Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS DU PONT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Informasi Keuangan

Dosen Pengampu Dr. Ari Yunanto S.E.,M.Si.

Disusun Oleh :

Siti Khusnul Khotimah C1B016021

Rahmah Suci Amalia C1B016022

Inastasya Shafira C1B016023

Jihad Akbar Choerinaldi C1B016025

Anindya Rizki Nurbaeti C1B016026

Maulana Salam C1B016030

Hanida Herni Wati C1B016037

Putri Gisda Anggraeni C1B016038

Putri Wulan Nurazeliany C1B016039

Fadli Dewangga Putra C1B016040

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2019
A. PENGERTIAN ANALISIS KEUANGAN SISTEM DU PONT MENURUT
PARA AHLI

1. Menurut Bambang Riyanto, dalm bukunya Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan


yang sering disebut sebagai “ Du Pont System” adalah suatu system analisis yang
dimaksudkan untuk menunjukan hubungan antara “ Return On Investment, Assets
Turn Over “, dan “Profit Margin”. ROI adalah rasio keuntungan neto sesudah pajak
dengan jumlah investasi (aktiva) sehingga dalam Du Pont System diperhitungkan
juga bunga dan pajak.
2. Menurut J. C. Van Horne & J. M. Wachowicz, Jr, dalam buku prinsip-prinsip
Manajemen Keuangan, yang diterjemahkan oleh Heru Sutojo, Sistem Du Pont adalah
system yang menggunakan pendekatan tertentu terhadap analisis rasio untuk
mengevaluasi efektifitas perusahaan.
3. Menurut Sofyan S . Harahap, dalam buku Analisa Kritis Laporan Keuangan, Du Pont
memiliki cara sendiri dalm menganalisa laporannya. Caranya hampir sama dengan
analisa laporan keuangan biasa, namun pendektannya lebih integrative dan
menggunakan komposisi laporan keuangan sebagai elemen analisisnya.
4. Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2002:90), Analisa Du Pont adalah
analisis yang menghubungkan tiga macam rasio sekaligus, yaitu ROI, Profit Margin
dan Asset Turn Over.
5. Menurut A. J. Keown, dkk (2004:102), analisa du Pont adalh system rasio keuangan
yang dirancang untuk menyelidiki determninan rasio pengembalian ekuitas
pemegang saham dan pengembalian aktiva
6. Menurut Syamsudin (2000:64), analisis Du Pont adalah ROA yang dihasilkan
melalui perkalian antara keuntungan dari komponen-komponen sales serta efisiensi
penggunaan total aset di dalam menghasilkan keuntungan tersebut.
7. Sutrisno (2001:256), analisis Du Pont adalah suatu analisis yang digunakan untuk
mengontrol perubahan dalam rasio aktivitas dan net profit margin dan seberapa besar
pengaruhnya terhadap ROA.
8. Menurut Syafarudin (2003:128), analisis Du Pont penting bagi manajer untuk
mengetahui faktor mana yang paling kuat pengaruhnya antara profit margin dan total
asset turnover terhadap ROA. Disamping itu dengan menggunakan analisis ini,
pengendalian beban dapat diukur dan efisiensi perputaran aset sebagai akibat turun
naiknya penjualan dapat diukur.
9. Menurut Soediyono (2001:137), yang dapat diuraikan dengan menggunakan analisis
Du Pont adalah ROA (Return On Assets) yang merupakan angka pembanding atau
rasio antara laba yang diperoleh perusahaan dengan besarnya total aset perusahaan.

Sistem Du-Pont merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Du-Pont


Company untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan. Sistem ini memberikan gambaran faktor-faktor yang saling berhubungan
dan berpengaruh pada tingkat pengembalian atas investasi suatu perusahaan (ROI) dan
tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) yaitu marjin laba bersih, perputaran total aktiva
dan tingkat hutang suatu perusahaan. Dengan mengetahui dan memahami faktor-faktor
tersebut, dapat membantu manajemen dalam memutuskan kebijakannya dalam rangka
untuk meningkatkan tingkat pengembalian atas investasi dan ekuitas suatu perusahaan.

B. TUJUAN ANALISIS DU PONT


Tujuan analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana efektvitas
perusahaan dalam memutar modalnya, sehingga analisis ini mencakup berbagai rasio. Du
Pont System ini didalamnya menggabungkan rasio aktivitas / perputaran aktiva dengan
rasio laba / profit margin atas penjualan dan menunjukkan bagaimana keduanya
berinteraksi dalam menentukan Return On Invesment (ROI), yaitu profitabilitas atas
aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio laba atas penjualan (profit margin) dipengaruhi
oleh tingkat penjualan dan laba bersih yang dihasilkan. Berarti profit margin ini
mencakup pula seluruh biaya yang digunakan dalam operasional perusahaan. Rasio
aktivitas sendiri dipengaruhi oleh penjualan dan total aktiva. Dapat dikatakan bahwa
analisis ini tidak hanya menfokuskan pada laba yang dicapai, tetapi juga pada invesatasi
yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
Semakin besar ROI semakin baik pula perkembangan perusahaan tersebut dalam
mengelola asset yang dimilikinya dalam menghasilkan laba. Hal ini disebabkan karena
ROI tersebut terdiri dari beberapa unsur yaitu penjualan, aktiva yang digunakan, dan laba
atas penjualan yang diperoleh perusahaan. Angka ROI ini akan memberikan informasi
yang penting jika dibandingkan dengan pembanding yang digunakan sebagai standart.
Jadi perbandingan ROI selama beberapa periode berturut-turut akan lebih akurat.
Berdasar dari kecenderungan ROI ini dapat dinilai perkembangan efektivitas operasional
usaha perusahaan, apakah menunjukkan kenaikan atau penurunan.
Du Pont System ini lebih tepat jika diterapkan pada perusahaan cabang/ divisi/
departemen/ pusat investasi. Melalui analisis ini perusahaan dapat menilai kinerja
keuangan divisi/ departemen/ pusat investasinya dengan melihat efektivitas penggunaan
aktiva dalam memperoleh laba bersih, sehingga pada akhirnya perusahaan pusat dapat
mengambil kebijaksanaan yang tepat atas divisi/ pusat investasinya.
Guna melihat dan menilai tingkat efektivitas operasional suatu perusahaan, tidak
hanya menggunakan kepekaan dan ketajaman para manajer secara kualitatif saja, tetapi
harus menggunakan metode secara kuantitatif. Du Pont System merupakan suatu metode
yang digunakan untuk menilai efektivitas operasional perusahaan tersebut, karena dalam
analisis ini mencakup unsur penjualan, aktiva yang digunalan serta laba yang dihasilkan
perusahaan.

Return On Investment
Pengertian Return On Investment
Menurut Munawir (1995:89) ROI (Return On Investment) adalah satu bentuk
dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan
perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan
untuk operasinya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
Besarnya ROI dipengaruhi oleh dua faktor :
 Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi
 Profit Margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam
prosentase dan jumlah penjualan bersih. Profit Margin ini mengukur tingkat
keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan
penjualannya.
Menurut Abdullah Faisal (2002:49) ROI ini sering disebut Return On Total Assets
dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan dengan menggunakan keseluruhan aktiva yang dimilikinya.
Kelebihan dan Kelemahan ROI
Menurut Abdullah (2002:50) kelebihan ROI antara lain:
1. Selain ROI berguna sebagai alat control juga berguna untuk keperluan
perencanaan. ROI dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan apabila
perusahaan akan melakukan ekspansi.
2. ROI dipergunakan sebagai alat ukur profitabilitas dari masing-masing produk yang
dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan sistem biaya produksi yang baik,
maka modal dan biaya dapat dialokasikan ke dalam produk yang dihasilkan oleh
perusahaan, sehingga dapat dihitung masing-masing.
3. Kegunaan ROI yang paling prinsip adalah berkaitan dengan efisiensi penggunaan
modal, efisiensi produk dan efisiensi penjualan. Hal ini dapat dicapai apabila
perusahaan telah melaksanakan praktik akutansi secara benar dalam artian
mematuhi sistem dan prinsip-prinsip akutansi yang ada.
Menurut Abdullah (2002:51) kelemahan ROI antara lain:
1. Mengingat praktek akutansi dalam perusahaan seringkali berbeda maka kelemahan
prinsip yang dihadapi adalah kesulitan dalam membandingkan rate of return suatu
perusahaan dengan perusahaan lain.
2. Dengan menggunakan analisa rate of return atau return on investment saja tidak
dapat dipakai untuk membandingkan dua perusahaan atau lebih dengan
memperoleh hasil yang memuaskan.
Sistem Du Pont sering dipergunakan untuk pengendalian dalam perusahaan
besar. Oleh karena itu kebijakan leverage financial dan pajak dibuat atas dasar
perusahaan secara keseluruhan bukan secara divisional. Jika Du Pont system
digunakan untuk pengendalian divisional maka disebut dengan pengendalian ROI,
menurut Sartono (2000:344)
a. Setiap divisi didefinisikan sebagai profit center, dengan investasi sendiri dan
diharapkan menghasilkan return yang cukup.
b. Jika ROI divisi yang bersangkutan turun dibawah target, maka staff perusahaan
pusat akan meneliti kembali dengan Du Pont System untuk mencari penyebabnya.
c. Prestasi manajer divisi dinilai atas dasar ROI divisi yang dipimpinnya dan
dimotivasi untuk berusaha menccapai tingkat ROI yang ditargetkan.
d. Return On Investment juga dipengaruhi oleh faktor selain kemampuan manajerial,
seperti: kebijakan depresiasi (penyusutan), nilai buku, dll.
Bagan Du Pont untuk Pengendalian Divisi

Harga Pokok
Penjualan

Biaya Penjualan
Penjualan

Biaya
Dikurangi Administrasi

Laba Bersih
Bunga

dibagi
Total Biaya
Margin Laba Pajak

Penjualan

ROI
Kas
dikali
Penjualan

Bank
Aktiva Lancar
Perputaran
total aktiva dibagi
Piutang
Total aktiva Ditambah

Aktiva Tetap
Persediaan

Sumber: Weston dan Copeland, 1999


Bagan Du Pont adalah bagan yang dirancang untk memperlihatkan hubungan antara
pengembalian atas investasi, perputaran aktiva dan margin laba. (Weston dan Brigham,
1990:307). Du pont tersebut merupakan uraian dari skema ROI, yang merupakan rasio
antara laba yang diperoleh perusahaan dengan besarnya perputaran aktiva perusahaan.
Perputaran total aktiva didefinisikan sebagai hasil bagi antara penjualan dengan total
aktiva, sedangakan margin laba didefinisikan sebagai rasio antara laba bersih dengan
hasil penjualan. Selanjutnya total aktiva didefinisikan sebagai penjumlahan antara aktiva
lancar dan aktiva tetap perusahaan dan laba bersih didapatkan dari pengurangan antara
penjualan dan total biaya (Soediyono,1991:149).

Analisis Du Pont merupakan analisis yang digunakan untuk mengontrol perubahan


dalam aktivitas rasio dan marjin laba, serta sejauh mana pengaruhnya terhadap tingkat
pengembalian (rate of return). Sistematika kerja analisis Du Pont ini adalah dengan
menguraikan ROA yang merupakan angka banding atau rasio, antara laba yang diperoleh
perusahaan (Marjin laba bersih) dengan besarnya total aset perusahaan. Melalui persamaan
Du Pont dapat dilihat bahwa ROA diperoleh dengan mengalikan marjin laba bersih dan
perputaran total aset. Perputaran total aset diperoleh dari hasil bagi antara hasil penjualan
dengan jumlah aset, sedangkan marjin laba bersih merupakan hasil bagi antara laba bersih
dengan hasil penjualan. Laba bersih merupakan hasil dari penjualan dikurangi beban-
beban.

C. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ANALISIS DUPONT


Menurut Munawir (2010:91-92), adapun keunggulan analisis Du Pont antara lain:
1. Sebagai salah satu teknik analisis keuangan yang sifatnya menyeluruh dan
manajemen bisa mengetahui tingkat efisiensi pendayagunaan aset.
2. Dapat membandingkan efisiensi penggunaan ekuitas pada perusahaannya
dengan perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah
perusahaannya berada di bawah, sama, atau di atas rata-ratanya.
3. Dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan
oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua beban dan ekuitas ke
dalam bagian yang bersangkutan.
4. Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk
yang dihasilkan oleh perusahaan.
5. Dapat digunakan untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan
perencanaan.

Menurut Munawir (2010:92-93), adapun kelemahan dari analisis Du Pont adalah :


1. ROI suatu perusahaan sulit dibandingkan dengan ROA perusahaan lain yang
sejenis, karena adanya perbedaan praktek akutansi yang digunakan.
2. Kelemahan lain dari teknik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi
nilai dari uang (daya belinya).
3. Dengan menggunakan ROA saja tidak akan dapat digunakan untuk
mengadakan perbandingan antara dua permasalahan atau lebih dengan
mendapatkan kesimpulan yang memuaskan.

D. KEGUNAAN / FUNGSI DU PONT

Kondisi perekonomian di Indonesia yang belum menentu mengakibatkan


tingginya risiko suatu perusahaan untuk mengalami kesulitan keuangan atau bahkan
kepailitan. Para investor di Indonesia saat ini cenderung untuk menginvestasikan
dananya pada kelompok saham yang masuk dalam penghitung indeks LQ 45, karena
merupakan saham-saham di jajaran top 45 yang memiliki tingkat likuiditas dan
kapitalisasi pasar yang tinggi. Untuk bertahan pada indeks LQ 45 tidaklah mudah,
sehingga banyak perusahaan yang keluar pada suatu periode tetapi dapat masuk
kembali diperiode berikutnya. Adanya kondisi yang berubah-ubah ini membuat para
investor melakukan analisis laporan keuangan perusahaan sehingga mereka dapat
melihat perusahaan mana saja yang memiliki potensi kebangkrutan. Salah satu cara
untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan tersebut adalah dengan melakukan analisis
rasio keuangan dengan melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan. Dalam
menganalisis kinerja sebuah perusahaan dikenal banyak sekali macam-macam rasio
keuangan. Salah satu yang cukup dikenal adalah Analisis DuPont.

Analisa DuPont dilakukan dengan memecah return on equity (ROE) menjadi


beberapa bagian. Mengapa ROE? ROE menggambarkan besarnya rate of return yang
didapatkan oleh pemegang sahamnya. Dengan memecah perhitungan ROE, kita dapat
mengetahui bagaimana suatu bisnis mendapatkan keuntungan.

Seperti yang kita ketahui formula ROE adalah:


Pada analisa DuPont, ROE dipecah menjadi 3 bagian:

atau dapat juga dituliskan:

ROE = Net profit margin x Assets turnover x Equity multiplier

Setiap bisnis memiliki karakteristik masing-masing untuk mendapatkan ROE yang tinggi.
Pada dasarnya industri dapat kita bagi menjadi 3 golongan:

1. High turnover industries

Industri yang memiliki turnover tinggi salah satunya adalah retail. Persaingan pada
industri ini begitu ketatnya sehingga ROE yang tinggi tidak bisa didapatkan dengan
mengenakan harga premium kepada konsumen. Untuk mendapatkan ROE yang tinggi
mereka bermain di volume penjualan. Ciri khas industri ini (sesuai dengan formula ROE)
adalah tingginya assets turnover.

2. High margin industries

Industri tertentu bisa mendapatkan profit margin yang tinggi. Mereka tidak terlalu
bergantung pada volume penjualan. Industri jenis ini ditandai dengan tingginya net profit
margin.

3. High leverage industries

Industri yang tergolong high leverage adalah perbankan. Bagi bank, tabungan dari
nasabah diperlakukan sebagai utang yang dapat dipergunakan sebagai modal untuk
menyalurkan kredit. Keuntungan yang didapatkan oleh bank adalah selisih antara bunga
kredit dengan bunga tabungan/deposito. Industri yang masuk ke dalam golongan ini ditandai
oleh tingginya equity multiplier. Jika dinyatakan dalam rasio debt to equity (DER),
maka: Equity multiplier = 1 + DER.

Dengan mengetahui karakteristik industri, kita akan dapat mengetahui dengan lebih
akurat apabila komponen penting yang merupakan sumber keuntungannya turun,
pengaruhnya akan signifikan ke kinerjanya.

Manfaat Analisis Du Pont System “Menurut (Munawir, 2010:91) manfaat dari analisis Du
Pont System ialah sebagai efisiensi produksi dan penjualan, pengukuran profitabilitas dari
produk yang diperoleh, pengukuran efisiensi modal kerja. Dapat melakukan suatu
perbandingan efisiensi modal perusahaan satu dengan perusahaan sejenis, serta perencanaan
ROI terhadap proyeksi penjualan”.
E. PRINSIP-PRINSIP DASAR DU PONT

Prinsip-Prinsip Dasar DuPont merupakan batu penjuru yang menunjukkan siapa kita dan apa
yang kita perjuangkan. Nilai-Nilai Dasar itu adalah:

1. Keselamatan dan Kesehatan


Kita berbagi baik secara pribadi maupun profesi untuk memastikan keselamatan dan
kesehatan dari para karyawan kita, pelanggan kita, dan orang-orang dalam masyarakat
di mana kita beroperasi.

2. Pemeliharaan Lingkungan
Kita bekerja mendapatkan solusi berbasi ilmu pengetahuan untuk pelanggan, selalu
melindungi lingkungan beserta sumber daya alam dan menguatkan bisnis kita dengan
menjadikan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan sebagai bagian yang terpadu
dari seluruh kegiatan bisnis kita di masa ini dan generasi penerus di masa mendatang.

3. Menghormati Orang Lain


Kami memperlakukan karyawan kami dan semua pelanggan kami dengan
profesionalisme, martabat dan rasa hormat, membina suatu lingkungan di mana orang
dapat berkontribusi, berinovasi dan tetap unggul.

4. Perilaku Beretika Tertinggi


Kita menjalankan urusan-urusan bisnis kita dengan standar-standar etika tertinggi dan
dengan mematuhi seluruh hukum yang berlaku. Kita bekerja dengan sungguh-
sungguh untuk menjadi perusahaan yang dihormati di seluruh dunia.

F. MODEL ANALISIS DU PONT

RASIO PERTUMBUHAN (GROWTH)


Menggambarkan persentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun.
Rasio Pertumbuhan (Growth) terdiri dari:
1. Kenaikan penjualan
Rumus:
Penjualan tahun ini – penjualan tahun lalu
__________________________________________________
Penjualan tahun lalu

2. Kenaikan Laba bersih


Rumus:
Laba bersih tahun ini – laba bersih tahun lalu
____________________________________________________
Laba bersih tahun lalu
3. Kenaikan Dividen Per Share
Rumus:
Dividen per share tahun ini-dividen pershare tahun lalu
___________________________________________________
Dividen per share tahun lalu

4. Earning Per Share (EPS)


Rumus:
EPS tahun ini – EPS tahun lalu
____________________________________________
EPS tahun lalu

5. Penilaian Pasar (Market Based Ratio)


Menggambarkan situasi / keadan prestasi perusahaan di pasar modal
a. Price Earning Ratio (PER)

= harga pasar saham : laba bersih


b. Market Book Value Ratio
= Nilai pasar saham : Nilai buku

6. Rasio Produktivitas
Menunjukkan tingkat produktivitas dari unit atau kegiatan yang dinilai
a. Rasio karyawan atas penjualan
Rumus:
Jumlah Penjualan Bersih
_____________________________
Jumlah Karyawan

b. Rasio Biaya per karyawan


Rumus:
Total Biaya
_____________________________
Jumlah karyawan
c. Rasio Penjualan terhadap Space ruangan
Rumus
Jumlah penjualan bersih
____________________________________
Jumlah space (m2)

d. Rasio laba terhadap Karyawan


Rumus :
Jumlah laba bersih
___________________________
Jumlah karyawan

e. Rasio Laba terhadap Cabang


Rumus:
Total laba
____________________________
Jumlah cabang

f. Rasio lain :
1. Rasio penjualan terhadap modal pemilik
2. rasio biaya terhadap produksi
3. Rasio laba terhadap jam kerja
4. Rasio aktiva terhadap karyawan
5. Rasio biaya operasi terhadap karyawan

MODEL DUPONT ANALYSIS


Tujuan menganalisa laporan keuangan antara lain adalah mengevaluasi kinerja
perusahaan. Alat pengukur kinerja keuangan yang paling popular sebagaimana yang
digunakan dalam analisa DuPont adalah analisa Return on Equity (ROE) dan Return on
Investment (ROI). Cara analisa DuPont hampir sama dengan analisa laporan keuangan biasa,
tetapi pendekatannya lebih integratif dan menggunakan komposisi laporan keuangan sebagai
elemen analisanya.

Return on Equity (ROE)


Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa karier banyak eksekutif senior naik dan
turun mengikuti ROE perusahaannya. ROE diperlukan demikian penting karena merupakan
ukuran efisiensi yang dicapai perusahaan dalam mendayagunakan modal para pemilik saham.
ROE merupakan taksiran tentang laba bersih per dollar dari modal (equity) yang
diinvestasikan atau persentase pengembalian ( return) kepada pemilik dari investasinya dalam
perusahaan.
Pada modul ini akan dibahas mengenai komponen – komponen utama yang mempengaruhi
ROE, serta mengevaluasi dan mengalisa masing- masing komponen tersebut. Selanjutnya
akan mempertimbangkan beberapa masalah penting dengan penggunaan ROE sebagai
pengukur kinerja keuangan.

G. CONTOH ANALISIS DU PONT


Untuk mendapatkan perspektif praktisnya, akan digunakan laporan keuangan
Tektronis, Inc. seperti pada laporan neraca tabel 1 dan laporan rugi laba tabel 2 berikut:

NERACA
TAHUN FISKAL 1986,1987 ($ juta)
1986 1987 perubahan
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas&Surat Berharga $258 $243 -15
Piutang Usaha 240 252 12
Persediaan 165 146 -19
AL lainnya 64 56 -8
Jumlah AL 727 697
Tanah 32 32 0
Bangunan Pabrik &Alat 775 820 45
Akumulasi Penyusutan 427 494 67
Nilai Buku B.P &Alat 348 326
Aktiva Tidak Lancar lain 90 105 15
Jumlah Aktiva 1197 1160
KEWAJIBAN DAN MODAL
Kewajiban Lancar
Hutang jangka Pendek $85 $3 -82
Hutang Usaha 113 109 -4
Hutang Pajak Penghasilan 24 42 18
B.yng msh hrs dibayar 97 96 -1
Jumlah Kewajiban Lancar 319 250
Hutang jangka panjang 11 51 40
Pajak Phsl yg ditangguhkan 22 12 -10
Kewajiban jk panjang lain 7 8 -1
Jumlah Kewajiban 359 321
MODAL
Modal saham biasa 61 35 -26
Laba ditahan 777 804 27
Jumlh Modal 838 839
Jumlah Kewajiban& Modal 1197 1160

TEXTRONIX, INC.
LAPORA RUGI LABA
TAHUN FISKAL 1986,1987 ($ juta)
1986 1987
AKTIVA

Penjualan Bersih $1,352 $1,396


HPP 663 639
Laba Bruto 689 757

Beban Usaha 198 200


Beban Rekayasa 249 264
Beban Administrasi 138 139
35 54
Laba Usaha 69 100
Beban Bunga 16 10
Pebdapatan (beban) lain -11 12
EBIT 42 102
Pajak 3 52
Laba Bersih $39 $50

ROE ( Return Of Equity)

Laba Bersih ( Earnings)


ROE = -----------------------------
Modal ( Stockholder Equity)

= $ 50 / $839 = 6.0%

ROE =
1. Menentukan karier eksekutif senior
2. Untuk efisiensi penggunaan modal pemilik

3 unsur penentu ROE adalah :


ROE = Laba Bersih / Modal
= Laba Bersih/Penjualan(PM) x Penjualan/Aktiva x Aktiva / Leverage
Keuangan
= 50/1396 x 1396/1160 x 1160/839
= 3,6 x 1,2 x 1,4 = 6,0%
Jika ke 3 unsur meningkat, maka ROE meningkat dan sangat mempengaruhi kinerja
keuangan.
PM = mengukur kinerja keu. pada perhitungan R/L Perusahaan
PA & DR = mengukur kinerja keu. pada sisi kanan dan sisi kiri NERACA
Return on Investment (ROI).
1. Return on investment adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dengan
keseluruhan dana yang ditanamkan dealam aktiva yang digunakan untuk operasinva
perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
2. Besarnya ROI dipengaruhi dua factor:
a. Turover dari operating assets
b. Profit margin yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam persentase
dan jumlah penjualan bersih
= assets turnover x Profit margin
atau
= Penjualan : Operating assets x Laba usaha : Penjualan

Contoh
NERACA
(Dalam ribuan rupiah)

31.12.2001 31.12.2000
Aktiva
Kas 2.540 2.750
Surat-surat berharga 1.800 1.625
Piutang (net) 18.320 16.850
Persediaan barang 27.530 26.470
Total aktiva lancar 50.190 47.695
Bangunan, pabrik &
peralatan 43.100 39.500
Akm. Penyusutan ( 11.400) (9.500)
Bangunan, pabrik &
peralatan 31.700 30.000
Total aktiva 81.890 77.695
======= ======
Kewajiban dan Modal
Utang dagang 9.721 8.340
Wesel bayar – bank (10%) 8.500 5.635
Utang pajak 3.200 3.150
Kewajiban lain-lain 2.102 1.750
Utang j. panjang (lancar) 2.000 2.000
Total kewajiban lancar 25.523 20.875
Utang obligasi (9 5/8% )* 22.000 24.000
Total kewajiban 47.523 44.875
Saham biasa (10 par) 13.000 13.000
Agio saham 10.000 10.000
Laba ditahan 11.367 11.367
Total modal pemilik 34.367 32.820
Total kewajiban dan modal 81.890 77.695
====== ======
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun 2001
(Dalam ribuan rupiah)
Penjualan bersih 112.760
Harga pokok penjualan 85.300
Laba kotor 27.460
Biaya operasi :
Biaya penjualan 6.540
Biaya umum dan administrasi 9.400
Total biaya operasi 15.940
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) 11.520
Beban bunga :
Bunga atas wesel bank 850
Bunga atas obligasi 2.310
Total beban bunga 3.160
Laba sebelum pajak (Earning before tax) 8.360
Pajak Penghasilan 48% 4.013
Laba setelah pajak (earning after tax) 4.347

Informasi lainnya :
Deviden yang dibayar atas saham biasa 2.800
Laba ditahan dalam perusahaan 1.547
Saham yang masih beredar 1.300
Harga pasar per lembar saham 20
Nilai buku per lembar saham 26,44
Laba per lembar 3,34
Deviden per lembar saham 2,15
Pembayaran tahunan leasing terdapat sejumlah Rp. 150.000

Rumus dan pembahasan :


Laba setelah pajak (EAT) 4.347
ROI = --------------------------------- = ----------- x 100%
Total asset 81.890

= 5,308 % atau
= Net Profit margin x Total asset turnover
= 3.855 % x 1.378 % = 5.308 %

Catatan:

Laba setelah pajak (EAT) 4.347


Net Profit margin = ------------------------------- x 100% = ------------- x 100 %
Penjualan 112.760

= 3.855 %

Penjualan 112.760
Total asset turnover = --------------------- x 100% = ------------- x 100 %
Total asset 81.890
= 1,378 %
Total asset = Cash + Surat berharga + Piutang dagang + Persediaan+Aktiva tetap / Net
= 2.540 + 1.800 + 18.320 + 27.530 + 31.700
= 81.890
Berikut ini adalah laporan keuangan PT. Mayora Indah Tbk (MYOR) untuk tahun 31
Desember 2017. Dari laporan keuangan MYOR, dapat dihitungkan ROE Du Pont sebagai
berikut :

Pada analisis Du Pont ROE selama dua tahun, tampak bahwa ROE MYOR meningkat
22,16% menjadi 22,18%. Peningkatan ROE MYOR sangatlah tipis, atau dapat dikatakan
ROE MYOR sebenarnya stabil. Agar ROE MYOR tetap stabil, manajemen berusaha untuk
meningkatkan margin laba bersih melalui efisiensi biaya, dan mengurangi leverage. Hal ini
terlihat dari margin laba bersih yang meningkat dari tahun 2016 ke tahun 2017.

Di sisi lain, manajemen menyadari bahwa perputaran aset perusahaan mengalami


penurunan (dari 1,42 kali menjadi 1,40 kali), sehingga perusahaan meningkatkan margin laba
bersih, dengan cara menekan biaya-biaya di laba rugi agar margin laba bersih meningkat dan
ROE juga bisa meningkat. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen MYOR memang
ingin mempertahankan tingkat ROE yang stabil.

Dari rasio di atas, MYOR berhasil dalam mengelola biaya-biayanya, sehingga ROE
meningkat. Hal ini berarti MYOR adalah perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas
yang baik dan stabil. MYOR juga berusaha menurunkan tingkat leverage dari 2,06 kali
menjadi 2,03 kali.

Jika perusahaan sejenis memiliki tingkat leverage yang tinggi di bandingkan MYOR,
maka tingkat leverage MYOR dapat dikatakan wajar. Jika perusahaan sejenis memiliki
tingkat perputaran aset yang kurang lebih sama dengan MYOR, maka kemampuan MYOR
untuk menghasilkan penjualan dari aset-asetnya sudah cukup baik.

Namun jika perputaran MYOR jauh lebih kecil di bandingkan rata-rata industri
sejenis, maka dapat dikatakan MYOR memiliki kelemahan dalam hal memaksimalkan aset-
asetnya untuk mencapai penjualan.