Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN

“Fungsi Otot-Otot Injeksi Pembuluh Darah Untuk Intravena Dan Infus”

Di susun oleh :

Desta Wahyu Maharani (201802026) Riska Fitria Muffida (201802032)

Dea Alfi Sabrina (201802027) Siti Nurul Fatimah (201802033)

Arlin Thahara Fitri (201802028) Nadila Dwi Hardiyanti (201802034)

Ima Sakinah (201802029) Nurul Aini (201802035)

Rohuli Putri D (201802030) Novita M. Baun (201802036)

Al Izzah Filisyati (201802031) Wamili Fanlay L (201802037)

Dosen pembimbing :

VERYUDHA EKA P, S.ST.,M.KES

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

DIII KEBIDANAN

2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini kami susun sebagai tugas dari mata kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan
(KDK) dengan judul “Fungsi Otot-Otot Injeksi Pembuluh Darah Untuk Intravena Dan Infus”.

Terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Veryudha Eka P, S.ST.,M.KES. Selaku dosen mata
kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan (KDK) yang telah membimbing dan memberikan kuliah
demi lancarnya terselesaikan tugas makalah ini.

Demikianlah tugas ini kami susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi tugas mata
kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan (KDK) dan penulis berharap semoga makalah ini
bermanfaat bagi diri kami dan khususnya untuk pembaca. Dengan segala kerendahan hati,
saran-saran dan kritik yang konstruktif dan membangun sangat kami harapkan dari para
pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu
mendatang.

Mojokerto, 24 Februari 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemberian cairan melalui infus / intravena adalah pemberian cairan yang diberikan kepada
pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini membutuhkan
kesterilan mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah. Pemberian cairan infus
dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah pasien) diantaranya vena lengan, vena
tungkai, atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis frontalis (khusus untuk anak-
anak). Lokasi yang sering digunakan pada pemasangan infus adalahvena supervisial atau
perifer kutan terletak didalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi
intravena.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah, sebagai berikut:
a. Pengertian injeksi intravena
b. Mempelajari cara kerja memberikan obat intravena
c. Pengertian pemasangn infus
d. Tujuan pemasangan infus
e. Macam-macam vena dan fungsinya
f. Cara kerja pemasangaan infus

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah, sebagai berikut :

a. Memahami pengertian injeksi intravena


b. Mempelajari caa kerja memberikan obat intravena
c. Memhami pengertian pemsngan infus
d. Mempelajari tujuan pemasangan infus
e. Memahami macam-macam vena dan fungsinya
f. Memahami cara kerja pemasangan infus
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Injeksi Intravena


Jalur vena dipakai khususnya untuk tujuan agar obat yang diberikan dapat
beraksi dengan cepat misalnya pada situasi gawat darurat, obat dimasukkan ke dalam
vena sehingga obat langsung masuk sistem sirkulasi yang menyebabkan obat dapat
beraksi lebih cepat dibanding dengan cara eteral atau parenteral yang lain yang
memerlukan waktu absorbsi.
Pemberian obat intravena dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada pasien
yang tidak dipasang infus, obat di injeksikan langsung pada vena. Bila cara ini yang
digunakan , maka biasanya dicari vena besar yaitu vena basilika atau vena sefalika pada
lengan. Sedangkan pada pasien yang dipasang infus , obat dapat diberikan melalui botol
infus atau melalui karet pada selang infus yang dibuat untuk memasukkan obat.
Di negara maju misalnya Amerika Serikat dan Kanada, tidak semua perawat
diperbolehkan memasukkan obat melalui vena atau memasang infus karena resiko yang
dapat terjadi cukup besar. Untuk dapat memasang infus maka perawat harus mengikuti
kursus ketrampilan dahulu.
Untuk memasukkan obat melalui vena, perawat harus mempunyai pengetahuan
dan ketrampilan yang memadai sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan
atau menyebabkan berbagai masalah yang fatal bagi pasien misalnya terjadi emboli
udara. Perawat juga harus mampu mencari vena yang tepat untuk penusukan. Jangan
lakukan penusukan sebelum yakin mendapatkan vena yang mudah ditusuk.
Pengulangan tusukan dapat menyebabkan rasa sakit dan rasa takut pada pasien.
Pasien yang terpasang infus seringkali mendapat order obat yang dimasukkan
secara intravena. Pada pasien ini, perawat tidak perlu membuat tusukan baru lagi, tetapi
dapat memasukkan obat melalui karet pada pipa infus yang dirancang untuk
memasukkan obat atau melalui botol infus. Dalam melakukan tindakan ini, perawat
harus memperhatikan teknik aseptik yaitu dengan mengusap tempat yang akan ditusuk
dengan kapas antiseptik. Klem infus dimatikan selama obat dimasukkan dan bila sudah
selesai, kecepatan tetesan di atur kembali. Pada setiap penambahan obat melalui pipa
atau botol infus, buat label pada botol infus, angkat dan goyangkan botol agar obat
dapat campur, observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda pada buku catatan
pengobatan atau status kesehatan pasien.

Cara Kerja memberikan obat intravena :


 Pastikan tentang adanya order pegobatan
 Siapkan peralatan yang terdiri dari :
a. Kartu pengobatan/rencana order pengobatan
b. Spuit steril yang berisi obat steril
c. Kapas pengusap dalam larutan antiseptik
d. Turniket
 Yakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan, kemudian bantu mengatur posisi yang nyaman
 Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk (misalnya vena basilika dan vena
sefalika, buka kain yang menutupi vena.
 Bila vena sudah ditemukan misal vena basilika, atur lengan lurus dan pasang
turniket sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian bersihkan
dengan kapas pengusap antiseptik
 Siapkan spuit yang sudah berisi obat. Bila dalam tabung masih terdapat udara,
maka udara harus dieluarkan
 Pelan tusukkan jarum ke dalam vena dengan posisi jarum sejajar dengan vena.
Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spuit dapat
digunakan untuk menahan vena sampai jarum masuk vena.
 Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spuit. Bila terhisap darah,
lepas turniket dan dorong obat pelan-pelan ke dalam vena.
 Setelah obat masuk semua, segera cabut spuit dan buang di tempat pembuangan
sesuai prosedur
 Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang yaman
 Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda.

2.2 Pengertian Pemasangan Infus


Pemasangan infus merupakan suatu upaya memasukkan cairan (cairan obat atau
makanan) dalam jumlah banyak dan waktu yang lama ke dalam vena dengan
menggunakan perangkat infus / infus set secara tetesan.
Tujuan pemasangan infus adalah :
 Mengembalikan dan mempertahankan cairan dan elektrolit tubuh, elektrolit,
vitamin, protein, kalori, dan nitrogen pada pasien yang tidak mampu
mempertahankan masukan yang kuat melalui mulut.
 Memberikan obat-obatan dan kemoterapi.
 Transfusi darah dan produk darah.
 Memberikan nutrisi perenteral dan suplemen nutrisi pada pasien yang tidak
dapat / tidak boleh makan melalui mulut.
 Mumulihkan keseimbangan asam basa.
 Memulihkan volume darah.
 Menyediakan saluran terbuka untuk pemberian obat.

Pemasangan infus dapat dilakukan pada vena di beberapa bagian tubuh. Pada
bagian atas tangan terdapat vena metacarpal, vena cephalic, vena basilic. Sedangkan
pada bagian bawah tangan terdapat vena median antebrachial, vena accessory
cephalic, vena mediana cubital vein vena cephalica.

Pemilihan vena sebagai tempat pemasangan infus harus dilakukan secara


rasional untuk penggunaan vena yang tepat. Berikut adalah macam-macam vena untuk
infus beserta fungsinya masing-masing vena :

1. Vena tangan : Paling sering digunakan untuk terapi IV rutin

2. Vena Lengan Depan : Periksa dengan teliti kedua lengan sebelum


keputusan dibuat, sering digunakan untuk terapi
rutin.

3. Vena Lengan Atas : Digunakan untuk terapi IV

4. Vena Ekstremitas Bawah : Digunakan hanya menurut kebijakan institusi


dan keinginan dokter

5. Vena Kepala : Digunakan hanya menurut kebijakan institusi


dan keinginan dokter sering dipilih bayi
6. Vena Subklavia : Dilakukan oleh dokter untuk terapi jangka
panjang atau infus cairan yang mengiritasi
(hipertonik)

7. Jalur Vena Sentral : Digunakan untuk tujuan infus atau mengukur


tekanan vena sentral. Contoh : v. Sebklavia, v.
Jugularis interna/eksterna, v. Sefalika atau v.
Basilika mediana, v. Femoralis dll

8. Vena Jugularis : Dipasang untuk mengukur tekanan vena sentral


atau memberikan nutrisi parental total (NPT) jika
melalui vena kaya superior.

9. Vena Femoralis : Biasanya hanya digunakan pada keadaan


darurat tetapi dapat digunakan untuk penempatan
kateter sentral untuk pemberian NTP.

10. Pirau Arteriovena (Scribner) : Implantasi selang palastik antara arteri dan
vena untuk dialisis ginjal.

11. Tandur (bovino) : Anastomosis arteri karotid yang berubah sifat


dari cow ke sistem vena, biasanya dilakukan pada
lengan atas untuk dialisis ginjal.

12. Fistula : Anastomosis bedah dari arterike vena baik and


atau side to side untuk dialisis ginjal.

13. Jalur Umbilikal : Rute akses yang biasa pada Neonatus.

Selain itu, ada beberapa pertimbangan dasar dalam pemilihan sisi (vena) yaitu
vena perifer dan vena sentral. Vena perifer cocok untuk kebanyakan obat dan cairan
isotonic, cocok untuk terapi jangka pendek, biasanya mudah untuk di amankan, tidak
cocok untuk obat-obatan yang mengiritasi, sukar untuk di amankan pada pasien yang
agitasi. Sedangkan vena sentral cocok untuk obat-obatan yang mengiritasi atau cairan
hipertonik, cocok untuk terapi jangka panjang, obat-obatan harus di encerkan, resiko
komplikasi yang erhubungan dengan pemasangan kateter vena cevtral, seperti infeksi,
hemothorak, pneumotoraks, serta tidak disukai karena bisa terganggu oleh pasien. Oleh
karena pemasanga infus mengandung resiko yang bisa merugikan pasien hendaknya
saudara perlu memikirkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan vena.

Faktor yang mempengaruhi pemilihan sisi (vena) :

 Umur pasien  Terapi IV


 Prosedur yang di sebelumnya
antisipasi  Pembedahan
 Aktivitas pasien Sebelumnya
 Jenis IV  Sakit sebelumnya
 Durasi terapi IV  Kesukaan pasien
 Ketersediaan vena
perifer

Cara kerja memasang infus :

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan


2. Cuci tangan
3. 3hubungkan cairan dan infus set dengan menusukkan ke bagian karet atau akses slanng ke
botol infus
4. Isi cairan ke dalam set infus dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian dan buka
klem slang hingga cairan memenuhi slang keluar
5. Letakkan pengalas di bawah tempat (vena) yang akan dilakukan penginfusan.
6. Lakukan pembendungan dengan tirniket (karet pembendung) 10-12 cm di atas tempat
penusukkan dan anjurkan pasien untuk mengenggam dengan gerakan sirkular (bila sadar)
7. Gunakan sarung tangan steril
8. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol
9. Lakukan penusukkan pada vena dengan meletakkan ibu jari dibagian bawah vena dan posisi
jarum (abocatch) megarah ke atas
10. Perhatikan keluarnya darah melalui jarum abocatch) apabila saat penusukan terjadi
pengeluaran darah melalui jarum abotach maka tariku keluar bagian dalam (jarum) sambil
meneruskan tusukan ke dalam vena
11. Setelah jarum infus bagian dalam dilepaskan/keluarkan, tahan bagian atas vena dengan
menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. Kemudian bagian infus
dihubungkan / disambungkan dengan slang infus
12. Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan
13. Lakukan fiksasi dengan kasa steril
14. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta catat ukuran jarum
15. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
16. Catat jenis cairan, letak infus, kecepatan aliran, ukuran, dan tipe jarum infus.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Injeksi intravena adalah metode pemberian jalur vena dipakai khususnya untuk tujuan
agar obat yang diberikan dapat beraksi dengan cepat misalnya pada situasi gawat darurat, obat
dimasukkan ke dalam vena sehingga obat langsung masuk sistem sirkulasi yang menyebabkan
obat dapat beraksi lebih cepat dibanding dengan cara eteral atau parenteral yang lain yang
memerlukan waktu absorbsi.

Pada pasien yang tidak dipasang infus, obat di injeksikan langsung pada vena. Biasanya
dicari vena besar yaitu vena basilika atau vena sefalika pada lengan. Sedangkan pada pasien
yang dipasang infus , obat dapat diberikan melalui botol infus atau melalui karet pada selang
infus yang dibuat untuk memasukkan obat.

Pemasangan infus merupakan suatu upaya memasukkan cairan (cairan obat atau
makanan) dalam jumlah banyak dan waktu yang lama ke dalam vena dengan menggunakan
perangkat infus / infus set secara tetesan.

3.2 Saran

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalh ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubunganya dengan judul
makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dan memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnannya makalaah ini dan penulisan
makalah di kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna lagi pada khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.