Anda di halaman 1dari 3

3

TITRASI KOMPLEKSOMETRI

1.1 TUJUAN
a. Menghitung molaritas Dinatrium Edetat (Na2EDTA) yang digunakan sebagai titran.
b. Menghitung recovery zat standar yang menguji akurasi metode.
c. Menetapkan kadar zat dalam sampel.

1.2 TEORI
Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar dengan metode titrasi
berdasarakan pada pembentukan senyawa kompleks antara complexing agent dengab ion
logam sebagai atom pusat. Gugus yang terikat pada atom pusat disebut sebagai ligan.
Banyaknya ikatan yang dibentuk oleh atom logam pusat disebut bilangan koordinasi dari
logam tersebut. Tidak semua reaksi kompleks dapat digunakan untuk titrasi. Syarat-syarat
yang harus diperhatikan antara lain:
1. Kompleks yang terbentuk harus stabil. Kestabilan makin besar maka kompleks makin
stabil.
2. Reaksi yang terjadi harus kuantitatif sehingga dapat diukur.
3. Tidak mempunyai rekasi samping. Bila memiliki dua atau lebih tingkat keseimbang
rekasi, maka perbedaan antara K stabilnya harus cukup besar.
4. Pembentukan kompleks tidak terlalu lama, kompleks yang terbentuk tidak boleh
mengendap.
5. Ada perbuahan nyata yang dapat diamati, baik dengan indikator visual maupun
dengan potensiometri.
6. Adanya indikator yang dapat menunjukkan perubahan tersebut dan bekerja pada
kondisi yang sama dengan reaksi kompleksasi yang terjadi.

Reaksi pembentukan kompleks dapat dianggap sebagai suatu reaksi kimia asam basa
Lewis dengan ligan bertindak sebagai basa, karena menyumbangkan sepasang elektronnya
kepada kation, yang merupakan asamnya. Ikatan yang terbentuk antara ion logam pusat
dengan ligan sekaligus bersifat kovalen, namun dalam beberapa kasus antaraksi tersebut
berupa tarik-menarik Coulomb.
Ikatan kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan suatu kompleksing agent juga
dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Ikatan kompleks biasa
Pada tipe ikatan ini, ion pusat berikatan dengan molekul yang hanya mempunyai satu
donor pasangan elektron sunyi.
2. Ikatan kompleks kelat
Merupakan ikatan yang berbentuk cincin. Ion pusat berikatan dengan molekul yang
mempunyai dua atau lebih donor pasangan elektron sunyi.

Macam-macam komplekson yang dapat digunakan pada titrasi kompleksometri antara lain:
garam Na dari asam nitrilo triasetat (NTA), garam Na dari asam etilen diamin tetraasetat
(EDTA), dan garam Na dari asam-1,2-diamino-sikloheksan tetraasetat. Garam yang paling
sering digunakan sebagai komplekson adalah Na2EDTA atau garam Na dari asam etilen
diamin tetraasetat, karena:
1. Dapat bereaksi dengan hampir semua logam pada sistem periodik.
2. Stabilitas kompleks yang terbentuk paling besar jika dibandingkan dengan
komplekson lain.
3. Ligannya membentuk senyawa kelat heksadentat yang sesuai dengan bilangan
koordinasi dari ion logamnya.
4. Harganya relatif murah

1.3 ALAT DAN BAHAN


1.3.1 Alat
a. Buret mikro 10 ml (skala 0,02 ml)
b. Statif dan klem buret
c. Labu Erlenmeyer 100 ml
d. Beaker glass
e. Gelas ukur 10 ml dan 25 ml
f. Pipet tetes
g. Botol semprot
h. Kertas perkamen
i. Timbangan analitik
1.3.2 Bahan
a. Larutan Na2EDTA 0,05 M
b. ZnSO4.7H2O
c. Buffer amoniak pH 10
d. EBT dalam NaCl
e. Bismut subnitrat
f. Asam nitrat P
g. Jingga xylenol LP
h. Aquadest
i. Sampel

1.4 PROSEDUR PERCOBAAN PEMBAKUAN Na2EDTA


1.4.1 Pembuatan larutan Na2EDTA
Larutkan 18,6 g dinatrium etilendiamintetraasetat (Na2EDTA) P dalam air hingga
1000 ml.

1.4.2 Pembuatan dapar amoniak pH 10


Larutkan 5,4 g ammonium klorida P dalam 70 ml ammonium hidroksida 5 M
kemudian encerkan dengan aquadest hingga 100 ml.

1.4.3 Pembuatan jingga xylenol LP


Larutkan 100 mg jingga xylenol P dalam 100 ml etanol P.
1.4.4 Pembakuan larutan Na2EDTA 0,05 M
a. Timbang seksama kurang lebih 100 mg ZnSO4.7H2O, larutkan dalam 100 ml air
b. Tambahkan 3 ml buffer ammoniak (pH = 10) dan 40-50 mg Eriochrom Black T
(EBT) dalam NaCl.
c. Titrasi dengan larutan Na2EDTA 0,05 M LV hingga warna berubah dari merah
violet menjadi biru muda
d. (BE ZnSO4.7H2O = 287,54)