Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem Reproduksi manusia merupakan suatu sistem yang sangat vital dan
menjadi komponen penting dalam menghasilkan keturunan. Namun, sistem
reproduksi juga dapat mengalami masalah yang disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti penyakit keturunan, tumor, kanker, infeksi dan masalah fungsional lainnya. Hal
ini dapat menyebabkan ketidakmampuan manusia untuk menghasilkan keturunan
(infertil). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan saat ini, sangat
membantu dalam kesehatan sistem reproduksi manusia. Beberapa masalah pada
sistem reproduksi (ginekologi) seperti myoma, cysta, dan lain-lain dapat diobati
dengan tindakan pembedahan, misalnya Laparotomi dan Laparoskopi. Selain itu,
tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk mengatasi masalah dalam kehamilan
dan persalinan (obstetri), seperti curettage pada abortus, sectio caesaria pada HSVB
(high score value baby) atau indikasi lainnya.
Berdasarkan data dari jurnal dunia tentang masalah kesehatan reproduksi
wanita, didapatkan : a) sekitar 60 % wanita afrika-amerika berusia 35 tahun
mengalami mioma uteri dan meningkat menjadi > 80% pada usia 50 tahun; b) Sekitar
7 % dari seluruh wanita di dunia menderita cysta ovarium pada usia post menopause,
dan diperkirakan sekitar 22.240 kasus kanker ovarium terlaporkan pada tahun 2018
berdasarkan SEER (National Cancer Institute Surveillance, Epidemiology, and End
Result); c) Di Israel, Prevalensi kejadian endometriosis pada rentang usia 40-44 tahun
sekitar 18,6 % dari 1000 wanita. Berdasarkan data di RSIA Ferina Surabaya,
didapatkan : a) peningkatan jumlah tindakan operasi Laparoskopi Miomektomi pada
kasus mioma uteri sebesar 30 % dari tahun 2017 ke 2018; b) peningkatan jumlah
tindakan operasi Laparoskopi Kistektomi sebesar 40 % dari tahun 2017 ke 2018; c)
peningkatan jumlah tindakan operasi Sectio Caesaria sebesar 50 % dari tahun 2017 ke
2018.
Tindakan pembedahan atau operasi merupakan tindakan pengobatan yang
menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang
akan ditangani. Pada umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, pada bagian
tubuh yang akan ditangani, lalu dilakukan tindakan perbaikan dan diakhiri dengan
penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 2017). Tindakan
pembedahan dilakukan di ruang operasi. Ruang operasi didefinisikan sebagai suatu
unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan
pembedahan secara elektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan
kondisi khusus lainnya (Pedoman Teknis Ruang Operasi Kementerian Kesehatan,
2012). GANTI YG LBH BARU
Tim bedah di ruang operasi dibagi menjadi ahli bedah dan asisten,
instrumentor, omloop, serta anestesi dan asistennya. Tiap anggota tim mempunyai
tugas masing-masing sesuai dengan kewenangannya. Seorang perawat bedah atau
instrumentor bertugas mengatur penggunaan instrument bedah mulai dari persiapan,
penggunaan saat durante operasi, sampai proses dekontaminasi instrumen saat post
operasi. Perawat bedah memiliki tanggung jawab penuh dalam penatalaksanaan
instrument bedah yang digunakan, sehingga perawat bedah harus menerapkan teknik
dan etika kerja di kamar operasi. Etika kerja di kamar bedah merupakan suatu
peraturan tidak tertulis yang mengatur tentang bagaimana cara bekerja di kamar
operasi dengan baik dan benar, dengan tujuan meningkatkan keberhasilan
pembedahan dan mengurangi resiko penyulit akibat pembedahan.
Rumah Sakit Daerah Dr Soetomo Surabaya yang merupakan rumah sakit
pendidikan, mengadakan pelatihan perawat kamar bedah yang bertujuan
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam penatalaksanaan intrumentasi,
serta meningkatkan etika kerja di kamar bedah.
Sehubungan dengan meningkatnya kegiatan operasi obgyn di RSIA Ferina
Surabaya, maka penulis berniat mengikuti pelatihan kamar bedah di RS Dr Soetomo
Surabaya dan mengambil peminatan obgyn untuk meningkatkan pelayanan
profesional sehingga mampu menjadi nilai tambah bagi RSIA Ferina Surabaya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelatihan perawat kamar bedah di RS Dr Soetomo Surabaya,
diharapkan penulis mampu menerapkan ketrampilan tentang penatalaksanaan
instrumentasi dan menerapkan etika kerja yang baik di kamar bedah.
1.2.2 Tujuan Khusus
1) Mampu mempersiapkan ruangan operasi serta instrumen bedah obgyn yang
akan digunakan
2) Mampu mengelola penggunaan instrumen bedah obgyn (teknik instrumentasi)
3) Mampu menerapkan teknik septik dan aseptik di kamar bedah
4) Mampu menerapkan teknik desinfeksi, dekontaminasi serta sterilisasi
instrument bedah

1.3 Manfaat
1.3.1 Penulis
Hasil dari pelatihan ini dapat digunakan sebagai standar kompetensi dan tolak
ukur sebagai perawat bedah dalam penatalaksanaan instrumentasi bedah obgyn, serta
penerapan etika kerja di kamar bedah.
1.3.2 Instansi Pengirim
Hasil dari pelatihan, diharapkan dapat memberikan masukan bagi perawat
bedah lain untuk menerapkan etika kerja di kamar bedah sehingga mampu
meningkatkan pelayanan profesional di RSIA Ferina Surabaya
1.3.3 Peserta pelatihan selanjutnya
Hasil dari pelatihan ini, diharapkan dapat memberikan masukan yang
bermanfaat bagi peserta pelatihan selanjutnya.