Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN 1

KECEPATAN CAHAYA
A.Tujuan
Menentukan besar kecepatan cahaya

B. Alat dan Bahan


1. Emiter
2. Receiver
3. Cermin pantul
4. Benang
5. Kabel koaksial
6. Lead Wire
7. Mistar
8. Osiloskop

C.Dasar Teori
Cahaya merupakan fenomena alam yang begitu banyak dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Disamping itu, cahaya merupakan sumber energi bagi kehidupan di muka
bumi ini. Dengan begitu pentingnya maka para ilmuwan begitu antusias untuk mengetahui
apakah cahaya itu?. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan menurut teori gelombang
elektromagnetik bahwa cahaya merupakan salah satu dari gelombang elektromagnetik,
namun menurut teori kuantum bahwa cahaya merupakan sederetan paket-paket energi
(yang disebut foton). Tetapi kedua teori ini saling memberikan konstribusi untuk
menjelaskan fenomena itu. Kita tinjau bahwa cahaya merupakan gelombang
elektromagnetik yang merambat dalam suatu medium vakum, karena cahaya merupakan
gelombang elektromagnetik yang dirambatkan maka gelombang memiliki energi yang
dikandungnya dengan kemampuan itu maka cahaya memiliki kecepatan.
Pada tahun 1638 Galileo melakukan percobaan yang dibantu asistennya untuk
menentukan besarnya laju cahaya. Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Galileo itu
diperoleh bahwa waktu perjalanan cahaya itu lebih kecil dari waktu reaksi manusia,
sehingga metoda tersebut gagal menentukan laju cahaya.
Pada tahun 1675 oleh Roemoer, astronom Denmark yang bekerja di Paris, membuat
beberapa pengamatan mengenai laju cahaya melalui gerakan bulan Jupiter dia mendapatkan
nilai laju cahaya 2.108 m/s. Kira-kira lima puluh tahun kemudian James Bradley, astronom
Inggris membuat beberapa pengamatan astronomi yang dapat mengukur laju cahaya dan
mendapatkan nilai sebesar 3.108 m/s
Tahun 1849 Hippolyte Louis Fizeau (1819-1896), fisikawan Prancis, menggunakan
metoda astronomi yang mendapatkan laju cahaya sebesar 3,13.108 m/s, Foucault (1819-1898)
memperbaiki motode Fizeau dan mendaptkan sebesar 3.10 8 m/s.
Fisikawan Amerika Albert Michelson (1852-1931) melakukan sederatan pengukuran
laju cahaya yang ekstensif selama perioda lima tahun, dengan menggunakan cara Foucault.
Michelson mendapatkan laju cahaya 2,99910.10 8 m/s tahun 1880 dan tahun 1920 bersama
fisikawan lainnya Michelson mengukur laju chaya dengan menggunakan cermin yang berputar
yang diletakan di puncak Mt. Wilson dan puncak Mt.San Antonio yang berjarak 35 km, laju
cahaya terukur adalah 2,9979.108.
Pengukuran laju cahaya secara tidak langsung, yang dilakukan pada tahun itu prinsipnya
mengikuti persamaan:
jaraktempuh
c=
waktutempuh
Kemudian Evenson dan kawan-kawan melakukan pengukuran mutakhir tahun 1973
menggunakan metoda yang sama sekali berbeda yaitu cara laser mendapatkan laju cahaya
(299.792,4574  0,0012) km/s.
Pada percobaan ini kita mengukur laju cahaya menggunakan persamaan jarak
tempuh/waktu tempuh. Jarak tempuh diukur dengan menggunakan mistar secara langsung dan
waktu tempuh menggunkan beda fase yang ditunjukan oleh dua gelombang cahaya laser pada
osiloskop.

l2

Receiver

l1
Osiloskop
Emitter

Skema Rangkaian Percobaan


Kecepatan Cahaya
Jika berkas sinar laser yang berasal dari pemancar (emitter) diarahkan ke cermin
pemantul dengan panjang lintasan L1 oleh cermin sinar tersebut dipantulkan ke penerima
(receiver) dengan panjang lintasan L2 dan dengan seelang waktu T. Osiloskop
menangkap dua gelombang cahaya, masing-masing dari emitter ketika ketika cahaya laser
dipancarkan dan kedua dari receiver ketika cahaya laser yang dipantulkan cermin diterima,
seperti gambar di bawah ini.

Dua gelombang cahaya ini dibentuk pada waktu yang tidak bersamaan, gelombang
pertama dibentuk ketika cahaya laser dipancarkan oleh emitter, gelombang kedua dibentuk
beberapa saat setelah cahaya laser berjalan melalui lintasan optiknya, yaitu dari emitter ke
cermin pemantul dan diterima receiver. Dua gelombang yang dibentuk pada waktu yang
tidak bersamaan ini ditampilkan oleh osiloskop dengan beda fase tertentu, yang
bergantung pada panjang lintasan optik cahaya laser tadi.
D.Prosedur Percobaan
1. Menyusun emitter, receiver dan kaca pemantul seperti gambar dibawah ini:
l2
Receiver

Osiloskop l1

Emitter

2. Menghubungkan ground pada emitter dan receiver dengan menggunakan lead wire.
3. Menghubungkan Ch1 (channel) osiloskop pada terminal keluaran emitter dengan
menggunakan kabel koaksial.
4. Menghubungkan Ch2 osiloskop pada terminal keluaran receiver dengan menggunakan
kabel koaksial.
5. Menyalakan emitter dan receiver. Menunggu 10-30 detik sebagai pemanasan alat agar
frekuensi modulasinya tetap.
6. Mengatur fokus laser sehingga membentuk lingkaran dengan diameter 3 mm pada
receiver.
7. Mengatur cermin pemantul agar sinar yang berasal dari emitter tepat berada pada
pusat cermin pemantul.
8. Mengatur posisi vertikal pada osiloskop sehingga Ch 1 dan Ch2 berada pada sumbu
horizontal yang sama.
9. Mengukur beda fase antara Ch1 dan Ch2 yang tertera pada osiloskop.
10. Mengulangi percobaan dengan mengubah-ubah jarak antara cermin pemantul dengan
emitter dan receiver.
11. Mencatat data pada tabel pengamatan
E. Pengolahan Data
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan besarnya kecepatan cahaya dapat
dihitung dengan 2 metoda yaitu metoda statistik dan metoda grafik.

1) Metoda statistik
Berdasarkan data-data yang sudah diperoleh dari hasil percobaan yang disajikan
dalam tabel pengamatan, maka untuk mencari besarnya kecepatan cahaya dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan :

jaraktempuh L
v= =
waktutempuh Δt

Tabel Hasil Perhitungan Nilai Kecepatan Cahaya

2
Δt v ( x 108 vv 7 vv
No. L1 (m) L2 (m) L(m) (x 10 (x 1014
(ns) m/s)
m/s) m2/s2)
1 0,718 0,728 1,446 4,4 3,3 4,3 18,49
2 0,720 0,730 1,450 4,6 3,2 3,3 10,89
3 0,722 0,734 1,456 4,8 3,0 1,3 1,69
4 0,723 0,733 1.,456 5,0 2,9 0,3 0,09
5 0,725 0,735 1,460 5,2 2,8 0,7 0,49
6 0,728 0,740 1,468 5,6 2,6 2,7 7,29
7 0,810 0,825 1,635 5,8 2,8 0,7 0,49
8 0,822 0,835 1,657 6,0 2,8 0,7 0,49
9 0,825 0,838 1,660 6,2 2,7 1,7 2,89
10 0,830 0,840 1,670 6,4 2,6 2,7 7,29
∑ 28,7 50,1

Maka rata-rata kecepatan cahaya yang didapat berdasarkan percobaan yang dilakukan
adalah:

v̄ =
∑ v =28 ,7 x 108 m/ s =2 ,87 x 108 m/s
n 10
2
50,1 ×1014
∆ v=

⅀|v −v́|
n ( n−1 )
=

90
=0,075 × 108 m/ s

Jadi besarnya nilai kecepatan cahaya berdasarkan pengolahan data dengan metode
statistik adalah
v=( v́ ± ∆ v ) =( 2,87 ±0,075 ) ×10 8 m/s

∆ v 0,075
dengan kesalahan relatif sebesar = × 100 %=2,61 %
v́ 2,87

Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan literatur adalah :


|vlitaratur −v percobaan| |2 ,998×10 8 m/s−2 ,945×10 8 m/s|
×100 %= ×100 %=1 ,77 %
v literatur 2 , 998×10 8 m/s

2) Metoda Grafik
Tabel Pengamatan

No. L1 (m) L2 (m) L(m) Δt (ns)


1 0,718 0,728 1,446 4,4
2 0,720 0,730 1,450 4,6
3 0,722 0,734 1,456 4,8
4 0,723 0,733 1.,456 5,0
5 0,725 0,735 1,460 5,2
6 0,728 0,740 1,468 5,6
7 0,810 0,825 1,635 5,8
8 0,822 0,835 1,657 6,0
9 0,825 0,838 1,660 6,2
10 0,830 0,840 1,670 6,4
Grafik hubungan L terhadap
Δt

B
Data1B
1,70 UCL
LCL
1,65

1,60
L(m)

1,55

1,50

1,45

4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5


t(ns)

Parameter Value Error


------------------------------------------------------------
A 0,81686 0,12465
B 0,13314 0,02291
------------------------------------------------------------

R SD N P
------------------------------------------------------------
0,89914 0,04806 10 4,00203E-4
------------------------------------------------------------

Dari grafik diatas diperoleh besar kecepatan cahaya sebesar:


v́=tan ∝
∆ v=∆ tan ∝
v=( v́ ± ∆ v ) =( 1,33± 0,023 ) ×108 m/s

∆ v 0,023
dengan kesalahan relatif sebesar = × 100 %=1,73 %
v́ 1,33

Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan literatur adalah :


|vlitaratur −v percobaan| |2 ,998×10 8 m/s−1 ,353×108 m/s|
×100 %= ×100 %=54 , 87%
v literatur 2 , 998×10 8 m/s
F. Analisis Data
Berdasarkan pengolahan data diperoleh bahwa besarnya kecepatan cahaya melalui
metode statistik adalah v=( v́ ± ∆ v ) =( 2,87 ±0,075 ) ×10 8 m/s dengan kesalahan relatif

∆ v 0,075
sebesar = × 100 %=2,61 %
v́ 2,87
Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan literatur adalah :

|vlitaratur −v percobaan| |2 ,998×10 8 m/s−2 ,945×10 8 m/s|


×100 %= ×100 %=1 ,77 %
v literatur 2 , 998×10 8 m/s
Sedangkan melalui metode grafik diperoleh besar kecepatan cahaya adalah
v=( v́ ± ∆ v ) =( 1,33± 0,023 ) ×108 m/s dengan kesalahan relatif sebesar

∆ v 0,023
= × 100 %=1,73 %
v́ 1,33
Persentase kesalahan jika dibandingkan dengan literatur adalah :

|vlitaratur −v percobaan| |2 ,998×10 8 m/s−1 ,353×108 m/s|


×100 %= ×100 %=54 , 87%
v literatur 2 , 998×10 8 m/s
Dari kedua hasil di atas, apabila dibandingkan dengan literatur yang besarnya sekitar
8
2,998×10 m/s ternyata berbeda sekali dan perbedaan itu sangat jauh. Setelah dianalisis
hal itu terjadi karena beberapa faktor sebagai berikut :
1. Kesalahan paralaks
2. Ketelitian alat ukur itu sendiri baik osiloskop maupun mistar
3. Sulit sekali untuk memfokuskan berkas sinar, sehingga grafik yang ditunjukkan pada
osiloskop kadang kabur.

G. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
 Besar kecepatan cahaya yang diperoleh dari hasil perhitungan berdasarkan hasil
percobaan yaitu v=( v́ ± ∆ v ) =( 2,87 ±0,075 ) ×10 8 m/s . Jika dibandingkan dengan
literatur, maka presentase kesalahannya sebesar 1,77%. Sedangkan kesalahan
relatifnya sebesar 2,61%.
 Besar kecepatan cahaya yang diperoleh dari grafik jarak tempuh terhadap beda fase
yaitu v=( v́ ± ∆ v ) =( 1,33± 0,023 ) ×108 m/s . Jika dibandingkan dengan literatur, maka
presentase kesalahannya sebesar 54,87%. Sedangkan kesalahan relatifnya sebesar
1,73%.

2. Saran
Saran dari saya adalah pola gelombang dari emiter dan gelombang dari receiver
pada osiloskop seharusnya fokus, sehingga saat pembacaan skala beda fase pada
osiloskop cukuk jelas dan dapat menambah ketelitian. Caranya gelombang yang
dipantulkan dari emiter oleh cermin pemantul diarahkan tepat ke receiver.

H. Daftar Pustaka
Haliday & Resnick (Terjemahan Pantur Silaban Ph.D). 1984. Fisika, Jilid 2, Edisi
Ketiga. Erlangga. Jakarta
Beiser, A. 1987. Konsep Fisika Modern, Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta
Buku Petunjuk Praktikum Fisika lanjut, Kecepatan cahaya, UPI, Bandung
Jawaban Tugas Akhir

1. Bila sumber cahaya berupa persamaan Y (t )= A sin( ωt ) tuliskan persamaan pada


receiver, serta terangkan arti fisis dari persamaan tersebut.
Jawab :

Apabila sumber cahaya berupa persamaan Y (t )= A sin( ωt ) maka persamaan pada

receiver adalah Y (t )= A sin( ωt−90 ) , persamaan Y (t )= A sin( ωt ) ini merupakan


persamaan pada emitter, berarti gelombang cahaya pada emitter dan receiver
mempunyai beda fase sebesar 900, Dua gelombang cahaya pada emitter dan receiver ini
dibentuk pada waktu yang tidak bersamaan, gelombang pertama (emitter) dibentuk
ketika cahaya laser diupancarkan oleh emitter, gelombang kedua (receiver) dibentuk
beberap saat setelah cahaya laser berjalan melalui lintasan optiknya, yaitu dari emitter
ke cermin pemantul dan diterima oleh receiver lalu gelombang kedua terbentuk

sehingga persamaan pada receiver Y (t )= A sin( ωt−90 ) , yang berarti gelombang


cahaya pada receiver ketinggalan beberapa saat dari gelombang cahaya pada emiiter
sehingga mempunyai beda fase tertentu.

2. Bagaimana cara menghitung kecepatan cahaya dengan grafik dari data saudara peroleh
Jawab :
Cara menghitung kecepatan cahaya dengan grafik dari data yang diperoleh yaitu, dari
percobaan yang kami lakukan maka kami memperoleh data panjang lintasan L 1
(panjang lintasan dari emitter ke cermin pemantul), dan panjang lintasan L2 (panjang
lintasan dari cermin pemantul ke receiver), maka dari data yang kami peroleh kami buat
grafik hubungan antara panjang lintasan (jarak tempuh) dengan beda fase , maka dari

L

grafik L = f( Δt ) kami menghitung kecepatan cahayat yaitu dengan mengukur
kemiringan garis (tangen)

L
tan α=
Δt
L=L1 +L2
Δt = waktu

3. Rumus apa yang saudara gunakan dari grafik diatas?


Jawab :
Rumus yang digunakan pada grafik diatas L = f( Δt ) yaitu dengan mengukur

L L1 + L2
=
kemiringan garis (tan α ). tan α = y/x = Δt Δt , sumbu y pada grafik ini

adalah jarak tempuh (L), dan sumbu x-nya adalah waktu ( Δt ).

4. Apakah sudut yang dibentuk oleh L1 dan L2 berpengaruh terhadap hasil perhitungan
kecepatan cahaya ?
Jawab :
Sudut yang dibentuk L1 dan L2 tidak berpengaruh pada hasil perhitungan kecepatan
cahaya, karena yang berpengaruh terhadap hasil perhitungan kecepatan cahaya adalah
jarak yang ditempuh cahaya dari emitter ke cermin dan dari cermin ke receiver sehingga

diperoleh selang waktu tertentu yaitu Δt .