Anda di halaman 1dari 31

KONSEP DASAR LAPORAN KEUANGAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Informasi Keuangan

Dosen Pengampu Dr. Ari Yunanto S.E.,M.Si.

Disusun Oleh :
Siti Khusnul Khotimah C1B016021
Rahmah Suci Amalia C1B016022
Inastasya Shafira C1B016023
Jihad Akbar Choerinaldi C1B016025
Anindya Rizki Nurbaeti C1B016026
Maulana Salam C1B016030
Hanida Herni Wati C1B016037
Putri Gisda Anggraeni C1B016038
Putri Wulan Nurazeliany C1B016039
Fadli Dewangga Putra C1B016040

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2019
SUB-BAB KONSEP DASAR LAPORAN KEUANGAN

1. AKUNTANSI
Apa itu akuntansi? Pengertian Akuntansi adalah suatu proses mencatat, meringkas,
mengklasifikasikan, mengolah, dan menyajikan data transaksi, serta berbagai aktivitas yang
terkait dengan keuangan. Dengan adanya akuntasi maka akan memudahkan seseorang
dalam mengambil keputusan serta tujuan lainnya.

a. Pengertian akuntansi menurut para ahli :


1) Charles T. Horngren dan Walter T. Harrison

Menurut Charles T. Horngren dan Walter T. Harrison, pengertian akuntansi adalah


sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi sebuah
laporan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan.

2) Littleton

Menurut Littleton, pengertian akuntansi adalah aktivitas yang bertujuan untuk


melaksanakan perhitungan periodik antara biaya (usaha) dan hasil (prestasi). Definisi
ini adalah inti dari teori akuntansi dan merupakan ukuran yang dijadikan sebagai
rujukan dalam mempelajari akuntansi.

3) Warren dkk

Menurut Warren dkk, pengertian akuntansi adalah sistem informasi yang


menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas
ekonomi dan kondisi perusahaan.

4) Rudianto

Menurut Rudianto, akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan


kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi
suatu badan usaha.
5) C. West Churman

Menurut C. West Churman, pengertian akuntansi adalah pengalaman tertulis yang


bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan pengalaman yang tersusun berharga
bagi pembuatan pilihan.

b. Tujuan akuntansi

Tujuan Akuntansi secara umum adalah untuk mengumpulkan dan melaporkan


informasi terkait keuangan, kinerja, posisi keuangan, dan arus kas dalam sebuah bisnis.
Informasi ini nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan ekonomi.

Jika dijabarkan, ada beberapa tujuan akuntansi, diantaranya adalah:

1. Tujuan Akuntansi Secara Umum

 Memberikan informasi mengenai keuangan, baik itu aktiva maupun passiva


perusahaan
 Menyediakan informasi mengenai perubahan pada berbagai sumber ekonomi
(netto) perusahaan
 Memberikan informasi keuangan perusahaan yang dapat membantu dalam
pembuatan estimasi potensi keuntungan perusahaan
 Memberikan informasi mengenai perubahan pada berbagai sumber ekonomi
perusahaan, baik itu aset, hutang, serta modal.
 Menyediakan informasi lainnya terkait laporan keuangan untuk membantu
pengguna laporan tersebut
2. Tujuan Akuntansi Secara Khusus

Secara khusus, tujuan akuntansi adalah untuk menyediakan informasi dalam bentuk
laporan yang memuat posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan
lainnya secara wajar sesuai Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU)
atau Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

3. Tujuan Akuntansi Secara Kualitatif

Tujuan akuntansi secara kualitatif meliputi beberapa hal berikut ini:


 Memberikan informasi yang relevan
 Menyampaikan informasi yang telah teruji kebenaran dan validitasnya
 Informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang
berkepentingan
 Menyampaikan laporan keuangan untuk kepentingan semua pihak yang terkait
dengan aktivitas perusahaan
 Memberikan informasi transaksi yang real time, atau sesegera mungkin.
 Informasi yang disampaikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum
(PABU) dan dapat diperbandingkan
 Penyampaian laporan keuangan harus lengkap dan memenuhi standar
pengungkapan laporan keuangan

c. Fungsi Akuntansi
Dari pengertian akuntansi sudah menyinggung tentang sistem pelaporan keuangan
termasuk untung rugi perusahaan. Sehingga, akuntansi sudah pasti sangat dibutuhkan
dalam bisnis karena beberapa fungsinya sebagai berikut:

1) Recording Report

Recording report atau merekam catatan transaksi secara sistematis dan kronologis
merupakan fungsi utama dari akuntansi. Rekam catatan transaksi ini kemudian
dikirim ke Account Ledger sampai akhirnya menyiapkan akun akhir untuk
mengetahui profit dan loss dari bisnis pada akhir periode akuntansi.

2) Melindungi Properti dan Aset

Fungsi akuntansi berikutnya adalah untuk menghitung jumlah Penyusutan Aset


sebenarnya dengan menggunakan metode yang tepat dan berlaku untuk aset
tertentu. Semua disipasi tidak sah dari aset akan mengakibatkan sebuah bisnis
mengalami kebangkrutan. Itulah sebabnya sistem akuntansi dirancang untuk
melindungi properti dan aset bisnis dari pemakaian yang tak sah.

3) Mengkomunikasikan Hasil
Fungsi akuntansi selanjutnya adalah untuk mengkomunikasikan hasil dan transaksi
yang dicatat ke semua pihak yang tertarik pada bisnis tertentu. Misalnya investor,
kreditor, karyawan, kantor pemerintahan, peneliti, dan instansi lainnya.

4) Meeting Legal

Fungsi akuntansi juga berhubungan dengan perancangan dan pengembangan sistem.


Misalnya sistem untuk memastikan catatan dan pelaporan hasil selalu memenuhi
persyaratan hukum. Sistem ini nantinya diperlukan untuk mengaktifkan kepemilikan
atau wewenang untuk mengajukan berbagai pernyataan, seperti Pengembalian
Penjualan-Pajak, Pengembalian Pendapatan Pajak, dan lain sebagainya.

5) Mengklasifikasikan

Selanjutnya fungsi akuntansi yang tak kalah pentingnya adalah sebagai klasifikasi
terkait dengan analisis sistematis dari semua data yang tercatat. Dengan adanya
klasfikasi tersebut akan memudahkan dalam pengelompokkan jenis transaksi atau entri.
Aktivitas klasifikasi ini dilakukan pada buku yang disebut sebagai “Ledger”.

6) Membuat Ringkasan

Aktivitas meringkas ini melibatkan penyajian data rahasia dengan penyampaian yang
bisa dimengerti dan berguna bagi internal maupun eksternal pengguna akhir dari
laporan akuntansi tersebut. Aktivitas ini mengarah pada penyusunan laporan:

 Neraca Saldo
 Laporan laba rugi
 Neraca
7) Analisis dan Menafsirkan

Fungsi akuntansi yang terakhir adalah melakukan analisis dan menafsirkan data
keuangan. Data keuangan yang sudah melalui proses analisis kemudian
diinterpretasikan dengan cara yang mudah dimengerti sehingga dapat membantu dalam
membuat penilaian mengenai kondisi keuangan dan profitabilitas operasional bisnis.
Selain itu, hasil analisis tersebut juga digunakan untuk persiapan rencana di masa
mendatang dan framing dari kebijakan untuk pelaksanaan rencana tersebut.

2. LAPORAN KEUANGAN
Analisis keuangan sangat bergantung pada inti yang diberikan oleh laporan keuangan
perusahaan. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang
penting di samping infomasi lain seperti informasi industri, kondi perekonomian,pangsa
pasar perusahaan,kualitas manajemn dan lain-lainnya.

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan
tersebut. Ada tiga macam laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan, (1) Neraca, (2)
Laporan Laba Rugi, dan (3) Lopran Aliran Kas. Di samping ketiga laporan pokok tersebut,
dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan laba yang ditahan, perubahan modal
sendiri, dan diskusi-diskusi oleh pihak manajemen.

Hubungan atara ketiga macam manajemen laporan keuangan pokok tersebut bisa
dilihat sebagai berikut:

Gambar 2.1 Hubungan Antarlaporan Keuangan

Laporan Laba Rugi

 Pendapatan
 Biaya Neraca Akhir
Neraca Awal
 Aset
 Aset Transaksi dan  Hutang
 1.
Hutang Kejadian  Modal
 Modal
2. Saham
Sendiri Laporan Aliran Kas

 Aliran Operasi
 Aliran Investasi
 Aliran
Pendanaan
a. Neraca

Salah satu pelaporan keuangan biasanya dikatan untuk membantu investor, kreditur,
dan pihak-pihak lain manksir besar, waktu, serta tingkat kepastian aliran kas suatu
perusahaan atas entitas. Secara lebih spesifik, neraca di maksudkan menbantu pihak
eksternal untuk menganalisis (1) likuiditas perusahaan (2) fleksibilitas (3) kemampuan
operasi dan (4) kemampuan menghasilkan pendapatan selama periode tertentu.

1. Pengakunan dalam Neraca

Pengakunan dalam konteks neraca adalah proses pencatatan dan pelaporan dalam
laporan keuangan secara formal. Tiga tahap yang dilalui oleh suatu perusahaan:

a) Identifikasi item-item yang memenuhi definisi elemen


b) Pengukuran (penilaian) elemen-elemen tersebut.
c) Pelopran (klasifikasi) dari elemen-elemn tersebut.

Elemen-elemen dalam nerasa bisa didefinisikan sebagai kelas atau blo yang luas
mencakup item-item yang membentuk elemen tersebut. Berikut elemen-elemen di nerca
(profit oriented).

Ada tiga blok elemen besar yaitu aset (aktiva), hutang dan modal. Aset
merupakan sumber ekonomi yang akan dipakai perusahaan untuk menjalan
kegiatannya. Hutang bisa didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang mungki
timbul di masa mendatang dari kewajiban perusahaan sekarang untuk mentransfer aset
atau memberikan jasa ke pihak lain di masa mendatang, sebagai akibat transaksi atau
kejaidian di masa lalu. Modal saham merupakan sisa dari aset suatu bisnis dikurangi
dengan hutang-hutang.

Agara suatu elemen bisa dilaporkan di dalam neraca, elemen tersebut harus bisa
diukur dengan reliabilitas tertentu dalam unit moneter. Ada beberapa pengukuran yang
bisa di pakai sbb:

 Historical cost
Suatu aset meruapakan harga penukuran yang pada saat transaksi dimana aset
pertama kalai diperoleh/dibeli.

 Currentcost

Suatu aset adalah jumlah kas (atay ektivitas kas) yang dibutuhkan pada tanggal
neraca untuk memperoleh aset yang sama.

 Current exit value

Nama lainnya current market value suatu aset adalah jumlah kas ( atau ekuivalen)
yang akan di peroleh pada tanggal neraca dengan menjadi aset, dalam kondisinta yang
sekarang, dalam prroses likuiditas yang teratur/wajar.

 Net realitable value

Net realitable value Suatu aset adalah jumlah kas ( atau ekuivalen kas) dimana
suatu aset diharapkan bisa ditukar dalam operasi normal perusahaan, dikurangi biaya-
biaya yang berkaitan dengan transaksi pertukaran tadi ( seperti biaya pengumpulan,
biaya pelepasan aset). Net realitable value berbeda dengan surret exit value karena Net
realitable value merupakan nilai pada masa mendatang dan barangkali pada kondisi
yang berbeda.

 Present value

Suatuu aset adalah diskonto atas jumlah bersih aliran kas masuk yang diharapkan
dikurangi jumlah alirab kas keluar yang diharapakn, yang berkaitan dengan suatu aset.
Pendektan ini mem[erhitungkan niali waktu uang.

Klasifikasi neraca di dasrkan pada 3 blok besar diatas, yang akan di jumpai
perusahaan akan nampak seperti berikut ini:

1. Aktiva/aset
a. Aktiva lancar
b. Investasi jangka panjang
c. Bangunan,pabrik dan peralatan
d. Aktiva tidak berwujud
e. Aktiva lainnya
2. Hutang
a. Hutang lancar
b. Hutang jangka panjang
c. Hutang lainnya
3. Modal salam
a. Modal saham disetor
1) Saham nominal
2) Agio atau capital surplus
a) Laba yang ditahan
b) Modal lainnya

3. BENTUK LAPORAN KEUANGAN


Sebelum menganalisa dan menafsirkan suatu laporan keuangan, seorang penganalisa
harus mempunyai pengertiang yang mendalam tentang bentuk maupun prinsip penyusunan
laporan keuangan serta masalah yang mungkin timbul dalam penyusunan laporan tersebut.

1) Neraca

Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu
untuk menunjukan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya
pada waktu di mana buku buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiscal
atau tahun kalender. Nama lain neraca adalah balance sheet.

a. Pengertian Aktiva

Aktiva tidak hanya terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud tetapi
termasuk pengeluaran pengeluaran yang belum dialokasikan atau biaya yang masih
harus dialokasikan pada penghasilan yang akan dating, serta aktiva yang tidak berwujud
lainnya.

Aktiva diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu aktiva lancar adalah uang kas dan
aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang
tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama 1 tahun atau
dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). Pos pos yang termasuk aktiva
lancar sebagai berikut:

a. Kas, atau uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan.
b. Investasi jangka pendek, adalah investasi yang sifatnya sementara (jangka pendek)
dengan maksud untuk memanfaatkan uang kasa yang sementara belum di butuhkan
dalam operasi. Syarat utama agar dapat dimaksukan dalam investasi jangka panjang
adalah bahwa investasi itu harus bersifat marketable.
c. Piutang wesel adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam
suatu wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang undan sehingga memiliki
kekauatan hokum dan terjamin pelunasannya.hutang wesel dapat diperjual belikan
atau didiskontokan. Dengan didiskontokan piutang wesel maka timbulah “contingen
liability” atau hutang yang mungkin terjadi di masa yang mendatang pada saat jatuh
tempo wesel yang bersangkutan karena pembuat wesel tidak mampu membayar
wesel bersangkutan.
Penyajian contingent liability dalam neraca karena adanya penjualan piutang
wesel adalah sebagai berikut:
1. Sebagai pengurang wesel yang dimiliki.
2. Sebagai catatan tambahan (footnote) bahwa perusahaan mempunyai contingent
liability dari piutung wesel yang didiskontokan sehingga piutnag wesl tampak
dalam neraca sebesar Rp. 200.000
3. Piutang wesel yang didiskontokan Nampak dalam kelompok hutang sebsar
Rp.100.000 tetapi tidak ikut dijumkahkan sehingga piutang wesel Nampak
dalam kelompok aktiva lancara Rp. 200.000
4. Piutang wese yang didiskontokan Nampak sebagai hutang lancer Rp.100.000
dan piutang wesel Nampak dalam aktiva lancer sebesar Rp. 300.000
d. Piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain sebagai akibat adanya penjualan
barang dagang secara kredit.
e. Persediaan , untuk perusahaan perdagangan yang dimaksud dengan persediaan
adalah semua barang dagang yang sampai tanggal neraca masih digudang atau
belum laku dijual.
f. Piutang penghasilan adalah penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena
perusahaan telah memberikan jasa atau prestasinya tetapi belum diterima
pembayarannya sehingga merupakan tagihan.
g. Persekot atau biaya yang dibayar dimuka adalah pengeluaran untuk memperoleh
jasa atau prestasi dari pihak lain itu belum dinikmati oleh perusahaan pada periode
ini melainkan pada periode berikutnya.

Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatip permanent
atau jangka panjang. Yang termasuk aktiva tidak lancara adalah sebagai berikut:

1. Investasi jangka panjang.investasi jangka panjang dapat berupa; saham dari


perusahaan lain, obligasi, aktiva tetap yang tidak ada hubungannya dengan usaha
perusahaan, dan bentuk dan dana yang sudah mempunyai tujuan tertentu.Penyajian
investasi jangka panjang ini dalam neraca adalah sebesar harga perolehan dari
investasi tersebut.
2. Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya Nampak.
Aktiva tetap juga digunakan dalam operasi perusdahaan yang bersifat permanen.
Contoh dari aktiva tetap ini adalah : tanah, bangunan mesin dan lain lain.
3. Aktiva tetap tidak berwujud adalah kekayaan perusahaan yang secara fisik tidak
Nampak tetapi meru[akan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki perusahaan
untuk digunakan dalam kegaitan perusahaan. Contoh dari aktiva tetap tidak
berwujud adalah gak cipta dan merek dagang.
4. Beban yang ditangguhkan adalah adanya pengeluaran atau biaya yang mempunyai
manfaat jangka panjang atau pengeluaran yang akan dibebankan juga pada periode
selanjutnya. Contohnya biaya pemasaran dan diskonto.
5. Aktiva lain lain menunjukan kekayaan atau aktiva perusahaan yang tidak dapat atau
belum dapat dimasukan dalam klasifikasi sebelumnya. Contohnya gedung dalam
proses.

b. Pengertian Hutang
Hutang adalah kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang
belum terpenuhi dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan
yang berasal dari kreditor.
Hutang lancer adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atas
pembayaran akan dilakukan dalam jangka waktu pendek(1 tahun) dengan
menggunakan aktiva lancer. Hutang lancer terdiri dari, hutang dagang, hutang
wesel, hutang pajak, hutang yang masihharus dibayar, hutang jangka panjang yang
segera jatuh tempo, penghasilanyang diterima dimuka.
Hutang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu
pembayarannya masih jangka panjang ( lebih dari satu tahun) meliputi : hutang
obligasi, hutang hipotik, hutang jangka panjang lain.
Kreditor dalam perusahaan dikategorikan menjadi 3 golongan:
1. Kreditor terjamin.
2. Kreditor yang terjamin sebagian.
3. Kreditor tanpa suatu jaminan apapun.

c. Pengertian Modal

Modal adalah hak atau bagian yang dimimiliki oleh perusahaan yang ditunjukin
dalam pos modal, surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang
dimiliki oleh peursahaan terhadap seluruh hutang hutangnya.

Cadangan dapat diklasifiksikan sesuai klasifikasi neraca yaitu aktiva, hutang,


dan milik sendiri (modal).

1. Cadangan sebagai pengurang aktiva


2. Cadangan sebagai hutang.
3. Cdangan yang merupkan surplus.

Bentuk Neraca

Bentuk atau susunan dari neraca tidak ada keseragaman di antara perusahaan
perusahaan tergantung pada tujuan tujuan yang akan di capai.
1. Bentuk Skontro dimana aktiva tercantum sebelah kiri/debit dan hutang serta modal
tercantum sebelah kanan/kredit.
2. Bentuk Vertikal dalam bentuk ini semua aktiva Nampak di bagian atas yang
selanjutnya diikuti dengan hutang jangka pendek, hutang jangka pendek serta
modal.
3. Bentuk neraca yang disesuaikan dengan kedudukan atau posisi keuangan
perusahaan.

Masalah Penilaian dan Penyusutan

Masalah pokok yang timbul di dalam penilaian dan penyusutan adalah alokasi yang
tepat dari penghasilan dan biaya pada periode yang lalu, dan yang akan dating. Dasar
pencatatan atau pemasukan jumlah rupiah dalam berbagai aktiva di dalam neraca tersebut
harus jelas dengan keterangan tambahan yang diperlukan atau foototes.

Dalam penilaian yang umum adalah harg perolehan tetapi ada pengecualian misalnya:

a. Investasi jangka panjang pendek jika nilai realisasi atau nilai pasarnya lebih rendah
daripada harga pokoknya, maka Nampak dalam neraca sejumlah nilai realisasinya.
b. Piutang biasanya dicatat dalam neraca berdasarkan taksiran jumlah yang akan
direalisisr dengan mengurangkan taksiran yang tidak bias ditagih terhadap saldo
piutang tersebut.
c. Persedian dicatat dalam neraca berdasarkan harga pokoknya atau terendah di antara
harga pokok dengan pasarnya dan tidak akan kita nilai berdasarkan realisasi atau
harga jualnya.
d. Invests jangka panjang dan tanah umumnya dicatat dalam neraca berdasarkan harga
perolehannya.
e. Persekot biaya, beban yang ditangguhkan dan aktiva tetap lainnya Nampak atau
dicatat dalam neraca sebagai biaya yang belum dikonsumsi yaitu bahwa jumlah
rupiah tersebut adalah suatu jumlah yang masih harus dialokasikan pada periode
akuntansi yang akan dating sebagai biaya operasi.
Sehubungan dengan masalah penilaian dan penyusutan maka berikut ini akan
diberikan prinsip atau pedoman untuk penilaian, penuyutan dan penentuan pendapatan

- Pengeluaran modal dan penghasilan


- Penerimaan modal dan penghasilan
- Laba dan penghematan
- Alokasi biaya pada periode periode akuntansi yang benar
- Pengakuan rugi walaupun belum terelaisasi tetapi tidak mengantisipasikan laba.

Suatu pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan mungkin manfaatnya dapat


diterima atau dinikmati pada periode pengeluaran itu saja atau pada periode berikutnya
juga. Penerimaan modal harus dibedakan dengan penerimaan penghasilan, karena
kekeliruan pencatatan atau kekeliruan pengakuan penerimaan penghasilan sebagai
penerimaan modal maka akan mengakibatkan pendapatan pada periode itru terlalu
rendah dan terlalu rendahnya nilai aktiva atau terlalu tinginya hutang dan modal. Sering
terjsdi bahwa perusahaan membangun sendiri gedung gedung atau aktiva tetap lain yang
dimiliki, kalau biaya pembangunan itu lebih rendah daripada kalau dibeli maka selisih
ini tidak dapat diakui sebagai laba karena tidak ada atau belum direalisir. Dalam
perusahaan kecil biasanya akuntansi dengan dasar tunai, dalam laporan rugi laba dalam
periode itu sesuai dengan uang tunai yang diterima dan dikeluarkan periode itu juga.
Dalam perusahaan besar penggunaan dasar tunai ini kuranng tepat, karena dengan dasar
ini tidak dapat dihitung dan dipertemukan penghasilan dengan ongkos ongkosnya secara
tepat.
Berikut contoh neraca suatu perusahaan :

PT ABC
NERACA
31 Desember 19X2
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas 14.300
Surat berharga 19.700
Pitang dagang 68.000
Cadangan piutang tidak terbayar (3.000)
65.000
Persediaan (lower Cost or Market)
Bahan mentah 32.000
barang dalan proses 49.500
Barang jadi 66.100
147.000
Item dibayar dimuka:
Asuransi 4.800
Bahan kontor 2.200 7.000
Total aktiva lancar
253.600
Investasi jangka panjang
Investasi pada PT XYZ 17.000
Dana untuk oelunasanobligasi 17.400
34.400
Kos Ak.Dep
Bersih
Bangunan 36.000 - 36.000
Pabrik 428.000 207.000 221.000
Perlatan 192.000 63.700 128.000
656.000 270.700 385.300
Total akitva tetep 385.300
Aktiva tidak berwujud
Merek dagang 12.600
Paten 16.900
Total aktiva tidak berwujud 29.500
Total aktiva 702.800

2) Laporan Rugi Laba

Merupakan laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang
diperoleh oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu. Prinsip prinsip umum yang
diterapkan pada laporan rugi laba:

1. Bagian pertama menunjukan penghasilan dari usaha pokok peursahaan diikuti


dengan harga pokok dari produk yang dijual sehingga diperoleh laba kotor.
2. Bagian kedua yang menunjkan biaya biaya operasional yang terdiri dari biaya
penjualan dan biaya umum..
3. Bagian ketiga menunjukan hasil hasil yang diperoleh di luar operasi pokok
perusahaan.
4. Bagian keempat menunjukan laba atau rugi yang insidentil.

Bentuk laporan Rugi Laba

1. Bentuk single step, yaitu dengan menggabungkan semua penghailan menjadi


satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk
menghitung rugi atau laba bersih memerlukan satu langkah yang mengurangkan
total biaya terhadap total penghasilan.
2. Bentuk multiple step yaitu melakukan pengelompokan yang lebih teliti sesuai
dengan prinsip yang digunakan secara umu.

3) Laporan Laba yang Ditahan

Laba atau rugi yang terjadi secara incidental dapat diklasifikasikan tersendiri
dalam laporan laporan laba atau rugi atau dicantumkan dalam “laopran laba yang
ditahan” (retairning earning statemen). Kalau perusahaan mengikuti clean surplus
principle atau all inclusive concept, maka dalam laporan rugi laba hanya
menentukan hasil dari operasi normal periode itu, sedang rugi laba yang timbul
secara insidentil Nampak dalam laporan perubahan modal atau laporan laba yang
ditahan hanya berisi:

Semua rugi laba insidentil Nampak dalam laporan rugi laba, dan dalam
laporan laba yang ditahan hanya berisi:

a. Net income yang ditransfer dari laporan rugi laba


b. Deklarasi (pembayaran) dividend
c. Penyisihan dari laba (Appropriation of retained earning

Tidak ada bentuk resmi dalam bentuk laporan keuangan tetapi harus disusun
sedemikian rupa sehingga:

a. Memenuhi untuk keperluan


1. Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan
tertentu
2. Menyajikan informasi yang dapat dipercaya
3. Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai.
4. Menyajikan informasi dalam peruabahan harta dan kewajiban.
b. Mencapai mutu:
1. Relevan
2. Jelas dan dapat dimengerti
3. Dapat diuji kebenarannya.
4. Sesuai keadaan perusahaan.
5. Dapat dibandingkan.
6. Lengkap dan netral.

Neraca dengan bentuk skontro (account form) mudah dipahami dan


diperbandingkan antara pos pos didalam nerca tersebut sedangkan neraca dengan
bentuk vertikan akan lebih mudah untuk memberikan gambaran peruabahan tersebut.
Hubungan Neraca dengan Laporan Rugi laba

Untuk mengetahui tendensi bertambahnya modal atau kekayaan perusahaan, ini


hanya akan diketahui dari neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab sebab
peruabahn modal diperlukan laporan rugi laba.

4. UNSUR LAPORAN KEUANGAN


Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain
yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonomi, yang
merupakan unsur laporan keuangan. Unsur ini dapat diklasifikasikan menjadi unsur yang
berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja. Laporan perubahan posisi keuangan
biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan berbagai perubahan dalam
neraca. Di dalam neraca dan laporan laba rugi, penyajian berbagai unsur tersebut
memerlukan proses sub-klasifikasi.

Unsur Posisi Keuangan

Unsur yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva,
kewajiban, dan ekuitas (neraca) yaitu akan di definisikan sebagai berikut :

a. Aktiva
Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan diharapkan akan memberi manfaat ekonomi bagi
perusahaan di masa depan. Di dalam neraca ini sebagian besar dari aktiva
perusahaan akan disusun secara urut dan berdasarkan tingkat kelancarannya
(likuiditas), tetapi untuk aktiva tetap akan disusun secara berurutan dengan
berdasarkan tingkat kekekalannya (ketetapannya). Kelancaran (likuiditas) adalah
kecepatan dari putaran aktiva yang habis di gunakan atau dirubah menjadi kas,
sehingga semakin cepat perubahan menjadi kas atau sudah habis dipakai maka
aktiva ini akan dikatakan semakin lancar.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diklasifikasik unsur – unsur aktiva:
 Aktiva Lancar : adalah sebuah aset yang akan habis jika di gunakan dan akan
mendapatkan manfaat atau berubah bentuk dari aktiva menjadi kas yang dalam
waktu kurang dari satu tahun. Contoh dari aktiva perusahaan adalah kas dan
persediaan barang dagang.
 Investasi Jangka Panjang : adalah sumber yang ekonomis dari aktiva yang di
miliki perusahaan dan bertujuan tidak untuk digunakan pada kegiatan
operasional perusahaan tetapi akan memiliki tujuan yang lain yaitu untuk
membeli sebuah saham dan untuk membeli perusahaan lain.
 Aktiva Tetap : adalah aktiva yang hampir sama dengan aktiva lancar akan tetapi
aktiva tetap memiliki periode yang lebih panjang (lebih dari satu tahun). Ciri –
ciri aktiva yang bisa dikategorikan menjadi aktiva tetap yaitu :
- Aktiva tersebut sudah dibeli dan memiliki tujuan untuk digunakan dalam
kegiatan operasi di perusahaan.
- Memiliki waktu periode lebih dari satu tahun, misalnya kendaraan, mesin –
mesin produksi, dan lain – lain.
 Aktiva tidak Berwujud : adalah aktiva yang sudah melekat di perusahaan secara
keseluruhan dan tidak bisa di identifikasi secara fisik tetapi perusahaan bisa
merasakan manfaatnya. Contoh dari aktiva tidak berwujud ini adalah merek dari
perusahaan, hak cipta, goodwill, dan lain – lain. Merek tidak akan bisa di
identifikasi secara fisik akan tetapi perusahaan bisa merasakan manfaat dari
merek tersebut. Misalnya konsumen akan menggunakan suatu produk maka
mereka cenderung memilih produk dengan mengutamakan merek. Aktiva tetap
ini tidak berwujud dan merupakan aset perusahaan sehingga aktiva tetap ini
harus dilindungi keberadaannya agar tidak ada pihak yang ingin meniru.
 Aktiva Lain – lain : adalah aktiva perusahaan yang tidak memenuhi klasifikasi
di atas. Contoh dari aktiva ini adalah peralatan mesin – mesin kantor yang masih
mempunyai umur ekonomis tetapi kondisinya sudah tidak layak atau rusak, dana
jaminan, dan lain – lain.
b. Kewajiban
Kewajiban adalah sebuah hutang yang di miliki oleh perusahaan pada saat ini
dan timbul dari peristiwa lampau perusahaan dan hutang akan di bayar oleh
perusahaan di masa yang akan datang dengan menggunakan sumber daya ekonomi
yang tersedia. Kewajiban ini sering disebut hutang oleh perusahaan. Penyajian
kewajiban di dalam neraca ini juga akan diatur secara berurutan dari yang paling
dekat dengan jatuh tempo atau tanggal bayar. Kewajiban dibagi menjadi 2 bagian
yaitu :
 Kewajiban Jangka Pendek : merupakan kewajiban yang harus dibayar dalam
jangka waktu satu tahun, atau bahkan kurang dari satu tahun, tergantung dengan
siklus periode keuangan perusahaan yang terkait. Kewajiban jangka pendek
dilunasi dengan menggunakan sumber dari aktiva lancar atau kewajiban jangka
pendek yang baru. Yang termasuk pada kewajiban jangka pendek adalah hutang
dagang, hutang deviden, wesel bayar, hutang biaya, dan lain sebagainya.
 Kewajiban Jangka Panjang : merupakan kewajiban yang dibayar dalam periode
yang lebih lama dan bersifat periodik. Periode yang berlaku dalam kewajiban
jangka panjang tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, dan bisa
mencapai periode lebih dari sepuluh tahun. Yang termasuk kewajiban jangka
panjang adalah hutang hipotek dan hutang obligasi yang memiliki jangka waktu
lebih dari satu tahun.

Karakteristik esensial kewajiban adalah bahwa perusahaan mempunyai


kewajiban masa kini, yaitu suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau
melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat dipaksakan menurut
hukum, sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundangan atau
timbul dari praktik bisnis yang lazim, yaitu kebiasaan dan keinginan untuk
memelihara hubungan bisnis yang baik atau bertindak dengan cara yang adil.

Perusahaan dapat mengakui jumlah rabat yang akan diberikan di masa depan
sebagai kewajiban (timbul di masa lalu). Beberapa jenis kewajiban hanya dapat
diukur dengan menggunakan estimasi dalam derajat yang substansial.

c. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual atau sisa dari aktiva perusahaan setelah dikurangi
oleh semua kewajiban yang ada (aktiva bersih). Dalam neraca perusahaan, ekuitas
ini akan di sajikan secara urut dengan berdasarkan tingkat kekalnya. Sehingga
semakin kekal maka akan di tempatkan pada urutan yang pertama, dan selanjutnya.
Ekuitas sering di sebut dengan modal. Elemen – elemen untuk penyusunan ekuitas:
 Modal : adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendirikan dan
menjalankan usaha operasional perusahaan, dapat berupa uang maupun tenaga.
Modal dapat berasal dari pemilik usaha itu sendiri, atau dari pihak lain yang
menanamkan modal untuk bekerja sama.
 Agio Saham : adalah kekayaan bersih perusahaan yang didapat dari menjual
saham dengan harga lebih tinggi dari harga yang berlaku. Agio saham didapat
ketika saham berada pada kurs diatas rata-rata, atau diatas 100%, atau diatas
nilai nominal seharusnya. Agio saham adalah selisih dari harga saham yang
dijual dengan harga saham seharusnya (jika tidak dijual mahal atau tidak berada
di kurs tinggi).
 Laba di Tahan : adalah laba yang tidak diberikan pada pemegang saham dalam
pembagian deviden atau pembagian keuntungan modal. Laba ditahan digunakan
untuk keperluan perusahaan selanjutnya, seperti menambah usaha atau
memperluas area usaha. Ketentuan mengenai laba ditahan ini diputuskan dalam
Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.

Unsur Kinerja Perusahaan

Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja perusahaan


disajikan pada laporan keuangan yang disebut laporan laba rugi. Penghasilan bersih (laba)
seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran lainnya,
misalnya rasio profitabilitas, rasio solvabilitas dan rasio likuiditas. Unsur yang berkaitan
langsung dengan pengukuran penghasilan bersih ini adalah penghasilan (Income) dan
beban (Expense). Pengakuan dan pengukuran penghasilan dan beban ini bergantung pada
konsep modal dan pemeliharaan modal yang digunakan. Masing-masing unsur yang
berkaitan dengan kinerja perusahaan tersebut didefinisikan sebagai berikut :

a. Penghasilan (income)
Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
(setoran) penanam modal.
Penghasilan meliputi pendapatan maupun keuntungan. Pendapatan timbul
akibat pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (normal), seperti penjualan,
penghasilan jasa, bunga, dividen royalti dan sewa. Sedangkan keuntungan
mencerminkan pos lainnya yang memnuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul
atau tidak dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Keuntungan meliputi
pos yang timbul dalam pengalihan aktiva tak lancar.
Penghasilan bisa meliputi keuntungan yang belum terealisasi, misalnya
kenaikan jumlah aktiva jangka panjang. Selain dapat diterma dalam berbagai bentuk
aktiva (kas, piutang, barang, dan jasa), penghasilan dapat juga berasal dari
penyelesaian kewajiban, misalnya penyerahan barang untuk melunasi pinjaman.
b. Beban (expense)
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang
mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada
penanam modal.
Beban mencakup baik kerugian (loss) maupun beban yang timbul dalam
pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dari pelaksanaan
aktivitas biasa ini meliputi antara lain beban pokok penjualan, gaji dan depresiasi,
yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas (setara
kas), persediaan dan aktiva tetap.
Kerugian bisa mencerminkan pos lainnya yang mungkin timbul atau tidak
dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Kerugian ini dapat timbul dari
bencana kebakaran, banjir maupun pelepasan aktiva tidak lancar. Definisi beban
juga meliputi kerugian yang belum direalisasi, seperti karena kurs valuta asing.

5. POSISI KEUANGAN
Elemen dasar dari posisi keuangan suatu perusahaan adalah aktiva, utang dan
modal.
a. Aset.

Asset adalah kekayaan ekonomi dari suatu perusahaan yang diakui dan dinilai
sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.

b. Utang.

Utang (kewajiban) adalah kewajiban suatu perusahaan yang diakui dan dinilai
sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima secara umum.

c. Modal.

Modal pemilik adalah hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan kelebihan
dari total asset setelah dikurangi utang. Modal pemilik dijelaskan berdasarkan
pengertian aktiva dan utang. Hubungan aktiva, utang dan modal seperti berikut ini :

Aktiva – Utang = Modal Pemilik

Posisi keuangan dari suatu perusahaan pada suatu saat menggambarkan


asset, utang dan modal pemilik dan hubungan diantara ketiganya ditambah dengan
pos kontinjensi, komitmen, dan masalah keuangan lain yang berkaitan dengan
perusahaan pada waktu tertentu dan diperlukan pengungkapannya berdasarkan
prinsip akuntansi yang diterima secara umum. Posisi keuangan suatu perusahaan
disajikan di Laporan Neraca (Balance Sheet) dan di dalam penjelasan laporan
keuangan.

Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan harus berisi dua elemen dasar :

Pertama :

Harus termasuk semua asset dan kewajiban yang menunjukan siklus awal
dan akhir, yaitu kekayaan dan kewajiban yang ada yang merupakan manfaat dan
pengorbanan yang ada yang telah direalisasi.

Kedua ;
Laporan keuangan harus memasukan hasil transaksi dan kejadian lain yang
merupakan bagian dari yang lain siklus yang belum sempurna. Informasi tentang
asset (pengorbanan untuk mengharapkan manfaat potensial yang belum direalisasi),
dan utang (manfaat yang sudah diperoleh tetapi pengorbanan yang belum
direalisasi), yang dapat digunakan untuk menilai prospek dari kemampuan
perusahaan mendapat laba pada waktu tertentu.

Tujuan laporan posisi keuangan adalah menyajikan laporan posisi keuangan


yang berguna untuk meramalkan, membandingkan, dan menilai kemampuan
perusahaan untuk mendapatkan laba. Laporan ini harus memberikan informasi yang
menyangkut tentang transaksi perusahaan dan kejadian lainnya yang merupakan
bagian dari siklus perolehan laba yang belum sempurna. Current value harus juga
dilaporkan jika nilainya berbeda banyak dengan historical cost. Asset dan kewajiban
harus dikelompokan atau dipisahkan berdasarkan ketidakpastian relative dari
jumlah, waktu, dan prospek likuidasi atau realisasinya.

6. KINERJA KEUANGAN
1. Definisi Kinerja

Kinerja keuangan merupakan suatu analisis yang digunakan untuk melihat


perkembangan suatu perusahaan dalam melaksanakan aturan-aturan pelaksanaan
keuangan dengan baik dan benar. Suatu perusahaan yang membuat laporan
keuangan harus memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi
Keuangan) atau GAAP (General Acepted Accounting Principle), dan lainnya.
2. Tahap-tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan

Secara umum terdapat lima tahap dalam menganalisis kinerja keuangan


suatu perusahaan, yaitu :

a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan


Tujuan dilakukannya review adalah agar suatu laporan yang dibuat oleh
perusahaan sesuai dengan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang berlaku umum
dalam dunia akuntans, sehingga hasil laporan keuangan dapat
dipertanggungjawabkan.
b. Melakukan perhitungan
Metode perhitungan tersebut bertujuan untuk memberikan suatu
kesimpulan yang sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang dianalisis atau
yang sedang terjadi.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh
Ketika hasil perhitungan sudah diperoleh, lalu dibandingkan dengan hasil
hitungan dari berbagai perusahaan lain. Metode yang paling umum digunakan
adalah:
1) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atau antar
peiode, sehingga dapat terlihat secara grafik.
2) Cross Sectional Approach, yaitu membandingkan hasil hitungan rasio-rasio
antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lainnya dalam ruang
lingkup sejenis dan waktu bersamaan.
d. Melakukan penafsiran (intepretation) terhadap berbagai permasalahan yang
ditemukan
Penafsiran bertujuan untuk melihat masalah atau kendala apa saja yang
terjadi pada perbankan.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap berbagai
permasalahan yang ditemukan
Setelah ditemukan permasalahan atau kendala yang terjadi lalu
dikembangkan solusi untuk memberikan suatu masukan (input) yang dapat
menyelesaikan permasalahan tersebut.
3. Pengaruh dan Peranan Auditor dalam Menilai Kinerja Keuangan

Penilaian kinerja suatu organisasi sangat penting karena menggambarkan kondisi


pengelolaan organisasi secara keseluruhan.

Jadi independensi akuntan publik sangat diperlukan karena dengan menjaga


interdependensinya ini artinya kualitas dan kuantitas yang ingin di bangun akan terwujud.
Dalam dunia audit dikenal dengan sebutan audit keuangan dan audit manajemen. Sumber
penilaian audit keuangan dapat dilihat pada laporan keuangan perusahaan yang
menggambarkan kondisi kesehatan keuangan suatu perusahaan. Sehingga data-data
keuangan tersebut dapat menggambarkan rekomendasi terkait financial performance dan
non financial performance. Tujuan utama pmeriksaan akuntan (audit) adalah untuk
menentukan apakah financial statement (laporan keuangan) menyajikan suatu kondisi
keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan disajikan secara wajar atau tidak.

Secara umum ada empat pendapat akuntan dalam suatu penilaian :

a. Unqualified opiniaon (suatu bentuk pendapat wajar tanpa kualifikasi)


b. Qualified opinion (suatu bentuk pendapat wajae dengan kualifikasi)
c. Adverse opinion (suatu bentuk pendapat tidak wajar)
d. Disclaimer opinion (suatu bentuk pernyataan menolak memberikan pendapat)

Pada dasarnya auditing atau pemeriksaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
untuk membandingkan kondisi yang ada dengan kriteria atau ketentuan yang ditetapkan.
Cashin (1998) mengelompokka audit ke dalam tiga cabang bidang audit yaitu :

a. Independen auditing (audit bebas)


b. Internal auditing (audit internal)
c. Governmental auditing (audit pemerintah)

Oleh karena itu, salah satu penilaian yang dilakukan oleh bagian appraisal kredit
adalah melihat hasil audit keuangan dari seorang akuntan publik. Pihak yang menyatakan
kondisi keuangan perusahaan tersebut layak atau baik adalah hasil dari laporan auditor
publik dari hasil audit yang mereka lakukan. Jika ditemui bahwa kondisi keuangan
perusahaan bermasalah maka auditor tersebutlah yang wajib mempertanggungjawabkan
hasil dari auditnya.

Pada kasus timbulnya kredit macet juga bisa terjadi di saat penilaian terhadap kualitas
kinerja keuangan perusahaan yang dinyatakan sangat layak dan mampu untuk
mengembalikan cicilan pinjaman yang dinyatakan sangat tepat waktu dan ternyata di
kemudian hari tidak mammpu dikembalikan. Maka dengan begitu pengaruh dan peranan
auditor menjadi penting dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan layak atau tidak
dari segi keuangannya. Karena itu, salah satu usaha menjaga konsistensi akuntan publik
adalah menghargai dan mendukung terwujudnya independensi akuntan publik. Persoalan
lemahnya independensi akuntan publik juga terjadi pada saat seorang akuntan publik
ditugaskan melakukan audit ke suatu perusahaan dimana para top manajemennya di isi oleh
orang-orang yang pernah memiliki jasa dalam membesarkan akuntan publik tersebut.

Auditor akan menghadapi gangguan yang bersifat pribadi (SAP 1995) :

a) Hubungan dinas, profesi, pribadi atau keuangan yang mungkin dapat menyebabkan
seorang auditor membatasi tugasnya untuk meminta keterangan, membatasi
pengungkapan temuan audit, memperlemah atau membuat temuan auditnya menjadi
berat sebelah, dengan cara apapun.
b) Prasangka terhadap perseorangan, kelompok, organisasi atau tujuan suatu program,
yang dapat membuat pelaksanaan audit menjadi berat sebelah
c) Pada masa sebelumnya mmepunyai tanggung jawab dalam pengambilan keputusan
atau pengelolaan suatu entitas, yang berdampak pada pelaksanaan kegiatan atau
program entitas yang sedang berjalan atau sedang diaudit
d) Kecenderungan untuk memihak, karena keyakinan politik atau sosial,sebagai akibat
hubungan antar pegawai, kesetiaan kelompok, organisasi atau tingkat pemerintahan
tertentu
e) Pelaksanaan audit oleh seorang auditor, yang sebelumnya pernah sebagai pejabat yang
menyetujui faktur, daftar gaji, klaim, dan pembayaran yang diusulkan oleh suatu
entitas atau program yang diaudit
f) Pelaksanaan audit oleh seorang auditor, yang sebelumnya pernah menyelenggarakan
catatan akuntansi resmi atas lembaga/ unit kerja atau program yang diaudit
g) Kepentingan keuangan secara langsung aau kepentingan keuangan yang besar,
meskipun tidak secara langsung, pada entitas atau program yang diaudit

Tabel : Aspek Layanan Audit Internal dan Eksternal

Aspek Internal Eksternal

Konsumen Manajer / Komite Audit Pemegang Saham

Fokus Risiko Usaha Risiko Laporan


Keuangan

Orientasi Saat ini dan yang akan datang Yang lalu sampai saat ini

Pengendalian Langsung Tidak langsung

Kecurangan Langsung Tidak langsung

Kebebasan Objektivitas Berdasar status

Kegiatan Proses yang sedang berjalan Tiap periode akuntansi

4. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kualitas Kinerja Keuangan

Seorang pemimpin memiliki pengaruh besar dalam mendorong peningkatan kinerja


para karyawan. Peningkatan kualitas kijnerja bawahan memiliki pengaruh pada penciptaan
kualitas kerja sesuai dengan pengharapan. Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan
bawahannya untuk memiliki kompetensi dalam bekerja. Karena kepemilikan kompetensi
karyawan tersebut akan mendorong peningkatan kualitas kinerja keuangan perusahaan. Kita
dapat melihat perbedaan antara karyawan yang memiliki kompetensi dan yang rendah nilai
kompetensinya, pada hasil kinerja yang mereka hasilkan. Oleh karena itu, setiap pemimpin
tidak hanya dituntut untuk mampu bekerja secara maksimal namun juga mengerti letak
perrmasalahan yang dimiliki oleh setiap karyawan.

Kompetensi tidak bisa diperoleh dengan instan, namun diperoleh dengan perlahan-
lahan dalam waktu yang lama. Begitu juga dengan kesuksesan suatu perusahaan yang tidak
bisa diperoleh dengan instan, melainkan diperoleh dengan kerja keras serta peran yang
besar dari seorang pemimpin yang mendampingi untuk mewujudkan impian perusahaan.
Termasuk dalam menerapkan konsep kompetisi yang bersifat dinamis.

Konsep kompetisi yang dinamis artinya membangun persaingan namun tetap dalam
konteks yang fear atau positif, yaitu dengan persaingan yang ada mampu memberikan dan
membentuk kondisi kerja yang mengutamkan kepentingan perusahaan dari pada
kepentingan pribadi.

Pada gambar diatas memperlihatkan peran pimpinan yang begitu besar dalam
mendukung dan membangun terwujudnya nilai kompetensi pada karyawannya. Dimana
pimpinan akhirnya berhasil mengaderkan karyawan untuk memiliki nilai kompetensi yang
melebihi dari nilai kompetensi pimpinan. Sehingga pada posisi ini pimpinan dapat satu satu
menugaskan karyawan yang terpilih tersebut untuk menangani urusan-urusan penting
bahkan mengambil posisinya sebagai pimpinan di kemudian hari. Di mata investor
perusahaan seperti ini dianggap memiliki tingkat kesolidan kuat dalam membangun dan
mempertahankan kualitas kinerja keuangannya.

Sedangkan pada gambar diatas terlihat dimana pimpinan tidak memiliki kepedulian
kuat dalam membangun terwujudnya nilai kompetensi pada diri karyawan. Sehingga
dampaknya karyawan tidak pernah diberi dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan
kemampuannya. Dengan terjadinya kondisi seperti diatas ada beberapa dampak yang akan
timbul pada saat seorang pimpinan menerapkan konsep sperti itu, yaitu :

a. Kontruksi manajemen perubahan tidak memiliki nilai kompetensi jangka panjang.


b. Manajemen perusahaan edalam konteks pengambilan keputusan sangat tergantung
pada apa yang ditugaskan atau diperintahkan oleh pimpinan.
c. Jika suatu saat ada kejadian-kejadian tertentu yang bersifat tak terduga, seperti
pimpinan sakit, lost contact, dan sebagainya maka kondisi ini bisa mengganggu atau
tertundanya berbagai aktivitas bahkan ini berdampak pada persoalan keputusan.
d. Di mata investor perusahaan seperti ini memiliki sisi rentan dalam konteks
permasalahan keuangan di kemudian hari, khususnya kinerja keuangan. Dengan kata
lain kondisi kinerja keuangannya memiliki nilai fluktuasi yang tinggi atau memiliki
kelabilan yang tinggi. Yaitu akibat keputusan yang begitu sentralistis dan begitu
kurang/ rendahnya kepercayaan pimpinan kepada karyawan.
Daftar Pustaka

Fahmi, Irham. 2014. Analisis Kinerja Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Munawir. 2001. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Prastowo, Dwi dan Rifka Juliaty. 2005. Analisis Laporan Keuangan Konsep dan Aplikasi
Edisi Kedua. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan.