Anda di halaman 1dari 7

KASUS TIC CKD

Tn. S umur 33 Tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak sejak 2 hari yang lalu,
semakin berat saat klien berjalan dan berpindah posisi. klien juga mengeluh tak bisa
BAB dan kentut sejak 10 hari yang lalu di sertai nyeri di area perut. Hasil pemeriksaan
fisik TD: 120/80 mmHg, Nadi: 72 x/menit, Suhu: 37 0 C, RR: 26 x/menit, Spo2: 95%.
Dada simetris, klien menggunakan otot bantu nafas, terdapat retraksi otot bantu nafas,
Crt >3 detik pada ekstremitas bawah, derajat pitting oedema derajat II dengan
kedalaman 3-5 mm dengan kembali waktu 5 detik. Klien mengalami asites pada perut,
terjadi penipisan kulit di perut dan distensi (+), bruit (+), terdapat nyeri tekan di semua
region perut, hasil perkusi di temukan hipertimpani, hasil rectal toucher ditemukan
spighter ani menyempit (+), mukosa rectum licin (+), nodul (-), darah (-). Klien di
diagnosa menderita CKD (Chronic Kidney Disease) sejak 1 tahun 3 bulan dan
menjalani hemodialisa seminggu dua kali pada hari selasa dan jumat. Klien tidak
mengalami mual dan muntah. Klien tidak memiliki riwayat hipertensi atau pun diabetes
melitus, namun klien memiliki riwayat sering mengkonsumsi 4-5 bungkus/ hari extra
joss dan kratindeng pada waktu muda karena klien bekerja sebagai supir truk agar kuat.
Hasil pemeriksaan foto tohorax di dapatkan hasil kesan kardiomegali (LV) dan Pulmo :
Bronkhitis, hasil foto BNO (Blas Nier Overzicht) ditemukan kesan: Metorismus.

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 4 Maret 2019

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal


Hemoglobin 10,8 g/dl 13,2 – 17,3
Leukosit 10.100 / uL
3.800 – 10.600
Trombosit 237.000 /uL
Hematokrit 34,5 % 150.000 – 440.000
Eritrosit 3,72 106/uL
40 – 52
4,4 – 5,9
Step 1 (Identifikasi Kata-Kata Sulit)

1. Hipertimpani
Adalah suatu keaadaan usus yang mengandung terlalu banyak cairan, sehingga bunyi
yang dihasilkan saat di perkusi seluruh dinding perut akan menghasilkan bunyi
hipertimpani.
2. Rectal Toucher
Rectal Toucher atau pemeriksaan colok dubur adalah suatu pemeriksaan dengan
memasukkan jari telunjuk yang sudah diberi pelumas ke dalam lubang dubur.
Pemeriksaan ini membantu menemukan penyakit-penyakit pada peritoneum, anus,
rectum, prostat dan kandung kemih.
3. Chronic Kidney Disease
Chronic Kidney Disease atau penyakit ginjal kronik merupakan suatu proses patofisiologi
dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan funsi ginjal yang progresif, dan
pada umumnya berakhir dengan keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi
ginjal yang irreversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang
tetap, berupa dialysis atau transplantasi ginjal.
4. Kardiomegali
Adalah sebuah keadaan aatomis atau struktur organ dimana besarnya jantung lebih besar
dari ukuran jantung normal, yakni lebih besar dari 55% besar rongga dada.
5. BNO (Blas Nier Overzicht)
Yaitu suatu pemeriksaan di daerah abdomen atau pelvis untuk mengetahui kelainan-
kelainan pada daerah tersebut khususnya pada system urinaria.
6. Metorismus
Metorismus atau perut kembung adalah peningkatan volume udara pada saluran cerna
atau dalam rongga peritoneum.

Step 2 (Identifikasi Masalah)

1. Apa yang dimaksud dengan Chronic Kidney Disease ?


2. Apa yang menyebabkan terjadinya Chronic Kidney Disease ?
3. Bagaimana proses terjadinya Chronic Kidney Disease ?
4. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa
Chronic Kidney Disease ?
5. Sebutkan diagnosa banding dari Chronic Kidney Disease !
6. Masalah keperawatan apa saja yang muncul pada kasus ?

Step 3 dan 4 (Identifikasi penyebab masalah atau jawaban dari pertanyaan)


1. Apa yang dimaksud dengan Chronic Kidney Disease ?
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan
sebagai kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan
glomerulus filtration rate (GFR) (Nahas & Levin, 2010).
CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai kondisi dimana
ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar
(insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme,
cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia atau azotemia (Smeltzer,
2013).

2. Apa yang menyebabkan terjadinya Chronic Kidney Disease ?

Diabetes dan hipertensi baru-baru ini telah menjadi etiologi tersering terhadap
proporsi GGK di US yakni sebesar 34% dan 21%. Sedangkan glomerulonefritis
menjadi yang ketiga dengan 17%. Infeksi nefritis tubulointerstitial (pielonefritis kronik
atau nefropati refluks) dan penyakit ginjal polikistik masing-masing 3,4%. Penyebab
yang tidak sering terjadi yakni uropati obstruktif, lupus eritomatosus dan lainnya
sebesar 21 %. (US Renal System, 2000 dalam Price & Wilson, 2006).
Penyebab gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di Indonesia tahun
2000 menunjukkan glomerulonefritis menjadi etiologi dengan prosentase tertinggi
dengan 46,39%, disusul dengan diabetes melitus dengan 18,65%, obstruksi dan infeksi
dengan 12,85%, hipertensi dengan 8,46%, dan sebab lain dengan 13,65% (Sudoyo,
2006).

3. Bagaimana proses terjadinya Chronic Kidney Disease ?

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan
tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron
yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai
reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini
memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban
bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat
diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang
rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana
timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas
kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini
fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau
lebih rendah itu.
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, akan
semakin berat (Smeltzer dan Bare, 2013).

4. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa
Chronic Kidney Disease ?

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan menurut Smeltzer dan Bare (2013) :
1) Radiologi ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi ginjal.
Pemeriksaan radiologi untuk mendiagnosa penyakit.
2) Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya
massa kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
3) Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk
diagnosis histologis.
4) Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
5) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam
basa.
6) Foto Polos Abdomen menilai besar dan bentuk ginjal serta adakah batu atau
obstruksi lain.
7) Pielografi Intravena menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi
penurunan faal ginjal pada usia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
8) Renogram menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi gangguan (vaskuler,
parenkhim) serta sisa fungsi ginjal
9) Pemeriksaan Radiologi Jantung mencari adanya kardiomegali, efusi perikarditis
10) EKG untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda
perikarditis, aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalemia)
11) Pemeriksaan laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
12) Laju endap darah
13) Urin
a. Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine tidak ada
(anuria).
b. Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus/nanah,
bakteri, lemak, partikel koloid,fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan
menunjukkan adanya darah, miglobin, dan porfirin.
c. Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan
ginjal berat).
d. Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular,
amrasio urine / ureum sering 1:1.
14) Ureum dan Kreatinin
a. Ureum:
b. Kreatinin: Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL
diduga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
5. Sebutkan komplikasi dari Chronic Kidney Disease !

Seperti penyakit kronis dan lama lainnya, penderita CKD akan mengalami
beberapa komplikasi. Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2013) serta
Suwitra (2006) antara lain adalah:
1) Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, kata bolisme, dan
masukan diit berlebih.
2) Perikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah
uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3) Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin
aldosteron.
4) Anemia akibat penurunan eritropoitin.
5) Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum
yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar
alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
6) Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.
7) Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebihan.
8) Malnutrisi karena anoreksia, mual, dan muntah.
9) Hiperparatiroid, Hiperkalemia, dan Hiperfosfatemia.

6. Masalah keperawatan apa saja yang biasa muncul pada Chronic Kidney Disease?

a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan bendungan atrium


kiri.
b. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai oksigen ke jaringan
menurun
c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet
berlebih dan retensi cairan dan natrium.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa
mulut.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic,
sirkulasi, sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum
dalam kulit.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur.
Step 5 (Learning Objective)

Chronic Kidney Disease

(CKD)

Konsep Teori Asuhan Keperawatan Evidence Based

Definisi Pengkajian

Etiologi
Tindakan
keperawatan
Patofisiologi

Manifestasi Evaluasi
Klinis Tindakan

Pemeriksaan
Penunjang Diagnosa
Keperawatan

Penatalaksanaan Evaluasi
Komplikasi Klien
DAFTAR PUSTAKA

Nahas, Meguid El & Levin, Adeera. 2010. Chronic Kidney Disease: A Practical Guide to
Understanding and Management. USA: Oxford University Press.
Price, Sylvia A. & Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Volume 2
Edisi 8. Jakarta: EGC.
Sudoyo. 2006. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.
Suwitra, K. (2007). Penyakit Ginjal Kronis, Dalam : Sudoyo A, Setyohadi B, Idrus A,
Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed IV, Jilid I. Jakarta :
FKUI.