Anda di halaman 1dari 4

BAB 4

PEMBAHASAN

4.1 Kesenjangan Teori dan Penyelesaian


Pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai pelayanan kesehatan masyarakat lini
pertama dalam Permenkes no 75 tahun 2014. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa
upaya kesehatan masyarakat terdiri dari upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya
kesehatan masyarakat pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi
pelayanan promosi kesehatan; pelayanan kesehatan lingkungan; pelayanan kesehatan ibu
dan anak serta pelayanan keluarga berencana; pelayanan gizi; pelayanan pencegahan dan
pengendalian penyakit. Sementara upaya kesehatan pengembangan meliputi antara lain
upaya kesehatan sekolah; upaya kesehatan gigi dan mulut; upaya kesehatan olahraga;
upaya kesehatan jiwa; upaya kesehatan usia lanjut; upaya kesehatan mata dan sebagainya.
Puskesmas dipimpin oleh seorang pimpinan Puskesmas dan didukung oleh sumber daya
manusia baik tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Tenaga kesehatan Puskesmas
meliputi dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat tenaga
kesehatan lingkungan, tenaga laboratorium medik, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian.
Tenaga non kesehatan Puskesmas meliputi tenaga ketatausahaan, tenaga keuangan,
tenanga informasi dan tenaga pendukung kegiatan operasional lainnya. Jenis dan jumlah
minimal tenaga Puskesmas ditentukan berdasarkan analisis beban kerja dengan
mempertimbangkan jenis pelayanan, jumlah penduduk, karakteristik wilayah kerja, luas
wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan dan pembagian waktu. Dalam
menjalankan tugas tenaga kesehatan Puskesmas harus menjalankan tugas berdasarkan
standar profesi, standar pelayanan, standar operasional prosedur, etika profesi,
menghormati hak pasien, dan mengutamakan kepentingan serta keselamatan pasien tanpa
mengabaikan keselamatan dan kesehatan dirinya.

Puskesmas Kelurahan Curug memberikan palayanan di dalam gedung dan di luar gedung.
Beberapa kegiatan pelayanan di dalam gedung adalah: pelayanan kesehatan gigi,
pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan ibu hamil dan keluarga berencana, pelayanan
untuk kesehatan anak, dewasa dan lansia, pelayanan untuk tindakan gawat darurat,
pelayanan farmasi, serta pelayanan gizi. Puskesmas Kelurahan Curug memiliki sebuah
poli khusus lansia. Secara umum ruangan ini dilayani oleh satu dokter dan satu perawat
yang bertugas.
Puskesmas Kelurahan Curug sudah terakreditasi pada tahun 2017 ini. Banyak
pembenahan dan program baru yang sedang dijalankan oleh Puskesmas Cimanggis salah
satunya adalah terbentuknya Nursing Center. Khusus di ruang poli lansia tidak berbeda
jauh dengan ruangan lain, tersedia fasilitas pelayanan yang mulai semakin ditingkatkan,
namun masih memerlukan inovasi baru terhadap mutu pelayanan yang optimal pada
lansia yang berkunjung. Terdapat beberapa masalah yang ditemukan pada poli lansia
salah satunya adalah belum terdapatnya form asuhan keperawatan di ruangan dan media
edukasi juga sedikit. Untuk saat ini asuhan keperawatan di poli lansia belum berjalan.

Dalam manajemen Puskesmas disebutkan ada beberapa fungsi manajemen yaitu mulai
dari fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, pelaksanaan dan
pengontrolan. Secara umum fungsi manjemen di Puskesmas Kelurahan Curug khususnya
pada poli lansia berjalan baik namun ada beberapa fungsi perencanaan masih memiliki
keterbatasan. Di ruang poli lansia Puskesmas Kelurahan Curug ditemukan masalah
hampir di semua fungsi manajemen. Beberapa masalah yang ditemukan antara lain
perencanaan program pelayanan lansia kurang optimal (prosedur dan alat),
ketidakefektifan organizing dan staffing, belum optimalnya actuating di Puskesmas
(motivasi dan manajemen partisipasi), proses controlling tidak adekuat (pemantaan
proses). Dalam praktek manajemen periode ini kelompok memprioritaskan pada masalah
fungsi perencanaan spesifik yaitu belum adanya form asuhan keperawatan diruang poli
lansia dan minimnya media edukasi.
Sebagai upaya untuk mengatasi masalah pada fungsi perencanaan, kelompok
mengusulkan pembuatan form asuhan keperawatan dan pembuatan media edukasi. Form
asuhan keperawatan dibuat dengan format singkat dan jelas agar memudahkan dan
meminimalkan waktu pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan. Selain itu juga
pembuatan media edukasi terkait beberapa masalah kesehatan yang sering dikeluhkan
lansia. Rencana usulan ini dipresentasikan di hadapan kepala Puskesmas beserta staf
untuk bersama-sama mendukung pembuatan dokumentasi form asuhan keperawatan yang
akan menjadi panduan dan pedoman staf dalam memberikan asuhan keperawatan
khususnya pelayanan di ruang poli lansia. Sehingga dalam melaksanakan pelayanan,
petugas memberikan pelayanan yang optimal. Form asuhan keperawatan ini penting
dalam menjaga mutu pelayanan puskesmas khususnya untuk lansia.
4.2 Analisis

Proses manajemen keperawatan yang dianalisis kelompok dimulai dari proses pengkajian,
skoring, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Analisis pengkajian yang dilakukan
kelompok didapatkan beberapa masalah, akan tetapi setelah melakukan skoring kelompok
mengangkat masalah utama yaitu ketidakefektifan fungsi perencanaan di poli lansia:
prosedur dan alat. Berdasarkan masalah utama tersebut, kelompok melakukan
perencanaan untuk mengatasi masalah berupa pembuatan dokumentasi asuhan
keperawatan dengan format singkat dan pembuatan media edukasi.

Form asuhan keperawatan yang dibuat terdiri dari beberapa masalah keperawatan utama
yang sering terjadi di poli lansia yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas, nyeri
akut/kronik, kerusakan integritas kulit, ketidakstabilan gula darah, dan
ketidakseimbangan nutrisi. Sedangkan untuk pembuatan media edukasi dibuat
berdasarkan masalah yang sering terjadi diruangan yaitu hipertensi, asama urat, diabetes
melitus, obesitas dan infeksi saluran napas atas. kelompok mengkonsultasikan kepada
dosen/pembimbing dan pihak Puskesmas terkait form asuhan keperawatan. Setelah diberi
masukan, terdapat beberapa perubahan berupa format asuhan keperawatan. kelompok
mempresentasikan form asuhan keperawatan dan mendiskusikan dengan pegawai
Puskesmas. Pegawai Puskesmas yang diundang adalah seluruh staf di berbagai poli.
Khusus poli lansia yang dindang adalah dokter dan perawat di poli lansia serta pemegang
program lansia.

Presentasi akhir atau evaluasi pelaksanaan form asuhan keperawatan dilaksanakan pada
tanggal 8 jui 2017. Implementasi dihadiri oleh 13 pegawai Puskesmas termasuk Kepala
Puskesmas Curug. Jumlah peserta yang hadir sesuai target. Pada proses presentasi,
terdapat beberapa masukkan dari pegawai Puskesmas. Diskusi berjalan aktif dikarenakan
pegawai Puskesmas juga antusias dengan proyek inovasi kelompok, sehingga diskusi
dapat berjalan lancar. Setelah implementasi dengan pembahasan form asuhan
keperawatan tersebut, didapatkan analisis SWOT-nya berupa:

Strenghts

Setelah dianalisa, terdapat beberapa kekuatan yang dimiliki saat implementasi, yaitu form
asuhan keprawatan yang dibuat menjadi pedoman untuk melakukan asuhan keperawatan
diruangan, mempermudah pemberian asuhan keperawatan, menonjolkan peran perawat,
mempersingkat waktu pemberian dan dokumentasi asuhan keperawatan serta
meningkatkan pengetahuan pasien yang datang. Pada saat presentasi terdapat perawat di
poli lansia yang hadir sehingga dapat memberikan masukan dari perawat serta kepala
Puskesmas maupun pegawai yang hadir terkait form asuhan keperawatan sehingga
diskusi sangat aktif.

Weakness

Selain kekuatan, terdapat juga beberapa kelemahan yang dimiliki pada saat implementasi,
yaitu tulisan dalam form asuhan keperawatan terlalu kecil, belum adanya form
menuliskan evaluasi, format asuhan keperawatan yang berbeda-beda masing-masing poli
sehingga menyulitkan pengadaan, dan format asuhan keperawatan belum mencakup
semua masalah keperawatan yang dialami lansia.

Opportunities

Kesempatan yang dimiliki pada saat implementasi adalah adanya dukungan dari pihak
Puskesmas, antusias klien yang diberikan asuhan keperawatan, ketersedian meja perawat
dan ketersediaan waktu untuk melakukan asuhan keperawatan.

Threats

Selain kesempatan, terdapat ancaman yang dimiliki pada saat implementasi, yaitu
banyaknya tugas administratif yang harus dikerjakan oleh perawat, sasaran pemberian
asuhan keperawatan yaitu lansia, banyak yang mengalami penurunan kognitif sehingga
memerlukan edukasi yang berulang-ulang.

Setelah dilakukan implementasi, terdapat kesepakatan antara kelompok dan pihak


Puskesmas untuk menindaklanjuti implementasi yang telah dilakukan. Rencana tindak
lanjut tersebut berupa memperbesar dan memperbanyak ukuran form asuhan keperawatan
yang telah dibuat. Implementasi yang dilakukan kelompok diterima baik oleh Puskesmas
dikarenakan memiliki beberapa implikasi terhadap Puskesmas khususnya poli lansia. Hal
tersebut dikarenakan dengan adanya form asuhan keperawatan dan media edukasi yang
sudah disediakan, maka akan berdampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan di
Puskesmas Curug, sehingga pelayanan yang diberikan merupakan pelayanan terbaik.