Anda di halaman 1dari 216

 Analisis Transaksi

 Jurnal, Buku Besar, Neraca Saldo, Laporan Keuangan


 Akuntansi untuk Perusahaan Dagang
 Akuntansi Persediaan

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
AkuntAnsi
untuk
sMk, sMA, & MA

pustaka-indo.blogspot.com
Akuntansi
untuk sMk, sMA, & MA
Hery, s.E., M.si

GWI 703.14.8.029
©Penerbit PT Grasindo, Jalan Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270

Editor : Ayu Teresia


Penata Isi & Desain Sampul : Dienscreative

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Grasindo


Anggota IKAPI, Jakarta, 2014

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa
pun (seperti cetakan, fotokopi, mikroilm, CD-ROM, dan rekaman suara) tanpa izin tertulis dari
pemegang hak cipta/penerbit.

Sanksi Pelanggaran Pasal 72


Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling
lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu
ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab percetakan

pustaka-indo.blogspot.com
AkuntAnsi
untuk
sMk, sMA, & MA

Hery, s.E., M.si.

Pt Gramedia Widiasarana indonesia, Jakarta, 2014

pustaka-indo.blogspot.com
DAFtAR isi
Kata Pengantar .................................................................................................. vi

BAB 1. Perusahaan dan Akuntansi ..................................................................... 1


1.1 Jenis Perusahaan dan Bentuk Organisasinya..................................................... 2
1.2 Para Pengguna Informasi Akuntansi ................................................................ 5
1.3 Bidang Pekerjaan Akuntansi .......................................................................... 7
1.4 Asumsi Dasar Akuntansi ............................................................................... 8
1.5 Persamaan Dasar Akuntansi ........................................................................... 10
1.6 Laporan Keuangan ....................................................................................... 15
1.7 Soal Latihan .............................................................................................. 18

BAB 2. tahap Pencatatan ................................................................................... 21


2.1 Kegunaan dan Karakteristik Akun ................................................................... 22
2.2 Saldo Normal Akun....................................................................................... 24
2.3 Analisis Transaksi dan Jurnal ........................................................................ 26
2.4 Buku Besar ................................................................................................ 32
2.5 Neraca Saldo ............................................................................................... 36
2.6 Soal Latihan .............................................................................................. 37

BAB 3. tahap Penyesuaian ................................................................................. 41


3.1 Konsep Penandingan Sifat dan Proses Penyesuaian ............................................ 42
3.2 Sifat dan Proses Penyesuaian ........................................................................ 44
3.3 Perbedaan antara Koreksi dengan Penyesuaian ................................................ 52

iv Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


pustaka-indo.blogspot.com
3.4 Penyesuaian atas Aset Tetap ........................................................................ 56
3.5 Soal Latihan dan Solusinya ........................................................................... 59

BAB 4. Penyelesaian siklus Akuntansi ................................................................ 70


4.1 Siklus Akuntansi .......................................................................................... 71
4.2 Penggunaan Neraca Lajur ............................................................................ 73
4.3 Menyiapkan Ayat Jurnal Penutup .................................................................... 75
4.4 Menyiapkan Neraca Saldo Setelah Penutupan.................................................... 77
4.5 Ayat Jurnal Pembalik .................................................................................. 78
4.6 Klasiikasi Neraca (Standar) .......................................................................... 81
4.7 Ilustrasi Penyelesaian Siklus Akuntansi .......................................................... 84
4.8 Ilustrasi Problem ......................................................................................... 84

BAB 5. Akuntansi Perusahaan Dagang ................................................................. 106


5.1 Karakteristik Perusahaan Dagang .................................................................... 107
5.2 Sistem Pencatatan Perpetual ......................................................................... 108
5.3 Sistem Pencatatan Periodik ........................................................................... 116
5.4 Penyesuaian atas Persediaan Barang Dagang ................................................... 120
5.5 Laporan Keuangan ....................................................................................... 122
5.6 Ilustrasi Penyelesaian Siklus Akuntansi .......................................................... 127
5.7 Soal Latihan dan Solusinya ........................................................................... 162

BAB 6. Akuntansi Persediaan ............................................................................. 180


6.1 Konsep Dasar Persediaan .............................................................................. 181
6.2 Kesalahan dalam Penghitungan Persediaan ..................................................... 182
6.3 Metode Penilaian Persediaan ......................................................................... 186
6.4 Penilaian Persediaan dalam Sistem Pencatatan Perpetual .................................. 188
6.5 Penilaian Persediaan dalam Sistem Pencatatan Periodik ..................................... 195
6.6 Penyajian Persediaan Barang Dagang di Neraca ................................................ 198
6.7 Soal Latihan dan Solusinya ........................................................................... 199

Daftar Pustaka .................................................................................................... 204


Tentang Penulis .................................................................................................. 205

Daftar isi v
pustaka-indo.blogspot.com
kAtA PEnGAntAR

B uku ini secara keseluruhan dan mendalam akan mengulas mengenai siklus akuntansi (analisis
transaksi, jurnal, buku besar, neraca saldo, laporan keuangan); akuntansi untuk perusahaan
dagang; dan akuntansi persediaan.
Pembahasan akan dimulai dengan memperkenalkan terlebih dahulu kepada para pembaca
tentang karakteristik perusahaan dan akuntansi. Setelah pembaca memahami dengan baik jenis-
jenis perusahaan; siapa saja para pengguna informasi akuntansi; profesi akuntansi; asumsi dasar
dan persamaan akuntansi; serta laporan keuangan, ulasan akan berlanjut pada serangkaian
aktivitas yang ada dalam siklus akuntansi perusahaan, yang dimulai dengan proses pencatatan,
proses penyesuaian, sampai pada penyelesaian siklus akuntansi itu sendiri.
Setelah itu, buku ini juga akan membahas mengenai akuntansi untuk perusahaan dagang
(termasuk penghitungan harga pokok penjualan) serta akuntansi persediaan. Buku ini sangat
cocok digunakan sebagai bahan penunjang atau pengayaan materi akuntansi bagi para siswa-
siswi yang ada di SMK, SMA, maupun MA.

Jakarta, 2014

Hery, S.E., M.Si.

vi Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


pustaka-indo.blogspot.com
BAB 1

Perusahaan
dan
Akuntansi
tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Memahami jenis dan bentuk perusahaan.


2. Mengidentiikasi para pengguna informasi akuntansi.
3. Menjelaskan bidang pekerjaan yang ada dalam dunia akuntansi.
4. Memahami asumsi dasar yang melandasi proses penyusunan laporan
akuntansi.
5. Menyatakan persamaan dasar akuntansi dan menjelaskan pengertian
aset, kewajiban, serta modal (ekuitas).
6. Memahami tujuan dan urutan laporan keuangan berdasarkan proses
penyajiannya.

Perusahaan dan Akuntansi 1


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
1.1 Jenis Perusahaan dan Bentuk Organisasinya

Perusahaan adalah sebuah organisasi yang beroperasi dengan tujuan menghasilkan keuntungan
dengan cara menjual produk (barang dan atau jasa) kepada para pelanggannya. Tujuan operasional
dari sebagian besar perusahaan adalah untuk memaksimalkan proit. Di samping itu, ada juga
jenis perusahaan yang memang dalam kegiatan usahanya lebih memprioritaskan pada pelayanan
secara maksimal kepada masyarakat; jenis organisasi ini dinamakan organisasi nirlaba (non proit).
Contoh organisasi nirlaba adalah yayasan (rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi) dan badan
atau instansi pemerintah.

Ditinjau dari jenis usahanya (produk yang dijual), perusahaan dibedakan menjadi:

 Perusahaan Manufaktur (Manufacturing Business)


Perusahaan jenis ini terlebih dahulu mengubah (merakit) input atau bahan mentah (raw
material) menjadi output atau barang jadi (inished goods/inal goods), baru kemudian
dijual kepada para pelanggan (distributor).
Contoh perusahaan manufaktur, diantaranya adalah perusahaan perakit mobil, komputer,
perusahaan pembuat (pabrik) obat, tas, sepatu, pabrik penghasil keramik, dan sebagainya.

 Perusahaan Dagang (Merchandising Business)


Perusahaan jenis ini menjual produk (barang jadi), tetapi perusahaan tidak membuat/
menghasilkan sendiri produk yang akan dijualnya melainkan memperolehnya dari perusahaan
lain. Contoh perusahaan dagang, diantaranya adalah: Indomaret, Alfa-Mart, Carrefour,
Gramedia, dan sebagainya.

 Perusahaan Jasa (Service Business)


Perusahaan jenis ini tidak menjual barang tetapi menjual jasa kepada pelanggan.
Contoh perusahaan jasa, diantaranya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
pelayanan transportasi (jasa angkut), pelayanan kesehatan (rumah sakit), jasa konsultan,
telekomunikasi, dan sebagainya.

2 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Ditinjau dari karakteristik bentuk organisasinya, perusahaan dapat dibedakan menjadi:

 Perusahaan Perorangan (Proprietorship)


Perusahaan perorangan merupakan bentuk perusahaan yang paling sederhana. Perusahaan
ini dimiliki oleh satu orang sehingga apabila perusahaan memperoleh keuntungan atau
kerugian (proit or loss) maka seluruh keuntungan akan dinikmati sendiri dan seluruh
kerugian akan ditanggung sendiri oleh si pemilik tunggal. Pemilik perusahaan bertanggung
jawab secara pribadi atas seluruh kewajiban maupun tuntutan hukum yang ditujukan kepada
perusahaan. Dengan kata lain, apabila perusahaan bangkrut maka para kreditor berhak
untuk menyita kekayaan (asset) pribadi si pemilik tunggal perusahaan. Dalam melakukan
pengambilan keputusan bisnis seluruhnya berada dalam kendali satu orang. Kelemahan dari
bentuk perusahaan perorangan ini adalah bahwa sumber dana/keuangan yang tersedia bagi
perusahaan hanya sebatas pada jumlah modal yang dimiliki oleh satu orang.
Untuk tujuan pajak penghasilan, dalam perusahaan perorangan berlaku ketentuan non-
taxable entity, artinya penghasilan yang diperoleh perusahaan akan dikenakan pajak hanya
pada level individu, bukan pada entitas/perusahaan. Hal ini berarti, tidak akan ada pajak
atas badan (entitas), melainkan pajak atas nama pribadi.

 Perusahaan Persekutuan (Partnership)


Perusahaan ini dimiliki oleh dua orang atau lebih yang dibentuk atas dasar kepercayaan.
Dalam partnership keahlian yang dimiliki oleh salah seorang anggota sekutu dapat
dikombinasikan dengan sumber daya (modal) yang dimiliki oleh anggota sekutu lainnya.
Sebagai contoh misalnya, Tn. X memiliki keahlian dalam reparasi mesin bubut, tetapi
tidak memiliki modal untuk membuka bengkel, kemudian bergabung dengan Tn. Y sebagai
pemilik modal, membentuk sebuah irma (perusahaan persekutuan). Net income maupun net
loss yang timbul akan didistribusikan diantara para sekutu (partner) menurut kesepakatan
bersama.
Masing-masing anggota sekutu memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas (unlimited
liability) kepada kreditor atas seluruh utang/kewajiban yang ditimbulkan oleh perusahaan.
Jadi, apabila perusahaan tidak dapat membayar utang kepada kreditor maka setiap anggota
sekutu yang terlibat dalam perusahaan harus merelakan kekayaan pribadinya demi mencukupi
pembayaran utang perusahaan. Karakteristik lain dari perusahaan persekutuan adalah

Perusahaan dan Akuntansi 3


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
mutual agency, artinya setiap anggota sekutu adalah wakil atau perantara perusahaan di
mana tindakan dari setiap anggota sekutu ini akan mengikat perusahaan secara keseluruhan
dan menjadi kewajiban bagi seluruh anggota sekutu. Aset yang diinvestasikan atau disetor
ke dalam perusahaan oleh setiap anggota sekutu akan menjadi milik bersama (joint assets)
bagi seluruh anggota sekutu yang ada. Nantinya, ketika irma dibubarkan, klaim dari setiap
anggota sekutu terhadap kekayaan perusahaan akan diukur berdasarkan pada jumlah saldo
modal masing-masing.
Partnership sama halnya dengan proprietorship, yaitu sebuah non-taxable entity di mana
perusahaan/entitas tidak dikenakan pajak. Pajak hanya akan dikenakan pada level individu,
yaitu pada setiap anggota sekutu yang menerima bagian atas laba perusahaan. Partnership
memiliki umur yang terbatas (limited life), artinya perusahaan dapat dibubarkan apabila
ada seorang anggota sekutu yang mengundurkan diri. Jika kegiatan bisnisnya masih ingin
dilanjutkan maka partnership baru dapat dibentuk kembali dengan membuat perjanjian/
kesepakatan irma yang baru (kesepakatan mengenai perbandingan jumlah modal yang
baru, rasio pembagian laba/rugi yang baru, dan sebagainya).

 Perusahaan Perseroan (Corporation)


Kepemilikan persero terbagi ke dalam lembar saham. Modal perusahaan diperoleh dari hasil
penjualan saham kepada para pemegang saham (stockholders) yang dinamakan sebagai
modal saham (capital stock) atau modal disetor (paid-in capital). Keunggulan utama dari
bentuk persero adalah adanya potensi atau kemampuan perusahaan dalam meningkatkan/
mendapatkan sejumlah besar dana atau sumber daya ekonomi dengan cara menerbitkan
dan menjual saham. Dalam persero berlaku ketentuan limited liability di mana kewajiban
pemegang saham kepada kreditor perusahaan hanya sebatas pada besarnya investasi atau
jumlah saham yang dibeli (dimiliki).
Persero yang sahamnya diperdagangkan secara luas kepada publik di bursa efek (pasar modal)
dinamakan public corporation, sedangkan persero yang sahamnya tidak diperdagangkan
kepada publik melainkan hanya kepada sekelompok kecil investor dinamakan nonpublic
(private) corporation. Persero memiliki umur yang tidak terbatas (sesuai dengan asumsi
kesinambungan usaha/going concern), artinya persero tidak akan berhenti beroperasi
(dibubarkan) dengan adanya pengunduran diri dari salah seorang investor yang melepas
kepemilikan sahamnya dari perseroan.

4 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Persero tidak seperti halnya proprietorship dan partnership, yaitu sebuah taxable entity
di mana pajak dikenakan baik pada tingkat individu (pajak atas deviden yang diterima
investor) maupun juga atas penghasilan (laba) perusahaan. Kelemahan bentuk persero ini
dalam kaitannya dengan pajak adalah cenderung mengarah pada timbulnya pajak berganda
(double tax) di mana laba perusahaan yang telah dikenakan pajak akan dipajakkan kembali
pada waktu sebagian dari laba ini didistribusikan kepada para investor dalam bentuk deviden
tunai. Jika kita perhatikan, deviden yang dikenakan pajak adalah deviden yang berasal dari
laba perusahaan yang telah dikenai pajak terlebih dahulu sebelum pada akhirnya sebagian
dari laba tersebut didistribusikan kepada para pemegang saham. Dalam persero, ketentuan
pajak berganda ini timbul mengingat terdapat dua pihak terpisah yang dianggap turut
menikmati laba, yaitu perusahaan selaku badan hukum dan para investor selaku individu.

1.2 Para Pengguna informasi Akuntansi

Secara umum, akuntansi dapat dideinisikan sebagai sebuah sistem informasi yang memberikan
laporan kepada para pengguna informasi akuntansi atau kepada pihak-pihak yang memiliki
kepentingan (stakeholders) terhadap hasil kinerja dan kondisi keuangan perusahaan. Akuntansi
juga sering dianggap sebagai bahasa bisnis di mana informasi bisnis dikomunikasikan kepada
stakeholders melalui laporan akuntansi. Mula-mula sebuah transaksi bisnis akan diidentiikasi
(dianalisis), dicatat, dan barulah dilaporkan lewat laporan akuntansi yang merupakan media
komunikasi informasi akuntansi. Transaksi bisnis di sini dapat diartikan sebagai suatu kejadian
atau peristiwa ekonomi yang mempengaruhi perubahan posisi keuangan perusahaan.
Informasi akuntansi yang dibutuhkan oleh para pengguna laporan keuangan sangat berbeda-
beda (bervariasi) tergantung pada jenis keputusan yang hendak diambil. Para pengguna informasi
akuntansi ini dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu pemakai internal (internal users) dan
pemakai eksternal (external users).

Yang termasuk dalam kategori pemakai internal, antara lain:


 Direktur dan Manajer keuangan
Untuk menentukan mampu atau tidak suatu perusahaan dalam melunasi utang secara tepat
waktu kepada kreditor (bankir, supplier) maka mereka membutuhkan informasi akuntansi

Perusahaan dan Akuntansi 5


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
mengenai besarnya uang kas yang tersedia di perusahaan pada saat menjelang jatuh tempo
pinjaman/utang.

 Direktur Operasional dan Manajer Pemasaran


Untuk menentukan efektif atau tidak suatu saluran distribusi produk maupun aktivitas
pemasaran yang telah dilakukan perusahaan maka mereka membutuhkan informasi akuntansi
mengenai tingkat penjualan (tren penjualan).

 Manajer dan supervisor Produksi


Mereka membutuhkan informasi akuntansi biaya untuk menentukan harga pokok produksi
yang pada akhirnya juga digunakan sebagai dasar untuk menetapkan harga jual produk per
unit.

Sedangkan yang termasuk dalam kategori pemakai eksternal, antara lain:


 Investor (penanam modal), menggunakan informasi akuntansi investee (penerima modal)
untuk mengambil keputusan dalam hal membeli atau melepas saham investasi miliknya. Dalam
hal ini, investor perlu secara cermat dan hati-hati dalam menanggapi setiap perkembangan
kondisi kesehatan keuangan investee. Investor sebagai pihak luar dari investee dapat menilai
prospek terhadap dana yang akan (telah) diinvestasikan lewat laporan keuangan investee,
apakah menguntungkan (proitable) atau tidak.
 Kreditor, seperti supplier dan bankir, menggunakan informasi akuntansi debitor untuk
mengevaluasi tingkat resiko dari pemberian kredit atau pinjaman uang. Dalam hal ini,
kreditor dapat memperkecil resiko dengan cara mencari tahu seberapa besar tingkat
bonaiditas dan likuiditas debitor melalui laporan keuangan debitor yang bersangkutan.
 Pemerintah, berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan (wajib pajak) dalam
hal perhitungan dan penetapan besar pajak penghasilan yang harus disetor ke kas negara.
 Badan Pengawas Pasar Modal, mewajibkan public corporation (emiten) untuk melampirkan
laporan keuangan secara rutin kepada BAPEPAM. Dalam hal ini, pihak BAPEPAM memiliki ke-
pentingan terhadap kinerja keuangan emiten dengan tujuan untuk melindungi para investor.
 Ekonom, Praktisi, dan Analis, menggunakan informasi akuntansi untuk memprediksi
situasi perekonomian, menentukan tingkat inlasi, pertumbuhan pendapatan nasional, dan
sebagainya.

6 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
1.3 Bidang Pekerjaan Akuntansi

Akuntansi (accounting) berbeda dengan pembukuan (bookkeeping). Pembukuan hanya meliputi


aktivitas pencatatan semata, sedangkan akuntansi meliputi seluruh proses pelaporan, mulai
dari pengidentiikasian transaksi bisnis, pencatatan, pengkomunikasian (dalam bentuk laporan)
sampai pada tahapan analisis dan interpretasi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi pembukuan
(pencatatan) merupakan bagian dari seluruh proses akuntansi (pelaporan).
Akuntansi dibedakan menjadi akuntansi keuangan (inancial accounting) dan akuntansi
manajerial/manajemen (managerial/management accounting). Financial accounting memberikan
informasi akuntansi/keuangan bagi kepentingan pemakai eksternal. Managerial/management
accounting memberikan informasi akuntansi/keuangan bagi kepentingan pemakai internal.

Berbagai macam jenis pekerjaan/profesi yang ada dalam bidang akuntansi adalah
 Pemeriksaan Eksternal (External Auditing); dilakukan oleh akuntan publik/auditor eksternal
yang memberikan opini mengenai kewajaran laporan keuangan klien. Dalam opini tersebut,
auditor akan menyatakan, apakah laporan keuangan yang diperiksa sudah bebas atau masih
mengandung salah saji yang material dan apakah sudah disusun sesuai dengan prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan keuangan klien merupakan tanggung jawab
manajemen klien, bukan tanggung jawab akuntan publik. Akuntan publik tidak memberikan
jaminan penuh (garansi), tetapi hanya memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan
keuangan yang diperiksa bebas dari salah saji yang material. Pemeriksaan eksternal ini
sering dinamakan sebagai public accounting.
 Akuntansi umum (General Accounting); melakukan pencatatan atas transaksi harian dan
menyiapkan laporan keuangan.
 Akuntansi Biaya (Cost Accounting); menentukan serta menyiapkan laporan harga pokok produksi.
Akuntansi biaya ini lebih mengarah kepada akuntansi untuk perusahaan manufaktur.
 sistem informasi Akuntansi (Accounting Information System); merancang sistem pem-
rosesan data akuntansi. Data transaksi (input) diproses sedemikian rupa secara sistem
untuk menghasilkan sebuah informasi (output) yang berguna dalam proses pengambilan
keputusan.
 Akuntansi Pajak (Tax Accounting); menyiapkan dan melaporkan perhitungan pajak peng-
hasilan serta melakukan perencanaan pajak.

Perusahaan dan Akuntansi 7


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
 Pemeriksaan internal (Internal Auditing); auditor internal mengevaluasi eisiensi dan
efektiitas kinerja unit/divisi maupun perusahaan secara keseluruhan serta memastikan
bahwa seluruh kegiatan operasional perusahaan telah “berjalan” sesuai dengan prosedur
dan kebijakan yang telah ditetapkan manajemen. Auditor internal tidak memberikan opini
mengenai kewajaran laporan keuangan dari perusahaan di mana ia bekerja, melainkan
hanya memberikan rekomendasi (saran-saran) perbaikan demi peningkatan eisiensi dan
efektiitas. Auditor internal tidak memberikan opini karena sebagai karyawan dari perusahaan
bersangkutan, posisi dalam struktur organisasi bersifat tidak independen. External Auditing
lebih independen dibanding Internal Auditing, oleh sebab itu pihak luar perusahaan lebih
mempercayai opini yang diberikan oleh External Auditor mengenai kewajaran laporan
keuangan.

1.4 Asumsi Dasar Akuntansi

Profesi akuntansi telah mengembangkan seperangkat standar yang berlaku umum dan diterima
universal. Standar ini dinamakan sebagai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Standar
ini diperlukan sebagai patokan (pedoman) dalam penyusunan laporan keuangan yang baku.
Dengan adanya standar ini, pihak manajemen selaku pengelola dana dan aktivitas perusahaan
dapat mencatat, mengikhtisarkan, dan melaporkan seluruh hasil kegiatan operasional maupun
inansial perusahaan secara baku (yang secara standar diterima umum) dan transparan. Laporan
keuangan yang telah disusun manajemen berdasarkan standar/prinsip akuntansi yang berlaku
umum ini merupakan salah satu bentuk dari pertanggungjawaban manajemen kepada investor
selaku pemilik dana.
Dalam prinsip akuntansi yang berlaku umum, terdapat empat asumsi dasar yang melandasi
proses penyusunan laporan akuntansi secara keseluruhan. Asumsi dasar tersebut adalah

 Monetary Unit Assumption (Asumsi Unit Moneter)


Data transaksi yang akan dilaporkan dalam catatan akuntansi harus dapat dinyatakan
dalam satuan mata uang (unit moneter). Asumsi ini memungkinkan akuntansi untuk
mengkuantiikasi (mengukur) setiap transaksi bisnis/peristiwa ekonomi ke dalam nilai
uang. Asumsi unit moneter terkait langsung dengan penerapan konsep biaya (cost concept).

8 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Konsep biaya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan laporan keuangan di mana aset
yang dibeli pada umumnya akan dicatat sebesar harga perolehannya (cost); historical
cost accounting. Diasumsikan pula bahwa nilai daya beli adalah konstan, sesuai dengan
asumsi stable monetary unit yang berarti mengabaikan efek inlasi. Sebagai contoh, sebuah
peralatan kantor dibeli dengan harga 15 juta rupiah maka peralatan kantor yang baru
dibeli tersebut dapat dicatat sebesar harga perolehannya dengan satuan mata uang (unit
moneter) dalam rupiah. Contoh data transaksi yang tidak dapat diukur (dinyatakan) dalam
satuan mata uang adalah banyaknya jumlah karyawan, tingkat kepuasan pelanggan, tingkat
kepuasan pekerja, jumlah karyawan yang berhenti, dan sebagainya.

 Economic/Business Entity Assumption (Asumsi Kesatuan Usaha)


Adanya pemisahan pencatatan antara transaksi perusahaan sebagai entitas ekonomi dengan
transaksi pemilik sebagai individu dan transaksi entitas ekonomi lainnya. Sebagai contoh,
Tn. Alfonso sebagai pemilik bengkel mobil tidak boleh memperhitungkan biaya pribadi
sebagai beban bengkel. Misalnya, biaya untuk sewa apartemen sebagai tempat tinggal,
biaya untuk keperluan sekolah anak, dan lain-lain. Jadi, yang boleh diperhitungkan sebagai
beban bengkel hanya pengeluaran yang benar-benar terkait langsung dengan usaha bengkel.
Demikian pula apabila Tn. Alfonso memiliki dua jenis usaha yang berlainan misalnya, usaha
bengkel dan salon, harus dipisahkan antara beban pribadi, beban usaha bengkel, dan beban
usaha salon.

 Accounting /Time Period Assumption (Asumsi Periode Akuntansi)


Informasi akuntansi dibutuhkan atas dasar ketepatan waktu (timely basis). Umur aktivitas
perusahaan dapat dibagi menjadi beberapa periode akuntansi, seperti bulanan (monthly),
tiga bulanan (quarterly), atau tahunan (annually).

 Going Concern Assumption (Asumsi Kesinambungan Usaha)


Perusahaan didirikan dengan maksud untuk tidak dilikuidasi (dibubarkan) dalam jangka
waktu dekat, akan tetapi perusahaan diharapkan tetap terus beroperasi (exist) dalam jangka
waktu yang tidak terbatas. Jika tidak ada asumsi ini, maka berarti tidak akan ada penyusutan
atas aset tetap karena aset tetap yang dibeli tidak akan dicatat sebesar harga perolehannya
melainkan dicatat sebesar nilai pada saat perusahaan dilikuidasi. Demikian juga tidak akan

Perusahaan dan Akuntansi 9


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
ada penggolongan lancar dan tidak lancar atas aset dan kewajiban. Jadi, dalam praktek
akuntansi yang berlaku umum, penyusutan atas aset tetap dan penggolongan aset serta
kewajiban ke dalam lancar dan tidak lancar timbul karena adanya asumsi kesinambungan
usaha.

1.5 Persamaan Dasar Akuntansi

Sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh perusahaan dinamakan aset/harta/kekayaan (assets).
Aset ini selanjutnya akan digunakan (dimanfaatkan atau dikonsumsi) oleh perusahaan demi
lancarnya kegiatan operasional sehari-hari. Contoh dari aset meliputi: uang kas, piutang usaha,
persediaan barang dagang, perlengkapan toko dan kantor, asuransi dan sewa dibayar dimuka,
tanah, bangunan, peralatan/perabot toko dan kantor, kendaraan operasional, dan aset lainnya.
Piutang usaha dikatakan aset karena piutang ini nantinya akan dapat ”dicairkan”
(dikonversi) dari piutang menjadi uang kas sebagai hasil dari penagihan penjualan. Piutang
usaha mencerminkan hak perusahaan untuk menagih kepada customer/pelanggan demi men-
dapatkan uang kas. Persediaan barang dagang merupakan aset karena nantinya akan dijual oleh
perusahaan kepada pelanggan untuk mendapatkan piutang (hak menagih) maupun kas pada
akhirnya, sedangkan untuk perlengkapan toko dan kantor, asuransi dan sewa dibayar dimuka,
tanah, bangunan, peralatan/perabot toko dan kantor, serta kendaraan operasional dikatakan aset
karena mereka memiliki manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk digunakan/dikonsumsi selama
periode akuntansi.
Utang (liabilities) merupakan kewajiban perusahaan kepada kreditor (supplier, bankir) dan
pihak lainnya (karyawan, pemerintah). Kreditor dan pihak lainnya memiliki hak/klaim atas asset
perusahaan, sebagai contoh:

 utang usaha (Accounts Payable)


Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar/melunasi utang kepada supplier sebagai
akibat dari pembelian barang dagang secara kredit. Dalam hal ini perusahaan selaku pembeli
barang dagang secara kredit harus mentransfer uang kas kepada supplier (penjual) yang
berarti supplier memiliki hak/klaim atas asset si pembeli.

10 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
 Pinjaman Bank (Bank Loans)
Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar/melunasi utang kepada pihak bank
(bankir) sebagai akibat dari transaksi peminjaman uang bank. Dalam hal ini perusahaan
harus membayar jumlah pokok pinjaman berikut bunga. Bunga bank yang masih terhutang
(interest payable) dan yang belum dibayarkan juga merupakan kewajiban (liabilities) bagi
debitor (peminjam uang).

 utang Gaji (Salaries Payable)


Perusahaan (majikan) memiliki kewajiban untuk membayar utang kepada karyawan atas uang
gaji yang belum dibayarkan di mana karyawan telah memberikan jasanya kepada perusahaan.
Dalam hal ini, karyawan memiliki hak/klaim atas assets (uang kas) perusahaan.

 utang Pajak Penghasilan (Income Taxes Payable)


Perusahaan memiliki kewajiban (berdasarkan undang-undang) untuk membayar pajak yang
terhutang kepada pemerintah atas penghasilan/keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Ekuitas (equity) merupakan hak pemilik dana atau pemegang saham atas asset perusahaan.
Ekuitas untuk perusahaan perorangan dinamakan ekuitas pemilik (owner’s equity), untuk irma
(persekutuan) dinamakan partnership equity, sedangkan untuk perseroan dinamakan ekuitas
pemegang saham (stockholder’s equity). Ekuitas atau modal disebut juga sebagai kekayaan bersih
(net assets) yang artinya hak (klaim) pemilik atau pemegang saham atas kekayaan perusahaan
diperoleh setelah seluruh kekayaan yang ada dalam perusahaan dikurangi dengan seluruh
kewajiban perusahaan.
Hubungan antara kekayaan, kewajiban, dan ekuitas dapat dirumuskan ke dalam sebuah
persamaan akuntansi (accounting equation) sebagai berikut:

Assets = Liabilities + Equity

Rumusan persamaan akuntansi di atas sifatnya baku (mutlak), di mana liabilities harus
ditempatkan terlebih dahulu sebelum equity. Ini mengandung makna bahwa kreditor memiliki hak
pertama atas kekayaan perusahaan, setelah itu sisa assets yang masih ada barulah merupakan hak
pemilik dana/pemegang saham.

Perusahaan dan Akuntansi 11


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Ilustrasi:
Pada tanggal 1 Januari 2008, Tn. Taxler memulai usaha jasa sebagai seorang konsultan (perusahaan
perorangan) dalam bidang perpajakan. Transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2008 adalah
sebagai berikut:
1 Januari Tn. Taxler menyetor uang kas ke dalam perusahaan sebagai modal awal sebesar
Rp95.000.000,00.
3 Januari Dibayar sewa kantor untuk bulan Januari sebesar Rp8.000.000,00.
6 Januari Dibeli perlengkapan berupa alat tulis kantor secara kredit dengan harga
Rp5.000.000,00.
10 Januari Dibayar beban iklan, yang dimuat dalam surat kabar harian Kompas sebesar
Rp500.000,00.
12 Januari Diterima uang sebesar Rp10.000.000,00 atas jasa yang telah diberikan kepada
klien.
13 Januari Tn. Taxler mengambil uang tunai untuk kepentingan pribadi sebesar
Rp7.000.000,00.
15 Januari Membebankan tagihan kepada klien atas jasa yang telah diberikan Tn. Taxler sebesar
Rp33.000.000,00. Dalam hal ini, Tn. Taxler belum menerima pembayarannya.
17 Januari Dibayar utang atas pembelian perlengkapan pada tanggal 6 Januari yang lalu.
22 Januari Diterima sebagian pembayaran atas jasa yang telah diberikan pada tanggal 15
Januari yang lalu sebesar Rp20.000.000,00.
30 Januari Dibayar beban listrik dan telepon sebesar Rp1.500.000,00.
31 Januari Dibayar gaji karyawan sebesar Rp25.000.000,00.

Persamaan akuntansi dari ilustrasi di atas adalah

Kas + Piutang Usaha + Perlengkapan = Utang + Ekuitas


1 Jan 95.000.000 = 95.000.000
3 Jan (8.000.000) = (8.000.000)
6 Jan 5.000.000 = 5.000.000
10 Jan (500.000) = (500.000)
12 Jan 10.000.000 = 10.000.000

12 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
13 Jan (7.000.000) = (7.000.000)
15 Jan 33.000.000 = 33.000.000
17 Jan (5.000.000) = (5.000.000)
22 Jan 20.000.000 (20.000.000)
30 Jan (1.500.000) = (1.500.000)
31 Jan (25.000.000) = (25.000.000)

78.000.000 + 13.000.000 + 5.000.000 = 96.000.000

Penjelasan transaksi:
1 Januari: Kas perusahaan menjadi bertambah (terbentuk) sebagai akibat adanya transaksi
penyetoran uang tunai dari pemilik (Tn. Taxler) ke dalam perusahaan; uang kas
ini akan dijadikan sebagai modal awal untuk membiayai kegiatan operasional
perusahaan. Dalam menyusun persamaan dasar akuntansi, jumlah sisi kiri harus
sama dengan jumlah sisi kanan, oleh sebab itu kas bertambah dan modal juga
bertambah.

3 Januari: Uang kas perusahaan menjadi berkurang akibat adanya transaksi pembayaran atas
beban sewa kantor. Dalam menyusun persamaan dasar akuntansi, jumlah sisi kiri
harus sama dengan jumlah sisi kanan. Oleh sebab itu, kas berkurang dan modal
juga berkurang. Pembahasan mengenai saldo normal dan makna debet kredit akun
akan lebih diperjelas dalam Bab 2 di mana beban yang telah terjadi (apalagi telah
dibayarkan) bersifat mengurangi modal.

6 Januari: Uang kas perusahaan tidak terpengaruh (tidak berkurang) karena perlengkapan
dibeli secara kredit. Saldo perlengkapan dan utang menjadi bertambah. Sekali lagi,
perhatikanlah bahwa jumlah sisi kiri dengan jumlah sisi kanan dalam persamaan
dasar akuntansi telah seimbang.

10 Januari: Sama seperti transaksi pada tanggal 3 Januari. Uang kas perusahaan menjadi
berkurang akibat adanya transaksi pembayaran atas beban iklan. Agar persamaan
dasar akuntansi menjadi seimbang maka kas berkurang dan modal juga berkurang.

Perusahaan dan Akuntansi 13


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
12 Januari: Kas bertambah karena perusahaan menerima uang dari klien atas jasa yang telah
diberikan. Pendapatan dari klien ini otomatis menambah modal perusahaan. Dari
segi persamaan dasar akuntansi, kas bertambah dan modal juga bertambah (agar
seimbang antara sisi kiri dengan sisi kanan). Perhatikan juga bahwa pendapatan
bersifat selalu menambah modal, sepanjang jasa tersebut telah diberikan atau telah
terjadi.

13 Januari: Uang kas perusahaan menjadi berkurang karena adanya pengambilan pribadi untuk
Tn. Taxler. Dalam akuntansi untuk perusahaan perorangan maupun persekutuan,
istilah pengambilan untuk kepentingan pribadi dikenal sebagai prive (drawing)
dan bukan dianggap sebagai beban (expense) perusahaan. Akan tetapi, prive ini
memiliki sifat sama dengan beban dalam hal mengurangi modal. Persamaan dasar
akuntansi menjadi seimbang dengan berkurangnya kas demikian juga modal. Akun
beban merupakan komponen dari laporan laba rugi sedangkan akun prive merupakan
komponen dari laporan ekuitas pemilik.

15 Januari: Uang kas perusahaan tidak terpengaruh (tidak bertambah) karena perusahaan belum
menerima pembayaran dari klien. Akan tetapi, karena perusahaan telah memberikan
jasanya kepada klien, namun belum dibayar maka perusahaan memiliki hak (asset)
untuk menagih. Dalam hal ini, piutang usaha akan timbul demikian juga pendapatan.
Pendapatan bersifat menambah modal. Jadi, persamaan akuntansinya adalah piutang
usaha = modal.

17 Januari: Uang kas perusahaan berkurang karena dipakai untuk membayar utang atas pem-
belian perlengkapan yang dilakukan secara kredit pada tanggal 6 Januari yang lalu.
Persamaan dasar akuntansinya adalah kas berkurang demikian juga utang.

22 Januari: Uang kas perusahaan bertambah sebagai hasil dari penerimaan sebagian tagihan
yang telah dibebankan kepada klien pada tanggal 15 Januari yang lalu. Dalam hal
ini, berarti sebagian piutang usaha menjadi berkurang dengan diterimanya kas. Perlu
diperhatikan di sini bahwa modal tidaklah terpengaruh meskipun ada penerimaan kas
karena pendapatan telah diakui dan menambah modal pada tanggal 15 Januari yang

14 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
lalu, yaitu pada saat perusahaan memberikan jasa kepada klien. Jadi, pendapatan
akan diakui dan menambah modal bukan pada saat uang kas diterima melainkan
pada saat jasa diberikan.

30 Januari: Sama seperti transaksi pada tanggal 3 dan 10 Januari. Uang kas perusahaan berkurang
akibat adanya transaksi pembayaran atas beban listrik dan telepon (beban utilitas).
Agar persamaan dasar akuntansi menjadi seimbang maka kas berkurang dan modal
juga berkurang.

31 Januari: Sama seperti transaksi pada tanggal 3, 10, dan 30 Januari. Uang kas perusahaan
berkurang akibat adanya transaksi pembayaran atas beban gaji karyawan. Modal
akan berkurang dengan adanya atau terjadinya beban gaji karyawan tersebut.

1.6 Laporan keuangan

Setelah data transaksi dicatat ke dalam jurnal dan diposting ke dalam buku besar (ledger), laporan
akuntansi disiapkan untuk memberikan informasi yang berguna bagi para pemakai laporan (users),
terutama sebagai dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan kelak. Laporan
akuntansi ini dinamakan laporan keuangan. Laporan keuangan (inancial statements) merupakan
produk akhir dari serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data transaksi bisnis. Seorang
akuntan diharapkan mampu untuk mengorganisir seluruh data akuntansi hingga menghasilkan
laporan keuangan, bahkan harus dapat menginterpretasikan serta menganalisis laporan keuangan
yang dibuatnya.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan
sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-
pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun
perkembangan perusahaan dibagi menjadi dua, yaitu pihak internal seperti manajemen perusahaan
dan karyawan, serta pihak eksternal seperti pemegang saham, investor, kreditor, pemerintah dan
masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan alat informasi yang
menghubungkan perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan yang menunjukkan kondisi
kesehatan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan.

Perusahaan dan Akuntansi 15


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan lain dalam
posisi keuangan. Dalam Standar Akuntansi Keuangan dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan
yang isinya: “Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi”.
Urutan laporan keuangan berdasarkan proses penyajiannya adalah sebagai berikut:
1. Laporan Laba Rugi (Income Statement) merupakan laporan yang sistematis tentang
pendapatan dan beban perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Laporan laba rugi ini
memuat informasi mengenai hasil usaha perusahaan, yaitu laba/rugi bersih yang merupakan
hasil dari pendapatan dikurangi beban.
2. Laporan Ekuitas Pemilik (Statement of Owner’s Equity) adalah sebuah laporan yang
menyajikan ikhtisar perubahan dalam ekuitas pemilik suatu perusahaan untuk satu periode
waktu tertentu (laporan perubahan modal). Ekuitas pemilik akan bertambah dengan adanya
investasi (setoran modal) dan laba bersih. Sebaliknya, ekuitas pemilik akan berkurang dengan
adanya prive (penarikan/pengambilan untuk kepentingan pribadi) dan rugi bersih. (Catatan:
laporan ekuitas yang dibahas dalam buku ini hanyalah laporan ekuitas untuk perusahaan perorangan).

3. Neraca (Balance Sheet) adalah sebuah laporan yang sistematis tentang posisi aset, kewajiban,
dan ekuitas perusahaan per tanggal tertentu. Tujuan neraca adalah untuk menggambarkan
posisi keuangan perusahaan.
4. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows) adalah sebuah laporan yang menggambarkan arus
kas masuk dan arus kas keluar secara terperinci dari masing-masing aktivitas, yaitu mulai
dari aktivitas operasi, aktivitas investasi, sampai pada aktivitas pendanaan/pembiayaan
untuk satu periode waktu tertentu. Laporan arus kas menunjukkan besarnya kenaikan/
penurunan bersih kas dari seluruh aktivitas selama periode berjalan serta saldo kas yang
dimiliki perusahaan sampai dengan akhir periode.

Catatan atas laporan keuangan (notes to the inancial statements) merupakan bagian
integral yang tidak dapat dipisahkan dari komponen laporan keuangan lainnya. Tujuan catatan
ini adalah untuk memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan.

16 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Contoh format laporan keuangan pada perusahaan perorangan:

Micro service
Laporan Laba Rugi
untuk Bulan Yang Berakhir 31 Januari 2008

Pendapatan Jasa 5.000.000


Beban-beban:
Beban Gaji 500.000
Beban Sewa 200.000
Beban Iklan 150.000
Beban Perlengkapan 400.000
Beban Penyusutan Peralatan 340.000
Beban Rupa-Rupa 200.000
Total Beban (1.790.000)

Laba Bersih 3.210.000

Micro service
Laporan Ekuitas Pemilik
untuk Bulan Yang Berakhir 31 Januari 2008

Modal Santo (awal) 17.500.000


Laba Bersih 3.210.000
Kenaikan Modal Pemilik 20.710.000
Prive (300.000)
Modal Santo (akhir) 20.410.000

Perusahaan dan Akuntansi 17


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Micro service
neraca
31 Januari 2008

AsEt kEWAJiBAn
Kas 4.350.000 Utang Usaha 1.000.000
Piutang Usaha 16.100.000
Perlengkapan 960.000
EkuitAs PEMiLik
Modal Santo 20.410.000

Total Aset 21.410.000 Total Kewajiban dan Ekuitas 21.410.000

Catatan:
1. Pendapatan dan beban merupakan komponen/item/unsur dari Laporan Laba Rugi.
2. Prive merupakan komponen dari Laporan Ekuitas Pemilik.
3. Sedangkan beberapa contoh komponen dari Neraca adalah kas, piutang usaha, perlengkapan,
utang usaha, modal.
4. Urutan laporan keuangan berdasarkan proses penyajiannya harus selalu dimulai dari Laporan
Laba Rugi, Laporan Ekuitas Pemilik, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Untuk contoh format
penyusunan laporan arus kas tidak diberikan dalam buku ini, tetapi akan diberikan dan
dibahas secara rinci dalam buku akuntansi lanjutan dengan bab tersendiri mengenai laporan
arus kas.

1.7 soal Latihan

soal 1
Di bawah ini adalah hasil analisis transaksi dari sebuah perusahaan pada bulan Maret 2008 yang
disajikan dalam persamaan dasar akuntansi:

18 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
(dalam ribuan rupiah)
kas Piutang Perlengkapan Peralatan utang Modal Deskripsi
usaha kantor
45.000 45.000 Investasi 1.
(18.000) 24.000 6.000 2.
(1.000) 1.000 3.
1.400 3.600 5.000 Pendapatan 4.
Jasa
(1.500) (1.500) 5.
(500) (500) Prive 6.
2.000 (2.000) 7.
(3.000) (3.000) Beban Sewa 8.
(1.000) (1.000) 9.
(1.200) (1.200) Beban Gaji 10.
1.600 (1.600) 11.
400 (400) Beban Utilitas 12.
23.800 0 1.000 24.000 3.900 44.900
Diminta:
a. Tuliskan secara singkat transaksi-transaksi yang telah terjadi selama bulan Maret 2008
berdasarkan informasi di atas!
b. Hitunglah laba bersih yang dihasilkan selama bulan Maret 2008!

soal 2
Pada awal bulan September 2008 UD. Beauty Group memulai usaha jasa perawatan kulit wajah.
Investasi awal berupa uang tunai sebesar Rp30.000.000,00. Data berikut ini memberikan informasi
keuangan pada tanggal 30 September 2008 tentang posisi aset, kewajiban, dan jumlah beban:

Kas Rp14.000.000,00
Piutang Usaha Rp 4.000.000,00
Pendapatan Jasa Rp 7.500.000,00
Perlengkapan Kosmetik Rp 2.000.000,00

Perusahaan dan Akuntansi 19


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban Iklan Rp 500.000,00
Peralatan Rp25.000.000,00
Utang Wesel Rp13.000.000,00
Utang Usaha Rp 1.200.000,00
Beban Perlengkapan Rp 1.600.000,00
Beban Gaji Rp 1.800.000,00
Beban Utilitas Rp 300.000,00

Ny. Cathrine selaku pemilik perusahaan selama bulan September 2008 tidak melakukan
penambahan investasi, namun telah mengambil uang perusahaan untuk keperluan pribadi sebesar
Rp2.500.000,00.

Diminta: Susunlah Laporan Laba Rugi, Laporan Ekuitas Pemilik dan Neraca per 30 September
2008!

20 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
BAB 2

tahap
Pencatatan

tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Menjelaskan karakteristik akun dan kegunaannya dalam proses pen-


catatan.
2. Memahami saldo normal dan makna debet kredit akun.
3. Menganalisis transaksi dan mencatatnya ke dalam jurnal.
4. Mengidentiikasi jurnal umum dan jurnal khusus.
5. Menjelaskan serta menyiapkan buku besar umum dan buku besar
pembantu.
6. Menyiapkan neraca saldo dan menjelaskan tujuan serta keterbatasan-
nya.

tahap Pencatatan 21
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
2.1 kegunaan dan karakteristik Akun

Sebuah sistem akuntansi dirancang untuk menunjukkan kenaikan ataupun penurunan saldo
masing-masing komponen laporan keuangan. Kenaikan ataupun penurunan saldo ini haruslah
dicatat secara terperinci dan terpisah untuk setiap komponen laporan keuangan. Catatan
akuntansi yang terperinci dan terpisah inilah yang dinamakan sebagai akun (perkiraan). Jadi,
akun adalah catatan akuntansi mengenai kenaikan atau penurunan saldo dari masing-masing
aset, kewajiban, dan ekuitas. Sebagai contoh, lihatlah kembali laporan keuangan untuk Micro
Service yang telah disajikan pada Bab 1 terdahulu. Sebelum sampai pada penyusunan laporan
keuangan, Micro Service tentu saja memiliki catatan akuntansi yang terpisah untuk kas, piutang
usaha, perlengkapan, utang usaha, pendapatan jasa, beban gaji, beban sewa, beban iklan, dan
seterusnya.
Daftar (list) yang memuat mengenai keseluruhan kode (nomor) dan nama akun dinamakan
sebagai bagan perkiraan (chart of accounts). Kode dan nama akun yang terdapat di dalam daftar
merupakan kode dan nama akun yang akan digunakan oleh perusahaan untuk mencatat dan
mengklasiikasikan setiap transaksi bisnis (peristiwa ekonomi) yang terjadi. Sesungguhnya, akun
identik dengan komponen laporan keuangan, contohnya adalah akun kas, akun piutang usaha,
dan seterusnya.

Contoh Chart of Accounts (COA):


1. ASET
1.1 Kas
1.2 Piutang Usaha
1.4 Perlengkapan Kantor
1.5 Asuransi Dibayar Dimuka
1.7 Peralatan Kantor
1.8 Perabot Kantor

2. UTANG
2.1 Utang Usaha
2.3 Sewa Diterima Dimuka

22 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3. EKUITAS PEMILIK
3.1 Modal
3.2 Prive

4. PENDAPATAN
4.1 Pendapatan Usaha
4.2 Pendapatan Sewa
4.3 Pendapatan Bunga

5. BEBAN
5.1 Beban Gaji
5.2 Beban Iklan
5.3 Beban Sewa Kantor
5.4 Beban Utilitas
5.9 Beban Rupa-Rupa

Bentuk baku (standarisasi) dalam penyusunan chart of accounts dan yang telah diterapkan di
kebanyakan perusahaan adalah bahwa pengelompokan kode (nomor) 1 selalu dimulai dari akun-
akun aset, lalu diikuti dengan akun-akun dari kelompok utang, ekuitas, pendapatan, dan beban.
Untuk aset yang tergolong lancar, urutan penyusunan/penempatannya di dalam COA haruslah
berdasarkan urutan tingkat likuiditas. Kas merupakan aset yang paling likuid (lancar), lalu diikuti
dengan piutang usaha dan seterusnya. Dalam keseharian praktek akuntansi, kas sebagai aset yang
paling lancar seringkali menjadi objek yang paling “digemari” untuk dicuri, diselewengkan, atau
disalahgunakan oleh oknum karyawan tertentu sehingga memerlukan penerapan pengendalian
internal yang baik (memadai).
Sedangkan untuk aset tetap, penyusunannya selalu dimulai dari aset tetap berwujud yang
memiliki umur ekonomis (masa manfaat) paling lama. Oleh sebab itu, tidaklah heran apabila
tanah ditempatkan terlebih dahulu sebelum aset tetap berwujud lainnya (bangunan, kendaraan
bermotor, peralatan, dan seterusnya). Penyusunan COA untuk utang dimulai dari utang jangka
pendek yang bersifat paling lancar, biasanya dimulai dengan utang usaha, dan seterusnya.
Akun beban rupa-rupa dibuat untuk “menampung” seluruh pengeluaran yang jumlahnya
relatif kecil dan jarang terjadi sehingga tidak perlu dibuatkan akun khusus untuk mencatat

tahap Pencatatan 23
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
pengeluaran-pengeluaran tersebut. Akun beban rupa-rupa ini harus ditempatkan paling akhir
dalam daftar akun.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam proses penyusunan COA adalah penerapan
lexible numbering system (sistem penomoran yang leksibel) di mana sebuah kode dan nama akun
yang baru dapat ditambah (disisipkan) tanpa mengubah urutan kode akun lainnya yang sudah
ada. Dalam contoh bagan perkiraan sebelumnya, perhatikanlah dengan seksama urutan nomor/
kode yang sengaja dilewatkan (dikosongkan), yaitu dari kode 1.2 untuk akun piutang usaha ke
kode 1.4 untuk akun perlengkapan kantor, dan seterusnya. Hal ini bertujuan, jikalau nanti terdapat
penambahan akun baru maka penambahan atau penempatan akun baru ini harus tetap memenuhi
persyaratan urutan tingkat likuiditas (untuk kelompok aset lancar) dan seterusnya, seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Jadi, sebagai contoh jika ternyata terdapat akun yang sifatnya
lebih lancar dibanding akun perlengkapan kantor, misalnya akun piutang wesel (notes receivable)
maka akun yang baru muncul ini bisa langsung disisipkan tepat di atas akun perlengkapan kantor,
yaitu dengan nomor kode 1.3 tanpa harus merombak seluruh kode akun yang selama ini telah
digunakan. Demikian juga halnya dengan penambahan akun baru untuk tanah dan bangunan
dapat langsung disisipkan di antara nomor kode 1.5 dan 1.7.
Bentuk format yang paling sederhana untuk menunjukkan kenaikan atau penurunan saldo
masing-masing komponen laporan keuangan adalah dengan menggunakan model T account.
Dinamakan T account karena memang bentuk formatnya seperti huruf T. Namun bentuk format
yang paling umum digunakan dalam keseharian praktek akuntansi adalah model buku besar yang
akan dijelaskan nanti di Subbab 2.4.
Nama Akun
Model T account:
Mutasi Debet Mutasi Kredit
(Dr) (Kr)

2.2 saldo normal Akun


Dengan memahami persamaan dasar akuntansi (lihat Bab 1), kita dapat menyimpulkan secara
cermat bahwa setiap transaksi akan mempengaruhi paling tidak dua akun atau bahkan lebih.
Dalam akuntansi, pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan atas dasar double-entry system

24 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
di mana salah satu dari dua akun tersebut akan dicatat di sebelah debet dan yang lain dicatat
di sebelah kredit. Dengan kata lain, jumlah antara sisi debet dengan sisi kredit dalam sebuah
jurnal haruslah seimbang. Sebelum kita mencatat transaksi ke dalam jurnal, kita perlu memahami
terlebih dahulu saldo normal dan makna debet kredit akun.
Aset memiliki saldo normal di sebelah debet. Jika terdapat transaksi yang sifatnya menambah
aset perusahaan maka transaksi tersebut harus dicatat dengan mendebet aset yang bersangkutan.
Sebaliknya, jika efek dari suatu transaksi akan mengurangi aset maka aset yang berkurang tersebut
harus dicatat di sebelah kredit.

Dr Kas Kr

Saldo Awal xxx Pengeluaran xxx


Penerimaan xxx Saldo Akhir xxx
yyy yyy

Catatan: Mutasi debet pada piutang usaha


Dr Piutang Usaha Kr
timbul karena belum diterimanya pembayaran
Saldo Awal xxx Penagihan xxx atas jasa yang sudah diberikan. Mutasi kredit
Jual Produk xxx Saldo Akhir xxx terjadi setelah hasil penagihan piutang di-
terima. Hal yang sama juga berlaku untuk pen-
yyy yyy
jualan barang dagang secara kredit.

Utang (kewajiban) memiliki saldo normal di sebelah kredit. Jadi, jika terdapat transaksi
yang sifatnya menambah jumlah kewajiban perusahaan maka transaksi tersebut harus dicatat
dengan mengkredit kewajiban yang bersangkutan. Sebaliknya, jika efek dari suatu transaksi
sifatnya mengurangi jumlah kewajiban maka utang yang berkurang tersebut harus dicatat di
sebelah debet.

Dr Utang Usaha Kr
Catatan: Mutasi kredit pada utang usaha timbul
Pembayaran xxx Saldo Awal xxx karena melakukan pembelian barang secara
Saldo Akhir xxx Beli Barang xxx kredit. Mutasi debet terjadi setelah utang
tersebut dibayar/dilunasi.
yyy yyy

tahap Pencatatan 25
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Dr Pinjaman Bank Kr

Pembayaran xxx Saldo Awal xxx


Saldo Akhir xxx Tambahan xxx
yyy yyy

Ekuitas memiliki saldo normal di sebelah kredit. Ekuitas akan bertambah di sebelah kredit
dan sebaliknya, akan berkurang di sebelah debet. Prive memiliki saldo normal di sebelah debet
di mana prive bersifat mengurangi ekuitas. Pendapatan memiliki saldo normal di sebelah kredit
sehingga pendapatan bersifat menambah ekuitas. Pendapatan akan bertambah di sebelah kredit
dan sebaliknya, akan berkurang di sebelah debet. Beban memiliki saldo normal di sebelah debet di
mana sifatnya akan mengurangi ekuitas. Beban akan bertambah di sebelah debet dan sebaliknya,
akan berkurang di sebelah kredit. Perhatikanlah bahwa saldo normal pendapatan berbanding
lurus dengan saldo normal ekuitas, sedangkan saldo normal prive dan beban berbanding terbalik
dengan saldo normal ekuitas.

2.3 Analisis transaksi dan Jurnal

Dalam akuntansi, proses pencatatan selalu dimulai dengan menganalisis setiap transaksi yang
terjadi dalam perusahaan. Analisis ini mengandung pengertian bahwa seorang akuntan harus
dapat menentukan pengaruh dari setiap transaksi terhadap akun. Pada tahapan ini, akuntan sudah
selayaknya memiliki pemahaman yang baik mengenai deinisi/pengertian dari aset, kewajiban,
ekuitas, prive, pendapatan, serta beban yang merupakan akun utama laporan keuangan. Setelah
transaksi dianalisis, langkah selanjutnya adalah mencatat kandungan informasi yang ada pada
setiap transaksi ke dalam jurnal (tentu saja setelah kandungan informasi tadi diterjemahkan ke
dalam akun-akun).
Transaksi dicatat ke dalam jurnal secara kronologis, yaitu berdasarkan urutan waktu ter-
jadinya transaksi. Jurnal akan memperlihatkan pengaruh setiap transaksi terhadap akun dalam
bentuk debet kredit. Lewat prosedur debet kredit inilah kita dapat melihat kenaikan ataupun
penurunan atas saldo masing-masing akun terkait.

26 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Ilustrasi:
Berikut ini adalah serangkaian transaksi yang terjadi pada Kantor Akuntan Publik Drs. Thomas
Nelson selama bulan pertama operasionalnya, yaitu bulan Februari 2008:

1 Febr Tn. Thomas menyetor uang kas ke dalam perusahaan sebagai modal awal sebesar
Rp30.000.000,00.

2 Febr Dibayar sewa kantor untuk bulan Februari sebesar Rp7.000.000,00.

2 Febr Dibeli peralatan kantor berupa komputer seharga Rp14.000.000,00. Dalam hal ini,
perusahaan membayar tunai Rp10.000.000,00 dan sisanya akan dibayar dikemudian
hari.

3 Febr Dibeli tunai perabot kantor berupa meja dan kursi seharga Rp3.000.000,00.

4 Febr Dibeli tunai perlengkapan kantor berupa kertas print dan alat tulis kantor seharga
Rp1.400.000,00.

11 Febr Diterima kas dari klien, PT. Langga Internusa, atas jasa konsultasi sistem akuntansi
klien sebesar Rp1.850.000,00.

13 Febr Dibayar sebagian utang atas transaksi tanggal 2 Februari yang lalu, yaitu sebesar
Rp1.500.000,00.

16 Febr Diterima kas dari klien, PT. Wahana Mandiri, atas jasa penyusunan laporan keuangan
tahun 2007 yang lalu sebesar Rp2.000.000,00 sedangkan sisanya sebesar Rp1.500.000,00
baru akan dilunasi oleh klien dalam jangka waktu dua minggu kemudian.

19 Febr Dibeli tambahan perlengkapan kantor berupa kertas print secara kredit sebesar
Rp400.000,00.

25 Febr Dibayar gaji karyawan sebesar Rp2.000.000,00.

27 Febr Dibayar utang atas transaksi tanggal 19 Februari yang lalu.

28 Febr Dibayar beban utilitas berupa pemakaian listrik dan telepon sebesar Rp250.000,00.

tahap Pencatatan 27
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Ayat jurnal yang perlu dibuat dari ilustrasi di atas adalah
tanggal nama Akun COA Dr kr
1 Febr Kas 1.1 30.000.000
Modal Thomas 3.1 30.000.000

2 Febr Beban Sewa Kantor 5.3 7.000.000


Kas 1.1 7.000.000

2 Febr Peralatan Kantor 1.7 14.000.000


Kas 1.1 10.000.000
Utang Usaha 2.1 4.000.000

3 Febr Perabot Kantor 1.8 3.000.000


Kas 1.1 3.000.000

4 Febr Perlengkapan Kantor 1.4 1.400.000


Kas 1.1 1.400.000

11 Febr Kas 1.1 1.850.000


Pendapatan Usaha 4.1 1.850.000

13 Febr Utang Usaha 2.1 1.500.000


Kas 1.1 1.500.000

16 Febr Kas 1.1 2.000.000


Piutang Usaha 1.2 1.500.000
Pendapatan Usaha 4.1 3.500.000

19 Febr Perlengkapan Kantor 1.4 400.000


Utang Usaha 2.1 400.000

25 Febr Beban Gaji 5.1 2.000.000


Kas 1.1 2.000.000

27 Febr Utang Usaha 2.1 400.000


Kas 1.1 400.000

28 Febr Beban Utilitas 5.4 250.000


Kas 1.1 250.000

Penjelasan transaksi:
1 Februari: Kas perusahaan bertambah akibat adanya transaksi penyetoran uang tunai dari
pemilik (Tn. Thomas Nelson) ke dalam perusahaan; uang kas ini akan dijadikan

28 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
sebagai modal awal untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Ingat
kembali bahwa kas (aset lancar) memiliki saldo normal di sebelah debet sehingga
kas akan bertambah di sebelah debet.

2 Februari: Uang kas perusahaan menjadi berkurang akibat adanya transaksi pembayaran
beban sewa kantor. Kas berkurang di sebelah kredit, sedangkan beban memiliki
saldo normal di sebelah debet. Mengapa beban memiliki saldo normal di sebelah
debet? Ingat kembali bahwa beban bersifat mengurangi modal dan modal akan
berkurang di sebelah debet. Modal memiliki saldo normal di sebelah kredit.

2 Februari: Peralatan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset tetap ini
akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun peralatan kantor di sebelah
debet sebesar Rp14.000.000,00. Dari total pembelian peralatan kantor ini,
Rp10.000.000,00 langsung dibayar tunai sehingga mengurangi akun kas di sebelah
kredit, sedangkan sisanya Rp4.000.000,00 merupakan utang. Utang bertambah di
sebelah kredit sesuai dengan saldo normalnya.

3 Februari: Perabot kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset tetap ini akan
dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perabot kantor di sebelah debet.
Perabot kantor tersebut dibeli secara tunai sehingga uang kas perusahaan menjadi
berkurang. Pengurangan kas ini akan dicatat di sebelah kredit dalam jurnal.

4 Februari: Perlengkapan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset lancar
ini akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perlengkapan kantor
di sebelah debet. Perlengkapan kantor ini dibeli secara tunai sehingga uang kas
perusahaan menjadi berkurang. Pengurangan kas ini akan dicatat di sebelah kredit
dalam jurnal.

11 Februari: Kas perusahaan menjadi bertambah di sebelah debet dalam jurnal karena adanya
penerimaan uang kas dari klien atas jasa konsultasi yang telah diberikan. Karena
perusahaan telah memberikan jasa kepada klien maka saat itu juga perusahaan
akan mengakui pendapatan usaha. Pendapatan memiliki saldo normal di sebelah

tahap Pencatatan 29
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
kredit. Ingat kembali bahwa pendapatan bersifat menambah modal. Modal akan
bertambah di sebelah kredit.

13 Februari: Kas menjadi berkurang di sebelah kredit karena adanya transaksi pembayaran atas
sebagian utang pembelian peralatan kantor pada tanggal 2 Februari yang lalu.
Sebagian utang yang dibayar ini akan berkurang di sebelah debet.

16 Februari: Nilai jasa yang telah diberikan kepada klien adalah sebesar Rp3.500.000,00. Nilai
inilah yang harus diakui sebagai pendapatan usaha di sebelah kredit dalam jurnal.
Jadi, Rp3.500.000,00 ini akan langsung diakui sepenuhnya sebagai pendapatan,
meskipun uang kas yang baru diterima hanyalah sebagian yaitu Rp2.000.000,00.
Intinya adalah bahwa pendapatan akan langsung diakui ketika perusahaan
telah memberikan jasanya kepada klien, tidak peduli apakah kas sudah diterima
seluruhnya, sebagian, atau bahkan sama sekali belum ada pembayaran dari klien.
Dalam akuntansi, inilah yang dinamakan sebagai dasar pencatatan akrual yang
akan dibahas secara lebih rinci dalam Bab 3. Agar sisi debet dan sisi kredit dalam
jurnal menjadi seimbang (double entry system), akun piutang usaha didebet
sebesar Rp1.500.000,00 yang menggambarkan hak perusahaan untuk menagih
kepada klien. Piutang usaha merupakan aset lancar yang memiliki saldo normal di
sebelah debet.

19 Februari: Perlengkapan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset lancar ini
dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perlengkapan kantor di sebelah
debet. Perlengkapan kantor ini dibeli secara kredit sehingga uang kas perusahaan
tidaklah terpengaruh (tidak berkurang). Pembelian perlengkapan kantor secara
kredit tentu saja akan menambah besarnya saldo utang. Penambahan utang akan
dicatat di sebelah kredit dalam jurnal.

25 Februari: Sama seperti transaksi pada tanggal 2 Februari. Uang kas perusahaan menjadi
berkurang akibat adanya transaksi pembayaran gaji karyawan. Kas berkurang di
sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal di sebelah debet.

27 Februari: Sama seperti transaksi pada tanggal 13 Februari. Kas menjadi berkurang di

30 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
sebelah kredit karena adanya transaksi pembayaran atas seluruh utang pembelian
perlengkapan kantor pada tanggal 19 Februari yang lalu. Seluruh utang yang
dibayar ini akan berkurang di sebelah debet sehingga saldo utang yang khusus
berasal dari transaksi pada tanggal 19 Februari yang lalu sekarang menjadi nol.

28 Februari: Sama seperti transaksi pada tanggal 2 dan 25 Februari. Uang kas perusahaan men-
jadi berkurang akibat adanya transaksi pembayaran beban utilitas. Kas berkurang
di sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal di sebelah debet.

Jurnal dibedakan menjadi dua, yaitu jurnal umum (general journal) dan jurnal khusus
(special journal). Jurnal umum dibuat atas transaksi yang tidak dicatat dalam jurnal khusus.
Contoh transaksi yang akan dicatat dalam jurnal umum adalah transaksi retur pembelian, retur
penjualan, serta transaksi pembelian peralatan dan perlengkapan kantor secara kredit. Jurnal
koreksi (correcting entries), jurnal penyesuaian (adjusting entries), dan jurnal penutup (closing
entries) tergolong ke dalam jurnal umum.

Jurnal khusus dibagi menjadi:


 Jurnal penjualan (sales journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi penjualan
barang dagang ke pelanggan secara kredit. Untuk transaksi penjualan barang dagang yang
dilakukan secara tunai akan dicatat dalam jurnal penerimaan kas.
 Jurnal pembelian (purchases journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi pembelian
barang dagang dari supplier secara kredit. Untuk transaksi pembelian barang dagang yang
dilakukan secara tunai akan dicatat dalam jurnal pembayaran kas.
 Jurnal penerimaan kas (cash receipts journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi
penerimaan kas. Penerimaan kas langsung dari pelanggan dalam transaksi penjualan barang
dagang secara tunai dan penerimaan kas dari hasil penagihan piutang akan dicatat dalam
buku jurnal ini. Contoh lainnya adalah penerimaan kas dari hasil pinjaman serta penjualan
tunai peralatan dan perabot kantor yang tidak terpakai.
 Jurnal pembayaran kas (cash payments journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi
pengeluaran kas. Pembayaran kas langsung ke supplier dalam transaksi pembelian barang
dagang secara tunai, pengeluaran kas untuk pelunasan utang, serta pembelian peralatan
dan perlengkapan kantor secara tunai akan dicatat dalam buku jurnal ini.

tahap Pencatatan 31
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
2.4 Buku Besar
Setelah transaksi dianalisis dan dicatat ke dalam jurnal, langkah selanjutnya adalah mem-posting
(memindahbukukan) setiap saldo akun yang terdapat pada jurnal ke dalam buku besar untuk
masing-masing akun. Intinya adalah bahwa setiap saldo akun yang masih “tercerai berai” dalam
jurnal akan diakumulasikan ke dalam buku besar sesuai masing-masing akun. Nantinya, buku besar
untuk masing-masing akun ini akan memperlihatkan secara terperinci mengenai setiap perubahan
(mutasi debet dan mutasi kredit) yang ditimbulkan dari seluruh transaksi yang terjadi selama
periode akuntansi. Dengan kata lain, buku besar untuk masing-masing akun merupakan rincian
akumulasi saldo akun terkait yang terdapat dalam jurnal. Pemahaman yang mendalam mengenai
saldo normal dan makna debet kredit akun sangatlah dibutuhkan dalam proses penyusunan buku
besar. Buku besar dibuat dengan urutan akun seperti yang tercantum pada bagan perkiraan (chart
of accounts) yang dimulai dengan akun neraca (kas, piutang usaha, dan seterusnya).
Sebagai contoh, buku besar kas akan memuat secara terperinci saldo awal, mutasi debet,
mutasi kredit, dan saldo akhir. Mutasi debet yang terdapat dalam buku besar kas merupakan rincian
pemindahbukuan dari seluruh transaksi penerimaan kas yang telah dicatat dalam jurnal. Demikian
juga mutasi kredit yang terdapat dalam buku besar kas merupakan rincian pemindahbukuan dari
seluruh transaksi pengeluaran kas yang telah dicatat dalam jurnal.
Buku besar (ledger) dibedakan menjadi dua, yaitu buku besar umum (general ledger) dan
buku besar pembantu (subsidiary ledger). Untuk perusahaan yang sudah computerized system,
proses posting dari jurnal ke buku besar tidak lagi dilakukan secara manual, tetapi langsung
terposting secara otomatis lewat program komputer. Buku besar umum selalu dibuat atas seluruh
akun laporan keuangan.
Tidak semua akun memerlukan buku besar pembantu. Perusahaan biasanya akan membuat
buku besar pembantu khusus untuk akun piutang usaha dan utang usaha. Buku besar pembantu
diperlukan untuk merinci saldo yang terdapat dalam buku besar umum. Bayangkan saja dalam
sebuah perusahaan dagang di mana transaksi penjualan barang dagang (secara kredit) dilakukan
ke banyak pelanggan. Demikian juga perusahaan melakukan transaksi pembelian barang dagang
(secara kredit) dari banyak supplier. Dengan adanya buku besar pembantu yang mencatat tagihan
dari masing-masing pelanggan dan utang ke masing-masing supplier akan lebih memudahkan bagi
perusahaan untuk mengontrol saldo keseluruhan piutang usaha dan utang usaha. Total jumlah
saldo dari keseluruhan masing-masing buku besar pembantu harus sama dengan jumlah saldo
yang tertera dalam buku besar umum.

32 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Piutang
GL Utang Usaha
Usaha

Customer Customer Customer Supplier Supplier Supplier


sL
A B C A B C

Ilustrasi:
Dengan menggunakan data transaksi Kantor Akuntan Publik Drs. Thomas Nelson di atas, berikut
adalah buku besar umum yang dibuat:

1.1 kas

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Febr. Setoran Tn. Thomas 30.000.000 30.000.000

2 Febr. Bayar sewa kantor 7.000.000 23.000.000

Beli komputer 10.000.000 13.000.000

3 Febr. Beli meja & kursi kantor 3.000.000 10.000.000

4 Febr. Beli kertas print & alat tulis 1.400.000 8.600.000

11 Febr. PT. Langga Internusa 1.850.000 10.450.000

13 Febr. Bayar utang 1.500.000 8.950.000

16 Febr. PT. Wahana Mandiri 2.000.000 10.950.000

25 Febr. Bayar gaji bulan Februari 2.000.000 8.950.000

27 Febr. Bayar utang 400.000 8.550.000

28 Febr. Bayar utilitas 250.000 8.300.000

tahap Pencatatan 33
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
1.2 Piutang usaha

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

16 Febr. PT. Wahana Mandiri 1.500.000 1.500.000

1.4 Perlengkapan kantor

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

4 Febr. Kertas print & alat tulis 1.400.000 1.400.000


19 Febr. Kertas print 400.000 1.800.000

1.7 Peralatan kantor

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

2 Febr. Komputer 14.000.000 14.000.000

1.8 Perabot kantor

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

3 Febr. Meja & kursi 3.000.000 3.000.000

2.1 utang usaha

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

2 Febr. Beli komputer 4.000.000 4.000.000


13 Febr. Bayar utang komputer 1.500.000 2.500.000
19 Febr. Beli kertas print 400.000 2.900.000
27 Febr. Bayar utang kertas print 400.000 2.500.000

34 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3.1 Modal tn. thomas

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Febr. Setoran tunai 30.000.000 30.000.000

4.1 Pendapatan usaha

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

11 Febr. PT. Langga Internusa 1.850.000 1.850.000


16 Febr. PT. Wahana Mandiri 3.500.000 5.350.000

5.1 Beban Gaji

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

25 Febr. Gaji karyawan Februari 2.000.000 2.000.000

1.3 Beban sewa kantor

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

2 Febr. Sewa kantor bulan Februari 7.000.000 7.000.000

1.4 Beban utilitas

tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

28 Febr. Listrik & telepon Februari 250.000 250.000

Catatan: Kolom reference diisi dengan nomor jurnal (J1, J2, dan seterusnya) di mana jumlah
debet/kredit yang diposting ke buku besar diambil dari jurnal bersangkutan.

tahap Pencatatan 35
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
2.5 neraca saldo

Neraca saldo (trial balance) diperlukan untuk memastikan bahwa tidak adanya kesalahan dalam
memposting jumlah debet/kredit dari jurnal ke buku besar. Kecocokan antara jumlah debet dengan
jumlah kredit ini harus dibuktikan pada setiap akhir periode laporan akuntansi. Langkah awal
dalam menyiapkan neraca saldo adalah menentukan saldo akhir per periode laporan akuntansi
untuk setiap akun (lihat saldo akhir yang dicetak tebal pada buku besar di atas). Seluruh saldo
akhir tersebut (untuk tiap-tiap akun) akan dipindahkan ke neraca saldo.
Perlu ditekankan di sini bahwa neraca saldo dibuat hanya untuk membuktikan bahwa antara
jumlah debet dengan jumlah kredit telah sama (equality). Neraca saldo tidak menjamin dalam
hal kelengkapan dan keakuratan data transaksi. Jika antara jumlah debet dengan jumlah kredit
dalam neraca saldo tidak sama maka berarti terdapat kesalahan posting (karena dalam double-
entry system, seharusnya antara sisi debet dengan sisi kredit seimbang). Sebaliknya, jika antara
jumlah debet dengan jumlah kredit dalam neraca saldo sama maka hal ini belum tentu (tidak
menjamin) bahwa semua transaksi telah dicatat secara benar dalam jurnal. Antara jumlah debet
dengan jumlah kredit dalam neraca saldo akan tetap sama, meskipun:
 Terdapat kesalahan identiikasi akun dalam pembuatan ayat jurnal; misalnya sebuah
peralatan yang dibeli secara tunai dicatat dalam jurnal sebagai penambah utang. Dalam hal
ini, meskipun akun yang digunakan salah (mengkredit akun utang, seharusnya mengkredit
akun kas) antara sisi debet dengan sisi kredit akan tetap seimbang dalam jumlah yang
sama.
 Terdapat transaksi bisnis yang tidak dijurnal (terlewatkan).
 Terdapat transaksi bisnis yang dijurnal secara ganda (double).

Ilustrasi:
Dengan menggunakan saldo akhir dari masing-masing akun yang ada pada buku besar KAP Drs.
Thomas Nelson di atas, berikut ini adalah tampilan neraca saldo yang dibuat:

36 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
kAP Drs. thomas nelson
neraca saldo
29 Februari 2008

kode Akun nama Akun Debet kredit

1.1 Kas 8.300.000


1.2 Piutang Usaha 1.500.000
1.4 Perlengkapan Kantor 1.800.000
1.7 Peralatan Kantor 14.000.000
1.8 Perabot Kantor 3.000.000
2.1 Utang 2.500.000
3.1 Modal Tn. Thomas 30.000.000
4.1 Pendapatan Usaha 5.350.000
5.1 Beban Gaji 2.000.000
5.3 Beban Sewa Kantor 7.000.000
5.4 Beban Utilitas 250.000

37.850.000 37.850.000

2.6 soal Latihan

soal 1
Kurniawan, pada tanggal 30 Juni 2008 mendirikan perusahaan jasa radio swasta dengan nama
“Merdu Broadcasting Station”. Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Juli 2008 adalah
sebagai berikut:

1 Juli Kurniawan memindahkan uang tunai sebesar Rp200.000.000,00 dari rekening pribadinya
di bank ke dalam rekening perusahaan. Pemindahan uang ini dimaksudkan sebagai
setoran modal awal.
2 Juli Dibeli peralatan siaran seharga Rp100.000.000,00 dari Toko Elektronik. Transaksi ini
dibayar tunai sebesar Rp70.000.000,00 dan sisanya akan dibayar kemudian.

tahap Pencatatan 37
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3 Juli Dibayar sewa ruangan kantor untuk jangka waktu 1 tahun sebesar Rp12.000.000,00.
5 Juli Dibeli perlengkapan kantor seharga Rp4.500.000,00 dari CV. Agung. Transaksi ini dibayar
tunai sebesar Rp2.500.000,00 dan sisanya akan dibayar kemudian.
8 Juli Pendapatan jasa yang diperhitungkan/dibebankan kepada pelanggan (para pemasang
iklan) sebesar Rp18.000.000,00. Dari jumlah ini, sebesar Rp12.000.000,00 diterima
tunai.
10 Juli Dibayar utang pembelian peralatan kepada Toko Elektronik sebesar Rp30.000.000,00.
12 Juli Dibayar beban iklan yang dimuat di surat kabar harian Kompas untuk bulan Juli 2008
sebesar Rp400.000,00.
15 Juli Dibeli tambahan peralatan dari Toko Elektronik seharga Rp42.000.000,00. Uang muka
yang telah dibayarkan sebesar Rp12.000.000,00.
17 Juli Diterima hasil penagihan piutang sebesar Rp6.000.000,00 (dari transaksi pada tanggal
8 Juli 2008 yang lalu).
19 Juli Dibayar utang perusahaan sebesar Rp2.000.000,00 kepada CV. Agung atas pembelian
perlengkapan kantor yang telah dilakukan pada tanggal 5 Juli 2008 yang lalu.
20 Juli Diterima uang sebagai hasil pendapatan jasa dari sebuah perusahaan minuman yang
mengiklankan produknya melalui siaran radio sebesar Rp500.000,00 untuk bulan Juli
2008.
23 Juli Untuk menambah persediaan uang kas perusahaan, Kurniawan meminjam uang dari bank
sebesar Rp30.000.000,00.
26 Juli Dibayar utang pembelian peralatan kepada Toko Elektronik sebesar Rp30.000.000,00
27 Juli Pendapatan jasa yang diperhitungkan/dibebankan kepada langganan (para pemasang
iklan) sebesar Rp5.000.000,00. Dari jumlah ini, sebesar Rp2.000.000,00 diterima tunai.
28 Juli Kurniawan mengambil uang tunai dari perusahaan sebesar Rp10.000.000,00 untuk
keperluan pribadi.
29 Juli Dibayar gaji karyawan untuk bulan Juli 2008 sebesar Rp8.000.000,00.
30 Juli Beban perlengkapan kantor yang diperhitungkan oleh perusahaan untuk bulan Juli 2008
sebesar Rp2.700.000,00.
31 Juli Beban sewa yang diperhitungkan untuk bulan Juli 2008 adalah sebesar
Rp1.000.000,00.

Diminta: Catatlah transaksi-transaksi tersebut di atas dalam jurnal umum!

38 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
soal 2
Pada tanggal 1 Maret 2008, Tn. Vicky Alexander selaku pemilik tunggal perusahaan mendirikan
usaha perorangan (proprietorship) yang bergerak dalam bidang jasa servis elektronik dengan nama
“Performance Service”. Aset yang disetor ke dalam perusahaan sebagai modal awal adalah berupa:
- Kas Rp 2.000.000,00
- Perlengkapan Rp 500.000,00
- Peralatan Rp15.000.000,00

Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Maret 2008 adalah sebagai berikut:
2 Maret Dibayar sewa ruangan untuk bulan Maret sebesar Rp200.000,00.
3 Maret Dibeli peralatan seharga Rp2.000.000,00. Transaksi ini dibayar tunai sebesar
Rp500.000,00 sedangkan sisanya akan dibayar kemudian.
5 Maret Dibayar pemasangan iklan sebesar Rp150.000,00.
7 Maret Diterima dari pelanggan atas jasa servis sebesar Rp700.000,00.
9 Maret Dibayar sebagian utang Rp500.000,00.
11 Maret Diterima tunai dari jasa servis sebesar Rp1.500.000,00.
15 Maret Dibeli tunai tambahan perlengkapan seharga Rp200.000,00.
17 Maret Diperhitungkan kepada langganan atas jasa servis yang telah diberikan senilai
Rp1.200.000,00. Dari jumlah tersebut diterima tunai sebesar Rp500.000,00 sedangkan
sisanya akan ditagih kemudian.
21 Maret Diambil uang tunai untuk keperluan pemilik Rp300.000,00.
25 Maret Dibayar untuk beban rupa-rupa sebesar Rp200.000,00.
27 Maret Diterima sebagian pelunasan dari pelanggan, atas jasa yang telah diserahkan pada
tanggal 17 Maret yang lalu sebesar Rp200.000,00.
28 Maret Dibayar gaji karyawan sebesar Rp500.000,00.
31 Maret Perlengkapan yang masih belum terpakai senilai Rp300.000,00.

Diminta:
1. Buatlah ayat jurnal umum yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas dalam
pembukuan “Performance Service”!
2. Setelah mem-posting masing-masing ayat jurnal di atas ke dalam buku besar, susunlah Laporan
Laba Rugi, Laporan Ekuitas Pemilik dan Neraca!

tahap Pencatatan 39
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
soal 3
Pada tanggal 3 Februari 2008 Tn. Thian Akwet mendirikan sebuah perusahaan perorangan yang
bergerak dalam bidang jasa broker penjualan rumah. Selama bulan Februari 2008, transaksi-
transaksi yang telah terjadi adalah sebagai berikut:
3 Febr Tn. Thian Akwet mencairkan deposito pribadinya sebesar Rp50.000.000,00 untuk
investasi awal ke dalam perusahaannya.
5 Febr Membayar sewa kantor bulanan sebesar Rp2.500.000,00.
9 Febr Membeli peralatan kantor senilai Rp17.500.000,00 di mana dalam transaksi ini dibayar
tunai sebesar Rp5.000.000,00 sedangkan sisanya akan dilunasi kemudian.
11 Febr Membeli perlengkapan kantor secara kredit dari UD. Aneka sebesar Rp3.600.000,00.
13 Febr Menerima komisi penjualan rumah sebesar Rp17.500.000,00.
18 Febr Membayar pemasangan iklan di koran Kompas untuk bulan Februari 2008 sebesar
Rp3.000.000,00.
20 Febr Mencatat pendapatan komisi penjualan rumah sebesar Rp32.500.000,00 yang akan
diterima bulan depan.
24 Febr Membayar sebagian utang usaha kepada UD. Aneka sebesar Rp1.600.000,00 atas transaksi
pembelian perlengkapan kantor secara kredit yang telah dilakukan pada tanggal 11
Februari yang lalu.
26 Febr Membayar rekening air, listrik dan telpon untuk bulan Februari 2008 sebesar
Rp3.250.000,00.
26 Febr Komisi yang masih harus diterima sebesar Rp10.000.000,00.
26 Febr Tn. Thian Akwet mengambil perlengkapan kantor senilai Rp600.000,00 untuk keperluan
pribadi.
27 Febr Membayar gaji karyawan sebesar Rp1.000.000,00 dan mencatat (memperhitungkan) gaji
yang masih harus dibayar atas karyawan yang sedang dinas atau berada di luar kota
sebesar Rp500.000,00.
27 Febr Selama bulan Februari 2008, besarnya perlengkapan kantor yang sudah terpakai
adalah Rp1.800.000,00, sedangkan besarnya penyusutan atas peralatan kantor adalah
Rp3.500.000,00.

Diminta: Buatlah ayat jurnal umum yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di
atas!

40 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
BAB 3

tahap
Penyesuaian

tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Menjelaskan konsep penandingan dalam kaitannya dengan asumsi periode


akuntansi.
2. Membedakan antara pencatatan akuntansi berbasis kas dengan akrual.
3. Memahami tujuan jurnal penyesuaian.
4. Mengidentiikasi item-item yang memerlukan penyesuaian.
5. Menyiapkan ayat jurnal penyesuaian untuk biaya yang dibayar dimuka
dan pendapatan yang diterima dimuka.
6. Menyiapkan ayat jurnal penyesuaian untuk beban yang masih harus
dibayar dan pendapatan yang masih harus diterima.
7. Menyiapkan ayat jurnal koreksi.
8. Memahami penyesuaian atas aset tetap.

tahap Penyesuaian 41
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3.1 konsep Penandingan

Ketika bagian akuntansi suatu perusahaan akan menyiapkan (menyusun) laporan keuangan,
mereka menyadari bahwa periode pembukuan perusahaan yang akan dilaporkan dapat dibagi ke
dalam beberapa periode. Dengan menggunakan konsep periode akuntansi ini, atau yang dikenal
dengan sebutan accounting period concept, akuntan harus berhati-hati dan setepat mungkin
dalam menentukan besar jumlah pendapatan dan beban yang harus dilaporkan dalam laporan
keuangan. Untuk menentukan besarnya jumlah pendapatan dan beban secara tepat dalam periode
yang tepat, tersedia dua pilihan yang dapat dijadikan sebagai dasar pencatatan oleh akuntan,
yaitu cash basis dan accrual basis.
Apabila dasar pencatatan akuntansi yang digunakan adalah cash basis maka pendapatan
dan beban akan dilaporkan dalam laporan laba rugi (income statement) dalam periode di mana
uang kas diterima (untuk pendapatan) atau uang kas dibayarkan (untuk beban). Jadi, dapat
disimpulkan bahwa transaksi pendapatan dan beban yang akan dilaporkan dalam laporan laba
rugi adalah transaksi-transaksi yang melibatkan arus uang kas masuk (untuk pendapatan) ataupun
arus uang kas keluar (untuk beban). Besarnya laba bersih (net income) atau rugi bersih (net loss)
yang dihasilkan dari selisih antara pendapatan dengan beban akan mencerminkan jumlah bersih
uang kas yang dihasilkan (untuk net income) atau jumlah bersih uang kas yang dikeluarkan
(untuk net loss). Misalnya, dengan menggunakan dasar pencatatan cash basis, diperoleh jumlah
pendapatan selama periode sebesar 120 juta rupiah (uang kas masuk), sedangkan jumlah beban
selama periode sebesar 30 juta rupiah (uang kas keluar). Dalam contoh ini maka besarnya net
income adalah 90 juta rupiah, dan 90 juta rupiah ini identik dengan jumlah bersih uang kas yang
masuk (dihasilkan), yaitu setelah pendapatan dikurangi dengan beban.
Sedangkan apabila dasar pencatatan akuntansi yang digunakan adalah accrual basis maka
baik untuk pendapatan maupun beban akan dilaporkan dalam laporan laba rugi dalam periode
di mana pendapatan dan beban tersebut terjadi, tanpa memperhatikan arus uang kas masuk
ataupun arus uang kas keluar. Sebagai contoh, dalam perusahaan jasa, pendapatan akan segera
langsung diakui ketika perusahaan telah memberikan jasa (performed) kepada pelanggan (secara
substansial ekonomi, proses pembentukan pendapatan telah selesai). Baik sudah atau belum
menerima pembayaran, perusahaan yang telah memberikan jasa akan langsung mengakuinya
sebagai pendapatan dalam laporan laba rugi dalam periode di mana jasa tersebut telah diberikan
kepada pelanggan. Demikian juga dalam perusahaan dagang, apabila perusahaan menjual barang

42 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
dagang kepada pelanggan maka penjual akan langsung mengakuinya sebagai pendapatan (sales
revenue), tidak peduli apakah penjualan tersebut dilakukan secara tunai atau kredit. Perlakuan
yang sama juga berlalu untuk pengakuan beban. Beban akan langsung diakui dalam periode di
mana beban tersebut memang benar-benar sudah terjadi, meskipun belum dibayarkan (belum
ada arus uang kas yang keluar). Sebagai contoh adalah beban gaji yang terhutang yang belum
dibayarkan pada saat perusahaan tutup buku (misalnya 31 Desember 2008) haruslah tetap diakui
(di-accrue) sebagai beban tahun 2008. Alasannya adalah bahwa perusahaan telah menggunakan
jasa para karyawan di tahun 2008, meskipun belum dibayarkan hingga tahun 2009. Jadi, karena
perusahaan telah menggunakan jasa karyawan di tahun 2008 maka pemakaian jasa karyawan ini
haruslah menjadi beban untuk tahun 2008 juga.
Dengan accrual basis, beban-beban yang terkait dengan penciptaan pendapatan harus
dilaporkan dalam periode yang sama di mana pendapatan tersebut juga diakui. Konsep akuntansi
yang mendukung pelaporan pendapatan dan beban yang terkait dalam periode yang sama
dinamakan sebagai konsep penandingan (matching concept). Sebagai contoh: sebuah perusahaan
yang bergerak dalam bidang agen air minum mineral (dalam kemasan botol) berhasil memperoleh
omset penjualan untuk periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2008 sebesar 372 juta rupiah.
Berdasarkan matching concept, perlu ditegaskan di sini bahwa omset penjualan sebesar 372
juta rupiah tersebut diperoleh bukanlah dengan “modal dengkul”, dalam arti 372 juta rupiah ini
tercipta (diperoleh) tentu saja juga dengan mengeluarkan pengorbanan-pengorbanan sebesar
jumlah tertentu. Pengorbanan-pengorbanan ini bisa berupa harga pokok penjualan (harga beli
dari pabrik langsung atau distributor utama), beban gaji karyawan toko dan gudang, beban sewa
gudang, beban utilitas (air & listrik), beban penyusutan kendaraan (kendaraan untuk kirim barang
ke konsumen), dan sebagainya. Beban-beban yang terjadi ini turut “menciptakan” terbentuknya
omset penjualan di sepanjang tahun 2008 sehingga pengorbanan berupa beban-beban ini harus
ditandingkan dengan omset penjualan dalam periode yang sama di mana omset penjualan tersebut
diperoleh (diakui).
Dasar pencatatan cash basis pada umumnya masih diterapkan pada perusahaan-perusahaan
yang tergolong kecil, di mana kepemilikan modalnya hanya dimiliki oleh satu atau beberapa
orang saja. Sedangkan untuk perusahaan-perusahaan yang tergolong menengah keatas, khususnya
untuk perusahaan-perusahaan yang modalnya dimiliki oleh banyak investor (pemegang saham)
diharuskan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menerapkan accrual basis
sebagai dasar pencatatan akuntansinya. Ini dapat dimengerti bahwa penerapan dasar akrual

tahap Penyesuaian 43
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
diharapkan bisa memberikan transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan kepada para
investor selaku pemilik dana/modal. Dengan dasar pencatatan akrual ini, memungkinkan bagi para
pemakai laporan keuangan untuk memperoleh gambaran mengenai kinerja dan kondisi keuangan
perusahaan secara lebih memadai dibanding dasar pencatatan dengan menggunakan cash basis.

3.2 sifat dan Proses Penyesuaian

Setelah ayat jurnal (journal entry) diposting ke buku besar (ledger), disiapkanlah neraca saldo
sebelum penyesuaian (un-adjusted trial balance). Siklus akuntansi belum selesai sampai di sini.
Masih ada beberapa tahapan proses lagi yang harus dilalui hingga akhirnya diterbitkan seperangkat
laporan keuangan (inancial statement) yang bermanfaat bagi para users. Tahapan proses tersebut
diantaranya adalah proses penyesuaian dan proses penyajian neraca saldo setelah penyesuaian
(adjusted trial balance) dan seterusnya.
Pada akhir periode akuntansi, banyak saldo akun dalam buku besar yang dapat segera
dilaporkan dalam laporan keuangan tanpa mengalami perubahan. Akan tetapi, ada juga beberapa
akun yang perlu disesuaikan. Penyesuaian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk memperbaharui
(updating) data laporan keuangan agar sesuai dengan konsep akrual dan konsep penandingan yang
berlaku dalam akuntansi. Sebagai contoh adalah bahwa besarnya saldo perlengkapan (supplies)
yang mencerminkan: harga pokok perlengkapan pada awal periode ditambah dengan harga pokok
perlengkapan yang diperoleh/dibeli sepanjang periode, harus disesuaikan dengan besarnya
jumlah perlengkapan yang telah dipergunakan sepanjang periode untuk mengetahui saldo akhir
perlengkapan yang masih tersisa (yang belum digunakan). Contoh lainnya adalah penyesuaian
untuk akun beban gaji dan akun utang gaji yang timbul atas jumlah gaji yang belum dibayarkan
tetapi bebannya telah terjadi (incurred); akun piutang bunga dan akun pendapatan bunga yang
timbul atas jumlah bunga yang belum diterima uangnya tetapi pendapatannya telah terjadi; akun
biaya dibayar dimuka; dan lain-lain.
Ayat jurnal yang membuat saldo akun menjadi up to date pada akhir periode akuntansi
dinamakan sebagai adjusting journal entry. Setiap ayat jurnal penyesuaian sekurang-kurangnya
akan mempengaruhi satu akun laporan laba rugi dan satu akun neraca. Jadi, dalam ayat jurnal
penyesuaian selalu melibatkan akun pendapatan atau akun beban dan akun aset atau akun
kewajiban. Apa yang akan terjadi jika seandainya akuntan lupa membuat ayat jurnal penyesuaian

44 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
terhadap akun-akun yang sesungguhnya memerlukan penyesuaian? Jawabannya adalah tentu saja
bahwa akun-akun tersebut akan menjadi tidak up to date, dalam arti akun-akun tersebut ada yang
kebesaran jumlahnya (overstated) dan ada juga yang kekecilan (understated), sehingga terjadi
salah saji (misstatement) dalam laporan keuangan.
Pada prinsipnya ada empat item yang memerlukan penyesuaian, yakni beban yang masih
harus dibayar/beban akrual/utang akrual (accrued expenses or accrued liabilities), pendapatan
yang masih harus diterima/pendapatan akrual/piutang akrual (accrued revenues or accrued assets),
beban yang ditangguhkan atau biaya dibayar dimuka (deferred expenses or prepaid expenses), dan
pendapatan yang ditangguhkan atau pendapatan diterima dimuka (deferred revenues or unearned
revenues).

Accrued Expenses/Accrued Liabilities


Sepanjang periode, beban-beban tertentu mungkin telah terjadi tetapi pembayarannya belum
dilakukan sampai pada periode berikutnya. Pada akhir periode akuntansi, perlu untuk menentukan
dan mencatat beban-beban yang telah terjadi meskipun belum dibayarkan. Dalam pencatatan
beban/utang akrual ini, akun beban didebet dan akun utang dikredit.
Contoh ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat accrued expense or accrued liability adalah
sebagai berikut:

Beban Upah xxx


Utang Upah xxx

Beban Bunga xxx


Utang Bunga xxx

Misalkan:
1). Perusahaan membayar upah karyawan pada setiap hari Sabtu, di mana pembayaran upah
terakhir untuk tahun 2008 ini jatuh pada tanggal 27 Desember 2008 (hari Sabtu). Periode
akuntansi (pembukuan) perusahaan berakhir tanggal 31 Desember 2008. Perusahaan
menetapkan bahwa jumlah hari kerja dalam seminggu adalah sebanyak 6 hari, yaitu mulai
dari hari Senin hingga Sabtu. Total upah karyawan yang dibayarkan untuk setiap 6 hari
kerja adalah 20 juta rupiah.

tahap Penyesuaian 45
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, upah karyawan selama 3 hari, yaitu untuk
tanggal 29 Desember 2008 (Senin), 30 Desember 2008 (Selasa), dan tanggal 31 Desember
2008 (Rabu) harus diakui sebagai bagian dari beban upah karyawan tahun 2008, meskipun
pembayarannya baru akan dilakukan pada hari Sabtu pertama di tahun 2009 nanti. Ayat
jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Beban Upah Rp10.000.000,00


Utang Upah Rp10.000.000,00
(3/6 x Rp20.000.000,00)

2). Pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memperoleh pinjaman uang dari Bank senilai
100 juta rupiah. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan diharuskan untuk
mengembalikan nilai pokok pinjaman beserta bunga pada saat pinjaman tersebut jatuh
tempo, yaitu pada tanggal 1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang
disepakati oleh kedua belah pihak adalah 9% per tahun. Periode akuntansi (pembukuan)
perusahaan berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual
basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September, Oktober, November, dan Desember) yang
sudah terjadi (berlangsung) pada tahun 2008 harus diakui sebagai beban tahun 2008,
meskipun pembayarannya baru akan dilakukan pada tanggal 1 Maret 2009 nanti. Ayat jurnal
penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Beban Bunga Rp3.000.000,00


Utang Bunga Rp3.000.000,00
(4/12 x 9% x Rp100.000.000,00)

Accrued Revenues/Accrued Assets


Sepanjang periode, pendapatan tertentu mungkin telah terjadi tetapi penagihan kas belum
dilakukan sampai pada periode berikutnya. Pada akhir periode akuntansi, perlu untuk menentukan
dan mencatat pendapatan yang telah terjadi, meskipun belum diterima uangnya. Dalam pencatatan
atas pendapatan akrual ini, akun aset didebet dan akun pendapatan dikredit.
Contoh ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat accrued revenue or accrued asset adalah
sebagai berikut:

46 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Piutang Bunga xxx
Pendapatan Bunga xxx

Misalkan:
Pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memberikan pinjaman uang kepada debitor senilai
100 juta rupiah. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan akan menerima kembali nilai
pokok pinjaman beserta bunga pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu pada tanggal
1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak
adalah 9% per tahun. Periode akuntansi (pembukuan) perusahaan berakhir pada tanggal 31
Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan
(September, Oktober, November, dan Desember) yang sudah terjadi (berlangsung) pada tahun
2008 harus diakui sebagai pendapatan tahun 2008, meskipun pembayarannya baru akan diterima
pada tanggal 1 Maret 2009 nanti. Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31
Desember 2008 adalah

Piutang Bunga Rp3.000.000,00


Pendapatan Bunga Rp3.000.000,00
(4/12 x 9 % x Rp100.000.000,00)

Deferred Expenses/Prepaid Expenses


Sepanjang periode, pengeluaran-pengeluaran tertentu (yang telah dibayarkan) dicatat pada
pembukuan namun atas barang atau jasa yang belum digunakan. Pada akhir periode akuntansi,
perlu untuk menentukan secara tepat mana bagian dari pengeluaran-pengeluaran tersebut yang
sudah dipakai/dimanfaatkan selama periode berjalan (yang telah menjadi beban) dan mana
bagian dari pengeluaran-pengeluaran tersebut yang akan digunakan/ditangguhkan untuk periode
berikutnya (deferred expenses). Untuk pengeluaran-pengeluaran yang baru akan digunakan pada
periode berikutnya, memerlukan pengakuan sebagai aset (karena belum terpakai).
Metode penyesuaian untuk prepaid expenses tergantung pada bagaimana awalnya penge-
luaran-pengeluaran tersebut dicatat di dalam akun. Pengeluaran-pengeluaran tersebut mungkin
pada awalnya telah dicatat sebesar debet ke akun aset terlebih dahulu atau bisa juga langsung
ke akun beban. Kedua metode ini jika diterapkan secara konsisten akan menghasilkan nilai
akhir yang sama. Jadi, kedua metode tersebut sama-sama benar/diperkenankan. Perusahaan akan
memilih salah satu dari kedua metode yang ada dan menerapkannya pada masing-masing periode.

tahap Penyesuaian 47
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Mula-mula didebet ke akun aset
Jika akun aset mula-mula didebet dalam ayat jurnal umum maka ayat jurnal penyesuaian (pada
akhir periode akuntansi) mensyaratkan bahwa akun beban akan didebet atas bagian dari jumlah
pengeluaran yang telah dipakai selama periode berjalan dan lawannya yaitu akun aset akan di-
kredit sebesar jumlah prepaid yang telah berkurang karena pemakaian. Akun aset yang masih tersisa
dengan saldo debet menunjukkan bagian dari jumlah pengeluaran dalam periode berjalan yang
dapat dipakai pada periode mendatang. Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Januari 2008,
perusahaan membayar dimuka premi asuransi sebesar $120 untuk masa pertanggungan 3 tahun. Jika
pencatatan atas pembayaran premi asuransi tersebut mula-mula diakui sebagai aset dan periode
akuntansi (pembukuan) perusahaan diasumsikan berakhir tanggal 31 Desember 2008 maka ayat
jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat pembayaran dimuka) adalah

Asuransi Dibayar dimuka $120


Kas $120

Sedangkan, ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Beban Asuransi $40


Asuransi Dibayar Dimuka $40
($120 x 1/3)

Premi asuransi yang dibayarkan dimuka sebesar $120 diharapkan dapat bermanfaat untuk
jangka waktu 3 tahun, yaitu terhitung mulai awal tahun 2008 hingga akhir tahun 2010 mendatang.
Sepanjang tahun 2008 (satu tahun penuh), manfaat dari pembayaran premi asuransi tersebut
sudah dipergunakan/sudah berlangsung sehingga sepertiga dari $120 harus diakui sebagai beban
untuk tahun 2008. Sedangkan sisanya, dua pertiga dari $120, yaitu $80 masih merupakan aset
(asuransi dibayar dimuka) dengan saldo debet yang diharapkan bisa memberikan manfaat dalam
tahun 2009 dan tahun 2010 mendatang.

Mula-mula didebet ke akun beban


Jika akun beban mula-mula didebet dalam ayat jurnal umum maka ayat jurnal penyesuaian (pada
akhir periode akuntansi) mengharuskan akun aset didebet sebesar bagian dari jumlah pengeluaran

48 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
yang belum terpakai dalam periode berjalan (yang ditangguhkan atau baru akan digunakan
pada masa yang akan datang) dan akun beban dikredit. Lalu akun beban akan tersisa dengan
saldo debet yang menggambarkan atau menunjukkan bagian dari jumlah pengeluaran yang telah
dipakai/dimanfaatkan selama periode berjalan. Sebagai contoh, idem dengan di atas, hanya saja
pencatatan atas pembayaran premi asuransi tersebut mula-mula diakui langsung sebagai beban.
Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat pembayaran dimuka)
adalah

Beban Asuransi $120


Kas $120

Sedangkan ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Asuransi Dibayar Dimuka $80


Beban Asuransi $80
($120 x 2/3)

Perlu diperhatikan di sini bahwa kedua metode akan menghasilkan nilai akhir yang sama.
Pelajarilah dengan cermat bahwa dengan menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut
akan sama-sama diperoleh besarnya beban asuransi yang akan dilaporkan dalam laporan laba rugi
(income statement) untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar $40,
sedangkan untuk saldo akun aset, yaitu akun asuransi dibayar dimuka yang akan tampak dalam
neraca (balanced sheet) per 31 Desember 2008 adalah sebesar $80.

Deferred Revenues/unearned Revenues


Pembayaran-pembayaran mungkin akan diterima dari pelanggan sebelum barang dikirim atau
sebelum jasa diberikan. Jumlah yang diterima dimuka akan dicatat dengan mendebet akun aset
(kas) dan kreditnya bisa dengan menggunakan dua akun, yaitu langsung diakui sebagai akun pen-
dapatan atau bisa juga terlebih dahulu diakui sebagai akun utang (pendapatan diterima dimuka).
Pada akhir periode akuntansi, perlu untuk menentukan mana bagian dari jumlah penerimaan
tersebut yang benar-benar telah menjadi pendapatan untuk periode berjalan dan mana bagian
dari jumlah penerimaan tersebut (yang diterima di periode berjalan) yang akan ditangguhkan

tahap Penyesuaian 49
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
sebagai pendapatan untuk periode mendatang (deferred revenues). Metode penyesuaian untuk
pendapatan yang ditangguhkan tergantung pada apakah penerimaan pendapatan atas barang
yang belum dikirim atau atas jasa yang belum diberikan pada awalnya dicatat sebesar kredit ke
akun pendapatan atau akun utang.
Contoh umum dari pendapatan yang diterima dimuka adalah penerimaan uang langganan
majalah/surat kabar dari pelanggan, penerimaan dimuka atas uang sewa dari si penyewa,
penerimaan uang dari hasil penjualan tiket, penerimaan uang kuliah dari mahasiswa, dan
sebagainya. Sesungguhnya, inti daripada unearned revenues adalah bahwa uang telah diterima
dimuka tetapi barang atau jasa belum diberikan. Majalah akan segera dikirim jika uang telah
diterima terlebih dahulu dari si pelanggan, si penyewa rumah baru bisa menggunakan fasilitas
rumah sewaannya setelah membayar terlebih dahulu uang sewa kepada pemilik, uang hasil
penjualan tiket pertunjukan telah diterima terlebih dahulu sebelum pertunjukan berlangsung,
dan seterusnya.

Mula-mula dikredit ke akun pendapatan


Jika akun pendapatan mula-mula dikredit dalam ayat jurnal umum maka ayat jurnal penyesuaian
(pada akhir periode akuntansi) mengharuskan bahwa akun utang akan dikredit sebesar bagian
dari jumlah penerimaan yang ditangguhkan sebagai pendapatan untuk periode mendatang
dan akun pendapatan akan didebet. Lalu pada akun pendapatan akan tersisa saldo kredit yang
menggambarkan atau menunjukkan bagian dari jumlah penerimaan yang telah menjadi pendapatan
selama periode berjalan. Sebagai contoh misalnya, pada tanggal 1 Januari 2008 perusahaan
menerima dimuka pembayaran uang sewa ruangan yang tidak terpakai dari si penyewa sebesar
$120 untuk masa sewa selama 3 tahun. Jika pencatatan atas penerimaan uang sewa dimuka
tersebut mula-mula langsung diakui sebagai pendapatan dan periode akuntansi (pembukuan)
perusahaan diasumsikan berakhir tanggal 31 Desember 2008 maka:

Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat menerima pembayaran
dimuka) adalah

Kas $120
Pendapatan Sewa $120

50 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Sedangkan ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Pendapatan Sewa $80


Pendapatan Sewa Diterima Dimuka $80
($120 x 2/3)

Mula-mula dikredit ke akun utang (pendapatan diterima dimuka)


Jika akun utang mula-mula dikredit dalam ayat jurnal umum maka ayat jurnal penyesuaian (pada
akhir periode akuntansi) mensyaratkan bahwa akun pendapatan akan dikredit sebesar bagian
dari jumlah penerimaan yang telah menjadi pendapatan periode berjalan dan sebaliknya akun
utang akan didebet. Akun utang yang masih tersisa dengan saldo kredit menunjukkan bagian
dari jumlah penerimaan di periode berjalan yang akan ditangguhkan sebagai pendapatan untuk
periode mendatang. Sebagai contoh, idem dengan di atas, hanya saja pencatatan atas penerimaan
uang sewa dimuka tersebut mula-mula diakui sebagai utang terlebih dahulu.
Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat menerima pembayaran
dimuka) adalah

Kas $120
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka $120

Sedangkan ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Pendapatan Sewa Diterima Dimuka $40


Pendapatan Sewa $40
($120 x 1/3)

Perlu diperhatikan di sini bahwa dari kedua metode tetap akan menghasilkan nilai akhir
yang sama. Untuk dapat memahaminya dengan baik dari penggunaan kedua metode di atas,
pelajarilah secara cermat.

tahap Penyesuaian 51
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3.3 Perbedaan antara koreksi dengan Penyesuaian

Adalah penting untuk dapat membedakan antara jurnal koreksi dengan jurnal penyesuaian. Dalam
akuntansi, jurnal koreksi perlu dibuat dengan maksud untuk mengoreksi nilai transaksi yang telah
salah dibukukan dan atau untuk mengoreksi penggunaan klasiikasi akun yang salah (salah dalam
mengidentiikasi akun). Sedangkan jurnal penyesuaian, seperti yang telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya, dibuat dengan tujuan untuk memperbaharui data akuntansi supaya menjadi lebih
akurat.
Secara garis besar dapat disimpulkan di sini bahwa jurnal koreksi dibuat atas kesalahan
yang terjadi pada saat awal mula transaksi tersebut dicatat dan dibukukan (baik salah nilai
maupun akun). Sedangkan jurnal penyesuaian dibuat bukan untuk memperbaiki kesalahan yang
terjadi pada awal mula transaksi dicatat, melainkan untuk memenuhi konsep akrual dan deferral
dalam akuntansi. Jadi, akuntan akan/perlu membuat jurnal penyesuaian atas transaksi yang pada
awal mula telah dicatat secara benar (tidak salah dalam membukukan nilai maupun tidak salah
dalam penggunaan akun) dalam rangka memperbarui data akuntansi dengan cara menentukan
secara tepat: berapa besarnya bagian dari jumlah penerimaan yang diterima dimuka yang telah
menjadi pendapatan untuk periode berjalan, berapa besarnya bagian dari jumlah penerimaan
yang diterima dimuka (dalam periode berjalan) yang akan ditangguhkan sebagai pendapatan
untuk periode mendatang, berapa besarnya bagian dari jumlah pengeluaran yang telah menjadi
beban untuk periode berjalan, berapa besarnya bagian dari jumlah pengeluaran periode berjalan
yang akan ditangguhkan sebagai beban untuk periode mendatang, berapa besarnya jumlah
beban periode berjalan yang harus diakui meskipun pembayarannya belum dilakukan, dan berapa
besarnya jumlah pendapatan periode berjalan yang harus diakui meskipun penagihan kasnya
belum diterima.
Contoh dari proses penyesuaian telah diberikan dan dijelaskan secara rinci pada bagian
sebelumnya. Berikut ini adalah contoh transaksi yang memerlukan ayat jurnal koreksi. Misalnya,
pada tanggal 6 September 2008 perusahaan membeli peralatan kantor seharga Rp7.500.000,00
secara kredit. Ayat jurnal transaksi yang seharusnya dibuat oleh bagian pembukuan perusahaan
pada awal pencatatan adalah dengan mendebet akun peralatan kantor dan mengkredit akun utang
senilai Rp7.500.000,00. Namun, dalam contoh ini, terdapat beberapa kemungkinan transaksi
tersebut salah dicatat:

52 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
1. Pembelian peralatan kantor namun dicatat sebagai pembelian perlengkapan kantor. Jadi,
mula-mula transaksi tersebut telah dicatat dengan mendebet akun perlengkapan kantor
dan mengkredit akun utang sebesar nilai transaksi. Dalam hal ini, jurnal koreksi perlu
dibuat dengan cara mendebet akun yang benar (yang seharusnya) yaitu akun peralatan
kantor dan mengkredit kembali akun yang telah salah didebet yaitu akun perlengkapan
kantor sebesar jumlah yang sama. Dalam contoh kasus ini, akun utang serta nilai transaksi
tidaklah terpengaruh karena telah dicatat/dibukukan secara benar. Ini adalah koreksi atas
kesalahan dalam mengidentiikasi akun peralatan kantor.

Mula-mula dicatat:
Perlengkapan Kantor Rp7.500.000,00
Utang Rp7.500.000,00

Jurnal koreksi:
Peralatan Kantor Rp7.500.000,00
Perlengkapan Kantor Rp7.500.000,00

2. Pembelian peralatan kantor secara kredit namun dicatat sebagai pembelian peralatan
kantor secara tunai. Jadi, mula-mula transaksi tersebut telah dicatat dengan mendebet
akun peralatan kantor dan mengkredit akun kas sebesar nilai transaksi. Dalam hal ini, jurnal
koreksi perlu dibuat dengan cara mengkredit akun yang benar (yang seharusnya) yaitu akun
utang dan mendebet kembali akun yang telah salah dikredit yaitu akun kas sebesar jumlah
yang sama. Dalam contoh kasus ini, akun peralatan kantor serta nilai transaksi tidaklah
terpengaruh karena telah dicatat/dibukukan secara benar. Ini adalah koreksi atas kesalahan
dalam mengidentiikasi akun utang.

Mula-mula dicatat:
Peralatan Kantor Rp7.500.000,00
Kas Rp7.500.000,00

Jurnal koreksi:
Kas Rp7.500.000,00
Utang Rp7.500.000,00

tahap Penyesuaian 53
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3. Pembelian peralatan kantor secara kredit, namun dicatat sebagai pembelian perlengkapan
kantor secara tunai. Jadi, mula-mula transaksi tersebut telah dicatat dengan mendebet akun
perlengkapan kantor dan mengkredit akun kas sebesar nilai transaksi. Dalam hal ini, jurnal
koreksi perlu dibuat dengan cara mendebet kembali akun yang telah salah dikredit, yaitu
akun kas dan mengkredit kembali akun yang telah salah didebet, yaitu akun perlengkapan
kantor sebesar jumlah yang sama. Jurnal koreksi belum selesai sampai di sini karena
disamping jurnal koreksi di atas (jurnal koreksi yang telah mengeliminasi masing-masing
akun yang salah) juga perlu dibuat jurnal koreksi untuk mencatat transaksi yang seharusnya
(yang sebenarnya). Jadi, jurnal koreksi berikutnya perlu dibuat lagi dengan cara mendebet
akun peralatan kantor dan mengkredit akun utang. Dalam kasus ini, nilai transaksi telah
dicatat/dibukukan secara benar. Ini adalah koreksi atas kesalahan dalam mengidentiikasi
akun peralatan kantor dan akun utang.

Mula-mula dicatat:
Perlengkapan Kantor Rp7.500.000,00
Kas Rp7.500.000,00

Jurnal koreksi:
Kas Rp7.500.000,00
Perlengkapan Kantor Rp7.500.000,00

Peralatan Kantor Rp7.500.000,00


Utang Rp7.500.000,00

4. Pembelian peralatan kantor secara kredit senilai Rp7.500.000,00 namun dicatat sebagai
pembelian peralatan kantor secara kredit senilai Rp5.500.000,00. Jadi, mula-mula transaksi
tersebut telah dicatat dengan mendebet akun peralatan kantor dan mengkredit akun utang,
namun sebesar nilai transaksi yang salah, yaitu hanya Rp5.500.000,00 bukan Rp7.500.000,00.
Dalam hal ini, jurnal koreksi perlu dibuat dengan cara mendebet kekurangan saldo untuk
akun peralatan kantor dan mengkredit kekurangan saldo untuk akun utang, yaitu masing-
masing sebesar Rp2.000.000,00. Ini adalah koreksi atas kesalahan dalam membukukan nilai
transaksi.

54 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Mula-mula dicatat:
Peralatan Kantor Rp5.500.000,00
Utang Rp5.500.000,00

Jurnal koreksi:
Peralatan Kantor Rp2.000.000,00
Utang Rp2.000.000,00

Perhatikanlah dengan cermat bahwa apabila kedua jurnal di atas digabung maka akan
diperoleh kondisi jurnal yang seharusnya, yaitu akun peralatan kantor dengan saldo debet dan
akun utang dengan saldo kredit masing-masing akan menjadi sebesar Rp.7.500.000,00.

5. Pembelian peralatan kantor secara kredit senilai Rp7.500.000,00 namun dicatat sebagai
pembelian peralatan kantor secara kredit senilai R17.500.000,00. Jadi, mula-mula transaksi
tersebut telah dicatat dengan mendebet akun peralatan kantor dan mengkredit akun utang,
namun sebesar nilai transaksi yang salah yaitu Rp17.500.000,00 bukannya Rp7.500.000,00.
Dalam hal ini, jurnal koreksi perlu dibuat dengan cara mengkredit kelebihan saldo untuk
akun peralatan kantor dan mendebet kelebihan saldo untuk akun utang, yaitu masing-masing
sebesar Rp10.000.000,00. Ini juga adalah koreksi atas kesalahan dalam membukukan nilai
transaksi.

Mula-mula dicatat:
Peralatan Kantor Rp17.500.000,00
Utang Rp17.500.000,00

Jurnal koreksi:
Utang Rp10.000.000,00
Peralatan Kantor Rp10.000.000,00

Perhatikanlah dengan cermat bahwa apabila kedua jurnal di atas digabung maka akan
diperoleh kondisi jurnal yang seharusnya, yaitu akun peralatan kantor dengan saldo debet dan
akun utang dengan saldo kredit masing-masing akan menjadi sebesar Rp7.500.000,00.

tahap Penyesuaian 55
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Bagaimana dengan jurnal koreksi yang perlu dibuat apabila kesalahan yang terjadi sekaligus
meliputi kesalahan dalam pencatatan akun maupun kesalahan dalam pencatatan nilai transaksi?
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, pelajarilah terlebih dahulu kelima kemungkinan yang
telah dijelaskan di atas dengan baik. Setelah memperoleh pemahaman yang cukup baik, pikirkan
secara cermat apa dampak dari kesalahan tersebut jika timbul secara bersamaan.

3.4 Penyesuaian atas Aset tetap

Aset tetap (ixed assets) adalah aset yang secara isik dapat dilihat keberadaannya dan sifatnya
relatif permanen serta memiliki masa kegunaan (useful life) yang panjang. Jadi, aset tetap
merupakan aset yang berwujud (tangible assets). Berbeda dengan aset tidak berwujud (intangible
assets) di mana tidak memiliki wujud isik dan dihasilkan sebagai akibat dari sebuah kontrak
hukum, ekonomi, maupun kontrak sosial.
Contoh aset tetap adalah tanah, bangunan, kendaraan operasional, peralatan kantor,
peralatan toko, perabot kantor, dan perabot toko. Tanah merupakan satu-satunya aset tetap
yang tidak disusutkan (non depreciable asset) karena nilainya akan selalu cenderung naik, bukan
menurun. Tanah memiliki umur ekonomis (economic life) atau masa manfaat (beneit life) yang
tidak terbatas (unlimited life).
Berbeda dengan tanah yang berisi kandungan minyak, gas, batu, pasir, mineral, atau logam
tertentu yang secara rutin akan dimanfaatkan atau digali untuk diambil kandungannya. Contohnya
adalah tanah yang memuat kandungan tembaga, belerang, batu bara, dan sebagainya. Untuk
tanah seperti ini, tentu saja nantinya secara sistematis dan periodik akan disusutkan; dalam
akuntansi, penyusutannya dinamakan deplesi. Sedangkan untuk aset tetap lainnya yang dapat
disusutkan (depreciable assets), penyusutannya dinamakan depresiasi. Aset tetap ini memiliki
umur ekonomis yang terbatas (limited life).
Contoh dari aset tidak berwujud adalah goodwill (nama baik), trademark (merek dagang),
franchises (waralaba), patent, copyright (hak cipta), customer list (daftar pelanggan), dan broadcast
license (ijin penyiaran). Dalam akuntansi, penyusutan untuk aset tidak berwujud dinamakan
amortisasi. Sama halnya dengan aset tetap, tidak semua aset tidak berwujud diamortisasi,
tergantung pada kepastian umur apakah terbatas atau tidak terbatas. Aset tidak berwujud yang
memiliki umur tidak terbatas (tidak pasti) tidak diamortisasi, sedangkan aset tidak berwujud yang

56 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
memiliki umur terbatas (pasti) akan diamortisasi. Aset tidak berwujud yang tidak diamortisasi
adalah goodwill, trademark, dan broadcast license.
Ijin penyiaran ini secara otomatis dapat diperpanjang disetiap kurun waktu tertentu, asal
tayangannya tidak menimbulkan dampak sosial yang negatif atau merugikan publik dan tidak
melanggar undang-undang penyiaran sehingga aset tidak berwujud ini dikatakan memiliki umur
tidak terbatas dan oleh karena itu tidaklah diamortisasi. Merek dagang juga tidak diamortisasi
karena tidak memiliki batasan nilai ekonomis (berbeda dengan waralaba dan paten). Merek
dagang meskipun memiliki batasan waktu, tetapi pada prinsipnya sama seperti ijin penyiaran di
mana hampir dapat diperpanjang secara rutin. Jika faktor ekonomi mengindikasikan bahwa merek
dagang akan terus memiliki nilai yang dapat diduga pada masa yang akan datang maka masa
kegunaan dari merek dagang ini akan menjadi tidak terbatas. Sedangkan untuk goodwill tidaklah
diamortisasi karena memang telah menimbulkan beragam kontroversi akuntansi terutama dalam
hal pemilihan metode untuk penggabungan usaha. Walaupun goodwill, trademark, dan broadcast
license tidak diamortisasi tetapi mereka tetap perlu ditinjau ulang atas kemungkinan terjadinya
penurunan nilai (impairment). Topik mengenai goodwill dan penurunan nilai akan dibahas nanti
secara rinci dalam buku akuntansi lanjutan.
Pada saat sebuah aset tetap diperoleh/diakuisisi untuk pertama kali, tentu saja belum ada
penyusutan yang dicatat/diakui dalam pembukuan perusahaan (karena belum dipakai). Pada akhir
periode akuntansi, setelah aset tetap tersebut dipakai, jurnal penyesuaian perlu dibuat untuk
mengakui bagian dari jumlah harga perolehan aset tetap yang sudah menjadi beban (depreciation
expense) karena pemakaian. Penyusutan dapat diartikan sebagai: (1) menurunnya kegunaan dari
suatu aset tetap, (2) transfer secara sistematis dan periodik dari harga perolehan/cost menjadi
beban/expense atau dapat juga diartikan sebagai bagian dari harga perolehan yang telah menjadi
kadaluarsa (expired) karena pemakaian. Ada beberapa metode penyusutan aset tetap yang
diperkenankan menurut prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, yaitu metode garis lurus
(straight line method), metode saldo menurun ganda (double declining balance method), metode
jumlah angka tahun (sum of the years’ digits method), metode unit produksi/metode output
produktif (units of production method/productive-output method), dan metode jam operasional/
metode jam jasa (operating hours method/service hours method).
Penghitungan penyusutan aset tetap dengan menggunakan metode garis lurus akan
menghasilkan jumlah penyusutan yang sama besar untuk masing-masing tahun sepanjang umur
ekonomis/masa manfaatnya. Adapun formula rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya
penyusutan per tahun adalah

tahap Penyesuaian 57
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Penyusutan/thn = (Harga Perolehan–Estimasi Nilai Residu) : Estimasi Umur Ekonomis

Keterangan:
1. Harga perolehan merupakan jumlah seluruh pengeluaran-pengeluaran yang diperlukan untuk
menjadikan aset tetap yang baru dibeli/diperoleh tersebut siap untuk digunakan. Jadi, harga
perolehan ini meliputi tidak hanya sebesar harga beli saja tetapi juga termasuk pengeluaran-
pengeluaran lainnya yang dikorbankan agar aset tetap yang baru dibeli/diperoleh tersebut
berada dalam kondisi siap pakai. Contoh pengeluaran-pengeluaran lainnya adalah biaya
pajak, biaya angkut, biaya asuransi (jika diasuransikan), biaya pemasangan, dan sebagainya.
Harga perolehan ini sifatnya obyektif, bukan subyektif (estimasi) karena seluruh jumlah
yang dikeluarkan/dibayarkan nilainya tercantum dalam berkas dokumen pendukung transaksi
pembelian. Karena sifatnya yang obyektif maka seringkali harga perolehan dikatakan
memiliki atau mencerminkan karakteristik dapat diuji/diukur (veriiability).
2. Estimasi nilai residu (estimated residual value) merupakan taksiran mengenai nilai sisa (salvage
value) aset tetap yang diperkirakan masih akan tetap ada diakhir umur ekonomisnya. Nilai
residu ini ditentukan secara subyektif tergantung pada penilaian manajemen perusahaan
masing-masing, namun tetap harus memenuhi asas kewajaran.
3. Estimasi umur ekonomis merupakan taksiran mengenai lamanya sebuah aset tetap dapat
memberikan manfaat/kegunaan bagi perusahaan. Umur ekonomis ini juga ditentukan secara
subyektif yaitu tergantung pada penilaian manajemen perusahaan masing-masing.

Untuk mengilustrasikan ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat sehubungan dengan
penyusutan (pemakaian) aset tetap selama periode, misalnya sebuah peralatan toko dibeli dengan
harga Rp8.500.000,00 pada tanggal 1 Januari 2008. Perusahaan menggunakan metode garis lurus
dalam menghitung beban penyusutan periodiknya. Nilai sisa aset tetap tersebut diperkirakan
sebesar Rp1.000.000,00 pada akhir masa manfaatnya. Perusahaan mengestimasi bahwa peralatan
toko tersebut memiliki umur ekonomis 10 tahun. Ayat jurnal penyesuian yang harus dibuat pada
tanggal 31 Desember 2008 adalah

Beban penyusutan-peralatan toko Rp750.000,00


Akumulasi penyusutan-peralatan toko Rp750.000,00
(Rp8.500.000,00–Rp1.000.000,00) : 10

58 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Akan tetapi, apabila peralatan toko tersebut dibeli pada tanggal 1 April 2008 maka besarnya
beban penyusutan per 31 Desember 2008 akan menjadi: 9/12 x Rp750.000,00= Rp562.500,00
(untuk masa pemakaian selama 9 bulan, yaitu terhitung mulai tanggal 1 April 2008 hingga 31
Desember 2008).
Perhitungan penyusutan aset tetap dengan menggunakan metode selain metode garis lurus
akan dibahas secara lebih terperinci dalam Bab 10 (Akuntansi untuk Aset Tetap).

3.5 soal Latihan dan solusinya

soal 1
Berikut ini adalah saldo perkiraan-perkiraan dalam buku besar PT. Hard Cute Corporation pada
tanggal 31 Desember 2008 sebelum dan setelah penyesuaian:

nama Akun sebelum Penyesuaian setelah Penyesuaian


Piutang Usaha 0 3.250.000
Perlengkapan 2.125.000 675.000
Asuransi Dibayar dimuka 5.600.000 2.400.000
Utang Gaji 0 2.970.000
Utang Utilitas 0 475.000
Sewa Diterima dimuka 600.000 0
Pendapatan Jasa 91.000.000 94.250.000
Beban Gaji 60.050.000 63.020.000
Beban Utilitas 4.950.000 5.425.000
Beban Asuransi 0 3.200.000
Beban Perlengkapan 0 1.450.000
Pendapatan Sewa 7.200.000 7.800.000

Diminta: Buatlah ayat jurnal penyesuaian sehubungan dengan informasi di atas!

tahap Penyesuaian 59
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Solusi:
Piutang Usaha 3.250.000
Pendapatan Jasa 3.250.000

Beban Perlengkapan 1.450.000


Perlengkapan 1.450.000

Beban Asuransi 3.200.000


Asuransi Dibayar Dimuka 3.200.000

Beban Gaji 2.970.000


Utang Gaji 2.970.000

Beban Utilitas 475.000


Utang Utilitas 475.000

Sewa Diterima Dimuka 600.000


Pendapatan Sewa 600.000

soal 2
Data berikut merupakan transaksi-transaksi yang terjadi di dalam sebuah perusahaan yang
ternyata telah salah dibukukan. Ayat jurnal yang salah ini telah dimasukkan pada perkiraan yang
bersangkutan dalam buku besar.
1. Pembelian perlengkapan secara kredit seharga Rp630.000,00 telah dicatat ke dalam
perkiraan yang bersangkutan sebesar Rp603.000,00.
2. Pembelian peralatan secara kredit seharga Rp16.000.000,00 telah dicatat sebagai pembelian
tunai perlengkapan.
3. Pembelian perlengkapan secara tunai seharga Rp560.000,00 telah dicatat sebagai pembelian
peralatan secara kredit Rp650.000,00.
4. Pembayaran gaji karyawan sebesar Rp8.000.000,00 telah dicatat sebagai pembayaran
beban sewa.
5. Pembayaran utang perusahaan sebesar Rp6.000.000,00 telah salah dijurnal:

60 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Piutang Usaha Rp6.000.000,00
Kas Rp6.000.000,00

6. Pembelian peralatan seharga Rp45.000.000,00 yang dibayar tunai Rp15.000.000,00 dan


sisanya akan dilunasi satu bulan kemudian, telah salah dijurnal:
Perlengkapan Rp45.000.000,00
Kas Rp30.000.000,00
Utang Bank Rp15.000.000,00

7. Penerimaan tunai pendapatan komisi sebesar Rp4.275.000,00 telah salah dijurnal:


Kas Rp4.257.000,00
Pendapatan Komisi Rp4.257.000,00

8. Pengembalian atas perlengkapan yang telah dibeli secara kredit seharga Rp452.000,00
telah salah dijurnal:
Kas Rp542.000,00
Perlengkapan Rp542.000,00

9. Penambahan investasi oleh pemilik ke dalam perusahaan berupa sebuah peralatan seharga
Rp9.135.000,00 telah salah dijurnal:
Kas Rp9.153.000,00
Peralatan Rp9.153.000,00

10. Penerimaan pembayaran dari salah seorang langganan sebesar Rp20.000.000,00 atas jasa
yang telah diberikan kepadanya satu bulan yang lalu, telah salah dijurnal:
Piutang Usaha Rp20.000.000,00
Pendapatan Jasa Rp20.000.000,00

11. Penerimaan uang tunai sebesar Rp15.000.000,00 atas penyerahan jasa yang telah di-
selesaikan pada hari ini, telah salah dijurnal:
Piutang Usaha Rp15.000.000,00
Pendapatan Jasa Rp15.000.000,00

tahap Penyesuaian 61
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
12. Pelunasan utang usaha oleh perusahaan sebesar Rp3.124.000,00 telah salah dijurnal:
Utang Bank Rp3.142.000,00
Kas Rp3.142.000,00

Diminta: Buatlah ayat jurnal koreksi yang diperlukan untuk memperbaiki kesalahan pencatatan
tersebut di atas!

Solusi:
1. Perlengkapan 27.000
Utang Usaha 27.000

2. Peralatan 16.000.000
Kas 16.000.000
Perlengkapan 16.000.000
Utang Usaha 16.000.000

3. Perlengkapan 560.000
Utang Usaha 650.000
Peralatan 650.000
Kas 560.000

4. Beban Gaji 8.000.000


Beban Sewa 8.000.000

5. Utang Usaha 6.000.000


Piutang Usaha 6.000.000

6. Peralatan 45.000.000
Utang Bank 15.000.000
Kas 15.000.000
Perlengkapan 45.000.000
Utang Usaha 30.000.000

62 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
7. Kas 18.000
Pendapatan Komisi 18.000

8. Utang Usaha 452.000


Perlengkapan 90.000
Kas 542.000

9. Peralatan 18.288.000
Kas 9.153.000
Modal 9.135.000

10. Kas 20.000.000


Pendapatan Jasa 20.000.000
Piutang Usaha 40.000.000

11. Kas 15.000.000


Piutang Usaha 15.000.000

12. Utang Usaha 3.124.000


Kas 18.000
Utang Bank 3.142.000

soal 3
Buatlah ayat jurnal koreksi yang diperlukan dengan membuat terlebih dahulu jurnal yang se-
harusnya, atas kesalahan-kesalahan dalam pencatatan transaksi-transaksi di bawah ini:

a). Pada tanggal 5 Maret 2008, perusahaan membayar sewa gedung kantor untuk bulan Maret
2008 sebesar Rp4.000.000,00.
Jurnal yang telah keliru dibuat adalah

Peralatan Kantor 4.000.000


Kas 4.000.000

tahap Penyesuaian 63
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
b). Pada tanggal 12 April 2008, perusahaan menerima uang hasil penagihan dari pelanggan
senilai Rp6.500.000,00.
Jurnal yang telah keliru dibuat adalah
Kas 6.500.000
Pendapatan Penjualan 6.500.000

c). Pada tanggal 20 Juni 2008, perusahaan membayar premi asuransi kerugian senilai
Rp12.000.000,00 untuk masa pertanggungan 2 tahun.
Jurnal yang telah keliru dibuat adalah
Beban Iklan 10.000.000
Kas 10.000.000

d). Pada tanggal 27 September 2008, perusahaan menerima bunga sebesar Rp300.000,00
sebagai hasil dari uang simpanan yang ada di bank.
Jurnal yang telah keliru dibuat adalah
Kas 300.000
Beban Bunga 300.000

e). Pada tanggal 4 Desember 2008 perusahaan menerima kembali barang dagang yang telah
dijualnya secara kredit kepada pelanggan karena rusak sebesar Rp1.500.000,00.
Jurnal yang telah keliru dibuat adalah
Penjualan 1.500.000
Piutang Usaha 1.500.000

Solusi :
a). Ayat Jurnal Seharusnya:
Beban Sewa 4.000.000
Kas 4.000.000

Ayat Jurnal Koreksi:


Beban Sewa 4.000.000
Peralatan Kantor 4.000.000

64 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
b). Ayat Jurnal Seharusnya:
Kas 6.500.000
Piutang Usaha 6.500.000

Ayat Jurnal Koreksi:


Penjualan 6.500.000
Piutang Usaha 6.500.000

c). Ayat Jurnal Seharusnya:


Asuransi Dibayar Dimuka 12.000.000
Kas 12.000.000

Ayat Jurnal Koreksi:


Asuransi Dibayar Dimuka 12.000.000
Beban Iklan 10.000.000
Kas 2.000.000

d). Ayat Jurnal Seharusnya:


Kas 300.000
Pendapatan Bunga 300.000

Ayat Jurnal Koreksi:


Beban Bunga 300.000
Pendapatan Bunga 300.000

e). Ayat Jurnal Seharusnya:


Retur Penjualan 1.500.000
Piutang Usaha 1.500.000

Ayat Jurnal Koreksi:


Retur Penjualan 1.500.000
Penjualan 1.500.000

tahap Penyesuaian 65
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
soal 4
CV. Kilat Elektronik merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa perbaikan
peralatan elektronik. Berikut ini adalah neraca saldo sebelum dan setelah penyesuaian pada
tanggal 31 Desember 2008:
CV. kilat Elektronik
neraca saldo
31 Desember 2008
(dalam ribuan rupiah)
nama Perkiraan sebelum Penyesuaian setelah Penyesuaian
Dr kr Dr kr
Kas 7.100 7.100
Piutang Usaha 28.500 28.500
Perlengkapan 6.950 2.650
Asuransi Dibayar Dimuka 3.750 1.250
Peralatan 95.000 95.000
Akm. Penystn. – Peralatan 54.000 58.500
Trucks 195.000 195.000
Akm. Penystn. – Trucks 114.000 123.500
Utang Usaha 22.500 24.500
Utang Gaji 0 4.500
Pendapatan Jasa Diterima Dimuka 5.000 1.500
Modal 110.000 110.000
Prive 5.000 5.000
Pendapatan Jasa 239.500 243.000
Beban Gaji 175.000 179.500
Beban Sewa 18.000 18.000
Beban Perlengkapan 0 4.300
Beban Penystn. – Peralatan 0 4.500
Beban Penystn. – Trucks 0 9.500
Beban Utilitas 4.700 6.700
Beban Pajak Penghasilan 3.500 3.500
Beban Asuransi 0 2.500
Beban Rupa-Rupa 2.500 2.500
545.000 545.000 565.500 565.500

Diminta: Buatlah ayat jurnal penyesuaian sehubungan dengan informasi di atas!

66 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Solusi:
Beban Perlengkapan 4.300.000
Perlengkapan 4.300.000

Beban Asuransi 2.500.000


Asuransi Dibayar Dimuka 2.500.000

Beban Penyusutan-Peralatan 4.500.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan 4.500.000

Beban Penyusutan-Truck 9.500.000


Akumulasi Penyusutan-Truck 9.500.000

Beban Gaji 4.500.000


Utang Gaji 4.500.000

Beban Utilitas 2.000.000


Utang Usaha 2.000.000

Pendapatan Jasa Diterima Dimuka 3.500.000


Pendapatan Jasa 3.500.000

soal 5
Berikut ini adalah saldo perkiraan-perkiraan yang tidak terstruktur yang tampak dalam buku besar
CV. Jagat Saputra pada tanggal 31 Desember 2008 sebelum penyesuaian:

Modal 400.000.000
Piutang Usaha 135.700.000
Kendaraan Bermotor 125.250.000
Kas 80.250.000
Peralatan Kantor 41.000.000
Utang Usaha 28.000.000

tahap Penyesuaian 67
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Perlengkapan 22.850.000
Beban Upah 12.000.000
Wesel Bayar 15.000.000
Perawatan (mobil) Dibayar Dimuka 10.000.000
Asuransi Dibayar Dimuka 6.000.000
Iklan Dibayar Dimuka 12.000.000
Akm. Penyusutan-Kendaraan Bermotor 4.000.000
Prive 2.500.000
Akm. Penyusutan-Peralatan Kantor 1.300.000
Beban Rupa-Rupa 500.000
Beban Bunga 250.000

Data lainnya yang diketahui untuk penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2008 adalah
sebagai berikut:
a). Asuransi dibayar dimuka, dibayar pada tanggal 4 Agustus 2008 untuk premi asuransi dengan
masa pertanggungan 12 bulan terhitung sejak tanggal 1 Agustus 2008.
b). Iklan dibayar dimuka, dibayar pada tanggal 1 September 2008 untuk 24 kali pemasangan
iklan. Setiap bulannya, penayangan iklan akan dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu masing-
masing pada setiap tanggal 10 dan tanggal 20 terhitung sejak tanggal 10 September
2008.
c). Dalam beban upah, belum termasuk di dalamnya upah untuk 3 hari kerja pegawai harian,
yaitu untuk tanggal 29, 30 dan 31 Desember 2008 karena pada hari Sabtu (hari gajian)
terakhir jatuh pada tanggal 27 Desember 2008. Besarnya upah mingguan (untuk 6 hari
kerja) adalah Rp1.200.000,00.
d). Perawatan dibayar dimuka adalah pengeluaran untuk pemeliharaan atas 4 buah kendaraan
bermotor selama 5 bulan yang terhitung mulai tanggal 1 November 2008 berdasarkan
kontrak kerja.
e). Beban penyusutan dihitung berdasarkan metode garis lurus:
• Kendaraan bermotor memiliki nilai residu sebesar Rp5.250.000,00 dengan umur
ekonomis 10 tahun.
• Peralatan kantor memiliki nilai residu sebesar Rp6.000.000,00 dengan umur ekonomis
10 tahun.

68 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Diminta: Buatlah ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan pada tanggal 31 Desember 2008
dalam pembukuan CV. Jagat Saputra!

Solusi:
Beban Asuransi 2.500.000
Asuransi Dibayar Dimuka 2.500.000

Beban Iklan 4.000.000


Iklan Dibayar Dimuka 4.000.000

Beban Upah 600.000


Utang Upah 600.000

Beban Perawatan 4.000.000


Perawatan Dibayar Dimuka 4.000.000

Beban Penyusutan-Kendaraan Bermotor 12.000.000


Akumulasi Penyusutan-Kendaraan Bermotor 12.000.000

Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 3.500.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 3.500.000

tahap Penyesuaian 69
001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
BAB 4

Penyelesaian
siklus Akuntansi

tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Memahami tahapan-tahapan yang ada dalam siklus akuntansi.


2. Menjelaskan kegunaan kertas kerja.
3. Memahami tahapan-tahapan dalam menyiapkan kertas kerja.
4. Menyiapkan ayat jurnal penutup.
5. Menjelaskan isi dan tujuan neraca saldo setelah penutupan.
6. Memahami ayat jurnal pembalik.
7. Mengidentiikasi klasiikasi neraca bentuk standar.

70 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
4.1 siklus Akuntansi

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa seluruh transaksi bisnis yang terjadi dalam
perusahaan mula-mula akan dianalisis (dalam rangka mengidentiikasi akun) dan dicatat ke
dalam jurnal. Seluruh data transaksi yang telah tercatat dalam jurnal lalu akan dipindahbukukan
(diposting) ke dalam buku besar sesuai dengan klasiikasi masing-masing akun terkait. Langkah
selanjutnya adalah menyiapkan neraca saldo, menganalisis data penyesuaian, menyiapkan ayat
jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, laporan keuangan, ayat jurnal penutup,
neraca saldo setelah penutupan, dan ayat jurnal pembalik. Proses akuntansi yang diawali dengan
menganalisis dan menjurnal transaksi kemudian diakhiri dengan membuat laporan dinamakan
sebagai siklus akuntansi (accounting cycle). Produk akhir dari siklus akuntansi ini adalah laporan
keuangan.
Pada bab ini akan dibahas secara lengkap mengenai tahapan-tahapan dalam proses penye-
lesaian siklus akuntansi yang belum dijelaskan sepenuhnya pada bagian sebelumnya. Secara lebih
rinci, tahapan-tahapan dalam siklus akuntansi dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Mula-mula dokumen pendukung transaksi dianalisis dan informasi yang terkandung dalam
dokumen tersebut dicatat dalam jurnal.
2. Lalu data akuntansi yang ada dalam jurnal diposting ke buku besar.
3. Seluruh saldo akhir yang terdapat pada masing-masing buku besar akun ”didaftar”
(dipindahkan) ke neraca saldo untuk membuktikan kecocokan antara keseluruhan nilai akun
yang bersaldo normal debet dengan keseluruhan nilai akun yang bersaldo normal kredit.
4. Menganalisis data penyesuaian dan membuat ayat jurnal penyesuaian.
5. Memposting data jurnal penyesuaian ke masing-masing buku besar akun yang terkait.
6. Dengan menggunakan pilihan (optional) bantuan neraca lajur sebagai kertas kerja (work
sheet), neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance) dan laporan keuangan
disiapkan.
7. Membuat ayat jurnal penutup (closing entries).
8. Memposting data jurnal penutup ke masing-masing buku besar akun yang terkait.
9. Menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post-closing trial balance).
10. Membuat ayat jurnal pembalik (reversing entries).

Penyelesaian siklus Akuntansi 71


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Untuk perusahaan yang telah memiliki sistem komputerisasi akuntansi, yaitu sebuah
perangkat lunak (software) yang memuat program pemrosesan data dan pelaporan akuntansi
akan secara otomatis memposting jurnal ke buku besar hingga menghasilkan laporan keuangan
dan berbagai laporan lainnya yang dibutuhkan perusahaan. Dalam kondisi ini, kertas kerja (yang
sifatnya optional) tentu saja tidak lagi dibutuhkan.
Jika digambarkan dalam bagan arus, tahapan siklus akuntansi akan tampak sebagai
berikut:

Transaksi

Dokumen Sumber Data (Pendukung Transaksi)

Analisis Transaksi (Identiikasi Akun) dan Buat Jurnal

Posting Jurnal ke Buku Besar

Neraca Saldo Sebelum Penyesuaian

Jurnal Penyesuaian (updating) dan posting ke Buku Besar Kertas Kerja

Neraca Saldo Setelah Penyesuaian (Neraca Lajur)

Laporan Keuangan (Laba Rugi, Perubahan Modal, dan Neraca)

Jurnal Penutup dan posting ke Buku Besar

Neraca Saldo Setelah Penutupan

Jurnal Pembalik

72 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
4.2 Penggunaan neraca Lajur

Akuntan seringkali menggunakan kertas kerja (work sheet) berupa neraca lajur untuk mengumpulkan
dan meringkas data yang mereka butuhkan dalam rangka menyiapkan laporan keuangan. Kertas
kerja ini berbentuk multi kolom yang memuat kolom neraca saldo sebelum penyesuaian, kolom
penyesuaian, kolom neraca saldo setelah penyesuaian, kolom laba rugi, dan kolom neraca.
Fungsi kertas kerja ini hanya sebagai alat bantu untuk mempermudah proses penyusunan
laporan keuangan yang dilakukan secara manual. Kertas kerja juga sesungguhnya, berguna sebagai
alat bantu untuk memahami alur data akuntansi mulai dari neraca saldo sebelum penyesuaian
hingga menghasilkan laporan keuangan sebagai produk akhir dari siklus akuntansi. Sebagai alat
bantu (pilihan), kertas kerja ini merupakan catatan akuntansi yang sifatnya tidak permanen. Oleh
sebab itu, tidak termasuk sebagai bagian dari catatan akuntansi formal lainnya, seperti jurnal
dan buku besar yang memang dibutuhkan sebagai bagian dari sistem akuntansi. Sifatnya yang
bukan merupakan bagian formal dari tahapan siklus akuntansi tampak dari bagan arus yang telah
digambarkan di atas di mana kertas kerja ini berada di luar alur tahapan siklus akuntansi.
Kertas kerja menjadi tidak diperlukan terutama bagi perusahaan yang sudah memiliki sistem
komputerisasi akuntansi yang baik dan memadai. Kertas kerja juga tidak diperlukan lagi dalam
perusahaan kecil yang hanya memiliki sedikit transaksi, sedikit akun, dan sedikit penyesuaian.
Pada perusahaan kecil, laporan keuangan dapat disiapkan langsung dari neraca saldo setelah
penyesuaian tanpa menggunakan alat bantu neraca lajur sebagai kertas kerja.
Adapun urutan tahapan dalam menyiapkan kertas kerja adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan neraca saldo sebelum penyesuaian (un-adjusted trial balance) ke dalam kertas
kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan (to list) seluruh saldo akhir yang terdapat
pada masing-masing buku besar akun (saldo akhir sebelum penyesuaian) ke dalam kolom
neraca saldo sebelum penyesuaian yang ada dalam kertas kerja.
2. Memasukkan data jurnal penyesuaian ke kolom penyesuaian yang ada dalam kertas kerja.
Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan besarnya tiap-tiap nilai penyesuaian akun
yang ada dalam ayat jurnal penyesuaian ke dalam kolom penyesuaian sesuai dengan posisi
nilai debet dan kredit masing-masing akun. Jika nama akun yang digunakan dalam ayat
jurnal penyesuaian ternyata belum terdapat dalam neraca saldo (yang telah disiapkan pada
tahapan pertama di atas) maka tambahan akun baru tersebut akan disisipkan tepat di
bawah total jumlah neraca saldo.

Penyelesaian siklus Akuntansi 73


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
3. Memasukkan saldo yang telah disesuaikan ke dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian
(adjusted trial balance) yang ada dalam kertas kerja. Kolom neraca saldo setelah penyesuaian
ini merupakan hasil gabungan antara data yang terdapat dalam kolom neraca saldo sebelum
penyesuaian dengan data yang ada dalam kolom penyesuaian.
4. Memindahkan tiap saldo masing-masing akun yang ada dalam kolom neraca saldo setelah
penyesuaian ke dalam kolom laporan keuangan. Hal ini dilakukan dengan cara memilah-
milah secara tepat, akun mana yang akan ditransfer ke dalam kolom laba rugi dan juga
akun mana yang akan ditransfer ke dalam kolom neraca. Sebagai contoh, saldo akun kas
yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom neraca
dengan saldo debet, saldo akun utang usaha yang ada dalam kolom neraca saldo setelah
penyesuaian akan ditransfer ke kolom neraca dengan saldo kredit, saldo akun pendapatan
yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom laba
rugi dengan saldo kredit, saldo akun beban yang ada dalam kolom neraca saldo setelah
penyesuaian akan ditransfer ke kolom laba rugi dengan saldo debet, dan seterusnya. Saldo
akun yang terdapat dalam kolom laba rugi dan kolom neraca inilah yang nantinya akan
dipakai dalam menyusun laporan keuangan.
5. Untuk masing-masing kolom (baik kolom laba rugi maupun kolom neraca), hitunglah total
saldo debet dan total saldo kreditnya dengan cara menjumlahkan seluruh saldo akun dari
atas sampai ke bawah sesuai dengan saldo akun yang ada pada masing-masing kolom.
Besarnya selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom laba rugi
harus sama dengan besarnya selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit
untuk kolom neraca, namun posisi untuk setiap selisih tersebut akan saling berlawanan
antara kolom laba rugi dengan kolom neraca. Artinya, jika posisi selisih antara total saldo
debet dengan total saldo kredit untuk kolom laba rugi berada di sebelah debet, maka posisi
selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom neraca akan berada
di sebelah kredit dengan besar selisih yang sama. Sebagai contoh, untuk kolom/lajur laba
rugi dengan total saldo debet Rp30.000.000,00 dan total saldo kredit Rp40.000.000,00
akan memiliki posisi selisih di sebelah debet, yaitu sebesar Rp10.000.000,00. Sedangkan
untuk kolom/lajur neraca dengan total saldo debet Rp85.000.000,00 dan total saldo
kredit Rp75.000.000,00 akan memiliki posisi selisih di sebelah kredit, yaitu sebesar
Rp10.000.000,00. Perhatikanlah bahwa besarnya selisih tersebut masing-masing memiliki
nilai yang sama yaitu Rp10.000.000,00 baik untuk selisih antara debet kredit pada kolom

74 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
laba rugi maupun untuk selisih antara debet kredit pada kolom neraca, hanya saja posisi
selisih tersebut masing-masing saling berlawanan. Besarnya laba bersih (net income) atau
rugi bersih (net loss) ditentukan dengan cara membandingkan antara total saldo debet
dengan total saldo kredit yang ada pada kolom laba rugi. Jika total saldo kredit untuk
kolom laba rugi melebihi total saldo debet untuk kolom laba rugi maka akan menghasilkan
laba bersih. Sebaliknya, jika total saldo debet untuk kolom laba rugi melebihi total saldo
kredit untuk kolom laba rugi maka akan menghasilkan rugi bersih.

4.3 Menyiapkan Ayat Jurnal Penutup

Sebelum masuk pada pembahasan mengenai ayat jurnal penutup, perlu diingat kembali bahwa
neraca sesungguhnya adalah sebuah laporan yang akan menggambarkan mengenai kondisi atau
posisi keuangan perusahaan per tanggal tertentu (sampai dengan tanggal pelaporan), sedangkan
laporan laba rugi adalah sebuah laporan yang mencerminkan kinerja (performance) manajemen
dan proitabilitas perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Jadi, misalnya saldo kas yang
dilaporkan dalam neraca per 31 Desember 2008 berjumlah Rp400.000.000,00 berarti jumlah saldo
ini merupakan saldo kas akumulatif yang dihasilkan lewat transaksi-transaksi kas yang terjadi
sampai dengan tanggal pelaporan, yaitu per tanggal 31 Desember 2008. Sedangkan jika saldo
pendapatan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir pada tanggal
31 Desember 2008 berjumlah Rp750.000.000,00 berarti jumlah saldo pendapatan ini merupakan
hasil dari transaksi yang terjadi yang hanya diperhitungkan untuk sepanjang satu tahun saja,
yaitu sepanjang tahun 2008.
Seluruh akun neraca dikatakan memiliki sifat yang permanen dan akumulatif (”gulung-
menggulung”), di mana akun-akun neraca ini tidak akan ditutup pada setiap akhir periode akuntansi
dan saldonya akan dibawa terus ke periode-periode akuntansi berikutnya. Sedangkan untuk akun
prive dan seluruh akun yang ada dalam laporan laba rugi memiliki sifat yang sementara, di
mana akun prive dan seluruh akun laba rugi ini nantinya akan ditutup pada setiap akhir periode
akuntansi. Sehubungan dengan penutupan (membuat nihil atau membuat saldo akun menjadi
nol) terhadap saldo akun-akun laporan laba rugi, lalu timbul pertanyaan: Kalau begitu, untuk
apa laporan laba rugi dibuat dan bagaimana dengan nilai saldo yang melekat pada setiap akun
laporan laba rugi tersebut? Sekali lagi, bahwa laporan laba rugi tetap perlu/harus dibuat untuk

Penyelesaian siklus Akuntansi 75


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
memperoleh gambaran mengenai kinerja manajemen perusahaan dan untuk mengetahui berapa
besarnya tingkat keuntungan/kerugian yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan
sepanjang satu tahun tertentu. Nilai saldo yang melekat pada akun prive dan setiap akun laporan
laba rugi pada akhirnya akan ditransfer atau ditutup ke akun neraca, yaitu akun modal.
Ingat kembali bahwa pendapatan memiliki sifat menambah modal, sedangkan beban
memiliki sifat mengurangi modal. Pendapatan dan modal sama-sama memiliki saldo normal di
sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal yang berlawanan dengan saldo normal
untuk pendapatan dan modal. Jika pendapatan lebih besar dari beban maka akan diperoleh laba
bersih. Laba bersih ini berarti sifatnya akan menambah modal dan sebaliknya, jika terjadi rugi
bersih (beban lebih besar dari pendapatan) maka sifatnya akan mengurangi modal. Prive memiliki
saldo normal di sebelah debet dan memiliki sifat mengurangi modal.
Jurnal penutup dilakukan dengan cara: (1) mentransfer akun pendapatan yang memiliki
saldo normal kredit ke sebelah debet kemudian mengkredit akun ikhtisar laba rugi (income
summary); (2) mentransfer akun beban yang memiliki saldo normal debet ke sebelah kredit
kemudian mendebet akun ikhtisar laba rugi; (3) mentransfer jumlah laba bersih/rugi bersih ke
akun modal dengan ketentuan bahwa jika laba bersih maka akun modal akan dikredit (debetnya
adalah akun ikhtisar laba rugi) dan sebaliknya, jika rugi bersih maka akun modal akan didebet
(kreditnya adalah akun ikhtisar laba rugi); (4) mentransfer akun prive yang memiliki saldo normal
debet ke sebelah kredit kemudian mendebet akun modal.
Sebagai kesimpulan, bahwa pada setiap akhir periode akuntansi setelah laporan keuangan
disusun, bagian akuntansi perusahaan perlu menyiapkan ayat jurnal penutup (closing entries). Hal
ini dilakukan dengan cara mentransfer seluruh akun yang sifatnya sementara (temporary/nominal
accounts) ke akun yang sifatnya permanen (permanent/real accounts), yaitu akun modal.
Berikut ini adalah contoh ayat jurnal penutup yang disiapkan pada akhir periode
akuntansi:

Menutup akun pendapatan:


Pendapatan Jasa Rp7.900.000,00
Ikhtisar Laba Rugi Rp7.900.000,00

76 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Menutup akun beban:
Ikhtisar Laba Rugi Rp6.300.000,00
Beban Gaji Rp3.200.000,00
Beban Penyusutan Rp 900.000,00
Beban Utilitas Rp 800.000,00
Beban Bunga Rp 500.000,00
Beban Iklan Rp 400.000,00
Beban Perlengkapan Rp 300.000,00
Beban Asuransi Rp 200.000,00

Menutup jumlah laba bersih:


Ikhtisar Laba Rugi Rp1.600.000,00
Modal Rp1.600.000,00

Menutup akun prive:


Modal Rp 800.000,00
Prive Rp 800.000,00

Perlu diperhatikan secara cermat bahwa besarnya saldo laba bersih (Rp.1.600.000,00)
ditutup dan ditransfer ke perkiraan modal. Saldo laba bersih ini tidak lain adalah selisih antara
total saldo akun pendapatan dengan total saldo akun beban (Rp7.900.000-Rp6.300.000). Akun
ikhtisar laba rugi ini sesungguhnya merupakan akun sementara dari akun modal.

4.4 Menyiapkan neraca saldo setelah Penutupan

Prosedur akuntansi yang terakhir setelah ayat jurnal penutup dibuat dan diposting ke masing-
masing buku besar akun terkait adalah menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post-closing
trial balance). Sesuai dengan namanya, laporan ini hanyalah berisi saldo akhir dari masing-
masing akun neraca (kas, piutang usaha, perlengkapan, utang usaha, dan seterusnya) yang akan
dibawa sebagai saldo awal untuk periode akuntansi berikutnya. Jadi, dalam neraca saldo setelah
penutupan ini sudah tidak ada lagi saldo akun prive dan saldo akun-akun laporan laba rugi karena
telah ditutup lewat ayat jurnal penutup sehingga bersaldo nol.

Penyelesaian siklus Akuntansi 77


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Neraca saldo setelah penutupan ini sesungguhnya dapat digunakan sebagai alat untuk
membuktikan bahwa proses penjurnalan dan pemostingan ayat jurnal penutup telah dilakukan
secara tepat dan lengkap. Neraca saldo setelah penutupan ini juga dibuat untuk membuktikan
bahwa keseimbangan dalam persamaan akuntansi telah dipenuhi pada akhir periode akuntansi
setelah melewati berbagai tahapan siklus akuntansi.

4.5 Ayat Jurnal Pembalik

Dalam akuntansi, pembuatan ayat jurnal pembalik (reversing entries) adalah bersifat pilihan
(optional). Ayat jurnal pembalik ini biasanya dibuat pada setiap awal periode akuntansi dengan
cara membalik ayat jurnal penyesuaian yang telah dibuat pada akhir periode akuntansi sebelumnya.
Ada 4 hal (item) yang perlu dibuatkan ayat jurnal pembalik, yaitu:

 Ayat jurnal penyesuaian atas beban yang masih harus dibayar/beban akrual/utang akrual,
seperti beban upah yang masih harus dibayar (utang upah) dan beban bunga yang masih
harus dibayar (utang bunga).

 Ayat jurnal penyesuaian atas pendapatan yang masih harus diterima/pendapatan akrual/
piutang akrual, seperti pendapatan bunga yang masih harus diterima (piutang bunga).

 Ayat jurnal penyesuaian atas biaya dibayar dimuka yang mula-mula dicatat langsung sebagai
beban, bukan sebagai aset/prepaid, seperti biaya sewa dibayar dimuka (prepaid rent) yang
mula-mula dicatat sebagai beban sewa (rent expense), biaya iklan dibayar dimuka (prepaid
advertising) yang mula-mula dicatat sebagai beban iklan (advertising expense), dan biaya
asuransi dibayar dimuka (prepaid insurance) yang mula-mula dicatat sebagai beban asuransi
(insurance expense).

 Ayat jurnal penyesuaian atas pendapatan diterima dimuka yang mula-mula dicatat langsung
sebagai pendapatan, bukan sebagai utang, seperti pendapatan sewa diterima dimuka
(unearned rent revenue) yang mula-mula dicatat sebagai pendapatan sewa (rent revenue),
dan lain-lain. Ingat kembali bahwa unearned rent revenue merupakan komponen dari neraca,
yaitu sebagai utang, sedangkan rent revenue merupakan komponen dari laporan laba rugi,
yaitu sebagai pendapatan lain-lain (other income).

78 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Jurnal untuk periode berikutnya, yang terkait dengan 4 item di atas, tentu saja akan di-
pengaruhi oleh ada tidaknya ayat jurnal pembalik yang dibuat pada awal periode tersebut.
Sebagai contoh untuk mengilustrasikan efek yang ditimbulkan dari perbedaan antara
dibuatnya ayat jurnal pembalik dengan tidak dibuatnya ayat jurnal pembalik (karena optional)
adalah misalnya, pada tanggal 1 September 2008 perusahaan memberikan pinjaman uang kepada
debitor senilai 100 juta rupiah. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan akan menerima
kembali nilai pokok pinjaman beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu
tepatnya pada tanggal 1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh
kedua belah pihak adalah sebesar 9% per tahun. Periode akuntansi perusahaan berakhir pada
tanggal 31 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama
4 bulan (September, Oktober, November, dan Desember) yang sudah berlangsung dalam tahun
2008 ini haruslah diakui sebagai pendapatan tahun 2008 dalam pembukuan kreditor, meskipun
pembayarannya baru akan diterima nanti pada tanggal 1 Maret 2009.
Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai
berikut:

Piutang Bunga Rp3.000.000,00


Pendapatan Bunga Rp3.000.000,00
(4/12 x 9% x Rp100.000.000,00)

Sedangkan ayat jurnal pembalik yang seandainya dibuat pada tanggal 1 Januari 2009 akan
menjadi:

Pendapatan Bunga Rp3.000.000,00


Piutang Bunga Rp3.000.000,00

Kemudian, ayat jurnal yang perlu dibuat pada tanggal 1 Maret 2009 akan menjadi:
(diluar pokok pinjaman)
Kas Rp4.500.000,00
Pendapatan Bunga Rp4.500.000,00
(6/12 x 9% x Rp100.000.00,00)

Penyelesaian siklus Akuntansi 79


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Namun, jika seandainya ayat jurnal pembalik tidak ada maka ayat jurnal yang harus dibuat
pada tanggal 1 Maret 2009 akan menjadi: (diluar pokok pinjaman)

Kas Rp4.500.000,00
Piutang Bunga Rp3.000.000,00
Pendapatan Bunga Rp1.500.000,00

Tanpa melihat apakah ayat jurnal pembalik dibuat atau tidak, point penting yang perlu
diperhatikan di sini adalah bahwa bunga sebesar Rp3.000.000,00 haruslah diakui sebagai
pendapatan tahun 2008 (untuk 4 bulan), sedangkan besarnya pendapatan bunga yang harus
diakui dalam tahun 2009 hanyalah sebesar Rp1.500.000,00 (untuk 2 bulan).
Sebagai contoh lainnya, untuk mengilustrasikan efek yang ditimbulkan dari ada tidaknya
ayat jurnal pembalik adalah misalnya pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memperoleh
pinjaman uang dari Bank Mandiri (selaku kreditor) senilai 100 juta rupiah. Pinjaman ini
berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan diharuskan untuk mengembalikan nilai pokok pinjaman
beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu pada tanggal 1 Maret 2009.
Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah 9% per
tahun. Periode pembukuan perusahaan (selaku debitor) akan berakhir pada tanggal 31 Desember
2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September,
Oktober, November, dan Desember) yang sudah terjadi di tahun 2008 ini haruslah diakui sebagai
beban tahun 2008 oleh debitor, meskipun pembayarannya baru akan dilakukan pada tanggal 1
Maret 2009 nanti.
Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai
berikut:

Beban Bunga Rp3.000.000,00


Utang Bunga Rp3.000.000,00
(4/12 x 9% x Rp100.000.000,00)

Sedangkan ayat jurnal pembalik yang seandainya dibuat pada tanggal 1 Januari 2009 akan
menjadi:

80 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Utang Bunga Rp3.000.000,00
Beban Bunga Rp3.000.000,00

Kemudian, ayat jurnal yang perlu dibuat pada tanggal 1 Maret 2009 akan menjadi:
(di luar pokok pinjaman)

Beban Bunga Rp4.500.000,00


Kas Rp4.500.000,00
(6/12 x 9% x Rp100.000.000,00)

Namun, jika seandainya ayat jurnal pembalik tidak ada maka ayat jurnal yang harus dibuat
pada tanggal 1 Maret 2009 akan menjadi: (di luar pokok pinjaman)

Utang Bunga Rp3.000.000,00


Beban Bunga Rp1.500.000,00
Kas Rp4.500.000,00

Tanpa melihat apakah ayat jurnal pembalik dibuat atau tidak, point penting yang perlu
diperhatikan di sini adalah bahwa bunga sebesar Rp3.000.000,00 haruslah diakui sebagai beban
tahun 2008 (untuk 4 bulan), sedangkan besarnya beban bunga yang harus diakui dalam tahun
2009 hanyalah sebesar Rp1.500.000,00 (untuk 2 bulan).

4.6 Klasiikasi Neraca (Standar)

Laporan keuangan akan menjadi lebih berguna bagi manajemen, kreditor, dan investor ketika
akun-akun yang ada dalam laporan diklasiikasikan secara tepat ke dalam masing-masing kelompok
sesuai dengan karakteristiknya. Klasiikasi secara tepat terhadap akun-akun neraca akan berguna
untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya mengenai besarnya jumlah aset lancar, aset
tetap, total aset, jumlah utang lancar, utang jangka panjang, total kewajiban, dan besarnya
modal yang dimiliki perusahaan.

Penyelesaian siklus Akuntansi 81


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Lebih lanjut, melalui klasiikasi ini pula para pengguna laporan neraca akan dapat:
1. Memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban yang akan segera jatuh
tempo lewat aset lancar yang dimilikinya.
2. Memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek lewat aset
yang dapat dikonversi menjadi kas tanpa mengalami kesulitan.
3. Mempersiapkan kebutuhan dana jangka panjang untuk memenuhi kewajiban tidak lancar.
4. Memprediksi jumlah total klaim kreditor atas aset perusahaan.
5. Memprediksi jumlah total klaim pemilik dana atau investor atas aset perusahaan.
6. Memperoleh gambaran mengenai besarnya komposisi aset tetap terhadap total aset.
7. Memperoleh gambaran mengenai jumlah perbandingan antara total kewajiban dengan total
aset.

Klasiikasi akun neraca yang standar terbagi menjadi: aset lancar, aset tetap, utang lancar,
utang jangka panjang, dan modal.
Aset lancar terdiri dari kas dan sumber daya ekonomi lainnya yang diperkirakan akan dapat
direalisasi menjadi kas (contohnya piutang) atau dapat dijual (contohnya persediaan barang
dagang) atau dapat dikonsumsi (contohnya perlengkapan, asuransi dibayar dimuka, sewa dibayar
dimuka) dalam kurun waktu satu tahun periode akuntansi. Ingat kembali bahwa penyajian untuk
akun aset lancar dalam neraca disusun berdasarkan urutan tingkat likuiditasnya. Kas lebih lancar
dibanding piutang dan persediaan, piutang lebih lancar dibanding persediaan, dan seterusnya.
Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, aset tetap diklasiikasikan menjadi dua
yaitu aset tetap berwujud dan aset tetap tidak berwujud. Pada prinsipnya, aset tetap adalah sumber
daya ekonomi yang memiliki masa kegunaan lebih dari satu tahun periode akuntansi, yang dimiliki
perusahaan dengan maksud untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan sehari-hari
dan bukan untuk dijual, serta besar nilainya material yang tergantung pada kebijakan manajemen
perusahaan masing-masing dalam hal kapitalisasi. Aset tetap akan disajikan dalam neraca sebesar
harga perolehannya. Di samping itu, untuk aset tetap berwujud juga harus disajikan besarnya
akumulasi penyusutan, yaitu yang merupakan total beban penyusutan mulai dari tahun pertama
sejak aset tetap tersebut diperoleh hingga tahun pelaporan. Untuk akhir tahun pertama sejak
tanggal perolehan, otomatis besarnya beban penyusutan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi
akan sama dengan besarnya akumulasi penyusutan yang dilaporkan dalam neraca. Sedangkan
besarnya akumulasi penyusutan sampai dengan akhir tahun kedua yang akan dilaporkan dalam

82 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
neraca adalah jumlah antara akumulasi penyusutan yang telah dilaporkan dalam laporan neraca
akhir tahun pertama dengan beban penyusutan untuk tahun kedua, dan seterusnya. Akumulasi
penyusutan ini sifatnya sebagai akun pengurang (contra account) dari harga perolehan aset tetap
di mana akumulasi penyusutan memiliki saldo normal di sebelah kredit atau kebalikan dari saldo
normal untuk harga perolehan aset tetap. Harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi
penyusutan akan diperoleh nilai buku (book value). Aset tetap berwujud akan disajikan dalam
neraca berdasarkan urutan lamanya umur kegunaan aset tetap bersangkutan (tanah, bangunan,
peralatan, dan seterusnya).
Utang lancar adalah kewajiban-kewajiban yang diperkirakan akan dibayar dengan
menggunakan aset lancar yang ada atau dengan melalui pembentukan utang lancar lainnya.
Utang lancar ini harus segera dilunasi dalam jangka waktu satu tahun. Utang lancar meliputi
utang usaha, utang gaji dan upah, pinjaman bank yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu
tahun atau maksimum satu tahun, utang bunga, utang pajak, bagian utang jangka panjang yang
akan jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun, dan utang lancar lainnya.
Sedangkan kewajiban-kewajiban yang diperkirakan akan dibayar setelah satu tahun
diklasiikasikan sebagai utang jangka panjang. Utang dalam kategori ini meliputi utang obligasi
(bonds payable), utang hipotik (mortgages payable), wesel bayar jangka panjang (long-term notes
payable), pinjaman bank jangka panjang (long-term bank loans), dan utang jangka panjang
lainnya.
Komponen modal yang terdapat dalam laporan neraca sangatlah beragam atau berbeda-
beda tergantung pada bentuk karakteristik organisasi perusahaan. Untuk perusahaan perorangan
(proprietorship), hanya ada satu akun modal saja yaitu akun yang mencerminkan modal dari
si pemilik tunggal perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan yang memiliki bentuk organisasi
persekutuan (partnership), besarnya bagian kepemilikan dari setiap anggota sekutu akan
tercermin lewat masing-masing akun modal, misalnya akun modal Tn. A, akun modal Tn. B,
akun modal Tn. C dan seterusnya sesuai dengan berapa banyak anggota sekutu yang ada dalam
perusahaan. Sedangkan untuk perseroan (corporation), ada dua sumber utama modal yaitu modal
disetor (paid-in capital atau contributed capital) dan laba ditahan (ending retained earning).
Modal yang disetor ini merupakan modal saham (capital stock). Period retained earning merupakan
hasil pengurangan laba bersih (net income) periode berjalan dengan deviden (pembagian hasil
keuntungan kepada investor) yang kemudian sisanya diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan.
Saldo laba ditahan yang dilaporkan dalam neraca merupakan saldo akhir yang sifatnya akumulatif

Penyelesaian siklus Akuntansi 83


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
(”gulung-menggulung”), yaitu kumpulan dari besarnya saldo laba ditahan yang dihasilkan dalam
satu periode ke periode berikutnya. Jadi, ending retained earning = beginning retained earning +
period retained earning. Di mana, period retained earning = net income – dividend.

4.7 ilustrasi Penyelesaian siklus Akuntansi

Akuntansi untuk perusahaan jasa relatif lebih simpel dibanding perusahaan dagang. Hal ini
disebabkan karena untuk perusahaan dagang, terdapat dua alternatif metode akuntansi yang
diperkenankan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dalam hal mencatat persediaan
barang dagang yaitu metode perpetual dan metode periodik/isik, belum lagi kerumitan ditambah
dengan alternatif metode penilaian yang ada dalam menghitung besarnya harga pokok persediaan
barang dagang. Namun pada intinya, proses (alur) penyelesaian siklus akuntansi untuk perusahaan
jasa dan perusahaan dagang adalah hampir sama.
Karena akuntansi untuk perusahaan dagang relatif lebih rumit dibanding perusahaan jasa
maka dalam buku ini, ilustrasi mengenai penyelesaian siklus akuntansi (dengan menggunakan
alat bantu worksheet) akan langsung diberikan untuk perusahaan dagang, yang akan diuraikan
nanti dalam Bab 5 (Akuntansi untuk Perusahaan Dagang).

4.8 ilustrasi Problem

soal 1
Felixia Beatrice Artistik merupakan sebuah perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang pertamanan
(landscaping). Penutupan buku perusahaan dilakukan pada setiap tanggal 31 Desember. Perkiraan-
perkiraan dalam buku besar perusahaan pada tanggal 30 November 2008 menunjukkan saldo
sebagai berikut:

no. Perkiraan nama Perkiraan saldo


101 Kas 58.340.000
103 Piutang Usaha 59.200.000
104 Perlengkapan Kantor 4.150.000

84 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
107 Asuransi Dibayar Dimuka 9.000.000
108 Iklan Dibayar Dimuka 0
151 Kendaraan 180.000.000
152 Akumulasi Penyusutan-Kendaraan 36.000.000
153 Peralatan Kantor 70.000.000
154 Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 14.000.000
201 Utang Usaha 28.000.000
202 Utang Bank 40.000.000
203 Utang Gaji dan Upah 0
204 Utang Bunga 0
301 Modal Ny. Felixia 214.000.000
302 Prive Ny. Felixia 16.300.000
303 Ikhtisar Laba-Rugi 0
401 Pendapatan Jasa 140.900.000
501 Beban Gaji dan Upah 49.000.000
502 Beban Asuransi 0
503 Beban Iklan 0
504 Beban Perlengkapan Kantor 0
505 Beban Listrik dan Telpon 6.850.000
506 Beban Pemeliharaan 12.500.000
507 Beban Penyusutan-Kendaraan 0
508 Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 0
509 Beban Bunga 2.160.000
510 Beban Rupa-Rupa 5.400.000

Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 2008 yang belum dibukukan oleh
perusahaan adalah sebagai berikut:

1 Desember Dibeli dari PT. Imora sebuah kendaraan dan peralatan kantor, masing-masing
senilai Rp36.000.000,00 dan Rp12.000.000,00. Dibayar tunai Rp38.000.000,00
sedangkan sisanya akan dilunasi nanti di kemudian hari.

Penyelesaian siklus Akuntansi 85


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
4 Desember Diterima tunai sebesar Rp17.500.000,00 sebagai pembayaran untuk pekerjaan
merancang dan membangun sebuah taman.
5 Desember Dibayar biaya iklan pada majalah bulanan Kartini untuk 6 kali pemasangan sebesar
Rp5.400.000,00 (catat dalam perkiraan nomor 108). Pemasangan iklan akan
dilakukan pada setiap tanggal 5 yang terhitung mulai hari ini.
8 Desember Dibeli tunai perlengkapan kantor seharga Rp3.850.000,00.
10 Desember Diterima pelunasan dari debitor sebesar Rp25.000.000,00.
12 Desember Dibayar beban pemeliharaan kendaraan operasional perusahaan sebesar
Rp6.500.000,00.
14 Desember Dibayar upah tenaga kerja honorer sebesar Rp9.700.000,00.
17 Desember Diambil uang tunai dari kas perusahaan sebesar Rp9.000.000,00 untuk keperluan
pribadi pemilik.
20 Desember Dibayar rekening listrik dan telpon bulan Desember 2008 sebesar Rp650.000,00.
22 Desember Telah diselesaikan pembuatan dekorasi atas sebuah taman di Hotel Megah dengan
total faktur sebesar Rp17.600.000,00. Dalam transaksi ini, telah diterima tunai
Rp12.500.000,00 sedangkan sisanya akan ditagih nanti di kemudian hari.
24 Desember Dibayar upah karyawan harian, gaji bulanan, dan tunjangan hari Natal sebesar
Rp18.300.000,00.
28 Desember Dibayar utang usaha kepada kreditor sebesar Rp19.000.000,00.
31 Desember Dibayar uang parkir, kebersihan, keamanan, sumbangan, dan lain-lain sebesar
Rp2.600.000,00.
Diminta:
a). Catatlah transaksi-transaksi di atas dalam bentuk jurnal umum!
b). Pindahkan data yang terdapat dalam jurnal umum ke dalam perkiraan-perkiraan yang
bersangkutan di buku besar!
c). Susunlah neraca saldo per 31 Desember 2008 sebelum penyesuaian!
d). Buatlah ayat jurnal penyesuaian, apabila pada tanggal 31 Desember 2008 diperoleh data
tambahan untuk penyesuaian sebagai berikut:
d.1). Nilai perlengkapan kantor yang sudah terpakai sampai dengan tanggal 31 Desember
2008 adalah sebesar Rp6.000.000,00.
d.2). Asuransi dibayar dimuka merupakan pembayaran premi asuransi untuk jangka waktu
6 bulan yang terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2008.

86 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
d.3). Pemasangan iklan sampai dengan tanggal 31 Desember 2008 baru dilakukan sebanyak
satu kali, yaitu tanggal 5 Desember.
d.4). Penyusutan tahunan atas aset tetap ditentukan sebesar 20% dari harga perolehannya.
Atas peralatan kantor dan kendaraan yang dibeli pada tanggal 1 Desember 2008 juga
belum dilakukan penyusutan.
d.5). Bunga atas pinjaman bank selama 30 hari belum dibayar. Tingkat bunga pinjaman
adalah sebesar 18% per tahun (1 tahun = 360 hari).
d.6). Upah karyawan harian dibayar sekali seminggu pada setiap hari Sabtu sore untuk 6
hari kerja (Senin sampai dengan Sabtu) sebesar Rp2.400.000,00. Tanggal 31 Desember
2008 jatuh pada hari Kamis.
e). Pindahkan data yang terdapat dalam jurnal penyesuaian ke dalam perkiraan-perkiraan yang
bersangkutan di buku besar!
f). Susunlah neraca saldo per 31 Desember 2008 setelah penyesuaian!

Penyelesaian:
a).

tgl nama Perkiraan COA Dr kr

1 Des Kendaraan 151 36.000.000


Peralatan Kantor 153 12.000.000
Kas 101 38.000.000
Utang Usaha 201 10.000.000

4 Des Kas 101 17.500.000


Pendapatan Jasa 401 17.500.000

5 Des Iklan Dibayar Dimuka 108 5.400.000


Kas 101 5.400.000

8 Des Perlengkapan Kantor 104 3.850.000


Kas 101 3.850.000

10 Des Kas 101 25.000.000


Piutang Usaha 103 25.000.000

12 Des Beban Pemeliharaan 506 6.500.000


Kas 101 6.500.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 87


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
14 Des Beban Gaji dan Upah 501 9.700.000
Kas 101 9.700.000

17 Des Prive 302 9.000.000


Kas 101 9.000.000

20 Des Beban Listrik dan Telepon 505 650.000


Kas 101 650.000

22 Des Kas 101 12.500.000


Piutang Usaha 103 5.100.000
Pendapatan Jasa 401 17.600.000

24 Des Beban Gaji dan Upah 501 18.300.000


Kas 101 18.300.000

28 Des Utang Usaha 201 19.000.000


Kas 101 19.000.000

31 Des Beban Rupa-Rupa 510 2.600.000


Kas 101 2.600.000

b).
101. kas
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 58.340.000 58.340.000


1 Des PT. Imora 38.000.000 20.340.000
4 Des Pendapatan Jasa 17.500.000 37.840.000
5 Des Biaya Iklan-Kartini 5.400.000 32.440.000
8 Des Perlengkapan Kantor 3.850.000 28.590.000
10 Des Pelunasan Debitor 25.000.000 53.590.000
12 Des Beban Pemeliharaan 6.500.000 47.090.000
14 Des Beban Gaji dan Upah 9.700.000 37.390.000
17 Des Prive 9.000.000 28.390.000
20 Des Beban Listrik & Telpon 650.000 27.740.000
22 Des Hotel Megah 12.500.000 40.240.000

88 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
24 Des Beban Gaji dan Upah 18.300.000 21.940.000
28 Des Utang Usaha 19.000.000 2.940.000
31 Des Beban Rupa-Rupa 2.600.000 340.000

103. Piutang usaha


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 59.200.000 59.200.000


10 Des Pelunasan Debitor 25.000.000 34.200.000
22 Des Hotel Megah 5.100.000 39.300.000

104. Perlengkapan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 4.150.000 4.150.000


8 Des Dibeli Tunai 3.850.000 8.000.000

107. Asuransi Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.000.000 9.000.000

108. iklan Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


5 Des Kartini 5.400.000 5.400.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 89


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
151. kendaraan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 180.000.000 180.000.000


1 Des PT. Imora 36.000.000 216.000.000

152. Akumulasi Penyusutan-kendaraan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 36.000.000 36.000.000

153. Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 70.000.000 70.000.000


1 Des PT. Imora 12.000.000 82.000.000

154. Akumulasi Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 14.000.000 14.000.000

201. utang usaha


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 28.000.000 28.000.000


1 Des PT. Imora 10.000.000 38.000.000
28 Des Dibayar Tunai 19.000.000 19.000.000

90 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
202. utang Bank
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 40.000.000 40.000.000

203. utang Gaji & upah


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0

204. utang Bunga


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0

301. Modal ny. Felixia


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 214.000.000 214.000.000

302. Prive ny. Felixia


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 16.300.000 16.300.000


17 Des Tunai 9.000.000 25.300.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 91


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
401. Pendapatan Jasa
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 140.900.000 140.900.000


4 Des Diterima Tunai 17.500.000 158.400.000
22 Des Hotel Megah 17.600.000 176.000.000

501. Beban Gaji & upah


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 49.000.000 49.000.000


14 Des Tenaga Kerja Honorer 9.700.000 58.700.000
24 Des Karyawan Harian, Bulanan 18.300.000 77.000.000

502. Beban Asuransi


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0

503. Beban iklan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0

504. Beban Perlengkapan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0

92 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
505. Beban Listrik & telpon
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.850.000 6.850.000


20 Des Dibayar Tunai 650.000 7.500.000

506. Beban Pemeliharaan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 12.500.000 12.500.000


12 Des Dibayar Tunai 6.500.000 19.000.000

507. Beban Penyusutan-kendaraan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0

508. Beban Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0

509. Beban Bunga


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 2.160.000 2.160.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 93


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
510. Beban Rupa-Rupa
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 5.400.000 5.400.000


31 Des Parkir, Kebersihan, dll 2.600.000 8.000.000

c).
Felixia Beatrice Artistik
neraca saldo sebelum Penyesuaian
31 Desember 2008
no. Perkiraan nama Perkiraan Debet kredit

101 Kas 340.000


103 Piutang Usaha 39.300.000
104 Perlengkapan Kantor 8.000.000
107 Asuransi Dibayar Dimuka 9.000.000
108 Iklan Dibayar Dimuka 5.400.000
151 Kendaraan 216.000.000
152 Akumulasi Penyusutan-Kendaraan 36.000.000
153 Peralatan Kantor 82.000.000
154 Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 14.000.000
201 Utang Usaha 19.000.000
202 Utang Bank 40.000.000
203 Utang Gaji dan Upah 0
204 Utang Bunga 0
301 Modal Ny. Felixia 214.000.000
302 Prive Ny. Felixia 25.300.000
303 Ikhtisar Laba-Rugi 0 0
401 Pendapatan Jasa 176.000.000
501 Beban Gaji dan Upah 77.000.000
502 Beban Asuransi 0
503 Beban Iklan 0
504 Beban Perlengkapan Kantor 0
505 Beban Listrik dan Telpon 7.500.000
506 Beban Pemeliharaan 19.000.000
507 Beban Penyusutan-Kendaraan 0
508 Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 0
509 Beban Bunga 2.160.000
510 Beban Rupa-Rupa 8.000.000

499.000.000 499.000.000

94 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
d).
tgl nama Perkiraan COA Dr kr

31 Des Beban Perlengkapan Kantor 504 6.000.000


Perlengkapan Kantor 104 6.000.000

31 Des Beban Asuransi 502 4.500.000


Asuransi Dibayar Dimuka 107 4.500.000

31 Des Beban Iklan 503 900.000


Iklan Dibayar Dimuka 108 900.000

31 Des Beban Penyusutan-Kendaraan 507 36.600.000


Akm. Penyusutan-Kendaraan 152 36.600.000

Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 508 14.200.000


Akm. Penyusutan-Peralatan Kantor 154 14.200.000

31 Des Beban Bunga 509 600.000


Utang Bunga 204 600.000

31 Des Beban Gaji dan Upah 501 1.600.000


Utang Gaji dan Upah 203 1.600.000

e).
101. kas
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 58.340.000 58.340.000


1 Des PT. Imora 38.000.000 20.340.000
4 Des Pendapatan Jasa 17.500.000 37.840.000
5 Des Biaya Iklan-Kartini 5.400.000 32.440.000
8 Des Perlengkapan Kantor 3.850.000 28.590.000
10 Des Pelunasan Debitor 25.000.000 53.590.000
12 Des Beban Pemeliharaan 6.500.000 47.090.000
14 Des Beban Gaji dan Upah 9.700.000 37.390.000
17 Des Prive 9.000.000 28.390.000
20 Des Beban Listrik dan Telpon 650.000 27.740.000
22 Des Hotel Megah 12.500.000 40.240.000
24 Des Beban Gaji dan Upah 18.300.000 21.940.000
28 Des Utang Usaha 19.000.000 2.940.000
31 Des Beban Rupa-Rupa 2.600.000 340.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 95


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
103. Piutang usaha
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 59.200.000 59.200.000


10 Des Pelunasan Debitor 25.000.000 34.200.000
22 Des Hotel Megah 5.100.000 39.300.000

104. Perlengkapan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 4.150.000 4.150.000


8 Des Dibeli Tunai 3.850.000 8.000.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.000.000 2.000.000

107. Asuransi Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.000.000 9.000.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 4.500.000 4.500.000

108. iklan Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


5 Des Kartini 5.400.000 5.400.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 900.000 4.500.000

96 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
151. kendaraan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 180.000.000 180.000.000


1 Des PT. Imora 36.000.000 216.000.000

152. Akumulasi Penyusutan-kendaraan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 36.000.000 36.000.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 36.600.000 72.600.000

153. Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 70.000.000 70.000.000


1 Des PT. Imora 12.000.000 82.000.000

154. Akumulasi Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 14.000.000 14.000.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 14.200.000 28.200.000

201. utang usaha


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 28.000.000 28.000.000


1 Des PT. Imora 10.000.000 38.000.000
28 Des Dibayar Tunai 19.000.000 19.000.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 97


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
202. utang Bank
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 40.000.000 40.000.000

203. utang Gaji dan upah


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 1.600.000 1.600.000

204. utang Bunga


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 600.000 600.000

301. Modal ny. Felixia


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 214.000.000 214.000.000

302. Prive ny. Felixia


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 16.300.000 16.300.000


17 Des Tunai 9.000.000 25.300.000

98 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
401. Pendapatan Jasa
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 140.900.000 140.900.000


4 Des Diterima Tunai 17.500.000 158.400.000
22 Des Hotel Megah 17.600.000 176.000.000

501. Beban Gaji dan upah


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 49.000.000 49.000.000


14 Des Tenaga Kerja Honorer 9.700.000 58.700.000
24 Des Karyawan Harian, Bulanan 18.300.000 77.000.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 1.600.000 78.600.000

502. Beban Asuransi


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 4.500.000 4.500.000

503. Beban iklan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 900.000 900.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 99


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
504. Beban Perlengkapan kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.000.000 6.000.000

505. Beban Listrik dan telpon


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.850.000 6.850.000


20 Des Dibayar Tunai 650.000 7.500.000

506. Beban Pemeliharaan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 12.500.000 12.500.000


12 Des Dibayar Tunai 6.500.000 19.000.000

507. Beban Penyusutan-kendaraan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 36.600.000 36.600.000

508. Beban Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2008 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 14.200.000 14.200.000

100 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
509. Beban Bunga
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 2.160.000 2.160.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 600.000 2.760.000

510. Beban Rupa-Rupa


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 5.400.000 5.400.000


31 Des Parkir, Kebersihan, dll 2.600.000 8.000.000

f).
Felixia Beatrice Artistik
neraca saldo setelah Penyesuaian
31 Desember 2008

no. Perkiraan nama Perkiraan Debet kredit

101 Kas 340.000


103 Piutang Usaha 39.300.000
104 Perlengkapan Kantor 2.000.000
107 Asuransi Dibayar Dimuka 4.500.000
108 Iklan Dibayar Dimuka 4.500.000
151 Kendaraan 216.000.000
152 Akumulasi Penyusutan-Kendaraan 72.600.000
153 Peralatan Kantor 82.000.000
154 Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 28.200.000
201 Utang Usaha 19.000.000
202 Utang Bank 40.000.000
203 Utang Gaji dan Upah 1.600.000
204 Utang Bunga 600.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 101


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
301 Modal Ny. Felixia 214.000.000
302 Prive Ny. Felixia 25.300.000
303 Ikhtisar Laba-Rugi 0 0
401 Pendapatan Jasa 176.000.000
501 Beban Gaji dan Upah 78.600.000
502 Beban Asuransi 4.500.000
503 Beban Iklan 900.000
504 Beban Perlengkapan Kantor 6.000.000
505 Beban Listrik dan Telpon 7.500.000
506 Beban Pemeliharaan 19.000.000
507 Beban Penyusutan-Kendaraan 36.600.000
508 Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 14.200.000
509 Beban Bunga 2.760.000
510 Beban Rupa-Rupa 8.000.000

552.000.000 552.000.000

soal 2
Tn. Nico memulai usaha jasa konsultasi manajemen sejak tanggal 1 Juni 2008. Perkiraan neraca
saldo pada tanggal 30 Juni 2008 adalah sebagai berikut:

nico konsultan
neraca saldo
30 Juni 2008

no. Perkiraan nama Perkiraan Debet kredit

100 Kas 7.750.000


110 Piutang Usaha 6.000.000
120 Asuransi Dibayar Dimuka 2.400.000
130 Perlengkapan 2.000.000

102 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
135 Peralatan Kantor 15.000.000
200 Utang Usaha 4.500.000
230 Pendapatan Jasa Diterima Dimuka 4.000.000
300 Modal Nico 21.750.000
400 Pendapatan Jasa 7.900.000
510 Beban Gaji 4.000.000
520 Beban Sewa 1.000.000

38.150.000 38.150.000

Sebagai tambahan data kode akun adalah


No. 136 Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor
No. 210 Utang Utilitas
No. 220 Utang Gaji
No. 530 Beban Penyusutan-Peralatan Kantor
No. 540 Beban Asuransi
No. 550 Beban Utilitas
No. 560 Beban Perlengkapan

Data tambahan untuk penyesuaian saldo akun adalah sebagai berikut:


1). Saldo isik perlengkapan yang ada pada tanggal 30 Juni 2008 bernilai Rp1.300.000,00.
2). Faktur (tagihan) untuk beban utilitas sebesar Rp150.000,00 belum dibukukan dan tidak
akan dibayar sampai bulan mendatang.
3). Jangka waktu asuransi adalah 1 tahun, dibayar tanggal 2 Juni 2008.
4). Pendapatan yang ditangguhkan sebesar Rp2.500.000,00 telah menjadi penghasilan pada
akhir bulan Juni 2008.
5). Beban gaji terhutang pada akhir bulan Juni sebesar Rp1.500.000,00.
6). Umur ekonomis peralatan kantor adalah 5 tahun tanpa nilai residu. Peralatan kantor ini
disusutkan sebesar Rp250.000,00 per bulan selama 60 bulan.
7). Faktur atas pekerjaan yang telah diselesaikan selama bulan ini (bulan Juni) sebesar
Rp3.000.000,00 belum dicatat.

Penyelesaian siklus Akuntansi 103


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Diminta:
a). Buatlah ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan pada tanggal 30 Juni 2008!
b). Pindahkan data yang terdapat dalam jurnal penyesuaian ke dalam perkiraan-perkiraan yang
bersangkutan di buku besar!
c). Susunlah neraca saldo per 30 Juni 2008 setelah penyesuaian!

Penyelesaian:

a).
tgl nama Perkiraan COA Dr kr

30 Juni Beban Perlengkapan 560 700.000


Perlengkapan 130 700.000

30 Juni Beban Utilitas 550 150.000


Utang Utilitas 210 150.000

30 Juni Beban Asuransi 540 200.000


Asuransi Dibayar Dimuka 120 200.000

30 Juni Pendapatan Jasa Diterima Dimuka 230 2.500.000


Pendapatan Jasa 400 2.500.000

30 Juni Beban Gaji 510 1.500.000


Utang Gaji 220 1.500.000

30 Juni Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 530 250.000


Akm. Penyusutan-Peralatan Kantor 136 250.000

30 Juni Piutang Usaha 110 3.000.000


Pendapatan Jasa 400 3.000.000

104 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
c).
nico konsultan
neraca saldo setelah Penyesuaian
30 Juni 2008

no. Perkiraan nama Perkiraan Debet kredit

100 Kas 7.750.000


110 Piutang Usaha 9.000.000
120 Asuransi Dibayar Dimuka 2.200.000
130 Perlengkapan 1.300.000
135 Peralatan Kantor 15.000.000
136 Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 250.000
200 Utang Usaha 4.500.000
210 Utang Utilitas 150.000
220 Utang Gaji 1.500.000
230 Pendapatan Jasa Diterima Dimuka 1.500.000
300 Modal Nico 21.750.000
400 Pendapatan Jasa 13.400.000
510 Beban Gaji 5.500.000
520 Beban Sewa 1.000.000
530 Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 250.000
540 Beban Asuransi 200.000
550 Beban Utilitas 150.000
560 Beban Perlengkapan 700.000

43.050.000 43.050.000

Penyelesaian siklus Akuntansi 105


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
BAB 5

Akuntansi
Perusahaan
Dagang
tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Mengidentiikasi perbedaan antara perusahaan jasa dan dagang.


2. Menjelaskan ayat jurnal dalam sistem pencatatan persediaan perpetual.
3. Menjelaskan ayat jurnal dalam sistem pencatatan persediaan periodik.
4. Menentukan harga pokok penjualan dalam sistem pencatatan persediaan
periodik.
5. Menyiapkan ayat jurnal penyesuaian untuk persediaan barang dagang
(periodik dan perpetual).
6. Memahami dan menyiapkan laporan keuangan untuk perusahaan
dagang.

106 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
5.1 karakteristik Perusahaan Dagang

Seperti yang telah diuraikan dalam Bab 1 bahwa berdasarkan jenis usaha atau berdasarkan jenis
produk yang dihasilkan/yang dijual, perusahaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu perusahaan
manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa. Perusahaan dagang dan perusahaan jasa
sama-sama menjual produk, perbedaannya adalah bahwa produk yang ditawarkan oleh perusahaan
jasa tentu saja berupa jasa sedangkan perusahaan dagang menjual produk yang berupa barang
dagang.
Aktivitas perusahaan dagang meliputi pembelian barang dagang dari supplier (pemasok)
kemudian menjual kembali barang dagang tersebut kepada konsumen/pelanggan dengan maksud
untuk memperoleh keuntungan. Ketika barang dagang dijual, nilai dari transaksi penjualan ini
akan dilaporkan sebagai pendapatan penjualan (sales revenue) dan harga pokok dari barang
yang dijual akan diakui sebagai beban yang dinamakan harga pokok penjualan (cost of goods
sold). Pendapatan penjualan setelah dikurangi dengan harga pokok penjualan akan diperoleh
laba kotor (gross proit). Jumlah ini dinamakan laba kotor karena belum memperhitungkan beban
operasional yang telah (turut) dikeluarkan dalam rangka penciptaan/pembentukan pendapatan;
ingat kembali mengenai konsep penandingan yang telah dibahas pada Bab 3 yang lalu.
Barang dagang yang masih tersedia (tidak terjual) sampai dengan akhir periode akuntansi
dinamakan persediaan barang dagang (merchandise inventory). Barang dagang ini akan dilaporkan
sebagai aset lancar dalam neraca; ingat kembali bahwa aset lancar disajikan dalam neraca sesuai
dengan urutan tingkat likuiditasnya. Untuk bentuk laporan neraca yang sederhana dari sebuah
perusahaan dagang, akun persediaan barang dagang ini akan disajikan dengan urutan setelah
akun kas dan akun piutang usaha (piutang dagang), yang berarti kas dan piutang usaha sifatnya
lebih lancar dibanding persediaan barang dagang.
Perusahaan dagang secara sistematis akan selalu menyelenggarakan catatan persediaan
untuk menentukan jumlah barang dagang yang tersedia untuk dijual dan yang telah laku terjual.
Terdapat dua metode akuntansi yang lazim dipakai dalam mencatat persediaan barang dagang,
yaitu metode atau sistem pencatatan perpetual (perpetual inventory system) dan metode atau
sistem pencatatan periodik/isik (periodic/phisical inventory system).

Akuntansi Perusahaan Dagang 107


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
5.2 sistem Pencatatan Perpetual

Dalam sistem perpetual, catatan mengenai harga pokok dari masing-masing barang dagang yang
dibeli maupun yang dijual diselenggarakan secara terperinci. Sistem pencatatan ini secara terus-
menerus akan menunjukkan besarnya saldo persediaan barang dagang yang ada di gudang untuk
setiap jenis persediaan. Dengan sistem pencatatan perpetual, harga pokok dari barang yang dijual
ditentukan setiap kali penjualan terjadi. Yang perlu diperhatikan dalam mencatat transaksi barang
dagang dengan menggunakan metode/sistem perpetual ini adalah bahwa akun pembelian, retur
pembelian, potongan pembelian, dan akun ongkos angkut masuk tidak akan pernah digunakan.
Seluruh akun-akun tersebut digantikan dengan akun persediaan barang dagang.

Mencatat Pembelian
Pembelian barang dagang dari pemasok dapat dilakukan secara tunai maupun kredit. Transaksi
pembelian umumnya baru akan dicatat ketika barang sudah diterima dari pemasok (penjual).
Setiap pembelian seharusnya didukung/dilengkapi dengan dokumen yang memberikan bukti
tertulis dari adanya transaksi tersebut. Pembelian tunai dicatat dengan menaikkan saldo akun
persediaan barang dagang dan mengurangi saldo akun kas, sedangkan pembelian secara kredit
tentu saja akan menambah saldo akun utang usaha bagi perusahaan yang membeli. Setiap
pembelian tunai harus didukung dengan bukti pembayaran, sedangkan untuk pembelian secara
kredit akan didukung dengan faktur pembelian (purchase invoice). Faktur pembelian ini merupakan
salinan faktur penjualan yang dikirim oleh si penjual. Jadi, si pembeli tidak perlu menyiapkan
faktur pembelian karena salinan faktur penjualan yang disiapkan dan dikirim oleh si penjual akan
menjadi faktur pembelian bagi si pembeli.
Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk mencatat transaksi pembelian adalah sebagai berikut:

Persediaan Barang dagang xxx


Kas xxx
(apabila pembelian dilakukan secara tunai)

Persediaan Barang dagang xxx


Utang Usaha xxx
(apabila pembelian dilakukan secara kredit)

108 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Retur Pembelian dan Penyesuaian Harga Beli
Pembeli bisa jadi tidak puas dengan barang yang dipesannya dari penjual. Barang yang diterima
mungkin saja rusak, cacat, atau bahkan tidak sesuai dengan spesiikasi kebutuhan pembeli. Dalam
kasus seperti ini, pembeli dapat mengembalikan barang yang telah diterima kepada si penjual.
Lalu, pembeli akan memperoleh pengurangan utang jika awalnya pembelian dilakukan secara
kredit atau pembeli akan menerima pengembalian kas jika awalnya pembelian telah dilakukan
secara tunai. Transaksi ini dikenal sebagai retur pembelian. Pembeli bisa juga memilih untuk
tidak mengembalikan barang yang telah dibeli kepada penjual asalkan penjual bersedia untuk
memberikan penyesuaian atau pengurangan harga dari harga beli semula. Transaksi ini dikenal
sebagai penyesuaian harga beli.
Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk mencatat transaksi retur pembelian atau penyesuaian
harga beli adalah sebagai berikut:

Kas xxx
Persediaan Barang Dagang xxx
(apabila awalnya pembelian dilakukan secara tunai)

Utang Usaha xxx


Persediaan Barang Dagang xxx
(apabila awalnya pembelian dilakukan secara kredit)

Ongkos Angkut
Dalam setiap transaksi jual beli barang dagang seharusnya disepakati apakah penjual atau
pembeli yang akan membayar atau menanggung semua ongkos angkut barang dari gudang penjual
ke gudang pembeli. Ada dua jenis alternatif persyaratan pengangkutan (freight terms), yaitu
franko gudang penjual (free on board shipping point) dan franko gudang pembeli (free on board
destination point).
Franko gudang penjual berarti bahwa penjual tidak memiliki kewajiban untuk menanggung
ongkos angkut barang dari gudang penjual ke gudang pembeli, melainkan pembelilah yang
harus menanggung ongkos angkut barang tersebut. Oleh sebab itu, ongkos angkut barang yang
harus ditanggung oleh pembeli dicatat dalam pembukuan pembeli sebagai ongkos angkut masuk
(freight in). Ongkos angkut masuk ini bersifat menambah harga pokok dari barang yang dibeli.

Akuntansi Perusahaan Dagang 109


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Apabila persediaan dicatat dengan menggunakan sistem perpetual maka akun ongkos angkut
masuk ini akan digantikan dengan akun persediaan barang dagang (dengan posisi pencatatan di
sebelah debet). Ingat kembali bahwa dalam sistem pencatatan perpetual tidak mengenal akun
ongkos angkut masuk. Namun secara logika akuntansi, kedua sistem pencatatan ini sesungguhnya
memiliki nalar berpikir yang sama atau sejalan. Perhatikanlah bahwa ongkos angkut masuk bersifat
menambah harga pokok dari barang yang dibeli, yang berarti seolah-olah ongkos angkut masuk
ini akan menambah nilai persediaan barang dagang. Oleh sebab itu, dalam sistem pencatatan
perpetual, akun ongkos angkut masuk digantikan dengan akun persediaan barang dagang dengan
posisi pencatatan di sebelah debet, di mana posisi debet ini menunjukkan bahwa nilai persediaan
barang dagang seolah-olah bertambah. Ayat jurnal yang perlu dibuat dalam pembukuan pembeli
adalah sebagai berikut:

Persediaan Barang Dagang xxx


Kas xxx

Kadangkala, ongkos angkut masuk yang menjadi beban atau tanggungan pembeli ini dapat
ditalangi terlebih dahulu oleh penjual. Dalam hal ini, tagihan penjual ke pembeli nantinya akan
menjadi bertambah sebesar ongkos angkut tersebut. Pembeli akan mencatatnya dalam pembukuan
dengan cara yang sama seperti jurnal di atas, namun bukan akun kas yang dikredit melainkan
akun utang usaha. Sedangkan bagi si penjual, jurnal akan dibuat dengan cara mendebet akun
piutang usaha dan mengkredit akun kas. Nantinya, pada waktu tagihan ongkos angkut yang telah
ditalangi terlebih dahulu oleh si penjual ini dibayar oleh si pembeli maka penjual akan mendebet
akun kas dan mengkredit kembali akun piutang usaha, sedangkan bagi si pembeli akan mendebet
akun utang usaha dan mengkredit akun kas. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa beban
ongkos angkut ini bukanlah menjadi tanggungan penjual sehingga tidak akan pernah ada akun
ongkos angkut keluar dalam pembukuan penjual, meskipun penjual menalanginya terlebih dahulu
ongkos angkut tersebut.
Sedangkan untuk franko gudang pembeli, ongkos angkut barang dari gudang penjual ke
gudang pembeli menjadi tanggungan penjual. Oleh sebab itu, ongkos angkut barang yang harus
ditanggung oleh penjual ini akan dicatat dalam pembukuan penjual sebagai ongkos angkut keluar
(freight out atau transportation out atau delivery expense). Akun ongkos angkut keluar ini akan
dicatat di sebelah debet dalam jurnal. Dalam laporan laba rugi penjual, akun ongkos angkut

110 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
keluar ini diklasiikasikan sebagai beban operasional, yaitu beban penjualan. Akun ongkos angkut
keluar ini tetap akan dipergunakan dalam pembukuan penjual, baik dengan sistem pencatatan
periodik maupun perpetual. Mengapa demikian? Pada Subbab 5.5 (yaitu subbab yang akan
membahas mengenai laporan keuangan perusahaan dagang) kita akan melihat bahwa untuk
akun ongkos angkut keluar ini, bukanlah merupakan komponen dalam menghitung besarnya
harga pokok penjualan sehingga akun ini tetap akan sama dipergunakan, baik dalam sistem
pencatatan periodik maupun perpetual. Perlu juga diperhatikan di sini bahwa karena persyaratan
pengangkutan yang berlaku adalah franko gudang pembeli (di mana pembeli terima beres), maka
tidak akan pernah ada pengertian ongkos angkut masuk dalam pembukuan pembeli (ongkos
angkut masuk barang ke gudang pembeli ini menjadi tanggungan penjual sebagai ongkos angkut
keluar, di mana barang akan diantar atau menjadi tanggungan penjual sampai dengan tempat
tujuan atau gudang pembeli). Ayat jurnal yang perlu dibuat dalam pembukuan penjual adalah
sebagai berikut:

Ongkos Angkut Keluar xxx


Kas xxx

Dalam hal status kepemilikan barang, jika syarat penjualannya adalah franko gudang penjual
maka ketika barang keluar dari gudang penjual, barang tersebut sudah bukan lagi milik penjual,
tetapi telah menjadi milik atau menjadi tanggung jawab penuh pembeli. Sedangkan jika syarat
penjualannya adalah franko gudang pembeli maka kepemilikan barang baru akan beralih dari
penjual ke pembeli apabila barang tersebut benar-benar telah diterima atau sampai ke gudang
pembeli.
Sebagai contoh, perusahaan A menjual barang dagang ke perusahaan B dengan syarat
pengangkutan yang berlaku adalah franko gudang penjual. Pada tanggal 28 Desember 2008
barang tersebut dibongkar dari gudang penjual dan dimuat ke perusahaan ekspedisi (pengiriman
barang lewat laut) untuk diantar ke gudang pembeli. Barang tersebut baru akan diterima oleh
pembeli (perusahaan B) pada tanggal 4 Januari 2009 tahun berikutnya. Barang yang masih dalam
perjalanan ini sudah bukan lagi menjadi tanggungan atau milik penjual sejak barang tersebut
dibongkar dari gudang penjual, meskipun barang tersebut belum sampai diterima pembeli. Jadi,
apabila masing-masing perusahaan membuat neraca per 31 Desember 2008 (di mana akhir periode
akuntansi sama dengan tahun kalender) maka nilai persediaan barang dagang yang masih dalam

Akuntansi Perusahaan Dagang 111


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
perjalanan tersebut harus dikeluarkan dari neraca perusahaan A tetapi diperhitungkan dalam
neraca perusahaan B. Sebaliknya, jika syarat pengangkutan yang berlaku adalah franko gudang
pembeli maka barang tersebut masih tetap menjadi milik atau tanggungan penjual hingga tanggal
4 Januari 2009. Pada tanggal 4 Januari 2009, setelah barang sampai di tempat tujuan (gudang
pembeli), sejak saat itulah kepemilikan barang baru akan beralih dari penjual ke pembeli. Pada
tanggal 31 Desember 2008, nilai persediaan barang dagang yang dalam perjalanan ini masih
tetap harus diperhitungkan dalam neraca penjual dan belum dapat dianggap sebagai persediaan
barang dagang di neraca B.

Potongan Pembelian
Persyaratan kredit (credit terms) tertentu dalam transaksi pembelian yang dilakukan secara
kredit memungkinkan pembeli untuk mendapatkan potongan tunai apabila si pembeli melakukan
pembayaran dalam waktu yang segera. Persyaratan kredit ini secara khusus menunjukkan besar
potongan tunai (cash discounts) yang dapat dimanfaatkan oleh si pembeli apabila melakukan
pembayaran dalam periode waktu yang segera, lama periode potongan (discount period), dan
batas waktu akhir bagi si pembeli untuk membayar seluruh utangnya kepada si penjual (credit
net period).
Salah satu contoh dari persyaratan kredit adalah 2/10, n/30 yang artinya bahwa
pembeli akan mendapatkan potongan tunai sebesar 2% dari nilai transaksi pembelian apabila
pembayaran dilakukan dalam waktu 10 hari sejak tanggal pembelian dan jika potongan tunai
tidak dimanfaatkan oleh si pembeli maka batas waktu akhir bagi si pembeli untuk melunasi
seluruh utangnya kepada penjual adalah paling lambat 30 hari sejak tanggal pembelian. Jadi,
jika transaksi pembelian dilakukan pada tanggal 1 Januari 2008 maka potongan tunai akan
diperoleh pembeli jika pembayaran dilakukan antara tanggal 1 Januari hingga tanggal 11 Januari;
pembayaran yang baru dilakukan antara tanggal 12 Januari sampai dengan tanggal 31 Januari
tidaklah mendapatkan potongan tunai, di mana tanggal 31 Januari ini merupakan batas waktu
akhir bagi si pembeli untuk membayar/melunasi seluruh utangnya. Waktu yang lamanya 10 hari
terhitung mulai dari tanggal 1 Januari hingga tanggal 11 Januari dinamakan sebagai periode
potongan; sedangkan waktu yang lamanya 30 hari terhitung mulai dari tanggal 1 Januari hingga
tanggal 31 Januari dinamakan sebagai periode bersih kredit/utang.
Contoh lainnya dari persyaratan kredit adalah 1/15, n/eom yang artinya bahwa pembeli
akan mendapatkan potongan tunai sebesar 1% dari nilai transaksi pembelian apabila pembayaran

112 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
dilakukan dalam waktu 15 hari sejak tanggal pembelian dan jika potongan tunai tidak dimanfaatkan
oleh si pembeli maka batas waktu akhir bagi si pembeli untuk melunasi seluruh utangnya kepada
penjual adalah paling lambat akhir bulan (end of month).
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung besarnya potongan pembelian, yaitu:
1. Persyaratan kredit; pastikanlah bahwa pembayaran utang memang telah dilakukan dalam
periode potongan seperti yang tercantum pada persyaratan kredit, termasuk besarnya
persentase potongan tunai.
2. Retur pembelian dan penyesuaian harga beli; potongan pembelian didasarkan pada nilai
tagihan setelah dikurangi dengan retur pembelian dan penyesuaian harga beli jika ada.

Ketika tagihan dibayar dalam periode potongan, jumlah potongan pembelian ini akan
mengurangi saldo akun persediaan barang dagang. Ingat kembali bahwa dalam sistem pencatatan
perpetual tidak mengenal akun potongan pembelian. Akun potongan pembelian yang sifatnya
mengurangi harga pokok dari barang yang dibeli ini akan digantikan dengan akun persediaan
barang dagang, yang dicatat dalam jurnal di sebelah kredit (yang berarti potongan pembelian
ini seolah-olah mengurangi nilai persediaan barang dagang). Ayat jurnal yang perlu dibuat oleh
pembeli pada saat melakukan pembayaran utangnya dengan memanfaatkan potongan tunai
(dalam periode potongan) adalah sebagai berikut:

Utang Usaha xxx


Kas xxx
Persediaan Barang Dagang xxx

Namun, jika pembeli gagal untuk memanfaatkan potongan yang ada maka ayat jurnal yang
dibuat oleh pembeli pada saat melakukan pembayaran utang adalah sebagai berikut:

Utang Usaha xxx


Kas xxx

Mencatat Penjualan
Pendapatan penjualan, sama seperti pendapatan jasa, dicatat ketika pendapatan sudah terjadi
(berlangsung). Umumnya, pendapatan penjualan terjadi ketika barang ditransfer dari penjual ke

Akuntansi Perusahaan Dagang 113


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
pembeli.
Ada 2 ayat jurnal yang perlu dibuat sekaligus oleh penjual pada saat melakukan transaksi
penjualan, yaitu:

Kas xxx
Penjualan xxx
(apabila penjualan barang dagang dilakukan secara tunai)

Piutang Usaha xxx


Penjualan xxx
(apabila penjualan barang dagang dilakukan secara kredit)

Harga Pokok Penjualan xxx


Persediaan Barang Dagang xxx

Retur Penjualan dan Penyesuaian Harga Jual


Retur penjualan (sales returns) terjadi apabila perusahaan menerima kembali barang dagang
yang telah dijualnya kepada pelanggan sebagai akibat adanya kerusakan barang atau barang
yang dijual/dikirimnya tidak sesuai dengan kriteria/spesiikasi pesanan pelanggan, sedangkan
penyesuaian/pengurangan terhadap harga jual (sales allowances) diberikan kepada pelanggan di
mana dalam hal ini perusahaan tidak menerima kembali barang dagang yang telah dijualnya.
Retur penjualan dan penyesuaian harga jual merupakan akun pengurang (contra account)
dari akun penjualan. Kalau akun penjualan memiliki saldo normal di sebelah kredit maka akun
retur penjualan dan penyesuaian harga jual memiliki saldo normal yang berlawanan dengan saldo
normal untuk akun penjualan, yaitu di sebelah debet.
Ayat jurnal yang dibuat oleh penjual pada saat menerima kembali barang dagang yang telah
dijualnya, yaitu:

Retur penjualan xxx


Kas xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara tunai)

114 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Retur penjualan xxx
Piutang Usaha xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara kredit)

Persediaan Barang Dagang xxx


Harga Pokok Penjualan xxx
(menerima kembali barang dagang yang telah dijualnya)

Ayat jurnal yang dibuat penjual pada saat memberikan penyesuaian/pengurangan harga
jual kepada pelanggannya, yaitu:

Penyesuaian harga jual xxx


Kas xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara tunai)

Penyesuaian harga jual xxx


Piutang Usaha xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara kredit)

Potongan Penjualan
Seperti telah disebutkan di atas pada waktu membahas mengenai potongan pembelian, penjual
biasanya akan menawarkan pembeli potongan tunai untuk pembayaran yang bisa dilakukan dalam
waktu yang segera sesuai dengan periode potongan yang tercantum pada credit terms.

Sama seperti pada potongan pembelian, ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung
besarnya potongan penjualan, yaitu:
1. Persyaratan kredit; pastikanlah bahwa pembeli memang telah melakukan pembayaran
utangnya kepada perusahaan dalam periode potongan seperti yang tercantum pada
persyaratan kredit, termasuk besarnya persentase potongan tunai.
2. Retur penjualan dan penyesuaian harga jual; potongan penjualan didasarkan pada nilai
faktur setelah dikurangi dengan retur penjualan dan penyesuaian harga jual jika ada.

Akuntansi Perusahaan Dagang 115


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Sama seperti retur penjualan dan penyesuaian harga jual, potongan penjualan merupakan
akun pengurang (contra account) dari akun penjualan. Saldo normal dari akun potongan penjualan
adalah di sebelah debet.
Ayat jurnal yang akan dibuat oleh penjual pada saat menerima pembayaran utang dari
pelanggan yang memanfaatkan potongan tunai (dalam periode potongan) adalah sebagai
berikut:

Kas xxx
Potongan Penjualan xxx
Piutang Usaha xxx

Namun, jika pembeli gagal untuk memanfaatkan potongan yang ada maka ayat jurnal
yang dibuat oleh penjual pada saat menerima pembayaran utang dari pelanggan adalah sebagai
berikut:

Kas xxx
Piutang Usaha xxx

5.3 sistem Pencatatan Periodik

Dengan sistem periodik, pembelian barang dagang akan dicatat menggunakan akun pembelian,
bukan akun persediaan barang dagang seperti yang dilakukan pada sistem pencatatan perpetual.
Juga, dengan sistem periodik, akun-akun berikut ini secara terpisah (masing-masing) akan
digunakan: potongan pembelian, retur pembelian dan penyesuaian harga beli, serta ongkos
angkut masuk.
Ingatlah kembali bahwa poin utama yang membedakan antara sistem pencatatan periodik
dengan sistem pencatatan perpetual adalah terletak pada komponen penentu harga pokok pen-
jualan, di mana dalam sistem pencatatan perpetual tidaklah mengenal akun pembelian, potongan
pembelian, retur pembelian dan penyesuaian harga beli, termasuk akun ongkos angkut masuk.
Dalam sistem periodik maupun perpetual tidak ada perbedaan dalam hal pencatatan atas
akun ongkos angkut keluar dan potongan penjualan. Hal ini dikarenakan ongkos angkut keluar

116 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
dan potongan penjualan bukanlah merupakan komponen dalam menghitung besarnya harga pokok
penjualan. Demikian juga untuk akun retur penjualan dan penyesuaian harga jual yang tetap di-
gunakan baik dalam sistem pencatatan periodik maupun perpetual, namun terdapat perbedaan,
yaitu dalam sistem pencatatan perpetual, jurnal untuk mencatat transaksi retur penjualan akan
diikuti dengan satu ayat jurnal lagi untuk mencatat pengurangan harga pokok penjualan di
sebelah kredit dan menambah kembali saldo akun persediaan barang dagang yang diterima di
sebelah debet.

Mencatat Pembelian
Akun pembelian yang digunakan untuk mencatat transaksi pembelian dalam sistem periodik
merupakan akun/perkiraan sementara yang memiliki saldo normal di sebelah debet. Pembelian
ini akan menambah besarnya nilai barang yang tersedia untuk dijual. Pengurangan nilai barang
yang tersedia untuk dijual dengan nilai persediaan akhir akan diperoleh besarnya harga pokok
penjualan. Karena pembelian merupakan akun sementara maka pada akhir tahun akun ini haruslah
ditutup ke perkiraan ikhtisar laba rugi agar saldo akhir menjadi nol dan tidak dibawa ke periode
akuntansi tahun berikutnya.
Ayat jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi pembelian adalah sebagai berikut:

Pembelian xxx
Kas xxx
(apabila pembelian dilakukan secara tunai)

Pembelian xxx
Utang Usaha xxx
(apabila pembelian dilakukan secara kredit)

Retur Pembelian dan Penyesuaian Harga Beli


Akun retur pembelian dan penyesuaian harga beli yang digunakan dalam sistem pencatatan
periodik merupakan akun/perkiraan sementara yang memiliki saldo normal di sebelah kredit
(berlawanan dengan saldo normal untuk akun pembelian). Retur pembelian dan penyesuaian harga
beli merupakan akun pengurang dari akun pembelian karena bersifat mengurangi pembelian ke
jumlah bersihnya. Karena retur pembelian dan penyesuaian harga beli merupakan akun sementara,

Akuntansi Perusahaan Dagang 117


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
maka pada akhir tahun akun ini haruslah ditutup ke perkiraan ikhtisar laba rugi agar saldo akhir
menjadi nol dan tidak dibawa ke periode akuntansi tahun berikutnya.
Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk mencatat transaksi retur pembelian atau penyesuaian
harga beli adalah sebagai berikut:

Kas xxx
Retur pembelian dan penyesuaian harga beli xxx
(apabila awalnya pembelian dilakukan secara tunai)

Utang Usaha xxx


Retur pembelian dan penyesuaian harga beli xxx
(apabila awalnya pembelian dilakukan secara kredit)

Ongkos Angkut
Sama seperti akun pembelian, akun ongkos angkut masuk maupun akun ongkos angkut keluar
memiliki saldo normal di sebelah debet. Akun ongkos angkut masuk maupun keluar ini juga merupa-
kan akun sementara yang pada akhir tahun haruslah ditutup ke perkiraan ikhtisar laba rugi.
Ongkos angkut masuk juga merupakan komponen dalam menghitung besarnya harga pokok
penjualan di mana ongkos angkut masuk ini bersifat menambah jumlah pembelian bersih sebagai
harga pokok dari barang yang dibeli. Sesuai dengan prinsip biaya (harga perolehan), harga pokok
dari barang yang dibeli sudah seharusnya memperhitungkan besarnya ongkos angkut masuk
yang dikeluarkan pembeli untuk membawa barang dari tempat penjual. Apabila persyaratan
pengangkutan yang disepakati adalah FOB shipping point maka ayat jurnal yang perlu dibuat oleh
pembeli untuk mencatat ongkos angkut masuk adalah sebagai berikut:

Ongkos angkut masuk xxx


Kas xxx
(jika dibayar langsung oleh pembeli)

Ongkos angkut masuk xxx


Utang Usaha xxx
(jika ditalangi terlebih dahulu oleh penjual)

118 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Sedangkan ongkos angkut keluar bukanlah merupakan komponen dalam menghitung besar-
nya harga pokok penjualan. Apabila persyaratan pengangkutan yang disepakati adalah FOB
destination point maka ayat jurnal yang perlu dibuat oleh penjual untuk mencatat ongkos angkut
keluar adalah sebagai berikut:

Ongkos Angkut Keluar xxx


Kas xxx

Perhatikanlah bahwa ayat jurnal di atas sama seperti ayat jurnal yang dibuat oleh penjual
dalam sistem pencatatan perpetual.

Potongan Pembelian
Akun potongan pembelian yang digunakan dalam sistem pencatatan periodik merupakan akun/
perkiraan sementara yang memiliki saldo normal di sebelah kredit (berlawanan dengan saldo
normal untuk akun pembelian). Potongan pembelian dan retur pembelian sama-sama merupakan
akun pengurang dari akun pembelian karena sifatnya yang akan mengurangi pembelian ke jumlah
bersihnya. Pada akhir tahun, akun ini akan ditutup ke perkiraan ikhtisar laba rugi.
Ayat jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi potongan pembelian adalah sebagai
berikut:
Utang Usaha xxx
Kas xxx
Potongan Pembelian xxx

Mencatat Penjualan
Ayat jurnal yang perlu dibuat oleh penjual pada saat melakukan transaksi penjualan, yaitu:
Kas xxx
Penjualan xxx
(apabila penjualan barang dagang dilakukan secara tunai)

Piutang Usaha xxx


Penjualan xxx
(apabila penjualan barang dagang dilakukan secara kredit)

Akuntansi Perusahaan Dagang 119


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Bandingkanlah ayat jurnal di atas dengan sistem perpetual di mana dalam sistem periodik
tidak ada ayat jurnal untuk mencatat besarnya harga pokok dari barang yang dijual.

Retur Penjualan dan Penyesuaian Harga Jual


Ayat jurnal yang dibuat oleh penjual pada saat menerima kembali barang dagang yang telah dijual
atau pada saat memberikan penyesuaian/pengurangan harga jual kepada pelanggan, yaitu:

Retur penjualan dan penyesuaian harga jual xxx


Kas xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara tunai)

Retur penjualan dan penyesuaian harga jual xxx


Piutang Usaha xxx
(apabila awalnya penjualan barang dagang dilakukan secara kredit)

Potongan Penjualan
Ayat jurnal yang akan dibuat oleh penjual pada saat menerima pembayaran utang dari pelanggan
yang memanfaatkan potongan tunai (dalam periode potongan) adalah sebagai berikut:

Kas xxx
Potongan Penjualan xxx
Piutang Usaha xxx

Perhatikanlah bahwa ayat jurnal di atas sama seperti ayat jurnal yang dibuat oleh penjual
dalam sistem pencatatan perpetual.

5.4 Penyesuaian atas Persediaan Barang Dagang

Apabila perusahaan menggunakan metode atau sistem periodik/isik dalam mencatat barang
dagangnya maka pada setiap akhir periode akuntansi setelah dilakukan penghitungan isik
atas besarnya persediaan barang dagang yang ada, bagian akuntansi akan membuat ayat jurnal

120 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
penyesuaian untuk mencatat besarnya persediaan akhir yang ada di gudang (posisi persediaan
per tanggal laporan). Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

Menghapus saldo persediaan awal:


Ikhtisar Laba Rugi xxx
Persediaan Barang Dagang xxx

Mencatat saldo persediaan akhir:


Persediaan Barang Dagang xxx
Ikhtisar Laba Rugi xxx

Apabila perusahaan menggunakan metode atau sistem perpetual dalam mencatat barang
dagangnya maka akun persediaan barang dagang secara terpisah diselenggarakan dalam buku
besar (ledger). Selanjutnya, sepanjang periode akuntansi, saldo buku besar akun ini setiap saat
akan mencerminkan berapa jumlah barang dagang yang tersedia untuk dijual. Dengan demikian,
kapanpun pihak manajemen ingin mengetahui berapa besarnya posisi persediaan barang dagang
yang ada di gudang maka data mengenai saldo persediaan barang dagang akan langsung tersedia
saat itu juga dalam buku besar tanpa harus menunggu dilakukannya penghitungan isik. Jadi,
berbeda dengan metode atau sistem periodik/isik di mana besarnya jumlah persediaan barang
dagang baru akan dapat diketahui setelah penghitungan isik dilakukan (berarti tidak dapat
diketahui setiap saat). Dari segi pengendalian intern (internal control), metode perpetual lebih
baik dibanding metode periodik/isik, terutama dalam hal pengamanan atas persediaan dan
tersedianya catatan akuntansi yang lebih akurat dan tepat waktu.
Namun demikian, penyesuaian terhadap besarnya saldo akun persediaan barang dagang
dengan menggunakan metode perpetual biasanya tetap diperlukan karena pada akhir periode
akuntansi besarnya jumlah persediaan barang dagang menurut hasil penghitungan isik berbeda
dengan jumlah saldo yang ditunjukkan dalam buku besar (catatan persediaan). Perbedaan ini
mungkin dapat terjadi karena adanya barang yang dicuri, hilang, ataupun kesalahan dalam
mencatat atau menghitung persediaan. Umumnya, saldo persediaan barang dagang yang tertera
dalam buku besar menunjukkan jumlah yang lebih besar dibanding yang diperoleh berdasarkan
hasil penghitungan isik. Sebagai contoh, dalam catatan (buku besar) persediaan menunjukkan
saldo akhir sebesar 173 juta rupiah. Namun berdasarkan hasil penghitungan isik yang telah

Akuntansi Perusahaan Dagang 121


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
dilakukan pada akhir tahun menunjukkan hanya sebesar 160 juta rupiah. Dalam hal ini, ayat
jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

Harga Pokok Penjualan Rp13.000.000,00


Persediaan Barang Dagang Rp13.000.000,00

5.5 Laporan keuangan

Laporan ekuitas pemilik untuk perusahaan dagang disajikan dengan cara yang sama, seperti
pada perusahaan jasa yang telah diberikan contohnya dalam Bab 1 terdahulu, demikian juga
untuk penyajian neraca. Untuk penyajian neraca, perbedaan yang ada hanyalah dalam hal akun
persediaan barang dagang yang tidak ada (tidak tampak) dalam neraca perusahaan jasa.
Laporan laba rugi untuk perusahaan dagang dapat disusun dalam dua bentuk pilihan, yaitu
bentuk langsung (single-step) atau bentuk bertahap (multiple-step).
Laporan laba rugi dengan bentuk langsung menekankan pada total pendapatan dan total
beban sebagai faktor penentu laba/rugi bersih. Seluruh pendapatan, baik yang berasal dari
kegiatan normal bisnis perusahaan (yaitu pendapatan penjualan bersih) maupun yang bukan
berasal dari kegiatan normal bisnis perusahaan atau pendapatan lain-lain (seperti pendapatan
bunga dan pendapatan sewa) akan digabung menjadi satu sebagai total pendapatan. Demikian
juga untuk seluruh beban, mulai dari harga pokok penjualan (COGS), beban penjualan, beban
umum dan administrasi, hingga beban bunga (beban lain-lain) akan digabung menjadi satu
sebagai total beban. Laba/rugi bersih dihitung dari selisih antara total pendapatan dengan total
beban. Dengan demikian, dalam laporan laba rugi bentuk langsung ini tidak merinci berapa
besarnya laba kotor, beban operasional, laba operasional, dan besarnya pendapatan/beban lain-
lain.

122 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Contoh format laporan laba rugi bentuk langsung:

uD. surya Prabha utama


Laporan Laba Rugi
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2008

Pendapatan:
Pendapatan Penjualan Bersih xxx
Pendapatan Sewa xxx +
Total Pendapatan XXX
Beban:
Harga Pokok Penjualan yyy
Beban Penjualan yyy
Beban Umum dan Administrasi yyy
Beban Bunga yyy +
Total Beban YYY –
Laba/Rugi Bersih ZZZ

Sedangkan dalam laporan laba rugi dengan bentuk bertahap akan menunjukkan tahapan-
tahapan dalam menentukan laba/rugi bersih. Pendapatan penjualan bersih akan dikurangkan
dengan harga pokok penjualan untuk menentukan besarnya laba kotor. Laba kotor ini akan
dikurangkan dengan beban operasional yang terdiri dari beban penjualan dan beban umum
dan administrasi untuk menentukan besarnya laba operasional. Lalu, laba operasional ini akan
ditambah atau dikurangkan dengan pendapatan lain-lain atau beban lain-lain untuk menentukan
besarnya laba/rugi bersih.
Penjualan merupakan total jumlah yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dagang
yang dijual perusahaan, baik meliputi penjualan tunai maupun penjualan secara kredit. Penjualan
dikurangi dengan retur dan penyesuaian harga jual dan potongan penjualan akan diperoleh
penjualan bersih (net sales).
Ingatlah kembali bahwa retur penjualan terjadi apabila perusahaan menerima kembali
barang dagang yang telah dijual kepada pelanggan sebagai akibat adanya kerusakan barang atau
barang yang dijual/dikirim tidak sesuai dengan kriteria/spesiikasi pesanan pelanggan, sedangkan

Akuntansi Perusahaan Dagang 123


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
penyesuaian/pengurangan terhadap harga jual diberikan kepada pelanggan di mana dalam hal
ini perusahaan tidak menerima kembali barang dagang yang telah dijual. Potongan penjualan
diberikan oleh perusahaan kepada pelanggan yang melakukan pembayaran lebih awal atau
selama dalam periode potongan sesuai dengan persyaratan kredit yang ada. Potongan penjualan
sesungguhnya tidak hanya bermanfaat bagi si pembeli saja, tetapi juga bagi si penjual. Bagi si
pembeli tentu saja akan dapat menghemat jumlah uang yang akan dibayarkan, sedangkan bagi si
penjual potongan penjualan yang dimanfaatkan oleh si pembeli ini akan dapat memperpendek/
mempersingkat waktu penagihan kas (waktu yang diperlukan untuk mengonversi piutang dagang
menjadi kas).
Beban operasional (operating expenses) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu beban penjualan
(selling expenses) dan beban umum dan administrasi (general and administrative expenses). Beban
penjualan adalah beban-beban yang terkait langsung dengan segala aktivitas toko atau aktivitas
yang mendukung operasional penjualan barang dagang, contohnya: beban gaji/upah karyawan
toko (bagian penjualan), beban iklan, beban perlengkapan/keperluan toko, dan beban penyusutan
peralatan toko. Sedangkan beban umum dan administrasi dikeluarkan dalam rangka mendukung
aktivitas/urusan kantor (administrasi) dan operasi umum, contohnya: beban gaji/upah karyawan
kantor, beban perlengkapan kantor, dan beban penyusutan peralatan kantor.

Contoh format laporan laba rugi bentuk bertahap: (dengan sistem pencatatan perpetual)

uD. surya Prabha utama


Laporan Laba Rugi
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2008

Pendapatan Penjualan:
Penjualan xxx
Retur dan Penyesuaian Harga Jual (xxx)
Potongan Penjualan (xxx)
Penjualan Bersih xxx
Harga Pokok Penjualan: (xxx)
Laba Kotor xxx

124 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban Operasional:

Beban Penjualan:
Beban Upah Karyawan Toko xxx
Beban Perlengkapan Toko xxx
Beban Sewa Toko xxx
Beban Iklan xxx
Beban Penyusutan Peralatan Toko xxx
Beban Penjualan Lainnya xxx
Total Beban Penjualan xxx

Beban Umum dan Administrasi:


Beban Upah Karyawan Kantor xxx
Beban Perlengkapan Kantor xxx
Beban Penyusutan Gedung Kantor xxx
Beban Penyusutan Peralatan Kantor xxx
Beban Umum dan Administrasi Lainnya xxx
Total Beban Umum dan Administrasi xxx
Total Beban Operasional (xxx)
Laba Operasional xxx

Pendapatan/Beban Lain-Lain:
Pendapatan Sewa xxx
Total Pendapatan/Beban Lain-Lain xxx
Laba/Rugi Bersih XXX

Apabila pencatatan persediaan barang dagang dilakukan dengan menggunakan sistem


periodik/isik maka besarnya harga pokok penjualan dihitung dengan cara sebagai berikut:

Akuntansi Perusahaan Dagang 125


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Dagang (awal) xxx
Pembelian xxx
Retur dan Penyesuaian Harga Beli (xxx)
Potongan Pembelian (xxx)
Pembelian Bersih xxx
Ongkos Angkut Masuk xxx
Harga Pokok Barang Yang Dibeli xxx
Harga Pokok Barang Yang Tersedia Untuk Dijual xxx
Persediaan Barang Dagang (akhir) (xxx)
Harga Pokok Penjualan xxx

Harga pokok penjualan di atas tentu saja baru dapat dihitung setelah saldo persediaan
akhir diketahui melalui pemeriksaan isik atas barang dagang yang masih ada di gudang per akhir
periode akuntansi (per tanggal pelaporan).
Pembelian merupakan total jumlah yang dibebankan oleh pemasok atas barang yang dibeli
perusahaan, baik meliputi pembelian tunai maupun pembelian secara kredit. Pembelian dikurangi
dengan retur dan penyesuaian harga beli dan potongan pembelian akan diperoleh pembelian
bersih (net purchases). Ingatlah kembali bahwa retur pembelian (purchases returns) terjadi ketika
perusahaan mengembalikan barang dagang yang telah dibelinya dari pemasok sebagai akibat
adanya kerusakan, cacat, ataupun barang yang diterima tidak sesuai dengan kriteria pesanan,
sedangkan penyesuaian/pengurangan terhadap harga beli (purchases allowances) terjadi dalam
situasi di mana perusahaan memilih untuk tidak mengembalikan barang yang telah dibeli dan
pemasok bersedia untuk memberikan pengurangan harga. Potongan pembelian (purchases
discounts) diperoleh dari pemasok/penjual karena perusahaan melakukan pembayaran lebih awal
atau selama dalam periode potongan seperti yang tercantum dalam persyaratan kredit.
Pembelian bersih ditambah dengan ongkos angkut masuk akan diperoleh besarnya harga
pokok dari barang yang dibeli. Ingat kembali bahwa ongkos angkut masuk (freight in atau
transportation in) ini merupakan beban angkut yang dikeluarkan/ditanggung perusahaan untuk
membawa barang yang dibeli dari pemasok/penjual ke gudang perusahaan.

126 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
5.6 ilustrasi Penyelesaian siklus Akuntansi

A. Sistem Pencatatan Periodik


Untuk mengilustrasikan penyelesaian siklus akuntansi pada perusahaan dagang dengan sistem
pencatatan periodik, berikut ini adalah saldo perkiraan-perkiraan dalam buku besar UD. Surya
Prabha Utama pada akhir periode akuntansi 31 Desember 2008 sebelum penyesuaian:
(dalam ribuan rupiah)
Kas ......................................................................... 36.904
Piutang Usaha .......................................................... 51.000
Persediaan Barang Dagang.......................................... 45.600
Perlengkapan Toko .................................................... 9.800
Asuransi Dibayar dimuka ............................................ 7.650
Tanah dan Gedung Kantor ........................................... 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor .......................... 9.000
Peralatan Toko ......................................................... 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko .......................... 44.800
Peralatan Kantor ...................................................... 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor ...................... 28.800
Utang Usaha ........................................................... 22.181
Pendapatan Sewa Diterima dimuka ............................... 9.000
Modal Surya ............................................................ 176.825
Prive Surya ............................................................. 11.000
Penjualan ............................................................... 580.000
Retur dan Penyesuaian Harga Jual .............................. 7.424
Pembelian ............................................................... 401.200
Potongan Pembelian .................................................. 9.000
Ongkos Angkut Masuk ............................................... 9.000
Beban Upah Karyawan Toko ....................................... 22.180
Beban Upah Karyawan Kantor .................................... 17.840
Beban Sewa Toko ...................................................... 2.100
Beban Penjualan Lainnya .......................................... 6.680
Beban Umum dan Administrasi Lainnya ........................ 6.228

Akuntansi Perusahaan Dagang 127


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Data yang tersedia untuk penyesuaian per 31 Desember 2008, yaitu:
a. Berdasarkan hasil pemeriksaan isik terhadap barang dagang yang ada di gudang diperoleh
nilai persediaan akhir sebesar Rp57.200.000,00.
b. Sisa perlengkapan toko yang masih ada sebesar Rp3.300.000,00.
c. Nilai tanah sebesar Rp35.000.000,00 sedangkan harga gedung kantor Rp95.000.000,00 yang
diperoleh pada tanggal 01 Januari 2006. Gedung kantor tersebut ditaksir memiliki umur
ekonomis 20 tahun, dengan nilai sisa atau nilai residu sebesar Rp5.000.000,00. Penyusutan
dihitung dengan menggunakan metode garis lurus.
d. Peralatan toko dan peralatan kantor masing-masing disusutkan sebesar Rp10.080.000,00
dan Rp6.480.000,00.
e. Tarif upah karyawan sebesar Rp30.000,00 per orang untuk 1 hari. Dalam satu minggu
terdapat 6 hari kerja dan pembayaran dilakukan pada setiap hari Sabtu. Jumlah karyawan
toko sebanyak 10 orang dan karyawan kantor sebanyak 6 orang. Tanggal 31 Desember 2008
jatuh pada hari Kamis.
f. Asuransi dibayar dimuka merupakan pembayaran polis asuransi untuk masa pertanggungan
01 Mei 2008 sampai dengan 01 Mei 2009. Beban asuransi ini ditanggung oleh bagian umum
dan administrasi.
g. Pendapatan sewa diterima dimuka timbul dari hasil penyewaan ruangan kantor yang tidak
terpakai kepada pihak lain untuk periode 01 Maret 2008 sampai dengan 01 September
2009.
h. Karena letaknya yang strategis, perusahaan menyewa sebuah ruangan dari pihak lain yang
dijadikan sebagai ruangan toko untuk UD. Surya Prabha Utama. Sewa ruangan toko ini
dibayar untuk periode 3 bulan terhitung mulai tanggal 01 Desember 2008.

Langkah pertama yang perlu dilakukan dari contoh ilustrasi di atas adalah membuat ayat
jurnal penyesuaian. Berikut adalah ayat jurnal penyesuaian yang dibuat dalam pembukuan UD.
Surya Prabha Utama pada tanggal 31 Desember 2008:

128 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
Ayat Jurnal Penyesuaian
31 Desember 2008

no. nama Perkiraan Dr kr

a. Ikhtisar Laba Rugi 45.600.000


Persediaan Barang Dagang 45.600.000

Persediaan Barang Dagang 57.200.000


Ikhtisar Laba Rugi 57.200.000

b. Beban Perlengkapan Toko 6.500.000


Perlengkapan Toko 6.500.000

c. Beban Penyusutan-Gedung Kantor 4.500.000


Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 4.500.000

d. Beban Penyusutan-Peralatan Toko 10.080.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 10.080.000

Beban Penyusutan- Peralatan Kantor 6.480.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 6.480.000

e. Beban Upah Karyawan Toko 1.200.000


Beban Upah Karyawan Kantor 720.000
Utang Upah Karyawan 1.920.000

f. Beban Asuransi 5.100.000


Asuransi Dibayar dimuka 5.100.000

g. Pendapatan Sewa Diterima dimuka 5.000.000


Pendapatan Sewa 5.000.000

h. Sewa Toko Dibayar dimuka 1.400.000


Beban Sewa Toko 1.400.000

Ayat jurnal penyesuaian di atas lalu diposting ke buku besar masing-masing akun terkait.
Dalam contoh ilustrasi ini, diasumsikan bahwa perusahaan menggunakan neraca lajur sebagai
alat bantu untuk menyiapkan laporan keuangan. Oleh sebab itu, data yang ada dalam ayat jurnal

Akuntansi Perusahaan Dagang 129


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
penyesuaian tadi dipindahkan ke kolom penyesuaian yang ada pada neraca lajur sesuai dengan
posisi debet dan kreditnya.
Berikut ini adalah neraca lajur yang dibuat UD. Surya Prabha Utama untuk periode yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2008:

uD. surya Prabha utama


neraca Lajur
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2008

nama Perkiraan neraca saldo Penyesuaian setelah Penyesuaian Laba Rugi neraca
Dr kr Dr kr Dr kr Dr kr Dr kr

Kas 36,904 36,904 36,904

Piutang Usaha 51,000 51,000 51,000

Persediaan Barang Dagang 45,600 57,200 45,600 57,200 57,200

Perlengkapan Toko 9,800 6,500 3,300 3,300

Asuransi Dibayar dimuka 7,650 5,100 2,550 2,550

Tanah dan Gedung Kantor 130,000 130,000 130,000

Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 9,000 4,500 13,500 13,500

Peralatan Toko 70,000 70,000 70,000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 44,800 10,080 54,880 54,880

Peralatan Kantor 45,000 45,000 45,000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 28,800 6,480 35,280 35,280

Utang Usaha 22,181 22,181 22,181

Pendapatan Sewa Diterima dimuka 9,000 5,000 4,000 4,000

Modal Surya 176,825 176,825 176,825

Prive Surya 11,000 11,000 11,000

Penjualan 580,000 580,000 580,000

Retur dan Penyesuaian Harga Jual 7,424 7,424 7,424

Pembelian 401,200 401,200 401,200

Potongan Pembelian 9,000 9,000 9,000

Ongkos Angkut Masuk 9,000 9,000 9,000

Beban Upah Karyawan Toko 22,180 1,200 23,380 23,380

Beban Upah Karyawan Kantor 17,840 720 18,560 18,560

130 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban Sewa Toko 2,100 1,400 700 700

Beban Penjualan Lainnya 6,680 6,680 6,680

Beban Umum dan Administrasi Lainnya 6,228 6,228 6,228

879,606 879,606

Ikhtisar Laba Rugi 45,600 57,200 45,600 57,200 45,600 57,200

Beban Asuransi 5,100 5,100 5,100

Beban Penyusutan-Gedung Kantor 4,500 4,500 4,500

Beban Penyusutan-Peralatan Toko 10,080 10,080 10,080

Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 6,480 6,480 6,480

Utang Upah Karyawan 1,920 1,920 1,920

Beban Perlengkapan Toko 6,500 6,500 6,500

Pendapatan Sewa 5,000 5,000 5,000

Sewa Toko Dibayar dimuka 1,400 1,400 1,400

143,780 143,780 959,786 959,786 551,432 651,200 408,354 308,586

Laba Bersih 99,768 99,768

651,200 651,200 408,354 408,354

Dengan bantuan neraca lajur di atas, berikut ini adalah tampilan laporan keuangan dari UD.
Surya Prabha Utama:

uD. surya Prabha utama


Laporan Laba Rugi
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2008

Pendapatan Penjualan:
Penjualan 580.000
Retur dan Penyesuaian Harga Jual ( 7.424)
Penjualan Bersih 572.576

Harga Pokok Penjualan:


Persediaan Barang Dagang (awal) 45.600

Akuntansi Perusahaan Dagang 131


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Pembelian 401.200
Potongan Pembelian (9.000)
Pembelian Bersih 392.200
Ongkos Angkut Masuk 9.000
Harga Pokok Barang Yang Dibeli 401.200
Harga Pokok Barang Yang Tersedia Untuk Dijual 446.800
Persediaan Barang Dagang (akhir) (57.200)
Harga Pokok Penjualan (389.600)
Laba Kotor 182.976

Beban Operasional:

Beban Penjualan:
Beban Upah Karyawan Toko 23.380
Beban Sewa Toko 700
Beban Perlengkapan Toko 6.500
Beban Penyusutan Peralatan Toko 10.080
Beban Penjualan Lainnya 6.680
Total Beban Penjualan 47.340

Beban Umum dan Administrasi:


Beban Upah Karyawan Kantor 18.560
Beban Penyusutan Gedung Kantor 4.500
Beban Penyusutan Peralatan Kantor 6.480
Beban Asuransi 5.100
Beban Umum dan Administrasi Lainnya 6.228
Total Beban Umum dan Administrasi 40.868
Total Beban Operasional (88.208)
Laba Operasional 94.768

Pendapatan/Beban Lain-Lain:
Pendapatan Sewa 5.000
Total Pendapatan/Beban Lain-Lain 5.000
Laba Bersih 99.768

132 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
Laporan Ekuitas Pemilik
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2008

Modal Surya (awal) 176.825


Laba bersih 99.768
Kenaikan Modal Pemilik 276.593
Prive ( 11.000)
Modal Surya (akhir) 265.593

uD. surya Prabha utama


neraca
31 Desember 2008
AsEt
Aset Lancar:
Kas 36.904
Piutang Usaha 51.000
Persediaan Barang Dagang 57.200
Perlengkapan Toko 3.300
Asuransi Dibayar dimuka 2.550
Sewa Toko Dibayar dimuka 1.400
Total Aset Lancar 152.354

Aset Tetap:
Tanah dan Gedung Kantor 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor (13.500)
Peralatan Toko 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko (54.880)
Peralatan Kantor 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor (35.280)
Total Aset Tetap 141.340

Akuntansi Perusahaan Dagang 133


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
tOtAL AsEt 293.694

kEWAJiBAn
Kewajiban Lancar:
Utang Usaha 22.181
Utang Upah Karyawan 1.920
Pendapatan Sewa Diterima dimuka 4.000
Total Kewajiban Lancar 28.101

EkuitAs PEMiLik
Modal Surya 265.593
Total Ekuitas Pemilik 265.593

tOtAL kEWAJiBAn dan MODAL PEMiLik 293.694

Sedangkan ayat jurnal penutup (closing entries) yang dibuat oleh UD. Surya Prabha Utama
untuk periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut:

134 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Setelah ayat jurnal penutup di atas diposting ke buku besar masing-masing akun (akun
sementara) terkait, berikut ini adalah tampilan neraca saldo setelah penutupan (yang hanya
memuat saldo dari akun yang sifatnya permanen, sedangkan saldo dari akun yang sifatnya
sementara telah menjadi nol karena telah ditutup melalui ayat jurnal penutup):

uD. surya Prabha utama


neraca saldo setelah Penutupan
31 Desember 2008
nama Perkiraan Debet kredit
Kas 36.904
Piutang Usaha 51.000
Persediaan Barang Dagang 57.200
Perlengkapan Toko 3.300
Asuransi Dibayar Dimuka 2.550
Sewa Toko Dibayar Dimuka 1.400
Tanah dan Gedung Kantor 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 13.500
Peralatan Toko 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 54.880
Peralatan Kantor 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 35.280
Utang Usaha 22.181
Utang Upah Karyawan 1.920
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 4.000
Modal Surya 265.593
397.354 397.354

Akuntansi Perusahaan Dagang 135


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
B. Sistem Pencatatan Perpetual
Untuk mengilustrasikan penyelesaian siklus akuntansi pada perusahaan dagang dengan sistem
pencatatan perpetual, berikut ini adalah saldo perkiraan-perkiraan dalam buku besar UD. Surya
Prabha Utama pada tanggal 1 Desember 2007:

(dalam ribuan rupiah)


Kas ...................................................................... 53.558
Piutang Usaha ....................................................... 51.000
Persediaan Barang Dagang....................................... 35.246
Perlengkapan toko.................................................. 9.500
Asuransi Dibayar dimuka ......................................... 7.650
Tanah dan Gedung Kantor ........................................ 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor ...................... 9.000
Peralatan Toko ...................................................... 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko ....................... 44.800
Peralatan Kantor .................................................... 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor .................... 28.800
Utang Usaha ........................................................ 22.181
Pendapatan Sewa Diterima dimuka ........................... 9.000
Modal Surya ......................................................... 178.135
Prive Surya .......................................................... 11.000
Penjualan ............................................................ 574.000
Retur dan Penyesuaian Harga Jual ............................ 6.924
Potongan Penjualan................................................ 1.200
Harga Pokok Penjualan ........................................... 398.450
Beban Upah Karyawan Toko .................................... 16.780
Beban Upah Karyawan Kantor ................................. 14.600
Beban Sewa Toko .................................................. 2.100
Beban Penjualan Lainnya ....................................... 6.680
Beban Umum dan Administrasi Lainnya ..................... 6.228

136 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 2007 adalah sebagai berikut:

2 Des. Dibeli barang dagang dari Tn. Ida Bagus seharga Rp5.000.000,00 dengan credit terms
2/10, n/30, sedangkan freight terms yang berlaku adalah FOB shipping point. Besarnya
freight costs yang dibayar adalah Rp400.000,00.

6 Des. Dijual barang dagang kepada Tn. Jason seharga Rp6.000.000,00 dengan credit terms
2/10, n/30, sedangkan freight terms yang berlaku adalah FOB shipping point. Dalam
hal ini, perusahaan menalangi ongkos angkut terlebih dahulu dari gudang penjual ke
gudang pembeli sebesar Rp100.000,00. Harga pokok barang dagang yang dijual adalah
Rp3.000.000,00.

7 Des. Diperoleh pengurangan harga dari Tn. Ida Bagus atas transaksi pembelian barang dagang
yang telah dilakukan pada tanggal 2 Desember yang lalu sebesar Rp200.000,00. Hal ini
terjadi karena adanya sedikit kerusakan isik pada sebagian barang yang telah diterima
dari Tn. Ida Bagus.

8 Des. Dibayar utang usaha kepada Tn. Ida Bagus atas transaksi pembelian barang dagang yang
telah dilakukan pada tanggal 2 Desember yang lalu, termasuk setelah memperhitungkan
pengurangan harga yang diperoleh pada tanggal 7 Desember.

9 Des. Diterima kembali barang dagang dari Tn. Jason atas transaksi penjualan barang dagang
yang telah dilakukan pada tanggal 6 Desember yang lalu sebesar Rp500.000,00. Hal ini
terjadi karena barang yang dikirim ke Tn. Jason ternyata tidak sesuai dengan spesiikasi
pesanan. Harga pokok barang dagang yang dikembalikan adalah Rp250.000,00.

12 Des. Diterima hasil penagihan piutang dari Tn. Jason atas transaksi penjualan barang
dagang yang telah dilakukan pada tanggal 6 Desember yang lalu, termasuk setelah
memperhitungkan retur penjualan pada tanggal 9 Desember.

14 Des. Dibeli perlengkapan toko secara tunai sebesar Rp300.000,00.

18 Des. Dibeli barang dagang dari Tn. Ferry secara tunai sebesar Rp8.000.000,00.

21 Des. Dibayar upah karyawan untuk bagian toko dan bagian kantor masing-masing sebesar
Rp5.400.000,00 dan Rp3.240.000,00.

Akuntansi Perusahaan Dagang 137


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Data yang tersedia untuk penyesuaian per 31 Desember 2007, yaitu:
a. Dari hasil stock opname diperoleh nilai persediaan akhir sebesar Rp43.100.000,00.
b. Sisa perlengkapan toko yang ada sebesar Rp3.300.000,00.
c. Nilai tanah sebesar Rp35.000.000,00 sedangkan harga bangunan kantor Rp95.000.000,00
yang diperoleh pada tanggal 01 Januari 2005. Bangunan kantor tersebut ditaksir memiliki
economic life 20 tahun dengan salvage value sebesar Rp5.000.000,00. Penyusutan dihitung
dengan menggunakan straight line method.
d. Untuk tahun 2007, peralatan toko dan peralatan kantor masing-masing disusutkan sebesar
Rp10.080.000,00 dan Rp6.480.000,00.
e. Untuk bulan Desember tahun 2007, tarif upah karyawan sebesar Rp30.000,00 per orang
untuk 1 hari. Dalam satu minggu terdapat 6 hari kerja dan pembayaran dilakukan setiap
3 minggu sekali yaitu pada hari Senin. Jumlah karyawan toko sebanyak 10 orang dan
karyawan kantor sebanyak 6 orang. Tanggal 31 Desember 2007 jatuh pada hari Kamis dan
pembayaran upah terakhir telah dilakukan pada hari Senin tanggal 21 Desember 2007 yang
lalu.
f. Asuransi dibayar dimuka merupakan pembayaran polis asuransi untuk masa pertanggungan
01 Mei 2007 sampai dengan 01 Mei 2008. Beban asuransi ini ditanggung oleh bagian
administrasi dan umum.
g. Pendapatan sewa diterima dimuka timbul dari hasil penyewaan ruangan kantor yang tidak
terpakai kepada pihak lain untuk periode 01 Maret 2007 sampai dengan 01 September
2008.
h. Karena letaknya yang strategis, perusahaan menyewa sebuah ruangan dari pihak lain yang
dijadikan sebagai ruangan toko untuk UD. Surya Prabha Utama. Sewa ruangan toko ini
dibayar pada tanggal 30 November 2007 untuk periode 3 bulan terhitung mulai tanggal 01
Desember 2007.

Langkah pertama yang perlu dilakukan dari contoh ilustrasi di atas adalah membuat ayat
jurnal. Berikut adalah ayat jurnal yang dibuat dalam pembukuan UD. Surya Prabha Utama untuk
mencatat transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 2007:

138 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
Ayat Jurnal
Desember, 2007
tgl nama Perkiraan Dr kr

2 Persediaan Barang Dagang 5.400.000


Utang Usaha 5.000.000
Kas 400.000

6 Piutang Usaha 6.100.000


Penjualan 6.000.000
Kas 100.000

Harga Pokok Penjualan 3.000.000


Persediaan Barang Dagang 3.000.000

7 Utang Usaha 200.000


Persediaan Barang Dagang 200.000

8 Utang Usaha 4.800.000


Kas 4.704.000
Persediaan Barang Dagang 96.000

9 Retur dan Penyesuaian Harga Jual 500.000


Piutang Usaha 500.000

Persediaan Barang Dagang 250.000


Harga Pokok Penjualan 250.000

12 Kas 5.490.000
Potongan Penjualan 110.000
Piutang Usaha 5.600.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 139


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
14 Perlengkapan Toko 300.000
Kas 300.000

18 Persediaan Barang Dagang 8.000.000


Kas 8.000.000

21 Beban Upah Karyawan Toko 5.400.000


Beban Upah Karyawan Kantor 3.240.000
Kas 8.640.000

Ayat jurnal di atas lalu diposting ke buku besar masing-masing akun terkait.

kas
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 53.558.000 53.558.000


2 Des Barang Dagang 400.000 53.158.000
6 Des Talangan Ongkos Angkut 100.000 53.058.000
8 Des Utang Usaha 4.704.000 48.354.000
12 Des Piutang Tn. Jason 5.490.000 53.844.000
14 Des Perlengkapan Toko 300.000 53.544.000
18 Des Barang Dagang 8.000.000 45.544.000
21 Des Beban Upah 8.640.000 36.904.000

140 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Piutang usaha
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 51.000.000 51.000.000


6 Des Tn. Jason 6.100.000 57.100.000
9 Des Retur Tn. Jason 500.000 56.600.000
12 Des Tn. Jason 5.600.000 51.000.000

Persediaan Barang Dagang


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 35.246.000 35.246.000


2 Des Tn. Ida Bagus 5.400.000 40.646.000
6 Des Tn. Jason 3.000.000 37.646.000
7 Des Tn. Ida Bagus-penyesuaian 200.000 37.446.000
8 Des Tn. Ida Bagus-potongan 96.000 37.350.000
9 Des Retur Tn. Jason 250.000 37.600.000
18 Des Tn. Ferry 8.000.000 45.600.000

Perlengkapan toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.500.000 9.500.000


14 Des Tunai 300.000 9.800.000

Asuransi Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 7.650.000 7.650.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 141


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
tanah dan Gedung kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 130.000.000 130.000.000

Akumulasi Penyusutan-Gedung kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 9.000.000 9.000.000

Peralatan toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 70.000.000 70.000.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 44.800.000 44.800.000

Peralatan kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 45.000.000 45.000.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 28.800.000 28.800.000

142 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
utang usaha
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 22.181.000 22.181.000


2 Des Tn. Ida Bagus 5.000.000 27.181.000
7 Des Tn. Ida Bagus-penyesuaian 200.000 26.981.000
8 Des Tn. Ida Bagus 4.800.000 22.181.000

Pendapatan sewa Diterima Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.000.000 9.000.000

Modal surya
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 178.135.000 178.135.000

Prive surya
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 11.000.000 11.000.000

Penjualan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 574.000.000 574.000.000


6 Des Tn. Jason 6.000.000 580.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 143


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Retur dan Penyesuaian Harga Jual
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.924.000 6.924.000


9 Des Tn. Jason 500.000 7.424.000

Potongan Penjualan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 1.200.000 1.200.000


12 Des Tn. Jason 110.000 1.310.000

Harga Pokok Penjualan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 398.450.000 398.450.000


6 Des Tn. Jason 3.000.000 401.450.000
9 Des Retur Tn. Jason 250.000 401.200.000

Beban upah karyawan toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 16.780.000 16.780.000


21 Des Tunai 5.400.000 22.180.000

Beban upah karyawan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 14.600.000 14.600.000


21 Des Tunai 3.240.000 17.840.000

144 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban sewa toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 2.100.000 2.100.000

Beban Penjualan Lainnya


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.680.000 6.680.000

Beban umum dan Administrasi Lainnya


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.228.000 6.228.000

Setelah itu, setiap saldo akun yang terdapat dalam buku besar dipindahkan ke neraca saldo
sebelum penyesuaian. Berikut ini adalah neraca saldo sebelum penyesuaian yang dibuat UD.
Surya Prabha Utama pada tanggal 31 Desember 2007:

uD. surya Prabha utama


neraca saldo sebelum Penyesuaian
31 Desember 2007
(dalam ribuan rupiah)
nama Perkiraan Dr Kr

Kas 36.904

Piutang Usaha 51.000

Persediaan Barang Dagang 45.600

Perlengkapan Toko 9.800

Akuntansi Perusahaan Dagang 145


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Asuransi Dibayar Dimuka 7.650

Tanah dan Gedung Kantor 130.000

Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 9.000

Peralatan Toko 70.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 44.800

Peralatan Kantor 45.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 28.800

Utang Usaha 22.181

Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 9.000

Modal Surya 178.135

Prive Surya 11.000

Penjualan 580.000

Retur dan Penyesuaian Harga Jual 7.424

Potongan Penjualan 1.310

Harga Pokok Penjualan 401.200

Beban Upah Karyawan Toko 22.180

Beban Upah Karyawan Kantor 17.840

Beban Sewa Toko 2.100

Beban Penjualan Lainnya 6.680

Beban Umum dan Administrasi Lainnya 6.228

871.916 871.916

Setelah neraca saldo sebelum penyesuaian di atas selesai dibuat, langkah berikutnya adalah
membuat ayat jurnal penyesuaian. Berikut ini adalah ayat jurnal penyesuaian yang dibuat dalam
pembukuan UD. Surya Prabha Utama pada tanggal 31 Desember 2007:

146 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
Ayat Jurnal Penyesuaian
31 Desember 2007
no. nama Perkiraan Dr kr

a. Harga Pokok Penjualan 2.500.000


Persediaan Barang Dagang 2.500.000

b. Beban Perlengkapan Toko 6.500.000


Perlengkapan Toko 6.500.000

c. Beban Penyusutan-Gedung Kantor 4.500.000


Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 4.500.000

d. Beban Penyusutan-Peralatan Toko 10.080.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 10.080.000

Beban Penyusutan- Peralatan Kantor 6.480.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 6.480.000

e. Beban Upah Karyawan Toko 2.700.000


Beban Upah Karyawan Kantor 1.620.000
Utang Upah Karyawan 4.320.000

f. Beban Asuransi 5.100.000


Asuransi Dibayar Dimuka 5.100.000

g. Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 5.000.000


Pendapatan Sewa 5.000.000

h. Sewa Toko Dibayar Dimuka 1.400.000


Beban Sewa Toko 1.400.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 147


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Ayat jurnal penyesuaian di atas lalu diposting ke buku besar masing-masing akun terkait.

kas
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 53.558.000 53.558.000


2 Des Barang Dagang 400.000 53.158.000
6 Des Talangan Ongkos Angkut 100.000 53.058.000
8 Des Utang Usaha 4.704.000 48.354.000
12 Des Piutang Tn. Jason 5.490.000 53.844.000
14 Des Perlengkapan Toko 300.000 53.544.000
18 Des Barang Dagang 8.000.000 45.544.000
21 Des Beban Upah 8.640.000 36.904.000

Piutang usaha
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 51.000.000 51.000.000


6 Des Tn. Jason 6.100.000 57.100.000
9 Des Retur Tn. Jason 500.000 56.600.000
12 Des Tn. Jason 5.600.000 51.000.000

Persediaan Barang Dagang


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 35.246.000 35.246.000


2 Des Tn. Ida Bagus 5.400.000 40.646.000
6 Des Tn. Jason 3.000.000 37.646.000
7 Des Tn. Ida Bagus-penyesuaian 200.000 37.446.000
8 Des Tn. Ida Bagus-potongan 96.000 37.350.000

148 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
9 Des Retur Tn. Jason 250.000 37.600.000
18 Des Tn. Ferry 8.000.000 45.600.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 2.500.000 43.100.000

Perlengkapan toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.500.000 9.500.000


14 Des Tunai 300.000 9.800.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.500.000 3.300.000

Asuransi Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 7.650.000 7.650.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 5.100.000 2.550.000

sewa toko Dibayar Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 1.400.000 1.400.000

tanah dan Gedung kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 130.000.000 130.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 149


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Akumulasi Penyusutan-Gedung kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 9.000.000 9.000.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 4.500.000 13.500.000

Peralatan toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 70.000.000 70.000.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 44.800.000 44.800.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 10.080.000 54.880.000

Peralatan kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 45.000.000 45.000.000

Akumulasi Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 28.800.000 28.800.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.480.000 35.280.000

150 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
utang usaha
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 22.181.000 22.181.000


2 Des Tn. Ida Bagus 5.000.000 27.181.000
7 Des Tn. Ida Bagus-penyesuaian 200.000 26.981.000
8 Des Tn. Ida Bagus 4.800.000 22.181.000

utang upah karyawan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 4.320.000 4.320.000

Pendapatan sewa Diterima Dimuka


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 9.000.000 9.000.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 5.000.000 4.000.000

Modal surya
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 178.135.000 178.135.000

Prive surya
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 11.000.000 11.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 151


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Penjualan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 574.000.000 574.000.000


6 Des Tn. Jason 6.000.000 580.000.000

Retur dan Penyesuaian Harga Jual


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.924.000 6.924.000


9 Des Tn. Jason 500.000 7.424.000

Potongan Penjualan
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 1.200.000 1.200.000


12 Des Tn. Jason 110.000 1.310.000

Harga Pokok Penjualan


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 398.450.000 398.450.000


6 Des Tn. Jason 3.000.000 401.450.000
9 Des Retur Tn. Jason 250.000 401.200.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 2.500.000 403.700.000

152 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban upah karyawan toko
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 16.780.000 16.780.000


21 Des Tunai 5.400.000 22.180.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 2.700.000 24.880.000

Beban sewa toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 2.100.000 2.100.000


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 1.400.000 700.000

Beban Perlengkapan toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.500.000 6.500.000

Beban Penyusutan-Peralatan toko


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 10.080.000 10.080.000

Beban Penjualan Lainnya


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.680.000 6.680.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 153


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban upah karyawan kantor
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 14.600.000 14.600.000


21 Des Tunai 3.240.000 17.840.000
31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 1.620.000 19.460.000

Beban Penyusutan-Gedung kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 4.500.000 4.500.000

Beban Penyusutan-Peralatan kantor


tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Jan Saldo awal Tahun 2007 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 6.480.000 6.480.000

Beban Asuransi
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 5.100.000 5.100.000

154 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban umum dan Administrasi Lainnya
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 6.228.000 6.228.000

Pendapatan sewa
tgl. keterangan Ref. Debet kredit saldo

1 Des Saldo akhir November 0 0


31 Des Ayat Jurnal Penyesuaian 5.000.000 5.000.000

Dalam contoh ilustrasi ini, diasumsikan bahwa perusahaan menggunakan neraca lajur
sebagai alat bantu untuk menyiapkan laporan keuangan. Oleh sebab itu, data yang ada dalam
ayat jurnal penyesuaian tadi juga dipindahkan ke kolom penyesuaian yang ada pada neraca lajur
sesuai dengan posisi debet dan kreditnya.
Berikut ini adalah neraca lajur yang dibuat UD. Surya Prabha Utama untuk periode yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2007:

Akuntansi Perusahaan Dagang 155


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
neraca Lajur
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2007

Nama Perkiraan Neraca Saldo Penyesuaian Setelah Penyesuaian Laba Rugi Neraca
Dr Kr Dr Kr Dr Kr Dr Kr Dr Kr
Kas 36,904 36,904 36,904
Piutang Usaha 51,000 51,000 51,000
Persediaan Barang Dagang 45,600 2,500 43,100 43,100
Perlengkapan Toko 9,800 6,500 3,300 3,300
Asuransi Dibayar Dimuka 7,650 5,100 2,550 2,550
Tanah dan Gedung Kantor 130,000 130,000 130,000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 9,000 4,500 13,500 13,500
Peralatan Toko 70,000 70,000 70,000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 44,800 10,080 54,880 54,880
Peralatan Kantor 45,000 45,000 45,000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 28,800 6,480 35,280 35,280
Utang Usaha 22,181 22,181 22,181
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 9,000 5,000 4,000 4,000
Modal Surya 178,135 178,135 178,135
Prive Surya 11,000 11,000 11,000
Penjualan 580,000 580,000 580,000
Retur dan Penyesuaian Harga Jual 7,424 7,424 7,424
Potongan Penjualan 1,310 1,310 1,310
Harga Pokok Penjualan 401,200 2,500 403,700 403,700
Beban Upah Karyawan Toko 22,180 2,700 24,880 24,880
Beban Upah Karyawan Kantor 17,840 1,620 19,460 19,460
Beban Sewa Toko 2,100 1,400 700 700
Beban Penjualan Lainnya 6,680 6,680 6,680
Beban Umum dan Administrasi Lainnya 6,228 6,228 6,228
871,916 871,916
Beban Perlengkapan Toko 6,500 6,500 6,500
Beban Penyusutan-Gedung Kantor 4,500 4,500 4,500
Beban Penyusutan-Peralatan Toko 10,080 10,080 10,080

156 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban Penyusutan-Peralatan Kantor 6,480 6,480 6,480
Utang Upah Karyawan 4,320 4,320 4,320
Beban Asuransi 5,100 5,100 5,100
Pendapatan Sewa 5,000 5,000 5,000
Sewa Toko Dibayar Dimuka 1,400 1,400 1,400

45,880 45,880 897,296 897,296 503,042 585,000 394,254 312,296


Laba Bersih 81,958 81,958
585,000 585,000 394,254 394,254

Dengan bantuan neraca lajur di atas, berikut ini adalah tampilan laporan keuangan dari UD. Surya Prabha
Utama:

uD. surya Prabha utama


Laporan Laba Rugi
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2007

Pendapatan Penjualan:
Penjualan 580.000
Retur dan Penyesuaian Harga Jual ( 7.424)
Potongan Penjualan ( 1.310)
Penjualan Bersih 571.266
Harga Pokok Penjualan: (403.700)
Laba Kotor 167.566

Beban Operasional:

Akuntansi Perusahaan Dagang 157


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Beban Penjualan:
Beban Upah Karyawan Toko 24.880
Beban Sewa Toko 700
Beban Perlengkapan Toko 6.500
Beban Penyusutan Peralatan Toko 10.080
Beban Penjualan Lainnya 6.680
Total Beban Penjualan 48.840

Beban Umum dan Administrasi:


Beban Upah Karyawan Kantor 19.460
Beban Penyusutan Gedung Kantor 4.500
Beban Penyusutan Peralatan Kantor 6.480
Beban Asuransi 5.100
Beban Umum dan Administrasi Lainnya 6.228
Total Beban Umum dan Administrasi 41.768
Total Beban Operasional (90.608)
Laba Operasional 76.958

Pendapatan/Beban Lain-Lain:
Pendapatan Sewa 5.000
Total Pendapatan/Beban Lain-Lain 5.000
Laba Bersih 81.958

158 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
uD. surya Prabha utama
Laporan Ekuitas Pemilik
untuk tahun Yang Berakhir 31 Desember 2007

Modal Surya (awal) 178.135


Laba bersih 81.958
Kenaikan Modal Pemilik 260.093
Prive ( 11.000)
Modal Surya (akhir) 249.093

uD. surya Prabha utama


neraca
31 Desember 2007

AsEt
Aset Lancar:
Kas 36.904
Piutang Usaha 51.000
Persediaan Barang Dagang 43.100
Perlengkapan Toko 3.300
Asuransi Dibayar Dimuka 2.550
Sewa Toko Dibayar Dimuka 1.400
Total Aset Lancar 138.254

Aset Tetap:
Tanah dan Gedung Kantor 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor (13.500)
Peralatan Toko 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko (54.880)
Peralatan Kantor 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor (35.280)
Total Aset Tetap 141.340

tOtAL AsEt 279.594

Akuntansi Perusahaan Dagang 159


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
kEWAJiBAn
Kewajiban Lancar:
Utang Usaha 22.181
Utang Upah Karyawan 4.320
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 4.000
Total Kewajiban Lancar 30.501

EkuitAs PEMiLik
Modal Surya 249.093
Total Ekuitas Pemilik 249.093

tOtAL kEWAJiBAn dan MODAL PEMiLik 279.594

Sedangkan ayat jurnal penutup (closing entries) yang dibuat oleh UD. Surya Prabha Utama
untuk periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut:

160 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Setelah ayat jurnal penutup di atas diposting ke buku besar masing-masing akun (akun
sementara) terkait, berikut ini adalah tampilan neraca saldo setelah penutupan (yang hanya
memuat saldo dari akun yang sifatnya permanen, sedangkan saldo dari akun yang sifatnya
sementara telah menjadi nol karena telah ditutup melalui ayat jurnal penutup):

uD. surya Prabha utama


neraca saldo setelah Penutupan
31 Desember 2007

nama Perkiraan Debet kredit


Kas 36.904
Piutang Usaha 51.000
Persediaan Barang Dagang 43.100
Perlengkapan Toko 3.300
Asuransi Dibayar Dimuka 2.550
Sewa Toko Dibayar Dimuka 1.400
Tanah dan Gedung Kantor 130.000
Akumulasi Penyusutan-Gedung Kantor 13.500
Peralatan Toko 70.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Toko 54.880
Peralatan Kantor 45.000
Akumulasi Penyusutan-Peralatan Kantor 35.280
Utang Usaha 22.181
Utang Upah Karyawan 4.320
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka 4.000
Modal Surya 249.093
383.254 383.254

Akuntansi Perusahaan Dagang 161


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
5.7 soal Latihan dan solusinya

soal 1
Berikut ini adalah transaksi-transaksi dari Pt. Evergray Corporation selama bulan Maret 2008
yang terkait dengan pembelian dan penjualan barang dagang:
3 Maret Membeli barang dagang secara tunai sebanyak 1.000 unit dengan harga Rp15.000,00
per unit dan membayar ongkos angkut sebesar Rp150.000,00.
4 Maret Membeli barang dagang secara kredit dari Pt. Coerce sebanyak 900 unit dengan harga
Rp2.000,00 per unit. Credit term 1/15, n/30 dan membayar ongkos angkut sebesar
Rp100.000,00.
5 Maret Menjual barang dagang secara kredit sebanyak 500 unit. Total harga jual sebesar
Rp10.000.000,00 dengan syarat pengangkutan FOB shipping point dan credit term
yang berlaku adalah 2/15, n/30.
6 Maret Membeli barang dagang secara kredit sebanyak 1.000 unit dengan total harga sebesar
Rp20.000.000,00. Syarat pengangkutan adalah FOB destination point dengan credit
term 1/10, n/30.
7 Maret Mengembalikan sebagian barang dagang yang telah dibeli pada tanggal 3 dan 6 Maret
yang lalu, masing-masing sebanyak 250 unit dan 300 unit.
11 Maret Membayar utang atas transaksi pembelian barang dagang yang telah dilakukan pada
tanggal 6 Maret yang lalu.
12 Maret Membeli barang dagang secara kredit dari Pt. interland sebanyak 2.000 unit dengan
harga Rp2.500,00 per unit. Syarat pengangkutan adalah FOB shipping point dengan credit
term 2/15, n/45. Ongkos angkut yang dibayarkan adalah sebesar Rp100.000,00.
14 Maret Menerima pengembalian atas barang dagang yang telah dijual pada tanggal 5 Maret
yang lalu sebanyak 100 unit.
15 Maret Menjual barang dagang secara tunai sebanyak 800 unit dengan total nilai sebesar
Rp25.000.000,00 dengan perincian 250 unit dari barang dagang yang dibeli pada
tanggal 3 Maret dan sisanya dari yang dibeli pada tanggal 6 Maret. Dalam hal ini,
perusahaan harus menanggung dan membayar ongkos kirim ke gudang pembeli sebesar
Rp100.000,00.
17 Maret Membayar utang atas transaksi pembelian barang dagang yang telah dilakukan pada
tanggal 4 Maret yang lalu.

162 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
20 Maret Menerima pembayaran atas transaksi penjualan yang dilakukan pada tanggal 5
Maret.
20 Maret Menjual barang dagang secara tunai kepada Pt. Haili sebanyak 1.000 unit dengan
harga Rp2000,00 per unit. Syarat pengangkutan adalah FOB destination point. Ongkos
angkut yang dibayarkan sebesar Rp120.000,00.
22 Maret Pt. Haili mengembalikan barang dagang sebanyak 50 unit.
25 Maret Melakukan pembayaran kepada Pt. interland.
25 Maret Membeli secara kredit 1.000 unit barang dagang sebesar Rp2.100.000,00. Syarat
pengangkutan adalah FOB shipping point dengan credit term 1/10, n/30. Ongkos
angkut sebesar Rp100.000,00 dibayarkan terlebih dahulu oleh penjual.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas pada
pembukuan Pt. Evergray Corporation jika perusahaan menggunakan physical (periodic)
method dalam mencatat persediaannya!

Solusi:

3 Maret Pembelian 15.000.000


Ongkos Angkut Masuk 150.000
Kas 15.150.000

4 Maret Pembelian 1.800.000


Ongkos Angkut Masuk 100.000
Utang Usaha 1.800.000
Kas 100.000

5 Maret Piutang Usaha 10.000.000


Penjualan 10.000.000

6 Maret Pembelian 20.000.000


Utang Usaha 20.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 163


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
7 Maret Kas 3.750.000
Utang Usaha 6.000.000
Retur Pembelian 9.750.000

11 Maret Utang Usaha 14.000.000


Kas 13.860.000
Potongan Pembelian 140.000

12 Maret Pembelian 5.000.000


Ongkos Angkut Masuk 100.000
Utang Usaha 5.000.000
Kas 100.000

14 Maret Retur Penjualan 2.000.000


Piutang Usaha 2.000.000

15 Maret Kas 24.900.000


Ongkos Angkut Keluar 100.000
Penjualan 25.000.000

17 Maret Utang Usaha 1.800.000


Kas 1.782.000
Potongan Pembelian 18.000

20 Maret Kas 7.840.000


Potongan Penjualan 160.000
Piutang Usaha 8.000.000

20 Maret Kas 1.880.000


Ongkos Angkut Keluar 120.000
Penjualan 2.000.000

164 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
22 Maret Retur Penjualan 100.000
Kas 100.000

25 Maret Utang Usaha 5.000.000


Kas 4.900.000
Potongan Pembelian 100.000

25 Maret Pembelian 2.100.000


Ongkos Angkut Masuk 100.000
Utang Usaha 2.200.000

soal 2
Berikut ini merupakan transaksi jual beli yang dilakukan oleh PD. Surya Prabha Ungu dalam bulan
Juli 2008. Sistem pencatatan barang dagang yang digunakan adalah sistem perpetual.

03 Juli Dibeli barang dagang secara tunai dari CV. inti keramik seharga Rp50.000.000,00.
Ongkos angkut pembelian yang dikeluarkan adalah sebesar Rp250.000,00 ditanggung
oleh pembeli.
05 Juli Dibeli barang dagang secara kredit dari CV. sinar terang seharga Rp200.000.000,00
dengan syarat 2/10, n/30 FOB destination point.
08 Juli Dijual barang dagang kepada Fa. Makmur indah seharga Rp100.000.000,00 dengan
syarat 4/10, n/30 FOB shipping point. Biaya pengiriman terlebih dahulu dibayarkan
oleh PD. Surya Prabha Ungu sebesar Rp300.000,00. Harga pokok barang dagang yang
dijual sebesar Rp70.000.000,00.
09 Juli PD. Surya Prabha mengembalikan barang dagang yang rusak kepada CV. inti keramik
yang dibeli pada tanggal 03 Juli lalu sebesar Rp5.000.000,00. Atas transaksi ini, PD.
Surya Prabha langsung menerima kembali pembayaran kas sebesar nilai barang yang
dikembalikan.
11 Juli Dikirim nota kredit kepada Fa. Makmur indah atas pengembalian barang dagang yang
tidak sesuai dengan pesanan senilai Rp25.000.000,00. Harga pokok barang dagang
yang dikembalikan sebesar Rp17.500.000,00.
14 Juli Dibayar utang kepada CV. sinar terang.

Akuntansi Perusahaan Dagang 165


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
17 Juli Diterima pembayaran dari Fa. Makmur indah sebagai pelunasan seluruh utangnya
kepada perusahaan.
19 Juli Dijual barang dagang kepada Fa. kilap Berlian seharga Rp80.000.000,00 dengan
syarat 2/10, n/30 FOB destination point, ongkos kirim sebesar Rp200.000,00. Harga
pokok barang dagang yang dijual sebesar Rp56.000.000,00.
30 Juli Diterima pembayaran dari Fa. kilap Berlian sebagai pelunasan utangnya kepada
perusahaan.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas pada
pembukuan PD. surya Prabha ungu!

Solusi:

03 Juli Persediaan Barang Dagang 50.250.000


Kas 50.250.000

05 Juli Persediaan Barang Dagang 200.000.000


Utang Usaha 200.000.000

08 Juli Piutang Usaha 100.300.000


Penjualan 100.000.000
Kas 300.000

Harga Pokok Penjualan 70.000.000


Persediaan Barang Dagang 70.000.000

09 Juli Kas 5.000.000


Persediaan Barang Dagang 5.000.000

11 Juli Retur Penjualan 25.000.000


Piutang Usaha 25.000.000

166 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Persediaan Barang Dagang 17.500.000
Harga Pokok Penjualan 17.500.000

14 Juli Utang Usaha 200.000.000


Kas 196.000.000
Persediaan Barang Dagang 4.000.000

17 Juli Kas 72.300.000


Potongan Penjualan 3.000.000
Piutang Usaha 75.300.000

19 Juli Piutang Usaha 80.000.000


Penjualan 80.000.000

Ongkos Angkut Keluar 200.000


Kas 200.000

Harga Pokok Penjualan 56.000.000


Persediaan Barang Dagang 56.000.000

30 Juli Kas 80.000.000


Piutang Usaha 80.000.000

soal 3
Berikut ini merupakan transaksi dagang yang berhubungan dengan uD. Panorama dan uD.
Rodegama selama bulan April 2007:

08 April UD. PANORAMA menjual barang dagang sebesar Rp150.000.000,00 kepada UD.
RODEGAMA dengan syarat 2/10, n/eom, FOB shipping point. Harga pokok barang dagang
yang dijual adalah sebesar Rp65.000.000,00. Ongkos angkut sebesar Rp1.000.000,00
dibayar tunai.

Akuntansi Perusahaan Dagang 167


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
10 April UD. PANORAMA menjual barang dagang kepada UD. RODEGAMA seharga
Rp100.000.000,00 dengan syarat 1/15, n/30 dan membayar ongkos angkut sampai
dengan gudang pembeli sebesar Rp300.000,00. Harga pokok barang dagang yang
dijual adalah sebesar Rp40.000.000,00.
13 April UD. RODEGAMA mengembalikan sebagian barang yang rusak yang telah dibeli dari UD.
PANORAMA pada tanggal 08 April yang lalu, yaitu sebesar Rp10.000.000,00. Harga
pokok barang yang dikembalikan adalah senilai Rp3.500.000,00.
17 April UD. RODEGAMA melunasi seluruh kewajibannya kepada UD. PANORAMA atas pembelian
barang dagang yang telah dilakukann pada tanggal 08 April yang lalu.
22 April UD. RODEGAMA menjual barang dagang kepada PD. ASTRIKA seharga Rp75.000.000,00
dengan syarat 2/10, n/30, FOB shipping point. Harga pokok barang dagang yang
dijual adalah sebesar 40% dari harga jualnya. Ongkos angkut sebesar Rp400.000,00
dibayarkan terlebih dahulu oleh UD. RODEGAMA dan akan ditambahkan ke dalam faktur
sebagai nilai tagihan.
29 April UD. RODEGAMA melunasi seluruh utangnya kepada UD. PANORAMA atas pembelian
barang dagang yang telah dilakukannya pada tanggal 10 April yang lalu.

Diminta: Catatlah jurnal transaksi di atas pada pembukuan uD. PAnORAMA dan uD. RODEGAMA
dengan menggunakan perpetual inventory system!

Solusi:

uD. PAnORAMA

08 April Piutang Usaha 150.000.000


Penjualan 150.000.000

Harga Pokok Penjualan 65.000.000


Persediaan Barang Dagang 65.000.000

10 April Piutang Usaha 100.000.000


Penjualan 100.000.000

168 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Harga Pokok Penjualan 40.000.000
Persediaan Barang Dagang 40.000.000

Ongkos Angkut Keluar 300.000


Kas 300.000

13 April Retur Penjualan 10.000.000


Piutang Usaha 10.000.000

Persediaan Barang Dagang 3.500.000


Harga Pokok Penjualan 3.500.000

17 April Kas 137.200.000


Potongan Penjualan 2.800.000
Piutang Usaha 140.000.000

22 April Tidak ada Jurnal

29 April Kas 100.000.000


Piutang Usaha 100.000.000

uD. RODEGAMA

08 April Persediaan Barang Dagang 150.000.000


Utang Usaha 150.000.000

Persediaan Barang Dagang 1.000.000


Kas 1.000.000

10 April Persediaan Barang Dagang 100.000.000


Utang Usaha 100.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 169


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
13 April Utang Usaha 10.000.000
Persediaan Barang Dagang 10.000.000

17 April Utang Usaha 140.000.000


Kas 137.200.000
Persediaan Barang Dagang 2.800.000

22 April Piutang Usaha 75.000.000


Penjualan 75.000.000

Harga Pokok Penjualan 30.000.000


Persediaan Barang Dagang 30.000.000

Piutang Usaha 400.000


Kas 400.000

29 April Utang Usaha 100.000.000


Kas 100.000.000

soal 4
Berikut ini merupakan transaksi jual beli yang dilakukan oleh perusahaan dagang UD. Desemlim
selama bulan Juli 2008. Sistem pencatatan barang dagang yang digunakan adalah sistem
periodik.
2 Juli Dibeli barang dagang secara tunai dari CV. Meicy seharga Rp50.000.000,00. Ongkos
angkut pembelian yang dikeluarkan adalah Rp250.000,00 (ditanggung oleh pembeli).
5 Juli Dijual barang dagang kepada Firma Jims seharga Rp100.000.000,00 dengan syarat
4/10, n/30 FOB shipping point. Biaya pengiriman terlebih dahulu dibayarkan oleh UD.
Desemlim sebesar Rp300.000,00.
6 Juli Diterima kas sebesar Rp500.000,00 untuk pengembalian barang dagang yang telah dibeli
dari CV. Meicy.
8 Juli Dikirimkan nota kredit kepada Firma Jims atas pengembalian barang dagang yang rusak
senilai Rp800.000,00.

170 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
11 Juli Dibeli barang dagang dari UD. Gladies seharga Rp200.000.000,00 dengan syarat 2/10,
n/30 FOB shipping point. Biaya pengiriman sebesar Rp150.000,00 telah dibayarkan
terlebih dahulu oleh UD. Gladies.
12 Juli Dijual barang dagang kepada CV. Novlin sebesar Rp30.000.000,00 dengan syarat 5/10,
n/30 FOB destination point. Ongkos angkut yang dibayarkan oleh UD. Desemlim adalah
sebesar Rp100.000,00.
15 Juli Dikirimkan nota debet kepada UD. Gladies atas pengembalian barang dagang yang rusak
senilai Rp500.000,00.
17 Juli Diterima pembayaran dari Firma Jims sebagai pelunasan seluruh utangnya kepada UD.
Desemlim.
19 Juli Dibayar seluruh utang usaha kepada UD. Gladies.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas pada
pembukuan uD. Desemlim!

Solusi:
2 Juli Pembelian 50.000.000
Ongkos Angkut Masuk 250.000
Kas 50.250.000

5 Juli Piutang Usaha 100.300.000


Penjualan 100.000.000
Kas 300.000

6 Juli Kas 500.000


Retur Pembelian 500.000

8 Juli Retur Penjualan 800.000


Piutang Usaha 800.000

11 Juli Pembelian 200.000.000


Ongkos Angkut Masuk 150.000
Utang Usaha 200.150.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 171


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
12 Juli Piutang Usaha 30.000.000
Ongkos Angkut Keluar 100.000
Penjualan 30.000.000
Kas 100.000

15 Juli Utang Usaha 500.000


Retur Pembelian 500.000

17 Juli Kas 99.500.000


Piutang Usaha 99.500.000

19 Juli Utang Usaha 199.650.000


Kas 195.660.000
Potongan Pembelian 3.990.000

soal 5
Berikut ini merupakan transaksi jual beli yang dilakukan oleh PD. Kencana Prabhu selama bulan
Desember 2009. Sistem pencatatan barang dagang yang digunakan adalah sistem perpetual.

4 Des Dibeli barang dagang secara tunai dari UD. Abigu Perkasa seharga Rp20.000.000,00. Syarat
pengangkutan FOB destination point. Ongkos angkut sebesar Rp750.000,00 dibayar oleh
UD. Abigu Perkasa.
11 Des Dijual barang dagang kepada UD. Unbayada seharga Rp25.000.000,00 dengan syarat
1/15, n/30 FOB shipping point. Besar harga pokok penjualan adalah 80% dari harga jual.
Ongkos angkut sebesar Rp1.000.000,00 dibayarkan terlebih dahulu oleh PD. Kencana
Prabhu.
12 Des Diterima kas sebesar Rp1.500.000,00 untuk pengembalian barang dagang yang telah
dibeli dari UD. Abigu Perkasa.
18 Des Dibeli barang dagang dari UD. Caraka Pratama seharga Rp40.000.000,00. Syarat
pengangkutan FOB shipping point. Credit term yang berlaku adalah 2/10, n/30. Ongkos
angkut sebesar Rp1.000.000,00 dibayarkan terlebih dahulu oleh penjual.

172 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
20 Des Dikirimkan nota kredit kepada UD. Unbayada atas pengembalian barang dagang yang
rusak senilai Rp3.000.000,00.
22 Des Dibayar seluruh utang usaha kepada UD. Caraka Pratama.
24 Des Diterima pembayaran dari UD. Unbayada.
29 Des Dijual barang dagang secara tunai kepada UD. Taktis Lantera seharga Rp35.000.000,00
dengan syarat pengangkutan FOB destination point. Besar harga pokok penjualan adalah
80% dari harga jual. Ongkos angkut sebesar Rp1.200.000,00 dibayarkan oleh PD. Kencana
Prabhu.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas pada
pembukuan PD. kencana Prabhu!

Solusi:

4 Des Persediaan Barang Dagang 20.000.000


Kas 20.000.000

11 Des Piutang Usaha 26.000.000


Penjualan 25.000.000
Kas 1.000.000

Harga Pokok Penjualan 20.000.000


Persediaan Barang Dagang 20.000.000

12 Des Kas 1.500.000


Persediaan Barang Dagang 1.500.000

18 Des Persediaan Barang Dagang 41.000.000


Utang Usaha 41.000.000

20 Des Retur Penjualan 3.000.000


Piutang Usaha 3.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 173


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Persediaan Barang Dagang 2.400.000
Harga Pokok Penjualan 2.400.000

22 Des Utang Usaha 41.000.000


Kas 40.200.000
Persediaan Barang Dagang 800.000

24 Des Kas 22.780.000


Potongan Penjualan 220.000
Piutang Usaha 23.000.000

29 Des Kas 35.000.000


Penjualan 35.000.000

Harga Pokok Penjualan 28.000.000


Persediaan Barang Dagang 28.000.000

Ongkos Angkut Keluar 1.200.000


Kas 1.200.000

soal 6
Berikut ini merupakan transaksi jual beli yang dilakukan oleh PD. Takeshi Kirana selama bulan
Juni 2009. Sistem pencatatan barang dagang yang digunakan adalah sistem perpetual.
8 Juni Dibeli barang dagang dari PD. Fujatshi Takeda sebanyak 10 unit dengan harga @
Rp2.000.000,00 syarat 2/10, n/30 FOB shipping point. Dibayar ongkos angkut oleh PD.
Takeshi Kirana sebesar Rp500.000,00.
9 Juni Dijual barang dagang senilai Rp10.000.000,00 kepada PD. Casablanca dengan syarat
1/15, n/30 FOB shipping point. Dibayar ongkos angkut oleh PD. Takeshi Kirana sebesar
Rp350.000,00. Harga pokok barang yang dijual adalah sebesar Rp7.500.000,00.
11 Juni Dikembalikan sebagian barang dagang kepada PD. Fujatshi Takeda atas pembelian barang
dagang yang telah dilakukan pada tanggal 8 Juni yang lalu sebesar Rp5.200.000,00
karena rusak.

174 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
15 Juni Dijual barang dagang kepada PD. Calasca sebesar Rp27.550.000,00 dengan syarat
1/10, n/60 FOB destination point. PD. Takeshi Kirana membayar ongkos angkut sebesar
Rp750.000,00. Harga pokok barang yang dijual adalah sebesar Rp 12.000.000,00.
17 Juni Dilunasi utang usaha yang timbul atas transaksi pembelian barang dagang secara kredit
yang telah dilakukan pada tanggal 8 Juni yang lalu.
18 Juni Diterima pengembalian sebagian barang dagang yang rusak dari PD. Casablanca atas
transaksi penjualan barang dagang yang telah dilakukan pada tanggal 9 Juni yang
lalu sebesar Rp3.000.000,00. Harga pokok barang yang dikembalikan adalah sebesar
Rp2.250.000,00.
23 Juni Diterima pembayaran dari PD. Casablanca atas transaksi penjualan barang dagang yang
telah dilakukan pada tanggal 9 Juni yang lalu.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas pada
pembukuan PD. takeshi kirana selama bulan Juni 2009!

Solusi:

8 Juni Persediaan Barang Dagang 20.000.000


Utang Usaha 20.000.000

Persediaan Barang Dagang 500.000


Kas 500.000

9 Juni Piutang Usaha 10.350.000


Penjualan 10.000.000
Kas 350.000

Harga Pokok Penjualan 7.500.000


Persediaan Barang Dagang 7.500.000

11 Juni Utang Usaha 5.200.000


Persediaan Barang Dagang 5.200.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 175


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
15 Juni Piutang Usaha 27.550.000
Penjualan 27.550.000

Ongkos Angkut Keluar 750.000


Kas 750.000

Harga Pokok Penjualan 12.000.000


Persediaan Barang Dagang 12.000.000

17 Juni Utang Usaha 14.800.000


Kas 14.504.000
Persediaan Barang Dagang 296.000

18 Juni Retur Penjualan 3.000.000


Piutang Usaha 3.000.000

Persediaan Barang Dagang 2.250.000


Harga Pokok Penjualan 2.250.000

23 Juni Kas 7.280.000


Potongan Penjualan 70.000
Piutang Usaha 7.350.000

soal 7
Berikut ini merupakan transaksi jual beli yang terjadi selama bulan September 2009 antara
perusahaan Sherly dan Henry. Sistem pencatatan barang dagang yang digunakan adalah sistem
perpetual.

2 Sept Perusahaan Sherly menjual barang dagang seharga Rp24.000.000,00 secara kredit kepada
perusahaan Henry dengan syarat 2/10, n/30 FOB shipping point. Perusahaan Sherly
membayar transportation cost sebesar Rp530.000,00 yang ditambahkan pada faktur.
Harga pokok barang yang dijual adalah sebesar Rp13.000.000,00.

176 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
8 sept Perusahaan Sherly menjual barang dagang seharga Rp12.500.000,00 secara kredit kepada
perusahaan Henry dengan syarat 1/15, n/eom FOB destination point. Perusahaan Sherly
membayar transportation cost sebesar Rp550.000,00. Harga pokok barang yang dijual
adalah sebesar Rp7.500.000,00.
12 Sept Perusahaan Henry mengembalikan sebagian barang dagang yang telah dibelinya secara
kredit dari perusahaan Sherly pada tanggal 8 September yang lalu sebesar Rp3.000.000,00.
Harga pokok barang yang dikembalikan adalah sebesar Rp1.800.000,00. Perusahaan
Henry membayar utangnya kepada perusahaan Sherly atas pembelian barang dagang
yang telah dilakukan pada tanggal 2 September yang lalu.
23 Sept Perusahaan Henry melakukan pembayaran kepada perusahaan Sherly atas utang yang
terjadi sehubungan dengan pembelian barang dagang yang telah dilakukan secara kredit
pada tanggal 8 September yang lalu.
24 Sept Perusahaan Sherly menjual barang dagang seharga Rp10.000.000,00 secara kredit
kepada perusahaan Henry dengan syarat n/eom FOB shipping point. Harga pokok barang
yang dijual adalah sebesar Rp6.000.000,00. Perusahaan Henry membayar transportation
cost sebesar Rp310.000,00.
30 Sept Perusahaan Henry melakukan pembayaran kepada perusahaan Sherly atas utang yang
terjadi sehubungan dengan pembelian barang dagang yang telah dilakukan secara kredit
pada tanggal 24 September yang lalu.

Diminta: Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi-transaksi di atas dalam
pembukuan Sherly maupun Henry selama bulan September 2009!

Solusi:
Perusahaan sherly

2 Sept Piutang Usaha 24.530.000


Penjualan 24.000.000
Kas 530.000

Harga Pokok Penjualan 13.000.000


Persediaan Barang Dagang 13.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 177


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
8 Sept Piutang Usaha 12.500.000
Penjualan 12.500.000

Ongkos Angkut Keluar 550.000


Kas 550.000

Harga Pokok Penjualan 7.500.000


Persediaan Barang Dagang 7.500.000

12 Sept Retur Penjualan 3.000.000


Piutang Usaha 3.000.000

Persediaan Barang Dagang 1.800.000


Harga Pokok Penjualan 1.800.000

Kas 24.050.000
Potongan Penjualan 480.000
Piutang Usaha 24.530.000

23 Sept Kas 9.405.000


Potongan Penjualan 95.000
Piutang Usaha 9.500.000

24 Sept Piutang Usaha 10.000.000


Penjualan 10.000.000

Harga Pokok Penjualan 6.000.000


Persediaan Barang Dagang 6.000.000

30 Sept Kas 10.000.000


Piutang Usaha 10.000.000

178 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Perusahaan Henry

2 Sept Persediaan Barang Dagang 24.530.000


Utang Usaha 24.530.000

8 Sept Persediaan Barang Dagang 12.500.000


Utang Usaha 12.500.000

12 Sept Utang Usaha 3.000.000


Persediaan Barang Dagang 3.000.000

Utang Usaha 24.530.000


Persediaan Barang Dagang 480.000
Kas 24.050.000

23 Sept Utang Usaha 9.500.000


Persediaan Barang Dagang 95.000
Kas 9.405.000

24 Sept Persediaan Barang Dagang 10.310.000


Utang Usaha 10.000.000
Kas 310.000

30 Sept Utang Usaha 10.000.000


Kas 10.000.000

Akuntansi Perusahaan Dagang 179


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
BAB 6

Akuntansi
Persediaan
tujuan Materi

Setelah mempelajari materi yang ada dalam bab ini, Anda diharapkan dapat:

1. Memahami konsep dasar persediaan.


2. Menjelaskan dampak kesalahan penghitungan persediaan terhadap
laporan keuangan.
3. Mengidentiikasi ketiga metode penilaian persediaan dan menjelaskan
dampaknya terhadap laporan laba rugi dan neraca.
4. Menentukan harga pokok penjualan dan persediaan akhir dalam sistem
pencatatan persediaan perpetual, dengan menggunakan metode penilaian
FIFO, LIFO, dan biaya rata-rata.
5. Menentukan harga pokok penjualan dan persediaan akhir dalam sistem
pencatatan persediaan periodik dengan menggunakan metode penilaian
FIFO, LIFO, dan biaya rata-rata.
6. Memahami bagaimana persediaan barang dagang disajikan dalam
neraca.

180 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
6.1 konsep Dasar Persediaan
Akuntan harus ekstra hati-hati terutama pada saat berurusan dengan pencatatan dan penilaian
atas persediaan. Sebuah kesalahan yang terjadi dalam pencatatan dan penilaian atas persediaan
akan berakibat fatal, baik pada neraca maupun laporan laba rugi. Dalam neraca dari sebuah
perusahaan dagang, nilai persediaan seringkali merupakan komponen yang sangat signiikan
(material) dibanding dengan nilai keseluruhan aset lancar. Sedangkan dalam laporan laba rugi,
besarnya harga pokok persediaan (yang dijual) merupakan komponen utama penentu kinerja atau
hasil kegiatan operasional perusahaan selama periode tertentu. Laporan laba rugi dari sebuah
perusahaan dagang, seperti yang telah ditunjukkan dalam Bab 5 yang lalu, terdiri dari tiga item
(komponen) yang tidak dijumpai dalam laporan laba rugi dari sebuah perusahaan jasa, yaitu
pendapatan penjualan, harga pokok penjualan, dan laba kotor. Pendapatan penjualan setelah
dikurangi dengan harga pokok penjualan akan diperoleh laba kotor.
Bagaimana perusahaan mengklasiikasikan persediaannya tergantung pada apakah
perusahaan adalah pedagang (perusahaan dagang) atau pembuat (perusahaan manufaktur).
Untuk perusahaan dagang, persediaan dinamakan persediaan barang dagang (hanya ada satu
klasiikasi), di mana barang dagang ini dimiliki oleh perusahaan dan sudah langsung dalam
bentuk siap untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal perusahaan sehari-hari. Sedangkan untuk
perusahaan manufaktur, mula-mula persediaan belum siap untuk dijual sehingga perlu diolah
terlebih dahulu. Persediaan pada perusahaan manufaktur diklasiikasikan menjadi tiga, yaitu
bahan mentah, barang setengah jadi (barang dalam proses), dan barang jadi (produk akhir). Jadi,
dalam perusahaan manufaktur, perusahaan terlebih dahulu akan mengubah (merakit) input atau
bahan mentah (raw material) menjadi output atau barang jadi (inished goods/inal goods), baru
kemudian dijual kepada para pelanggan (distributor).
Mengenai kepemilikan barang, barang yang masih dalam perjalanan (goods in transit)
seharusnya masuk atau diperhitungkan sebagai bagian persediaan dari pihak yang memang secara
hukum memiliki hak yang sah atas barang tersebut. Untuk tujuan akuntansi, hak kepemilikan
barang biasanya ditentukan diawal transaksi jual-beli, yaitu berdasarkan pada perjanjian atau
syarat-syarat penjualan yang disepakati. Jika syarat penjualannya adalah franko gudang penjual
maka ketika barang keluar dari gudang penjual, barang tersebut sudah bukan lagi milik penjual
tetapi telah menjadi milik atau tanggung jawab penuh pembeli. Sedangkan jika syarat penjualannya
adalah franko gudang pembeli maka kepemilikan barang baru akan beralih dari penjual ke pembeli
apabila barang tersebut benar-benar telah diterima atau sampai ke gudang pembeli.

Akuntansi Persediaan 181


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Dalam beberapa transaksi perusahaan dagang, terkadang barang dagang dapat diperoleh
atas dasar konsinyasi. Dalam hal ini, kepemilikan barang akan tetap berada dipihak pengirim
(penitip), bukan pihak yang dititipkan. Karena barang konsinyasi bukan merupakan milik pihak
yang dititipkan maka barang konsinyasi tersebut seharusnya tidak masuk sebagai persediaan
dari pihak yang dititipkan. Sedangkan bagi pihak yang mengirim atau yang menitipkan, barang
konsinyasi ini masih tetap diperhitungkan sebagai bagian dari persediaan mereka sampai barang
konsinyasi tersebut terjual ke konsumen.
Seperti telah dibahas dalam Bab 5 yang lalu, perusahaan dagang secara sistematis akan selalu
menyelenggarakan catatan persediaan untuk menentukan besarnya barang dagang yang tersedia
untuk dijual dan yang telah laku terjual. Terdapat dua metode akuntansi yang lazim dipakai dalam
mencatat persediaan barang dagang, yaitu metode atau sistem pencatatan perpetual dan metode
atau sistem pencatatan periodik/isik. Dalam sistem perpetual, catatan mengenai harga pokok dari
masing-masing barang dagang yang dibeli maupun yang dijual diselenggarakan secara terperinci.
Sistem pencatatan ini secara terus-menerus akan menunjukkan besarnya saldo persediaan barang
dagang yang ada di gudang untuk setiap jenis persediaan. Dengan sistem pencatatan perpetual,
harga pokok dari barang yang dijual ditentukan setiap kali penjualan terjadi. Dengan sistem
periodik, pembelian barang dagang akan dicatat dengan menggunakan akun pembelian, bukan
akun persediaan barang dagang seperti yang dilakukan pada sistem pencatatan perpetual. Juga,
dengan sistem periodik, akun-akun berikut ini secara terpisah (masing-masing) akan digunakan:
potongan pembelian, retur pembelian dan penyesuaian harga beli, dan ongkos angkut masuk.
Dalam Bab 6 ini, tidak akan lagi dibahas mengenai metode pencatatan, melainkan akan
dibahas secara terperinci mengenai metode penilaian persediaan yang terdiri dari: metode FIFO
(irst-in, irst-out), metode LIFO (last-in, irst-out), dan metode biaya rata-rata (average cost
method). Setiap metode penilaian ini dapat diterapkan ke masing-masing metode pencatatan.

6.2 kesalahan dalam Penghitungan Persediaan


Ingat kembali bahwa, baik persediaan awal maupun persediaan akhir digunakan untuk menghitung
besarnya harga pokok penjualan dalam sistem pencatatan periodik. Persediaan akhir di periode
berjalan akan secara otomatis menjadi persediaan awal di tahun berikutnya. Kesalahan yang
terjadi dalam melakukan penghitungan atas persediaan akan mempengaruhi baik neraca maupun
laporan laba rugi.

182 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Kesalahan dalam mencatat besarnya isik persediaan ini akan menyebabkan salah
saji dalam saldo persediaan akhir. Karena persediaan merupakan aset lancar maka besarnya
aset lancar maupun total aset perusahaan secara keseluruhan juga akan menjadi salah saji di
neraca. Di samping itu, kesalahan dalam melakukan penghitungan atas persediaan ini juga akan
mengakibatkan besarnya harga pokok penjualan, laba kotor, dan laba bersih yang tersaji dalam
laporan laba rugi menjadi keliru. Efek terhadap harga pokok penjualan dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:

Persediaan Awal + Harga Pokok Pembelian – Persediaan Akhir = Harga Pokok Penjualan

Efek terhadap laba kotor dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Penjualan Bersih - Harga Pokok Penjualan = Laba Kotor

Sedangkan efek terhadap laba bersih dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

Laba Kotor – Beban Operasional +/- Pendapatan (Beban) Lain-Lain = Laba Bersih

Kemudian ingat kembali bahwa laba bersih ini akan ditutup ke akun modal pada setiap akhir
periode akuntansi sehingga besarnya modal juga akan menjadi salah saji di neraca. Besarnya
salah saji untuk modal akan sama dengan besarnya salah saji untuk persediaan akhir, aset lancar,
dan total aset.
Sebagai ilustrasi misalnya, berdasarkan penghitungan isik atas persediaan yang dilakukan
pada tanggal 31 Desember 2008, perusahaan telah keliru mencatat sebesar Rp452.000.000,00,
padahal jumlah yang seharusnya adalah Rp475.000.000,00. Kesalahan dalam pencatatan ini
akan menyebabkan besarnya persediaan akhir, aset lancar, dan total aset di neraca menjadi
kekecilan sebesar Rp23.000.000,00. Karena nilai persediaan akhir kekecilan maka harga pokok
penjualan yang tersaji dalam laporan laba rugi akan menjadi kebesaran Rp23.000.000,00. Dengan
demikian, berarti besar laba kotor dan juga laba bersih pada akhirnya akan menjadi kekecilan

Akuntansi Persediaan 183


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Rp23.000.000,00. Sejak laba bersih ditutup ke perkiraan modal maka besar modal yang disajikan
dalam neraca per tanggal 31 Desember 2008 juga akan menjadi kekecilan Rp23.000.000,00.
Efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan akan diringkas sebagai berikut:

Jumlah salah saji


neraca:
Persediaan akhir kekecilan Rp(23.000.000,00)
Aset lancar kekecilan Rp(23.000.000,00)
Total aset kekecilan Rp(23.000.000,00)
Modal kekecilan Rp(23.000.000,00)

Laporan Laba Rugi:


Harga pokok penjualan kebesaran Rp 23.000.000,00
Laba kotor kekecilan Rp(23.000.000,00)
Laba bersih kekecilan Rp(23.000.000,00)

Sebaliknya, berdasarkan penghitungan isik atas persediaan yang dilakukan pada tanggal
31 Desember 2008, perusahaan telah keliru mencatat sebesar Rp475.000.000,00 padahal jumlah
yang benar adalah hanya sebesar Rp452.000.000,00. Kesalahan dalam pencatatan ini akan
menyebabkan besarnya persediaan akhir, aset lancar, dan total aset di neraca menjadi kebesaran
Rp23.000.000,00. Karena nilai persediaan akhir kebesaran maka harga pokok penjualan akan
menjadi kekecilan Rp23.000.000,00. Dengan demikian, pada akhirnya laba kotor dan laba bersih
akan menjadi kebesaran Rp23.000.000,00. Sejak laba bersih ditutup ke akun modal maka besar
modal yang disajikan dalam neraca per tanggal 31 Desember 2008 juga akan menjadi kebesaran
Rp23.000.000,00. Efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan akan diringkas sebagai
berikut:

Jumlah salah saji


neraca:
Persediaan akhir kebesaran Rp 23.000.000,00
Aset lancar kebesaran Rp 23.000.000,00
Total aset kebesaran Rp 23.000.000,00
Modal kebesaran Rp 23.000.000,00

184 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Laporan Laba Rugi:
Harga pokok penjualan kekecilan Rp(23.000.000,00)
Laba kotor kebesaran Rp 23.000.000,00
Laba bersih kebesaran Rp 23.000.000,00

Kesalahan dalam melakukan penghitungan isik atas persediaan akhir biasanya baru
diketahui dalam periode berikutnya setelah kesalahan tersebut dicatat. Dalam kasus ini, laporan
keuangan periode yang lalu di mana kesalahan terjadi haruslah dikoreksi. Ayat jurnal yang perlu
dibuat untuk mengoreksi besarnya persediaan akhir yang telah dicatat kekecilan adalah sebagai
berikut (baik perusahaan menggunakan metode periodik ataupun perpetual):

Persediaan Barang Dagang xxx


Modal xxx

Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk mengoreksi besarnya persediaan akhir yang telah dicatat
kebesaran adalah sebagai berikut (baik perusahaan menggunakan metode periodik ataupun
perpetual):

Modal xxx
Persediaan Barang Dagang xxx

Apabila bentuk perusahaan adalah perseroan, bukan perseorangan atau persekutuan maka
perkiraan modal yang terdapat dalam dua jurnal di atas diganti dengan perkiraan laba ditahan.
Akan tetapi, jika kekeliruan baru ditemukan setelah dua periode berikutnya maka tidak ada
ayat jurnal koreksi karena kesalahan dalam persediaan akhir di periode berjalan akan memiliki
efek terbalik atas besarnya laba bersih periode berikutnya. Jadi, setelah dua tahun, total laba
bersih akan terkoreksi dengan sendirinya. Perhatikanlah dua kemungkinan berikut ini:

(1) Kesalahan Persediaan Harga Pokok Penjualan Laba Bersih


Persediaan akhir kekecilan Kebesaran Kekecilan
Persediaan awal kekecilan Kekecilan Kebesaran

Akuntansi Persediaan 185


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Perhatikanlah bahwa jika dalam periode berjalan, besarnya persediaan akhir telah keliru
dicatat kekecilan maka besarnya laba bersih untuk periode berjalan ini juga akan menjadi
kekecilan. Saldo persediaan akhir yang kekecilan dalam periode berjalan ini akan dibawa ke
periode berikutnya sebagai persediaan awal. Karena persediaan akhir dalam periode berjalan
kekecilan maka besarnya persediaan awal di tahun berikutnya juga akan menjadi kekecilan. Jika
persediaan awal di tahun berikutnya kekecilan maka laba bersih untuk tahun berikutnya ini
akan menjadi kebesaran. Oleh sebab itu, jika kekeliruan ini baru ditemukan setelah dua tahun
berikutnya maka tidak perlu ayat jurnal koreksi.

(2) Kesalahan Persediaan Harga Pokok Penjualan Laba Bersih


Persediaan akhir kebesaran Kekecilan Kebesaran
Persediaan awal kebesaran Kebesaran Kekecilan

Perhatikanlah bahwa jika dalam periode berjalan, nilai persediaan akhir telah keliru dicatat
kebesaran maka laba bersih untuk periode berjalan ini juga akan menjadi kebesaran. Saldo
persediaan akhir yang kebesaran dalam periode berjalan ini akan dibawa ke periode berikutnya
sebagai persediaan awal. Karena persediaan akhir dalam periode berjalan kebesaran maka nilai
persediaan awal di tahun berikutnya juga akan menjadi kebesaran. Jika persediaan awal di tahun
berikutnya kebesaran maka laba bersih untuk tahun berikutnya akan menjadi kekecilan. Oleh
sebab itu, jika kekeliruan ini baru ditemukan setelah dua tahun berikutnya maka tidak perlu ayat
jurnal koreksi.

6.3 Metode Penilaian Persediaan

Dalam akuntansi, dikenal tiga metode yang dapat digunakan dalam menghitung besarnya nilai
persediaan akhir, yaitu: metode FIFO (irst-in, irst-out), metode LIFO (last-in, irst-out), dan
metode biaya rata-rata (average cost method).
Dengan menggunakan metode FIFO, harga pokok dari barang yang pertama kali dibeli adalah
yang diakui pertama kali sebagai harga pokok penjualan. Dalam hal ini, tidak berarti bahwa unit
atau barang yang pertama kali dibeli adalah unit atau barang yang pertama kali akan dijual. Jadi,
penekanannya di sini bukan kepada unit atau isik barangnya, melainkan lebih kepada harga

186 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
pokoknya. Dengan menggunakan metode FIFO, yang akan menjadi nilai persediaan akhir adalah
harga pokok dari unit atau barang yang terakhir kali dibeli.
Sebaliknya, dengan menggunakan metode LIFO, harga pokok dari barang yang terakhir kali
dibeli adalah yang diakui pertama kali sebagai harga pokok penjualan. Dalam hal ini, tidak berarti
bahwa unit atau barang yang terakhir kali dibeli adalah unit atau barang yang pertama kali akan
dijual. Sama seperti metode FIFO, penekanannya bukan kepada unit atau isik barangnya, melainkan
harga pokoknya. Dengan menggunakan metode LIFO, yang akan menjadi nilai persediaan akhir
adalah harga pokok dari unit atau barang yang pertama kali dibeli.
Sedangkan dengan menggunakan metode biaya rata-rata, harga pokok penjualan per unit
dihitung berdasarkan rata-rata harga perolehan per unit dari barang yang tersedia untuk dijual.
Jika harga pokok dari barang yang dibeli adalah tetap sama (stabil) maka dapat dipastikan
bahwa ketiga metode penilaian di atas masing-masing akan menghasilkan nilai persediaan akhir
yang sama sehingga pengaruhnya terhadap harga pokok penjualan, laba kotor, serta laba bersih
juga akan sama. Namun, begitu harga pokok atas barang yang dibeli berubah maka masing-
masing dari ketiga metode penilaian di atas pada umumnya akan menghasilkan nilai persediaan
akhir, harga pokok penjualan, laba kotor, serta laba bersih yang berbeda. Sebagai perbandingan
dari ketiga metode penilaian di atas mengenai dampaknya terhadap nilai persediaan akhir, harga
pokok penjualan, laba kotor, dan laba bersih, cobalah perhatikan contoh berikut ini.
Jika perusahaan menggunakan metode FIFO dalam menilai persediaan akhir dan berasumsi
bahwa telah terjadi peningkatan harga barang atau inlasi maka penggunaan metode FIFO ini
akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang paling besar, harga pokok penjualan yang paling
kecil, dan laba kotor serta laba bersih yang paling besar. Namun sebaliknya, jika perusahaan
menggunakan metode LIFO dalam menilai persediaan akhir maka penggunaan metode LIFO ini
akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang paling kecil, harga pokok penjualan yang paling
besar, dan laba kotor serta laba bersih yang paling kecil. Sedangkan penggunaan metode biaya
rata-rata akan menghasilkan nilai persediaan akhir, harga pokok penjualan, dan laba kotor serta
laba bersih yang berada diantara hasil metode FIFO dan LIFO. Dari contoh ini, kita juga dapat
melihat bahwa ketika metode LIFO digunakan di sepanjang periode inlasi atau ketika harga
barang meningkat maka penggunaan metode LIFO akan memberikan penghematan dalam hal
pajak penghasilan. Penghematan dalam hal pajak penghasilan ini tentu saja timbul karena laporan
jumlah laba bersih dengan metode LIFO akan melaporkan jumlah laba bersih yang paling kecil
dibanding metode FIFO dan biaya rata-rata.

Akuntansi Persediaan 187


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
6.4 Penilaian Persediaan dalam sistem Pencatatan
Perpetual

Dalam sistem persediaan perpetual, seperti yang telah dibahas dalam Bab 5 yang lalu (akuntansi
untuk perusahaan dagang), setiap pembelian barang dagang dari pemasok akan dicatat oleh
perusahaan dengan cara mendebet akun persediaan barang dagang dan mengkredit akun kas atau
utang usaha. Demikian juga pada setiap transaksi penjualan barang dagang ke pelanggan, harga
pokok dari barang yang dijual akan dicatat dengan cara mendebet akun harga pokok penjualan
dan mengkredit akun persediaan barang dagang.
Untuk mengilustrasikan masing-masing metode penilaian (FIFO, LIFO, dan biaya rata-rata)
dalam sistem pencatatan perpetual, perhatikanlah contoh berikut:

tanggal keterangan kuantitas Harga Perolehan


(Unit) Per unit

1 Maret Persediaan Awal 120 Rp200.000,00

5 Maret Penjualan 84

12 Maret Pembelian 96 Rp210.000,00

19 Maret Penjualan 48

23 Maret Penjualan 24

27 Maret Pembelian 60 Rp220.000,00

31 Maret Pembelian 60 Rp220.000,00

Dengan menggunakan data di atas dan asumsi bahwa harga jual per unit adalah Rp300.000,00
di mana pembelian maupun penjualan barang dagang dilakukan secara kredit maka besarnya nilai
persediaan akhir, harga pokok penjualan, dan laba kotor adalah sebagai berikut:

188 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
(1). Jika metode penilaian adalah FIFO:
Pembelian Harga Pokok Penjualan saldo Persediaan
tgl unit HP total unit HP total unit HP total
1 Mar 120 200.000 24 jt
5 Mar 84 200.000 16,8 jt 36 200.000 7,2 jt
12 Mar 96 210.000 20,16 jt 36 200.000 7,2 jt
96 210.000 20,16 jt
19 Mar 36 200.000 7,2 jt
12 210.000 2,52 jt 84 210.000 17,64 jt

23 Mar 24 210.000 5,04 jt 60 210.000 12,6 jt


27 Mar 60 220.000 13,2 jt 60 210.000 12,6 jt
60 220.000 13,2 jt
31 Mar 60 220.000 13,2 jt 60 210.000 12,6 jt
120 220.000 26,4 jt

Perhatikanlah bahwa setelah 84 unit dijual pada tanggal 5 Maret, persediaan yang masih
tersisa hanya 36 unit dengan harga perolehan (harga pokok) sebesar Rp200.000,00 per unit.
Kemudian, 96 unit yang dibeli pada tanggal 12 Maret diperoleh dengan harga Rp210.000,00
per unit, bukan Rp200.000,00 per unit. Oleh karena itu, saldo persediaan akhir pada tanggal
12 Maret (setelah pembelian 96 unit) dilaporkan dalam dua lapis, yaitu 36 unit dengan harga
perolehan (harga pokok) sebesar Rp200.000,00 per unit dan 96 unit dengan harga perolehan
(harga pokok) sebesar Rp210.000,00 per unit. Berikutnya, perhatikanlah bahwa penjualan barang
dagang sebanyak 48 unit yang dilakukan pada tanggal 19 Maret menyisakan persediaan sebanyak
84 unit dengan harga perolehan (harga pokok) sebesar Rp210.000,00 per unit. Penjualan 48 unit
tersebut diambil dari 36 unit dengan harga perolehan (harga pokok) sebesar Rp200.000,00 per
unit dan 12 unit dengan harga perolehan (harga pokok) sebesar Rp210.000,00 per unit.
Besarnya persediaan akhir yang akan disajikan dalam neraca per 31 Maret meliputi dua
lapis, yaitu:
60 unit x Rp210.000,00 = Rp12.600.000,00
120 unit x Rp220.000,00 = Rp26.400.000,00
180 unit = Rp39.000.000,00

Akuntansi Persediaan 189


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Sedangkan besarnya penjualan, harga pokok penjualan, dan laba kotor yang akan disajikan
dalam laporan laba rugi untuk bulan yang berakhir 31 Maret adalah sebagai berikut:

Penjualan Rp46.800.000,00
Harga Pokok Penjualan (Rp31.560.000,00)
Laba Kotor Rp15.240.000,00

Laporan keuangan di atas tentu saja diperoleh dari ayat-ayat jurnal sebagai berikut:

5/3 Piutang Usaha 25.200.000


Penjualan 25.200.000

Harga Pokok Penjualan 16.800.000


Persediaan Barang Dagang 16.800.000

12/3 Persediaan Barang Dagang 20.160.000


Utang Usaha 20.160.000

19/3 Piutang Usaha 14.400.000


Penjualan 14.400.000

Harga Pokok Penjualan 9.720.000


Persediaan Barang Dagang 9.720.000

23/3 Piutang Usaha 7.200.000


Penjualan 7.200.000

Harga Pokok Penjualan 5.040.000


Persediaan Barang Dagang 5.040.000

27/3 Persediaan Barang Dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

31/3 Persediaan Barang Dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

190 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
(2). Jika metode penilaian adalah LIFO:

Pembelian Harga Pokok Penjualan saldo Persediaan


tgl unit HP total unit HP total unit HP total

1 Mar 120 200.000 24 jt

5 Mar 84 200.000 16,8 jt 36 200.000 7,2 jt

12 Mar 96 210.000 20,16 jt 36 200.000 7,2 jt

96 210.000 20,16 jt

19 Mar 48 210.000 10,08 jt 36 200.000 7,2 jt

48 210.000 10,08 jt

23 Mar 24 210.000 5,04 jt 36 200.000 7,2 jt

24 210.000 5,04 jt

27 Mar 60 220.000 13,2 jt 36 200.000 7,2 jt

24 210.000 5,04 jt

60 220.000 13,2 jt

31 Mar 60 220.000 13,2 jt 36 200.000 7,2 jt

24 210.000 5,04 jt

120 220.000 26,4 jt

Dengan menggunakan metode penilaian LIFO, harga pokok penjualan untuk masing-masing
unit yang dijual pada tanggal 19 Maret adalah harga pokok dari barang yang dibeli pada tanggal
12 Maret, yaitu Rp210.000,00 per unit. Saldo persediaan akhir pada tanggal 19 Maret (setelah
penjualan 48 unit) terdiri dari 36 unit yang tersisa dari persediaan awal bulan Maret dan 48 unit
yang tersisa dari pembelian barang dagang pada tanggal 12 Maret.
Besarnya persediaan akhir yang akan disajikan dalam neraca per 31 Maret meliputi tiga
lapis, yaitu:

Akuntansi Persediaan 191


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
36 unit x Rp200.000,00 = Rp 7.200.000,00
24 unit x Rp210.000,00 = Rp 5.040.000,00
120 unit x Rp220.000,00 = Rp26.400.000,00
180 unit = Rp38.640.000,00

Sedangkan besarnya penjualan, harga pokok penjualan, dan laba kotor yang akan disajikan
dalam laporan laba rugi untuk bulan yang berakhir 31 Maret adalah sebagai berikut:

Penjualan Rp46.800.000,00
Harga Pokok Penjualan (Rp31.920.000,00)
Laba Kotor Rp14.880.000,00

Laporan keuangan di atas tentu saja diperoleh dari ayat-ayat jurnal sebagai berikut:

5/3 Piutang Usaha 25.200.000


Penjualan 25.200.000

Harga Pokok Penjualan 16.800.000


Persediaan Barang dagang 16.800.000

12/3 Persediaan Barang dagang 20.160.000


Utang Usaha 20.160.000

19/3 Piutang Usaha 14.400.000


Penjualan 14.400.000

Harga Pokok Penjualan 10.080.000


Persediaan Barang dagang 10.080.000

23/3 Piutang Usaha 7.200.000


Penjualan 7.200.000

192 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Harga Pokok Penjualan 5.040.000
Persediaan Barang dagang 5.040.000

27/3 Persediaan Barang dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

31/3 Persediaan Barang dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

(3). Jika metode penilaian adalah Biaya Rata-Rata:

Pembelian Harga Pokok Penjualan saldo Persediaan


tgl unit HP total unit HP total unit HP total

1 Mar 120 200.000 24 jt


5 Mar 84 200.000 16,8 jt 36 200.000 7,2 jt
12 Mar 96 210.000 20,16 jt 132 207.272,7 27,36 jt
19 Mar 48 207.272,7 9,95 jt 84 207.272,7 17,41 jt
23 Mar 24 207.272,7 4,975 jt 60 207.272,7 12,436 jt
27 Mar 60 220.000 13,2 jt 120 213.633 25,636 jt
31 Mar 60 220.000 13,2 jt 180 215.756 38,836 jt

Metode harga pokok rata-rata dalam sistem pencatatan perpetual dinamakan sebagai metode
biaya rata-rata bergerak (moving average cost method).
Dengan menggunakan metode penilaian biaya rata-rata, harga pokok penjualan untuk masing-
masing unit yang dijual pada tanggal 19 Maret adalah berdasarkan rata-rata harga perolehan per
unit dari barang yang tersedia untuk dijual [(7,2 juta+20,16 juta) : (36+96)], yaitu sebesar
Rp207.272,70 per unit. Saldo persediaan akhir pada tanggal 19 Maret (setelah penjualan 48
unit) adalah 84 unit dengan rata-rata harga perolehan per unit sebesar Rp207.272,70. Kemudian,
24 unit yang dijual pada tanggal 23 Maret masih tetap menggunakan harga pokok penjualan

Akuntansi Persediaan 193


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
sebesar Rp207.272,70 per unit karena antara tanggal 12 Maret akhir (setelah pembelian 96 unit)
sampai dengan tanggal 23 Maret awal tidak ada transaksi pembelian barang dagang dari pemasok;
dengan kata lain bahwa besarnya rata-rata harga perolehan per unit dari barang yang tersedia
untuk dijual per tanggal 23 Maret adalah masih tetap sama sebesar Rp207.272,70.
Namun, setelah dilakukan pembelian barang dagang dari pemasok pada tanggal 27 Maret,
yaitu sebanyak 60 unit maka besarnya rata-rata harga perolehan per unit dari barang yang
tersedia untuk dijual menjadi Rp213.633,00. Berikutnya, pada tanggal 31 Maret setelah dilakukan
pembelian barang dagang lagi dari pemasok sebanyak 60 unit maka sekarang besarnya rata-rata
harga perolehan per unit dari barang yang tersedia untuk dijual berubah menjadi Rp215.756,00.
Perhatikanlah bahwa harga pokok atau harga perolehan rata-rata per unit akan terus berubah
atau bergerak setiap kali terdapat pembelian barang dagang dari pemasok dan harga pokok rata-
rata yang terus berubah ini akan dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan harga pokok
penjualan.

Besarnya persediaan akhir yang akan disajikan dalam neraca per 31 Maret adalah
180 unit x Rp215.756,00 = Rp38.836.000,00 pembulatan

Sedangkan besarnya penjualan, harga pokok penjualan, dan laba kotor yang akan disajikan
dalam laporan laba rugi untuk bulan yang berakhir 31 Maret adalah

Penjualan Rp46.800.000,00
Harga Pokok Penjualan (Rp31.725.000,00) pembulatan

Laba Kotor Rp15.075.000,00 pembulatan

Laporan keuangan di atas tentu saja diperoleh dari ayat-ayat jurnal sebagai berikut:

5/3 Piutang Usaha 25.200.000


Penjualan 25.200.000

Harga Pokok Penjualan 16.800.000


Persediaan Barang dagang 16.800.000

194 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
12/3 Persediaan Barang dagang 20.160.000
Utang Usaha 20.160.000

19/3 Piutang Usaha 14.400.000


Penjualan 14.400.000

Harga Pokok Penjualan 9.950.000


Persediaan Barang dagang 9.950.000

23/3 Piutang Usaha 7.200.000


Penjualan 7.200.000

Harga Pokok Penjualan 4.975.000


Persediaan Barang dagang 4.975.000

27/3 Persediaan Barang dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

31/3 Persediaan Barang dagang 13.200.000


Utang Usaha 13.200.000

6.5 Penilaian Persediaan dalam sistem Pencatatan


Periodik

Jika sistem persediaan periodik digunakan maka hanya pendapatan saja yang akan dicatat ketika
penjualan terjadi, tidak ada ayat jurnal yang dibuat untuk mencatat besarnya harga pokok
penjualan. Nantinya, pada setiap akhir periode akuntansi, penghitungan isik atas persediaan
akan dilakukan untuk menentukan besarnya persediaan akhir dan harga pokok penjualan.
Harga pokok penjualan dihitung dengan cara mengurangkan harga pokok dari barang yang
tersedia untuk dijual dengan persediaan akhir yang diperoleh lewat penghitungan isik. Harga
pokok dari barang yang tersedia untuk dijual ini merupakan penjumlahan antara persediaan awal

Akuntansi Persediaan 195


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
dengan harga pokok dari barang yang dibeli. Sedangkan, harga pokok dari barang yang dibeli
sendiri merupakan penjumlahan antara pembelian bersih (pembelian dikurangi dengan potongan
pembelian, retur pembelian, dan penyesuaian harga beli) dengan ongkos angkut masuk.
Sama seperti sistem persediaan perpetual, asumsi aliran harga pokok harus dibuat ketika
barang dagang dibeli pada berbagai tingkat harga yang berbeda sepanjang periode. Dalam hal
ini, metode penilaian yang terdiri dari metode FIFO, LIFO, dan metode biaya rata-rata dapat
digunakan.
Untuk mengilustrasikan masing-masing metode penilaian (FIFO, LIFO, dan biaya rata-rata)
dalam sistem pencatatan periodik, perhatikan contoh berikut:

tgl keterangan kuantitas Harga Perolehan total


(Unit) Per unit Harga Perolehan
1 Jan Persediaan Awal 200 Rp 90.000,00 Rp 18.000.000,00
5 Mar Pembelian 300 Rp100.000,00 Rp 30.000.000,00
18 Agst Pembelian 400 Rp110.000,00 Rp 44.000.000,00
26 Des Pembelian 100 Rp120.000,00 Rp 12.000.000,00
Tersedia untuk Dijual 1.000 Rp104.000.000,00

Berdasarkan penghitungan isik yang dilakukan pada tanggal 31 Desember menunjukkan


bahwa barang dagang yang belum terjual adalah 300 unit.
Dengan menggunakan data di atas, maka besarnya nilai persediaan akhir dan harga pokok
penjualan adalah

(1). Jika metode penilaian adalah FIFO:


Dengan menggunakan metode penilaian FIFO, karena yang dijual pertama adalah barang yang
sudah ada lebih dulu atau yang dibeli pertama kali maka yang menjadi persediaan akhir adalah
barang yang dibeli belakangan. Dalam ilustrasi ini, besarnya persediaan akhir sebanyak 300 unit
yang akan disajikan dalam neraca per 31 Desember, terdiri atas dua lapis:

100 unit x Rp120.000,00 = Rp12.000.000,00


200 unit x Rp110.000,00 = Rp22.000.000,00
300 unit = Rp34.000.000,00

196 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Karena barang yang tersedia untuk dijual adalah 1.000 unit di mana 300 unit masih tersedia
di gudang maka banyaknya unit yang sudah terjual adalah 700 unit. Besarnya harga pokok
penjualan untuk 700 unit ini dapat ditentukan sebagai berikut:

200 unit x Rp 90.000,00 = Rp18.000.000,00


300 unit x Rp100.000,00 = Rp30.000.000,00
200 unit x Rp110.000,00 = Rp22.000.000,00
700 unit = Rp70.000.000,00

Harga pokok penjualan di atas dapat juga dihitung dengan cara biasa, yaitu:
= Harga pokok dari barang yang tersedia untuk dijual - Harga pokok persediaan akhir
= Rp104.000.000,00 - Rp34.000.000,00
= Rp70.000.000,00

(2). Jika metode penilaian adalah LIFO:


Dengan menggunakan metode penilaian LIFO, karena yang dijual pertama adalah barang yang
dibeli belakangan (terakhir kali) maka yang menjadi persediaan akhir adalah barang yang dibeli
pertama kali. Dalam ilustrasi ini, besarnya persediaan akhir sebanyak 300 unit yang akan disajikan
dalam neraca per 31 Desember, terdiri atas dua lapis:

200 unit x Rp 90.000,00 = Rp18.000.000,00


100 unit x Rp100.000,00 = Rp10.000.000,00
300 unit = Rp28.000.000,00

Besarnya harga pokok penjualan untuk 700 unit dapat ditentukan sebagai berikut:

100 unit x Rp120.000,00 = Rp12.000.000,00


400 unit x Rp110.000,00 = Rp44.000.000,00
200 unit x Rp100.000,00 = Rp20.000.000,00
700 unit = Rp76.000.000,00

Harga pokok penjualan di atas dapat juga dihitung dengan cara biasa, yaitu:

Akuntansi Persediaan 197


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
= Harga pokok dari barang yang tersedia untuk dijual - Harga pokok persediaan akhir
= Rp104.000.000,00 - Rp28.000.000,00
= Rp76.000.000,00

(3). Jika metode penilaian adalah Biaya Rata-Rata:


Metode harga pokok rata-rata dalam sistem pencatatan periodik dinamakan sebagai metode biaya
rata-rata tertimbang (weighted average cost method). Besarnya harga pokok rata-rata tertimbang
per unit ditentukan dengan cara membagi keseluruhan harga pokok dari barang yang tersedia
untuk dijual sepanjang periode dengan banyaknya unit barang terkait yang tersedia untuk dijual.
Harga pokok rata-rata tertimbang per unit ini nantinya akan dipergunakan baik untuk menghitung
nilai persediaan akhir maupun besarnya harga pokok penjualan.
Dengan menggunakan data ilustrasi di atas, harga pokok rata-rata tertimbang dari 1.000
unit yang tersedia untuk dijual adalah Rp104.000.000,00 : 1.000 unit = Rp104.000,00 per
unit. Jadi, harga pokok penjualan untuk 700 unit adalah Rp104.000,00 per unit x 700 unit =
Rp72.800.000,00. Sedangkan nilai persediaan akhir adalah Rp104.000,00 per unit x 300 unit =
Rp31.200.000,00.

6.6 Penyajian Persediaan Barang Dagang di neraca

Ingat kembali bahwa penyajian aset lancar dalam neraca disusun berdasarkan urutan tingkat
likuiditasnya. Kas lebih lancar dibanding piutang dan persediaan; piutang lebih lancar dibanding
persediaan; dan seterusnya. Jadi, kas merupakan aset yang paling likuid (lancar), lalu diikuti
dengan piutang usaha, persediaan barang dagang dan seterusnya.

uD. karya utama


neraca
31 Desember 2008
AsEt
Aset Lancar:
Kas xxx
Piutang Usaha xxx
Persediaan Barang Dagang xxx

198 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
6.7 soal Latihan dan solusinya

soal 1
Buatlah ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan pada tanggal 31 Desember 2012 sehubungan
dengan saldo persediaan barang dagang dan hitunglah berapa besarnya harga pokok penjualan
serta laba kotor apabila metode penilaian persediaan yang digunakan adalah metode FIFO,
sedangkan metode pencatatannya adalah metode isik (periodik). Berikut ini adalah data yang
berkaitan dengan persediaan barang dagangan:
Persediaan awal 1 Januari sebanyak 15.200 unit @Rp3.000,00
Pembelian tanggal 5 Februari sebanyak 44.000 unit @Rp3.100,00
Pembelian tanggal 9 Juli sebanyak 55.000 unit @Rp3.200,00
Pembelian tanggal 8 Desember sebanyak 26.800 unit @Rp3.250,00
Penjualan selama tahun 2012 adalah 125.000 unit @Rp4.640,00
Retur penjualan yang terjadi dalam tahun 2012 adalah 1.600 unit @Rp4.640,00
Potongan pembelian yang diperoleh selama tahun 2012 sebesar Rp9.000.000,00
Ongkos angkut masuk yang dikeluarkan selama tahun 2012 sebesar Rp9.000.000,00

Solusi:

Ikhtisar Laba Rugi 45.600.000


Persediaan Barang Dagang 45.600.000

Persediaan Barang Dagang 57.200.000


Ikhtisar Laba Rugi 57.200.000

Pendapatan Penjualan:
Penjualan 580.000
Retur Penjualan ( 7.424)
Penjualan Bersih 572.576

Harga Pokok Penjualan:


Persediaan Barang Dagang (awal) 45.600

Akuntansi Persediaan 199


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Pembelian 399.500
Potongan Pembelian ( 9.000)
Pembelian Bersih 390.500
Ongkos Angkut Masuk 9.000
Harga Pokok Barang yang Dibeli 399.500
Harga Pokok Barang yang Tersedia Dijual 445.100
Persediaan Barang Dagang (akhir) (57.200)
Harga Pokok Penjualan (387.900)
Laba Kotor 184.676

soal 2
Susunlah laporan laba rugi parsial bentuk bertahap untuk periode yang berakhir pada tanggal
31 Desember 2012 apabila metode penilaian persediaan yang digunakan adalah metode LIFO,
sedangkan metode pencatatannya adalah metode isik (periodik). Berikut ini adalah data yang
terkait langsung dengan persediaan barang dagangan:
Persediaan awal 1 Januari sebanyak 13.900 unit @Rp3.050,00
Pembelian tanggal 13 April sebanyak 50.000 unit @Rp3.100,00
Pembelian tanggal 2 Mei sebanyak 55.000 unit @Rp3.200,00
Pembelian tanggal 17 November sebanyak 26.800 unit @Rp3.250,00
Penjualan selama tahun 2012 adalah 125.000 unit @Rp4.200,00
Retur penjualan yang terjadi dalam tahun 2012 adalah 1.350 unit @Rp4.200,00
Potongan Penjualan yang diberikan selama tahun 2012 kepada para pelanggan sebesar
Rp3.402.000,00
Retur pembelian sebanyak 420 unit yang dibeli pada tanggal 13 April 2012.
Potongan pembelian yang diperoleh selama tahun 2012 sebesar Rp5.200.000,00
Ogkos angkut masuk yang dikeluarkan selama tahun 2012 sebesar Rp4.598.000,00

Solusi:
Pendapatan Penjualan:
Penjualan 525.000
Retur Penjualan ( 5.670)
Potongan Penjualan ( 3.402)
Penjualan Bersih 515.928

200 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Dagang (awal) 42.395
Pembelian 418.100
Retur Pembelian ( 1.302)
Potongan Pembelian ( 5.200)
Pembelian Bersih 411.598
Ongkos Angkut Masuk 4.598
Harga Pokok Barang yang Dibeli 416.196
Harga Pokok Barang yang Tersedia Dijual 458.591
Persediaan Barang Dagang (akhir) (66.358)
Harga Pokok Penjualan (392.233)
Laba Kotor 123.695

soal 3
Berikut ini adalah sebagian petikan dari neraca saldo PT. Floris pada tanggal 31 Desember
2009:

Persediaan Barang Dagang Rp 20.825.000,00


Penjualan Rp430.000.000,00
Retur Penjualan Rp 17.500.000,00
Potongan Penjualan Rp 12.500.000,00
Ongkos Angkut Keluar Rp 6.500.000,00
Pembelian Rp285.325.000,00
Retur Pembelian Rp 6.375.000,00
Ongkos Angkut Masuk Rp 7.500.000,00

Data pembelian yang telah terjadi sepanjang tahun 2009 adalah sebagai berikut:
Tanggal 6 Januari 17.000 unit Rp42.500.000,00
Tanggal 17 Maret 20.000 unit Rp51.000.000,00
Tanggal 12 Juni 22.000 unit Rp57.200.000,00
Tanggal 20 Agustus 30.000 unit Rp79.500.000,00
Tanggal 11 Desember 21.000 unit Rp55.125.000,00

Akuntansi Persediaan 201


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
Diketahui bahwa harga per unit atas persediaan awal sebesar Rp2.450,00 dan harga jual
per unit sebesar Rp5.000,00. Sedangkan retur pembelian berasal dari pembelian yang dilakukan
pada tanggal 17 Maret 2009.

Diminta:
a). Hitunglah nilai persediaan akhir apabila metode penilaian persediaan yang digunakan
adalah metode FIFO, sedangkan metode pencatatannya adalah metode periodik!
b). Susunlah laporan laba rugi (parsial) yang menyajikan secara jelas besarnya penjualan bersih,
pembelian bersih, harga pokok barang yang dibeli, harga pokok barang yang tersedia untuk
dijual, harga pokok penjualan, dan laba kotor!

Solusi:

a). Besarnya unit penjualan bersih = 86.000 unit-3.500 unit = 82.500 unit.
Dengan menggunakan metode FIFO, 82.500 unit ini terdiri dari :
Persediaan awal 8.500 unit
Pembelian tgl. 6 Januari 17.000 unit
Pembelian tgl. 17 Maret 20.000 unit
Retur Pembelian (2.500) unit
Pembelian tgl. 12 Juni 22.000 unit
Pembelian tgl. 20 Agustus 17.500 unit
82.500 unit

Nilai persediaan akhir = [{(30.000 unit-17.500 unit) : 30.000 unit} x Rp79.500.000,00 ] +


Rp55.125.000,00 = Rp88.250.000,00 atau
Nilai persediaan akhir = 8.500 unit + 110.000 unit – 2.500 unit – 82.500 unit = 33.500
unit, yang terdiri dari:

12.500 unit x (Rp79.500.000,00 : 30.000 unit) = Rp33.125.000,00


21.000 unit = Rp55.125.000,00
33.500 unit Rp88.250.000,00

202 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
b).
Pendapatan Penjualan:
Penjualan 430.000
Retur Penjualan (17.500)
Potongan Penjualan (12.500)
Penjualan bersih 400.000

Harga Pokok Penjualan:


Persediaan Barang Dagang (awal) 20.825
Pembelian 285.325
Retur Pembelian (6.375)
Pembelian Bersih 278.950
Ongkos Angkut Masuk 7.500
Harga Pokok Barang yang Dibeli 286.450
Harga Pokok Barang yang Tersedia Dijual 307.275
Persediaan Barang Dagang (akhir) (88.250)
Harga Pokok Penjualan (219.025)
Laba Kotor 180.975

Akuntansi Persediaan 203


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
DAFtAR PustAkA
Warren, C.S., J.M. Reeve, dan Duchac. 2012. Accounting. 24th Edition. USA : South Western,
Thomson.

Weygandt J.J., D.E. Kieso, dan Kimmel P.D. 2011. Accounting Principles. 10th Edition. USA : John
Wiley & Sons, Inc.

204 Akuntansi Untuk sMk, sMA, & MA


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
tEntAnG PEnuLis
Hery, s.E., M.si., lahir di Jakarta pada tanggal 06 September 1975.
Tamat Sarjana Akuntansi (1998) dari Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya. Lulus Magister Sains Akuntansi, konsentrasi Pemeriksaan Akuntansi
dan Akuntansi Keuangan (2004) dari Program Pasca Sarjana Universitas
Trisakti. Pernah bekerja di Kantor Akuntan Publik Drs. Thomas Iguna &
Rekan, Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakota Mustofa (CPA irm Delloite
Touche Tohmatsu International) dan PT. Asuransi Wahana Tata. Saat ini
sebagai Dosen Akuntansi Keuangan di Atma Jaya Catholic University dan
beberapa Perguruan Tinggi lainnya. Menulis lebih dari belasan buku akuntansi yang dipublikasikan
secara nasional.

tentang Penulis 205


001/I/14

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
B
uku ini secara keseluruhan dan mendalam akan mengulas mengenai siklus akuntansi
(analisis transaksi, jurnal, buku besar, neraca saldo, laporan keuangan), akuntansi
untuk perusahaan dagang, dan akuntansi persediaan.



Pembahasan akan dimulai dengan memperkenalkan terlebih dahulu kepada para pembaca


tentang karakteristik perusahaan dan akuntansi. Setelah pembaca memahami dengan baik


jenis-jenis perusahaan; siapa saja para pengguna informasi akuntansi; profesi akuntansi;
asumsi dasar dan persamaan akuntansi; serta laporan keuangan, ulasan akan berlanjut pada
serangkaian aktivitas yang ada dalam siklus akuntansi perusahaan, yang dimulai dengan proses
pencatatan, proses penyesuaian, sampai pada penyelesaian siklus akuntansi itu sendiri.

Buku ini juga akan membahas mengenai akuntansi untuk perusahaan dagang (termasuk
penghitungan harga pokok penjualan) serta akuntansi persediaan. Buku ini sangat cocok
digunakan sebagai bahan penunjang atau pengayaan materi akuntansi bagi para siswa-siswi
yang ada di SMK, SMA, maupun MA.

Ref. Pendidikan

pustaka-indo.blogspot.com