Anda di halaman 1dari 15

FPSO/FSO - Indonesian Flag

El Mundo

Dear All,

Question,
Apa benar pememeintah Indonesia telah mengeluarkan aturan baru (UU/PP?) tentang keharusan
FPSO/FSO atau floating system lainnya berbendera Indonesia. Jika ya kapan mulai berlakunya,
bagaimana dengan kompetensi Crew, minimum Indonesian licenced crew dsb. Apakah Captain,
Chief Engineer atau OIM nya harus orang Indonesia?Bagaimana jika itu LPG/LNG FPSO/FSO,
mengingat pelaut kita yang memiliki GAS Certificate jumlahnya sangat sedikit.

Mohon penjelasannya

Terima Kasih,

Kokok IP

Pak EL,

Benar pak, sesuai dg Inpres no 5 th 2005 (asas cabotage) & UU 17 th 2008 yg berlaku mulai tgl 7
mei 2008.

UU 17 th 2008 juga sesuai dg SOLAS & Marpol. Penanggung jawab (termasuk secara pidana)
diatas kapal termasuk FSO, FPSO, instalasi terapung lainnya adalah nahkoda / master Indonesia.

Menurut saya pelaut Indonesia yg berpengalaman & punya sertifikat gas sdh banyak, banyak dr
mereka yg sdh kerja di kapal tanker & gas semenjak th 80 - 90 an, namun kebanyakan mereka
kerja di persh asing.

Mengenai kompetensi pelaut Indonesia sebetulnya sdh dimulai th 80 an semenjak STCW mulai
diundangkan th 1978 dan disemakin ditingkatkan th 2000 bersamaan dg perubahan program
pendidikan dari MPB ke ANT & disesuaikan dg modul dr IMO.
Selain kompetensi keahlian khusus, mereka juga harus kuliah 4 th dulu untuk bisa dapat ijazah
MPB 3 / ANT 3 (second class) bila lulusan dari SMU.
Sedangkan untuk bisa mengambil ijazah ANT 2, maka pemegang ijazah ANT 3 harus punya
pengalaman kerja minimum 2 th dan mengikuti pendidikan secara penuh selama 9 bln, dst.

hasanuddin_inspector

Betul pak

Rasanya saya sepakat dan percaya bahwa sudah cukup banyak local crew utk LPG/LNG fleet.
- Bukankah Indonesia adalah salah satu pionir LNG di dunia?

- Bukankah LNG dari Bontang sudah di shipment ke Jepang sejak 1977?

- Bukankah Ardjuna Sakti LPG FSO sudah dideploy di ONWJ sejak 1978?

Aneh rasanya kalo belum ada local crew yang kapabel menangani LPG/LNG floater. Dan
kebetulan saya juga pernah diskusi intensif dengan ipar saya (ybs asli Indonesia tentunya, serta
sudah cukup lama assigned as master utk cargo LNG/LPG) tentang hal ini. So, dari sisi crewing
rasanya bukan menjadi major issue.

Dirman Artib

Sekedar nimbrung....
Ingat lagu TK saya, nenek moyangku orang pelaut.
Meminjam istilah Pak Jamsir, seyogyanya "every shit on the Indonesian water is led by
Indonesian).
Mari dukung aturan tersebut !

Jgn kalah sama jiran yg akan membangun University Maritime di Miri , kemudian mencanangkan
menguasai teknologi kelautan untuk mendukung bisnis area oil & gas yang fokus ke teknologi
Deepwater. Bbrp hari yg lalu, kapal selam pertama tiba di M'sia. Semuanya akan semakin
memperkokoh identitas sebagai negara maritime juga.

Surahman Adi Purwono

Untuk asas cobatage memang sudah seharusnya di terapkan di Indonesia


Dimana Indonesia adalah negara kepulauan, asas ini sudah lama di perbincangkan sejak saya
masih duduk di bangku kuliah Teknik Perkapalan ITS, dengan asas ini di harapkan Industri
perkapalan atau marine dalam negeri dapat perkembang, dimana saat ini pelayaran lokal
Indonesia masih dikuasai oleh kapal kapal bebendera asing, apalagi pelayaran International untuk
Indonesia lebih dari 90% dikuasai kapal berbendera asing, di amerika / US asas cobatage
diterapkan lebih strike lagi di mana untuk kapal pelayaran lokal bukan saja di wajibkan berbendera
amerika tapi juga di wajibkan untuk di bangun di amerika, coba kalo Indonesia menerapkan seperti
itu mungkin dunia maritim Indonesia akan tumbuh dengan cepat,

Dari pengalam pribadi yang bekerja di Repair kapal LNG/LPG, saya sering ketemu dengan Chief
Engineer dan crew dari orang Indonesia, sebenarnya banyak juga orang Indonesia yang
kompetance dalam bidang ini, untuk Master / Kapten kapal LNG memang saat ini masih banyak
orang2 Filipina, tapi semua bekerja di perusahaan asing seperti kapal korea, jepang dan malaysia,
saya belum pernah jumpa dengan kapal LNG yang berbendera Indonesia

Sebenarnya untuk kapal LNG dan FSLNG hanya berbeda cargo tank saja dengan tanker biasa,
carena cargo tank lebih compleks dengan insulation dan cargo handling equipmentya, dan
biasanya juga kapal LNG menggunakan engine steam turbine karena pertimbangan ekonomis
dimana bahan bakar boilernya bisa memanfaatkan boil off dari kargo nya, sudah saatnya
Indonesia memiliki perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal LNG/LPG, karena
Indonesia banyak meng exsport LNG keluar negri, dan juga bisa di manfaatkan antar pulau di
Indonesia, tapi juga perlu di pertimbangkan secara ekonomis, lebih murah mana antara pipanisasi
(pipe line) dan membangun terminal LNG/LPG dan mengoperasikan kapal LNG, karena
mengoperasikan kapal LNG juga bukan murah, saat ini malaysia dengan MISC perusahaan
pelayaran yang dimiliki pemerintah dengan petronas sudah mengoperasikan lebih dari 20 unit
kapal LNG,

Untuk pengangkutan LNG/LPG yang kebanyakan adalah pelayaran international akan sulit di
berlakukan asas cobatage karena memang bukan pelayaran lokal antar pulau di Indonesia, tapi
untuk FPSO / FSO yang duduk diam di Indonesia memang sudah harus berbendera Indonesia
menurut asas cobatage yang sudah mulai di terapkan di Indonesia.

El Mundo

Terima kasih atas penjelasan rekan2 semuanya.

Dari peresentasi pak Tangkelangi, dan penjelasan rekan2, dapat di mengerti dgn adanya UU # 17
yg mewajibkan semua floating structure (oil & gas) yg beroprasi di Indonesia harus berbendera
Indonesia. Timbul ertanyyan baru, apakah juga harus di kelaskan ke BKI? bagaimana kesiapan
BKI, SDMnya? (maaf rulesnya saja jiplak Germanisher LLyod tentu dgn ijin dr GL)... Pak Muchtar
Ali, pak Wibisono, pak Hariyanto, pak Manupassa,apa khabar? - kapan BKI punya rules sendiri yg
cocok utk perairan Nusantara?

hasanuddin_inspector

Quoted:
(maaf rulesnya saja jiplak Germanisher LLyod tentu dgn ijin dr GL)...

Pak Muchtar Ali, pak Wibisono, pak Hariyanto, pak Manupassa,apa khabar? - kapan BKI punya
rules sendiri yg cocok utk perairan Nusantara?

--End Quoted--

Wah, baru tahu saya kalo BKI rules adopsi punya GL. Pak boss Jamsir, apa emang begitu
adanya?? FYI (utk yg blm tau) pak Jamsir ini adalah country manager-nya GL, yg pernah juga di
LR dan BV ;-)

Utk pak El, ini mungkin saatnya balik kandang pak...mengabdikan knowledge anda ke negeri ini.
Semoga rated as expat or may become your business prospect :-).

El Mundo
FYI,

Sejak 1964 (saat BKI dilahirkan oleh div. material dephub) BKI mengadopsi rulenya GL.
Itu berkat jasa para pendiri BKI al. almarhum Ir. Patiata (alumumi ITB Electro); alm. Ir. Rachman
Idris (alumni German), dan pak R. Limahelu. Saat itu beliau2 itu merupakan exclusive surveyor GL,
and BV di Indonesia. Saat itu juga banyak kapal2 milik Djakata LLoyd, Pelni dan Samudera
Indonesia di kelaskan oleh GL dan BV. Berkat Menteri Perhubungan yg mengeluarkan kewajiban
Class BKI bagi kapal berbendera Indonesia, BKI se-akan2 dikucilkan oleh dunia maritim
international (IACS). usaha2 yg dirintis alm Patiata untuk menjadikan BKI sbg Associate Member
IACS jadi berantakan.

Sayangnya sampai saat ini belum ada planning BKI utk menerbitkan rules made in BKI apalagi
R&D di BKI tidak exist. Padahal persyarattan utk menjadi member IACS al. mempunyai rule
sendiri, punya lembaga penelitian (R &D), jaringan dan survery station di beberapa negara,
mempunyai julah tonase kapal yg sdh dikelaskan diatas 1juta DWT.
BKI malah mengajak Fak Teknik UI utk menterjemahkan rule GL tsb.

Mohon maaf kawan2 di BKI, mohon menegur saya jika info ini kurang tepat, tetapi jika benar info
ini mohon diterima sebagai kritk utk membangun, karena kami ingin BKI besar seperti aggota IACS
lainnya. Contohilah KR (korean register of shipping) atau CR (China) yg sekarang mulai
meraksasa. Utk para pengambil keputusan, lebih baik seperti Singapore sajalah, punya
kemampuan dibidang teknology kelautan, punya tonase kapal yg berbendera Singapore yg besar
tetapi tidak punya Classifikasi Singapura. Malah mereka mau ikuti jejak Panama dan Liberia. Flag
State itu jauh lebih menguntungkan dp memiliki Class sendiri.. Tanda K I pada plimsol mark
(lambung timbul) tidak akan ada artinya dibandingkan dgn bendera merah putih yg berkibar di
buritan kapal, walaupun kapal itu milik orng asing. Kapal tsb kemana-mana akan bawa bendera
negara.

hasanuddin_inspector

Benar pak El, menurut UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran memang begitu adanya.

Pada UU ini terdapat paragraf tersendiri tentang angkutan laut dalam negeri maupun angkutan laut
khusus dimana disebutkan bahwa kegiatan angkutan laut dalam negeri / khusus dilakukan oleh
perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia serta
diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

Pada bagian lainnya tentang pengawakan kapal, disebutkan bahwa nakhoda dan ABK haruslah
WNI dimana apabila terdapat pengecualian dpt diberikan ijin sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan.

Banyak PR pak memang utk menghadapi dan menerapkan asas cabotage nantinya.

fredhiagung

Maaf Bapak bapak member sekalian,


Sebenarnya sudah ada planning dari BKi untuk membuat dan menerbitkan Rules BKI sendiri
(dikembangkan oleh BKI sendiri), tetapi hal tersebut tidak terlaksana dan semakin terlena dengan
terus mengadopsi Rules GL (dengan ijin GL tentunya, hingga sekarang "Itu ceritanya bapak bapak
manajmen BKI kalau ke GL HO"). Ijin dari GL diperoleh sejak BKI berdiri, dimana telah disebutkan
pak EL bahwa founding father BKI adalah ex exlusive surveyor GL dan lulusan Jerman. Dan kita
tahu sendiri bagaimana perkembangan riset di negara kita apalagi BKI ini ibarat dilepas tapi tetap
dipegangi ekornya.

Satu lagi pak setelah dikeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan seakan BKI dikucilkan dai IACS,
sebtulnya ada benar dan ada salahnya pak. Sekitar tahun 2000, BKI berusaha menjadi anggota
associate member IACS dengan menambah DWT kapal yang dikelaskan dan jumlah staf
tekniknya dll. Tetapi IACS sendiri merubah aturan juga sekitar medio 2001, bahwa IACS tidak
menerima lagi anggota associate member. Dan semakin jauhlagi untuk menjadi anggota IACS.
Kemudian dengan peraturan menteri Perhubungan tsb, berarti dianggap anggota IACS ada
monopoli ya pak ??
Ya kalau kita melihat lebih jauh lagi sebetulnya pak, dinegara negara yang ada klass yang anggota
IACS, monopoli itu juga ada, tetapi mereka tidak menerbitkan peraturan tertulis. Dapat kita lihat
bahwa rata rata kapal container yang berbendera Jerman dan dimiliki oleh perusahaan Jerman
class-nya adalah GL, demikian juga dengan yang lain, jadi sebetulanya tergantung bgmn pemilik
perusahaaan sendiri mau loyal tidak sama negaranya ("jika semua jelas, dan tidak neko neko").
Disamping kita tidak bisa mengesampingkan sisi finansial-nya.
"> BKI malah mengajak Fak Teknik UI utk menterjemahkan rule GL tsb.
>
> Mohon maaf kawan2 di BKI, mohon menegur saya jika info ini kurang tepat, tetapi jika benar info
ini mohon diterima sebagai kritk utk membangun, karena kami ingin BKI besar seperti aggota IACS
lainnya. Contohilah KR (korean register of shipping) atau CR (China) yg sekarang mulai
meraksasa."
Untuk BKI mengajak FT teknik UI untuk menerjemahkan rule GL tsb, itutahun berapa ya pak,
seingat saya selama kurang lebih 5 tahun di BKI belum pernah terjadi, atau mungkin jauh sebelum
saya masuk ke BKI.
5 tahun terakhir BKI bekerjasama dengan ITS dan UNhas untuk membuat rule terutama untuk
rules kapal ikan, dan rules kapal kayu.
Sedangkan CCS & KR dapat besar, karena mereka juga didukung oleh seluruh stakeholder
maritim di negaranya, mungkin walaupun secara tidak langsung, misalnya, seluruh bangunan baru
(terutama yang ukuran ocean going) mereka merupakan bendera China atau Korea dan klasnya
juga CCS dan Korea. Jika mereka disupport, maka sisi finansial klas yang bersangkutan juga
tercover dan bagian r&D akan semakin berkembang
sekarang bagaimana dengan BKI ???? Apakah mereka disupport sama seluruh stakeholder
maritime Indonesia : "ya kalau di seminar sich bilangnya disupport, tetapi mungkin kenyataan di
lapangan banyak jauh berbeda, dan saya akui bahwa di manapun termasuk di BKI banyak oknum
yang nakal. Beberapa SDM BKI tidak kalah dengan yang lainnya, ya apa boleh buat karena
mereka masih belum senior, kalah status dan dianggap belum pengalaman maka akhirnya ya
tetap suaranya kalah.

Balik lagi berbicara mengenai pengembangan Rules BKI, maka sejak awal tahun ini BKI
bekerjasama dengan ITS akan berusaha mengembangkan rules made own by BKI, terutama,
dengan bantuan beberapa staff muda BKI yang mudah mudahan belum terkontaminasi paham
adopsi rules GL yang akan mensupport Litbang BKI di masa mendatang.
Semoga sedikit bantahan dan informasi ini bisa memberi sedikit pencerahan kepada bapak bapak,
bahwa BKI ingin maju, tetapi jika sdm yang ingin maju ini utk bki akhirnya terpinggirkan dan pindah
ke klass asing, ya mungkin nasib BKI akan semakin tidak jelas.

Jamsir Sabara

Kapal menurut defenisi UU No. 17 Tentang Pelayaran adalah kendaraan air yang digerakan oleh
tenaga angin, tenaga mekanik, atau energi lainnya, ditarik atau ditunda termasuk kendaraan yang
berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air serta alat apung dan bangunan
laiinya yang tidak berpindah-pindah (pasal 1 ayat 36).

Menurut UU No. 17 itu pula, semua kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia harus berbendera
Indonesia. (sebelumnya ada kepmen dan Inpres No. 5).

Karena menurut UU, FPSO atau FSO (maaf kalau ini tidak sopan : every shit on the sea is ship, ini
yang saya dengar waktu seminar di Surabaya 3 tahun yang lalu) adalah kapal maka Floating Unit
itu harus berbendera Indonesia.

Karena FPSO atau FSO biasanya dipakai pada lingkungan Oil dan Gas, maka ketentuan ini mulai
berlaku 1 January 2011 (diatur dalam Inpres No.5 tahun 2005).

Cukup banyak yang diatur dalam UU No. 17 tentang pelayaran ini. Misalnya adanya BPP (Badan
Pengatur Pelabuhan, semacam BP Migas nya) atau berakhirnya keharusan mengklasskan kapal
ke badan klasifikasi nasional. Sebelumnya dalam UU No. 19 Tahun 1992 (CMIIW), ada keharusan
untuk mengklaskan kepada badan klasifikasi nasional. Dengan UU no 17 ini (pasal 129 ayat 2),
ship owner diberikan kebebasan untuk mengklasifikasikan kapalnya, nasional atau asing.

Untuk crew, setahu saya, maksimum 6 bulan setelah beroperasi sudah harus diganti crew
Indonesia.

Juga dalam UU No 17 ini bisa dilihat defenisi Pelabuhan untuk mengetahui apakah FPSO/FSO
termasuk pelabuhan sehingga ijin-ijin yang diperlukan dapat diketahui.

iwan aryawan

Diskusi yang menarik pak Jamsir, saya coba ikutan nimbrung.

Setelah mendengarkan pencerahan dari pak Justinus Tangkelangi sewaktu seminar di ITB yg lalu,
saya sendiri masih bertanya-tanya tentang arah kebijakan 'Pemerintah' kita dalam masalah
Regulasi kelautan ini.

Kalau merujuk ke peraturan internasional yg paling tinggi, yakni The United Nations Convention on
the Law of the Sea (UNCLOS), sebetulnya kita sah-sah saja membuat peraturan sendiri untuk
semua kegiatan atau bangunan yg murni berada di wilayah perairan Indonesia. Ini termasuk
bangunan lepas pantai dan kapal-kapal yg hanya mengarungi perairan nasional. UNCLOS sendiri
memberikan kewenangan sepenuhnya untuk suatu negara untuk mengaturnya.

Misalnya untuk bangunan terapung yg semua tahap pengerjaannya (fabrication, transport and
installation) dilakukan sepenuhnya di wilayah Indonesia, maka si bangunan tersebut harus taat
sepenuhnya kepada peraturan nasional (Coastal Authority). Lain halnya kalau misalnya lambung
FPSO dibangun di PT PAL lalu berlayar ke KOREA untuk Topside integrasi, lalu bail lagi ke
Indonesia untuk diinstal. Nah ini berarti selalin peraturan Nasional Indonesia ada lagi peraturan
nasional negara lainnya yg dilewati dan internasional (IMO, dsb) yg harus dipatuhi.

Kalau misalnya pemerintah mewajibkan semua bangunan terapung di Indonesia untuk di Klass-
kan BKI, silahkan saja karena itu memang wewenang mereka. Tentunya tidak cukup hanya
mengeluarkan peraturan saja. Yang paling penting adalah: Pemerintah harus melakukan ini
semata-mata untuk memproteksi keselamatan tenaga kerja dan mencegah pencemaran
lingkungan yg bisa terjadi akibat kegiatan lepas pantai ini. Jadi saya kira tidak tepat kalau
motivasinya hanya karena ingin memajukan BKI. Ini suatu tanggung jawab yg tidak gampang. BKI
sendiri harus siap, tidak hanya dalam masalah isi peraturannya tapi yg paling penting adalah
profesionalisme human resources-nya.

Perlu diketahui kalau anggota IACS sendiri tidak berkompetisi dalam masalah peraturan. Karena
lambat laun hal ini akan diambil oleh peraturan atau standard internasiona (ISO). Tapi fokus
mereka lebih ke profesionalisme dalam pelayanan, terutama dalam hal kualitas integrity
management. Termasuk didalamnya tenaga surveyor yg berkualitas dan analysts yg handal. Untuk
pengguna jasa seperti ini, yg terpenting adalah faktor kepercayaan dan kualitas kerja yg sudah
terbukti cukup lama. Pak Jamsir, mohon koreksi saya apabila saya salah.

Sebagai orang Indonesia, saya ingin sekali melihat BKI maju karena profesionalisme bukan karena
'dibantu' oleh peraturan pemerintah semata, amiin..

Maaf kalau terlalu panjang.

Jamsir Sabara

Kang Iwan,

Menurut UU N0 17 (pasal 129 ayat 2) pemilik kapal diberikan kebebasan untuk mengklasskan
kapalnya ke BKI atau Badan Klasifikasi Asing untuk kapal-kapalnya yang beroperasi di perairan
Indonesia. Yang ada adalah keharusan berbendera Indonesia. Bendera berhubungan dengan Flag
State, dalam hal ini perhubungan laut. Hubla tidak (belum) memberikan otoritas ke BKI untuk flag
state. Memang ada Keputusan Menteri (KM) No. 20 tahun 2006 tentang keharusan kapal - kapal
yang berbendera Indonesia diklasskan ke BKI. Namun harap dipahami bahwa KM 20 tahun 2006
itu adalah turunan UU No 21 tentang pelayaran tahun 1992 yang sekarang sudah diganti dengan
UU No. 17 tahun 2008 yang antara lain berisi kebebasan pemilik kapal untuk mengklaskan
kapalnya. Yang kita tunggu sekarang adalah KM-KM yang merupakan turunan UU No. 17
sehingga tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Secara personal, saya setuju dengan pemberian kebebasan kepada ship owner untuk memilih.
Apalagi (CMMIW) sepengatahuan saya tidak (belum) ada bisnis yang kuat di Indonesia dan
menjadi besar dengan mengandalkan proteksi pemerintah. Harus diberikan saingan agar tumbuh
sehat. Banyak yang kita bisa lihat.

Tentang keharusan berbendera Indonesia (asas Cabotage), sebetulnya kita tidak usah "rendah
diri". Amerika Serikat sendiri sudah menerapkan jauh sebelum ada deklarasi Juanda. AS memulai
keharusan menggunakan bendera AS dalam perairan AS sejak tahun 1817 (perang Diponegoro
sendiri baru terjadi 8 tahun sesudahnya). Hal ini diperkuat dengan Jones Act tahun 1924 tentang
asas Cabotage. Malah AS lebih seram menyebutkan armada niaga nasionalnya sebagai " The
Fourth Arm of National Defense". (tapi masih kalah dengan kita, waktu jaman presiden Soekarno
kita pernah mau bikin angkatan ke 5, just joke).

Didik Pramono

Pak Jamsir dan rekan-rekan milist,

Saya ingin mendiskusikan lebih lanjut mengenai ketentuan "azas cabotage" ini, yaitu kapal yang
berbendera Indonesia wajib masuk Klas BKI. Aturan ini tertuang dalam UU No.17 tahun 2008 dan
KM No.20 tahun 2006 yang kutipannya sbb:

------------ --------- --------- --------- -------


UU No.17 tahun 2008:
Pasal 129 ayat 2:
Badan klasifikasi nasional atau badan klasifikasi asing yang diakui dapat ditunjuk melaksanakan
pemeriksaan dan pengujian terhadap kapal untuk memenuhi persyaratan keselamatan kapal.

KM No.20 tahun 2006:


Pasal 2 ayat 2:
Kapal berbendera asing yang berubah menjadi bendera Indonesia, wajib diklaskan pada BKI
selambat-lambatnya 3 bulan setelah dilakukan pendaftaran.

Pasal 5 ayat 2:
Penunjukan dan pengakuan badan klasifikasi asing untuk melaksanakan pemeriksaan dan
pengujian terhadap kapal dengan jenis dan ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1
ditetapkan lebih lanjut oleh Dirjen Hubla.
------------ --------- --------- --------- -------

Di dalam kedua regulasi diatas disebutkan bahwa badan klasifikasi asing yang diakui dapat
ditunjuk untuk melaksanakan pemeriksaan dan pengujian terhadap kapal.

Apakah wewenang badan klasifikasi asing dimaksud hanya untuk pemeriksaan dan pengujian
saja, sedangkan untuk pengklasifikasian tetap pada BKI? Atau mekanismenya bagaimana? Mohon
pencerahannya. Terima kasih.

firman sicakep
Pak Didik,
Sepengetahuan saya bahwa UU No.17 tahun 2008 itu adalah pengganti UU yang lama yang
berarti bahwa kapal berbendera Indonesia sesuai UU No.17 tersebut boleh tidak menggunakan
Klas BKI yaitu menggunakan Klas yang mana adalah Klas anggota IACS yang diakui oleh
pemerintah.
Cuma yang bikin rancu pemerintah sampai saat ini belum menerbitkan KM yang baru sebagai
pengganti KM no.20 tahun 2006 sehingga di lapangan membikin orang2 bingung.
Saya rasa pemerintah harus segera menerbitkan KM yang baru sebagai pengganti KM no.20
tahun 2006 tersebut sehingga tidak menjadi rancu

Jamsir Sabara

Pak Didik,

Menurut tata urutan perundang-undangan, UU lebih tinggi dari KM. Kelihatan ada kontradiksi
antara UU No. 17 dan KM 20 tahun 2006 karena KM 20 masih mengacu kepada UU No. 19
tentang Pelayaran (kalau saya nggak salah nomornya 19) yang menggunakan kata sambung
DAN. Dalam UU 19 itu disebutkan bahwa Badan Klasifikasi Nasional DAN Badan Klasifikasi
Asing....dst. Sehingga ada kewajiban bagi shipowner untuk mengklasskan kapalnya ke Badan
Klasifikasi Nasional. Dari sinilah banyak terjadi dual class. Dalam UU 17 yang baru, kata
sambungnya menggunakan kata ATAU, sehingga shipowner punya pilihan, ke badan klassifikasi
nasional atau asing.

Secara filosofis, Klasifikasi melihat aspek keselamatan kapal dan muatan. Sedangkan Flag State
(dalam hal ini Hubla di Indonesia) melihat aspek keselamatan manusia yang diatas kapal.
Sehingga, lingkup klasifikasi asing maupun nasional sama-sama melihat aspek keselamatan kapal
dan muatan (hull and cargo). Klasifikasi itu sendiri merupakan pekerjaan yang terintegrasi mulai
saat design sampai dengan pengoperasian. Jadi, tidak bisa dilakukan pengetesannya dilakukan
oleh badan klasifikasi asing, sedangkan classnya oleh badan class nasional.

Surahman Adi Purwono

Mudah-mudahan saya menjawab pertanyaan pak Didik.

fredhiagung

Mas Surahman Adi Purwono,


Kalau bicara SDM, BKI siap siap saja. Tetapi pisau jika tidak pernah dipakai dan dibiarkan
terkontaminasi oleh hal yang jelek akan menjadi tumpul. Demikian juga yang terjadi, ilmu LNG
yang pernah Bapak2 Surveyor BKI yang pernah belajar LNG/LPG, ternyata tidak ada kapal
LNG/LPG yang kompleks systemnya ada dilaksanakan survey oleh surveyor BKI, sehingga
menjadi lupa atau dengan seiringnya waktu dan umur semakin hilang. Generasi baru BKI tidak
mendapati bentuk nyata dari type ini, belajar diawang awang lebih sulit daripada kita tahu bentuk
riil barangnya di lapangan.
Semoga bisa membantu.

Mas Didik apa kabar?


lama tak ketemu

Kalau kapal sudah di daftarkan dengan bendera Indonesia otomatis harus meregister klas
Indonesia atau BKI, jadi owner bisa mendaftarkan atau meregisterkan kapal mereka ke BKI,
banyak kapal yang memiliki klass ganda, karena kalo hanya memiliki BKI saja kapal kapal mereka
tidak bisa berlayar di negara negara yang tidak mengakui BKI, jadi harus tetap memegang class
yang lain yang angota IACS, seperti ABS, LR, GL, DNV, jadi kapal ini bisa berlayar keseluruh
dunia, tapi ada juga negara yang tidak mensyaratkan klass nasionalanya, walaupun berbendera
negara tersebut, contoh malaysia tidak mensyaratkan kapal kapalnya ber klass SCM (ship
clasification Malaysia) untuk kapal2 yang berlayar internasional walau kapal itu berbendera
malaysia, beda dengan korea yang mewajibkan class nasionalnya, jadi banyak kapal korea yang
memiliki class ganda KR (korean register) dan salah satu class angota dari IACS .

Sebenarnya class adalah trihd party yang di tunjuk oleh owner, untuk mensertificasi kapal, tidak
semua benda di atas kapal under class item, Hull & machinary under class item dan juga alat2
keselamatan adalah class item, harus ada sertificasi dari class, kalo muatan atau cargo bukan
under class, cargo under insurance, tapi biasanya insurance juga akan melihat kapal ini meregister
/ class kan kemana, biaya insurence juga bisa berbeda kalo class juga beda, disini owner berhak
memilih class mana yang akan di pakai untuk kapalnya, tapi kalo sudah diregister bendera
Indonesia ya owner sudah di wajibkan salah satunya class BKI dan salah satu class anggota
IACS untuk kapal yang berlayar International, BKI hanya untuk berlayar di dalam negeri Indonesia.

Untuk pengetesan material misalnya, ABS mengakui pengetesan yang di lakukan oleh LR, misal
plat grade A yang sudah di sertifikasi oleh LR tidak perlu lagi di test ulang kalo mau digunakan
untuk membangun kapal baru yang di class kan ke ABS, jadi kalo BKI mengakui mengakui
sertifikasi yang di lakukan class angota IACS berarti akan mudah bagi owner untuk mengclass kan
kapal2 meraka ke class BKI untuk second classnya, dan tentu biayanya akan lebih murah bagi
owner,

Nah sekarang timbul pertanyaan baru misal untuk kapal2 LNG yang cargo tank nya compleks
apakah BKI sudah siap SDM nya,

Didik Pramono

Pak Jamsir,

Terima kasih atas pencerahannya. Saya juga melihat adanya sedikit kerancuan dalam kedua
regulasi tersebut karena ada kata sambung tersebut.
Di sisi lain, KM No.20 tahun 2006 judul regulasinya juga sangat jelas "kewajiban bagi kapal
berbendera Indonesia untuk masuk klas pada BKI" dan regulasi ini statusnya juga belum revoked.
Memang aplikasi yang paling aman adalah dengan apply dual class, sesuai dengan implikasi dari
kedua regulasi ini seperti yang Pak Jamsir sebutkan.

Bagi beberapa shipowner dual class justru mungkin menguntungkan dengan beberapa alasan (i.e.
insurance, etc), tapi kemungkinan juga banyak yang mengeluh karena untuk apply dual class cost-
nya juga cukup mahal.

Dari kerancuan tersebut, menurut saya KM No.20 tahun 2006 harus direvisi sehingga tidak
terdapat kerancuan dan bisa sebagai salah satu petunjuk pelaksanaan dari UU No.17 taun 2008.

Jamsir Sabara

Pak Didik,

Dari komunikasi saya dengan Hubla, memang akan ada peraturan dibawah UU No. 17 ini. Namun,
harap diketahui, dalam hukum ada asas kontinuitas, artinya selama belum ada yang baru, aturan
lama tetap berlaku. KM 66 ini memang cukup kontradiktif dengan UU No. 17 dan yang paling telak
adalah keharusan kapal berbendera Indonesia untuk di classkan ke BKI justru bertentangan
dengan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat, karena badan Klasifikasi Nasional itu berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang diatur dalam
UU No. 5 ini. Ini menjadi diskusi yang hangat di lingkungan IACS member di Indonesia, namun
tidak disampaikan ke Hubla.

Sesuai dengan Topik diskusi ini, yaitu FPSO/FSO, dalam beberapa kasus, saya melihat bahwa
Floating Unit diclasskan sebagai trading tanker, padahal trading tanker dan FPSO adalah 2 hal
yang berbeda. Salah satu variable nya ada kondisi lingkungan tempat lokasi Floating itu dan rute
trading tanker itu. Misalnya tidak bisa disamakan kondisi lingkungan antara Floating Unit yang
ditempatkan di Laut Jawa dengan kondisi lingkungan antara rute Jakarta - Yokohama.

Juga, ada keharusan jika di class kan sebagai trading tanker, setiap 5 tahun harus ke dry dock
untuk spesial survey. Tidak terbayang, jika sebuah Floating Unit di shut down produksi/prosesnya
pada saat menginjak usia tahun ke 5 beroperasinya. Rasanya perusahaan Minyak dan Gas tidak
akan setuju. Kadang, disebutkan bahwa dengan melalukan Underwater Survey, dry dock tidak
usah dilakukan (jika Floating Unitnya di classkan sebagai Trading tanker), padahal underwater
survey hanya memperpanjang sementara operasi (biasanya maximum 6 bulan dan karena
ketiadaan space di galangan).

Hanya untuk masukan, kepada teman-teman KPS, bisa menanyakan kepada shipowner, apakah
FPSO/FSO yang beroperasi di KPS nya di classkan sebagai Floating Unit Installation atau Trading
Tanker. Jika Trading Tanker, ada kewajiban pada tahun ke 5 untuk ke Dry Dock, dan biasanya ini
menjadi debat yang tiada akhir. KPS tentu saja tidak mau menghentikan produksi dan badan
klasifikasi akan mencabut sertifikat yang menyebabkan asuransi juga cabut.

Didik Pramono
Pak Jamsir,

Kalau Floating Unit di klas-kan sebagai trading tanker, bagaimana dengan ketentuan KM 66 tahun
2005 (Pasal 5) dimana ada salah satu ketentuan untuk mencabut poros dan propeller sehingga
dapat dibebaskan dari ketentuan 13F, 13G, 13H Annex I MARPOL 73/78. Kalau tidak salah
ketentuan dari MARPOL yang ini strictly concern mengenai technical requirements (i.e. double hull,
space requirement, etc) untuk oil tanker due to prevention of oil pollution (CMIIW).

Kalau yang sering/jamak dilakukan oleh IACS member di Indonesia, bagaimana jenis
pengklasifikasian Floating Unit ini? Saya pernah diskusi dengan Divisi Survey BKI, mereka
menginformasikan bahwa BKI akan mengklaskan Floating Unit sebagai FSO/FPSO.

Bagaimana dengan pengklasifikasian Floating Unit sebagai "stockage barge"?

Mohon maaf Pak, pertanyaannya berentetan, karena terus terang saya interest sekali dengan topik
diskusi ini. Mumpung pakarnya lagi turun gunung neh (minjem kata2 Pak Budhi :p). Sekali lagi
terima kasih atas semua pencerahannya.

Kokok IP

Floating unit bisa dikelaskan ke non trading tanker, mis : FPSO/FSO dg persyaratan tertentu
sehingga bisa mendapatkan exemption beberapa peraturan SOLAS, MARPOL.

Selain itu UWILD bisa dilakukan untuk memperpanjang operasional di lapangan atau
menggantikan waktu dry docking. Dg demikian tdk harus dry docking setiap 5 th (CMIIW). Banyak
juga floating unit yg masih operasional di atas 5 th tanpa harus naik dock.

Jamsir Sabara

Pak Didik,

Inilah yang menjadi permasalahan (menurut saya), karena beberapa FPSO/FSO di Indonesia di
class kan sebagai Trading Tanker bukan Floating Unit at Fix Location (FOI - Istilah di LR). Untuk
mengetahuinya pak Didik bisa melihat dari Notasi pada Sertifikat Class. Notasi Trading Tanker
berbeda dengan Notasi FOI.

Konsekwensi dari Notasi ini juga berbeda. Jika dinotasikan sebagai Trading Tanker, ada kewajiban
setiap 5 tahun harus masuk drydock. Jika dinotasikan sebagai FOI, tidak perlu setiap 5 tahun ke
Dry Dock dan selalu FOI itu didisain untuk berada di lokasi sesuai masa kontraknya (bisa 10, 15
atau 25 tahun).

Untuk pertanyaan ke Divisi Survey BKI, pertanyaanya sebaiknya begini (maaf bukan menggurui).
FPSO/FSO akan di class kan sebagai Floating Unit atau Trading Tanker? Kalau sebagai Floating
Unit berarti BKI telah memiliki Classifiation Rule For Floating Installation at Fix Location. Jika tidak
ada, rasanya tidak mungkin mengklasskan FPSO/FSO sebagai FOI. Kecuali yang dipakai adalah
Rule for Trading Tanker (atau semacamnya). Jika demikian, FPSO/FSO itu diclasskan sebagai
Trading Tanker yang terikat kewajiban Dry Dock setiap 5 tahun.

Maaf pak Didik, saya balik pernyataanya. Stocking Barge dapat di classkan sebagai FOI.

Didik Pramono

Pak Jamsir,

Terima kasih atas pencerahannya, sangat membantu. Memang kalau melihat kenyataan masih
ada beberapa regulasi terkait yang kontradiktif disana sini, sehingga aplikasinya pun jadi
membingungkan. Regulator-nya aja juga masih sering bingung :p

El Mundo

Jika ber bendera Indonesia, bukankah kewajiban naik dok itu setiap tahun?
Apakah pemerintah Indonesia (authority maritim/HUBLA) telah mengakui underwater survey inlieu
of dry dock?..(kalau benar saya ketinggalan jaman..hehe)

Utk IACS member, bukankah notasi class UWILD (ABS) atau sejenisnya itu utk men jamin flag
state bahwa underwater survey dapat mengganti drydock survey pada saat special survey (5 thn)
atau pada intermmidiate survey (2 1/2 thn)?

Pak Jasmir..mohon penjelasan...Salam utk pak John R Saila

iwan aryawan

Pak El,

Kalau peraturannya begitu, saya kira ada yg salah dg peraturannya ;-)). Kalau untuk trading ships
sih memang peraturannya begitu. Tapi tidak realistik untuk anjungan lepas pantai.

Sepengetahuan saya memang seperti yg pak El sebutkan, untuk floating plaforms biasanya ada
notasi Class tambahan sebagai tanda bahwa meraka layak untuk dilakukan In-water surveys dan
tidak perlu ditarik ke dok/galangan. Biasanya si anjungan harus mematuhi beberapa peraturan
seperti, underwater marking, fasilitas komunikasi dengan diver, seachest blanketing, dsb, dst.

Kokok IP

FYI, UU no 17 th 2008
Pasal 353
Pada saat Undang-Undang ini berlaku semua peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 1992 tentang Pelayaran dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini.
Pasal 354
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang
Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3493) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

KM 20 th 2006 merupakan "produk turunan" UU no 21 th 1992 dan dg terbitnya UU 17 th 2008


maka peraturan yg mengacu ke UU no 21 th 1992 sdh tidak berlaku. Tinggal menungu keluarnya
KM yg terbaru yg sesuai dg UU 17 th 2008.

gagah rancak

Sedikit nimbrung,
Untuk FPSO/FSO yang akan dikelaskan ke BKI, akan dikelaskan sbg Floating Unit karna BKI telah
memilik regulasi Floating, floating, production, storage and offloading units edisi 2009. Mengenai
dry dock, untuk unit dengan type kapal/barge dilakukan dry dock dg interval 5 tahun sekali dan dpt
digantikan dg IW dengan ketentuan.

Setau saya peratura pemerintah, kewajiban untuk survey pengedokan untuk kapal selain kapal
penumpang adalah 2 tahunan, bukan setahun.

Untuk lbh lanjut bisa hubungi Divisi Survey BKI bagian mempertahankan kelas Pak Totok Ahmad:
PT. Biro Klasifikasi Indonesia (Persero)
Divisi Survey,
Jln Yos Sudarso 38-39-40
Tanjung Priok,
JAKARAT-14320
INDONESIA
Phone: +62-21 4301703 (ext) 2501
www.klasifikasiindonesia.com

Admin Migas

Mantap nih, para pakar floating forum telah turun gunung. Kemana saja Bang Samsir ?. Akhirnya
kita sudah mengadakan Seminar "Floating Offshore Structure Technology" di ITB Bandung 26 Juni
2009. Peserta yang hadir membludak mengisi seluruh 260 kursi yang disediakan oleh panitia.
Padahal persiapan seminar ini sangat mendadak, menyesuaikan dengan jadwal cuti Mas Iwan dari
Houston. Jangan lupa nanti kalau anda cuti dari Malaysia, kita bikin seminar lagi, anak-anak ITS
sudah pada minta tuh.

Untuk memperlengkapi diskusi yang terjadi, saya lepas presentasi dari Bpk. Justinus Tangkelangi -
Head of Marine and Transportation Department BPMIGAS yang berjudul "Floating Platform
Regulatory Requirements" pada seminar di atas. Silahkan download dari URL : http://www.migas-
indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=311&Itemid=42. Presentasi
yang lainnya menyusul...
Priyo Susetyo

Mohon maaf Bpk2 member yang ada dimilis ini..sekedar informasi juga InsyaAlloh BKI akan
mempunyai rules sendiri..kebetulan salah satu konseptornya dosen wali Saya Bp. Petrus Eko
Panunggal (P-3) dan sampai saat prosesnya sedang berlangsung

Ya, mari kita doakan semoga BKI bisa semakin baik dengan seiiring bertambah umurnya
BKI..Amiin

pje704748

Salam KMI
Mudah2an juga BKI akan terdaftar anggota IACS, dan vesel dan platform offshore class BKI bisa
bersandar seluruh Negara?. Amin

Anda mungkin juga menyukai