Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KASUS

GOOD GOVERNANCE

KHOIROTUL AINIYAH

160341606076/OFF C/PBIO

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

MEI 2017
Kementerian Kesehatan Harus Lebih
Perhatikan Tenaga Medis untuk Ibu Hamil
24 APRIL 2017

Sumber : https://jurnalpolitik.com/2017/04/24/kementerian-kesehatan-harus-lebih-
perhatikan-tenaga-medis-untuk-ibu-hamil/

Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia memiliki sejumlah masalah yang
terbilang sangat kompleks. Hal ini sangat wajar, mengingat sejumlah negara lainnya yang
sedang berkembang juga seringkali mengalami masalah yang sama. Inilah tantangan sebuah
negara yang sedang berkembang, dimana pada beberpaa bagian SDM yang ada, kerap belum
memadai untuk memberikan pelayanan pada masyarakat itu sendiri. Hal ini bisa saja
menyebabkan berbagai kendala di dalam pelayanan masyarakat, bahkan untuk beberapa
pelayanan yang paling vital sekalipun. Bukan hanya terkait dengan masalah pangan dan juga
pendidikan saja, namun masalah kesehatan juga menjadi salah satu hal yang paling sering
dibahas dan menjadi sebuah pekerjaan rumah yang panjang bagi pihak pemerintah.
Kesehatan masyarakat masih jauh dari kata memadai, sehingga hal ini selalu menjadi
masalah serius yang pelik dan membutuhkan penanganan yang sangat kompleks. Bukan
perkara gampang, untuk mengadakan dan mengupayakan layanan kesehatan yang baik bagi
lebih dari 200 juta rakyat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah nusantara. Berbagai
komponen didalam pelayanan kesehatan memang masih jauh dari kata layak. Beberapa
wilayah bahkan belum memiliki sarana kesehatan sama sekali, bahkan tenaga kesehatan yang
bisa memberikan berbagai penyuluhan penting terkait dengan standar pemeliharaan
kesehatan yang baik bagi masyarakat itu sendiri. Minimnya informasi ini tentu menjadi
sebuah hal yang patut disayangkan, mengingat untuk menjaga kesehatan masyarakat akan
membutuhkan pelayanan atau bahkan sekedar pengetahuan pribadi yang memadai terkait
dengan kesehatan itu sendiri.
Diantara sejumlah masalah kesehatan yang banyak terjadi, kematian ibu hamil dan
melahirkan menjadi angka yang terbilang paling besar. Bukan hanya ibu hamil yang sedang
hamil tua dan sedang menjelang kelahiran saja, usia kehamilan 2 bulan juga bisa menjadi
salah satu pasien yang kerap membutuhkan pertolongan medis. Pada usia kandungan yang
masih muda ini, kondisi ibu hamil 2 bulan juga janin di dalam kandungannya masih sangat
rentan dan membutuhkan perawatan yang ekstra, termasuk tambahan vitamin dan asupan
makanan bergizi. Hal-hal seperti inilah yang sangat perlu untuk diketahui oleh ibu yang akan
atau sedang hamil, sehingga mereka bisa mengupayakan yang terbaik untuk dirinya sendiri
dan juga janin yang sedang dikandungnya. Jika ibu atau calon ibu memiliki berbagai
informasi yang memadai terkait dengan kehamilan dan juga cara merawat kesehatan selama
masa kehamilan hingga melahirkan, maka angka kematian ibu di Indonesia dapat ditekan
dengan baik. Hal ini juga akan berdampak positif pada kesejahteraan keluarga yang
bersangkutan, mengingat dampak kematian seorang ibu akan sangat buruk bagi sebuah
keluarga.

Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihak Kementrian Kesehatan, sebab
hingga kini angka kematian ibu di Indonesia memang terbilang masih sangat tinggi. Jika hal
ini tidak ditangani dengan baik, maka masih akan banyak ibu-ibu lainnya yang akan
kehilangan nyawa di saat melahirkan. Memberikan pendampingan sejak awal adalah langkah
yang paling tepat bagi para calon ibu, sehingga mereka memiliki pemahaman yang baik dan
berbagai hal yang penting untuk selalu diperhatikan selama masa kehamilan. Selain itu,
ketersediaan tenaga medis di berbagai wilayah, bahkan pedalaman sekalipun, akan sangat
membantu masyarakat luar untuk tetap bisa hidup sehat dan mendapatkan pelayanan
kesehatan yang layak dan memadai.

Analisis :

Kesehatan merupakan salah satu hal yang penting yang harus dimiliki oleh setiap individu,
karena kesehatan itu mahal harganya. Jika kita sakit pasti akan segera membeli obat maupun
datang ke puskesmas atau bahkan rumah sakit untuk memeriksakan keadaan dalam tubuh
kita. Hal ini dibuktikan dengan kasus seperti berita diatas. Pelayanan di negara kita ini
sangatlah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Banyak masyarakat yang mengeluh
terhadap pelayanan yang tidak baik, misalnya saja dalam hal pelayanan masyarakat dibidang
kesehatan. Padahal masyarakat berhak mendapatkan pelayanan dibidang kesehatan dengan
layak sesuai dengan UUD 1945 pasal 28H ayat 1 “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir
dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan tempat yang baik dan sehat, serta berhak
memperoleh kesehatan”. Hal ini juga tidak sesuai dengan prinsip kepemerintahan yang baik
(Good Governance) yakni prinsip profesionalitas serta efisiensi dan efektifitasnya. Tidak
sesuai dengan prinsip profesionalitas, karena pemerintah tidak mampu memberikan
pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau. Sedangkan pada prinsip
efisiensi dan efektifitas tidak sesuai dikarenakan pemerintah juga tidak menjamin
terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.
Jokowi Janji Segera Bangun Fasilitas
Umum yang Rusak di Pidie
FABIAN JANUARIUS KUWADO

Kompas.com - 09/12/2016, 17:17 WIB

Presiden Joko Widodo bernyanyi saat meninjau Masjid Atta Darut, Kabupaten Pidie Jaya,
Aceh, Jumat (9/12/2016). Masjid itu merupakan lokasi kedua yang dikunjungi Presiden Joko
Widodo. Selanjutnya, Jokowi bertolak ke posko penampungan pengungsi di Kecamatan
Meurah Dua, Pidie Jaya dan terakhir, Presiden juga akan mengunjungi gedung Pesantren
Mudi Mesra, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun. (KOMPAS.com / GARRY
ANDREW LOTULUNG).

Sumber :

http://nasional.kompas.com/read/2016/12/09/17172121/jokowi.janji.segera.bangun.fasilitas.u
mum.yang.rusak.di.pidie

BIREUEN, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menggunakan pengeras suara di masjid


untuk menyampaikan maksud kedatangannya di Aceh. Usai blusukan ke lima lokasi
terdampak gempa sepanjang Jumat (9/12/2016) pagi hingga siang, Jokowi menunaikan
ibadah shalat Jumat di Masjid Besar Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Selepas
shalat, Jokowi meraih mikrofon masjid lalu menyampaikan pidatonya. Berikut pernyataan
Jokowi itu : "Saya datang ke Pidie, ke Pidie Jaya dan ke Bireuen, khususnya Kecamatan
Samalanga ini, ini kota santri. Saya ingin memastikan kepada semuanya berada dalam
keadaan baik." "Ini cobaan Allah kepada kita dan marilah dengan cobaan yang diberikan
kepada kita ini, kita hadapi dengan rasa sabar, tabah, rasa tawakal dan Insya Allah kita segera
mencarikan solusi agar kita bisa kembali ke dalam kehidupan yang normal kembali."
"Pemerintah pusat akan berusaha sekeras-kerasnya untuk segera membangun kembali,
terutama fasilitas-fasilitas umum, baik masjid, pondok pesantren, sekolah-sekolah, dalam
kurun waktu secepat-cepatnya”. "Kemudian rumah masyarakat yang juga rusak juga akan
diberikan stimulan bantuan. Memang tidak banyak. Tapi semoga bisa mendorong agar
pembangunan kembali di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya
dan Pidie bisa normal kembali". Selain tersambung ke perangkat pengeras suara di dalam
masjid, mikrofon Jokowi itu juga tersambung ke pengeras suara di atas menara masjid
setinggi kurang lebih 20 meter. Oleh sebab itu, pesan Jokowi tidak hanya didengar oleh
jamaah shalat Jumat, tetapi juga didengar orang di kampung tersebut. Seiring dengan itu,
warga, terutama ibu-ibu lalu berbondong-bondong mendatangi masjid sembari membawa
anak-anak mereka. Mereka berebut salam dan berfoto bersama dengan Presiden. Masjid itu
sendiri merupakan titik terakhir di lokasi gempa yang didatangi Jokowi. Selepas shalat Jumat,
Jokowi langsung terbang menggunakan helikopter di lapangan dekat masjid menuju Banda
Aceh.

Dari Banda Aceh, Jokowi bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat kepresidenan.


Sebelumnya, Presiden menjamin pemerintah akan membangun kembali seluruh bangunan
yang rusak akibat gempa di Aceh. "Kerusakan, baik gedung sekolah, pesantren, kantor
pemerintah dan masjid, itu ditangani oleh Kementerian PU. Kalau sekolah, ditangani
Kemendikbud. Ini langsung dikerjakan," ujar Jokowi di sela meninjau posko pengungsian di
Kantor Bupati Pidie Jaya, Jumat pagi. Sementara untuk rumah penduduk, pemerintah akan
memberikan bantuan berupa uang untuk pembangunan kembali. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah setempat masih mendata, berapa
rumah yang mengalami kerusakan. Nantinya, besaran bantuan akan dikategorikan menjadi
dua. Untuk rumah yang dikategorikan rusak berat, diberikan bantuan sebesar Rp 40 juta.
Sementara, rumah yang dikategorikan rusak ringan akan diberikan bantuan sebesar Rp 20
juta. "Uang itu agar nantinya bisa dipakai untuk stimulan membangun kembali rumah atau
bangunan yang ada," ujar Jokowi.

Analisis :

Fasilitas umum merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Oleh karena itu fasilitas umum
harus selalu dijaga sehingga dapat dinikmati dengan nyaman oleh semua kalangan
masyarakat. Namun di beberapa wilayah di Indonesia sering dijumpai fasilitas umum yang
buruk dengan keadaan yang tidak dapat dikatakan layak. Hal ini sering memicu kritikan
pedas dari para masyarakat sekitar dengan mengatakan bahwa sistem pelayanan publik belum
dapat diatur dengan jelas dan tegas. Masalah ini merupakan salah satu masalah yang sering
dijumpai di setiap wilayah, dan masalah ini merupakan masalah yang tidak mudah untuk
diatasi dengan cepat dan tepat. Penyebab buruknya fasilitas umum sangat erat kaitannya
dengan pemerintahan dan juga masyarakat. Ada beberapa masyarakat yang tidak bertanggung
jawab melakukan perusakan pada fasilitas umum seperti mencoret kursi halte, namun hal ini
juga dapat dikarenakan fasilitas tersebut telah termakan usia, alasan lain juga karena
lemahnya pengawasan dari pemerintah serta rendahnya tanggung jawab moral dan penyedia
jasa. Sebenarnya pada proses perbaikan fasilitas umum diperlukan peran dari masyarakat dan
pemerintah. Namun kebanyakan pemerintah di wilayah tertentu telah melakukan upaya untuk
mengatasi masalah tersebut namun, beberapa masyarakat tidak ikut berperan serta dalam
pembangunan fasilitas yang baik. Masalah diatas merupakan salah satu bentuk positif yang
sesuai dengan Good Governance (pemerintahan yang baik) yang ada di Indonesia. Karena hal
ini sesuai dengan prinsip kepemerintahan yang baik yang telah tercantum dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000, yakni profesionalitas dan pelayanan prima. Hal ini
sesuai dengan prinsip tentang profesionalita, karena pemerintah mampu meningkatkan
pelayanan yang baik pada masyarakat seperti sekolah, masjid maupun fasilitas umum yang
sudah tidak layak lagi, sedangkan pelayanan prima, pemerintah dapat melakukan
penyelenggaran pelayanan publik yang mencakup prosedur yang baik, kelengkapan sarana
dan prasarana serta pelayanan yang ramah dan disiplin, hal ini dibuktikan dengan tegasnya
Presiden Jokowi dalam menyikapi masalah fasilitas tersebut dengan memberikan uang
kompensasi untuk perbaikan fasilitas umum agar dapat dimanfaatkan bersama dengan
masyarakat yang lain.
Warga Keluhkan Lambannya Proses E-KTP
Senin, 10 April 2017 01:03

surya/achmad zaimul haq

LAYANAN NORMAL - Warga melakukan perekaman E-KTP di Dinas Kependudukan Dan Catatan
Sipil (Dispendukcapil) di Gedung Siola, Rabu (15/2/2017). Warga Kota Surabaya masih mengeluhkan
lamanya proses pembuatan KTP elektronik (e-KTP).
Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/10/warga-keluhkan-lambannya-proses-e-
kpt?page=2

SURYA.CO.ID | SURABAYA – Warga Kota Surabaya masih mengeluhkan lamanya proses


pembuatan KTP elektronik (e-KTP). Hingga saat ini warga masih harus berulang kali
melakukan perekaman e-KTP. Bahkan sudah ada yang tiga kali melakukan perekaman akan
tapi belum juga mendapatkan surat keterangan pengganti KTP elektronik.
Salah satu warga yang mengeluhkan kondisi tersebut adalah Maryamah (43). Warga
berasal dari Ambengan ini menyebutkan sudah tiga kali melakukan perekaman di Siola. Akan
tetapi ia masih dipanggil dan diminta untuk rekam ulang. “Saya awalnya sudah rekam iris
mata sama sidik jari, sekitar tiga tahun yang lalu. Namun karena KTP saya hilang, maka saya
mau ngurus lagi, sejak tahun 2016 lalu saya ngurus tapi masih bolak-balik harus rekam lagi,”
ucap Maryamah. Ibu dua anak ini menyebutkan, penjelasan dari petugas Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) KTP nya masih berdata ganda. Dan
terdata di luar Kota Surabaya yaitu Mojokerto. Padahal ia mengaku tidak pernah tinggal di
Mojokerto ataupun membuat KTP Mojokerto. “Namun saya ya nurut saja, cuman saya itu
butuh cepat, namun masih belum surat keterangan pengganti e-KTP,” ujarnya. Menurutnya,
jika memang tidak bisa melakukan perekaman, sebaiknya ada pengganti surat keterangan
yang tetap bisa digunakan untuk mengurus dokumen resmi dari instansi yang ada di
Surabaya. “Saya daftar BPJS itu juga masih belum bisa, katanya NIK saya tidak terdaftar,”
ucapnya.
Keluhan soal e-KTP ini juga dikeluhkan oleh Asri Wilujeng (39). Ia adalah warga
Sememi. Ia mengaku datanya tercatat ganda di Surabaya dan di Semarang. Meski sudah
rekam dua tahun yang lalu, ia belum mendapatkan panggilan untuk pencetakan e-KTP. "Saya
dua kali ngecek di Siola menanayakan e-KTP saya apa sudah bisa dicetak malah diminta
untuk rekam ulang. Lalu yang kemarin sudah direkam itu dibuat apa," tandasnya. Kepala
Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dispendukcapil Kota Surabaya Ferry Jocom
mengatakan sistem penunggalan Dispendukcapil memang sedang bermasalah. Terhitung
sudah dua pekan Dispendukcapil belum bisa konek dengan data server di Kementerian Dalam
Negeri (Kemendagri). "Gara-gara itu memang kita nggak bisa mengecek data kependudukan
di server di Kemendagri. Padahal sistem perekaman e-KTP itu butuh verifikasi dengan data
di server pusat," ucap Ferry. Lantaran tidak bisa konek tersebut akhirnya warga yang rekam
ke Siola belum bisa ditunggalkan. Dan penyimpanan datanya hanya di server milik Pemkot
saja. "Kita juga menunggu. Karena permasalahannya bukan di Dispendukcapil Surabaya
melainkan dari pusat," katanya. Menurutnya dalam proses pembuatan eKTP setelah rekam
ada dua jalur. Harus ada verifikasi biometri data pengaju. Kalau tidak begitu data mereka
tidak bisa Print Ready Record (PRR). "Kalau data sudah dicek adalah tunggal maka sudah
disebut PRR dan bisa mendapatkan surat keterangan," pungkasnya. Sehingga proses itu harus
menunggu perbaikan koneksi dengan server pusat.

Analisis :
Masalah diatas jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat akan menimbulkan masalah
yang serius bagi masyarakat wilayah tersebut, hal ini juga membuat masyarakat kecewa dan
berkurang rasa kepercayaannya pada pemerintahan. Masalah ini juga menimbulkan
penyelewengan dan tidak sesuai dengan prinsip good governance di bidang profesionalitas,
transparasi, pelayanan prima, efisiensi dan efektivitas serta supremasi hukum. Hal ini
dikarenakan aparat tersebut tidak mampu memberi pelayanan yang mudah dan cepat ketika
pembuatan e-KTP, kemudian aparat tersebut juga membuat masyarakat berkurang akan rasa
kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat. Aparat tersebut juga tidak melakukan
penyelenggaraan pelayanan publik yang mencakup prosedur dengan baik, kejelasan tarif,
kepastian waktu, kemudahan akses, kelengkapan sarana dan prasarana serta pelayanan yang
ramah dan disiplin serta tidak menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat
dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.