Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasil


annya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai suatu proses per
ubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifi
tas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sum
ber daya manusia, yakni (orang-orang yang terlibat sejak dari perencanaan sampai
pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara dua faktor tersebut yang paling domi
nan adalah faktor manusianya. Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di A
sia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya,
negara tercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah me
rupakan sebuah negara yang kaya melainkan termasuk negara yang miskin. Menga
pa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya man
usianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya t
etapi juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan re
ndahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan terjadin
ya korupsi. Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi social (pen
yakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan ber
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah mengakibatkan kerugian mate
ril keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi ad
alah terjadinya perampasan dan pengurasan keuangan negara yang dilakukan secar
a kolektif oleh kalangan anggota legislatif dengan dalih studi banding, THR, uang
pesangon dan lain sebagainya di luar batas kewajaran. Bentuk perampasan dan pen
gurasan keuangan negara demikian terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air. Ha
l itu merupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa malu, sehingga yang meno
njol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah koru
psi diberantas? Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus
diberantas. Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi atau paling tidak mengura
ngi sampai pada titik nadir yang paling rendah maka jangan harap Negara ini akan
mampu mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebu
ah negara yang maju. Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas d
an dapat membawa negara ke jurang kehancuran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari korupsi ?
2. Apa saja faktor – faktor penyebab korupsi ?
3. Nilai dan prinsip anti korupsi ?
4. Upaya pemberantasan korupsi ?
5. Tindak pidana korupsi dalam peraturan perundang-undangan?
6. Apa peranan mahasiswa dalam gerakan anti korupsi ?
7. Apa peranan masyarakat dalam pemberantasan korupsi ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi
2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab korupsi
3. Untuk mengetahui nilai dan prinsip anti korupsi
4. Untuk mengetahui upaya pemberantasan korupsi
5. Untuk mengetahui tindak pidana korupsi dalam peraturan perundang-unda
ngan
6. Untuk mengetahui peranan mahasiswa dalam gerakan anti korupsi
7. Untuk mengetahui peranan masyarakat dalam pemberantasan korupsi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian

Kata Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya


busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik atau menyogok. Menurut Dr. Kartini
Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan j
abatan guna mengeduk keuntungan, dan merugikan kepentingan umum. Korupsi m
enurut Huntington (1968) adalah perilaku pejabat publik yang menyimpang dari n
orma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan perilaku menyimpang ini ditujuk
an dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi. Maka dapat disimpulkan korupsi
merupakan perbuatan curang yang merugikan Negara dan masyarakat luas dengan
berbagai macam modus.

Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jika dilihat dar
i struktrur bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya
mempunyai makna yang sama. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi ti
ngkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk ke
untungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupa
kan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, sal
ah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenan
g dan kekuatan – kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan kekuatan s
enjata) untuk memperkaya diri sendiri.

Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan


yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengata
snamakan pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim (dalam Lubi
s, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korups
i bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia
mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kada
ng-kadang orang yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk
dalam korupsi. Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak
ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada ke
luarganya atau partainya/kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubung
an pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam keadaan yang d
emikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam korupsi adalah tingkah la
ku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kep
entingan masyarakat, pemisaham keuangan pribadi dengan masyarakat.

2.2 Faktor-faktor Penyebab Korupsi


A. Faktor Internal
Faktor ini sangatlah berhubungan erat dengan perilaku manusia, karena faktor
internal disini berasal dari dalam diri setiap manusia. Faktor internal disini lebih m
engarah kepada sifat yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan tindak korupsi,
yang diantaranya:
1. Sifat Tamak Atau Rakus Manusia
Manusia sangatlah mengenal yang namanya sifat tamak atau rakus,
sifat tamak atau rakus itu adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang y
ang selalu kurang atas apa yang dimilikinya atau bisa disebut juga kurangn
ya rasa syukur. Manusia selalu merasa tidak pernah cukup atas apa yang di
capainya, manusia selalu mempunyai hasrat yang berkobar dalam dirinya u
ntuk selalu menambah harta dan kekayaan yang bisa membuat manusia itu
sendiri untuk melakukan tindakan yang dinamakan korupsi. Maka dari sini
lah seseorang yang memiliki sifat tersebut akan lebih dekat dengan yang na
manya korupsi. Apa lagi bila orang tersebut menjadi pemimpin dalam suat
u lembaga maka orang tersebut akan terus melakukan yang namanya korup
si.
2. Moral Yang Kurang Kuat
Seseorang haruslah memiliki kekonsistenan dalam dirinya, karena d
engan sifat seseorang yang kurang konsisten atau bisa dibilang moralnya k
urang kuat maka orang tersebut akan lebih mudah untuk melakukan yang n
amanya korupsi. Tindakan tersebut bisa saja datang terhadap seseorang yan
g kurang konsisten dalam dirinya, baik pengaruh itu berasal dari luar, dala
m dirinya, atasan maupun bawahan.
3. Gaya Hidup Yang Konsumtif
Setiap orang akan memiliki suatu gaya hidup masing-masing, dan s
alah satu diantaranya yaitu gaya hidup konsumtif. Konsumtif disini sangatl
ah berhubungan erat dengan yang namanya pendapatan setiap individu. Jik
a pendapatan orang tersebut lebih kecil dari gaya hidup tersebut, maka tida
k menutup kemungkinan kalau orang tersebut juga akan melakukan tindak
an korupsi. Karena pendapatan tersebut tidak imbang dengan apa yang tela
h dikonsumsinya.
B. Faktor Eksternal
Faktor eksternal disini merupakan suatu kebalikan dari faktor internal, jika
di faktor internal berasal dari dalam diri manusia maka beda halnya dengan faktor
eksternal. Faktor eksternal disini lebih condong terhadap pengaruh dari luar diri se
seorang. Dan adapun beberapa aspek yang terdapat dalam faktor internal tersebut:
1. Politik
Politik merupakan suatu faktor yang didalamnya sangat banyak kecurang
an mulai dari bawahan sampai atasan dalam setiap organisasi. Didalam politik
ini sangatlah banyak orang yang bermain-main tidak jujur didalamnya. Orang-
orang tersebut biasanya suka melakukan kompromi, dari situlah suatu tindakan
korupsi akan mudah muncul dan biasanya bersifat tertutup tanpa ada orang yan
g tahu.
2. Ekonomi
Ekonomi sangatlah familiar ditelinga banyak orang, karena dari ekonomi i
tulah seseorang mampu mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Didalam ekon
omi setiap manusia akan mengenal yang namanya pendapatan dan kebutuhan,
karena apabila suatu pendapatan lebih rendah dari pada kebutuhan maka orang
tersebut akan melakukan segala cara yang didalamnya juga terdapat suatu tind
akan korupsi.
3. Hukum
Didalam suatu hukum juga bisa terjadi yang namanya korupsi, karena dida
lam hukum tersebut banyak orang-orang yang tersusun secara struktural yang
mana mampu mendatangkan permainan-permainan curang. Suatu aturan yang
berada di dalam hukum tidak semuanya berjalan murni pasti ada manipulasi di
dalamnya tanpa sepengetahuan orang banyak. Hukum disini akan secara muda
h dipermainkan oleh siapa saja yang berada didalamnya. Baik itu dilakukan ole
h pakar hukum ataupun ahli hukum yang lain maka tidak menutup kemungkin
an kalau di dalam korupsi bakal terjadi yang namanya korupsi.
4. Organisasi
Suatu organisasi sangatlah sensitif dengan yang namanya korupsi, karena d
idalam suatu organisasi terdapat banyak orang yang terdiri dari ketua sampai a
nggotanya. Hubungan antara atasan dan bawahan akan mengakibatkan suatu k
esepakatan yang besifat negatif yang mana bisa dengan tindakan korupsi. kare
na di setiap organisasi sangat sulit menemukan seseorang yang jujur didalamn
ya, sekaligus orang itu jujur maka lama kelamaan orang tersebut akan terpenga
ruh juga untuk melakukan tindak korupsi.

2.3 Nilai dan Prinsip Anti Korupsi

Nilai – nilai anti korupsi ada 9 yaitu :

1. Kejujuran

Kejujuran berasal dari kata jujur yang dapat di definisikan sebagai sebuah t
indakan maupun ucapan yang lurus, tidak berbohong dan tidak curang. Dalam ber
bagai buku juga disebutkan bahwa jujur memiliki makna satunya kata dan perbuat
an. Jujur ialah merupakan salah satu nilai yang paling utama dalam anti korupsi, k
arena tanpa kejujuran seseorang tidak akan mendapat kepercayaan dalam berbagai
hal, termasuk dalam kehidupan sosial. Bagi seorang mahasiswa kejujuran sangat p
enting dan dapat diwujudkan dalam bentuk tidak melakukan kecurangan akademik
, misalnya tidak mencontek, tidak melakukan plagiarisme dan tidak memalsukan n
ilai. Lebih luas, contoh kejujuran secara umum dimasyarakat ialah dengan selalu b
erkata jujur, jujur dalam menunaikan tugas dan kewajiban, misalnya sebagai seora
ng aparat penegak hukum ataupun sebagai masyarakat umum dengan membayar p
ajak.

2. Kepedulian

Arti kata peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan.


Rasa kepedulian dapat dilakukan terhadap lingkungan sekitar dan berbagai hal yan
g berkembang didalamnya. Nilai kepedulian sebagai mahasiswa dapat diwujudkan
dengan berusaha memantau jalannya proses pembelajaran, memantau sistem peng
elolaan sumber daya dikampus serta memantau kondisi infrastruktur di kampus. S
elain itu, secara umum sebagai masyarakat dapat diwujudkan dengan peduli terhad
ap sesama seperti dengan turut membantu jika terjadi bencana alam, serta turut me
mbantu meningkatkan lingkungan sekitar tempat tinggal maupun di lingkungan te
mpat bekerja baik dari sisi lingkungan alam maupun sosial terhadap individu dan k
elompok lain.

3. Kemandirian

Di dalam beberapa buku pembelajaran, dikatakan bahwa mandiri berarti da


pat berdiri diatas kaki sendiri, artinya tidak banyak bergantung kepada orang lain d
alam berbagai hal. Kemandirian dianggap sebagai suatu hal yang penting harus di
miliki oleh seorang pemimpin, karena tanpa kemandirian seseorang tidak akan ma
mpu memimpin orang lain.

4. Kedisiplinan

Definisi dari kata disiplin ialah ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan.
Sebaliknya untuk mengatur kehidupan manusia memerlukan hidup yang disiplin.
Manfaat dari disiplin ialah seseorang dapat mencapai tujuan dengan waktu yang le
bih efisien. Kedisiplinan memiliki dampak yang sama dengan nilai-nilai anti korup
si lainnya yaitu dapat menumbuhkan kepercayaan dari orang lain dalam berbagai h
al. Kedisiplinan dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk kemampuan mengatur
waktu dengan baik, kepatuhan kepada seluruh peraturan dan ketentuan yang berlak
u, mengerjakan segala sesuatu dengan tepat waktu, dan fokus pada pekerjaan.
5. Tanggung Jawab

Kata tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya


(kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan dan diperkarakan). Seseorang
yang memiliki tanggung jawab akan memiliki kecenderungan menyelesaikan tuga
s dengan lebih baik. Seseorang yang dapat menunaikan tanggung jawabnya sekeci
l apa-pun itu dengan baik akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Penerap
an nilai tanggung jawab antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk belajar dengan
sungguh-sungguh, lulus tepat waktu dengan nilai baik, mengerjakan tugas akadem
ik dengan baik, menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan.

6. Kerja Keras

Kerja keras didasari dengan adanya kemauan. Di dalam kemauan terkandu


ng ketekadan, ketekunan, daya tahan, daya kerja, pendirian keberanian, ketabahan,
keteguhan dan pantang mundur. Bekerja keras merupakan hal yang penting guna t
ercapainya hasil yang sesuai dengan target. Akan tetapi bekerja keras akan menjad
i tidak berguna jika tanpa adanya pengetahuan.

7. Kesederhanaan

Gaya hidup merupakan suatu hal yang sangat penting bagi interaksi dengan
masyarakat disekitar. Dengan gaya hidup yang sederhana manusia dibiasakan untu
k tidak hidup boros, tidak sesuai dengan kemampuannya. Dengan gaya hidup yang
sederhana, seseorang juga dibina untuk memprioritaskan kebutuhan diatas keingin
annya.

8. Keberanian

Keberanian dapat diwujudkan dalam bentuk berani mengatakan dan memb


ela kebenaran, berani mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab, dan sebagai
nya. Keberanian sangat diperlukan untuk mencapai kesuksesan dan keberanian aka
n semakin matang jika diiringi dengan keyakinan, serta keyakinan akan semakin k
uat jika pengetahuannya juga kuat.
9. Keadilan

Berdasarkan arti katanya, adil adalah sama berat, tidak berat sebelah dan ti
dak memihak. Keadilan dari sudut pandang bangsa Indonesia disebut juga keadila
n sosial, secara jelas dicantumkan dalam pancasila sila ke-2 dan ke-5, serta UUD 1
945. Keadilan adalah penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai denga
n apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proposional dan tidak melang
gar hukum. Keadilan berkaitan erat dengan hak, dalam konsepsi bangsa Indonesia
hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Dalam konteks pembangunan bangs
a Indonesia keadilan tidak bersifat sektoral tetapi meliputi ideologi. Untuk mencip
takan masyarakat yang adil dan makmur. Adil dalam kemakmuran dan makmur da
lam keadilan.

Sedangkan prinsip-pronsip anti korupsi, yaitu :

1. Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja. Semu


a lembaga mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan main baik dalam b
entuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure), baik pada level budaya (ind
ividu dengan individu) maupun pada level lembaga. Akuntabilitas publik secara tr
adisional dipahami sebagai alat yang digunakan untuk mengawasi dan mengarahk
an perilaku administrasi dengan cara memberikan kewajiban untuk dapat memberi
kan jawaban (answerability) kepada sejumlah otoritas eksternal. Selain itu akuntab
ilitas publik dalam arti yang lebih fundamental merujuk kepada kemampuan seseo
rang terkait dengan kinerja yang diharapkan. Seseorang yang diberikan jawaban in
i haruslah seseorang yang memiliki legitimasi untuk melakukan pengawasan dan m
engharapkan kinerja. Akuntabilitas publik memiliki pola-pola tertentu dalam meka
nismenya, antara lain adalah akuntabilitas program, akuntablitas proses, akuntabili
tas keuangan, akuntabilitas outcome, akuntabilitas hukum, dan akuntabilitas politi
k. Dalam pelaksanaannya, akuntabilitas harus dapat diukur dan dipertanggungjawa
bkan melalui mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban atas semua kegiatan
yang dilakukan. Evaluasi atas kinerja administrasi, proses pelaksanaan, dampak da
n manfaat yang diperoleh masyarakat baik secara langsung maupun manfaat jangk
a panjang dari sebuah kegiatan.

2. Transparansi

Prinsip transparansi penting karena pemberantasan korupsi dimulai dari tra


nsparansi dan mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan secara terbuka, se
hingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik. Transparansi me
njadi pintu masuk sekaligus kontrol bagi seluruh proses dinamika struktural kelem
bagaan. Dalam bentuk yang paling sederhana, transparansi mengacu pada keterbuk
aan dan kejujuran untuk saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust) karena kepe
rcayaan, keterbukaan, dan kejujuran ini merupakan modal awal yang sangat berhar
ga bagi semua orang untuk melanjutkan hidupnya di masa mendatang. Dalam pros
esnya transparansi dibagi menjadi lima, yaitu :

– Proses penganggaran,

– Proses penyusunan kegiatan,

– Proses pembahasan,

– Proses pengawasan, dan

– Proses evaluasi.

Proses penganggaran bersifat bottom up, mulai dari perencanaan, implementasi, la


poran pertanggungjawaban dan penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran.

Di dalam proses penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan terkait dengan pr


oses pembahasan tentang sumber-sumber pendanaan (anggaran pendapatan) dan al
okasi anggaran (anggaran belanja).

Proses pembahasan membahas tentang pembutan rancangan peraturan yang berkai


tan dengan strategi penggalangan (pemungutan dana), mekanisme pengelolaan pro
yek mulai dari pelaksanaan tender, pengerjaan teknis, pelaporan finansial dan pert
anggungjawaban secara teknis.
Proses pengawasan dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan berkait
an dengan kepentingan publik dan lebih khusus lagi adalah proyek-proyek yang di
usulkan oleh masyarakat sendiri.

Proses evaluasi ini berlaku terhadap penyelenggaraan proyek dijalankan secara ter
buka dan bukan hanya pertanggungjawaban secara administratif, tapi juga secara t
eknis dan fisik dari setiap output kerja-kerja pembangunan.

3. Kewajaran

Prinsip fairness atau kewajaran ini ditunjukkan untuk mencegah terjadinya


manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark up ma
upun ketidakwajaran dalam bentuk lainnya. Sifat-sifat prinsip ketidakwajaran ini t
erdiri dari lima hal penting komperehensif dan disiplin, fleksibilitas, terprediksi, k
ejujuran dan informatif. Komperehensif dan disiplin berarti mempertimbangkan ke
seluruhan aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran d
an tidak melampaui batas (off budget). Fleksibilitas artinya adalah adanya kebijak
an tertentu untuk mencapai efisiensi dan efektifitas. Terprediksi berarti adanya ket
etapan dalam perencanaan atas dasar asas value for money untuk menghindari defi
sit dalam tahun anggaran berjalan. Anggaran yang terprediksi merupakan cermina
n dari adanya prinsip fairness di dalam proses perencanaan pembangunan. Kejujur
an mengandung arti tidak adanya bias perkiraan penerimaan maupun pengeluaran
yang disengaja yang berasal dari pertimbangan teknis maupun politis. Kejujuran m
erupakan bagian pokok dari prinsip fairness. Penerapan sifat informatif agar dapat
tercapainya sistem informasi pelaporan yang teratur dan informatif. Sistem inform
atif ini dijadikan sebagai dasar penilaian kinerja, kejujuran dan proses pengambila
n keputusan selain itu sifat ini merupakan ciri khas dari kejujuran.

4. Kebijakan

Kebijakan ini berperan untuk mengatur tata interaksi agar tidak terjadi pen
yimpangan yang dapat merugikan negara dan masyarakat. Kebijakan anti korupsi i
ni tidak selalu identik dengan undang-undang anti korupsi, namun bisa berupa und
ang-undang kebebasan mengakses informasi, undang-undang desentralisasi, undan
g-undang anti-monopoli, maupun lainnya yang dapat memudahkan masyarakat me
ngetahui sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan anggaran negara
oleh para pejabat negara. Aspek-aspek kebijakan terdiri dari isi kebijakan, pembua
t kebijakan, pelaksana kebijakan, kultur kebijakan. Kebijakan anti korupsi akan ef
ektif apabila didalamnya terkandung unsur-unsur yang terkait dengan persoalan ko
rupsi dan kualitas dari isi kebijakan tergantung pada kualitas dan integritas pembu
atnya. Kebijakan yang telah dibuat dapat berfungsi apabila didukung oleh aktor-ak
tor penegak kebijakan yaitu kepolisian, kejaksaan, pengadilan, pengacara, dan lem
baga pemasyarakatan. Eksistensi sebuah kebijakan tersebut terkait dengan nilai-nil
ai, pemahaman, sikap, persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap hukum atau un
dang-undang anti korupsi. Lebih jauh lagi kultur kebijakan ini akan menentukan ti
ngkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

5. Kontrol Kebijakan

Kontrol kebijakan merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat betul-betu


l efektif dan mengeliminasi semua bentuk korupsi. Bentuk kontrol kebijakan berup
a partisipasi, evolusi dan reformasi. Kontrol kebijakan partisipasi yaitu melakukan
kontrol terhadap kebijakan dengan ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaann
ya. Kontrol kebijakan evolusi yaitu dengan menawarkan alternatif kebijakan baru
yang dianggap lebih layak. Kontrol kebijakan reformasi yaitu mengontrol dengan
mengganti kebijakan yang dianggap tidak sesuai.

Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan berdampak b


uruk luar biasa pada hampir seluruh sendi kehidupan. Korupsi telah menghancurka
n sistem perekonomian, sistem demokrasi, sistem politik, sistem hukum, sistem pe
merintahan, dan tatanan sosial kemasyarakatan di negeri ini. Dilain pihak upaya pe
mberantasan korupsi yang telah dilakukan selama ini belum menunjukkan hasil ya
ng optimal. Korupsi dalam berbagai tingkatan tetap saja banyak terjadi seolah-olah
telah menjadi bagian dari kehidupan kita yang bahkan sudah dianggap sebagai hal
yang biasa. Jika kondisi ini tetap kita biarkan berlangsung maka cepat atau lambat
korupsi akan menghancurkan negeri ini. Ini dapat menjadi indikator bahwa nilai-n
ilai dan prinsip anti korupsi seperti yang telah diterangkan diatas penerapannya ma
sih sangat jauh dari harapan. Banyak nilai-nilai yang terabaikan dan tidak dengan s
ungguh-sungguh dijalani sehingga penyimpangannya menjadi hal yang biasa.

Tak dapat dipungkiri untuk menanamkan nilai dan prinsip-prinsip anti korupsi perl
u diajarkan sejak dini kepada seluruh masyarakat secara umum. Saat ini sebagain b
esar baru terpusat pada golongan tertentu di tempat tertentu. Untuk langkah yang l
ebih serius, seharusnya penanaman nilai dan prinsip anti korupsi ini harus di terap
kan bukan hanya di bangku kuliah saja sebagai contohnya, tetapi juga dilakukan se
cara merata di berbagai kalangan masyarakat agar hasil yang didapatkan juga bisa
maksimal secara merata.

Yang ironisnya lagi dalam berbagai sistem pemerintahan termasuk di berbagai lem
baga negara praktik korupsi seakan dibiarkan dengan sistem yang menuntun, bahk
an memaksa yang berkepentingan untuk melakukan korupsi. Contoh nyata sistem
perkorupsian itu ialah sistem pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat,
yang bernama Korupsi. Sehingga penulis dapat menyebutkan bahwa “Pemilu meru
pakan sistem perkorupsian baru yang terselubung menjadi penyakit di Indonesia”.

2.4 Upaya Pemberantasan Korupsi

Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak koru
psi di Indone-sia, antara lain sebagai berikut :

 Upaya pencegahan (preventif).


 Upaya penindakan (kuratif).
 Upaya edukasi masyarakat/mahasiswa.
 Upaya edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

2.4.1 Upaya Pencegahan (Preventif)

Menanamkan semangat nasional yang positif dengan mengutamakan penga


bdian pada bangsa dan negara melalui pendidikan formal, informal dan agama. Me
lakukan penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis.Para pejabat
dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki tanggung jawab yan
g tinggi. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada jam
inan masa tua. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja ya
ng tinggi. Sistem keuangan dikelola oleh para pejabat yang memiliki tanggung jaw
ab etis tinggi dan dibarengi sistem kontrol yang efisien. Melakukan pencatatan ula
ng terhadap kekayaan pejabat yang mencolok. Berusaha melakukan reorganisasi d
an rasionalisasi organisasi pemerintahan mela-lui penyederhanaan jumlah departe
men beserta jawatan di bawahnya.

2.4.2 Upaya Penindakan (Kuratif)

Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti melangga


r dengan diberikan peringatan, dilakukan pemecatan tidak terhormat dan dihukum
pidana. Beberapa contoh penindakan yang dilakukan oleh KPK :

 Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov
Rusia milik Pemda NAD (2004).
 Menahan Konsul Jenderal RI di Johor Baru, Malaysia, EM. Ia diduga mele
kukan pungutan liar dalam pengurusan dokumen keimigrasian.
 Dugaan penyalahgunaan jabatan dalam pembelian tanah yang merugikan k
euang-an negara Rp 10 milyar lebih (2004).
 Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placement
deposito dari BI kepada PT Texmaco Group melalui BNI (2004).
 Kasus korupsi dan penyuapan anggota KPU kepada tim audit BPK (2005).
 Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta (2005).
 Menetapkan seorang bupati di Kalimantan Timur sebagai tersangka dalam
kasus korupsi Bandara Loa Kolu yang diperkirakan merugikan negara sebe
sar Rp 15,9 miliar (2004).
 Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005).
2.4.3 Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa

Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol s


osial terkait dengan kepentingan publik. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.
Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hing
ga ke tingkat pusat/nasional.Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentan
g penyelenggaraan peme-rintahan negara dan aspek-aspek hukumnya. Mampu me
mposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap peng
ambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

2.4.4 Upaya Edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah organisasi non-pemerintah yang


mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai korupsi di Indonesia dan terd
iri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi m
elalui usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat melawan praktik korupsi. ICW la
hir di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang
menghendaki pemerintahan pasca Soeharto yang bebas korupsi.

Transparency International (TI) adalah organisasi internasional yang bertujuan me


merangi korupsi politik dan didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba sekaran
g menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak menuju organisasi yang demo
kratik. Publikasi tahunan oleh TI yang terkenal adalah Laporan Korupsi Global. S
urvei TI Indonesia yang membentuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) In-donesia 20
04 menyatakan bahwa Jakarta sebagai kota terkorup di Indonesia, disusul Surabay
a, Medan, Semarang dan Batam. Sedangkan survei TI pada 2005, Indonesia berad
a di posisi keenam negara terkorup di dunia. IPK Indonesia adalah 2,2 sejajar deng
an Azerbaijan, Kamerun, Etiopia, Irak, Libya dan Usbekistan, ser-ta hanya lebih b
aik dari Kongo, Kenya, Pakistan, Paraguay, Somalia, Sudan, Angola, Nigeria, Hait
i & Myanmar, sedangkan Islandia adalah negara terbebas dari korupsi.

2.5 Tindak Pidana Korupsi Dalam Peraturan Perundang-Undangan

Berikut ini adalah naskah Peraturan Undang-Undang, Peraturan Pemerinta


h (PP), Instruksi Presiden (Inpres), yang berkaitan dengan Tindak Pidana Korupsi.
TAP MPR No. XI Tahun 1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas KKN
Undang – Undang :

1. UU nomor 20 tahun 2001 Pemberantasan Tidak pidana Korupsi

2. UU 30/2002 Komisi Anti Korupsi

3. UU 31/1999 Pemberantasan Korupsi. Telah diperbaharui menjadi UU No 20 Ta


hun 2001

4. UU 11/1980 tentang Antisuap

5. UU 15/2002 tentang tindak pidana anti pencucian uang. UU ini telah dirubah m
enjadi UU No 25 tahun 2003

6. UU 25/2003 tentang perubahan UU No 15/2002 tentang tindak pidana anti penc


ucian uang

7. UU No 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih Bebas dar


i KKN

8. UU No 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bang


sa Anti Korupsi, 2003

9. UU No 1 Tahun 2006 Tentang Bantuan Timbal Balik Masalah pidana

10.UU No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban

2.6 Peranan Mahasiswa Dalam Gerakan Anti Korupsi

Pemuda khususnya mahasiswa adalah aset paling menentukan kondisi zam


an tersebut dimasa depan. Mahasiswa salah satu bagian dari gerakan pemuda. Bel
ajar dari masa lalu, sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa ini tidak l
epas dari peran kaum muda yang menjadi bagian kekuatan perubahan. Tokoh-tok
oh Sumpah Pemuda 1928 telah memberikan semangat nasionalisme bahasa, bangs
a dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda memberikan
inspirasi tanpa batas terhadap gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan di Indone
sia. Peranan tokoh-tokoh pemuda lainnya adalag Proklamasi Kemerdekaan tahun
1945, lahirnya Orde Baru tahun 1966, dan Reformasi tahun 1998. Tidak dapat dip
ungkiri bahwa dalam peristiwa-peristiwa besar tersebut mahasiswa tampil di depa
n sebagai motor penggerak dengan berbagai gagasan, semangat dan idealisme yan
g mereka miliki dan jalankan. Untuk konteks sekarang dan mungkin masa-masa y
ang akan datang yang menjadi musuh bersama masyarakat adalah praktek bernam
a Korupsi. Peran penting mahasiswa tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteri
stik yang mereka miliki, yaitu: intelektualitas, jiwa muda dan idealisme. Dengan k
emampuan intelektual yang tinggi, jiwa muda yang penuh semangat, dan idealism
e yang murni terlah terbukti bahwa mahasiswa selalu mengambil peran penting da
lam sejarah perjalanan bangsa ini. Dalam beberapa peristiwa besar perjalanan ban
gsa ini telah terbukti mahasiswa berperan penting sebagai agen perubahan (agent
of change). Mahasiswa didukung oleh kompetensi dasar yang mereka miliki, yaitu
: intelegensia, ide-ide kreatif, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk m
enyatakan kebenaran. Dengan kompetensi yang mereka miliki tersebut mahasiswa
diharapkan mampu menjadi agen perubahan, mereka mampu menyuarakan kepent
ingan`rakyat, mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan yang koruptif, dan mampu
menjadi watch dog lembaga-lembaga negara dan penegak hukum.

3.3 Upaya Mahasiswa

Faktanya fenomena korupsi selalu tidak berhenti menggrogoti negeri kita, korupsi
merupakan kejahatan yang bukan hanya merugikan negara tetapi juga masyarakat.
Artinya keadilan dan kesejahteraan masyarakat sudah mulai terancam. Maka saatn
ya mahasiswa sadar dan bertindak.

Adapun upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa adalah:

1. Menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di kampus.

Hal ini terutama dimulai dari kesadaran masing-masing mahasiswa yaitu


menanamkan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka tidak boleh melak
ukan tindakan korupsi walaupun itu hanya tindakan sederhana, misalnya te
rlambat datang ke kampus, menitipkan absen kepada teman jika tidak mas
uk atau memberikan uang suap kepada para pihak pengurus beasiswa dan
macam-macam tindakan lainnya.Memang hal tersebut kelihatan sepele teta
pi berdampak fatal pada pola pikir dan dikhawatirkan akan menjadi kebias
aan bahkan yang lebih parah adalah menjadi sebuah karakter. Selain kesad
aran pada masing-masing mahasiswa maka mereka juga harus memperhati
kan kebijakan internal kampus agar dikritisi sehingga tidak memberikan p
eluang kepada pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan melalui k
orupsi. Misalnya ketika penerimaan mahasiswa baru mengenai biaya yang
diestimasikan dari pihak kampus kepada calon mahasiswa maka perlu bagi
mahasiswa untuk mempertanyakan dan menuntut sebuah transparasi dan ja
minan yang jelas dan hal lainnya. Jadi posisi mahasiswa di sini adalah seb
agai pengontrol kebijakan internal universitas. Dengan adanya kesadaran s
erta komitmen dari diri sendiri dan sebagai pihak pengontrol kebijakaninte
rnal kampus maka bisa menekan jumlah pelaku korupsi. Upaya lain untuk
menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di lingkungan kampus adalah
mahasiswa bisa membuat koperasi atau kantin jujur. Tindakan ini diharapk
an agar lebih mengetahui secara jelas signifikansi resiko korupsi di lingku
ngan kampus. Mahasiswa juga bisa berinisiatif membentuk organisasi atau
komunitas intra kampus yang berprinsip pada upaya memberantas tindaka
n korupsi. Organisasi atau komunitas tersebut diharapkan bisa menjadi wa
dah mengadakan diskusi atau seminar mengenai bahaya korupsi. Selain itu
organisasi atau komunitas ini mampu menjadi alat pengontrol terhadap ke
bijakan internal kampus.

2. Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya melakukan ko


rupsi.
Upaya mahasiswa ini misalnya memberikan penyuluhan kepada masyarak
at mengenai bahaya melakukan tindakan korupsi karena pada nantinya aka
n mengancam dan merugikan kehidupan masyarakat sendiri. Serta menghi
mbau agar masyarakat ikut serta dalam menindaklanjuti (berperan aktif) da
lam memberantas tindakan korupsi yang terjadi di sekitar lingkungan mere
ka. Selain itu, masyarakat dituntut lebih kritis terhadap kebijakan pemerint
ah yang dirasa kurang relevan. Maka masyarakat sadar bahwa korupsi me
mang harus dilawan dan dimusnahkan dengan mengerahkan kekuatan seca
ra massif, artinya bukan hanya pemerintah saja melainakan seluruh lapisan
masyarakat.
3. Menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan pemerintah.

Mahasiswa selain sebagai agen perubahan juga bertindak sebagai agen pen
gontrol dalam pemerintahan. Kebijakan pemerintah sangat perlu untuk dik
ontrol dan dikritisi jika dirasa kebijakan tersebut tidak memberikan dampa
k positif pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan semakin mempe
rburuk kondisi masyarakat. Misalnya dengan melakukan demo untuk men
ekan pemerintah atau melakukan jajak pendapat untuk memperoleh hasil n
egosiasi yang terbaik. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipa
si politik dan kontrol sosial terkait dengan kepentingan publik. Tidak bersi
kap apatis dan acuh tak acuh. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijak
an mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat pusat/nasional. Membu
ka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan pemerint
ahan negara dan aspek-aspek hukumnya. Mampu memposisikan diri sebag
ai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap pengambilan kepu
tusan untuk kepentingan masyarakat luas.

2.7 Peranan Masyarakat Dalam Pemberantasan Korupsi

Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak


pidana korupsi diwujudkan dalam bentuk antara lain mencari, memperoleh, memb
erikan data atau informasi tentang tindak pidana korupsi dan hak menyampaikan s
aran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap pencegahan dan pemberanta
san tindak pidana korupsi. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demo
krasi yang memberikan hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi yang
benar, jujur, dan tidak diskriminatif mengenai pencegahan dan pemberantasan tind
ak pidana korupsi, maka dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai hak dan
tanggung jawab masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak p
idana korupsi.
Sebagai bukti tekad dan maksud yang sangat kuat dari pembentuk undang-undang
dalam usaha memberantas korupsi ialah telah dimasukannya ketentuan tentang per
an serta masyarakat dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia. Peran serta i
ni dilatar belakangi oleh pandangan bahwa:

1. Dengan diberikannya hak dan kewajiban masyarakat dalam usaha penanggul


angan korupsi dipandang sebagai hal positif dalam upaya pencegahan dan pengun
gkapan kasus-kasus korupsi yang terjadi.

2. Persoalan penanggulangan korupsi dipandang bukan semata-mata menjadi ur


usan pemerintah atau penegak hukum, melainkan merupakan persoalan semua rak
yat dan urusan bangsa.

Setiap orang harus berparsitipasi dan berperan aktif dalam usaha menanggulangi k
ejahatan yang menggerogoti negara ini. Pandangan pembentuk undang-undang itu
tertuanhg dalam rumusan Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 199
9 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, y
ang menyatakan bahwa; masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawabmdalam
upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Bentuk peran serta tersebut, dalam Pasal 41 ayat (2) telah ditentukan wujudnya, ya
itu sebagai berikut:

1. Hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah te


rjadi tindak pidana korupsi;

2. Hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan memberik


an informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hu
kum yang menangani perkara tindak pidana korupsi;

3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada pen
egak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi;

4. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang dib
erikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.
5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal :

a. melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c.

b. diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan di sidang pengadil


an sebagai saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Adapun yang dimaksud dengan hak memberikan informasi ialah hak untuk menya
mpaikan segala macam informasi mengenai dugaan telah terjadinya tindak pidana
korupsi yang salah satu bentuknya ialah “pelaporan” yang disampaikan kepada pe
negak hukum atau komisi pemberantasan tindak pidana korupsi. Peraturan perund
ang-undangan (legislation) merupakan wujud dari politik hukum institusi Negara d
irancang dan disahkan sebagai undang-undang pemberantasan tindak pidana korup
si.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Korupsi adalah tindakan yang harus diberantas segera karena meng
ancam keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Adapun faktor – faktor pen
yebab korupsi itu ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimana f
aktor internal yaitu berasal dari dalam diri setiap manusia seperti sifat raku
s, moral yang kurang kuat dan gaya hidup yang konsumtif sedangkan fakto
r eksternal yaitu pengaruh dari luar diri seseorang adapun aspek yang terda
pat dalam faktor eksternal tersebut ialah politik, ekonomi, hukum dan orga
nisasi. Oleh karena itu perlu peran serta semua lapisan masyarakat. Mahasi
swa adalah salah satu bagian masyarakat yang mempunyai pengaruh signif
ikan dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah dan menggerakkan lapisa
n masyarakat yang lain. Sehingga pemberantasan korupsi bisa lebih efektif
. Upaya – upaya yang dilakukan mahasiswa adalah menciptakan lingkunga
n bebas dari korupsi di kampus, memberikan pendidikan kepada masyarak
at tentang bahaya melakukan korupsi dan menjadi alat pengontrol terhadap
kebijakan pemerintah. Maka mahasiswa harus lebih berkomitmen dalam m
emberantas korupsi supaya upaya mereka berjalan semaksimal mungkin.