Anda di halaman 1dari 7

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

AMBULASI DINI PADA Tn. T DI RUANG BINAHONG

RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Stase Keperawatan Dasar Profesi

Disusun Oleh :
SURATMAN
NIM : SN181169

PROGRAM PROFESI NERS

STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2018 / 2019


ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN AMBULASI DINI

PADA Tn. T DI RUANG BINAHONG

RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

Nama klien : Tn. T

Diagnosa Medis : Post Op herniorepair e/c HILD

No register : 18578xxx

A. Keluhan Utama : nyeri post op

B. Diagnosis Medis : post op herniorepair e/c HILD

C. Diagnose keperawatan : Hambatan mobilitas fisik b.d ketidaknyamanan

D. Data yang mendukung diagnosis keperawatan

DS : - Klien mengeluh sakit untuk bergerak

DO : - Tanda-tanda vital dengan TD: 110/70 mmHg, RR: 20 x/menit,


HR: 110 x/menit teraba lemah dan T: 37°C

- Post op hari I, aktifitas masih di tempat tidur

E. Dasar Pemikiran

Mobilisasi dini pada klien pasca apendiktomi dengan berbagai penyebab


merupakan bagian integral dari pelayanan keperawatan dan dilakukan secara
sistimatis sesuai keadaan dan kemampuan klien serta tidak terlepas dari
pengetahuan perawat mengenai pelaksanaan mobilisasi dini. Pentingnya
tindakan mobilisasi dini pada Klien pasca apendiktomi adalah salah satunya
untuk mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi apendiktomi diantaranya
pneumonia, thromboplebitis, gangguan eliminasi, gangguan gastrointestinal,
gangguan kardiovaskuler, gangguan respirator, dan gangguan rasa nyaman
(Oswari, 2000)
Mobilisasi pada klien pasca operasi merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia yang harus disadari dan dipenuhi oleh setiap individu, dengan
mobilisasi keadaan homeostatis dalam tubuh dapat dipertahankan dan
komplikasi yang timbul akibat imobilisasi dini dapat ditekan seminimal
mungkin (Kozier,1991). Menurut Long (1996) mobilisasi dini dapat
berpengaruh terhadap: (1) sistem perkemihan (buang air kecil dapat lebih
cepat hingga akan mencegah retensi urin; (2) sistem pencernaan akan
meningkatkan peristaltik usus sehingga akan mempermudah terjadinya flatus,
mencegah terjadinya distensi abdomen, mencegah konstipasi, dan mencegah
ilieus paralitik, (3) akan mempercepat proses penyembuhan luka; (4)
mengurangi rasa nyeri akibat ketegangan otot yaitu dengan sirkulasi darah
pada daerah tersebut menjadi lancar; (5) peningkatan kesadaran mental
melalui peningkatan oksigen ke otak.

Klien sering kali dibebani oleh balutan, bebat sehingga tidak mampu untuk
mengubah posisi berbaring secara konstan dalam posisi yang sama dapat
mengarah pada luka dekubitus atau pneumonia (Smeltzer & Bare, 1997).
Permasalahan ini tidak akan terjadi atau muncul serta dapat dihindari dengan
melakukan kegiatan mobilisasi secara dini dalam kurun waktu 24 - 48 jam
pasca operasi. Latihan umum dimulai segera mungkin setelah pembedahan
lebih baik dalam 24 jam pertama yang dilakukan di bawah pengawasan untuk
memastikan bahwa latihan tersebut dilakukan dengan tepat dan dengan cara
aman (Brunner & Suddarth, 1997)

Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat proses


pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah.
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan antara lain turun dari tempat tidur dan
latihan berjalan.

Intervensi untuk memperlancar penyembuhan luka antara lain dengan


melaksanakan usaha memperlancar sirkulasi dengan cara mobilisasi dini baik
secara aktif maupun pasif. Penyembuhan memerlukan sel-sel yang
dibutuhkan untuk menentang infeksi dan nutrisi yang dihantarkan kepada
luka, jaringan rusak, dan sel mati dibersihkan.

Klien harus dilatih agar tidak berbaring terlalu lama, latihan yang dapat
dilakukan antara lain dengan latihan kaki yang terdiri dari latihan memompa
otot, latihan quadrisep dan latihan mengencangkan gluteal, latihan duduk
(dangling) dengan kaki menjuntai, meninggikan kaki dan ambulasi dini.
Latihan tersebut dapat mencegah tromboplebitis pasca bedah.

F. Prinsip Tindakan Keperawatan

No Prosedur Rasional
A. Fase Orientasi
1 Memberi salam/ menyapa klien
2 Memperkenalkan diri
3 Menjelaskan tujuan tindakan
4 Menjelaskan langkah prosedur
5 Mencuci tangan
B. Fase Kerja
1 Mencuci tangan
Merangsang perpindahan
2 Menganjurkan / membimbing miring kanan
udara dalam usus
Merangsang perpindahan
3 Menganjurkan / membimbing miring kiri
udara dalam usus
Merangsang perpindahan
4 Memposisikan terlentang
udara dalam usus
Memaksimalkan
5 Meninggikan kepala ( bisa dengan bantal )
pengembangan dada
Memaksimalkan
6 Memposisikan duduk semi fowler
pengembangan dada
Merangsang peristaltik,
Mengatur posisi kaki berjuntai di tepi tempat Menyiapkan klien untuk
7
tidur persiapan mobilisasi
berjalan
8 Mengulang gerakan 2-7
9 Mencuci tangan
C. Fase Terminasi
1 Mengevaluasi tindakan
2 Menyampaikan rencana tindak lanjut
3 Berpamitan
G. Analisa tindakan keperawatan

Ambulatori merupakan metode yang paling baik untuk merangsang peristaltik


dan menggerakkan udara sehingga dapat terbuang. Latihan miring ke kanan
dan kiri dilakukan untuk menggerakkan udara dari kiri ke kanan guna
mencegah penumpukkan yang bisa berakibat distensi abdomen serta
merangsang peristaltik usus
Rasa nyeri sayatan akibat pembedahan dapat dikurangi dengan mendorong
klien agar mau bergerak di tempat tidur atau ambulatori untuk mengurangi
rasa nyeri akibat ketegangan otot dan melancarkan sirkulasi pada daerah itu.
Apabila keadaan otot tidak tegang dan sirkulasi darah daerah operasi lancar,
maka suplai darah, O2 dan nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan luka
akan adekuat. Sehingga proses penyembuhan luka akan lebih cepat.

H. Bahaya yang mungkin muncul

1. Rasa nyeri yang menyebar kemungkinan perforasi.


2. Plebitis (tromboplebitis septik vena portal)
3. Infeksi luka
4. Perdarahan, hematom,
5. Paralitik ileus

I. Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan di


atas:

1. Kaji respon klien : keluhan nyeri, ekspresi wajah


2. Monitor TTV
3. Monitor tanda-tanda peradangan, infeksi atau iritasi pada area tusukan.
4. Pendidikan kesehatan

J. Hasil yang didapatkan setelah tindakan keperawatan

S : Pasien mengatakan berani melakukan mobilisasi

- klien mengatakan sedikit nyeri

- P : saat bergerak
- Q : tersayat

- R : daerah operasi, inguinal kanan

- S : skala 4

- T : hilang timbul, durasi 2 menit

O : - klien dapat melaukan miring kanan, miring kiri di tempat tidur

- klien dapat duduk di tempat tidur

- Hasil pengukuran tanda-tanda vital: TD = 90/50 mmHg,

Nadi = 100 kali/menit, RR= 32 kali/menit, Suhu= 36.5°C,

K. Evaluasi Diri

Tindakan ini dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang ada.


Setelah pemasangan ambulasi dini ini, bisa dilakukan mobilisasi bertahap dari
duduk di tepi tempat tidur, berdiri di tepi tempat tidur, berjalan di sekitar
tempat tidur, berjalan ke kamar mandi.

L. Daftar Pustaka

Bulechek, Butcher, Dochterman, Wagner. 2013. Nursing Interventions


Classification (NIC). Edisi ke-6. Jakarta: Mocomedia
Gusty, RP, 2011 . Pengaruh Mobilisasi Dini Pasien Pasca Operasi Abdomen
Terhadap Penyembuhan Luka Dan Fungsi Pernafasan. Ners Jurnal
Keperawatan Volume 7, No 2,Desember 2011 :106-113
Hartini.2013. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi
Hernia Hari Ke-1. Surakarta
Judith M.Wilkinson. 2006. Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Hasil NOC. Jakarta: EGC
Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC Jilid 1. Jakarta: EGC
Potter & Perry, (2006). Fundamental Keperawatan (Edisi 4). Jakarta :EGC
Syahlinda, (2008). Efektifitas Pedoman Mobilisasi Terhadap Penyembuhan
Luka Pada Pasien Paska Laparatomi Di Irna B (Bedah) RS. Dr. M.
Jamil Padang.

Mengetahui,
Mahasiswa / Praktikan Pembimbing Klinik / CI

(……SURATMAN…….) (……………………………...)