Anda di halaman 1dari 32

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit tiroid adalah terutama umum pada wanita-wanita dari yang
berumur melahirkan anak. Sebagai akibatnya, adalah tidak mengherankan bahwa
penyakit tiroid mungkin merumitkan perjalanan kehamilan. Diperkirakan bahwa
2.5% dari semua wanita-wanita hamil mempunyai beberapa derajat dari
hypothyroidism. Frekwensinya bervariasi diantara populasi-populasi yang
berbeda dan negara-negara yang berbeda. Sementara kehamilan sendiri adalah
keadaan ayng alamiah, dan sama sekalai tidak harus dipertimbangkan sebagai
"penyakit", penyakit-penyakit tiroid selama kehamilan mungkin mempengaruhi
keduanya ibu dan bayi.
Hipertiroidisme merupakan suatu sindrom klinik akibat meningkatnya
sekresi hormon tiroid didalam sirkulasi baik tiroksin (T4), triyodotironin (T3)
atau kedua-duanya.
Sekitar 90% dari hipertiroidisme disebabkan oleh penyakit Grave, struma
nodosa toksik baik soliter maupun multipel dan adenoma toksik. Penyakit Grave
pada umumnya ditemukan pada usia muda yaitu antara 20 sampai 40 tahun,
sedang hipertiroidisme akibat struma nodosa toksik ditemukan pada usia yang
lebih tua yaitu antara 40 sampai 60 tahun. Oleh karena penyakit Grave umumnya
ditemukan pada masa subur, maka hampir selalu hipertiroidisme dalam
kehamilan adalah hipertiroidisme Grave.
Prevalensi hipertiroidisme di Indonesia belum diketahui. Di Eropa berkisar
antara 1 sampai 2 % dari semua penduduk dewasa. Hipertiroidisme lebih sering
ditemukan pada wanita daripada laki-laki dengan ratio 5:1. Hipertiroidisme
jarang ditemukan pada wanita hamil. Kekerapannya diperkirakan 2 : 1000 dari
semua kehamilan,namun bila tidak terkontrol dapat menimbulkan krisis tiroid,
persalinan prematur, abortus dan kematian janin.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid?
2. Apakah definisi dari hipertiroid pada ibu hamil?
3. Bagaimana etiologi dari hipertiroid pada ibu hamil?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari hipertiroid pada ibu hamil?
5. Bagaimana patofisiologi dari hipertiroid pada ibu hamil?
6. Bagaimana WOC dari hipertiroid pada ibu hamil?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari hipertiroid pada ibu hamil?
8. Bagaimana pemeriksaan diagnosa dari hipertiroid pada ibu hamil?
9. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari hipertiroid pada ibu hamil?
10. Apa sajakah komplikasi yang dapat ditimbulkan dari hipertiroid pada
ibu hamil?
11. Bagaimana asuhan keperawatan dari hipertiroid pada ibu hamil?

1.2 Tujuan
Tujuan umum :
Menjelaskan konsep gangguan endokrin hipertiroid pada kehamilan beserta
asuhan keperawatannya.
Tujuan khusus :
1. Agar mahasiswa mampu memahami penyakit-penyakit akibat gangguan tiroid
pada kehamilan.
2. Agar mahasiswa mampu menyusun asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan tiroid pada kehamilan.
3. Agar mahasiswa mampu melakukan peran sebagai perawat dalam pencegahan
dan penanganan masalah gangguan tiroid pada kehamilan.
4. Agar mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan tiroid pada kehamilan secara komprehensif.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Tiroid


1) Anatomi
Thyroid adalah suatu kelenjar endokrin yang sangat vaskular, berwarna
merah kecoklatan dengan konsistensi yang lunak. Kelenjar thyroid terdiri dari
dua buah lobus yang simetris. Berbentuk konus dengan ujung cranial yang kecil
dan ujung caudal yang besar. Antara kedua lobus dihubungkan oleh isthmus, dan
dari tepi superiornya terdapat lobus piramidalis yang bertumbuh ke cranial, dapat
mencapai os hyoideum. Pada umumnya lobus piramidalis berada di sebelah kiri
linea mediana.5, 6, 7.
Setiap lobus kelenjar thyroid mempunyai ukuran kira-kira 5 cm, dibungkus
oleh fascia propria yang disebut true capsule, dan di sebelah superficialnya
terdapat fascia pretrachealis yang membentuk false capsule.7, 8.

Gambar 1. Kelenjar Tiroid (diambil dari http://www.emedicine.com)

3
2) Fisiologi
Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat
menyerap iodin atau yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin
ini akan bergabung dengan asam amino tirosin yang kemudian akan diubah
menjadi T3 (triiodotironin) dan T4 (triiodotiroksin). Dalam keadaan normal
pengeluaran T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah hormon-
hormon lain seperti T2.
T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga
(ATP = adenosin tri fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak
aktif itu diubah menjadi T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan
ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ lain seperti hipotalamus yang
berada di otak tengah.
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH
(thyroid releasing hormon) dan TSH (thyroid stimulating hormon). Hormon-
hormon ini membentuk satu sistem aksis otak (hipotalamus dan pituitari)-
kelenjar tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus yang kemudian merangsang
kelenjar pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan merangasang
tiroid untuk mengeluarkan T3 dan T4. Oleh kerena itu hal yang mengganggu
jalur di atas akan menyebabkan produksi T3 dan T4.

3) Hipertiroid pada Kehamilan


a. Definisi
Hipertiroid adalah kadar TH yang (bersikulasi) berlebihan. Ganguan ini
dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis atau hypothalamus.
Peningkatan TH yang disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid disertai
penurunan TSH dan TRF, akibat umpan balik negative pada pelepasan keduanya
oleh TH. Hipetiroid yang disebabkan oleh malfungsi hipofisis menyebabkan
kadar TH dan TSH yang tinggi. TRF rendah karena umpan balik negative TH
dan TSH hipertiroid yang disebabkan oleh malfungsi hypothalamus

4
memperlihatkan TH yang tinggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
(Crowin, 2009).
Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana suatu kelenjar tiroid yang terlalu
aktif menghasilkan suatu jumlah yang berlebihan dari hormon-hormon tiroid
yang beredar dalam darah. Gangguan ini dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar
tiroid dan hippofis (Arif, 2000). Hipertiroid pada kehamilan (morbus basedow)
adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal 15-
20 %, kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Kejadian penyakit
ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umumnya disebabkan oleh
adenoma tunggal, Kehamilan dapat membuat strua tambah besar.
Sejak mulai kehamilan terjadi perubahan-perubahan pada fungsi kelenjar
tiroid ibu, sedang pada janin kelenjar tiroid baru mulai berfungsi pada umur
kehamilan gestasi ke 12-16. TSH agaknya tidak dapat melalui barier plasenta.
Dengan demikian baik TSH ibu maupun TSH janin tidak saling mempengaruhi.
Baik T4 maupun T3 dapat melewati plasenta dalam jumlah yang sangat sedikit.
Telah kita ketahui bahwa terdapat kehamilan dimana kelenjar tiroid mengalami
hiperfungsi yang ditandai dengan naiknya metabolisme basal sampai 15-25% dan
kadang kala disertai pembesaran ringan. Keadaan ini adalah dalam batas-batas
normal.
b. Etiologi Hipertiroid pada ibu hamil
Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,
suatu penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk
menghasilkan hormone yang berlebihan.
Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah:
1. Toksisitas pada strauma multinudular
2. Adenoma folikular fungsional ,atau karsinoma(jarang)
3. Edema hipofisis penyekresi-tirotropin (hipertiroid
hipofisis) (F. Gary Cunningham, 2004).
Kausa sebagian besarnya adalah penyakit Graves, suatu proses autoimun
spesik organ yang biasanya berkaitan dengan auto antibodi perangsang tiroid.
Berbagai auto antibodi ini menyerupai tirotropin dalam kemampuaannya

5
merangsang fungsi tiroid, dan zat-zat ini tampaknya merupakan penyebab baik
hiperfungsi maupun pertumbuhan tiroid pada penyakit Graves. Hasil studi klasik,
Amino dkk (1982) melaporkan bahwa aktivitas antibody perangsang tiroid
selama kehamilan berkurang pada 41 wanita dengan penyakit Graves. Hal ini
disertai oleh remisi kimiawi selama hampir sepanjang kehamilan. Antara 1-4
bulan pascapartum banyak wanita mengalami rekurensi antibodi antitiroid isertai
hipertiroksimia.
c. Manifestasi Klinis Hipertiroidisme pada ibu hamil
Secara umum tanda dan gejala hipertiroidisme adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan
koordinasi, kelelahan berat
Tanda : atrofi otot
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda : disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur,
peningkatan tekanan darah yang berat. Takikardi saat istirahat.
Sirkulasi kollaps, syok ( krsis tiroksitosin)
3. Eliminasi
Gejala : urine dalam jumlah banyak. Perubahan dalam feses; diare

4. Integritas dan Ego


Gejala : mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik
Tanda : emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.
5. Makanan dan cairan
Gejala : kehilangan berat badan yang mendadak, makan banyak dan
sering, kehausan mual dan muntah
Tanda : pembesaran tiroid, gooiter. Edema non-pitting terutama
daerah pretibial.
6. Neurosensori
Gejala : bicara cepat dan parau. Gangguan status mental dan perilaku,
sperti : bingung, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis,
supor,koma.
7. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri orbital. Fotofobia
8. Pernapasan
Tanda : frekuensi pernapasan meningkat, takpneu

6
9. Keamanan
Gejala : tidak toleransi terhadap panas, keringat berlebihan. Alergi
terhadap iodium
Tanda : suhu meningkat diatas 37,4oC, diaforesis, eksoftalmus:
retraksi pada konjunctiva dan berair.
Beberapa tanda yang muncul selama kehamilan dengan hipertiroidisme
adalah
1. Takikardia yang melebihi peningkatan yang biasa terjadi pada
kehamilan
2. Kecepatan nadi saat tidur yang meningkatkan abnormal
3. Tiromegali (pembesaran kelenjar tiroid)
4. Eksoftalmus
5. Kegagalan pada wanita yang tidak kegemukan untuk menambah berat
badan walaupun makan normal atau meningkat.

Walaupun jarang, hipertiroidisme dapat memperlihatkan angka-angka


tiroksin serum yang normal tetapi kadar triodotironin serum sangat tinggi, yaitu
apa yang disebut dengan T3-toksikosis.

Efek Hipertiroid pada Neonatus


Neonatus mungkin mengalami hipertiroid transien, yang kadang-kadang
memerlukan terapi obat antitiroid. Sebaliknya pajanan obat ini secara
berkepanjangan in utero dapat menyebabkan hipotiroidisme neonatus. Perkiraan-
perkiraan sebelumnya tentang efek merugikan pada janin yang disebabkan oleh
tiourea terlalu berlebihan dan pemakaian obat ini selama kehamilan memiliki
resiko yang sangat kecil (Momotani dkk.,1997; O’Doherty dkk., 1999). Tidak
ditemukan efek samping pada tumbuh kembang apabila diandingkan dengan
kelompok kontrol yang usianya sepadan.
Efek Hipertiroid pada Janin
Hipertiroid pada janin dipikirkan jika TSH receptor antibodies ( TSH-
R) menetap hingga trimester II. Diagnosis dapat ditentukan dengan pemeriksaan
ultrasonografi ( USG ) dan terlihat kelenjar gondok janin yang membesar,
takikardi ( 160 x/menit ), retardasi pertumbuhan, janin sangat aktif bergerak &
maturasi tulang lebih cepat. Pada kasus-kasus tertentu, pemeriksaan darah dari

7
tali pusat dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan monitoring terapi,
tetapi prosedur ini dapat menyebabkan komplikasi hingga abortus. Jika takikardi
janin menetap, diberikan PTU 200-400mg/hr atau Metilmerkaptoimidazol ( MMI
) 20 mg/hr pada ibu hamil .

d. Patofisiologi
Hipertiroidisme dalam kehamilan hampir selalu disebabkan karena
penyakit Grave yang merupakan suatu penyakit otoimun. Sampai sekarang
etiologi penyakit Grave tidak diketahui secara pasti. Dilihat dari berbagai
manifestasi dan perjalanan penyakitnya, diduga banyak faktor yang berperan
dalam patogenesis penyakit ini. Dari hasil penelitian, masih timbul sejumlah
pertanyaan yang belum terjawab, antara lain :
a Apakah kelainan dasar penyakit tiroid otoimun terjadi didalam kelenjar
tiroid sendiri, didalam sistem imun atau keduanya.
b Kalau terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan sistem imun, apakah
kelainan primer terjadi pada fungsi sel T (aktifitas sel T supresor yang
meningkat dan sel T helper yang menurun atau sebaliknya).
c Apakah terdapat pengaruh faktor genetik dan lingkungan pada tahap awal
terjadinya penyakit tiroid otoimun.
Kelenjar tiroid merupakan organ yang unik dimana proses otoimun dapat
menyebabkan kerusakan jaringan tiroid dan hipotiroidisme (pada tiroiditis
Hashimoto) atau menimbulkan stimulasi dan hipertiroidisme (pada penyakit
Grave). Proses otoimun didalam kelenjar tiroid terjadi melalui 2 cara, yaitu :
a Antibodi yang terbentuk berasal dari tempat yang jauh (diluar kelenjar
tiroid) karena pengaruh antigen tiroid spesifik sehingga terjadi imunitas
humoral.
b Zat-zat imun dilepaskan oleh sel-sel folikel kelenjar tiroid sendiri yang
menimbulkan imunitas seluler.
Antibodi ini bersifat spesifik, yang disebut sebagai Thyroid Stimulating
Antibody (TSAb) atau Thyroid Stimulating Imunoglobulin (TSI). Sekarang telah
dikenal beberapa stimulator tiroid yang berperan dalam proses terjadinya
penyakit Grave, antara lain :

8
1. Long Acting Thyroid Stimulator (LATS)
2. Long Acting Thyroid Stimulator-Protector (LATS-P)
3. Human Thyroid Stimulator (HTS)
4. Human Thyroid Adenylate Cyclase Stimulator (HTACS)
5. Thyrotropin Displacement Activity (TDA)
Antibodi-antibodi ini berikatan dengan reseptor TSH yang terdapat pada
membran sel folikel kelenjar tiroid, sehingga merangsang peningkatan biosintesis
hormon tiroid. Bukti tentang adanya kelainan sel T supresor pada penyakit Grave
berdasarkan hasil penelitian Aoki dan kawan-kawan (1979), yang menunjukkan
terjadinya penurunan aktifitas sel T supresor pada penyakit Grave. Tao dan
kawan-kawan (1985) membuktikan pula bahwa pada penyakit Grave terjadi
peningkatan aktifitas sel T helper. Seperti diketahui bahwa dalam sistem imun,
sel limfosit T dapat berperan sebagai helper dalam proses produksi antibodi oleh
sel limfosit B atau sebaliknya sebagai supresor dalam menekan produksi antibodi
tersebut. Tergantung pada tipe sel T mana yang paling dominan, maka produksi
antibodi spesifik oleh sel B dapat mengalami stimulasi atau supresi.
Kecenderungan penyakit tiroid otoimun terjadi pada satu keluarga telah diketahui
selama beberapa tahun terakhir. Beberapa hasil studi menyebutkan adanya peran
Human Leucocyte Antigen (HLA) tertentu terutama pada lokus B dan D. Grumet
dan kawan-kawan (1974) telah berhasil mendeteksi adanya HLA-B8 pada 47%
penderita penyakit Grave. Meningkatnya frekwensi haplotype HLA-B8 pada
penyakit Grave diperkuat pula oleh peneliti-peneliti lain. Studi terakhir
menyebutkan bahwa peranan haplotype HLA-B8 pada penyakit Grave berbeda-
beda diantara berbagai ras. Gray dan kawan-kawan (1985) menyatakan bahwa
peranan faktor lingkungan seperti trauma fisik, emosi, struktur keluarga,
kepribadian, dan kebiasaan hidup sehari-hari tidak terbukti berpengaruh terhadap
terjadinya penyakit Grave. Sangat menarik perhatian bahwa penyakit Grave
sering menjadi lebih berat pada kehamilan trimester pertama, sehingga insiden
tertinggi hipertiroidisme pada kehamilan akan ditemukan terutama pada
kehamilan trimester pertama. Sampai sekarang faktor penyebabnya belum

9
diketahui dengan pasti. Pada usia kehamilan yang lebih tua, penyakit Grave
mempunyai kecenderungan untuk remisi dan akan mengalami eksaserbasi pada
periode postpartum. Tidak jarang seorang penderita penyakit Grave yang secara
klinis tenang sebelum hamil akan mengalami hipertiroidisme pada awal
kehamilan. Sebaliknya pada usia kehamilan yang lebih tua yaitu pada trimester
ketiga, respons imun ibu akan tertekan sehingga penderita sering terlihat dalam
keadaan remisi. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan sistem imun ibu
selama kehamilan. Pada kehamilan akan terjadi penurunan respons imun ibu
yang diduga disebabkan karena peningkatan aktifitas sel T supresor janin yang
mengeluarkan faktor-faktor supresor. Faktor-faktor supresor ini melewati sawar
plasenta sehingga menekan sistem imun ibu. Setelah plasenta terlepas, faktor-
faktor supresor ini akan menghilang. Hal ini dapat menerangkan mengapa terjadi
eksaserbasi hipertiroidisme pada periode postpartum. Setelah melahirkan terjadi
peningkatan kadar TSAb yang mencapai puncaknya 3 sampai 4 bulan
postpartum. Peningkatan ini juga dapat terjadi setelah abortus. Suatu survai yang
dilakukan oleh Amino dan kawan-kawan (1979-1980) menunjukkan bahwa 5,5%
wanita Jepang menderita tiroiditis postpartum. Gambaran klinis tiroiditis
postpartum sering tidak jelas dan sulit dideteksi. Tiroiditis postpartum biasanya
terjadi 3-6 bulan setelah melahirkan dengan manifestasi klinis berupa
hipertiroidisme transien diikuti hipotiroidisme dan kemudian kesembuhan
spontan. Pada fase hipertiroidisme akan terjadi peningkatan kadar T4 dan T3
serum dengan ambilan yodium radioaktif yang sangat rendah (0 – 2%). Titer
antibodi mikrosomal kadang-kadang sangat tinggi. Fase ini biasanya berlangsung
selama 1 – 3 bulan, kemudian diikuti oleh fase hipotiroidisme dan kesembuhan,
namun cenderung berulang pada kehamilan berikutnya. Terjadinya tiroiditis
postpartum diduga merupakan “rebound phenomenon” dari proses otoimun yang
terjadi setelah melahirkan (Rull, 2012).

10
e. WOC HIPERTIROID PADA IBU HAMIL
Stimulasi tiroid
hormone f. Pengeluaran
Infeksi &/ Tumor Induksi obat-
eksternal Tiroid autonom hormon ektopik
pada kelenjar tiroid obatan
Konginetalg.

Hormon tiroid
yang di produksi meningkat

Suplai O2 untuk Suplai O2 pada janin Hipoksia janin


Pembengkakan kelenjar tiroid Peningkatan metabolisme tubuh metabolisme ibu menurun
meningkat

hiperthermi Kematian jaringan


Penekanan
pada janin
pada thoraks Peningkatan Peningkatan Energi terpakai Aktivitas usus
penggunaan O2 penggunaan energi u/ metabolisme meningkat
Gangguan
Hambatan perkembangan janin
Peningkatan Nafsu makan Peristaltik usus
jalan nafas Tubuh cepat
suplai O2 meningkat
kehilangan energi meningkat
MK: resiko
Peningkatan RR Suplai makanan keterlambatan
tidak memenuhi Mudah lelah saat Diare perkembangan
beraktivitas janin
1
MK: Pola MK: ketidakseimbangan BB turun MK: Defisit
Nafas tidak nutrisi kurang dari keb. MK: Intoleransi
Volume cairan
efektif Tubuh aktivitas
11
Penatalaksaan Medis
Secara umum, terdapat beberapa modalitas pengobatan hipertiroid antara
lain pendekatan farmakologis, pembedahan, dan juga iodin radioaktif, masing-
masing dengan risiko terhadap kehamilan. Pada kondisi hamil, pengobatan iodin
radioaktif secara langsung merupakan kontraindikasi karena meningkatkan risiko
abortus spontan, kematian janin intra uterin, hipotiroid dan retardasi mental pada
neonatus.
1. Pada ibu hamil, PTU masih merupakan obat pilihan utama yang
direkomendasikan oleh banyak penulis dan pedoman, dianggap lebih
baik karena lebih sedikit melewati plasenta dibandingkan methimazole.
Tetapi telah terbukti efektivitas kedua obat dan waktu rata-rata yang
diperlukan untuk normalisasi fungsi tiroid sebenarnya sama (sekitar 2
bulan), begitu juga kemampuan melalui plasenta. Penggunaan
methimazole pada ibu hamil berhubungan dengan sindrom teratogenik
‘embriopati metimazole’ yang ditandai dengan atresi esofagus atau
koanal; anomali janin yang membutuhkan pembedahan mayor lebih
sering berkaitan dengan penggunaan methimazole, sebaliknya tidak ada
data hubungan antara anomali kongenital dengan penggunaan PTU
selama kehamilan. Namun kadang methimazole tetap harus diberikan
karena satu-satunya pengobatan anti tiroid yang tersedia.
2. Obat-obat golongan beta bloker untuk mengurangi gejala akut
hipertiroid dinilai aman dan efektif pada usia gestasi lanjut, pernah
dilaporkan memberikan efek buruk bagi janin bila diberikan pada awal
atau pertengahan gestasi. Propanolol pada kehamilan akhir dapat
menyebabkan hipoglikemia pada neonatus, apnea, dan bradikardia yang
biasanya bersifat transien dan tidak lebih dari 48 jam. Propanolol
sebaiknya dibatasi sesingkat mungkin dan dalam dosis rendah (10-15
mg per hari).
3. Tiroidektomi subtotal dapat dilakukan saat kehamilan dan merupakan
pengobatan lini kedua penyakit Grave. Tiroidektomi sebaiknya dihindari
pada kehamilan trimester pertama dan ketiga karena efek teratogenik zat

12
anestesi, peningkatan risiko janin mati pada trimester pertama serta
peningkatan risiko persalinan preterm pada trimester ketiga. Paling
optimal dilakukan pada akhir trimester kedua meskipun tetap memiliki
risiko persalinan preterm sebesar 4,5%-5,5%. Tindakan pembedahan
harus didahului oleh pengobatan intensif dengan golongan thionamide,
iodida, dan beta bloker untuk menurunkan kadar hormon tiroid agar
mengurangi risiko thyroid storm selama anestesi dan juga
mengoptimalkan kondisi operasi dengan penyusutan struma dan
mengurangi perdarahan.
4. Indikasi pembedahan adalah dibutuhkannya obat anti tiroid dosis besar
(PTU >450 mg atau methimazole >300 mg), timbul efek samping serius
penggunaan obat anti tiroid, struma yang menimbulkan gejala disfagia
atau obstruksi jalan napas, dan tidak dapat memenuhi terapi medis
(misalnya pada pasien gangguan jiwa).

h. Pemeriksaan Diagnostik Hipertiroid


1. Pemeriksaan Kadar Hormon T3 Dan T4
T4 sebenarnya adalah prohormon, artinya hormone tiroid yang lemah,
yang harus diubah menjadi hormone T3 yang kuat, yang aktif bekerja
untuk mengatur metabolisme tubuh. Namn, bentuk yang paling banyak
dikeluarkan kelenjar tiroid adalah T4.
T3 dan T4 total akan meningkat akibat beberapa keadaan yang membuat
ikatan dengan protein bertambah, atau lantaran mengonsumsu obat-
obatan tertentu. Misalnya kehamilan, hormone estrogen meningkat.
2. Resin Uptake test
Pemeriksaan Resin T3 Uptake dan Resin T4 Uptake adalah mengukur
seberapa banyak rotein yang masih bisa berikatan dengan hormone T3
dan T4 (dalam persen). Jika protein banyak, hormone yang diikat oleh
protein tadi pun menjadi banyak.
3. Free Thyroxin Index (FTI)
FTI ini adalah suatu indicator untuk fungsi tiroid. Pada keadaan normal,
FTI berkisar antara 1.25-3,85. Jika FTI di bawah 1,25, menunjukkan

13
fungsi tiroid yang menurun. Sedangkan bila FTI melebihi angka 3,85, ini
menandakan fungsi tiroid berada di atas normal.
4. Pemeriksaan Antibodi Tiroid
Pada pasien tiroid yang timbul karena proses autoimun, ada semacam
reaksi alergi terhadap jaringan tidroidnya sendiri, tetapi bisa ditemukan adanya
antibody khusus untuk tiroid.
Ada tiga jenis antibody tiroid yang akan diterangkan berikut ini, yaitu
TgAb, TPO, dan TRAB.
a. TgAb dan TPO
Jika dokter meminta pemeriksaan keua antibody ini, artinya ingin
memastikan adanya suatu proses outoimun pada kelenjar tiroid.
Peningkatan kada antibody di atas 100 Iu/ML (internal units per
milliliter) menandakan tes yang positif.
TgAb dan TPO yang tinggi juga bisa ditemukan pada penyakit Graves.
Namun, ada kurang dari 10 persen orang normal pun bisa ditemukan
TgAb dan TPO, terutama jika usia seseorang bertambah tua.
b. TRAB
Antibody lain dari tiroid adalah Thyroid Receptor Antibody atau
TRAB. Antibodi ini bertindak seperti TSH, sehingga banyak T3 dan
T4 yang dilepaskan oleh kelenjar gondok dan terjadilah hipertiroid.
Kadar TRAB yang tinggi di dalam darah menunjukkan adanya
penyakit Graves, penyakit hipertiroid yang timbul karena proses
outoimun.

14
i. Pemeriksaan Penunjang
1. USG Tiroid
Dari ultrasonografi bisa diketahui ukuran, bentuk, dan kepadatan dari
kelenjar tiroid, apakah itu suatu benjolan padat (nodul) atau suatu
rongga yang berisikan cairan (kista). Ultrasonografi ini memakai getaran
suara (ultrasound), jadi tidak menimbukan radiasi.

Gambar 3. Pemeriksaan USG pada Tiroid (diambil dari


http://www.google.com)
2. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB)
Jika dokter ingin mengetahui apa sebenarnya jaringan kelenjar tiroid
yang membesar itu, FNAB-lah jawabannya. Cara ini tidak sakit, tidak
perlu dibius, dan jarang sekali menimbulkan kompliasi. Jarum yang
kecil disuntikkan, sedikit jaringan diambil dngan vakum di ujung jarum,
lalu diperiksakan di bawah mikroskop.

Gambar 3. Pemeriksaan FNAB pada tiroid (diambil dari


http://www.emedicine.com)

j. Komplikasi Hipertiroid pada Ibu Hamil


a. Gagal jantung kongestif pada ibu,

15
b. Preklamsia yaitu kenaikan tekanan darah ibu yang berbahaya pada
trimester akhir kehamilan,
c. Krisis tiroid yaitu, perburukan gejala hipertiroid pada ibu secara
mendadak yang berbahaya,
d. Bayi lahir prematur atau keguguran, dan
e. Bayi lahir dengan berat badan rendah.

16
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTIROID PADA
KEHAMILAN

1) Pengkajian
a. Identitas
Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, tanggal masuk
rumah sakit, serta alamat klien.
b. Keluhan Utama:
Ibu hamil dengan hipertiroid umumnya mengatakan beberapa keluhan, antara
lain kelemahan otot, palpitasi, sering berkeringat banyak, nafsu makan baik tetapi
berat badan menurun.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mulai merasakan kelemahan pada otot, meningkatnya nafsu makan tetapi
tidak diikuti kenaikan berat badan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat dengan penurunan sistem imun dapat memicu penyakit hipertiroid pada
masa kehamilan. Riwayat gangguan pada tiroid dapat memicu penyakit
hipertiroid pada saat kehamilan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit hipertiroid ini tidak diturunkan, namun pola makan yang biasa ditiru
oleh anggota keluarga. Kelebihan yodium sebagai pemicu utama hipertiroid.
f. Pola ADL
1. Aktifitas / istirahat
Gejala : insomnia, sensitivitas T, otot lemah, gangguan koordinasi,
kelelahan otot.
Tanda : atrofi otot.
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri dada (angina).

17
Tanda :disritma (vibrilasi atrium), irama gallop, mur-mur, peningkatan
tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardi saat istirahat,
sirkulasi kolaps, syok (krisis tiroksikosisi).
3. Eliminasi
Gejala : urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feces, diare.
4. Integritas ego
Gejala : mengalami stres yang berat (emosional, fisik)
Tanda : emosi labil 9euforia sedang sampai delirium), depresi
5. Makanan + cairan
Gejala : kehilangan berat badan mendadak, napsu makan meningkat,
makan banyak, makannya sering kehausan, mual, muntah.
Tanda : pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama daerah
pretibial.
6. Neurosensor
Tanda : bicara cepat dan parau, gangguan status mental, perilaku (bingung,
disorientasi, gelisah, peka rangsang), tremor halus pada tangan, tanpa
tujuan beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif refleks tendon dalam
(RTP).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri orbital, fotofobia.
8. Pernapasan
Tanda : frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispea, edema paru
(pada krisis tirotoksikosis).
9. Keamanan
Gejala : tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi
terhadap iodium (mungkin digunakan saat pemeriksaan).
Tanda : suhu meningkat di atas 37,4ºC, diaforesis kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus.
Eksotalus: retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi
eritema (sering terjadi pada pretibial) yag menjadi sagat parah.

18
10. Seksualitas
Tanda : penurunan libido, hipomenorea, amenorea dan impoten.
11. Pengeluhan/pembelajaran
Gejala : adanya riwayat keluarga yang mengalami tiroid masalah rwayat
hipotiroidisme, terapi hormon tiroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan
terhadap pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi
sebagaian. Riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia
gangguan jantung/pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi
(pneumonia), trauma, pemeriksaan rongen foto dengan zat kontras
1. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
a. Tanda tanda vital
Pada penderita hipertiroid akan mengalami demam, takiikardi,
b. Mata (Opthalmoptik)
Retraksi kelopak mata atas → mata melotot
c. Proptosis (eksoptalmus), karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi
oleh limposit.
Tanda Rosenbach: tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup.
Tanda stelwag : mata jarang berkedip.
d. Kulit
Panas, banyak berkeringat, mengkilat, kemerahan, terkadang hingga sampai
clubbing finger apabila terjadi gagal jantung.
- Review of System
B1 (breathing)
frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dipsneu.
B2 (blood)
takikardi, peningkatan tekanan darah, berdebar-debar, gagal jantung.
B3 (brain)
tremor halus pada tangan, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD)
B4 (bladder)
urin meningkat
B5 (bowel)
Peningkatan nafsu makan, diare akibat pristaltik usus meningkat.
B6 (bone)
otot melemah, kelelahan berat

19
2. Pengkajian Psikososial
Pasien dengan hipertiroid menjadi peka rangsang dan emosi labil.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan konsentrasi TSH (Thyroid stimulate hormone)
Konsentrasi TSH pada akhir trimester pertama kehamilan normal dapat
mencapai 0,03 mU/ml, sehingga penurunan TSH saja belum tentu
menunjukkan adanya hipertiroidisme.
b. Hormon tiroid bebas
Kenaikan TBG dalam kehamilan dapat mempengaruhi proporsi hormon
tiroid bebas dalam darah, sehingga lebih dianjurkan pemeriksaan hormon
tiroid bebas.
c. TRAbs (thyroid stimulating hormon reseptor antibodies)
Pemeriksaan TRAbs direkomendasikanpada ibu dengan riwayat penyakit
Graves yang mendapat terapi dengan iodium radioaktif atau operasi
sebelum kehamilan atau riwayat melahirkan bayi dengan penyakit Graves.
d. USG
Memeriksa apakah ada kelainan pada anak yang sedang dikandung atau
tidak.

20
2) Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kebutuhan oksigen yang
meningkat
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder
akibat diare
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
diare, mual, atau peningkatan BMR.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan
intoleransi terhadap panas
6. Resiko tinggi masalah perkembangan pada janin yang akan dilahirkan bd
kematian jaringan janin sekunder dengan hipoksia.

21
2. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kebutuhan oksigen
yang meningkat
Tujuan: Pasien menunjukkan keefektifan pola nafas
Kriteria hasil:
a. Frekuensi pernafasan dalam batas normal 16-24x / menit
b. Irama nafas reguler
c. Tidak ada pursed lips breathing
Intervensi Rasional
1. Lakukan pengkajian tiap 4 1.Evaluasi dan reassessment
jam terhadap tanda-tanda terhadap tindakan yang
vital, terutama RR akan/telah diberikan
(frekuensi, kedalaman,
dan irama) 2. Pucat dan sianosis adalah
2. Catat adanya pucat dan
akibat dari distress
sianosis
pernafasan
3.Posisi semi fowler dapat
3. Berikan posisi semi
memaksimalkan ekspansi
fowler
paru
4.Memberikan ketenangan
4. Alihkan perhatian pasien
pada pasien
dengan cara distraksi 5. Mencegah hipoksia
5. Kolaborasi pemberian
oksigen nasal kanul atau
masker

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan sekunder akibat diare

22
Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki
keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan
untuk meningkatkan kenyamanan.
Kriteria hasil:
a. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal,
b. Tanda vital stabil
HR: regular, kuat
TD: Dalam batas normal
c. Membran mukosa lembab
d. Perfusi akral menunjukan hangat kering merah
e. Turgor kulit baik
Intervensi Rasional
1. Pantau tanda vital, 1. Membantu dalam
catat adanya hipotensi evaluasi derajat defisit
(termasuk perubahan cairan/keefektifan
postural), takikardia, penggantian terapi cairan
takipnea, demam. Ukur dan respons terhadap
CVP bila ada. pengobatan.
2. Pertahankan intake 2. Menunjukkan status
dan output yang adekuat hidrasi keseluruhan.
lalu hubungkan dengan
berat badan harian.
3. Rehidrasi/ resusitasi 3. Untuk mencukupi
cairan kebutuhan cairan dalam
tubuh (homeostatis).
4. Ukur berat jenis urine 4. Menunjukkan status
hidrasi dan perubahan pada
fungsi ginjal.
5. Observasi 5. Hipovolemia,
kulit/membran mukosa perpindahan cairan, dan
untuk kekeringan, kekurangan nutrisi
turgor, catat edema mempeburuk turgor kulit,

23
perifer/sacral. menambah edema
jarinagan.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang


berhubungan dengan peningkatan metabolisme berlebih
Tujuan: Nutrisi pasien terpenuhi
Hasil yang diharapkan:
a. Status Gizi: tingkat zat gizi yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan metabolik meningkat
b. Nilai gizi: keadekuatan zat gizi yang dikonsumsi tubuh pada
ibu hamil meningkat 500 kal per hari dari
biasanya.

Intervensi Rasional
1. Jelaskan pentingnya 1. Meningkatkan keinginan untuk
nutrisi yang adekuat mencukupi kebutuhan nutrisi
selama kehamilan
2. Pemberian makan dengan
2. Tawarkan makanan
jumlah sedikut namun sering
dalam jumlah kecil tapi
dapat memenuhi kebutuhan
sering dan ditambah
kalori klien perhari.
diantara waktu makan.
3. Peningkatan aktivitas
3. Catat adanya anoreksia,
adrenergic dapat menyebabkan
mual dan muntah
gangguan
sekresi insulin/terjadi resisten
yang mengakibatkan
4. Hindarai stimulant : kopi,
hiperglikemia
teh, cola atau makanan 4. Kafein atau teobroimin akan
yang lain yang membuat klien merasa kenyang
mengandung kafein atau dan paristaltik, padahal nutrisi
teobroimin nya belum terpenuhi.
5. Hindari makanan dengan
5. Tidak hanya serat saja tapi ibu

24
jumlah yang banyak serat hamil memerlukan 75 gr
atau makanan yang protein,600 mg asam folat, 27
banyak mengandung mg zat besi, 25 zat seng, 30 mg
bumbu. kalsium, 85 vit C
6. Berikan dorongan untuk 6. Ibu hamil diharuskan menjaga
memperbanyak minum keseimbangan cairan dalam
2-3 liter tiap hari, hindari tubuhnya, yang akan berfungsi
jus yang dapat pada sirkulasi dalam tubuh.
menyebabkan diare.
7. Klien akan merasa nyaman
7. Berikan lingkungan yang
makan nafsu makannya dapat
nyaman bagi klien
teekontrol.
8. Pantau I dan O setiap 8 8. I dan O klien sebagai indicator
jam terpenuhinya nutrisi.
9. Pantau masukan 9. Penurunan berat badan terus
makanan setiap hari, menerus dalam keadaan
timbang berat badan masukan
setiap hari kalori yang cukup merupakan
indikasi kegagalan terhadap
10. Kolaborasi dengan ahli terapi antitiroid
10. Pemenuhan kalori pada ibu
gizi untuk pemberian diet
hamil harus lebih 500 kal per
tinggi kalori, protein,
hari dari biasanya, protein
karbohidrat dan vitamin
diperlukan untuk pertumbuhan
B
jaringan pada janin, vitamin B
adalah asam folat yang
membantu mencegah cacat
pada otak dan tulang belakang,
berperan penting dalam
perkembangan embrio.

25
4. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan
ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan
Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi
Hasil yang diharapkan:
a. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti
intoleran.
b. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan.

26
Intervensi Rasional

1. Pantau tanda vital dan catat nadi 1. Nadi secara luas meningkat
baik istirahat maupun saat dan bahkan istirahat,
aktivitas dan tingkat aktivitas takikardia mungkin
sebelumnya. ditemukan
2. Batasi aktivitas sampai tingkat 2. Aktivitas akan dibatasi karena
toleransi pasien dengan klien mengalami intoleren
melakukan pengkajian respon ativitas agar tidak membuat
aktivitas dan bandingkan dengan klien banyak menegluarkan
tanda vital dasar. energy.
3. Biarkan pasien membuat prioritas 3. Memberikan kesempatan
dalam perawatan didalam klien untuk melakukan
keterbatasannya. aktivitas yang di anggap
penting oleh klien.
4. Berikan jarak waktu antra
4. Memungkian waktu istirahat
prosedur
untuk klien.
5. Berikan peralatan yang
5. Mencegah pengunaan energy
dibutuhkan
sebelum melakukan aktivitas.
6. Hentikan aktivitas pada awal
6. Untuk mengindari klien
timbulnyaa gejala intoleren:
mengalami komplikasi lain.
dispnea, takipnea, takikardi
7. Bantau pasien saat melakukan 7. Aktivitas yang tidak mampu
aktivitas yang tidak mampu dilakukan akan menimbulkan
dilakukan tremor atau kelemahan.
8. Diskusi dengan pasien/ keluarga 8. Keluarga sebagai orang
cara memodifikasi lingkungan terdekat dengan pasien
rumah untuk mempertahankan
aktivitas biasanya dan untuk
9. Digunakan untuk bila timbul
mengurangi keletihan.
9. Kolaborasi dengan pemberian gejala tremor, palpitasi dan
Penghambat beta – andragenik thakikardia
(Beta bloker)

27
6. Resiko ti

28
7. Resiko tinggi masalah perkembangan pada janin yang akan dilahirkan bd
kematian jaringan sekunder dengan hipoksia

Tujuan: Meminimalkan gangguan perkembangan


Kriteria Hasil: Janin yang dilahirkan sehat sempurna dan tidak mengalami
gangguan perkembangan
Intervensi Rasional

melakukan screening awal kehamilan Mengetahui ada atu tidaknya


untuk melihat kondisi bayi kecacatan pada bayi

Anjurkan ibu untuk menjalani menyelesaikan masalah utama


pengobatan secara teratur kepada untuk menghindari komplikasi
dokter untuk menyelesaikan masalah janin
utama

Penuhi kebutuhan gizi ibu hamil untuk Gizi kehamilan merupakan hal
meningkatkan pertumbuhan bayi yang penting yang harus diprioritaskan
sehat oleh para orang tua

Mengindetifikasi harapan orang tua Memberikan pemahaman sesuai


kepada anak di masa depan apa yang diharapakan keluarga

Ajarkan kepada orang tua tentang Memandirikan keluarga pasien


penanda perkembangan normal dan memberikan tanda-tanda
buruk sehingga keluarga pasien
bisa memberikan tindak lanjut

Demonstrasikan aktivitas yang Meminimalisir gangguan pada


menunjang perkembangan jika bayi anak
telah lahir

Ajarkan tentang perilaku yang sesuai Anak berkembang sesuai stepnya


usia anak (jika bayi telah lahir)

29
Daftar Pustaka

Baradero, M., et al. 2005. Klien Gangguan Endokrin: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
Doengoes, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
Kedokteran EGC hal 708-709.
F. Gary Cunningham, et.al.2005. Obstetri Williams Volume 2 Ed.21. Jakarta : EGC
Ganong, William. 2003 . Kelenjar Thyroid, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi
20. Jakarta: McGraw-Hill & EGC.
Garry, Dimitry. 2013. Penyakit Tiroid pada Kehamilan. 40:500-503.
Greenspan, Francis S. dan Baxter, John D. 2000. Endokrinologi Dasar & Klinik, ed 4.
Jakarta: EGC
Guibson, John. 2004 . Kelenjar Thyroid, Fisiologi & Anatomi untuk Perawat, Edisi
Kedua. Jakarta: EGC.
Kumar, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi, vol 2. Jakarta: EGC.
Moore, Keith L. & Anne M. R. Agur. 2002 . Glandula Thyroidea, Anatomi Klinis
Dasar. Jakarta: Hipokrates.
Price, S.A dan Wilson, LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, vol 2. Jakarta: EGC.
Semiardji, Gatut. 2003. Penyakit Kelenjar Tiroid. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Sloane, Ethel. 2004 . Kelenjar Thyroid, Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula, Edisi
Pertama. Jakarta: EGC.
Syaifuddin. 2002 . Kelenjar Thyroid. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia, Edisi
Pertama. Jakarta: Widya Medika.
Tandra, Hans. 2011. Mencegah dan Mengatasi Penyakit Tiroid. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama. Hal 137-138
Wilkinson. Judith M. & Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Keperawatan : Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Ed.9th. Jakarta: EGC

30