Anda di halaman 1dari 9

Peta

Persebaran Keberadaan Masyarakat Adat di Nusantara




Disusun Oleh:

R. Yando Zakaria1


Pengantar

Merujuk kepada peraturan perundang-undangan dan konsepsi kajian sosiologi-antropologi yang ada (lihat sub-bab berikut), dalam
konteks Indonesia, konsep/terminologi/terma indigenouse peoples lebih lazim dan lebih tepat disebut sebagai (kesatuan) masyarakat
hukum adat/atau saat ini populer disebut sebagai masyarakat adat saja.
Meski ada beberapa perbedaan penyebutan dan pendefenisian terma masyarakat adat itu, secara umum pengertian
konsep/terminologi/terma masyarakat adat -- atau lebih tepatnya komunitas adat -- merujuk pada ‘sekelompok orang perseorangan
yang hidup secara turun temurun di wilayah geografis tertentu, yang terikat oleh suatu identitas budaya bersama, dan memiliki
hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah dan sumber daya alam di wilayah adatnya, serta memiliki sistem nilai yang menentukan
pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum yang berbeda dengan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum pada umumnya, baik
yang diatur melalui suatu lembaga adat yang memiliki otoritas untuk mengatur warganya maupun tidak’.
Oleh sebab itulah dalam berbagai literatur tentang masyarakat adat dan juga beberapa peraturan perundang-undangan yang ada,
keberadaan suatu masyarakat adat ditandai oleh (1) adanya wilayah yang dinyatakan sebagai ulayat dan/atau wilayah adatnya; (2)
sekumpulan orang yang merasa berasal dari asal-usul yang sama sehingga mereka merasakan dirinya sebagai satu kesatuan sosial yang
memiliki solidaritas antara sesamanya; (3) memiliki sistem pengurusan hidup bersama yang secara umum disebut sebagai sistem
pemerintah adat; (4) adanya seperangkat aturan yang mengatur kehidupan kesatuan masyarakat itu yang secara secara umum bisa pula
disebut sebagai hukum adat; serta (5) adanya benda-benda budaya yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan keberadaan masyarakat
adat yang bersangkutan.


1 Antropolog, pendiri dan peneliti pada Pusat Kajian Etnografi Hak Komunitas Adat (PUSTAKA), 2019.

1
2. Dasar Hukum

Setidaknya ada lebih dari 30 peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengakuan atas keberadaan dan hak-hak yang
melekat ada masyarakat adat, sebagaimana tersaji dalam tabel berikut. Datar berikut tidak termasuk UUD 1945 yang menjadi sumber
utama pengakuan hak masyarakat adat, sebagai mana diatur dalam PAsal 18B ayat (2), 28i ayat (3), dan pasal33 ayat (3), serta 5 (lima)
Putusan Mahkamah Konstitusi yang pada dasarnye menegaskan pegakuan masyarakat adat berserta hak-hak tradisionalnya, dan
sekaligus mengatur kriteria pengakuan dan kondisionalitas untuk menguji apakah kroteria yang ditetapkan itu terpenuhi atau tidak.2

Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang pengakuan


atas keberdaan dan/atau hak-hak masyarakat (hukum) adat
•  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Dasar •  Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
Pokok-Pokok Agraria •  Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
•  Undang-Undang PNPS 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan KonsHtusiUndang-Undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana
Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama Pembangunan Jangka Panjang Nasional
•  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok •  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
Kehutanan, sebagaimana yang kemudian diganH dengan Undang- •  Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2006 tentang Penataan Ruang
Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan •  Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
•  Undang-Undang Pertambangan Nomor 11 Tahun 1967 tentang Daerah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Pertambangan, sebagaimana yang kemudian diganH oleh Undang- •  Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan
Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
Batubara •  Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan
•  Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Diskriminasi Ras dan Etnis
•  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 74 tentang Pengairan •  Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan
•  Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- Pertanian Pangan Berkelanjutan
Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagaimana yang •  Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004, sebagaimana telah diganH
diganH dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
Perlindungan dan Penfelolaan Lingkungan Hidup •  Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik
•  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi dan Sosial
Keanekaragaman HayaH dan Ekosistemnya •  Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan
•  Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Kependudukan dan Pemberantasan Perusakan Hutan
Keluarga Sejahtera •  Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan
•  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan Pemberdayaan Petani
Konvensi Kerangka Kerja PBB Mengenai Perubahan Iklim •  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
•  Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia •  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
•  Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
•  Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Papua
•  Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
•  Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
•  Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Hak Paten
Bumi
•  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan •  Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pemajuan
Kebudayaan
Nasional



2 Lihat R. Yando Zakaria, 2018. Etnografi Tanah Adat. Konsep-konsep Pokok dan Pedoman Penelitian Lapangan. Bandung: Agrarian Resource Center dan Pusat Kajian

Etnografi Hak Komunitas Adat (PUSTAKA).

2


Tipologi Masyarakat Adat

Dilihat dari pola mata pencahariannya, masyarakat adat/komunitas adat di Indonesia juga beragam. Di antaranya ada komunitas adat
yang masih hidup secara berburu dan meramu (hunter and gatherer),3 ataupun yang telah mengenal sistem pertanian (perladangan)
sederhana di lahan kering,4 perladangan berpindah atau perladangan berputar (shifting cultivation atau rotary cultivation) yang
menerapkan tehnik tebang-bakar (slash and burn),5 komunitas nelayan yang menggunakan teknik penangkapan ikan yang sederhana.6
Meski begitu, sebagian besar komunitas adat ini telah mengenal sistem pertanian sawah baik tanpa atau dengan sistem irigasi yang
komplek.7
Kecuali masyarakat adat yang telah mengembangkan sistem pertanian yang kompleks, sebagian kecil masyarakat adat tersebut
disebut Pemerintah sebagai komunitas adat terpencil (KAT). Menurut data statistik yang tersedia, komunitas adat terpincil ini
diperkirakan berjumlah 1.200.000 kepala keluarga atau sekitar 6.000.000 jiwa. Dengan kata lain, jumlah penduduk Indonesia yang
dapat dikategorikan sebagai masyarakat adat jauh melebih jumlah KAT itu.
Perlu diketahui pula bahwa pola mata pencaharian utama ini pada akhirnya akan menentukan kemampuan masyarakat adat itu
beradaptasi dan/atau menyesuaikan diri dengan berbagai perkembangan sosial, ekonomi, dan politik yang menghampiri kehidupan
mereka.
Kecuali komunitas adat yang telah mengenal sistem pertanian dengan sistem irigasi yang komplek, komunitas adat ini umumnya
dapat dikatakan merupakan kelompok rentan yang mudah terganggu kelangsungan hidupnya jika bersinggungan dengan kegiatan
pemerintahan dan pembangunan pada umumnya.
Tidak sedikit pula yang tidak mampu memanfaatkan peluang usaha baru yang sebenarnya terbuka dengan adanya proyek-
proyek pembangunan itu. Karenanya, sudah pada tempatnya jika proyek pembangunan turut membantu komunitas-komunitas adat itu
terhindar dari dampak negatif sekaligus memampukannya dalam memanfaatkan proyek pembangunan yang ada.

3 Seperti yang banyak dijumpai di bagian pedalaman Sumatera, pulau-pulau kecil di pantai Barat Sumatera dan Kepulauan Maluku, serta pedalaman Kalimantan,

Sulawesi, serta daerah pedalaman dan pesisir Papua dan Papua Barat.
4 Banyak terdapat di dataran tinggi Papua dan Papua Barat.
5 Banyak terdapat di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
6 Banyak terdapat di di banyak pesisir di Bagian Timur Indonesia dan pulau-pulau kecil Pantai Timur Sumatera, pulau-pulau kecil di Kepulauan Maluku.
7 Banyak terdapat di dataran rendah dan tinggi Sumatera, Sulawesi, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada umumnya, serta dataran rendah atau delta di Kalimantan.

3

Dalam pada itu, Komunitas Adat Terpencil (KAT) sebagaimana Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 adalalah sekumpulan orang
dalam jumlah terentu yang terikat oleh kesatuan geografis, ekonomi, dan/atau sosial budaya, dan miskin, terpencil dan/atau rentan
sosial ekonomi. Karena permasalahn keterpencian dan kemiskininan maka KAT adalah penyandang masalah kesejahteraan sosial,
karenanya perlu penanganan khusus agar dapat hidup setara dengan Warga Negara Republik Indonesia lainnya.8

Karakteristik keterpencilan KAT ditandai oleh (a) keterbatasan akses pelayan sosial dasar; (b) tertutup, homogen, dan penghidupannya
tergantung kepada sumberdaya alam, (c) marjinal di perdesaan dan perkotaan dan atau, (d) tinggal di wilayah perbatasan antar negara,
daerah pesesir, pulau-pulau terluar dan terpencil. Oleh karena itu, pemberdayaan KAT dilaksanakan berdasarkan kategori dengan
jangka waktu pemberdayaan sesuaidengan masing-masing kategori sebagai berikut:

Kategori I, hidup berpencar dan berpindah dalam komunitas kecil, tertutup dan homogen, bermata pencaharian tergantung pada
lingkungan hidup dan sumberdaya alam setempat yang relatif tinggi, hidup dengan ekonomi subsisten, sangat sederhana, marjinal di
perdesaan dan mengalami sebagai kerentanan . KAT Kategori I akan memperoleh (3 (tiga) tahun pemberdayaan berturut-turut.

Kategori II, hidup menetap sementara, pada umumnya masih homogeny, namun sudah terbuka; peladang berpindah; hidup dengan
sistem ekonomi mengarah pada sistem pasar; kehidupan sedikit lebih maju dari KAT Kategori I; marjinal di perdesaan dan mengalami
kerentanan, KAT Kategori II akan memperoleh 2 (dua) tahun pemberdayaan berturut-turut.

Kategori III, berpencar dan berpindah dalam komunitas kecil, tertutup dan homogen, bermata pencaharian tergantung pada lingkungan
hidup dan sumberdaya alam setempat yang relatif tinggi, hidup dengan ekonomi subsisten, sangat sederhana, marjinal di perdesaan dan
mengalami berbagai kerentanan. KAT Kategori III akan memperoleh 1 (satu) tahun pemberdayaan.

Jika dicermati sungguh-sungguh, ada dua catatan yang perlu dikemukakan. Kedua hal ini perlu diperhatikan agar tujuan pemberdayaan
KAT dapat optimal. Pertama, defenisi KAS sendiri adalah komunitas. Penggunaan terma komunitas ini secara tidak langsung ingin
menyatakan bahwa KAT bukan persolan orang-perorang, melainkan sekumpulan orang yang saling terkait satu sama lainnya melalui


8 Beberapa paragraf awal dalam pengantar ini dicuplik dari Kementerian Sosial Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Direktorat

Pemberdayaan Komunitas Adat terpencil, 2017. Data Persebaran Lokasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terepencil. Hasil Review Databased Tahun 2017.

4
sejumlah pranata sosial. Baik yang berkaitan soal ekonomi (yang mendapatkan perhatian dalam pendefenisian Kategori KAT), maupun
urusan-urusan sosial-politik dan sosial-budaya lainnya. Meski begitu, sebagaimana yang akan ditunjukkan pada data-data tentang
persebaran KAT di empat propinsi tercakup, data-data yang tersedia adalah tentang jumlah kepala keluarga (KK) dan bukan data-data
tentang jumlah KAT sebagai komunitas itu sendiri.

Catatan kedua tentang kategori KAT. Jika dicermati tidak ada pembeda yang mencolok yang kemudian dapat membedakan ketiga kategori itu.
Uniknya lagi, KAT Kategori II yang telah pada pada dasarnya telah hidup dengan sistem ekonomi mengarah pada sistem pasar mendapat
fasilitasi yang lebih lama disbanding dengan Kategori III yang masih hidup dengan ekonomi subsisten.

Dengan catatan awal sebagaimana dirinci di atas maka, terkait dengan pelaksanaan PSSA, daftar KK yang ada pada databased Kementerian
Sosial Republik Indonesia ini, yang di tingkat kabupaten boleh jadi telah dirinci berdasarkan nama dan alamatnya, tidak dapat menjadi acuan
satu-satunya. Artinya, dengan pendefenisian terma masyarakat adat yang lebih laus dari KAT, para pihak yang perlu dikonsultasikan di tingkat
lapangan boleh jadi lebih luas dari sekedar yang tercantum pada databased ini.

Dalam rangka memahami lebih jauh tentang entitas masyarakat adat di Indonesia ini, silahkan periksa beberapa sumber berikut ini:

Hidayah, Zulyani, 1996. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Penerbit LP3ES.
Koentjaraningrat, 1970. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Marzali, Amri, (dalam proses penerbitan). “Klasifikasi Tipologi Komunitas Desa di Indonesia”. Sebuah tulisan yang dipersiapkan untuk sebuah
buku yang masih dalam proses penerbitan.”.
Melalatoa, Junus., 1997. Sistem Budaya Indonesia. Jakarta: Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Penerbit
Pamator.

***

5
Sebaran KAT di Propinsi-propinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat9

No. Propinsi Kabupaten Jumlah Kepala Persebaran Rencana Nama Suku
Keluarga Program
Pemberdayaan 2017
- 2019
1. Maluku – 5.395 Buru 1.234 32 lokasi Wailuar, Waefemun,
Wailua, Seget, Rana
Buru Selatan 303 11 lokasi Waetemon
Kepulauan Aru 935 11 lokasi Tidak ada informasi
Maluku Barat Daya 384 6 lokasi Wetar
Maluku Tengah 1.342 28 lokasi Teluti, Nusa wale,
Kanike, Kalao, Roho,
Soleha, Maraina,
Elemata, Hatuolo,
Kabauhari, Maneo,
Teluti
Maluku Tenggara 705 7 lokasi Tidak ada informasi
Maluku Tenggara Barat 171 7 lokasi Tidak ada informasi
Seram Bagian Barat 245 3 lokasi Naulu
Seram Bagian Timur 76 3 lokasi Bonfia
2. Maluku Utara – 5.085 Halmahera Barat 1.587 18 lokasi Tobaru, Togutil,
Sangir
Halamahera Timur 443 19 lokasi Togutil
Halamahera Tengah 66 2 lokasi Togutil, Sawai
Halamahera Utara 669 11 lokasi Boeng, Tobelo,

9 Diolah dari data-data yang tercantum dalam Data Persebaran Lokasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terepencil. Hasil Review Databased Tahun 2017. Jakarta:

Kementerian Sosial Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat terpencil, 2017.

6
Tobaru, Loloda
Kepulauan Sula 206 5 lokasi Kadai
Pulau Morotai 960 14 lokasi Galela, Tobelo,
Sangir, Talaud
Pulau Taliabu 1.154 33 lokasi Kadai, Talo, Holbota,
Wayo, Wayo Panga,
Nggaki, Bahu,
Pancado, Sumbong,
Peling Padodong,
Liang Sia, Manarang
Fango, Perigi, Salati,
Air Kadai, Mantara,
Sofan, Kawadang,
Kabuno, Kabuta,
Samuya
3. Papua – 44.314 KK Asmat 19.503 196 lokasi Asmat
Boven Digul 2.902 35 lokasi Muyu, Mandobo,
Mapi, Somi, Unipo,
Ninati, Ayumka,
Wombon, Upkin,
Ikcan
Deiyei 228 3 lokasi Widuwakai, Ayate,
Monetadi, Yewa
Dogiyai 442 5 lokasi Mee, Maniwo
Intan Jaya 1.755 20 lokasi Mee
Jayapura 442 8 lokasi Meru
Jayawijaya 50 1 lokasi Dani
Keerom 1.393 41 lokasi Keerom
Lanny Jaya 183 4 lokasi Dani

7
Membramo Tengah 201 1 lokasi Tidak ada informasi
Membramo Raya 1.138 22 lokasi Baudi
Mappi 5.623 70 lokasi Asmat, Yakai,
Merauke 1.746 24 lokasi Asmat, Marin
Anim/Malind
Mimika 1.000 12 lokasi Amungme
Paniai 1.417 14 Lokasi Ekare, Mee
Pegunungan Bintang 1.476 18 lokasi Ngalum
Puncak Jaya 647 10 lokasi Dani
Sarmi 90 1 lokasi Bidai
Supiori 174 2 lokasi Biak
Tolikara 675 11 lokasi Dani
Yuhukimo 2.163 36 lokasi Yali, Hubla, Momina,
Korowai, Kobkaka
Yalimo 51 1 lokasi Omate
Yapen 131 1 lokasi Omate
Waropen 903 14 lokasi Baudi, Demisa, Kiri-
kiri, Kai
4. Papua Barat – 3.539 KK Fakfak 66 4 lokasi Baham
Kaimana 635 29 lokasi Obo Rau, Irarutu
Manowari 90 4 lokasi Tidak ada informasi
Manokwari Selatan 122 2 lokasi Saub
Pegunungan Arfak 380 12 lokasi Arfak
Raja Ampat 279 7 lokasi Tidak ada informasi
Sorong 87 2 lokasi Biak
Sorong Selatan 825 23 lokasi Awe, Teait, Imeko
Tambrauw 111 6 lokasi Moskona
Teluk Bintuni 242 8 lokasi Mandacan

8
Teluk Windama 682 19 lokasi Kuri, Wamesa,
Mairasi, Soug, Biak