very young Kwashiorkor affects slightly older
children children mainly children who are
weaned away from their mother's
milk
Marasmus is usually the result of a Kwashiorkor can occur rapidly
gradual process

• Kriteria diagnosis gizi buruk berat :


– BB/TB < -3 SD (Kurva Z-score WHO)
– BB/IBW (Ideal Body Weight) ≤70% (Kurva CDC)
– Lingkar Lengan Atas < 11,5 cm
10 Langkah Utama Penatalaksaan
Gizi Buruk
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi Tindak lanjut
H 1-2 H 3-7 H 8-14 mg 3-6 mg 7-26
1. Atasi/cegah
hipoglikemia

2. Atasi/cegah
hipotermia
3. Atasi/cegah
dehidrasi
4. Perbaiki gang-
guan elektrolit
5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. tanpa Fe + Fe
Nutrien mikro
7. Makanan stab & trans
8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi
10. Siapkan tindak
lanjut
Pemberian Makanan
• Fase stabilisasi (Inisiasi)
– Energi: 80-100 kal/kg/hari
– Protein: 1-1,5 gram/kg/hari
– Cairan: 130 ml/kg/hari atau 100 ml/kg/hari (edema)
• Fase transisi
– Energi: 100-150 kal/kg/hari
– Protein: 2-3 gram/kg/hari
• Fase rehabilitasi
– Energi: 150-220 kal/kg/hari
– Protein: 3-4 gram/kg/hari
Ketentuan Pemberian Makan Awal
• Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah
osmolaritas serta rendah laktosa
• Berikal secara oral atau melalui NGT, hindari pemberian
parenteral
• Formula awal F-75 diberikan sesuai standar WHO dan
sesuai jadwal makan yang dibuat untuk mencukupi
kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi
• Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan
bahwa jumlah F-75 yang dibutuhkan harus dipenuhi
• Apabila pemberian makan oral tidak mencapai kebutuhan
minimal, berikan sisanya melalui NGT
• Pada fase transisi, secara bertahap ganti F-75 dengan F-
100
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
128. Birth Trauma (Head)
• Injuries to the infant that result from mechanical forces (ie, compression,
traction) during the birth process are categorized as birth trauma
• Most birth traumas are self-limiting and have a favorable outcome
• Cephalhematoma
– A subperiosteal collection of blood secondary to rupture of
blood vessels between the skull and the periosteum, hence
always limited to the surface of one cranial bone
– No discoloration of the overlying scalp occurs
– Most commonly parietal, occasionally be observed over the
occipital bone
– Cranial meningocele may be differentiated from
cephalohematoma by pulsation, increased pressure on crying,
and roentgenographic evidence of a bony defect
– Resolution occurs over weeks, occasionally with residual
calcification
– Management solely consists of observation
– Transfusion for anemia, hypovolemia, or both is necessary if
blood accumulation is significant. Aspiration is not required for
resolution and is likely to increase the risk of infection
Nirupama Laroia. http://emedicine.medscape.com/article/980112-overview#aw2aab6b5
• Caput succedaneum
– Serosanguineous, subcutaneous, extraperiosteal fluid collection with
poorly defined margins
– Caused by the pressure of the presenting part against the dilating cervix
– Extends across the midline and over suture lines and is associated with
head molding
– Does not usually cause complications and usually resolves over the first
few days. Management consists of observation only
• Subgaleal hematoma
– Bleeding in the potential space between the skull periosteum and the
scalp galea aponeurosis. Result from a vacuum applied to the head at
delivery
– Fluctuant, boggy mass developing over the scalp (especially over the
occiput). The swelling may obscure the fontanelle and cross suture lines
– Patients with subgaleal hematoma may present with hemorrhagic shock.
Transfusion and phototherapy may be necessary

Nirupama Laroia. http://emedicine.medscape.com/article/980112-overview#aw2aab6b5


129. Croup
• Croup (laringotrakeobronkitis
viral) adalah infeksi virus di
saluran nafas atas yang
menyebabkan penyumbatan
• Merupakan penyebab stridor
tersering pada anak
• Gejala: batuk menggonggong
(barking cough), stridor,
demam, suara serak, nafas
cepat disertai tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam
Steeple sign
Pemeriksaan
• Croup is primarily a clinical diagnosis
• Laboratory test results rarely contribute to confirming this
diagnosis. The complete blood cell (CBC) count may suggest a viral
cause with lymphocytosis
• Radiography : verify a presumptive diagnosis or exclude other
disorders causing stridor.
– The anteroposterior (AP) radiograph of the soft tissues of the neck
classically reveals a steeple sign (also known as a pencil-point sign),
which signifies subglottic narrowing
– Lateral neck view may reveal a distended hypopharynx (ballooning)
during inspiration
• Laryngoscopy is indicated only in unusual circumstances (eg, the
course of illness is not typical, the child has symptoms that suggest
an underlying anatomic or congenital disorder)
Klasifikasi dan Penatalaksanaan
Ringan Berat
• Gejala: • Gejala:
– Demam – Stridor saat istirahat
– Takipnea
– Suara serak
– Retraksi dinding dada bagian
– Batuk menggonggong bawah
– Stridor bila anak gelisah • Terapi:
• Terapi: – Steroid (dexamethasone) dosis
tunggal (0,6 mg/kg IM/PO)
– Rawat jalan dapat diulang dalam 6-24 jam
– Pemberian cairan oral, – Epinefrin 1:1000 2 mL dalam 2-
ASI/makanan yang sesuai 3 mL NS, nebulisasi selama 20
– Simtomatik menit

WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. WHO; 2008.
Diagnosa Banding pada Anak dengan Stridor

Diagnosa Gejala
Laringotrakeo Batuk menggonggong (barking cough), stridor, demam,
Bronkitis (Croup) suara serak, nafas cepat disertai tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam
Epiglottitis Fever, difficulty in swallowing, drooling, hoarseness of
voice, and typically stridor. Appears acutely ill, anxious,
and has very quiet shallow breathing
Abses Demam, Sulit menelan, Pembengkakan jaringan lunak
Retrofaringeal
Benda Asing Riwayat tiba-tiba tersedak, distress pernapasan
Difteri Imunisasi DPT tidak lengkap, Sekret hidung bercampur
darah, Bull neck, Membran putih-keabuan di
faring/tonsil
130. Tuberkulosis pada anak
• Pada umumnya anak yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala yang khas
over/underdiagnosed
• Batuk BUKAN merupakan gejala utama TB pada
anak
• Pertimbangkan tuberkulosis pada anak jika :
– BB berkurang dalam 2 bulan berturut-turut tanpa
sebab yang jelas atau gagal tumbuh
– Demam sampai 2 minggu tanpa sebab yang jelas
– Batuk kronik 3 ≥ minggu
– Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa
Sistem Skoring
• Cut-of f point: ≥
6
• Adanya
skrofuloderma
langsung
didiagnosis TB
• Rontgen bukan
alat diagnosis
utama
• Reaksi cepat
BCG harus
dilakukan
skoring
Terapi
• Anak dengan TB paru atau limfadenitis TB
dapat diberikan regimen 2RHZ/4RH
– Kecuali pada anak yang tinggal di daerah dengan
prevalensi HIV yang tinggi atau resistensi isoniazid
yang tinggi, atau anak dengan TB paru yang
ekstensif → diberikan 2RHZE/4RH

WHO. Rapid advice treatment of tuberculosis in children.


http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241500449_eng.pdf
Uji Tuberkulin
• Menentukan adanya respon imunitas selular terhadap TB.
Reaksi berupa indurasi (vasodilatasi lokal, edema, endapan
fibrin, dan akumulasi sel-sel inflamasi)
• Tuberkulin yang tersedia : PPD (purified protein derived) RT-
23 2TU, PPD S 5TU, PPD Biofarma
• Cara : Suntikkan 0,1 ml PPD intrakutan di bagian volar
lengan bawah. Pembacaan 48-72 jam setelah penyuntikan
• Pengukuran (pembacaan hasil)
– Dilakukan terhadap indurasi yang timbul, bukan eritemanya
– Indurasi dipalpasi, tandai tepi dengan pulpen. Catat diameter
transversal.
– Hasil dinyatakan dalam milimeter. Jika tidak timbul = 0 mm
Interpretasi

• Hasil Positif
– Infeksi TB alamiah
– Imunisasi BCG
– Infeksi
mikobaterium atipik
• Hasil Negatif
– Tidak ada infeksi TB
– Dalam masa
inkubasi infeksi TB
– Anergi
131. Necrotizing Enterocolitis
• Necrotizing enterocolitis (NEC) is the most common gastrointestinal (GI) medical/surgical
emergency occurring in neonates. The condition is characterized by variable damage to the
intestinal tract ranging from mucosal injury to full-thickness necrosis and perforation
• More common in premature infants or low birth weight babies, especially after enteral feeds
are started
• Necrotizing enterocolitis affects the GI tract and, in severe cases, can cause profound
impairment of multiple organ systems. Initial symptoms may be subtle and can include 1 or
more of the following (See Clinical.):
– Feeding intolerance, delayed gastric emptying, abdominal distention, abdominal
tenderness, or both, Ileus/decreased bowel sounds, abdominal wall erythema
(advanced stages), hematochezia, bile-stained vomit
– Systemic signs are nonspecific and can include any combination of the following: Apnea,
lethargy, decreased peripheral perfusion, shock (in advanced stages), fever or
hypothermia
• NEC mortality ranges from reported 9 to 28% and is due to refractory shock, disseminated
intra-vascular coagulation, multiple organ failure, intestinal perforation, sepsis, extensive
bowel necrosis and complication of short bowel syndrome

Necrotizing Enterocolitis. http://emedicine.medscape.com/article/977956


132. Pemeriksaan darah tepi
• White cell count
– Peningkatan → sugestif infeksi
– Meningkat pada penggunaan steroid
– Penurunan (dibawah 3,5) → efek obat atau autoimun
• Neutrofil
– Spesifik sel darah putih
– N: 2-7,5 x 109/L (absolut)
– Meningkat pada infeksi, steroid, inflamasi
– Menurun: efek obat, SLE flare, infeksi virus, infeksi bakteri berat
• Eosinofil
– Spesifik sel darah putih
– N: <0.4 (absolut)
– Meningkat: alergi, infeksi cacing
• Platelet
– Meningkat: inflamasi
– Menurun: efek obat, SLE aktif, infeksi virus
Kadar Normal Pemeriksaan Darah Tepi
Parameter Kadar normal Satuan
Hb 6 bln - 2 thn: 10,5-13,5 g/dL
2-6 thn: 11-14,7
6-12 thn: 11,5-15,5
12-18 thn: 13-16 (L); 12-16 (P)
Ht 3 thn: 33-42 %
Leukosit 1-3 thn: 6.000-17.500 /μL
4-7 thn: 5.500-15.500
8-13 thn: 4.500-13.500
Dewasa: 4.500-11.000
Trombosit 150.000-400.000 /μL
MCV 3 thn: 70-86 fL
MCH 3 thn: 23-31 pg/sel
MCHC 3 thn: 30-36 %Hb/sel
133. Steatohepatitis
• suatu sindrom klinis dan patologis akibat perlemakan hati, ditandai
oleh berbagai tingkat perlemakan, peradangan dan fibrosis pada
hati.
• Perlemakan hati (Fatty liver atau steatosis) → lemak di hati
(sebagian besar terdiri dari trigliserida) melebihi 5% dari seluruh
berat hati  disebabkan kegagalan metabolisme lemak hati
• Mekasnisme:
– Peningkatan lemak dan asam lemak dari makanan yang dibawa ke
hati.
– Peningkatan sintesis asam lemak oleh mitokondrial atau menurunnya
oksidasi yang meningkatkan produksi trigliserida
– Kelainan transport trigliserid keluar dari hati
– Peningkatan konsumsi karbohidrat yang selanjutnya dibawa ke hati
dan dikonversi menjadi asam lemak
• Faktor risiko : obesitas, diabetes melitus, hipertrigliserida, obat-
obatan (amiodaron, tamoksifen, steroid, estrogen sintetik), dan
toksin (pestisida)
Hipotesis patofisiologi steatohepatitis
• First Hit : terjadi akibat penumpukan lemak di hepatosit akibat
peningkatan lemak bebas pada dislipidemia, obesitas, diabetes
mellitus. Bertambahnya asam lemak bebas di dalam hati akan
menimbulkan peningkatan oksidasi dan esterifikasi lemak pada
mitokondria sel hati sehingga pada akhirnya akan meningkatkan
kerusakan mitokondria itu sendiri1,2
• Second Hit : peningkatan stres oksidatif dapat terjadi karena
resistensi insulin, peningkatan endotoksin di hati, peningkatan
aktivitas un-coupling protein mitokondria, peningkatan aktivitas
sitokrom P 450, peningkatan cadangan besi, dan menurunnya
aktivitas anti oksidan. Ketika stres oksidatif yang terjadi melebihi
kemampuan perlawanan anti oksidan, maka aktifasi sel stelata dan
sitokin pro inflamasi akan berlanjut dengan inflamasi progresif,
pembengkakan hepatosit dan kematian sel, pembentukan badan
Mallory, serta fibrosis.
134. Imunisasi
135. Asma
• Batuk dan atau mengi berulang dengan karakteristik episodik,
nokturnal (variabilitas), reversibel (dapat sembuh sendiri
dengan atau tanpa pengobatan) ditambah atopi
• Gejala utama pada anak: batuk dan/atau wheezing

Supriyatno B. Diagnosis dan tata laksana asma anak.


Derajat
Serangan
Asma
Derajat Serangan Asma dan Respon Pengobatan
Derajat Penyakit Asma
Parameter klinis,
kebutuhan obat, Asma episodik jarang Asma episodik sering Asma persisten
dan faal paru
Frekuensi serangan < 1x /bulan > 1x /bulan Sering
Hampir sepanjang tahun
Lama serangan < 1 minggu 1 minggu tidak ada remisi

Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan malam
Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu
Pemeriksaan fisis
Normal Mungkin terganggu Tidak pernah normal
di luar serangan
Obat pengendali Tidak perlu Perlu, steroid Perlu, steroid
Uji Faal paru PEF/FEV1 <60%
PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan) Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
>15% < 30% < 50%
(bila ada serangan)
136. Diabetes Melitus Tipe 1
(Insulin-dependent diabetes mellitus)
• Merupakan kelainan sistemik akibat gangguan metabolisme
glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik.
• Etiologi: Suatu proses autoimun yang merusak sel β
pankreas sehingga produksi insulin berkurang, bahkan
terhenti. Dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan.
• Insidensi tertinggi pada usia 5-6 tahun dan 11 tahun
• Komplikasi : Hipoglikemia, Ketoasidosis diabetes,
retinopathy , nephropathy and hypertension, peripheral
and autonomic neuropathy, macrovascular disease
• Manifestasi Klinik:
– Poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
– Pada keadaan akut yang berat: muntah, nyeri perut, napas cepat
dan dalam, dehidrasi, gangguan kesadaran
Diabetes Melitus Tipe 1
• Kriteria Diagnostik
– Klinis: Poliuria, Polidipsi, Polifagi, Penurunan BB
– Laboratorium:
• A fasting plasma glucose (FPG) level ≥126 mg/dL (7.0 mmol/L), or
• A 2-hour plasma glucose level ≥200 mg/dL (11.1 mmol/L) during a 75-g oral glucose
tolerance test (OGTT), or
• A random plasma glucose ≥200 mg/dL (11.1 mmol/L) in a patient with classic
symptoms of hyperglycemia or hyperglycemic crisis
• Asimptomatik : Hasil positif pada lebih dari 2 kali pemeriksaan
• Pemeriksaan penunjang: Gula darah, urin reduksi, keton urin, HbA1C, C-
peptide
• Tatalaksana :
– Diet DM
– Kontrol Metabolik dengan Insulin
– Edukasi pertolongan pertama pada kedaruratan seperti hipoglikemia
dan ketoasidosis
137. Sindrom Nefrotik
• Spektrum gejala yang ditandai dengan protein loss
yang masif dari ginjal
• Gejala klasik: proteinuria, edema, hiperlipidemia,
hipoalbuminemia
• Gejala lain : hipertensi, hematuria, dan penurunan
fungsi ginjal
• Primer vs sekunder
• Terapi: kortikosteroid (prednison, prednisolon)
Lane JC. Pediatric nephrotic syndrome.
http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview
Diagnosis
• Anamnesis : Bengkak di kedua kelopak mata,
perut, tungkai atau seluruh tubuh. Penurunan
jumlah urin. Urin dapat keruh/kemerahan
• Pemeriksaan Fisik : Edema palpebra, tungkai,
ascites, edema skrotum/labia. Terkadang
ditemukan hipertensi
• Pemeriksaan Penunjang : Proteinuria masif ≥ 2+,
rasio albumin kreatinin urin > 2, dapat disertai
hematuria. Hipoalbumin (<2.5g/dl),
hiperkolesterolemia (>200 mg/dl). Penurunan
fungsi ginjal dapat ditemukan.
138. Respiratory
Distress and Score
later after
a period of
Respiratory normal
Distress function

at birth Possible causes

• Acquired/Nosocomial
Pneumonia
Term Baby Preterm Baby • Dev anomalies
• CHD
• TTN • RDS • IEM
• MAS • Congenital • Metabolic (Met
• Congenital Pneumonia acidosis/ electrolytes)
Pneumonia • TTN
• Dev Anomalies
Silverman Anderson Score for
Premature Baby
Score Upper Chest Lower Chest Xiphoid Nasal Flaring Grunting
Retraction Retraction Retraction
0 Synchronous None None None None
1 Lag on Just visible Just visible Minimal Stethoscope
Inspiration
2 See-Saw Mark Mark Mark Naked ear

Score > 6 = impending Respiratory Failure

Downe’s Score for Term Baby


Score Respiratory Cyanosis Air entry Retraction Grunting
Rate
0 <60 None Good None None
1 60-80 In air Decrease Minimal Stethoscope
2 >80/ apnoea In 40% O2 Barely Moderate/ Naked ear
audible severe
ILMU OBSTETRI & GINEKOLOGI
139. Taksiran Kehamilan
• Rumus Naegele (Taksiran Persalinan) : dari
tanggal HPHT
Tanggal (+7) Bulan (-3) Tahun (+1)
• Untuk siklus 28 hari, menunjukkan kehamilan 40
minggu
• Pada soal : TP= 7(+7) 5(-3) Tahun(+1)
= 14 Februari tahun berikutnya
140. Kontrasepsi
Kontrasepsi Mantap

• Yang dapat menjalani :


 Usia > 26 thn
 Paritas > 2
 Yakin telah mempunyai besar keluarga sesuai dengan kehendaknya
 Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius
(ibu dengan hipertensi, stroke, DM, Peny.jantung sistemik,ca payudara,
ca endometrium, ca ovarium,IMS, HIV/AIDS,Sirosis hati,hepatoma,
peny.trofoblas ganas,peny.sickle cell)
 Pascapersalinan
 Pascakeguguran
 Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi,2010


http://id.wikipedia.org
141. Ginekologi
Definisi Tanda dan Gejala
Ca Cervix Keganasan pada leher Post coital bleeding, perdarahan pasca menopause, cairan
rahim abnormal yang berbau, keputihan abnormal. Tampak massa
pada cervix, berbenjol-benjol, mudah berdarah

Cervicitis Inflamasi cervix (leher Cairan abnormal dari vagina, dispareunia,nyeri saat BAK,post-
gonorrhea rahim), disebabkan oleh coital bleeding. Pada pemeriksaan tampak cerviks kemerahan
infeksi menular seksual dengan tanda-tanda radang, discharge purulen/mukopurulen,
(N.gonorrhea) daerah portio endocervical mudah berdarah

Trikomoniasis penyakit menular Dispareunia, post-coital bleeding, perdarahan intermenstrual.


seksual yang disebabkan Dinding vagina tampak kemerahan dan bengkak, kadang
oleh protozoa parasit terbentuk abses kecil (“strawberry appearance”), sekret vagina
Trichomonas vaginalis seropurulen, berbau, dan berbusa, dapat ada lecet pada
selangkangan
Bakterial penyakit pada vagina Gejala utama : keputihan homogen yang abnormal (terutama
vaginosis yang disebabkan oleh pasca sanggama) dengan bau tidak sedap, Cairan keputihan
bakteri berada di dinding vagina dan tidak disertai iritasi, nyeri atau
eritema.
Endometriosis suatu penyakit dimana Nyeri di perut bagian bawah dan di daerah panggul, Menstruasi
jaringan endometrium yang tidak teratur, Kemandulan, Dispareunia, Pada pemeriksaan
tumbuh di luar rahim panggul akan teraba adanya benjolan lunak yang seringkali
ditemukan di dinding belakang vagina atau di daerah ovarium
142-143. Abortus
Definisi :
• Perdarahan dari uterus yang disertai dengan
keluarnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi pada
usia kehamilan < 20-24 minggu dan atau Berat <
500gr
Patofisiologi :
• Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua
basalis + nekrosis jaringan sekitarnya → hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya (benda
asing dalam uterus) → uterus berkontraksi untuk
mengeluarkannya.
DIAGNOSIS PERDARAHAN SERVIKS BESAR UTERUS GEJALA LAIN
Abortus Sedikit-sedang Tertutup Sesuai usia kehamilan • Plano test (+)
iminens Lunak · Kram ringan
· Uterus lunak

Abortus Sedang-banyak Terbuka Sesuai atau • Kram sedang/kuat


insipiens Lunak lebih kecil · Uterus lunak

Abortus Sedikit-banyak Terbuka  usia kehamilan •Kram kuat


inkomplit Lunak . Keluar jaringan
•Uterus lunak

Abortus Sedikit-tidak ada Tertutup/ter  usia kehamilan • Sedikit/tanpa kram


komplit buka • Keluar jaringan
Lunak · massa kehamilan
(+/-)
· Uterus agak kenyal

Abortus Septic Perdarahan berbau Lunak Membesar, nyeri tekan - Demam


- Leukosistosis
Abortus Inkomplit
• Klinis :
• Anamnesis : perdarahan dari jalan lahir, biasanya banyak,
nyeri/kontraksi rahim ada.
• Pemeriksaan dalam:
 Ostium uteri terbuka
 Teraba sisa jaringan
• Terapi :
 Atasi syok dulu bila ada
 Transfusi bila Hb < 8gr/dl
 Evakuasi sisa konsepsi : dapat dengan dilatasi dan kuretase atau
aspirasi vakum manual
 Uterotonika
 Beri antibiotika spektrum luas selama 3 hari

PONEK, 2008
Abortus Iminens
• Klinis:
• Anamnesis : perdarahan sedikit dari jalan lahir, nyeri perut tidak ada atau ringan
• Pemeriksaan dalam :
 Fluksus sedikit
 Ostium uteri tertutup
• Pemeriksaan Penunjang :
• USG dapat memberikan hasil sbb :
 Buah kehamilan masih utuh, ditemukan tanda kehidupan janin
 Meragukan : kantong kehamilan masih utuh, pulsasi jantung janin belum jelas
 Buah kehamilan tidak baik: janin mati
• Terapi :
• Bila kehamilan masih utuh :
 Rawat jalan
 Pada beberapa keadaan, tidak diperlukan tirah baring total
 Anjurkan tidak melakukan aktivitas berlebihan atau hubungan seksual
 Bila perdarahan berhenti dilanjutkan jadwal pemeriksaan kehamilan selanjutnya
 Bila perdarahan terus berlangsung, nilai ulang kondisi janin (USG) 1 minggu kemudian
• Bila hasil USG meragukan : ulangi USG 1-2 minggu kemudian
• Bila hasil USG tidak baik : evakuasi tergantung umur kehamilan

PONEK 2008
144. Perdarahan Abnormal

Panduan Tata Laksana PUD, Hiferi Pogi, 2007


Tanda Pasti Kehamilan
1. Bunyi jantung anak
2. Melihat/meraba gerak anak
3. Melihat rangka janin dengan Ro atau ultrasound
 Tanda pasti biasanya baru timbul setelah 4 bulan
 Kantong kehamilan dengan USG dapat terlihat pada 10
minggu
 DJJ dapat terdengar dengan USG pada 12 minggu
 DJJ dapat terdengar dengan doppler mulai 10 minggu, dan
umumnya 12 minggu
PERDARAHAN DI AWAL KEHAMILAN

Abortus Perdarahan dari uterus yang disertai dengan keluarnya sebagian atau
seluruh hasil konsepsi pada usia kehamilan < 20-24 minggu dan atau Berat
< 500gr.
Dapat disertai dengan mules, dapat/tidak disertai dengan pembukaan
serviks, dapat/tidak disertai dengan keluarnya jaringan

Mola Kelainan dalam proses fertilisasi,”hamil anggur”, Gejala: amenorrhea,


Hidatidosa perdarahan banyak, hyperemesis, tinggi fundus lebih besar dari usia
kehamilan, keluar jaringan berbentuk gelembung (seperti telur ikan)

KET Kehamilan di luar rahim, Gejala :amenorrhea, perdarahan (dapat juga


tidak), nyeri perut, biasanya disertai syok, nyeri goyang portio, darah pada
kavum douglas
Routine Iron Supplementation During Pregnancy
145. IRON SUPPLEMENTATION DURING PREGNANCY

Adapted by John W. Feightner, MD, MSc, FCFP from a Review prepared for the
U.S. Preventive Services Task Force
146. PERDARAHAN POST PARTUM
• Definisi Lama
– Kehilangan darah > 500 mL setelah persalinan pervaginam
– Kehilangan darah > 1000 mL setelah persalinan sesar (SC)
• Definisi Fungsional :
– Setiap kehilangan darah yang memiliki potensi untuk
menyebabkan gangguan hemodinamik (dengan gejala
lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea,
sistolik <90mmHg, nadi > 100x/mnt, Hb < 8gr/dl)
• Terbagi atas :
 Perdarahan setelah bayi lahir : perdarahan segera (early onset)
 Perdarahan setelah 24 jam persalinan : perdarahan lanjut (late onset)
• Insidens : 5% dari semua persalinan
Diagnosis Perdarahan Pascapersalinan
Gejala dan tanda Gejala dan tanda yang Diagnosis
yang selalu ada lain kemungkinan

•Uterus tidak berkontraksi dan lembek •Syok Atonia uteri


•Tidak ada penonjolan uterus supra simfisis
•Perdarahan setelah anak lahir (perdarahan
pascapersalinan dini)
•Perdarahan segera setelah bayi lahir •Pucat Robekan jalan
•Darah segar •Lemah lahir/Laserasi jalan
• Uterus kontraksi baik •Menggigil lahir
•Plasenta lengkap •Presyok
•Teraba diskontinuitas portio atau dinding vagina
•Kelelahan dan dehidrasi •Hilang gerak dan DJJ Ruptur Uteri
•Konstriksi bandl •Syok/takikardi
•Nyeri perut bawah hebat •Bagian janin mudah teraba
•Gejala tidak khas pada bekas SC •Bentuk uterus abnormal
•Sub-involusi uterus •Anemia Sisa fragmen
•Nyeri tekan perut bawah •Demam (bila terinfeksi) plasenta
•Perdarahan post partum lanjut
• Perdarahan merah segar •Perdarahan gusi Gangguan
• Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya •Memar di bawah kulit pembekuan darah
bekuan darah setelah 7 menit •Perdarahan di tempat infus/suntikan
• Rendahnya faktor pembekuan darah
147. Hipertensi Dalam Kehamilan
• Hipertensi Gestasional :
Didapatkan desakan darah ≥ 140/90 mmHg untuk pertama kalinya pada
kehamilan, tidak disertai dengan proteinuria dan desakan darah kembali
normal < 12 minggu pasca persalinan.
• Preeklamsi :
Kriteria minimum: Desakan darah ≥ 140/ 90 mmHg setelah umur kehamilan 20
minggu, disertei dengan proteinuria ≥ 300 mg/24 jam atau dipstick ≥ 1+
• Eklamsi :
Kejang-kejang pada preeklamsi disertai koma
• Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsi :
Timbulnya proteinuria ≥ 300 mg/ 24 jam pada wanita hamil yang sudah
mengalami hipertensi sebelumnya. Proteinuria hanya timbul setelah
kehamilan 20 minggu.
• Hipertensi kronik :
Ditemukannya desakan darah ≥ 140/ 90 mmHg, sebelum kehamilan atau sebelum
kehamilan 20 minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca
persalinan.

Pedoman Hipertensi POGI


Preeclampsia vs. Severe Preeclampsia
Severe Preclampsia
 BP > 160 systolic or >110 diastolic
Preeclampsia :  > 5 gr of protein in 24 hour urine or
> 3+ on 2 dipstick urines greater
• Previously normotensive than 4 hours apart
woman  Oliguria < 500 mL in 24 hours
• > 140 mmHg systolic  Cerebral or visual disturbances
• > 90 mmHg diastolic (headache, scotomata)
• Proteinuria > 300 mg in 24  Pulmonary edema or cyanosis
hour collection or > +1 on  Epigastric or RUQ pain
dipstick  Evidence of hepatic dysfunction
• Nondependent edema  Thrombocytopenia
 Intrauterine growth restriciton
(IUGR)
 HELLP Syndrome
◦A distinct clinical entity with:
Hemolysis, Elevated Liver
enzymes, Low Platelets
◦Occurs in 4 to 12 % of patients
Wiliiams Obstetrics 22nd ed.; konsensus POGI with severe preeclampsia
Obstetri Fisiologi FK Unpad

148. PERSALINAN
Periode kehamilan adalah:
 Aterm: janin dikatakan cukup bulan apabila usia kehamilannya mencapai 38-42 minggu
 Prematur/preterm: janin dengan usia kehamilan kurang dari 38 minggu
 Postmatur/postterm: janin dengan usia kehamilan lebih dari 42 minggu
 Perinatal: periode dimulai pada usia kehamilan 22 minggu dengan berat janin 500 gram hingga 7 hari
setelah bayi dilahirkan
 Masa nifas: periode segera setelah kelahiran bayi hingga 40 hari (6 minggu) dimana tubuh ibu kembali ke
kondisi sebelum hamil
• Tanda-tanda persalinan (inpartu) :
 Timbulnya his persalinan, yaitu his pembukaan dengan sifat :
 Nyeri melingkar dari punggung hingga ke perut depan
 Teratur
 Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya
 Kalau berjalan bertambah kuat
 Mempunyai pengaruh pada pendataran atau pembukaan serviks
 Keluar lendir bercampur darah
 Keluar cairan banyak tiba-tiba dari jalan lahir (bila ketuban pecah)
• Dibagi dalam 4 kala :
 Kala I : mulai dari his persalinan sampai pembukaan cervix lengkap, terdiri dari 2 fase:
 Fase laten : pembukaan < 4 cm
 Fase aktif : pembukaan 4-10 cm
 Kala II : dari pembukaan lengkap sampai lahir bayi
 Kala III : dari lahir bayi sampai lahir plasenta
 Kala IV : masa 1 jam setelah plasenta lahir
William’s Obstetry, 22nd ed.
PERSALINAN ABNORMAL

Fase Kala I (Pembukaan Cervix)


FASE-FASE KALA I
• Lamanya tergantung paritas ibu : primigravida ± 12 jam,
multigravida ± 8 jam
1. Fase Laten
- Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan
dan pembukaan serviks.
- Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
- Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
2. Fase Aktif
- Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap
(kontraksi dianggap adekuat, memadai jika terjadi tiga kali atau lebih
dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
- Dari pembukaan 4 cm hingga mencaspai pembukaan lengkap atau 10 cm,
akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau
primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara)
149. SEXUALLY TRANSMITED INFECTIONS
Canadian Guidelines on Sexually Transmitted Infections -
Updated January 2010
150. KALA II MEMANJANG
• Persalinan kala II memanjang (prolonged expulsive phase) atau disebut juga
partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak
menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan
putaran paksi selama 2 jam terakhir.
• Faktor – faktor penyebabnya adalah :
 Kelainan letak janin
 Kelainan – kelainan panggul
 Kelainan his dan mengejan
 Pimpinan partus yang salah
 Janin besar atau ada kelainan kongenital
 Primitua
 Perut gantung atau grandemulti
 Ketuban pecah dini
• Gejala Klinik
a. Pada ibu :Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat,
pernafasan cepat. Di daerah lokal sering dijumpai : Ring Bandl, edema vulva,
edema serviks, cairan ketuban berbau dan terdapat mekonium.
b. Pada janin: Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif, Air
ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan dan berbau, Caput
Succedeneum yang besar, Moulage kepala yang hebat, IUFD (Intra Uterin Fetal
Death)
• Penatalaksanaan : dapat dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi
forceps, sectio caesaria, dan lain-lain.
• Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bimbing ibu
untuk meneran secara efektif dan benar. Catatkan dalam partograf.
• Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan
lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap puncak kontraksi.
• Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran
bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala
bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul (CPD).
• Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah
oksigen ke plasenta. Dianjurkan mengedan secara spontan (mengedan dan
menahan nafas terlalu lama, tidak dianjurkan)
• a. Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan infus
oksitosin
• b. Jika tidak ada kemajuan penurunan kepala :
 Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di stasion (O),
lakukan ekstraksi vakum atau cunam/forsep
 Jika kepala diantara 1/5-3/5 di atas simfisis pubis, atau bagian tulang kepala di antara stasion
(O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum
 Jika kepala lebih dari 3/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di atas stasion (-2)
lakukan seksio caesarea.
PERSALINAN dengan ALAT BANTU
• Ekstraksi cunam/forceps adalah suatu tindakan bantuan persalinan di
mana janin dilahirkan dengan suatu tarikan cunam / forceps yang dipasang
pada kepalanya
• Forceps / cunam adalah alat bantu persalinan, terbuat dari logam, terdiri
dari sepasang (2 buah) sendok yaitu sendok cunam kiri dan sendok cunam
kanan.
Indikasi :
• Prinsip : keadaan yang memerlukan pertolongan persalinan kala dua yang
dipercepat, karena jika terlambat dapat membahayakan keadaan ibu dan /
atau janin.
Indikasi ibu : preeklampsia / eklampsia, ruptura uteri membakat, penyakit
jantung, asma, dan lain-lain.
Indikasi janin : gawat janin.
Ekstraksi Forseps
Kontraindikasi :
1. Bayi prematur (karena kompresi pada tulang kepala yang belum
matang / belum memiliki kemampuan moulage yang baik dapat
menyebabkan terjadi perdarahan periventrikular.
2. Disproporsi sefalopelvik.
Syarat :
1. Janin aterm.
2. Janin harus dapat lahir pervaginam (tidak ada disproporsi)
3. Pembukaan serviks sudah lengkap.
4. Kepala janin sudah engaged.
5. Selaput ketuban sudah pecah, atau jika belum, dipecahkan.
• Bila Ekstraksi Vakum  harus ada HIS dan tenaga mengejan ibu
151. Ginekologi
Kista Bartholin Kista pada kelenjar bartholin yang terletak di kiri-kanan bawah
vagina,di belakang labium mayor. Terjadi karena sumbatan muara
kelenjar e.c trauma atau infeksi
Kista Nabothi (ovula) Terbentuk karena proses metaplasia skuamosa, jaringan endoserviks
diganti dengan epitel berlapis gepeng. Ukuran bbrp mm, sedikit
menonjol dengan permukaan licin (tampak spt beras)
Polip Serviks Tumor dari endoserviks yang tumbuh berlebihan dan bertangkai,
ukuran bbrp mm, kemerahan, rapuh. Kadang tangkai panjang sampai
menonjol dari kanalis servikalis ke vagina dan bahkan sampai
introitus. Tangkai mengandung jar.fibrovaskuler, sedangkan polip
mengalami peradangan dengan metaplasia skuamosa atau ulserasi
dan perdarahan.
Karsinoma Serviks Tumor ganas dari jaringan serviks. Tampak massa yang berbenjol-
benjol, rapuh, mudah berdarah pada serviks. Pada tahap awal
menunjukkan suatu displasia atau lesi in-situ hingga invasif.
Mioma Geburt Mioma korpus uteri submukosa yang bertangkai, sering mengalami
nekrosis dan ulserasi.
152. Kontrasepsi
KONTRASEPSI PASCAPERSALINAN
• Pada klien yang tidak menyusui, masa infertilitas
rata-rata sekitar 6 minggu
• Pada klien yang menyusui, masa infertilitas lebih
lama, namun, kembalinya kesuburan tidak dapat
diperkirakan
• Metode yang langsung dapat digunakan adalah :
Spermisida
Kondom
Koitus Interuptus
Metode Kontrasepsi Pascapersalinan
Metode Waktu Pascapersalinan Ciri Khusus Catatan

MAL Mulai segera • Manfaat kesehatan bagi ibu • Harus benar-benar ASI eksklusif
dan bayi • Efektivitas berkurang jika sudah
mulai suplementasi

Kontrasepsi • Jangan sebelum 6-8mg • Akan mengurangi ASI • Merupakan pilihan terakhir bagi
Kombinasi pascapersalinan • Selama 6-8mg pascapersalinan klien yang menyusui
• Jika tidak menyusui mengganggu tumbuh • Dapat diberikan pada klien dgn
dapat dimulai 3mg kembang bayi riw.preeklamsia
pascapersalinan • Sesudah 3mg pascapersalinan
akan meningkatkan resiko
pembekuan darah

Kontrasepsi • Bila menyusui, jangan • Selama 6mg pertama • Perdarahan ireguler dapat
Progestin mulai sebelum 6mg pascapersalinan, progestin terjadi
pascapersalinan mempengaruhi tumbuh
• Bila tidak menyusui kembang bayi
dapat segera dimulai • Tidak ada pengaruh pada ASI
AKDR • Dapat dipasang • Tidak ada pengaruh terhadap • Insersi postplasental
langsung ASI memerlukan petugas terlatih
pascapersalinan • Efek samping lebih sedikit khusus
pada klien yang menyusui
Kondom/Sper • Dapat digunakan setiap Tidak pengaruh terhadap laktasi Sebaiknya dengan kondom dengan
misida saat pascapersalinan pelicin
Metode Kontrasepsi Pascapersalinan

Metode Waktu Pascapersalinan Ciri Khusus Catatan

Diafragma Tunggu sampai 6mg • Tidak ada pengaruh terhadap • Perlu pemeriksaan dalam oleh
pascapersalinan laktasi petugas

KB Alamiah • Tidak dianjurkan • Tidak ada pengaruh terhadap • Suhu basal tubuh kurang akurat
sampai siklus haid laktasi jika klien sering terbangun
kembali teratur malam untuk menyusui
153. ANALISIS SEMEN
• Fertilitas seorang pria ditentukan oleh jumlah dan
kualitas spermanya.
• Menurut WHO :
1. Normozoospermia
 Jumlah sperma > 20 juta/mL
2. Oligozoospermia
 Jumlah sperma < 20 juta/mL
3. Astenozoospermia
 Motilitas sperma a < 25 % ; a+b < 50%
Motilitas sperma :
 Kriteria a  bergerak cepat dan lurus ke
depan
 Kriteria b  bergerak lambat dan tidak lurus
 Kriteria c  bergerak ditempat
 Kriteria d  tidak bergerak
4. Teratozoospermia
 Morfologi sperma normal < 30%
5. OligoAstenoTeratozoospermia  Sindrom O A T
6. Azoospermia  0 sperma + plasma semen
7. Aspermia  0 sperma + 0 plasma semen
Motilitas Spermatozoa :

Kriteria d  tidak bergerak  Uji Viabilitas


 Pewarnaan supravital (Eosin Y) dengan prinsip
sperma hidup tidak dapat menyerap zat warna dan
sebaliknya dengan sperma mati (membran sel
berdisintegrasi)
 Dilihat dibawah mikroskop :
 Sperma hidup  kepala bening
 Sperma mati  kepala ungu
 Dari 100 sperma yang dihitung :
 70 sperma kepala bening Uji Viabilitas
 30 sperma kepala ungu 70%
PID:Current concepts of diagnosis and management,Curr Infect Dis Rep, 2012

154. PELVIC INFLAMMATORY DISEASE


• An infection of the female upper genital tract that involves
any combination of the uterus, endometrium, ovaries,
fallopian tubes, pelvic peritoneum and adjacent tissues.
• PID consists of ascending infection from the lower to upper
genital tract.
• Pathogens : can be categorized as sexually transmitted or
endogenous and are associated with more than one organism
• N. Gonorrhea and Chlamydia Trachomatis (most frequent
etiology)
• Risk Factors :
 Sexual contact in which exchange of body fluid may occur
 History of STI
 Multiple sexual partners
 Upper female genital tract instrumentation (D/C, IUD)
PID:Current concepts of diagnosis and management,Curr Infect Dis Rep, 2012
PID-Treatment
• PID treatment regimens must provide empiric, broad spectrum coverage of
likely pathogens.
• All regimens used to treat PID should also be effective against N. gonorrhoeae
and C. trachomatis because negative endocervical screening for these
organisms does not rule out upper-reproductive-tract infection.
• In women with PID of mild or moderate clinical severity, outpatient therapy
yields short- and long-term clinical outcomes similar to inpatient therapy;
parenteral and oral therapies appear to have similar clinical efficacy.
• The decision of whether hospitalization is necessary should be based on the
judgment of the provider and whether the patient meets any of the following
suggested criteria:
 surgical emergencies (e.g., appendicitis) cannot be excluded;
 the patient is pregnant;
 the patient does not respond clinically to oral antimicrobial therapy;
 the patient is unable to follow or tolerate an outpatient oral regimen;
 the patient has severe illness, nausea and vomiting, or high fever; or
 the patient has a tubo-ovarian abscess.

http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/pid.htm
http://depts.washington.edu/handbook/syndromesFemale/ch8_pid.html
Pelvic Inflammatory Disease

Sexually active woman presenting with abnormal vaginal


discharge, lower abdominal pain, OR dyspareunia

Uterine tenderness, OR
Adnexal tenderness, OR
Cervical motion tenderness on pelvic exam?

YES NO

1) Perform NAAT for gonorrhea and chlamydia


2) Perform pregnancy testing See Vaginal Discharge algorithm,
3) Perform vaginal microscopy if available consider other organic causes
4) Offer HIV testing

Empiric treatment for PID* if no other organic


cause found (e.g. ectopic pregnancy, appendicitis)

Signs of severe illness (i.e. high fever, nausea/vomiting), OR


Surgical emergency (e.g. appendicitis) not excluded, OR
Suspected to have a tubo-ovarian abscess, OR
Unable to tolerate or already failed oral antibiotics, OR
Pregnant?

YES NO

Inpatient PID treatment: Outpatient PID treatment:


Cefotetan 2g IV Q12 hours OR Ceftriaxone 250mg IM x 1 dose PLUS
Cefoxitin 2g IV Q6 hours, PLUS Doxycycline 100mg PO BID x 14 days,** WITH OR WITHOUT
Doxycycline 100mg PO/IV Q12 hours** Metronidazole 500mg PO BID x 14 days***
(other regimens available****) OR
Cefoxitin 2g IM x 1 dose and Probenecid 1g PO x 1dose together PLUS
Doxycycline 100mg PO BID X 14 days,** WITH OR WITHOUT
Metronidazole 500mg PO BID x 14 days***
(other regimens available****)

1) Hospitalize 24-48 hours to ensure response to treatment Response to treatment


2) Discharge on oral antibiotics to complete 14 day course 72 hours later?

NO YES

See Inpatient treatment Continue treatment for 14 days

*Sex partners in past 60 days should be examined and treated empirically for gonorrhea and chlamydia, regardless
of results of gonorrhea or chlamydia testing in index patient. If gonorrhea or chlamydia NAAT is positive, patient
should have repeat screening (test of reinfection) in 3-6 months.
**Doxycycline not for use in pregnancy.
***Add metronidazole if bacterial vaginosis documented or unable to do vaginal microscopy.
****See 2010 CDC STD Treatment Guidelines for further details.
http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/pid.htm
155. PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan dari jalan lahir setelah usia kehamilan 22 minggu
Gejala dan Tanda Utama Faktor Predisposisi Penyulit Lainnya Diagnosis
• Perdarahan tanpa nyeri. Nullipara atau multiparitas • Tidak ada nyeri. Plasenta Previa
• Darah segar atau kehitaman. • Bagian terendah fetus tidak
• Terjadi setelah miksi atau defekasi, aktifitas fisik, masuk pintu atas panggul.
kontraksi braxton hicks, trauma atau koitus. • Gawat janin
• Perdarahan dengan nyeri intermitten atau • Hipertensi • Syok yang tidak sesuai Solusio Plasenta
menetap. • Versi luar jumlah darah yang keluar
• Darah kehitaman dan cair atau mungkin • Trauma abdomen • Anemia berat
terdapat bekuan • Polihidramnion • Melemah/hilangnya gerak
• Bila jenis terbuka, warna darah merah segar. • Gemelli fetus
• Defisiensi nutritif • Gawat janin atau hilangnya
DJJ
• Uterus tegang dan nyeri
• Kelelahan dan dehidrasi • Pernah SC • Syok/takikardia Ruptura Uteri
• Konstriksi bandl • Partus lama • Hilangnya gerak dan DJJ
• Nyeri perut bawah hebat • CPD • Bentuk uterus
• Gejala tidak khas pada bekas seksio sesaria • Kelainan abnormal/kontur tidak jelas
letak/presentasi • Nyeri raba/tekan dinding
• Persalinan traumatik perut
• Bagian anak mudah dipalpasi
• Perdarahan merah segar • Solusio plasenta • Perdarahan gusi Gangguan
• Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya • Janin mati dalam rahim • Gambaran memar bawah kulit pembekuan darah
bekuan darah setelah 7 menit • Eklampsia • Perdarahan dari tempat
• Rendahnya faktor pembekuan darah • Emboli air ketuban suntikan/infus
• Perdarahan saat amniotomi atau saat selaput • Kehamilan multipara • Sulit dikenali saat pembukaan Vasa Previa
ketuban pecah spontan • Genetik masih kecil
• Pulsasi di sepanjang alur pembuluh yang teraba
156. Taksiran usia kehamilan
• 3 primary methods of gestational age estimation: dating
based on last menstrual period (LMP), ultrasound-based
dating and neonatal estimates
• Accuracy using ultrasound is 95%
• For ultrasounds performed during the first trimester: crown–
rump length is used to estimate gestational age. The crown–
rump landmarks become visible at approximately 8 weeks’
gestation.
• In the second and third trimesters, various combinations of
biparietal diameter, head circumference, abdominal
circumference and femur (diaphysis) length are used

The research implications of the selection of a gestational age estimation method. Pediatric and Perinatal Epidemiology
2007;21:86-89
157. NST
• Non Stress Test: pemeriksaan kesehatan janin dengan menggunakan
kardiotokografi pada usia kehamilan > 32mg
• Tujuan: untuk menilai kesehatan janin melalui hubungan perubahan DJJ
dengan gerakan janin yang dirasakan oleh ibu
• Indikasi : semua kondisi yang dapat menyebabkan janin lahir dalam keadaan
buruk, antara lain:
• Ibu : hipertensi kronis, DM, Anemia berat, peny.vaskuler kolagen,
gangg.fungsi ginjal, peny.jantung, pneumonia, peny.dengan kejang
• Janin : pertumbuhan janin terhambat, kelainan kongenital minor, aritmia
jantung, isoimunisasi, infeksi janin seperti
toksoplasmosis,parvovirus,sifilis,dll
• Berhubungan dengan kehamilan: kehamilan multipel, ketuban pecah dini,
polihidramnion, oligohidramnion, plasenta abnormal, solusio plasenta,
kehamilan lewat wkt

Pedoman diagnosis dan terapi Obstetri


158. Kehamilan dan Persalinan
Periode kehamilan adalah:
• Aterm: janin dikatakan cukup bulan apabila usia kehamilannya mencapai 38-42 minggu
• Prematur/preterm: janin dengan usia kehamilan kurang dari 38 minggu
• Postmatur/postterm: janin dengan usia kehamilan lebih dari 42 minggu
• Perinatal: periode dimulai pada usia kehamilan 22 minggu dengan berat janin 500 gram
hingga 7 hari setelah bayi dilahirkan
• Masa nifas: periode segera setelah kelahiran bayi hingga 40 hari (6 minggu) dimana tubuh ibu
kembali ke kondisi sebelum hamil
Tanda in-partu :
• Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
• Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
• Dapat disertai ketuban pecah dini.
• Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan terjadi pembukaan serviks.
LETAK JANIN
• Presentasi : bagian
yang terendah dari
janin
• Yang paling baik :
presentasi belakang
kepala → karena
ukuran-ukuran
terkecil dari kepala
melalui jalan lahir
Obstetri Fisiologi Buku Ajar FK Unpad
KETUBAN PECAH DINI
• Robeknya selaput korioamnion dalam kehamilan (sebelum onset
persalinan berlangsung)
• PPROM (Preterm Premature Rupture of Membranes) : ketuban pecah
saat usia kehamilan < 37 minggu
• PROM (Premature Rupture of Membranes) : usia kehamilan > 37
minggu
• Kriteria diagnosis :
 Usia kehamilan > 20 minggu
 Keluar cairan ketuban dari vagina
 Inspekulo : terlihat cairan keluar dari ostium uteri eksternum
 Kertas nitrazin merah  biru
 Mikroskopis : terlihat lanugo dan verniks kaseosa
• Pemeriksaan penunjang : USG (menilai jumlah cairan ketuban,
menetukan usia kehamilan, berat janin, letak janin, kesejahteraan
janin dan letak plasenta)
http://en.wikipedia.org/wiki/Fetal_distress
Meconium/Fetal Distress
• Meconium is the earliest stools of a • Fetal distress : to the presence of
mammalian infant. signs in a pregnant woman—
• Composed of materials ingested before or during childbirth—that
during the time the infant spends in suggest that the fetus may not be
the uterus: intestinal epithelial cells, well.
lanugo, mucus, amniotic fluid, bile, • Signs:
and water.  Decreased movement felt by the
• Viscous and sticky like tar, its color mother
usually being a very dark olive  Meconium in the amniotic fluid
green; it is almost odorless. ("meconium stained liquor”)
 Non-reassuring patterns seen on
• Recognised by medical staff as a cardiotocography
sign of fetal distress  Biochemical signs (fetal metabolic
• Puts the neonate at risk of acidosis, elevated fetal blood
meconium aspiration lactate levels)
159. Hiperemesis Gravidarum
• Definisi, keluhan mual,muntah pada ibu hamil yang
berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
• Biasanya mulai setelah minggu ke-6 dan baik dengan
sendirinya sekitar minggu ke-12
• Etiologi : Kemungkinan kadar BhCG yang tinggi atau
faktor psikologik
• Predisposisi :primigravida, mola hidatidosa dan
kehamilan ganda.
• Akibat mual muntah → dehidrasi → elektrolit
berkurang, hemokonsentrasi, aseton darah
meningkat → kerusakan liver
Grade
• Tingkat 1 :
lemah,napsu makan↓, BB↓,nyeri epigastrium, nadi↑,turgor
kulit berkurang,TD sistolik↓, lidah kering, mata cekung.
• Tingkat 2 :
apatis, nadi cepat dan kecil, lidah kering dan kotor, mata
sedikit ikterik, kadang suhu sedikit ↑, oliguria, aseton
tercium dalam hawa pernafasan.
• Tingkat 3 :
KU lebih lemah lagi, muntah-muntah berhenti, kesadaran
menurun dari somnolen sampai koma, nadi lebih cepat,
TD lebih turun. Komplikasi fatal ensefalopati Wernicke :
nystagmus, diplopia, perubahan mental.Ikterik
Hiperemesis Tatalaksana :
• Tatalaksana awal :
Gravidarum  Rawat inap di RS
 Rehidrasi dengan cairan NaCL atau RL
 Penghentian makanan per oral selama 24-48 jam
 Pemberian antiemetik jika diperlukan
Diagnosis :  Penambahan glukosa, multivitamin, magnesium,
pyridoxine , atau tiamin perlu dipertimbangkan.
• Gejala : muntah hebat,  Cairan dekstrosa dapat menghentikan pemecahan
haus, dehidrasi, BB lemak.
turun, keadaan umum  Untuk pasien dengan defisiensi vitamin, tiamin 100
mg diberikan sebelum pemberian cairan dekstrosa.
turun, kenaikan suhu,  Penatalaksanaan dilanjutkan sampai pasien dapat
ikterus, gangguan mentoleransi cairan per oral dan didapatkan
perbaikan hasil labor
serebral (kesadaran
menurun, delirium) Tatalaksana berikut :
• Edukasi tentang kehamilan
• Lab. : proteinuri, • Makan porsi kecil tapi sering
ketonuri, urobilinogen • Bangun pagi : makan ditempat tidur dengan roti atau biskuit
dengan teh hangat.
(+), porphyrin (+), • Makanan berminyak dan berbau dihindari, diusahakan tinggi
silinder (+) dalam glukosa
• Berikan sedativa seperti phenobarbital dan vitamin B complex
urine • Terkadang diperlukan terapi psikologik
• Antasida jika ada keluhan gastritis dan kontrol asam lambung
Obstetri Patologi FK Unpad; Diagnosis dan • Jika kesadaran baik pasien tidak perlu dipuasakan
Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum P2KB
2011
Diagnosis dan Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum, P2KB, Dwiana Ocviyanti,2011
160. FASE-FASE KALA I
• Lamanya tergantung paritas ibu : primigravida ± 12 jam,
multigravida ± 8 jam
1. Fase Laten
- Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan
dan pembukaan serviks.
- Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
- Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
2. Fase Aktif
- Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap
(kontraksi dianggap adekuat, memadai jika terjadi tiga kali atau lebih
dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
- Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm,
akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau
primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara)
161. Perdarahan Uterus

Panduan Tata Laksana PUD, Hiferi Pogi, 2007


Efek Samping AKDR
• Pada pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
kebanyakan perdarahan terjadi karena endometritis
• Endometritis: inflamasi uterus.
• Pada pengguna AKDR  endometritis kronik
• Endometritis Kronik, gejala:
 Sekret keluar dari ostium
 Kelainan haid seperti metroragi dan menoragi
• Tatalaksana : perlu dilakukan kuretase untuk membedakan
dengan ca korpus uteri, polip, atau mioma, atau endometritis
tuberkulosa. Kuretase juga dapat bersifat terapi
• Patologi : adanya sel plasma dan limfosit di antara stroma
endometrium
http://emedicine.medscape.com/article/254169-overview#a0104
Endometritis akut Terutama terjadi pascapersalinan atau
pascaabortus. Patologi: neutrofil di antara
kelenjar endometrium

Perdarahan uterus disfungsional Perdarahan uterus abnormal yang terjadi


tanpa kelainan pada saluran reproduksi,
penyakit medis tertentu atau kehamilan.
Dapat berupa perdarahan akut
dan banyak, perdarahan ireguler, menoragia
dan perdarahan akibat penggunaan
kontrasepsi
Endometriosis Adanya jaringan endometrium di luar
uterus. PA: adanya vaskularisasi, aktivitas
mitosis, jaringan stroma dengan makrofag
Menorrhea Menstruasi
162. Perdarahan Abnormal

Panduan Tata Laksana PUD, Hiferi Pogi, 2007


PREGNANCY TEST
• Human chorionic gonadotropin (hCG) is a glycopeptide hormone
produced by the placenta during pregnancy.
• Usually, concentration of hCG in urine is at least 25 mIU/ml as
early as 7th to 10th days after conception.
• The concentration increases steadily and reaches its maximum
between 8th and 11th weeks of pregnancy.
• First morning urine usually contains the highest concentration of
hCG and is therefore the best sample when performing the urine
test. However, randomly collected urine specimens may be used.
Causes of Invalid Results :
• The directions may not have been followed correctly.
• Inadequate amount of sample has been exposed to the test
system.
• The test may have deteriorated.
163. SIKLUS MENSTRUASI
Siklus Menstruasi
• Ovulasi terjadi 14 hari sebelum haid
berikutnya
• Stadium sekresi tetap karena corpus luteum
mempunyai umur 8 hari
• Sedangkan stadium proliferasi berbeda
panjangnya
• Pada siklus 28 hari, ovulasi terjadi pada hari
ke-14 dari siklus, sedangkan pada siklus 35
hari, ovulasi terjadi pada hari ke-21
MENSTRUAL IRREGULARITIES
• Abnormal bleeding from the uterus and can be characterized
clinically by amount, duration, and periodicity :
 Oligomenorrhea: menstruation occurring with intervals of more than
35 days
 Polymenorrhea: menstruation occurring regularly with intervals of
less than 21 days
 Metrorrhagia: menstrual bleeding occurring at irregular intervals or
bleeding between menstrual cycles
 Menorrhagia: regular menstrual cycles with excessive flow (technically
more than 80 mL of volume) or menstruation lasting more than 7 days
 Menometrorrhagia: menstrual bleeding occurring at irregular intervals
with excessive flow or duration
• DUB is broadly characterized clinically as ovulatory or
anovulatory
www.euromedcenter.org.ge/eng/ginekologia_02.html

Polymenorrhea
• The menstrual bleeding that occurs at intervals of less than 21 days.
• Pathogenesis: The bleeding of polymenorrhea may be of the
anovulatory withdrawal type or may be ovulatory with an
abnormally short proliferate secretory phase.
• Generally, the cause lies in a defect of hypothalamic control.
• Polymenorrhea is most common during the transitional phases of
life, i.e., puberty and the climacteric.
• A short luteal phase is of particular clinical importance
• Diagnosis: no special diagnostic tests, but an evaluation of luteal
function is indicated in sterile patients by means of the basal
temperature graph, endometrial biopsy, and the determination of
progesteron or pregnanediol.
164. TANDA KEHAMILAN
Bunyi Jantung Anak
• Dapat didengar pada akhir bulan ke V
• Dengan USG/doptone dapat didengar pada akhir
bulan ke 3
• Paling jelas terdengar di punggung anak dekat
pada kepala
• Frekuensi 120-140x/menit (bila <120 atau >160
atau tidak teratur → asfiksia)
• Merupakan tanda pasti kehamilan, anak hidup
• Dapat memperkirakan: presentasi anak, posisi
anak, sikap anak, dan adanya anak kembar
Obstetri Fisiologi UNPAD
Tinggi Fundus dan Usia Gestasi
ILMU FORENSIK DAN KEDOKTERAN
KOMUNITAS
165. Luka Akibat Kekerasan
• Kekerasan Benda Tumpul
Memar
– Perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya
kapiler/vena;
– Dapat memberikan petunjuk tentang bentuk benda
penyebab
Luka Lecet
– Cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda
yang memiliki permukaan kasar atau runcing
Luka Robek
– Luka terbuka akibat trauma benda tumpul, menyebabkan
kulit teregang ke satu arah.
– Bentuk luka tidak beraturan, tepi tidak rata, jembatan
jaringan
• Kekerasan Benda Setengah Tajam
– Cedera akibat benda tumpul yang memiliki tepi
rata (mis. meja, lempeng besi, gigi)
– Luka : seperti akibat benda tumpul tapi bentuknya
beraturan
– Jejas Gigit (bite-mark) : luka lecet tekan/hematom
berbentuk garis lengkung terputus-putus
• Kekerasan Benda Tajam
– Luka iris, luka tusuk, luka bacok
– Tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis,
tidak terdapat jembatan jaringan, dasar luka
bentuk garis atau titik
Visum et Repertum untuk Perlukaan
• Tujuan pemeriksaan forensik pada korban hidup :
Untuk mengetahui penyebab luka dan derajat parahnya
luka
• Dalam pemberitaan disebutkan : Keadaan umum
korban, luka-luka dengan uraian letak, jenis, sifat,
ukuran, serta tindakan medik yang dilakukan, riwayat
perjalanan penyakit, dan keadaan akhir saat perawatan
selesai.
• Dalam kesimpulan disebutkan : luka-luka atau cedera
yang ditemukan, jenis benda penyebab, serta derajat
perlukaan. Tidak dituliskan pendapat bagaimana
terjadinya luka dan oleh siapa.
166&168. Pemeriksaan Medik pada Kasus
Kejahatan Seksual
• Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP :
pemerkosaan, persetubuhan pada wanita tidak berdaya,
persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur
• Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan
permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang
• Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban
merupakan benda bukti. Jika korban datang sendiri dengan
membawa surat permintaan dari polisi, jangan diperiksa,
minta korban kembali kepada polisi
• Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan
yang didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan
VeR diterima oleh dokter
VeR Korban Kejahatan Susila
• Kesimpulan VeR berisi :
– Ada/tidaknya bukti persetubuhan, dan kapan perkiraan
terjadinya
– Ada/tidaknya kekerasan pada perineum dan daerah lain
(termasuk pemberian racun/obat/zat agar menjadi tidak
berdaya) → toksikologi
– Usia korban (berdasarkan haid, dan tanda seks sekunder)
– Penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan
kejiwaan sebagai akibat dari tindak pidana
• Dokter tidak dibebani pembuktian adanya
pemerkosaan
VeR Korban Kejahatan Susila
• Pembuktian persetubuhan : Deflorasi himen,
laserasi vulva-vagina, adanya cairan mani dan
sel sperma (mikroskopik sediaan usap vagina)
dalam vagina
• Bukti persetubuhan mempunyai nilai bila
sesuai waktu kejadiannya dengan
persetubuhan yang diperkarakan
Perkiraan waktu persetubuhan
• Sperma masih dapat ditemukan bergerak di
dalam vagina → 4-5 jam (setelah
persetubuhan)
• Pada orang hidup, sperma (tidak bergerak)
dapat ditemukan → 24-36 jam
• Pada orang mati, sperma masih dapat
ditemukan hingga 7-8 hari
• Penyembuhan luka pada selaput dara 7-10
hari
167. Identifikasi Forensik
• Merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas
seseorang/korban, terutama pada jenazah tidak
dikenal, membusuk, rusak, terbakar, kecelakaan masal,
ataupun bencana alam
• Metode identifikasi yang dapat digunakan adalah:
Identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan
perhiasan, medik, gigi, serologik, metode eksklusi dan
metode identifikasi DNA
• Identitas seseorang dapat dipastikan bila paling sedikit
dua metode yang digunakan memberikan hasil positif
Identifikasi Forensik: Profil DNA
• Pada tiap lokus DNA → sepasang pita DNA
yang dinyatakan sebagai sepasang angka yang
menunjukkan panjangnya DNA
• 1 pita anak pasti ada padanannya (sama)
dengan DNA ibu (pita maternal) dan pita lain
sama dengan DNA ayah (pita paternal)
• Pria dikatakan bukan ayah biologis: pita
paternal anak terdapat 2 atau lebih lokus DNA
yang tidak sesuai (eksklusi)
169. Bunuh diri vs Pembunuhan
(Hanging)
Keterangan Bunuh diri Pembunuhan
TKP Keadaan TKP tenang, rapih, dan Keadaan TKP tidak beraturan, tanda
dijumpai surat peninggalan kepada perkelahian
orang tertentu Tidak terdapat tempat tertentu, surat
Tempat yang dipilih tersembunyi, bernada ancaman, alat biasanya
pintu terkunci dari dalam, korban dipersiapkan dan tidak ditemukan di
berpakaian rapih TKP
Alat Penjerat
-Simpul Simpul mati Simpul Hidup
-Jumlah Lilitan Hanya satu Satu atau lebih
-Arah Mendatar Serong ke atas
-Jarak ttk tumpu- Dekat Jauh
simpul
Korban
Luka perlawanan + -
Luka lain Ada, sering di daerah leher Tidak ada
Jarak dari lantai Jauh Dekat, dapat tidak tergantung
170. Surat Keterangan Medis
• Surat keterangan medis → keterangan tertulis yang dibuat oleh
dokter untuk tujuan tertentu tentang kesehatan atau penyakit
pasien atas permintaan pasien atau pihak ketiga dengan
persetujuan pasien.
• Surat harus dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang
secara teknis medis relevan, memadai, dan benar
• Contoh:
– Cuti sakit
– Kelahiran dan kematian
– Cacat
– Penyakit menular
– Visum et repertum (pro justicia) → atas permintaan resmi penyidik.
– Keterangan kesehatan untuk asuransi
– dll
171. Perkiraan Waktu Kematian
(Tanatologi)
• Lebam mayat
– Mulai tampak 20-30 menit pascamati. Well developed within the
next 3 to 4 hours
– Lengkap & menetap setelah 8-12 jam, sebelumnya masih dapat
memucat pada penekanan dan berpindah
• Kaku mayat:
– Mulai tampak 2 jam pascamati, dimulai dari bagian luar
tubuh/otot-otot kecil (sentripetal)
– Lengkap setelah 12 jam & dipertahankan selama 12 jam, lalu
menghilang dalam urutan yang sama
• Pembusukan:
– Tampak kehijauan di perut kanan bawah 24 jam pasca mati
– Larva lalat dijumpai 36-48 jam pascamati
172. Pelanggaran Kode Etik
• MKEK
– Kedudukan sejajar IDI
– Mengawasi/evaluasi pelaksanaan
berkesinambungan dan berkelanjutan pada
pelaksanaan kode etik.
• KKI
– Berhak memberikan rekomendasi pemulihan
nama baik
173. Malpraktik vs non-malpraktik
• Malpraktik medik : Kelalaian seorang
dokter/tenaga kesehatan untuk mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan
dalam mengobati pasien menurut ukuran di
lingkungan yang sama
• UU No.23 tahun 1992 ttg Tenaga Kesehatan :
Kelalaian berarti (a) tidak melakukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan, atau (b) melakukan
sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan
• Dikatakan malpraktek medik jika:
– Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan yang sudah
berlaku umum.
– Memberikan pelayanan di bawah standar profesi (tidak
lege artis)
– Melakukan kelalaian yang berat atau pelayanan dengan
tidak hati-hati
– Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan
hukum.
• Kelalaian tidak dianggap suatu pelanggaran hukum
jika kelalaian tidak membawa kerugian atau cedera
dan orang tersebut dapat menerimanya
• Sanksi terberat adalah sanksi pidana: KUHP pasal 304,
pasal 306, pasal 350.
• Criminal Negligence ("guilty mind“) : Willful blindness
where the individual intentionally avoids adverting to
the reality of a situation. The distinction between
recklessness and criminal negligence lies in the
presence or absence of foresight as to the prohibited
consequences.
• Near Miss : Unplanned event that did not result in
injury, illness, or damage – but had the potential to do
so. Only a fortunate break in the chain of events
prevented an injury, fatality or damage
• Misconduct : A wrongful, improper conduct motivated
by premeditated or intentional purpose or by obstinate
indifference to the consequences of one's acts. Refers
to an action, rather than neglecting. Unacceptable but
is not a criminal offense.
174. Abortus
• Abortus dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
– Natural/spontan:
• kelainan embrio/penyakit maternal.
– Kecelakaan:
• Pada kasus ibu shock atau rudapaksa
– Pengobatan (Provokatus Terapeutikus):
• penghentian kehamilan yang membahayakan nyawa ibu.
– Kriminalis (Provokatus Kriminalis):
• tidak mempunyai alasan medis yang dapat
dipertanggungjawabkan atau tanpa arti medis yang
bermakna.
Abortus
• Pengguguran kandungan menurut hukum:
– Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan
janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia
kandungannya.
– Tidak dipersoalkan apakah dengan pengguguran
kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati.
– Yang dianggap penting adalah kandungan masih hidup
sewaktu pengguguran dilakukan.
• Hanya abortus provokatus kriminalis saja yang
masuk ke dalam lingkup pengertian pengguguran
kandungan menurut hukum
Pelaku Abortus yang Terkena Pidana
• Wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya
atau menyuruh orang lain melakukannya (KUHP pasal
346)
• Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lain
tanpa (KUHP 347) atau dengan seizinnya (KUHP 348)
• Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan
di atas (KUHP 349)
• Orang yang mempertunjukkan alat/cara mengugurkan
kandungan pada anak dibawah 17 tahun (KUHP 283)
• Barangsiapa menganjurkan/merawat/memberi obat
kepada seseorang wanita dengan memberi harapan
agar gugur kandungannya (KUHP 299)
175. Kaidah Dasar Moral
• Kaidah dasar moral terdiri atas:
1. Autonomy: pasien dapat mengambil keputusan
sendiri & dijamin kerahasiaan medisnya → dasar
informed consent & kerahasiaan medis
2. Nonmaleficence (Do No Harm): tidak dengan
sengaja melakukan tindakan yang malah
merugikan/invasif tanpa ada hasilnya → dasar agar
tidak terjadi kelalaian medis
3. Beneficence: mengambil langkah yang bermanfaat,
untuk mencegah atau menghilangkan sakit
4. Justice: perlakuan yang sama untuk kasus yang sama
Autonomy
• The principle of autonomy recognizes the rights of individuals to
self-determination. This is rooted in society's respect for individuals'
ability to make informed decisions about personal matters
• Respect for autonomy is the basis for informed consent
and advance directives
• Including:
– Ensure accuracy in any information given in advance of services
offered
– Emphasise the value of voluntary participation in the services being
offered
– Protect patient privacy
– Protect confidentiality
– Inform the client in advance of foreseeable conflicts of interest or as
soon as possible after such conflicts become apparent

http://www.bacp.co.uk/ethical_framework
176. Etika Praktik Kedokteran
• KODEKI pasal 2:
– Seorang dokter harus senantiasa berupaya
melaksanakan profesinya sesuai dengan standar
profesi yang tertinggi
• KODEKI pasal 7:
– Seorang dokter hanya memberi surat keterangan
dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya
177. Pelayanan Kesehatan
Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik
• Pelayanan paripurna (comprehensive)
– Pelayanan medis strata pertama untuk semua
orang, termasuk promotif, preventive and spesific
protection, kuratif, limitasi disabilitas, dan
rehabilitasi
• Pelayanan holistik
– Pelayanan secara menyeluruh dari fisik, mental,
sosial dan spiritual, serta lingkungan fisik dan
sosial tempat tinggal
Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia. Buku Standar Pelayanan Dokter Keluarga.2006
Pelayanan Kesehatan
• Pelayanan terpadu
– Kemitraan antara dokter-pasien saat proses
penatalaksaan medis, mitra lintas program, lintas
institusi, baik formal maupun informal.
• Pelayanan berkesinambung
– Pelayanan kedokteran dilaksanakan secara efektif
efisien, proaktif, dan terus menerus
• Pelayanan medis
– Pelayanan kedokteran secara lege artis
178. Surveilans
• Definisi:
– Kegiatan pengamatan sistematis, aktif, terus menerus
terhadap timbulnya dan penyebaran penyakit
• Tujuan:
– Memperkirakan besarnya masalah
– Memahami kejadian penyakit
– Mendeteksi KLB atau epidemi
– Mendokumentasikan distribusi dan penyebaran
penyakit
– Menguji hipotesis tentang etiologi/penyebab
Jenis surveilans
• Berdasarkan cara pelaksanaan
– Surveilans aktif
• Pengamatan kasus secara langsung ke lapangan
• Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
• Dibutuhkan dana dan tenaga khusus
– Surveilans pasif
• Pengamatan kasus secara tidak langsung, yaitu melalui laporan
• Hasil yang diperoleh kurang lengkap
• Berdasarkan waktu pelaksanaan
– Berkala
– Per bagian yang dilaksaan terus menerus
– Pada saat tertentu
Kegiatan surveilans
Langkah:
1. Merumuskan kejadian yang akan diamati
2. Mengumpulkan data secara sistematis
3. Menghitung data agar bermakna
4. Menganalisa data dan menarik kesimpulan
5. Menyebarluaskan informasi kepada pihak
yang memerlukan
6. Melakukan kegiatan pengendalian
179. Angka Insidensi
• Incidence Rate : Jumlah penderita baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu(umumnya 1
tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin
terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka
waktu yang bersangkutan.
Jumlah Penderita Baru
• Insiden rate = −−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−− x K
Jumlah penduduk yg mungkin terkena
Penyakit tersebut pada pertengahan tahun
• K = Konstanta ( 100%, 1000 ‰)
Manfaat Incidence Rate
• Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi
• Mengetahui Resiko untuk terkena masalah
kesehatan yang dihadapi
• Mengetahui beban tugas yang harus
diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan
kesehatan.
Prevalensi
• Prevalence of a disease in a statistical
population is defined as the total number of
cases of the disease in the population at a
given time, or the total number of cases in the
population, divided by the number of
individuals in the population
180. Menentukan
Design Penelitian
Observational Study
• Cohort
– Analisa faktor risiko, dengan mengikuti kelompok yang
tidak/belum menderita penyakit dengan faktor risiko dan tidak
dengan faktor risiko.
– Useful for estimating the risk of disease, the incidence rate
and/or relative risks
– Keuntungan : Dapat menentukan faktor risiko terjadinya
penyakit karena bersifat longitudinal observation
– Kelemahan : Mahal, memakan waktu yang lama, drop-out rasio
yang tinggi
• Case Control
– Menganalisa faktor risiko
dengan menentukan dua
kelompok yang memiliki
perbedaan outcome
(penyakit), kemudian
dihubungkan dengan causal
attribute- nya
– Keuntungan : Membutuhkan
sumber daya, dana yang lebih
sedikit, serta waktu yang lebih
singkat. Good for rare cases,
long latent period, ethical
related cases
– Useful when epidemiologists
investigate an outbreak of a
disease
– Kelemahan : provide less
evidence for causal inference
• Cross-Sectional
– Measures exposure and disease at one point in time
without follow-up
– Providing a "snapshot" of the frequency and
characteristics of a disease in a population at a
particular point in time
– Descriptive, comparative, etiology or risk study
– Prevalence study
– Easy, cheap and fast
– Difficulty in recalling past events may contribute bias.
– Tidak tepat bila digunakan untuk menganalisis
hubungan kausal paparan dan penyakit (Hanya
ada/tidaknya hubungan)
181. Disease Control
• Concept of control → ongoing operation aimed at
reducing:
– The incidence of disease
– The duration of disease and consequently the erisk of
transmission
– The effect of infection, including both physical and
psychosocial complication
– The financial burden to community
• Control activities → focus on primary or secondary
prevention
– Control → elimination → eradication
• Elimination: interruption of transmission disease
• Regigonal elimination as an important precursor of eradication
Control of infectious disease (the 4
“C”s)
• Cases • Contacts
– Diagnosis – Observation
– Notification • Carier
– Isolation: standard, – Detection
strict, protective
• Community
– Disinfection
– Epidemiological
– Treatment investigation and
– Follow up containment
– Release
Modes of Disease Transmission
• Direct Transmission : Direct transmission of pathogens occurs through person-to
person contact
• Indirect Transmission : microorganisms first are transmitted to an object or
surface, and then are transferred to another person who touches those objects or
surfaces
• Airborne Transmission : spread of disease through droplets of moisture that
contain bacteria or viruses
• Parenteral Transmission/ Blood-Borne Transmission : Parenteral means through
the skin, as with cuts or punctures. Certain pathogens, are carried in the blood and
body fluids of infected individuals and can be transmitted to others
• Food and Water Transmission : Many diseases are transmitted by contaminated
food that has not been cooked or refrigerated properly and by water that has been
contaminated with human or animal fecal material
• Fecal-Oral Transmission : If proper sanitation procedures, such as handwashing
after use of the toilet, are not followed, these pathogens may be transmitted
directly by touching another person, or they may be transmitted indirectly through
contact with contaminated surfaces or food.
• Vector-Borne tranmission : Pathogens carried by vector

Disease Transmission and Infection Prevention. CDC


182. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi
• Variabel Kategorik vs Numerik
– Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal
(kategori sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal
(kategori bertingkat, cth baik-sedang-buruk)
– Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai
nol alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki
nilai nol alami, cth suhu)
• Hipotesis Komparatif vs Korelatif
– Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah
terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan
jenis pengobatam?)
– Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar
trigliserida dan kadar gula darah?
• Skala Pengukuran
– Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila
kedua variabel kategorik. Skala numerik jika salah
satu variabel numerik
– Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah
satu variabel kategorik. Skala numerik jika kedua
variabel numerik
• Berpasangan vs Tidak Berpasangan
– Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data
berasal dari subyek yang sama atau yang berbeda
tapi telah dilakukan matching
– Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok
subyek yang berbeda, tanpa matching
• Uji Parametrik vs Non-parametrik
– Syarat uji parametrik : Skala numerik, sebaran
data normal, untuk >2 kelompok data tidak
berpasangan kesamaan varians merupakan syarat
mutlak (Uji varians, p>0.05)
UJI Keterangan

Chi-square Uji statistik terhadap hipotesis. Distribusi data harus


normal dan jumlah sampel besar untuk mendekati
yang diinginkan. Uji tidak dapat digunakan ketika
“expected value” kurang dari 10
Fisher Test kemaknaan statistik yang digunakan pada analisis
tabel kontingensi. Digunakan ketika ukuran sampel
kecil. Uji ini dapat digunakan pada semua ukuran
sampel
Kolmogorov-Smirnov Uji normalitas yang membandingkan distribusi data
(yang akan diuji) dengan distribusi normal baku. Bila
nilai p>=0,05 dikatakan terdapat perbedaan signifikan
183. Perencanaan Kebutuhan Tenaga
kesehatan
• Kepmenkes RI No. 81/MENKES/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan
Perencanaan SDM Kesehatan di Tingkat Propinsi, Kab/Kota serta Rumah
Sakit
• Metode penghitungan kebutuhan kesehatan:
– Health need method → diperhitungkan keperluan upaya kesehatan terhadap
kelompok sasaran tertentu berdasar umur, jenis kelamin, dll
– Health service demand method → diperhitungkan kebutuhan pelayanan
kesehatan terhadap kelompok sasaran
– Health service target method → diperhitungkan upaya kesehatan tertentu
terhadap kelompok sasaran tertentu, misalnya percepatan penuruna kematian
ibu dan bayi
– Ratio method → diperhitungkan berdasarkan ratio terhadap: penduduk,
tempat tidur, dll
• Metode lain:
– Daftar susunan pegawai (DSP)
– Indikatorkebutuhan tenaga berdasar beban kerja (work load indicator staff
need/WISN)
– Berdasar skenario / proyeksi WHO
– Kebutuhan tenaga bencana
• Rasio dokter-penduduk bervariasi, mulai
1:5000 sampai 1:2500 (rata-rata 1:4000)

• 1 dokter sebagai kepala puskesmas (dapat


merangkap sebagai dokter di poliklinik
umum), 1 dokter bertugas di puskesmas
pembantu dan melakukan kunjungan ke
posyandu dibantu bidan.
Wilayah Kerja Puskesmas
• Berkaitan INPRES kesehatan No 5 Th 1974, Nomor 7
tahun 1975 dan nomor 4 tahun 1976, sejak pelita III
maka konsep wilayah puskesmas diperkecil yang
mencakup suatu wilayah yang mempunyai jumlah
penduduk 30 000 jiwa
• Sejak tahun 1979 mulai dirintis pembangunan
puskesmas di daerah-daerah tingkat kelurahan atau
desa yang memiliki jumalah penduduk 30 000 jiwa.
Koordinasi kegiatan : salah satu puskesmas tersebut di
tunjuk sebagai penanggungjawab yang selanjutnya
disebut sebagai puskesmas induk sedang yang lain
disebut puskesma pembantu. 2 kategori ini dikenal
sampai sekarang
184. Sasaran Promosi Kesehatan
• Sasaran Primer : individu atau kelompok yang
diharapkan berubah perilakunya
• Sasaran Sekunder : individu atau kelompok dan
organisasi yang mempengaruhi perubahan perilaku
sasaran primer. (Cth. tokoh masyarakat, tokoh agama,
petugas kesehatan, petugas lembaga pemasyarakatan)
• Sasaran Tersier : individu atau kelompok dan organisasi
yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan
dan keputusan (Cth. para pejabat eksekutif, legislatif,
penyandang dana, pimpinan dan media massa)
185. Rumah Hunian Sehat
• 4 fungsi pokok rumah (American Public Health
Association/ APHA)
– Tempat memenuhi kebutuhan jasmani (fisik)
– Tempat memenuhi kebutuhan rohani (psikis)
– Tempat perlindungan terhadap penularan
penyakit
– Tempat perlindungan terhadap gangguan
kecelakaan
Hunian sehat (2)
• Persyaratan kesehatan rumah • Langit-langit diberishkan dan tidak
rawan kecelakaan
tinggal (Permenkes No. 829/1999) • Bubungan rumah yang lebih dari 10
– Bahan bangunan meter harus dilengkapi dengan
• Debu total tidak lebih dari 150 penangkal petir
ug/m3 • Ruang ditata agar berfungsi
• Asbes bebas tidak lebih 0,5 • Dapur dilengkapi sarana
fiber/m3/4jam pembuangan asap
• Timah hitam (Pb) tidak lebih dari – Pencahayaan
300mg/kg
• Minimal intensitas 60 lux dan tidak
• Tidak terbuat dari bahan yang dapat silau
menjadi tumbuh dan kembang
mikroorganisme patogen – Udara
– Komponen tata ruang • Suhu 18-30 oC
• Lantai kedap air dan mudah • Kelembaban 40-70%
dibersihkan • Konsentrasi gas S02 tidak lebih dari
• Dinding → di ruang tidur dan 0,10 ppm/24 jam
keluarga dilengkapi sarana ventilasi • Konsentrasi gas CO tidak lebih dari
untuk sirkulasi; di kamar madi dan 100 ppm/8jam
tempat cuci harus kedap air dan • Konsentrasi gas formaldehid tidak
mudah dibersihkan lebih 120 mg/m2
Hunian sehat (3)
• Syarat rumah sehat • Limbah rumah: tidak
mencemari sumber air,
– Ventilasi tidak menimbulkan bau
• Luas minimal 10% dari luas dan tidak mencemari
lantai permukaan tanak
– Binatang penular penyakit • Limbah padat → dikelol.a
dengan baik
• Tidak ada tikus
– Air – Kepadatan hunian
• Luas rumah dibanding
• Minimal 60 liter/hari/orang jumlah orang tinggal
• Air minum harus • Luas ruang tidur minimal 8
memenuhi syarat air bersih m2 dan tidak dianjurkan
dan/atau air minum untuk lebih dari 2 orang
– Sarana penyimpanan kecuali anak dibawah 5
makanan yang aman tahun
– Limbah
186. Kejadian Luar Biasa
• Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam
kurun waktu dan daerah tertentu (Depkes, 2000).
• Suatu penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi
kriteria sebagai berikut :
– Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak
dikenal.
– Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
– Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
– Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
– Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali
lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun
sebelumnya.
Kejadian Luar Biasa
– Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding
dengan CFR dari periode sebelumnya.
– Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode
yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
– Beberapa penyakit khusus : kolera, DHF/DSS
• Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah
endemis).
• Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4
minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit
yang bersangkutan.
– Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a) Keracunan makanan
b) Keracunan pestisida
Kurva epidemiologi:
pola penyebaran KLB
• Common source
– People are exposed continuosly or intermittenly to a harmful source
– Period of exposure may be brief or long
– Continuous exposure will often cause cases to rise graudally (and
possibly to plateau, rather than to peak)
• Point source
– The period of exposure is brief, and all cases occur within one
incubation period
– Curve: a sharp upward slope and gradual downward slope
• Propagated
– Spread from person to person → can last longer than common source
epidemics and may lead to multiple waves of infection if secondary
and tertiary cases occur.
– Classic epi curve: progressively taller peaks, an incubation period apart
187. Epidemiologi
• Fokus pada insidens penyakit di populasi
• Pola outbreak:
– Endemic → penyakit menular di 1 grup atau area yang
sama atau pada area aktivitas bersama
– Epidemic → penyakit ditemukan menginfeksi populasi
dalam jumlah yang signifikan di waktu yang sama dan
tempat yang sama, dan diantara populasi, serta dapat
menyebar ke komunitas yang lain
– Pandemik → saat epidemic menyebar ke seluruh
dunia
188. Sampling Method
• Sampling methods are classified as
either probability (random) or nonprobability
(nonrandom).
Probability Samples
• Each member of the population has a known non-
zero probability of being selected.
Sampling Methods Description

Simple Random Sampling A sample selected from a population in such manner


that all member of the population have an equal
chance of being selected
Stratified Random Sampling A sample selected so that certain characteristic are
represented in the sample in the same proportion as
they occur in the population. Use when there are
specific sub-groups to investigate
Systematic Random Sampling Sample is obtained by selecting every Nth name in a
population
Cluster Random Sampling A sample is obtained by using groups as the sampling
unit rather than individuals. Use when population
groups are separated and access to all is difficult, eg. in
many distant cities
When population is small,
homogeneous & readily
available. All subsets of the
frame are given an equal
probability.

The frame organized into


separate "strata." Each stratum
is then sampled as an
independent sub-population,
out of which individual
elements can be randomly
selected
In this technique, the total
population is divided into these
groups (or clusters) and
a simple random sample of the
groups is selected (two stage)
Ex. Area
sampling or geographical
cluster sampling
Nonprobability Sampling
• Members are selected from the population in some
nonrandom manner.
Sampling Methods Description

Convenience Sampling Sample is obtained by any group of individuals that available


for the study. Used when you cannot proactively seek out
subjects.
Purposive/Judgment Sample is obtained from individuals who have special
Sampling qualification/expertise. Using judgment to select sample. Used
when you are studying particular groups
Snowball Sampling Relies on referrals from initial subjects to generate additional
subjects. Used when the desired sample characteristic is rare
Quota Sampling The researcher first identifies the stratums and their
proportions as they are represented in the population. Then
convenience or judgment sampling is used to select the
required number of subjects from each stratum. When you are
studying a number of groups and when sub-groups are small
ILMU KESEHATAN THT & KL
189. Rinitis
Diagnosis Clinical Findings
Rinitis alergi Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa
edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin.


vasomotor Pemicu: asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres.
Tanda: mukosa edema, konka hipertrofi merah gelap.
Rinitis hipertrofi Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan
oleh infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor.
Gejala: hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak
& mukopurulen.
Rinitis atrofi / Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa
ozaena pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media
& inferior, sekret & krusta hijau.
Rinitis Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan
medikamentosa vasokonstriktor topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma
edema,hipersekresi mukus. Rinoskopi: edema/hipertrofi konka
dengan sekret hidung yang berlebihan.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
190. Tes Pendengaran
Rinne Weber Schwabach Diagnosis
Positif Tidak ada Sama dengan Normal
lateralisasi pemeriksa
Negatif Lateralisasi ke Memanjang Tuli konduktif
telinga yang sakit
Positif Lateralisasi ke Memendek Tuli
telinga yang sehat sensorineural

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


191. Kelainan Telinga Luar
• Serumen:
– Hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel yang lepas, &
debu.
– Terdapat di 1/3 luar liang telinga

• Serumen dapat keluar sendiri akibat migrasi epitel kulit yang bergerak ke
luar dibantu gerakan rahang saat mengunyah.

• Serumen yang menumpuk dapat menimbulkan tuli konduktif, terutama


bila kemasukan air → serumen mengembang → rasa tertekan & gangguan
pendengaran.

• Ekstraksi serumen:
– Lembek: kapas yang dililitkan
– Keras: pengait atau kuret, jika gagal → dilunakkan dulu dengan karbogliserin
10% selama 3 hari.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


192. Tuli
• Cocktail party deafness
– Tanda tuli koklear, pasien terganggu oleh background noise →
sulit mendengar di lingkungan yang ramai/ribut.
– Ditemukan pada presbikusis & tuli akibat bising.
• Presbikusis • Tuli akibat bising
₋ Usia > 65 tahun ₋ Pajanan bising jangka panjang
₋ Bilateral → Tuli kokelar sensorineural
dengan/tanpa tinnitus.
₋ Bilateral

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


193. Tonsilofaringitis
Diagnosis Characteristic
Tonsilitis difteri Tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor membentuk membran
semu, dapat meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, &
bronkus. Bila membran diangkat dapat berdarah. Kelenjar limfa dapat
membesar  bull neck atau Burgemeester’s hals
Faringitis luetika Primer:
• Bercak keputihan pada lidah, palatum mole, tonsil, & dinding posterior
faring. Ulkus faring yg tidak nyeri & pembesaran KGB mandibula yang
tidak nyeri tekan.
Sekunder:
• Eritema pada dinding faring yang menjalar ke arah laring.
Tersier:
• Terdapat guma pada tonsil & palatum.
Tonsilitis TB Tonsil hipertrofi dengan ulserasi & eksudat putih.
Inflamasi granulomatosa, Ziehl-Neelsen stain (+).

1) Cummings otolaryngology head & neck surgery. 2) Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.
194. Otitis Media Supuratif Kronik
• Benign/mucosal type:
– Tidak mengenai tulang.
– Jenis perforasi: sentral.
– Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5 days, ear
drops AB & steroid, systemic AB

Large central perforation


• Malignant/bony type:
– Mengenai tulang atau kolesteatoma.
– Jenis perforasi: marjinal atau attic.
– Tahap lanjut: abses atau fistel retroaurikel,
polip/jaringan granulasi, terlihat
kolesteatoma pad atelinga tengah, sekret
bentuk nanah & berbau khas
– Th: mastoidektomi.

Cholesteatoma at attic
type perforation
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
195. Otitis Externa (OE)
Tanda OE:
Nyeri jika aurikel ditarik ke belakang atau tragus ditekan.
• Otitis eksterna sirkusmskripta (furuncle)
– Hanya pada bagian kartilago telinga.
– Tidak ada jaringan penyambung di bawah kulit → sangat nyeri

• Otitis eksterna difus (swimmer’s ear)


– Kondisi lembab & hangat → bakteri tumbuh
– Bengkak, eksudasi, nyeri
• Otitis eksterna maligna(necrotizing OE)
– Pada diabetesi lansia atau imunokompromais
– OE → selulitis, kondritis, osteitis, osteomielitis → neuropati
kranial
– Liang telinga bengkak & nyeri, jaringan granulasi pada
sambungan kartilago dengan tulang di posteroinferior 1/3
dalam

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
195. Otitis Eksterna

Management:
acetic acid 2% in alcohol or povidon iodine 5% or
antifungal topical (nistatin/clotrimazol)
Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
196. Otitis Media
Otitis Media Akut
• Etiologi:
Streptococcus pneumoniae 35%,
Haemophilus influenzae 25%,
Moraxella catarrhalis 15%.
 Perjalanan penyakit otitis media akut:
1. Oklusi tuba: membran timpani retraksi atau suram.
2. Hiperemik/presupurasi: hiperemis & edema.
3. Suppuration: nyeri, demam, eksudat di telinga tengah, membran
timpani membonjol.
4. Perforasi: ruptur membran timpani, demam berkurang.
5. Resolusi: Jika tidak ada perforasi → membran timpani kembali
normal. Jika perforasi → sekret berkurang.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
196. Otitis Media
Otitis Media Akut
• Th:
– Oklusi tuba: dekongestan topikal
(ephedrin HCl) Hyperaemic stage
– Presupurasi: AB minimal 7 hari
(ampicylin/amoxcylin/
erythromicin) & analgesik.
– Supurasi: AB, miringotomi.
– Perforasi: ear wash H2O2 3% & AB.
– Resolusi: jika sekret tidak
berhenti AB dilanjutkan hingga 3
minggu.
Suppuration stage
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
197. Vertigo
• Sistem vestibular berpotensi cedera pada trauma tumpul
kepala & leher.

• Vertigo posttrauma dapat terjadi melalui:


– Benign paroxysmal positional vertigo (tersering)
• Mekanismenya sama dengan BPPV idiopatik: kanalolitiasis &
kupulolitiasis.
– Concusio batang otak atau jejas kompleks nervus VIII
• Kompleks n. VIII berisiko cedera karena efek robekan di tempat
masuknya ke batang otak.
– Sindrom meniere posttrauma atau hidrops endolimfatik lambat
• Kerusakan duktus endolimfatik sekunder akibat fraktur temporal,
perdarahan ke telinga dalam, gangguan transpor cairan.

Emedicine: Posttraumatic Vertigo. Author: Brian E Benson, MD; Chief Editor: Arlen D Meyers, MD, MBA
197. Vertigo
• Vertigo posttrauma dapat terjadi melalui:
– Fistula perilimfatik
• Terbentuk hubungan antara telinga tengah dengan telinga
dalam akibat fraktur os temporal atau ruptur membran
akibat tekanan LCS yang mendadak tinggi.

– Vertigo cervikal
• Hipotesis: terjaid karena kompresi vaskular & perubahan
input sensorik ke sistem vestibular.

– Konkusio labirintin
– Mekanismenya belum jelas.

Emedicine: Posttraumatic Vertigo. Author: Brian E Benson, MD; Chief Editor: Arlen D Meyers, MD, MBA
198. Rhinosinusitis
Diagnosis Clinical Findings
Acute Rhinosinusitis Two or more symptoms, included nasal obstruction or nasal
discharge as one of them and: facial pain/pressure or
hyposmia/anosmia.
• cheek pain: maxillary sinusitis
• retroorbital pain: ethmoidal sinusitis
• forehead or headache: frontalis sinusitis
Chronic sinusitis Subacute: 4 weeks-3 months. Chronic: > 3 months. Symptoms
are nonspesific, may only consist of 1 or 2 from these →
chronic headache, post nasal drip, chronic cough, throat
disturbace, ear disturbance, sinobronchitis.
Dentogen sinusitis The base of maxilla are processus alveolaris, where tooth roots
are located. Tooth infection can spread directly to maxillary
sinus. Symptoms: unilateral sinusitis with purulent nasal secrete
& foul breath.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


198. Rhinosinusitis
• Pemeriksaan penunjang rhinosinusitis:
– Foto polos: posisi waters, PA, lateral. Tapi hanya
menilai sinus-sinus besar (maksila & frontal). Kelainan
yang tampak: perselubungan, air fluid level,
penebalan mukosa.
– CT scan: mampu menilai anatomi hidung & sinus,
adanya penyakit dalam hidung & sinus, serta
perluasannya → gold standard. Karena mahal, hanya
dikerjakan utk penunjang sinusitis kronik yang tidak
membaik atau pra-operasi untuk panduan operator.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


199. Rhinitis

Allergic rhinitis management pocket reference 2008


199. Rhinitis
• Atopic sign:
– Allergic shiner
• Dark shadow below the eyes due to nasal obstruction
causing secondary vein stasis
– Allergic crease
• Horizontal line at the lower third dorsum nasi caused by
repeted rub
– Facies adenoid
• Mouth open with high arch palate → disrupted teeth growth
– Cobblestone appearance at posterior pharyngeal wall
– Geographic tongue

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


200. Aerotitis
• Aerotitis: barotrauma pada telinga tengah.

• Saat lepas landas, tekanan udara di luar membran timpani turun &
telinga tengah relatif berlebih → jika menelan tekanan tuba cepat
menurun sehingga tidak terlalu berat.

• Mukosa tuba yang membesar bersifat seperti katup satu arah →


masalah saat mendarat.

• Saat mendarat, tekanan atmosfer di luar membran timpani


meningkat cepat & tuba eustachius yang membengkak mencegah
aerasi telinga tengah → tekanan tinggi di luar & rendah di dalam →
membran timpani kolaps ke dalam, pembuluh darah dapat ruptur &
berdarah.

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.


200. Aerotitis
• Gejala: telinga terasa tersumbat & sangat nyeri.
• Tanda: membran timpani retraksi, dapat terlihat darah
atau cairan di telinga tengah.

• Terapi: dekongestan & modified Valsalva manuver.

• Kasus refrakter: rujuk THT.

• Pencegahan:
– Vasokonstriktor nasal sebelum terbang,
– Dekongestan oral,
– Mengunyah permen sebelum mendarat
Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.