Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Tertutup Lengan Regio Antebrachii Satu sepertiga Distal Dextra

Sancia Nathania Legenie Banuang


102014169
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Arjuna Utara No.16 Jakarta Barat
Email : sancia.2014fk169@civitas.ukrida.ac.id

Abstract
In the human body there are skeletons composed of cartilage and bone hard. Cartilage is contained
in the ears and nose and hard bones to the human skeleton and no joints stringing these bones. And
bone can also menglami fracture or broken bone can be caused due to various classification
consists of three: traumatic fractures, stress fractures and pathological fractures. Fractures also
entered into four types of fractures: colles, galleazi, smith, bartoon. And examination of fracture
is rontent photos, and management depends on the severity of the patients experienced fractures.

Keywords: fracture, the bone, the type of fracture

Abstrak

Dalam tubuh manusia terdapat kerangka yang terdiri dari tulang rawan dan tulang keras. Tulang
rawan yang dimaksud terdapat di telinga dan hidung dan tulang keras untuk kerangka tubuh
manusia dan ada sendi-sendi yang merangkai tulang tersebut. Dan tulang juga dapat menglami
adanya fraktur atau patah tulang yang dapat disebabkan karena berbagai klasifikasi terdiri dari tiga
: fraktur trauma, fraktur stress dan fraktur patologis. Fraktur juga di masukkan ke dalam empat
jenis fraktur : colles, galleazi, smith, bartoon. Dan pemeriksaan untuk fraktur adalah foto rontent,
dan tatalaksana tergantung berat tidaknya fraktur yang dialami pasien.

Kata kunci : fraktur, tulang, jenis fraktur

1 | BLOK 14
Pendahuluan

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.1 trauma yang
menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah
yang menyebabkan patah radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh
bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah. Akibat trauma
pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Trauma tajam yang langsung
atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah juga.1

Makalah ini diharapkan dapan membantu penulis dan pembaca mengerti mengenai fraktur di regio
antebrachii satu per tiga distal dextra dalam hal anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, working diagnosis, differential diagnosis, etiologi, faktor risiko,
epidemiologi, patofisiologi, penatalaksanaan, pencegahan, dan prognosis. Dengan demikian,
penanganan dalam kasus fraktur tersebut dapat dilakukan dengan baik.

Pembahasan

Anamnesis

Anamnesis adalah wawancara yang dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis penyakit
tertentu. Anamnesis memiliki tujuan untuk menentukan diagnosis kemungkinan sehingga
membantu menentukan langkah pemeriksaan selanjutnya, termasuk pemeriksaan fisik dan
penunjang. Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap
keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk
diwawancarai.

Melalui keluhan pasien yang tercantum pada scenario yaitu seorang wanita berusia 60 tahun,
dibawa keluarga ke UGD RS dengan keluhan nyeri pada lengan bawah sebelah kanan, setelah
jatuh terduduk di kamar mandi dan posisi tangannya menahan berat tubuhnya 2 jam yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dalam batas normal. Tampak adanya edema dan
deformitas pada region antebrachii dextra 1/3 distal. Pada palpasi, teraba penonjolan fragmen
tulang, nyeri tekan positif dan tidak dapat digerakan.

Dari keluhan-keluhan tersebut dan dasar teori dari anamnesis, maka dapat diketahui data-
data sebagai berikut :

2 | BLOK 14
 Keluhan utama : nyeri pada lengan bawah sebelah kanan, setelah jatuh terduduk di kamar

mandi dan posisi tangannya menahan berat tubuh

 Keluhan penyerta : tidak diketahui

 Umur : 60 tahun

 Jenis kelamin : wanita

 Lokasi nyeri : lengan bawah sebelah kanan

 Onset : sejak 2 jam yang lalu

 Faktor penyebab : jatuh duduk dengan tangan menahan badan

 Riwayat penyakit dahulu : tidak diketahui

 Riwayat penyakit keluarga dan sekitar : tidak diketahui

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis yang
memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Pada pemeriksaan ini, dapat
ditentukan lokalisasi dan sifat-sifat dari suatu penyakit.Dalam kasus ini,pasien datang dengan
kesakitan pada lengan kanan sebelah bawah, maka pemeriksaan lengan bawah secara
menyeluruh harus dilakukan oleh dokter. Pada pemeriksaan fisik kita lakukan dengan primary
survey dan secondery survey. Primary survey dilakukan dengan mengetahui keadaan umum
pasien, sedangkan secondery survey untuk mengetahui gerakan pasien apakah masih dianggap
normal atau tidak. Kedua pemeriksaan diatas dapat kita lakukan dengan:2
look (inspeksi),
 Melihat posisi tangan dalam keadaan wajar (sedikit fleksi dan paralel)
 Melihat permukaan dan kontur tangan dorsal dan palmar (pergelangan tangan, tangan,
jari, tenar dan hipotenar)
 Melihat ada atau tidaknya pembengkakan pada sendi dan deformitas pergelangan tangan,
tangan dan jari.

3 | BLOK 14
feel (palpasi),
 meraba permukaan dorsal dan palmar karpal (MCP, PIP, DIP)
 meraba processus styloideus radii.

move(gerakan),
 melakukan gerakan palmar fleksi, dorso fleksi, eversi dan inversi pergelangan tangan
 melakukan gerakan digiti I manus: abduksi, adduksi dan oposisi.
Perlu untuk diketahui bahwa auskultasi tidak dapat dilakukan dalam pemeriksaan fisik tulang
karena keras.2
Pemeriksaan Penunjang

Untuk menegakan suatu diagnosis maka diperlukan pemeriksaan penunjang. Pada kasus
ini dimana seorang wanita 60 tahun terjatuh dikamar mandi dengan posisi tangan menahan berat
badan, dicurigai wanita tersebut mengalami fraktur antebrachii. Oleh karena itu dilakukan
pemeriksaan penunjang dengan pemeriksaan radiologi berupa foto rontgen.

Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik, diagnosis dapat dibuat secara klinis,
sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar
untuk tindakan selanjutnya.3

Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan gejala klasik memang diagnosanya harus
dibantu dengan pemeriksaan radiologis baik rontgen biasa ataupun pemeriksaan yang lebih
canggih seperti MRI. Foto rontgen minimal harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral. Posisi AP dan
lateral harus benar-benar AP dan lateral. Karena posisi yang salah akan memberikan interpretasi
yang salah.3

Pada foto polos AP dan lateral atau dua proyeksi yang saling tegak lurus tampak gambaran
garis diskontinuitas tulang (bisa berupa garis fraktur yang lusen) pada struktur tulang normal, utuh,
padat, tidak tampak porotik, periosteum tampak licin. Selain itu pada sekitar fraktur juga dapat
ditemui soft tissue swelling.4

Gambar 1. Foto Rontgen AP / Lateral.4

4 | BLOK 14
Working Diagnosis

Pada pasien dengan riwayat trauma yang perlu ditanyakan adalah waktu terjadinya, cara
terjadinya, posisi penderita dan lokasi trauma. Bila tidak ada riwayat trauma berarti merupakan
fraktur patologis. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang,didapatkan diagnosa pasti
kondisi pasien yaitu adanya Fraktur Tertutup Antebrachii Dextra 1/3 Distal. Fraktur adalah patah
tulang, putusnya kontinuitas dari tulang, tulang rawan sendi atau tulang rawan epifisis. Pasien
datang dengan keluhan nyeri pada lengan bawah sebelah kanan dan setelah pemeriksaan fisik
dilakukan,didapatkan status lokalis pada pasien diregio antebrachii dextra 1/3 distal nyeri, ada
deformitas dan edema, serta penonjolan fragmen tulang dan tidak dapat digerakkan. Diagnosis
diperkukuh dengan foto Rontgen di bagian sendi yang sakit dan jelas terlihat adanya fraktur di
antebrachii 1/3 distal dextra pasien.Fraktur ini dikatakan sebagai tertutup karena kulit di atasnya
utuh dan bila terdapat luka pada kulit di atasnya disebut fraktur terbuka (compound fracture).5
Differential Diagnosis

Pada fraktur tertutup antebrachii dextra 1/3 distal terdapat beberapa macam fraktur: fraktur
monteggia, fraktur galeazzi, fraktur colles, fraktur smith. Karena hasil rontgen pasien tidak ada,
belum bisa dipastikan fraktur jenis apa yang diderita oleh pasien.6

Fraktur Monteggia

Gambar 2. Gambaran radiologis fraktur monteggia.6

Fraktur monteggia adalah fraktur ulna sepertiga tengah atau proksimal dengan disertai
dislokasi caput radii. Caput radii dapat bergeser ke anterior, posterior, atau lateral, dan pada
beberapa keadaan baik radius maupun ulna dapat mengalami fraktur.6 Terdapat klasifikasi dari
fraktur monteggia ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.7

5 | BLOK 14
Gambar 3. Fraktur monteggia tipe I: angulasi fraktur ulna ke depan
dan dislokasi caput radii ke depan.7

Gambar 4. Fraktur monteggia tipe II: angulasi fraktur ulna ke belakang


dan dislokasi caput radii ke belakang.7

Gambar 5. Fraktur monteggia tipe III: fraktur metafisis ulna


proksimal dan dislokasi caput radii ke samping.7

Gambar 6. Fraktur monteggia tipe IV: dislokasi caput radii ke depan


dan fraktur tulang radius dan ulna.7

6 | BLOK 14
Penyebab fraktur ini biasanya trauma langsung terhadap ulna, misalnya sewaktu
melindungi kepala pada pukulan, sehingga disebut patah tulang tangkis.2

Fraktur Galeazzi

Gambar 7. Gambaran radiologis fraktur galeazzi.6

Fraktur galeazzi adalaah fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi articulatio
radioulnaris distalis.6 Terjadinya fraktur ini biasanya akibat trauma langsung sisi laterial ketika
jatuh.2

Fraktur Colles

Gambar 8. Gambaran radiologis fraktur colles.8

Fraktur colles adalah fraktur metafisis distal radius, biasanya terjadi 3 sampai 4 cm dari
permukaan sendi dengan angulasi volar apeks fraktur, dislokasi fragmen distal ke arah dorsal, dan
disertai pemendekan radius.6 Fraktur ini paling sering ditemukan di kehidupan normal karena jatuh
bertumpu pada sisi palmar tangan sehingga juga disebut fraktur radius tipikal.2

Gambar 9. Fraktur colles disebabkan sisi palmar tangan


menahan tubuh saat jatuh.2

7 | BLOK 14
Fraktur Smith

Gambar 10. Gambaran radiologis fraktur smith.8

Fraktur smith dikenal sebagai kebalikan fraktur colles yaitu pergeseran bagian distal radius
bukan ke dorsal, melainkan ke arah palmar. Fraktur ini ditemukan saat jatuh bertumpu pada sisi
dorsal tangan, lebih jarang terjadi.2

Gambar 11. Fraktur smith disebabkan sisi dorsal tangan


menahan tubuh saat jatuh.2

Patofisilogi

Trauma yang menyebabkan fraktur didaerah pergelangan tangan biasanya merupakan trauma
langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebeklah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan
tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah distal ke arah dorsal.
Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai
garpu. 9

Benturan mengenai sepanjang lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan


berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada sambungan kortikokansekosa dan fragmen distal
remuk ke dalam ekstensi dan pergeseran dorsal. Garis fraktur berada kira-kira 3 cm proksimal
processus styloideus radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal, overlapping dan bergeser ke
radial, sehingga secara klasik digambarkan seperti garpu terbalik.9

8 | BLOK 14
Penatalaksanaan Non-Medika Mentosa

Untuk fraktur sendiri, prinsip penatalaksanaannya adalah mengembalikan posisi patahan


tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan
fraktur (imobilisasi). Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti
semula karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti
bentuk semula (remodelling).2

Fraktur dapat ditangani sesuai dengan kondisi dari tulang. Imobilisasi dengan gips
merupakan penanganan pilihan pada fraktur lengan bawah kedua tulang yang tidak disertai
dislokasi dan fraktur ulna saja. Alatnya dengan stress sharing, dengan cara penyembuhan tulang
sekunder. Reduksi tertutup dan imobilisasi dengan long arm cast telah dipergunakan untuk fraktur
lengan bawah dengan dislokasi, tapi mungkin kurang memuaskan kecuali jika reduksinya dapat
dipertahankan dengan hati-hati. Gips harus memiliki cetakan interoseus yang baik dengan
potongan melintang berbentuk oval, bukan bulat, karena dapat membantu mempertahankan ruang
interoseus. Fraktur radius sepertiga distal harus dimobilisasi dalam posisi pronasi (merelaksasikan
tarikan deformasi m. pronator quadratus) untuk mencapai kemungkinan terbaik kesegarisan yang
dapat diterima. Long arm cast dipakai selama 4 minggu, dan kemudian diganti dengan short arm
cast atau brace fungsional selama 2 minggu. Durasi pemakaian gips dan imobilisasi adalah sekitar
6 sampai 8 minggu sebelum menyambung.6

Kebanyakan fraktur lengan bawah, termasuk fraktur radius saja, fraktur kedua tulang, dan
fraktur yang disertai dislokasi caput radii atau destruksi articulatio radioulnaris distalis
memerlukan reduksi terbuka dan fiksasi interna. Alat yang digunakan adalah stess shielding dan
cara penyembuhan tulang primer.6

Pada fraktur monteggia, reduksi tertutup caput radii dapat dilakukan, diikuti dengan
pemasangan pelat untuk fraktur ulna. Reduksi simultan caput radii akan terjadi saat fraktur corpus
ulnae telah tereduksi secara anatomis dan terfiksasi. Bergantung pada stabilitas caput radii setelah
reduksi, imobilisasi pascaoperatif dapat bervariasi dari long arm cast sampai brace fungsional.6

Pada fraktur galeazzi, radius direduksi secara anatomis dan difiksasi pada pelat.
Penanganan ini akan mengembalikan posisi articulatio radioulnaris. Long arm cast atau brace

9 | BLOK 14
fungsional mempertahankan lengan bawah pada posisi supinasi selama 4 minggu. Penanganan
kemudian diikuti dengan short arm cast selama 2 minggu berikutnya.6

Fraktur colles dan smith juga memiliki cara penanganan yang berbeda dengan fraktur
monteggia dan galaezzi. Cara pertama adalah dengan reduksi tertutup dan pemasangan gips, yang
merupakan penanganan fraktur yang tidak memerlukan fiksasi bedah. Cara ini diindikasikan untuk
pasien dengan fraktur tanpa dislokasi atau dengan dislokasi minimal tanpa kominutif yang banyak.
Radiograf pascareduksi harus memperlihatkan pemulihan kemiringan palmar dan panjang radius.
Secara umum, pasien berusia lebih dari 60 tahun biasanya ditangani dengan short arm cast untuk
mencegah kekakuan siku. Setelah pemasangan long arm cast selama 3 sampai 6 minggu pertama,
akan diteruskan dengan pemasangan short arm cast. Long arm cast memberikan dukungan yang
lebih baik untuk fraktur kominutif tidak stabil serta memberikan kontrol rotasional dan kontrol
nyeri yang lebih baik. Fraktur tanpa lokasi dapat ditangani dengan short arm cast.6

Ada pula fiksator eksterna yang sangat berguna untuk fraktur kominutif, fraktur dengan
dislokasi yang tidak dapat ditangani dengan reduksi terbuka atau fiksasi interna. Alat yang
digunakan adalah stress-sharing dengan cara penyembuhan tulang sekunder, dengan disertai
pembentukan kalus. Kadang-kadang, pin perkutaneus atau fiksasi interna dapat digunakan sebagai
adjuvan fiksasi eksterna.6

Selain itu, bila frakturnya artikular dengan dislokasi, digunakan metode reduksi terbuka
dan fiksasi interna. Alat yang digunakan adalah stres-shielding untuk fiksasi pelat dan stress-
sharing untuk fiksasi pin. Cara penyembuhannya primer, jika tercapai fiksasi solid dengan pelat
sehingga tidak terbentuk kalus, cara penyembuhan sekunder jika fiksasi solid tidak tercapai, atau
pada pin perkutaneus. Gips pasca oprasi biasanya dianjurkan selama 2 sampai 6 minggu,
bergantung pada stabilitas fiksasi.6

Prognosis

Prognosisnya tergantung pada jenis dan bentuk fraktur, bagaimana operasinya dan bagaimana
fisioterapinya. Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah sakit
sesaat setelah terjadi trauma, kemudian jenis fraktur yang diderita ringan, bentuk dan jenis patahan
simple, kondisi umum baik, usia relative muda, tidak ada infeksi dan peredaran darah lancar.10

10 | BLOK 14
Kesimpulan

Fraktur adlah putusnya komunitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi penyebab
fraktur bermacam-macam yaitu : fraktur trauma,patologis, dan stress. Pada kasus dikatakan
seorang ibu usia 60th dgn keluhan nyeri lengan bawah sebelah kanan. Dan dari hasil pemeriksaan
fisik : look (inspeksi) ; tampak adanya edema dan deformitas pada regio antebrachii, feell ( palpasi
) ; teraba penonjolan fragmen tulang pada 1/3 distal, Move ( gerakkan ) : tidak dapat digerakkan.
Pemeriksaan Penunjang : pemeriksaan radiologi yaitu foto Rongent, Working diagnosis yaitu :
fraktur tertutup Antebrchii 1/3 distal karena didapatkan di regio Antebrchii 1/3 distal nyeri tekan
+ da nada deformitas serta edema. Dan tidak ditemukan adanya luka terbuka. Berdasarkan
Different Diagnosis yaitu termasuk fraktur Colles, tatalaksana yang digunakan yaitu tindakan
reposisi tertutup, prognosisnya baik jika segera ditangani dan termasuk jenis fraktur ringan.

Daftar Pustaka

1. Sjamsuhidajat R, Jong WD, penyunting. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2005. h.
840-68.
2. Rasjad C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi edisi III. Makassar: Yarsif Watampone2007.h.
352-489.
3. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Ed 3. Jakarta : Erlangga ; 2007.h.30-45
4. Malueka RG. Radiologi diagnostic. Yogyakarta : Pustaka Cendekia Press ; 2008.h.96-8
5. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. Patofisiologi. Vol. 2 Ed 6. Jakarta : EGC; 2006.h.1365-71.
6. Sutton D. Textbook of radiology and imaging. 7th edition. London: Churchill Livingstone; 2008. p.
1408.
7. Doherty GM. Current surgical diagnosis and treatment. 11th edition. New York: The McGraw-Hill
Companies; 2003. p. 1141-2.
8. Forearm fracture, diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1239187-overview#a0102,
20 Maret 2017.
9. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2003.h.298-301

10. Gaudinez RF, Hoisington SA, Hoppenfeld S, Kram DA, Lewin JD. Terapi dan rehabilitasi fraktur.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2011.h.176-1

11 | BLOK 14