Anda di halaman 1dari 3

Ananda Septiani Yunus RMK Teori Akuntansi

A31116039
ASSETS

Assets Defined
Ada tiga karakteristik yang berkaitan dalam definisi aset:
1. Memberikan manfaat ekonomis di masa depan. 3. Didapat dari kejadian masa lampau.
2. Dikendalikan oleh sebuah entitas. 4. Dapat dipertukarkan (pendukung).
A. Manfaat ekonomi di masa depan (future economic benefits)
Manfaat ekonomis di masa depan di dalam aset adalah potensi yang dapat
dikontribusikan secara langsung maupun tidak langsung yang mengalir ke kas entitas.
Dapat juga disebut sebagai manfaat yang membantu entitas untuk mencapai tujuannya.
Dari berbagai pendapat, jika disimpulkan, maka aset adalah sesuatu yang ada saat ini,
dan memiliki kapabilitas memberikan jasa atau manfaat saat ini dan juga di masa yang
akan datang.
B. Dikendalikan oleh sebuah entitas (control by an entity)
Mengontrol kadang tidak sama dengan memiliki. Misalnya, suatu perusahaan memiliki
aset, tapi ada peraturan pemerintah yang melarang penggunaanya, sehingga perusahaan
kehilangan kontrol atas aset yang sebenarnya dimilikinya itu. Secara teknis, aset
sebenarnya adalah hak untuk menggunakan aset, bukan secara fisik. Perusahaan memiliki
hak untuk menadapatkan manfaat dari aset tersebut dan bisa mengontrolnya.
C. Didapat dari kejadian masa lampau (past events)
Syarat ini untuk menegaskan bahwa aset yang baru direncanakan tidak dimasukkan
dalam pelaporan. Contohnya aset yang ada dalam anggaran. Perdebatan sering timbul
dalam hal seperti wholly executory contract.
D. Dapat dipertukarkan (exchageability), (pendukung)
Beberapa peneliti berpendapat bahwa definisi dari aset harus mengikutsertakan kondisi
bahwa aset itu harus dapat dipertukarkan, artinya suatu item terpisah dari entitas dan nilai
penghapusan terpisah dari nilai entitas. Suatu barang yang tidak memiliki exchageability
pastilah tidak memiliki nilai ekonomi (MacNael).
Namun, goodwill menjadi dipertanyakan dengan adanya syarat ini karena goodwill
tidak bisa dipertukarkan apabila tidak melekat pada suatu barang. Chambers berpendapat
agar goodwil dipisahkan dari aset karena sangat rawan terhadap variasi yang tidak
memiliki kualitas jangka panjang. Chambers juga berpendapat bahwa dalam penentuan
neraca diperlukan pengukuran terhadap aset dan kewajiban, tapi goodwill menggunakan
evaluasi bukan pengukuran. Nilai yang ditetapkan dari goodwill tidak sama dengan jenis
nilai aset dan kewajiban lain.
Asset Recognition
Pengakuan melibatkan aturan pengakuan, ada yang formal maupun informal. Contoh
informal adalah pengakuan piutang ketika penjualan secara kredit terjadi. Contoh formal
adalah pengakuan financial leases sebagai aset.
Framework recognition criteria (kriteria-kriteria dalam pengakuan). Pertama, peluang
dari keuntungan ekonomis yang akan dating. Kedua, aset harus dapat diukur dengan andal
(reliably measured).
Past recognition criteria yang tidak harus semuanya dipenuhi dan tidak mutually
exclusive. Pertama, kepercayaan pada hukum (reliance on the law). Pengakuan aset
bergantung pada konsep legal/sah aset tersebut. Contoh: pembelian aset tetap. Kedua,
penentuan substansi ekonomis pada transaksi atau kejadian. Substabsi ekonomis dari
transaksi berhubungan dengan tujuan pelaporan informal yang relevan dan dapat diandalkan.
Ketiga, penggunaan konservatisme: antisipasi kerugian, tapi tidak pada keuntungan.
Asset Measurement
A. Tangible Asset
Terdapat dua jenis pengukuran yang dikenal, yaitu historical cost dan fair value.
Untuk historical cost, aset diukur pada saat akuisisi dan dikurangi akumulasi depresiasi
dan penurunan nilai. Pendukung model ini berpendapat bahwa biaya pada saat akuisisi ini
menyediakan tujuan dan bukti-bukti bahwa pengukuran depresiasi dan penurunan nilai
yang telah dihitung merefleksikan nilai yang sesungguhnya dalam balance sheet.
Sementara itu, revaluasi aset menyediakan informasi yang relevan untuk para
pengguna laporan keuangan. Namun, beberapa berpendapat bahwa pengukuran ini tidak
handal dan subjektif apabila penetuan nilainya diestimasi padahal seharusnya diobservasi.
Dikatakan subjektif karena nilai yang didapat berasal dari perhitungan manajemen
sendiri.
B. Intangible Asset
Karena intangible asset tidak memiliki pasar, maka yang biasa yang digunakan adalah
cost (dikurangi oleh akumulasi amortisasi dan impairment). IAS 38 melarang pengakuan
atas internally generated intangible asset karena hanya dapat dimunculkan di balance
sheet hanya atas capitalization of development cost-nya saja.
C. Financial Instrument
Ananda Septiani Yunus RMK Teori Akuntansi
A31116039
Model pengukuran yang paling dominan adalah historical cost. Namun, banyak yang
menentang karena tidak relevan. Contohnya derivatif yang telah diatur untuk diukur
dalam fair value. Sehingga, meskipun harga pasar lebih dianjurkan, namun perkiraan
manajemen juga boleh digunakan (untuk fair value).
Untuk membuat standar yang baku, IASB telah menetapkan penggunaan fair value
guna menyediakan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan. Beberapa
pihak menentang karena akan menghasilkan laporan yang tidak relevan, tidak dapat
diandalkan, tidak dapat dimengerti, dan tidak dapat dibandingkan.
Challenges For Standard Setters
1. Which measurement model? Terdapat dukungan dari IASB dan FASB untuk penggunaan
nilai wajar yang lebih luas dan menjadi fokus beberapa bagian dalam komunitas
keuangan.
2. How to calculate fair value measurement? Dalam SFAS 157 terdapat contoh dari teknik
penilaian yang digunakan untuk memperkirakan niali wajar, termasuk di dalamnya:
a. Pendekatan pasar. Penggunaan dari harga observasi dan informasi dari transaksi
aktual untuk aset dan kewajiban yang identik, mirip, atau sebanding.
b. Pendekatan pendapatan. Konversi dari nilai masa depan ke nilai sekarang.
c. Pendekatan biaya. Nilai yang dibutuhkan untuk mengganti kapasitas dari sebuah jasa.
Issues For Auditors
Mengaudit fair value menimbulkan kesulitan pada auditor karena membutuhkan
penerapan dari model valuasi dan ahli dari valuasi itu sendiri. Untuk menciptakan pendekatan
audit yang efektif, auditor memiliki peranan penting untuk memastikan pengukuran yang
dilakukan telah sesuai dan tidak terpengaruhi berlebihan oleh insentif manajer. Auditor harus
mengetahui proses dari perusahaan kliennya dan pengendalian dalam pengukuran fair value,
dan auditor harus membuat penilaian apakah metode pengukuran dan asumsi yang digunakan
dari perusahaan kliennya tersebut sudah sesuai dan memberikan landasan yang kuat dalam
pengukuran fair value. Ada potensi auditor dikenakan tuntutan legal apabila gagal untuk
melakukan pendekatan atas audit nilai wajar untuk aset secara sesuai. Mayoritas masalah
yang ditemukan terkait dengan pengujian nilai aset menggunakan model biaya historis.
Situasi spesifik yang mengharusskan penggunaan nilai wajar untuk berbagai macam tipe aset
adalah dalam kombinasi bisnis.

Referensi:
Godfrey, Jayne. dkk. 2010. Accounting Theory 7th Edition. Australia: John Wiley & Sons