Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK
PENENTUAN TITIK LEBUR SENYAWA ORGANIK
Untuk memenuhi tugas yang diampu oleh Bapak
Dr. Aman Santoso, M.Si

Kelompok 5
Abdillah Al Farraby (170332614545)
Alfitrah Bachtiar (170332614549)
*Wijdinia Warda Zain (170332614504)
Yustin Ayu Ardani (170332614514)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2019
I. Judul Percobaan : Penentuan Titik Lebur Senyawa Organik

II. Tujuan Percobaan :- Dapat menentukan titik lebur zat padat dan
memperkirakan kemurnian zat padat berdasarkan titik leburnya.

III. Dasar Teori :


Titik Lebur adalah rentang (range) suhu saat zat padat akan berubah wujud
menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer. Sebagaimana titik didih zat cair, titik
lebur juga merupakan salah satu sifat khas zat padat. Titk lebur suatu zat padat
ditunjukkan dengan rentang temperatur pada saat zat padat mulai melebur sampai
dengan semuanya melebur. Bila murni, suatu zat padat melebur pada temperatur
tertentu dengan rentang sangat sempit (1-20C). Zat padat yang tidak murni
mempunyai rentang titik lebur yang lebar.
Tinggi rendahnya suhu lebur pada suatu zat padat dipengaruhi oleh bentuk zat
padat tersebut. Semakin kuat ikatan yang dibentuk, semakin besar energi yang
diperlukan untuk memutuskannya. Sehingga, semakin tinggi pula titik lebur zat
tersebut. Pada senyawa dengan berat molekul hampir sama, senyawa yang lebih polar
dan struktur molekulnya lebih simetris mempunyai titik lebur yang lebih tinggi.
Dalam menentukan titik lebur suatu zat, terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi cepat atau lambatnya zat tersebut melebur:
1. Ukuran Kristal
Ukuran kristal sangat berpengaruh dalam menentukan titik lebur suatu zat.
Semakin besar ukuran partikel yang digunakan, maka semakin sulit terjadinya
peleburan.
2. Banyaknya sampel
Banyaknya sampel juga mempengaruhi cepat lambatnya proses peleburan.
Semakin sedikit sampel yang digunakan, semakin cepat proses meleburnya.
Begitu pula sebaliknya, semakin banyak sampel yang digunakan maka
semakin lama meleburnya.
Titik lebur suatu zat padat tidsk mengalami perubahan yang berarti dengan adanya
perubahan tekanan. Oleh karena itu, tekanan biasanya tidak dilaporkan pada penentuan
titik lebur pada senyawa organik, kecuali jika perbedaan dengan tekanan normal terlalu
besar. Pada umumnya, titik lebur senyawa organik mudah diamati sebab temperatur saat
peleburan mulai terjadi hampir sama dengan temperatur saat zat telah melebur semuanya.

IV. Alat dan Bahan :


1. Alat :
 Pipa kapiler
 Termometer
 Tabung Thiele
 Kaca obyek
 Benang
 Melting point apparatus
 Pipa kaca
 Lampu spiritus
 Statif dan klem
2. Bahan :
 α-naftol
 Asam stearate
 Minyak untuk penangas

V. Prosedur Percobaan
1. Pengukuran dengan menggunakan tabung Thiele

Zat campuran
 Dimasukkan kedalam pipa kapiler (yang salah
satu ujungnya tertutup)
 Diikat pipa kapiler pada termometer dengan menggunakan benang. Di atur
letak pipa kapiler sehingga letak padatan sampel sejajar dengan bola air raksa
pada termometer
 Dipasang tabung Thiele pada statif
 Dipasang ring/klemp yang lain pada statif
 Digantung termometer dan pipa kapiler kedalam tabung Thiele.diatur pipa
kapiler dan termometer tersebut sehingga padatan sampel dan bola air raksa
pada termometer terletak pada bagian atas pertigaan pada tabung Thiele
 Diisi tabung Thiele dengan minyak goreng. Permukaan minyak terletak pada
bagian atas pertigaan pada tabung Thiele
 Dipanaskan tabung Thiele dengan menggunakan api kecil. Diatur pemanasan
sehingga kenaikan temperatur hanya 1-2 0C per menit
 Diamati dan dicatat temperatur saat zat padat mulai melebur dan saat zat padat
melebur semua

Hasil

2. Pengukuran titik lebur dengan menggunakan Sibata Melting Point Apparatus

Zat padat
 Disiapkan alat pengukur titik lebur
 Dimasukkan pipa kapiler yang telah berisi padatan yang diukur titik leburnya
kesalah satu lubang dekat termometer
 Ditekan tombol power
 Diatur tombol ‘heat’ dan ‘fan’
 Diamati padatan dengan menggunakan kaca pembesar
 Dicatat temperatur pada saat padatan mulai melebur dan pada saat melebur
semua
 Diambil pipa kapiler bila telah selesai
 Didinginkan alat
 Di ukur titik lebur

Hasil
3. Pengukuran titik lebur dengan menggunakan Fisher Scientific
Melting Point Apparatus

Zat padat
 Disiapkan lat pengukur titik lebur
 Disiapkan sepotong kaca yang sangat tipis (kaca obyek)
 Dimasukkan kaca tersebut kedalam alat
 Di on kan alat
 Diatur pemanasan dengan memutar tomnol ke angka yang diinginkan (pada
awal pemanasan, padatan dpat dipanaskan dengan cepat. Pada temperatur
mendekati titik lebur padatan, pemanasan harus dilakukan perlahan-lahan)
 Diamati padatan dengan menggunakan kaca pembesar pada alat tersebut
 Dicatat temperatur pada saat padatan mulai melebur dan saat padatan mulai
melebur semua.

Hasil

VI. Hasil Pengamatan

Sampel zat padat Titik lebur 0C


Awal Akhir

Campuran -Naftol dan Asam Stearat (9 : 1) 700C 930C

Campuran -Naftol dan Asam Stearat (1 : 1) 630C 720C

-Naftol 900C 910C

Asam Stearat 680C 700C

VII. Analisis Data dan Pembahasan


Langkah pertama pada percobaan “Penentuan Titik Lebur Senyawa Organik” ini,
yaitu menyiapkan alat yang digunakan. Ada tiga alat yang akan digunakan dalam
pengukuran ini. Yang pertama yaitu menggunakan tabung Thiele. Zat yang akan
diukur titik leburnya dengan tabung ini yaitu campuran α-nafthol dan asam stearat
dengan perbandingan 9:1 dan 1:9. Tabung diisi dengan minyak hingga permukaan
minyak terletak pada bagian atas pertigaan tabung. Zat tadi, dimasukkan ke dalam
pipa kapiler kurang lebih 1 cm. Selanjutnya, pipa tersebut diikat pada thermometer
dengan benang. Pipa kapiler dimasukkan dalam tabung Thiele setelah tabung
dipasang pada statif juga pada bagian pertigaan tabung. Kemudian dipanaskan.
setelah diamati. Pada campuran α-nafthol dan asam stearat dengan perbandingan 9:1,
zat mulai meleleh pada suhu 700C dan meleleh seluruhnya pada suhu 930C. Dengan
adanya rentang sekitar 230C tersebut, maka dapat diketahui bahwa zat tersebut adalah
campuran. Begitu juga dengan campuran α-nafthol dan asam stearat dengan
perbandingan 1:1 zat mulai meleleh pada suhu 630C dan meleleh semua pada suhu
720C. Dengan adanya rentang sekitar 90C tersebut dapat dibuktikan bahwa zat
tersebut adalah campuran. Rentang titik lebur zat yang memiliki perbandingan 9:1
lebih luas daripada 1:1 karena pada 9:1 campuran yang digunakan lebih banyak,
sehingga range titik lebur makin luas.
Setelah itu, mengukur titik lebur dengan menggunakan alat kedua yaitu Sibata
Melting Point Apparatus dan zat yang diukur yaitu α-nafthol. Zat tersebut
ditempatkan pada pipa gelas kapiler kurang lebih 1 cm. Pipa kapiler ini ditempatkan
pada pipa bagian atas. Terdapat 3 lubang yang diameternya 3 mm. Selanjutnya alat
dinyalakan. Setelah diamati, zat mulai melebur pada suhu 900C dan melebur
seluruhnya pada suhu 910C. Rentang suhu nya sekitar 20C sehingga dapat diketahui
bahwa zat ini adalah zat murni karena rentang suhu yang sempit. Namun, data yang
didapat belum sesuai teori bahwa titik lebur α-nafthol sebesar 94-96 0C. Hal ini terjadi
kemungkinan karena kurangnya ketelitian kelompok kami dalam membaca suhu pada
termometer atau kesalahan dalam mengamati zat saat melebur.
Kemudian percobaan dengan menggunakan alat yang ketiga yaitu alat Fisher
Scientific Melting Point Apparatus. Zat yang diukur titik leburnya menggunakan alat
ini yaitu asam stearat. Zat tersebut kurang lebih diambl seujung 1 sendok kecl dan
ditaruh pada kaca obyek. Kaca tersebut ditaruh di alat. Lalu mulai diamati. Setelah
diamati, zat tersebut mulai meleleh pada suhu 68 0C dan melebur seluruhnya pada
suhu 700C. Dari data tersebut dapat diketauhi bahwa asam stearate yang diukur ini
merupakan senyawa murni karena memiliki rentang titik lebur yang sempit. Dan,
secara teori titik lebur asam stearat yaitu 69,60C hamper sama dengan hasil percobaan
kami.

VIII. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa:
a. Titik lebur campuran α-nafthol dan asam stearat dengan perbandingan 9:1 yaitu
700C-930C dan untuk yang perbandingan 1:1 yaitu 630C-720C.
Titik lebur α-nafthol yaitu 900C-910C
Titik lebur asam stearate yaitu 680C-700C
b. Asam stearat dan α-nafthol merupakan senyawa murni karena memiliki rentang
suhu yang sempit yaitu sekitar 1-20C. Sedangkan campuran α-nafthol dan asam
stearat terbukti merupakan zat campuran karena memiliki rentang suhu yang luas.

Daftar Pustaka
- Tim KBK Organik. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Organik I.
FMIPA:UM, Malang.
- Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti Jilid I Edisi
Ketiga. Erlangga : Jakarta.

Lampiran
Pengukuran titik lebur campuran α-nafthol dan asam stearat menggunakan tabung Thiele

Skala titik lebur campuran α-nafthol dan asam stearate pada termometer
Alat Fisher Scientific Melting Point

Pengukuran titik lebur asam stearat menggunakan Fisher Scientific Melting Point

Pengukuran titik lebur α-nafthol menggunakan Sibata Melting Point