Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa balita adalah masa keemasan di mana otak balita lebih terbuka untuk
proses pembelajaran dan pengayaan serta sangat peka terhadap lingkungan. Pada
tahun 2012, tercatat jumlah balita di Indonesia mencapai 31.8 juta jiwa atau
sekitar 13% dari seluruh penduduk Indonesia yangberjumlah 244,2 juta jiwa pada
tahun tersebut. Mengingat besarnya jumlah tersebut dan untuk menjaga tren
suksesnya penurunan tingkat mortalitas balita di Indonesia sebesar 63% sejak
1990-2012 , maka kualitas tumbuh kembang balita sebagai calon generasi penerus
bangsa di Indonesia perlu mendapat perhatian seperti mendapat gizi yang baik,
stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas
termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang. Periode
tumbuh kembang anak pada masa balita merupakan pertumbuhan dasar yang akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan kemampuan berbahasa,
kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan
merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar
kepribadian juga dibentuk pada masa itu, sehingga setiap kelainan penyimpangan
sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik akan
mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Deteksi dini
tumbuh kembang merupakan kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang agar lebih mudah dilakukan
penanganan selanjutnya atau diintervensi. Sesuai dengan proses tumbuh kembang,
pemantauan perlu dilakukan sejak awal yaitu sewaktu dalam kandungan sampai
dewasa. Dengan pemantauan yang baik akan dapat dideteksi adanya
penyimpangan secara, dini sehingga tindakan koreksi yang dilakukan akan
mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Dengan kata lain bila penyimpangan
terjadi pada usia dini dan dideteksi sedini mungkin, maka tindakan koreksi akan
memberikan hasil yang memuaskan, sedangkan bila penyimpangan tejadi pada
usia dini tetapi baru dideteksi pada usia yang lebih lanjut, hasil koreksi akan
kurang memuaskan.1
Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi
sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Tercapainya tumbuh
kembang optimal tergantung pada potensi biologi. Istilah tumbuh kembang
mencakup dua peristiwa yang berbeda sifat. Peristiwa tersebut saling berkaitan
dan sangat sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah dalam perubahan besar, jumlah,
ukuran atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu yang bisa diukur dengan
ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolis.
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur
dan fungsi tubuh yang kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan
sebagai hasil dari proses pematangan.2
Upaya untuk membantu agar anak tumbuh kembang secara optimal dengan
cara deteksi adanya penyimpangan dan intervensi dini perlu dilaksanakan oleh
semua pihak sejak mulai dari tingkat keluarga, petugas kesehatan mulai dari kader
kesehatan sampai dokter spesialis, dan di semua tingkat pelayanan kesehatan
mulai dari tingkat dasar sampai pelayanan yang lebih spesialistis. Deteksi dini
penyimpangan perkembangan yang lebih optimal dilakukan di rumah sebagai
lingkungan yang paling natural untuk anak. Ini bertujuan untuk mendorong
interaksi yang lebih nyaman dan sesuai dengan tahapan perkembangan antara
orangtua dan anak. Keterampilan keluarga terutama ibu tentang deteksi dini
pertumbuhan dan perkembangan berperan penting, karena dengan keterampilan
ibu yang baik maka diharapkan pemantauan dapat dilakukan dengan baik.3
Pada wilayah kerja Puskesmas Salaman I sendiri, untuk deteksi dini dan
tumbuh kembang balita dan anak usia prasekolah ditargetkan sebesar 76%.
Namun pada bulan Januari-September 2018 angka cakupan deteksi dini dan
tumbuh kembang balita dan anak usia prasekolah di wilayah kerja Puskesmas
Salaman sebesar 29,03% dan angka capaian deteksi dini dan tumbuh kembang
balita dan anak usia prasekolah sebesar 38,19%. Angka itu semua masih dibawah
target yaitu 76%. Berdasarkan data Puskesmas Salaman I, Desa Menoreh
merupakan salah satu desa yang cakupan deteksi dini dan tumbuh kembang anak
usia balita dan prasekolah masih cukup rendah, terutama di Dusun Derepan. Oleh
karena itu penulis tertarik mengambil Dusun Derepan sebagai lokasi penelitian.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah
apakah deteksi dini tumbuh kembang pada balita dan prasekolah itu penting,
kenapa permasalahan deteksi tumbuh kembang sangat penting, lalu siapa yang
bertanggung jawab pada deteksi tumbuh kembang dan bagaimana cara
mengetahui deteksi tumbuh kembang yang baik

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menganalisis faktor-faktor deteksi dini tumbuh kembang pada balita dan
anak prasekolah di Dusun Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui bagaimana deteksi dini tumbuh kembang di Dusun
Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
b) Mencari tahu pemecahan masalah deteksi dini tumbuh kembang
anak di Dusun Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
c) Membuat Plan of Action untuk meningkatkan cakupan deteksi dini
tumbuh kembang balita dan anak prasekolah di Dusun Derepan,
Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
D. Manfaat
1. Sebagai pertimbangan bagi Puskesmas Salaman dalam menentukan
kebijakan khusus pada program deteksi dini tumbuh kembang di
Dusun Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
2. Membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi penyebab dari
rendahnya cakupan deteksi dini tumbuh kembang di Dusun
Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
3. Membantu Puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian
masalah deteksi dini tumbuh kembang di deteksi dini tumbuh
kembang Dusun Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.
4. Sebagai syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat.
5. Sebagai dasar bagi penelitian lebih lanjut.