Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

“Asuhan Keperawatan dengan klien Harga Diri Rendah Situasional”

Disusun Oleh :

Apri Rahma Dewi


1606859260

PROGRAM MAGISTER SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
“Asuhan Keperawatan dengan klien Harga Diri Rendah Situasional”

1. Pengertian
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri
sendiri dan kemampuan diri (Keliat dan Akemat, 2007). Harga diri rendah
siuasional adalah suatu keadaan ketika individu yang sebelumnya
memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif mengenai diri
dalam berespons terhadap suatu kejadian kehilangan atau perubahan
(Carpenito, 2003). hal yang sama juga diungkapkan oleh Nanda (2015),
Harga diri rendah situasional adalah evaluasi diri negatif yang berkembang
sebagai respon terhadap hilangnya atau berubahnya perawatan diri
seseorang yang sebelumnya mempunya evaluasi diri positif.
2. Tanda dan gejala
Menurut Nanda (2014), adapun yang menjadi tanda dan gejala dari harga
diri rendah Situasional adalah:
Data Subyektif :
a. Evaluasi diri bahwa individu tidak sanggup mnghadapi peristiwa
tertentu
b. Mengungkapkan rasa malu / bersalah
c. Mengungkapkan hal-hal yang negative tentang diri (ketidakberdayaan
dan ketidakbergunaan)
Data Objektif :
a. Menyalahkan diri secara periodic terhadap permasalahan hidup yang
sebelumnya mempunyai evaluasi diri yang positif
b. Kesulitan dalam membuat keputusan (bimbang/tidak asertif) Selera
makan menurun
c. Lebih banyak menunduk
d. Bicara lambat dan suara lemah
3. Psikodinamika
Harga diri rendah situasional berkaitan dengan masalah psikososial. Teori
perkembangan psikososial Erickson menjabarkan bahwa perkembangan setiap
manusia terdiri dari delapan tahapan perkembangan, dimana di setiap tahapan
perkembangan membawa pengaruh terhadap tahapan perkembangan selanjutnya.
Salah satu tahapan perkembangan yang berpengaruh adalah tahapan
perkembangan saat masih anak-anak. Anak yang pada masa perkembangannya
mampu mengembangkan kemampuan dan kompetensinya serta adanya hubungan
dan dukungan keluarga yang baik, serta teman kelompok yang berarti maka akan
menumbukan nilai percaya diri pada anak tersebut sampai dewasa. Namun,
begitu juga sebaliknya. Anak yang pada tahapan perkembangannya tidak mampu
mengembangkan kemampuan diri, ditambah tidak adanya hubungan yang baik
antara keluarga serta teman kelompok akan menumbuhkan perasaan gaal pada
anak tersebut (Varcarolis, 2013).

4. Proses Terjadinya Masalah


HDR situasional dapat disebabkan karena gangguan pada struktur, fungsi,
dan penampilan tubuhnya; penolakan orang lain atau orangtua atas
dirinya; kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau ideal dirinya
(kegagalan); transisi peran sosial; trauma seperti penganiayaan seksual
atau psikologis atau melihat kejadian yang mengancam nyawa (Stuart &
Sundeen, 1991; Stuart, 2009).
Faktor Predisposisi
Biologis
- Ada riwayat gangguan status nutrisi (kurus, obesitas) atau
anoreksia dan tidak ada perbaikan nutris, BB tidak ideal
- Paparan terhadap racun, sindrom alkohol saat janin dalam
kandungan
- Riwayat kesehatan secara umum, misalnya kanker, epilepsi, trauma
kepala, riwayat gangguan penyakit jantung, penyakit neurologis
- Menderita penyakit fisik (penyakit kronis, defek kongenital, dan
kehamilan)
- Mengalami perubahan kognitif atau persepsi akibat nyeri kronis
- Adanya masalah psikososial yang menyebabkan gangguan makan,
BB obesitas atau terlalu kurus
- Penanganan medik jangka panjang (kemoterapi dan radiasi)
- Maturasi normal : pertumbuhan dan perkembangan masa kecil,
anak, dan remaja
- Perubahan fisiologi pada kehamilan dan penuaan
- Adanya riwayat prosedur pembedahan elektif : prosedur bedah
plastik, wajah, bibir, perbaikan jaringan parut, prosedur
pembedahan transeksual, aborsi
- Riwayat mnderita penyakit kronis dan mengalami nyeri kronis
Psikologi
- Kemampuan melakukan komunikasi verbal gagap atau tidak
mampu mengungkapkan apa yang dipikirkan, berinteraksi dengan
orang lain
- Adanya pembatasan kontak sosial akibat perbedaan budaya
maupun akibat proses pengobatan yang lama (di ICU, NGT, ETT,
trakeostomi)
- Mengalami gangguan psikologis
- Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : masa kecil
sering disalahkan dan tidak diterima, perpisahan traumatik dengan
orang yang berarti, penolakan dari keluarga, perceraian, kekerasan
dalam rumah tangga, diturunkan dari jabatan, konflik dengan rekan
kerja, penganiayaan seksual, sering kali mengalami kegagalan.
- Motivasi: kurangnya penghargaan dari orang lain pada masa
perkembangan yang terjadi secara berulang, kurangnya dukungan
sosial dan dari diri sendiri
- Mempunyai konsep diri negatif : gambaran diri negatif, ideal diri
tidak realistis, gangguan pelaksanaan peran
- Self kontrol rendah, ketidakmampuan melakukan kontrol diri
ketika mengalami kegagalan maupun keberhasilan (terlalu sedih
atau terlalu senang yang berlebihan)
- Kepribadian : menghindar, tergantung, menutup diri dan mudah
cemas
- Riwayat kesulitan mengambil keputusan, tidak mudah
berkonsentrasi
Sosial Budaya
- Usia : jika pada usia tersebut individu tidak dapat mencapai tugas
perkembangannya yang seharusnya maka pemikiran negatif
tentang dirinya akan muncul. Erikson (1963) dalam Stuart (2013)
mengungkapkan bahwa jika tugas perkembangan sebelumnya tidak
terpenuhi maka dapat menjadi predisposisi terhadap gangguan
ansietas.
- Gender/jenis kelamin: pelaksanaan peran individu sesuai dengan
jenis kelamin yang tidak optimal akan mempermudah munculnya
harga diri yang negatif secara situasional dan perempuan lebih
banyak mengalami harga diri rendah situasional
- Kurangnya pendapatan/penghasilan yang dapat mengancam
pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari
- Mengalami perubahan status atau prestise
- Pengalaman berpisah dari orang terdekat, misalnya karena
perceraian, kematian, tekanan budaya, perpindahan dan perpisahan
sementara atau permanen
- Perubahan status sosial dan ekonomi akibat pensiun
- Tinggal di lingkungan yang terdapat bahaya keamanan maupun
polusi lingkungan
- Kondisi klien yang tidak memiliki pekerjaan, pengangguran, ada
pekerjaan baru maupun promosi
- Peran sosial : kurang mampu menjalankan perannya untuk
berpartisipasi di lingkungan teman tinggal dan kesulitan membina
hubungan interpersonal dengan orang lain
- Agama dan keyakinan : kurang menjalankan kegiatan keagamaan
sesuai dengan agama dan kepercayaan atau ada nilai budaya atau
norma yang mengharuskan melakukan pembatasan kontak sosial
dengan orang lain
Faktor Presipitasi
Nature
a. Biologi
- Adanya kehilangan bagian tubuh, struktur tubuh, fungsi tubuh
- Adanya penyakit akut yang mempengaruhi fungsi tubuh
- Adanya efek samping pengobatan kemoterapi dan radiasi
- Status gizi, misalnya obesitas atau terlalu kurus. (BB tidak
ideal)
- Adanya kelainan kongenital
- Sensitifitas biologio: ketidakseimbangan elektrolit, gangguan
pada sistem limbik, thalamus, kortek frontal, GABA,
norefrinefrin dan serotonin
b. Psikologis
- Mempunyai pemahaman yang baik terhadap stimulus yang ada,
Kemampuan komunikasi verbal terganggu akibat adanya
gangguan sensori penglihatan dan pendengaran serta kerusakan
area motorik bicara (gagap, pelo dan bisu)
- Adanya gangguan gambaran diri akibat terapi penyakit:
misalnya pemasangan infus, NGT, Trakheostomi, infus
- Gangguan konsep diri karena perubahan peran akibat sakit
yang mendadak akut
- Adanya harapan yang tidak terpenuhi (misalnya: terhadap anak,
kelahiran anak, kehamilan)
- Kepribadian: mudah cemas dan introvet atau menutup diri
- Moral: tidak menerima reward dari masyarakat, penilaian diri
yang rendah (self defrifation) dan takut tentang definisi diri
sendiiri)
- Mengalami penganiayaan seksual atau pemerkosaan dalam
enam bulan terakhir
- Motivasi : kurangnya dukungan sosial orang sekitar dan tidak
pernah mendapatkan penghargaan dari luar
- Self kontrol: klien kurang dapat mengendalikan dorongan yang
kurang positif
- Adanya pembatasan kontak sosial dengan keluarga & teman
akibat perbedaan budaya, lokasi tempat tinggal yang terisolasi,
proses pengobatan yang menyebabkan gangguan bicara
c. Sosial budaya
- Krisis maturasi atau individu tidak mampu mencapai tugas
perkembangan yang seharusnya
- Pembatasan yang dilakukan oleh rumah sakit akibat hospitalisasi
- Gender: jenis kelamin perempuan lebih berisiko mengalami
kegagalan menjalankan peran
- Pendapatan rendah atau kurang dari UMR
- Pekerjaan: tidak tetap, penggangguran
- Status sosial : aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat
(pengurus)
- Latar belakang budaya: nilai budaya keyakinan yang kuat,
misalnya seorang laki-laki harus menjadi tulang punggung
keluarga atau pelindung keluarga
- Keikutsertaan partai politik dan organisasi: aktif megikuti
kegiatan politik dan organisasi
- Pengalaman sosial: belum pernah mengalami kehilangan,
penolakan hubungan interpersonal, berpisah dengan orang yang
dicintai, tidak ada masalah dengan pelaksanaan hubungan intim
dan tiba-tiba mengalami pengalaman sosial yang kurang baik
akibat penyakitnya/perubahan fisiknya
- Peran sosial: tidak dapat menjalankan peran sosialnya lagi
akibat perubahan fisik yang sebelumnya dapat dilakukan.
Origin
a. Internal: Persepsi individu yang tidak baik tentang dirinya, orang
lain dan lingkungannya
b. Eksternal: Kurangnya dukungan keluarga dan orang
sekitar/masyarakat
Timing
Stres dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan, stress dapat
berlangsung lama atau stres dapat berlangsung secara berulang-ulang
Number
Sumber stres dapat lebih dari satu dan terjadi selama usia
perkembangan dan pertumbuhan dan biasanya stressor dinilai sebagai
masalah yang sangat berat

Penilaian Terhadap Stressor


a. Kognitif
- Mengungkapkan menjelek-jelekan diri
- Mengungkapkan hal-hal yang negatif tentang diri (misalnya:
ketidakberdayaan dan ketidakbergunaan)
- Mengungkapkan penyalahan diri yang episodik sebagai respons
terhadap permasalahan hidup seseorang yang sebelumnya
mempunyai evaluasi diri yang positif
- Mengungkapkan mengevaluasi diri seperti tidak mampu untuk
mengatasi permasalahan/situasi
- Kesulitan dalam pengambilan keputusan
- Mengungkapkan secara verbal melaporkan tantangan situasional
saat ini terhadap harga diri
b. Afektif
- Perasaan negatif tentang dirinya (ketidakberdayaan, kegunaan)
- Merasa malu dan bersalah
- Merasa sedih
- Perasaan tidak mampu
- Perasaan tidak berguna
- Mudah tersinggung
c. Fisiologis
- Perubahan aktual pada fungsi
- Perubahan aktual pada struktur
- Peningkatan tekanan darah
- Pusing atau sakit kepala
- Kelelahan atau keletihan
- Tampak lesu
- Kurang nafsu makan
- Penurunan berat badan
- Makan atau minum secara berlebihan
- Konstipasi/diare
- Insomnia/gangguan tidur
- Mual dan muntah
- Perubahan siklus haid
d. Perilaku
- Kurangnya kemampuan untuk mengikuti sesuatu
- Tidak mau bekerja sama dalam terapi
- Perilaku bimbang
- Perilaku tidak asertif
- Mengkritik diri sendiri
- Penurunan produktivitas
- Berkurangnya kreativitas
- Pengurangan diri
- Penyalahgunaan rokok, obat, alkhoho;l
- Penolakan terhadap realitas
e. Sosial
- Kurangnya kontak mata
- Pengabaian diri
- Isolasi sosial
- Misintepretasi
- Kurangnya pratisipasi sosial
Sumber Koping
Personal ability
- Kemampuan dalam berkomunikasi secara verbal dan non verbal
- Kemampuan dalam memecahkan masalah
- Hubungan interpersonal dengan orang lain
- Pengetahuan klien tentang masalah yang dirasakan, yaitu harga diri
rendah situasional
- Adanya gangguan fisik (kesehatan secara umum) yang
menghambat upaya mengatasi harga diri rendah situasional yang
dialami.
- Aspek positif diri yang dimiliki klien (misalnya: olah raga, hobi)
- Keterampilan seni yang dimiliki
Sosial support
- Hubungan yang baik atau kurang baik antar individu, keluarga
kelompok dan masyarakat.
- keterlibatan dalam organisasi sosial/kelompok sebaya
- Ada atau tidak ada konflik budaya di lingkungan tempat tinggal
klien
Material asset
- Penghasilan sesara individu : cukup atau tidak
- Keberadaan asset harta benda pendukung pengobatan yang dimiliki
(tanah, rumah, tabungan)
- Mempunyai fasilitas Jamkesmas, SKTM, ASKES.
- Pekerjaan/vokasi/posisi : memiliki atau tidak
- Akses pelayanan kesehatan terdekat
Positive belief
- Kenyakinan dan nilai positif tentang dirinya sendiri
- Memiliki motivasi atau tidak dalam mengatasi penilaian negatif
tentang dirinya sendiri
- Orientasi klien terhadap kesehatan terutama dalam hal pencegahan
terjadinya harga diri rendah situasional
-
Mekanisme Koping
Konstruktif
- Aktivitas yang memberikan pelarian sementara dari krisis identitas
diri
- Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara
- Aktivitas sementara menguatkan atau meningkatkan perasaan diri
yang tidak menentu
- Membangun kepercayaan diri dan optimis
- Memanfaatkan dukungan keluarga/orang terdekat
- Komunikasi terbuka
- Pemenuhan peran yang signifikan
- Mengungkapkan penerimaan diri
- Menerima kritikan dari orang lain
- Mengidentifikasi alternatif dan kemungkinan yang akan timbul
- Mengidentifikasi sumber-sumber yang diperlukan untuk
mendukung setiap alternatif
Destruktif
- Penggunaan fantasi
- Regresi
- Proyeksi
- Disosiasi
- Kompensasi
- Rasionalisasi /intelektualisasi
- Displacement
- Isolasi sosial
- Identitas negatif
- Amuk
- Penyalahgunaan obat
- Berbalik marah/benci terhadap diri sendiri

5. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah situasional
6. Tindakan keperawatan
a. Terapi generalis
Ditujukan pada pasien:
1. Tujuan:
Tujuan umum: Individu mengekspresikan pandangan positif untuk masa
datang dan memulai kembali tingkatan fungsi sebelumnya.
Tujuan Khusus:
a. Mengidentifikasi sumber ancaman terhadap harga diri dan pekerjaan
melalui masalah tersebut.
b. Mengidentifikasi aspek- aspek positif diri.
c. Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya.
d. Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol dan mempengaruhi
hasil
2. Tindakan keperawatan:
a. Bantu individu dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan.
b. Praktikkan bicara pada diri (self talk): tuliskan gambaran singkat
tentang perubahan dan konsekuensi yang ditimbulkan (contoh: saya
gagal masuk FIK UI) dan tuliskan 3 hal manfaat tentang situasi ini
c. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien.
Perawat dapat melakukan hal – hal berikut:
1) Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien.
2) Beri pujian yang realistik dan hindarkan penilaian yang negatif.
d. Membantu klien untuk memilih / menetapkan kemampuan yang akan
dilatih.
e. Latih kemampuan yang dipilih klien
f. Bantu klien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih.
1) Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
dilatihkan.
2) Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap hari.
3) Tingkatkan kegiatan klien sesuai dengan tingkat toleransi dan
perubahan setiap kegiatan.
4) Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih.
5) Berikan klien kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
g. Bantu individu menerima perasaan positif dan negatif
h. Anjurkan analisis terhadap perilaku terbaru dan konsekuensi yang
telah dilatih
i. Bantu dalam mengidentifikasi tanggungjawab sendiri dan control
terhadap situasi (missal bila terus-menerus menyalahkan orang lain
terhadap maslaah).

Ditujukan pada keluarga


1. Tujuan:
a. Keluarga dapat membantu klien mengidentifikasi kemampuan yang
dimiliki klien.
b. Keluarga dapat memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih
dimiliki klien.
c. Keluarga dapat memotivasi klien untuk melakukan kegiatan yang
sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan klien.
d. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan klien
2. Tindakan keperawatan
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien.
b. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang dialami klien.
c. Diskusi dengan keluarga mengenai kemampuan yang dimiliki klien
dan puji klien atas kemampuannya.
d. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah.
e. Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktikkan cara merawat
klien dengan harga diri rendah seperti perawat yang telah
didemonstrasikan sebelumnya.
f. Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan klien di rumah.
b. Terapi spesialis
- Terapi Individu : Cognitive Therapy (CT), Cognitive Behaviour
Therapy, Logoterapi, REBT
- Terapi Keluarga : Family Psychoeducation (FPE)
- Terapi Kelompok : Therapy Supportive, Self Help Grou[p,
Reminescene Therapy
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J dan Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10.
Jakarta : Penebit Buku Kedokteran EGC

Keliat, B.A, Wiyono, Akemat. P.W dan Susanti, H. (2011). Manajemen Kasus
Gangguan Jiwa CMHN (Intermediate Course). Cetakan I. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Keliat dan Akemat. 2007. Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

NANDA (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.


Cetakan I. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran EGC

Townsend, M.C (2010). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri rencana


Asuhan & Medikasi Psikotropik. Edisi 5. Jakarta: Penebit Buku
Kedokteran EGC

Doenges,M., Townsend, M., (2008) Nursing Diagnosis Manual ed.2. F.A Davis
Company: Philadelphia.

Stuart, Gail W. (2013). Principles & Practice of Psychiatric Nursing ed10.


Philadelphia: Elsevier Mosby

Townsend, Mary C. (2008). Essentials of psychiatric mental health nursing _4th


ed. F. A. Davis Company: Philadelphia

Varcarolis, E.M. (2013). Essentials of Psychiatric Mental Health Nursing : Second


Edition. St. Louis: Elsevier
STRATEGI PELAKSANAAN

“Asuhan Keperawatan dengan klien Harga Diri Rendah Situasional”

Disusun Oleh :

Ida Ayu Putri Wulandari


1506805276

PROGRAM MAGISTER SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2016
STRATEGI PELAKSANAAN

“Asuhan Keperawatan dengan klien Harga Diri Rendah Situasional”

A. LAPORAN PENDAHULUAN KASUS

Nn.Tina usia 20 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosis TB paru. Klien
Belum menikah, pekerjaan sebelum sakit adalah sekretaris se buah perusahaan
swasta. Klien mengatakan malu dengan penyakit yang dideritanya saat ini dan
tidak berani menceritakan tentang penyakitnya kepada orang lain karena takut
ditolak, dijauhi, dan dicemohkan oleh lingkungan atau teman-temanya.Klien dan
keluarga maih menganggap penyakit TBC merupakan penyakit memalukan dan
sebagai aib bagi keluarga. Klien terlihat murung dan pasif dan mengatakan sangat
sedih karena terpaksa harus berhenti bekerja akibat penyakit ini. Klien merasa
kuatir dengan masa depannya kelak.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


Pertemuan ke 1
Strategi Pelaksanaan
Orientasi
1. Salam terapeutik
”Selamat pagi mbak Tina. Perkenalkan saya yanti, saya adalah perawat
pendamping dari perawat Tika yang merupakan perawat penanggung jawab
mbak Tina hari ini.
2. Evaluasi/validasi
”Bagaimana kondisi mbak saat ini? Apa yang terjadi sehingga mbak dibawa
ke rumah sakit? apakah sekarang masih dirasakan? Apa yang sudah mbak
lakukan untuk mengatasinya? apa yang mbak rasakan setelah melakukannya?
apakah bermanfaat yang bapak lakukan itu?
3. Kontrak waktu dan tempat
”Baiklah mbak, kita akan berbincang-bincang tentang rasa malu yang mbak
rasakan tujuannya agar saya dapat membantu menyelesaikan masalah yang
mbak rasakan. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang 30 menit mbak?
Baiklah mbak, apakah mbak mau berbincang-bicang sambil tiduran atau
duduk saja? Saya akan bantu mbak untuk duduk ya. Ada beberapa hal yang
perlu saya tanyakan terlebih dahulu untuk menentukan tindakan yang tepat
dalam megatasi masalah bapak

Kerja
A. Identifikasi faktor predisposisi dan presipitasi
1. Biologi
Baiklah mbak saya kita akan melihat kejadian-kejadian yang mbak pernah
alami sebelum masuk Rumah Sakit. Masih ingat gak dulu waktu lahir mbak
ditolong oleh siapa? Dilahirkan di rumah atau di rumah sakit? Cukup umur
gak waktu lahir? Dari kecil sampai sekarang pernah di rawat di rumah sakit
gak sebelumnya? Mengalami kecelakaan pernah kah? Apakah pernah
menggunakan obat-obatan atau merokok? Perasaan malu dan tidak berguna
karena penyakit yang mbak derita ini sudah terjadi berapa lama? Pernah gak
sebelumnya mengalami seperti yang mbak rasakan saat ini? Adakah saudara
atau keluarga mbak yang pernah mengalami hal yang sama seperti yang
mbak rasakan saat ini? Selain dari meberita penyakit TB ada hal lain gak
yang mbak rasakan seperti tidak mau makan, malas makan, atau tidak bisa
makan?
Baiklah mbak dari hasil diskusi kita tadi dapat saya simpulkan bahwa mbak
lahirnya normal, pernah dirawat pada usia 16 tahun karena demam tidak
turun selama 5 hari, tidak pernah merokok ataupun minum minuman keras,
saat ini sedang menderita penyakit TB Paru, mbak sering merasa mual dan
muntah semenjak minum obat berat OAT, badan turun dari 50 menjadi 40
kg.
2. Psikologis
Apakah mbak memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang sampai
sekarang mbak masih ingat trus? Apakah dulu waktu kecil mbak sering
diberi dukungan dan pujian ketika melakukan sesuatu? Apakah mbak pernah
mengalami kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup mbak? Apakah
ada konflik dengan keluarga saat ini? Apa yang mbak rasakan saat ini
ketika dirawat di rumah sakit? Apakah dipasang infuse membuat mbak tidak
nyaman? Apakah ada peran yang terganggu akibat dirawat ?. ”Bagaimana
tanggapan keluarga Mbak Y terhadap penyakit yang mbak derita? Apakah
mereka mendukung Mbak dalam mengatasi masalah ini? Siapa saja orang
yang selalu mendukung Mbak Y ?”
”berarti dulu waktu kecil mbak jarang diberi pujian oleh keluarga, mbak
merasa tidak nyaman karena dipas
ang infuse, merasa malu dan sedih akibat penyakit yang sedang diderita,
karena penyakit ini menurut mbak dan keluarga adalah penyakit memalukan
yang dapat menjadi aib bagi keluarga. Mbk juga merasa kuatir dengan masa
depan mbak karena saat ini mbak harus keluar dari pekerjaan mbak.

3. Sosial budaya
Mbak dulu pendididkan terakhirnya apa? Apa penyebab mbak tidak
melanjukan sekolah kejenjang berikutnya? Setelah lulus sampai sekarang
apakah mbak bekerja? Dimana, berapa lama dan jadi apa? Sekarang apakah
masih bekerja? Gajinya bulanan kah mbak? Jika saat ini mbak tidak bekerja
lagi, siapa yang menanggung biaya hidup mbak? Apakah mbak punya teman
dekat atau sahabat? Kegiatan apa yang sering mbak lakukan dengan teman-
teman atau sahabat mbak?”
“Sekarang Mbak tinggal bersama siapa? Apakah mbak sudah menikah?”
Apakah mbak aktif dalam suatu organisasi atau kegiatan pengajian atau
kegiatan pemuda dilingkungan ruah mbak?
Kalau saya boleh tau mbak tinggalnya dengan siapa dirumah ? saudaranya
berapa berapa? Mbak anak keberapa?
Jadi, usia mba 20 tahun, mbak anak 1 dari 2 bersaudara, mbak tinggal
dengan ayak, ibu, dan adik laki-laki mbak yang berusia 17 tahun, sudah
tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan setelah sakit, tamat SMA,
memiliki sahabat tapi sekarang malu dengan sahabatnya karena penyakit
yang diderita, jarang ikut dalam kegiatan sosial, Jarang melakukan ibadah.

B. Penilaian terhadap stressor


Nah Sebelum kita lanjut mbak, terkait dengan apa yang mbak alami bisa
saya simpulkan kalau mbak tadi merasa malu, sedih, merasa tidak berguna
karena menderita penyakit TB paru, mbak juga takut teman-teman mbak akan
menjauhi mbak sehingga mbak tidak mau memberitahu tentang penyait yang
mbak derita.
Kognitif
“Nah dari apa yang sudah saya katakan tadi, Apa yang mba pikirkan dari
berbagai masalah tadi?”
Afektif
“Apa yang mbak rasakan dengan permasalahan tadi?”
Fisiologis
“karena permasalahan yang dialami mbak sekarang apakah mempengaruhi pola
makan mbak sekarang? Kalau dengan tidurnya? Apalagi yang menurut mbak
berubah? Ohh jadi mbak jadi kurang nafsu makan, tidurnya masih beum
terganggu,,”
Perilaku
“Apa yang mbak lakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut?”
Sosial
“Setelah mbak lebih banyak diam dan mengurangi banyak pertemuan dengan
teman-teman mbak, apakah mbak lebih merasa tenang?

“baiklah mbak, dari pembicaraan kita tadi dapat saya simpulkan bahwa mbak
merasa tidak berdaya dan tidak berguna, malu dan merasa sedih dan tindak
mampu menghadapi penyakit yang mbak derita yang membuat mbak menjadi
malas makan dan lesu. Mbak sekarang lebih suka diam dan tidak bersemangat.
Dari semuanya yang sudah kita bicarakan ada 3 masalah yang sedang mbak
alami yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan karena mbak sering mual dan
muntah, mbak mengalami harga diri rendah situasonal karena perasaan malu,
sedih, dan ketidakberdayaan yang mbak alami karena menderita penyakit,
mbak juga mengalami kecemasan karena mbak takut akan masa depan mbak.
Dari ketiga masalah tersebut kira-kira mana masalah yang paling mbak
rasakan?
C. Sumber Koping
Baik mbak kita fokusnya ke masalah harga diri rendah situasional yang mba
rasakan dulu ya
Personal Ability
“Apa saja yang sudah Mbak lakukan dalam mengatasi masalah-masalah yang
mbak alami seperti sedih, malu, dan merasa tidak berguna? Baik nanti saya
akan saya bantu Mbak mencari beberapa cara untuk mengatasi permasalahan
tersebut.”
Sosial Support
“Kemudian, siapa di rumah atau keluarga yang biasa menolong Mba? Oo, jadi
yang biasa menolong Mba jika sakit adalah keluarga mba.
“Apa yang sudah dilakukannya untuk membantu permasalahan Mbak?”
“Apa ada yang mereka lakukan ketika merawat mbak?”
“Apakah Mba mempunya teman kelompok?”
“Apakah yang mereka katakan melihat kondisi mbak?”
“Apaka ada teman-teman di sekeliling mbak yang memiliki permasalahan
yang sama dengan mba saat ini?”
Finansial Asset dan Pelayanan Kesehatan
”Sekarang untuk dirawat disini mbak menggunakan apa ? bpjs atau yang lain ?
Untuk kehidupan sehari-hari siapa yang membiayain mbak? Didekat rumah
mbak apakah ada puskesmas atau layanan kesehatan terdekat?

Positive belief
“Untuk tentang sakit ini, mbak yakin gak untuk bisa sembuh ? Percaya gak
dengan perawat, dokter, dan petugas disini mba ? Bagus sekali mba..
“Apa motivasi Mbak untuk mencapai kesembahan?”
“Apakah Mba yakin bahwa mbak bisa melanjutkan aktivitas seperti semula
lagi?”

Diagnosa dan tindakan generalis


“Masalah yang sedang mbak alami saat ini adalah harga diri rendah
situasional yaitu suatu perasaan rendah diri, tidak berharga, dan tidak berarti yang
merupakan respon dari situasi sulit yang mbak alami saat ini. Saya akan
mengajarkan bagaimana agar kesedihan dan rasa tidak berharga yang mbak
rasakan bisa berkurang secara bertahap. Baiklah mbak, mari kita membuat catatan
tentang aspek positif yang masih mbak miliki sampai sekarang (apa saja kegiatan-
kegiatan yang masih bisa bapak kerjakan walaupun mbak sedang di rawat di
rumah sakit?). bagus sekali mbak, mbak sudah menyebutkan tiga aspek positif
yang saat ini masih mbak miliki, yaitu: membaca buku, menulis, dan
menggambar. Bagaimana jika kita mengoptimalkan aspek posif yang mbak
miliki?Coba sekarang mbak pilih salah satu kegiatan yang ingin mbak lakukan.
Baiklah sekarang coba mbak lakukan, Bagaimana perasaan mbak setelah
melakukannya? Apakah lebih baik? Ketika mbak merasakan suatu perasaan tidak
berguna atau perasaan sedih lainnya, mbak bisa melakukan kegiatan ini agar mbak
tidak berfokus pada masalah mbak, tapi mbak bisa melakukan kegiatan yang lebih
bermanfaat. Bagaimana kalau kita memasukkan kegiatan ini ke daftar kegiatan
harian mbak? mbak mau melakukan aktivitas ini jam berapa saja? Jangan lupa
dilakukan ya mbak.
D. Terminasi
1. Evaluasi respon
"Baiklah mbak, tidak terasa kita sudah berbincang-bincang 30
menit.Bagaimaa perasaan mbak setelah berbincang-bincang dengan
saya?Coba sebutkan apa saja tadi yang sudah kita lakukan dan
diskusikan?Apa saja aspek positif yang mbak miliki?
2. Rencana tindak lanjut dan kontrak yang akan datang
“mbak, nanti jangan lupa melakukan kegiatan yang sudah kita masukkan
ke dalam daftar aktifitas harian mbak ya.saya tulikan di buku resep ini ya,
lalu mbak bisa melakukan latihan tadi sesuai dengan resep yang ditulis,
ini disimpan ya mbak buke resepnya. mbak tadi menyebutkan ada tiga
kegiatan yang bisa mbak lakukan. Bagaimana kalau bsok kita berlatih
kembali mengoptimalkanaspek positif mbak yang lain? Jam berapa dan
berapa lama besok kita berbincang-bincang? Jam 10.00 WIB ya mbak,
sekitar 30 menit dan tempatnya di sini juga y mbak. Baiklah, sampai
bertemu besok mbak, saya mau pamit dulu.Semoga cepat sembuh ya
mbak dan selamat beristirahat.