Anda di halaman 1dari 20

TUGAS PRAKTIKUM

COMPOUNDING & DISPENSING


“DYSPEPSIA”

Disusun Oleh :
Suci Tri Anggraeni 1920374178 (Apoteker
Syafitri Anggriyani Abidin 1920374179 (Pasien)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Swamedikasi merupakan salah satu elemen penting dalam usaha peningkatan kesehatan
masyarakat. Definisi swamedikasi menurut Departemen Kesehatan (Depkes) (1993) adalah
upaya seseorang dalam mengobati gejala penyakit tanpa konsultasi dengan dokter terlebih
dahulu. Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan
keterjangkauan pengobatan, dan biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan
penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat seperti demam, nyeri, pusing, batuk,
influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit, dan lain-lain.
Swamedikasi yang baik dan bertanggungjawab dapat memberikan banyak manfaat
bagi pasien. Selain dari efek produk obat yang digunakan pasien, pasien akan mendapatkan
ketersediaan obat dan perawatan kesehatan yang lebih luas. Peran aktif pasien dalam perawatan
kesehatannya sendiri juga akan meningkat. Secara ekonomi, petunjuk atau guideline dari
World Health Organization (WHO) tahun 2000 menyatakan bahwa swamedikasi juga
memberikan manfaat, karena dapat mengurangi biaya konsultasi medis pasien. Maka dari itu,
biaya medis pasien dapat lebih difokuskan kepada produk farmasi yang digunakan untuk
merawat kesehatannya.
Pasar produk farmasi secara keseluruhan merupakan salah satu pasar yang cukup besar.
Total pasar farmasi di Indonesia mencapai 7,6 miliar dolar AS (Pharma Boardroom, 2013).
Tingginya angka ini merupakan indikator bahwa bisnis farmasi merupakan salah satu bidang
yang cukup tinggi aktivitasnya. Tiga puluh delapan persen dari pasar tersebut merupakan
produk obat bebas atau Over-The-Counter (OTC) (World Bank, 2009). Banyak sekali variasi
produk obat bebas yang dapat ditemukan di Indonesia, mulai dari suplemen makanan hingga
obat untuk gejala-gejala penyakit ringan.
Salah satu praktek swamedikasi yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia adalah
swamedikasi untuk pengobatan gejala dyspepsia. Dyspepsia merupakan sindrom atau
kumpulan gejala atau keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati,
kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut rasa penuh atau begah.
Swamedikasi memiliki posisi penting dalam usaha peningkatan kesehatan masyarakat.
Diperlukan adanya peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri,
sehingga nantinya kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya dapat
ditingkatkan. Swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan atau
medication error karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya,
maka dari itu apoteker dituntut untuk dapat memberi informasi yang tepat kepada masyarakat
guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyalahgunaan obat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Dyspepsia?
2. Apa etiologi dari Dyspepsia?
3. Bagaimana patofisiologi Dyspepsia?
4. Bagaiman penatalaksanaan Dyspepsia?
5. Bagaimana contoh penerapan swamedikasi Dyspepsia?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi Dyspepsia
2. Mengetahui etiologi Dyspepsia
3. Mengetahui patofisiologi Dyspepsia
4. Mengetahui penatalaksanaan Dyspepsia
5. Mengetahui contoh penerapan swamedikasi Dyspepsia
BAB II
ISI

A. Definisi
Dispepsia merupakan sindrom atau kumpulan gejala atau keluhan yang terdiri dari nyeri
atau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut
rasa penuh atau begah. (Djojoningrat, 2007) Berdasarkan penyebab dan keluhan gejala yang
timbul maka dispepsia dibagi 2 yaitu dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dispepsia
organik apabila penyebab dispepsia sudah jelas, misalnya adanya ulkus peptikum, karsinoma
lambung, dan cholelithiasis yang bisa ditemukan secara mudah melalui pemeriksaan klinis,
radiologi, biokimia, laboratorium, maupun gastroentrologi konvensional (endoskopi).
Sedangkan dispepsia fungsional apabila penyebabnya tidak diketahui atau tidak didapati
kelainan pada pemeriksaan gastroenterologi konvensional atau tidak ditemukan adanya
kerusakan organik dan penyakit-penyakit sistemik (Djojoningrat, 2007).

Dalam klinik tidak jarang para dokter menyamakan dispepsia dengan gastritis. Hal ini
sebaiknya dihindari karena gastritis adalah suatu diagnosa patologik, dan tidak semua dispepsia
disebabkan oleh gastritis dan tidak semua kasus gastritis yang terbukti secara patologi anatomik
disertai gejala dispepsia. Karena dispepsia dapat disebabkan oleh banyak keadaan maka dalam
menghadapi sindrom klinik ini penatalaksanaannya seharusnya tidak seragam. (Tack, 2006)

B. Etiologi
Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit baik yang bersifat organik dan
fungsional. Penyakit yang bersifat organik antara lain karena terjadinya gangguan di saluran
cerna atau di sekitar saluran cerna, seperti pankreas, kandung empedu dan lain-lain. Sedangkan
penyakit yang bersifat fungsional dapat dipicu karena faktor psikologis dan faktor intoleran
terhadap obat-obatan dan jenis makanan tertentu (Abdullah dan Gunawan, 2012). Faktor-faktor
yang menyebabkan dispepsia (Rani, 2011) adalah :

1. Gangguan pergerakan (motilitas) piloroduodenal dari saluran pencernaan bagian atas


(esofagus, lambung dan usus halus bagian atas)
2. Menelan terlalu banyak udara atau mempunyai kebiasaan makan salah (mengunyah
dengan mulut terbuka atau berbicara).
3. Menelan makanan tanpa dikunyah terlebih dahulu dapat membuat lambung terasa
penuh atau bersendawa terus.
4. Mengkonsumsi makanan/minuman yang bisa memicu timbulnya dispepsia, seperti
minuman beralkohol, bersoda (soft drink), kopi. Minuman jenis ini dapat mengiritasi
dan mengikis permukaan lambung.
5. Obat penghilang nyeri seperti Nonsteroid Anti Inflamatory Drugs (NSAID) misalnya
aspirin, Ibuprofen dan Naproven.
6. Pola makan Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak sehingga bila tidak
sarapan,lambung akan lebih banyak memproduksi asam. Tuntutan pekerjaan yang
tinggi, padatnya lalu lintas, jarak tempuh rumah dan kantor yang jauh dan persaingan
yang tinggi sering menjadi alasan para profesional untuk menunda makan

C. Patofisiologi

Faktor genetik

Genetik merupakan faktor predisposisi pada penderita gangguan gastrointestinal


fungsional. Faktor genetik dapat mengurangi jumlah sitokin antiinflamasi. Penurunan
sitokin antiinflamasi dapat meyebabkan peningkatan sensitisasi pada usus. Selain itu
polimorfisme genetik berhubungan dengan protein dari sistem reuptake synaptic
serotonin serta reseptor polimorfisme alpha adrenergik yang mempengaruhi motilitas
dari usus.

Faktor psikososial

Penyelidikan atas pengaruh psikososisal mengungkapkan bahwa stres adalah faktor


yang mempengaruhi dispepsia fungsional. Emosional yang labil memberikan
kontribusi terhadap perubahan fungsi gastrointestinal. Hal ini akibat dari pengaruh
pusat di enterik. Stres adalah faktor yang diduga dapat mengubah gerakan dan aktivitas
sekresi traktus gastrointestinal melalui mekanisme neuroendokrin.

Pengaruh Flora Bakteri

Infeksi Helicobacter pylori (Hp) mempengaruhi terjadinya dispepsia fungsional.


Penyelidikan epidemiologi menunjukkan kejadian infeksi Hp pada pasien dengan
dispepsia cukup tinggi, walaupun masih ada perbedaan pendapat mengenai pengaruh
Hp terhadap dispepsia fungsional. Diketahui bahwa Hp dapat merubah sel
neuroendokrin lambung. Sel neuroendokrin menyebabkan peningkatan sekresi
lambung dan menurunkan tingkat somatostatin.

Gangguan motilitas dari saluran pencernaan

Stres mengakibatkan gangguan motilitas gastrointestinal. Pada pasien dispepsia


fungsional terjadi gangguan motilitas dibandingkan dengan kontrol yang sehat, dari 17
penelitian kohort yang di teliti pada tahun 2000 menunjukkan keterlam-batan esensial
dari pengosongan lambung pada 40% pasien dispepsia fungsional. Gastric scintigraphy
ultrasonography dan barostatic measure menunjukkan terganggunya distribusi
makanan didalam lambung, dimana terjadi akumulasi isi lambung pada perut bagian
bawah dan berkurangnya relaksasi pada daerah antral. Dismolitas duodenum adalah
keadaan patologis yang dapat terjadi pada dispepsia fungsional, dimana terjadi
gangguan aktivitas mioelektrikal yang merupakan pengatur dari aktivitas gerakan
gastrointestinal.
Diagnosa Dispepsia

Untuk menegakkan diagnosis dispepsia, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan laboratorium sederhana dan pemeriksaan tambahan, seperti pemeriksaan
radiologis dan endoskopi. Pada anamnesis, ada tiga kelompok besar pola dispepsia yang
dikenal yaitu :
1) Dispepsia tipe seperti ulkus (gejalanya seperti terbakar, nyeri di epigastrium terutama
saat lapar/epigastric hunger pain yang reda dengan pemberian makanan, antasida dan
obat antisekresi asam).
2) Dispepsia tipe dismotilitas (dengan gejala yang menonjol yaitu mual, kembung dan
anoreksia).
3) Dispepsia non spesifik
Tidak semua pasien dispepsia dilakukan pemeriksaan endoskopi dan banyak pasien
yang dapat ditatalaksana dengan baik tanpa pengobatan sehingga diagnosis secara klinis
agak terbatas kecuali bila ada alarm sign.
D. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Non Farmakologi

Perubahan gaya hidup

a. Menghindari makanan berminyak atau yang digoreng


b. Menghindari makan dalam porsi banyak,
c. Minum banyak air ketika makan
d. Mengatur jadwal makan
e. Konsumsi makanan berserat
f. Menghindari makan tergesa-gesa
g. Menghindari makanan dengan bumbu yang berlebihan, pedas dan asam.
h. Menghentikan merokok dan minum minuman keras
i. Mempertahankan bobot tubuh yang ideal
j. Hindari langsung tidur 2-3 jam setelah makan
k. Mengendalikan tingkat stress,
l. Olahraga teratur

Pengobatan

a. Konsumsi Pisang kapok kuning setiap pagi siang dan sore teratur.
b. Yoghurt
Asam yang terbentuk dalam yoghurt adalah asam laktat yang malah berfungsi
untuk menutupi luka yang ada di dinding lambung. Selain itu bakteri asam laktat
dalam yoghurt mampu membentuk asam organic, hydrogen peroksida dan
bakteriosin yang bersifat mikrosidal atau mematikan mikroba lain. Rasa asam
yoghurt tidak akan merangsang produksi berlebihan asam lambung dan
meningkatkan iritasi pada lambung. Perut manusia, terutama lambung,
mempunyai pH 1, sedangkan yogurt memiliki pH 4, jadi yogurt cukup aman
bagi lambung. Dalam literatur dikatakan bahwa salah satu manfaat yoghurt
adalah justu mengobati penyakit maag, menyembuhkan luka pada dinding
lambung. Para penelitit melaporkan dalam American Journal of Clinical
Nutrition bahwa mengkonsumsi yoghurt yang mengandung bakteri
menguntungkan, Lacobacillus dan bifidobacterium, secara signifikan akan
menurunkan jumlah Helicobacter Pylori, bakteri penyebab penyakit tukak
lambung.
c. Jahe
Jahe digunakan untuk mengobati dispepsia, kolik, diare, demam dan flu serta
kurang nafsu makan. Uji klinis juga menunjukkan bahwa sediaan jahe
mencegah mual dan muntah pada wanita hamil. Komponen kimia utama pada
jahe segar adalah keton fenolik homolog yang dikenal sebagai gingerol

2. Penalaksanaan Farmakologi
1. Antasida

Komposisi Alumunium hidroksida 200 mg

Magnesium hidroksida 200 mg

Indikasi Obat sakit maag untuk mengurangi nyeri


lambung yang disebabkan oleh kelebihan
asam lambung

Cara Pemakaian Diminum antara waktu makan dan tidur


malam, atau pada saat penyakit kambuh
Sebaiknya diminum 2 jam sebelum mkan

Dosis Tablet : 1-2 tablet

Sirup : 5-10 ml atau 1-2 sendok takar 5 ml

Peraingatan/Perhatian -

Kontra indikasi -

Efek Samping  Kadang-kadang terjadi konstipasi, diare


Mual, muntah
 Hypophostemia dan osteomalacia (pada
pemberian dosis besar untuk jangka
lama dan bila kadar phosphate rendah)
 Dialysis dementis (pada pemberian
jangka panjang pada pasien dialisis)
Petunjuk lain Simpan pada suhu dibawah 30°C,
terlindung dari cahaya

Contoh Merek dagang/paten Antasida + simeticone : promag, mylanta,


polycrol

Antasida + dimetilpoliksiloksan : polysilane

3. Ranitidn

Komposisi Ranitidine HCl

Indikasi Terapi jangka pendek dan pemeliharaan


untuk tukak lambung, tukak duodenum,
active benign ulcer, refluks gastroesofagus
(GERD), esofagitis erosif, kondisi
hipersekresi patologis.

Potensi Tablet: 75 mg, 150 mg Kaplet: 300 mg


Sirup: 75 mg/5ml (60 ml, 100 ml, 150 ml)
Pemberian maksimal 10 tablet 150 mg
Peringatan  Gunakan dengan hati-hati pada
pasien dengan gangguan fungsi hati.
 dibutuhkan penyesuaian dosis pada
pasien dengan gangguan fungsi
ginjal.
 hindari penggunaan pada pasien
dengan sejarah porfiria akut (dapat
memicu serangan).
 terapi jangka panjang mungkin
berhubungan dengan defisiensi
vitamin B12
 keamanan dan efikasi belum
ditetapkan untuk pasien anak-anak
usia <1 bulan.
 Tidak disarankan untuk ibu hamil
dan anak

Kontraindikasi Hipersensitif

Efek Samping bradikardi, premature ventricular beats,


takikardia, agitasi, pusing, depresi,
halusinasi, sakit kepala, insomnia, malaise,
bingung mental, vertigo, Alopecia,
erythema multiforme, ruam, meningkat
kadar prolaktin, nyeri abdominal,
konstipasi, diarrhea, nausea, pancreatitis,
muntah.

Cara pemakaian Per Oral, obat diminum sebelum makan

Efek Samping  Kadang-kadang terjadi konstipasi,


diare Mual, muntah
 Hypophostemia dan osteomalacia
(pada pemberian dosis besar untuk
jangka lama dan bila kadar
phosphate rendah)
 Dialysis dementis (pada pemberian
jangka panjang pada pasien dialisis)

Faktro Resiko Kehamilan Katagori kehamilan B

Petunjuk Lain  Sirup disimpan pada suhu antara 4°-


25°C, terlindung dari cahaya.
 Tablet disimpan di tempat kering
pada suhu antara 15°- 30°C,
terlindung dari sinar matahari secara
langsung.

Contoh Merek dagang/paten Radin, Anitid, fordin

4. Famotidin

Komposisi Famotidin

Indikasi Tukak labung, tukak duodenum, refluks


esofagitis, hipersekresi patologis (misal:
sindrom Zollinger Ellison)

Peringatan  Gunakan dengan hati-hati pada pasien


dengan gangguan fungsi hati.
 dibutuhkan penyesuaian dosis pada
pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
 hindari penggunaan pada pasien dengan
sejarah porfiria akut (dapat memicu
serangan).
 terapi jangka panjang mungkin
berhubungan dengan defisiensi vitamin
B12
 keamanan dan efikasi belum ditetapkan
untuk pasien anak-anak usia <1 bulan.
 Tidak disarankan untuk ibu hamil dan
anak

Kontraindikasi Hipersensitif

Efek Samping Gangguan saluran cerna, diare, sakit kepala,


pusing, ruam, demam, rasa letih, pruritus

Cara pemakaian Per Oral, obat diminum sebelum makan


Faktro Resiko Kehamilan Katagori kehamilan B

Cara Penyimpanan  Disimpan di tempat kering pada suhu


antara ≤30°C, terlindung dari sinar
matahari secara langsung.

Contoh Merek dagang/paten Antidine, Renapepsa

5. Sucralfat

Komposisi Sukralfat 500mg

Indikasi Tukak lambung dan usus 12 jari, gastritis


kronik

Potensi Tablet 500mg, suspense 500mg/5ml

Peringatan Hipersensitif

Kontraindikasi Hipersensitif, anak kurang dari 5 tahun

Efek Samping Konstipasi, diare, mulut kering, vertigo,


pusing

Cara pemakaian Per Oral, obat diminum sebelum makan

Faktro Resiko Kehamilan Katagori kehamilan D

Petunjuk Lain  Diminum 1 jam sebelum makan dan


sebelum tidur

Contoh Merek dagang/paten Musin, inpepsa, propepsa


KASUS

Kasus
Seorang bapak umur 50 tahun datang ke apotik dengan keluhan sakit terasa panas bagian perut,
sering cegukan dan bersendawa. Sebelumnya belum pernah mengalami penyakit ini , tidak
memiliki penyakit lain, tidak memiliki alergi, suka merokok.

Identifikasi Kasus
Identitas Pasien
Nama : Tidak ada
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Riwayat penyakit : Tidak ada

Gejala penyakit
 panas bagian perut, sering cegukan dan bersendawa.
Penyebab
 Suka Merokok
Assement : Pasien diduga mengalami syndrome dyspepsia dimana pasien merasakan panas
bagian perut,sering cegukan dan bersendawa.

Planning : Terapi Non Farmakologi


• Berhenti merokok
• Menyarankan pasien untuk makan tepat waktu
• bagian perut,sering cegukan dan bersendawa.
Terapi Farmakologi : Diberikan obat mylanta dengan penggunaan 1-2 sendok teh 3 kali
sehari, 30 menit sebelum makan.
DOKUMENTASI SWAMEDIKASI

Nama Pasien Joko

Jenis Kelamin Laki-laki

Usia 50 tahun

Alamat Nusukan

Tanggal pasien datang 21 maret 2019

Keluhan pasien panas bagian perut, sering cegukan dan bersendawa

Riwayat alergi Tidak ada

Pasen pernah datang sebelumnya : Ya / tidak*)

OBAT YANG DIBERIKAN :

Nama Obat Dosis Cara pemakaian No Batch Tanggal ED


1. Mylanta Mg(OH)2 200 mg, Gel 1-2 sdt 3 kali sehari, DBL1441200233A1 21-06-2020
kering Al(OH)3 200 mg 30 menit sesudah
dan simethicone 20 mg. atau sebelum makan

*) coret salah satu

Surakarta, 21 Maret 2019


Yang menyerahkan,

Suci tri anggraini, S.Farm., Apt


Apoteker “Selamat pagi bapak Perkenalkan saya suci apoteker di Apotek
Setia Budi“.

Pasien “ Iya selamat pagi mba”.

Apoteker “ Ada yang bisa saya bantu pak ?”

Pasien “ Saya mau cari obat untuk perut saya mbak”

Apoteker “Maaf bapak sebelumnya, ini dengan bapak siapa ya?

Pasien “ Nama saya Joko mbak”.

Apoteker “Alamat sama no Hp nya pak?”

Pasien “Saya dari Nusukan mba, no HP 087755667788”

Apoteker “Baik, bapak Joko keluhannya apa ya kalua boleh tau?”

Pasien “Begini mbak, akhir-akhir ini saya sering merasakan perut saya
itu terasa panas kaya terbakar gitu, sendawa dan cegukan juga
mbak”

Apoteker “Selain itu ada keluhan lain bapak?”

Pasien “ Yang paling sering saya rasakan hanya itu mbak”.

Apoteker “Bapak ada riwayat alergi?”

Pasien “Tidak ada mba”

Apoteker “Maaf pak boleh saya tau apa bapak ada penyakit lainya?”

Pasien “ Tidak ada juga mbak”

Apoteker “kalau boleh tau pola makan bapak gimana ya, sudah teratur
belum?”

Pasien “ kadang suka ngak teratur juga mbak”

Apoteker “mohon maaf pak , apa bapak meroko atau mengkonsumsi


alkhol?”
Pasien “kalau merokok saya kenceng mbak bias 2 bungkus sehari, tapi
kalau alkohol bisa di bilang ngak pernah”

Apoteker “Apakah sebelumnya bapak sudah pernah periksa ke dokter


mengenai keluhan bapak?”

Pasien “ Belum mbak, soalnya baru baru ini terasanya”

Apoteker “Bapak ada alergi obat tertentu?”

Pasien “Tidak ada mba”

Apoteker “Baik pak sebentar saya ambilkan obatnya dulu (mengambil


obat di etalase) ini saya ada 2 pilihan obat untuk keluhan bapak
tadi

1. Antasida Done
2. Mylanta suspensi

Paisen “Ow ya mba, kalau harganya sama ndak mba?”.

Apoteker “Kalau harganya berbeda pak, kalau Antasida done, 1 strip


harganya Rp. 2.400, kalau mylanta harganya Rp. 14.000 pak,”

Pasien “Kok harganya beda jauh mba, kan fungsinya sama

Apoteker “Begini pak, walaupun kedua obat ini fungsinya sama-sama


sebagai obat untuk menanganai keluhan bapak , tapi kandungan
obat beda pak, jadi ada sedikit perbedaan fungsinya, kalau yang
antasida itu hanya untuk mengurangi rasa terbakar perut bapak
saja, tapi kalau mylanta itu ada kandungan obat yang
mengurangi terbakar perut bapak juga mengurangi sendawa
dan cegukan bapak”

Pasien “Saya jadi bingung mba, kalau menurut mba yang bagus buat
saya yang mana?”

Apoteker “Kalau menurut saya tetap bagusan yang mylanta pak, biar
sendawa dan cegukan bapak tidakk menggangu kenyamanan
bapak”

Pasien “oke mbak, saya beli yang ini saja”

Apoteker “Baik pak, jadi ini diminum 3 kali sehari pada 1-2 sendok teh
minumnya 30 menit sebelum bapak makanya”

Pasien “Iya mba”


Apoteker “Oh ya untu obat ini nanti kalau sudah diminum ibu bisa
menyebabkan perut pabak sedikit mules, tapi jangan khawatir
ini biasa hilang dengan sendirinya”

Pasien “Ya mba”.

Apoteker “Bapak saya sarankan untuk menahan diri agar tidak merokok
dulu dan pola makannya dijaga hindari dulu makanan yang
pedas-peda ya pak”

Pasien “ohh seperti itu ya mbak”.

Apoteker “Apa ada yang ingin di tanyakan lagi pak ?”.

Pasien “Sudah mbak “

Apoteker “Kalau begitu apa bapak bisa mengulangi penjelasan


penggunaan obat yang saya sampaikan tadi ?”

Pasien “Ya mbaa.


Ini saya dapat sirup Mylanta untuk menhilangkan rasa
terbakar perut, cegukan dan sendawa saya, penggunanya di
minum 30 menit sebelum makan 1-2 sendok teh dan 3 kali
sehari”

Apoteker Baik pak, saya kira bapak sudah mengerti tentang penggunaan
obatnya, apa ada yang bapak mau tanyakan lagi?

Tidak ada mba,”

Apoteker “Baik bapak, ini silakan bayar obatnya di kasir sebelah timur
ya pak”

Pasien “Oke mba terimakasih ya mba, saya permisi, mari mba”

Apoteker “Ya pak, mari, semoga lekas sembuh”


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dispepsia merupakan sindrom atau kumpulan gejala atau keluhan yang terdiri dari nyeri atau
rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut
rasa penuh atau begah. Penyebab yang menyertainya seperti genetik, bakteri, psikologi dan
motilitas gangguan saluran pencernaan yang dapt di terapi dengan obat gongan antasida,
antagononis reseptor H2 dan golongan PPI (Proton Pump Inhibitor).

2. Saran
Saran terhadap terhadap pembaca untuk menghindari penyakit ini sebaiknya mengatur pola
makan denagn baik, hindari meroko, stres, mengkonsumsi kafein yang berlebihan.
DAFTAR PUSTAKA

Anita Kochhar, Malkit Nagi and Rajbir Sachdev, J. Hum. Ecol., 2006,19(3): 195-199
Anonim, 2011, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 11. Jakarta. Penerbit PT. Info
Master.
G. Suresh, A. K. Shethi & P. V. Salimath, Plant Foods for Human Nutrition, 2005, 60: 87-91.
Setiawati dan Arini. 1992. Farmakologi dan Penggunaan Terapi Obat-obat Sitoproteksi.
Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta: EGC. No. 79. 29-35
M.E. Abdelgani, E.A.E. Elsheikh, N.O. Mukhtarb, 1999, Food Chemistry, 64,289-293