Anda di halaman 1dari 2

IPRATROPIUM BROMIDA

adalah antagonis muskarinik (antikolinergik) yang secara struktur mirip dengan atropine tetapi
memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dan efektif pada penggunanaan inhalasi. Obat ini
merupakan bentuk garam bromide dari ipratropium, dimana bentuk sintetisnya berasal dari
turunan alkaloid atropine, dengan tambahan antikolinergik. Obat ini berwujut Kristal putih
hingga tidak berwarna yang dapat larut di dalam air dan methanol, namun tidak larut pada
pelarut lipofilik seperti eter, kloroform, dan fluorocarbon. Ipratropium memiliki eek antagonis
terhadap asetilkolin pada saraf parasimpatis, post ganglion, hingga effector-cell junction.

FARMAKODINAMIKA

1. Efek bronkodilatasi melalui penggunaan secara inhalasi yang ditimbulkan oleh


ipratropium bromide bersifat local, spesifik dan tidak memberikan efek sistemik
2. Ipratropium bromide dapat melawan kejadian bronkospasme yang diprovokasi,
didapatkan kesimpulan bahwa obat ini secara efektif mampu melawan agen kolinergik,
memberikan sedikit proteksi terhadap agen serotonin atau histamin, serta proteksi
moderat terhadap propranolol dan beberapa allergen
3. Ipratropium bromide secara minimal dapat menembus membrane mukosa nasal dan
gastrointestinal sehingga menurunkan resiko dari efek antikolinergik sistemik yang dapat
ditimbulkan seperti efek pada system saraf, mata, kardiovaskular, hingga gastrointestinal.
4. Ipratropium bromide tidak mempengaruhi bersihan mukosiliar pada saluran nafas, atau
volume dan viskositas dari sekresi saluran nafas. Obat ini juga tidak memberikan efek
perubahan ukuran pupil, daya akomodasi, hingga tajam penglihatan pada mata.
5. Studi ventilasi/perfusi menunjukan tidak adanya efek klinis yang cukup signifikan pada
penggunaan obat ipratropium bromide terhadap pertukaran gas oksigen di paru, maupun
perubahan tekanan oksigen dalam pembuluh darah arteri.
6. Pada pengunaa sesuai dosis yang dianjurkan, ipratropium bromide tidak memberikan
perubahan atau efek secara klinis yang siknifikan pada frekuensi nadi hingga tekenan
darah. Pemberian secara intravena pada 10 orang relawan pada dosis tertinggi hanya
memberikan rerata peninggkatan denyut nadi sebanyak 50 kali per menit dan perubahan
tekanan darah kurang dari 20 mmHg, baik pada tekanan sistolik maupun pada tekanan
diastolik.
7. Beberapa penelitian menunjukan bahwa ipratropium bromide menghasilkan efek klinis
yang lebih lambat dari golongan beta2-agonis, tetapi memiliki efek kerja lebih panjang
dari obat tersebut.
8. Beberapa studi menunjukan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara respon klinis
yang diberikan oleh ipratropium bromide terhadap pasien yang megalami asma, baik
asma yang disebabkan karena atopi maupun bukan atopi. Namun demikian, dilaporkan
bahwa obat antikoligernik ini memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan
beta2-agonis pada pasien dengan bronchitis kronis dan amfisema.
Obat beta2-agonis, obat ini akan mencapai efek klinis maksimum pada 1,5 hingga 2 jam
setelah pemberian dan memberikan efek klinis selama 4 hingga 6 jam setelah pemberian

FARMAKOKINETIKA

1. Sebagian besar dosis ipratropium bromide yang dihirup akan tertelan dan sebanyak 30%
dari dosis oral yang dikonsumsi akan terserap.
2. Obat ini dapat masuk ke dalam peredaran darah melalui jalur pembuluh darah dalam
saluran nafas di paru atau melalui saluran gastrointestinal.
3. Waktu paruh eliminasidari obat ini adalah 2 jam setelah pemberian secara inhalasi atau
intravena dan akan mencapai kadar tertinggi di dalam plasma pada 3 jam. Ipratropium
bromide memiliki kemampuan yang kecil sekali dalam berikatan dengan albumin plasma
atau α1-acid glycoprotein. Secara parsial obat ini akan di metabolisme menjadi produk-
produk hidrolisis ester yang inaktif, asam tropic dan tropan.
4. Pada pemberian jalur intravena, setengah dari dosis yang diberikan akan dikeluarkan
melalui urin tanpa dimetabolisme.
5. Ipratropium bromide yang diinhalasi akan dimetabolisme menjadi 8 metabolit dan di
ekresikan baik melalui feses maupun urin. Metabolit yang dihasilkan memiliki sedikit
hingga sama sekali tidak memberikan efek antikoligernik pada percobaan in vitro. Waktu
paruh eliminasi dar ipratropium dicapai pada 3,2 hingga 3,8 jam setelah pemberian pada
semua rute.
6. Studi autoradiografipada tikus menunjukan ipratropium bromide tidak dapat menembus
sawar darah otak.

interaksi obat

1. obat ini dapat berinterinteraksi dengan obat-obatan turunan xantin, stimulant adrenoreptor
beta, antikolinergik (penggunaan bersamaan dapat meningkatkan efek dari obat
antikolinergik).
2. Penghambat beta adrenergic (meningkatkan resiko terjadinya gangguan kardiovaskular)
3. Penghambat MOA dan antidepresan trisiklik (meningkatkan gangguan kardiovaskular,
penghentian penggunaan obat menghambat MOA/antidepresan trisiklik harus lebih dari 2
minggu sebelum dapat menggunakan ipratropium bromide) dan inhalasi hidrokarbon
halogenasi