Anda di halaman 1dari 22

LAMPIRAN I

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
NOMOR … TAHUN 2018
TENTANG
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA DETAIL TATA
RUANG DAN PERATURAN ZONASI
KABUPATEN/KOTA

MUATAN RENCANA DETAIL TATA RUANG

RDTR merupakan rencana rinci tata ruang sebagai penjabaran RTRW


kabupaten/kota yang menjadi rujukan bagi penyusunan rencana teknis sektor
dan pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang.

Muatan RDTR terdiri atas tujuan penataan BWP, rencana struktur ruang,
rencana pola ruang, penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya,
dan ketentuan pemanfaatan ruang.

1. Tujuan Penataan BWP


Tujuan penataan BWP merupakan nilai dan/atau kualitas terukur yang
akan dicapai sesuai dengan arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan
dalam RTRW kabupaten/kota dan merupakan alasan disusunnya RDTR
tersebut, serta apabila diperlukan dapat dilengkapi konsep pencapaian.
Tujuan penataan BWP berisi tema yang akan direncanakan di BWP.
Tujuan penataan BWP berfungsi:
a. sebagai acuan untuk penyusunan rencana pola ruang, penyusunan
rencana struktur ruang, penetapan Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya, penyusunan ketentuan pemanfaatan ruang,
penyusunan peraturan zonasi; dan
b. untuk menjaga konsistensi dan keserasian pengembangan kawasan
perkotaan dengan RTRW kabupaten/kota.

Perumusan tujuan penataan BWP didasarkan pada:


a. Arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan dalam RTRW
kabupaten/kota;
b. Isu strategis BWP, yang antara lain dapat berupa potensi, masalah,
dan urgensi penanganan; dan
c. Karakteristik BWP.
Tujuan penataan BWP dirumuskan dengan mempertimbangkan:
a. Keseimbangan dan keserasian antarbagian dari wilayah
kabupaten/kota;
b. Fungsi dan peran BWP;
c. Potensi investasi;
d. Keunggulan dan daya saing BWP;
e. Kondisi sosial dan lingkungan BWP;
f. Peran dan aspirasi masyarakat dalam pembangunan; dan
g. Prinsip-prinsip yang merupakan penjabaran dari tujuan tersebut.

2. Rencana Struktur Ruang


Rencana struktur ruang merupakan susunan pusat-pusat pelayanan dan
sistem jaringan prasarana di BWP yang akan dikembangkan untuk
mencapai tujuan dalam melayani kegiatan skala BWP.

Rencana struktur ruang berfungsi sebagai:


a. Pembentuk sistem pusat pelayanan di dalam BWP;
b. Dasar perletakan jaringan serta rencana pembangunan prasarana
dan utilitas dalam BWP sesuai dengan fungsi pelayanannya; dan
c. Dasar rencana sistem pergerakan dan aksesibilitas lingkungan
dalam RTBL dan rencana teknis sektoral.

Rencana struktur ruang dirumuskan berdasarkan:


a. Rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota yang termuat
dalam RTRW;
b. Kebutuhan pelayanan dan pengembangan bagi BWP; dan
c. Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

Rencana struktur ruang dirumuskan dengan kriteria:


a. Memperhatikan rencana struktur ruang BWP lainnya dalam wilayah
kabupaten/kota;
b. Memperhatikan rencana struktur ruang kabupaten/kota sekitarnya
yang berbatasan langsung dengan BWP;
c. Menjamin keterpaduan dan prioritas pelaksanaan pembangunan
prasarana dan utilitas pada BWP;
d. Mengakomodasi kebutuhan pelayanan prasarana dan utilitas BWP
termasuk kebutuhan pergerakan manusia dan barang; dan
e. Mempertimbangkan inovasi dan/atau rekayasa teknologi.
Materi rencana struktur ruang meliputi:

a. Rencana Pengembangan Pusat Pelayanan


Rencana pengembangan pusat pelayanan merupakan distribusi
pusat-pusat pelayanan di dalam BWP yang akan melayani sub BWP,
dapat meliputi:
1) pusat pelayanan kota/kawasan perkotaan;
2) sub pusat pelayanan kota/kawasan perkotaan; dan
3) pusat lingkungan, berupa:
a) pusat lingkungan kecamatan;
b) pusat lingkungan kelurahan; dan/atau
c) pusat rukun warga.

b. Rencana Jaringan Transportasi


1) Untuk RDTR kawasan perkotaan di kabupaten, terdiri atas:
a) jaringan jalan dan jaringan kereta api sesuai dengan yang
termuat dalam RTRW kabupaten;
b) jaringan jalan sistem sekunder di kawasan perkotaan
meliputi jalan arteri sekunder, kolektor sekunder, dan lokal
sekunder;
c) jaringan jalan lingkungan primer dan lingkungan sekunder;
d) jalur pejalan kaki;
e) jalur sepeda (jika ada); dan
f) jaringan jalan lainnya yang meliputi:
(1) jalan masuk dan keluar terminal barang serta
terminal orang/penumpang sesuai ketentuan yang
berlaku (terminal tipe A, terminal tipe B, terminal
tipe C, dan/atau pangkalan angkutan umum);
(2) jaringan jalan moda transportasi umum (jalan masuk
dan keluarnya terminal barang/orang hingga
pangkalan angkutan umum dan halte); dan
(3) jalan masuk dan keluar parkir.
2) Untuk RDTR kota, terdiri atas:
a) jaringan jalan dan jaringan kereta api sesuai dengan yang
termuat dalam RTRW kota;
b) jaringan jalan lingkungan primer dan lingkungan sekunder;
c) jalur pejalan kaki;
d) jalur sepeda (jika ada); dan
e) jaringan jalan lainnya yang meliputi:
(1) jalan masuk dan keluar terminal barang serta
terminal orang/penumpang sesuai ketentuan yang
berlaku (terminal tipe A, terminal tipe B, terminal
tipe C, dan/atau pangkalan angkutan umum);
(2) jaringan jalan moda transportasi umum (jalan masuk
dan keluarnya terminal barang/orang hingga
pangkalan angkutan umum dan halte); dan
(3) jalan masuk dan keluar parkir.
Jaringan transportasi dapat berada di permukaan tanah, di bawah
permukaan tanah, atau di atas permukaan tanah.
c. Rencana Jaringan Prasarana
1) Rencana Jaringan Energi/Kelistrikan, meliputi:
a) jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi, terdiri atas:
(1) jaringan yang menyalurkan minyak dan gas bumi
dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan
dan/atau tempat penyimpanan; dan/atau
(2) jaringan yang menyalurkan gas bumi dari kilang
pengolahan ke konsumen.
b) jaringan penyaluran ketenagalistrikan, terdiri atas:
(1) jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk
menyalurkan tenaga listrik antarsistem sesuai
dengan RTRW kabupaten/kota, dapat berupa:
(a) saluran udara tegangan ultra tinggi (SUTUT);
(b) saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET);
(c) saluran udara tegangan tinggi (SUTT);
(d) saluran udara tegangan tinggi arus searah
(SUTTAS);
(e) saluran udara tegangan menengah (SUTM);
(f) saluran udara tegangan rendah (SUTR);
(g) saluran kabel tegangan menengah (SKTM);
dan/atau
(h) saluran transmisi/distribusi lainnya.
(2) gardu listrik, meliputi:
(a) gardu induk yang berfungsi untuk menurunkan
tegangan dari jaringan subtransmisi menjadi
tegangan menengah;
(b) gardu hubung yang berfungsi untuk membagi
daya listrik dari gardu induk menuju gardu
distribusi; dan
(c) gardu distribusi yang berfungsi untuk
menurunkan tegangan primer menjadi tegangan
sekunder.

2) Rencana Jaringan Telekomunikasi (tetap dan bergerak), terdiri


atas:
a) infrastruktur dasar telekomunikasi yang berupa lokasi
pusat automatisasi sambungan telepon;
b) jaringan telekomunikasi telepon kabel yang berupa lokasi
stasiun telepon otomat, rumah kabel, dan kotak pembagi;
c) sistem televisi kabel termasuk lokasi stasiun transmisi;
d) jaringan telekomunikasi telepon nirkabel yang berupa
lokasi menara telekomunikasi termasuk menara Base
Transceiver Station (BTS);
e) jaringan serat optik; dan
f) peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi.

3) Rencana Jaringan Air Minum, meliputi:


a) jaringan perpipaan:
(1) unit air baku;
(2) unit produksi yang berupa bangunan pengambil air
baku, dan instalasi produksi;
(3) unit distribusi berupa pipa transmisi air baku;
(4) unit pelayanan yang berupa pipa unit distribusi hingga
persil/bidang; dan/atau
(5) bangunan penunjang dan bangunan pelengkap;
b) jaringan non-perpipaan, yang terdiri atas:
(1) sumur dangkal;
(2) sumur pompa;
(3) bak penampungan air hujan; dan
(4) terminal air.
4) Rencana Jaringan Drainase, meliputi:
a) saluran primer;
b) saluran sekunder;
c) saluran tersier;
d) saluran lokal;
e) bangunan peresapan (kolam retensi); dan
f) bangunan tampungan (polder) beserta sarana pelengkapnya
(sistem pemompaan dan pintu air).

5) Rencana Pengelolaan Air Limbah, meliputi:


a) Sistem pengelolaan air limbah (SPAL) setempat, meliputi:
(1) subsistem pengolahan setempat;
(2) subsistem pengangkutan; dan
(3) subsistem pengolahan lumpur tinja.
b) Sistem pengelolaan air limbah (SPAL) terpusat, meliputi:
(1) subsistem pelayanan yang terdiri atas pipa tinja, pipa
non tinja bak perangkap lemak dan minyak dari dapur,
pipa persil, bak kontrol, dan lubang inspeksi;
(2) subsistem pengumpulan yang terdiri atas pipa
retikulasi, pipa induk, serta sarana dan prasarana
pelengkap; dan
(3) subsistem pengolahan terpusat yang terdiri atas
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) kota dan IPAL
skala kawasan tertentu/permukiman.
Untuk industri rumah tangga harus menyediakan instalasi
pengolahan air limbah komunal tersendiri.

6) Rencana Jaringan Prasarana Lainnya


Penyediaan prasarana lainnya direncanakan sesuai kebutuhan
pengembangan BWP, misalnya BWP yang berada pada
kawasan rawan bencana wajib menyediakan jalur evakuasi
bencana yang meliputi jalur evakuasi dan tempat evakuasi
sementara yang terintegrasi baik untuk skala kabupaten/kota,
kawasan, maupun lingkungan.
Jalur evakuasi bencana dapat memanfaatkan jaringan
prasarana dan sarana yang sudah ada.
Peta rencana struktur ruang digambarkan dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. Peta rencana struktur ruang terdiri dari:
1) peta pusat pelayanan yang memuat pusat-pusat
pelayanan;
2) peta jaringan transportasi yang memuat jaringan jalan
dan kereta api; dan
3) peta jaringan prasarana yang terdiri dari jaringan
energi/kelistrikan, telekomunikasi, air minum,
drainase, air limbah, dan prasarana lainnya yang
digambarkan secara tersendiri untuk masing-masing
rencana jaringan prasarana;
b. Apabila terdapat jaringan transportasi dan jaringan
prasarana yang berada di bawah permukaan tanah (ruang
dalam bumi) maupun di atas permukaan tanah maka
digambarkan dalam peta tersendiri dan dilengkapi dengan
gambar potongan/penampang;
c. Rencana struktur ruang digambarkan dalam peta dengan
skala atau tingkat ketelitian informasi minimal 1:5.000 dan
mengikuti ketentuan mengenai sistem informasi geografis
yang dikeluarkan oleh kementerian/lembaga yang
berwenang;
d. Rencana struktur ruang disajikan dalam format digital
sesuai dengan standar yang akan diatur lebih lanjut melalui
pedoman tersendiri; dan
e. Rencana struktur ruang dapat digambarkan juga dalam
model 3 (tiga) dimensi.

Ketentuan teknis mengenai penyusunan peta RDTR (peta


rencana struktur ruang dan peta rencana pola ruang) akan
diatur lebih lanjut melalui pedoman tersendiri.
Ilustrasi peta rencana struktur ruang dapat dilihat pada
Lampiran I.1.
3. Rencana Pola Ruang

Rencana pola ruang merupakan rencana distribusi zona pada BWP yang
akan diatur sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.

Rencana pola ruang berfungsi sebagai:

a. Alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial budaya, ekonomi, serta


kegiatan pelestarian fungsi lingkungan dalam BWP;
b. Dasar penerbitan izin pemanfaatan ruang;
c. Dasar penyusunan RTBL dan rencana teknis lainnya; dan
d. Dasar penyusunan rencana jaringan prasarana.

Rencana pola ruang dirumuskan dengan kriteria:

a. Mengacu pada rencana pola ruang yang telah ditetapkan dalam


RTRW kabupaten/kota;
b. Mengacu pada konsep ruang (khusus untuk RDTR kawasan
perkotaan di kabupaten);
c. Mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup dan infrastruktur dalam BWP;
d. Memperkirakan kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan
sosial ekonomi dan pelestarian fungsi lingkungan, khususnya untuk
kawasan perkotaan yang memiliki kegiatan yang berpotensi
menimbulkan bangkitan yang cukup besar;;
e. Mempertimbangkan ketersediaan ruang yang ada;
f. Memperhatikan rencana pola ruang bagian wilayah yang berbatasan;
g. Memperhatikan mitigasi dan adaptasi bencana pada BWP,
termasuk dampak perubahan iklim; dan
h. Menyediakan RTH dan RTNH untuk menampung kegiatan sosial,
budaya, dan ekonomi masyarakat.
Rencana pola ruang RDTR terdiri atas:

a. Zona lindung yang meliputi:


1) zona hutan lindung (HL);
2) zona yang memberikan perlindungan terhadap zona dibawahnya
(PB) yang meliputi:
a) zona lindung gambut (LG); dan/atau
b) zona resapan air (RA).
3) zona perlindungan setempat (PS) yang meliputi:
a) zona sempadan pantai (SP);
b) zona sempadan sungai (SS);
c) zona sekitar danau atau waduk (DW) termasuk situ dan
embung; dan/atau
d) zona sekitar mata air (MA).
Ilustrasi sempadan pantai, sungai dan danau ditunjukkan pada
Lampiran I.2.
4) zona RTH kota (RTH) yang meliputi:
a) hutan kota (RTH-1);
b) taman kota (RTH-2);
c) taman kecamatan (RTH-3);
d) taman kelurahan (RTH-4);
e) taman RW (RTH-5);
f) taman RT (RTH-6); dan/atau
g) pemakaman (RTH-7).
5) zona konservasi (KS) yang meliputi:
a) cagar alam (KS-1);
b) suaka margasatwa (KS-2);
c) taman nasional (KS-3);
d) taman hutan raya (KS-4); dan/atau
e) taman wisata alam (KS-5).
6) zona lindung lainnya.
Pengkodean zona dan subzona lainnya diatur sendiri oleh
masing-masing daerah sesuai dengan kebutuhan.
b. Zona budi daya yang meliputi:
1) zona perumahan (R), yang dapat dirinci kedalam zona
perumahan berdasarkan tingkat kepadatan bangunan dan/atau
tingkat kemampuan/keterjangkauan kepemilikan rumah, contoh:
a) berdasarkan tingkat kepadatan bangunan: kepadatan
sangat tinggi (R-1), tinggi (R-2), sedang (R-3), rendah (R-4),
dan sangat rendah (R-5); atau
b) berdasarkan tingkat kemampuan/keterjangkauan
kepemilikan rumah: rumah mewah (Rm), rumah menengah
(Rh), rumah sederhana (Rs), dan rumah sangat sederhana
(Ra).
2) zona perdagangan dan jasa (K), yang meliputi:
a) perdagangan dan jasa skala kota (K-1);
b) perdagangan dan jasa skala BWP (K-2); dan/atau
c) perdagangan dan jasa skala sub BWP (K-3).
3) zona perkantoran (KT);
4) zona sarana pelayanan umum (SPU), yang meliputi:
a) sarana pelayanan umum skala kota (SPU-1);
b) sarana pelayanan umum skala kecamatan (SPU-2);
c) sarana pelayanan umum skala kelurahan (SPU-3);
dan/atau
d) sarana pelayanan umum skala RW (SPU-4).
5) zona industri (I), yang meliputi:
a) kawasan industri (KI); dan/atau
b) sentra industri kecil menengah (SIKM).
6) zona lainnya, yang dapat berupa pertanian, pertambangan, ruang
terbuka non hijau, sektor informal, pergudangan, pertahanan
dan keamanan, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA), pengembangan nuklir, pembangkit
listrik, dan/atau pariwisata. Pengkodean zona dan subzona
lainnya diatur sendiri oleh masing-masing daerah sesuai dengan
kebutuhan.
Khusus zona pertanian, di dalamnya dapat ditetapkan luasan
dan sebaran lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B)
dengan mengacu pada kawasan pertanian pangan berkelajutan
(KP2B) yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang
RTRW kabupaten/kota. LP2B memiliki pengaturan tersendiri
sebagai tambahan dari aturan dasar zona pertanian dan
dituangkan ke dalam peta rencana pola ruang yang memuat kode
pengaturan zonasi.
7) zona campuran (C), yang meliputi perumahan dan
perdagangan/jasa, perumahan dan perkantoran,
perdagangan/jasa dan perkantoran.
Penggunaan kategori zona campuran di dalam rencana zonasi
bertujuan untuk mendorong pertumbuhan suatu bagian
kawasan perkotaan agar menjadi satu fungsi ruang
tertentu.Kategori zona campuran juga dapat digunakan untuk
mengakomodasi adanya suatu bagian kawasan perkotaan yang
memiliki lebih dari satu fungsi ruang, yang harmonis namun
tidak dapat secara utuh dikategorikan ke dalam salah satu zona.
Penggunaan kategori zona campuran harus didukung oleh:
a) Adanya batas zona yang jelas yang dapat membatasi
perluasan fungsi campuran lebih lanjut; dan
b) Harus ada upaya untuk mendorong perkembangan fungsi
campuran menuju ke satu zona peruntukan tertentu.
Dalam menentukan klasifikasi zona/subzona lindung dan
budidaya dalam RDTR, perlu dibuat kriteria pengklasifikasian
zona/subzona yang memuat sekurang-kurangnya:
a. Nama zona/subzona;
b. Kode zona/subzona;
c. Definisi zona/subzone memuat pengertian lebih lanjut
tentang zona/subzona;
d. Tujuan penetapan zona memuat tujuan yang ingin dicapai
untuk setiap zona/subzona lindung dan budidaya dalam
RDTR;
e. Kriteria performazona/subzonamerupakan kualitas atau
kinerja yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan
penetapan masing-masing zona/subzona; dan
f. Kriteria perencanaan zona merupakan kriteria dan standar
untuk merencanakan ruang suatu zona agar tercapai
tujuan penetapan zona/subzona. Khusus untuk zona
perumahan harus mencantumkan luas persil minimum
dan luas persil maksimum tiap zona/subzona.
Contoh kriteria pengklasifikasian zona lindung dan budidaya
dapat dilihat pada Lampiran I.3.

Penjabaran zona menjadi sub zona harus memperhatikan dua


hal yaitu:
a. Perbedaan dasar pengertian antara zona peruntukan ruang
dengan kegiatan; dan
b. hakekat zona adalah fungsi ruang, dan penjabarannya pun
sebaiknya mengikuti perbedaan fungsi ruang.
Apabila pada BWP hanya terdapat satu jenis subzone dari zona
tertentu, subzone tersebut dapat dijadikan zona tersendiri.
Subzona juga dapat dijadikan zona tersendiri apabila subzona
tersebut memiliki luas yang signifikan atau memiliki persentase
yang besar terhadap luas BWP.

Setiap Sub BWP terdiri atas blok yang dibagi berdasarkan


batasan fisik antara lain seperti jalan, sungai, dan sebagainya.
Pengilustrasian overlay peta yang didelineasi berdasarkan fisik
(BWP, Sub BWP, dan blok) hingga peta yang didelineasi
berdasarkan fungsi (zona dan subzona) ditunjukkan pada
Gambar I.1.
Dalam hal luas BWP relatif kecil, rencana pola ruang dapat
digambarkan secara langsung ke dalam blok. Contoh
pendelineasian peta yang digambarkan dari BWP ke Sub BWP
hingga blok dapat dilihat pada Gambar I.2, dan contoh
pendeliniasian peta yang digambarkan secara langsung dari
BWP ke dalam blok dapat dilihat pada Gambar I.3.

Adapun pengilustrasian pembagian zona-zona peruntukan ke


dalam blok disertai pengkodean berbagai subzona pada suatu
Sub BWP dapat dilihat pada Gambar I.4.

Kegiatan dapat ditetapkan menjadi suatu zona apabila memiliki


kriteria sebagai berikut:
a. memiliki dampak dan tingkat gangguan yang signifikan
terhadap lingkungan di sekelilingnya sehingga perlu diatur
dan dikendalikan; dan/atau
b. memiliki keragaman kegiatan yang memerlukan
pengaturan.

Apabila diperlukan, zona dapat dibagi lagi menjadi beberapa


subzona atau sub subzona, sedangkan apabila tidak memenuhi
kriteria tersebut di atas, maka tidak diklasifikasikan sebagai
zona dimasukkan kedaftar kegiatan didalam matriks ITBX.

Apabila BWP terlalu luas untuk digambarkan ke dalam satu


peta berskala 1:5.000, maka peta rencana pola tersebut dapat
digambarkan kedalam beberapa lembar peta berdasarkan Sub
BWP, seperti dapat dilihat pada Gambar I.5. Adapun untuk
zona rawan bencana, peta digambarkan secara terpisah dari
peta rencana pola.
Gambar I.1
Ilustrasi Pembagian BWP ke dalam Sub BWP
Gambar I.2
Ilustrasi Pembagian BWP ke dalam Sub BWP hingga Blok

Gambar I.3
Ilustrasi Pembagian BWP Langsung ke dalam Blok
Gambar I.4
Ilustrasi Pembagian Subzona di dalam Blok dan
Subblok pada Satu Sub BWP
Gambar I.5
Penyajian Peta Rencana Pola Ruang untuk BWP yang Luas (Dibagi ke dalam
Beberapa Lembar Peta)

Peta rencana pola ruang digambarkan dengan ketentuan sebagai


berikut:
a. Rencana pola ruang digambarkan dalam peta dengan skala
atau tingkat ketelitian informasi minimal 1:5.000, serta
mengikuti ketentuan mengenai sistem informasi geografis
yang dikeluarkan oleh kementerian/lembaga yang
berwenang;
b. Cakupan rencana pola ruang meliputi ruang darat dan laut
dengan batasan mengacu pada peraturan perundang-
undangan;
c. Apabila terdapat rencana pemanfaatan ruang yang berada di
bawah permukaan tanah (ruang dalam bumi) maka
digambarkan dalam peta tersendiri dan dilengkapi dengan
gambar potongan/penampang;
d. Rencana pola ruang dapat digambarkan kedalam beberapa
lembar peta yang tersusun secara beraturan mengikuti
ketentuan yang berlaku;
e. Peta rencana pola ruang harus sudah menunjukkan batasan
bidang tanah/persil untuk wilayah yang sudah terbangun;
f. Rencana pola ruang disajikan dalam format digital sesuai
dengan standar yang akan diatur lebih lanjut melalui
pedoman tersendiri; dan
g. Rencana pola ruang dapat digambarkan juga dalam model 3
(tiga) dimensi.
Ketentuan teknis mengenai penyusunan peta RDTR (peta
rencana struktur ruang dan peta rencana pola ruang) akan
diatur lebih lanjut melalui pedoman tersendiri.
Ilustrasi peta rencana pola ruang dapat dilihat pada Lampiran
I.1.

4. Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan upaya


dalam rangka operasionalisasi rencana tata ruang yang diwujudkan ke
dalam rencana penanganan Sub BWP yang diprioritaskan.

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya bertujuan untuk


mengembangkan, melestarikan, melindungi, memperbaiki,
mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan, dan/atau melaksanakan
revitalisasi di kawasan yang bersangkutan, yang dianggap memiliki prioritas
tinggi dibandingkan Sub BWP lainnya.

Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan lokasi


pelaksanaan salah satu program prioritas dari RDTR.

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya berfungsi sebagai:

a. dasar penyusunan RTBL dan rencana teknis pembangunan sektoral;


dan
b. dasar pertimbangan dalam penyusunan indikasi program prioritas
RDTR.

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditetapkan


berdasarkan:

a. tujuan penataan BWP;


b. nilai penting Sub BWP yang akan ditetapkan;
c. kondisi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan Sub BWP yang akan
ditetapkan;
d. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup BWP; dan
e. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditetapkan
dengan kriteria:
a. merupakan faktor kunci yang mendukung perwujudan rencana pola
ruang dan rencana jaringan prasarana, serta pelaksanaan peraturan
zonasi di BWP;
b. mendukung tercapainya agenda pembangunan dan pengembangan
kawasan;
c. merupakanSub BWP yang memiliki nilai pentingdari
sudutkepentingan ekonomi, sosial-budaya, pendayagunaan sumber
daya alam dan/atau teknologi tinggi, fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup, dan/atau memiliki nilai penting lainnya yang
sesuai dengan kepentingan pembangunan BWP; dan/atau
d. merupakan Sub BWP yang dinilai perlu dikembangkan, diperbaiki,
dilestarikan, dan/atau direvitalisasi agar dapat mencapai standar
tertentu berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial-budaya,
dan/atau lingkungan.

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya harus memuat


sekurang- kurangnya:
a. Lokasi
Lokasi Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya digambarkan
dalam peta. Lokasi tersebut dapat meliputi seluruh wilayah Sub BWP
yang ditentukan, atau dapat juga meliputi sebagian saja dari wilayah
Sub BWP tersebut. Batas delineasi lokasi Sub BWP yang
diprioritaskan penanganannya ditetapkan dengan
mempertimbangkan:
1) batas fisik, seperti blok dan subblok;
2) fungsi kawasan, seperti zona dan subzona;
3) wilayah administratif, seperti RT, RW, desa/kelurahan, dan
kecamatan;
4) penentuan secara kultural tradisional, seperti kampung, desa adat,
gampong, dan nagari;
5) kesatuan karakteristik tematik, seperti kawasan kota lama,
lingkungan sentra perindustrian rakyat, kawasan sentra
pendidikan, kawasan perkampungan tertentu, dan kawasan
permukiman tradisional; dan
6) jenis kawasan, seperti kawasan baru yang berkembang cepat,
kawasan terbangun yang memerlukan penataan, kawasan
dilestarikan, kawasan rawan bencana, dan kawasan gabungan
atau campuran.
b. Tema Penanganan
Tema penanganan adalah program utama untuk setiap lokasi.
Tema penanganan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
terdiri atas:
1) perbaikan prasarana, sarana, dan blok/kawasan, contohnya
melalui penataan lingkungan permukiman kumuh(perbaikan
kampung), dan penataan lingkungan permukiman nelayan;
2) pengembangan kembali prasarana, sarana, dan blok/kawasan,
contohnya melalui peremajaan kawasan, pengembangan kawasan
terpadu, serta rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan
pascabencana;
3) pembangunan baru prasarana, sarana, dan blok/kawasan,
contohnya melalui pembangunan kawasan perumahan umum
(public housing) yang dibangun oleh pemerintah dan swasta
(Kawasan Siap Bangun/Lingkungan Siap Bangun-Berdiri
Sendiri),pembangunan kawasan terpadu, pembangunan desa
agropolitan, pembangunan kawasan perbatasan; dan/atau
4) pelestarian/pelindungan blok/kawasan, contohnya melalui
pelestarian kawasan, konservasi kawasan, dan revitalisasi
kawasan.

5. Ketentuan Pemanfaatan Ruang

Ketentuan pemanfaatan ruang dalam RDTR merupakan upaya


mewujudkan RDTR dalam bentuk program pengembangan BWP dalam
jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun masa
perencanaan sebagaimana diatur dalam pedoman ini.

Ketentuan pemanfaatan ruang berfungsi sebagai:

a. dasar pemerintah dan masyarakat dalam pemrograman investasi


pengembangan BWP;
b. arahan untuk sektor dalam penyusunan program;
c. dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima)
tahunan dan penyusunan program tahunan untuk setiap jangka 5
(lima) tahun; dan
d. acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.

Ketentuan pemanfaatan ruang disusun berdasarkan:

a. rencana pola ruang dan rencana struktur ruang;


b. ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;
c. kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang
ditetapkan;
d. masukan dan kesepakatan dengan para investor; dan
e. prioritas pengembangan BWP dan pentahapan rencana pelaksanaan
program yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) daerah dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) daerah, serta rencana terpadu dan program
investasi infrastruktur jangka menengah (RPI2JM).

Ketentuan pemanfaatan ruang disusun dengan kriteria:

a. mendukung perwujudan rencana pola ruang dan rencana penyediaan


prasarana perkotaan di BWP serta perwujudan Sub BWP yang
diprioritaskan penanganannya;
b. mendukung program penataan ruang wilayah kabupaten/kota;
c. realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka
waktu perencanaan;
d. konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun,
baik dalam jangka waktu tahunan maupun lima tahunan; dan
e. terjaganya sinkronisasi antar program dalam satu kerangka
program terpadu pengembangan wilayah kabupaten/kota.

Program dalam Ketentuan pemanfaatan ruang meliputi:

a. Program Pemanfaatan Ruang Prioritas


Program pemanfaatan ruang prioritas merupakan program-program
pengembangan BWP yang diindikasikan memiliki bobot tinggi
berdasarkan tingkat kepentingan atau diprioritaskan dan memiliki
nilai strategis untuk mewujudkan rencana sruktur ruang dan
rencana pola ruang di BWP sesuai tujuan penataan BWP.
Program pemanfaatan ruang dapat memuat kelompok program
sebagai berikut:
1) program perwujudan rencana struktur ruang yang meliputi:
a) perwujudan pusat pelayanan kegiatan di BWP;
b) perwujudan jaringan transportasi di BWP;dan
c) perwujudan jaringan prasarana untuk BWP, yang mencakup
pula prasarana nasional dan wilayah/regional didalam BWP
yang terdiri atas:
(1) perwujudan jaringan energi/kelistrikan;
(2) perwujudan jaringan telekomunikasi;
(3) perwujudan jaringan air minum;
(4) perwujudan jaringan drainase;
(5) perwujudan jaringan air limbah; dan/atau
(6) perwujudan jaringan prasarana lainnya.
2) program perwujudan rencana pola ruang di BWP yang meliputi:
a) perwujudan zona lindung pada BWP termasuk didalam
pemenuhan kebutuhan RTH; dan
b) perwujudan zona budi daya pada BWP yang terdiri atas:
(1) perwujudan penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas
umum diBWP;
(2) perwujudan ketentuan pemanfaatan ruang untuk
setiap jenis pola ruang;
(3) perwujudan intensitas pemanfaatan ruang blok;
dan/atau
(4) perwujudan tata bangunan.
3) program perwujudan penetapan Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya yang terdiri atas:
a) program penyusunan RTBL;
b) perbaikan prasarana, sarana, dan blok/kawasan;
c) pembangunan baru prasarana, sarana, dan blok/kawasan;
d) pengembangan kembali prasarana, sarana, dan
blok/kawasan; dan/atau
e) pelestarian/pelindungan blok/kawasan.
4) program perwujudan ketahanan terhadap perubahan iklim, dapat
sebagai kelompok program tersendiri atau menjadi bagian
dari kelompok program lainnya, disesuaikan berdasarkan
kebutuhannya.
b. Lokasi
Lokasi merupakan tempat dimana usulan program akan
dilaksanakan.
c. Besaran dan Biaya
Besaran merupakan perkiraan jumlah satuan dan biaya masing-
masing usulan program prioritas pengembangan wilayah yang akan
dilaksanakan.
d. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota, APBD provinsi, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), swasta, dan/atau
masyarakat. Sumber pendanaan dapat dilengkapi dengan perkiraan
kebutuhan biaya bagi masing-masing program.
e. Instansi Pelaksana
Instansi pelaksana merupakan pihak-pihak pelaksana program
prioritas yang meliputi pemerintah seperti satuan kerja perangkat
daerah (SKPD), dinas teknis terkait, dan/atau kementerian/lembaga,
swasta, dan/atau masyarakat.
f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan
Program direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 20 (dua
puluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima) tahunan dan masing-masing
program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi sesuai
kebutuhan. Penyusunan program prioritas disesuaikan dengan
pentahapan jangka waktu 5 tahunan RPJP daerah kabupaten/kota.
Matriks susunan tipologi program prioritas dalam RDTR, dapat dilihat
pada Lampiran I.4.