Anda di halaman 1dari 11

Al Wala’ wal Bara’

17 Al Wala’ Wal Bara’

Ust Syaiful Yusuf,Lc

Muqaddimah

Al Wala’ wal bara’ ini merupakan materi yang sangat penting, merupakan materi yang terkait
dengan masalah aqidah, bahkan hari ini aqidah bisa dikatakan mengalami penyimpangan dalam
keyakinan sebagian kaum muslimin adalah masalah aqidah Al wala wal bara’ ini sehingga
sangat penting untuk kita jelaskan kepada mutarabbi kita.

Tujuan Penyajian Materi

1. Agar peserta mengetahui bahwa salah satu bagian terpenting dari aqidah islam adalah Al
Wala’ wal bara’ dan harus mampu menjelaskan kepada mutarabbi kita bahwa materi al
wala’ wal bara’ ini adalah materi aqidah dan sebagaimana telah sering dijelaskan bahwa
aqidah adalah merupakan persoalan yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim.
Dia adalah dasar yang diatasnya dibangun amal-amal kita jadi kita harus bisa menjelaskan
kepada para mutarabbi bahwa alwala’ wal bara ini adalah merupakan bagian dari aqidah
seorang muslim. Seorang muslim yang paling sering kita bicarakan adalah masalah tauhid
yang paling sering kita bicarakan dengan pembagian yang 3 tauhid yaitu rububiyah,
uluhiyah, dan asma wasifat. Mungkin sebagian mutarabbi menyangka bahwa aqidah itu
hanya tauhid saja, padahal tauhid merupakan inti aqidah islam, jadi bukan keseluruhan dari
aqidah islam ada bagian aqidah yang lain yang juga harus dijelaskan. Rukun iman yang 6 juga
semuanya adalah aqidah, tauhid ini hanya terkait dengan rukun iman yang pertama yaitu
keimanan kepada Allah masih tersisa lima rukun iman yang lainnya yang juga merupakan
perkara aqidah disamping perkara-perkara lainnya di luar rukun iman yang enam yang juga
merupakan perkara aqidah dalam islam termasuk di dalamnya al wala’ wal bara’. Kepada
siapa kita memberikan loyalitas kita dan kepada siapa kita berikan kebencian dan
permusuhan kita, ini juga bagian dari aqidah
2. Agar peserta tarbiyah mengetahui kepada siapa wala’ yang sempurna diberikan atau kepada
siapa bara’ yang sempurna diberikan. Mengapa ini penting? Karena ada fenomena pada
kaum muslimin khususnya para pemuda yang membara’ah secara membabi buta.
Bara’ahnya membabi buta, sehingga orang islampun di bara’ah seratus persen. Ada sebagian
kaum muslimin yang membenci kaum muslimin yang lainnya seperti ia membenci orang
kafir atau bahkan lebih besar kebenciannya kapada saudaranya yang muslim daripada
kebenciannya kepada orang kafir, ini bara’ah yang salah penerapan, karena tidak mengerti
prinsip-prinsip bara’ah dalam islam. Jadi akan dijelaskan ada bara’ah yang sempurna itu
hanya untuk orang kafir seratus pesen kebencian dan permusuhan. Pada orang yang
beriman, yang shaleh, yang sempurna keimanannya itu wala’ seratus persen wala’ yang

Page 1 of 11
Al Wala’ wal Bara’

penuh kecintaan dan loyalitas yang penuh. Ada orang islam yang ahli maksiat, tapi dia tidak
kafir, ia muslim meskipun ahli maksiat, melakukan dosa-dosa besar atau bahkan terang-
terangan dengan dosa besarnya tapi dia masih muslim kita belum bisa mencap dia sebagai
seorang kafir maka dia berhak mendapatkan bagian dari wara’ kita, tidak bisa kira wara’ah
dia 100% seperti orang kafir. Ada orang pelaku bid’ah bid’ahnya tidak menegluarkan dari
islam, meskipun bid’ah merupakan dosa besar, tapi sebagian bid’ah mengeluarkan dari islam
dan sebagian tidak mengeluarkan dari islam yang namanya bid’ah mushaddiqah. Orang
seperti ini ada bagian loyalitas kita kepadanya, wala’ kita kepadanya sehingga kita
mencintainya kita menolongnya menghadapi musuh-musuh kita meskipun tetap ada bara’ah
yang kita lakukan terhadap kebid’ahan yang mereka lakukan. Jadi, kesimpulannya tidak ada
orang islam yang dibara’ah secara penuh. Sehingga tujuan materi ini disampaikan supaya
mutarabbiyah itu faham bahwa ada wala’ yang sempurna kepada orang-orang yang
beriman, yang baik keimanannya, ada bara’ah yang sempurna yang diberikan kepada orang-
orang kafir. Kita tidak ingin lahir dari kader-kader kita seperti sebaGian pemuda sekarang
yang membenci saudaranya kaum muslimin seakan-akan dia membenci orang yang kafir.
Bahkan kadang-kadang sama-sama mengaku ahlusunnah waljama’ah, sama-sama mengaku
mengusung manhaj salaf, tapi kebenciannya bukan main sampai-sampai ingin mencelakakan
saudaranya ada yang sampai seperti itu. Oleh karena itu Materi ini penting, penting sekali.
Karena biasanya anak-anak muda sangat bersemangat karena semangatnya yang begitu
tinggi yang tidak dibarengi dengan ilmu yang cukup kadang-kadang lahirlah bentuk yang
seperti tadi bara’ah 100% sampai di Madinah dulu ada kelompok yang namanya
haddadiyun, garis keras, mengaku salafi, membakar kitab tafsir bari katanya di dalamnya ada
ta’wil asmawasifat. Kata syaikh bin Baz ketika disampaikan berita itu beliau menangis
katanya okelah kalau kalian bisa gantikan tafsir bari yang lain tidak mengapa kalian bakar
tapi datangkan gantinya yang setara dengannya atau yang lebih baik darinya atau kalau bisa
yang setara dengannya, tapi kalau membakar kitab... bari hanya karena, dan tidak ada kitab
yang tidak punya kekurangan, kesempurnaan hanya ada pad kitab Allah. Kita menghindari
jangan sampai kader kiat lahir seperti itu bara’ah secara membabi buta sampai ada orang
berjenggut menabrak orang berjenggut yang lain secra sengaja dan mengatakan kamu ahli
bid’ah.
3. Agar peserta tarbiyah memahami sikap yang benar dalam wala’ dan bara terhadap ahli
bid’ah dan ahli maksiat dari kaum muslimin. Jadi ini terkait dengan sebelumya, kepada siapa
wala’ dan bara’ yang sempurna diberikan. Ada orang islam yang ahli bid’ah dan ahli maksiat
dia tentu dibara’ah tapi bara’ahnya bukan secara penuh tapi ada bagian wala’ kita
kepadanya karena masih muslim ini harus difahami mutarabby kita melalui materi ini.
4. Agar peserta tarbiyah mengetahui bentuk-bentuk wala’ kepada kaum muslimin, bagaimana
wujud wala’ kita kepada kaum muslimin, angkat contoh-contohnya wala’ kepada kaum
muslimin dan loyalitas kepada orang islam. Agar bisa mengetahui contoh-contoh wala’
kepada orang kafir. Bagaimana wala’ kepada orang kafir kan haram, apa contohnya wala’
kepada orang , akan dilihat bahwa seperti ini wala’ kepada orang kafir.

Page 2 of 11
Al Wala’ wal Bara’

5. Agar peserta dapat membedakan antara mudharah dan mudhahana ini adalah suatu
pembahasan dalam alwala’ wal bara’ yang akan dijelaskan dan ini juga sering dibicarakan
oleh para ulama’.
Jadi ini adalah tujuan penyampaian meteri, murabbiyah terlebih dahulu harus mengetahui
tujuan penyampaian materi sebelun ia menyampaikan materi itu sendiri, sehingga dalam
menyampaikan materi ia betul-betul mengarahkan kepada tujuan penyampaian materi itu
sendiri, sehingga tidak ada lagi pengembangan dan perluasan yang sesungguhnya tidak
dibutuhkan yang bahkan cenderung akan menghabiskan waktu dan tujuan penyampaian materi
ini hanya untuk dibaca oleh murabbiyah saja dan tidak dijelaskan kepada muatrabbiyah karena
ia bukan bagian dari materi.

A. AL WALA’
1. Pengertian
Secara bahasa berasala dari kata alwalyu yang berarti alkurbu yang artinya kedekatan.
Secara istilah ia berarti alhubbu yang berarti kecintaan wan nusrah yang berarti
pertolongan. Maksudnya kedekatan kita kepada kaum muslimin dengan mencintai
mereka dan menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka dan bahkan tinggal
bersama mereka di negeri mereka ini bagian dari loyalitas tinggal di negeri kaum
muslimin jangan sampai kita lebih senang tinggal di negeri orang kafir karena disana
gampang cari uang itu bagian dari loyalitas kecuali kalo kita terpaksa tinggal karena ada
keperluan atau ada hajat yang memiliki kemaslahatan kaum muslimin itu merupakan
pengecualian tetapi ia tinggal di sana dengan penuh kebencian kepada kekafiran. Jangan
tinggal di negeri orang kafir kemudian mengangkat-angkat orang kafir. Misalnya ketika
kita jalan-jalan ke Eropa katanya bersih dan teratur seperti melihat islam di sana
meskipun tidak melihat orang islam di sana sementara di negeri islam banyak orang islam
tapi tidak melihat islam, terkadang kita berlebih-lebihan dalam mengangkat masalah ini.
Kita megatakan bahwa kalau sudah kafir dan musyrik itu lebih kotor dari kotoran yang
lahir itu lebih tidak teratur dari kesemrawutan yang lahir kita lihat. Islam kita lihat
semrawut ada yang kotor-kotor, tidak teratur, tapi dia beriman kepada Allah maka itu
lebih bagus daripada negeri bersih dan teratur tapi kafir kepada Allah itu kekotoran yang
paling kotor, ketidakteraturan yang paling tidak teratur, kesemrawutan yang paling
semrawut, kekafiran dan kesyirikan walaupun kita menyebutkan beberapa kelebihan
untuk membuat kaum muslimin lebih semangat kenapa orang asing berbuat seperti itu
sementara itu adalah ajaran agama kita tapi jangan berlebih-lebihan jangan mengankat
bahwa itu adalah sesuatu yang ideal karena yang paling ideal adalah iman kepada Allah.
Apapun yang orang musyrik lakukan kalau ia kafir dan musyrik kepada Allah maka tidak
ada itu baiknya. Jadi alwala’ memberika cinta dan pertolongan kepada kaum muslimin.
Kedekatan kepada kaum muslimin dengan mencintai dan menolong mereka dalam
menghadapi musuh-musuhnya.., tinggal bersama mereka di negeri mereka, hujan batu di
negeri islam lebih baik dari hujan emas di negeri orang kafir

Page 3 of 11
Al Wala’ wal Bara’

2. Wala’ seorang mu’min.


Wala’ adalah kecintaan dan pertolongan pada kaum muslimin atau sering disebut
loyalitas dan siap berkorban diberikan kepada:
a. Allah. Wala’ seorang mukmin diberikan kepada Allah
b. Rasul
c. Orang mukmin

QS. Al Maaidah: 55-56

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya,
Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[423] Itulah yang pasti menang.

Hal yang perlu kita segarkanjuga bahwa dalam tarbiyah ini sangat penting para mutarabbiyah
untuk membawa Al Qura’an dan terjemahannya, kita harus mengembalikan kebiasaan dulu
padasaat bertarbiyah. Dahulu kalau kiat bertarbiyah membawa Al Qur’an dan terjemahan.
Ikhwa atau akhwat di marhalah ta’rif rata-rata tidak faham bahasa arab karena sejak muncul al
Qur’an kecil itu rata-rata kita meninggalkan Al qur’an dan terjemahan padahal kita tidak faham
bahasa arab. Memang praktis, kita bisa mengaji dimana-mana tetapi untuk belajar Al qur’an
tetap kita harus bawa terjemahan. Kerena itu salah satu perangkat tarbiyah yang harus
dilengkapi mutarabbiyah adalah al Qur’an dan terjemahan khususnya di marhalah ta’rif ini
sangat penting untuk ditekankan apalagi sekarang sudah ada terjemahan yang tidak terlalu
tebal.Al Qur’an dan terjemahan yang dulul itu tabal sampai setengah jengkal atau 5 cm tapi kita
bawa-bawa dan bangga dengannya dan mngatakan bahwa saksikan kami seorang muslim.
Orang kristen saja bangga dengan kekafirannya masa’ kita malu-malu dengan kebnaran kita.
Kita harus bangga dengan islam datang tarbiyah bawa terjemahan meskipun berat tapi kita
bangga sebagai seorang islam sebagai seorang penuntut ilmu kecuali kalau sudah faham
bahasa arab, menyruh mereka untuk membuka dalil dan membacakannya, mengahfalkan
nomor dan nama surah karena salah satu misi nabi yaitu membacakan ayat Al Qur’an dan ini
bisa pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa seseorang berbeda dengan sekarang kita
daurah tadribiyah jadi hanya menyebitkan nomor surah dan ayatnya karena waktunya sempit
sementara kalau tarbiyah harus dibacaka dan dijelaskan karena salah satu misi nabi diutus
yaitu untuk membacakan kitab Allah ayat Al qur’an tatkala dibacakan ia akan memberikan
pengaruh yang besar terhadap jiwa seseorang.

Hari ini kita cenderung dengan perkataan Fulan dan perkataan Fulan dan membuat kita bangga
dan sebagian tertipu, sebagian ikhwa mengatakan bahwa saya suka di sini ada ta’limnya ustadz
ini, ini adalah ilmu dan itu bagus tapi kalau lebih banyak perkataan ulama’ dibandingkan
dengan hadist dan ayat Allah maka ini juga perlu untuk dikritisi, jangan sampai kita lebih terikat
dengan perkataan manusia daripada perkataan Allah. Yang paling penting adalah kita mengikat
hati mereka dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya sebelum mengutip perkataan manusia.Kita

Page 4 of 11
Al Wala’ wal Bara’

mencintai atau menghormati ulama’ tapi jangan berlebihan sampai melupakan.Kata Imam
Ahmad janganlah kalian mengambil dari Sufyan Atstsauri dari fulan’ dari fulan, tapi ambillah
dari mana mereka mengambil, ambil dari sumber Qur’an dan Hadist baru kemudian kita
tambah dengan pemahaman ulama’. Sehingga untuk marhalah ta’rif dan takwin Alquram dan
terjemahannya itu perangkat yang mesti ada dalam tarbiyah

Orang yang beriman ini ada 3 macam yaitu:

 Sempurna keimanannya, sempurna keimanan disini bukan berarti tidak ada dosanya,
karena tidak ada orang yang tidak punya dosa. Tetapi secara umum dapat dikatakan
sebagai oang beriman yang shaleh, yang berjalan di atas sunnah yang tentu ada saja
kekurangannya tapi secara umum bisa dikatakan sebagai orang yang beriman yang sholeh
yang taat di atas sunnah. Untuk orang-orang beriman seperti ini itu wala’ kita kepada
mereka adalah wala’ yang sempurna.
 Orang yang beriman yang ahli maksiat dan ahli bid’ah, bagaimana mereka? Mereka dicintai
sesuai kadar keimanan dan ketaatannya dan dibenci sesuai kadar kemaksiatannya. Ada
bagian dari wala’ kita kepadanya karena dia mukmin, orang yang beriman dan islam dan
ada bagian dari bara’ kita kepadanya karena dia ahli maksiat. Kita benci dia karena
maksiatnya dan kita karena dia orang yang beriman. Contoh yang diberikan oleh syaikhul
islam misalnya ada orang islam yang mencuri, kita potong tangannya, itu menunjukkan
kebencian kita kepada pencurian, dipotong tangannya karena kebencian kita kepada
maksiatnya tapi setelah itu kita kasi uang karena mungkin dia butuh karena dia seorang
muslim, ini ahli maksiat,
 Demikian pula dengan orang beriman ahli bid’ah dicintai sesuai kadar keimanan dan
ketaatannya dan dibenci sesuai dengan kadar kebid’ahannya. Jadi kecintaan kita bukan
kecintaan kepada orang yang beriman dnegan sempurna tapi kebencian kita juga bukan
kebencian 100%. Ini perlu dipertajam pembahasannya, mengapa? Karena fenomena yang
ada sekarang ada sebahagian pemuda islam, sebagian penuntut ilamu yang bersemangat
sangat menentang bid’ah tapi kelewatan dalam bersikap terhadap orang yang berbuat
bid’ah. Padahal orang yang melakukan bid’ah, nanti ada materi sendiri tentang bid;ah itu
sendiri macam-macam, tidak satu kelas-kelasnya, ada tingkatan-tingkatannya sehingga
tidak bisa dihantam secara merata pelaku bid’ah itu sendiri karena da orang berbuat bid’ah
karena ikut-ikutan, nenek moyangnnya seperti itu, ada orang pelaku bid’ah penyerunya,
da’inya, dia punya banyak hujjah untuk mempertahankan bid’ahnya. Sikap kita, kita
membenci bid’ah tapi tidak dibara’ah 100%, jangan dibenci 100% misal kalau ketemu tidak
dipandang, tidak disalami atau diboikot, masalah boikot ini baru bisa kita lakukan kalau kita
mayoritas dan yang diboikot minoritas dan terpaksa harus kembali kepada kebenaran
karena kalau tidak ia akan di boikot terus. Tapi kalau kita sedikit kemudian kita memboikot
orang yang lebih banyak. Siapa yang mau ikut siapa, tidakakan mendatangkan maslahat
dalam pemboikotan tersebut. Misalnya memboikot ahli bid’ah, kalau mereka banyak dan
kita lebih sedikit kemudian kita boikot, sebenarnya kita yang diboikot, dan tidak
mendatangkan manfaat, tapi kalau mereka sedikit yang mayoritas adalah ahlussunnah

Page 5 of 11
Al Wala’ wal Bara’

memboikot ahli bid’ah ini terasa ahli bid’ah akan merasa sempit karena diboikot oleh
orang mayoritas di tempatnya. Jadi Ahli bid’ah dicintai sesuai kadar ketaatannya dan
dibenci juga sesuai kadar kebid’ahannya tidak boleh 100%’ Jadi ada wala’ untuk orang
beriman ahli mkasiat dan ahli bid’ah. Orang yang beriman yang ahli maksiat dan ahli bid’ah
dicintai menurut keimanan dan kataatannnya kerana tidak ada orang yang beriman yang
tidak ada ketaatannya, karena ada iman dan ketaatan itulah ia dicintai tapi ia dibenci
menurut kadar maksiat dan kebid’ahannya. Jadi untuk orang beriman yang ahli maksiat
dan ahli bid’ah itu ada wala’untukmereka dan ada bara’ untuk mereka, dalam pembahasan
wala’ dia kena dan dalam pembahasan bara’ dia kena, mereka dicintai menurut kadar
keimanan dan ketakwaannya dan dibenci menurut kadar kemaksiatannya.

B. AL BARA’
1. Pengertian
Secara bahasa berati kejauhan dan pemutusan
Secara istilah berarti kebencian dan permusuhan. Maksudnya pemutusan hubungan
hati secara lahiriyah mungkin ada interaksi, hubungan lahiriyah bisa saja ada intraksi,
orang kafir dan islam boleh berjual beli misalnya boleh ada hubungan-hubungan seperti
itu untuk urusan dunia yang tidak membawa mudharat kepada kaum muslimin boleh,
misalnya hubungan kerja itu boleh saja nanti akan dijelaskan batasan-batasannya.
Tetapi yang dimaksud disini adalah pemutusan hubungan hati, tidak ada cinta, tidak ada
pengorbanan tidak ada loyalitas untuk mereka. Pemutusan hati dengan orang-orang
kafir dengan tidak mencintainya tidak menolongnya dalam agamanya, menolong dalam
urusan dunia boleh tapi tidak lahir dari cinta Cuma atas dasar rasa kasihan dan
kemanusiaan itu boleh apalagi jika mereka tidak menampakkan permusuhan kepada
kita... “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepad orang-
orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian dan tidak mengeluarkan kalian
dari negri kalian”
(dalam QS Al Mumthahanah:8-9)
8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil.
9. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang
yang zalim.

Kalau anda memiliki tetangga orang kristen, tengah malam mau melahirkan, miskin, tidak ada
kendaraan bisa di pinjamkan mobil kalau tidak menampakkan permusuhan kepad anda’
hukumnya mubah untuk dibantu. Kalau ada tetangga orang kristen, miskin, sudah hampir mati
kelaparan, berikan ia beras sayur dan ikan kemudian ajak masuk islam. Kita berbuat baik
kepada orang kafir tujuannya untuk dakwah.Jadi pemutusan hubungan hati dengan orang-
orang kafir dengan tidak mencintainya, tidak menolongnya dalam agamanya kalau dia pinjam

Page 6 of 11
Al Wala’ wal Bara’

kursi untuk kebaktian maka tidak boleh dipinjamkan dan tidak tinggal di negeri mereka, ini juga
penting (rujukannya bisa dilihat dari kitab tauhid 1) ini bagian dari bara’ah. Hujan batu dinegeri
islam lebih baik daripada hujan emas di negeri kafir.

Bara’ah seorang mukmin

 Bara’ah orang kafir, ini bara’ah penuh baik dari sisi keyakinannya, kita benci keyakinannya
keyakinan buhur, kita bara’h kita benci, kita berlepas diri dari keyakinan seperti itu juga
dengan orang yang meyakininya. Bukan Cuma keyakinannya tetapi orangnya juga karena
kadang-kadang mendengar orang mengatakan bukan orangnya yang saya benci tapi
perbuatannya, benci juga orangnya karena ia melakukan perbuatan yang tidak kita suka.
Bukan Cuma perbuatannya yang tercela tetapi orang yang melakukannya juga tercela,
Bukan Cuma keyakinnya yang tercela orang yang meyakininya keyakinan tercela juga
tercela. Maka ini penting untuk kita jelaskan karena sering kita dengarkan seperti itu kita
hanya membenci keyakinannya tapi tidak membenci orangnya, kita benci keyakinan dan
orangnya. Kalau tidak ada kebencian kepada orang kafir maka tidak perlu ada jihad fi
sabilillah cukup dakwah saja karena dakwah kan memerangi keyakinan sementara jihad
memerangi orangnya eksistensinya orang secara person apalagi secara daulah, negerinya.
Jadi dua-duanya kita benci, ini penting karena terkadang kita mendengar slogan seperti itu
kita hanya membenci keyakinannya tidak membeci orangnya. Aqidah alwala’walbara’
mengajarkan kita benci pada keyakinannya dan kepada orang yang meyakininya
QS Al Mumthahanah:4
4. Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri
daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah
nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman
kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya Aku akan
memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah".
(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami Hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan Hanya kepada
Engkaulah kami bertaubat dan Hanya kepada Engkaulah kami kembali."

[1470] nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah :
Ini tidak boleh ditiru, Karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan
untuk orang-orang kafir (lihat surat An Nisa ayat 48).

Materi alwala’ wal bara’ ini bagian dari aqidah yang sekarang sudah mulai luntur. Di sulawesi
utara ada slogan torang samua basudara, kalau di Ambon ada pelagandom ini berbenturan
dengan alwala’ wal bara’ ini pengehancur wala’ wala bara’ karena hanya orang yang beriman
yang bersaudara. Orang kafir bukan saudara kita, nasrani bukan saudara kita, mereka saudara
kara dan babi... Mutarabbi harus punya bara’ah yang kuat sejak awal. Orang kafir tidak berhak
mendapat cinta dari kita meskipun tidak harus dengan sikap, boleh saja kita berbuat baik
kepada orang yang tidak menampakkan permusuhannya kepada kita tapi dalam hati kita, kita
tidak membantunya dengan cinta dan kasih sayang, kita mambantunya karena melihat dia

Page 7 of 11
Al Wala’ wal Bara’

butuh, sedangkan anjing saja kalau kita lihat kehausan kita beri minum... Kata nabi “ Setiap hati
yang basah, kita bisa berbuat baik pada setiap makhluk hidup. anjing saja kalau haus di beri
minum, apalagi kalau manusia” tapi dalam keyakinan kita tetap, tidak ada cinta dan kasih
sayang. Manusia berbuat baik kepada anda karena rasa kemanusiaan dan karena anda tidak
menampakkan permusuhan kepada kami dan keislaman kami, tapi dalam hati saya tidak berisi
cinta dan kasih sayang.Maka kapan anda menampakkan permusuhan ketahuilah disini... dan
kita juga harus tau orang-orang kafir itu juga seperti itu kepada kita.Jangan melihat mereka
bermanis muka tersenyum tanpa ada kebencian kepada kaum muslimin, “laa”. Allah
mengatakan “ Sungguh nyata kebencian mulut-mulut mereka dan apa yang disembunyikan
dalam hati-hati mereka lebih besar, jadi kita dengan orang kafir itu sama mereka itu kelihatan
tersenyum, kelihatan baik itu lahirnya saja hatinya itu membenci islam”, danorang islampun
seperti itu, sama, orang islam bisa saja berbuat baik kepada mereka tatkala mereka tidak
menampakkan permusuhan pada orang islam, allah tidak melarang, tapi hati kita tidak ada
cinta dan kasih sayang di hati kita permusuhan dan kebencian terhadap kekafiran dan orang-
orang kafir. Ini penting betul-betul tertanam dalam hati kaum muslimim, supaya dari awal ada
wala’ dan bara’ yang jelas, saya islah kamu nasrani, saya islam kamu yahudi, ini harus tertanam
dengan kuat dalam hati, nanti dalam tataran lahiriyah interaksi ini tergantung kondisinya. Tidak
berarti karena ada permusuhan dan kenecian tatkala ada orang kafir yang lewat maka langsung
kita tumpahkan darahnya, kita tidak mengajarkan seperti itu, ada kondisinya dimana kita bisa
berbuat baik terhadap mereka tetapi dalam hati tatap ada kebencian dan permusuhan.Disini
perlu dijelaskan secara jelas kepada mutarabbiyah.

Bara’ah seorang mukmin ditujukan kepada orang-orang kafir secara penuh baik keyakinaannya
maupun orang yang meyakininya dan kepada sebagian lagi orang-orang yang beriman, ada
bara’ah kepada sebagian orang-orang beriman yaitu ahli maksiat dan ahli bid’ah. Maka orang-
orang yang berbuat maksiat dan berbuat bid’ah dicintai karena keimanan mereka dan dibenci
karena kemaksiatandan kebid’ahan mereka...

C. BEBERAPA CONTOH SIKAP DALAM PERKARA WALA’ DAN BARA’

Beberapa contoh sikap para sahabat, nabi dan para salaf dalam masalah alwala’ wal bara’

 Contoh atau sikap dalam memberikan wala’ atau loyalitas


 Sikap orang anshar terhadap orang muhajirin. Wala. Orang anshar terhadap kaum
muhajirin
QS. Al Hasyr: 9
9. Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka
(Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka Itulah orang orang yang beruntung

Page 8 of 11
Al Wala’ wal Bara’

 Sikap Ka’ab bin Malik ra, saat di boikot, dimana Ka’ab bin Malik tersebut tidak ikut
perang tabuk oleh karena itu ia diboikot oleh Rasulullah. Ketika ia diboikot datang
tawaran dari Romawi pada sahabat ini ditawari jadi menteri dengan cara masuk
keristen. Heraklius yang menawarkan daripada ia diboikot, tidak boleh diajak bicara,
tidak boleh diberi salam, sampai istrinya tidak boleh dekat-dekat kecuali satu rabi’
bin umayah yang diizinkan karena sudah tua, atau buta istrinya dizinkan membantu
kebutuhannya tapi yang lain istrinya pun tidak bisa kemudian datang Heraklius
menawarkan daripada menjadi orang islam tetapi diboikot seperti itu lebih baik ia
diberikan kerajaan, dijadikan menteri. Tetapi disinilah Ka’ab bin Malik
memperlihatkan wala’nya loyalitasnya ra. Dia tidak tergiur dengan itu dengan harga
imannya dia tidak tergiur
 Kisah terjadinya perang dengan bani Qainuqa. Di Madinah ketika Nabi berhijrah ada
3 suku Yahudi Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quwaidha. Dibuat sebuah
perjanjian tidak boleh menumpahkan darah tidak boleh mengganggu dst. Tapi
ternyata semua kabilah Yahudi ini merusak perjanjian ini karena itu ini pelajaran
bagi mereka melakukan perjanjian bagi orang yahudi, fobi kerna dengan nabipun
mereka melanggar perjanjian apalagi dengan kita ummatnya nabi. Kisahnya ada
seorang wanita muslimah yag menjual atau membeli di pasar Bani Qainuqa pasar
yang dikuasai oleh orang Yahudi. Ketika datang ke pasar tersebut ia memakai jilbab
dan kain penutup muka. Orang Yahudi meminta ia untuk membuka kain penutup
wajahnya ketika hendak bertransaksi dan ada seorang yahudi yang dengan sengaja
di belakangnya mengikat ujung bajunya, perempuan zaman nabi bajunya panjang 1
hasta di bawah mata kaki karena dulu tidak ada kaos kaki, sekarang perempuan
pakai kaos kaki. Ujung kain tersebut diikatkan ke kerudungnya oleh orang yahudi
tersebut sehingga ketika perempuan tersebut berdiri kainnya di belakang terangkat
karena karena diikat di bagian punggungnya, kainnya terangkat sehingga kelihatan
auratnya. Masalah mempermalukan kaum muslimin itu orang yahudi aslinya sejak
dahulu. Maka perempuan tersebut berteriak, merasa sangat malu dan marah, di
pasar itu juga ada orang-orang islam yang melihat kejadian tersebut. Dia merasa
sangat marah melihat saudarinya diperlakukan seperti itu kemudian dia menyerang
orang yahudi tersebut dan ia bunuh. Karena ini pasar Yahudi maka ia diserang oleh
orang yahudi dan di bunuh pula dan inilah sebab terjadinya perang Bani Qainuqa.
Inilah Qabilah pertama Yahudi yang merusak perjanjian di Madinah. Ini bisa
menanamkan semangat jihad pada diri mutarabbiyah sekaligus kebencian kepada
orang kafir
 Sikap kaum muslimin ketika mendengar desas-desus terbunuhnya Utsman.

 Contoh atau sikap dalam memberikan bara’


 Sikap nabi Ibrahim kepada kaumnya
QS 60:4

Page 9 of 11
Al Wala’ wal Bara’

4. Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri
daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah
nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman
kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya Aku akan
memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah".
(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami Hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan Hanya kepada
Engkaulah kami bertaubat dan Hanya kepada Engkaulah kami kembali."

[1470] nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : Ini tidak
boleh ditiru, Karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang
kafir (lihat surat An Nisa ayat 48).

 Sikap Abu Ubaidah kepada bapaknya pada saat perang badar


QS 58: 22
22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang
dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,
atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang
Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462]
yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

[1462] yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan
terhadap musuh dan lain lain.
 Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul dalam perang tabuk
QS 62: 8
8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian
itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang
ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan".

D. BEBERAPA FENOMENA PEMBERIAN WALA’ KEPADA ORANG KAFIR

 Tasyabbuh, menyerupai. Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka ia termasuk kaum
itu.
 Merayakan hari raya mereka. Misalnya merayakan natal dan tahun baru
 Menjadikan orang keprcayaan
 Meminta tolong
 Dalam posisi yang memegang urusan kaum muslimin, tidak dibolehkan

QS Ali Imran:118
118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-
orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan

Page 10 of 11
Al Wala’ wal Bara’

bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka,
dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan
kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

 Dalam posisi tidak mendatangkan bahaya misal tukang rumah, tukang ukur jalan dll
dibolehkan apabila tidak ada kaum muslimin yang bisa, sebagaimana Rasulullah
pernah menyewa penunjuk jalan.
 Memberikan ucapan selamat

E. AL MUDARAH DAN AL MUDAHANAH


 Al Mudarah adalah................Untuk kepentingan dunia, untuk dunia atau untuk
kepentingan agama seperti berkata lembut serta tidak berbuat kasar dan keras
terhadap seorang jahil dalam keadaan tidak melakukan kefasikannya atau berpaling
darinya ketika ia melakukan kefasikannya untuk menghindari keburukan atau
keburukan yang lebih besar apabila ditegur.
 Al Mudahanah adalah meninggalkan agama untuk kepentingan dunia menunjukkan
keridhoan terhadap kemungkaran, hukumnya haram
QS Al Maaidah : 78-80
78. Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang
demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.79. Mereka satu sama lain
selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang
selalu mereka perbuat itu.80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-
orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka,
yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Page 11 of 11