Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

Kandidosis vulvovaginalis (KVV) atau kandidiasis vulvovaginalis

merupakan infeksi mukosa vagina dan atau vulva (epitel tidak berkeratin) yang

disebabkan oleh jamur spesies Candida. Infeksi dapat terjadi secara akut, subakut,

dan kronis, didapat baik secara endogen maupun eksogen yang sering

menimbulkan keluhan berupa duh tubuh.1 Candida albicans tidak umum

ditemukan pada remaja sebelum pubertas. Bila ditemukan, pada usia remaja akan

menimbulkan duh tubuh, rasa gatal pada vulva, dispareunia (nyeri pada saat

bersanggama), rasa nyeri pada daerah perianal atau terjadinya fisur (luka celah)

pada muara liang sanggama. Serangan vulvitis yang disebabkan kandidiasis

biasanya bersifat berkala dan berkaitan dengan periode menstruasi.2

Sekitar 70-75% wanita setidaknya sekali terinfeksi KVV selama masa

hidupnya, paling sering terjadi pada wanita usia subur, pada sekitar 4050%

cenderung mengalami kekambuhan atau serangan infeksi kedua. Lima hingga

delapan persen wanita dewasa mengalami KVV berulang, yang didefinisikan

sebagai empat atau lebih episode setiap tahun yang dikenal sebagai kandidiasis

vulvovaginalis rekuren (KVVR), dan lebih dari 33% spesies penyebab KVVR

adalah Candida glabrata dan Candida parapsilosis yang lebih resisten terhadap

pengobatan.1

Gejala KVV yang umumnya ditemukan adalah rasa sakit di daerah vagina,

iritasi, rasa panas, dispareunia, dan sakit bila buang air kecil yang diawali keluhan
pruritus akut dan keputihan (fluor albus). Manifestasi klinis KVV merupakan hasil

interaksi antara patogenitas spesies Candida dengan mekanisme pertahanan

hospes (host) yang berkaitan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor predisposisi.

Penyebab terbanyak KVV adalah spesies Candida albicans (80-90%), diikuti

spesies Candida nonalbicans seperti Candida parapsilosis, Candida tropicalis,

Candida krusei, dan Candida glabrata yang juga sering menimbulkan KVV dan

lebih banyak terjadi resistensi terhadap terapi

konvensional.Meskipun banyak wanita sehat mengembangkan VVC secara spora

dis , beberapa faktor risiko perilakudan host yang terkait telah dikaitkan dengan

VVC dan episode berulang . Episode ini disebabkan olehCandida pertumbuhan be

rlebih dari gastrointestinal dan / atau saluran vagina atau melalui transmisiseksu

al ( 201 ) . Faktor risiko perilaku yang telah bermakna dikaitkan dengan insiden ya

ng lebih tinggidari VVC termasuk hubungan seksual sering dan menerima seks or

al , serta penggunaan high-

estrogen (tidak dosis rendah ) kontrasepsi oral , kondom , dan spermisida ( 45 , 7

9 , 96 , 101 ) . Di antaramahasiswa , pakaian ketat dan jenis pakaian tidak berhub

ungan dengan VVC ( 96 ) , sementara dikalangan perempuan dengan RVVC pengg

unaan panty liners atau pantyhose adalah positif berhubungandengan kekambuh

an gejala ( 191 ) . Faktor risiko yang berhubungan dengan tuan rumah yang telah

bermakna dikaitkan dengan VVC dan RVVC termasuk penggunaan antibiotik , tida

k terkendalidiabetes , kondisi dengan kadar hormon reproduksi yang tinggi , dan

kecenderungan genetik ( 105 , 235) . Antibiotik mengubah mikroflora bakteri dari


saluran vagina dan pencernaan dan dengan demikianmemungkinkan untuk pert

umbuhan berlebih dari Candida spp . Setelah penggunaan antibiotik , peningkata

n kolonisasi vagina dengan Candida spp . ,kebanyakan C. albicans , diperkirakan b

erkisar antara 10 sampai 30% , dan VVC terjadi pada 28-

33 %kasus ( 235 ) . Hal ini umumnya hipotesis bahwa pengurangan lactobacilli dal

am saluran vagina predisposisi perempuan untuk VVC . Lactobacilli memainkan p

eran kunci dalam flora vagina melalui produksi hidrogen peroksida , bakteriosin ,

dan asam laktat , yang melindungi terhadap invasi atau pertumbuhan berlebih da

ri spesies patogen ( 82 , 212 ) . Namun, penelitian telah gagal untuk memberikan

bukti bahwa vagina flora bakteridiubah atau abnormal predisposisi perempuan u

ntuk episode berulang dari VVC dengan tidak adanyaasupan antibiotik

Penatalaksanaan Kandidosis Vulvovaginalis 3

1. Anamnesis :

- Gatal pada vulva

- Vulva lecet, dapat timbul fisura

- Dapat terjadi dispareunia

2. Pemeriksaan klinis Pada vulva dan vagina tampak:

- Hiperemis

- Dapat timbul fisura

- Edema jika berat

- Duh tubuh vagina, putih seperti susu, bergumpal, tidak berbau


- Jika mengenai genitalia luar dapat dijumpai bercak/plak eritema

dengan lesi satelit

Obat pilihan :

1. Klotrimazol 500 mg, intravagina dosis tunggal, atau

2. Klotrimazol 200 mg, intravagina selama 3 hari, atau

3. Nistatin 100.000 IU intravagina selama 7 hari

4. Flukonazol 150 mg, per oral, dosis tunggal, atau

5. Itrakonazol 2x200 mg per oral selama 1 hari, atau

6. Itrakonazol 1x200 mg/hari per oral selama 3 hari, atau

7. Ketokonazol kapsul 2x200 mg/hari per oral selama 5 hari

Untuk kandidiasis vulvovaginal rekuren (kambuh ≥4x/tahun):

Agen topikal atau flukonazol oral selama 10-14 hari dilanjutkan dengan

flukonazol 150mg/minggu selama 6 bulan.

Catatan:

1. Wanita hamil sebaiknya tidak diberikan obat sistemik.

2. Flukonazol dan itrakonazol tidak boleh diberikan pada ibu hamil,

menyusui, atau anak di bawah 12 tahun.

3. Pada penderita dengan imunokompeten jarang terjadi komplikasi,

sedangkan penderita dengan status imun rendah infeksi jamur dapat

bersifat sistemik.

4. Ketokonazol tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang


Edukasi :

1. Hindari bahan iritan lokal, misalnya produk berparfum.

2. Hindari pemakaian bilas vagina.

3. Hindari pakaian ketat atau dari bahan sintesis.

4. Hilangkan faktor predisposisi: hormonal, pemakaian kortikosteroid dan

antibiotik yang terlalu lama, serta kegemukan

Sumber :
1. Retrospective Study: Diagnosis and Management of Vulvovaginalis
Candidiasis. Ditta Harnindya, Indropo Agusni. Departemen/Staf
Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Soetomo Surabaya. April, 2016.
2. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual Kementrian
Republik Indonesia. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. Jakarta, 2011.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia
(Perdoski) Jakarta 2017