Anda di halaman 1dari 24

KELARUTAN

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut
didalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Larutan
memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam
kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air, tubuh menyerap mineral,
vitamin dan makanan dalam bentuk larutan.Sejalan dengan pesatnya
perkembangan penelitian di bidang obat, saat ini tersedia berbagai pilihan
obat, sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat dalam pemilihan obat
untuk mengobati suatu penyakit, kelarutan sangat besar pengaruhnya
terhadap pembuatan obat dimana bahan-bahan dapat dicampurkan menjadi
suatu larutan sejati, larutan koloid, dan dispersi kasar.
Data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting untuk diketahui
dalam pembuatan sediaan farmasi. Sediaan farmasi cairan seperti sirup,
eliksir, obat tetes mata, injeksi dan lain-lain dibuat dengan menggunakan
pembawa air. Bahkan untuk sediaan obat lainnya seperti suspensi, tablet
atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap diperlukan karena
didalam saluran cerna obat harus dapat melarut dalam cairan saluran cerna
yang komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorpsi.
Pada umumnya obat baru dapat diabsorpsi dari saluran cerna dalam
keadaan telarut kecuali kalau transport obat melalui mekanisme pinositosis.
Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati
suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di dalam air.
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu adalah
suhu, pH, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielektrik
bahan pelarut dan penambahan surfaktan.
Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat
mengetahui dan dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang
paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi
kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai
standar atau uji kelarutan.
Oleh karena itu , percobaan kelarutan sangat penting dilakukan agar
kita dapat mengetahui usaha – usaha yang dilakukan untuk meningkatkan
kelarutan suatu obat yang dapat mempermudah absorpsi obat didalam tubuh
manusia.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif.
2. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan satu zat.
3. Menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan
suatu zat aktif dalam air dalam pembuatan sediaan cair.
1.3 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami perbandingan kelarutan
paracetamol di dalam air, alkohol dan propilenglikol.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Umum
Kelarutan atau solubility (s) adalah kebanyakan senyawa dalam satuan
garam yang dapat membuat jenuh larutan. Jika volume larutan dm3 maka
kelarutan itu mempunyai satuan molar (m) (Martin, 1990).
Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang
dibutuhkan untuk menghasilkan suatu larutan juneh dalam sejumlah solven.
Pada suatu temperatur tertentu suatu larutan jenuh yang bercampur dengan
solut yang tidak terlarut merupakan contoh lain dari keadaan kesetimbangan
dinamik (Mochtar, 1989).
Jika gambar ionik dimasukkan kedalam air, maka banyaknya garam
yang dapat larut dalam sejumlah pelarut tertentu merupakan nilai dari
perkalian ion-ion yang bergam dan merupakan salah stu sifat fisis dari
senyawa/garam itu sendiri (Martin, 1990).
Banyaknya garam yang dapat larut dalam sejumlah pelarut disebut
kelarutan, jika volume larutan yang dipakai untuk melarutkan 1 dm3, maka
kelarutan garam senyawa tersebut dapat dinyatakan sebagai kepekaan garam
atau senyawa tersebut (Arief, 2003).
Kelarutan suatu gram yang sedikit larut juga tergantung pada
konsentrasi dari zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation gram dan
hasil hidolisasi seperti dikatakan diatas adalah suatu contoh yang pereaksi
pembentuk kompleksnya yaitu ion hidroksida (Roth,1994).
Telah lazim dikenal dalam bidang kimia bahwa senyawa tidak larut
pun tidak memiliki kelarutan. Oleh karena itu senyawa seperti ini lebih tepat
dikatakan sebagai senyawa yang sukar larut (Anief, 2003).
Besarnya kelarutan suatu senyawa adalah jenuh, misalnya senyawa
yang bersangkutan yang larut dalam sejumlah pelarut tertentu dan
merupakan larutan yang jenuh yang ada dalam kesetimbangan dengan
bentuk padatnya (Ansel, 1989).

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara


lain adalah (Mirawati, 2007) :
1. Pengaruh pH
Zat aktif yang sering digunakan didalam dunia pengobatan adalah
zat organik yang bersifat asam lemah, kelarutan asam lemah seperti
barbiturat dan sulfonamide dalam akar akan bertambah dengan naiknya
pH karena terbentuknya garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan
basa-basa organic seperti alkaloida dan anastetik pada umumnya sukar
larut.
2. Pengaruh temperatur
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung pada
temperatur, titik leleh zat padat, dan panas peleburan molar zat tersebut.
3. Pengaruh jenis pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut.
Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar ionik, begitu juga
sebaliknya.
4. Pengaruh konstanta dielektrik
Telah diketahui bahwa kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh
polaritas pelarut.
5. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel
suatu zat. Konfigurasi molekul dan bentuk sediaan susunan kristal juga
mempengaruhi.
6. Pengaruh penambahan zat-zat lain
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan
kelarutan suatu zat. Surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi
membentuk agregat yang dikenal sebagai misel.
Sifat yang penting dari misel ini adalah kemampuannya untuk
menaikkan kelarutan zat yang biasanya sukar larut dalam air. Proses ini
dikenall sebagai solubility. Solubility terjadi karena molekul zat yang sukar
larut berasosiasi dengan misel membentuk suatu larutan yang jernih dan

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

stabil secara termodinamika. Lokasi molekul zat terlarut dalam misel


tergantung pada pelarut zat tersebut. Molekul non polar akan masuk
kedaerah polisade dan membentuk suatu misell campuran (Mirawati, 2007).
Selain penambahan surfaktan dapat juga ditambahkan zat-zat
pembentuk kompleks untuk menaikkan kelarutan suatu zat, misalnya
penambahan ureten dalam pembuatan injeksi khirin (Mohtar, 1989).
Kelarutan suatu zat dalam pelarut tertentu diketahui dengan membuat
larutan jenuh dari zat itu pada suhu yang spesifik dan penentuan jumlah zat
yang larut pada sejumlah berat tertentu dan larutan dengan cara analisis
kimia (Ansel, 2005).
Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi zat-zat lain,
terutama ion-ion dalam campuran itu (Hardjaji, 1993)
Tipe larutan yang paling umum yang kita jumpai di laboratorium
terdiri atas solute yang terlarut dalam zat cair, oleh karena itu sebagian besar
perhatian kita, kita arahkan terhadap larutan tipe ini. Larutan yang berbentuk
cair (contohnya NaCl dalam air), melarutkan zat cair dalam zat cair
(contohnya etilen glikol dalam air, larutan anti beku), atau melarutkan gas
dalam zat cair contohnya CO2 dalam air, efferfescens) (Ditjen POM, 1979).
Untuk menyatakan kelarutan zat kimia, istilah kelarutan dalam
pengertian umum kadang-kadang perlu digunakan tanpa mengindahkan
perubahan kimia yang mungkin terjadi pada pelarutan tersebut. Pernyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20oC
dan kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa, 1 bagian bobot zat padat
atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut,
pernyataan kelarutan yang tidak disertai angka adalah kelarutan pada suhu
kamar, kecuali dinyatakan lain, zat jika dilarutkan boleh menunjukkan
sedikit kotoran mekanik seperti bagian kertas saring, serat dan butiran debu.
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml zat
cair dalam sejumlah dalam sejumlah ml pelarut (Ditjen POM, 1979).
Jika kelarutan suatu zat tidak diketahui dengan pasti, kelarutannya
dapat ditunjukkan dengan istilah sebagai bentuk (Ditjen POM, 1979).

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

Sangat mudah larut Kurang dari 1


Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 10
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1.000
Sangat sukar larut 1.000 sampai 10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000
2.2 Prosedur Kerja (Anonim, 2015)
A. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
1. Masukkan 1 g asam salisilat dalam 50 ml air dan kocok selama 1,5
jam dengan stirer, jika ada endapan yang larut selama pengocokan
tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh
larutan yang jenuh.
2. Saring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-
masing larutan
B. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan zat
1. Buat campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada tabel di bawah
ini :
Pelarut Air % Alkohol % (v/v) Propilen glikol %v/v)
(v/v)
A 60 0 40
B 60 5 35
C 60 10 30
D 60 15 25
E 60 20 20
F 60 30 10
G 60 35 5
H 60 40 0
2. Ambil 50 ml campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak 1 g
ke dalam masing-masing campuran pelarut.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

3. Kocok larutan dengan stirer selama 1,5 jam, jika ada endapan yang
larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah asam salisilat
sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.
4. Saring larutan, tentukan kadar asam salisilat yang larut.
5. Buat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstatnta
dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.
C. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
1. Buat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1:0,5; 1; 10; 50
dan 100 mg/ml air.
2. Tambahkan asam benzoat sedikit demi sedikit sampai diperoleh
larutan jenuh.
3. Kocok larutan selama 2 jam, kalau ada endapan yang larut selama
pengocokan, tambahkan lagi asam salisilat sampai didapat larutan
yang jenuh kembali.
4. Saring dan tentukan kadar asam benzoat yang terlarut dalam masing-
masing larutan.
5. Buat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan konsentrasi tween
80 yang digunakan.
6. Tentukan konsentrasi misel kritik tween 80
D. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat
1. Buat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4,5,6,7, dan 8.
2. Ambil 25 ml larutan masing-masing larutan lalu ditambahkan 0,5 g
natrium diklofenak ke dalamnya.
3. Kocok larutan selama 2 jam, kalau ada endapan yang larut selama
pengocokan, tambahkan lagi asam salisilat sampai didapat larutan
yang jenuh kembali.
4. Saring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenak yang terlarut
dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV
pada panjang gelombang 274-278 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu
pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

5. Buatlah kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan


pH larutan.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

BAB 3 METODE KERJA


3.1 Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gelas
kimia 25 ml, erlenmeyer 25 ml, gelas ukur 50 ml, magnetic stirrer,
kertas grafik, sendok tanduk, botol semprot, botol coklat 100 mL,
pipet pendek, pipet panjang, spektrofotometer, kuvet, corong, oven,
dan timbangan analitik.
3.1.2 Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Air
Suling, Alkohol, Propilenglikol, Parasetamol, Dapar fosfat pH 6,
Dapar fosfat pH 8, Dapar fosfat pH 10, larutan NaOH 0,1 N, Tween
80, Alumunium Foil,dan Kertas Saring,
3.2 Cara Kerja
A. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
1. Dimasukkan 100 mg paracetamol ke dalam 50 ml air dan dikocok
dengan stirrer selama 30 menit, jika ada endapan yang larut selama
pengocokan, ditambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai
diperoleh endapan yang tidak larut.
2. Saring dan tentukan kadar asam paracetamol yang terlarut dalam
larutan.
B. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan zat
Dibuat 5 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel dibawah ini:
Pelarut Air % ( v/v ) Alkohol % Propilen glikol
(v/v) % ( v/v )
A 60 0 40
B 60 10 30
C 60 20 20
D 60 35 55
E 60 40 0

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

1. Ambil 5 ml campuran pelarut, larutkan paracetamol sebanyak 100 mg


ke dalam masing-masing campuran pelarut.
2. Kocok larutan dengan stirrer selama 30menit. Jika ada endapan yang
larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu
paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.
3. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
4. Buatlah kurva antara kelarutan paracetamol dengan harga konstanta
dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.
C. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
1. Buatlah larutan tween 80 dengan konsentrasi 0,1; 0,5; 1,0; 5,0; 10,0;;
dan 100 mg.
2. Tambahkan 100 mg paracetamol ke dalam masing-masing larutan.
Dikocok larutan dengan stirrer selama 1 jam. Jika ada endapan yang
larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu
paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.
3. Saring larutan dan di tentukan kadar paraceamol yang larut.
4. Buatlah kurva antara kelarutan paracetamol dengan konsentrasi tween
80 yang digunakan.
5. Tentukan konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80.
D. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat
1. Buat 25 ml larutan dapar fosfat dengan pH 6, 8 dan 10.
2. Masing-masing larutan ditambahkan 100 mg paracetamol ke
dalamnya.
3. Kocok larutan dengan stirrer selama 1 jam. Jika ada endapan yang
larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu
paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.
4. Saring larutan dan ditentukan kadar paracetamolyang terlarut dalam
masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada
panjang gelombang 236 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat
encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

5. Buat kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan


pH larutan.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Menentukan Kelarutan Suatu Zat Secara Kuantitatif
Berat
Vol kertas
PCT BeratKertasSaring BeratResidu Jumlahterlarut
Air saring
(g) (g) (g) (g)
(ml) +
residu
1,04 50 1.4005 2.3569 0,9464 0,0936
4.1.2 Pengaruh Pelarut Campur Terhadap Kelarutan Zat
Berat
K. Berat Kertas
Perbandi Berat Jumlah
Pelarut Dielekt Kertas Saring +
ngan Residu (g) terlarut (g)
rik Saring (g) Residu
(g)
A 60:00:40 61.04 1,756 1,756 0.8379 0,7185
B 60:05:35 60.605 1,4392 1,9100 0,4708 0,5292
C 60:10:30 60.17 1,4476 2,3554 0,9078 0,0922
D 60:15:25 59.735 1,5086 2,1028 0,5942 0,4058
E 60:20:10 59.3 1,3647 2,1023 0,7376 0,8492
F 60:30:10 58.43 1,4005 2,1993 0,7988 0,7753
G 60:35:05 57,995 1,3617 1,7594 0,3977 0,6823
H 60:40:00 57.56 1,346 2,125 0,779 0,771

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

4.1.3 Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Kelarutan Suatu Zat


Berat Kertas Berat Jumlah
Paracetamol Konsentrasi Berat Kertas
Saring + Residu Residu Terlarut
(g) Tween 80% Saring (g)
(g) (g) (g)
100 mg 0,1% 1,0325 2,7775 1,745 0,755
100 mg 0,5% 0,8158 2,4939 1,6781 0,3219
100 mg 1,0% 1,4547 2,0013 0,5466 0,4534
100 mg 5,0% 0,8124 0,8882 0,0758 1,4242
100 mg 10% 1,1097 1,6948 0,5851 0,4149
100 mg 100 mg 1,0805 1,5625 0,482 0,518
4.1 Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat
pH Berat Berast Sampel dan Residu Sampel
larutan sampel kertas kertas saring sampel yang larut
saring
6 100 mg 1,0541 g 1,7176 g 0,6635 g 0,3365 g
8 100 mg 1,4607g 1,9833 g 0,5226 g 0,4774g
10 100 mg 1,2980 g 1,3016 g 0,0036 g 0,9964g
Perhitungan
1. Kelarutan suatu zat secara kuantitatif
 Residu = berat zat – berat kertas timbang
= 2.3469 - 1.4005
= 0.9464 g
 Sampel yang larut = berat awal – berat residu
= 1.04 – 0.9464
= 0.0936 g
50 𝑚𝐿
 Kelarutan = 0.0936 𝑔

= 534.18 mL/g (sukar larut)


2. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan suatu zat
Dik Konstanta dielektrik :
Air : 80,4

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

Propilen glikol : 32
Alkohol : 23,3
 Pelarut A :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
40
Propilen glikol : 100 𝑥 32 = 12,8

= 48,24 + 12,8 = 61,04


 Pelarut B :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,2
5
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 1,165
35
Propilen glikol : 100 𝑥 32 = 11,2

= 48,24 + 1,165 + 11,2 = 60,605


 Pelarut C :
60
Air : 𝑥 80,4 = 48,24
100
10
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 2,33
30
Propilen glikol : 100 𝑥 32 = 9,6

= 48,24 + 2,33 + 9,6 = 60,17


 Pelarut D :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
15
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 3,495
25
Propilen glikol : 100 𝑥 32 =8

= 48,24 + 3,495 + 8 = 59,735


 Pelarut E :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
20
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 4,66
20
Propilen glikol : 100 𝑥 32 = 6,4

= 48,24 + 4,66 + 6,4 = 59,3

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

 Pelarut F :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
30
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 6,99
10
Propilen glikol : 100 𝑥 32 = 3,2

= 48,24 + 6,99 + 3,2 = 58,43


 Pelarut G :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
35
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 8,155
5
Propilen glikol : 𝑥 32 = 1,6
100

= 48,24 + 8,155 + 1,6 = 57,995


 Pelarut H :
60
Air : 100 𝑥 80,4 = 48,24
40
Alkohol : 100 𝑥 23.3 = 9,32

= 48,24 + 9,32 = 57,56


3. Pengaruh surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
 Tween 0,1 %
Residu sampel = 2,7775 gr – 1,0325 gr
= 1,745 gr
Sampel yang larut = 2,5 gr – 1,745 gr
= 0,755 gr/100 ml
100
𝑘𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,755
= 132,45 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)
 Tween 0,5 %
Residu sampel = 2,4939 gr – 0,8158 gr
= 1,6781 g
Sampel yang larut = 2 gr – 1,6781 gr
= 0,3219 gr/100 ml

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

100 ml
𝑘𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,3219 gr
= 310,65 𝑚𝑙/𝑔𝑟
 Tween 1,0 %
Residu sampel = 2,0013 gr – 1,4547 gr
= 0,5466 gr
Sampel yang larut = 1 gr – 0,5466 gr
= 0,4534 gr/100 ml
100
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,4534
= 220,55 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)
 Tween 5,0%
Residu sampel = 0,8882 gr – 0,8124 gr
= 0,0758 gr
Sampel yang larut = 1,5 gr – 0,0758 gr
= 1,4242 gr/100 ml
100 ml
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
1,4242 gr
= 70,214 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (agak sukar larut)
 Tween 5%
Residu sampel = 1,6948 gr – 1,1097 gr
= 0,5851 gr
Sampel yang larut = 1 gr – 0,5851 gr
= 0,4149 gr/100 ml
100 ml
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,4149 gr
= 241,02 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)
 Tween 10%
Residu sampel = 1,5625 gr – 1,0805 gr
= 0,482 gr
Sampel yang larut = 1 gr – 0,482 gr
= 0,518 gr/100 ml
AYU MELINDA FARADILA KARIM
1502010081
KELARUTAN

100 ml
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,518 gr
= 193,05 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)
4. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat
 pH 6
Residu sampel = 2,1662 gr – 1,4653 gr
= 0,6969 gr
Sampel yang larut = 1 gr – 0,6969 gr
= 0,3031gr/100 ml

53,6 ml
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,303 g
= 176,897 𝑚𝑙/𝑔𝑟(sukar larut)
 pH 8
Residu sampel = 1,7176 gr - 1,0541 gr
= 0,6635 gr
Sampel yang larut = 1 gr – 0,6635 gr
= 0,3365 gr

55, 6 ml
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 =
0,3365 g
= 165,23 𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)
 pH 10
Residu sampel = 1,9833 gr – 1,4607 gr
= 0, 5226 gr
Sampel yang larut = 1gr – 0,5226 gr
= 0, 4774gr

79,1 ml
Kelarutan =
0,4774 g
= 165,689𝑚𝑙/𝑔𝑟 (sukar larut)

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

4.2 Pembahasan
Larutan adalah campuran homogen antara zat pelarut dan zat terlarut.
Kelarutan adalah kemampuan suatu zat melarut dalam pelarut tertentu.
Larutan pada umumnya dibagi menjadi tiga yaitu larutan jenuh adalah
larutan yang zat terlarutnya dapat melarut dalam zat pelarutnya dalam
konsentrasi yang maksimal. Larutan lewad jenuh terjadi pada saat zat
terlarut sudah melewati batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya
yang biasanya ditandai dengan terbentuknya endapan. Lautan tak jenuh
terjadi saat zat terlarut belum mencapai batas maksimal zat pelarut untuk
melarutkannya.
Kelarutan dalam besaran kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi
zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, sedangkan secara
kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat
untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Menurut U.S.
Pharmacopeia dan National Formulary definisi kelarutan obat adalah jumlah
ml pelarut di mana akan larut 1 gram zat terlarut.
Proses kelarutan diatur oleh tiga factor. Factor pertama adalah gaya
kohesi zat terlarut. Factor kedua adalah gaya kohesi pelarut dan yang ketiga
adalah hasil interaksi antara zat terlarut yang terdisolusi dan molekul pelarut
setelah pemutusan.
Faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain :
1. pH
Zat organik yang bersifat asam lemah/basah lemah adalah zat
aktif yang sering digunakan dalam dunia pengobatan. Kelarutannya
dipengaruhi pH, yakni untuk dapat larut. Zat organik yang bersifat asam
lemah diberikan atau dicampurkan dulu dengan larutan basa agar
berbentuk garam organik yang mudah larut dalam air, demikian
sebaliknya.
2. Temperatur
Ada 3 pernyataan tentang kelarutan yang dipengaruhi oleh
temperature yaitu :

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

a. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan meningkat, namun bila


didinginkan dia akan mengendap.
b. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan meningkat.
c. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan kecil.
3. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel, maka kelarutan zat tersebut akan
meningkat, begitu pula sebaliknya.
4. Pengaruh jenis pelarut
Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar atau ionik,
begitu pula sebaliknya. Pelarut non polar akan melarutkan lebih baik zat-
zat non polar atau molekul.
5. Pengaruh konstanta dielektrik
Besarnya dielektrik diatur dengan penambahan pelarut lain.
6. Pengaruh penambahan zat-zat lain
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan
kelarutan suatu zat.
Surfaktan yang digunakan pada percobaan ini adalah tween-80 dengan
berbagai konsentrasi yang akan meningkatkan kelarutan paracetamol.
Hubungan suatu surfaktan mempengaruhi kelarutan paracetamol yaitu
dimana surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan
kelarutan suatu zat.Oleh kaerna surfaktan mempunyai kecenderugnan
berasosiasi membentuk agregat yang dikenal dengan misel dimana misel ini
dapat menaikkan kelarutan paracetamol yang sukar larut dalam air. Dengan
penambahan surfaktan terdiri dua bagian yaitu bagian polar dan non polar,
bila didispersikan dalam air pada konsentrasi rendah, akan berkumpul pada
permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah bagian air.
Pada praktikum ini dilakukan beberapa percobaan yaitu pertama, pada
kelarutan Paracetamol secara kuantitatif dimana cara kerjanya adalah
Dimasukkan 100 mg paracetamol ke dalam 5 mL air dalam vial 10 mL,
kocok selama 1,5 jam dengan stirer jika ada endapan yang larut selama
pengocokan maka tambahkan sejumlah tertentu paracetamol sampai

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

diperoleh endapan yang tidak larut. Disaring dan ditentukan kadar


paracetamol yang terlarut dalam larutan dan diperoleh berat residu
paracetamol 0,9464 gram dan jumlah paracetamol yang terlarut 0,0936
gram. Dari data tersebut diperoleh hasil bahwa paracetamol dapat larut
534.18 mL/g bagian dalam air (sukar larut).
Kedua, pada pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan paracetamol
dimana cara kerjanya adalah Diambil 5 mL campuran pelarut, larutkan
paracetaol sebanyak 100 mg ke dalam masing-masing campuran pelarut.
Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut
selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai
diperoleh larutan jenuh kembali.Disaring lartan dan tentukan kadar
paracetamol yang larut.Dibuat kurva antara kelarutan paracetamol dengan
harga konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan dan
diperoleh hasil bahwa paracetamol lebih sukar larut dalam pelarut yang
memiliki konstanta dielektrik rendah. Pada pelarut A jumlah paracetamol
yang terlarut 61,04 mg. Pada pelarut B jumlah paracetamol yang terlarut
60,605 mg. Pada pelarut C jumlah paracetamol yang terlarut 60,17 mg. Pada
pelarut D jumlah paracetamol yang terlarut 59,735 mg. Pada pelarut E
jumlah paracetamol yang terlarut 59,3 mg. Pada pelarut F jumlah
paracetamol yang terlarut 58,43 mg. Pada pelarut G jumlahparacetamol
yang terlarut 57,995 mg. Pada pelarut H jumlah paracetamol yang terlarut
57,56 mg.
Ketiga, pada pengaruh surfaktan terhadap kelarutan, cara kerjanya
adalah Dibuat larutan tween 80 dengan konsentrasi: 0,1 ; 0,5 ; 1,0 ; 5,0 ;10,0
dan 100 mg. Ditambahkan 100 mg paracetamol ke dalam masing-masing
larutan. Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan
yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah larutan tertentu
paracetamol sampai dperoleh yang jenuh kembali. Disaring larutan dan
tentukan kadar paracetamol yang larut. Dibuat kurva antara kelarutan
paracetamol dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan. Ditentukan
konsentrasi misl kritik (KMK) tween 80 dan dari data yang diperoleh dapat

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

disimpulkan bahwa penambahan surfaktan dapat menurunkan tegangan


antarmuka antara paracetamol sehingga mempermudah kelarutan, namun
pada konsentrasi misel kritik (KMK) kelarutan paracetamol menjadi
konstan. Pada konsentrasi tween 80 0,1% jumlah paracetamol yang terlarut
132,45 𝑚𝑙/𝑔𝑟, pada konsentrasi tween 80 0,5% jumlah paracetamol yang
terlarut 310,65 𝑚𝑙/𝑔𝑟, pada konsentrasi tween 80 1% jumlah paracetamol
yang terlarut 220,55 𝑚𝑙/𝑔𝑟 , pada konsentrasi tween 80 5% jumlah
paracetamol yang terlarut 70,214 𝑚𝑙/𝑔𝑟, dan pada konsentrasi tween 80
10% jumlah paracetamol yang terlarut 241,02 𝑚𝑙/𝑔𝑟
Keempat, pada pengaruh pH terhadap kelarutan, cara kerjanya adalah
Dibuat 25 mL larutan dapar fosfat dengan pH 6,8 dan 10. Ditambahkan 100
mg paracetamol ke dalam masing-masing larutan. Dikocok larutan dengan
stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan
tambahakan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh yang jenuh
kembali. Disaring larutan dan tentukan kadar paracetamol yang terlarut
dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada
panjang gelombang 236 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat encerkan
dulu dengan larutan dapar yang sesuai. Dibuat kurva hubungan antara
konsentrasi zat yang diperoleh dengan pH larutan.dan data yang diperoleh
adalah pada pH 6 jumlah paracetamol yang larut adalah 176,897 ml/gr, pada
pH 8 jumlah paracetamol yang larut adalah 165,23 𝑚𝑙/𝑔𝑟, dan pH 10
jumlah paracetamol yang larut adalah 165,689𝑚𝑙/𝑔𝑟.
Data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting untuk diketahui
dalam pembuatan sediaan farmasi.Sediaan farmasi cairan seperti sirup,
eliksir, obat tetes mata, injeksi dan lain-lain dibuat dengan menggunakan
pembawa air. Bahkan untuk bentuk sediaan obat lainnya seperti suspense,
tablet atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap diperlukan
karena dalam saluran cerna obat harus dapat melarut dalam cairan saluran
cerna yang komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorbsi.
Pada umumnya obat baru dapat di absorbsi dari saluran cerna dalam
keadaan terlarut kecuali kalau transport obat melalui mekanisme pinositosis.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati
suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di dalam air.
Adapun kesalahan yang diperoleh karena beberapa faktor yaitu :
 Kurang teliti dalam melihat endapannya, sehingga dilakukan
penambahan terus-menerus walaupun sudah lewat jenuh
 Kurang teliti dalam menimbang hasil residu
 Terlalu sebentar dikocok di stirrer , sehingga asam salisilat belum larut
sempurna.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2015. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas Muslim
Indonesia : Makassar.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI ; Jakarta.

Hardjadi, 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia Pestaka, Jakarta.

Anief, Moh. 2003. Ilmu Meracik Obat, Gajah Mada University Press; Yogyakarta.

Ansel, Haward. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Fakultas Farmasi


Universitas Muslim Indonesia; Makassar.

Martin, Alfred dkk. 1990. Farmasi Fisika jilid I dan II Edisi III. Press;
Yogyakarta.

Mohtar, 1989. Farmasi Fisika. Gajah Mada University Press ; Yogyakarta.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081
KELARUTAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
a. Semakin lama pengocokan maka kelarutan suatu zat semakin besar.
b. Semakin tinggi konstanta dialektrik suatu zat maka semakin tinggi pula
kelarutan suatu zat.
c. Semakin besar konsentrasi surfaktan yang ditambahkan maka semakin
tinggi pula kelarutan suatu zat.
d. Semakin tinggi pH suatu zat maka semakin cepat pula kelarutan suatu
zat.
5.2 Saran
Adanya komunikasi yang baik antara praktikan dan asisten
pendamping dalam praktikum sehingga segala sesuatunya lebih
terkoordinasi.

AYU MELINDA FARADILA KARIM


1502010081