Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN

GAGAL GINJAL

MAKALAH

Oleh :
KELOMPOK IV

1. DWI RATNASARI
2. GITA LESTARI
3. IIN FITRIYANTI
4. ITALIANA MUTIDEWI
5. IWAN SETIAWAN
6. LUSIYANA
7. MAHMUDAH HASANAH
8. RIMA YULIA
9. RUSMANTO
10. SUPRIYADI
11. SUSANAH
12. UJANG SETIAWAN
13. YUSNIA ROSA LINDA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MUHAMMADIYAH


PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
PRINSEWU LAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis telah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk
menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah ditentukan.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan dan penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasa. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
pada umumnya.

Wassalamu’alikum Wr. Wb.

Pringsewu, Maret 2019


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 2
A. Konsep Dasar Penyakit ....................................................... 2
B. Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal ..................................... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 31
B. Saran ...................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium di dalam darah atau
produksi urin.

Penyakit gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit
serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri.
Penyakit gagal ginjal lebih sering dialami mereka yang berusia dewasa,
terlebih pada kaum lanjut usia.

Gagal ginjal dibagi menjadi dua bagian besar yakni gagal ginjal akut (acute
renal failure = ARF) dan gagal ginjal kronik (chronic renal failure = CRF).
Pada gagal ginjal akut terjadi penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba dalam
waktu beberapa hari atau beberapa minggu dan ditandai dengan hasil
pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin darah) dan kadar urea nitrogen
dalam darah yang meningkat. Sedangkan pada gagal ginjal kronis, penurunan
fungsi ginjal terjadi secara perlahan-lahan. Sehingga biasanya diketahui
setelah jatuh dalam kondisi parah. Gagal ginjal kronik tidak dapat
disembuhkan. Pada penderita gagal ginjal kronik, kemungkinan terjadinya
kematian sebesar 85 %.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu
memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien gagal
ginjal.

iv
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Penyakit Gagal Ginjal


1. Pengertian
Ginjal (renal) adalah organ tubuh yang memiliki fungsi utama untuk
menyaring dan membuang zat-zat sisa metabolisme tubuh dari darah dan
menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit (misalnya kalsium, natrium,
dan kalium) dalam darah. Ginjal juga memproduksi bentuk aktif dari
vitamin D yang mengatur penyerapan kalsium dan fosfor dari makanan
sehingga membuat tulang menjadi kuat. Selain itu ginjal memproduksi
hormon eritropoietin yang merangsang sumsum tulang untuk
memproduksi sel darah merah, serta renin yang berfungsi mengatur
volume darah dan tekanan darah.

Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat menjalankan
fungsinya secara normal. Pada kondisi normal, pertama-tama darah akan
masuk ke glomerulus dan mengalami penyaringan melalui pembuluh
darah halus yang disebut kapiler. Di glomerulus, zat-zat sisa metabolisme
yang sudah tidak terpakai dan beberapa yang masih terpakai serta cairan
akan melewati membran kapiler sedangkan sel darah merah, protein dan
zat-zat yang berukuran besar akan tetap tertahan di dalam darah. Filtrat
(hasil penyaringan) akan terkumpul di bagian ginjal yang disebut kapsula
Bowman. Selanjutnya, filtrat akan diproses di dalam tubulus ginjal. Di sini
air dan zat-zat yang masih berguna yang terkandung dalam filtrat akan
diserap lagi dan akan terjadi penambahan zat-zat sampah metabolisme lain
ke dalam filtrat. Hasil akhir dari proses ini adalah urin (air seni).

Gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit
serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu

v
sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering dialami mereka yang berusia
dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia.

Gagal ginjal dibagi menjadi dua bagian besar yakni gagal ginjal akut
(acute renal failure = ARF) dan gagal ginjal kronik (chronic renal failure
= CRF). Pada gagal ginjal akut terjadi penurunan fungsi ginjal secara tiba-
tiba dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu dan ditandai dengan
hasil pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin darah) dan kadar urea
nitrogen dalam darah yang meningkat. Sedangkan pada gagal ginjal
kronis, penurunan fungsi ginjal terjadi secara perlahan-lahan. Proses
penurunan fungsi ginjal dapat berlangsung terus selama berbulan-bulan
atau bertahun-tahun sampai ginjal tidak dapat berfungsi sama sekali (end
stage renal disease). Gagal ginjal kronis dibagi menjadi lima stadium
berdasarkan laju penyaringan (filtrasi) glomerulus (Glomerular Filtration
Rate = GFR) yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. GFR normal
adalah 90 - 120 mL/min/1.73 m2.
Stadium GFR (ml/menit/1.73m2) Deskripsi
Kerusakan minimal pada ginjal,
1 Lebih dari 90 filtrasi masih normal atau sedikit
meningkat
2 60-89 Fungsi ginjal sedikit menurun
3 30-59 Penurunan fungsi ginjal yang sedang
4 15-29 Penurunan fungsi ginjal yang berat
Gagal ginjal stadium akhir (End Stage
5 Kurang dari 15
Renal Disease)

2. Etiologi
Penyebab gagal ginjal akut dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar,
yaitu :
a. Penyebab prerenal, yakni berkurangnya aliran darah ke ginjal. Hal ini
dapat disebabkan oleh :
1) Hipovolemia (volume darah yang kurang), misalnya karena
perdarahan yang hebat.

vi
2) Dehidrasi karena kehilangan cairan, misalnya karena muntah-
muntah, diare, berkeringat banyak dan demam.
3) Dehidrasi karena kurangnya asupan cairan.
4) Obat-obatan, misalnya obat diuretic yang menyebabkan
pengeluaran cairan berlebihan berupa urin.
5) Gangguan aliran darah ke ginjal yang disebabkan sumbatan pada
pembuluh darah ginjal.

b. Penyebab renal di mana kerusakan terjadi pada ginjal


1) Sepsis: Sistem imun tubuh berlebihan karena terjadi infeksi
sehingga menyebabkan peradangan dan merusak ginjal.
2) Obat-obatan yang toksik terhadap ginjal.
3) Rhabdomyolysis: terjadinya kerusakan otot sehingga menyebabkan
serat otot yang rusak menyumbat sistem filtrasi ginjal. Hal ini bisa
terjadi karena trauma atau luka bakar yang hebat.
4) Multiple myeloma.
5) Peradangan akut pada glomerulus, penyakit lupus eritematosus
sistemik, Wegener's granulomatosis, dan Goodpasture syndrome.

c. Penyebab postrenal, di mana aliran urin dari ginjal terganggu


1) Sumbatan saluran kemih (ureter atau kandung kencing)
menyebabkan aliran urin berbalik arah ke ginjal. Jika tekanan
semakin tinggi maka dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan
ginjal menjadi tidak berfungsi lagi.
2) Pembesaran prostat atau kanker prostat dapat menghambat uretra
(bagian dari saluran kemih) dan menghambat pengosongan
kandung kencing.
3) Tumor di perut yang menekan serta menyumbat ureter.
4) Batu ginjal.

vii
Sedangkan penyebab gagal ginjal kronik antara lain:
a. Diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 yang tidak terkontrol dan
menyebabkan nefropati diabetikum.
b. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
c. Peradangan dan kerusakan pada glomerulus (glomerulonefritis),
misalnya karena penyakit lupus atau pasca infeksi.
d. Penyakit ginjal polikistik, kelainan bawaan di mana kedua ginjal
memiliki kista multipel.
e. Penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka lama atau
penggunaan obat yang bersifat toksik terhadap ginjal.
f. Pembuluh darah arteri yang tersumbat dan mengeras
(atherosklerosis) menyebabkan aliran darah ke ginjal berkurang,
sehingga sel-sel ginjal menjadi rusak (iskemia).
g. Sumbatan aliran urin karena batu, prostat yang membesar,
keganasan prostat.
h. Infeksi HIV, penggunaan heroin, amyloidosis, infeksi ginjal kronis,
dan berbagai macam keganasan pada ginjal.

3. Klasifikasi
Gagal ginjal kronik dibagi dalam 3 stadium
1. Stadium I
Penurunan cadangan ginjal, ditandai dengan kehilangan fungsi nefron
40-75%. Passion biasanya tidak mempunyai gejala, karena sisa nefron
yang ada dapat membawa fungsi-fungsi normal ginjal.
2. Stadium II  Insufisiensi ginjal
Kehilangan fungsi ginjal 75-90% pada tingkat ini terjadi kreatinin
serum dan nitrogen urea darah, ginjal kehilangan kemampuannya
untuk mengembangkan urin pekat dan azotemia
3. Stadium III  Payah gagal ginjal stadium akhir atau uremia
Tingkat renal dari GGK yaitu sisa nefron yang berfungsi <10%. Pada
keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan

viii
menyolok sekalisebagai respon terhadap GFR yang mengalami
penurunan sehingga terjadi ketidakseimbangan kadar ureum nitrogen
darah dan elektrolit, pasien diindikasikan untuk dialysis.

K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium


dari tingkat penurunan LFG:
1. Stadium 1
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan
LFG yang masih normal (>90 ml/menit/1,73 m2)
2. Stadium 2
Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-
89 mL/menit/1,73 m2
3. Stadium 3
Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73 m2
4. Stadium 4
Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 mL/menit/1,73 m2
5. Stadium 5
Kelainan ginjal dengan LFG < 15 mL/menit/1,73 m2 atau gagal
ginjal terminal.

4. Patofisiologi
a. Gagal ginjal akut dibagi dua tingkatan.
1) Fase mula
Ditandai dengan penyempitan pembuluh darah ginjal dan
menurunnya aliran darah ginjal, terjadi hipoperfusi dan
mengakibatkan iskemi tubulus renalis. Mediator vasokonstriksi
ginjal mungkin sama dengan agen neurohormonal yang meregulasi
aliran darah ginjal pada keadaan normal yaitu sistem saraf
simpatis, sistem renin - angiotensin , prostaglandin ginjal dan
faktor faktor natriuretik atrial. Sebagai akibat menurunnya aliran
darah ginjal maka akan diikuti menurunnya filtrasi glomerulus.

ix
2) Fase maintenance
Pada fase ini terjadi obstruksi tubulus akibat pembengkaan sel
tubulus dan akumulasi dari debris. Sekali fasenya berlanjut maka
fungsi ginjal tidak akan kembali normal walaupun aliran darah
kembali normal.Vasokonstriksi ginjal aktif merupakan titik
tangkap patogenesis gagal ginjal dan keadaan ini cukup untuk
mengganggu fungsi ekskresi ginjal. Macam-macam mediator aliran
darah ginjal tampaknya berpengaruh. Menurunnya cardiac output
dan hipovolemi merupakan penyebab umum oliguri perioperative.
Menurunnya urin mengaktivasi sistem saraf simpatis dan sistem
renin - angiotensin. Angiotensin merupakan vasokonstriksi
pembuluh darah ginjal dan menyebabkan menurunnya aliran darah
ginjal.

b. Gagal ginjal kronik


Pada gagal ginjal kronik , terjadi banyak nephron-nephron yang rusak
sehingga nephron yang ada tidak mampu memfungsikan ginjal secara
normal. Dalam keadaan normal, sepertiga jumlah nephron dapat
mengeliminasi sejumlah produk sisa dalam tubuh untuk mencegah
penumpukan di cairan tubuh. Tiap pengurangan nephron berikutnya,
bagaimanapun juga akan menyebabkan retensi produk sisa dan ion
kalium. Bila kerusakan nephron progresif maka gravitasi urin sekitar
1,008. Gagal ginjal kronik hampir selalu berhubungan dengan anemi
berat.

Pada gagal ginjal kronik filtrasi glomerulus rata-rata menurun dan


selanjutnya terjadi retensi air dan natrium yang sering berhubungan
dengan hipertensi. Hipertensi akan berlanjut bila salah satu bagian dari
ginjal mengalami iskemi. Jaringan ginjal yang iskemi mengeluarkan
sejumlah besar renin , yang selanjutnya membentuk angiotensin II, dan
seterusnya terjadi vasokonstriksi dan hipertensi.

x
5. Pathway

iskemia atau
nefrotoksin

penurunan alliran kerusakan sel tubulus kerusakan


darah glumerulus

↑ pelepasan NaCL ke obstruksi tubulus kebocoran filtrasi ↓ultrafiltrasi


aliran darah↓ makula densa glumerulus

Penurunan GFR

Gagal Ginjal respon


Akut psikologis
penurunan produksi urine kecemasan pemenuhan informasi

metaboli pd ↑ metabolik pada


retensi cairan deurisis ginjal ekskresi kalium ↓
ajringan otot↑ gastrointestinal

edema paru DX: defisit vol ketidak seimbangan keram otot↑ mual muntah
cairan elektrolit
DX: pola nafas tdk
PH pd kelemahan fisik intake nutrisi td
efektif
cairan hiperkalemi respon nyeri kadekuat
perfusi serebral serebro
spinal
kerusakan perubahan kondisi nyeri gangguan
elektrikal jantung ADL DX: pemenuhan
hantaran impuls
nutrisi ↓
saraf

defisit neurologik
risiko tinggi DX: resiko DX:curah jantung ↓
aritmia DX: intoleransi aktifitas
jantung

Arif Muttaqin, dkk. (2011).

xi
6. Manifestasi Klinis
Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan
ginjal, kondisi lain yang mendasari, dan usia pasien.
a. Kardiovaskuler
1) Pada gagal ginjal kronis mencakup hipertensi (akibat retensi cairan
dan natrium dari aktivasi system rennin-angiotensin-aldosteron)
2) Pitting edema (kaki, tangan, sakrum)
3) Edema periorbital
4) Gagal jantung kongestif
5) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih)
6) Pembesaran vena leher
7) Nyeri dada dan sesak napas akibat perikarditis (akibat iritasi pada
lapisan pericardial oleh toksin uremik), efusi pericardial, penyakit
jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan gagal
jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi
8) Gangguan irama jantung akibat aterosklerosis, gangguan elektrolit
dan kalsifikasi metastatic.

b. Dermatologi/integument :
1) Rasa gatal yang parah (pruritis) dengan ekskoriasis akibat toksin
uremik dan pengendapan kalsium di pori-pori kulit
2) Warna kulit abu-abu mengkilat akibat anemia dan kekuning-
kuningan akibat penimbunan urokrom
3) Kulit kering, bersisik
4) Ekimosis akibat gangguan hematologis
5) Kuku tipis dan rapuh
6) Rambut tipis dan kasar
7) Butiran uremic/urea frost (suatu penumpukan Kristal urea di kulit,
saat ini jarang terjadi akibat penanganan yang dini dan agresif pada
penyakit ginjal tahap akhir).

xii
c. Pulmoner
1) Krekels
2) Sputum kental dan liat
3) Napas dangkal
4) Pernapasan kussmaul
d. Gastrointestinal
1) Foetor uremik disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur
diubah oleh bakteri di mulut menjadi ammonia sehingga napas
berbau ammonia. Akibat lain adalah timbulnya stomatitis dan
parotitis
2) Ulserasi dan perdarahan pada mulut
3) Anoreksia, mual, muntah yang berhubungan dengan gangguan
metabolism di dalam usus, terbentuknya zat-zat toksik akibat
metabolism bakteri usus seperti ammonia dan metil guanidine,
serta sembabnya mukosa usus
4) Cegukan (hiccup) sebabnya yang pasti belum diketahui
5) Konstipasi dan diare
6) Perdarahan dari saluran GI (gastritis erosive, ulkus peptic, dan
colitis uremik)
e. Neurologi
1) Ensefalopati metabolic. Kelemahan dan keletihan, tidak bias tidur,
gangguan konsentrasi, tremor, asteriksis, mioklonus, kejang
2) Konfusi
3) Disorientasi
4) Kelemahan pada tungkai
5) Rasa panas pada telapak kaki
6) Perubahan perilaku
7) Burning feet syndrome. Rasa kesemutan dan seperti terbakar,
terutama di telapak kaki.

xiii
f. Muskuloskeletal
1) Kram otot
2) Kekuatan otot hilang
3) Fraktur tulang
4) Foot drop
5) Restless leg syndrome. Pasien merasa pegal pada kakinya sehingga
selalu digerakkan
6) Miopati. Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot
ekstremitas proksimal.
g. Reproduksi
1) Atrofi testikuler
2) Gangguan seksual: libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-
laki akibat produksi testosterone dan spermatogenesis yang
menurun. Sebab lain juga dihubungkan dengan metabolic tertentu
(seng, hormone paratiroid). Pada wanita timbul gangguan
menstruasi, gangguan ovulasi sampai amenore
h. Hematologi
1) Anemia, dapat disebabkan berbagai factor antara lain :
a. Berkurangnya produksi eritropoetin, sehingga rangsangan
eritropoesis pada sumsum tulang menurun
b. Hemolisis, akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam
suasana uremia toksik
c. Defisiensi besi, asam folat, dan lain-lain, akibat nafsu makan
yang berkurang
d. Perdarahan, paling sering pada saluran cerna dan kulit
e. Fibrosis sumsum tulang akibat hiperparatiroidisme sekunder
2) Gangguan perfusi trombosit dan trombositopenia. Mengakibatkan
perdarahan akibat agregasi dan adhesi trombosit yang berkurang
serta menurunnya factor trombosit III dan ADP (adenosine
difosfat)

xiv
3) Gangguan fungsi leukosit. Fagositosis dan kemotaksis berkurang,
fungsi limfosit menurun sehingga imunitas juga menurun
i. Endokrin
1) Gangguan metabolism glukosa, resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin<15
mL/menit), terjadi penurunan klirens metabolic insulin
menyebabkan waktu paruh hormone aktif memanjang. Keadaan ini
dapat menyebabkan kebutuhan obat penurun glukosa darah akan
berkurang
2) Gangguan metabolisme lemak
3) Gangguan metabolisme vitamin D
j. Sistem lain
1) Tulang: osteodistrofi renal, yaitu osteomalasia, osteitis fibrosa,
osteosklerosis, dan kalsifikasi metastatic
2) Asidosis metabolic akibat penimbunan asam organic sebagai hasil
metabolism
3) Elektrolit: hiperfosfatemia, hiperkalemia, hipokalsemia.

7. Pencegahan
Untuk mengurangi risiko gagal ginjal kronis, cobalah untuk:
a. Jika anda minum minuman beralkohol maka minumlah dengan tidak
berlebihan akan tetapi sebaiknya anda menghindarinya
b. Jika anda menggunakan obat tanpa resep yang dijual bebas. Ikuti
petunjuk yang ada pada kemasannya. Menggunakan obat dengan dosis
yang terlalu tinggi dapat merusak ginjal. Jika anda memiliki sejarah
keluarga dengan penyakit ginjal, tanyalah dokter anda obat apa yang
aman bagi anda
c. Jaga berat badan sehat anda dengan berolahraga rutin.
d. Jangan merokok dan jangan memulai untuk merokok
e. Kontrol kondisi medis anda dengan bantuan dokter jika kondisi
tersebut meningkatkan risiko gagal ginjal.

xv
8. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan
homeostasis selama mungkin. Adapun penatalaksaannya sebagai berikut :
a. Diet tinggi kalori dan rendah protein
Diet rendah protein (20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan
gejala anoreksia dan nausea dari uremia, menyebabkan penurunan
ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan berlebihan dari kalium
dan garam.
b. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.
Biasanya diusahakan hingga tekanan vena juga harus sedikit
meningkat dan terdapat edema betis ringan. Pada beberapa pasien,
furosemid dosis besar (250-1000 mg/hari) atau diuretic 100p
(bumetanid, asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan
cairan, sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium
klorida atau natrium bikarbonat oral. Pengawasan dilakukan melalui
berat badan, urine, dan pencatatan keseimbangan cairan (masukan
melebihi keluaran sekitar 500 ml).
c. Kontrol hipertensi
Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dengan hasil akhir gagal kiri
pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal, keseimbangan garam
dan cairan diatur tersendiri tanpa tergantung tekanan darah, sering
diperlukan diuretik loop, selain obat anti hipertensi.
d. Kontrol ketidaksemibangan elektrolit
Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk
mencegah hiperkalemia, dihindari masukan kalium yang besar (batasi
hingga 60 mmol/hari), diuretik hemat kalium, obat-obatan yang
berhubungan dengan eksresi kalium (misalnya penghambat ACE dan
obat anti inflamasi non steroid), asidosis berat, atau kekurangan garam
yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam
kaliuresis. Deteksi melalui kadar kalium plasma dan EKG.

xvi
Gejala-gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15
mmol/liter biasanya terjadi pada pasien yang sangat kekurangan garam
dan dapat diperbaiki secara spontan dengan dehidrasi. Namun
perbaikan yang cepat dapat berbahaya.
e. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang ginjal
Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti
alumunium hidroksida (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-
3000mg) pada setiap makan. Namun hati-hati dengan toksisitas obat
tertentu. Diberikan supplemen vitamin D dan dilakukan
paratiroidektomi atas indikasi.
f. Deteksi dini dan terapi infeksi
Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imuosupresif dan diterapi
lebih ketat.
g. Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal.
Banyak obat-obatan yang harus diturunkan dosisnya karena
metabolitnya toksik dan dikeluarkan oleh ginjal. Misalnya digoksin,
aminoglikosid, analgesic opiat, amfoterisin dan alupurinol. Juga obat-
obatan yang meningkatkan katabolisme dan ureum darah, misalnya
tetrasiklin, kortikosteroid dan sitostatik.
h. Deteksi dan terapi komplikasi
Awasi denagn ketat kemungkinan ensefelopati uremia, perikarditis,
neurepati perifer, hiperkalemia yang meningkat, kelebihan cairan yang
meningkat, infeksi yang mengancam jiwa, kegagalan untuk bertahan,
sehingga diperlukan dialysis.
i. Persiapan dialysis dan program transplantasi
Segera dipersiapkan setelah gagal ginjal kronik dideteksi. Indikasi
dilakukan dialysis biasanya adalah gagal ginjal dengan klinis yang
jelas meski telah dilakukan terapi konservatif atau terjadi
komplikasi.Komplikasi

xvii
9. Komplikasi
a. Gagal ginjal akut
1) Edema Paru-Paru
Edema paru-paru terjadi akibat terjadinya penimbunan cairan
serosa atau serosanguinosa yang berlebihan di dalam ruang
interstisial dan alveolus paru-paru. Hal ini timbul karena ginjal
tidak dapat mensekresi urine dan garam dalam jumlah cukup.
Sering kali edema paru-paru menyebabkan kematian.
2) Hiperkalemia
Komplikasi kedua adalah hiperkalemia (kadar kalium darah yang
tinggi).yaitu suatu keadaan dimana konsentrasi kalium darah lebih
dari 5 mEq/l darah. Perlu diketahui konsentrasi kalium yang tinggi
justru berbahaya daripada kondisi sebaliknya (konsentrasi kalium
rendah). Konsentrasi kalium darah yang lebih tinggi dari 5,5 mEq/l
dapat mempengaruhi system konduksi listrik jantung. Apabila hal
ini terus berlanjut, irama jantung menjadi tidak normal dan
jantungpun berhenti berdenyut.
b. Komplikasi Gagal Ginjal Kronis
Gagal ginjal kronis menyebabkan berbagai macam komplikasi.
Pertama, hiperkalemia, yang diakibatkan karena adanya penurunan
ekskresi asidosis metabolic. Kedua, perikardistis efusi pericardial dan
temponade jantung. Ketiga, hipertensi yang disebabkan oleh retensi
cairan dan natrium, serta mal fungsi system rennin angioaldosteron.
Keempat, anemia yang disebabkan oleh penurunan eritroprotein,
rentang usia sel darah merah, an pendarahan gastrointestinal akibat
iritasi. Kelima, penyakit tulang. Hal ini disebabkan retensi fosfat kadar
kalium serum yang rendah, metabolisme vitamin D, abnormal, dan
peningkatan kadar aluminium.

xviii
B. Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan pasien dan pengobatan sebelumnya
1) Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat
terapi apa, bagaimana cara minum obatnya
2) Apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk
menanggulangi penyakitnya.
b. Aktivitas/istirahat
1) Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise
2) Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)
3) Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
c. Sirkulasi
1) Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada
(angina)
2) Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada
kaki, telapak tangan.
3) Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang
jarang pada penyakit tahap akhir.
4) Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.
5) Kecenderungan perdarahan
d. Integritas ego
1) Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada
kekuatan.
2) Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan
kepribadian.
e. Eliminasi
1) Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap
lanjut)
2) Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
3) Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat,
oliguria.

xix
f. Makanan/cairan
1) Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan
(malnutrisi).
2) Anoreksia, nyeri ulu hati, mual / muntah, rasa metalik tak sedap
pada mulut ( pernapasan ammonia )
3) Penggunaan diuretik
4) Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
5) Perubahan turgor kulit/kelembaban.
6) Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.
g. Neurosensori
1) Sakit kepala, penglihatan kabur.
2) Kram otot / kejang, syndrome “kaki gelisah”, rasa terbakar pada
telapak kaki, kesemutan dan kelemahan, khususnya ekstremiras
bawah.
3) Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau,
penurunan tingkat kesadaran, stupor. Kejang, fasikulasi otot,
aktivitas kejang.
4) Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
h. Nyeri/kenyamanan
1) Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki.
2) Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah.
i. Pernapasan
1) Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan
banyak.
2) Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman. Batuk
dengan sputum encer (edema paru).
j. Keamanan
1) Kulit gatal
2) Ada / berulangnya infeksi
3) Pruritis

xx
4) Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi
peningkatan pada pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah
dari normal.
5) Ptekie, area ekimosis pada kulit
6) Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi
k. Seksualitas
Penurunan libido, amenorea, infertilitas
l. Interaksi sosial
Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja,
mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
m. Penyuluhan / Pembelajaran
1) Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik,
nefritis heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi.
2) Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
3) Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.

2. Analisa Data

Data Etiologi Masalah keperawatan


DS: - CKD Kelebihan volume cairan
DO: ↓
- Pasien tampak cemas Retensi Na
dan gelisah ↓
- Perubahan Tekanan Payah jantung kiri

Darah (170/100
COP turun
mmHg) ↓
- Penurunan Hb (8,5 Aliran darah ginjal turun
mg/dl) dan Ht ↓
(29,3%) Gangguan RAA
- Edema pada tungkai ↓
(derajat 3) Retensi H2O dan Na naik

- Sesak tanpa aktifitas
Kelebihan volume
- Ketidakseimbangan cairan
elektrolit
Hipernatremia (176
mmol/dl)

xxi
Hiperkalemia (6,2
mmol/dl)
Hiperkloremia (120
mmol/dl)
- Penambahan berat
badan secara drastis
BB pre edema :
65kg
BB post edema :
69kg
- Oliguria (300 cc/24
jam)
DS : - CKD Resiko
DO: ↓ ketidakseimbangan
- Ketidakseimbangan Gangguan aldosteron eletrolit
elektrolit ↓
Hipernatremia (176 Sekresi kalium dan
mmol/dl) absorpsi natrium
Hiperkalemia (6,2 terganggu
mmol/dl) ↓
Hiperkloremia (120 Reabsorpsi air
mmol/dl) ↓
Kembali ke dalam darah

Resiko
ketidakseimbangan
elektrolit
DS : CKD Gangguan Pertukaran
Klien mengatakan ↓ Gas
dadanya sesak saat Retensi Na
beraktifitas ↓
DO: Payah jantung kiri
- BGA pasien: ↓
PH: 7.15 Bendungan atrium kiri
pCO2 40 naik
HCO3 18 ↓
SaO2 90% Tekanan vena pulmonalis
(Asidosis Metabolis) ↓
- Takipnea (RR: Kapiler paru naik
28x/menit) ↓
Edema paru
- Takikardi (TD:

170/100mmHg) Gangguan pertukaran
- Hb rendah (8,5 mg/dl) gas
- Ht rendah (29,3%)

xxii
DS: CKD Mual
Klien mengeluh mual ↓
DO: Gg.sekresi protein
- Klien tidak nafsu ↓
terhadap makanan Sindroma uremia
- Klien mual ↓
Gg.asam basa

As.lambung naik

Mual
DS : CKD Nyeri akut
Klien mengatakan nyeri ↓
di punggung kanan Retensi Na
DO: ↓
- Perubahan tonus otot Payah jantung kiri
(badan terasa lemah) ↓
- Perubahan Tekanan COP turun

Darah 170/100
Suplai O2 jaringan turun
mmHg ↓
- Ekspresi klien gelisah Metabolisme anaerob

Timbunan as.laktat naik

Fatigue,nyeri sendi

Nyeri akut
DS: CKD Intoleransi aktivitas
- Klien mengeluh ↓
sesak tanpa Retensi Na
melakukan aktifitas ↓
Payah jantung kiri
- Klien mengatakan

tubuhnya merasa COP turun
lemah ↓
DO: Suplai O2 jaringan turun
- Peningkatan Tekanan ↓
darah 170/100 mmHg Metabolisme anaerob
- Sesak tanpa ↓
melakukan aktifitas Timbunan as.laktat naik

Fatigue,nyeri sendi

Intoleransi aktivitas

xxiii
3. Diagnosa Keperawatan
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan
melemah
b. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan disfungsi
renal
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane
kapiler paru
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sirkulasi
e. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury
f. Mual berhubungan dengan paparan toksin
g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan ketidak-
seimbangan suplay oksigen

4. Rencana Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No. Intervensi
Keperawatan Hasil
1. Kelebihan NOC: NIC:
volume cairan Fluid balance Fluid Management:
berhubungan Tujuan : 1. Pertahankan intake dan
dengan Setelah dilakukan output secara akurat
mekanisme tindakan keperawatan 2. Kolaborasi dalam
pengaturan selama 3x24 jam
pemberian diuretik
melemah kelebihan volume cairan
teratasi dengan kriteria: 3. Batasi intake cairan pada
1. Tekanan darah hiponatremi dilusi dengan
2. Nilai nadi radial dan serum Na dengan jumlah
perifer kurang dari 130 mEq/L
3. MAP 4. Atur dalam pemberian
4. CVP produk darah (platelets
5. Keseimbangan intake dan fresh frozen plasma)
dan output dalam 24 5. Monitor status hidrasi
jam (kelembaban membrane
6. Kestabilan berat mukosa, TD ortostatik,
badan dan keadekuatan dinding
7. Serum elektrolit nadi)
8. Hematokrit 6. Monitor hasil
laboratorium yang

xxiv
9. Asites berhubungan dengan
10. Edema perifer retensi cairan
(peningkatan kegawatan
spesifik, peningkatan
BUN, penurunan
hematokrit, dan
peningkatan osmolalitas
urin)
7. Monitor status
hemodinamik (CVP,
MAP, PAP, dan PCWP)
jika tersedia
8. Monitor tanda vital

Hemodialysis Therapy:
1. Timbang BB sebelum dan
sesudah prosedur
2. Observasi terhadap
dehidrasi, kram otot dan
aktivitas kejang
3. Observasi reaksi tranfusi
4. Monitor TD
5. Monitor BUN,Creat,
HMT danelektrolit
6. Monitor CT

Peritoneal Dialysis Therapy:


1. Jelaskan prosedur dan
tujuan
2. Hangatkan cairan dialisis
sebelum instilasi
3. Kaji kepatenan kateter
4. Pelihara catatan volume
inflow/outflow dan
keseimbangan cairan
5. Kosongkan bladder
sebelum insersi peritoneal
kateter
6. Hindari peningkatan stres
mekanik pada kateter
dialisis peritoneal (batuk)

xxv
7. Pastikan penanganan
aseptik pada kateter dan
penghubung peritoneal
8. Ambil sampel
laboratorium dan periksa
kimia darah (jumlah
BUN, serum kreatinin,
serum Na, K, dan PO4)
9. Cek alat dan cairan sesuai
protokol
10. Kelola perubahan dialysis
(inflow, dwell, dan
outflow) sesuai protokol
11. Ajarkan pasien untuk
memonitor tanda dan
gejala yang mebutuhkan
penatalaksanaan medis
(demam, perdarahan, stres
resipratori, nadi irreguler,
dan nyeri abdomen)
12. Ajarkan prosedur kepada
pasien untuk diterapkan
dialisis di rumah.
13. Monitor TD, nadi, RR,
suhu, dan respon klien
selama dialisis
14. Monitor tanda infeksi
(peritonitis)
2. Resiko NOC: NIC:
ketidakseimba Electrolyte Balance Electrolyte Management
ngan elektrolit Tujuan: 1. Berikan cairan sesuai
berhubungan Setelah dilakukan asuhan resep, jika diperlukan
dengan selama 3x24 jam 2. Pertahankan keakuratan
disfungsi ketidakseimbangan
intake dan output
renal elektrolit teratasi dengan
kriteria hasil: 3. Berikan elektrolit
1. Peningkatan sodium tambahan sesuai resep
2. Peningkatan jika diperlukan
potassium 4. Konsultasikan dengan
3. Peningkatan klorida dokter tentang pemberian
obat elektrolit-sparing

xxvi
(misalnya spiranolakton),
yang sesuai
5. Berikan diet yang tepat
untuk ketidakseimbangan
elektrolit pasien
6. Anjurkan pasien dan /
atau keluarga pada
modifikasi diet tertentu,
sesuai
7. Pantau tingkat serum
potassium dari pasien
yang memakai digitalis
dan diuretik
8. Atasi aritmia jantung
9. Siapkan pasien untuk
dialisis
10. Pantau elektrolit serum
normal
11. Pantau adanya
manifestasi dari
ketidakseimbangan
elektrolit
3. Gangguan NOC: NIC:
pertukaran Respiration status: Gas Oxygen Therapy
gas Exchange 1. Pertahankan kepatenan
berhubungan jalan napas
dengan Tujuan: 2. Kelola pemberian oksigen
perubahan Setelah dilakukan
tambahan sesuai resep
membran keperawatan selama 2x24
kapiler paru jam klien Gangguan 3. Anjurkan pasien untuk
pertukaran gas teratasi mendapatkan resep
dengan kriteria hasil: oksigen tambahan
1. Tekanan oksigen di sebelum perjalanan udara
darah arteri (PaO2) atau perjalanan ke dataran
2. Tekan karbondioksida tinggi yang sesuai
di darah arteri 4. Konsultasi dengan tenaga
(PaCO2) kesehatan lain mengenai
3. PH arterial penggunaan oksigen
4. Saturasi oksigen tambahan saat aktivitas
dan/atau tidur

xxvii
5. Keseimbangan perfusi 5. Pantau efektivitas terapi
ventilasi oksigen (pulse oximetry,
6. Sianosis BGA)
6. Observasi tanda pada
oksigen yang disebabkan
hipoventilasi
7. Monitor aliran oksigen
liter
8. Monitor posisi dalam
oksigenasi
9. Monitor tanda-tanda
keracunan oksigen dan
atelektasis
10. Monitor peralatan oksigen
untuk memastikan bahwa
tidak mengganggu pasien
dalam bernapas
4. Kerusakan NOC: NIC:
integritas kulit Tissue Integrity : Skin Pressure Management
berhubungan and Mucous membrane Anjurkan klien untuk
dengan menggunakan pakaian yang
gangguan Tujuan : longgar.
sirkulasi Setelah dilakukan 1. Hindari kerutan pada
tindakan keperawatan tempat tidur
selama 3x24 jam 2. Jaga kebersihan kulit agar
kerusakan integritas klien
tetap bersih dan kering
teratasi dengan criteria
hasil : 3. Mobilisasi klien akan
1. Elastisitas adanya kemerahan
2. Hidrasi 4. Oleskan lotion atau
3. Perfusi jaringan minyak baby oil pada
4. Integritas kulit daerah yang tertekan
5. Abnormal pigmentasi 5. Memandikan klien
6. Lesi pada kulit dengan sabun dan air
7. Lesi membran hangat
mukosa 6. Ajarkan pada keluarga
tentang luka dan
perawatan luka
7. Kolaborasi ahli gizi
pemberian diet TKTP,
vitamin

xxviii
8. Cegah kontaminasi feses
dan urin
9. Berikan posisi yang
mengurangi tekanan pada
luka.
10. Observasi luka: lokasi,
dimensi, kedalaman luka,
karakteristik warna
cairan, granulasi, jaringan
nekrotik, tanda-tanda
infeksi local, formasi
traktus
11. Monitor aktivitas dan
mobilitas klien
12. Monitor status nutrisi
klien
5. Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan Pain Control Pain Management
dengan agen Setelah dilakukan asuhan 1. Tentukan dampak nyeri
injury selama 2x24, nyeri terhadap kualitas hidup
teratasi dengan kriteria klien (misalnya tidur,
hasil:
nafsu makan, aktivitas,
1. Kenali awitan nyeri
kognitif, suasana hati,
2. Jelaskan faktor
hubungan, kinerja kerja,
penyebab nyeri
dan tanggung jawab
3. Gunakan obat
peran).
analgesik dan non
2. Kontrol faktor lingkungan
analgesik
yang mungkin
4. Laporkan nyeri yang
menyebabkan respon
terkontrol
ketidaknyamanan klien
(misalnya temperature
ruangan, pencahayaan,
suara).
3. Pilih dan terapkan
berbagai cara
(farmakologi,
nonfarmakologi,
interpersonal) untuk
meringankan nyeri.

xxix
4. Observasi tanda-tanda
non verbal dari
ketidaknyamanan,
terutama pada klien yang
mengalami kesulitan
berkomunikasi.
6. Mual NOC: NIC:
berhubungan Nausea and Vomitting Nausea Management
dengan Control 1. Dorong pasien untuk
paparan Tujuan: memantau mual secara
toksin Setelah dilakukan sendiri
tindakan keperawatan
2. Dorong pasien untuk
selama 2x24 jam mual
teratasi dengan kriteria mempelajari strategi
hasil: untuk mengelola mual
1. Mengenali awitan sendiri
mual 3. Lakukan penilaian
2. Menjelaskan faktor lengkap mual, termasuk
penyebab frekuensi, durasi, tingkat
3. Penggunaan anti keparahan, dengan
emetik menggunakan alat-alat
seperti jurnal perawatan,
skala analog visual, skala
deskriptif duke dan indeks
rhodes mual dan muntah
(INV) bentuk 2.
4. Identifikasi pengobatan
awal yang pernah
dilakukan
5. Evaluasi dampak mual
pada kualitas hidup.
6. Pastikan bahwa obat
antiemetik yang efektif
diberikan untuk
mencegah mual bila
memungkinkan.
7. Identifikasi strategi yang
telah berhasil
menghilangkan mual
8. Dorong pasien untuk
tidak mentolerir mual tapi

xxx
bersikap tegas dengan
penyedia layanan
kesehatan dalam
memperoleh bantuan
farmakologis dan
nonfarmakologi
9. Promosikan istirahat yang
cukup dan tidur untuk
memfasilitasi bantuan
mual
10. Dorong makan sejumlah
kecil makanan yang
menarik bagi orang mual
11. Bantu untuk mencari dan
memberikan suport
emosional
7. Intoleransi NOC: NIC:
aktivitas Activity Tolerance Activity Therapy
berhubungan Tujuan 1. Kolaborasikan dengan
dengan Setelah dilakukan Tenaga Rehabilitasi
gangguan keperawatan selama 3x24 Medik dalam
ketidakseimba jam pasien bertoleransi
merencanakan program
ngan suplay terhadap aktivitas
oksigen Kriteria hasil: terapi yang tepat.
1. Saturasi Oksigen saat 2. Bantu klien untuk
aktivitas mengidentifikasi aktivitas
2. Nadi saat aktivitas yang mampu dilakukan
3. RR saat aktivitas 3. Bantu untuk memilih
4. Tekanan darah sistol aktivitas konsisten yang
dan diastol saat sesuai dengan
istirahat kemampuan fisik,
5. Mampu melakukan psikologi dan social
aktivitas sehari-hari 4. Bantu untuk
(ADLs) secara mengidentifikasi dan
mandiri mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
5. Bantu untuk mendapatkan
alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek.

xxxi
6. Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
7. Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
8. Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
9. Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
10. Observasi adanya
pembatasan klien dalam
melakukan aktivitas.
11. Monitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
12. Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan
13. Monitor respon
kardiovaskular terhadap
aktivitas (takikardia,
disritmia, sesak nafas,
diaphoresis, pucat,
perubahan hemodinamik)
14. Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien
15. Monitor responfisik,
emosi, social dan
spiritual.

xxxii
5. Implementasi
Melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah di rencanakan
dan di lakukan sesuai dengan kebutuhan klien/pasien tergantung pada
kondisinya. Sasaran utama pasien meliputi peredaan nyeri, mengontrol
ansietas, pemahaman dan penerimaan penanganan, pemenuhan aktivitas
perawatan diri, termasuk pemberian obat, pencegahan isolasi sosial, dan
upaya komplikasi.

6. Evaluasi
Melakukan pengkajian kembali untuk mengetahui apakah semua tindakan
yang telah dilakukan dapat memberikan perbaikan status kesehatan
terhadap klien sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan.

xxxiii
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Ginjal (renal) adalah organ tubuh yang memiliki fungsi utama untuk
menyaring dan membuang zat-zat sisa metabolisme tubuh dari darah dan
menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit (misalnya kalsium, natrium,
dan kalium) dalam darah.
2. Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat menjalankan
fungsinya secara normal.
3. Gagal ginjal dibagi menjadi dua bagian besar yakni gagal ginjal akut
(acute renal failure = ARF) dan gagal ginjal kronik (chronic renal failure =
CRF). Pada gagal ginjal akut terjadi penurunan fungsi ginjal secara tiba-
tiba dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu dan ditandai dengan
hasil pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin darah) dan kadar urea
nitrogen dalam darah yang meningkat. Sedangkan pada gagal ginjal
kronis, penurunan fungsi ginjal terjadi secara perlahan-lahan. Proses
penurunan fungsi ginjal dapat berlangsung terus selama berbulan-bulan
atau bertahun-tahun sampai ginjal tidak dapat berfungsi sama sekali (end
stage renal disease).

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu :
1. Persiapan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan tindakan asuhan
keperawatan
2. Bagi mahasiswa diharapkan bisa melaksakan tindakan asuhan
keperawatan sesuai prosedur yang ada.

xxxiv
DAFTAR PUSTAKA

Alam, Syamsir dan Hadibroto, Iwan. 2017. Gagal Ginjal. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama

Aziz, M. Farid, dkk. 2008. Panduan Pelayanan Medik: Model Interdisiplin


Penatalaksanaan kanker Serviks dengan Gangguan Ginjal.

Baradero, Mary, dkk. 2015. Klien Gangguan Ginjal: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC

Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser.


2000. Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC

Faiz, Omar dan Moffat, David. 2014. Anatomy at a Glance. Jakarta: Penerbit
Erlangga

Ignatavicius, DD,. & Workman. L,. (2016). Medical surgical nursing, critical
thinking for collaborative care. Elsevier Saunders.

James, Joyce, dkk. 2012. Prinsip-prinsip Sains untuk Keperawatan. Jakarta:


Penerbit Erlangga

O’Callaghan, Chris. 2012. At A Glance Sistem Ginjal Edisi Kedua. Jakarta:


Erlangga.

Smeltzer, S.S.B. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B,.Alwi, I., Simadibrata, M., & Setiati, S. (Ed). 2014.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (Edisi 4). Jilid II. Jakarta: Pusat
Penerbitan Penyakit Dalam FKUI

Suwitra, Ketut. 2017. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan
IPD FKUI.

xxxv