Anda di halaman 1dari 16

33

POLA USAHATANI TANAMAN DAN TEKNOLOGI


BUDIDAYA MANGGA

1. Pola Pengusahaan
Tanaman mangga pada umumnya diusahakan di lahan
peka rangan secara sambilan. Estimasi tentang persentase luas
pengusa haan mangga berdasarkan sistim pengusahaannya
disajikan dalam Tabel 14.

Tabel 14. Estimasi Persentase Usahatani Tanaman Mangga


Berdasarkan Sistem Pengusahaannya

Farming systems %
luasan
1. Mangga diusahakan pada lahan pekarangan 90 - 95
2. Mangga diusahakan pada lahan
tegal dan tumpangsari dengan tanaman ± 5.0
pangan
3. Mangga diusahakan pada lahan
Tegal secara monokultur ± 1.0
Sumber: Soemarno dkk., 1995

Tanaman mangga di lahan pekarangan penduduk tidak


mendapatkan perawatan secara memadai, pemupukan
dilakukan ala kadar nya, pemangkasan tajuk tidak dilakukan.
Sebagian besar tanaman berumur tua dan ditanam dari biji.

2. Budidaya Tanaman

(1). Bibit dan Pembibitan


Telah banyak varietas mangga yang dilepas oleh
pemerintah sebagai varietas unggul. Diantara yang dikenal
masyarakat adalah mangga Gadung, Manalagi, Lali Jiwo,
Arummanis, Golek. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui
perbanyakan secara generatif maupun secara vegetataif. Untuk
menjaga agar mutu bibit yang dihasilkan tetap baik seharusnya
menggunakan perbanyakan vegetatif. Perbanyakan ini dapat
dialakukan dengan cara okulasi, grafting, cangkok, merunduk
atau menyusukan. Namun umumnya masyarakat lebih banyak
menggunakan sistem okulasi atau grafting.
34

(2). Persiapan Tanam dan Penanaman


Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam penanaman
mangga adalah pengaturan jarak tanam. Ukuran jarak tanam
tergantung pada varietas yang akan ditanam serta jneis tanah.
Umumnya jarak tanam yang baik untuk mangga berkisar antara
12 - 14 m. Pembuatan lubang tanam dibuat dengan ukuran 1 x 1
x 1 m. Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan saat
musim kemarau, sehingga lubang akan banyak mendapat sinar
matahari.
Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim hujan,
sehingga tidak perlu menyirami dan suhu udara relatif dingin.
Hal ini akan mencegah terjadinya kelayuan. Pada waktu tanam
diusahakan tempat okulasi atau grafting tidak tertimbun tanah.
Setelah tanam segera disiram sampai benar-benar basah dan
tanaman diberi peneduh sampai 2 - 3 minggu.

Penanaman bibit:
(a). Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60x60x60 cm, tanah
lapisan atas sedalam 30-40 cm dipisahkan dengan lapisan
bawah.

(b). Jarak tanam 6x6m - 8x8 m, tanah lapisan atas dicampur


dengan rabuk organik, pupuk dasar, dan Furadan 8-10
gram.
(c). Bibit grafting atau okulasi ditanam pada lubang tanam yang
disiapkan 1/2 - 1 bulan sebelumnya.
(d). Bibit grafting (hasil sambungan dini) siap ditanam pada
umur 6-7 bulan, sedangkan bibit okulasi umur 12 bulan.
(e). Penanamanm bibit dilakukan pada awal musim hujan

(3). Pemeliharaan
Agar tanaman tumbuh dengan baik pemeliharaan
tanaman harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Yang perlu
diperhatikan dalam perawatan ini meliputi pengairan,
pemupukan, pemangkasan, penyiangan. Tanaman yang baru
ditanam sebaiknya diairi setiap hari dan diberi pelindung.
Dengan demikian tanaman tidak akan mengalami kelayuan dan
segera tumbuh normal. Apabila tanaman masih muda dan
berbunga, sebaiknya bunga dipotong. Kalau hal ini dibiarkan,
tanaman menjadi lemah dan mudah terkena penyakit. Agar
35

tanaman tumbuh dengan baik, buah yang terbentuk dapat


dipelihara apabila tanaman telah berumur 4 tahun. Ranting
yang kering atau terserang penyakit, hendaknya segera
dipangkas. Namun jangan terlalu banyak memangkas daun
yang masih sehat, agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu.
Gulma di sekitar tanaman sebelum tumbuh rimbun segera
disiang. Selain gulma dapat menjadi pesaing tanaman mangga,
juga dapat menjadi inang penyakit yang kemudian dapat
menyerang tanaman. Bersamaan dengan penyiangan dilakukan
juga penggem buran tanah. Penggemburan harus dilakukan
dengan hati-hati agar akar tanaman tidak putus.

Pemeliharaan tanaman:
(a). Pemupukan seperti pada Tabel 15.
(b). Tanah di sekitar tanaman dibersihkan dan digemburkan,
pada musim kemarau ditutup dengan mulsa
(c). Batang utama dipangkas setinggi 70-75 cm, cabang yang
tumbuh dipelihara 3-4 arah, pemangkasan dilakukan sampai
tahun ke dua setelah tanam dan dilakukan pada awal musim
hujan.

Tabel 15. Kalender pemupukan tanaman mangga

Umur ZA TSP KCl Rabuk Keterangan


(th) kandang
0 50 25 25 2 Sebulan setelah tanam
1 200 100 100 2 separuh pada
Desember -Januari dan
sisanya Juni-Juli;
Semua rabuk kandang
pada bulan De sember
- Janu ari
2-3 500- 250- 250- 2-3 sda
1000 500 500
4-5 1000- 500- 500- 2-3 sda
2000 1000 1000
6-10 2000- 1000- 1000- 3-4 sda
3000 1500 1500
>10 3000- 1500- 1500- 3-4 sda
4000 2000 2000
Sumber: SP2UK-P2LK Jatim, 1991.
36

(d). Tanaman yang berasal dari grafting atau okulasi akan


berproduksi pada umur 3-4 tahun.
(e). Untuk memacu pembungaan yang lebih awal, digunakan
Cultar dengan dosis 2.5 ml/liter air/pohon untuk tanaman
umur 3- 4 tahun dan 10 ml/liter air/pohon untuk tanaman
umur 5-10 tahun. Aplikasi dilakukan pada bulan April-Mei.

Pemangkasan tanaman
Pemangkasan tanaman pada awal pertumbuhannya
dilakukan untuk membentuk tajuk. Beberapa hal penting yang
harus diperhatikan adalah sbb:
(a). Pemangkasan dilakukan pada awal musim hujan,
sebulan setelah pemupukan
(b). Pemangkasan dilakukan tepat pada ruas atau buku
tanaman, seki tar 50-60 cm di atas permukaan tanah
(c). Dipilih 3-4 cabang dari cabang-cabang yang tumbuh setelah
pemangkasan
(d). Cabang yang dipilih adalah yang sehat, bagus, tersebar
di sekeli ling batang pokok, dan tidak saling berdekatan
(e). Pemangkasan ke dua dilakukan pada cabang-cabang
yang dipertahankan tumbuh setelah pemangkasan pertama,
dan dilaksa nakan pada awal musim peng hujan tahun
berikutnya setelah dilakukan pemupukan
(f). Pemangkasan ke dua jaraknya 25-30 cm dari pangkal
cabang, tepat pada mata/ ruas/buku yang menghadap ke
luar.
(g). Setelah tajuk terbentuk pada awal musim hujan
berikutnya, perlu dilakukan pemangkasan lagi untuk
menyempurnakan bentuk tajuk.

(4). Hama dan penyakit dan Cara Pengendalian.


Hama penting pada tanaman mangga, khususnya di Jawa
Timur yaitu penggerek pucuk (Chlumatia transversa), wereng
mangga (Idiocerus niveosparsus), lalat buah (Dacus spp.) lalat
bisul atau puru, dan kutu putih (Rastrococcus spinosus).
Penyakit penting tanaman mangga, antraknos (Gloeosporim
mangiferae), karat daun, blendok (Diplodia spec), dan jamur
jelaga (Capnodium mangiferae).
37

a. Hama Mangga
1. Pengendalian kultur teknis. Penggerek pucuk beserta
pucuknya dan rangkaian bunga yang terserang dipotong
dan dibakar. Kegiatan ini rutin bersamaan pemangkasan.
Pengasapan di bawah tanaman mangga akan menguris
wereng daun. Imago lalat buah ditangkap dengan
perangkap Methyl Eugenol (ME). Perangkap dari botol
plastik yang didalamnya diberi dua gumpal kapas. Satu
gumpal diberi satu tetes ME dan lainnya dengan Azodrin.
Pada luasan satu hektar dipasang lima perangkap.
Pengendalian ini dibantu dengan membersihkan buah
mangga terserang yang jatuh.
2. Pengendalian dengan insektisida.
Jenis insektisida untuk penggerek batang mangga yang
digunakan petani mangga ialah Azodrin dan Tamaron.
Penyemprotan ketika pucuk 5 cm, sekali seminggu dan
dilanjutkan sampai pucuk besar. Jenis insektisida yang sama
juga dapat untuk wereng mangga dan lalat bisul dan kutu
putih. Aplikasi insektisida melalui lubang batang dengan bor
pada tanaman di atas lima tahun. Selanjutnya lubang
ditutup parafin. Eradikasi tanaman atau bagian tanaman
yang terserang kutu putih dan menjaga kebersihan kebun
mengurangi serangan hama.

b. Penyakit Mangga
1. Pengendalian kultur teknis. Bagian tanaman yang terserang
dipotong dan dibakar.
2. Pengendalian dengan fungisida. Penyakit antraknos
dikendalikan dengan Benlate dengan dosis 0,5 - 1 g/l.
penyemprotan pada awal bunga yang panjangnya 5 cm
setiap dua minggu. Penyemprotan dihentikan setelah
bunga mekar sempurna, dan satu kali lagi setelah polinisasi.
Penyemprotan fungisida untuk antraknos juga untuk
menekan serangan jamur jelaga dan karat daun. Pada
penyakit blendok, kulit batang yang terserang dikerok
sampai bersih, selanjutnya diolesi Indafol dosis 250 cc per
liter air. Pencegahan dengan pemberian Basamit pada
persemaian, kemu dian dibiarkan seminggu baru bibit
disemai.
38

(5). Panen Buah


Tanaman mangga umumnya berproduksi maksimal pada
waktu umur 20 - 40 tahun. Buah dapat dipanen apabila telah
berumur 105 - 130 hari dari penyerbukan. Tenggang waktu
keluarnya bunga pertama sampai bunga terakhir erkisar satu
bulan. Buah dapat dipanen apabila ada beberapa buah yang
telah masak dan jatuh. Tanda-tanda buah siap dipanen apabila
buah terasa lunak jika dipegang, terjadi perubahan warna
menjadi kuning atau merah. Untuk varietas manalagi atau
arummanis warna berubah menjadi hijau kebiruan. Sebaiknya
panen dilakukan ketika buah masih keras tetapi sudah tua.
Pemetikan buah dilakukan setelah terjadi perubahan
warna kulit buah, pada umur 89-101 hari setelah penyerbukan
atau ditandai bila antara 3-5 cm tangkai buah dan pangkal buah
dipetik sudah tidak mengeluarkan getah. Untuk memperlambat
pematangan buah dilakukan pelapisan lilin.

4.3. Perbanyakan Tanaman


Upaya untuk memperoleh bibit tanaman mangga yang
baik, maka salah satu cara yang cepat dan relatif lebih murah
adalah dengan penyam bungan (grafting). Dalam
penyambungan, batang bawah merupakan alternatif yang harus
disiapkan mulai dini. Sebagai batang bawah semua jenis
tanaman mangga dapat digunakan. Namun demikian berdasar-
kan penelitian yang telah banyak dilakukan, mangga jenis madu
mempunyai kecende rungan yang lebih baik daripada yang lain,
meskipun hal ini belum sepe nuhnya teruji. Kenyataan di
lapangan jenis mangga madu banyak digunakan sebagai batang
bawah karena berbagai pertimbangan. Salah satu di antaranya
adalah banyak ditemukan di daerah sentra produksi dan juga
dalam jumlah yang banyak, buahnya relatif kecil dan tidak
berserat, sehingga memu dahkan dalam pengupasan. Pada
suatu kondisi tertentu, kebutuhan mangga sebagai batang
bawah akan menjadi problem. Hal ini disebabkan banyak yang
membutuhkan sebagai stock batang bawah bagi setiap
penangkar bibit. Kenyataan demi kian dapat dirasakan pada
saat pembuatan bibit, dimana antara produsen dan konsumen
lebih besar konsumen. Hal yang demikian akan mengakibatkan
seringkali ditemukan bibit baru siap kirim/ tanam yang melebihi
dari waktu yang sebenarnya. Padahal apabila dapat digunakan
39

jenis mangga lain sebagai batang bawah, maka problem keter-


lambatan maupun kekurangan bibit akan segera dapat teratasi.
Pada sisi lain justru petani banyak menanam mangga
jenis lain yang sebenarnya merupakan batang bawah di daerah
sentra tersebut, misalnya jenis kecik. Hal ini sesuai dengan
Soewarno dan Anik (1989) yang menyatakan, bahwa tanaman
mangga jenis kecik merupakan tanaman yang baik untuk
batang bawah daripada jenis tabar dan tepak. Disamping itu
ada jenis lainnya yang memungkinkan hasil pertumbuhan
tanaman yang mengarah pada pertumbuhan kerdil/ cebol. Hal
ini berarti dalam satuan luas tertentu akan dapat dihasilkan
produksi yang lebih besar karena peningkatan populasi dan juga
memudahkan pemeliharaan tanaman. Penelitian tentang
tanaman mangga sudah banyak dilaporkan, tetapi pada
umumnya hanya berkisar pada cara bagaimana mengusahakan
tanaman berbuah stabil dalam waktu yang relatif singkat, 4-6
tahun dari saat penyambungan. Pada sambungan yang
mengarah pada bentuk kerdil baru pada taraf uji coba. Dengan
demikian percobaan serta penyelidikan ke arah tanaman kerdil
sangatlah berarti sebagai dasar penciptaan klon-klon baru yang
pada akhirnya akan tercipta pula kutivar yang dapat
dibanggakan sebagai suatu andalan kultivar unggul.
Secara umum pohon mangga mepunyai kenampakan
yang besar dan tinggi, sehingga keadaan tersebut akan
menyulitkan penge lolaan tanaman (Purnomo et al., 1985). Hal
ini berarti populasi per hektar juga akan menjadi lebih sdikit
daripada pohon mangga yang relatif lebih kecil/ kerdil. Kondisi
tanah pertanian semakin lama semakin menurun, sejalan
dengan mening katnya penduduk, sehingga usaha ke arah
ekstensifikasi lebih digalakkan, padahal biaya untuk keadaan
tersebut sangat besar. Salah satu alternatif adalah dengan
intensi fikasi.
Penciptaaan tanaman kerdil merupakan salah satu solusi
untuk menuju intensifikasi mengingat dengan cara tersebut,
maka akan diperoleh penampilan tanaman yang relatif rendah
daripada tanaman pada umumnya dan juga tajuk yang lebih
sempit tetapi sesuai. Hal ini berarti dalam satu luasan tertentu
akan dapat ditingkatkan populasi tanaman, sehingga lebih
efisien dalam penggunaan lahan maupun pengelolaannya
(Purnomo, 1987).
40

Kondisi lingkungan yang sesuai akan menyebabkan


pertum buhan tanaman menjadi normal dalam artian
kenampakan maupun hasil buah yang diharapkan. Sebaliknya
apabila salah satu faktor lingkungan, misalnya air dalam
keadaan tercekam, maka tanaman akan cenderung menjadi
lebih kecil daripada yang sebenarnya (kerdil). Pada proses
selanjutnya, maka tanaman akan cenderung mem pertahankan
hidupnya dengan mencari ier hingga kedalaman tertentu,
karenanya perakaran pada tanaman tersebut akan relatif lebih
dalam daripada tanaman pada kondisi air cukup (Kusumo et al.,
1975). Keadaan ini dapat merupakan salah satu penciri
tanaman kerdil.
Kajian mengenai pemendekan tanaman sambungan
karena batang bawah juga telah diutarakan oleh Lursen dan
Reisser (1985) yang menyatakan, bahwa pemendekan batang
bawah merupakan merupakan satu hal yang terpenting dalam
pertumbuhan tanaman buah-buahan. Dengan semakin
meningkatnya permintaan mangga baik dalam maupun luar
negeri, maka mendorong para investor untuk membuat mangga
sebagai salah satu komoditas perkebunan. Dampak positif bagi
penangkar bibit mangga adalah adanya permintaan bibit dalam
jumlah besar dan dalam waktu singkat. Pada kondisi demikian,
maka pemilihan tanaman kerdil akan mendapatkan kesempatan
yang lebih besar daripada tanaman lainnya.

Penyambungan tanaman mangga sangatlah populer


dewasa ini. Keadaan ter sebut bisa dimaklumi mengingat dapat
dilakukan dengan mudah dan cepat, sehingga dalam waktu
yang relatif singkat dapat diperoleh bibit tanaman baru dalam
jumlah yang besar. Tanaman mangga yang kerdill akan
memudahkan pengelolaan, sehinga dalam satu waktu tertentu
dapat dicapai efisiensi baik dalam satuan luas maupun ling-
kungan yang dibutuhkan. Mangga yang berasal dari bibit
dengan grafting akan bervunga pada umur 4 tahun setelah
tanam (Singh, 1969 dan Purnomo, 1988). Namun demikian
pembungaan akan lebih lambat apabila bibit berasal daribiji,
yakni pada umur 7-10 tahun (Purnomo, 1988), sedangkan
inisiasi pembu ngaan antara 1-2 tahun sebelum awal pembun-
gaan, sehingga jika pembu ngaan diinduksikan, maka awal
pembungaan akan terjadi pada umur 6-7 tahun, merupakan
waktu yang cukup lama dalam sekali daur pemuliaan. Kelebihan
41

lain dari tanaman cebol tersebut juga dikaji oleh Halle et al.,
(1978) yang menyatakan, bahwa penciptaan tanaman cebol
akan membrikan kemudahan dalam usaha pengelolaan
tanaman tahunan yang berkayu.
Perlunya pemilihan batang bawah dalam grafting telah
lama dinya takan oleh Muhkerjee dan Majunder (1963). Kedua
peneliti itu menyatakan, bahwa tidak semua kultivar mangga
sebagai batang bawah cukup cocok dan serasi apabila
disambungkan dengan batang atas. Selanjutnya Winarno (1987)
juga menambahkan, bahwa tujuan peneli tian pertanian antara
lain adalah untuk mencari dan mengem bangkan paket dan
rekayasa teknologi seutuhnya secara berkesinam bungan untuk
mencapai tujuan pembangunan pertanian yang meliputi jangka
panjang dan jangka pendek. Jangka panjang tersebut antara
lain: (1). Pelestarian evaluasi dan pemanfaatan plasma nutfaf
buah-buahan; (2). Perbaikan varietas melalui seleksi dan
manipulasi genetik. Hal ini dapat ditempuh denganpenciptaan
varietas unggul batang bawah dan batang atas.

Salah satu cara penciptaan varietas unggul batang bawah


adalah dengan memperpendek tanaman guna memperoleh
pertanam an rapat yang hal ini merupakan salah satu solusi ke
arah tanaman kerdil. Hartman dan Kester (1978) menjelaskan,
bahwa dari hasil interaksi antara batang bawah dan atas
tertentu pada tanaman sambungan dapat mengubah pertum-
buhan. Selanjutnya juga menam bahkan, bahwa batang bawah
dapat menyebabkan perubahan vigor dan beasr tanaman pada
batang atas. Hal ini juga dinyatakan oleh Chandler (1958),
bahwa batang bawah yang memiliki pertumbuhan kuat akan
mendorong pertumbuhan batang atas yang meimiliki
pertumbuhan lemah dan sebaliknya.
Kecenderungan pertumbuhan tanaman cebol dari
sambungan ini juga dilaporkan oleh Soewarno dan Anik (1989)
yang menyatakan, bahwa jenis kecik sebagai batang bawah
mempunyai kecenderungan pertumbuhan tanaman cebol bila
disambung dengan jenis gadung sebagai batang atas.
Sebagaimana dimaklumi, bahwa semua mangga lokal
mempunyai karakteristik ekonomis yang tidak menarik, dimana
buahnya kecil, berserat dan rasanya tidak enak, sehingga pada
akhirnya harganyapun sangat murah.
42

(1). Grafting
Grafting merupakan salah satu cara perbanyakan
tanaman melalui bagian-bagiannya. Hal ini berarti tidak
merupakan perkem bangan dari biji melainkan bagian vegetatif
dalam hal ini adalah batang. sebagaimana dimak lumi secara
umum perkembang biakan tanaman dibagi menjadi dua bagian,
yakni seksual dan aseksual. Grafting merupakan perkembang-
biakan aseksual. Pembiakan vegetatif banyak dianjurkan
mengingat dengan cara tersebut memungkinkan tanaman
memulihkan dirinya dengan regenerasi jaringan dan bagian-
bagian yang hilang. Pada pembiakan vegetatif akan terjamin
sifat-sifat menurun dari induk tanaman. Hal ini berarti setiap
tumbuhan baru, memiliki sifat-sifat yang serupa dengan induk-
nya atau dengan kata lain tumbuhan induk diabadikan dalam
tumbuhan baru yang diturunkannya (Dwijoseputro, 1983).
Perbanyakan vegetatif perlu untuk tanaman dan kultivar
yang tidak menghasilkan biji secara langsung atau yang tidak
menghasilkan biji sama sekali. Perbanyakan vegetatif terdiri
dari penggunaan bagian vegetatif seperti batang, daun dan akar
(Soewarno, 1983). Pada perkembangan lebih lanjut ternyata
perkembang biakan vegetatif mempunyai alasan-alasan sebagai
berikut:
a. Kemungkinan tanaman tidak menghasilkan biji
b. Kemungkinan biji yang dihasilkan oleh suatu tanaman bila
ditanam tidak sebaik induknya
c. Dapat mempercepat penyediaan bibit karena dapat diambil
dari bagian vegetatif tanaman
d. Bibit yang diambil dari vegetatif tanaman mempunyai sifat
yang sama dengan induknya.
Disamping itu pohon mangga yang berasal dari biji pada
umumya pertumbuhannya tegak, kuat dan tinggi, sedang yang
berasal dari sambungan atau tempel lebih pendek dan cabang
melebar (Pracaya, 1987). Hal ini bersesuaian dengan Valmayor
(1968) yang telah lama meneliti tentang perbanyakan vegetatif
yang menyatakan, bahwa perbanyakan vegetatif lebih banyak
digunakan karena pembiak an generatif memerlukan waktu
yang panjang untuk berbuah, bentuk pohon yang itnggi dan
besar, sehingga susah pengelolaannya. Diantara pembiakan
vegetatif tersebut, penyambungan merupakan cara yang
terbaik. Selanjutnya Singh (1968) dan Tahir (1981) menya
43

takan, bahwa pembiakan getatif yang umum dilakukan pada


mangga adalah okulasi, grafting dan stek.
Serangkaian penelitian telah dilakukan oleh beberapa
peneliti tentang sam bungan mangga dan permasalahannya.
Singh dan Srivastava (1979) meneliti tentang pengaruh saat
defoliasi batang atas terhadap keberhasilan sambungan.
Ternyata, bahwa prosentase sambungan jadi cenderung semakin
meningkat dengan semakin meningkatnya saat defoliasi daun
batang atas yang digunakan sebagai sambungan (Tabel 16).

Tabel 16. Pengaruh saat defoliasi batang atas terhadap keber


hasilan sambungan*

Perlakuan Keberhasilan sambung (%)


Segera setelah defoliasi 33.3
5 hari setelah defoliasi 60.0
10 hari setelah defoliasi 80.0
15 hari setelah defoliasi 70.0
Sumber:Singh dan Srivastava (1979).

Pengaruh perlakuan entris terhadap peran sambungan


jadi, panjang pucuk, jumlah daun dan bobot bibit pada umur 3
bulan setelah penyambugan juga diteliti oleh Purbiati et al.,
(1985) dan hasilnya tertera pada Tabel 17. Ternyata, bahwa hasil
tertinggi dari semua peubah terjadi pada perlakuan entris yang
tidak dikerat tapi dirompes .

Tabel 17. Pengaruh perlakuan entris terhadap prosentase


sambungan jadi, panjang pucuk, jumlah daun dan
bobot bibit 3 bulan setelah penyambungan

Perlakuan % Panjang Jumlah Bobot


Sambung
entris an jadi pucuk/c daun bibit/g
m
Dikerat 98 9.59 6.65 23.3
dirompes 5
Dikerat 82 7.55 6.68 15.75
tidak dirompes
44

Tidak dikerat 100 10.19 7.36 22.0


3
dirompes
Sumber: Purbiati et al., (1985).

Koesriningrum dan Sri Setiyati (1973) juga


menambahkan, bahwa alasan-alasan dilakukannya
penyambungan antara lain untuk mengekalkan sifat klon yang
tidak dapat dilakukan baik oleh stek, bumbun maupun dengan
mancangkok. Selain itu juga untuk meng-ubah pertumbuhan,
misalnya untuk memperoleh tanaman kerdil. Perbiakan secara
mencangkok tidak banyak dianjurkan, mengingat pohon induk
sering rusak bentuknya karena cabang yang baik diambil untuk
cangkokan. Akibatnya hasil pohon induk akan menurun.
Beberapa peneliti menyatakan, bahwa batang bawah
tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil varietas batang
atas (Singh, 1969). Tentu pernyataan ini berlaku paling tidak
untuk tanaman mangga. Tubbs (1973) menyanggah pernyataan
tersebut dan menya takan, bahwa interaksi batang bawah
dengan batang atas tertentu dapat mempengaruhi morfologi
tanaman. Mangga yang disam bungkan pada Spodia Pinnata
dapat menyebabkan pohon cebol tetapi berdaya hidup singkat
(Furtado, 1921).
Batang atas dari biji jika disambungkan dengan tanaman
mente (Anacardium occidentale) yang masih muda dapat
menghasilkan ukuran buah dua kali, tidak berserat, biji kecil
tetapi tidak mampu berkecambah (Fielden dan Gardner, 1936).
Batang atas mangga juga dapat disambung dengan batang
bawah mangga spesies lain. Mangifera foetida
direkomendasikan sebagai batang bawah per banyakan di
Burma (Myanmar) (Oche, 1931 dalam Singh, 1969). Batang
baah yang dianjurkan di Indonesia tergantung wilayahnya.
Halini erat hubungannya dengan ketersediaan bahan dalam satu
daerah tertentu mempunyai kultivar lokal tertentu. Selanjutnya
juga diperoleh satu kemungkinan tanaman cebol dari bibit
sambungan batang bawah kultivar saigon dan endog dengan
batang atas Golek (Purnomo et al., 1985) dimana kedua
tanaman tersebut hanya banyak ditemukan di sentra produksi di
Problinggo dan yang lebih mudah adalah di Kebun Percobaan
Cukur Gondang. Hasil penelitian lebih jauh juga menyatakan,
45

bahwa harapan tanaman cebol sebagai akibat penggunaan


batang bawah ditunjukkan oleh varietas daging.
Penciptaan tanaman cebol yang pernah dinyatakan oleh
Nijjar (1978), bahwa terdapat tiga pokok usaha yang menarik
perhatian dalam mening katkan hasil dan pengelolaan tanaman
mangga. Ketiga pokok usaha tersebut adalah pengaturan
pembungaan, pencegahan gugur buah atau peningkatan calon
buah yang menjadi buah dan penciptaan tanaman cebol.
Beberapa tahun sebelumnya peneliti lain juga menyatakan,
bahwa penggunaan batang bawah dan atas tertentu yang cocok
dan serasi dalam perbanyakan vegetatif, cara penyambungan
seringkali menampilkan morfologi tanaman cebol (Tubbs, 1973
dan Vyvyran, 1955). Penggunaan macam batang bawah dan
atas yang bervariasi seringkali dapat berpengaruh terhadap saat
pembungaan, sehingga mengakibatkan perbedaan masa
pembungaan tanaman dari hasil interaksi batang bawah dan
atas yang pada akhirnya akan mengakibatkan timbulnya variasi
panen raya buah (Purnomo, 1982).

(2). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan


sambungan
Faktor tanaman
Berdasarkan sifat tumbuh dari mangga, pengelolaan
tanaman dan perbaik an hasil diarahkan pada pengaturan
pembungaan, pening katan pembentukan calon buah dan
menciptakan tipe tanaman kerdil/ rendah. Tujuan ini dapat
dengan melalui teknik agronomis tanaman (Purnomo, 1987).
Grafting meru pakan salah satu manipulasi teknik agronomis
yang sangat dipengaruhi oleh kondisi batang bawah maupun
batang atas serta lingkungan.

Kondisi batang bawah


Sebagai batang bawah yang baik dapat disambung bila
diameter batang sudah mencapai 0,6- cm dengan umur 6-12
bulan (Valmayor, 1968 dan Purbiati, 1984). Berdasarkan
pengalaman penulis ternyata penyambungan dapat tumbuh
dengan baik pada umur batang bawah 2 bulan dimana pada
saat itu diameter batang dapat mencapai 0,4-0,6 cm. Hal ini
juga diperkuat oleh Sumulur (1987) yang menyatakan, bahwa
pembibitan mangga dapat dipersingkat menjadi 5-9 bulan
dengan diameter 0,4-1 cm. Menurut Danoesastro (1976) guma
46

keperluan batang bawah sebaiknya diambil dari tanaman


setempat dengan harapan bentuk tesebut akan lebih cocok
dengan tanah dan iklinya. Misal di Pasuruan sebagai batang
bawah adalah jenis madu.

Kondisi batang atas


Pemilihan batang atas sangatlah penting artinya bagi
keberha silan sambungan. Panjang batang atas berkisar 8-10
cm debgan diameter batang 10-13 mm. Batang atas dalam
keadaan dorman tetapi siap untuk pecah dan tumbuh
(Valmayor, 1968). Hal yang sama juga dinyatakan oleh
Koesriningrum dan Sri Setiyati (1973), bahwa dalam pemilhan
batang atas sebaiknya dipertimbangkan beberapa hal sebagai
berikut:
- Diambil dari pohon yang kuat dan bebas dari keabnormalan
tumbuh serta hama dan penyakit
- Berdiameter lebih kurang 1 cm dan berupa batang yang lurus
- Dari tanaman induk yang menghasilkan buah berkualitas
tinggi dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Sunaryono (1981) menjelaskan, bahwa semua bagian
tanaman dimana sel-sel kambiumnya masih mengadakan
pembelahan dengan aktif, dapat dijadikan sebagai bahan
perbanyakan vegetatif. Tetapi yang penting adalah yang
berumur 1-2 tahun. Sebaiknya jangan digunakan cabang air
atau cabang liar yang hanya tumbuh vegetatif dengan cepat
tetapi merupakan penyebab tanaman tidak berbuah.

Hubungan antara batang atas dan batanag bawah


Dari hasil penelitian Purnomo et al., (1985) ternyata,
bahwa tanaman bibit yang berasal dari kultivar endog atau
daging dan batang atas golek menampilkan pertumbuhan bibit
yang mengacu pada bentuk kerdil. Sebalik nya bibit yang
berasal dari batang bawah dan atas sekultivar menampilkan
pertumbuhan yang cepat dan subur. Selanjutnya juga
ditambahkan, bahwa kumpulan ciri mprfologi tanaman bibit
hasil penyambungan bervariasi, baik diantara kultivar batang
bawah yang digunakan maupun batang atas, diduga oleh akibat
variasi tingkat keserasian fisiologis tetua-tetua tanaman yang
disambungkan pada taraf penyediaan hormonal miliu dan nutrisi
yang berubah pada saat pembelahan sel berlangsung sesaat
setelah melewati fase translasi (Halle et al., 1978). Di lain pihak
47

seringkali juga ditemukan pertautan batang bawah dan atas


tetapi pada pertumbuhan selanjut nya menampakkan peru-
bahan pada batang atas atau bawah. Hal ini misalnya terjadi
pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan batang atas
yang abnormal atau penyimpangan keadaan lainnya. Kondisi
yang demikian disebut inkompatibilitas.
Menurut Hartman dan Kester (1978), bahwa tanda-tanda
in-kompatibilitas pada sambungan adalah sebagai berikut:
- kegagalan membentuk sambungan dalam prosntase besar
- pertumbuhan vegetatif berkurang atau laju pertum buhan
yang lambat antara batang atas dan bawah
- pertumbuhan yang terlalu cepat pada bagian sambungan, di
atas atau di bawahnya
- daun menguning pada akhir pertumbuhan diikuti oleh gugur
daun
- pohon mati sebelum waktunya, hanya bertahan hidup 1
sampai 2 tahun di tempat pertanaman.

(3). Faktor lingkungan


Keberhasilan sambungan sangat ditentukan oleh faktor
lingkungan. Dalam hal ini yang penting waktu penyambungan,
cahaya, kelembaban dan temperatur.

a. Waktu penyambungan
Koesriningrum dan Sri Setiyati (1973) kemudian juga
Sunar yono (1981) mengutarakan tentang pentingnya saat
penyambungan. Hal ini disebabkan penyambungan yang
dilakukan pada saat musim hujan lebat seringkali meng alami
kegagalan karena batang atas yang mudah busuk. Disarankan
agar dilakukan pada musim kemarau, hal ini dimaksudkan agar
memudahkan pengelupasan kulit kayu batang. Metode
sambung celah dapat dilakukan selama masa istirahat atau fase
dorman, tetapi lebih berhasil apabila dilakukan pada saat
pertumbuhan aktif dimulai. Bila penyambungan dilakukan
sesudah pohon mengalami fase pertum buhan aktif, maka akan
mengakibatkan kesulitan dalam menghasilkan sambungan.

b. Cahaya
Sebagaimana dimaklumi, bahwa bibit sambungan
merupakan tanaman muda, sehingga organ tanamanpun peka
48

terhadap pertum buhan dari luar terutama cahaya. cahaya


yang terlalu kuat akan mengurangi daya tahan batang atas
terhadap kekeringan. Oleh karena itu penyambungan sebaiknya
dilakukan pada pagi/ sore hari saat matahari kurang
memancarkan sinarnya (Kusriningrum dan Sri Setiyati, 1973).
Selanjutnya juga ditambahkan oleh Rismunandar dan Sunaryono
(1981), bahwa untuk mendapatkan hasil yang tinggi dalam
penyambungan, maka pancaran sinar matahari langsung
terhadap sambungan harus dihindarkan.

c. Kelembaban
Kelembaban dan kandungan oksigen yang tinggi sangat
men dorong pembentukan kalus, karena itu diusahakan
pemakaian tali pengikat yang tidak kedap udara (Hartman dan
Kester, 1978). Sebaliknya pada kelembaban rendah akan
menyebabkan kekeringan dan menghalangi pembentukan kalus.
Hal ini disebabkan sel-sel pada sambungan banyak yang mati.
Kelembaban udara di tempat penyambungan harus dijaga tetap
tinggi, yakni sekitar 80% untuk memperoleh hasil yang tinggi
(Rismunandar dan Sunaryono, 1981). Kelembaban tingi
diperlukan untuk memproduksi sel-sel parenkhim dan
pembentukan kalus ( Hartman dan Kester, 1978).

d. Suhu
Kondisi suhu yang mendukung aktivitas sel yang tinggi
sangat diperlukan tanaman (Hartman dan Kester, 1978). Hal ini
juga didukung oleh Kusriningroem dan Sri Setiyati (1973) yang
menyatakan, bahwa suhu diperlukan untuk penyambungan
adalah 7,2- 32,2oC. Di luar ukuran tersebut dapat merusak atau
bahkan mema tikan sel-sel pada sambungan. Ternyata pada
suhu optimum, yakni 25-30oC pembentuk an jaringan kalus
dapat dipertinggi dan sangat menentukan keber hasilan
sambungan.