Anda di halaman 1dari 4

ISU PAJAK

RUU KUP dan UU KUP

Latar Belakang

Sejarah Reformasi Perpajakan

 Reformasi Pajak 1983

Sebelum reformasi pajak 1983, besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak (WP)
yang ditetapkan oleh negara melalui Kantor Inspeksi Pajak. Reformasi perpajakan
dilakukan pada tahun 1983 dengan peralihan sistem perpajakan yang paling
mendasar, yaitu digantikannya sistem official assesment menjadi self assesment.
Dan di keluarkannya lima undang-undang perpajakan yang baru. Hal ini dikarenakan
undang - undang yang di buat oleh kolonial Belanda dianggap tidak sesuai dengan
perkembangan jaman. Kelima undang-undang tersebut ialah :

1. Undang-Undang (UU) No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan
2. Undang-Undang (UU) No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (PPh)
3. Undang-Undang (UU) No. 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)
4. Undang-Undang (UU) No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB)
5. Undang-Undang (UU) No. 13 1985 tentang Bea Materai.

Reformasi pajak 1983 ini dinilai berhasil khususnya dalam meningkatkan penerimaan
pajak dan menaikkan perannya dalam APBM. Namun reformasi pajak 1983 ditangani
oleh konsultan-konsultan asing hal ini disayangka karena tenaga-tenaga dalam negeri
sebenarnya mampu menangani hal ini apabila di berika kesempatan dan
kepercayaan.

 Reformasi Pajak 1994 - 1997


Reformasi perpajakan 1994 dan 1997 merupakan lanjutan sebagai hasil dari evaluasi
pelaksanaan reformasi pajak sebelumnya, terkhusus dalam pelaksanaan prinsip self
assessment. Reformasi 1994 dimaksudkan untuk menjaga efektivitas pelaksanaan
prinsip self assessment, yaitu dengan meminimalkan interaksi aparatur pajak dengan
Wajib Pajak. Reformasi pajak 1997 merupakan bagian pajak 1994 sehingga prinsip
dasar, dan tujuannya sama dengan reformasi pajak 1994. Di tahun 1997 dikeluarkan
beberapa Undang-Undang baru untuk melengkapi Undang-Undang yang telah ada
yaitu :

1. Undang-Undang (UU) No. 17 tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian


Sengketa Pajak
2. Undang-Undang (UU) No. 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
3. Undang-Undang (UU) No. 19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan
Surat Pajak
4. Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan
Pajak
5. Undang-Undang (UU) No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan

Sumber : Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Reformasi_perpajakan)

Bawazier Fuad. (2011). Reformasi Pajak Di Indonesia Tax Reform


In Indonesia. Journal Legislasi Indonesia Vol 8 No. 1

Reformasi Jilid III

Opini Tien : RUU sendiri dalam penerapannya ke masyarakat masih kurang


sosialisasi, sehingga membuat penyampaian SPT tahunan pribadi atau badan banyak
wajib pajak masih bingung karena sistem yang saat ini telah berubah menjadi online
jadi wajib pajak nya sendiri dituntut untuk selalu memantau perubahan aturan atau
harus pergi ke kantor KPP, selain itu masih ada beberapa daerah. Namun baiknya,
semakin banyak Wajib Pajak yang peduli akan pajak.

Kepatuhan sebagai fondasi self assessment dapat dicapai apabila elemen- elemen
kunci telah diterapkan secara efektif. Elemen- elemen kunci menurut Ismawan,
(2001:83) adalah sebagai berikut:
a. Program pelayanan yang baik kepada wajib pajak.
b. Prosedur yang sederhana dan memudahkan wajib pajak.
c. Program pemantauan kepatuhan dan verifikasi yang efektif.
d. Pemantapan law enforcement secara tegas dan adil.

Hakikat dari pelayanan umum yang berkualitas (Boediono B., 2003 : 3) adalah sebagai
berikut :
a. Meningkatkan mutu dan produktivitas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi
pemerintah di bidang pelayanan umum.
b. Mendorong upaya mengefektifkan sistem dan tata laksana pelayanan sehingga
pelayanan umum dapat diselenggarakan secara lebih berdaya guna dan
berhasil guna (efisien dan efektif).
c. Mendorong tumbuhnya kreativitas, prakarsa, dan peran serta masyarakat
dalam pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan terpadu yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan


adalah sebagai berikut:

a. Pelayanan umum yang sederhana


Pelayanan umum berkualitas apabila pelaksanaannya tidak menyulitkan, prosedurnya
tidak banyak seluk-beluknya, persyaratan mudah dipenuhi pelanggan. Tidak bertele-
tele, tidak mencari kesempatan dalam kesempitan.

b. Pelayanan umum yang terbuka


Aparatur yang bertugas melayani pelanggan harus memberikan penjelasan sejujur-
jujurnya, apa adanya dalam peraturan atau norma, jangan menakut-nakuti, jangan
merasa berjasa dalam memberikan pelayanan agar tidak timbul keinginan
mengharapkan imbalan dari pelanggan. Standar pelayanan harus diumumkan,
ditempel pada pintu utama kantor.

c. Pelayanan umum yang lancar


Untuk menjadi lancar diperlukan sarana yang menunjang kecepatan dalam
menghasilkan output

d. Pelayanan umum yang dapat menyajikan secara tepat


Yang dimaksud tepat di sini adalah tepat arah, tepat sasaran, tepat waktu, tepat
jawaban, dan tepat dalam memenuhi janji. Misal kantor pelayanan pajak dalam
melakukan penagihan pajak tepat pada waktu wajib pajak mempunyai uang.

e. Pelayanan umum yang lengkap


Lengkap berarti tersedia apa yang diperlukan oleh pelanggan. Untuk dapat menjamin
pelayanan berkualitas harus didukung sumber daya manusia dan sarana yang
tersedia.

f. Pelayanan umum yang wajar


Pelayanan umum yang wajar berarti tidak ditambah-tambah menjadi pelayanan yang
bergaya mewah, tidak dibuat-buat, pelayanan biasa seperlunya sehingga tidak
memberatkan pelanggan.

g. Pelayanan umum yang terjangkau


Dalam memberikan pelayanan, uang retribusi dari pelayanan yang diberikan harus
dapat dijangkau oleh pelanggan.

Pelayanan yang berkualitas harus diupayakan dapat memberikan keamanan,


kenyamanan, kelancaran, dan kepastian hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(terserah icang mau dimasukan apa tidak, terus ku bingung mau dimasukan ke poin
ini atau yang dikeberlanjutan.)

Sumber : Boediono B. (2003). Pelayanan Prima Perpajakan. Jakarta : PT


Rineka Cipta.
Ismawan Indra. (2001). Memahami Reformasi Perpajakan 2000. Jakarta : PT
Elex Media Komputindo.

Keberlanjutan reformasi perpajakan di Indonesia

Kesimpulan

Daftar Pustaka