Anda di halaman 1dari 3

Nama: Tien Vanenssia W.

NIM : 186020300111012
Kelas: EA

Perbandingan Awakening the Conscience Inside : The Spirituality


of Code of Ethics for Profesional Accountants
Prof. Iwan Triyuwono (2015)
Dengan
Kode Etik Akuntan versi Konvensional (IAI)

Pengertian Kode Etik


Menurut Wikipedia kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah
disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya
termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi
yang agak uk dalam kategori norma hukum yang didasari kesusilaan.
Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis
dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan
atau tata cara sebagai pedoman berperilaku dan berbudaya. Tujuan kode etik agar
profesionalisme memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai jasa atau
nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.

Perbandingan Awakening the Conscience Inside : The Spirituality


of Code of Ethics for Profesional Accountants oleh Professor Iwan
Triyuwono (2015) dengan Kode Etik Akuntan Versi Konvensional
(IAI)
Saya akan mencoba membandingkan kode etik Akuntan (IAI) dengan jurnal yang
di susun oleh Prof. Iwan. Kode etik akuntan versi konvensional yang menjadi
perbandingan saya adalah kode etik akuntansi yang dipublikasi tahun 2016, satu
tahun setelah jurnal Prof Iwan di publikasi di Science Direct
Menurut Nilsson et.,al., 2012; Blumer 1969 dalam Triyuwono (2015)
menyebutkan bahwa kode etik untuk akuntan profesional adalah simbol yang
mengacu pada integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional,
kerahasiaan, serta perilaku profesional. Ini merupakan prinsip dasar kode etik
yang disusun oleh IESBA (2013) dan telah di adobsi oleh IAI dan dapat dilihat
pada poin 100.5 tentang prinsip dasar (2016).
Dalam jurnal “Awakening the Conscience Inside : The Spirituality of Code of
Ethics for Profesional Accountants” memberikan contoh Homo economicus
yaitu pribadi yang memiliki rasional ekonomi dan lebih mementingkan diri
sendiri, bahkan Wight (2005) dalam Triyuwono (2015) menyatakan bahwa homo
economicus terikat dalam kotak perhitungan, materialis, anti sosial, tidak ada
moralitas, keserakahan, dan tidak ada kepahlawanan. Selain Jansen &Meckling
(1994) dalam Triyuwono (2015) Homo economicus ada juga homo socilogius
yang tidak memperhatijkan pendapatantetapi lebih mementingkan lingkungan
sosial, kebutuhan psikologis manusia dan public goods. Dari sini menurut
Triyuwono(2015) menemukan homo spiritus, dimana merupakan karakteristik
yang paling kuat, karena tidak hanya memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan
dan sesama manusia tetapi juga dengan alam.
Homo spiritus memliki empat elemen metafisik yaitu : keinginan, kecerdasan,
hati, hati nurani. Dimana hati nurani merupakan inti dari divine consciousness.
Sehingga menurut Triyuwono (2015) :
“Ideally, a professional accountant is homo spiritus. But, how ? the
anser is: designing code od ethics that may direct professional
accountant to have willingness to undertake a spiritual journey
throught doing daily life and profesional services to clients”
Jika kita melihat dalam kode etik akuntan versi IAI (2016), profesional akuntan
haruslah mematuhi prinsip dasar etika. Selain itu dalam kode etik konvensional
mengharuskan akuntan profesional untuk bersikap jujur serta objektif yang sesuai
dengan standar dan hukum atau peraturan yang berlaku. Sedangkan dalam jurnal
ini menyatakan bahwa hal tersebut saja tidak cukup untuk menuntun profesional
akuntansi, maka menurut Triyuwono (2015) harus menambahkan ketulusan dan
cinta. Karena dengan ketulusan seseorang akan memberikan pelayanan kepada
kliennya tidak dirinya sendiri, tetapi juga untuk Tuhan. Karena pada dasarnya
seorang akuntan profesional haruslah terbebas dari egonya.
Selain itu dalam poin 130.1, 130.2, dan 130.3 dalam kode etik profesi akuntan
versi IAI (2016) menyebutkan bahwa profesional akuntantan harus memiliki
pencapaian kompentesi profesional serta pemeliharaan kompentasi
profesional(IAI, 130.2a-130.2b).
Menurut Coe & Delany (2008); Marshall (2001) dalam Triyuwono (2015)
menyatakan bahwa kebanyakan akuntan memilih untuk mendapatkan sertifikasi
agar dapat lebih dekat dengan tujuan karir mereka, karena adanya perasaan bahwa
gelar sarjana saja tidak akan cukup untuk mencapai tujuan karir yang diinginkan.
Dalam jurnal ini menyebutkan bahwa ada 3 (tiga) jenis serfikasi yaitu CEA-Rc,
CEA-PSc, dan CEA-Dc. Dimana apabila akuntan profesional telah memiliki
ketiga jenis sertifikasi ini maka akan lebih dipercaya oleh sosial bisnis.

Kesimpulan
Jika saya bandingkan antara jurnal Prof. Iwan dengan kode etik akuntan
konvesional, maka menurut saya memang harus ditambahkan dengan karakter
homo spiritual, dimana seorang akuntan profesional harus melakukan tugasnya
atau melayani kliennya dengan tulus serta penuh dengan perasaan cinta, karena
apabila kita tulus melakukan pekerjaan kita maka kita akan terbebas dari ego kita.
Dimana kita akan dengan senang hati melakukan pekerjaan kita dengan
profesional, ditambah lagi menurut saya karena kita berasal dari negara yang
memiliki tingkat spiritual yang bisa dibilang lebih kuat, maka ada baiknya jika
kita juga harus mengadaptasi kode etik tersebut dengan budaya spiritual dinegera
kita.
Dengan membaca jurnal Prof. Iwan hal yang saya dapatkan bahwa ternyata
sertifikasi seorang akuntan tidak hanya CMA, CPA, CIA saja tetapi juga memiliki
sertifikasi lain yaitu CEA-Rc, CEA-PSc, CEA-DC.
Dalam jurnal ini juga diberikan 2 tabel yang menurut saya cukup informatif. Tabel
1 tentang Hubungan prinsip fundamental, elemen metafisik, dan kesadaran; dan
tabel 2 tetang hubungan prinsip dasar dan sertifikasi. Menurut saya jurnal ini lebih
mudah dipahami, dan memiliki arah yang teratur dan tertata dalam susunannya.
Saya berharap saya dapat menyusun jurnal seperti jurnal ini.