Anda di halaman 1dari 17

POLITISASI AGAMA DI RUANG PUBLIK

PROPOSAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah

“METODE PENELITIAN SIYASAH”

Dosen pengampu :

Dr.Hj.Nur Fadhillah, S.H.I, M.H.

Oleh :

Hendri Wahyu Lestari (17104163081)

HTN C – SMT 6

JURUSAN HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS SYARIAH DAN ILMU HUKUM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

MARET 2019
POLITISASI AGAMA DI RUANG PUBLIK
Hendri Wahyu Lestari
17104163081

PROPOSAL

A. Latar Belakang Masalah


Perbedaan merupakan salah satu kata yang tidak dapat dipisahkan guna
mendefinisikan Indonesia. Beragam etnis, suku, budaya, dan kepercayaan
menjadi urat-urat nadi penyusun Indonesia. Mulai dari Sabang sampai
Merauke yang membentang di garis khatulistiwa setiap jengkal wilayahnya
mempunyai ragam corak budaya dan adat istiadat yang luar biasa banyaknya,
perbedaan etnis, suku bahkan bahasa yang digunakan. Dan pada akhirnya
dibingkai dengan apik menjadi sebuah negara yaitu Indonesia yang menaungi
berbagai keragaman tersebut.
Berangkat dari sejarahnya sendiri, Indonesia merupakan sebuah negeri
yang terbentuk dari kumpulan keragaman mulai dari adat istiadat, bahasa,
bahkan wilayah yang dipisahkan oleh lautan. Tentunya perjuangan untuk
menyatukan beragam perbedaan tersebut bukanlah hal yang mudah, terbukti
dari era kolonialisme di Indonesia yang bercokol hingga tiga setengah abad
lamanya bahkan masih ditambah kekuasaan Jepang selama tiga setengah
tahun. Kesadaran akan rasa persatuan dan kesatuanlah yang kemudian
mampu menjadikan Indonesia bangsa yang besar seperti sekarang ini.
Terlepas dari semua aspek perbedaan tersebut, nyatanya selama 73
tahun usianya, Indonesia mampu mengarungi tahun demi tahun hingga
menjadi bumi Indonesia yang kita pijak sekarang, meskipun tak dapat
dipungkiri berbagai badai yang disebabkan oleh adanya konflik dan
perselisihan mengenai berbagai perbedaan mulai dari ras, agama hingga
politik telah menggoncang. Namun bukan berarti itu semua lantas mampu
membuat kita berleha-leha karena ketegangan-ketegangan dari adanya
keragaman tersebut nyatanya masih menjadi kekhawatiran utama yang
mampu memecah belah kesatuan bangsa, karena pada kenyataannya dengan

1
2

adanya multikulturalisme juga dapat menjadi boomerang. Keberagaman


budaya (Multikulturalisme) yang ada di Indonesia menyebabkan bangsa
Indonesia sangat mudah untuk dipecah belah.1
Mengambil dari contoh aktual, dimana dua tahun terakhir Indonesia
telah dilanda sentimen agama yang cukup memprihatinkan dikarenakan
panasnya dunia perpolitikan. Berawal dari pemilihan gubernur di ibu kota
yang disinyalir telah melakukan penistaan pada agama tertentu dan pada
akhirnya menjembatani konflik antar agama yang bahkan masih sering
meluap kepermukaan hingga sekarang ini karena gesekan antara agama
dengan politik. Entah disadari maupun tidak gejolak tahun politik seringkali
membangunkan bibit-bibit konflik yang semula tidur nyenyak menjadi
kembali terusik. Segala cara dihalalkan demi sebuah kekuasaan bahkan yang
dirasa kurang etis sekalipun, seperti halnya memicu sentimen agama guna
menjatuhkan lawan.
Dari gesekan antara agama dengan politik tersebutlah, mulai muncul
suatu istilah baru yang kini tengah marak digunakan untuk menggait simpati
masyarakat yakni politisasi agama. Politisasi agama adalah politik manipulasi
mengenai pemahaman dan pengetahuan keagamaan/kepercayaan dengan
menggunakan cara propaganda, Indoktrinasi, kampanye, disebarluaskan,
sosialisasi dalam wilayah publik dilaporkan atau diinterpretasikan agar terjadi
migrasi pemahaman, permasalahan dan menjadikannya seolah-olah
merupakan pengetahuan keagamaan/kepercayaan, kemudian, dilakukan
tekanan untuk mempengaruhi konsensus keagamaan/kepercayaan dalam
upaya memasukkan suatu kepentingan kedalam sebuah agenda politik
pemanipulasian masyarakat atau kebijakan publik. Kerangka kajian tentang
politisasi agama awalnya bermuara dari perdebatan klasik antara agama (al-

1
Siti Faridah dan Jerico Mathias, Politisasi Agama Pemecah Keutuhan Bangsa dalam Pemilu,
Jurnal Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, Vol. 4 No. 3, (Semarang: Fakultas Hukum
Universitas Negeri Semarang, 2018), hlm. 495.
3

din) dan negara (al-daulah) dalam kajian politik Islam (al-islam al-shiyasi
atau siyasah syar’iyyah) yang terus berkembang sampai saat ini.2
Berawal dari perdebatan antara agama dengan negara hingga merambah
ke area politik sampai akhirnya melahirkan politisasi agama yang digunakan
sebagai umpan ideologi politik tertentu yang berkedok loyalitas keagamaan.
Politisasi agama memang pada awalnya tak terlalu nampak berbahaya
ataupun dianggap remeh karena memang tak berdampak secara langsung,
namun merongrong secara berlahan-lahan lewat dokrin-doktrin agama yang
otomatis diserang adalah sebuah pemikiran dan ideologi keagamaan.
Sehingga secara tidak langsung dengan latar belakang pemikiran akan
loyalitas terhadap agama yang dianutnya maka para pemeluk keyakinan ini
akan merasa mempunyai kewajiban untuk mempertahankan eksistensi
agamanya dengan memilih figur-figur pemimpin yang sekiranya memiliki
kesamaan keyakinan dan aqidah dari agama yang dipeluk.
Namun yang cukup meprihatinkan sekarang ini, politisasi agama
tersebut meluas bukan hanya pada aspek kesamaan kepercayaan yang dianut,
penggunaan simbol-simbol agama guna menarik minat masyarakat pun mulai
marak yang bahkan tidak mengenal tempat, pengindoktrinasian serta
kampanye terselubung bahkan menyasar tempat-tempat ibadah maupun
forum-forum keagamaan sampai pada tempat pendidikan sekalipun, yang
seharusnya ruang-ruang publik tersebut memang hanya dikhususkan untuk
kegiatan dan pengkajian keagamaan dan menuntut ilmu bukannya malah
beralih fungsi ataupun diselewengkan untuk kegiatan politik yang mana
tentunya telah mencederai kesakralan tempat ibadah serta kajian ilmu dan
agama.
Mirisnya lagi pengkultusan figur calon pemimpin juga tengah menjadi
trend dalam penggunaan politisasi agama ini. Para elit politik mulai
berlomba-lomba membentuk dan menyajikan figur-figur pemimpin yang
menawarkan pribadi yang saleh (taat beragama), yang kadang tanpa disadari
melahirkan kefanatikan oleh para pendukungnya yang begitu mensucikan
2
Mohammad Supriyadi, Politisasi Agama di Ruang Publik: Komunikasi SARA dalam Perdebatan
Rational Choice Theory, Jurnal Keamanan Nasional Vol. 1, No. 3, (Jakarta: Pusat Kajian
Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara, 2015), hlm. 288.
4

figur pemimpin tersebut hingga mereka bahkan melupakan pentingnya visi


misi kepemimpinan dari calon pemimpin itu sendiri, padahal sejatinya apa
yang hendak dituju dalam sebuah kepemimpinan beberapa tahun kedepan
justru merupakan faktor terpenting.
Dalam Pasal 280 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017
tentang Pemilihan Umum telah dimuat mengenai larangan akan adanya
politisasi agama ini, terutama ditekankan dalam poin c, d dan h yang memuat
larangan:
c. menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan/atau Peserta
Pemilu lain;
d. menghasut atau mangadu domba perseorangan atau masyarakat;
h. menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan;
(untuk kepentingan politik).3

Dari beberapa poin diatas telah jelas bahwa adanya politisasi agama
merupakan suatu bentuk pelanggaran hukum, dengan ancaman pidana penjara
maksimal 2 (dua tahun) dan denda paling banyak Rp24.000.00,00 (dua puluh
empat juta rupiah).4 Namun karena politisasi agama ini bisa dikatakan
mengindoktrinasi pikiran dari penganut suatu agama/kepercayaan dengan
strategi menggait atau bahkan menciptakan tokoh-tokoh keagamaan dan
masyarakat untuk kesan menutupi kedok politiknya maka sulit bagi
masyarakat awam untuk bisa mendeteksi dan menyadari secara cepat akan
tujuan sebenarnya. Terutama karena masyarakat Indonesia sendiri yang
terkadung terdoktrin dengan pemikiran bahwa tokoh-tokoh agama atau sosok
yang lebih religius ini merupakan orang-orang yang terkesan pasti akan
kebenarannya dan harus dimuliakan. Sehingga dengan alasan pensucian figur
dan tingkat kefanatikan yang tinggi membuat mayoritas masyarakat awam

3
Pasal 280 Ayat (1)
4
Pasal 521
5

kurang memiliki kepekaan akan adanya maksud dan tujuan politik


didalamnya.
Dalam hal ini perlu adanya tindak pengawasan yang lebih tegas dari
pemerintah untuk setidaknya semakin menipiskan akses penggunaan ruang
publik untuk kepentingan yang berakhir pada politisasi agama. Selain itu dari
masyarakat sendiri perlu meningkatkan kewaspadaan pada indoktrinasi serta
kampanye-kampanye terselubung semacam ini. Kepekaan dan sikap kritis
diperlukan guna menghindari paham-paham yang pada akhirnya melahirkan
fanatik buta yang mengikis rasa toleransi. Bukan berarti dengan adanya sikap
waspada ini lantas menimbulkan sikap antipati kepada tokoh-tokoh
keagamaan namun lebih kepada tidak menelan mentah-mentah setiap
khotbah-khotbah yang disampaikan terutama perbincangan mengenai dunia
perpolitikan. Hendaknya masyarakat cerdas dalam memilah mana kiranya
yang baik untuk diterapkan dalam pribadinya dan yang harus
dikesampingkan.

B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah


Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat
diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bentuk-bentuk politisasi agama yang menyalahi Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum
2. Dampak politisasi agama di ruang publik terhadap kegaduhan di
masyarakat
3. Kurangnya upaya pengawasan pemerintah terhadap politisasi agama yang
terjadi di ruang publik
6

Dari masalah yang sudah diidentifikasi, maka penelitian ini dibatasi


pada masalah sebagai berikut:
1. Politisasi agama di ruang publik yang menyalahi Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan menimbulkan kegaduhan di
masyarakat
2. Upaya pengawasan pemerintah terhadap politisasi agama yang terjadi di
ruang publik

C. Rumusan Masalah
1. Apa saja bentuk-bentuk politisasi agama yang menyalahi Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum?
2. Bagaimana dampak politisasi agama di ruang publik terhadap
kegaduhan di masyarakat?
3. Bagaimana upaya pengawasan pemerintah terhadap politisasi agama
yang terjadi di ruang publik?

D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk politisasi agama yang menyalahi
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
2. Untuk mengetahui dampak politisasi agama di ruang publik terhadap
kegaduhan di masyarakat.
3. Untuk mengetahui upaya pengawasan pemerintah terhadap politisasi
agama yang terjadi di ruang publik.

E. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian dan pembahasan yang terdapat dalam penulisan ini
diharapkan dapat dijadikan sebagai penelitian awal yang berguna bagi
penelitian-penelitian selanjutnya. Selain itu diharapkan dapat memberikan
sumbangan pengetahuan pada khasanah ilmu hukum tentang politisasi
agama.
2. Kegunaan Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dan sumber
informasi mengenai bagaimana politisasi agama di ruang publik.

F. Penegasan Istilah
7

Untuk memudahkan dalam memahami judul penelitian tentang


“Politisasi Agama di Ruang Publik”, maka penulis memandang perlu untuk
memberikan penegasan dan penjelasan seperlunya, sebagai berikut:
1. Politisasi agama berarti “upaya untuk menjadikan agama sebagai alat
untuk meraih tujuan politik”.5 Politisasi agama yang dimaksud disini
adalah bentuk-bentuk politisasi yang dilakukan di ruang publik.
2. Ruang publik berarti “ruang yang dipakai untuk keperluan bersama, ruang
sosial yang umumnya terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja”.6 Ruang
publik yang dimaksud disini berarti tempat-tempat umum, misal tempat
ibadah atau pendidikan yang diselewengkan dalam bentuk politisasi
agama.
Berdasarkan penegasan istilah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
“Politisasi Agama di Ruang Publik adalah bentuk-bentuk penyelewengan
fungsi tempat-tempat umum dengan upaya menjadikan agama sebagai alat
untuk meraih tujuan politik”.

G. Kajian Pustaka
Agama dan Politik adalah dua kata yang tak dapat dilepaskan dari
terbentuknya istilah politisasi agama. Agama dari segi bahasa, yang dimaksud
di dalam adalah sesuatu yang berhubungan dengan ajaran, sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan), dan peribadatan kepada Tuhan Yang

5
Kamus Politik, Politisasi Agama, https://www.maknaa.com/politik/politisasi-agama, diakses
Jum’at, 8 Maret 2019, pukul 15:53 WIB.
6
Kbbi Daring, Ruang Publik, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ruang%20publik, diakes Jum’at 8
Maret 2019, pukul 16:00 WIB.
8

Maha Kuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
dan manusia serta lingkungannya.7
Sedangkan, agama dalam kenyataannya untuk membuatkan suatu
definisi memang tidaklah mudah. Hal ini lebih di karenakan definisi yang
diajukan oleh para ahli sosiologi tersebut sangat ditentukan oleh sudut
pandang dari masing-masing agama dan latar belakangnya. Kesulitan ini
lebih disebabkan karena agama itu merupakan hal yang bersifat abstrak,
karena agama menyangkut system kepercayaan, sistem nilai/norma dan
sistem ritus, di mana setiap agama mempunyai pola dan komponen yang
berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Sehingga ada beberapa alasan
mengapa kemudian istilah agama ini menjadi sulit untuk didefinisikan.
Beberapa alasan tersebut, antara lain:
1. Karena pengalaman keagamaan itu adalah soal batiniyah dan sangat
subjektif serta bersifat individualistis.
2. Tidak ada orang yang berbicara begitu bersemangat dan emosional lebih
dari pada membicarakan soal agama, maka dalam membahas arti agama
selalu ada emosi yang kuat sehingga sulit memberikan arti kata agama itu.8
3. Konsepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan orang yang memberikan
pengertiaan agama sehingga kerapkali ada perbuatan tujuan diantara para
ahli tentang makna agama itu.

Di samping itu, agama juga dikenal dengan Istilah din dan religi yang
pada umumnya dianggap memiliki pengertian yang sama dengan agama.
Dalam terminologi Arab, agama biasa disebut dengan kata al-Din atau al-
Millah. Sebagaimana agama, kata al-Din mengandung berbagai arti. Al-Din
atau al-Millah yang berarti “mengikat”, maksudnya adalah mempersatukan
segala pemeluknya dan mengikat dalam satu ikatan yang erat. 9 Al-Din juga
berarti undang-undang yang harus dipatuhi. Namun al-Din yang biasa
diterjemahkan dengan “agama”, menurut Guru Besar Al-Azhar Syaikh
Muhammad Abdullah Badran, adalah menggambarkan suatu hubungan antara

7
Kbbi Daring, Agama, https://kbbi.web.id/agama, diakses Jum’at, 8 Maret 2019, pukul 19:02
WIB.
8
Mukti Ali, Agama dan Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Depag-RI, 1972), hlm. 48.
9
Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1952, hlm. 50.
9

dua pihak di mana pihak yang pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi
daripada yang kedua. Dengan demikian, agama merupakan hubungan antara
manusia dan tuhannya. Hubungan ini terwujud dalam sikap batin serta
tampak dalam praktik ibadah/ritual yang dilakukannya, untuk kemudian
tercermin dalam sikap dan perbuatan keseharian individu tersebut.10 Al-Din
yang berarti agama itu bersifat umum, artinya tidak ditujukan kepada salah
satu agama tertentu.11 Selain itu kata agama juga dapat disamakan dengan
kata religion (Inggris), atau religie (Belanda) yang keduanya berasal dari
bahasa latin, religio, dari akar kata religare yang memiliki arti “mengikat”.12
Dengan mengacu pada beberapa pengertian di atas maka, dapat
dicermati bahwa, agama yang dipercaya sebagai sebuah sistem kepercayaan
dan praktik memiliki potensi untuk membentuk sebuah masyarakat yang etis,
yang diikat oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dianut bersama.
Politik dalam bahasa Arabnya disebut “Siyasah” atau dalam Bahasa
Inggrisnya “Politics”. Politik itu sendiri berarti cerdik atau bijaksana.13
Sementara, Ilmu politik adalah, ilmu yang mempelajari asal mula, bentuk-
bentuk, proses negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan. Ilmu politik
pada dasarnya mempunyai ruang lingkup negara. Membicarakan politik
lazimnya adalah membicarakan negara, karena teori politik menyelidiki
negara sebagai lembaga politik yang mempengaruhi hidup masyarakat. Selain
itu, ilmu politik juga menyelidiki ide-ide, issue, asas-asas, sejarah
pembentukan negara, hakikat negara serta bentuk dan tujuan negara,
disamping menyelidiki hal-hal seperti pressure group, interest group, elit
politik, pendapat umum (public opinion), peranan partai politik dan pemilihan

10
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam masyarakat,
(Bandung: Mizan,1997), hlm. 210.
11
Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 6.
12
Ibid.
13
Inu Kencana Syafiie, Ilmu Politik , (Jakarta: PT. Rieneka Cipta,1997), hlm. 18.
10

umum.14 Menurut Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah, Siyasah Syariyah


sesungguhnya merupakan dakwah seruan sistemik (manhajiyah) yang
berbalik dari hukum buatan manusia menuju pada hukum transendental dari
Allah Swt, yang didalamnya berisikan pula rincian terhadap penerapan
hukum ini dalam kehidupan manusia.15
Asal mula kata politik itu sendiri berasal dari kata “Polis” yang berarti
“Negara Kota” dengan politik berarti ada hubungan itu khusus antara manusia
yang hidup bersama, dalam hubungan itu timbul aturan, kewenangan, dan
akhirnya kekuasaan. Politik bisa juga dikatakan sebagai kebijaksanaan,
kekuatan, kekuasaan, pemerintahan, konflik dan pembagian atau kata-kata
yang serumpun (Hoogerwerf).16

H. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian terdahulu ini diharapkan peneliti dapat melihat
perbedaan antara penelitian yang telah dilakukan dengan penelitian yang
dilakukan. Selain itu, juga diharapkan dalam penelitian ini dapat diperhatikan
mengenai kekurangan dan kelebihan antara penelitian terdahulu dengan
penelitian yang dilakukan.
Penelitian pertama adalah penelitian oleh Ayu Dwi Syahputri Hutasuhut
(UIN Sumatera Utara, 2018), dalam skripsi “Politisasi Agama dalam
Pemilihan Kepala Desa (Studi terhadap Pemilihan Kepala Desa Laut
Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan Periode 2016-2022)”. Dalam Islam,
politik (siyasah) adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri.
Politik dilaksanakan oleh Negara dan umat, karena negaralah yang secara
langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat
mengawasi Negara dalam pengaturan tersebut. Politik Islam berarti
pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam.
Definisi ini juga diambil dari hadits-hadits yang menunjukkan aktivitas
penguasa, kewajiban mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan
kaum muslimin. Dengan begitu, menggunakan agama sebagai dasar dalam
berpolitik bukanlah politisasi agama. Yang layak disebut sebagai “politisasi
14
Ibid.
15
Ibnu Taimiyah, Siyasah Syariyah, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), hlm. 10.
16
Inu Kencana Syafiie, Ilmu Politik, hlm. 19.
11

agama” adalah mereka yang memanfaatkan agama untuk kepentingan


sementara dalam memenangkan pemilihan lalu, setelah pemilihan
dimenangkan, agama pun akhirnya ditanggalkan.17
Penelitian kedua adalah penelitian oleh Muhammad Fauzan Naufal
(UIN Raden Intan Lampung, 2017), dalam skripsi “Hubungan Agama dan
Negara dalam Pemikiran Politik Islam di Indonesia (Analisis Pemikiran
Politik Bahtiar Efendy)”. Hubungan antara Islam dan negara di Indonesia
pada sebagaian besar babakan sejarahnya adalah kisah antagonis dan
kecurigaan satu sama lain. Hubungan yang tidak mesra ini terutama, tapi
tidak seluruhnya, disebabkan oleh perbedaan pandangan pada pendiri
Republik Indonesia yang sebagian besarnya umat Muslim mengenai hendak
dibawa kemanakah negara Indonesia yang baru merdeka. Salah satu butir
terpenting dalam perbedaan pendapat di atas itu adalah apakah negara ini
bercorak “Islam” atau “nasionalis”.18
Dari kedua penelitian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perbedaannya dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah letak
obyek kajiannya. Penelitian pertama menitikberatkan kepada kajian politisasi
agama yang terjadi dalam pemilihan kepala desa (Laut Dendang), sementara
penelitian kedua menjelaskan mengenai teori klasik hubungan antara agama
dengan negara yang disandingkan dengan kepentingan politik, adapun
penelitian kali ini memfokuskan kepada kajian politisasi agama yang terjadi
dalam lingkup ruang publik yang lebih luas dan umum. Sedangkan kesamaan
dari penelitian yang telah dilakukan oleh Ayu Dwi Syahputri Hutasuhut dan

17
Ayu Dwi Syahputri Hutasuhut, Politisasi Agama dalam Pemilihan Kepala Desa (Studi terhadap
Pemilihan Kepala Desa Laut Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan Periode 2016-2022),
(Sumatera Utara: UIN Sumatera Utara, 2018), hlm. 47-48.
18
Muhammad Fauzan Naufal, Hubungan Agama dan Negara dalam Pemikiran Politik Islam di
Indonesia (Analisis Pemikiran Politik Bahtiar Efendy), (Lampung: UIN Raden Intan, 2017), hlm. 5.
12

Muhammad Fauzan Naufal dengan penelitian ini adalah lebih mengacu


kepada sumber dan dasar hukum yang digunakan.

I. Metode Penelitian
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan
analisa dan kontruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan
konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu,
sistematis berarti berdasarkan pada suatu sistem dan konsisten berarti tidak
adanya hal-hal yang bertentangan dengan kerangka tertentu. 19 Adapun dalam
membahas permasalahan dalam penelitian seperti yang dikemukakan
perlukan atau dipakai sebagai materi melalui beberapa cara, yaitu seperti
berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat
deskriptif karena bermaksud menggambarkan secara jelas dan sistematis
tentang berbagai hal yang terkait dengan objek yang diteliti, yaitu
bagaimana politisasi agama yang terjadi di ruang publik yang akan diteliti
dan bagaimana upaya pemerintah dalam pengawasan terjadinya politisasi
agama di ruang publik tersebut.
2. Sumber dan Jenis Data
Penelitian ini menggunakan jenis data yang berasal dari data
sekunder yaitu data utama yang diperoleh melalui kajian bahan pustaka,
yang meliputi berbagai dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan
objek yang diteliti. Dalam penelitian ini data tersebut berupa bentuk-
bentuk politisasi agama yang terjadi di ruang publik secara langsung
maupun lewat media sosial.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode ini dipergunakan untuk mengumpulkan data sekunder, yang
diperlukan dalam penelitian ini akan dikumpulkan melalui studi
kepustakaan. Dimana pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara
mencari, mencatat, mengiventarisasi dan mempelajari data-data sekunder.
4. Metode Analisis Data
Data-data yang telah diperoleh kemudian akan dianalisis dengan cara
normatif kualitatif, yaitu dengan suatu pembahasan yang dilakukan dengan
19
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 2.
13

cara menafsirkan dan mendiskusikan data yang telah diperoleh dan diolah,
berdasarkan norma-norma hukum, doktrin-doktrin hukum, dan teori ilmu
hukum yang telah ada kemudian akan didiskusikan dengan data yang telah
diperoleh dari objek yang diteliti sebagai suatu kesatuan yang utuh,
sehingga pada tahap akhir dapat ditemukan hukum in concreto-nya.

J. Sistematika Pembahasan
Penulisan penelitian ini disusun secara sistematis dan secara berurutan
sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan terarah, adapun
sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini meliputi tinjauan umum tentang bentuk-bentuk politisasi agama,
tinjauan umum tentang politisasi agama di ruang publik yang berdampak
menimbulkan kegaduhan di masyarakat, dan tinjauan umum tentang
pengawasan pemerintah terhadap politisasi agama yang terjadi di ruang
publik.

BAB III PEMBAHASAN


Bab ini berisi uraian data penelitian, sekaligus analisa peneliti terhadap data-
data atau bahan-bahan hukum sesuai dengan permasalahan yang dikaji pada
penelitian ini.
14

BAB IV PENUTUP
Bab ini merupakan bab akhir dalam penulisan penelitian ini yang berisikan
kesimpulan dan saran. Kesimpulan adalah uraian peneliti mengenai hal-hal
yang dapat disimpulkan berdasarkan pembahasan serta analisa yang telah
dirumuskan pada bab sebelumnya. Sedangkan saran berupa rekomendasi
kepada pihak-pihak yang bersangkutan sesuai, dengan hasil kesimpulan
yang telah diuraikan sebelumnya.

K. Kerangka Pembahasan (Outline) Sementara


Untuk lebih mudah dalam melakukan pembahasan, penganalisisan, serta
penjabaran isi dari penelitian, maka penulis menyusun sistimatika dalam
penulisan ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
F. Kerangka Pemikiran
G. Metode Penelitian
H. Sistematika Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. TINJAUAN UMUM TENTANG BENTUK-BENTUK POLITISASI
AGAMA
1. Pengertian Politisasi Agama
2. Bentuk-Bentuk Politisasi Agama
B. TINJAUAN UMUM TENTANG DAMPAK POLITISASI AGAMA
DI RUANG PUBLIK
1. Bentuk Politisasi Agama di Ruang Publik
2. Dampak Politisasi Agama di Ruang Publik
15

C. TINJAUAN UMUM TENTANG UPAYA PENGAWASAN


PEMERINTAH TERHADAP POLITISASI AGAMA DI RUANG
PUBLIK
1. Upaya Pengawasan Pemerintah terhadap Politisasi Agama di
Ruang Publik
2. Peran Serta Masyarakat dalam Pengawasan Politisasi Agama di
Ruang Publik

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Dalam hal ini akan diuraikan mengenai bentuk-bentuk politisasi
agama yang tejadi di ruang publik yang berdampak terhadap kegaduhan di
masyarakat serta pengawasan pemerintah terhadap politisasi agama yang
terjadi di ruang publik.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

L. Daftar Rujukan Sementara

Ali, Mukti. 1972. Agama dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Depag-RI.

Ash-Shiddieqy, Hasbi. 1952. Al-Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Kahmad, Dadang. 2000. Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Shihab, Quraish. 1997. Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam
masyarakat. Bandung: Mizan.

Syafiie, Inu Kencana. 1997. Ilmu Politik. Jakarta: PT. Rieneka Cipta.

Taimiyah, Ibnu. 1995. Siyasah Syariyah. Surabaya: Risalah Gusti.

Waluyo, Bambang. 2008. Penelitian Hukum Dalam Praktek. Jakarta: Sinar


Grafika.

Faridah, Siti dan Jerico Mathias. 2018. Politisasi Agama Pemecah Keutuhan
Bangsa dalam Pemilu. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Negeri
16

Semarang, Vol. 4 No. 3. Semarang: Fakultas Hukum Universitas


Negeri Semarang.

Supriyadi, Mohammad. 2015. Politisasi Agama di Ruang Publik: Komunikasi


SARA dalam Perdebatan Rational Choice Theory. Jurnal Keamanan
Nasional Vol. 1, No. 3. Jakarta: Pusat Kajian Keamanan Nasional
Universitas Bhayangkara.

Hutasuhut, Ayu Dwi Syahputri. 2018. Politisasi Agama dalam Pemilihan Kepala
Desa (Studi terhadap Pemilihan Kepala Desa Laut Dendang
Kecamatan Percut Sei Tuan Periode 2016-2022). Sumatera Utara:
UIN Sumatera Utara.

Naufal, Muhammad Fauzan. 2017. Hubungan Agama dan Negara dalam


Pemikiran Politik Islam di Indonesia (Analisis Pemikiran Politik
Bahtiar Efendy). Lampung: UIN Raden Intan.

Pasal 280 Ayat (1) UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Pasal 521 UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Kamus Politik. Politisasi Agama. https://www.maknaa.com/politik/politisasi-


agama. diakses Jum’at, 8 Maret 2019, pukul 15:53 WIB.

Kbbi Daring. Agama. https://kbbi.web.id/agama. diakses Jum’at, 8 Maret 2019,


pukul 19:02 WIB.

Kbbi Daring. Ruang Publik. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ruang%20publik.


diakes Jum’at 8 Maret 2019, pukul 16:00 WIB.