Anda di halaman 1dari 755

PEMBAHASAN TO 3

Optimaprep

Batch II UKDI 2014

PEMBAHASAN TO 3 Optimaprep Batch II UKDI 2014 Office Address: Jakarta : JlPadang no 5, Manggarai,

Office Address:

Jakarta :

JlPadang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan (Belakang Pasar Raya Manggarai) Phone Numbers:

021 8317064

Pin BB 2A8E2925 WA 081380385694 Medan :

JlSetiabudi no 65G, Medan Phone numbers : 061 82292290 pin BB : 24BF7CD2

dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina dr. Cahyo, dr. Ayu, dr. Gregorius

ILMU PENYAKIT DALAM

Shok

adalah

1. Shok

sebuah

sindroma

klinis

yang

menyebabkan penurunan perfusi jaringan.

Ketidakseimbangan antara penghantaran oksigen dan pengangkutan bahan sisa metabolisme,

menyebabkan gangguan seluler.

Ketidakseimbangan antara penghantaran oksigen dan pengangkutan bahan sisa metabolisme, menyebabkan gangguan seluler.

Pemeriksaan Fisik Shok

Pemeriksaan Fisik Shok

Gejala Shok

Gejala Shok

2. Mountain Sickness

Ketika orang yang tinggal pada daerah dataran rendah

berpergian ke daerah

gunung, akan terjadi beberapa perubahan fisiologis tubuh yang meliputi:

Peningkatan tonus simpatis

Peningkatan kadar erythropoietin yang menyebabkan peningkatan

kadar Hb dan eritrosit

Peningkatan kadar 2,3-bpg yang meningkatkan penggunaan oksigen

yang menyebabkan peningkatan kadar Hb dan eritrosit • Peningkatan kadar 2,3-bpg yang meningkatkan penggunaan oksigen

‘Acute mountain sickness’ adalah sebuah sindrom

neurologis yang ditandai dengan gejala nonspesifik seperti sakit kepala, pusing, perasaan lemah dan mual.

Umumnya tanda ini ditemui 6-12 jam setelah naik ke pegunungan.

Selain hal diatas, peningkatan ektinggian juga dapat

menyebabkan ‘High altitude cerebral edema’ . High

altitude cerebral edema adalah encephalopathy yang menyebabkan gejala beru[a ataxia dan penurunan

kesadaran. Penyebab hal ini masih belum diketahui

secara pasti, namun pada pemeriksaan MRI memperlihatkan edema cerebral

Edema otak dapat disebabkan oleh vasodilatasi otak yang hipoxik dan perubahan permeabilitas sawar darah

otak.

3. Deep Vein Thrombosis

Trombosis vena diakibatkan oleh stasis aliran darah,

hiperkoagubilitas dan

kerusakan vaskular.

Pertemuan klinis:

Dapat asimptomatik

Tidak nyaman pada kaki

ketika berdiri atau berjalan

Pembengkakan kaki

Edema, kemerahan dan hangat pada perabaan

Komplikasi utama dari DVT

adalah emboli paru

Komplikasi kronik berupa insufisiensi vena yang menyebabkan pembengkakan kaki dan

ulcerasi kulit

adalah emboli paru • Komplikasi kronik berupa insufisiensi vena yang menyebabkan pembengkakan kaki dan ulcerasi kulit
• Lab: Salah satu pemeriksaan lab yang dapat ditemukan adalah  D dimer meningkat karena

Lab: Salah satu pemeriksaan lab yang dapat

ditemukan adalahD dimer meningkat karena pemecahan fibrin oleh plasmin Terapi:

Pemberian Low Molecular Weight Heparin (LMWH)

diikuti pemberian antikoagulan warfarin selama 3 bulan

Kompresi dengan elastic bandage selama minimal 2

tahun

4. Bronkiektasis

Sebuah proses peradangan dan destruksi bronkus, umumnya diawali oleh obstruksi dan proses infeksi.

Obstruksi bronkialpenurunan proses pembersihankumpulan sekresi pada distal dari obstruksi dan peradangan saluran udara.

Infeksi pada bronkusinflamasi, biasanya dengan

nekrosis, fibrosis dan akhirnya berujung dengan

pembesaran saluran udara

Bronkiektasis bergejala: batuk persisten, berdahak yang berbau, sputum berdarah, sesak nafas dan orthopneu

pada kasus yang parah. Pada beberapa kasus berupa

batuk darah.

Berbagai penyebab Bronkiektasis

Berbagai penyebab Bronkiektasis

Tata laksana dari bronkiektasis berupa eradikasi kuman

dengan target pathogen (umumnya Haemophilus

influenza dan P. Aeruginosa) pada keadaaan eksaserbasi akut dengan durasi minimal 7-10 hari.

Pilihan antibiotik pada setting rawat jalan dengan intensitas kasus ringan-sedang adalah amoxicilin, tetraciscline, cephalospsorin dan quinolon

Pada keadaan sedang-berat pilihan antibiotik berupa aminoglikosida, penisilin antipseudomonas, cephalosporin generasi baru atau fluoroquinolon

Kebersihan bronkial berupa hidrasi, pemberian

mukolitik dan fisioterapi dada.

5-6. GERD

GERD adalah sebuah keadaan kronik akibat asam

lambung yang naik ke esofagus.

GERD umumnya disebabkan perubahan barrier antara esofagus dengan lambung seperti relaksasi dari sphingter esofagus bawah.

Gejala klasik dari GERD:

Heartburn

Regurgitasi

Dysphagia

Pemeriksaan penunjang untk GERD meliputi:

Pemeriksaan gold standard untuk diagnosis GERD

adalah monitoring pH esofagus.

Esophagogastroduodenoscopy. Pada keadaan

dengan tanda alarm seperti disphagia, anemia,

penurunan berat badan, dapat dipertimbangkan endoskopi.

Penanganan

Perubahan pola hidup:

Penurunan berat badan

Olah raga moderate

Menghindari makanan seperti: kopi, alkohol, cokelat, dan makanan

berlemak.

Penanganan medikamentosa dari

GERD umumnya diberikan

PPI, atau H2 receptor

blocker

cokelat, dan makanan berlemak. • Penanganan medikamentosa dari GERD umumnya diberikan PPI, atau H2 receptor blocker

Barret’s Esophagus

GERD yang tidak ditangani dengan baik dapat berakhir

pada keadaan premalignan BARRET’s esophagus,

sebuah keadaan metaplasia intestinal, yang merupakan prekursor keganasan esofagus

Epitel pipih berlapis digantikan dengan epitel kolumner

dengan sel goblet.

Proses terjadinya Barret Esophagus dipercaya terkait dengan proses inflamasi kronik akibat GERD. Berbagai materi yang naik ke esofagus (Asam lambung, empedu,

materi pankreatik)peradangan dan kerusakan pada

sel esofagus bagian bawah

Diagnosis dari Barret esophagus memerlukan

esophagogastroduodenoscopy dan biopsi,

umumnya ditemukan sel kolumner dengan sel goblet.

Banyak ahli menyarankan skrining endoskopik pada pasien GERD.

Penanganan displastik high grade meliputi pembedahan untuk memindahkan esophagus,

reseksi perendoskopik atau ablasi.

7. Leukimia

Leukemia merupakan keganasan sistem hematopoetik.

1.

Berdasarkan asal selnya, leukemia terbagi ke dalam tipe

limfoid dan myeloid.

2.

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, leukemia terbagi atas leukemia akut dan leukemia kronik.

Perjalanan penyakit leukemia akut berlangsung cepat. Pasien dapat mengeluh mengalami pendarahan, anemia, infeksi, atau kondisi yang disebabkan infiltrasi sel ganas ke organ-organ.

Sedangkan leukemia kronik, umumnya pasien tidak

menunjukan gejala. Terkadang kecurigaan yang

mengarah ke leukemia kronik berasal dari pemeriksaan

kesehatan rutin yang menunjukan kelainan pada pemeriksaan darah tepi.

AML CML ALL CLL Usia >65 tahun 50 th (median) Bimodal: <10 tahun & lansia
AML
CML
ALL
CLL
Usia
>65 tahun
50 th (median)
Bimodal: <10
tahun & lansia
65 (median)
Sumsum
Blast >20%
Fase kronik: blast
Limfoblast
Sumsum:
tulang
<10%
>20%
normo-
Fase akselerasi:
hiperseluler, sel
blast 10-20%
B
Perifer:
limfositosis
>5000/mm 3
karakter
Granul (+), Auer rods
Kromosom
Granul (-)
Smudge cells
istik
(+),
myeloperoksidase
Philadelphia 
fusi Bcr-Abl
Kromosom
Philadelphia
(+)
Lain-lain
Limfadenopati
(80%),
hepatosplenom
egali (50%

Manifestasi Klinis

Akibat peningkatan produksi sel darah putih, maka

dapat terjadi penekanan produksi sel darah yang

lain, yang dapat berakibat sebagai gejala anemia, pendarahan, infeksi

Infiltarsi organ: massa abdomen, perut begah,

kejang, nyeri tulang, dll

Asimtomatik, terutama jenis kronis

Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai

hepatosplenomegali, anemia pucat, manifestasi

perdarahan.

Pemeriksaan Penunjang

Darah perifer: pansitopenia atau bisitopenia

dengan atau tanpa leukositosis

Apusan darah tepi: sel abnormal tergantung jenis leukemia

Biopsi sumsum tulang

Sitokimia Jenis leukemia

Sitogenetika prognosis

Jenis

Keterangan

Leukemia

Anemia, sering demam, perdarahan, ebrat badan turun, anoreksia.

Pembesaran KGB, splenomegali, hepatomegali.

Anemia, trombositopeni, blast (+). Pendesakan eritropoiesis, trombopoiesus, dan granulopoiesis

Anemia aplastik

pansitopenia pada darah tepi,serta tidak dijumpainya adanya keganasan pada sistem hematopoitik ataupun kanker metastatik yang menekan sumsum tulang.

Thalassemia

Pucat, gangguan tumbang, riwayat keluarga (+), splenomegali, hepatomegali, facies cooley, ikterik, anemia microcytic, anisocytosis, poikilocytosis, target cells, fragmented cells, normoblast +

Malaria

Berasal/riwayat ke daerah endemis. Demam diselingin periode bebas demam. Pucat, ikteris, lemah, mialgia athralgia. Syok, hipotensi. Apus darah tepi: plasmodium

8. Hepatoma

Hepatoma adalah keganasan hati dengan tipe yang

paling umum berupa hepatoselular carcinoma (HCC).

Biasanya disebabkan oleh infeksi kronis hepatitis viral (hepatitis B dan C), sirosis hati akibat alkohol.

Gejala pasien dengan HCC adalah kuning, ascites,

mudah luka akibat gangguan pembekuan darah,

penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri perut, dan mual

Faktor risiko: alkohol, hepatitis B, hepatitis C, aflatoxin,

sirosis hepatis

Patogenesis

Terjadinya HCC, layaknya kanker lainnya, diakibatkan oleh

replikasi yang tidak terkontrol dengan mekanisme

apoptosis yang benar.

Infeksi kronik hepatitis B dan Cmencetuskan reaksi inflamasi berulang dari sistem imun tubuh terhadap sel hatiProses kerusakan akan diikuti oleh proses perbaikankegagalan perbaikan yang mengarah ke karsinogenesis

Integrasi genom viral dengan sel yang terinfeksi juga berperan dalam terjadinya kanker tanpa melalui tahapan

sirosis.

Tumor Marker

Tumor Marker

9. Diare

Kolera adalah penyakit diare akut

yang dapat menyebabkan dehidrasi dan kematian dengan cepat. Gejala:

Setelah masa inkubasi 24-48 jam, kolera dimulai dengan diare berair yang banyak

Demam biasanya tidak ada, muntah, kram otot

Feses memiliki karakteristik berupa:

berair berwarna keabuan, keruh, dapat

dijumpai mukus namun umumnya

tidak berdarah.

Feses memiliki karakteristik berupa: berair berwarna keabuan, keruh, dapat dijumpai mukus namun umumnya tidak berdarah.

10. Penanganan Hematemesis

10. Penanganan Hematemesis

10. Hematemesis Melena

Hematemesis adalah muntah darah berwarna

kehitaman yang berasal dari perdarahan saluran cerna

bagian atas.

Melena adalah buang air besar berwarna kehitaman ter akibat perdarahan saluran cerna bagian atas.

Penyebab:

Varises (di Indonesia: 70-75%)

Non-varises:

ulkus peptikum (OAINS, infeksi H.pylori, stres)

gastropati hipertensi portal

Sindrom Mallory-Weiss, esofagitis, tumor, dan angiodisplasia

Sumber: Simadibrata M, Rani AA. 11 t h Asian Pasific Congress of Gastroenterology andThe 8

Sumber: Simadibrata M, Rani AA. 11 th Asian Pasific Congress of Gastroenterology andThe 8 th Asian Pasific Congress of Digestive Endoscopy. Hongkong, March 10-14, 2000: B64 (A212).

Sumber: Laine L. Gastrointestinal bleeding. In: Kasper DL, Braumwald E, Fauci AS, editors. Harrison’s Principles

Sumber: Laine L. Gastrointestinal bleeding. In: Kasper DL, Braumwald E, Fauci AS, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17 th Edition. USA: McGraw Hill; 2008.p.257-60.

Penanganan pasien

STATUS HEMODINAMIK

Penanganan pasien STATUS HEMODINAMIK

RESUSITASI

Hemodinamik tidak stabil infus cairan kristaloid

Transfusi darah:

1) Perdarahan dengan hemodinamik tidak stabil 2) Perdarahan baru atau masih berlangsung dan diperkirakan jumlahnya 1 liter atau lebih 3) Perdarahan baru atau masih berlangsung dengan Hb < 10 g% atau Ht < 30% 4) Terdapat tanda-tanda oksigenasi jaringan yang menurun

Kumbah lambung memperkirakan perdarahan aktif, membersihkan lambung, membuat perkiraan kasar jumlah perdarahan.

Ulkus peptikum

Ulkus peptikum adalah suatu penyakit dimana

terjadinya kerusakan integritas mukosa

lambung atau duodenum yang menyebabkan luka karena inflamasi aktif.

Etiologi

Infeksi H. pylori

Penggunaan Obat: Penggunaan NSAIDs adalah penyebab paling umum dari ulkus peptikum. Penggunaan NSAID serta kortikosteroid dapt mengganggu mekanisme pertahanan lambung.

Faktor gaya hidup: Merokok dapat meningkatkan

pengosongan lambung serta mengganggu produksi

bikarbonat pancreas. Selain itu konsumsi alcohol meningkatkan erosi lambung

Stres Fisiologis: Trauma mayor, luka bakar hebat

Faktor fisiologis

Genetik

Status hipersekresi: Gastrinoma, cystic fibrosis, dll.

Gejala

Berdasarkan anamnesis bisa didapatkan:

Nyeri epigastrium (pada ulkus duodenum 90 menit-3 jam setelah makan, nyeri yang diperbaiki oleh antacid atau makanan, nyeri muncul pada tengah malam). Pada ulkus gaster, nyeri diinisiasi oleh makanan

Mual/muntah

Dyspepsia menetap

Perut kembung

Riwayat pemakaian NSAIDs

Disfagia

Hematemesis/melena

Terapi

Terapi

11. Defibrilasi

11. Defibrilasi
• Regular, QRS lebar >0.12” VT • Monomorfik • Aktivitas listrik berantakan/Chaotic (no P wave,
• Regular, QRS lebar >0.12”
VT
• Monomorfik
• Aktivitas listrik berantakan/Chaotic
(no P wave, no PR segment, no QRS)
VF
• Tidak ada depolarisasi ventrikel
atau kontrasi
• Rhythm (+) tapi tanpa pulse (-)
PEA
• Rhythm dapat berupa Sinus Rhytm,
atrial, ventricular
• Tidak ada aktivitas listrik
asystole
Source: Jones SA. ECG Notes: Interpretation and Management Guide. 2005

12. Glomerulonefritis

Glomerulonefritis adalah peradangan dari

glomerulus ataupembuluh darah kecil pada

ginjal.

Gejala yang umumnya dialami pasien adalah

hematuria dan atau proteinuria.

Secara umum, GN dibagi menjadi nonproliferative dan

proliferative.

Nonproliferatif merupakan istilah yang digunakan dimana tidak terjadi perubahan sel (minimal change disease, focal segmental glomerulosclerosis, membranous glomerulonephritis, the basement membrane disease).

Umumnya bermanifestasi sebagai sindrom nefrotik.

Proliferatif, sesuai dengan namanya, pada kelainan ini terjadi perkembangan sel glomerulus dan bermanifestasi ebagai sindrom nefritik. Contoh IgA nephropathy, Post

infection glomerulonephritis, membaranoproliferative,

rapidly progressive glomerulonephritis.

12. Glomerulonefritis

12. Glomerulonefritis

13-14. Asma

13-14. Asma

15. Malaria

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan

oleh protozoa yang berasal dari gigitan

nyamuk anopheles yang telah terinfeksi. Angka kejadian malaria cukup tinggi di beberapa daerah di Indonesia. Anak-anak dan dewasa di daerah tropis memliki resiko yang sama untuk mendapatkan malaria. Gejalanya yang ringan berbanding terbalik dengan

komplikasi dari penyakit ini, bahkan yang

terburuk hingga terjadinya kematian.

Penyebab utama malaria adalah protozoa yang

berasal dari genus Plasmodium.

Menurut penelitian terbaru, saat ini ada 5 jenis plasmodium yang diketahui dapat menimbulkan manifestasi klinis malaria, yaitu Plasmodium

falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium

ovale, Plasmodium malariae, dan etiologi yang paling baru yaitu plasmodium knowlesi. Plasmodium ini sendiri menginfeksi manusia dengan gigitan nyamuk anopheles yang terlah

terinfeksi parasit.

Gejala Malaria

Gejala awal dari malaria umumnya tidak spesifik., seperti nyeri kepala, lemah, rasa tidak nyaman

pada perut, mual, muntah, dan nyeri otot.

Pada infeksi p. vivax dan p. ovale dapat muncul gejala klasik malaria yaitu demam, menggigil, dan keringat malam pada interval yang regular. Demam dapat mencapai 40 o C pada orang yang belum pernah terpapar plasmodium dan bisa diikuti dengan takikardia dan delirium.

Pada kasus malaria tanpa komplikasi sering kali

hanya ditemukan demam, malaise, anemia ringan

dan limpa serta hati yang teraba. Jaundice sering muncul pada penderita dewasa. Biasanya akan hilang dalam 1 3 minggu.

Gejala Malaria Berat

Malaria serebral : penurunan kesadaran, kejang

Asidosis:pH arteri <7.25

Anemia berat (Hb< 5mg/dl)

Gagal ginjal (produksi urin 24 jam <400 cc, serum kreatinin > 3.0 mg/dl)

Hipoglikemia (gula darah yang turun sampai dibawah 40 mg/dl)

Perdarahan/DIC

Blackwater fever (Sindrom dengan karakteristik

serangan akut, menggigil, demam, hemolisis

intravaskular, hemoglobinemi, hemoglobinuri, dan gagal ginjal)

Siklus hidup plasmodium

Siklus hidup plasmodium

Pengobatan Malaria

Pengobatan Malaria

Pengobatan Malaria

Pengobatan Malaria

16. Demam Berdarah

Dengue merupakan infeksi yang disebabkan

oleh virus dengue dan dibawa oleh nyamuk

sebagai vektor penyakitnya. Infeksi ini banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis,

terutama di negara-negara berkembang.

Insidensi dengue bertambah tiap tahunnya.

WHO mencatat sekitar 50-100 juta orang

terinfeksi dengue tiap tahunnya.

Infeksi dengue dicurigai apabila ditemukan demam tinggi (40° C) diikuti 2 dari gejala berikut : nyeri kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau timbul bintik merah. Gejala ini muncul selama 2-7 hari setelah 4-10 hari dari pertama gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue (DENV)

merupakan virus penyebab demam dengue. DENV merupakan virus RNA dari family Flaviviridae, genus Flavivirus. DENV mempunyai 4 serotipe yang

kesemuanya dapat menyebabkan demam dengue,

yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.

Infeksi Dengue

Infeksi Dengue
Infeksi Dengue

Fase-fase infeksi dengue.WHO

Fase-fase infeksi dengue.WHO

Terapi cairan pasien rawat inap ( tanpa shock)

Cek darah rutin (CBC & Hmt) sebelum pemberian cairan

Berikan cairan isotonik.

Berikan cairan intravena. Mulai dengan 5-7 ml/kg/jam dalam 1-2 jam,

kemudian 3-5 ml/kg/jam dalam 2-4 jam, kemudian 2-3 ml/kg/jam.

Nilai kembali keadaan klinis dan cek darah rutin lagi.

Apabila hematokrit tetap sama atau sedikit meningkat, lanjutkan pemberian cairan dengan kecepatan yang sama (2-3 ml/kg/jam) selama 2- 4 jam.

Apabila ada perburukan tanda vital dan peningkatan hematokrit dengan cepat, naikkan kecepatan pemberian cairan menjadi 5-10 ml/kg/jam selama 1-2 jam.

Kurangi pemberian cairan intravena secara bertahap bila kebocoran plasma telah berkurang yang ditandai dengan urin output yang adekuat (0.5 ml/kg/jam) atau hematokrit yang turun menuju nilai normal.

Pelacakan laboratorium lainnya (analisis gas darah, elektrolit, gula darah sewaktu) harus dilakukan apabila tidak ada perbaikan kondisi baik dalam kondisi shock maupun tidak shock.

17. Anemia

Pada soal ini dtemui seorang wanita lemas,

anemis dan hematomegali. Ditemukannya

plasmodium dari gambaran sel darah merah

anemia hemolitik

Malaria merupakan salah satu contoh anemia

hemolitik.

Pembagian Anemia

Jika MCV lebih rendah dari batas bawah: anemia

mikrositik

Jika MCV dalam batas normal: anemia normositik

Jika MCV lebih besar dari batas atas: anemia makrositik

Jika MCH lebih rendah dari batas bawah: anemia

hipokrom

Jika MCH dalam batas normal: anemia normkrom

Jika MCH lebih besar dari batas atas: anemia hiperkrom

Contoh Anemia

Anemia mikrositik hipokrom (anemia

defisiensi besi, thalasemia, anemia penyakit

kronis)

Anemia normositik normokrom (perdarahan

akut, anemia penyakit kronis, anemia akibat

gagal ginjal kronis)

Anemia makrositik (anemia defisiensi asam

folat dan B12)

18. Gangguan Trombosit

Aspirin merupakan obat golongan antiplatelet, yang menyebabkan gangguan agregasi trombosit.

Aspirin menghambat produksi tromboxane.

Tromboxane berfungsi

untuk berikatan dengan platelet lain untuk menambal dinding

pembuluh darah yang

rusak.

tromboxane. Tromboxane berfungsi untuk berikatan dengan platelet lain untuk menambal dinding pembuluh darah yang rusak.

Mekanisme hemostasis

Mekanisme hemostasis

Gangguan Perdarahan

Gangguan perdarahan dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya gangguan trombosit, faktor pemberkuan, dan gangguan vaskular.

Trombosit

DHF, akibat penurunan jumlah trombosit , sekuesterasi, penurunan produksi

ITP, akibat kelainan autoimun, terjadi destruksi platelet

akibat ikatan platelet-antibodi

Faktor koagulasi (hemofilia Akekurangan faktor VIII, dan Hemofilia Bkekurangan faktor IX)

Vaskular (Henoch-Schonlein purpura, vaskulitis sistemik

yang ditandai gejala purpura, arthritis dan nyeri abdomen)

19. Keracunan Organophosphate

Pestisida organophosphate menhambat enzim

esterase, khususnya acetylcholinesterase pada

sinaps.

Inhibisi acetylcholenesteraseakumulasi

acethylcoline dan akan terjadi overstimulasi

reseptor acetylcholine reseptor pada sinaps

sistem saraf autonom, sistem saraf pusat, dan neuromuscular junction.

Gejala: DUMBELSdiarrhea, urination, miosis,

bradycardia/bronchorea/bronchospasm, emesis,

lacrimation, salivation.

Klasifikasi keracunan organophosphate

Klasifikasi keracunan organophosphate
20. Kelainan Endokrin

20. Kelainan

Endokrin

20. Kelainan Endokrin

Hipertiroid: mudahmarah, tremor, palpitasi,

diare, massadileher.

Cushing: moon face, buffalo hump, stria, resistensiinsulin, osteoporosis,

imunokompromais, HT.

SindromConn(hiperaldosteron): HT, deplesiK, retensiNa, ↓ akt. renin

Feokromositoma: sakitkepala, HT, palpitasi, sudoris.

21. Dislipidemia

21. Dislipidemia
21. Dislipidemia

22. Polycythemia Vera

Polycythemia Vera (PV) merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan dan dapat tidak menimbulkan

gejala.

Ketika tanda dan gejala muncul, hal ini disebabkan karena darah yang lebih kental yang memperlambat aliran darah ke bagian tubuh dan mengurangi supply oksigen.

Tanda dan gejala PV meliputi:

Sakit kepala, pusing dan lemas

Sesak nafas

Perut tidak nyaman karena splenomegali

Penglihatan buram

Wajah kemerahan

Perdarahan dari gusi dan perdarahan berat dari luka kecil

Penurunan berat badan

Keringat berlebihan

Polycythemia Vera Complications

Pembekuand arah merupakan salah satu kompikasi yang paling serius dari PV. Pembekuan darah pada hati dan limpa dapat menyebabkan nyeri perut.

Aliran darah yang kental menekan aliran oksigen ke organ. Keluhan yang dapat juga timbul berupa nyeri dada dan gagal jantung. Kadar sel darah merah yang

tinggi berakhir pada ulkus lambung, gout dan batu

ginjal.

Pasien PV dapat berkembang menjadi myelofibrosis. Myelofibrosis digantikan oleh jaringan parut.

Pertumbuhan yang abnormal ini dapat berakhir pada

acute myelogenous leukemia (AML).

Kriteria PVSG (Polycythemia Vera Study Group)

A1 Raised red cell mass (RCM), male>36 ml/kg, female>32 ml/kg

A2 Normal arterial oxygen saturation>92%

A3 Splenomegaly

B1 Platelet count > 400 x 109/l

B2 White blood cell count (WBC) > 12 x 109/l

B3 Leucocyte alkaline phosphatase > 100

B4 Serum B12 > 900 pg/ml or unbound B12 binding capacity > 220 pg/ml

Diagnosis

A1 + A2 + A3 establishes PV

A1 + A2 + two of category B establishes PV

23. Sirosis Hepatis

Sirosis Hepatis adalah penyakit hati menahun

yang difus ditandai dengan adanya pembentukan

jaringan ikat disertai dengan dodul.

Sirosis dapat disebabkan oleh berbagai hal,

diantaranya infeksi, alkohol, NAFLD.

Fungsi hati yang terganggu karena sirosis adalah:

Sintesis protein plasma (albumin)

Sintesis faktor koagulasi

Detoksifikasi

• Edema pada pasien dengan sirosis diakibatkan karena penurunan produksi protein hati. Hipoalbumin  penurunan

Edema pada pasien dengan sirosis diakibatkan karena

penurunan produksi protein hati. Hipoalbuminpenurunan tekanan onkotik plasmapenurunan kembalinya cairan interstitialedema, ascites.

• NDF= Net Driving Force

NDF= Net Driving Force

24. Hipokalsemia ec Hipoparathyorid

24. Hipokalsemia ec Hipoparathyorid

Hipoparatiroid

Pada proses tiroidektomi maka kelenjar paratiroid dapat ikut terambil.

Terdapat 4 kelenjar paratiorid

yang terletak pada bagian

psoterior kelenjar tiroid

Kelenjar parathyorid bertanggungjawab pada menjada keseimbangan

kalsium:

Tulang: menstimulasi pelepasan kalsium, resoorpsi kalsium oleh osteoklas

Ginjal: menstimulasi absorpsi

kalsium, meningkatkan

absorbsi kalsium di usus

resoorpsi kalsium oleh osteoklas – Ginjal: menstimulasi absorpsi kalsium, meningkatkan absorbsi kalsium di usus

Gejala Hipokalsemia

Sistemik

Confusion

kelemahan

Neuromuskular

Paresthesia

Psikosis

Kejang

Chovstek sign

Depresi

Kardiak

Prolonged QT interval

Perubahan gelombang T

Okular

katarak

Dental

Hipoplasia enamel gigi

Pernafasan

Laryngospasm

Bronkospasm

stridor

Tatalaksana

Pada pasien dengan hipokalsemia ringan tanpa

gejala maka terapi berupa suplementasi kalsium

oral dengan anjuran sebanyak 1-3 g/hari.

Pada hipokalsemia berat dengan gejala

simptomatik, diperlukan terapi kalsium IV

sebanyak 0,5-2 mg/kg per jam. Terapi parenteral biasanya hanya diberikans elama beberapa hari dan selanjutnya diberikan terapi oral.

25. Abses Paru

Abses paru merupakan nekrosis jaringan paru

dengan pembentukan kavitas dengan ukuran

umumnya diatas 2 cm.

Kavitas mengandung debris nekrotik dan cairan akibat infeksi bakteriair fluid level

Berbagai penyebab abses paru adalah

pneumonia, emboli sptik, vasculitis.

Faktor risiko: kondisi yang menyebabkan penurunan refleks batuk/ aspirasi

Gejala: batuk, demam, keringat malam. Pada

pasien dengan gejala >3 mingguclubbing finger

Diagnosis dari abses paru:

Gejala klinis

Pemeriksaan lab (peningkatan LED, sputum, aspirasi transbronkial)

Pemeriksaan radiologis (contohnya pada xray dapat terlihat abses terlihat pada sisi unilateral melibatkan

lobus atas dan segmen apikal dari lobus bawah)

Penanganan dari abses adalah antibiotik spektrum luas, fisioterapi paru.

Jika tidak ada respon adekuat dapat dilakukan drainase perkutan atau lobektomi

26. Spirometri pada PPOK

• ♂,68tahun

Sesak nafas+batuk sejak 3minggu,dahak

kental kuning sampai kecoklatan. Riwayat batuk darah disangkal.

Perokok berat sejak usia 17 tahun

PF: hemithorax cembung dan perkusi hipersonor di kedualapangparu

ILMU BEDAH DAN ANASTESIOLOGI

27. Phimosis

Phimosis

Prepusium tidak dapat

ditarik kearah proksimal

Fisiologis pada neonatus

Komplikasi

Balanitis

Postitis

Balanopostitis

Treatment

Dexamethasone 0.1% (6 weeks) for spontaneous retraction

– Dexamethasone 0.1% (6 weeks) for spontaneous retraction Paraphimosis • Prepusium tidak dapat ditarik
– Dexamethasone 0.1% (6 weeks) for spontaneous retraction Paraphimosis • Prepusium tidak dapat ditarik

Paraphimosis

Prepusium tidak

dapat ditarik kembali

dan terjepit di sulkus

koronarius

Gawat darurat bila

Obstruksi vena superfisial edema dan nyeri Nekrosis glans penis

Treatment

Manual reposition

Dorsum incision

Hydrocele

Hydrocele

Hipospadia

Hipospadia kelainan kongenital dimana meatus

berlokasi pada bagian

ventral penis, proksimal dari posisi normal yaitu diujung glans.

Kasus sedang hingga berat memiliki karakteristik muara uretra yang lebih proximal pada penis, skrotum atau perineum. Bentuk yang lebih berat biasanya disertai kurvatura

penis (membengkok).

lebih proximal pada penis, skrotum atau perineum. Bentuk yang lebih berat biasanya disertai kurvatura penis (membengkok).

Epispadia adalah suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretraterdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka.Terdapat 3 jenis epispadia yaitu:

1. Lubang uretra terdapat di puncak kepala penis. 2. Seluruh uretra terbuka di sepanjang penis.

3.Seluruh uretra terbuka dan lubang kandung

kemih terdapat pada dinding perut

OUE berada di dorsum penis

Penis lebar, pendek dan melengkung keatas (dorsal chordee)

Penis menempel pada tulang pelvis

Tulang pelvis terpisah lebar

Classification:

the glans (glanular)

along the shaft of the penis (penile)

near the pubic bone (penopubic)

Classification: • the glans (glanular) • along the shaft of the penis (penile) • near the
Classification: • the glans (glanular) • along the shaft of the penis (penile) • near the

http://emedicine.medscape.com/article/

http://en.wikipedia.org/wiki/

Male Genital Disorders

Disorders

Testicular torsion

Hidrocele

Varicocoele

Hernia skrotalis

Chriptorchimus

Etiology

Intra/extra-vaginal

torsion

Congenital anomaly, blood blockage in the spermatic cord Inflammation or injury

Vein insufficiency

persistent patency of the processus vaginalis

Congenital anomaly

Clinical

Sudden onset of severe testicular pain followed by inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal upset with nausea and vomiting.

accumulation of fluids around a testicle, swollen testicle,Transillumination +

Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is

often described as feeling like a bag of worms

Mass in scrotum when coughing or crying

Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other

area, hidden or palpated as a mass in

inguinal.Complication:esticular neoplasm, subfertility, testicular torsion and inguinal hernia

HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8
HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

HERNIA SKROTALIS

HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

28. Urolithiasis

Batu pada saluran kemih

Tanda:

Nyeri pinggang

Irritative voiding symptom

mual

Hematuria mikroskopik

Kristal urin dapat ditemukan pada urinalisis: kalsium oksalat, asam urat, sistein

Diagnosis: IVP

optimized by optima

Kristal urin dapat ditemukan pada urinalisis: kalsium oksalat, asam urat, sistein • Diagnosis: IVP optimized by

Lokasi Batu Ginjal

Sign & Symptoms Flank pain, nyeri ini bersifat tumpul, ataupun rasa pegal pada pinggang dan punggung yang bervariasi dari ringan hingga berat.

Ureter

Colic renal, flank pain, upper abdominal pain,

proximal

nyeri di angulus kosto vertebralis (pinggang) yang akan menjalar sepanjang perjalanan ureter hingga testis

Ureter media

Colic renal, Nyeri akan dirasakan mulai dari pinggang dan menjalar hingga daerah perut bagian bawah Colic renal, Nyeri akan dirasakan mulai dari pinggang dan menjalar hingga lipat paha, kandung kemih, skrotum ataupun vulva.

Ureter distal

Vesica

urinaria

Sakit berhubungan dengan kencing, terutama pada akhir BAK. Lokasi sakit berada di pangkal penis atau suprapubik. Rasa sakit dijalarkan ke ujung penis, pada wanita ke klitoris

Hematuria pada akhir BAK

Aliran urin berhenti mendadak, dengan perubahan posisi BAK urin dapat keluar lagi

trias sistitis (disuria, frekuensi, dan mikrohematuri) muncul ketika terjadi statis

Anamnesis

Tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan penyulit/komplikasi yang telah terjadi. Penyakit urolitiasis dapat

memberikan gejala klinis yang

sangat bervariasi, dari yang tanpa keluhan sampai dengan keluhan yang sangat berat. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah Nyeri pinggang yang dapat bersifat kolik hilang timbul) ataupun bukan

kolik. Nyeri tersebut terasa mulai dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah kemaluan disertai nausea dan muntah.

Pemeriksaan Fisik

Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran ginjal

Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh

Genitalia eksterna : teraba batu di uretra

Colok dubur : teraba batu

pada buli-buli (palpasi bimanual)

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan sedimen urine untuk melihat adanya: leukosituria, hematuria, bakteriuria (nitrit), pH urin, dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu.

Pemeriksaan kultur urine: mungkin menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.

Pemeriksaan faal ginjal : ureum, BUN/creatinin, bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan foto IVP.

Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor penyebab timbulnya batu saluran kemih, antara lain kadar dari kalsium, oksalat, fosfat, maupun urat di

dalam darah maupun urine.

Pencitraan

Foto polos abdomen (BNO/ KUB)

Intravenous Pyelography (IVP)

USG

dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani

pemeriksaan IVP, yaitu ketika

pasien memiliki alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun (kreatinin >2 mg/dl)

Penatalaksanaan fase akut :

Kolik analgetik (NSAID merupakan

drug of choice)

Demam/sepsis drainage: perirenal abses, pyonephrosis

Retensi urin kateterisasi, cystostomi

Eliminasi batu:

Nefrolitiasis open nefrektomi, PCNL, ESWL

Ureterolitiasis medikamentosa (konservatif), ESWL, Ureteroskopi, Dormia

Vesicolithiasis litotripsi

Uretrolitiasis (batu di uretra)

ekstraksi langsung jika terlihat,

banyak minum, atau didorong ke vesica

Jenis Batu

Radio-Opasitas

Kalsium

Opak

MAP/Struvit

Semiopak

Urat/Sistin

Non opak

29 & 32 Kaidah Dasar Moral

Kaidah dasar moral terdiri atas:

1.

Autonomy: pasien dapat mengambil keputusan

sendiri & dijamin kerahasiaan medisnya dasar informed consent & kerahasiaan medis.

2.

Nonmaleficence (Do No Harm): tidak dengan sengaja melakukan tindakan yang malah

merugikan/invasif tanpa ada hasilnya dasar agar

tidak terjadi kelalaian medis.

3.

Beneficence: mengambil langkah yang bermanfaat, untuk mencegah atau menghilangkan sakit.

4.

Justice: perlakuan yang sama untuk kasus yang

sama.

Autonomy

Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang

otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.

Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia.

Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan

melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.

Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).

Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi.

Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting.

Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die.

Beneficience

Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar

memenuhi kewajiban.

Tindakan berbuat baik (beneficence)

General beneficence :

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

Specific beneficence :

menolong orang cacat,

menyelamatkan orang dari bahaya.

·

Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain

Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk)

Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik

Mengutamakan kepentingan pasien

·

·

·

terhadapnya” (apalagi ada yg hidup).

non-maleficence

Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti.

Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti :

Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien

Minimalisasi akibat buruk

Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :

Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu

·

·

·

yang penting

Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut

Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal).

Norma tunggal, isinya larangan.

Justice

Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan

kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh

dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

· Treat similar cases in a similar way = justice within morality.

· Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness)

yakni :

a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya)

b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).

Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk

berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik

30. Compartement Syndrom

Definisi: adalah gejala kompleks disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan jaringan dalam suatu kompartemen (yang dibatasi oleh suatu jaringan fibro osseus) dari anggota gerak yang mempengaruhi sirkulasi dan fungsi jaringan dalam kompartemen tersebut lebih dari 30 mmHg.

Kompartemen terdiri dari otot, arteri, vena dan saraf dalam suatu ruangan yang meliputi (dibatasi) oleh jaringan osseofacial.

Mekanisme kejadiannya

- meningkatnya volume dalam ruang anatomy

- berkurangnya ruangna utk volume

- kombinasi keduanya

7‘Ps’:

Pain (nyeri)

Paresthesia

Paralysis

Pallor (pucat)

Pulselessness (hilangnya pulsasi)

Poikiloterm (dingin)

puffiness (kulit yang tegang)

Diagnosis

a.

Nyeri: nyeri yang dalam, terus menerus, dan tidak terlokalisir (pain at rest) serta

regangan pasif dari otot-otot yang terkena akan menimbulkan nyeri yang hebat (pain on

passive movement).

Pemeriksaan ini, lebih-lebih bila disertai parestesia di sepanjang distribusi saraf sensoris yang melalui kompartemen, merupakan tanda kompartemen syndrome yang paling terpercaya.

b.

Parestesia, sesuai dengan dermatom saraf yang bersangkutan.

Dari dermatomnya kita dapat memperkirakan saraf yang lesi sekaligus mengetahui kompartemen mana yang mengalami proses patologis.

c.

Paresis/paralysis

d.

Hilangnya denyut nadi (pulselessness), terjadinya lambat kadang tidak terjadi sama

sekali

e.

Kulit di atas kompartemen tegang

f.

Pengukuran tekanan intra kompartemen

Sebenarnya secara klinis sindroma kompartemen sudah dapat ditegakkan, akan tetapi pada penderita-penderita yang tidak kooperatif atau tidak dapat dipercaya (uncooperative/unreliable patient), penderita yang tidak sadar (unresponsive patient) serta pada adanya defisit neurologis.

Secara umum, apabila tekanan intra kompartemen melebihi 30 mmHg penderita harus diobservasi ketat, fasciotomi dilakukan bila tekanan di atas 40 mmHg.

• Pain : sakit yang berlebihan setelah timbul cedera • Muncul sakit saat peregangan pasif

Pain : sakit yang berlebihan setelah timbul cedera

Muncul sakit saat peregangan pasif and nyeri saat perabaan

kompartment yang

terlibat

Th/ Fasciotomy

Willis &Rorabeck OCNA 1990
Willis &Rorabeck OCNA 1990
DISORDER ONSET ETIOLOGY CLINICAL feat Buerger dis Chronic Segmental vascular inflamation Intermitten

DISORDER

ONSET

ETIOLOGY

CLINICAL feat

Buerger dis

Chronic

Segmental vascular inflamation

Intermitten

claudicatio

Acute limb ischemia

Acute

Emboli, trombus

Pain, pallor, pulseless,parestesi, poikilotermi

DVT

Acute/chronic

Venous stasis

Pain and limb edema

Compartement

acute

Edema of the tissue, trauma

5P :Pain, pallor, parestesia, paralisis, pulseless

syndrom

Chronic limb ischemia

Chronic/acute

Atherosclerosis

Intermiten

claudicatio

#31 - THORAX POSISI PA

Pasien diposisikan erect

menghadap bucky stand (kaset vertikal), MSL // garis tengah kaset.

Kedua punggung tangannya diletakkan di atas panggul dan siku ditekan ke depan.

FFD 150 cm, CR horizontal, CP pada MSL setinggi CV

thoracal VI

Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh, berikan aba- aba :

tarik napas … …tahan !

………

Nafas biasa

!

KRITERIA GAMBAR :

Foto mencakup keseluruhan thorax, bagian atas: apeks paru-paru tidak terpotong Bagian bawah: kedua sinus costophrenicus tidak terpotong

Diafragma mencapai iga ke- 9 belakang

Kedua Os scapula terlempar ke arah lateral

C.V. Thoracalis tampak s/d ruas keempat Tampak bayangan bronchus Foto simetris Tampak marker R/ L

ke arah lateral C.V. Thoracalis tampak s/d ruas keempat Tampak bayangan bronchus Foto simetris Tampak marker

FOTO THORAX POSISI AP (dianjurkan trutama pada kasus trauma dimana pasien seminimal mungkin mobilisasinya)

Pasien diposisikan setengah duduk atau supine di atas meja pemeriksaan/brandcar.

Kedua lengan lurus disamping tubuh.

Kaset di belakang tubuh, MSL // grs

tengah kaset

FFD: 150 cm

CR tegak lurus kaset, CP pada MSL setinggi CV TH VI

Beri marker L / R

Eksposi pada saat pasien tahan nafas

setelah inspirasi penuh

CP pada MSL setinggi CV TH VI • Beri marker L / R • Eksposi pada

Posisi PA atau AP

Posisi PA atau AP PA 1 2 AP

PA

1

2

Posisi PA atau AP PA 1 2 AP

AP

• Fraktur adalah putusnya kontinuitas struktur tulang. fraktur dapat hanya berupa retakan hingga suatu patah
• Fraktur adalah putusnya kontinuitas struktur tulang. fraktur dapat hanya berupa retakan hingga suatu patah

Fraktur adalah putusnya kontinuitas struktur tulang. fraktur dapat hanya berupa retakan hingga suatu patah

tulang yang hingga merusak jaringan

lunak di sekitarnya.

Kontinuitas Tulang

Fraktur Komplit: terjadi apabila tulang patah menjadi 2 atau lebih fragmen yang terpisah satu sama lain. Berdasarkan garis frakturnya terbagi menjadi transversa, segmental, dan spiral.

Fraktur Inkomplit: terjadi apabila tulang tidak sepenuhnya patah karena periosteumnya masih utuh. Berdasar bentuknya dibagi menjadi fraktur greenstick di mana sering terjadi pada anak-anak karena tulang yang masih relatif lebih elastis atau jenis fraktur buckle/ torus di mana tulang terbengkok. Jenis fraktur inkomplit yang lain adalah fraktur kompresi.

33. Fraktur

Mekanisme/ Penyebab

Trauma: sebagian besar fraktur disebabkan oleh trauma di mana gaya

yang dikenakan tulang lebih besar dari

resistensi tulang.

Fatique/ Stres Repetitif: suatu trauma atau tekanan yang repetitif dalam jangka waktu yang lama karena pekerjaan berat (atlet, pedansa, militer, dsb) menyebabkan fraktur-fraktur mikroskopik yang menyebabkan proses

resorbsi menjadi lebih cepat dibanding

deposisinya. Akhirnya kekuatan tulang menjadi lemah dan terjadi fraktur.

Patologis: fraktur yang terjadi pada kekuatan yang pada kondisi normal tidak menyebabkan fraktur. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya penyakit/ kondisi tertentu yang menyebabkan tulang menjadi rapuh, pada osteoporosis, osteosarkoma, osteogenesis imperfekta, kista tulang, dsb

PEMERIKSAAN FRAKTUR

PEMERIKSAAN FRAKTUR
PEMERIKSAAN FRAKTUR

Montegia Fracture Dislocation

Montegia Fracture Dislocation optimized by optima

optimized by optima

Montegia Fracture Dislocation optimized by optima
Galliazi Fracture optimized by optima

Galliazi Fracture

Galliazi Fracture optimized by optima
Galliazi Fracture optimized by optima
Galliazi Fracture optimized by optima

optimized by optima

Greenstick Fractures

Greenstick Fractures optimized by optima
Greenstick Fractures optimized by optima

optimized by optima

Colles ’ Fracture optimized by optima

Colles’ Fracture

Colles ’ Fracture optimized by optima

optimized by optima

Colles’ Fracture

Fraktur tersering pada tulang yang

mengalami osteoporosis

Extra-Articular : 1 inch of distal Radius

Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan

tangan pada posisi dorsofleksi

Typical deformity : Dinner Fork

Deformity is : Impaction, dorsal displacement and angulation, radial displacement and angulation and avulsion of ulnar styloid process

http://www.learningradiology.com

Colles’ Fracture

Colles’ Fracture optimized by optima
optimized by optima
optimized by optima

Smith Fracture

Smith Fracture optimized by optima
Smith Fracture optimized by optima

optimized by optima

Smith Fracture

Hampir berlawanan dengan Colles’ fracture

Lebih jarang terjadi dibandingkan dengan

colles

Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan

tangan pada posisi palmar fleksi

Typical deformity : Garden Spade

Management is conservative : MUA and Above Elbow POP

http://www.learningradiology.com

Smith Fracture

Smith Fracture http://www.learningradiology.com

http://www.learningradiology.com

34. Management of Trauma Patient

34. Management of Trauma Patient

Primary Survey

Circulation (and Hemorrhage Control) penilaian fungsi sirkulasi dilakukan dengan menilai adanya perdarahan luar

yang nampak dan tanda-tanda syok seperti pucat, akral

dingin, waktu pengisian kapiler yang memanjang (lebih dari 2 detik), dan juga penurunan kesadaran.

Apabila terdapat tanda syok, segera lakukan kontrol perdarahan dengan penekanan langsung, dan segera

memasang 2 jalur intravena dengan ukuran kanula intravena

paling besar yang ditemukan (disarankan ukuran 14 G). Lakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan awal dan cross-match golongan darah kemudian segera berikan cairan infus kristaloid untuk mempertahankan cardiac output,

sebesar 2 liter (atau 20 ml/ kgBB pada anak-anak).

Hypovolemic Shock

Hypovolemic Shock http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1065003/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1065003/

35. Epididimorchitis

EPYDDI MITIS ORCHITIS
EPYDDI
MITIS
ORCHITIS

Pemeriksaan fisik : Phren Test +

SALURAN SPERMA

AKUT ATAU KRONIS, NYERI TEKAN TERBATAS

PADA TESTIS

MENDADAK, NYERI, TANDA2 INFEKSI.

http://emedicine.medscape.com/article/

http://en.wikipedia.org/wiki/

Male Genital Disorders

Disorders

Testicular torsion

Hidrocele

Varicocoele

Hernia skrotalis

Chriptorchimus

Etiology

Intra/extra-vaginal

torsion

Congenital anomaly, blood blockage in the spermatic cord Inflammation or injury

Vein insufficiency

persistent patency of the processus vaginalis

Congenital anomaly

Clinical

Sudden onset of severe testicular pain followed by inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal upset with nausea and vomiting.

accumulation of fluids around a testicle, swollen testicle,Transillumination +

Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is

often described as feeling like a bag of worms

Mass in scrotum when coughing or crying

Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other

area, hidden or palpated as a mass in

inguinal.Complication:esticular neoplasm, subfertility, testicular torsion and inguinal hernia

HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8
HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

HERNIA SKROTALIS

HERNIA SKROTALIS http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

#36 Hipospadia & Epispadia

- Hipospadia adalah kelainan bawaan lahir pada anak laki-

laki, yang dicirikan dengan letak abnormal lubang

kencing tidak di ujung kepala penis seperti layaknya tetapi berada lebih bawah/lebih pendek.

- Letak lubang kencing abnormal bermacam-macam; dapat terletak pada kepala penis namun tidak tepat di ujung (hipospadia tipe glanular), pada leher kepala penis (tipe koronal), pada batang penis (tipe penil), pada perbatasan pangkal penis dan kantung kemaluan (tipe penoskrotal), bahkan pada kantung kemaluan (tipe skrotal) atau

daerah antara kantung kemaluan dan anus (tipe

perineal).

Hipospadia

Hipospadia kelainan kongenital dimana meatus

berlokasi pada bagian

ventral penis, proksimal dari posisi normal yaitu diujung glans.

Kasus sedang hingga berat memiliki karakteristik muara uretra yang lebih proximal pada penis, skrotum atau perineum. Bentuk yang lebih berat biasanya disertai kurvatura

penis (membengkok).

lebih proximal pada penis, skrotum atau perineum. Bentuk yang lebih berat biasanya disertai kurvatura penis (membengkok).

Epispadia adalah suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretraterdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka.Terdapat 3 jenis epispadia yaitu:

1. Lubang uretra terdapat di puncak kepala penis. 2. Seluruh uretra terbuka di sepanjang penis.

3.Seluruh uretra terbuka dan lubang kandung

kemih terdapat pada dinding perut

OUE berada di dorsum penis

Penis lebar, pendek dan melengkung keatas (dorsal chordee)

Penis menempel pada tulang pelvis

Tulang pelvis terpisah lebar

Classification:

the glans (glanular)

along the shaft of the penis (penile)

near the pubic bone (penopubic)

Classification: • the glans (glanular) • along the shaft of the penis (penile) • near the
Classification: • the glans (glanular) • along the shaft of the penis (penile) • near the

Gejala Klinis

Hipospadia:

Jika berkemih, anak harus duduk.

Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis

Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depanpenis

Penis melengkung ke bawah

Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasarpenis

Semprotan air seni yang keluar abnormal Epispadia:

Lubang uretra terdapat di punggung penis

Lubang uretra terdapat di sepanjang punggung penis.

PENATALAKSANAAN

1.

Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia

dan epispadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing

arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan

normal.

2.

Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh

disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk

pembedahan nanti

37. Lipoma

Massa yang berasal dari sel adiposa,

tumbuh dengan lambat

Lokasi: Punggung atas, leher, bahu

terletak subkutan di daerah yang terdapat jaringan adiposa

Tipe tumor jinak jaringan lunak yang tersering

Menyerupai jaringan adiposa normal

Subtipe:angiolipoma, spindle cell lipoma

Massa yang berasal dari sel adiposa, tumbuh

dengan lambat,berbatas tegas, kenyal, mobile,

pseudokistik (pseudofluctuant)

Pseudokistik/PseudofluctuantKarena konsistensi sel lemak yang kenyal

Paget's test

Massa di fiksasi oleh ibu jari dan jari telunjuk, kemudian bagian tengah ditekanbila bagian tengah menonjol keatas, maka fluctuant atau kistikfluktuasi +

Diagnosis

Histologic

Lipoma

Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst

Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum (comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst

Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin. Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the cyst wall

Epidermal Cyst

A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin

• Most commonly superotemporal • Freely mobile under skin Dermoid Cyst • Occasionally superonasal •
• Most commonly superotemporal • Freely mobile under skin Dermoid Cyst • Occasionally superonasal •

Most commonly superotemporal

Freely mobile under skin

Dermoid Cyst

superotemporal • Freely mobile under skin Dermoid Cyst • Occasionally superonasal • Posterior margins are

Occasionally superonasal

Posterior margins are easily palpabl

• Freely mobile under skin Dermoid Cyst • Occasionally superonasal • Posterior margins are easily palpabl

Lipoma

38. Congenital Malformation

Atresia duodenum

Atresia jejunum

Hipertrofi

Atresia esofagus

pylorus

stenosis

Klinis : muntah bilious, minimal distensi Ro: gambaran klasik

-

-

Klinis : muntah bilious, distensi progresif

-

muntah

- neonates

non

- drooling

bilious

- orogastric tube gagal masuk

mkn hari

double bubble

 

mkn

- tersedak/batuk segera stlh makan

proyektil

Atresia esofagus
Atresia esofagus

Dengan dan tanpa fistel

Gangguan perkembangan jaringan pemisah antara trakea dan esofagus (minggu 4-6

kehamilan)

Ibu polihidramnion

Muntah, banyak liur, sianosis, batuk dan sesak

napas, pneumonia (karena regurgutasi), perut

kembung (jika udara melalui fistel masuk ke lambung), oliguri (tidak ada cairan masuk)

HPS
HPS

Hipertrofi otot pilorus pada lapisan sirkuler.

Manifestasi gejala baru terlihat jelas pada usia 3-6 minggu atau kurang dan jarang dijumpai setelah usia 3 bulan

Muntah periodik dan bertingkat (frekuensi dan

kekuatan), proyektil, tanpa mengandung zat empedu

Gelombang peristaltis lambung dapat terlihat Tampak lapar dan haus, gejala dehidrasi

Konstipasi dan oliguri

Teraba massa di perut kanan atas sebesar ujung jari telunjuk (2-3 cm), “olive”,berbatas tegas, konsistensi kenyal padat

Atresia duodenum
Atresia duodenum

vomiting within hours of birth

vomitus is most often bilious, it may

be nonbilious because 15% of defects occur proximal to the ampulla of Vater

Dehydration, weight loss, and

electrolyte imbalance Foto: double bubble sign

proximal to the ampulla of Vater • Dehydration, weight loss, and electrolyte imbalance • Foto: double
Hischprung disease
Hischprung disease

Megacolon congenital

Aganglion parasimpatik intramural colon (pleksus mienterik)

Kolon aganglionik tidak dapat mengembang, sempit, defekasi terganggu

Kolon proksimal yang normal akan melebar karena tinja yang

tertimbun (megacolon)

Aganglion rektum-sigmoid: hirschprung segmen pendek/klasik

Lebih dari sigmoid: hirschprung segmen panjang

Mekonium keluar terlambat (>24 jam pertama), konstipasi

kronis

Muntah hijau

Distensi abdomen

Criterion standard: full-thickness rectal biopsy

Atresia ani/imperforate anus
Atresia ani/imperforate anus

Newborns with imperforate anus are

usually identified upon the first physical examination.

Malformations in newborns that are

missed upon initial examination are often discovered within 24 hours when the newborn is observed to have distention and has failed to pass meconium and a more thorough examination is performed.

Disorder

Definition

Radiologic Findings

Hirschprung

Congenital

Barium Enema: a transition zone that

aganglionic

separates the small- to normal-diameter aganglionic bowel from the dilated bowel above

megacolon

Intussusception

A part of the intestine has

Intussusception found in air or barium enema

invaginated into

another section of intestine

Duodenal

Dueodenum

Plain X-ray: Double Bubble sign

atresia

Anal Atresia

birth defects in which the rectum is malformed

Knee chest position: to determined the distance of rectum stump to the skin (anal dimple)

http://emedicine.medscape.com/

Classifcation: • A low lesion Intussusception – colon remains close to the skin – stenosis

Classifcation:

A low lesion

Intussusception

Classifcation: • A low lesion Intussusception – colon remains close to the skin – stenosis (narrowing)

colon remains close to the skin

stenosis (narrowing) of the anus

anus may be missing altogether,

with the rectum ending in a blind pouch

A high lesion

the colon is higher up in the pelvis

fistula connecting the rectum and

the bladder, urethra or the vagina

A persistent cloaca

rectum, vagina and urinary tract are joined into a single channel

http://emedicine.medscape.com/

Learningradiology.om

Hirschprung

tract are joined into a single channel http://emedicine.medscape.com/ Learningradiology.om Hirschprung Duodenal atresia
tract are joined into a single channel http://emedicine.medscape.com/ Learningradiology.om Hirschprung Duodenal atresia

Duodenal atresia

Breast abcess • Ketika saluran lactiferous mengalami epidermalisasi, produksi keratin mungkin menyumbat saluran,

Breast abcess

Ketika saluran lactiferous mengalami

epidermalisasi, produksi keratin mungkin

menyumbat saluran, menjadi produksi abses

presentasi:

Edema mamae lokal, eritema, hangat, nyeri

Riwayat abses sebelumnya

Demam, muntah, keluar cairan dari

massa atau nipple

Boleh menyusui

Treatment:

Jadi terapi abses mamae insisi, pemberian antibiotic, dan lanjutkan pemberian ASI

Needle aspiration may be considered for abscesses less than 3 cm in size

39. Abses mamae

dan lanjutkan pemberian ASI • Needle aspiration may be considered for abscesses less than 3 cm

The Breast

Tumors

Onset

Feature

Breast cancer

30-menopause

Invasive Ductal Carcinoma , Paget’s disease (Ca Insitu), Peau d’orange , hard, Painful, not clear border, infiltrative, discharge/blood, Retraction of the nipple,Axillary mass

Fibroadenoma

< 30 years

They are solid, round, rubbery lumps that move freely in the breast when pushed upon and are usually painless.

mammae

Fibrocystic

20 to 40 years

lumps in both breasts that increase in size and tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally have nipple discharge

mammae

Mastitis

18-50 years

Localized breast erythema, warmth, and pain. May be lactating and may have recently missed feedings.fever.

Philloides

30-55 years

intralobular stroma . “leaf-like”configuration.Firm, smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the tumor may become reddish and warm to the touch. Grow fast.

Tumors

Duct Papilloma

45-50 years

occurs mainly in large ducts, present with a serous or bloody nipple discharge

40. Ruptur tendon achiles

Putus tendon achiles

Tendon Achilles berasal dari gabungan tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus, dan otot plantaris. Pada manusia, letaknya tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon tertebal dan terkuat pada tubuh manusia. Panjangnya sekitar 15 sentimeter, dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian

mengumpul dan melekat pada bagian

tengah-belakang tulang calcaneus

Pengertian ruptur tendon Robek, pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan fibrosa di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit.

Penyebab

Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes

Obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang dapat

meningkatkan risiko pecah

Cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga badminton, tenis, basket dan sepak bola

Trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis Tanda dan Gejala

Rasa sakit mendadak dan berat dapat dirasakan di bagian belakang pergelangan kaki atau betis

Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan kelemahan

Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm di atas tulang tumit

Tumit tidak dapat digerakan turun atau naik

Ruptur tendon achiles

Disorder

Feature

Achilles tendon rupture

loss of plantar flexion power in the foot; swelling of the calf

Ankle instability

“giving way” sensation which occurs while

walking or doing other activities

Gastrocnemius spasm

Spasm, pain of the gastrocnemius muscle

Achilles bursitis

Pain at the back of the heels Tenderness and swelling of the achilles

Achilles tendinitis

Gradual onset of achilles pain at the back of the ankle, just above the heel bone. Pain at the onset of exercise which fades as the exercise progresses.

41. Rabies

Menurut sumber Buku ajar ilmu bedah DeJong :

pengelolaan Rabies daerah gigitan harus dicuci segera

dengan air sabun atau larutan antiseptic lain dan kemudian dilakukan debrideman.tindakan ini efektif sampai 12 jam setelah kejadian luka. Pada gigitan yang tergolong berat dan kecurigaan kuat adanya infeksi rabies, dilakukan infiltrasi serum antrabies 5 ml disekitar luka. Setelah digigit hewan, selalu harus dipertimbangkan pemberian vaksinasi. Pemberiannya setiap hari selama beberapa minggu unuk mencegah

timbulnya penyakit fatal ini

Animal bites

Monkey bites

Primates Bacteroides sp, Fusobacterium sp, Eikenella corrodens,

Streptococcus sp, Enterococcus sp, Staphylococcus sp, Enterobacteriaceae,

Simian herpes virus

Treatment

Debridement

Irrigation:

Immediate therapy, provided prior to the administration of vaccine and immunoglobulin,

consists of the thorough cleaning of all bite and scratch wounds with soap and water, 2%

benzalkonium chloride, and/or a virucidal agent (ie, povidone-iodine solution).

Wound cleaning alone has been shown to reduce the likelihood of rabies transmission in animal studies. Provide wound care as needed; tetanus prophylaxis is usually indicated, as are measures to prevent bacterial infection. When appropriate, wound closure should be avoided

Primary closure

Antibiotics

Tetanus toxoid

Rabies vaccine

#42 Manajemen Fraktur Tertutup

#42 Manajemen Fraktur Tertutup • Reduksi (Reduce) – Reduksi Tertutup ( Closed Reduction ) – efektif

Reduksi (Reduce)

Reduksi Tertutup (Closed Reduction) efektif jika periosteoum dan otot

masih utuh, dilakukan di bawah

anestesi dan dalam kondisi otot rileks. Meliputi traksi bagian distal, reposisi/ disimpaksi fragmen, dan merapikan pada tiap bagian/

reduksi.

Reduksi Terbuka (Open Reduction) dilakukan apabila reduksi tertutup gagal, kesulitan mengontrol fragmen, atau jika melibatkan sendi besar yang sangat mobile. Reduksi terbuka dilakukan secara operatif dan menjadi langkah awal fiksasi internal

Mekanisme Reduksi Tertutup

(a)retraksi; (b) disimpaksi; (c) reduksi -Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition-

Manajemen Fraktur Tertutup

Hold/ Imobilisasi

Traksi Kontinyu (Continuous Traction) traksi dilakukan dengan bantuan gravitasi, traksi kulit, maupun traksi skeletal. Kelemahan traksi kontinyu adalah waktu hospitalisasi pasien yang lama.

Cast Splintage merupakan metode yang sering digunakan, yakni gips dengan plaster of paris. Kelemahan cast splintage adalah gerakan pasien yang sangat terbatas. Prinsip pemasangan gips adalah melewati 2 sendi, tidak terlalu ketat sehingga tidak mengganggu vaskularisasi dan inervasi

syaraf.

Functional Bracing merupakan metode pemasangan gips dengan plaster of paris maupun materi yang lebih ringan dengan melakukan bracing pada tulang yang mengalami fraktur sehingga mobilitas sendi yang sehat dapat tetap terjaga.

Fiksasi Internal (Internal Fixation) dilakukan secara operatif dengan

memasang pen.

Fiksasi Eksternal (External Fixation) dilakukan secara operatif dengan memasang wire dan baut-baut yang difiksasi di luar ekstremitas.

Metode Aplikasi Gips/ Cast Splintage
Metode Aplikasi Gips/ Cast Splintage

-Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition-

Manajemen Fraktur Tertutup

Exercise

Optimalisasi fungsi motorik bagian yang

mengalami cedera dan bagian lainnya secara bertahap

Latih beban dan pergerakan bertahap dapat

mempercepat deposisi tulang (hukum Wolff)

Hal yang harus dilakukan secara bertahap adalah mencegah edema, elevasi, latihan pasif, latihan aktif, gerakan dengan alat bantu, dan latihan aktivitas fungsional.

Manajemen Fraktur Terbuka

Profilaksis Antibiotik

Antibiotik profilaksis harus diberikan segera untuk mencegah infeksi karena kontaminasi maupun sebagai persiapan operatif dalam 24 jam

 

pertama fraktur terbuka. Pemilihan antibiotik profilaksis tergantung pada

grading fraktur terbuka menurut Gustilo.

Debridemen

Prinsip debridemen adalah membersihkan luka, baik di kulit maupun diantara fragmen tulang, dari kotoran, benda asing, dan juga jaringan yang sudah mengalami kematian permanen.

Stabilisasi

 

Stabilisasi fraktur terbuka dilakukan secara reduksi terbuka (open reduction). Sementara untuk fiksasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal maupun internal tergantung pada kondisi fraktur.

Menutup Luka

Luka kecil pada fraktur derajat I dan II dapat segera dijahit setelah dilakukan debridement dan stabilisasi. Luka yang lebih parah dan sulit dapat ditutup sementara atau permanen dengan skin graft. Apabila dilakukan penutupan sementara, harus dilakukan evaluasi 48-72 jam berikutnya.

Antibiotik Profilaksis Untuk Fraktur

Terbuka (Menurut Grading Gustilo)

Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition
Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition

43. Congenital Malformation

Disorder

Definition

Radiologic Findings

Hirschprung

Congenital

Barium Enema: a transition zone that

aganglionic

separates the small- to normal-diameter aganglionic bowel from the dilated bowel above

megacolon

Intussusception

A part of the intestine has

Intussusception found in air or barium enema

invaginated into

another section of intestine

Duodenal

Dueodenum

Plain X-ray: Double Bubble sign

atresia

Anal Atresia

birth defects in which the rectum is malformed

Knee chest position: to determined the distance of rectum stump to the skin (anal dimple)

http://emedicine.medscape.com/

Classifcation:

A low lesion

Intussusception

Classifcation: • A low lesion Intussusception – colon remains close to the skin – stenosis (narrowing)

colon remains close to the skin

stenosis (narrowing) of the anus

anus may be missing altogether,

with the rectum ending in a blind pouch

A high lesion

the colon is higher up in the pelvis

fistula connecting the rectum and

the bladder, urethra or the vagina

A persistent cloaca

rectum, vagina and urinary tract are joined into a single channel

http://emedicine.medscape.com/

Learningradiology.om

Hirschprung

tract are joined into a single channel http://emedicine.medscape.com/ Learningradiology.om Hirschprung Duodenal atresia
tract are joined into a single channel http://emedicine.medscape.com/ Learningradiology.om Hirschprung Duodenal atresia

Duodenal atresia

Tatalaksana

Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang

disebut diseksi posterosagital

atau plastik anorektal posterosagital.

Pada tindak bedah plastik

anorektal posterolateral yang mulai dari os koksigi, kolostomi

merupakan perlindungan

sementara. Ada dua tempat kolostomi yang dianjurkan diapakai pad aneonatus dan bayi, yaitu transversekolostomi dan sigmoidostomi. Bentuk kolostomi yang mudah dan aman adalah

stoma laras ganda.

Pada kasus ini sebenernya penanganan utama adalah rujuk

ke dokter bedah, tatalaksana

malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindak bedah yang disebut diseksi posterosagital atau plastic anorektal posterosagital, namun karena pasien mengalami kondisi gawat, maka kita melakukan rehidrasi, NGT Dekompresan, kateter untuk monitoring dan Antibiotik broad spectrum preop sebelum dikonsulkan ke dr bedah anak

• Udara yang terkumpul di rongga pleura tidak dapat keluar lagi • Tekanan pada mediastinum,paru

Udara yang terkumpul di rongga pleura tidak

dapat keluar lagi

Tekanan pada mediastinum,paru dan pembuluh darah besar meningkat

Menyebabkan paru pada bagian yang terkena kolaps

http://www.trauma.org/index.php/main/article/199/

#44Tension

Pneumothoraks

Treatment

ABC’s dengan c-spine control sesuai indikasi

Needle Decompression

pada bagian yang

terkena

Oksigen aliran tinggibag valve mask

Atasi syok karena kehilangan darah

Memberitahukan RS dan unit trauma secepatnya

http://emedicine.medscape.com/article/424547

Needle Decompression

Tandai sela iga 2-3 garis midklavikularis

Asepsis-antisepsis

Tusukkan jarum ( 14G atau lebih besar) diatas iga ke 3 (saraf, arteri, vena berjalan di sepanjang

bag.bawah iga)

Lepaskan Stylette dan dengarkan adanya suara udara yang keluar

Place Flutter valve over catheter

Reassess for Improvement

http://emedicine.medscape.com/article/2047916

Chest Trauma

Disorders

Hemothorax

Simple/Closed

Pneumothorax

Open Pneumothorx

Etiology

lacerated blood vessel in thorax

Blunt trauma spontaneous

Penetrating chest wound

Clinical

Anxiety/Restlessness,Tachypnea,Signs of Shock,Tachycardia Frothy, Bloody Sputum Diminished Breath Sounds on Affected Side,Flat Neck Veins, Dullness to percussion

Opening in lung tissue that leaks air into chest cavity, Chest Pain,Dyspnea,Tachypnea Decreased Breath Sounds on Affected Side,hipersonor

Opening in chest cavity that allows air to enter pleural cavity, Dyspnea,Sudden sharp pain,Subcutaneous Emphysema

Decreased lung sounds on affected side

Red Bubbles on Exhalation from wound (Sucking chest wound)

Disorders

Etiology

Clinical

Tension Penumothorax

 

Anxiety/Restlessness, Severe ,Poor Color Dyspnea,Tachypnea,Tachycardia

Absent Breath sounds on affected side, Accessory

Muscle Use, JV Distention Narrowing Pulse Pressures,Hypotension Tracheal Deviation, hypersonor

Flail Chest

Trauma

a segment of the rib cage breaks becomes detached from the rest of the chest wall, 3 ribs broken in 2 or more places,painful when breathing,Paradoxical breathing

Pleural Efusion

congestive heart failure, pneumonia, malignancy, or pulmonary embolism infection

Dyspnea, cough, chest pain, which results from pleural irritation, Dullness to percussion, decreased tactile fremitus, and asymmetrical chest expansion, with diminished or delayed expansion on the side of the effusion, decreased tactile fremitus, and asymmetrical chest expansion, diminished or delayed expansion on the side of the effusion

Pneumonia

Infection,

Fever,dysnea,cough,rales in ausultation

inflammation

45 Radiologi Trauma Series

CT - SCAN

Periksa adanya fraktur tulang tengkorak (garis sutura, fraktur depresi tengkorak, fraktur terbuka)

Nilai kesimetrisan girus dan sulkus bila asimetris pertimbangkan: hematoma

subdural akut, hematoma

epidural akut

Hemisfer serebri dan serebeli ada hematoma/ kontusio?

Nilai sistem ventrikel

Tentukan ada pergeseran atau tidak

Nilai struktur struktur

maksilofasial

Cari adanya 4 C (contrast, clot, cellularity/ tumor, calcification)

Pemeriksaan CT-Scan kepala

tida boleh menunda tindakan resusitasi atau rujukan pasien ke pusat trauma.

Foto Thorax

Menilai dengan cepat adanya patologi yang dicurigai

Menilai parenkim untuk mencari bukti adanya laserasi. Laserasi tampak sebagai hematoma dan

bervariasi tergantung pada

beratnya trauma yang terjadi dan tampak sebagai area konsolidasi.

Trakea dan bronkus

Ruang pleura dan parenkim

paru

Mediastinum

Diafragma

Tulang thorax

Jaringan lunak

Tube dan line (ett, ctt, ngt)

Trauma Tumpul Abdomen

 

DPL

US*

CT

Time

Rapid

Rapid

Delayed

Transport

No

No

Required

Sensitivity

High

High?

High

Specificity

Low

Intermediate

High

Eligibility

All

All patients

Hemodynami-

patients

cally normal

© ACS

*operator dependent

185

46 GCS

 

Buka spontan

4

Respon terhadap Suara

3

Eyes

Respon terhadap nyeri

2

(x)

1

 

Mematuhi perintah

6

Rangsang nyeri lokalisasi

 

nyeri

5

Motoric

Rangsang nyeri normal fleksi

4

Abnormal fleksi

3

Ekstensi

2

(x)

1

 

Bicara nyambung

5

Bingung

4

Verbal

Tidak jelas

3

Mengerang

2

(x)

1

BERDASARKAN GCS:

1. GCS 13-15 : Cedera kepala ringan CT scan dilakukan

bl ada lucid interval/ riw.

kesdran menurun. evaluasi

kesadaran, pupil, gejala fokal serebral + tanda-tanda vital.

2. GCS 9-12 : Cedera kepala sedang prks dan atasi gangg. Nafas, pernafasan dan

sirkulasi, pem. Ksdran, pupil, td. Fokal serebral, leher,

cedera orga lain, CT scan

kepala, obsevasi.