Anda di halaman 1dari 177

ILMU PENYAKIT KULIT DAN

KELAMIN
201. Pengobatan Nematoda
202. Trichuriasis
• Manusia merupakan hospes
definitif dari cacing cambuk
(whipworm)
• Cara infeksi  menelan telur
yang berasal dari tanah yang
terkontaminasi
• Pencegahan infeksi :
– Mencuci bersih sayuran
– Menggunakan jamban yang
bersih dan memenuhi syarat
• Manifestasi Klinis
– Infeksi ringan  asimtomatik, gejala klinis tidak khas
– Infeksi berat  disentri (mirip amebiasis), prolapsus rekti,
apendisits, anemia berat, mual dan muntah
– Gejala – gejala ini timbul akibat trauma pada dinding usus
dan dampak toksiknya
• Diagnosis :
– Menemukan telur cacing dalam tinja (lebih mudah dilihat
dalam sediaan basah)
• Penatalaksanaan
– albendazole (400 mg/hari) atau mebendazole (2 x 100
mg/hari), selama 1–3 hari untuk infeksi ringan dan 3–7 hari
untuk infeksi berat
– Mebendazole tidak boleh diberikan pada ibu hamil
203. Gonorrhea
• Gonore merupakan suatu penyakit menular seksual
yang dapat mengenai sistem urogenital, anorektral,
faringeal dan konjungtiva
• Pria : ureteritis, proctitis  komplikasi menjadi
periureteritis dan epididimitis
• Wanita : servisitis  komplikasi berupa endometritis,
salpingitis, abses tuboovarian, bartholinitis, peritonitis,
and perihepatitis
• Pada kasus yang berat dapat terjadi infeksi gonorea
diseminata yang ditandai dengan :
– Lesi kulit (berupa papul  bullae, petekiae, nekrosis)
– Tenosinovitis
– Arthritis (terutama di wrist, ankle, sendi tangan dan kaki)
– Meningitis atau endokarditis
• N. Gonorrhea merupakan bakteri gram negatif, non motile,
tidak berspora, tumbuh dalam bentuk monokokus atau
diplokokus
• Masa inkubasi 3 – 5 hari  nyeri dan panas saat BAK, nanah
dari OUE atau fluor albus pada wanita
• Pemeriksaan Fisik :
– Pria : OUE merah, edema, ektropion
– Wanita : porsio merah, edema, dan sekret mukopurulen
(+)
• 10 – 30 % infeksi gonorea disertai
dengan infeksi Chlamydia  pengobatan
gonorea disertai dengan pengobatan
Chlamydia
• DOC chlamydia :
•Azitromycin 1 g single dose PO
• Doksisiklin 2 x 100 mg  7 hari PO
204. Tinea Kruris
• Merupakan infeksi dermatofita pada daerah
kruris dan sekitarnya
• Etiologi : E. Floccosum, T.rubrum,
T.mentagrophytes
• Manifestasi klinis :
– Lokasi : regio inguinalis bilateral, simetris. Meluas ke
perineum, sekitar anus, intergluteal hingga gluteus.
Dapat meluas ke suprapubis dan abdomen bagian
bawah
– Makula eritematosa berbatas tegas, tepi lebih aktif,
terdiri dari papul atau pustul . Pada kondisi kronik
terjadi hiperpigmentasi dengan skuama di atasnya
Diagnosis dan penatalaksanaan
• Diagnosis :
– pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10%  hifa, spora dan
miselium
• Diagnosis Banding :
– Eritrasma : batas lesi tegas, jarang disertai infeksi, fluoresensi
merah bata dengan lampu Wood
– Kandidiasis : lesi basah, batas jelas dengan lesi satelit (Hen and
Chicken)
– Psoriasis intertriginosa : eritema dengan skuama tebal berlapis –
lapis
• Terapi :
– Topikal : salep antimikosis
– Sistemik : griseofulvin 500 – 1000 mg selama 2-3 minggu,
ketokonazol 100 mg/hari selama 1 bulan
205-207. Herpes zooster
• Penyakit yang disebabkan virus varicella zoster yang menyerang kulit dan
mukosa, merupakan reaktivasi setelah infeksi primer (varicella)
• Predileksi: daerah torakal, unilateral, bersifat dermatomal
• Gejala:
– Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) & lokal (myalgia, gatal,
pegal)
– Timbul eritema yang kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan
dasar eritematosa & edema, kemudian menjadi pustul dan krusta
– Pembesaran KGB regional
• Herpes zoster oftalmikus: infeksi n.V-1
• Sindrom Ramsay-Hunt: gangguan n. fasialis & otikus
• Komplikasi: neuralgia pascaherpetik: nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan lebih dari sebulan setelah sembuh
• Pengobatan: acyclovir (pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imun)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Pathogenesis Manifestasi Klinis
• Setelah infeksi primer Varicella, Prodromal: nyeri kepala, fotofobia,
VZV menjadi infeksi laten pada malaise, demam, sensasi kulit yang
abnormal dan nyeri
dorsal root ganglia dan ganglia
n.kranialis Rash:
• Beberapa tahun setelahnya, • Unilateral, melibatkan 1-3 dermatom
terjadi reaktivasi VZV dan yang berdekatan
menyebar ke kulit melalui saraf • Yang sering terkenaThorakal, servikal,
ophthalmika
perifer, menyebabkan rash
vesikular yang nyeri, unilateral • Awalnya makulopapular eritematosa
dan sesuai dengan distribusi • Berubah menjadi vesikel dalam
beberapa hari, kemudian menjadi krusta
dermatom
• Resolusi penuh dalam 2-4 minggu
• Resiko mengalami herpes
• Terkadang rash tidak muncul (zoster sine
zooster : 30% herpete)
Penatalaksanaan
• Antivirus Oral  mempercepat penyembuhan lesi dan menguangi neuralgia postherpetik
– Acyclovir 5 x 800 mg selama 7 – 10 hari
– Famciclovir (prodrug of penciclovir) efektivitas sama dengan acyclovir, dosis 3 x 500
mg selama 7 hari
– Valacyclovir (prodrug acyclovir) penyembuhan luka dan nyeri jauh lebih baik
dibanding asiklovir
– Dosis valacyclovir  3 x 1 g PO selama 5–7 hari
– Pada pasien imunokompromise berat  acyclovir IV, dosis 10 mg/kg BB 3 x/hari selama
7 hari
• Pemberian terbaik adalah dalam waktu 72 jam setelah onset rash
• Namun, terapi Antiviral harus tetap diberikan walaupun onset rash sudah lebih dari 72
jam, terutama bila masih muncul vesikel baru atau terdapat komplikasi.
• Nyeri :
– Prednison 60 mg/ hari PO hari 1-7, 30 mg/hari PO pada hari 8 – 14, 15 mg/hari pada
hari 15 – 21
– Dosis ini untuk pasien usia tua yang cukup sehat dengan derajat nyeri ringan – sedang
– Pasien osteoporosis, DM, HT, glukosuria  KI glukokortikoid
– Pemberian harus berbarengan dengan obat antivirus
208-209. Skabies
• Infeksi yang disebabkan oleh Sarcoptes Scabiei 
tungau betina membuat terowongan ke dalam kulit
dan meletakkan telurnya
• Penyebaran melalui kontak dengan orang yang
terinfeksi
• Tanda dan Gejala
– Papul, pustul dan terowongan bawah kulit yang gatal
– Terletak pada daerah dengan kulit yang tipis seperti di sela
– sela jari, axilla, fossa antecubiti, lipatan gluteus, genitalia,
puting dan
– Gatal pada malam hari
– Gatal dan kemerahan akibat reaksi hipersensitifitas tipe IV
terhadap tungau dan fesesnya
– Gejala – gejala muncul 2 – 4 minggu setelah infeksi
Diagnosis

-Diagnosis ditegakkan dengan


melakukan pemeriksaan pada lesi dan
terowongan kulit
- Kerokan kulit digunakan untuk
menemukan tungau, telur, atau feses
skabies
-Penggunaan tinta atau larutan
tetrasiklin pada kulit  terowongan
zigzag atau berbentuk S
Drugs Possible Adverse Effect
Benzyl benzoat Irritation, anesthesia & hypoesthesia, ocular irritation, rash,
20-25% Pregnancy category B
Cara pemakaian: Setiap malam selama 3 hari
Efektif untuk semua stadium
Permethrine 5% Mild & transient burning & stinging, pruritus, pregnancy
category B, tidak dianjurkan pada bayi < 2bln
Kurang toksik dibandingkan gameksan
Cara pemakaian: Aplikasi 1x, dihapus setelah 10 jam, bila
belum sembuh, diulangi setelah seminggu
Gameksan 1% Efektif utk semua stadium, jarang memberi iritasi. KI: Ibu
hamil, anak <6 thntoksis thdp SSP.
Cara pemakaian: satu kali, diulang 1 mgg setelahnya bila
belum sembuh
Krotamiton 10% Allergic contact dermatitis/primary irritation, pregnancy
category C
Memiliki efek antiskabies dan antigatal.
Jauhkan dari mata, mulut, dan uretra
Sulfur Precipitate Erythema, desquamation, irritation, pregnancy category C
4%-20% Tidak efektif terhadap stadium telur
Dapat dipakai oleh bayi < 2bln
Cara pemakaian: tidak boleh digunakan kurang dari 3 hari
210. Infeksi Enterobius Vermicularis
(Oxyuris vermicularis, Cacing Kremi)

• Penyakit : Enterobiasis, oksiuriasis


• Manusia adalah satu-satunya hospes
• Parasit kosmopolit, lebih banyak ditemukan
didaerah dingin
• Habitat cacing dewasa adalah di rongga
sekum, usus besar, dan di usus halus yang
berdekatan dengan rongga sekum
• Cacing betina akan bermigrasi ke daerah
perianal untuk bertelur
• Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada
satu sisi (asimetris). Dinding telur bening,
agak lebih tebal dari dinding telur cacing
tambang
• Infeksi terjadi bila menelan telur matang atau
bila larva dari telur yang menetas bermigrasi
kembali ke usus besar
Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. FKUI
Diagnosis E. Vermicularis
Diagnosis

1. Pemeriksaan tinja
Untuk menemukan cacing dewasa atau
menemukan telur cacing secara
mikroskopis  hanya 5% penderita
yang memiliki telur dalam tinjanya
2. Cellophane tape test
cara diagnosis yang cepat, dilakukan
langsung pada saat bangun tidur di pagi
hari selama 3 hari berturut turut.
sensitivitasnya mencapai 90%

Kucik et.al. Common intestinal Parasite. Am Fam Physician


2004:69:1161-8
211.Pitiriasis Versicolor
Dermatofita Non-dermatofita (pitiarisis
versicolor)
• Lesi merupakan suatu
reaksi inflamasi  • Etiologi Malassezia sp
kemerahan, bersisik pada • Bentuk makuler:
tepi lesi dan terkadang
terbentuk blister – Berupa bercak-bercak
• Central clearing  yang agak lebar, dengan
menjadi pembeda dengan skuama halus diatasnya
lesi lain seperti lesi dan tepi tidak meninggi
papulosquamous • Bentuk folikuler :
• (psoriasis atau lichen
planus) – Seperti tetesan air,
sering timbul disekitar
rambut
Hainer B. Dermatophyte Infection. Am Fam Physician 2003;67:101-8
Pitiriasis Versikolor
• Penyakit jamur superfisial yang kronik
disebabkan Malassezia furfur
• Gejala:
– Bercak berskuama halus yang berwarna
putih sampai coklat hitam, meliputi badan,
ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher,
muka, kulit kepala yang berambut
– Asimtomatik – gatal ringan, berfluoresensi
• Pemeriksaan: lampu Wood (kuning
keemasan), KOH 20% (hifa pendek, spora
bulat: meatball & spaghetti appearance)
• Obat: selenium sulfida, azole, sulfur
presipitat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
212. Tinea Kapitis
• Infeksi dermatofita yang menyerang kulit kepala dan rambut (T.
Rubrum, T. Metagrophytes dan M.Gypseum)

• Manifestasi Klinis:
– Gray patch ringworm : papul miliar di sekitar muara rambut, rambut
mudah putus meninggalkan alopesia berwarna coklat
– Black dot ring worm : rambut putus tepat pada permukaan kulit,
warna rambut sekitar menjadi kusam
– Kerion : di kulit kepala tampak bisul-bisul kecil dengan skuamasi akibat
radang lokal, rambut putus dan mudah dicabut

• Penatalaksanaan
– Griseofulvin 10 - 25 mg/kgBB, dewasa 500 mg/ hari
– Ketokonazol 5 -10 mg/kgBB selama 7 – 14 hari
213. Penatalaksanaan Wuchereria Brancofti

• Diethylcarbamazine (DEC)  6 mg/kg /hari


selama 12 hari. Memiliki efek makro dan
mikrofilaricidal, menjadi DOC untuk filariasis
limfatik aktif (mikrofilaremia, positif antigen,
ditemukan cacing dewasa dari ultrasound)
• Albendazole 400 mg dua kali sehari selama 21
hari
• Kombinasi albendazole 400 mg SD dengan DEC (6
mg/kg) atau ivermectin 200 g/kg  eradikasi
limfatik filariasis di Afrika
214. Psoriatic Arthritis
• Hampir 30% penderita psoriasis mengalami psoriatic
arthritis (PsA)
• Tipe PsA :
– Simetris  menyerupai RA namun lebih ringan
– Asimetris  dapat mengenai sendi manapun, gambaran
seperti :sausage digits”
– Distal interphalangeal predominant (DIP)  biasanya
mengenai jari tangan dan kaki
– Spondylitis,
– Arthritis mutilans  bentuk paling berat dan dapat
menimbulkan deformitas , mengenai sendi – sendi kecil di
tangan dan kaki
215.Neurodermatitis
• Merupakan penyakit kulit kronik, lesi yang timbul
akibat garukan dan gosokan berulang, dengan
gambaran likenifikasi berbatas tegas
• Etiologi :
– Belum diketahui secara pasti diduga akibat gigitan
serangga, pakaian ketat, psoriasis
– Wanita lebih sering terkena dibanding pria
• Lokasi
– Punggung, leher dan ekstrimitas, terutama pergelangan
tangan dan kaki, bokong
• Efloresensi : papul milier, likenifikasi dan
hiperpigmentasi, skuama dan kadang ekskoriasi

Siregar, R.S. Saripati Penyakit Kulit. 2002. Jakarta, EGC.


• Diagnosis Banding
– Psoriasis : eritema berbatas tegas,
skuama putih mengkilat, tebal
berlapis lapis
– Tinea korporis : ditemukan elemen
jamur, terdapat lesi dengan tepi aktif
dan central healing

• Terapi :
– Umum : mencegah garuka dan
gosokan, hindari sengatan serangga
– Khusus : salep KS dan preparat ter
(kompres jika lesi basah)
– Injeksi triamcinolone acetonide (5–10
mg/mL) intralesi
216. Moluskum
Kontagiosum
• Penyakit yang disebabkan oleh poxvirus berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum
• Transmisi: kontak langsung, autoinokulasi
• Gejala:
– Masa inkubasi: satu hingga beberapa minggu
– Papul miliar, kadang-kadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin,
berbentuk kubah yang ditengahnya terdapat lekukan, jika dipijat keluar
massa yang berwarna putih seperti nasi
– Predileksi: muka, badan, ekstremitas, pubis (hanya pada dewasa)
• Pemeriksaan:
– Sebagian besar berdasarkan klinis
– Pemeriksaan mikroskopik badan moluskum (Henderson-Paterson bodies) –
menggunakan pewarnaan Giemsa atau gram
– Diagnosis pasti: biopsi kulit menggunakan pewarnaan HE

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Bhatia AC. Molluscum contagiosum. http://emedicine.medscape.com/article/910570-overview
Tatalaksana
• Molluskum kontagiosum merupakan penyakit yang
dapat sembuh sendiri bila mengenai individu sehat
– Dapat menghilang dengan sendirinya dalam 2 sampai 4
bulan
– Terapi dapat menurunkan autoinokulasi dan penularan
terhadap orang lain dengan kontak dekat(close contact)
dan memperbaiki penampakan klinis
• Tata laksana:
– mengeluarkan massa
• manual, elektrokauterisasi, bedah beku
• Topikal: podofilin, tretinoin, catharidin, asam salisilat

http://emedicine.medscape.com/article/910570-treatment#aw2aab6b6b2
217. Infeksi cacing tambang
218. Impetigo
Impetigo Krustosa Impetigo bulosa
• Penyebab: streptococcus B • Penyebab: Staphylococcus
hemolyticus aureus
• Tempat predileksi di muka, • Tempat predileksi di ketiak,
sekitar hidung dan mulut. dada, punggung.
• Gejala Klinis: eritema dan • Gejala klinis: eritema, bula,
vesikel yang cepat dan bula hipopion.
memecah, krusta tebal • Pengobatan: vesikel baru
kekuningan seperti madu bisa dipecahkan lalu
• Pengobatan: krusta diberikan salep antibiotik
dilepaskan dan diberi salep atau cairan antiseptik.
antibiotik

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
219. Sindrom Stevens-JohnsonTEN
• Sindrom yang mengenai kulit, selaputlendir di orifisium,
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan
sampai berat
• Penyebab: alergi obat (>50%), infeksi, vaksinasi, graft vs
host disease, neoplasma, radiasi
• Reaksi hipersensitivitas tipe 2
• Trias kelainan
– Kelainan kulit: eritema, vesikel, bula
– Kelainan mukosa orifisium: vesikel/bula/pseudomembran pada
mukosa mulut (100%), genitalia (50%). Berkembang menjadi
krusta kehitaman
– Kelainan mata: konjungtivitis
• Komplikasi: bronkopneumonia, gangguan elektrolit, syok
• Pengobatan: KS sistemik-oral, antibiotik, suportif

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
TEN Definitions
• SJS/TEN:
– Lesions: Small blisters on dusky purpuric macules or atypical
targets
– Mucosal involvement common
– Prodrome of fever and malaise common
• Stevens-Johnson Syndrome:
– Rare areas of confluence.
– Detachment </= 10% BSA
• Toxic Epidermal Necrolysis:
– Confluent erythema is common.
– Outer layer of epidermis separates easily from basal layer with
lateral pressure.
– Large sheet of necrotic epidermis often present.
– >30% BSA involved.
220. Herpes Simpleks
• Infeksi akut yang disebabkan oleh HSV yang ditandai dengan adalnya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa di
daerah dekat mukokutan
• Predileksi HSV tipe I di daerah pinggang ke atas, predileksi HSV tipe II di
daerah pinggang ke bawah terutama genital
• Gejala klinis:
– Infeksi primer: vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa, berisi cairan jernih yang kemudian seropurulen, dapat menjadi
krusta dan kadang mengalami ulserasi dangkal, tidak terdapat indurasi, sering
disertai gejala sistemik
– Fase laten: tidak ditemukan gejala klinis, HSV dapat ditemukan dalam keadaan
tidak aktif di ganglion dorsalis
– Infeksi rekuren: gejala lebih ringan dari infeksi primer, akibat HSV yang
sebelumnya tidak aktif mencpai kulit dan menimbulkan gejala klinis
• Pemeriksaan: ditemukan pada sel dan dibiak, antibodi, percobaan Tzanck
(ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear)
• Pengobatan: idoksuridin topikal (pada lesi dini), asiklovir
• Komplikasi: meningkatkan morbiditas/mortalitas pada janin dengan ibu
herpes genitalis
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Indication Acyclovir Valacyclovir Famciclovir
First episode 400 mg tid OR 1000 mg bid 250 mg tid (for
200 mg 5 (for 7-10 d) 7-10 d)
times/d (for 7-
10 d)
Recurrent 400 mg tid (for 500 mg bid (for 1000 mg bid
3-5 d) OR 800 3 d) (for 1 d)
mg PO tid (for Tzank Smear
2 d)
Daily 400 mg bid 500 mg qd 250 mg bid
suppression or
1000 mg qd
(if >9
recurrences/y)

http://emedicine.medscape
.com/article/274874-
overview#aw2aab6b7
• HSV-1; orofacial disease
• HSV-2; genital disease
• Vesikel herpetik muncul pada genitalia eksterna, labia mayora, vestibulum, dan introitus
vagina.
• Pada area yang lembab, vesikel akan ruptur, meninggalkan ulkus yang sangat nyeri
• Terapi herpes simplex virus (HSV) specific antiviral treatment.
HSV-1 Cold sore

HSV-2 Genital Herpes


ILMU KESEHATAN ANAK
221. Sistem Skoring Tuberkulosis
• Cut-of f point: ≥
6
• Adanya
skrofuloderma
langsung
didiagnosis TB
• Rontgen bukan
alat diagnosis
utama
• Reaksi cepat
BCG harus
dilakukan
skoring
221. Tuberkulosis
Kriteria Keterangan di soal Nilai
Kontak TB Kontak TB BTA (+) 3
Uji tuberkulin 12 mm 3
Demam > 2 Sering ?
minggu
Batuk > 3 Sering ?
minggu
Kelainan sendi + -
tulang
Foto rontgen -
Pembesaran -
KGB
Status gizi -
JUMLAH Minimal pada kasus ini 6  POSITIF
terinfeksi TB dan bermanifestasi secara
klinis
222. Penyakit jantung kongenital
• Asianotik: L-R shunt
– ASD: fixed splitting S2, murmur
ejeksi sistolik
– VSD: murmur pansistolik
– PDA: continuous murmur
• Sianotik: R-L shunt
– TOF: AS, VSD, overriding aorta,
RVH. Boot like heart pada
radiografi, cyanotic spell/ tet’s
spell (serangan sianosis yg
dikompensasi dengan
berjongkok lutut ditekuk
– TGA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002103/
222. Tetralogi Fallot
223. Derajat dehidrasi diare
Penanganan
• Rehidrasi: dapat diberikan oral/parenteral tergantung
status dehidrasinya
– Tanpa dehidrasi TERAPI A
• 5 cc/kg ORS setiap habis muntah
• 10cc/kg ORS setiap habis mencret
– Dehidrasi ringan sedang TERAPI B
• 75 cc/kg ORS dalam 3 jam
• Bila per oral tidak memungkinkan, dapat diberikan parenteral
tergantung kebutuhan maintenance cairan + defisit cairan
– Dehidrasi berat (parenteral) TERAPI C
Pemberian Pertama Pemberian Berikut
Golongan Umur 30 ml/kgbb selama : 70 ml/kgbb selama :
Bayi ( < umur 12 bulan ) 1 jam 5 jam
Anak ( 12 bln – 5 tahun ) 30 menit 2.5 jam
Pilar penanganan diare (cont’d)
• Terapi nutrisi
– Pemberian ASI harus dilanjutkan
– Beri makan segera setelah anak mampu makan
– Jangan memuasakan anak
• Terapi medikamentosa
– Antibiotik, bila terdapat indikasi (eg. kolera, shigellosis, amebiasis,
giardiasis)
– Probiotik
– Zinc
• Diberikan dalam dosis 20 mg untuk anak di atas 6 bulan, dan 10 mg untuk bayi
berusia kurang dari 6 bulan selama 10 hari
– Obat-obatan anti diare terbukti tidak bermanfaat
• Edukasi pada orang tua
– Tanda-tanda dehidrasi, cara membuat ORS, kapan dibawa ke RS, dsb.
224. Disentri
• Sebagian besar kasus disebabkan oleh Shigella
• Peningkatan jumlah leukosit >10 per lapang pandang
mendukung etiologi bakteri invasif
• Bakteri (Disentri basiler)
– Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering
– Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
– Salmonella
– Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
• Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba
hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


Gejala klinis
Disentri basiler Disentri amoeba
• Diare mendadak yang disertai • Diare disertai darah dan lendir
darah dan lendir dalam tinja. dalam tinja.
• Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), • Frekuensi BAB umumnya lebih
kelihatan toksik. sedikit daripada disentri
• Muntah-muntah. basiler (≤10x/hari)
• Anoreksia. • Sakit perut hebat (kolik)
• Sakit kram di perut dan sakit di
anus saat BAB. • Gejala konstitusional biasanya
tidak ada (panas hanya
• Kadang-kadang disertai ditemukan pada 1/3 kasus).
dengan gejala menyerupai
ensefalitis dan sepsis (kejang,
sakit kepala, letargi, kaku
kuduk, halusinasi).
PENGOBATAN
• Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis.
• Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) : Kotrimoksazol
(trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari)
dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari.
• Alternatif yang dapat diberikan : Ampisilin 100mg/kgBB/hari/4 dosis,
Cefixime 8mg/kgBB/hari/2 dosis, Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, Asam
nalidiksat 55mg/kgBB/hari/4 dosis.
• Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit
dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll.
• Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi :
– Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica tinja.
– Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut
(masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif untuk disentri
basiler.
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
225. Pemberian Makan Awal Gizi
Buruk
• Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah
osmolaritas serta rendah laktosa
• Berikal secara oral atau melalui NGT, hindari pemberian
parenteral
• Formula awal F-75 diberikan sesuai standar WHO dan
sesuai jadwal makan yang dibuat untuk mencukupi
kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi
• Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan
bahwa jumlah F-75 yang dibutuhkan harus dipenuhi
• Apabila pemberian makan oral tidak mencapai kebutuhan
minimal, berikan sisanya melalui NGT
• Pada fase transisi, secara bertahap ganti F-75 dengan F-
100
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
Pemberian Makanan
• Fase stabilisasi (Inisiasi)
– Energi: 80-100 kal/kg/hari
– Protein: 1-1,5 gram/kg/hari
– Cairan: 130 ml/kg/hari atau 100 ml/kg/hari (edema)
• Fase transisi
– Energi: 100-150 kal/kg/hari
– Protein: 2-3 gram/kg/hari
• Fase rehabilitasi
– Energi: 150-220 kal/kg/hari
– Protein: 3-4 gram/kg/hari
10 Langkah Utama Penatalaksaan Gizi Buruk
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi
Tindaklanjut H 1-2 H 3-7 H 8-14 mg
3-6 mg 7-26
1. Atasi/cegah hipoglikemia

2. Atasi/cegah hipotermia

3. Atasi/cegah dehidrasi

4. Perbaiki gangguan elektrolit

5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. nutrien mikro tanpa Fe + Fe

7. Makanan stab & trans

8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi

10. Siapkan tindak lanjut


226-227. Sindrom Nefrotik
• Spektrum gejala yang ditandai dengan protein loss
yang masif dari ginjal
• Gejala klasik: proteinuria, edema, hiperlipidemia,
hipoalbuminemia
• Gejala lain : hipertensi, hematuria, dan penurunan
fungsi ginjal
• Terapi: kortikosteroid (prednison, prednisolon)

Lane JC. Pediatric nephrotic syndrome.


http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview
Diagnosis
• Anamnesis : Bengkak di kedua kelopak mata,
perut, tungkai atau seluruh tubuh. Penurunan
jumlah urin. Urin dapat keruh/kemerahan
• Pemeriksaan Fisik : Edema palpebra, tungkai,
ascites, edema skrotum/labia. Terkadang
hipertensi
• Pemeriksaan Penunjang : Proteinuria masif ≥ 2+,
rasio albumin kreatinin urin > 2, dapat disertai
hematuria. Hipoalbumin (<2.5g/dl),
hiperkolesterolemia (>200 mg/dl). Penurunan
fungsi ginjal dapat ditemukan.
Nefrotik vs Nefritik
Tatalaksana

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI


228. Skoring Tuberkulosis pada Anak
Kriteria Keterangan di soal Nilai
Kontak TB Kontak TB BTA (+) 3
Uji tuberkulin
Demam > 2 1 bulan 1
minggu
Batuk > 3 1 bulan 1
minggu
Kelainan sendi + -
tulang
Foto rontgen -
Pembesaran -
KGB
Status gizi BB/TB 80% 1
JUMLAH 6
229. Developmental milestones
• Duduk dengan kepala tegak  6 bulan
• Berjalan tanpa bantuan  13-14 bulan
• Menunjuk benda yang diinginkan  11-12
bulan
230. Anak Tersedak
Cricothyroidotomy/ Cricothyrotomy
• Jalan napas buatan dengan
insisi pada membran krikoid
• Diindikasikan pada situasi
dimana usaha lain untuk
mempertahankan jalan
napas gagal
– Trauma yg meliputi daerah
oral, faringeal, atau nasal
– Spasme otot wajah atau
laringospasme
– Stenosis jalan napas atas
– Gigi yg terkatup
– Obstruksi jalan napas: edema
orofaringeal (anafilaksis),
obstruksi benda asing

POSISI KRIKOTIROTOMI
Krikotirotomi VS Trakeostomi
• Cricotirotomi:
– biasa dilakukan pada kasus
emergensi/ darurat krn lbh
mudah utk dilakukan
– Insisi pada membran krikoid
• Trakeostomi:
– untuk jangka waktu lama
– Insisi di antara cincin trakea

POSISI TRAKEOSTOMI
231. Tatalaksana Sesak
• Sesak napas + sianosis + takipnea + stridor
inspiratoar  curiga adanya gagal napas
• Tatalaksana  prinsip airway, breathing,
circulation
– Pastikan jalan napas paten (tidak ada obstruksi yg
menghalangi udara masuk)
– Memberikan oksigen: nasal kanul, RM, NRM
– Sirkulasi: cek TD, nadi, dan CRT: pemasangan IV
line
232 & 261. Asma
• Batuk dan atau mengi • Obstruksi jalan napas
berulang dengan karena:
karakteristik episodik, – Bronkokonstriksi akut
nokturnal (variabilitas), – Edema mukosa bronkial
reversibel (dapat – Produksi mukus kronik
sembuh sendiri dengan – Remodelling jalan napas
atau tanpa pengobatan) • Obstruksi saluran napas
ditambah atopi bawah tersebut
• Gejala utama pada menghasilkan wheezing
 high-pitched
anak: batuk dan/atau continuous sounds with a
wheezing dominant frequency of
400 Hz or more.
Supriyatno B. Diagnosis dan tata laksana asma anak.
Derajat Penyakit Asma
Parameter klinis,
kebutuhan obat, Asma episodik jarang Asma episodik sering Asma persisten
dan faal paru
Frekuensi serangan < 1x /bulan > 1x /bulan Sering
Hampir sepanjang tahun
Lama serangan < 1 minggu 1 minggu tidak ada remisi

Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan malam

Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu


Pemeriksaan fisis
Normal Mungkin terganggu Tidak pernah normal
di luar serangan
Obat pengendali Tidak perlu Perlu, steroid Perlu, steroid
Uji Faal paru PEF/FEV1 <60%
PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan) Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
>15% < 30% < 50%
(bila ada serangan)
233. Penyebab ikterik ec. Anemia Hemolisis
pada neonatus
Penyakit Keterangan
Inkompatibilitas ABO Adanya aglutinin ibu yang bersirkulasi di darah anak
terhadap aglutinogen ABO anak. Ibu dengan golongan darah
O, memproduksi antibodi IgG Anti-A/B terhadap gol. darah
anak (golongan darah A atau B). Biasanya terjadi pada anak
pertama
Inkompatibilitas Rh Rh+ berarti mempunyai antigen D, sedangkan Rh– berarti
tidak memiliki antigen D. Hemolisis terjadi karena adanya
antibodi ibu dgn Rh- yang bersirkulasi di darah anak
terhadap antigen Rh anak (berati anak Rh+). Jarang pada
anak pertama krn antibodi ibu terhadap antigen D anak yg
berhasil melewati plasenta belum banyak.
Ketika ibu Rh - hamil anak kedua dgn rhesus anak Rh +
antibodi yang terbentuk sudah cukup untuk menimbulkan
anemia hemolisis
234. Meningitis & ensefalitis
• Meningitis
– Meningitis bakterial: E. coli, Streptococcus grup B (bulan
pertama kehidupan); Streptococcus pneumoniae, H. influenzae,
N. meningitidis (anak lebih besar)
– Meningitis viral: paling sering pada anak usia < 1 tahun.
Penyebab tersering: enterovirus
– Meningitis fungal: pada imunokompromais
– Gejala klasik: demam, sakit kepala hebat, tanda rangsang
meningeal (+). Gejala tambahan: iritabel, letargi, muntah,
fotofobia, gejala neurologis fokal, kejang
• Ensefalitis: inflamasi pada parenkim otak
– Penyebab tersering: ensefalitis viral
– Gejala: demam, sakit kepala, defisit neurologis (penurunan
kesadaran, gejala fokal, kejang)
Hom J. Pediatric meningitis and encephalitis.
http://emedicine.medscape.com/article/802760-overview
Normal CSF Values in Children
White cell count Biochemistry
Neutrophils Lymphocytes Protein Glucose
(x 106 /L) (x 106/L) (g/L) (CSF:blood ratio)
Normal 0 ≤5 < 0.4 ≥ 0.6 (or ≥ 2.5
(>1 month of mmol/L)
age)
Normal 0 < 20 <1.0 ≥ 0.6 (or ≥ 2.5
neonate mmol/L)
(<1 month of
age)

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/CSF_Interpretation/
Diagnosis diferensial infeksi SSP
Klinis/Lab. Ensefalitis Meningitis Mening.TBC Mening.viru Ensefalopati
bakterial s
Onset Akut Akut Kronik Akut Akut/kronik

Demam < 7 hari < 7 hari > 7 hari < 7 hari </> 7 hari/(-)

Kejang Umum/fo Umum Umum Umum Umum


kal
Penurunan Somnolen Apatis Variasi, apatis CM - Apatis Apatis -
kesadaran - sopor - sopor Somnolen
Paresis +/- +/- ++/- - -
Perbaikan Lambat Cepat Lambat Cepat Cepat/Lambat
kesadaran
Etiologi Tidak dpt ++/- TBC/riw. - Ekstra SSP
diidentifik kontak
asi
Terapi Simpt/ant Antibiotik Tuberkulostatik Simpt. Atasi penyakit
iviral primer
Cairan serebrospinal pada infeksi SSP
Bact.men Viral men TBC men Encephali Encephal
tis opathy
Tekanan  Normal/   

Makros. Keruh Jernih Xantokrom Jernih Jernih

Lekosit > 1000 10-1000 <1000 10-500 < 10

PMN (%) +++ + + + +

MN (%) + +++ +++ ++ -

Protein  (>1.0 Normal/  (>0.4 Normal Normal


g/l) (>0.4 g/l) g/l)
Glukosa  (<2.5 Normal  (<2.5 Normal Normal
mmol/l) (>2.5 mmol/l)
mmol/l)
Gram Positif Negatif Negatif Negatif Negatif
/Rapid T.
235. Demam
Tifoid

– Step ladder fever in


the first week, then
persist
– Abdominal pain
– Diarrhea/constipation
– Headache
– Coated tongue
– Hepatosplenomegaly
– Rose spot
– Bradikardia relatif

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed.


Pemeriksaan Penunjang
• Darah tepi perifer
– Anemia, terjadi karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe, atau perdarahan usus
– Leukopenia, Limfositosis reaktif, Trombositopenia (pada kasus berat)
• Pemeriksaan serologis
– Serologi widal : kenaikan titer S.typhi O 1:160 atau kenaikan 4x titer fase akut ke
konvalesens, banyak positif-negatif palsu. Bahkan kadar baku normal di berbagai tempat
endemis cenderung berbeda-beda dan perlu penyesuaian
– Kadar IgG-IgM (Typhi-dot)
– Tubex Test
• Pemeriksaan biakan Salmonella
– Merupakan gold standard
– Biakan darah pada 1-2 minggu perjalanan penyakit. Biakan sumsum tulang masih positif
hingga munggu ke-4
• Pemeriksaan radiologis
– Foto toraks (kecurigaan pneumonia)
– Foto polos abdomen (kecurigaan perforasi)
Pedoman Pelayanan Medis IDAI
236. Galactorrhea of the newborn
(Witch’s milk)
• 5% dari neonatus • PF: Memiliki payudara
• Terjadi akibat pengaruh yang lebih besar
hormonal ibu pada bayi dibandingkan yang tidak
sebelum lahir. galaktore
• Hormon ibu dapat • Spontan menghilang,
beredar dalam bayi tidak memerlukan
hingga hitungan minggu tatalaksana
• Sekresi susu pada bayi • Tidak perlu dimasase
bisa bertahan hingga atau dilakukan tindakan
usia 2 bulan manipulasi
237. Croup
• Croup (laringotrakeobronkitis
viral) adalah infeksi virus di
saluran nafas atas yang
menyebabkan penyumbatan
• Merupakan penyebab stridor
tersering pada anak
• Gejala: batuk menggonggong
(barking cough), stridor,
demam, suara serak, nafas
cepat disertai tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam
Steeple sign
Pemeriksaan
• Croup is primarily a clinical diagnosis
• Complete blood cell (CBC) count : a viral cause with lymphocytosis
• Radiography : verify a presumptive diagnosis or exclude other
disorders causing stridor.
– The anteroposterior (AP) radiograph of the soft tissues of the neck
classically reveals a steeple sign (also known as a pencil-point sign),
which signifies subglottic narrowing
– Lateral neck view may reveal a distended hypopharynx (ballooning)
during inspiration
• Laryngoscopy is indicated only in unusual circumstances (eg, the
course of illness is not typical, the child has symptoms that suggest
an underlying anatomic or congenital disorder)
238. Imunisasi bayi baru lahir
• Satujam setelah lahir (dan setelah disuntuik
vit. K) neonatus menerima vaksin hepatitis B
(HepB 0)
• Imunisasi polio (polio 0) diberikan saat bayi
akan dipulangkan dari perawatan
239. Bronkiolitis
• Infection (inflammation) at
bronchioli
• Bisa disebabkan oleh
beberapa jenis virus, yang
paling sering adalah
respiratory syncytial virus
(RSV)
• Virus lainnya: influenza,
parainfluenza, dan
adenoviruses
• Predominantly < 2 years of age
(2-6 months)
• Difficult to differentiate with
pneumonia and asthma
Bronchiolitis

• Gejala + PF Mild disease


• Symptomatic therapy
– Sesak, mengi, sulit Moderate to Severe diseases
menetek, demam tidak • Life Support Treatment : O2,
tinggi, batuk pilek IVFD
• Etiological Treatment
– Takipnea, retraksi, perkusi – Anti viral therapy (rare)
hipersonor, sela iga – Antibiotic (if etiology
melebar, rhonki basah + bacteria)
wheezing • Symptomatic Therapy
– Bronchodilator:
controversial
– Corticosteroid:
controversial (not
effective)
Klasifikasi dan Penatalaksanaan
Ringan Berat
• Gejala: • Gejala:
– Demam – Stridor saat istirahat
– Takipnea
– Suara serak
– Retraksi dinding dada bagian
– Batuk menggonggong bawah
– Stridor bila anak gelisah • Terapi:
• Terapi: – Steroid (dexamethasone) dosis
tunggal (0,6 mg/kg IM/PO)
– Rawat jalan dapat diulang dalam 6-24 jam
– Pemberian cairan oral, – Epinefrin 1:1000 2 mL dalam 2-
ASI/makanan yang sesuai 3 mL NS, nebulisasi selama 20
– Simtomatik menit

WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. WHO; 2008.
240. Cerebral Palsy
• A diagnostic term used to describe a group of motor
syndromes (development of movement and posture causing
activity limitations) resulting from disorders of early brain
development (developing fetal or infant brain)
• The motor disorders of cerebral palsy are often accompanied
by disturbances of sensation, cognition, communication,
perception, and/or behavior and/or a seizure disorder.
• CP is caused by a broad group of developmental, genetic,
metabolic, ischemic, infectious, and other acquired etiologies
that produce a common group of neurologic phenotypes

Behrman: Nelson Textbook of Pediatrics, 17th ed


Risk Factor of CP
maternal and prenatal
risk factors
perinatal factors
• Prematurity
• Siklus menstruasi panjang • Chorioamnionitis
• Riwayat keguguran • Nonvertex and face
• Maternal mental retardation presentation of the fetus
• Kelainan tiroid maternal • Birth asphyxia
• Kelainan kejang pada ibu
• Riwayat melahirkan bayi BBLR
• Riwayat melahirkan bayi
mental retardation, gangguan
neurologis
Clinical Manifestation
• CP is generally divided into several major motor syndromes
that differ according to the pattern of neurologic involvement,
neuropathology, and etiology
241. Tetrasiklin
• Pemakain tetrasiklin dikontraindikasi pada anak usia < 8
tahun
• Tetrasiklin terdeposit pada tulang dan gigi
• Mekanisme: terdapat deposisi kompleks yang terbentuk
dari kelasi antara tetrasiklin dan kalsium
• Efek samping gigi kecokelatan bersifat permanen dan
merupakan hasil dari hiplopasia enamel.
• Pasien yang berisiko sepanjang dalam usia pertumbuhan
gigi (the second half of pregnancy through the first seven
years of life)
• Efek samping pada tulang terutama signifikan ketika
tetrasiklin dipakai selama kehamilan dan masa neonatal
242. Dengue
242. Dengue

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in small hospitals. 1999.
Pemeriksaan Penunjang untuk
monitoring DHF
• Hemoglobin, hematokrit, dan trombosit setidaknya
harus dimonitor/24 jam
• Pada kasus yg lbh gawat spt DSS sebaiknya berkala/ 3-4
jam
• Hematocrit level increase greater than 20% is a sign of
hemoconcentration and precedes shock.
• The platelet count should be monitored at least every
24 hours to facilitate early recognition of dengue
hemorrhagic fever
• Platelet counts less than 100,000 cells/μL are seen in
dengue hemorrhagic fever or DSS and occur before
defervescence and the onset of shock.
243. Ileus paralitik
Penyebab ileus paralitik:
• Postoperative and bowel resection • Diare akut pada anak
• Intraperitoneal infection or
inflammation
TIDAK diberikan obat-
• Ischemia obatan antimotilitas
• Extra-abdominal: Chest infection,
Myocardia infarction seperti LOPERAMIDE
• Endocrine: hypothyroidism, diabetes
• Spinal and pelvic fractures
• LOPERAMIDE dapat
• Retro-peritoneal haematoma menyebabkan
• Metabolic abnormalities:
– Hypokalaemia konstipasi, distensi
– Hyponatremia
– Uraemia
abdomen, dan ileus
– Hypomagnesemia paralitik
• Bed ridden
• Drug induced: morphine, tricyclic
antidepressants
244. Grave’s
Disease
Laboratorium Assesment for Thyroid Function
Pemeriksaan laboratorium tiroid
245. Pertusis
• Batuk rejan (pertusis) • Stadium:
adalah penyakit akibat – Stadium katarrhal: hidung
infeksi Bordetella pertussis tersumbat, rinorrhea, demam
dan Bordetella subfebris. Sulit dibedakan dari
infeksi biasa. Penularan
parapertussis (basil gram -) terjadi dalam stadium ini.
• Anak yang menderita – Stadium paroksismal: batuk
pertusis bersifat infeksius paroksismal yang lama, sulit
selama 2 minggu sampai 3 menarik napas. bisa diikuti
bulan setelah terjadinya dengan whooping atau
stadium apnea. Bisa disertai
penyakit muntah.
– Stadium konvalesens: batuk
kronik hingga beberapa
minggu
Diagnosis dan Tatalaksana Pertusis
• Penatalaksanaan :
– Kasus ringan pada anak-anak umur ≥ 6 bulan dilakukan secara rawat
jalan
– < 6 bulan, dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
napas, atau sianosis dirawat di RS
- Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) selama 10 hari
atau makrolid lainnya
- Jika terdapat demam atau eritromisin tidak tersedia, berikan
kloramfenikol oral (25 mg/kg/kali, 3 kali sehari) selama 5 hari sebagai
penatalaksanaan terhadap kemungkinan pneumonia sekunder
- Jika kloramfenikol tidak tersedia, berikan kotrimoksazol
• Komplikasi : Pneumonia, Kejang, Gizi kurang, Perdarahan dan Hernia
• Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


246. KONTRAINDIKASI IMUNISASI
Berlaku umum untuk semua vaksin
Indikasi Kontra BUKAN Indikasi Kontra
• Reaksi anafilaksis terhadap • Reaksi lokal ringan-sedang (sakit,
vaksin (indikasi kontra kemerahan, bengkak) sesudah suntikan
pemberian vaksin tersebut vaksin
berikutnya) • Demam ringan atau sedang pasca vaksinasi
• Reaksi anafilaksis terhadap sebelumnya
konstituen vaksin • Sakit akut ringan dengan atau tanpa demam
• Sakit sedang atau berat, dengan ringan
atau tanpa demam • Sedang mendapat terapi antibiotik
• Masa konvalesen suatu penyakit
• Prematuritas
• Terpajan terhadap suatu penyakit menular
• Riwayat alergi, atau alergi dalam keluarga
• Kehamilan Ibu
• Penghuni rumah lainnya tidak divaksinasi
Kontraindikasi campak: anak sakit parah, menderita TBC dengan gizi buruk,
demam tinggi, imunokompromise
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi – IDAI. 2008
247 & 255. Kelainan Pembekuan Darah

http://periobasics.com/wp-content/uploads/2013/01/Evaluation-of-bleeding-disorders.jpg
Spontaneous bleeding
(without injury)

superficial, multiple deep, solitary


petechiae, hematoma,
purpura, hemarthrosis
ecchymoses

platelet disorder coagulation disorder


Kuliah Hemostasis FKUI.
Hemofilia
• Hemophilia is the most common inherited bleeding disorder.
• There are:
• Hemophilia A : deficiency of factor VIII
• Hemophilia B : deficiency of factor IX
• Incidence:
hemophilia A (± 85%)
hemophilia B (± 15%)
• Both hemophilia A and B are inherited as X-linked recessive
disorders
• Symptoms could occur since the patient begin to crawl
• Genes of factor VIII/IX are located on the distal part of the long
arm (q) of X chromosome
• Female (women) are carriers
Clinical manifestation & Diagnosis
• Bleeding: • history of abnormal bleeding in a
boy
• usually deep (hematoma, • normal platelet count
hemarthrosis) • bleeding time usually normal
• spontaneous or following mild • clotting time: prolonged
trauma • prothrombin time usually normal
• partial thromboplastin time
• Type: prolonged
 hemarthrosis • decreased antihemophilic factor
 hematoma
 intracranial hemorrhage Antenatal diagnosis
 hematuria • antihemophilic factor level
 epistaxis • F-VIII/F-IX gene identification
(DNA analysis)
 bleeding of the frenulum
(baby)

Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.


248. GENETIC DISORDER
Sindrom The most common feature is short stature, Ovarian
turner hypofunction or premature ovarian failure, Many affected girls
45 + XO do not undergo puberty and infertile.
noninheri About 30% webbed neck, a low hairline at the back of the neck,
ted limfedema ekstrimitas, skeletal abnormalities, or kidney
problem. 1/3 kasus heart defect, such as coarctation of the
aorta.
Most girls and women with Turner syndrome have normal
intelligence. Developmental delays, nonverbal learning
disabilities, and behavioral problems are possible.
Sindrom cryptorchidism, hypospadias, or micropenis, small testes,
Klinefelter delayed or incomplete puberty, gynecomastia, reduced facial
47,XXY and body hair, and an inability to have biological children
noninheri (infertility).
ted Older children and adults tend to be taller. Increased risk of
developing breast cancer and SLE.
May have learning disabilities and delayed speech; tend to be
quiet, sensitive, and unassertive.
Sindrom mikrosefal; hypotonus, Excess skin at the nape of the neck, Flattened
Down Trisomi nose, Separated joints between the bones of the skull (sutures), Single
21 palm crease, Small ears, small mouth, Upward slanting eyes, Wide,
noninherited short hands with short fingers, White spots on the colored part of the
eye (Brushfield spots), heart defects (ASD, VSD);

Physical development is often slower than normal (Most never reach


their average adult height), delayed mental and social development
(Impulsive behavior, Poor judgment, Short attention span, Slow
learning)
Marfan Mutasi pada fibrillin (protein pada jaringan ikat tubuh).
syndrome A tall, thin build, Long arms, legs, fingers, and toes and flexible joints,
3 dari 4 kasus skoliosis, pektus karinatum/ ekskavatum, Teeth that are too crowded,
bersifat Flat feet.
diturunkan
Fragile X genetic condition that causes a range of developmental problems
syndrome including learning disabilities and cognitive impairment. Usually, males
Diturunkan are more severely affected by this disorder than females.
secara X-
linked
dominan
249. Pubertas Prekoks
• Definisi: tanda-tanda • GnRH dependent
maturasi seksual sebelum (central) : early
usia 8 tahun pada reactivation of
perempuan dan 9 tahun Hypothalamus-pitutary-
pada laki-laki gonad axis
• Lebih banyak pada • GnRH independent
perempuan (peripheral): autonom
• Perempuan  idiopatik; sex steroid , not affected
laki-laki  kelainan CNS by Hypothalamus-
pitutary-gonad axis
• Variant
– thelarche prematur
– adrenarche prematur
PENDEKATAN PUBERTAS PREKOKS
PADA PEREMPUAN
250. Resusitasi Neonatus
Kattwinkel J, Perlman JM. Part 15: neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909 –S919
Teknik Ventilasi dan Kompresi
• Ventilasi Tekanan Positif (VTP) • Kompresi dada
• Jika bayi tetap apnu atau megap- • Indikasi kompresi dada ialah jika
megap, atau jika frekuensi denyut frekuensi denyut jantung kurang
jantung kurang dari 100 per dari 60 per menit setelah ventilasi
menit setelah langkah awal adekuat dengan oksigen selama
resusitasi, VTP dimulai. 30 detik. Untuk neonatus, rasio
• Pernapasan awal dan bantuan kompresi: ventilasi tetap 3:1.
ventilasi • Pernapasan, frekuensi denyut
• Bantuan ventilasi harus diberikan jantung, dan oksigenasi harus
dengan frekuensi napas 40 – 60 dinilai secara periodik dan
kali per menit untuk mencapai kompresi – ventilasi tetap
dan mempertahankan frekuensi dilakukan sampai frekuensi
denyut jantung lebih dari 100 per denyut jantung sama atau lebih
menit. Penilaian ventilasi awal dari 60 per menit.
yang adekuat ialah perbaikan
cepat dari frekuensi denyut
jantung.
251. Limfadenitis TB
• Gambaran PA TB
kelenjar:
• Inflamasi granulomatosa
kronik spesifik dengan
nekrosis perkejuan/
kaseosa.
• Karakteristik morfologik:
granuloma tuberkel:
giant multinucleated
cells (Langhans cells),
dikelilingi dengan
agregasi sel-sel epiteloid,
Limfosit sel T, dan
beberapa fibroblas.
252. Defisiensi Yodium
• Defisiensi yodium yang • Manifestasi klinis:
parah berpengaruh pada – Endemic goiter
sintesis hormon tiroid – Hipotiroid: fatigue, weight
dan/atau pembesaran gain, cold intolerance, dry
tiroid. skin, constipation, or
depression
• Spektrum Iodine – Kretinism
deficiency disorders
(IDDs): endemic goiter, – Retardasi mental
hypothyroidism, • Tx: yodium 150 mcg/day
cretinism, decreased (pd ps. Yg tdk hamil),
fertility rate, increased levotiroksin, radioactive
infant mortality, and iodine, bedah (jika
mental retardation kompresif)
253. Wilm’s Tumor
• Wilms tumor/nephroblastoma merupakan
keganasan abdomen paling sering pada masa
kanak.
• Survival rates kurang lebih 80-90%.
• Wilms tumor diperkirakan akibat adanya
kelainan pada gen yang bertanggung jawab
dalam perkembangan genitourinari. (WT1
gene, tumor suppressor gene)
Arnold C Paulino. Wilms Tumor. http://emedicine.medscape.com/article/989398
Wilm’s Tumor
• Anamnesis
– Massa abdomen tidak bergejala
– Nyeri abdomen atau hematuria pada 25% kasus
– Hipertensi, gross hematuria, dan demam pada 5- 30%
• Pemeriksaan fisik
– Teraba massa abdomen
– Pay special attention to features of those syndromes
(WAGR syndrome and Beckwith-Wiedemann syndrome
[BWS]) associated with Wilms tumor (ie, aniridia,
genitourinary malformations, and signs of overgrowth)
• Diagnosis Banding : Neuroblastoma, Polycystic Kidney
Disease, Rhabdomyosarcoma
Diagnosis
• Laboratorium : darah perifer lengkap, kimia darah termasuk
fungsi ginjal, elektrolit, urinalisis, dan fungsi pembekuan
darah.
• Radiologi :
– USG: pemeriksaan awal, it does not expose children to the
detrimental effects of radiation
– CT Scan Abdomen: untuk menentukan asal tumor, keterlibatan
KGB, keterlibatan ginjal bilateral, invasi ke pembuluh darah, dan
metastasis hepar.
• Penatalaksanaan (Berdasarkan staging)
– Nephrectomy
– Chemotherapy (Vincristine, dactinomycin, doxorubicin,
cyclophosphamide, etoposide)
– Radiasi
254. Hepatitis Viral Akut
• Hepatitis viral: Suatu proses peradangan pada hati atau
kerusakan dan nekrosis sel hepatosit akibat virus
hepatotropik. Dapat akut/kronik. Kronik → jika berlangsung
lebih dari 6 bulan
• Perjalanan klasik hepatitis virus akut
– Stadium prodromal: flu like syndrome,
– Stadium ikterik: gejala-gejala pada stadium prodromal
berkurang disertai munculnya ikterus, urin kuning tua
• Anamnesis Hepatitis A :
– Manifestasi hepatitis A: Anak dicurigai menderita hepatitis A jika
ada gejala sistemik yang berhubungan dengan saluran cerna
(malaise, nausea, emesis, anorexia, rasa tidak nyaman pada
perut) dan ditemukan faktor risiko misalnya pada keadaan
adanya outbreak atau diketahui sumber penularan.

Pedoman Pelayanan Medis IDAI


Hepatitis A
• Virus RNA (Picornavirus)
ukuran 27 nm
• Kebanyakan kasus pada usia
<5 tahun asimtomatik atau
gejala nonspesifik
• Rute penyebaran: fekal oral;
transmisi dari orang-orang
dengan memakan makanan
atau
minumanterkontaminasi,
kontak langsung.
• Inkubasi: 2-6 minggu (rata-
rata 28 hari)

Behrman RE. Nelson’s textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.


Hepatitis A
• Self limited disease dan • Diagnosis
tidak menjadi infeksi kronis – Deteksi antibodi IgM di darah
• Gejala: – Peningkatan ALT (enzim hati
– Fatique Alanine Transferase)
– Demam • Pencegahan:
– Mual – Vaksinasi
– Nafsu makan hilang – Kebersihan yang baik
– Jaundice  karena – Sanitasi yang baik
hiperbilirubin • Tatalaksana:
– Bile keluar dari peredaran – Simptomatik
darah dan dieksresikan ke
urin  warna urin gelap – Istirahat, hindari makanan
berlemak dan alkohol
– Feses warna dempul (clay-
coloured) – Hidrasi yang baik
– Diet
256. Kejang demam
• Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38,4° C
tanpa adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit pada anak di atas
usia 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya (ILAE,
1993)
• Umumnya berusia 6 bulan – 5 tahun
• Kejang demam sederhana (simpleks)
– Berlangsung singkat, tonik klonik, umum, tidak berulang dalam 24 jam
• Kejang demam kompleks
– Lama kejang > 15 menit
– Kejang fokal atau parsial menjadi umum
– Berulang dalam 24 jam
• Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk usia < 12 bulan dan
dianjurkan untuk usia 12-18 bulan

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI. 2006


257.
258. Edema pada sindrom Nefrotik
259. Giardiasis
• Etiologi: giardia lamblia • Menginfeksi usus halus
(protozoa berflagel) • Tinja: cair dan profuse,
• Transmisi: oral fekal dgn kemudian menjadi
inkubasi 1-2 minggu berminyak dengan bau
• Asimtomatik & busuk
asimtomatik: diare akut • Tidak ada lendir darah
dan kronik, demam tidak atau leukosit
tinggi, mual, muntak, • Pengobatan:
anoreksia, distensi metronidazol: 50 mg/kg,
abdomen, kram perut, dibagi 3 dosis, selama 5
kembung, begah hari
260. Asma

Netrofil Meningkat pada kasus infeksi akut dan bakteri


Eosinofil Meningkat pada kasus alergi dan parasit
Basofil Pada beberapa kasus alergi
Limfosit Meningkat pada kasus infeksi virus dan infeksi kronik
Monosit Bermaturasi menjadi makrofag/ sel dendritik, berfungsi
sebagai fagosit, antigen presentation, dan produksi
sitolin
The Inflammatory Reaction in Asthma
• Type I allergic reaction  immediate type involving IgE
• Involved:
– Dendritic cells and macrophages
• present antigens to T-helper cells induce the switching of B lymphocytes to
produce IgE
– T-helper lymphocytes
– Mast cells
– Eosinophils
• Leads to
– episodes of wheezing
– Coughing
– tightness in the chest
– Breathlessness
– shortage of breath specially at night and in the morning

Andrew H. Liu, Joseph D. Spahn, Donald Y. M. Leung.


Childhood Asthma. Nelson Textbook of Pediatrics
262. Diabetes Melitus Tipe 1
(Insulin-dependent diabetes mellitus)
• Merupakan kelainan sistemik akibat gangguan metabolisme glukosa yang
ditandai oleh hiperglikemia kronik.
• Etiologi: Suatu proses autoimun yang merusak sel β pankreas sehingga
produksi insulin berkurang, bahkan terhenti. Dipengaruhi faktor genetik
dan lingkungan.
• Insidensi tertinggi pada usia 5-6 tahun dan 11 tahun
• Komplikasi : Hipoglikemia, ketoasidosis diabetikum, retinopathy ,
nephropathy and hypertension, peripheral and autonomic neuropathy,
macrovascular disease
• Manifestasi Klinik:
– Poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
– Pada keadaan akut yang berat: muntah, nyeri perut, napas cepat dan
dalam, dehidrasi, gangguan kesadaran
Diabetes Melitus Tipe 1
• Kriteria Diagnostik
– Klinis: Poliuria, Polidipsi, Polifagi, Penurunan BB
– Laboratorium:
• A fasting plasma glucose (FPG) level ≥126 mg/dL (7.0 mmol/L), or
• A 2-hour plasma glucose level ≥200 mg/dL (11.1 mmol/L) during a 75-g oral glucose
tolerance test (OGTT), or
• A random plasma glucose ≥200 mg/dL (11.1 mmol/L) in a patient with classic
symptoms of hyperglycemia or hyperglycemic crisis
• Asimptomatik : Hasil positif pada lebih dari 2 kali pemeriksaan
• Pemeriksaan penunjang: Gula darah, urin reduksi, keton urin, HbA1C, C-
peptide
• Tatalaksana :
– Diet DM
– Kontrol Metabolik dengan Insulin
– Edukasi pertolongan pertama pada kedaruratan seperti hipoglikemia
dan ketoasidosis
263. PNEUMONIA

http://emedicine.medscape.com/article/967822
Pneumonia
• Signs and symptoms :
– Non respiratory: fever, headache, fatigue, anorexia, lethargy,
vomiting and diarrhea, abdominal pain
– Respiratory: cough, chest pain, tachypnea , grunting, nasal
flaring, subcostal retraction (chest indrawing), cyanosis, crackles
and rales (ronchi)
Fast breathing (tachypnea)
Respiratory thresholds
Age Breaths/minute
< 2 months 60
2 - 12 months 50
1 - 5 years 40
Tatalaksana Pneumonia
NO PNEUMONIA

PNEUMONIA

SEVERE-VERY SEVERE PNEUMONIA


• rawat jalan • ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau
• Do • Kotrimoksasol IM setiap 6 jam). Bila anak memberi respons yang
not (4 mg TMP/kg baik dlm 24-72 jam, lanjutkan selama 5 hari.
adm BB/kali) 2 kali Selanjutnya dilanjutkan dgn amoksisilin PO (15
inist sehari selama mg/ kgBB/kali tiga kali sehari) untuk 5 hari
er 3 hari atau berikutnya.
an Amoksisilin • Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam,
anti (25 mg/kg atau terdapat keadaan yang berat (tidak dapat
bioti BB/kali) 2 kali menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan
c sehari selama semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar,
3 hari. sianosis, distres pernapasan berat) maka
ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM
atau IV setiap 8 jam).
• Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat,
segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi
ampilisin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin.
Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-100
mg/kgBB IM atau IV sekali sehari).
• Gunakan nasal prongs, kateter nasal, atau kateter
nasofaringeal.
264. Dengue
242. Dengue

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in small hospitals. 1999.
265. SLE
American College of Rheumatology
mnemonic of SLE diagnostic criteria

"SOAP BRAIN MD” • Etiologi: adanya


• Serositis: pleuritis, perikarditis autoantibodi yang
• Oral ulcers menyerang antigen inti
• Arthritis (nuklear) dan sitoplasmik
• Photosensitivity
• Blood disorders • Bisa menyerang berbagai
• Renal involvement sistem organ, terutama
• Antinuclear antibodies (ANA) kulit, sendi, ginjal, darah,
• Immunologic phenomena (eg, dan sistem saraf
dsDNA; anti-Smith [Sm] antibodies)
• Neurologic disorder • Tatalaksana: NSAID, KS,
• Malar rash hidrosikloroquin, DMARD
• Discoid rash (siklofosfamid, metotreksat)
Positif jika 4 dari 11 kriteria
267. Ikterus Neonatorum
• Ikterus neonatorum: fisiologis vs • Ikterus yang berkembang cepat
non fisiologis. pada hari ke-1
• Ikterus fisiologis: – Kemungkinan besar:
– Awitan terjadi setelah 24 jam inkompatibilitas ABO, Rh, penyakit
hemolitik, atau sferositosis.
– Memuncak dalam 3-5 hari,
menurun dalam 7 hari (pada NCB) – Penyebab lebih jarang: infeksi
kongenital, defisiensi G6PD
– Ikterus fisiologis berlebihan →
ketika bilirubin serum puncak • Ikterus yang berkembang cepat
adalah 7-15 mg/dl pada NCB setelah usia 48 jam
• Ikterus non fisiologis: – Kemungkinan besar: infeksi,
– Awitan terjadi sebelum usia 24 jam defisiensi G6PD.
– Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam – Penyebab lebih jarang:
– Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
inkompatibilitas ABO, Rh,
sferositosis.
– Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB,
> 14 hari pada NKB
– Tanda penyakit lain

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.


Penilaian klinis ikterus (kramer)

Daerah tubuh Kadar


bilirubin
mg/dl
Muka 4 -8
Dada/punggung 5-12
Perut dan paha 8-16

Tangan dan kaki 11-18


Telapak tangan/kaki >15
Panduan foto terapi

AAP, 2004
268. Malnutrisi Energi Protein
• Malnutrisi: Ketidakseimbangan seluler antara asupan dan kebutuhan
energi dan nutrien tubuh untuk tumbuh dan mempertahankan fungsinya
(WHO)
• Dibagi menjadi 3:
– Overnutrition (overweight, obesitas)
– Undernutrition (gizi kurang, gizi buruk)
– Defisiensi nutrien spesifik
• Malnutrisi energi protein (MEP):
– MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang)
– MEP derajat berat (gizi buruk)
• Malnutrisi energi protein berdasarkan klinis:
– Marasmus
– Kwashiorkor
– Marasmik-kwashiorkor : terdapat tanda marasmik dan kwashiorkor

Sjarif DR. Nutrition management of well infant, children, and


adolescents.
Scheinfeld NS. Protein-energy malnutrition.
http://emedicine.medscape.com/article/1104623-overview
Marasmus

 wajah seperti orang tua


 kulit terlihat longgar
 tulang rusuk tampak
terlihat jelas
 kulit paha berkeriput
 terlihat tulang belakang
lebih menonjol dan kulit
di pantat berkeriput
( baggy pant )
Kwashiorkor

 edema
 rambut kemerahan, mudah
dicabut
 kurang aktif, rewel/cengeng
 pengurusan otot
 Kelainan kulit berupa bercak
merah muda yg meluas &
berubah warna menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis)
269. Tatalaksana Gizi Buruk:
HIPOGLIKEMIA
• Semua anak dengan gizi • Jika anak tidak sadar, beri
buruk berisiko hipoglikemia larutan glukosa 10% IV
(< 54 mg/dl) bolus 5 ml/kg BB, atau
• Jika tidak memungkinkan larutan glukosa/larutan gula
periksa GDS, maka semua pasir 50 ml dengan NGT.
anak gizi buruk dianggap • Lanjutkan pemberian F-75
hipoglikemia setiap 2–3 jam, siang dan
• Segera beri F-75 pertama, malam selama minimal dua
bila tidak dapat disediakan hari.
dengan cepat, berikan 50
ml glukosa/ gula 10% (1
sendok teh munjung gula
dalam 50 ml air) oral/NGT.
270. Acquired Prothrombine Complex Deficiency
(APCD)
• Sebelumnya disebut sebagai Hemorrhagic Disease of
the Newborn (HDN) atau Vitamin K Deficiency Bleeding
• Etiologinya adalah defisiensi vitamin K yang dialami
oleh bayi karena : (1) Rendahnya kadar vitamin K dalam
plasma dan cadangan di hati, (2) Rendahnya kadar
vitamin K dalam ASI, (3) Tidak mendapat injeksi vitamin
K1 pada saat baru lahir
• Mulai terjadi 8 hari-6 bulan, insidensi tertinggi 3-8
minggu
• 80-90% bermanifestasi menjadi perdarahan
intrakranial

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010


Diagnosis APCD
• Diagnosis
– Anamnesis : Bayi kecil yang sebelumnya sehat, tiba-tiba
tampak pucat, malas minum, lemah. Tidak mendapat
vitamin K saat lahir, konsumsi ASI, kejang fokal
– PF : Pucat tanpa perdarahan yang nyata. Tanda
peningkatan tekanan intrakranial (UUB membonjol,
penurunan kesadaran, papil edema), defisit neurologis
fokal
– Pemeriksaan Penunjang : Anemia dengan trombosit
normal, PT memanjang, APTT normal/memanjang. USG/CT
Scan kepala : perdarahan intrakranial
– Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, disertai UUB
membonjol harus difikirkan APCD sampai terbukti bukan

Buku PPM Anak IDAI


Tatalaksana APCD
• Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, dan UUB membonjol,
berikan tatalaksana APCD sampai terbukti bukan
• Vitamin K1 1 mg IM selama 3 hari berturut-turut
• Transfusi FFP 10-15 ml/kgBB selama 3 hari berturut-turut
• Transfusi PRC sesuai Hb
• Tatalaksana kejang dan peningkatan tekanan intrakranial
(Manitol 0,5-1 g/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali)
• Konsultasi bedah syaraf
• Pencegahan : Injeksi Vitamin KI 1 mg IM pada semua bayi
baru lahir

Buku PPM Anak IDAI


OBGYN
271. Anemia
• Anemia pada kehamilan tergantung trimester
kehamilan
– Trimester I & III bila <11 g/dL
– Trimester II bila <10.5 g/dL
• Penyebab anemia tersering pada kehamilan
dan masa nifas adalah
– Defisiensi besi
– Perdarahan
Anemia
• Terapi dapat menggunakan suplemen zat besi
– Ferrous sulfat
– Ferrous fumarat
– Ferrous glukonat
• Dosis zat besi yang dibutuhkan adalah 200mg
• Sediaan dari ferrous sulfat adalah 300mg
(mengandung 60 mg zat besi) diberikan 3 x sehari
• Pemberian dilanjutkan hingga 2-3 bulan setelah
Hb normal
272 & 283 Perdarahan Post Partum
• Perdarahan pasca persalinan  perdarahan yang
terjadi sesudah sesaat proses persalinan
berlangsung dengan volume perdarahan > 500
ml.
– 1. Perdarahan pasca persalinan dini (Early Post Partum
haemorrhage)  terjadi dalam 24 jam pertama.
Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer
adalah atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan
lahir.
– 2. Perdarahan masa nifas (Late PPH terjadi setelah
24 jam pertama, sering diakibatkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta
yang tertinggal.
Penyebab HPP
Gejala dan tanda Gejala dan tanda yang Diagnosis
yang selalu ada lain kemungkinan
•Uterus tidak berkontraksi dan lembek •Syok Atonia uteri
•Tidak ada penonjolan uterus supra simfisis
•Perdarahan setelah anak lahir (perdarahan
pascapersalinan dini)
•Perdarahan segera setelah bayi lahir •Pucat Robekan jalan
•Darah segar •Lemah lahir/Laserasi jalan
• Uterus kontraksi baik •Menggigil lahir
•Plasenta lengkap •Presyok
•Teraba diskontinuitas portio atau dinding vagina
•Kelelahan dan dehidrasi •Hilang gerak dan DJJ Ruptur Uteri
•Konstriksi bandl •Syok/takikardi
•Nyeri perut bawah hebat •Bagian janin mudah teraba
•Gejala tidak khas pada bekas SC •Bentuk uterus abnormal
•Sub-involusi uterus •Anemia Sisa fragmen
•Nyeri tekan perut bawah •Demam (bila terinfeksi) plasenta
•Perdarahan post partum lanjut
• Perdarahan merah segar •Perdarahan gusi Gangguan
• Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya •Memar di bawah kulit pembekuan darah
bekuan darah setelah 7 menit •Perdarahan di tempat
• Rendahnya faktor pembekuan darah infus/suntikan
ATONI UTERUS
Faktor resiko atonia uteri adalah:
– Uterus membesar lebih dari normal selama
kehamilan.
– Kala I atau II yang memanjang.
– Persalinan cepat (partus presipitatus).
– Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan
oksitosin (augmentasi).
– Infeksi intrapartum.
– Multiparitas tinggi.
BAGAN PENANGANAN ATONIA UTERI

Masase fundus uteri


Segera ssdh plasenta lahir
(maksimal 15 detik)

ya
Uterus kontraksi? Evaluasi rutin
tidak
Evaluasi / bersihkan bekuan darah /sel.ketuban
KBI maksimal 5 menit

Uterus kontraksi? Pertahankan KBI 1 – 2 mnt


ya
tidak Keluarkan tangan secara hati2
Lakukan pengawasan kala IV
Ajarkan keluarga KBE
Keluarkan tangan secara hati2
Suntik ergometrin 0,2 im
Pasang infus + 20 IU oks , guyur
Lakukan KBI lagi
273 Kala Persalinan
273, 287, 292 Persalinan
• Tanda dan gejala kala I
– Penipisan dan pembukaan serviks
– Kontrasi uterus yang menyebabkan perubahan serviks
– Bloody show
– Fase laten nulipara 20 jam, multipara 14 jam
– Fase aktif nulipara 1,2 cm/jam, multipara 1,5 cm/jam
• Tanda dan gejala kala II
– Keinginan ibu untuk mengedan
– Tekanan pada anus
– Vulva terbuka
– Perineum menonjol
274. Malaria pada Kehamilan
• Pada wanita hamil yang hidup di daerah
endemik, angka kematian 2x lipat dari yang
tidak malaria
• Pencegahan malaria pada kehamilan
– Awareness of risk
– Bite prevention
– Chemoprophylaxis
– Diagnosis and prompt treatment
Malaria Pada Kehamilan
• Awareness of risk  menyadari akan bahaya malaria
pada daerah endemik
• Bite prevention  repellent, kelambu
• Chemoprphylaxis 
– Tidak ada yang 100% efektif
– Tujuan pemberian
• Causal  target adalah stadium shizont di hepar  atovaquone-
proguanil, dipakai hingga 7 hari setelah meninggalkan daerah
endemik
• Suppresive  parasit yang sudah di sel darah merah
mefloquine hingga 4 minggu meninggalkan daerah endemik
– Mefloquine (5mg/kg 1 kali seminggu)  pilihan pada
trimester 2 dan 3
Malaria Pada Kehamilan

Prinsip Penanganan Malaria pada kehamilan


• Tangani seperti kegawatdaruratan
Malaria Pada Kehamilan
• Terapi
– P.Falciparaum tanpa komplikasi atau Mixed (P.falciparum
dan P.vivax)  Quinine 600 mg setiap 8 jam dan
clindamycin 450 mg setiap 8 jam, selama 7 hari
– P. Vivax, P. Ovale, P. Malariae  chloroquinine 600mg,
kemudian 300 mg 6-8 jam kemudian, 300mg hari kedua,
300mg hari ketiga
– Pencegahan relapse chloroquine 300mg mingguan
– Antipiretik
• Obat yang tidak boleh diberikan
– Primaquine
– Doksisiklin
– tetrasiklin
275. Immunology
• Fetus memiliki imunitas ketika berusia 9-15
minggu
• Respon primer adalah IgM. IgG ditransfer
secara pasif melalui plasenta.
• Infeksi pada kehamilan dapat ditularkan
melalui jalur
– Transplasental (Varicella, rubella, dan CMV)
– Intrapartum (chlamydia, gonorhea)
276 Preterm
• Diagnosa:
– Anamnesis  usia kehamilan <37 minggu, kontraksi
makin sering dan kuat
– Inspekulo  ostium terbuka
– USG  bayi hidup
• Terapi:
– Observasi TTV ibu dan bayi  bed rest & status hidrasi
– Tokolisis
– Dexamethason  pematangan paru 2 x 6 mg selama 2
hari
276 Preterm
• Tujuan tokolisis:
– Memberikan kesempatan untuk pematangan paru
• Kontraindikasi tokolisis:
– Infeksi intrauterin
– PEB
– solusio plasenta
– Dilatasi serviks >4cm
– Insufisiensi plasenta
– Gawat janin
– Gemeli
– IUGR
276 Preterm
• Regimen yang diberikan
– Beta-agonist  terbutalin 0.25mg sc
– Ritrodine dan atosiban
– Indometachin
– Nifedipin  paling sering digunakan
• Dosis awal 20 mg oral, lanjutkan 3/4 kali 10/20mg
sehari
• Dosis maksimal 60 mg/hari
277, 286, 291, 300 Hipertensi pada
Kehamilan
• Definisi istilah TD tinggi (≥140/≥90 mmHg)
– Hipertensi gestasional  TD tinggi tanpa proteinuria
yang muncul setelah 20 minggu kehamilan hingga 12
minggu pasca persalinan, dan tidak ada hipertensi
sebelumnya.
– Preeklampsia  TD tinggi + proteinuria
– Eklampsia  preeklampsia + kejang dan/atau koma
– Hipertensi kronik  hipertensi yang didiagnosa
sebelum kehamilan 20 minggu dan/atau menetap
setelah 12 minggu persalinan
– Hipertensi kronik superimposed preeklampsia 
hipertensi kronik + gejala2 preeklampsia (proteinuria)
Hipertensi pada Kehamilan
• Klasifikasi preeklampsia
– Preeklampsia ringan
– Preeklampsia berat
• Preeklampsia ringan
– TD sistole 140-159 diastole 90-109 mmHg
– Proteinuria ≥300mg/24jam atau ≥+1 dipstick
• Preeklampsia berat
– TD sistole ≥160 diastole ≥110 mmHg
– Proteinuria 5g/24 jam atau ≥+3
– Oliguria, pulmonary edema, HELLP syndrome,
Hipertensi pada Kehamilan
• Preeklampsia berat (lanjutan)
– apabila ditemukan TD tinggi + dengan kriteria
preeklampsia berat lainnya  diagnosa PEB
– Contoh TD 140/90, proteinuria +5  PEB
• Edema pada tungkai bukan gejala hipertensi
pada kehamilan  fisiologis pada wanita
hamil
Hipertensi pada kehamilan
• Impending eklampsia
– Nyeri kepala frontal
– Pandangan kabur (skotoma)
– Nyeri epigastrium atau abdomen kuadran kanan
atas  teregang kapsula glisson
– Mual dan muntah
– Kenaikan TD progesif
Hipertensi pada kehamilan
• Pencegahan preeklampsia
– Non-medikamentosa
• Tirah baring
• Diet minyak ikan yang kaya asam lemak tidak jenuh
• Konsumsi makanan kayak antioksidan: vitamin C dan E,
β-karoten
• Zinc, magnesium, dan calcium
– Medikamentosa
• Suplementasi zat antioksidan vitamin E dan C, n-
asetilsistein
Hipertensi pada Kehamilan
• Pengobatan preeklampsia berat
– Manajemen Airway Breathing Circulation
– anti-hipertensi:
• nifedipin 10-20mg oral, dapat diulang 30 menit
• Hydralazine atau labetalol (umum dipakai di USA)
– Pencegahan kejang:
• MgSO4 diberikan bolus 4 gr IV selama 15 menit, lalu
dilanjutkan maintenance 1 gr/jam
– Terapi cairan:
• Ringer laktat  60-125 cc/jam iv
Hipertensi pada Kehamilan
• Sikap terhadap kehamilan (intinya terminasi):
– Preeklampsia berat:
• Terminasi segera bila kehamilan ≥ 34 minggu
• Bila dibawah <34 minggu:
– Observasi ibu dan janin  bila gawat daruratterminasi
– Kontrol TD
– Kortikosteroid  pematangan paru
– Eklampsia
• Terminasi segera dalam 12 jam
Hipertensi pada Kehamilan
• Tanda2 harus terminasi
– TD tidak terkontrol setelah pemberian
antihipertensi
– Eklampsia
– Pulmonary edema
– HELLP syndrome
– Gagal ginjal
– Solution plasenta
– Gawat janin  CTG non-reassuring
278 Miom
• Miom adalah tumor panggul yang paling sering
ditemukan pada wanita  terpengaruh hormon
estrogen  jarang ditemukan pada wanita
menopause
• Gejala dan tanda  tergantung jumlah dan
ukuran:
– Dysmenorrhea
– Rasa tidak nyaman di perut dan kembung
– Nyeri pinggang
• Diagnosa
– Anamnesis
– PF
– USG
Miom
• Berdasarkan lokasi
– Subserosum: berada pada jaringan serosa
– Intramural: berada pada miometrium
– Submukosum : berada pada jaringan dibawah
endometrium
279, 288. Abortus
Gejala/tanda Iminens Insipiens Inkomplit Komplit
Perdarahan Ada Ada Ada Ada
Ostium uteri Tertutup Terbuka Terbuka Tertutup
Janin Hidup Dalam proses Mati Mati
dikeluarkan
Kontraksi Ada Ada Ada/tidak ada Tidak ada
Terapi Dilatase dan kuretase
280. Endometritis
• Adalah peradangan pada lapisan endometrium pada
rahim
• Endometritis dapat disebabkan infeksi pada kehamilan.
• Apabila terjadi diluar kehamilan, istilah yang sering
digunakan adalah penyakit radang panggul
• Gejala dan tanda
– Demam
– Nyeri perut
– Lochia berbau
• Terapi
– Clindamycin
– gentamisin
281 Toxoplasmosis pada Kehamilan
Ig G Ig M Interpretasi
+ - Infeksi masa lampau
- + Infeksi akut
282. Kontrasepsi hormonal
• Cara kerja
– Menghambat ovulasi
– Mengganggu pergerakan tuba
– Mencegah implantasi
– Mengentalkan lendir serviks
PIL KOMBINASI
KEUNTUNGAN hingga menopause
• Efektivitas yang tinggi (1 • Membantu mencegah kehamilan
kehamilan per 100 perempuan ektopik, kanker ovarium, kanker
dalam tahun pertama endometrium, kista ovarium,
penggunaan) penyakit radang panggul,
• Risiko terhadap kesehatan sangat kelainan jinak pada payudara,
kecil dismenore atau akne
• Tidak mengganggu hubungan
seksual KETERBATASAN
• Mudah dihentikan setiap saat • Membosankan karena harus
• Kesuburan segera kembali menggunakannya setiap hari
setelah penggunaan pil • Tidak boleh diberikan kepada
dihentikan perempuan menyusui
• Dapat digunakan sebagai • Tidak mencegah IMS
kontrasepsi darurat
• Dpat digunakan sejak usia remaja
284, 308 Hyperemesis Gravidarum
• Diduga ada hubunganya dengan peningkatan hormon bHCG
• Derajat:
– I  muntah2 disertai dengan penurunan nafsu makan dan
minum. Penurunan berat badan dan nyeri epigastrium
– II  ketosis dan sudah terjadi perubahan hemodinamik
– III  penurunan kesadaran, shock
• Terapi:
– Tatalaksana cairan
– Vitamin B1, B2, B6 dan B12
– Antiemetik (domperidone adan metoklopramid
– Antasida
– Diet
Hyperemesis Gravidarum
• Terapi diet pada hiperemesis gravidarum
– Diet hipeDiberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan berupa roti kering dan buah. Cairan
diberikan 1-2 jam setelah makan
285. Manajemen aktif kala III
• Dimulai dari bayi lahir
• Melakukan pemberian oksitosin 10 U
• Melakukan peregangan tali pusar terkendali
• Apabila 15 menit plasenta tidak lahir
• Ulangi pemberian oksitosin 10 U
• Setelah plasenta lahir dilakukan masase
fundus uteri
289, 297. Perdarahan Kehamilan Muda
Abortus Mola KET Mioma
Tinggi fundus < usia Biasa > usia < usia > Usia
kehamilan kehamilan kehamilan kehamilan
Nyeri Tergantung Tidak ada Nyeri Tergantung
jenis ukuran
Gejala lain Anemia Mual, muntah Anemia -
Banyak darah Tergantung Bercak Tergantung Bercak
jenis lokasi
USG Adanya janin Badai salju/ Kantung gestasi Tumor dan
sarang lebah ekstrauterine kantung gestasi
Tatalaksana Dilatase dan Dilatase dan Laparotomi Observasi:
kuretase kuretase Bila membesar
pikirkan SC
290 Asherman Syndrome
• Perlengketan dinding intrauterine
• Penyebab
– Peradangan
• Faktor risiko
– Pasca kuret
– Infeksi
• Komplikasi
– Amenorhea
– infertilitas
293-296 HELLP Syndrome
• Adalah preeklampsia-eklampsia yang disertai adanya
hemolisis, peningkatan enzim hepar, dan trombositopenia
• HELLP syndrome termasuk PEB
• Klasifikasi HELLP Syndrome (mississippi classification)
– Class I trombosit ≤50.000/mL, LDH ≥600 IU/L, AST dan ALT ≥40 IU/L
– Class II trombosit 50.000-100.000/mL, LDH ≥600 IU/L, AST dan ALT
≥40 IU/L
– Class III trombosit 100.000-150.000/mL, LDH ≥600 IU/L, AST dan
ALT ≥40 IU/L
• Terapi
– Dexamethason double strength 10mg IV setiap 12 jam, diturunkan
perlahan-perhalan setengahnya hingga trombosit >100.000/mL
– Terminasi kehamilan segera
– Tatalaksana lain seperti PEB
298. Neural Tube Defect (NTD)
• Meliputi: anenchepaly, spina bifida, cephalocele
• Marker yang digunakan sebagai pemeriksaan
dalam kehamilan alpha fetoprotein yang ada
pada serum ibu atau cairan amnion
• Faktor risiko
– Genetik
– Diabetes maternal
– Hipertermia (sauna)
– Infeksi
– Obat-obatan
Neural Tube Defect (NTD)
• Pencegahan
– Pada wanita yang tidak ada riwayat persalinan
dengan NTD  400ug
– Dengan riwayat NTD  4 mg sebulan sebelum
hamil dan selama trimester 1
299. Observasi Kala I
• Setiap 30 menit
– Cek DJJ
– Cek nadi dan nafas ibu
– Cek kontraksi uterus
• Setiap 2 jam
– Cek urin
• Setiap 4 jam
– Cek pembukaan serviks
– Cek station dan penurunan
– Cek tekanan darah ibu