Anda di halaman 1dari 750

ALFIN VANDENI

21030116120031

Kesetimbangan Mol 1

Langkah pertama menuju pengetahuan


adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa.
Socrates (470-399 B.C.)
Kinetika kimia dan desain reaktor adalah jantungnya dalam menghasilkan hampir seluruh bahan kimia
industri. Hal ini terutama pengetahuan tentang kinetika kimia dan desain reaktor yang membedakan insinyur
kimia dari insinyur lainnya. Pemilihan sistem reaksi yang beroperasi paling aman dan cara yang paling efisien
menjadi kunci keberhasilan ekonomi atau kegagalan pabrik kimia. Misalnya, jika sistem reaksi
menghasilkan sejumlah besar produk yang tidak diinginkan, maka proses pemurnian dan pemisahan produk
yang diinginkan bisa membuat seluruh proses tidak layak secara ekonomi. Prinsip kinetika kimia akan dipelajari
disini, di samping produksi bahan kimia, kinetika kimia juga dapat diterapkan dalam bidang-bidang seperti
sistem pengolahan air limbah, dan polusi udara. Beberapa contoh masalah yang digunakan untuk
mengilustrasikan prinsip-prinsip rekayasa reaksi kimia adalah: pada lahan basah untuk menghilangkan bahan
kimia beracun dari sungai, meningkatkan nilai bilangan oktan bensin, produksi anti-beku mulai dari etana,
pembuatan chip komputer, dan aplikasi kinetika enzim untuk meningkatkan fungsi ginjal buatan.
Buku ini fokus pada berbagai topik rekayasa reaksi kimia. Ini berkaitan dengan laju di mana reaksi
kimia berlangsung, bersama dengan mekanisme dan langkah-langkah pembatasan laju yang mengontrol proses
reaksi. Ukuran reaktor kimia merupakan bagian penting untuk mencapai tujuan produksi. Bagaimana sifat bahan
di dalam reaktor, baik secara kimia dan fisik, adalah hal yang penting bagi perancang proses kimia, seperti
bagaimana data dari reaktor kimia harus dicatat, diproses, dan ditafsirkan.
Sebelum masuk diskusi tentang kondisi yang mempengaruhi laju reaksi kimia dan desain reaktor, perlu
untuk memperhitungkan berbagai bahan kimia yang memasuki dan meninggalkan sistem reaksi. Perhitungan
proses dapat dicapai melalui keseluruhan kesetimbangan mol pada spesies individu di dalam sistem. Dalam bab
ini kami mengembangkan kesetimbangan mol umum yang bisa diterapkan pada spesies apa pun (biasanya
senyawa kimia) yang masuk, meninggalkan, dan / atau tersisa dalam sistem reaksi. Setelah mendefinisikan laju
reaksi -rA, dan mendiskusikan kesulitan - kesulitan sebelumnya dalam mendefinisikan laju reaksi kimia, dalam
bab akan ini kita tunjukkan bagaimana persamaan kesetimbangan umum yang dapat
digunakan untuk mengembangkan bentuk awal persamaan desain reaktor industri: batch, continuous-stirred
tank (CSTR), dan turbular. Dalam mengembangkan persamaan ini, asumsi yang berkaitan dengan pemodelan
masing-masing jenis reaktor akan digambarkan. Akhirnya, ringkasan dan rangkaian singkat pertanyaan akan
diberikan pada akhir bab ini.

1.1 Definisi Tingkat Reaksi, -rA

Kami memulai penelitian kami dengan melakukan kesetimbangan mol pada setiap spesies kimia di dalam
sistem. Di sini, istilah spesies kimia mengacu pada senyawa kimia apa pun atau elemen dengan identitas yang
diberikan. Identitas spesies kimia dikelompokan berdasarkan jenis, nomor, dan konfigurasi atom spesies
itu. Untuk contoh, misalnya spesies nikotin (alkaloid tembakau yang buruk) terdiri dari jumlah elemen tertentu
dalam susunan molekul tertentu atau konfigurasi. Struktur yang ditunjukkan menggambarkan jenis, nomor, dan
konfigurasi dari spesies nikotin (untuk "nikotin") pada tingkat molekuler.
Meskipun dua senyawa kimia memiliki jumlah atom yang sama persis dari setiap elemen, mereka
masih bisa menjadi spesies berbeda karena berbeda dari konfigurasinya. Misalnya, 2-butena memiliki empat
atom karbon dan delapan atom hidrogen; Namun, atom-atom dalam senyawa ini dapat membentuk dua bentuk
yang berbeda.
ALFIN VANDENI
21030116120031

dan

Sebagai konsekuensi dari konfigurasi yang berbeda, kedua isomer ini ditampilkan
sifat kimia dan fisik yang berbeda. Oleh karena itu, kami menganggap mereka sebagai dua spesies berbeda,
tetapi masing-masing memiliki jumlah atom yang sama.
Kami mengatakan bahwa reaksi kimia telah terjadi ketika nomor molekul dari satu atau lebih spesies
telah kehilangan identitas dan diasumsikan ada bentuk baru oleh perubahan jenis atau jumlah atom dalam
senyawa dan / atau perubahan struktur atau konfigurasi atom-atom ini. Dalam pendekatan terhadap perubahan
kimia, diasumsikan bahwa massa total tidak hilang ketika reaksi kimia terjadi. Massa yang dimaksud adalah
total massa kolektif dari semua spesies yang berbeda dalam sistem. Namun, ketika mempertimbangkan spesies
individu yang terlibat dalam reaksi tertentu, kami tidak berbicara tentang tingkat hilangnya massa dari spesies
tertentu. Laju hilangnya spesies, katakanlah spesies A, adalah jumlah molekul A itu yang kehilangan identitas
kimianya per satuan waktu per satuan volume dan selanjutnya kembali membentuk ikatan kimia selama reaksi.
Agar spesies tertentu "muncul" di dalam sistem, beberapa fraksi dari spesies lain harus kehilangan identitas
kimianya.
Ada tiga cara dasar suatu spesies kehilangan identitas kimianya. Satu cara yaitu dengan dekomposisi, di
mana molekul dipecah menjadi mulekul kecil, atom, atau fragmen atom. Misalnya, jika benzena dan propilena
terbentuk dari molekul kumene,

molekul kumena telah kehilangan indentitasnya (yaitu, menghilang) oleh pecahnya-nya ikatan untuk
membentuk molekul-molekul ini. Cara kedua yaitu molekul dapat kehilangan identitas spesiesnya
melalui kombinasi dengan molekul atau atom lain. Dalam contoh di atas, molekul propilena akan kehilangan
identitas spesiesnya jika reaksi dilakukan dalam arah sebaliknya sehingga propilen bereaksi dengan benzena
membentuk kumene.
Cara ketiga spesies kehilangan identitasnya adalah melalui isomerisasi, seperti reaksi

Di sini, meskipun molekul tidak menambahkan molekul lain ke dirinya sendiri atau pecah menjadi molekul
yang lebih kecil, tetapi masih kehilangan identitasnya melalui perubahan konfigurasi.
Untuk meringkas poin ini, kita katakan bahwa sejumlah molekul tertentu (misalnya,mol) dari spesies
kimia tertentu telah bereaksi atau menghilang ketika molekul telah kehilangan identitas kimianya.
Laju ini di mana hasil reaksi kimia yang diberikan dapat ditunjukan pada beberapa cara. Hal ini dapat
dinyatakan sebagai tingkat hilangnya reaktan atau laju pembentukan produk. Misalnya, insektisida DDT
(dichloro diphenyl trichloro ethane) dihasilkan dari klorobenzena dan kloral di hadapan asam sulfat pekat.

Symblol A mewakili kloral, nilai numerik dari laju reaksi, --rA, didefinisikan sebagai jumlah mol kloral
bereaksi (Menghilang) per satuan waktu per satuan volume (mol / dm3 s). Di bab selanjutnya kami
menggambarkan hubungan yang ditentukan antara tingkat pembentukan satu spesies, r, (misalnya, DDT), dan
tingkat penghilangan spesies lain, -ri (misalnya, klorobenzena), dalam reaksi kimia.
ALFIN VANDENI
21030116120031
Dalam sistem reaksi heterogen, laju reaksi biasanya dinyatakan dalam ukuran selain volume, seperti
luas permukaan reaksi atau berat katalis. Jadi untuk reaksi katalitik gas-padat, dimensi laju reaksi ini, -rA‟,
adalah jumlah mol A bereaksi per satuan waktu per unit massa katalis (mol/s.g katalis). Sebagian besar diskusi
pengantar tentang rekayasa kinetika kimia dalam buku ini berfokus pada sistem homogen.
Definisi matematika dari laju reaksi kimia telah menjadi sumber kebingungan dalam literatur teknik
kimia dan kimia selama bertahun-tahun. Asal usul kebingungan ini berasal dari percobaan di laboratorium.
Dimana yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh data laju reaksi kimia. Pengalaman awal ini percobaan
menggunakan tipe batch, di mana bejana reaksi tertutup dan kaku; secara berurutan, reaksi terjadi terjadi pada
volume konstan. Reaktannya dicampur bersama-sama pada waktu t = 0 dan konsentrasi salah satu
reaktan, CA, diukur pada berbagai waktu t. Laju reaksi di peroleh dari slope plot garis CA sebagai fungsi
waktu. Membiarkan rA menjadi laju pembentukan A per satuan volume (misalnya, g mol / s.dm3), para peneliti
kemudian mendefinisikan dan melaporkan laju reaksi kimia sebagai berikut
...............................................(1-1)

Namun, definisi ini adalah untuk reaktor batch dengan volume konstan:
Sebagai akibat dari keterbatasan dan pembatasan yang diberikan, Persamaan (1-1) adalah definisi yang
agak terbatas dan membingungkan dari laju reaksi kimia. Untuk amplifikasi titik ini, pertimbangkan sistem
aliran-stabil berikut di mana saponifikasi etil asetat dilakukan.

Contoh 1-1 Apakah Sodium Hydroxide bereaksi?

Natrium hidroksida dan etil asetat secara terus menerus diumpankan ke tangki yang diaduk dengan cepat.
mereka bereaksi untuk membentuk sodium acetate dan ethanol:

(Gambar El-1.1). Aliran produk, mengandung natrium asetat dan etanol, bersama dengan natrium
hidroksida dan etil asetat yang tidak bereaksi, terus menerus ditarik dari tangki pada laju yang sama
dengan total laju umpan. Isi dari tanki di mana reaksi ini berlangsung dapat dianggap tercampur sempurna.
Karena sistem dioperasikan pada kondisi steady, jika kita menarik cairan sampel di beberapa lokasi di
tangki di berbagai waktu dan menganalisanya secara kimia, kami akan menemukan bahwa konsentrasi
masing-masing spesies dalam sampel yang berbeda identik. Artinya, konsentrasi sampel yang diambil
pada jam 1 siang adalah sama seperti sampel yang diambil pada jam 3 sore Karena konsentrasi spesiesnya
konstan
dan karenanya tidak berubah seiring waktu,

(E1-1.1)

Defenisi dari laju reaksi -rA

Gambar EI-1.1
Dimana A=NaOH. Substitusi persamaan EI-1.1 kedalam persamaan (1-1) menjadi
(E1-1.2)
ALFIN VANDENI
21030116120031
ini tidak benar karena C2H5OH dan CH3COONa sedang terbentuk dari NaOH dan CH3COOC2H5 pada laju
yang terbatas. Akibatnya, laju reaksi sebagaimana didefinisikan oleh persamaan (1-1) tidak dapat
diterapkan pada sistem aliran dan tidak benar jika defenisikan dalam hal ini.
Sekarang Anda harus yakin bahwa Persamaan (1-1) bukan definisi dari laju reaksi kimia. Kami hanya akan
mengatakan bahwa r, adalah laju pembentukan spesies j per satuan volume. Ini adalah jumlah mol spesies j
terbentuk per satuan volume per satuan waktu. Persamaan laju untuk rl adalah satu-satunya fungsi dari sifat-sifat
bahan yang bereaksi [misalnya, konsentrasi spesies, suhu, tekanan, atau jenis katalis, jika ada] pada suatu titik di
sistem dan tidak bergantung pada jenis sistem (contohnya aliran batch atau kontinyu) pada saat reaksi
terjadi. Namun, karena sifat – sifat reaksi: bahan dapat bervariasi dengan posisi dalam reaktor
kimia, rJ dapat bergantian menjadi fungsi dari posisi dan dapat bervariasi dari titik ke titik dalam sistem.
Laju reaksi kimia adalah kuantitas yang intensif dan tergantung pada suhu dan konsentrasi. Persamaan laju
reaksi (yaitu, hukum laju) pada dasarnya suatu persamaan aljabar yang melibatkan konsentrasi, bukan
persamaan diferensial. Misalnya, bentuk aljabar dari hukum laju -rA, untuk reaksi

A produk

mungkin fungsi linear dari konsentrasi,

atau mungkin beberapa fungsi aljabar dari konsentrasi, seperti

(1-2)

Untuk reaksi yang diberikan, tergantung konsentrasi tertentu bahwa hukum laju berikut (yaitu, - rA = kCA, atau -
rA = kCA2 atau...) harus ditentukan dari experimen. Persamaan (1-2) menyatakan bahwa laju penghilangan A
adalah sama dengan konstanta laju k kali kuadrat dari konsentrasi A. Berdasarkan konversi ,r A adalah laju
pembentukan A; akibatnya, -rA adalah tingkat menghilangnya A. Sepanjang buku ini laju generasi frase berarti
persis sama dengan laju fraksi formasi, dan frasa ini digunakan secara bergantian.
1.2 Persamaan Keseimbangan Mol
Untuk melakukan keseimbangan mol pada sistem apa pun, batasan sistem harus terlebih dahulu ditentukan.
Volume yang dilingkupi oleh batasan ini akan disebut sebagai volume sistem. Kami akan melakukan
keseimbangan mol pada spesies j dalam volume sistem, di mana spesies j mewakili spesies bahan kimia tertentu
yang menarik, seperti air atau NaOH (Gambar 1-1).

Gambar 1-1 keseimbangan pada volume sistem.


Keseimbangan mol pada spesies j pada setiap saat, t, menghasilkan persamaan berikut:

| | | | | | | |

masuk + bereaksi - keluar


= akumulasi
- = ................(1-3)
di mana Nj merepresentasikan jumlah mol spesies j dalam sistem pada saat t. Jika semua variabel sistem
(misalnya, suhu, aktivitas katalitik, konsentras
Nama : Regita Ayu Hanabila
NIM : 21030116140101

Anggaplah sekarang bahwa laju pembentukan spesies j untuk reaksi bervariasi dengan posisi dalam
volume sistem. Artinya, ia memiliki nilai r j1 di lokasi 1, yang dikelilingi oleh volume kecil, ∆V 1 di mana angka
seragam demikian pula, laju reaksi memiliki nilai r J2 di lokasi 2 dan terkait volurne, ∆V2 (Gambar 1-2). Tingkat
pembangkitan, ∆Gj1 dalam hal rJ1 dan

Gambar 1-2. Pembagian sistem


volume V
Subvolume ∆V1 is

Ekspresi serupa dapat ditulis untuk


∆GJ2 dan subvolume sistem lainnya
∆Vj1 . Tingkat total pembangkitan
dalam volume sistem adalah jumlah keseluruhan tingkat pembangkitan di masing-masing subvolume. Jika total
volume sistem dibagi menjadi M subvolume, tingkat total pembangkitan adalah

Dengan memanggil batas yang sesuai (i.e., biarkan M → ∞ dan ∆V → 0) dan memanfaatkan dari definisi
integral, kita dapat menulis ulang persamaan di atas dalam bentuk

Dari persamaan ini kita melihat bahwa rj akan menjadi fungsi tidak langsung dari posisi, karena properti berbeda
dari bahan yang bereaksi (misalnya, konsentrasi, suhu) bisa nilai-nilai di lokasi yang berbeda di reactor.
Lalu ganti GJ dalam Persamaan (1-3),

Oleh bentuk integralnya untuk menghasilkan bentuk tahi lalat umum spesies kimia apa pun yang memasuki,
meninggalkan, bereaksi, dalam volume sistem apa pun V persamaan keseimbangan untuk dan atau terakumulasi

(1-4)

Dari persamaan keseimbangan mol umum ini kita dapat


mengembangkan persamaan desain untuk berbagai jenis reaktor industri: batch, semibatch, dan aliran kontinyu.
Setelah evaluasi persamaan ini kita dapat menentukan waktu (batch) atau volume reaktor (aliran kontinu) yang
diperlukan untuk mengkonversi jumlah tertentu reaktan untuk produk.

1.3. Reaktor Batch


Reaktor batch tidak memiliki aliran atau keluarnya reaktan atau produk sementara reaksi sedang
dilakukan; Fjj = Fj = 0. Keseimbangan mol umum yang dihasilkan pada spesies j adalah
Nama : Regita Ayu Hanabila
NIM : 21030116140101

Jika campuran reaksi tercampur sempurna sehingga tidak ada variasi dalam laju reaksi di seluruh volume
reaktor, kita dapat mengambil rJ keluar dari integral dan tulis saldo mol dalam formulir

(1-5)

Gambar 1-3 menunjukkan dua jenis reaktor batch yang berbeda digunakan untuk
fase gas reaksi. Reaktor A adalah reaktor dan reaktor dengan volume konstan (variabel-tekanan) B adalah
reaktor dengan tekanan konstan (variabel volume). Pada, waktu t = 0, reaktan kami menyuntikkan ke dalam
reaktor dan reaksi dimulai. Untuk melihat dengan jelas berbagai bentuk keseimbangan mol akan mengambil
untuk setiap jenis reaktor, pertimbangkan contoh-contoh berikut, di mana fase gas, dekomposisi dimetil eter
terjadi untuk membentuk metana, hidroglen, dan karbon monoksida:
(CH3)2O → CH4 + H2 + CO

Gambar 1-3. Reaktor Batch untuk reaksi fase gas

Contoh 1-2 Volume Konstan atau Tekanan Konstan: Apakah Itu Membuat Perbedaan?
Tuliskan keseimbangan mol untuk dimetil eter dalam hal volume reaktor, konsentrasi, dan laju pembentukan
dimetil eter baik untuk tekanan konstan dan reaktor batch volume konstan.
Penyelesaian:
Untuk mengurangi jumlah subskrip, kami menulis reaksi secara simbolis sebagai
A→M+H+C
dimana A dimetil eter, M adalah metana, H adalah hidrogen, dan C adalah karbon monoksida. Untuk kedua
reaktor batch, keseimbangan mol A adalah
(1-5)
Dalam menulis keseimbangan mol untuk dimetil eter untuk reaktor batch, satu-satunya asumsi dibuat adalah
bahwa tidak ada variasi spasial di rA
Reaktor batch volume konstan. Reaktor dicampur sempurna sehingga konsentrasi spesies yang bereaksi
secara spasial seragam. Karena volumenya konstan kita dapat mengambil V di dalam diferensial dan menulis
keseimbangan mol dalam hal konsentrasi A:
(E1-2.1)

Reaktor batch tekanan konstan. Untuk menulis keseimbangan mol untuk reaktor ini dalam hal konsentrasi,
kami kembali menggunakan fakta itu

(E1-
2.2)
Nama : Regita Ayu Hanabila
NIM : 21030116140101

(E1-2.3)

Perbedaan antara persamaan (E1-2.1) dan (E1-2.3) untuk dua jenis yang berbeda reaktor tampak jelas.

1.4 Reaktor Aliran Kontinyu


1.4.1 Reaktor Tangki Terus Menerus
Suatu jenis reaktor yang digunakan sangat umum dalam pemrosesan industri adalah diaduk tangki
dioperasikan terus menerus (Gambar 1-4). Ini disebut sebagai terus menerus reaktor tangki (CSTR) atau reaktor
backmix: CSTR biasanya berjalan dengan stabil negara dan biasanya dioperasikan sehingga cukup tercampur
dengan baik. Sebagai hasil dari yang terakhir kualitas, CSTR umumnya dimodelkan sebagai tidak memiliki
variasi spasial dalam konsentrasi, suhu, atau laju reaksi di seluruh kapal. Karena suhunya dan konsentrasi
identik di mana-mana di dalam bejana reaksi, mereka sama di titik keluar karena mereka berada di tempat lain di
dalam tangki. Dengan demikian suhu dan konsentrasi di aliran keluar dimodelkan sebagai sama seperti itu di
dalam reaktor. Dalam sistem di mana pencampuran sangat nonideal, tercampur dengan baik model tidak
memadai dan kita harus menggunakan teknik pemodelan lainnya, seperti distribusi waktu-tinggal, untuk
mendapatkan hasil yang berarti. Topik ini dibahas di Bab 13 dan 14.

Gambar 1-4. Reaktor Kontinyu Berpengaduk

Perhitungan umum saat mol seimbang


∫ (1-4)
diterapkan ke CSTR yang dioperasikan pada kondisi tunak (yaitu, ketentuan tidak berubah bersama waktu),

di mana tidak ada variasi spasial dalam laju reaksi,



dibutuhkan bentuk sama yang dikenal sebagai persamaan desain untuk CSTR:
(1-6)
Persamaan desain CSTR memberikan volume reaktor yang diperlukan untuk mengurangi laju aliran masuk
spesies, j, Fj0, o laju aliran keluar FJ. Kita perhatikan bahwa CSTR dimodelkan sedemikian rupa sehingga
kondisi
di aliran keluar (misalnya, konsentrasi, suhu) identik dengan yang ada di dalam tangki. Laju aliran molar F,
adalah hanya produk dari konsentrasi spesiesj dan laju alir volumetrik u:

(1-7)

1.4.2 Reaktor Tubular


hi selain CSTR dan reaktor batch, jenis lain dari reaktor umumnya digunakan dalam industri adalah
reuktol tubular: Ini terdiri dari pipa silinder dan biasanya dioperasikan pada kondisi mapan, seperti CSTR.
Untuk tujuan tersebut materi yang disajikan di sini, kami mempertimbangkan sistem di mana aliran sangat
bergejolak dan medan aliran dapat dimodelkan oleh aliran plug. Artinya, tidak ada konsentrasi wuiation im
radial dan reaktor disebut sebagai plug-fow reactor (PFR), (Reaktor aliran laminar dibahas di Bab 13.)
Di dalam reaktor tubular, reaktan terus menerus dikonsumsi mengalir sepanjang reaktor. Dalam
pemodelan reaktor tubular, kami asumsikan bahwa konsentrasi bervariasi secara terus menerus dalam arah
aksial melalui reaktor. Akibatnya, laju reaksi, yang merupakan fungsi konsentrasi untuk semua kecuali reaksi
Nama : Regita Ayu Hanabila
NIM : 21030116140101

orde-nol, juga akan bervariasi secara aksial. Umum persamaan keseimbangan mol diberikan oleh Persamaan (1-
4):

Untuk mengembangkan persamaan desain PFR kita harus membagi (secara konseptual) reaktor
menjadi sejumlah subvolume sehingga dalam setiap subvolume AV, reaksi tingkat dapat dianggap seragam
secara spasial (Gambar 1-5). Kami sekarang memfokuskan kami perhatian pada subvolume yang terletak jarak y
dari pintu masuk reaktor. Kami membiarkan F '(y) mewakili laju alir molar spesies j ke dalam volume AV pada
y dan F '(y + Ay) aliran molar spesies j keluar dari volume di lokasi (y + Ay). Dalam AV subvolume yang
seragam secara spasial,

Gambar 1-5. Reaktor Tubular

Untuk reaktor tubular yang dioperasikan pada kondisi tunak,

Persamaan (1-4) menjadi:


(1-8)
Dalam ekspresi ini rj adalah fungsi tidak langsung dari y. Artinya, rj.adalah fungsi reaktan konsentrasi,
yang merupakan fungsi dari posisi y ke bawah reaktor. Itu Volume AV adalah produk dari area cross-sectional
A dari reaktor dan panjang reaktor Ay.

Kami sekarang mengganti dalam Persamaan (1-8) untuk AV dan kemudian membagi dengan Ay untuk
mendapatkan
* +

Istilah dalam kurung menyerupai definisi turunan


* +

Mengambil batas ketika Ay mendekati nol, kita dapatkan

Atau membaginya dengan - 1, kita dapatkan


Nama : Tyaga sidharta
NIM : 21030116130183

biasanya paling nyaman untuk memiliki volume reaktor V daripada panjang reaktor y sebagai variabel
independen. Dengan demikian, kita akan mengubah variabel menggunakan relasi dV = A dy untuk
mendapatkan satu bentuk persamaan desain untuk reaktor tubular:

Kami juga mencatat bahwa untuk reaktor di mana luas penampang A bervariasi sepanjang panjang
reaktor, persamaan desain tetap tidak berubah. Persamaan ini dapat digeneralisasikan untuk reaktor yang
ditunjukkan pada Gambar 1-6, dengan cara mirip

Gambar 1-6
Untuk hal tersebut di atas, dengan memanfaatkan koordinat volume V daripada koordinat linear y. Setelah
melewati volume V speciesj memasuki subvoliume AV pada volume I 7 pada laju alir molar Fj (V) .Speciesj
daun subvolume A'V pada volume (V + A V), pada laju alir molar FJ (V + AV). Seperti sebelumnya, AV dipilih
cukup kecil sehingga tidak ada variasi laju reaksi spasial dalam
subvoliume:

(1-11) Setelah memperhitungkan operasi steady-state dalam Persamaan (1-4), lalu digabungkan dengan
Persamaan (1-11) untuk menghasilkan

Menata ulang memberi

Dan mengambil limit sebagai delta V 0, kita kembali memperoleh Persamaan (1-10):

Akibatnya, kita melihat bahwa Persamaan (1-10) berlaku sama baiknya dengan model reaktor tubular dari
area cross-sectional variabel dan konstan, meskipun meragukan bahwa seseorang akan menemukan
reaktor 'bentuk yang ditunjukkan pada Gambar 1-6, kecuali dirancang oleh Pablo Picasso. Kesimpulan
yang ditarik dari penerapan persamaan desain adalah salah satu yang penting: Tingkat reaksi yang dicapai
dalam reaktor tubular plug-flow (PFR) tidak tergantung pada bentuknya, hanya pada volume totalnya.
1.4.3 Reaktor Dikemas-Tempat Tidur
Nama : Tyaga sidharta
NIM : 21030116130183

Perbedaan utama antara perhitungan desain reaktor yang melibatkan reaksi homogen dan yang
melibatkan reaksi heterogen fluida padat adalah bahwa untuk yang terakhir, laju reaksi didasarkan pada
massa katalis padat, W, daripada pada volume reaktor, V Untuk suatu cairan- sistem heterogen yang solid,
laju reaksi suatu zat A didefinisikan sebagai

Massa padat yang digunakan karena jumlah katalis adalah yang penting untuk laju reaksi, Volume reaktor
yang mengandung katalis memiliki makna sekunder.
Tiga tipe ideal reaktor baru saja dibahas [reaktor batch campuran sempurna, reaktor tubular plug-
flow, dan reaktor tangki yang terus menerus dicampur (CSTR)], persamaan desain (mis., saldo mol)
dikembangkan. berdasarkan volume reaktor. Derivasi persamaan desain untuk reaktor katalitik packed-
bed akan dilakukan dengan cara yang analog dengan pengembangan persamaan desain tubular. Untuk
mencapai derivasi ini, kita cukup mengganti koordinat volume dalam Persamaan (1-8) dengan koordinat
berat katalis W (Gambar 1-7). Seperti halnya PFR, PBR diasumsikan memiliki

Gambar 1-7 Skema reaktor packed-bed.


tidak ada gradien radial dalam konsentrasi, suhu, atau laju reaksi. Generalisasi keseimbangan mol pada
spesies A di atas berat katalis AW menghasilkan persamaan

Dimensi dari istilah generasi dalam Persamaan (1-12) adalah

seperti yang diharapkan, dimensi yang sama dari tingkat aliran molar FA. Setelah membagi oleh AW dan
mengambil batas sebagai AW - + 0, kita sampai pada bentuk diferensial dari keseimbangan mol untuk
reaktor packed-bed
Nama : Tyaga sidharta
NIM : 21030116130183

Jika tekanan menurun melalui reaktor (lihat Bagian 4.4) dan peluruhan katalis (lihat Bagian 10.7)
diabaikan, bentuk integral dari persamaan desain packed-cata- lyst-bed dapat digunakan untuk
menghitung berat katalis.

Untuk mendapatkan beberapa wawasan tentang hal-hal yang akan datang, pertimbangkan contoh berikut
tentang bagaimana seseorang dapat menggunakan persamaan desain reaktor tubular (1-10).

Example1-3 Seberapa besar reaktor? Reaksi orde pertama


A-B
dilakukan dalam reaktor tubular di mana laju alir volumetrik, u, adalah konstan. Turunkan persamaan yang
berhubungan dengan volume reaktor ke konsentrasi masuk dan keluar dari A, konstanta laju k, dan laju
alir volumetrik u. Tentukan volume reaktor yang diperlukan untuk mengurangi konsentrasi yang keluar
menjadi 10% dari konsentrasi yang masuk ketika laju alir volumetrik adalah 10 dm3 / menit (Liter / min)
dan laju reaksi spesifik, k, adalah 0,23 menit- 1 .

Untuk reaktor tubular, keseimbangan mol pada spesies A (i = A) terbukti

Untuk reaksi orde pertama, hukum laju (dibahas dalam Bab 3) adalah

Karena laju alir volumetrik, uo, konstan,

Mengganti untuk r, dalam Persamaan (El-3.1) menghasilkan

Menata ulang memberi


Nama : Tyaga sidharta
NIM : 21030116130183

Menggunakan kondisi masuk reaktor bahwa ketika V = 0, maka CA = CA0

Persamaan ini memberi

Mengganti CA0,, CA, vo, dan k dalam Persamaan (El-3.5), kami punya

Kami melihat bahwa volume reaktor 0,1 m3 diperlukan untuk mengkonversi 90% spesies A yang masuk
ke produk B.
Dalam sisa bab ini kita melihat gambar-gambar yang sedikit lebih rinci dari beberapa reaktor industri dan
menunjukkan beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing.

1.5 Industrial Reactors


Sebuah reaktor batch digunakan untuk operasi skala kecil, untuk menguji proses baru yang belum
sepenuhnya dikembangkan, untuk pembuatan produk mahal, dan untuk proses yang sulit dikonversi
menjadi operasi berkelanjutan. Reaktor dapat diisi (yaitu, diisi) melalui lubang di bagian atas (Gambar 1-
8). Reaktor batch memiliki keuntungan dari konversi tinggi yang dapat diperoleh dengan meninggalkan
reaktan di dalam reaktor untuk jangka waktu yang lama, tetapi juga memiliki kerugian biaya tenaga kerja
yang tinggi per batch dan kesulitan produksi skala besar.

Reaksi Fase Cair. Meskipun reaktor semibatch (Gambar 1-9) pada dasarnya memiliki kekurangan yang
sama dengan reaktor batch, tetapi memiliki keuntungan dari kontrol suhu yang baik dan kemampuan
meminimalkan reaksi samping yang tidak diinginkan melalui pemeliharaan konsentrasi rendah dari salah
satu reaktan . Reaktor semibatch juga digunakan untuk reaksi dua fase di mana gas biasanya
digelembungkan terus menerus melalui cairan.

Sebuah reaktor tangki berpengaduk kontinu (CSTR) digunakan ketika agitasi intens diperlukan. Sebuah
foto yang menunjukkan pandangan cutable reaktor Pfaudler CSTRhatch disajikan pada Gambar 1-10.
Tabel 1-1 memberikan ukuran yang khas (bersama dengan itu dari
Nama : Tyaga sidharta
NIM : 21030116130183
Nama : Fauziyah
NIM : 21030116120037

Sebuah baterai empat CSTRs sama dengan yang di Gambar 1-10 ace ditampilkan di pabrik flow-
lembar (Gambar 4.1) untuk produksi komersial nitrobenzena. Pada tahun 1995. 1,65
miliar pon nitrobenzena diproduksi

Pada tahun 1980 persyaratan operasi (per ton nitrobenzene) adalah sebagai berikut
(Persyaratan utilitas dan bahan baku telah diminimalkan dengan mendaur ulang asam sulfat):
Bahan baku
Benzena 0,64 ton
Asam nitrat (100%) 0,515 ton
Asam sulfat (100%) 0,003 ton
Soda api 0,004 ton
Utiliatas
Air pendingin 14.200 gal
Uap 800 lb
Listrik 20 kWh
Udara terkompresi 180 Scf/m

Feed terdiri dari 3 hingga 7% HNO ,, 59 hingga 67% H, SO ,, dan 28 hingga 37% air. Asam sulfat diperlukan
untuk menyerap air dan energi yang dihasilkan oleh panas reaksi. Tanaman, yang menghasilkan 15.000 lb
nitrobenzenelh, membutuhkan satu atau dua operator per shift bersama dengan supervisor pabrik dan mandor
paruh waktu. Reaksi eksotermis ini dilakukan pada dasarnya secara adiabatis, sehingga suhu aliran umpan naik
dari 90 ° C ke 135 ° C di pintu keluar. Satu mengamati bahwa aliran nitrobenzena dari pemisah digunakan untuk
memanaskan umpan benzena. Namun, harus diperhatikan diambil agar suhu tidak pernah melebihi 19O0C, di
mana reaksi sekunder
bisa menghasilkan ledakan. Salah satu tindakan pencegahan keamanan adalah pemasangan relief katup yang
akan pecah sebelum suhu mendekati 1 9O "C, sehingga memungkinkan mendidih air dan benzena, yang akan
menurunkan suhu reaktor.
Fase Reaksi Gas . Reaktor tubular [Le., Plug flow reactor (PFR)] adalah reaktor relatif mudah dipelihara (tidak
ada bagian yang bergerak), dan biasanya menghasilkan konversi tertinggi per volume reaktor dari setiap reaktor
aliran. Kerugian dari reaktor tubular adalah sulit untuk mengontrol suhu di dalam reaktor, dan hot spot dapat
terjadi ketika reaksi eksotermik. Tubular CSTR: reaktor cairan biasanya ditemukan baik dalam bentuk satu
tabung panjang atau sebagai salah satu dari jumlah reaktor yang lebih pendek diatur dalam tabung bank seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 1-12. Reaktor aliran fase cair paling homogen adalah CSTR, sedangkan
sebagian besar reaktor aliran fasa gas homogen berbentuk tabung.
Nama : Fauziyah
NIM : 21030116120037

Biaya PFR dan PBR (tanpa katalis) serupa dengan biaya penukar panas dan dengan demikian dapat ditemukan
di Pabrik Desain dan Ekonomi untuk. Insinyur Kimia. 4th ed., Oleh M. S. Peters dan K. D. Timmerhaus (New
York: McGraw-Hill, 1991). Dari Gambar 15-12 buku ini, seseorang dapat memperoleh perkiraan biaya
pembelian per kaki $ 1 untuk 1-in. pipa dan $ 2 per kaki untuk sebuah 2-in. pipa untuk tabung tunggal dan
sekitar $ 20 hingga $ 50 per kaki persegi luas permukaan untuk penukar lembaran tabung tetap.
Reaktor packed bed (juga disebut fixed-bed) pada dasarnya adalah tubular reaktor yang dikemas
dengan partikel katalis padat (Gambar 1-13). Sistem reaksi heterogen ini paling sering digunakan untuk
mengkatalisasi reaksi gas. Reaktor ini memiliki kesulitan yang sama dengan kontrol suhu seperti reaktor tabung
lainnya, dan sebagai tambahan, katalis biasanya sulit untuk diganti. Kadang-kadang, penyaluran aliran gas
Nama : Fauziyah
NIM : 21030116120037

terjadi, mengakibatkan penggunaan bagian-bagian yang tidak efektif tempat tidur reaktor. Keuntungan dari
reaktor unggun dikemas adalah bahwa untuk sebagian besar reaksi itu memberikan konversi tertinggi per berat
katalis setiap katalis
reaktor.
Jenis lain dari reaktor katalitik yang umum digunakan adalah unggun terfluidisasi
(Gambar 1-14). Reaktor unggun terfluidisasi adalah analog dengan CSTR dalam hal ini, meskipun heterogen,
tercampur dengan baik, menghasilkan distribusi suhu merata di seluruh tempat. Reaktor unggun terfluidisasi
tidak dapat dimodelkan baik sebagai CSTR atau reaktor tubular (PFR), tetapi membutuhkan model yang sendiri.
Suhu relatif seragam di seluruh, sehingga menghindari panas
bintik-bintik. Jenis reaktor ini dapat menangani sejumlah besar pakan dan zat padat dan memiliki
kontrol temperatur yang baik. Akibatnya, hal ini digunakan dalam banyak aplikasi. Keuntungan dari kemudahan
penggantian atau regenerasi katalis adalah kadang-kadang diimbangi oleh tingginya biaya reaktor dan peralatan
regenerasi katalis.

Contoh 1-5 Fase Gas pada Industri Reakor/proses

Gas sintesis mengandung campuran karbon monoksida dan hidrogen dan dapat diperoleh dari pembakaran batu
bara atau gas alam. Gas ini dapat digunakan untuk menghasilkan minyak mentah sintetis dengan reaksi Fischer-
Tropsch. Jelaskan dua reaktor industri yang digunakan untuk mengubah gas sintesis menjadi campuran
hidrokarbon oleh proses Fischer-Tropsch.

Solusi
Reaksi. Reaksi Fischer-Tropsch mengubah gas sintesis menjadi campuran alkana dan alkena di atas katalis
padat Biasanya mengandung besi. Dasar
reaksi untuk pembentukan parafin adalah sebagai berikut:

nCO + (2n+1)H2 CnH2n+2 + nH2O

Untuk contoh, ketika oktan dan komponen gasolin terbentuk, persamaan menjadi

8CO + 17H2 C2H4 + 8H2O

Demikian pula, untuk pembentukan olefin,

nCO + 2nH2 CnH2n + nH2O

Untuk pembentukan etilena, Persamaan menjadi

2CO + 4H2 C2H4 + 2H2O

Jenis reaksi utama lainnya yang terjadi dalam proses ini adalah gas-air-
reaksi bergeser

H2O + CO CO2 + H2

Selain pembentukan simultan parafin dan olefin, reaksi samping juga terjadi untuk menghasilkan sejumlah kecil
asam dan nonacid (misalnya, etanol).

Reaktor. Dua jenis reaktor akan dibahas, reaktor transportasi langsung, yang juga disebut sebagai riser atau
tempat tidur circulatingjuidized, dan
reaktor packed-bed (PBR), yang juga disebut sebagai reaktor ajxed-bed.

Riser. Karena katalis yang digunakan dalam proses meluruh dengan cepat pada suhu tinggi (misalnya, 35OoC),
reaktor transportasi langsung (STTR) (Bab 10) adalah bekas. Jenis reaktor ini juga disebut riser dan atau tempat
tidur bersirkulasi. Skematis diagram ditunjukkan pada Gambar El-5.1. Di sini partikel katalis diumpankan ke
bawah dari reaktor dan ditembak ap melalui reaktor bersama dengan reaktan yang masuk campuran gas dan
kemudian dipisahkan dari gas dalam hopper pengendapan. Gas volumetrik laju umpan 3 X lo5 m3 / jam kira-
kira setara dengan memberi makan volume gas yang terkandung di stadion sepak bola Universitas Michigan ke
reaktor setiap jam. Skema dan foto dari reaktor transportasi langsung industri digunakan di Sasol ditunjukkan
Nama : Fauziyah
NIM : 21030116120037

pada Gambar El-5.2 bersama dengan komposisi pakan dan aliran produk. Produk yang terkondensasi dari aliran
produk
Nama : Fauziyah
NIM : 21030116120037

sebelum aliran didaur ulang termasuk Synoil (minyak mentah sintetis), air, metil etil keton (MEK), alkohol,
asam, dan aldehida. Reaktor dioperasikan pada 25 atm dan 350 ° C dan pada suatu saat mengandung 150 ton
katalis. Tingkat umpan katalis adalah 6 hingga 9,5 ton / detik, dan rasio recycle gas adalah 2: 1.

Packed bed. Reaktor packed-bed yang digunakan di pabrik Sasol untuk melakukan reaksi sintesis Fischer-
Tropsch ditunjukkan pada Gambar El-5.3. Gas sintesis diumpankan pada a laju 30.000 m3 / jam (STP) pada 240
° C dan 27 atm ke reaktor packed-bed. Reaktor berisi 2050 tabung, yang masing-masing berdiameter 5,0 cm dan
panjang 12 m. Katalis berbasis-besi yang mengisi tabung-tabung ini biasanya mengandung K, O dan SiO, dan
memiliki area tertentu dengan urutan 200 m2 / g. Produk-produk reaksi adalah hidrokarbon ringan bersama
dengan lilin yang digunakan dalam lilin dan tinta cetak. Sekitar 50% konversi reaktan dicapai dalam reaktor.

Tujuan dari diskusi sebelumnya pada reaktor komersial adalah untuk memberikan gambar lebih rinci dari
masing-masing jenis utama reaktor industri: bets, semibatch, CSTR, tubular, fixed-bed (packed-bed), dan
fluidized-bed. Banyak variasi dan modifikasi reaktor komersial ini digunakan saat ini untuk elaborasi lebih
lanjut, mengacu pada pembahasan rinci tentang reaktor industri diberikan oleh Walas.
Krisna Mahendra / 21030116140175
Nama : Krisna Mahendra
NIM : 21030116140175

RINGKASAN

1. Keseimbangan mol pada spesies j, yang masuk (in), keluar (out), bereaksi, dan terakumulasi dalam
volume sistem V, adalah
d j
Fj0-Fj+∫ =
2. Hukum laju kinetik untuk rj adalah:
 Hanya fungsi properti dari bahan yang bereaksi [misalnya : konsentrasi (kerja), suhu, tekanan, katalis
atau pelarut (jika ada)].
 Kuantitas yang intensif.
 Persamaan aljabar, bukan persamaan diferensial.
Untuk sistem katalitik homogen, tipikal unit -rj dapat berupa gram mol per detik per liter; untuk
sistem heterogen, tipikal unit-rj dapat gram mol per detik per gram katalis. Berdasarkan konvensi, -rA
adalah laju penghilangan spesies A dan rA adalah laju pembentukan spesies A.
3. Neraca mol pada empat reaktor yang umum adalah sebagai berikut :
Gambar Reaktor Neraca mol Keterangan
Batch = ri.V Tidak ada variasi
spasial

CSTR V= Tidak ada variasi


spasial, steady state

PFR = rj Steady state

PBR = rj‟ Steady state

Subscript pada masing-masing nomor masalah menunjukkan tingkat kesulitan: A,, paling tidak sulit; D,
paling sulit.

Dalam setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak di sekitar
jawaban anda, tulis satu atau dua kalimat yang menjelaskan bagaimana anda memecahkan masalah itu,
asumsi yang anda buat, kewajaran jawaban anda, apa yang anda pelajari, dan fakta lainnya yang ingin
anda sertakan. Anda mungkin ingin merujuk ke W. Strunk dan EB White, The Elements of Style: (New
York: Macmillian, 1979) dan Joseph M. Williams, Style: Ten Lessons in Clarity & Grace (Glenview,
Ill .: Scott, Foresman, 1989) untuk meningkatkan kualitas kalimat anda.

P1-1A. (a) Setelah membaca setiap halaman, tanyakan pada diri Anda sebuah pertanyaan. Buat daftar hal-hal
paling penting yang Anda pelajari dalam bab ini.
(b) Dengarkan audio pada CD Catatan Kuliah, pilih satu dan katakan mengapa itu bisa dieliminasi.
P1-2A. Bagaimana jika:
(a) Aliran steam umpan benzena dalam Contoh 1-4 tidak dipanaskan oleh produk steam ? Apa
konsekuensinya?
(B) Anda membutuhkan cost 6000-galon dan reaktor Pfaudler 15.000-galon? Apa yang akan mereka
lakukan?
(c) Konsentrasi keluaran A dalam Contoh 1-3 ditentukan pada 0,1% dari konsentrasi yang masuk?
(d) Volume piston yang bergerak pada Contoh 1-2 bervariasi dalam cara yang mirip dengan car
cylinder, V = V0 + V1.sin ωt ?
(e) Hanya satu operator yang muncul untuk menjalankan pabrik nitrobenzena, apa yang akan menjadi
perhatian pertama Anda?
P1-3B. Hitung volume CSTR pada kondisi yang digunakan untuk menghitung volume reaktor plug flow dalam
Contoh 1-3.
P1-4A. Hitung waktu untuk mereduksi jumlah mol A hingga 1% dari nilai awalnya dalam reaktor batch
volume konstan untuk reaksi dan data dalam Contoh 1-3.
P1-5A. Asumsi apa yang dibuat dalam derivasi persamaan desain untuk:
Nama : Krisna Mahendra
NIM : 21030116140175

(a) reaktor batch?


(b) CSTR?
(c) Plug Flow Reactor (PFR)?
(d) Packed-bed Reactor (PBR)?
(e) Jabarkan dalam kata-kata maksud dari -rA, -r‟A, dan r‟A. Apakah laju reaksi –rA adalah kuantitas
yang luas? jelaskan.
P1-6A. Apa perbedaan antara laju reaksi untuk sistem homogen, -rA, dan laju reaksi untuk sistem heterogen, -
r‟A? Gunakan neraca mol untuk mendapatkan persamaan yang analog dengan Persamaan (1-6) untuk
fluidisasi CSTR yang mengandung partikel katalis dalam hal berat katalis, W, dan istilah lain yang
sesuai.
P1-7A. Bagaimana Anda dapat mengubah persamaan neraca mol yang umum untuk spesies tertentu,
Persamaan (1-4), ke persamaan neraca massa umum untuk spesies tersebut?
P1-8A. Amerika Serikat menghasilkan 24% dari produk kimia dunia. Menurut "Fakta dan Angka" tahunan dari
Chemical and Engineering News (C & E News, 24 Juni 1996), berikut ini adalah 10 bahan kimia yang
paling banyak diproduksi pada tahun 1995:
Bahan Kimia Miliar Pounds Bahan Kimia Miliar pounds
1. H2SO4 95.36 6. NH3 35.60
2. N2 68.04 7. H3PO4 26.19
3. O2 53.48 8. NaOH 26.19
4. C2H4 46.91 9. C3H6 25.69
5. CaO 41.23 10. Cl2 25.09
(a) Apa 10 bahan kimia yang paling banyak diproduksi untuk tahun yang baru saja berakhir? Apakah
ada perubahan signifikan dari statistik 1995?
terbitan yang sama dari C & E News melansirkan perusahaan kimia berikut ini sebagai 10 teratas dalam
penjualan total pada tahun 1995. (Juga dapat lihat pada http:www.chemweek.com) Apakah ada
perubahan signifikan dari statistik 1995?
Perusahaan Penjualan (Miliar dollars)
1. Dow 19.73
2. Dupont 18.43
3. Exxon 11.73
4. Hoechst Celanese 7.39
5. Monsanto 7.25
6. General Electric 6.63
7. Mobil 6.15
8. Union Carbide 5.89
9. Amoco 5.66
10. Occidental Petroleum 5.41
(b) Apakah 10 perusahaan teratas dalam penjualan tahun tersebut baru saja berakhir? Apakah
perubahan signifikan terjadi dibandingkan dengan statistik pada 1995?
(c) Menurut Anda, mengapa H2SO4 adalah zat kimia yang paling banyak diproduksi? Apa saja
kegunaannya?
(d) Berapa tingkat produksi tahunan saat ini (lb / yr) dari etilena, etilena oksida, dan benzena?
(e) Mengapa Anda menyangka ada begitu sedikit bahan kimia organik pada 10 teratas tersebut?
P1-9A. Mengacu pada bahan teks dan referensi tambahan pada reaktor komersial yang disajikan pada akhir bab
ini, isi tabel berikut:
Tipe Reaktor Karakteristik Jenis fase yang Penggunaan Keuntungan Kerugian
ditampilkan

P1-10B. Diagram skematis dari cekungan (basin) Los Angeles ditunjukkan pada Gambar P1-10. Dasar
cekungan mencakup sekitar 700 mil persegi (2 x 1010 ft2) dan hampir sepenuhnya dikelilingi oleh
pegunungan. Jika seseorang mengasumsikan ketinggian inversi di cekungan 2000 ft, volume udara
yang sesuai di cekungan adalah 4 x 1013 ft3. Kami akan menggunakan volume sistem ini untuk
memodelkan akumulasi dan menipisnya polutan udara. Sebagai kasaran pendekatan pertama, kita akan
memperlakukan cekungan Los Angeles sebagai wadah pencampuran yang baik (analog dengan CSTR)
di mana tidak ada variasi spasial dalam konsentrasi polutan. Pertimbangkan hanya ada polutan karbon
Nama : Krisna Mahendra
NIM : 21030116140175

monoksida dan asumsikan bahwa sumber CO berasal dari knalpot mobil, dalam rataan, ada 400,000
mobil yang beroperasi di cekungan pada satu waktu. Setiap mobil mengeluarkan sekitar 3000 ft 3
standar buang setiap jamnya, yang mengandung 2% mol karbon monoksida.

Gambar P1-10
Kami akan menunjukkan neraca mol unsteady-state pada konsentrasi CO yang habis dari daerah
cekungan oleh angin Santa Ana. Angin Santa Ana adalah angin berkecepatan tinggi yang berasal dari
Gurun Mojave di timur laut Los Angeles. Udara gurun yang bersih ini mengalir ke cekungan melalui
koridor yang diasumsikan seluas 20 mil dan tingginya 2000 kaki (ketinggian inversi) menggantikan
udara yang tercemar, yang mengalir ke laut atau ke arah selatan. Konsentrasi CO dalam angin Santa
Ana yang memasuki cekungan adalah 0,08 ppm (2,04 x 10-10 lb mol / ft3).
(a) Berapa banyak pon mol gas dalam volume sistem yang telah kita pilih untuk basin Los Angeles jika
suhu 75 °F dan tekanan 1 atm? (Nilai-nilai konstanta gas ideal dapat ditemukan dalam Appendix
B.)
(b) Berapa lajunya, FCO,A, di mana semua mobil menghasilkan karbon monoksida ke dalam cekungan
(basin) (lb mol CO / h)?
(c) Berapakah laju alir volumetrik (ft 3 / h) dari angin 15-mph melalui koridor dengan lebar 20 mil dan
tinggi 2000 ft ? (jawaban : 1.67 x 1013 ft3/h)
(d) Pada laju berapa, FCO,S, apakah angin Santa Ana membawa karbon monoksida ke dalam cekungan
(basin) (Ib mol / jam)?
(e) Dengan mengasumsikan bahwa laju alir volumetrik yang masuk dan meninggalkan basin itu
identik, v = vO, menunjukkan bahwa neraca mol unsteady state CO sampai ke basin menjadi
FCO,A + FCO,S – vO.CCO =V
(f) Menguji solusi untuk Persamaan (Pl-10.1) yakni
t = ln
(g) Jika konsentrasi awal karbon monoksida di cekungan sebelum angin Santa Ana mulai bertiup
sebesar 8 ppm (2,04 x 10-8 lb mol / ft3), hitung waktu yang diperlukan untuk karbon monoksida
mencapai kadar 2 ppm.
(h) Ulangi bagian (b) sampai (g) untuk polutan lain, NO. Konsentrasi NO dalam knalpot mobil adalah
1500 ppm (3.84 x 10 -6 lb/ft3), dan konsentrasi NO awal di cekungan adalah 0,5 ppm. Jika tidak ada
NO dalam angin Santa Ana, hitung waktu konsentrasi NO untuk mencapai 0,1 ppm. Berapa
konsentrasi NO terendah yang bisa dicapai?

Reaksinya
A B
dilakukan secara isotermal dalam reaktor aliran kontinyu. Hitung kedua volume reaktor CSTR dan
PFR yang diperlukan untuk memakai 99% A (yaitu, CA = 0,01CA0) ketika laju alir molar yang
masuk adalah 5 mol/h, dengan asumsi laju reaksi -rA adalah:
(a) –rA = k , dengan k = 0.05 (jawaban : V = 99 dm3)
(b) –rA = kCA , dengan k = 0.0001 s-1
(c) –rA = kCA2 , dengan k = 3 (jawaban: VCSTR = 66,000 dm3)\
Laju alir volumetrik yang masuk adalah 10 dm3 / jam. [Catatan: FA = CA.v. Untuk laju alir
volumetrik konstan v = v0, maka FA = CA.v .Serta CA0 = FA0/v0 = (5 mol / h) / (10 dm3 / h) = 0,5
mol / dm3.]
Nama : Krisna Mahendra
NIM : 21030116140175

P1-12C. Reaksi fase gas


A B +C
dilakukan secara isotermal dalam reaktor batch volume konstan 20 dm3. Dua puluh mol A murni
pada awalnya ditempatkan di dalam reaktor. Reaktornya tercampur dengan baik
(a) Jika reaksinya orde satu :
-rA = kCA , dengan k = 0.865 min-1
hitung waktu yang diperlukan untuk mereduksi jumlah mol A dalam reaktor hingga 0.2 mol.
(Catatan: NA = CA.V) (Jawaban : t = 5.3 min)
(b) Jika reaksi orde dua :
–rA = kCA2 , dengan k = 2
hitung waktu yang diperlukan untuk memakai 19.0 mol A
(c) Jika suhu 127 °C, berapakah tekanan total awal? Berapa total tekanan akhir dengan asumsi
reaksi akan mencapai akhir?
P1-13A. (a) Berapa banyak ft 3 (pada STP) memasuki reaktor packed-bed, dalam contoh 1-5 setiap detiknya?
Berapa lama suatu molekul dihabiskan, pada rataan, di dalam reaktor? [Petunjuk : Berapa
kecepatan gas di setiap tube dengan asumsi 30% porositas (volume gas/volume reaktor) untuk
packed-bed?]
(b) Perkirakan waktu partikel katalis dan molekul fase gas dihabiskann dalam Sasol straight-
through transport reactor (STTR). Berapa densitas bulk katalis (kg cat / m3) dalam STTR?
P1-14A. Tulislah ringkasan satu paragraf dari artikel jurnal tentang kinetika reaksi atau reaction
engineering. Artikel harus diterbitkan dalam lima tahun terakhir. 4 Apa yang Anda pelajari dari
artikel ini? Mengapa artikel itu penting?
P1-15A. (a) Jurnal, buku, atau makalah apa yang memberi Anda biaya untuk industri (bukan laboratorium,
misalnya, katalog Fisher) bahan kimia dan katalis?
(b) Buat daftar berbagai jurnal, buku, atau sumber lain di mana Anda dapat menemukan rincian
tentang konstruksi dan keamanan reaktor dalam industri.

(4 Lihat tambahan daftar bacaan di akhir bab, terutama butir 4)

P1-16C. Apa tipikal kondisi operasi (suhu, tekanan) dari reaktor catalytic cracking yang digunakan dalam
penyulingan minyak bumi?
P1-17A. Lihat foto dan skema pada CD-ROM di bawah Elemen Teknik Reaksi Kimia-Bab 1. Lihat video-
video quicktime. Tulislah paragraf yang menjelaskan dua atau lebih reaktor. Apa persamaan dan
perbedaan yang Anda amati antara reaktor di Web dan di dalam teks?
P1-18A. (a) Mulanya ada 500 kelinci (x) dan 200 rubah (y) di properti Farmer oat. Gunakan POLYMATH
atau MATLAB untuk merencanakan konsentrasi rubah dan kelinci sebagai fungsi waktu
selama periode hingga 500 hari. Hubungan predator-mangsa disajikan oleh seperangkat
persamaan diferensial biasa gabungan sebagai berikut:
= k1.x – k2.x.y
= k3.x.y – k4.y
Konstanta pertumbuhan kelinci k1 = 0,02 hari-1 '
Konstanta kematian kelinci k2 = 0,00004 / (hari x no. Rubah)
Konstanta pertumbuhan rubah setelah memakan kelinci k3 = 0.00004 / (hari x no. kelinci)
Konstanta kematian rubah k4 = 0,04 hari-1 '
Apakah hasil Anda dapat terlihat seperti untuk kasus k3 = 0,00004 / (hari x no. kelinci) dan
tfinal = 800 hari? sertakan plot jumlah rubah versus jumlah kelinci. Jelaskan mengapa kurva
terlihat seperti itu. Variasikan parameter kl, k2, k3, dan k4. Diskusikan parameter mana yang
bisa atau tidak bisa lebih besar dari yang lain, Tulislah paragraf yang menjelaskan apa yang
Anda temukan.
(b) Gunakan POLYMATH atau MATLAB untuk menyelesaikan set persamaan aljabar nonlinier
berikut:
x3y – 4y2 + 3x = 1
6y2 – 9xy =5
dengan tebakan awal x = 2, y = 2. Cobalah untuk terbiasa dengan tombol edit di POLYMATH
atau MATLAB. Lihat CD-ROM untuk instruksinya.
P1-19A. Muatlah Modul Komputer Interaktif (ICM) dari CD-ROM. Jalankan modul dan kemudian catat
nomor kinerja Anda untuk modul yang menunjukkan Anda menguasai material tersebut. Profesor
Anda memiliki kunci untuk memecahkan kode nomor kinerja Anda.
Nama : Krisna Mahendra
NIM : 21030116140175

P1-20A. Surfing CD-ROM yang disertakan dengan teks ini dan juga www (http: //www.engin.umich,edu/-
cre).
(a) Kira-kira berapa banyak tambahan contoh masalah yang sudah diselesaikan di sana?
(b) Buatlah daftar setidaknya satu klip video.
(c) Dalam kuliah apa energi aktivasi dibahas?
(d) Foto apa yang ada di Modul Wetlands?
P1-21A. Baca dari kata pengantar. Tulislah paragraf yang menggambarkan content gods dan tujuan
intelektual dari kursus dan teks. Juga uraikan apa yang ada di CD dan bagaimana CD dapat
digunakan dengan teks dan kursus.
P1-22A. Tinjaulah tujuan pada CD-ROM. Tulislah paragraf di mana Anda menggambarkan seberapa baik
Anda merasa bahwa Anda memenuhi tujuan-tujuan ini. Diskusikan kesulitan apa pun yang Anda
hadapi dan tiga cara (misalnya dengan bertemu dengan profesor, teman sekelas) yang Anda
rencanakan untuk mengatasi masalah-masalah ini.
Nama : Silvie Elmia Sari
NIM : 21030116120033

Lebih pedulilah dengan karakter daripada reputasi, karena


karakter adalah apa yang sebenarnya anda miliki sementara
reputasi hanyalah apa yang orang lain pikirkan tentang anda.
John Wooden, pelatih, UCLA Bruins

Bab pertama berfokus pada persamaan umum keseimbangan mol; keseimbangan diterapkan pada empat jenis
umum reaktor induksi, dan persamaan desain dikembangkan untuk setiap jenis reaktor. Dalam Bab 2 ini,
pertama-tama akan mendefinisikan konversi dan kemudian menulis ulang persamaan desain dalam hal konversi.
Setelah itu, kami menunjukkan bagaimana seseorang dapat mengukur reaktor (yaitu, menentukan volume
reaktor: untuk mencapai konversi tertentu) setelah hubungan antara laju reaksi, r A, dan konversi diketahui.

2.1 Definisi Konversi

Dalam menentukan konversi, kita memilih salah satu reaktan sebagai dasar perhitungan dan kemudian
menghubungkan spesies lain yang terlibat dalam reaksi. Dari beberapa contoh hal pertama yang dilakukan
yaitu dengan memilih reaktan pembatas sebagai basis pengalkulasian. Kemudian dikembangkan menjadi
hubungan stoikiometri dan persamaan desain dengan mempertimbangkan reaksi umum sebagai berikut :

aA + bB  cC + dD (2-1)

Huruf besar mewakili spesies kimia dan huruf kecil merepresentasikan koefisien stoikiometri. Mengambil
spesies A sebagai basis perhitungan atau sebagai reaktan pembatas, kemudian membagi reaktan yang lain
dengan koefisien stoikiometri spesies A. Bentuk persamaan reaksi yang terbentuk yaitu sebagai berikut :

untuk menempatkan setiap kuantitas dengan basis “per mol A”. Sehingga muncul pertanyaan “Bagaimana
kita mengukur seberapa jauh reaksi [misalnya, Persamaan (2-2)] telah berkembang?” Atau “Berapa banyak
mol C yang terbentuk untuk setiap mol A yang telah bereaksi?” Cara mudah untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan ini adalah menentukan parameter yang disebut konversi. Konversi X A adalah jumlah mol A
yang bereaksi per mol A yang diumpankan ke sistem:

Definisi X
Pada persamaan sebalumnya, konversi didefinisikan sebagai X A untuk lebih ringkasnya maka dengan
menghilangkan subscript A sehingaa didapatkan X = XA

2.2. Persamaan Desain


2.2.1. Sistem Batch
Pada sebagian besar reaktor batch, semakin lama reaktan berada dalam reaktor, semakin
banyak reaktan yang berubah menjadi produk hingga tercapai atau reaktan habis bereaksi.
Akibatnya, dalam sistem batch konversi X adalah fungsi waktu yang yang digunakan sampai rektan
habis bereaksi di dalam reaktor. Jika N A0 adalah jumlah mol A mula-mula, maka jumlah mol A
yang bereaksi setelah waktu t adalah [NAOX]
* + [ ] [ ]
2.3
* + [ ][ ]

Jumlah mol A yang tetap dalam reaktor setelah t waktu, N A, dapat dinyatakan dalam N AO dan X:
Nama : Silvie Elmia Sari
NIM : 21030116120033

Jumlah mol A dalam reaktor setelah konversi X telah dicapai adalah

NA = NA0-NA0X = NA0 ( 1-X ) (2.4)


Ketika tidak ada variasi spasial dalam laju reaksi, keseimbangan mol pada spesies A untuk
sistem batch berkurang ke persamaan berikut :

(2.5)

Persamaan ini apakah valid jika volume reactor konstan. Reaksi umum:

reaktan A habis; oleh karena itu, langkah selanjutnya yaitu dengan mengalikan kedua sisi Persamaan i
(2-5) dengan -1 untuk mendapatkan keseimbangan mol untuk reaktor batch dalam bentuk :

Kecepatan berkurangnya A, -rA, dalam reaksi ini mungkin diberikan oleh hukum laju yang mirip
dengan Persamaan (1 -2), seperti -rA = kCACB
Untuk reaktor batch kami tertarik untuk menentukan berapa lama untuk melepaskan reaktan dalam
reaktor untuk mencapai konversi X tertentu. Untuk menentukan jangka waktu ini, kami mengubah
keseimbangan mol, Persamaan (2-5), dalam hal Konversi dengan membedakan Persamaan (2-4).

NA = NA0-NA0X

sehubungan dengan waktu, sambil mengingat bahwa NA0 adalah jumlah mol A yang pada awalnya ada
dan karena itu konstan dengan. menghormati waktu

Kemudian dikombinasikan dengan persamaan (2-5) yields :

Untuk reaktor batch, persamaan desain dalam bentuk diferensial adalah

Bentuk diferensial dari persamaan desain sering muncul dalam analisis reaktor dan sangat berguna
dalam interpretasi data laju reaksi.
Reaktor batch volume konstan sangat sering ditemukan dalam industri. Terutama, reaktor bom
laboratorium untuk reaksi fase-gas digunakan secara luas untuk memperoleh informasi laju reaksi
dalam skala kecil. Reaksi fase cair di mana perubahan volume selama reaksi tidak signifikan sering
dilakukan dalam reaktor batch ketika produksi skala kecil diinginkan atau sulit dalam penggunaan
sistem continue. Untuk reaktor batch volume konstan, Persamaan (2-5) dapat dibuat ke dalam bentuk

Untuk sistem batch-reactor di mana volume bervariasi saat reaksi berlangsung, volume biasanya dapat
dinyatakan hanya sebagai fungsi waktu saja atau konversi saja, baik untuk reaktor adiabatik atau
isotermal. Oleh karena itu, persamaan diferensial (2-6) dapat dibuat menjadi bentuk persamaan sebagai
berikut :
Nama : Silvie Elmia Sari
NIM : 21030116120033

atau

Kemudian,persamaan ini diintegralkan dengan batas reaksi dimulai pada waktu nol (mis., t = 0, X = 0).
Ketika volume divariasikan oleh beberapa sumber eksternal dengan cara tertentu (seperti piston silinder
mobil yang mengompresi gas yang bereaksi sesuai dengan persamaan V = VI + V, sin ωt), persamaan
ini menghubungkan waktu dan konversi yang akan digunakan untuk :

∫ ∫ (2.8)

Namun, untuk reaktor batch di mana volume bukanlah fungsi waktu yang telah ditentukan, waktu t
yang diperlukan untuk mencapai konversi X adalah

Persamaan (2-6) adalah bentuk diferensial dari persamaan desain, dan Persamaan (2-8) dan
(2-9) adalah bentuk integral untuk reaktor batch. Bentuk diferensial umumnya med dalam
interpretasi data tingkat laboratorium.
Nama : Eric Lesmana
NIM : 21030116140156

Halaman 37
Biasanya, konversi meningkat seiring dengan waktu yang dihabiskan reaktan dalam reaktor. Untuk sistem aliran
kontinyu, kali ini biasanya meningkat seiring dengan peningkatan volume reaktor; akibatnya, konversi X adalah
fungsi dari reaktor volume ll Jika FA, adalah laju alir molar dari spesies A yang diumpankan ke sistem yang
dioperasikan steady state, tingkat molar di mana spesies A bereaksi dalam keseluruhan sistem tem akan Fa0X.

Tingkat umpan molar A ke sistem dikurangi laju reaksi A dalam sistem menyamakan laju alir molar A
meninggalkan sistem FA. Yang sebelumnya- kalimat ing dapat ditulis dalam bentuk matematika berikut:

Apabila diurutkan akan menjadi :

Laju aliran molar yang masuk, FA, (mol / s), hanyalah produk dari yang masuk konsentrasi, CAo (mol / dm3),
dan laju aliran volumetrik yang masuk (dm3 / dtk):

Untuk sistem cair, CAo umumnya diberikan dalam hal molaritas, untuk contoh, CAo = 2 mol / dm3. Untuk
sistem gas, CAo dapat dihitung dari yang masuk suhu dan tekanan menggunakan hukum gas ideal atau hukum
gas lainnya. Untuk sebuah gas ideal (lihat Lampiran B):

di mana C, = memasuki konsentrasi, mol / dm3


yAO = memasukkan fraksi mol A
P, = memasukkan tekanan total, kPa
Untuk = memasukkan suhu, K
PA, = memasukkan tekanan parsial, kPa
R = konstanta gas ideal misalnya, R = 8.314 kPa * dm3; lihat Lampiran B
Contoh 2-I Menggunakan Hukum Gas Ideal untuk Menghitung C
Campuran gas terdiri dari 50% A dan 50% masukan pada 10 atm (1013 @a) dan masuk reaktor dengan laju
aliran 6 dm3 / s pada 300 ° F (422,2 K). Hitung masuknya pusat A, CAO, dan laju alir molar yang masuk, FA '.
Konstanta gas yang ideal adalah R = 0,082 dm3-atm / mol-K (Lampiran B)
Kami ingat bahwa untuk gas ideal:

di mana Po = 10 atm
yAO = 0,5
PA, = tekanan parsial awal = yAoP, = (OS) (10 atm) = 5 atm
Untuk = suhu awal = 300 ° F = 149 ° C = 422,2 K
R= 0,82 dm3. ATM/mol. K
Nama : Eric Lesmana
NIM : 21030116140156

Kami akan menggunakan nilai FAo ini bersama dengan Tabel 2-2 atau Gambar 2-1 untuk ukuran a jumlah
skema reaktor dalam Contoh 2-2 hingga 2-5.
Sekarang kita memiliki hubungan [Persamaan (2-lo)] antara molar laju aliran dan konversi, adalah mungkin
untuk mengekspresikan persamaan desain (yaitu, saldo mole) dalam hal konversi untuk reaktor $ ow yang
diperiksa Chapiter 1.
Reaktor CSTR atau Backmix. spesies A menunjukkan kestimbangan molaritas untuk reaksi.

Kami sekarang menggantikan laju alir molar keluar A, FA, dari konversi X dan laju alir molar yang masuk,
FAo, dengan menggunakan Persamaan (2-10) dalam formulir.

Kita dapat mengatur ulang Persamaan (2-12) untuk menentukan nilai volume CSTR mencapai konversi X yang
ditentukan.

Karena komposisi keluar dari reaktor identik dengan komposisi di dalam reaktor, laju reaksi dievaluasi pada
kondisi keluar. Reaktor Aliran Tubular (PFR). Setelah mengalikan kedua sisi tubular persamaan desain reaktor
(1-10) oleh - 1, kami mengungkapkan persamaan keseimbangan mol untuk spesies A dalam reaksi yang
diberikan oleh Persamaan (2-2) sebagai:

Untuk sistem aliran, FA sebelumnya telah diberikan dalam hal molar yang masuk laju aliran FA0 dan konversi
X:

Mengalihkan Persamaan (2-10) ke (2-14) memberikan bentuk diferensial dari persamaan desain untuk 1 reaktor
aliran-aliran:

Kami sekarang memisahkan variabel dan mengintegrasikan dengan batas V = 0 ketika X = 0 untuk
mendapatkan volume reaktor plug-terbang yang diperlukan untuk mencapai konversi yang ditentukan:

Untuk melaksanakan integrasi dalam desain reaktor batch dan plug-flow persamaan (2-9) dan (2-15>, serta
untuk mengevaluasi persamaan desain CSTR (2-13), kita perlu tahu bagaimana laju reaksi -rA bervariasi dengan
konsentrasi (karenanya konversi) dari spesies yang bereaksi. Hubungan antara tingkat reaksi dan konsentrasi
dikembangkan dalam Bab 3.

Reaktor Packed-Bed. Derivasi dari bentuk diferensial dan integral dari persamaan desain untuk reaktor packed-
bed analog dengan yang untuk PFR [lihat Persamaan (2-15) dan (2-16)]. Yaitu, menggantikan FA dalam
Persamaan (1-13) memberi

Bentuk diferensial dari persamaan desain [contoh Persamaan (2-17)] harus digunakan ketika menganalisis
reaktor yang memiliki penurunan tekanan sepanjang panjang reaktor. Kami membahas penurunan tekanan
dalam reaktor packed-bed di Bab 4. Mengintegrasikan dengan batas W = 0 pada X = 0 memberi
Nama : Eric Lesmana
NIM : 21030116140156

Persamaan (2-18) dapat digunakan untuk menentukan berat katalis W yang diperlukan mencapai X konversi
ketika tekanan total tetap konstan.

2.3 Aplikasi dari Desain Equstions untuk Reaktor Aliran Kontinyu


Tingkat hilangnya A, -rA, hampir selalu merupakan fungsi dari pusat dari berbagai spesies yang ada. Ketika
reaksi tunggal terjadi masing-masing konsentrasi dapat dinyatakan sebagai fungsi dari konversi X (lihat Bab 3);
akibatnya, -rA dapat diekspresikan sebagai fungsi X. Ii ketergantungan fungsional yang sangat sederhana,
namun satu yang terjadi pada banyak kesempatan, adalah -rA = kCAo (1 - X). Untuk ketergantungan ini, sebuah
plot dari tingkat reaksi timbal balik (-l / rA) sebagai fungsi konversi menghasilkan kurva mirip dengan yang
ditunjukkan pada Gambar 2- 1 di mana

Untuk mengilustrasikan desain serangkaian reaktor, kami mempertimbangkan isotermal reaksi dekomposisi fase
gas

Pengukuran laboratorium yang diberikan pada Tabel 2-1 menunjukkan reaksi kimia nilai sebagai fungsi
konversi. Suhu 300 ° F (422,2 K), yang tekanan total 10 atm (1013 kPa), dan muatan awal campuran equimolar
dari A dan tanda.

"Data rate pada Tabel 2- 1 telah dikonversi ke tingkat timbal balik, 1 I – rA pada Tabel 2-2, yang sekarang
digunakan untuk sampai pada plot yang diinginkan dari ll-rA sebagai fungsi X, ditunjukkan pada Gambar 2-1.
Kami akan menggunakan angka ini untuk menggambarkan bagaimana satu dapat mengukur masing-masing
reaktor di sejumlah urutan reaktor yang berbeda. Umpan volumetrik untuk setiap urutan reaktor adalah 6,0 dm3
/ dtk. Pertama, meskipun beberapa kondisi awal harus dievaluasi. Jika reaksi dilakukan isotermal, laju biasanya
paling besar pada awal reaksi ketika konsentrasitrasi reaktan paling besar [yaitu, ketika ada konversi yang dapat
diabaikan. Oleh karena itu (1 / - rA) akan menjadi kecil. Mendekati akhir reaksi, ketika konsentrasi reaktan kecil
(yaitu, konversi besar), laju reaksi akan menjadi kecil. Akibatnya, (l / -rA) besar. Untuk reaksi ireversibel lebih
besar dari urutan nol.
Nama : Eric Lesmana
NIM : 21030116140156

Untuk reaksi rmersibel di mana konversi kesetimbangan adalah X

Karakteristik ini diilustrasikan pada Gambar 2-1. Mayoritas reaksi menunjukkan kurva kualitatif serupa untuk
operasi isotermal.
Nama : Bintang Ellena Insani

a) Persamaan (2-13) memberikan volume CSTR sebagai fungsi FAo, X, dan –rA :

Dalam CSTR, komposisi, suhu, dan konversi aliran yang mengalir adalah identik dengan cairan di dalam
reaktor, karena pencampuran sempurna sudah diasumsikan. Oleh karena itu, kita perlu mencari nilai -rA (atau
timbal baliknya) pada X = 0,8. Dari Tabel 2-2 atau Gambar 2-1 kita melihat bahwa ketika X = 0,8, lalu

Substitusi ke Persamaan (2-13) memberi

(b) Arsir area pada Gambar 2-1 yang bila dikalikan dengan FA, menghasilkan volume CSTR. Menata ulang
Persamaan (2- 13) menjadi

Pada Gambar E2-2.1 nilai V / FA0 sama dengan luas persegi panjang dengan tinggi 1 / -rA = 800 dm3.s / mol
dan basis X = 0,8. Persegi panjang ini diarsir seperti pada gambar. Untuk menghitung volume reaktor, kita
mengalikan luas persegi panjang dengan FAO.

Volume CSTR yang diperlukan untuk mencapai konversi 80% pada suhu dan tekanan yang ditentukan adalah
555 dm3.

Contoh 2-3 Sizing a PFR


Reaksi yang dijelaskan oleh data dalam Tabel 2-1 dan 2-2 harus dilakukan dalam PFR. Laju aliran molar yang
masuk A adalah 0,867 mol / s. Hitung volume reaktor yang diperlukan untuk mencapai konversi 80% dalam
PFR (a) Pertama, gunakan salah satu rumus integrasi yang diberikan dalam Lampiran A.4 untuk menentukan
volume reaktor PFR. (B) Selanjutnya, teduh daerah pada Gambar 2-1 yang bila dikalikan dengan FA0 akan
memberikan volume PFR. (c) Buat sketsa kualitatif dari konversi, X, dan laju reaksi, -rA, turunkan panjang
(volume) reaktor.
Penyelesaian
(a) Untuk PFR, bentuk diferensial dari keseimbangan mol adalah
Nama : Bintang Ellena Insani

Menata ulang dan mengintegrasikan menjadi

Untuk konversi 80%, kita akan menggunakan rumus kuadrat lima titik dengan AX = 0,2.

Menggunakan nilai 1/-rA pada Tabel 2-2 menghasilkan

(b) Integral di persamaan (2-16) dapat dievaluasi untuk area di bawah kurva plot (l/-rA) versus X.
daerah di bawah kurva antara X = 0 dan X = 0,8 (lihat daerah berbayang yang sesuai pada
Gambar E2-3.1)

Produk dari area ini dan FAO akan memberikan volume reaktor tabung yang diperlukan untuk mencapai
konversi tertentu A. Untuk konversi 80%, daerah yang diarsir kira-kira sama dengan 260 dm3 * (s / mol).
Volume reaktor tabung dapat ditentukan dengan mengalikan area ini [dalam dm3. (S / mol)] oleh FA0 (mol / s).
Akibatnya, untuk laju alir molar yang masuk 0,867 mol / s volume PFR yang diperlukan untuk mencapai
konversi 80% adalah 225 dm3
(c) Sketsa -rA dan X ke bawah panjang reaktor. Kita tahu bahwa ketika kita melanjutkan reaktor dan semakin
banyak reaktan yang dikonsumsi, konsentrasi reaktan menurun, seperti halnya laju penghilangan A. Namun,
konversi meningkat karena semakin banyak reaktan diubah menjadi produk. Untuk X = 0,2, kami menghitung
volume reaktor terkait menggunakan aturan Simpson dengan AX = 0,1.

Untuk X = 0,4, kita dapat kembali menggunakan aturan Simpson dengan AX = 0,2:
Nama : Bintang Ellena Insani

Kita dapat melanjutkan dengan cara ini untuk sampai pada Tabel E2-3.1

yang ditunjukkan pada Gambar E2-3.2.

Daripada menggunakan aturan Simpson kita bisa menggunakan data pada Tabel 2-2 untuk menyesuaikan (X) ke
polinomial dan kemudian menggunakan POLYMATH untuk mengintegrasikan persamaan desain untuk
mendapatkan profil konversi.

Contoh 2-4 Membandingkan Ukuran CSTR dan PFR


Ini sangat menarik untuk membandingkan volume CSTR dan reaktor plug-flow (PFR) yang diperlukan untuk
pekerjaan yang sama. Untuk melakukan ini, kami akan menggunakan data pada Gambar 2-1 untuk mempelajari
reaktor mana yang akan membutuhkan volume yang lebih kecil untuk mencapai konversi 60%: CSTR atau PFR.
Kondisi umpan sama pada kedua kasus. Laju aliran molar yang masuk adalah 5 mol / s.
Penyelesaian
Untuk CSTR:

Ini juga merupakan area persegi panjang dengan simpul (X, l / -rA) dari (0, 0), (0, 400), (0,6, 400), dan (0,6,
TO). Volume CSTR yang diperlukan untuk mencapai konversi 60% adalah

Untuk reaktor plug-flow (tubular):

Mengintegrasikan dan mengatur ulang Persamaan (2-1 5) menghasilkan

Volume PFR yang diperlukan untuk mencapai konversi 60% adalah


Nama : Bintang Ellena Insani

Untuk laju aliran yang sama, FA0, reaktor aliran sumbat membutuhkan volume yang lebih kecil daripada CSTR
untuk mencapai konversi sebesar 60%. Perbandingan ini dapat dilihat pada Gambar E2-4.1. Untuk reaksi
isotermal dengan orde nol lebih besar, PFR akan selalu membutuhkan volume srrtaller daripada CSTR untuk
mencapai konversi yang sama.

2.4 Reaktor dalam Seri


Banyak kali reaktor dihubungkan secara seri sehingga aliran keluar dari satu reaktor adalah aliran umpan untuk
reaktor lain. Ketika pengaturan ini digunakan, sering mungkin untuk mempercepat perhitungan dengan
mendefinisikan konversi dalam hal lokasi pada titik hilir daripada sehubungan dengan reaktor tunggal. Artinya,
konversi X adalah jumlah total mol A yang bereaksi hingga itu
titik per mol A diumpankan ke reaktor pertama. Namun, definisi ini hanya dapat digunakan asalkan tidak ada
aliran samping yang ditarik dan aliran umpan hanya memasuki reaktor pertama dalam seri. Sebagai contoh,
hubungan antara konversi dan laju alir molar untuk urutan reaktor yang ditunjukkan pada Gambar 2-2 diberikan
oleh yang berikut
persamaan:

Dimana

Definisi serupa ada untuk XI dan X ,.


Volume Vl diberikan oleh Persamaan (2-16):

Keseimbangan mol pada spesies A untuk CSTR di tengah memberi

Dengan menata ulang memberi kita


Nama : Fitri Zakyah

Skema B
CSTR : = 0.867 (0.5)(303) = 131.4 dm3
PFR : ∫ 5
=130.9 dm3
dm3 (liter)
Skema B memberikan volume reaktor yang lebih kecil untuk conversi intermediate 50%. Hasil ini ditunjukkan
pada Gambar E2-7.1. Bagaimanapun, seperti yag kita lihat di soal P2-3. Ukuran relatif reaktor bergantung pada
konversi intermediate. Bandingkan hasil pada contoh 2-7 dengan soal P2-3.
Contoh sebelumnya menunjukkan bahwa jika kita mengetahui flow rate molar ke dalam reaktor dan
laju reasi sebagai fungsi konversi, kemudian kita dapat menghitugn volume reaktor yang dibutuhkan untuk
mencapai konversi tertentu. Laju reaksi tidak hanya bergantung pada konversi saja. Laju reaksi juga dipengaruhi
oleh konsentrasi awal reaktan, suhu, dan tekanan. Secara konsekuen, data hasil percobaan yang diperoleh
dilabolatorium da di sajikan di Tabel 2-1 untuk memberikan nilai X sangat berguna dalam mendesain full-
scale reactor yang dioperasikan ada kondisi yang sama dengan kondisi percobaan dilabolatorium (suhu,
tekanan, konsentrasi awal reaktan). Secara umum kondisi tersebut benar, contohnya: untuk menggunakan data
labolatorium secara langsung untuk ukuran reaktor, kondisi pada labolatorium dan full-scale akan identik.
Biasanya, keadaan seperti itu jarang ditemui dan kita harus kembali ke metode yang dijelaskan di Chapter 3
untuk memperoleh sebagai fungsi X.
Bagaimanapun, sangat penting bagi pembaca untuk menyadari bahawa jika laju reaksi hanya
digunakan sebagai fungsi dari konversi , atau jika dapat digeneralisasikan oleh beberapa
perhitungan intermediate, seseorang dapat mendesain berbagai jenis reaktor atau kombinasi reaktor.
Terakhir, mari kita pertimbangkan pendekatan PFR dengan sejumlah CSTR bervolume kecil dan sama
( ), secara seri (Gambar 2-8).

Kita hanya
butuh

𝑟𝐴 𝑓 𝑋
dan 𝐹𝐴 untuk
ukuran reaktor

Gambar 2-8 Pemodelan PFR dengan CSTR secara seri


Nama : Fitri Zakyah

Gambar 2-9 Perbandingan CSTRs seri dengan satu PFR


Kita ingin membandingkan volume total CSTRs dengan volume satu reaktor plug-flow pada konversi yang
sama, katakanlah 80%. Dari Gambar 2-9 kita catat satu pengamatan yang sangat penting!.volume total untuk
memperoleh konversi 80% untuk 5 reaktor CSTR dengan volume yang sama secara seri kira-kira sama dengan
volume untuk satu reaktor PFR. Kita buat volume reaktor lebih kecil dan memperbanyak jumlah reaktor CSTR,
volume total dari CSTRs dan PFR akan menjadi sama. Dari situ, kita mendapat model reaktor PFR sebagai
jumlah CSTRs secara seri. Konsep ini akan digunakan dibeberapa situasi, seperti pemodelan peluruhan katalis
dalam reaktor packed-bad atau efek panas sementara pada PFrs.
Biasaya, data labolatorium digunakan untuk merumuskan rate low, kemudian laju reaksi –fungsi
konversi dipengaruhi oleh rate low. Bagian sebelumnnya menunjukkan bahwa dengan laju reaksi-hubungan
konversi, skema reaktor berbeda dapat diukur dengan mudah. Di Chapter-3 kita melihat bagaimana kita
mendapatkan hubungan antara laju reaksi da konversi dari rate low dan stokiometri reaksi.
2.5 Beberapa Definisi Lebih Lanjut
Sebelum melanjutkan ke Chapter 3, beberapa istilah dan persamaan yang umum digunakan direaksi perlu untuk
didefinisikan. Kita juga mempertimbangkan kasus tertentu dari persamaan desain plug-flow ketika laju
volumetriknya konstant.
Kecepatan relatif reaksi. Kecepatan relatif reaksi berbagai spesies yang terdapat dalam reaksi dapat kita
peroleh dari rasio koefisien stokiometri. Untuk Reaksi (2-2)

Kita lihat bahwa untuk setiap mole A yang dikonsumsi, menghasilkan c/a moles C. Dengan kata lain,
Laju pembentukan (laju hilangnya A)

Sama dengan hubungan antara laju pembentukan C dan D adalah

Hubungan tersebut dapat ditunjukkan secara langsug dari stokiometri reaksi,


(2-1)
Ingat bahwa Sehingga
ini hubungan (2-20)
yang sangat Waktu Tinggal. Waktu tinggal, , diperoleh melalui membagi volume reaktor dengan laju volumetrik
penting untuk yangmasuk kedalam reaktor.
kecepatan
realtif reaksi
Waktu tinggal adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproses satu volume reaktor berdasarkan kondisi masuk
fluida. Contohnya, perhatikan tubular reaktor di Gambar 2-10, panjangnya 20 m dan volume 0.2 m3. Garis
putus-putus pada Gambar 2-10 menunjukkan 0.2 m3 cairan dibagian hulu reaktor. Waktu yang dibuthkan oleh
Nama : Fitri Zakyah

cairan ini untuk masuk kedalam reaktor sepenuhnya (sampai memenuhi reaktor) adalah waktu tinggal. Waktu
tinggal juga disebut sebagai holding time atau waktu yang sangat berarti.
Waktu tinggal
atau residance
time 𝜏 𝑉 𝑣

Jika semua persamaan desain untuk plug-flow reaktor dibagi dengan laju volumetrik dan kemudian
bagian sisi kiri dimasukkan kedalam persamaan waktu tinggal, persamaan diambil dari:

Space velocity (SV), yang didefinisikan sebagai:


(2-22)
Mungkin pada pada awalnya dianggap sebagai kebalikan dari waktu tinggal. Bagaimanapun, ada perbedaan
definisi padaa dua perhitungan. Untuk waktu tinggal, laju volumetrik yang masuk diukur berdasarkan kondisi
reaktan yang masuk, disamping untuk space velovity dilain kondisi sering digunakan. Dua space velocity yang
umumnya sering digunakan di industri adalah space velocity cairan tiap jam dan gas tiap jam, LHSV dan
GHSV. di LHSV biasanya diukur sebagai cairan pada suhu 60 atau 750F, meskipun umpan masuk kedalam
reaktor berupa gaspasa suhu yang lebih tinggai. di GHSV diukur pada suhu dan tekanan standart (STP).
Untuk reaksi yang mana kecepatan bergantung hanya pada konsentrasi satu spesies [misalnya:
], biasanya muda untuk dinyatakan sebagai fungsi dari konsentrasi daripada konversi. Kita dapat
menulis ulang persamaan desain untuk plug-flow reaktor [Persamaan (2-16)] dalam bentuk konsentrasi, ,
daripada dalam bentuk konversi untuk kasus khusus ketika
∫ (2-16)
Menyusun ulang persamaan (2-10) menjadi:
(2-24)
Untuk kasus khusus ketika

Ketika
Ketika ,
Membedakan Yields
(2-25)

Valid hanya jika ∫ (2-26)


Persamaan (2-26) adalah rumus persamaan desain untuk laju volumetrik yag konstant, yang terbukti
𝑣 𝑣 lebih berguna menentukan waktu tinggal atau volume reaktor untuk laju reaksi yang hanya bergantung pada
konsentrasi dari satu spesies.
Gambar 2-11 menunjukkan jenis kurva seperlaju reaksi sebagai fungsi konsentrasi untuk reaksi isotermal
pada volume konstan. Untuk laju reaksi lebih besar dari nol, kecepata menurun selama penurunan konsentrasi.
Area dibawah kurva menunjukkan waktu tinggal yang dibutuhkan untuk mengurangi konsentrasi A dari
menjadi
Nama : Fitri Zakyah

Gambar 2-11 Menentukan waktu tinggal,


Untuk meringkas contoh-contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa desain reaktor yag beroperasi pada
kondisi (contoh: suhu, konsentrasi awal) yang sama yang mana data laju reaksi diperoleh, pengetahuan yang
detail dari hukum laju kinetika tidak selalu dibutuhkan. Pada beberapa keadaan mungkin untuk melakukan
scale up dari skala labolatorium atau sistem reaksi pilot plant hanya dari pengetahuan sebagai fungsi atau
. Sayangnya, kebanyakan sistem reaktor, proses scale-up tidak dapat dicapai hanya dari pengetahuan
sebagai fungsi . Di Chapter 3 kita meyajikan persamaan dasar dariman hukum laju kinetika diperoleh,
yangmana persamaaan desain dapat dievaluasi, baik dengan grafik atau integral numerik atau dengan bantuan
tabel integral.
RINGKASAN
1. Poin-poin pada bab ini ada tiga:
a. Untuk menentukan paramater konversi dan menullis ulang keseimbangan mol dalam konversi.
b. Untuk menunjukkan bahwa dengan sebagai fungsi konversi, jumlah reaktor dan siste
reaksi dapat diukur atau konversi dapat dihitung dari ukuran reaktor yag diberikan.
c. Untuk mempelajari kembali laju realtif reaktan dan produk pada reaksi.
2. Untuk reaksi

Kecepatan relatif dari reaksi dapat dituliskan sebagai,

S2-1
3. Konversi X adalah mol A yang bereaksi per mol A umpan.
Sistem Batch : S2-2
Sistem Mengallir : S S2-3
4. Untuk reaktor seri tanpa aliran samping atau umpan ganda (multiple feeds), evaluasi persamaan desain
dapat disederhanakan dengan konversi mewakili total mol yang bereaksi hingga titik tertentu di
rangkaian seri reaktor.
5. Dalam konversi, persamaan differensial dan integral dari desain reaktor menjadi:
Persamaan Differensial Persamaan Persamaan
Algebraic Integral
Batch

∫ ∫

CSTR
Nama : Fitri Zakyah

PFR

PBR

6. Jika laju penghilangan diberikan sebagai fungsi konversi, maka teknik secara grafik berikut dapat
digunakan untuk menentukan ukuran reaktor CSTR dan Pluf-Flow.
Nama : Irvan Maulana

integral PFR
juga bisa dievaluasi oleh persamaan:

[lihat Persamaan (A-22) dalam Lampiran A.41. Untuk kasus reaktor dalam seri, yang tidak ada aliran samping,
konversi didasarkan pada konversi total hingga titik tertentu. Untuk urutan reaksi

volume reactol dapat ditentukan dari area di bawah kurva plot Levenspiel seperti yang ditunjukkan di bawah ini.
Nama : Irvan Maulana

7. waktu tinggal dan kecepatan EV menurut persamaan dibawah ini

PERTANYAAN DAN MASALAH


Subskrip untuk masing-masing nomor masalah menunjukkan tingkat kesulitan: A, paling tidak sulit; D, paling
sulit.
Dalam setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak di sekitar jawaban Anda,
tulis satu atau dua kalimat yang menjelaskan bagaimana Anda memecahkan masalah, asumsi yang Anda buat,
kewajaran jawaban Anda, apa yang Anda pelajari, dan fakta lainnya. yang ingin Anda sertakan. Anda mungkin
ingin merujuk ke W. Strunk dan E. € 3. Putih, Unsur Gaya ( ew York: Macmillan, 1979) dan Joseph M.
Williams, Gaya: Sepuluh Pelajaran dalam Kejelasan & Rahmat (Glenview, Ill .: Scott, Foresman 1989) untuk
meningkatkan kualitas kalimat Anda.
P2-1A Bagaimana jikaTanpa merujuk kembali, buat daftar hal-hal paling penting yang Anda pelajari dalam bab
ini.
P2-2A Apa yang Anda yakini adalah tujuan keseluruhan dari bab ini?
(A) Anda perlu memperkirakan volume reaktor yang diperlukan untuk mencapai konversi 98% menggunakan
data pada Tabel 2-l?
(b) Anda diminta untuk menggunakan data pada Tabel 2-1 untuk menghitung volume reaktor CSTR pada suhu
100 ° C lebih tinggi dari suhu di manaUlangi
Contoh 2-7 untuk kasus ketika konversi antara adalah
(a) 30%, dan (b) 70%. Laju alir molar adalah 52 mol / menit.
Waktu ruang yang diperlukan untuk mencapai konversi 80% dalam CSTR adalah 5 jam. Pengukur (jika
mungkin) volume reaktor diperlukan untuk memproses 2 ft3 / menit. Berapa kecepatan ruang untuk sistem ini?
Ada dua reaktor dengan volume yang sama tersedia untuk Anda gunakan: satu CSTR, yang lain PFR. Reaksi
adalah urutan kedua (- rA = kC2 = kCio (1 - X) 2), irreversibel, dan dilakukan secara isotermal.
A-------->B
Ada tiga cara Anda dapat mengatur sistem Anda:
(1) Reaktor dalam seri: CSTR diikuti oleh PFR
(2) Reaktor dalam seri: PFR diikuti oleh CSTR
(3) Reaktor sejajar dengan separuh laju umpan menuju setiap reaktor setelah itu aliran keluar dicampur (a) Jika
memungkinkan, nyatakan sistem mana yang akan memberikan konversi keseluruhan tertinggi. (b) Jika
memungkinkan, nyatakan sistem mana yang akan memberikan konversi keseluruhan terendah. (c) Jika dalam
satu atau lebih kasus di atas tidak mungkin memperoleh jawaban, jelaskan mengapa. (Ujian $ nul, musim dingin
1496)
(d) Berikan komentar tentang apakah ini merupakan masalah ujian akhir yang masuk akal atau tidak
A ---> B + C
P2-6s Reaksi eksotermikdilakukan secara adiabatis dan data berikut dicatat:
X I 0 0,2 0,4 0,5 0,6 0,8 0,9
-rA (mol / dm3.min) I 10 14,67 50 50 50 12,5 909
Laju aliran molar yang masuk A adalah 300 mol / menit.
(a) Berapa volume PFR dan CSTR yang diperlukan untuk mencapai 40% konversi? (V ,,, = 7,2 dm3, V ,,, = 2,4
dm3)
(b) Berapa kisaran konversi apakah volume reaktor CSTR dan PFR identik?
(c) Berapa konversi maksimum yang dapat dicapai dalam CSTI 10,5-dm3?
(d) Berapa konversi dapat dicapai jika PFR 7,2-dm3 diikuti secara seri oleh 2,4-dm3 CSTR?
(e) Konversi Whaf dapat dicapai jika z 2.4-dm3 CSTR diikuti dalam rangkaian oleh 7.2-dm ‟PFR?
(f) Plot ihe konversi dan laju reaksi sebagai fungsi reaktor PFR volume hingga volume 10 dm3.
Sersan Nigel Ambercromby. Unsless Chemical telah membuat tirene (B) dari butalane (A) (keduanya cairan
gelap) menggunakan 8.0 ft3 CSTR diikuti oleh 3,3 ft3 PFR. Laju aliran yang masuk adalah 1 ft3 / menit.
Konversi sekitar 81% dicapai menggunakan pengaturan ini. Angka ini ditunjukkan sebagai fungsi konversi pada
Gambar P2-8 (a). CSTR identik dengan salah satu baterai CSR yang ditunjukkan pada Gambar 1-1 1. Ada
preheater upstream dari CSTR yang memanaskan umpan hingga 60 ° C. Suatu pagi manajer pabrik, iDr.
Pakbed, tiba dan menemukan bahwa clonversion telah turun menjadi sekitar 24%. Setelah memeriksa reaktor,
PFR ditemukan bekerja dengan sempurna, tetapi penyok ditemukan di CSTR yang mungkin disebabkan oleh
sesuatu seperti truk forklif. Dia juga mencatat CSTR, yang secara normal membuat suara "woosh" tidak berisik
seperti kemarin. Manajer mencurigai adanya kecurangan dan panggilan di Sersan. Nligel Ambercromby dari
Scotland Yard. Apa empat pertanyaan pertama Sgt. Ambercromby bertanya? Buat daftar semua hal yang dapat
Nama : Irvan Maulana

menyebabkan penurunan dalam percakapan. Hitung penjelasan yang mungkin dengan perhitungan numerik jika
memungkinkan. Dr Pakbed mengatakan Sgt. Ambercromby bahwa ia harus mencapai konversi lebih besar dari
50% untuk memenuhi jadwal produksi hilir. Sersan Ambercromby berkata, “Saya rasa saya tahu bagaimana
Anda dapat melakukan ini dengan segera.” Apa yang dimaksud Ambercromby? [Dan Dixon, ChE 344 W‟971
Gambar P2-8a menunjukkan cAo / -rA versus XA untuk dekomposisi fase-fase non-isomer, non-konstanta,
reaksi ganda fase-cair reaktan A.

(a) Pertimbangkan dua sistem yang ditunjukkan pada Gambar P2-8b di mana CSTR dan plug-aliran reaktor
terhubung di senes. Pertukaran antara adalah 0,3 dan konversi akhir adalah 0,7. Bagaimana seharusnya reaktor
diatur untuk mendapatkan volume total reaktor minimum? jelaskan.
(b) Jika laju aliran volumetrik adalah 50 L / menit, berapa volume total total reaktor? (Ans. V = 750 dm3)
(c) Apakah ada cara yang lebih baik (Le., Total volume terkecil mencapai 70% konversi selain dari sistem yang
diusulkan di atas? (Am .: 512 L)
(d) Pada konversi (s) akan volume reaktor yang diperlukan identik baik untuk CSTR atau PFR tubular? (Am .: X
= 0,45, dan X =?)
(e) Menggunakan informasi pada Gambar P2-8a bersama dengan persamaan desain CSTR , buat plot t terhadap
X. Jika volume reaktor adalah 700 L dan laju alir volumetrik 50 Wmin, berapakah kemungkinan konversi
saluran (Le., beberapa kondisi tunak) untuk reaktor ini?
Reaksi non-elementer fase-gas ireversibel A -->2B + C harus dilakukan secara isotermal dalam reaktif batch
bertekanan konstan. Umpan pada temperatur 227 ° C, presure 1013 kPa, dan komposisinya 33,3% A dan 66,7%
B Data laboratorium taKen unaer kondisi yang identik adalah sebagai berikut. (catatan bahwa x=0 dan –
rA=0,00001)
-rA (1000 mol/Ls) 0,010 0,005 0,002 0,001
X 0,0 0,2 0,4 0,4

P2-10 Perkirakan volume reaktor dari dua CSTR dan PFR yang ditunjukkan pada Gambar 2-7.
P2-11 Jangan menghitung apapun. Pulang saja dan bersantai.
P2-12 Kurva yang ditunjukkan pada Gambar 2- 1 adalah tipikal dari reaksi yang dilakukan secara isotermal,
sementara kurva yang ditunjukkan pada Gambar P2-12 adalah tipikal reaksi eksotermis yang dilakukan secara
adiabatis.saya
Nama : Irvan Maulana

(a) Dengan asumsi bahwa Anda memiliki CSTR dan PBR yang mengandung bobot yang sama dari katalis,
bagaimana seharusnya mereka diatur untuk reaksi isotermal dan untuk reaksi adiabatik? Dalam setiap kasus
gunakan, jumlah terkecil berat katalis dan masih mencapai konversi 80%.
(b) Berapa berat katalis yang diperlukan untuk mencapai konversi 80% dalam reaktor yang dicampur dengan
baik dengan partikel katalis (misalnya, CSTR)?
(c) Berapa berat “CSTR” yang diperlukan untuk mencapai 40% konversi?
(d) Berapa berat PBR yang diperlukan untuk mencapai konversi 80%?
(e) Berapa berat PBR yang diperlukan untuk mencapai konversi 40%?
(f) Plot laju reaksi dan konversi sebagai fungsi dari volume PBR.
(g) Tulislah sebuah paragraf yang menjelaskan bagaimana Anda akan menyusun reaktor untuk perbedaan
dengan kurva x.
Informasi tambahan FA0= 2mol/s

P2-13 Menggunakan POLYMATH, MatLab, Mathmatica, atau beberapa paket perangkat lunak lain, pertama-
tama cocok dengan -r, versus X ke polinominal (yaitu, -rA = a. + A, X + a2X2). Selanjutnya gunakan
polinomial ini dan pemecah ODE untuk memplot konversi ke bawah panjang (Le., Volume) dari PFR dan
temukan volume CSTR untuk 80% converison untuk laju alir molar masuk 5 mol.
(a) Gunakan data pada Tabel 2-2.
(b) Gunakan data dalam Soal 2-6.
(c) Gunakan data dalam Soal 2-9.
(d) Gunakan data pada Gambar P2-12.

P2-14, Berapa ukuran reaktor tipikal untuk:


(a) retak tungku?
(b) tempat tidur dikemas?
(c) fluidized beds?
(d) CSTR pilot-plant-scale?
(e) CSTR skala industri?
Untuk bagian (b) dan (c) tentukan dimensi katalis sebagai tambahan untuk dimensi reaktor.

P2-15, Review & dia volume reaktor dihitung dalam setiap contoh soal dalam bab ini. Menggunakan reaktor
metanol yang dijelaskan dalam Chem. Ya Prog., 79 (7), 64 (1983) sebagai dasar perbandingan,
mengklasifikasikan setiap ukuran reaktor dan laju aliran dalam contoh masalah sebagai industri, pabrik
percontohan, atau skala laboratorium.
Nama : Irvan Maulana

P2-16, Muat Modul Komputer Interaktif (ICM) dari CD-ROM. Jalankan modul dan kemudian catat nomor
kinerja Anda untuk modul yang menunjukkan pengirisan materi Anda. Profesor Anda memiliki kunci untuk
memecahkan kode kinerja Numbec Anda kinerja Reaktor ICM
Nama : Fisia Aqrorina
NIM : 21030116120040

CDP2-A Gunakan plot Levenspiel untuk menghitung volume reaktor PEX dan CSTR diberikan -rA = f (X).
(Termasuk So1ution) i [2nd Ed. P2-12B]
CDP2-BA Dilema tentang bagaimana menentukan ukuran reaktor di pabrik
kimia. [2nd Ed. P2-18B]
CDP2-CA Gunakan plot Levenspiel untuk menghitung volume PFR dan CSTR.
CDP2-DA Gunakan plot Levenspiel untuk menghitung volume CSTR dan PFR untuk reaksi
AS-B C

SUPPLEMENTARYREADING
1. Pembahasan lebih lanjut tentang stoikiometri dapat ditemukan di
HIMMELBLAU, D. M., Prinsip Dasar dan Perhitungan dalam Teknik Kimia- Proing,6th ed.
FELDERR,. M., dan R. W. RQUSSEAUEl, e mentary Principles of Chemical Upper Saddle River, N.J .:
Prentjlce Hall, 1996, Chap. 2 cesses, edisi kedua. New York: Wiley, 1986, Chap. 4.
2. Diskusi lebih lanjut tentang reaktor yang tepat secara seri disajikan dalam
LEVENSPIEL, O., Rekayasa Reaksi Kimia, edisi ke-2. New York Wiley, 1972, Chap. 6 (terutama hal. 139-
156).
HILL, C. G., Pengantar Kinetika Kimia dan Reaktor Desain. New York Wiley, 1977, Chap. 8.
Muhammad Syarifudin 21030115130195

HUKUM LAJU ALIR DAN STOKIOMETRI

Kinetika adalah cara alam untuk mencegah semuanya terjadi sekaligus.


-S. E. LeBlanc
Dalam subab sebelumnya telah ditunjukan tentang menghitung waktu yang diperlukan dalam suatu
reaksi dengan konversi X dalam sistem batch, atau untuk menghitung volume reaktor yang diperlukan untuk
mencapai suatu konversi Xᵤt suatu sistem aliran, kita perlu mengetahui laju reaksi sebagai fungsi konversi.
Dalam bab ini kami menunjukkan bagaimana hubungan fungsional ini diperoleh. Pertama bahasan singkat
tentang kinetika kimia, definisi, yang menggambarkan bagaimana laju reaksi bergantung pada konsentrasi
reaksi. Diskusi ini berisi tentang cara mengubah hukum laju reaksi dari pengaruh konsentrasi terhadap konversi.
Setelah, maka dapat merancang sejumlah sistem reaksi isotermal.

3.1 Definisi Dasar


Reaksi homogen adalah reaksi yang hanya melibatkan satu fase. Reaksi heterogen adalah reaksi
melibatkan lebih dari satu fase, dan reaksi biasanya terjadi pada, atau sangat dekat antar muka antar fase. Reaksi
ireversibel adalah reaksi yang berlanjut hanya dalam satu arah dan berlanjut dalam direktivasi sampai
reaktannya habis. Reaksi yang dapat dibalik, dapat direaksikan dengan baik tergantung pada konsentrasi reaktan
dan produk relatif dengan konsentrasi ekuilibrium yang sesuai. Reaksi ireversibel diasumsi tidak ada kondisi
ekuilibrium. Stricy berbicara, sebenernya tidak ada reaksi kimia yang benar-benar reaksi irreversible, tetapi
dalam sangat banyak reaksi terkadang tepat terletak pada titik ekuilibrium yang dapat digolongkan menjadi
reaksi irreversible.

3.1 .I Konstanta Kecepatan Reaksi


Dalam reaksi kimia yang dipertimbangkan dalam paragraf berikut, kita ambil
sebagai dasar perhitungan spesies A, yang merupakan salah satu reaktan yang habis sebagai hasil dari reaksi.
Reaktan pembatas dipilih sebagai dasar untuk perhitungan. Tingkat hilangnya nilai dari A, - r ,, tergantung pada
suhu dan komposisi. Untuk banyak reaksi dapat ditulis sebagai produk dari konstanta laju reaksi k dan fungsi
konsentrasi (activicancentration):

-rA=[kA(T)][fn(CA,CB,…]
(3.1)
Persamaan aljabar yang berhubungan - rA dengan konsentrasi spesies disebut eksposisi kinetik atau hukum laju
alir. Tingkat reaksi spesifik, kA, seperti laju reaksi - rA, selalu mencerminkan konsentrasi zat tertentu dalam
reaksi dan biasanya harus diikutkan sehubungan dengan konsentrasi tersebut. Namun, untuk reaksi di mana
koefisien stoikiometri adalah 1 untuk semua spesies melibatkan reaksinya, misalnya:
1 NaOH +1 HCl 1 NaCl+1 H2O
kami akan menghapus subskrip pada laju reaksi spesifik:
kNaOH = kHCl = kNaCl = kH2O
Konstanta laju reaksi k tidak benar-benar konstan, tetapi hanya independen dari konsentrasi spesies yang terlibat
dalam reaksi. Kuantitas k juga disebut sebagai laju reaksi spesifik (konstan). Hampir sangat bergantung pada
suhu. Dalam reaksi fase-gas, tergantung pada katalis dan mungkin merupakan fungsi dari tekanan total. Dalam
sistem cair bisa menjadi fungsi dari tekanan total, selain itu dapat bergantung pada parameter yang lain, seperti
kekuatan ion dan jenis pelarut. Variabel menunjukkan efek lebih sedikit pada tingkat reaksi spesifik daripada
suhu, jadi untuk tujuan materi yang disajikan di sini, akan diasumsikan k bergantung pada suhu. Asumsi ini
berlaku di sebagian besar laboratorium dan industri dan tampaknya berfungsi dengan baik.
Ahli kimia Swedia, Arrhenius, menyarankan bahwa ketergantungan k darisuhu, dikorelasikan dengan
persamaan:
−𝐸𝐴
KA (T) = A𝑒 𝑅𝑇 (3.2)
di mana A = faktor tumbukan
E = energi aktivasi, J/mol atau kal / mol
R = konstanta gas ideal = 8.3 14 Jlmol. K = 1,987 kal / mol. K
T = suhu absolut, K
Persamaan (3-2),dikenal sebagai persamaan Arrhenius, telah diverifikasi secara empiris untuk menghitung
hubungan suhu. Sebagian besar eskperimen dilakukan dengan menggunakan konstanta laju reaksi ini memiliki
akurasi temperatur yang cukup besar.
Energi aktivasi E telah disamakan dengan energi minimum yang harus dimiliki untuk bereaksi dengan
molekul lain. Dari teori kinetik gas, faktor tumbukan antara molekul memiliki energi E minimum. Meskipun ini

41
Muhammad Syarifudin 21030115130195

merupakan penjelasan dasar, beberapa menyarankan bahwa E tidak lebih dari parameter empiris yang
menghubungkan laju reaksi spesifik dengan suhu.] (Lihat Lampiran G) Penulis lain mengambil pengecualian
untuk interpretasi ini; misalnya, interpretasi Tolman tentang energi aktivasi adalah perbedaan antara energi rata-
rata dari molekul-molekul yang bereaksi dan energi rata-rata semua molekul reaktan. Namun demikian,
persamaan Arrhenius tetap merupakan perhitungan yang umum digunakan dalam kinetika kimia, dan persamaan
itu tetap digunakan sampai hari ini dan seabad lalu.
Energi aktivasi ditentukan secara eksperimental dengan melakukan reaksi pada beberapa temperatur yang
berbeda. Setelah mengambil logaritma natural dari
Persamaan (3-2),
ln k = ln A - ( ) (3-3)
dapat dilihat bahwa sebidang In kA versus 1 / T harus berupa garis lurus yang kemiringan sebanding dengan
energi aktivasi
Contoh 3-1Penentuan Energi Aktivasi
Hitung energi aktivasi untuk dekomposisi benzena diazonium klorida untuk memberikan
klorobenzena dan nitrogen:

T 313 319 323 328 333

1
M. Karplus, R. N. Porter, and R. D. Sharma, J. Chem. Phys., 43, 3259 (1965); D. G. Truhlar, J.
Chem. Educ., 55(5), 310 (1978).
2
R. C. Tolman, Statistical Mechanics with Applications to Physics and Chemistry (yew York
Chemical Catalog Company, 1927), pp. 260-270.

Penyelesaian:
Dengan mengubah Persamaan (3-3) ke basis log 10,
𝐸
log k = log A - ( )
3𝑅 𝑇

kita dapat menggunakan persamaan semilog untuk menentukan E dengan mudah dengan
membentuk persamaan berikut:
k (/s) 0.00043 0.00103 0.00180 0.00355 0.00717
1000/T(K-1) 3.20 3.14 3.10 3.05 3.0 42
Kemudian kita memplot data secara langsung pada kertas semilog seperti yang ditunjukkan
pada Gambar E3- 1.1.
Muhammad Syarifudin 21030115130195

Ada aturan praktis yang menyatakan bahwa tingkat reaksi berlipat ganda setiap 10 ° C

When k, = 0.005: 0.00303


𝑇

When k, = 0.0005: 𝑇 0.00319

Sehingga,
3 3R 3 3 3 4J mo K
E= =
T TI 3 9 3 3 K

= 120 kj/mol or 28.7 kcal/mol

43
Muhammad Syarifudin 21030115130195

Namun, ini hanya berlaku untuk kombinasi energi aktivasi spesifik dan suhu. Misalnya, jika aktivasi
energi adalah 53,6 kJ / mol, laju akan berlipat ganda hanya jika suhu dinaikkan dari 300 K ke 310 K. Jika energi
aktivasi adalah 147 kJ / mol, aturannya akan berlaku hanya jika suhu dinaikkan dari 500 K menjadi 510 K.
(Lihat Masalah P3-5 untuk derivasi hubungan ini.)
Semakin besar energi aktivasi, semakin sensitif suhu adalah laju reaksi. Meskipun tidak ada nilai khas
dari faktor frekuensi dan aktivasi energi untuk reaksi fase gas orde pertama, jika seseorang dipaksa untuk
membuat tebakan, nilai A dan E mungkin 10l3 s/s dan 300 kJ / mol. Namun, untuk reaksi tertentu (misalnya,
halogenasi), sejumlah korelasi dapat digunakan sebagai perkirakan energi aktivasi. Salah satu korelasi tersebut
adalah persamaan Polanyi-Semenov
, yang menghubungkan energi aktivasi dengan panas reaksi (lihat Masalah P3-20). Korelasi lain
menghubungkan energi aktivasi dengan perbedaan dalam ikatan
antara produk dan reaktan. Sementara energi aktivasi saat ini tidak bisa memprediksi suatu priori, upaya
penelitian yang signifikan sedang dilakukan untuk menghitung energi aktivasi dari prinsip pertama. (Juga lihat
Lampiran J)
1
M. Boudart, Kinetics of Chemical Processes (Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall, 1968), p. 168. J. W.
Moore and R. G. Pearson, Kinetics and Mechanics, 3rd ed. (New York: Wiley, 1981), p. 199. S. W. Benson,
Thermochemical Kinetics, 2nd ed. (New York: Wiley, 1976).
2
S. M. Senkan, Detailed Chemical Kinetic Modeling: Chemical Reaction Engineering of the Future,
Advances in Chemical Engineering, Vol. 18 (San Diego: Academic Press, 1992), pp. 95-96.

44
Muhammad Syarifudin 21030115130195

Persamaan lain ada yang mirip persamaan Arrhenius. Salah satu persamaan tersebut merupkan fungsi suhu yang
didapat dari penurunn teori statition-state, yang bentuknya mirip dengan persamaan (3-2).
…………………………………….(3-4)

45
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Dimana 0 ≤ n ≤ 1.
Jika persamaan (3-2) dn (3-4) digunakan untuk mendeskripsikan fungsi suhu untuk data reaksi yang sama, maka
nilai energi aktivasi E dan E’ akan sedikit berbeda.
3.1.2 Orde Reaksi dan Hukum Kecepatan
laju reaksi rA tergantung pada konsentrasi spesies yang ada, fn (Cj), hampir tanpa pengecualian ditentukan oleh
pengamatan eksperimental. Meskipun ketergantungan fungsional dapat didasarkan dari teori, eksperimen
diperlukan untuk mengkonfirmasi bentuk yang tepat. Salah satu bentuk yang paling umum dari ketergantungan
ini adalah produk konsentrasi spesies yang bereksi secara individu yang masing masing dinaikkan daayanya,
seperti contoh :
………………………………………………………………………(3-5)
eksponen konsentrasi dalm persaman (3-5) mengarah pada konsep orde reaksi. Orde reksi mengacu pada daya
dimana konsentrasi niak berdasarkan hukum laju kinetika. Reaksi berorde α sehubungan dengan reaktant A dan
berorde β sehubungan dengan reaktant B. Orde reaksi total,n adalah :
n=α+β
contoh pada reaksi fase gas
2NO + O2 2NO2
Reaksi harus ditulis pada kondisi ktivitas, i ( dimana adalah koefisien aktivitasi) :

namun,untuksistem dengan banyak reaksi, koefisien aktivitasi lumayan tidak berubah selama terjadi reaksi
dan teradsorpsi pad kecepatan reaksi sepsifik
( )

46
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Hukum laju kinetika

Reaksi ini berorde dua berasarkan nitrit oksida dan berorde satu berdasarkan oksigen,dan orde
totalnya adalah tiga. Pada umumnya orde reaksi satu dan dua lebih biasa diamati daripada orde
reaksi nol dan tiga.
Orde reaksi total tidak harus bilangan bulat menyesuaikan koefisien komponen komponen
senyawanya. Contoh pada sintesis phospogen pada fase gas :
CO + Cl2 COCl2
Dimana hukum kecepatan kinetiknya adalah :
3

Reaksi ini berorde satu berdasarkan karbon monoksida ddan berorde tigaperdua berdasarkan
chlorine,dan mempunyai orde total sebesar limaperdua.
Terkadang reaksi dengan laju kompleks tidak dapat dipisahkan hanya bergantung suhu dan
konsentrasinya saja. Dekomposisi nitrogen oksida diatas platinum
2N2O 2N2 + O2
hukum kecepatan kinetiknya adalah :

Baik dan k’ sangat kuat ketergantungnnya terhadap suhu. Ketika laju didefinisikan sesuai
deskripsi kejadian diatas.orde reaksi hanya dibatasi kondisi tertentu saja. Contohnya oksigen pada
konsentrasi sangat rendah, kondisi kedua dalam denomintor dapat diabaikan ( . Reaksi
akan menjadi “semu” orde satu berdasarkan nitrogen oksida dengan orde total adalah satu. Jika
konsentrasi oksigen cukup besar maka angka 1 pada denomenatur tidak signifikan jika
dibandingkan dengan kondisi kedua, 1) orde reaksi semua akan menjadi -1
berdasarkan oksigen dan 1 berdasarkan nitrogen oksida. Jenis laju seperti ini umumnya dijumpai
pada reaksi cairan dan gas dengan bantuan katalis padat (lihat chapter 10). Terjadi juga pada
sistem reaksi homogen (lihat chapter 7).
Unit dari laju reaksi spesifik, bervarisi sesuai orde reaksi. Pertimbangkan reaksi yang hanya
melibatkan reaktan,seperti
A Produk

47
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Untuk jenis reaksi ini laju sesuai orde reaksi nol,satu,dua,tiga. Unit khas untuk konstanta laju yang
sesuai adalah :
Orde nol : -rA = kA :
{k} = mol/(dm)3.s………………………....….(3-6)
Orde satu : -rA = kA CA :
{k} = S-3.………………….……………....….(3-7)
Orde dua : -rA = kA CA2 :
{k} = (dm)3/mol.s..……….……………....….(3-8)
Orde tiga : -rA = kA CA3 :
{k} = (dm3/mol)2.s-1..……….…………….....(3-9)

Energi aktivasi, faktor frekuensi dan orde reaksi dengan jumlah yang besar dari reaksi fase gas dan
cairan dapat ditemukan di Nationl Bureu of standart sirculrs and suplement,5 dan list jurnal di
akhir chapter 1.
3. 1.3 Hukum Laju Elementer dan Molekularitas
Sutu reaksi yng mempuny laju elementer jika orde reaksi tiap spesies identik dengan koefisien
stoikiometri dari spesies reaksi yang tertulis. Contoh nitrit oksida diatas merupakan laju elementer
mengacu pada definisinya. Sintesis phosgen bukan merupakan laju elementer. Contoh lain dengn
jenis reaaksi dengan laju elementer adalah reaksi fase gas antara hidrogen dan iodin untuk
membentuk hidrogen iodida.
H2 + I2 2HI
Dimana laju reksinya adalah :

Ketika suatu reaksi mempunyai laju elementer maka disebut reaksi elementer. Pengertian reaksi
elementer termasuk mekanisme dan pembentukan molekularnya didiskusikan lebih lanjut pada
chapter 7.

48
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Dalam mempelajari orde reaksi dan mekanisme kinetika, referensi kadang membahas tentang
molekularitas reaksi. Molekularitas adalah jumlah atom ion molekul yang terlibat dalam
pembatasan laju reaksi. Kondisi unimolekuler, bimolecular,dan termolekuler sesuai reaksi yang
terlibat,masing masing satu,dua,atau tiga atom (molekul) yang saling berinterksi dan bertbrkn pdd
suatu reksi tertentu.
Contoh umum reaksi unimolecular adalah kerusakan radioaktive, seperti emisi spontan prtikel
alpha ari uranium 238 untuk diberikan ke thorium dan helium.
238 234 4
92U 90Th + 2H2
Jika reksi oksidasi hidrogen iodida dan nitrat oksida hanya dari tabrakan spesies molekuler yng
disebutkan di persamaan stoikiometri keseluruhan,masing masing akan menjdi reki bimoleculer
dan termoleculer. Namun ada keraguan yang cukup besar,apakah hal ini bnar benar terjadi.
NaOH +CH3Br CH3COOH + NaBr
Reaksi irreversibel ini mempunyai laju elementer dan terjadi pada etnhol encer. Layaknya semua
reaksi fse cair. Densits selalu konstan saat reaksi. Prinsip umum bahwa reaksi fase cir,dimana
volum V pada sistem rektor btch dan keceptan aliran volumetrik v untuk aliran kontinyu tidak
akan lumayn berubh selama reaksi kimia.
Kita akan menulis laju hilangnya methil bromida -rMD sesuai kondisi konsentrasi. Karena reaksi
adalah elementer, orde reaksi ditunjukkn dengan koefisien stoikhiometri
1NaOH +1CH3Br 1CH3COOH + 1NaBr

α=1, orde pertama sesuai atrium hidroksida


β=1, orde pertama sesuai Methyl bromida (MB)

Orde total reaksinya adalah orde kedua.


Reaksi elementer hanya melibatkan stu langkah seperti satu molekul iodida bertabrakan dan
bereaksi dengan satu molekul hidrogen. Namun,sebagian besar reaksi melibatkan beberapa
langkah dan jalur. Untuk banyak reaksi,daya dalam laju disesuiakn engan koefisien
stoikiometrinya. Secara terus menerus,untuk memfasilitasi dan mendeskripsikan reaksi ini, reaksi
dimana laju daya dan koefisien stoikiometriny identik dapat mengacu pada reaksi elementer.

49
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Contoh 3-2 Deskripsi sebuah reaksi


Substitusi nukleophilic alphatic terjadi pada reaksi antara sodium hidroksida dan tert-butil bromida
(TBB).
NaOH + C3H9Br C4H9OH + NaBr
Tentukan orde reaksi berdasarkan tiap spesies dan orde reaksi total,sert deskripsikn reaksi ini
secara general.
Solusi :
Hanya karena reaksi ini mirip dengan nukleophilic alphatic sebelumnya,tidak bisa disimpulkn
bahwa hukum laju dan kinetikany sam. Hukum laju ditentukan dari pengmatan eksperimental yang
menghubungkan laju reaksi pada titik tertentu dengan konsentrsi spesies pada titik titik yang sama.
Pada buku kimia organik,7 akan ditemukan bahwa laju didefinisikan
………………………………………………………(E3. 2-1)
Sesuai definisi diatas,reksi antara sodium hidroksida dan tert-butil bromida (TBB) dapat
dideskripsikan sebagai irreversibel, homogen,reaski berfase liquid, orde reaksi pertama
berdasarkan tert-butil bromida (TBB) dan berorde nol berdasarkan sodium hidroksida, orde
pertama merupakan orde total reaksi, nonelementer.
3.1.4 Reaksi Reversible
Hukum laju untuk reaksi reversibel pada keadaan setimbang harus mengurangi hubungan hukum
termodinamika yang berkaitan dengan konsentrasi spesies yang bereaksi. Pada keadaan
setimbang,laju reaksi identik nol untuk semua spesies (
aA + bB cC + dD……………………………………..(2-1)
Konsentrasi pada kesetimbangan terkait pada hubungan thermodinamika (Lihat Appendix C).
………………………………………….(3-10)
3 d+c-b-a
Satuan dari Kc adalah (mol/dm )
Untuk mengilustrasikan bagaimana menulis laju untuk reaksi reversibel kita akan menggunakan
kombinasi 2 molekul benzena untuk membentuk satu molekul hidrogen dan satu diphenyl. Pada
diskusi kali ini seharusnya mempertimbangkan reaksi pada fase gas untuk menjadikannya
elementer dan reversibel.

50
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

K
2C6H6B C12H10 +H2

Atau secara simbolik


K - BK
2B B D + H2

Konstanta laju reaksi spesifik maju (forward) dan


K - B balik (reserve), KB dn K-B masing masing akan didefinisikan
dengan mengacu pada benzena.
Benzena (B) dikosongkan dengan reaksi maju :
2C6H6 KB C12H10 +H2
Dimanatingkat hilangnya benzen adalah :

Jika kita mengalikan kedua sisi persamaan dengan -1 dapat diketahui laju pembentukan benzena untuk reaksi
maju
…………………………………………………………(3-11)
Untuk reaksi balik antara diphenyl (D) dan hidrogen (H2)
C12H10 +H2 K –B 2C6H6
Laju pembentukan benzena adalah

……………………………………………………(3-12)
Laju bersih pembentukan benzena adalah jumlah dari laju pembentukn pda reaksi maju dan reaksi balik

…………………………..…..(3-13)
Kalikan kedua sisi pada persamaan (3-13) dengan -1, didapat laju kehilnagan benzena, :

( ) ( )…….(3-14)

Dimana,

Konstanta kesetimbangan menurun dengan meningkatnya suhu untuk reaksi eksotermik dan
meningkat dengan meningkatnya suhu untuk reaksi endotermik.
Kita perlu memeriksa untuk melihat apakah hukum yang diberikan oleh Persamaan (3-14) adalah konsisten
secara termodinamik saat ekuilibrium.
Menggunakan Persamaan (3-10) dan mengganti konsentrasi dan eksponen yang tepat, secara
termodinamikadinyatakan sebagai

Pada equilibrium, -rB = 0, dan hukum laju yang diberikan oleh Persamaan (3-14) menjadi

51
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Persamaan menjadi

Pembahasan lebih lanjut tentang konstanta kesetimbangan dan termodinamika hubungan diberikan di Lampiran
C.
Untuk laju pembentukan difenil dan hidrogen dalam hal konsentrasi. Tingkat pembentukan spesies-spesies ini
pasti ada ketergantungan fungsional yang sama pada konsentrasi seperti halnya tingkat penghilangan
dari blenzene. Tingkat pembentukan difenil adalah

Menggunakan hubungan yang diberikan oleh Persamaan (2-20) untuk reaksi umum

kita dapat memperoleh hubungan antara berbagai tingkat reaksi spesifik, kB, kD

Membandingkan Persamaan (3-16) dan (3-17), kita melihat hubungan antara laju reaksi spesifik sehubungan
dengan difenil dan laju reaksi spesifik sehubungan dengan benzena adalah

Contoh 3-3 Merumuskan Hukum reaksi Reversible


Reaksi eksotermik

hampir tidak dapat diubah pada suhu rendah dan hukum laju adalah

hukum laju yang berlaku pada suhu tinggi, yaitu reaksi reversible

Penyelesaian
Hukum laju untuk reaksi reversibel harus
1. memenuhi hubungan termodinamika pada kesetimbangan, dan
2. kurangi ke hukum laju yang tidak dapat diubah ketika konsentrasi satu atau lebih
produk-produk reaksi adalah nol.

Kita tahu dari termodinamika bahwa hubungan kesetimbangan untuk Reaksi (E3-3.1) seperti yang tertulis
adalah

52
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Mengatur ulang Persamaan (E3-3.4) dalam bentuk

Untuk laju reaksi reversible,

Persamaan (E3-3.5) memenuhi kondisi kesetimbangan tetapi tidak menyederhanakan ke awal, tingkat
ireversibel ketika CD = 0. Substitusi CD = 0 ke dalam persamaan hasil yang diuji

Persamaan (E3-3.6) tidak sesuai dengan Persamaan (E3-3.2) dan oleh karena itu persamaan laju diberikan oleh
Persamaan (E3-3.5) tidak valid. Satu-setengah kekuatan dalam hukum laju menunjukkan bahwa kita mungkin
mengambil akar dari Persamaan (E3-3.4):

Disusun ulang menjadi

Dengan menggunakan konstanta kesetimbangan baru ini, Kc2, kita dapat memformulasikan persamaan lain
untuk ekspresi laju reaksi:

Perhatikan bahwa ekspresi ini sesuai dengan hubungan termodinamika (lihat definisi ini dari Kc 2) dan
mengurangi hukum laju ireversibel ketika CD = 0. Bentuk hukum laju reaksi ireversibel memberikan petunjuk
besar untuk bentuk reaksi reversible

3.1.5 Hukum dan Laju Reaksi Rlonoelementer

Sangat menarik untuk dicatat bahwa meskipun reaksi sesuai dengan koefisien stoikiometri untuk reaksi antara
hidrogen dan yodium, ekspresi laju untuk reaksi antara hidrogen dan halogen lainnya, bromin, cukup rumit.
Reaksi nonelementer ini

Reaksi dengan mekanisme radikal bebas, dan hukum laju reaksinya

Reaksi lain yang melibatkan radikal bebas adalah dekomposisi fase-uap acetaldehyde:

53
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Pada suhu sekitar 500 0C, urutan reaksi adalah tiga bagian dengan mengacu pada acetaldehyde.

Dalam banyak reaksi yang dikatalisasi oleh gas, kadang-kadang lebih baik untuk menulis laju reaksi dalam
tekanan parsial daripada konsentrasi. Salah satunya Misalnya adalah dekomposisi katalitik reversibel dari
cumene C, untuk membentuk benzena, B, dan propilena, P:

Reaksinya dapat ditulis secara simbolis sebagai

Ditemukan secara eksperimental bahwa reaksi mengikuti kinetika Langmuir-Hinshelwood dan hokum laju
adalah (lihat Bab 10)

dimana K, adalah kesetimbangan tekanan konstan dengan satuan atm (atau kPa); KC dan KB adalah konstanta
adsorpsi dengan satuan atm-1 (atau kPa); dan laju reaksi spesifik, k, memiliki satuan mol cumene

Kita melihat bahwa pada ekuilibrium (-r‟C = 0) hukum laju untuk reaksi reversibel konsisten secara
termodinamika:

untuk K,

yang identik dengan ekspresi yang diperoleh dari termodinamika.


Untuk mengekspresikan laju dekomposisi cumene –r‟C sebagai fungsi konversi, ganti tekanan parsial
dengan konsentrasi, menggunakan hokum gas ideal:

dan kemudian ekspresikan konsentrasi dalam hal konversi. Tingkat reaksi per satuan berat katalis, -r‟A,
dan dari reaksi per satuan volume, -r‟A, terkait dengan densitas bulk ρh partikel katalis padamedia fluida:

Dalam fluidized catalytic beds, densitas bulk biasanya merupakan fungsi dari laju Bow sepanjang bed.

3.2 Present (Status dari Pendekatan untuk Ukuran dan Desain Reaktor)
Dalam Bab 2 kami menunjukkan bagaimana mungkin untuk mengukur CSTR, PFR, dan PBR menggunakan
persamaan desain pada Tabel 3-1 jika, laju hilangnya A dikenal sebagai fungsi konversi, X:

Tabel 3.1 Persamaan Desain

54
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Secara umum, informasi dalam bentuk -rA = g (X) tidak tersedia. Namun, lihat di Bagian 3.1 bahwa tingkat
penghilangan A, -rA, adalah normal dinyatakan dalam konsentrasi spesies yang bereaksi. Fungsionalitas ini,

disebut tingkat lmv. Dalam Bagian 3.3 kami menunjukkan bagaimana konsentrasi bereaksi spesies dapat ditulis
dalam hal konversi X,

Dengan hubungan tambahan ini, seseorang mengamati bahwa jika hukum laju diberikan dan konsentrasi dapat
dinyatakan sebagai fungsi konversi, lalu dalam kenyataannya kita memiliki –r‟A sebagai fungsi X dan ini adalah
yang diperlukan untuk mengevaluasi persamaan desain. Seseorang dapat menggunakan teknik numerik yang
dijelaskan dalam Bab 2, atau, seperti yang akan kita lihat di Bab 4, tabel integral.

3.3 Tabel Stoikiometri


Sekarang kita telah menunjukkan bagaimana hukum laju dapat dinyatakan sebagai fungsi konsentrasi, kita
hanya membutuhkan persamaan konsentrasi sebagai fungsi konversi untuk melakukan perhitungan yang serupa
dengan yang disajikan dalam Bab 2 ke ukuran reaktor. Jika hukum laju bergantung pada lebih dari satu spesies,
kita harus menghubungkan konsentrasi spesies yang berbeda satu sama lain. Hubungan ini paling banyak mudah
dibentuk dengan bantuan meja stoikiometri. Tabel ini menyajikan hubungan stoikiometri antara bereaksi
molekul untuk satu reaksi. Artinya, ia memberi tahu kita berapa banyak molekul dari satu spesies yang akan
terbentuk selama reaksi kimia ketika sejumlah molekul tertentu dari spesies lain menghilang. Hubungan ini akan
dikembangkan untuk reaksi umum

Ingat bahwa kami telah menggunakan stoikiometri untuk menghubungkan laju reaksi relatif untuk Persamaan
(2-1):

Dalam merumuskan tabel stoikiometrik kami akan mengambil spesies A sebagai dasar perhitungan (yaitu,
reaktan pembatas) dan kemudian membagi secara stoikiometri dengan koefisien A

untuk meletakkan segala sesuatu berdasarkan "per mol A." berikan perubahan dalam jumlah mol setiap spesies
(misal A, B, C, dan D).
Selanjutnya, dikembangkan hubungan stoikiometri untuk mereaksikan spesies itu

3.3.1 Sistem Batch


Gambar 3-1 menunjukkan sistem batch di mana kita akan melakukan reaksi diberikan oleh
Persamaan (2-2). Pada saat t = 0 kita akan membuka reaktor dan menempatkan a jumlah mol spesies A, B, C, D,
dan I (NAo, NBo, Nco, NDo dan N[ ] masing-masing) ke dalam reaktor.
Spesies A sebagai basis perhitungan dan NAo adalah jumlah mol awal di reaktor. Dari jumlah ini,
NAoX mol A dikonsumsi dalam sistem sebagai hasil dari reaksi kimia, meninggalkan (NAo - NAoX) mol A dalam
sistem. Artinya, jumlah mol A yang tersisa dalam reaktor setelah konversi X telah tercapai

55
Nama: Venesia Ayu Dewanti
NIM : 21030116130086

Tabel stoikiometri lengkap untuk reaksi yang ditunjukkan dalam Persamaan (2-2) yang terjadi dalam reaktor
batch disajikan pada Tabel 3-2.

56
Nama: Mahdhika Yoga

Section 3.3 Tabel Stokiometri

Untuk menghitung jumlah mol tiap partikel setelah NA0X mol setiap A yang bereaksi, kita membuat sebuah tabel
stokiometri (Tabel 3-2). Dalam tabel stokiometri memuat beberapa informasi:
Kolom 1 : Partikel
Kolom 2 : Jumlah yang tiap yang partikel saat dimasukkan
Kolom 3 : Perubahan jumlah mol setelah reaksi
Kolom 4 : Jumlah mol yang tersisa dalam sistem saat waktu t

Tabel 3-2. Tabel Stokiometri Untuk Sistem Batch


Partikel Mol Masuk Mol Keluar Mol Tersisa
A NA0 - (NA0X) NA = NA0 - (NA0X)
B NB0 - b/a (NA0X) NB = NB0 - b/a (NA0X)
C NC0 c/a (NA0X) NC = NC0 + c/a (NA0X)
D ND0 d/a (NA0X) ND = ND0 + d/a (NA0X)
I (Inerts) NI0 - NI = NI0
Total NT0 NT = NT0 + (d/a + c/a – (b/-a)
– 1) NA0X

Untuk menghitung jumlah mol pada partikel B yang tersisa dalam waktu t kita harus mengetahui jumlah mol A
yang telah bereaksi menjadi NA0X pada waktu t. Unutk setiap mol A yang bereaksi, b/a mol B harus bereaksi.
Maka, total mol B yang bereaksi adalah

Karena B meninggalkan sistem, maka nilainya menjadi negatif. NB0 merupakan jumlah mol yang masih tersisa
didalam sistem. Maka jumlah mol B yang tersisa dalam sistem sudah diberikan pada kolom terakhir dari tabel 3-
2 sebagai berikut:

Maka tabel stokiometri pada tabel 3-2 dapat dituliskan reaksinya sebagai berikut:

Koefisien dari persamaan tersebut merupakan representasi dari pertambahan total mol setiap mol A yang
bereaksi. Pada kondisi ini, dapat dihitung menjadi:

57
Nama: Mahdhika Yoga

Parameter menjelaskan bahwa perubahan total mol setiap mol A yang bereaksi. Total jumlah mol dapat
dihitung melalui persamaan:

Kita dapat mengetahui pada bab 1 bahwa persamaan kinetika reaksi ( ) adalah fungsi untuk
mereaksikan partikel dalam kondisi tertentu ( T, P, C dan Katalis). Persamaan reaksi umumnya bergantung pada
konsentrasi dari reaksi partikel untuk mencapai nilai tertentu. Konsekuensinya, untuk menjelaskan persamaan
reaksi sebagai fungsi dari konversi maka kita harus mengetahu konsentrasi dari reaksi partikel sebagai fungsi
dari konversi.
Konsentrasi A dalam jumlah mol A setiap volume

Setelah menuliskan persamaan untuk B, C, D maka kita dapat menggunakan tabel stokiometri untuk mengetahui
konsentrasi dari tiap komponen dengan konversi X

Kita dapat menyederhanakan persamaan diatas dengan mendefinisikannya sebagai parameter , dengan
persamaan untuk setiap konsentrasi :

( ) ( )

( )

( )

Kita sekarang hanya membutuhkan untuk mengetahui volume sebagai fungsi dari konsentrasi untuk
mendapatkan konsentrasi partikel sebagai fungsi dari konversi.

3.3.2 Sistem Reaksi pada Volume Konstan


Beberapa penyederhanaan yang signifikan dalam persamaan desain reaktor ketika sistem bereaksi mengalami
tidak ada perubahan dalam volume saat reaksi berlangsung. Sistem ini disebut volume konstan, atau densitas
konstan, karena invariance volume atau densitas selama proses reaksi. Situasi ini mungkin timbul dari beberapa
penyebab. Dalam fasa gas pada sistem batch, reaktor ini biasanya ditutup dengan instrumen yang sesuai untuk
mengukur tekanan dan suhu dalam reaktor. Volume dalam vessel ini adalah tetap dan tidak akan berubah, dan
oleh karena itu volume konstan. Laboratory Bomb Reactor adalah contoh dari jenis reaktor ini.
Contoh lain dari fasa gas volume konstan reaksi isotermal ketika terjadi jumlah mol produk sama dengan jumlah
mol reactant. Reaksi gas air, yang penting dalam gasifikasi batubara dan banyak proses lainnya, contohnya
adalah salah satu dari ini:

Dalam reaksi ini, 2 mol reactant bentuk 2 mol produk. Ketika jumlah molekul reactant membentuk jumlah
produk molekul pada suhu yang sama dan tekanan yang sama, volume campuran bereaksi tidak akan berubah
jika kondisi yang terjadi sehingga hukum gas ideal berlaku, atau jika faktor compressibility produk dan reaktan
kurang lebih sama.
Untuk fase cairan reaksi berlangsung dalam larutan, pelarut biasanya mendominasi pada situasi ini. Sebagai
hasilnya, perubahan dalam densitas zat terlarut tidak mempengaruhi densitas keseluruhan dari solute secara
signifikan dan oleh karena itu pada dasar dari proses reaksi volume konstan. Kebanyakan reaksi-reaksi organik
fase cair tidak mengubah densitas selama reaksi, dan mewakili kasus masih lain yang menerapkan
penyederhanaan dari konsep volume konstan. Pengecualian untuk aturan umum ada pada proses polimerisasi.
Untuk sistem volume konstan yang dijelaskan di atas, persamaan (3-25) dapat disederhanakan untuk
memberikan persamaan berikut terkait konsentrasi dan konversi:

58
Nama: Mahdhika Yoga

( )
( )

( )

( )

Contoh 3-4 Cj = hj (X) untuk reaksi fase cair


Sabun terdiri dari Natrium kalium garam berbagai asam lemak oleat, stearat, palmitic, laurat dan asam
miristat menambahkan. Saponifikasi untuk pembentukan sabun dari berair caustic soda dan glyceryl
stearate adalah
3NaOH(aq) + (C17H35COO)3C3H5 3C17H35COONa + C3H5(OH)3
Membiarkan X mewakili konversi natrium hidroksida (mol natrium hidroksida bereaksi per mol natrium
hidroksida awal), set up tabel stoikiometri mengungkapkan konsentrasi masing-masing spesies dalam
konsentrasi awal dan konversi X

Solusi
Karena kita mengambil natrium hidroksida sebagai dasar kita, kita membagi melalui dengan koefisien
stoikiometri natrium hidroksida untuk menempatkan ekspresi reaksi dalam bentuk

NaOH(aq) + 3(C17H35COO)3C3H5 C17H35COONa + 3C3H5(OH)3


A B C D
3 3

Kita kemudian dapat menggunakan perhitungan yang ditunjukkan dalam tabel E3-4.1. Karena ini adalah
reaksi fase cair, densitas dianggap konstan oleh karena itu V = V0

Tabel E3-4.1. Tabel Stokiometri untuk Reaksi Penyabunan Fase Cair


Spesies Symbol Initially Change Remaining Concentration
NaOH A
(C17H35COO)3C3H5 B

C17H35COONa C
C3H5(OH)3 D

Air (inert) I

Contoh 3-5 Manakah yang menjadi reaksi pembatas?


Memiliki set up tabel stoikiometri dalam contoh 3-4, satu dapat mudah menggunakannya untuk
menghitung konsentrasi di konversi tertentu. Jika campuran awal hanya terdiri dari natrium hidroksida
pada konsentrasi 10 mol/L (10 mol/dm3 atau 10 kmol/m3) dan glyceryl stearate pada konsentrasi mol 2
g/L, Berapa konsentrasi gliserin ketika konversi natrium hidroksida adalah (a) 20% dan (b) 90% ?
Solusi
Hanya reaktan NaOH dan (C17H35COO)3C3H5 yang masuk, selebihnya
a. Untuk konversi 20%
( ) ( )

( ) ( )
b. Untuk konversi 90%

59
Nama: Mahdhika Yoga

( ) ( )

( ) ( )
Konsentrasi negatif – Tidak mungkin!
90% konversi dari NaOH sangat tidak mungkin karena gliseril stearat merupakan reaksi pembatas.
Konsekuensinya, semua gliseril stearat akan terpakai semua sebelum 90% dari NaOH akan bereaksi. Ini
penting untuk memilih reaksi pembatas pada perhitungan.

3.3.3 Sistem Aliran


Bentuk tabel stoikiometri untuk sistem aliran kontinu ( lihat gambar 3-2 ) hampir identik dengan yang untuk
sistem batch ( Tabel 3-2 ) kecuali bahwa kita mengganti Nj0 oleh Fj0 dan Nj oleh Fj (Tabel 3-3). Dengan
engambil A sebagai dasar membagi persamaan (2-1) melalui oleh koefisien stoikiometri A untuk mendapatkan

Untuk sistem aliran, konsentrasi C, pada suatu titik tertentu dapat ditentukan dari FA dan u laju aliran
volumetrjc pada saat itu:

Unit biasanya diberikan dalam liter per sekon, kubik per detik, atau kubik feet per menit. Kita sekarang dapat
menulis konsentrasi A, B, C, dan D untuk reaksi umum diberikan oleh persamaan (2-2) dalam laju aliran molar
memasuki (FA0, FB0, FC0, FD0), konversi X, dan kecepatan aliran

( )

( )

( )

60
Nama : Tutik Irkhanah
NIM : 21030116120049

Sec 3.3 tabel stoikiometri


Masuk Keluar

Gambar 3-2 Flow Reaktor


Dimana

Dan didefinisikan sama


Tabel 3-3 . Tabel Stoikiometri untuk Flow Sistem
Laju umpan Perubahan
Komponen ke reaktor dengan reaktor Laju efluen dari rector
(mol/waktu) (mol/waktu) (mol/waktu)

Untuk cairan, perubahan volume dengan reaksi dapat diabaikan ketika tidak ada perubahan fase
yang terjadi. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan

Maka

Namun, untuk reaksi fase-gas, laju alir volumetrik biasanya mengalami perubahan selama reaksi karena
perubahan dalam jumlah total mol atau suhu atau tekanan. Tidak dapat selalu menggunakan Persamaan (3-29)
untuk mengekspresikan konsentrasi sebagai fungsi konversi untuk reaksi fase gas.
3.3.4 Perubahan Volume dengan Reaksi
Dalam pembahasan kita sebelumnya, kita menganggap sistem primer di mana volume reaksi atau laju alir
volumetrik tidak bervariasi ketika reaksi berlangsung. Sebagian besar fase batch dan cair dan beberapa sistem
fase gas masuk ke dalam kategori ini. Ada sistem lain, meskipun V atau u bervariasi dan dipertimbangkan.
Situasi di mana laju alir yang bervariasi cukup sering terjadi pada reaksi fase gas yang tidak memiliki
jumlah produk dan mol reaktan. Misalnya, dalam sintesis amonia,

4 mol reaktan menghasilkan 2 mol produk. Dalam sistem aliran di mana jenis reaksi ini terjadi, laju alir
molar akan berubah ketika reaksi berlangsung. Karena hanya jumlah mol yang sama yang menempati volume

61
Nama : Tutik Irkhanah
NIM : 21030116120049

yang sama dalam fasa gas pada suhu dan tekanan yang sama, laju aliran volumetrik akan berubah juga. Situasi
variabel-volume lain, yang terjadi jauh lebih jarang, adalah dalam reaktor batch di mana volume berubah seiring
waktu. Contoh dari situasi iniadalah ruang pembakaran mesin pembakaran internal dan gas yang meluas di
dalam sungsang dan laras senjata api ketika ditembakkan.
Dalam tabel stoikiometrik yang disajikan pada halaman sebelumnya, ternyata tidak
diperlukan untuk membuat asumsi mengenai perubahan volume di empat yang pertama
kolom tabel (yaitu, komponen , jumlah awal mol atau kecepatan molar umpan , perubahan dalam reaktor, dan
sisa jumlah mol atau tingkat efluen molar). Semua yang ada di kolom dari tabel stoikiometri tidak bergantung
pada volume atau densitas dan keduanya identik dengan keadaan untuk volume konstan (densitas konstan) dan
volume bervariasi (densitas bervariasi). Hanya jika konsentrasi dinyatakan sebagai fungsi konversi dengan
variabel densitas pada gambar.
Konsentrasi masing-masing dapat ditentukan dengan mengekspresikan volume V
untuk sistem batch (atau laju alir volumetrik u untuk sistem aliran) sebagai fungsi
konversi menggunakan persamaan berikut:

V dan Nt telah didefinisikan sebelumnya


T= twmpwratur, K
P= tekanan total, atm (kPa ; 1 atm = 101,3 kPa)
Z= factor kompresibilitas
R= kontanta gas = 0,08206 dm3atm/gmolK
Persamaan ini valid pada berbagai poin pada system pada berbagai waktu t. Pada waktu t=0 (yaitu, ketika
awal reaksi), persamaan (3-30) menjadi

Membagi Persamaan (3-30) dengan Persamaan (3-31) dan mengatur ulang hasil

Sekarang kita ingin menyatakan volume V menjadi fungsi konversi X.


Kembali ke persamaan untuk jimlah total mol pada table 3-2,

Kita bagi dengan :

Dimana adalah fraksi mol A menunjukkan awal. Jika semua komponen pada reaksi umum pada fase gas,
maka

Persamaan (3-34) lebih disederhanakan dengan menjadikan

Dalam simbol

Persamaan (3-32) menjadi

Pada sistem fase gas bahwa yang akan kita pelajari, suhu dan tekanan sedemikian rupa sehingga factor
kompresibilitas tidak berubah signifikan selama reaksi ; karenanya . Untuk system batch volume gas
pada setiap waktu yaitu

62
Nama : Tutik Irkhanah
NIM : 21030116120049

Persamaan (3-38) digunakan hanya untuk variabel volum reaktor batch. Jika reaktor adalah kontainer baja yang
kaku, maka V= . Untuk container volume konstan, V= , dan persamaan (3-38) dapat digunakan untuk
menghitung tekanan masuk reaktor sebagai fungsi suhu dan konversi.
Pada pernyataan yang sama dengan persamaan (3-38) untuk reaktor batch variabel volume ada untuk
variabel volum system flow. Untuk memperoleh konsentrasi dari komponen pada konversi untuk variable
volume sistem flow. Kita akan menggunakan hubungan utnuk konsentrasi total. Total konsentrasi pada setiap
point di reaktor yaitu

Pada jalan masuk ke reaktor,

Mengambil rasio dari persamaan (3-40) ke persamaan (3-39) dan asumsi perubahan dapat diabaikan dalam
faktor kompresibilitas, maka kita peroleh

Dari table 3-3, total laju alir molar

Subtitusi untuk pada persamaan (3-41) menjadi

Sekarang kita dapat menyatakan konsentrasi dari komponen j untuk sistem flow pada konversi :

Kita akan menggunakannya membentuk persamaan konsentrasi untuk multiple reaksi fase gas dan untuk
reaktor membrane. Subtitusi untuk ,F, atau T pada persamaan konversi (3-45) hasilnya

Membagi pembilang dan penyebut dengan T, maka

Ingat kembali ⁄ T dan T , maka

63
Nama : Tutik Irkhanah
NIM : 21030116120049

Dimana adalah koefisien stoikiometri, yang mana negative untuk reaktan dan positif untuk produk. Sebagai
contoh, untuk reaksi

, , , dan
Tabel stoikiometri untuk reaksi fase gas (2-2) diberikan pada tabel
Tabel 3-4. Konsentrasi pada Variabel-Volume Gas Sistem Flow

Contoh 3-6 Mengubah persamaan untuk (X)


Terlihat di bawah kondisi dan pengubahan menyatakan untuk C, untuk sistem gas flow berkurang dilihat pada
table 3-4.
Solusi
Untuk system flow konsentrasi didefinisikan

Dari tabel 3-3, laju alir molar dan konversi berhubungan dengan

Kombinasi persamaan (E3-6.1) dan (E3-6.2) hasilnya

Menggunakan persamaan (3-44) kita peroleh

Dengan mensubtitusi laju alir volumetric diperoleh

Ingat kembali, kita dapatkan

64
ALIF DZAKI WICAKSONO
21030116140172

ALIF DZAKI WICAKSONO


21030116140172

Dimana itu adalah identik dengan pernytaan konsentrasi untuk variabel volume reaktor batch.
Dengan cara yang sama, mensubstitusikan ᴇ dan kesesuaian Θ ke dalam pernyataan konsentrasi yang
berbeda untuk sistem aliran memberikan pernyataan konsentrasi yang sama seperti pada Tabel 3-4 untuk
variabel volume reaktor batch dalam fase gas.
Salah satu tujuan utama dari chapter ini adalah untuk mempelajari bagaimana menyatakan berbagai
hukum laju yang diberikan –rA sebagai sebuah fungsi konversi. Diagram skematik pada gambar 3-3 membantu
untuk meringkas diskusi kita pada poin ini. Konsentrasi dari reaktan utama, A (dasar dari perhitungan kita),
dinyatakan sebagai sebuah fungsi konversi dalam kedua sistem baik mengalir maupun batch, untuk berbagai
kondisi suhu, tekanan, dan volume.

Contoh 3-7 Menentukan Cj = hj (X) untuk Reaksi Fase Gas


Sebuah campuran dari 28% SO, dan 72% udara digunakan untuk reaktor alir dimana SO teroksidasi.

Mula-mula, menyiapkan tabel stoikiometri hanya menggunakan simbol (contoh Θi, F,) dan kemudian
menyiapkan tabel stoikiometri kedua untuk mengevaluasi secara numerik sebanyak simbol yang mungkin untuk
kasus ketika tekanan total sebesar 1485 kPa dan suhu konstan pada 227oC.

Penyelesaian
SO sebagai basis dari perhitungan, kita bagi reaksi berdasarkan koefisien stoikiometri dari basis perhitungan
yang kita pilih:

SO2 + ½ O2 → SO3
Tabel stoikiometri mula-mula disajikan pada Tabel E3-7.1. Mula-mula 72% total mol udara mengandung 21%
O dan 79% N,.

Untuk menulis konsentrasi dalam konversi, kita harus menyatakan laju alir volumetrik sebagai fungsi dari
konversi.

65
ALIF DZAKI WICAKSONO
21030116140172

Gambar 3-3 Menyatakan Konsentrasi sebagai Fungsi dari Konversi

TABEL E3-7.1 TABEL STOIKIOMETRI UNTUK SO2 + ½ O2 → SO3

66
ALIF DZAKI WICAKSONO
21030116140172

Menuliskan kembali persamaan (3-44), maka kita memiliki

Mengabaikan hilang tekan dalam reaksi, P = P0, yields

Jika reaksi juga berlangsung secara isotermal, T = T 0, kita dapatkan

Konsentrasi mula-mula dari A sama dengan fraksimol A mula-mula dikalikan dengan konsentrasi total.
Konsentrasi total dapat dihitung dari persamaan yang sudah dipaparkan sebagai hukum gas ideal

Konsentrasi total adalah

Sekarang kita evaluasi ε

( ) 3

67
ALIF DZAKI WICAKSONO
21030116140172

Konsentrasi dari senyawa yang berbeda pada berbagai konversi dapat dihitung pada Tabel E3-7.2 dan
diplotkan pada Gambar E3-7.1. Perhatikan bahwa konsentrasi dari N2 berubah-ubah meskipun itu adalah
senyawa inert dalam reaksi ini.

TABEL E3-7.2 KONSENTRASI SEBAGAI FUNGSI DARI KONVERSI

Sekarang kita ada di posisi untuk menyatakan –rA sebagai fungsi dari X. Sebagai contoh, jika hukum laju untuk
reaksi ini merupakan orde pertama dalam SO (A) dan dalam O (B), dengan k = 200 dm3/mol.s, maka hukum
laju menjadi

Membuat persamaan kebalika dari –rA, yields

Gambar E3-7.1 Konsentrasi sebagai Fungsi dari Konversi

Kita dapat melihat bahwa kita dapat mengukur jenis dari kombinasi-kombinasi reaktor isotermal menggunakan
teknik yang telah didiskusikan pada Chapter 2

Semua reaksi yang digunakan sejauh ini pada chapter ini merupaka reaksi irreversibel. Prosedur ini
pernah digunakan untuk desain reaktor isotermal dari reaksi reversibel yang secara kasat mata sama seperti
reaksi irreversibel, dengan satu pengecualian. Pertama, menghitung konversi maksimum yang dapat dicapai
pada reaksi temperatur isotermal. Nilai ini merupakan konversi kesetimbangan. Pada contoh berikut ini akan
ditunjukkan bagaimana algoritma kita untuk desain reaktor dengan mudah diperluas menjadi reaksi reversibel.

68
ALIF DZAKI WICAKSONO
21030116140172

Contoh 3-8 Menghitung Konversi Kesetimbangan

Dekomposisi reversibel fase gasdari nitrogen tetraoksida, N 2O4, menjadi nitrogen dioksida, NO,,

Akan dioperasikan pada temperatur dan tekanan tetap. Umpan terdiri dari N 2O4 murni pada 340 K dan 2 atm.
Konversi kesetimbangan konstan pada 340 K adalah 0,1 mol/dm3.
(a) Hitunglah konversi kesetimbangan dari N2O4 dalam reaktor batch volume konstan
(b) Hitunglah konversi kesetimbangan dari N2O4 dalam reaktor alir

69
Nama : Indah Try Lestari

(c) Dengan asumsi reaksi bersifat elementer, nyatakan laju reaksi semata-mata sebagai fungsi konversi untuk
sistem aliran dan untuk sistem batch.

Solusi

Pada kesetimbangan, konsentrasi spesies yang bereaksi terkait dengan hubungan yang ditentukan oleh
termodinamika [lihat Persamaan (3-10) dan Lampiran C]

(a) Sistem batch-volume konstan, V=V0 . Lihat Tabel E3-8.1.

TABEL E3-8.1. TABEL STOKIOMETRI

Spesies Simbol Awal Perubahan Sisa

Untuk sistem batch Ci = Ni/V ,

Pada equilibrium X = Xe, dan kita mengganti Persamaan (E3-8.2) dan (E3-8.3) menjadi Persamaan (E3-8.1),

Kami akan menggunakan POLYMATH untuk menyelesaikan konversi kesetimbangan dan membiarkan xeb
merepresentasikan konversi kesetimbangan dalam reaktor batch volume konstan. Persamaan (E3-8.4) ditulis
dalam format POLYMATH menjadi

f(xeb) = xeb- [kc*(l -xeb)/(4*cao)] * * 0.5

POLYMATH program dan solusinya diberikan dalam Tabel E3-8.2 dan E3-8.3. Konversi kesetimbangan dalam
reaktor batch volume konstan adalah

Xeb = 0.44

70
Nama : Indah Try Lestari

TABEL E3-8.2. PROGRAM POLYMATH

Persamaan: Nilai Awal:

TABEL E3-8.3. SOLUSI POLYMATH

(b) Sistem aliran. Tabel stoikiometri adalah sama dengan sistem batch kecuali bahwa jumlah mol setiap
spesies, Ni, digantikan oleh laju alir molar dari spesies itu, Fi. Untuk suhu dan tekanan konstan, laju alir
volumetrik adalah v = v0 (1 + EX) dan konsentrasi yang dihasilkan dari spesies A dan B adalah

Pada kesetimbangan X=Xi, kita dapat mensubstitusi Persamaan (E3-8.5) dan (E3-8.6) menjadi Persamaan (E3-
8.1) untuk mendapatkan

Disederhanakan menjadi,

Penyusunan ulang untuk menggunakan hasil POLYMATH

Untuk umpan N2O4, E = yA0, δ = 1(2 - 1) = 1.


Kita akan membiarkan xef merepresentasikan konversi kesetimbangan dalam sistem aliran. Persamaan
(E3-8.8) yang ditulis dalam format POLYMATH menjadi

f(xef) = xef -[kc*(l - xef)*(l + eps*xef)/4/cao] * * 0.5

Solusi ini juga ditunjukkan pada Tabel E3-8.2 dan E3-8.3.

71
Nama : Indah Try Lestari

Perhatikan bahwa konversi kesetimbangan dalam reaktor alir (misalnya, X ef = 0,51), dengan penurunan
tekanan yang diabaikan, lebih besar dari konversi kesetimbangan dalam reaktor batch volume konstan (Xeb =
0,44). Mengingat prinsip Le Chatelier, dapatkah Anda menyarankan penjelasan untuk perbedaan ini di X e?

(c) Laju reaksi. Dengan asumsi bahwa reaksi mengikuti hukum tingkat dasar, maka

1. Untuk sistem alir, C, = FA / v dan CB = FB / v dengan v = v0 (l + εX). Maka, kita dapat mengganti
Persamaan (E3-8.5) dan (E3-8.6) menjadi Persamaan (E3-8.9) untuk memperoleh

Mari kita periksa untuk melihat apakah pada kesetimbangan persamaan ini mengurangi persamaan yang
sama seperti yang diperoleh dari termodinamika. Di equilibrium -rA = 0:

Penyusunan ulang didapatkan

Untuk hasil benar, hasil harus sesuai dengan nilai yang dihitung dari nilai termodinamika!

2. Untuk volume konstan (V = V0) sistem batch, C, = NA / V0, dan CB = NB / V0. Substitusi Persamaan (E3-
8.2) dan (E3-8.3) ke dalam laju reaksi, kita memperoleh laju pengurangan A sebagai fungsi konversi:

Seperti yang diharapkan, hubungan laju reaksi terhadap konversi untuk volume konstan sistem batch
[Persamaan (E3-8.11)] berbeda dengan sistem alir [Persamaan (E3-8.10)] untuk reaksi fase gas.

3.4 Mengungkapkan Konsentrasi dalam Persyaratan Selain Konversi

Seperti yang akan kita lihat nanti di buku ini, ada beberapa contoh di mana jauh lebih mudah untuk bekerja
dalam hal jumlah mol (NA, NB) atau laju aliran imolar (FA, FB, dll.) dari konversi. Reaktor membran dan reaksi
ganda fase gas adalah dua kasus di mana laju aliran molar dan bukan konversi lebih disukai. Konsekuensinya,
konsentrasi dalam hukum laju perlu dinyatakan dalam bentuk laju alir molar. Kita mulai dengan mengingat dan
menggabungkan Persamaan (3-40) dan (3-41):

Untuk kondisi gas ideal (Z=1), konsentrasinya yaitu

72
Nama : Indah Try Lestari

Substitusi v, didapatkan

Secara umum (j = A, B, C, D, I)

Dengan laju alir molar total diberikan jumlah dari laju alir komponen masing-masing komponen:

Laju alir molar setiap komponen 5 diperoleh dari keseimbangan mol pada setiap komponen.

Contoh 3-9 Kesetimbangan Mol Reaktor PFR dalam Laju Alir


Mempertimbangkan kembali reaksi gas dasar yang dibahas dalam Contoh 3-8.

Reaksi harus dilakukan secara isotermal (T = T,) dan isobarat (P = Po) dalam sebuah reaktor PFR. Nyatakan
tingkat hukum dan keseimbangan mol dalam hal laju aliran molar.

Solusi

Menggunakan Persamaan (3-45) untuk menggantikan konsentrasi A dan B ketika T = To dan P = Po, Persamaan
(E3-9.3) menjadi

di mana laju alir molar total hanyalah jumlah laju aliran A dan B:

73
Nama : Indah Try Lestari

dan total konsentrasi masuk reaktor (Po, To) dihitung dengan persamaan

Kombinasi Persamaan (E3-9.5) dan (E3-9.6), didapatkan

74
Nama : Valentinus Gilang

Halaman 107-111

3.5 Reaksi dengan Perubahan Fase

Ketika Persamaan (3-36) digunakan untuk mengevaluasi E, itu harus ditinjau dari derivasi
persamaan ini yang mewakili perubahan dalam jumlah mol dalam fase gas per mol A yang
direaksikan. Sebagai contoh terakhir dalam hal ini, kami mempertimbangkan reaksi fase gas
di mana terjadi kondensasi. Salah satu kelas reaksi ini

Contoh lain dari perubahan fase selama reaksi adalah deposisi uap kimia (CVD), proses yang
digunakan untuk memproduksi bahan-bahan mikroelektronik. Di sini, reaktan fase gas
disimpan (analog dengan kondensasi) sebagai film tipis pada permukaan padat (lihat Soal P3-
25). Salah satu reaksi tersebut adalah produksi galonium arsenide, yang digunakan dalam
chip komputer.

Pengembangan reaktor CVD aliran kontinyu di mana wafer padat dan gas terus menerus
melewati reaktor saat ini sedang berjalan (lihat: Bagian 10.8 dan 12.11). Kami sekarang akan
mengembangkan meja stoikiometri kami untuk reaksi dengan perubahan fasa. Ketika salah
satu produk mengembun selama reaksi, perhitungan perubahan volume atau laju aliran
volumetrik harus dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda. Pertimbangkan reaksi
isotermal lainnya

Tekanan uap spesies D pada suhu T adalah Konsentrasi fase-gas dari produk D akan
meningkat sampai fraksi mol yang sesuai di mana mulai kondensasi tercapai:

Begitu kejenuhan tercapai dalam fase gas, setiap mol D menghasilkan kekuatan. Untuk
menjelaskan efek kondensasi pada konsentrasi spesies yang bereaksi, kita sekarang menulis
dua kolom untuk jumlah mol dalam tabel stoikiometri kami (Tabel 3-5). Satu kolom
memberikan laju alir molar setiap spesies sebelum kondensasi dimulai dan kolom lainnya
memberikan jumlah ini setelah kondensasi dimulai. Kami menggunakan untuk merujuk pada
konversi A dimana kondensasi D dimulai. Perhatikan bahwa kita harus mengatur ulang

75
Nama : Valentinus Gilang

persamaan untuk laju alir molar total untuk menulisnya secara eksplisit dalam istilah dan
Kami menggunakan persamaan untuk fraksi mol dari spesies D untuk menghitung konversi di
mana kondensasi dimulai.

contoh 3-10 Mengekspresikan untuk Reaksi dengan Perubahan Fasa

Untuk reaksi yang baru saja dibahas, hitung konversi di mana kondensasi dimulai dan
ekspresikan konsentrasi spesies yang bereaksi dan laju reaksi sebagai fungsi konversi. Reaksi
adalah orde pertama pada spesies A dan spesies. Pakan hanya mengandung A dan B dalam
jumlah stoikiometri dan reaksi dilakukan secara isotermal. Tekanan total adalah 101,3 kpa (1
atm) dan spesies D memiliki tekanan uap 16 kPa (120 mmHg) pada suhu reaksi isotermal
300K.

Larutan

Pada titik di mana kondensasi dimulai,

76
Nama : Valentinus Gilang

Karena suhu dan tekanan konstan, konsentrasi total adalah konstan.

Setelah dimulai: Untuk X tekanan parsial D sama dengan tekanan uap = Laju aliran
volumetrik terkait dengan laju alir molar total melalui persamaan gas ideal dari keadaan:

77
Nama : Valentinus Gilang

kita harus menggunakan kolom dalam tabel stoikiometri berlabel "setelah


kondensasi" bersama dengan Persamaan (E3-10.11) untuk menentukan CA dan CB

78
Nama : Valentinus Gilang

KESIMPULAN

1. Pesanan reaksi ditentukan dari pengamatan:

Reaksi dalam Persamaan (S3-1) adalah urutan sehubungan dengan spesies A dan urutan
sehubungan dengan spesies B, sedangkan urutan keseluruhannya adalah Urutan reaksi
ditentukan dari pengamatan eksperimental. Jika Alfa = 1 dan Beta = 2, kita akan mengatakan
bahwa reaksi adalah orde pertama dengan menghormati A, orde kedua sehubungan dengan
dan keseluruhan pesanan ketiga.

2. Selain urutan reaksi, istilah berikut didefinisikan:

a, Reaksi elementer

Reaksi yang reversibel dan ireversibel

c. Reaksi homogen dan heterogen

3. Ketergantungan suhu dari laju reaksi spesifik diberikan oleh

Persamaan Arrhenius,

di mana A adalah faktor frekuensi dan E energi aktivasi. Meja stoikiometri untuk reaksi

sedang dilakukan dalam sistem aliran adalah:

79
Nama : Valentinus Gilang

80
Nama : Aprisanda Andarani
NIM: 21030116140142

Laju reaksi relativnya adalah:

rA rB rC rD
(2-20)
Pada kasus gas ideal, persamaan (S3-3) melewati
-a _(S3-6)
-b _ cberhubungan
_ d dengan vulome dan laju alir volumetric
dengan konversi
Batch volume konstan: V=V0
(S3-3)
Batch variable volume: V=V0( )
(S3-4)
Sistem Flow: u=v0 ( ) (S3-5)
Dimana perubahan bilangan mol per mol feed A adalah

𝜀 𝑦𝐴adalah
Dan perubahan pada bilangan mol per mol A yang bereaksi 𝛿 (S3-6)
𝑑 𝑐 𝑏
𝛿 (S3-7)
6. Untuk fase reaksi gas-ideal 𝑎 𝑎 𝑎

𝑏 ⬚ 𝑐 𝑑
𝐴 𝐵 𝐶 𝐷 (2-2)
𝑎 𝑎 𝑎
Laju reaksi volumetric adalah
𝐹𝑇 𝑃 𝑇 (S3-8)
𝑣 𝑣 ( ) ( )
𝐹𝑇 𝑃 definisi
Menggunakan tabel stoikiometri dengan menggunakan 𝑇 konsentrasi (e.g. C A=FA/v), kemudian
konsentrasi dari A dan C adalah:
[ ] ( )
(S3-9)

* + ( ) (S3-10)

7. ketika reaktan dan produk adalah liquid incompressible, konsentrasi dari spesies A dan C pada reaksi
diberikan persamaan (2-2) dapat dituliskan sebagai berikut
CA= CA0(1-X) (S3-11)
Cc= CA0 ( )
(S3-12)
Persamaan (S3-11) dan (S3-12) juga digunakan untuk reaksi fase gas dengan membawa volume konstan pada
sistem batch
8. ketika menggunakan ukuran lain daripada konversi untuk design reaktor, kesetimbangan mol dapat ditulis
untuk setiap spesiesnya pada reaksi campurannya:
, , ,
Kesetimbangan mol kemudian digabungkan dengan melewati laju reaksi relativnya. Jika

Kemudian
, ,
Konsentrasi dapat dijabarkan dalam bentuk bilangan dari mol (batch) dalam laju alir molar (flow).
Gas:
(S3-13)
FT=FA+FB+FC+FD+FI
Liquid: CA= (S3-14)
9. untuk reaksi dimana terjadi kondensasi, e.g.,
A(g) + B(g) C(g,l)
Sebelum kondensasi, dengan P= P0, T=T0, ϴB = 1

Cc= 5
Dan setelah kondensasi (X>Xc), (S3-15)

81
Nama : Aprisanda Andarani
NIM: 21030116140142

v= FC= Cc = (S3-16)
Dimana = dan ini adalah fraksi mole dari C pada saat mulai kondensasi.
Subskrip untuk masing-masing nomor masalah menunjukkan tingkat kesulitan: A, setidaknya sulit;D, paling
sulit.

A=• B=■ C=♦ D= ♦♦

Di setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak sekitar jawaban
Anda, tuliskan kalimat atau dua menggambarkan bagaimana Anda memecahkan masalah, asumsi yang Anda
buat, kewajaran jawaban Anda, apa yang Anda pelajari, dan fakta lain yang ingin Anda sertakan. Anda mungkin
ingin merujuk ke W. Strunk dan E. B. Putih, Unsur-Unsur Gaya (New York: Macmillian, 1979) dan Joseph M.
Williams, Gaya: Sepuluh Pelajaran dalam Clarity & Grace (Glenview, 111 .: Scott, Foresman, 1989) untuk
tingkatkan kualitas kalimat Anda.
P3-1C (a) Buat daftar konsep-konsep penting yang Anda pelajari dari bab ini. Konsep apa yang kamu tidak
jelas?
(b) Jelaskan strategi untuk mengevaluasi persamaan desain reaktor dan bagaimana ini bab meluas pada
Bab 2
(c) Pilih sebuah FAQ dari Bab 1 hingga 3 dan katakan mengapa itu sangat membantu.
(d) Dengarkan audio di CD dan pilih satu dan katakan mengapa itu bisa dihilangkan.
(e) Baca melalui Self Tests dan Self Assessments for Lectures 1 through 4 pada CD-ROM dan pilih satu
yang harus dihilangkan.
(f) Contoh mana pada catatan Kuliah CD-ROM untuk Bab 1 hingga 3 paling bermanfaat?
(g) Manakah dari ICM untuk tiga bab pertama & paling menyenangkan?
P3-2A Bagaimana jika
(a) Anda diminta memberi contoh materi yang dibahas dalam bab ini yang berlaku untuk hal-hal yang
Anda amati setiap hari; apa yang akan kamu menggambarkan? (Petunjuk: Lihat Masalah 3-3A.)
(b) katalis ditambahkan untuk meningkatkan laju reaksi dengan faktor 10 dalam Contoh 3-8? Bagaimana
jawaban Anda akan berubah?
(c) sangat, sangat sedikit NaOH digunakan dalam Contoh 3-2 dibandingkan dengan jumlah TBB?
Akankah tarif reaksi terpengaruh? Apa yang mungkin terjadi hukum tingkat sehubungan dengan TBB?
(d) sebidang In k vs. (1 / T) tidak linear, tetapi kurva yang kemiringannya shal- rendah pada T tinggi dan
curam pada T rendah atau sebaliknya. Bagaimana Anda menjelaskannya kurva seperti itu? (Petunjuk:
satu contoh A - + B dan A - + C)
(e) seseorang menyarankan agar Anda membuat kue berdiameter 9 inci selama 15 menit 400 ° F bukannya
rekomendasi buku resep selama 30 menit pada 32S ° F? Bagaimana Anda mengembangkan plot waktu
memasak versus suhu oven?
P3-3A Frekuensi flashing kunang-kunang dan frekuensi kicauan jangkrik sebagai fungsi suhu diberikan di
bawah ini [J. Chem. Educ., 5, 343 (1972) Dicetak ulang dengan izin.].
Untuk kunang-kunang:

T(°C) 21.0 25.00 30.0


Flashes/min 9.0 12.16 16.2
Untuik jangkrik:
T(°C) 14.2 20.3 27
chirps/min 80 126 200

Kecepatan lari semut dan kecepatan terbang lebah madu sebagai funtion suhu diberikan di bawah ini
[Sumber: B. Heinrich,"The Hot-Blooded Insects" (Harvard University Press, Cambridge, MA, 1993)
Untuk semut:
T(° 10 20 30 38
C)
V(c 0.5 2 3.4 6.5
m/s)

Untuk lebah madu:


T(° 25 30 35 40
C)

82
Nama : Aprisanda Andarani
NIM: 21030116140142

V(c 0.7 1.8 3 ?


m/s)

(a) Apa kesamaan antara kunang-kunang dan kriket?


(b) Berapa kecepatan lebah madu pada 4Q ° C? Pada -5 ° C
(c) Apakah lebah, semut, jangkrik, dan kunang-kunang memiliki kesamaan? Jika begitu, apa itu? Anda
juga dapat melakukan perbandingan berpasangan.
(d) Apakah lebih banyak data membantu memperjelas hubungan antara frekuensi, kecepatan, dan
temperature? Jika demikian, pada suhu berapa sebaiknya data diperoleh? Pilih serangga dan jelaskan
bagaimana Anda akan melakukan eksperimen dapatkan lebih banyak data.

P3-4BKorosi tinggi-plastik pelat baja tahan karat ditemukan terjadi pada distil kolom lation yang digunakan di
DuPont untuk memisahkan HCN dan air. Asam sulfat adalah selalu ditambahkan di bagian atas kolom untuk
mencegah polimerisasi HCN. Air terkumpul di bagian bawah kolom dan 14CN di bagian atas. Jumlah korosi
pada setiap baki ditunjukkan pada Gambar P3-4 sebagai fungsi pelat lokasi di kolom. Suhu paling bawah kolom
adalah sekitar 125 °C
dan yang paling atas adalah 100 ° C. Tingkat korosi adalah fungsi temperatur dan konsentrasi dari kompleks
HCN-H2S04. Sarankan penjelasan untuk mengamati profil pelat korosi di kolom. Apa pengaruh kolom itu
kondisi operasi pada profil korosi?

Feed
15
15% HCN
85% H2O

Figure P3-4

P3-5B Aturan praktis bahwa laju reaksi berlipat ganda untuk peningkatan suhu 10 ° C temperature hanya terjadi
pada suhu tertentu untuk energi aktivasi yang diberikan.
(a) Mengembangkan hubungan antara suhu dan energi aktivasi untuk yang mana aturannya jempol
memegang. Abaikan berbagai variasi konsentrasi dengan suhu.
(b) Tentukan energi aktivasi dan faktor frekuensi dari berikut ini data:
k(min-1) 0.001 0.050
T(°C) 00.0 100.0

P3-6ADalam setiap reaksi berikut, tentukan konstanta laju reaksi spesifik untuk masing-masing spesies lain
dalam reaksi. Asumsikan bahwa kA dalam setiap kasus memiliki nilai dari 25 dengan kombinasi unit mol, dm3,
g cat, dan s yang sesuai.
(A) Untuk reaksi
2A+B - C
Pada hokum laju adalah -rA = kACA2 CB(Partial ans.: untuk kA = 25 dm6/mo12*s, kC=kA/2 =12.5
dm6/mol2 *s dan rC= 12.5CA2 CB)

(B) Untuk reaksi


1/2A+1/2B  c
Untuk hokum lajunya -rA= kACACB
(C) Untuk reaksi katalis padat
4A+5B4C+ 6D
Untuk hokum lajunya –r‟A= kACA2 CB (Lihat masalah 3-13) [kp=?, kB= ?]
(D) Pada reaksi fase gas homogeny

83
Nama : Aprisanda Andarani
NIM: 21030116140142

P3-7AMempersiapkan meja stoikiometri untuk setiap reaksi followin4 dan ekspresikan konsentrasi setiap
spesies dalam reaksi sebagai fungsi konversi mengevaluasi semua konstanta
(mis., ).
(a) Reaksi fase-cair

84
Nama : Muhammad Yusup Isnain

P3-7A Tentukan tabel stiokiometri dari tiap-tiap reaksi berikut dan jabarkan konsentrasi dari tiap senyawa
dalam reaksi sebagai fungsi dari konversi evaluasi secara konstan.
(a) reaksi pada fase cair

Konsentrasi awal dari etilen oksida dan air masing-masing 1lb mol/ft t dan 3,47 lb mol/ft 3
(62,41 lb/ft3 / 18), masing-masing.
(b) saat isothermal, isobarik, fase gas pirolisis

Etana murni memasuki reaktor alir pada tekanan 6atm dan suhu 1100K. Bagaimana
persamaan yang digunakan untuk menentukan perubahan konsentrasi jika reaksi tersebut
dijalankan pada reaktor batch dengan volume konstan?
(c) saat isothermal, isobaric, reaksi oksidasi fase gas dengan katalis

Umpan masuk ke reaktor PB pada tekanan 6 atm dan suhu 260oC dan merupakan campuran
stoikiometri antara oksigen dan etilen.

P3-8 Tersedia 5430 juta pound etilen oksida yang diproduksi di US pada tahun 1995. Diagram alir dalam
produksi etilen oksida dengan proses oksidasi seperti yang ada di bawah ini. Proses terjadi dalam dua
sistem, yaitu sisteam reaksi dan pemisahan. Jelaskan bagaimana kamu jawaban soal P3-7 (c) dapat
berubah jika udara yang digunakan sebagai umpannya? Reaksi ini telah dipelajari lebih lanjut pada
contoh 4-6.

P3-9 Kerjakan ulang soal 3-7 untuk menuliskan hukum kombinasi dari keseimbangan mol rata-rata yang
didiskusikan pada sub bab 3.4. Asumsikan bahwa tiap reaksi merupakan reaksi elementer
(a) Tuliskan keseimbangan mole untuk RATB dan laju reaksi dari setiap senyawa dalam kondisi
konsentrasi dan parameter laju reaksi pada P3-7(a).
(b) Pada soal 3-7(a), tuliskan gabungan keseimbangan mol pada reaktor alir di setiap senyawa dan
rata-ratanya dalam kondisi jika aliran rata-rata molar dan parameter-rata-rata.
(c) Pada soal 3-7(b), tuliskan gabungan keseimbangan mol pada reaktor alir di setiap senyawa
dan rata-ratanya dalam kondisi jika aliran rata-rata molar dan parameter-rata-rata.
(d) Pada soal 3-7(c), tuliskan kombinasi sekeimbangan mol pada reaktor alir dan laju reaksi pada
tiap senyawa dengan kondisi aliran mol rata-rata pada reaktor alir.

P3-10B Pada setiap reaksi berikut dan laju reaksi pada suhu rendah, sarankan laju reaksi pada suhu tingginya.
Reaksi berikut sangat eksotermis dan dapat terjadi 2 arah bila di suhu yang sangat tinggi.

85
Nama : Muhammad Yusup Isnain

(a) Reaksi

Reaksi cenderung searah pada suhu rendah, dan konstanta laju reaksinya:

(b) Reaksi

Reaksi cenderung searah pada suhu rendah, dan konstanta laju reaksinya:

(c) Reaksi dengan katalis

Reaksi cenderung searah pada suhu rendah, dan konstanta laju reaksinya:

Pada tiap kasus, pastikan tiap laju reaksi berada pada suhu tinggi dan sifatnya konsisten untuk
seimbang (Appendix C).

P3-11B Tersedia 820 juta poundsphtalic anhidrit yang diproduksi di AS pada 1995. Salah satu penggunaan
senyawa tersebut ialah pada lapisan kaca fiber dan perahu layar. Phthalic anhidrat dapat diproduksi
dengan oksidasi parsial dari naphthalene baik dengan reaktor fixed bed atau fluidized bed. Diagram alir
produksi komersilnya disajikan pada gambar p3-11. Berikut reaksi yang terjadi pada reaktor fixed bed
dengan katalis vanadium pentaoksida dengan diameter pipa 25mm. Laju produksi 31.000 ton/tahun
membutuhkan 15.000 pipa.
Tentukan bentuk stoikiometri dari reaksi ini dengan konsentrasi awal 3,5% naphthalene dan 96,5% mol
udaara (mol %), dan gunakan tabel untuk mengembangkan hubungan dari konstanta di bawah ini. P 0 =
10 atm dan T0 = 500K.
(a) Untuk reaktor alir yang isothermal dimana tidak ada hilang tekan, tentukan nilai masing-
masing senyawa sebagai fungsi konsentrasi dari naphthalene, Xn.
(1) tekanan parsial dari O2 dan CO2 (ans: PCO2 = 0,345 [5,8 – 9/2X]/(1-0,0175X))
(2) konsentrasi dari O2 dan naphthalene (ans: CN = 0,084 [1 – X]/(1-0,0175X))
(3) kecepatan laju reaksi volumetric v
(b) Ulangi bagian (a) saat terjadi hilang tekan pada reaktor
(c) Jika reaksi terjadi pada orde pertama pada oksigen dan orde kedua pada naphthalene dengan
nilai kN= 0,01 dm6/mol2.s dan tuliskan persamaan untuk –rN dari masing-masing senyawa
sebagai fungsi konversi untuk bagian (a) dan (b).

86
Nama : Muhammad Yusup Isnain

(d) Kerjakan ulang bagian (c) untuk stoikiometri oksigen murni. Apa kelebihan dan kekurangan
dari menggunakan oksigen murni dari udara?
(e) Perlengkapan keamanan apa yang harus digunakan dalam sistem reaksi ini? (kode: liat
diagram alir)
[Untuk reaksi pembatas, see Chem. Eng prog. 66,49 (1970).]

P3-12A Dengan memilih H2S sebagai basis perhitungan, bentuk stoikiometri lengkap pada reaksi fase gas

Kondisi isothermal. Umpan molar 50% H2 dan 50% N2, pada tekanan 16,4 atm dan suhu 227OC.
(a) Bentuk tabel stoikiometri lengkap
(b) Apa itu CAO, δ, dan E? hitung konsentrasi dari ammonia dan hydrogen saat konversi H 2 60%.
(Ans: CH2= 0,1 mol/dm3)
(c) Anggap reaksi berjalan elementer dengan nilai KN= 40 dm3/mol/s. Tentukan laju reaksi
masing-masing senyawa sebagai fungsi konversi untuk (1) sistem aliran, (2) volume konstan
dalam sistem batch.
P3-13A Asam nitrat secara komersil dibuat dari nitrit oksida. Nitrit oksida diproduksi dari oksidasi ammonia
dalam fase gas:

Umpan terdiri dari 15% mol ammonia dalam udara pada 8,2 atm dan suhu 227 OC.
(a) Berapa total konsentrasi yang masuk?
(b) Berapa konsentrasi ammonia awal?
(c) Gunakan ammonia sebagai basis perhitungan stoikiometri
Kemudian:
(1) Tentukan nilai P, Ci untuk setiap senyawa sebagai fungsi konversi untuk reaktor
batch tekanan konstan yang dioperasikan dengan isothermal. Tentukan volume sebagai fungsi
X.
(2) Tentukan nilai Pi, dan Ci untuk setiap senyawa sebagai fungsi volume konstan
reaktor. Tentukan nilai Pt sebagai fungsi X.
(3) Tentukan nilai P, dan Ci untuk setiap senyawa sebagai fungsi konversi reaktor alir.
(d) Berdasarkan section 3.4, tuliskan kombinasi keseimbangan mold an kecepatan laju reaksi [cf.
persamaan (E3-9.8 dan E3-9.9)] masing-masing dengan kondisi rata-rata aliran molar dan
kecepatan lai reaksi. Asumsikan reaksinya elementer.

P3-14B Pertimbangkan dekomposisi dari nitrogen tetraoksida yang didiskusikan pada contoh 3-8. Reaksi
terjadi dalam reaktor alir dan volume konstan pada reaktor batch di suhu 2 atm dan suhu 340 K. Hanya
N2O4 dan inert I yang terdapat dalam reaktor. Tentukan konversi kesetimbangan sebagai fungsi fraksi
mol inert untuk kedua reaktor alir dan batch dengan volume konstan. Kenapa konversi kesetimbangan
lebih kecil pada reaktor batch daripada dengan sistem alir di contoh 3-8? Apakah nilai kesetimbangan
yang lebih rendah selalu ada pada sistem reaktor batch?

P3-15 (a) Tentukan nilai reaksi pembentukan hydrogen bromide dalam kondisi nilai k tetap, dan k,
adalah konversi bromine, X. Evaluasi secara numeric untuk seluruh senyawa. Umpan terdiri dari 25%
hydrogen, 25% bromine, dan 50% inert dalam konsisi 10 atm dan suhu 400 OC.
(b) Tentukan nilai laju reaksi dekomposisi cumene, -r‟C, dalam kondisi konsentrasi awal cumene,
dan laju reaksi spesifik dan kesetimbangan konstan. Kondisi umpan awal terdiri dari 75% cumene dan
25% inert.

P3-16A Reaksi fase gas

Dimana reaksi orde pertama di A dan reaksi orde pertama di B dilakukan secara isothermal dalam
reaktor alir. Untuk laju alir umpan ialah 2,5 dm3/min, dan umpan seimbang secara molar antara A dan
B. Suhu masuk dan tekanan masuknya 727OC dan 10 atm, Laju reaksi spesifik pada suhu ini ialah 4
dm3/gmol.min dan nilai energy aktivasinya 15.000 cal/gmol.
(a) berapakah laju volumetric saat konversi A 25%?
(ans: v= 1,88 dm3/min)
(b) berapakah nilai laju reaksi saat memasuki reaktor (X=0)?
(ans: -rA = 1,49 x 10-3 g.mol/dm3.min)
(c) berapa nilai laju reaksi jika konversi A 40%?
(hint: tentukan nilai –rA dulu sebagai fungsi X)

87
Nama : Muhammad Yusup Isnain

(ans: -rA = 4,95 x 10-3 g mol/dm3.min)


(d) berapa konsentrasi A saat masuk reaktor?
(ans: CAO= 6,09 x 10-2 g.mol/dm3)
(e) berapa konsentrasi A saat konversi A mencapai 40%?
(ans: CA = 6,09 x 10-2 g.mol/dm3)
(f) berapa nilai laju reaksi spesifik pada suhu 127OC?
(ans: k= 49,6 dm3/gmol.min)

P3-17B Hitunglah konversi kesetimbangan dan konsentrasi dari tiap-tiap reaksi di bawah ini:
(a) reaksi fase liquid

With CAO = CBO = 2 mol/dm3 dan Kc = 10 dm3/mol.


(b) reaksi fase gas

Reaksi terjadi tanpa adanya penurunan tekanan. A murni masuk dengan suhu 400 K dan 10
atm. Pada suhu ini Kc= 0,25 dm3/mol2.
(c) reaksi fase gas pada soal (b) dilakukan pada reaktor batch dengan volume konstan
(d) reaksi fase gas pada soal (b) dilakukan pada reaktor batch dengan tekanan konstan

P3-18B Anggaplah reaktor batch silindris yang telah dilengkapi dengan piston tanpa friksi yang dilengkapi
dengan per (gambar P3-18). Reaksi:

Dengan laju reaksi

Dilakukan di reaktor dengan tipe

(a) tulislah kecepatan reaksi sebagai fungsi konversi, evaluasi secara numerik semua konstanta
yang ada. (ans: -rA= 5,03 x 10-9 [(1-X)3/(1+3X)1,5] lb mol/ft3.s)
(b) berapa konversi dan laju reaksi saat V = 0,2 ft 3? (ans: X = 0,259, -rA = 8,63 x 10-10 lb
mol/ft3.s)
Informasi tambahan::
Mol seimbang antara A dan B pada t = 0
Volume awal: 0,15 ft 3
K1: 1,0 (ft3.atm/ lb mol)2.s-1
Hubungan antara volume reaktor dan tekanan dalam reaktor adalah
V= (0,1)(P) (Vin ft3, P in atm)
O
Suhu sistem (dianggap konstan): 140 F
Gas konstan: 0,73 ft 3.atm/lb.mol.OR

P3-19C Tentukan parameter laju reaksi (termasuk order reaksi, laju reaksi spesifik pada suhu seragam, dan
energy aktivasi) untuk:
(a) tiga reaksi dalam industry.
(b) tiga reaksi dalam laboratorium.
(c) tuga reaksi yang ditentukan dalam literature dalam lingkup setahun terakhir.

88
Nama : Atikah Destya Candra P

Untuk kelompok reaksi tertentu, persamaan Polani – Semenov dapat digunakan untuk mengestimasi energi
aktivasi dari panas suatu reaksi, Hr menurut persaman ini adalah

Dimana dan C adalah konstan. Untuk reaksi eksotermis = -0.25 dan C = 48 kJ/mol, dimana untuk reaksi
endotermis = -0.75 dan C = 48 kJ/mol. Namun, nilai tersebut dapat berubah tergantung dari jenis reaksinya
[K. J. Laidler, Theories of Chemical Reaction Rates (New York, R.E. Krieger, 1979), p.38]. (Dilihat juga pada
Appendix J).
a). Mengapa ada alasan korelasi?
Berdasarkan jenis reaksi
E - Hr
(kcal/mol) (kcal/mol)
H+RBr ----- HBr + R 6.8 17.5
H+R‟Br ----- HBr + 6.0 20.0
R‟
b). Estimasikan energi aktivasi untuk suatu reaksi
CH3 + RBr ---- CH3Br + R‟
Yang mana panas eksotermis dari reaksi sebesar 6 kcal/mol (i.e., AH, = -6 kcal/mol)
Reaksi fase gas antara klorin dan methana membentuk karbon tetraklorida dan asam hidroklorik yang dapat
dibawa pada suhu 75ºC pada tekanan 950 kPa pada reaktor alir kontinyu. Tekanan gas pada karon tetra klorida
pada suhu 75 ºC adalah 95 kPa. Untuk menghitung konversi dari methana dimana saat mulai terjadi
kondensasi. Kemudian plotkan konsentrasi dan laju alir molar pada setiap senyawa untuk fungsi konversi pada
stoikiometri umpan. Laju alir volumetrik sebesar 0.4 dm3/s.
Reaksi yang terjadi:
C2H6 (g) + 2Br2 (g) ------- C2H4Br2 (g,l) + 2HBr (g)
Dibawa pada suhu 200ºC dan 2500 kPa. Tekanan gas pada 1,2-dibromoethan pada 200 ºC adalah 506.5 kPa.
Dengan nilai k sebesar 0.01 dm6/mol2.min. reaksi tersebut merupakan orde 1 pada C2H5 dan orde 2 pada Br2.
Menghitung konversi ethana saat terjadi kondensasi awal. Plotkan konsentrasi dan total laju alir molar sebagai
fungsi konversi dari umpan masuk. laju alir volumetrik sebesar 0.5 dm3/s. (Ans,: Xcond = 0.609)
Deposisi Gas kimia merupakan suatu proses yang digunakan pada mikroelektronik industri untuk mendeposit
film tipis pada ketebalan yang konstan. Bahan yang biasa digunakan adalah Si3N4 yang mana diproduksi
menurut reaksi berikut
3SiH4(g) + 4NH3(g) ------- Si3N4(s) + 12H2(g)
Dielektrik merupakan tipe dari resitan pada oksidasi. Tabel stoikiometri untuk reaksi tersebut dengan
memplotkan konsentrasi dari masing – masing senyawa sebgai fungsi konsentrasi pada tekanan 1 Pa dan
temperatur konstan 700 ºC.
Design Reaktor Isotermal
Pada bab ini akan dibahas seperti yang sudah ada pada 3 bab sebelumnya yaitu tipe – tipe dari berbagai reaktor.
Dengan beberapa struktur, satu yang harus dapat dijadikan solusi masalah pada reaktor dengan beberapa alasan
tertentu. Pada bab ini fokus untuk membahas reaktor yang bereaksi secara isotermal. Yang akan dimulai
dengan fase cair reaktor batch untuk menghitung spesifik kontanta kecepatan reaksi yang akan dibutuhkan
pada design dari CSTR. Setelah itu, dilanjutkan dengan tubular reaktor pada reaksi pirolisis fase gas.
Desain Struktur untuk Reaksi Isotermal
Berikut merupakan algoritma dalam mendesain struktur reaksi isotermal

89
Nama : Atikah Destya Candra P

90
Nama : Yosafat Hans Wijaya

Persamaan necara massa umum yang sudah kita punyai (level 1) untuk suatu reactor spesifik dei
mencapai persamaan rancangan untuk reaktor tersebut (level 2). Jika kodisi umpan telah diketahui (contoh N A0
atau FA0), sema yang dibutuhkan untuk mengevaluasi (persamaan rancangan adalah laju reaksi sebagai fungsi
dari konversi pada kondisi operasi (suhu dan tekanan) reaktor. Ketika –rA = f(X) telah diberikan, maka dari
level 3 ke level 7 dapat dikerjakan secara langsung untuk mengetahui waktu atau volume yang dibutuhkan untuk
mencapai konversi tertentu.
Apabila persamaan laju reaksi belum diberikan secara eksplisit sebagai fungsi konversi, maka hukum
laju reaksi harus ditentukan (level 4) dengan cara mencari di referensi jurnal, atau buku atau secara percobaan di
laboratorium. Teknik mencari dan menganalisis data laju reaksi untuk menentuka orde reaksi dan konstanta laju
reaksi disajikan di Bab 5. Setelah hukum laju reaksi ditentukan, untuk melakukan perhitungan hanya dibutuhkan
stoikiometri (level 5) dengan kondisi operasi sistem (volume tetap, suhu, dsb.) untuk dapat menuliskan
konsentrasi sebagai fungsi dari konversi. Dengan menggabungkan informasi di level 4 dan lebel 5, laju reaksi
sudah dapat dibuat dalam fungsi konversi dan sampai di level 6. Waktu tinggl atau volume untuk mencapai
konversi tertentu sudah dapat dihitung dengan cara mensubsitusikan fungsi yang menghubungkan konversi dan
laju reaksi dengan persamaan rancangan yang tepat. Persamaan rancangan kemudian diselesaikan dengan tabel
integral atau secara numerik dengan solver PDB. Walaupun struktur ini menekankan pada penentuan waktu
reaksi atau volume Untuk konversi yang diinginkan, dapat juga digunakan untuk berbagai jenis kalkulasi reaktor
yang lain, seperti menentukan konversi pada volume reaktor yang telah ditentukan. Berbagai manipulasi dapat
dikerjakan di level 7 untuk menjawab berbagai pertanyaan di sini.
Struktur yang ditunjukkan di Gambar 4-1 memungkinkan seseorang mengembangkan konsep dasar dan
menyusun parameter atau persamaan yang terkair dengan berbagai konsep dalam berbagai cara. Tanpa strukutr
ini, seseorang dapat terjebak untuk memilih atau menghafalkan persamaan yang tepat dari sekian banyak
persamaan yang dapat muncul untuk berbagai reaksi, reaktor, dan kondisi operasi. Tantangannya adalah untuk
menempatkan semuanya secara bersamaan secara urut dan logis untuk membantu kita mencapai persamaan
yang benar untuk kondisi yang diberikan.
Untungnya, dengan menggunakan algoritma untuk memformulasikan persamaan teknik reaksi kimia,
yang mirip dengan langkah memesan makanan dari menu dengan harga tetap di suatu restoran Prancis yang
mewah, kita dapat menghilangkan hampir semua hafalan. Dalam kedua algoritma, kita pertama harus emilih
pada kategori yang diinginkan. Misalnya, untuk memesan makanan di restoran Prancis, kita memulai dengan
memilih satu menu di hidangan pembuka. Langkah pertama di teknik reaksi kimia adalah memilih neraca massa
sesuai dengan tiga jenis reaktor yang ada. Untuk tahap kedua kita memilih hukum laju reaksi (hidangan utama)
dan di tahap ketiga kita memilih apakah reaksi berlangsung fase gas atau cair (keju atau hidangan penutup.
Akhirnya, di langkah keempat, kita menggabungkan hasil dari langkah 1, 2, dan 3 lalu mencari solusi analitis
atau penyelesaian masalah dengan solver PDB. (Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di CD-ROM)
Kita sekarang menerapkan algoritma ini untuk situasi yang spesifik. Tahap pertama adalah menurunkan
atau mengaplikasikan persamaan neraca mol untuk sistem yang kita punya. Semisal kita mempunyai neraca mol
untuk tiga reaktor, tiga laju reaksi, dan persaaan konsentrasi untuk fase gas dan cair.

91
Nama : Yosafat Hans Wijaya

Gambar 4-2 Algoritma reaktor isotermal


Pada Gambar 4-2, algoritma digunakan untuk memformulasikan persamaan perhitungan volume reaktor
PFR untuk reaksi fase gas orde satu dan jalur untuk mencapai persamaan ini telah ditunjukkan dengan oval-oval
yang terhubung dengan garis hiram di sepanjang algoritma. Garis putus-putus dan kotak menggambarkan jalur
lain untuk mencapai penyelesaian bagi situasi selanjutnya. Untuk reaksi dan reaktor yang telah ditentukan, kita
akan memilih:
1. keseimbangan mol pada spesies A untuk reaktor aliran plug
2. tingkat hukum untuk reaksi orde pertama ireversibel,
3. Persamaan untuk konsentrasi spesies A dalam fase gas
(stoikiometri), dan kemudian
gabungkan untuk menghitung volume yang diperlukan untuk mencapai konversi yang diberikan
atau hitung konversi yang bisa dicapai secara spesifik
volume reaksi.
Untuk kasus operasi isotermal tanpa penurunan tekanan, kita dapat menentukan solusi analitik, yang dari
persamaan B yang memberikan volume reaktor yang diperlukan untuk mencapai konversi X untuk reaksi fase
gas yang dilakukan keluar secara isotermal dalam suatu PFR. Namun, dalam sebagian besar situasi, solusi
analitis untuk persamaan diferensial biasa yang muncul dalam langkah penggabungan tidak mungkin. Sehingga,
kami memasukkan POLYMATH, atau solver PDB lain seperti MATLAB, di menu kami, karena dapat
menghasilkan solusi persamaan diferensial yang jauh lebih cocok.

4.2 Perbesaran Reaktor Batch Fase Cair


Salah satu pekerjaan yang melibatkan insinyur kimia adalah perbesaran percobaan laboratorium untuk
operasi pilot-plant atau produksi skala penuh, Di masa lalu pilot plant akan dirancang berdasarkan data
laboratorium. Namun, Karena mahalnya biaya studi pilot-plant, langkah ini mulai ditinggalkan dalam banyak
contoh dengan merancang pabrik skala penuh dari operasi unit skala laboratorium yang disebut microplant.
Untuk membuat lompatan ini berhasil membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang kinetika dan keterbatasan

92
Nama : Yosafat Hans Wijaya

transportasi kimia. Di bagian ini kami menunjukkan cara menganalisis kumpulan skala laboratorium reaktor di
mana reaksi fase cair dari tatanan yang dikenal sedang dilakukan. Setelah menentukan laju reaksi spesifik, k,
dari eksperimen batch, kami menggunakan dalam desain reaktor aliran skala penuh.

4.2.1. Operasi Batch


Dalam memodelkan reaktor batch, kita mengasumsikan bahwa tidak ada flow atau aliran material dan
reaktor tercampur dengan baik Untuk sebagian besar fase cair reaksi, perubahan densitas dengan reaksi biasanya
kecil dan bisa diabaikan (mis. V = V0). Selain itu, untuk fase gas di mana volume reaktor batch tetap konstan,
kami juga memiliki (V = V0). Akibatnya, untuk reaktor batch volume konstan (V = V0) (tangki logam tertutup)
keseimbangan molnya menjadi:
( )
dapat ditulis juga dalam bentuk konsentrasi sebagai berikut
( ) ( ) ( ) ( )

Secara umum ketika menganalisa hasil percobaan, sebaiknya olah data dalam bentuk variabel-variabel
yang mudah diukur. Contohnya pada reaksi fase cair, konsentrasi adalah variabel yang mudah diukur, sehingga
digunakan konsentrasi untuk mendeskripsikan neraca mol pada reaksi-reaksi yang tidak melibatkan perubahan
volume. Maka, persamaan necara mol umum berubah menjadi
( )
Kita meninjau reaksi
AB
Yang mana merupakan reaksi searah dan memiliki order dua terhadap A. Maka laju pengurangan A
sesuai dengan hukum laju reaksi adalah
-rA = kCA2
Hukum laju reaksi dan neraca mol digabungkan menjadi
( )

( )
Pada awalnya, CA = CA0 pada t = 0. Jika reaksi berlangsung isothermal, kita dapat mengintegralkan
persamaan tersebut untuk mendapatkan konsentrasi reaktan pada waktu kapan saja (t)
∫ ∫

Waktu ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi konsentrasi reaktan dalam satu batch reaktor
dari nilai ke beberapa nilai yang ditentukan. Total waktu siklus dalam operasi batch mana pun jauh lebih
panjang daripada
waktu reaksi (t R), karena kita harus memperhitungkan waktu yang diperlukan untuk mengisi (t f) dan
mengosongkan reaktor (t e) bersama dengan waktu yang diperlukan untuk membersihkan reaktor antara batch
(tc). Dalam kasus sbme waktu reaksi dihitung dari persamaan integral mungkin hanya sebagian kecil dari total
waktu siklus (tT),
tT = t f + t e + t c + t r
Waktu siklus yang umum untuk proses polimerisasi batch ditunjukkan pada Tabel 4-1.

Tabel 4.1. Waktu siklus yang umum untuk Polimerisasi Batch


Aktivitas Waktu (jam)
1. Memasukkan dan mengaduk umpan 1,5-3,0
2. Memanaskan ke suhu reaksi 1,0-2,0
3. Waktu berjalannya reaksi (bervariasi)
4. Mengosongkan dan membersikan reaktor ` 0,5-1,0 „
Total waktu tidak termasuk reaksi 3,0-6,0

Waktu reaksi polimerisasi batch dapat bervariasi antara 5 dan 60 jam. Jelas, mengurangi waktu reaksi dengan
reaksi adalah masalah kritis. Itu waktu reaksi berkurang, menjadi penting untuk menggunakan garis besar dan
memompa ke mencapai transfer cepat dan memanfaatkan urutan efisien untuk meminimalkan siklus waktu.

93
Nama : Yosafat Hans Wijaya

Sangat penting untuk memahami orde besarnya waktu reaksi batch, pada Tabel 4-1 untuk mencapai
konversi yang diberikan, katakan 90%, untuk yang berbeda nilai-nilai laju reaksi spesifik, k. Kita dapat
memperoleh perkiraan ini dengan mempertimbangkan reaksi searah berikut
AB
dilakukan dalam reaktor batch volume konstan untuk reaksi orde pertama dan kedua. Kita mulai dengan
keseimbangan mol dan kemudian ikuti algoritma kami seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4-2.
Tabel 4.2 Algoritma Untuk Memprediksi Waktu Reaksi

Neraca Mol
( )
Hukum Laju Reaksi Orde Satu Orde Dua
-rA = kCA -rA = kCA
Stokiometri (V=V0)

Kombinasi

Integrasi

94
Nama : YULI CHLARESIA NAIBAHO

Program, POLYMATH dan solusinya diberikan dalam Tabel E3-8.2 dan E3-8.3. Konversi kesetimbangan
dalam reaktor batch volume konstan adalah

Xeb = 0.44
TABLE E3-8.2. PROGRAM POLYMATH
Persamaan : Nilai Awal :
f (Xeb)=Xeb-(Kc*(1-Xeb)/(4*Cao))**O. 5 0.5
f(Xef)=Xef-(Kc*(1-Xef)*(1+eps**ef)/(4*Cao))**0.5 0.5
Kc = 0.1
Cao = 0.07174
Eps=1

TABLE E3-8.3. SOLUSI POLYMATH


N204 KONVERSI EQUILIBRIUM UNTUK BATC II DAN FLOW SYSTEMS
Variabel Nilai f( )
Xeb 0.44126 3.661e-I6
Xef 0.508355 -3.274e-17
Kc 0.1
Cao 0.07174
eps 1

(b) Sistem aliran. Tabel stoikiometri adalah sama dengan sistem batch kecuali bahwa jumlah mol setiap spesies,
N,, digantikan oleh laju alir molar dari spesies itu, F,. Untuk suhu dan tekanan konstan, laju alir volumetrik
adalah u = uo (1 + EX) dan konsentrasi yang dihasilkan dari spesies A dan B

(E3-8.5)
Pada equilibrium X = X, dan kita dapat mengganti Persamaan (E3-8.5) dan (E3-8.6) menjadi Persamaan (E3-
8.1) untuk mendapatkan ekspresi
[ ] (E3-8.6)

Disederhanakan menjadi,

(E3-8.7)
Menata ulang untuk menggunakan hasil POLYMATH,


(E3-8.8)
Untuk pakan N, O murni, E =
Kami akan membiarkan xef merepresentasikan konversi kesetimbangan dalam sistem aliran. Persamaan (E3-
8.8) ditulis dalam format POLYMATH menjadi

* +

Solusi ini juga ditunjukkan pada Tabel E3-8.2 dan E3-8.3. Perhatikan bahwa konversi kesetimbangan dalam
reaktor aliran (Le., Xet = 0,51), dengan penurunan tekanan yang diabaikan, lebih besar dari konversi
kesetimbangan dalam reaktor batch volume konstan(E3-8.5)
(Xeb = 0,44). Mengingat prinsip Le Chiitelier, dapatkah
Anda menyarankan penjelasan untuk perbedaan ini di X,?
(C) Menilai hukum. Dengan asumsi bahwa reaksi mengikuti hukum tingkat dasar, lalu

* +
1. (E3-8.9)
Untuk sistem aliran, C, = F, / v dan C, = FB / v dengan u = v, (l + EX). Akibatnya, kita dapat
mengganti Persamaan (E3-8.5) dan (E3-8.6) menjadi Persamaan (E3-8.9) untuk memperoleh

95
(E3-8.10)
Nama : YULI CHLARESIA NAIBAHO

* +

Mari kita periksa untuk melihat apakah pada kesetimbangan persamaan ini mengurangi persamaan
yang sama seperti yang diperoleh dari termodinamika. Di equilibrium -rA = 0:

* +
Menata ulang,


(E3-8.8)
Itu harus sesuai dengan nilai yang dihitung dari nilai termodinamika dan itu benar!
2. Untuk volume konstan (V = V,) sistem batch, C, = N, / V, dan C, = NB / Vo. Mensubstitusikan
Persamaan (E3-8.2) dan (E3-8.3) ke dalam hukum laju, kami memperoleh tingkat penghilangan A
sebagai fungsi konversi:

* + [ ]
(E3-8.11)
Seperti yang diharapkan, ketergantungan laju reaksi pada konversi untuk batch volume konstan, ystem
[Le., Persamaan (E3-8.1 I)] berbeda dari itu untuk sistem aliran [Persamaan (E3-8. Lo) ] untuk reaksi
fase gas.
3.4. Mengungkapkan Konsentrasi dalam Ketentuan selain Konversi
Seperti yang akan kita lihat nanti di buku ini, ada beberapa contoh di mana jauh lebih mudah
untuk bekerja dalam hal jumlah mol (N ,, N,) atau laju aliran imolar (FA, F,, dll.) dari konversi.
Reaktor membran dan reaksi ganda fase gas adalah dua kasus di mana laju aliran molar dan bukan
konversi lebih disukai. Konsekuensinya, konsentrasi dalam hukum laju perlu dinyatakan dalam bentuk
laju alir molar. Kita mulai dengan mengingat dan menggabungkan Persamaan (3-40) dan (3-41):

( )

Menjadi,

(3-47)
Untuk kasus gas ideal (2 = l), konsentrasinya adalah

Substitusikan menjadi,

(3-48)
Secara umum (j = c A, B, C, D, 1)

(3-45)
dengan laju alir molar total yang diberikan sebagai jumlah laju aliran dari masing-masing spesies:

Laju alir molar setiap spesies 5 diperoleh dari keseimbangan mol pada setiap spesies. (3-49)
Contoh 3-9 Jumlah Mol PFR dalam Ketentuan Tarif Alur Molar
Mempertimbangkan kembali reaksi gas dasar yang dibahas dalam Contoh 3-8.
N2O4 2NO2

A 2B
Reaksi harus dilakukan secara isotermal (T = T,) dan isobarat (P = Po) dalam suatu PFR. Nyatakan
tingkat hukum dan keseimbangan mol dalam hal laju aliran molar.

Penyelesaian,

(E3-9.1)
96
Nama : YULI CHLARESIA NAIBAHO

Mole Balance :

(E3-9.2)
Rate Law : * + (E3-9.3)
Stokiometri :
Lalu
(E3-9.4)
Menggabungkan:
Menggunakan Persamaan (3-45) untuk menggantikan konsentrasi A dan B ketika T = To dan P = Po,
Persamaan (E3-9.3) menjadi
[ ( )]
di mana laju alir molar total hanyalah jumlah laju aliran A dan B: (E3-9.5)

dan konsentrasi total pintu masuk ke reaktor (Po, To) dihitung dari persamaan (E3-9.6)

Menggabungkan Persamaan (E3-9.5) dan (E3-9.6), kita dapatkan (E3-9.7)

[ ( ) ]
dan menggabungkan Persamaan (E3-9.2), (E3-9.4), dan (E3-9.8) menjadi, (E3-9.8)
[ ( ) ]
(E3-9.9)
Persamaan (E3-9.8) dan (E3-9.9) sekarang dapat diselesaikan secara numerik, sebaiknya oleh paket
perangkat lunak I seperti POLYMATH atau MATLAB. (Lihat Bab 4)

3.5 Reaksi dengan Perubahan Fase


Ketika Persamaan (3-36) digunakan untuk mengevaluasi E, harus diingat dari derivasi persamaan ini
bahwa 6 mewakili perubahan dalam jumlah mol dalam fase gas per mol A yang direaksikan. Sebagai
contoh terakhir dalam bab ini, er, kita mempertimbangkan reaksi fase gas di mana terjadi kondensasi.
Sebuah ujian dari kelas reaksi ini
C2H6(g) + 2Br2(g) C2H4Br2(g,l) + 2HBr(g)
Contoh lain dari perubahan fase selama reaksi adalah deposisi uap kimia (CVD), proses yang
digunakan untuk memproduksi bahan-bahan mikroelektronik. Di sini, reaktan fase gas disimpan
(analog dengan kondensasi) sebagai film tipis pada permukaan padat (lihat Soal P3-25). Salah satu
reaksi tersebut adalah produksi galonium arsenide, yang digunakan dalam chip komputer.
GaC12(g)+1/2As2(g)+H2(g) GaAs(s)+2HCl(g)
Pengembangan reaktor CVD aliran kontinyu di mana wafer padat dan gas terus menerus melewati
reaktor saat ini sedang berjalan (lihat: Bagian 10.8 dan 12.11). Kami sekarang akan mengembangkan
meja stoikiometri kami untuk reaksi dengan perubahan fasa. Ketika salah satu produk mengembun
selama reaksi, perhitungan perubahan volume atau laju aliran volumetrik harus dilakukan dengan cara
yang sedikit berbeda. Pertimbangkan reaksi isotermal anoiher:
A(g) + 2B(g) C(g) + D(g,l)
Tekanan uap spesies D pada suhu T adalah Pv ,
menanggapi fraksi mol di mana mulai kondensasi tercapai: Konsentrasi fase gas dari produk D akan
meningkat sampai
(3-50)
Begitu kejenuhan tercapai dalam fase gas, setiap mol D menghasilkan kekuatan. Untuk menjelaskan
efek dari kondensasi pada konsentrasi spesies yang bereaksi, kita sekarang menulis dua kolom untuk
jumlah mol (atau laju aliran Molar) dalam tabel stoikiometri kami (Tabel 3-5). Satu kolom memberikan
laju alir molar setiap spesies sebelum kondensasi dimulai dan kolom lainnya memberikan jumlah ini
setelah kondensasi dimulai. Kami menggunakan X, untuk merujuk pada konversi A dimana kondensasi
D dimulai. Perhatikan bahwa kita harus mengatur ulang persamaan untuk laju alir molar total untuk
menulisnya secara eksplisit dalam istilah FAo, X, dan Y ~, ~. Kami menggunakan persamaan untuk
fraksi mol dari spesies D untuk menghitung konversi di mana kondensasi dimulai.

97
Nama : YULI CHLARESIA NAIBAHO

TABLE 3-5. STOICHIOMETRIC TABLE FOR REACTION WITH CONDENSATION


A(g) + 2B(g) C(g) + D(g,l)
Jenis Memasuki Perubahan Sebelum Setelah dikondensasi
dikondensasi P0 < Pv , lalu
P0 < Pv , lalu dikeluarkan
dikeluarkan
A(g) FA0 -FA0X FA = FA0(1-X) FA0(1-X)
B(g) FB0 = 2FA0 -2FA0X FB = FA0(2-2X) FA0(2-2X)
C(g) FA0X FC = FA0X FA0X
D(g) FT0 = 3FA0 -FA0X FD = FA0X/ FT FD = Y0,eFT / FT =
= FA0(3-X) yD,eFT + 3FA0 – 2FA0X
Pecahkan FT :
FT = 2FA0(1.5-X)/(1-
yb,e)

98
Nama : Aditya Affan Herdiyanto (25)
NIM : 21030116140169

Aturan laju menjadi :


Aturan laju ini sekarang dapat digunakan untuk mendesain reaktor CSTR skala industri.

4.2.2. Desain CSTR


Dalam Bab 2 kami memperoleh persamaan desain berikut untuk CSTR :

yang memberikan volume V yang diperlukan untuk mencapai konversi X. Ketika laju aliran volumetrrc
tidak berubah dengan reaksi, (ie, v = v0,) kita dapat menulis

atau dalam hal waktu ruang,

Untuk reaksi ireversibel orde pertama, hukum laju adalah

Kita dapat menggabungkan hukum laju dan keseimbangan mol untuk menghasilkan

Menyelesaikan konsentrasi effluent dari A,CA, kita mendapatkan

Untuk kasus yang sedang kita pertimbangkan, tidak ada perubahan volume selama reaksi, jadi kita dapat
menggunakan Persamaan (3-29),

Untuk di combine dengan persamaan (4-8) untuk menghasilkan

99
Nama : Aditya Affan Herdiyanto (25)
NIM : 21030116140169

Untuk orde pertama reaksi produk τk sering disebut sebagai reaksi nomor Damkohler. Damkohler
adalah nomor berdimensi yang dapat memberi kita perkiraan cepat dari tingkat konversi yang dapat
dicapai dalam reaktor aliran kontinu. Bilangan Damkohler adalah rasio laju reaksi A dengan laju

pengangkutan konvektif A pada pintu masuk reaktor. Untuk reaksi irreversibel pertama dan kedua,
angka-angka Damkijhler adalah :
Dan
masing-masing. Penting untuk mengetahui nilai-nilai apa dari angka Dardcohler, Da, memberikan
konversi yang tinggi dan rendah dalam reaktor aliran kontinyu. Nilai Da = 0,1 atau kurang biasanya akan
memberikan konversi kurang dari 10% dan nilai Da = 10,0 atau lebih besar biasanya akan memberikan

konversi lebih dari 90%.


CSTR dalam Seri. Reaksi orde pertama tanpa perubahan volume (v = v0,) harus dilakukan dalam dua
CSTR yang ditempatkan secara seri (Gambar 4-3).
Konsentrasi effluent A dari reactor 1 adalah :
Dari kesetimbangan mol pada reaktor 2

Menyelesaikan untuk CA2, konsentrasi yang keluar dari reaktor kedua, kita mendapatkan

Jika bukan dua CSTR dalam seri kita memiliki n CSTRs berukuran sama terhubung dalam seri (τ1 = τ
2 = τn = τ) beroperasi pada suhu waras (k1 =k2 = kn = k ), konsentrasi meninggalkan reaktor terakhir
adalah
Konversi dari n reaktor tank dalam seri akan menjadi :
Plot konversi sebagai fungsi dari jumlah reaktor secara seri untuk reaksi orde pertama ditunjukkan pada

100
Nama : Aditya Affan Herdiyanto (25)
NIM : 21030116140169

Gambar 4-4 untuk berbagai nilai Damkohler.


angka zk. Amati dari Gambar 4-4 bahwa ketika produk dari waktu ruang dan laju reaksi spesifik relatif
besar, katakanlah, Da > 1, sekitar 90% konversi dicapai dalam dua atau tiga reaktor; sehingga biaya
penambahan reaktor berikutnya mungkin tidak dapat dibenarkan. Ketika produk τk kecil, Da -0.1,
konversi terus meningkat secara signifikan dengan setiap reaktor ditambahkan. Tingkat hilangnya A
dalam reaktor n adalah
CSTRs dalam Paralel. Kita sekarang mempertimbangkan kasus di mana reaktor berukuran sama
ditempatkan secara paralel daripada secara seri, dan umpan didistribusikan secara merata di antara
masing-masing reaktor (Gambar 4-5). Keseimbangan pada reaktor apapun menghasilkan

volume reaktor individual

Karena reaktor memiliki ukuran yang sama, beroperasi pada suhu yang sama, dan memiliki tingkat
umpan identik, konversi akan sama untuk setiap reaktor:

karena akan menjadi laju reaksi di setiap reaktor


Volume masing-masing reaktor, Vi, terkait dengan volume total, V; dari semua reaktor dengan
persamaan
Hubungan serupa ada untuk laju alir molar total:
Mensubstitusikan nilai-nilai ini ke dalam hasil Persamaan (4-12)

Atau

101
Nama : Aditya Affan Herdiyanto (25)
NIM : 21030116140169

Hasil ini menunjukkan bahwa konversi yang dicapai dalam salah satu dari reaktor secara paralel identik
dengan apa yang akan dicapai jika reaktan diumpankan dalam satu aliran ke satu reaktor besar volume
V!
Reaksi Orde Kedua dalam CSTR. Untuk reaksi fase cair orde kedua yang dilakukan dalam CSTR,
kombinasi dari hukum laju dan hasil persamaan desain
Untuk densitas konstan v=v0,FA0X = v0(CA0-C)

Menggunakan definisi kita dari suatu konversi, kita mendapatkan


Kita menyelesaikan persamaan (4-15) untuk konversi X
Tanda minus harus dipilih dalam persamaan kuadrat karena X tidak bisa lebih besar dari 1. Konversi
diplot sebagai fungsi parameter Damkohler,τkCA0 pada Gambar 4-6.

102
Nama : ESTER ALNINTA BASA SIAGAIN

NIM : 21030116140082

Tanda minus harus dipilih pada persamaan kuadrat karena X tidak mungkin lebih besar dari 1.
Konversi diplotkan sebagai fungsi parameter Damkohler pada gambar 4-6. Ditinjau dari gambar bahwa konversi
(katakan 70%) 10 fold meningkat pada volume reaktor (atau meningkat pada laju reaksi yang suhunya
meningkat) akan meningkatkan konversi hanya 85%. Ini merupakan konsekuensi bahwa kenyataannya CSTR
beroperasi pada kondisi konsentrasi reaktan terendah dan konsekuensinya laju reaksi menjadi paling rendah.

Contoh 4-2 Produksi 200 Juta lb per tahun dalam CSTR

Hampir 5,2 miliar lb etilen glikol diproduksi pada tahun 1995, dimana menjadi urutan ke 26 bahan kimia dengan
produksi terbanyak dalam negeri pada tahun tersebut dengan basis total lb. Sekitar 1,5 dari etilen glikol
digunakan untuk antibeku dan setengah lainnya digunakan sebagai fiber dan 12% untuk manufaktur botol dan
film. Pada tahun 1997 harga jual etilen glikol adalah 0.38 dolar per lb.

Diinginkan produksi etilen glikol sebanyak 200 juta lb per tahun. Reaktor dioperasikan secara isotermal. 1 lb
mol/ ft3 larutan etilen oksida dalam air diumpankan kedalam reaktor secara bersamaan dengan dengan larutan
volumetrik air mengandung 0,9 wt% katalis H2SO4. Jika konversi yang dicapai 80%, tentukan volume reaktor.
Berapa banyak 800-gal reaktor yang harus terpenuhi jika dipasang secara paralel? Berapa konversi yang
dicapai? Berapa banyak 800-gal reaktor yang dibutuhkan jika dipasang secara seri? Berapa konversi yang
dicapai? Konstanta laju reaksi 0.311 min-1.

Solusi:

Asumsi: etilen glikol merupakan satu-satunya produk yang terbentuk dari reaksi

Laju spesifik produksi dalam lb mol/min adalah

Dari stoikiometri reaksi


Nama : ESTER ALNINTA BASA SIAGAIN

NIM : 21030116140082

Maka dapat ditentukan bahwa laju molar etilen oksida adalah

Kita dapat menghitung volume reaktor menggunakan persamaan dibawah:

1. Desain persamaan:
(E4-2.1)
2. Laju Reaksi:
(E4-2.2)
3. Stoikiometri. Fase cair (v = v0):
(E4-2.3)
4. Kombinasi:
(E4-2.4)

Laju alir volumetri yang masuk pada stream A, dengan C A01= 1 mol/dm3 sebelum proses
pencampuran adalah

Dari pernyataan dalam soal

Total laju alir volumetrik cairan yang masuk menjadi

(7.24 dm3/s)

5. Substitusi persamaan (E4-2.4), k=0.311 min-1

Konversi 80% dapat tercapai dengan tank berdiameter 5 ft dan tinggi 10 ft.
6. CSTR disusun paralel. Untuk dua 800-gal CSTR dipasang secara paralel dengan 7.67 ft 3/min (v0/2)
diumpankan ke masing-masing reaktor, konversi dapat dihitung melalui
(E4-2.5)
Nama : ESTER ALNINTA BASA SIAGAIN

NIM : 21030116140082

Dimana

Angka Damkohler adalah

Mensubstitusikan persamaan (E4-2.5) menjadi

7. CSTR tersusun seri. Jika reaktor 800 gal disusun secara seri, maka konversi pada reaktor pertama
adalah
(E4-2.6)
Dimana

Angka Damkohler adalah

Untuk menghitung konversi keluaran reaktor kedua, kita menggunakan kembali prinsip bahwa
V1=V2=V dan v01=v02=v0 ; maka

Dengan mengkombinasikan kesetimbangan mol pada reaktor kedua dengan hukum laju reaksi, kita
dapat menentukan

( ) (E4-2.7)
Nama : ESTER ALNINTA BASA SIAGAIN

NIM : 21030116140082

Menyelesaikan konversi pada yield reaktor kedua

Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan (4-11):

Duan ratus juta pound etolen glikol per tahun dapat diproduksi menggunakan dua reaktor 800 gal yang
dipasang seri.

Dua CSTR berukuran sama yang terpasang secara seri akan menghasilkan konversi yang lebih tinggi

daripada dua CSTR yang terpasang paralel pada ukuran yang sama saat orde reaksi lebih besar dari nol.

Kita dapat menemukan informasi mengenai keselamatan etilen glikol dan senyawa-senyawa kimia
lainnya dari World Wide Web (WWW) (Tabel 4-4). Salah satu sumber yaitu Vermont Safety Information di
internet (Vermont SIRI). Sebegai contoh, kita dapat belajar dari Control Measures bahwa kita harus
menggunakan sarung tangan neoprene saat memegang material dan kita harus menghindari menghirup uap.
Bila kita mengklik “Dow Chemical USA” dan melihat Reactivity Data, kita akan menemukan bahwa ettilen
glikol akan terbakar pada udata dengan suhu 413oC.
Nama : ESTER ALNINTA BASA SIAGAIN

NIM : 21030116140082
INDRIATI KUSUMAWARDANI

klik "Dow Chemical USA" dan gulirkan Data Reaktivitas, kita akan menemukannya bahwa etilena glikol akan
menyala di udara pada 413 ° C.

4.3. Reaktor Tubular


Reaksi fase gas dilakukan terutama dalam reaktor tabung di mana aliran umumnya bergolak. Dengan
mengasumsikan bahwa tidak ada dispersi dan tidak ada gradien radial baik dalam suhu, kecepatan, atau
konsentrasi, kita dapat memodelkan aliran dalam reaktor sebagai aliran plug. Reaktor laminar dibahas
dalam Bab 13 efek disperse pada Bab 14. Bentuk diferensial dari desain persamaan :
Keseimbangan mol PFR:

harus digunakan ketika ada penurunan tekanan di reaktor atau pertukaran panas antara PFR dan
sekitarnya. Dengan tidak adanya penurunan tekanan atau panas pertukaran bentuk integral dari
persamaan desain PFR digunakan, Persamaan desain PFR:

Mengganti undang-undang tarif untuk kasus khusus dari reaksi orde kedua memberi kita, Hukum
Kecepatan Rata-Rata:

Untuk reaksi fase-gas suhu konstan dan tekanan konstan, konsentrasi dinyatakan sebagai fungsi
konversi, Stoikiometri fase gas:

Dan kemudian diganti ke dalam desain Persamaan Kombinasi:

Konsentrasi CaO yang masuk dapat diambil di luar tanda integral karena itu bukan fungsi konversi.
Karena reaksi dilakukan secara isotermal, konstanta laju reaksi spesifik, k, juga dapat diambil di luar
tanda integral.Untuk reaksi isotermal, k adalah konstan:

Dari persamaan integral dalam Appendix A.1, kami menemukan Volume reaktor untuk pesanan kedua
reaksi fase-gas:

Jika kita membagi kedua sisi Persamaan (4-17) dengan luas penampang reaktor A, kita memperoleh
persamaan berikut yang berhubungan dengan panjang reaktor untuk konversi:

Sebuah plot konversi sepanjang reaktor ditampilkan untuk empat berbeda reaksi dan nilai E pada
Gambar 4-7 untuk mengilustrasikan efek volume, Pentingnya Perubahan dalam laju alir volumetrik
(mis., E≠0) dengan reaksi
INDRIATI KUSUMAWARDANI

Gambar 4-7 Konversi sebagai fungsi jarak ke bawah reaktor.

berubah pada parameter reaksi. Nilai parameter umum berikut adalah dipilih untuk sampai pada kurva
ini:

Kami mengamati dari gambar ini bahwa untuk parameter tingkat-hukum identik, reaksi yang memiliki
penurunan jumlah total tahi lalat (yaitu, c = -0,5) pilih konversi tertinggi untuk panjang reaktor tetap.
Hubungan ini seharusnya diharapkan untuk suhu dan tekanan tetap karena laju aliran volumetrik,

menurun dengan meningkatnya konversi, dan reaktan menghabiskan lebih banyak waktu di reaktor dari
reaktan yang tidak menghasilkan perubahan bersih dalam jumlah total mol (mis., .A + B dan E = 0).
Demikian pula, reaktan yang menghasilkan peningkatan jumlah total mol pada reaksi (misalnya, E = 2)
akan menghabiskan lebih sedikit waktu dalam reaktor dari reaktan reaksi yang E adalah nol atau
negatif.

Contoh 4-3 Mengabaikan Perubahan Volume dengan Reaksi


Reaksi Cracking fase gas
A → 2B+C
harus dilakukan dalam reaktor tubular. Reaksinya adalah orde kedua dan parameter nilainya sama
dengan yang digunakan untuk membangun Gambar 4-7. Jika 60% konversi diinginkan, kesalahan apa
yang akan terjadi jika perubahan volume diabaikan (E = 0) dalam menentukan ukuran reaktor?

Penyelesaian
Dalam Fiigure E4-3.1 (diambil dari Gambar 4-3, kita melihat bahwa panjang reaktor 1,5 m adalah
dituntut untuk mencapai 60% konversi untuk E = 0. Namun, dengan benar untuk akuntansi voluine
change [E = (1) (2 + 1 - 1) = 23, kita melihat bahwa panjang reaktor 5,0 m akan diperlukan. Jika kami
telah menggunakan reaktor 1,5-m-panjang, kami akan mencapai hanya 40% konversi.
INDRIATI KUSUMAWARDANI

Gambar E4-3.1

Contoh 4-4. Menghasilkan 300 Juta Pound per Tahun dari Etilen dalam a

Plug-Flow Reactor: Desain Reaktor Tubular Skala Penuh Ethylene menempati urutan keempat di
Amerika Serikat dalam total pon bahan kimia yang diproduksi setiap tahun dan itu adalah kimia
organik nomor satu yang diproduksi setiap tahun. Lebih dari 35 miliar pound diproduksi pada tahun
1997 dan dijual seharga $ 0,25 per pon. Enam puluh lima persen etilen yang diproduksi digunakan
dalam pembuatan plastik yang dibuat, 20% untuk etilena oksida dan etilena glikol, 5% untuk serat, dan
5% untuk pelarut.
Tentukan volume reaktor plug-flow yang diperlukan untuk menghasilkan 300 juta ton ethylene setahun
dari retak aliran umpan etana murni. Reaksinya tidak dapat diubah dan mengikuti hukum tingkat dasar.
Kami ingin mencapai 80% konversi etana, mengoperasikan reaktor secara isotermal pada 1100 K pada
tekanan 6 atm.
Penyelesaian
C2H6 → C2H4 + H2
Untuk A = C2H6, B= C2H4, dan C= H2. Dalam simbol
A→B+C
Laju alir molar dari etilen yang keluar dari reaktor adalah

Selanjutnya hitung tingkat molar umpan etana. Untuk menghasilkan 0,34 lb mol / s etilena ketika
konversi 80% tercapai,

1. Persamaan desain plug-flow :

Menata ulang dan mengintegrasikan untuk kasus tidak ada penurunan tekanan dan isotermal hasil
operasi
INDRIATI KUSUMAWARDANI

2. Hukum Kecepatan Rata-Rata

Energi aktivasi adalah 82 kkal / g mol.

3. Stoikiometri
Untuk operasi isotermal dan penurunan tekanan yang dapat diabaikan, Konsentrasi etana dihitung
sebagai berikut:
Fasa gas, T dan P konstan:

4. Kita sekarang menggabungkan Persamaan (E4-4.1) hingga (E4-4.3) untuk didapatkan:

Karena reaksi dilakukan secara isotermal, kita dapat mengambil k di luar tanda integral dan
menggunakan Apendiks A.l untuk menentukan integrasi kita.

5. Evaluasi parameter:

Kita perlu menghitung k pada 1100 K.

Substitusi ke dalam Persamaan (E4-4.6) menghasilkan


Nama : Samuel Petrick Pradana

Diputuskan untuk menggunakan 2-in. Schedule 80 pipa secara paralel dengan panjang 40 kaki.
Untuk Schedule pipa 80, luas penampang adalah 0,0205 ft2. Jumlah pipa yang diperlukan adalah

Persamaan (E4-4.7) digunakan bersama dengan Ac = 0,0205 ft2 dan Persamaan $ (M-4.3) dan (M-
4.4) untuk memperoleh Gambar € 3-4.1. Menggunakan bank berisi 100 pipa akan memberi kita reaktor

volume yang diperlukan untuk membuat 300 juta pon per tahun etilen dari etana. Konsentrasi dan
profil konversi turun setiap salah satu pipa ditampilkan Gambar E4-4.1.

4.4 Penurunan Tekanan dalam Reaktor

Penurunan tekanan diabaikan untuk perhitungan kinetika fase cair


Nama : Samuel Petrick Pradana

Dalam reaksi fase cair, konsentrasi reaktan tidak terpengaruh secara signifikan oleh bahkan
perubahan yang relatif besar pada tekanan total. Akibatnya, kita benar-benar dapat mengabaikan efek penurunan
tekanan pada laju reaksi ketika mengukur reaktor kimia fase cair. Namun, dalam reaksi fase-gas, konsentrasi
spesies yang bereaksi sebanding dengan tekanan total dan akibatnya, akuntansi yang tepat untuk efek penurunan
tekanan pada sistem reaksi dapat, dalam banyak contoh, menjadi faktor kunci dalam keberhasilan atau
kegagalan. dari operasi reaktor.
4.4.1 Penurunan Tekanan dan Hukum Nilai
Kami sekarang memfokuskan perhatian kami pada akuntansi untuk penurunan tekanan dalam hukum
laju. Untuk gas ideal, konsentrasi spesies yang bereaksi adalah
Untuk penurunan tekanan reaksi fase gas mungkin sangat penting

Untuk operasi isotermal

Kita sekarang harus menentukan rasio PlP, sebagai fungsi volume V atau berat katalis, W, untuk
memperhitungkan penurunan tekanan. Kami kemudian dapat menggabungkan korisenter, hukum laju, dan
persamaan desain. Namun, setiap kali memperhitungkan efek penurunan tekanan, bentuk diferensial dari
keseimbangan mol (persamaan desain) harus digunakan

Jika, misalnya, reaksi isomerisasi orde dua


A B

sedang dilakukan dalam reaktor packed-bed, bentuk diferensial dari persamaan keseimbangan mol dalam hal
berat katalis adalah

Catatan dari Persamaan (4-20) bahwa semakin besar tekanan menjatuhkan P yang lebih kecil dari
kerugian gesekan, semakin kecil laju reaksi!
Menggabungkan Persamaan (4-20) dengan keseimbangan mol (2-17) dan dengan asumsi operasi
isotermal (T = To) memberi
Nama : Samuel Petrick Pradana

Untuk operasi isotermal (T = To) sisi kanan adalah fungsi dari hanya konversi dan tekanan:

Kita sekarang perlu menghubungkan penurunan tekanan dengan berat katalis untuk menentukan konversi
sebagai fungsi berat katalis.

4.4.2 Aliran Melalui Tempat Tidur Yang Dikemas


Sebagian besar reaksi fase-gas dikatalisis dengan melewatkan reaktan melalui tempat tidur penuh
partikel katalis. Kesamaan yang paling penting untuk menghitung penurunan tekanan di tempat tidur berpori
yang padat adalah persamaan Ergun: 2

di mana P = tekanan, Ib / ft2


g, = 32,174 lb,. ft / s2. lb, (faktor konversi) = 4,17 X lo8 lb, * ft / h2 lbf (ingat bahwa untuk sistem
metrik g, = 1,0)

Dp = diameter partikel di tempat tidur, ft

p = viskositas gas yang melewati tempat tidur, lb, / ft h


z = panjang di bawah tempat tidur pipa yang dikemas, ft
u = kecepatan superfisial = aliran volumetrik f luas penampang pipa, ft / jam
p = densitas gas, Ib / ft3
G = pu = kecepatan massa superfisial, (g / cm2. S) atau (lb, / ft2 8 h)
Nama : Samuel Petrick Pradana

Dalam menghitung penurunan tekanan menggunakan persamaan Ergun, satu-satunya parameter yang
bervariasi dengan tekanan pada sisi kanan Persamaan (4-22) adalah densitas gas, p. Kami sekarang akan
menghitung penurunan tekanan melalui tempat tidur.

Karena reaktor dioperasikan pada kondisi mantap, laju aliran massa pada setiap titik di bawah
reaktor, riz (kg / s), sama dengan laju aliran massa masuk, rizo
(yaitu, persamaan kontinuitas),

Untuk reaktor tubular packed-bed, kami lebih tertarik pada berat katalis daripada jarak z ke bawah
reaktor. Berat katalis hingga jarak z ke bawah reaktor adalah

dimana A, adalah area cross-sectional. Berat jenis katdist, pb (massa katalis per volume tempat tidur
reaktor), hanyalah produk dari densitas padat, pc, fraksi padatan, (1 - $):
Nama : Samuel Petrick Pradana

Menggunakan hubungan antara z dan W [Persamaan (4-26)] kita dapat mengubah variabel kita untuk
menyatakan persamaan Ergun dalam hal berat katalis:
Nama : Indri Arum Cahyani
NIM : 21030116140177

Bagian 4.4 pressure drop di reaktor


Persamaan (4-28) akan menjadi salah satu yang kita gunakan ketika beberapa reaksi terjadi atau ketika ada
penurunan tekanan dalam reaktor membran. Namun, untuk reaksi tunggal dalam reaktor packed-bed lebih mudah
untuk menggunakan persamaan Ergun dalam hal konversi X. Mengingat Persamaan (3-42) untuk F𝜏

dan perkembangan menuju Persamaan (3-43),

dimana, seperti sebelumnya,

Persamaan (4-28) sekarang dapat ditulis sebagai

Bentuk penuruna dari


persamaan Ergun untuk
pressure drop di packed bed

Kami mencatat bahwa ketika 𝜀 negatif pressure drop ∆𝑃 akan berkurang, dari itu untuk 𝜀 =0. Ketika 𝜀 positif
pressure drop ∆𝑃 akan lebih besar daripada 𝜀 =0.
Untuk operasi isotermal, Persamaan (4-30) hanya fungsi konversi dan tekanan:

Mengingat Persamaan (4-21),

Dua persamaan yang


digabungkan diselesaikan secara
numerik

kita melihat bahwa kita memiliki dua persamaan diferensial orde pertama yang digabungkan, (4-31) dan (4-21),
yang harus diselesaikan secara bersamaan.
Solusi analitis. Jika 𝜀 = 0 atau jika kita dapat mengabaikan 𝜀𝑋 dengan io 1.0 (i.e 1 ≫ 𝜀𝑋) kita dapat memperoleh
solusi analitik persamaan (4-30) untuk operasi isotermal (Le., T=T0) Untuk operasi isotermal 𝜀 = 0 persamaan
4-30 menjadi

Isotermal
dengan 𝜀 = 0
Pindah ruas sehingga mengasilkan

Mengambil P/P0 di dalam turunan, kami punya

Mengintegrasikan dengan P = P0 dengan W = 0


Nama : Indri Arum Cahyani
NIM : 21030116140177

Mengambil akar kuadrat dari kedua sisi

Rasio tekanan hanya


untuk 𝜀 = 0

Dimana

Persamaan (4-33) dapat digunakan untuk menggantikan tekanan dalam laju, dalam hal ini keseimbangan mol
dapat ditulis sebagai fungsi konversi dan berat katalis. Persamaan yang dihasilkan dapat dengan mudah
diselesaikan baik analitik atau numerik.
Jika kita ingin tekanan dalam hal panjang reaktor z, kita dapat menggunakan Persamaan (4-26) untuk
menggantikan persamaan (4-33). Kemudian

Contoh 4-5 Menghitung pressure drop di packed bed


Hitung pressure drop dari 60ft 1 ½ in, pipa schedule 40 dengan katalis pelet ¼ in, ketika 104,4 lb/h dari gas
melewati bed, suhu konstan sepanjang pipa 260℃. Fraksi kosongnya adalah 45% dan sifat-sifat gas mirip dengan
udara pada suhu ini. Tekanan yang masuk adalah 10 atm.
Solusi
Pada akhir reaktor z = L dan Persamaan (4-34) menjadi

Evaluasi parameter
pressure drop

Untuk 1 ½ in schedule pipa 40, A= 0,01414 ft2

Untuk udara pada 260℃ dan 10atm

Dari pernyataan masalah,


Nama : Indri Arum Cahyani
NIM : 21030116140177

Mengganti nilai-nilai di atas ke dalam Persamaan (4-25)

Reaksi dengan pressure drop


Solusi analitik: Sekarang kita telah menyatakan tekanan sebagai fungsi dari berat katalis [Persamaan (4-33)] kita
dapat kembali ke reaksi isotermal orde dua,

untuk menghubungkan konversi dan berat katalis. Ingat keseimbangan mol, laju, dan stoikiometri kita

Stochiometry: Reaksi isotermal fase gas dengan 𝜀 = 0

Menggunakan Persamaan (4-33) untuk menggantikan P/P, dalam hal berat katalis, kita dapatkan

Hanya untuk 𝜀 = 0

Dengan X=0 ketika W=0 dan subtitusi untuk FA0=CA0 V0

Memcahkan untuk konversi


Nama : Indri Arum Cahyani
NIM : 21030116140177

Memecahkan untuk berat katalis,kita punya

Kami sekarang melanjutkan (Contoh 4-6) untuk menggabungkan pressure drop dengan reaksi di packed bed untuk
kasus di mana kita akan mengaitkan bahwa EX ≪ 1 dalam persamaan Ergun tetapi tidak dalam laju untuk
mendapatkan solusi analitik. Contoh 4-7 menghilangkan asumsi ini dan memecahkan Persamaan (4-21) dan (4-
31) secara numerik.
Contoh 4-6 Menghitung Xdi sebuah reaktor dengan pressure drop
Sekitar 7 miliar pon etilena oksida diproduksi di Amerika Serikat pada tahun 1997. Harga jual tahun 1997 adalah
$ 0,58 per pon, sebesar komersial nilai $ 4,0 miliar. Lebih dari 60% etilena oksida yang dihasilkan digunakan
untuk membuat etilen glikol. Penggunaan utama dari etilena oksida adalah antibeku (30%), poliester (30%),
surfaktan (lo%), dan pelarut (5%). Kami ingin menghitung berat katalis yang diperlukan untuk mencapai konversi
60% ketika etilena oksida dibuat oleh oksidasi katalitik fase uap dari etilena dengan udara.

Etilena dan oksigen dimasukkan dalam proporsi stoikiometri ke reaktor packed-bed yang dioperasikan secara
isotermal pada suhu 260 ° C. Etilena diumpankan dengan kecepatan 0,30 Ibmol/detik pada tekanan 10 atm.
Diusulkan untuk menggunakan 10 banks dengan 1 ½ in diameter schedule 40 dengan katalis 100 tubes per bank.
Akibatnya, laju alir molar untuk masing-masing tabung adalah 3 x 10-4 lb mol/detik. Sifat-sifat cairan yang
bereaksi harus dianggap identik dengan udara pada suhu dan tekanan ini. Densitas dari katalis dalam ¼ in adalah
120 lb/ft3 dan fraksi kosong 0,45. Laju nya adalah

Dengan
Nama : Yohanes Marino

Solusi

1. Diferensialkan persamaan mol

(E4-6.1)

2. Hukum laju

(E4-6.2)

(E4-6.3)

3. Stokiometri. Fase gas, isothermal

(E4-6.4)

(E4-6.5)

4. Menggabungkan hukum laju dan konsentrasi


(E4-6.6)

(E4-6.7)

Untuk masukan stokiometri


(E4-6.8)

5. Membuat persamaan. Untuk reactor packed-bed, hubungan antara P dan W saat eX <
1 adalah
(4-33)

(Diperhatikan karena persamaan akan dicek seperti contoh 4.7.). Menggabungkan


persamaan (E4-6.8) dan (4-33) akan memberikan

(E4-6.9)

Menggabungkan persamaan (E4-6.9) dan )E4-6.2), kita mendapatkan

Memisahkan variabel menjadi bentuk integral yields


Nama : Yohanes Marino

Mengintegralkan memberikan

(E4-6.10)
Menyelesaikan W, kita mendapatkan
(E4-6.11)

6. Parameter evaluasi per tube (contohnya membagi laju alir masuk dengan 1000):

Etilen
Oksigen

I=inert=N2

Dijumlahkan

Untuk konversi 60%, persamaan (E4-6.11) menjadi

(E4-6.12)

Untuk menghitung ά,

Kita perlu kecepatan massa superficial, G. kecepatan laju massa yang memasuki tiap
spesies adalah:
Nama : Yohanes Marino

Total kecepatan massa adalah:

Hampir sama dengan kecepatan massa superficial, temperature, dan tekanan seperti
contoh 4-5. Karena itu, kita dapat menggunakan nilai β 0 terhitung dari contoh 4-5.

Mensubstitusi menjadi persamaan (E4-6.12)

= 45.4 lb katalis per tube


Atau 45400 lb katalis total
Berat katalis ini sesuai dengan penurunan tekanan sekitar 5 atm. Jika kita
mengabaikan penurunan tekanan, hasilnya pasti menjadi:

= 35.3 lb katalis per tube (tidak memperhatikan pressure drop).


dan kita akan memiliki katalis yang tidak cukup untuk mencapai konpersi yang
diinginkan. Mengganti berat katalis ini (yaitu 35.300 Ib total) ke dalam Persamaan
(E4-6.10) memberikan konversi hanya 53%.

Contoh 4-7 Pressure Drop dengan reaksi – solusi numerical

Pengerjaan ulang Contoh 4-6 untuk kasus di mana perubahan volume tidak diabaikan
dalam persamaan Ergun dan dua persamaan diferensial gabungan yang
menggambarkan variasi konversi dan preasure dengan berat katalis diselesaikan
secara numerik.
Nama : Yohanes Marino

Solusi
Daripada mendapatkan kembali semuanya mulai dari hukum keseimbangan mol,
stokiometri, dan persamaan penurunan tekanan, kita akan menggunakan persamaan
yang dikembangkan dalam contoh 4-6 Menggabungkan Persamaan (E4 6.1) dan (E4-
6.8) memberikan:

(E4-7.1)

Menggunakan kembali persamaan (422) dan mengasumsi operasi isothermal akan


memberikan:
(E4-7.2)

Lalu kita mendapatkan

Persamaan (E4-7.1) dan (E4-7.2) dapat ditulis sebagai berikut:

(E4-7.3)

(E4-7.4)

Untuk kondisi reaksi yang diuraikan dalam Contoh 4-6, kita memiliki kondisi batas W = 0, X
= 0, dan y = 1.0 dan nilai parameter ά=0.0166/lbkatalis,E= -0.15, k’=0.0266 lb mol/h.lb cat,
dan FA0=1.08 lb mol/h.
Sejumlah besar perangkat pemecah persamaan diferensial (yaitu, pemecah ODE) yang
sangat ramah pengguna telah tersedia. Kita akan menggunakan POLYMATH4 untuk
memecahkan contoh dalam teks tercetak. Namun, CD-ROM berisi contoh yang
menggunakan ASPEN, serta semua program solusi MATLAB dan PlOLYMATH ke contoh
proprams. Dengan satu POLYMATH sederhana memasuki Persamaan (E4-7.3) dan (E4-7.4)
dan nilai parameter yang sesuai ke dalam komputer (Tabel E4-7.1 1 dengan kondisi awal
(awal, batas) dan mereka dipecahkan dan ditampilkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar
E4-7.1,
Kami mencatat bahwa mengabaikan EX dalam persamaan Ergun di Contoh 4-6 (EX =
-0.09) untuk mendapatkan solusi analitikai menghasilkan kesalahan kurang dari 10%

Tabel E4-7.1. Layar POLYMATH menunjukan persamaan yang di ketik dan siap untuk
diselesaikan.
Nama : Yohanes Marino

Gambar E4-7.1 Profile laju reaksi dengan PBR


Namun, kesalahan yang lebih besar akan terjadi jika nilai EX yang besar diabaikan!
Dengan memperhatikan bagian perubahan dalam laju alir volumetrik (yaitu E = -0,15)
dalam tekanan drop, kita melihat bahwa 44,0 lb katalis diperlukan per tabung
dibandingkan dengan 45,4 lb ketika E diabaikan dalam solusi analitik, Persamaan (E4-
7.4). Mengapa lebih sedikit katalis diperlukan ketika E tidak diabaikan dalam
Persamaan (E4-7.4)? Alasannya adalah solusi numerik menyumbang fakta bahwa
penurunan tekanan akan kecil karena E negatif.
Nama : Anita Kusuma

Juga menarik untuk mempelajari apa yang terjadi pada laju alir volumetrik sepanjang panjang
reaktor. Mengingat Persamaan (3-44),

Kami membiarkan f adalah rasio laju alir volumetrik, u, dengan aliran volumetrik yang masuk tingkat,
uo, pada titik mana pun di bawah reaktor. Untuk Persamaan operasi isotermal (3-44) menjadi

Rgure E4-7.2 menunjukkan X, y (i.e., y = P / Po), dan f ke bawah panjang reaktor. Kita melihat bahwa
baik konversi dan aliran volumetrik meningkat sepanjang reaktor saat tekanan menurun. Untuk
reaksi fase gas dengan pesanan lebih besar dari nol, penurunan tekanan ini akan menyebabkan laju
reaksi menjadi kurang dari pada kasus tidak ada penurunan tekanan.

Kami mencatat dari Gambar W-7.2 bahwa berat katalis perlu ditingkatkan konversi 1% terakhir dari
65% menjadi 66% (3,5 lb) adalah 8,5 kali lebih banyak daripada bahwa (0,41 lb) diperlukan untuk
menaikkan konversi 1% di pintu masuk reaktor. Juga, selama peningkatan 5% terakhir dalam
konversi, tekanan menurun dari 3,8 atm hingga 2,3 atm.

4.4.3 Reaktor Spacer-Packed-Bed

Ketika pelet katalis kecil dibutuhkan, penurunan tekanan bisa signifikan. Dalam Exa ~ iiple4 -6 kami
melihat bahwa cacat desain yang signifikan dapat terjadi jika tekanan drop diabaikan atau jika
langkah-langkah tidak diambil untuk meminimalkan penurunan tekanan. Satu jenis reaktor yang
meminimalkan penurunan tekanan dan juga murah untuk dibangun adalah reaktor bulat,
ditunjukkan pada Gambar 4-8. Dalam reaktor ini, disebut ultraformer, reaksi dehidrogenasi seperti
Nama : Anita Kusuma

dilakukan.

Keuntungan lain dari reaktor bulat adalah bahwa mereka adalah yang paling ekonomis bentuk untuk
tekanan tinggi. Sebagai perkiraan pertama kita akan menganggap itu cairan bergerak turun melalui
reaktor di plug Bow. Akibatnya, karena dari peningkatan luas penampang, A ,, sebagai cairan
memasuki bola, yang kecepatan superfisial, G = riz / A ,, akan berkurang. Dari persamaan Ergun
(4.22)

kita bagaimana dengan menurunkan G, penurunan tekanan akan berkurang secara signifikan,
menghasilkan konversi yang lebih tinggi. Karena luas penampang reaktor kecil di dekat saluran
masuk dan outlet, kehadiran katalis di sana akan menyebabkan penurunan tekanan substansial;
sehingga mengurangi efisiensi reaktor bulat. Untuk mengatasi masalah ini, layar untuk menahan
katalis ditempatkan dekat pintu masuk reaktor dan exii. (Angka 4-9 dan 4-10). Apakah L adalah lokasi
layar dari pusat
Nama : Anita Kusuma

reaktor. Kita dapat menggunakan geometri dasar dan kalkulus integral untuk mendapatkan berikut
ekspresi untuk luas penampang dan berat katalis sebagai fungsi variabel yang didefinisikan pada
Gambar 4-10:

Dengan menggunakan rumus-rumus ini dan algoritma penurunan tekanan standar, seseorang dapat
memecahkan berbagai masalah reaktor bola. Perhatikan bahwa Persamaan (4-38) dan (4-39)
memanfaatkan L dan bukan L '. Dengan demikian, seseorang tidak perlu menyesuaikan formula ini
untuk memperlakukan reaktor bola yang memiliki jumlah ruang kosong yang berbeda pintu masuk
dan keluar (yaitu, L # L '). Hanya batas atas kebutuhan integrasi untuk diubah, zf = L + L '.

Contoh 4-8 Reaksi Dehidrogenasi dalam Reaktor Bola

Reaktor reaktor digunakan untuk meningkatkan jumlah oktan minyak bumi. Di sebuah proses
reformasi 20.000 barel minyak bumi akan diproses per hari. Yang sesuai massa dan tingkat pakan
molar adalah 44 kg / s dan 440 mol, masing-masing. Dalam pembaharu, reaksi dehidrogenasi seperti

terjadi. Reaksi adalah orde pertama dalam parafin. Asumsikan bahwa parafin murni memasuki
reactor pada tekanan 2000 kPa dan konsentrasi yang sesuai 0,32 mol / dm3. Bandingkan
pressure'drop dan konversi ketika reaksi ini dilakukan dalam tubular tempat tidur dikemas dengan
diameter 2,4 m dan panjang 25 m dengan bungkusan bulat tempat tidur dengan diameter 6 m. Berat
katalisnya sama pada setiap reaktor, 173.870 kg.

Informasi tambahan:

Pembahasan:
Nama : Anita Kusuma

Kami mulai dengan melakukan keseimbangan mol atas inti silindris dari ketebalan Az ditunjukkan
pada Gambar E4-8.1.

I. Keseimbangan mol:

Dalam hal konversi

Dimana;

Noie yang yAo (y dengan subscript) mewakili fraksi mol dan y sendiri mewakili rasio
tekanan, PIPo. Variasi dalam tekanan berdimensi, y, diberikan dengan memasukkan
variabel y dalam Persamaan (4-24):
Nama: Alif Al Faris Maulana

NIM: 21030116140091

172-176

Evaluasi parameter

Memanggil ulang gc = 1 untuk unit metrik

[ ] * +
( )

(E4-8.11)

* ( ) + ( )

(E4-8.12)

Istilah terakhir dalam, tanda kurung mengkonversi (kg/dm2 s) menjadi (kPa/dm). Memanggil parameter, m = 44
kg/s, L = 27 dm, R = 30 dm, dan Pcat = 26 kg/dm3.

Tabel E4-8.1 menunjukkan polimatika untuk mencari persamaan. Program MATLAB merupakan
contoh pada CD-ROM

Tabel E4-8.1 Program Polimatika

Persamaan Initial Values


d(X)/d(z)=-ra*Ac/FaQ 0
d(y)/d(z)=-beta/Po/y*(1+X) 1
FaQ=440
Po=2000
Ca0=0.32
R=30
phi=0.4
kprime=0.02
L=27
rhocat=2.6
m=44
Ca=Ca0*(1-X)*y/(1+X)
Ac=3.1416*(R^2-(2-L)^2)
V=3.1416*(z*R^2-1/3*(z-L)^3-1/3*L^3
G=m/Ac
ra=-kprime*Ca*rhocat*(1-phi)
beta=(98.87*G+25630*G^2)10.01
W=rhocat*(5-phi)*V
z0=0, zf=54

Untuk reaktor bulat, konversi dan tekanan saat keluar adalah

X = 0.81 P = 1980 kPa

Jika perhitungan serupa dilakukan untuk reaktor tubular packed-bed (PBR), kita menemukan bahwa untuk berat
katalis yang sama, konversi dan tekanan pada pintu keluar adalah

X = 0.71 P =308 kPa


Nama: Alif Al Faris Maulana

NIM: 21030116140091

Gambar E4-8.2 menunjukkan bagaimana konversi, X, dan tekanan tanpa dimensi, y, bervariasi dengan berat
katalis di setiap reaktor. Di sini X1, dan y1 mewakili reaktor tubular dan X2,

Gambar E4-8.2 Tekanan dan konversi untuk: 1. tubular PBR; 2. Reaktor bola PBR

dan y2 mewakili reaktor bulat. Selain konversi yang lebih tinggi, reaktor bola memiliki manfaat ekonomi
mengurangi biaya pemompaan dan kompresi karena tekanan yang lebih tinggi di keluarannya.

Karena penurunan tekanan dalam reaktor bulat sangat kecil, seseorang dapat meningkatkan laju aliran reaktan
secara signifikan dan tetap mempertahankan tekanan yang memadai di pintu keluar. Bahkan, Amoco
menggunakan reaktor dengan spesifikasi serupa untuk memproses 60.000 barel naphtha minyak bumi per hari.

4.4.4 Pressure Drop pada Pipa

Penurunan tekanan untuk gas yang mengalir melalui pipa tanpa packing dapat diabaikan. Untuk aliran dalam
pipa, penurunan tekanan sepanjang pipa di tunjukkan dengan:

Dimana,

D = diameter pipa, cm

u = rata-rata kecepatan gas, cm/s

f = faktor gesekan udara

G = ρu, g/cm2 s

Faktor gesekan adalah fungsi dari bilangan reynolds dan kekasaran pipa. Kecepatan massa G adalah konstan
sepanjang panjang pipa. Ganti u dengan G/ρ, dan masukkan ke persamaan (4-23) untuk T dan FT konstan.
Persamaan (4-40) menjadi

Integrasikan dengan limits P = P0 ketika L = 0, dan asumsi bahwa f tidak berubah. Maka, kita dapat

Abaikan bagian kedua disisi kanan, maka


Nama: Alif Al Faris Maulana

NIM: 21030116140091

Jika disusun, maka

* +

(4-41)

Dimana

Untuk kondisi aliran yang ada pada Contoh 4-4 dalam panjang 1000 ft dari 1.5 in. Jenis 40 pipa ( =0,0118),
pressure drop-nya kurang dari 10%.

4.5 Sintetis Chemical Plant

Pelajari dengan cermat dari berbagai reaksi, reaktor, dan aliran molar reaktan dan produk yang digunakan dalam
contoh masalah dalam bab ini, mengungkapkan bahwa itu dapat diatur untuk membentuk pabrik kimia untuk
menghasilkan 200 juta pon etilen glikol dari bahan baku 402 juta pound per tahun etana. Flowsheet untuk
pengaturan reaktor bersama dengan laju alir molar ditunjukkan pada Gambar 4-1 1. Di sini 0,425 lb mol etana
diumpankan ke 100 tubular plug-flow reaktor yang terhubung secara paralel; volume totalnya adalah 81 ft 3
untuk menghasilkan 0,24 lb mol etilen (lihat Contoh 4-4). Campuran reaksi kemudian diumpankan ke unit
pemisahan di mana 0,04 lb mol etilen hilang dalam proses pemisahan dalam aliran etana dan hidrogen yang
keluar dari separator. Proses ini memberikan laju alir molar etilena 0,3 lb mol / s yang memasuki reaktor
katalitik packed-bed bersama dengan 0,15 lb mol O2 dan 0,564 lb mol / s N 2. Ada 0,18 Ib mol /s etilena oksida
(lihat Contoh 4-6) yang diproduksi dalam 1000 pipa yang disusun secara paralel dan dikemas dengan pelet
katalis berlapis perak. Ada 60% konversi dicapai di setiap pipa dan berat total katalis di semua pipa adalah
45.400 lb. Aliran limbah dialirkan ke pemisah di mana 0,03 lb mol /s etilena oksida hilang. Aliran oksida etilen
kemudian dihubungi dengan air dalam penyerap gas untuk menghasilkan larutan etilena oksida 1-lb mol/ft3
dalam air. Dalam proses absorpsi, 0,022 lb mol/s etilen oksida hilang. Larutan etilena oksida diumpankan ke
CSTR 197-ft3 bersama dengan aliran 0,9% berat larutan H2S04 untuk menghasilkan etilen glikol.
Nama: Alif Al Faris Maulana

NIM: 21030116140091

pada tingkat 0,102 Ib mol / s (lihat Contoh 4-2). Angka ini setara dengan sekitar 200 juta pon ethylene glycol
per tahun.

Keuntungan dari pabrik kimia akan menjadi selisih antara pendapatan dari penjualan dan biaya untuk
memproduksi bahan kimia. Rumus perkiraan mungkin

Keuntungan = jumlah produk – biaya reaktan – biaya operasi – biaya separasi

Biaya operasi termasuk biaya energi, tenaga kerja, overhead, dan penyusutan peralatan. Anda akan mempelajari
lebih lanjut tentang biaya ini pada mata kuliah di atas. Sementara sebagian besar, jika tidak semua aliran dari
separator dapat didaur ulang, mari kita pertimbangkan apa untungnya jika aliran itu tidak diperbaiki. Juga, mari
kita secara konservatif memperkirakan biaya operasi dan lainnya menjadi $ 8 juta per tahun dan menghitung
laba, instruktur desain Anda mungkin memberi Anda jumlah yang lebih baik. Harga etana, asam sulfat, dan
etilen glikol masing-masing adalah $ 0,04, $ 0,043, dan $ 0,38 per pon. Lihat "http://www.chemweek.com/"
untuk harga saat ini.

Untuk feed 4 juta pound per tahun dan tingkat produksi 2 juta pound ethylene glycol per tahun:

( ) ( ) ( )

Dengan menggunakan $52 juta setahun sebagai perkiraan kasar dari laba, Anda sekarang dapat membuat
perkiraan yang berbeda tentang konversi, pemisahan, daur ulang aliran, dan biaya operasi untuk mempelajari
bagaimana mereka mempengaruhi laba.

4.6 Menggunakan CA (liquid) dan FA (gas) dengan Keseimbangan Mol dan Hukum Laju.

Ada beberapa contoh agar jauh lebih mudah untuk bekerja dalam hal jumlah mol (NA, NB) atau tingkat aliran
molar (FA, FB dll) daripada konversi. Reaktor-reaktor membran dan berbagai reaksi yang terjadi di dalam fase
gas adalah dua kasus di mana laju aliran molar dan bukan konversi lebih disukai. Dalam Bagian 3.4 kami
menjelaskan bagaimana kami dapat menyatakan konsentrasi dalam hal laju aliran molar dari spesies yang
bereaksi daripada konversi. Kami akan mengembangkan algoritma kami menggunakan konsentrasi (cairan) dan
laju aliran molar (gas) sebagai variabel dependen kami. Perbedaan utamanya adalah ketika konversi digunakan
sebagai variabel kami untuk menghubungkan satu konsentrasi spesies dengan konsentrasi spesies lain, kami
perlu menulis keseimbangan mol hanya pada satu spesies, basis perhitungan kami. Ketika laju alir molar dan
konsentrasi digunakan sebagai variabel kita, kita harus menulis keseimbangan mol pada setiap spesies dan
kemudian menghubungkan keseimbangan mol satu sama lain melalui tingkat reaksi relatif; untuk

A+ +

(2-2)
177
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

Kita memiliki

(2-20)

Reaksi (2-2) akan digunakan bersama dengan hukum laju secara umum

(5-2)

Untuk mengembangkan algoritma ketika C i (cair) dan Fi (gas) digunakan sebagai


variabel sistem.

4.6.1 CSTRs, PFRs, PBRs, dan Batch Reaktor

Fase Cair. Untuk reaksi fase cair dimana tidak ada perubahan volume,
konsentrasi adalah variabel yang disukai. Kesetimbangan mol ditunjukan pada
tabel dalam bentuk konsentrasi untuk empat tipe reaktor yang telah kita
diskusikan. Kita lihat dari tabel 4-5 bahwa kita hanya untuk menspesifikasi nilai
parameter system . Dan untuk hokum kecepatan ( ) untuk
menyelesaikan persamaan diferensial biasa untuk reactor PFR, PBR atau Batch
atau untuk menyelesaikan persamaan aljabar untuk reactor CSTR.

Tabel 4-5. Neraca mol untuk reaksi fase cair

Batch dan

CSTR dan

PFR dan ⁄

WR dan

Fase Gas. Untuk reaksi fase gas, neraca mol diberikan identic di tabel 4-6.
Konsentrasi dalam hokum kecepatandiekspresikan dalamm bentuk laju alir molar:
sebagai contoh,
178
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

Hukum kecepatan : Kita mulai dengan memanggil dan mengombinasikan


persamaan (3.40) dan (3.40),

(3-40)

\Stokiometri

Utnuk memberikan kasus gas ideal (Z=1). Kita gunakan persamaan


(3-45),

Total laju alir molar diberikan sebagai sumlah dari laju alir dari idivideu spesi:

Ketika sppesi A, B, C, D dan I hanya sekali muncul. Lalu:

Laju alir molar untuk setiap spesi mengandung sebuah neraca mol pada setiap
spesi, seperti diberikan pada tabel 4-6: sebagai contoh,

Kini kita kembali ke persamaan 3.8 untuk melengkapi solusinya:

Tabel 4.6 Algoritma untuk reaksi fase gas

aA + b B cC + dD
1. Neraca Mol
Batch CSTR PFR
179
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

2. Rate Law

3. Stokiometri

then

Konsentrasi

Total laju alir molar

4. Kombinasi : kondisi isothermal dengan PFR tanpa AP

( ) ( ) ( ) ( )

( ) ( ) ( ) ( )

Spesifikasi nilai parameter : k,, C,,, α β T0 a, b, c, d


Spesifikasi jumlah masukan: FA0, FB0, FC0, FD0 dan nilai akhir :Vakhir
Gunakan PDB solver

Contoh 4-9 Bekerja dalam bentuk laju alir molar dalam PFR

Reaksi Fase Gas


180
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

A 2B

Berlangsung isothermal (T=500 K) dan isobar (P0 = 4,1 atm) dalam sebuah PFR
dan mengikuti hokum laju eemeter. Tunjukan hukum laju dan neraca mol dalam
bentuk laju alir molar dan selesaikan persmaan kombinasi untuk menentukan laju
alir moar sepnjang 100 dm3 PFR.

Informasi tambahan:

kA = 2,7/menit, KC= 1,2 mol/dm3, FA0 = 10 mol/menit

Jawab:

Neraca mol:

Hukum kecepatan:

Stokiometri, menggunakan persamaan (3.45) untuk mensubtitusi konsentrasi A


dan B dalam bentuk laju alir molar, kita memiliki T=T0 dan P=P0 :

Dimana totl laju alir FT adalah jumah dari laju alir A dan B:

Untuk setiap berkurangnya mol A akan menghasilkan 2 mol B

= 2(

Dan

Total laju alir:


181
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

Dan total konsentrasi masukan ke reactor (P0,T0) dihitung dari persamaan

Gambar E 4-9.1 Profil laju alir molar


182
Nama : Nurlita Sari
NIM : 21030116120063

Kombinasi:

Neraca mol (E4-9.1) dan hukum kecepatan (E4-9.3)dikombinasikan memberikan

Persamaan (E4-9.11) melalui (E4-9.13) sekarang dapat dipecahkan numerik


dengan software seperti POLYMATH atau MATHLAB. POLYMATH program
dan solusi dberikan pada tabel FA-9.1 untuk kA = 2,7/menit, KC= 1,2 mol/dm3,
FA0 = 10 mol/menit. MATLAB program termasuk dalam CD ROM.

Laju alir molar A dan B saat kesetimbangan didapatkan:

disederhanakan

Subsitusi FB, CT0, dan KC memberikan :


Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058

Persamaan (E4-9.15) dan (E4-9.16) menyelesaikan


FAe =1.34 mol/menit
FBe =17.32 mol/menit
Kami memperhatikan dari gambar E4-9.1 bahwa laju alir molar mulai mendekati nilai kesetimbangan dekat
ujung reaktor.
4.6.2 Reaktor Membran
Reaktor katalitik membran dapat digunakan untuk meningkatkan hasil reaksi yang sangat reversibel
melebihi kisaran suhu yang diinginkan.(Beberapa merujuk bahwa tipe dari reaksi ini sebagai termodinamika
terbatas).Syarat dari reaktor membran menggambarkan banyaknya tipe konfigurasi reaktor yang berbeda yang
mengandung membran.Membran dapat memberikan penghalang untuk komponen-komponen tertentu,sementara
yang lain permiabel terhadap yang lain,mencegah komponen-komponen tertentu seperti partikulat dari kontak
dengan katalis,atau mengandung situs reaktif dan menjadi katalis bagi dirinya sendiri.Seperti destilasi
reaktif,reaktor membran merupakan teknik lain untuk mendorong reaksi ke arah kanan untuk mencapai konversi
yang tinggi.Konversi tinggi ini dicapai dengan memiliki produk reaksi yang berdifusi keluar dari membran
semipermeabel yang mengelilingi campuran yang bereaksi.Hasilnya,reaksi akan berlanjut ke arah kanan menuju
penyelesaian.
Dua dari tipe utama reaktor katalitik membran ditunjukkan pada Gambar 4-12.Reaktor yang di tengah
disebut katalis membran inert dengan katalis pil pada sisi umpan(IMRCF).Disini membran bersifat inert dan
berfungsi sebagai penghalang ke reaktan dan beberapa produk.Reaktor yang berada di bawah adalah reaktor
katalitik membran (CMR).Katalis diendapkan langsung pada membran dan hanya produk dari reaksi tertentu
yang dapat keluar dari sisi yang menyerap.Contohnya,pada reaksi bolak-balik

Molekul hidrogen cukup kecil untuk berdifusi melalui pori-pori kecil membran sementara C6H12 dan C6H6
tidak.Akibatnya,reaksi terus berlanjut ke arah kanan bahkan untuk nilai yang kecil dari konstanta
kesetimbangan.
Pemodelan terperinci dari langkah-langkah transportasi dan reaksi pada reaktor membran berada diluar
cakupan dari tulisan ini namun dapat ditemukan di Teknologi Reaktor Membran.Fitur yang
menonjol,bagaimanapun,dapat diilustrasikan dengan mengikuti contoh.Ketika menganalisa reaktor
membran,lebih mudah menggunakan laju aliran molar daripada konversi.
Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058

Gambar 4-12 Reaktor membran (Sumber foto : CoorsCeramics,Golden,Colorado.)


Contoh 4-10 Reaktor membran
Menurut Departemen Energi, penghematan energi 10 triliun Btu per tahun dapat menjadi hasil dari
penggunaan reaktor katalitik membran sebagai pengganti untuk reaktor konvensional untuk reaksi dehidrogenasi
seperti dehidrogenasi etilbenzena menjadi stirena:

Dan butana menjadi butena


Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058

Dehidrogenasi propana merupakan reaksi lain yang menjadi bukti berhasilnya reaktor membran[J.Membrane
Sci.,77,221(1993)].

Semua reaksi dehidrogenasi diatas dapat ditunjukkan secara simbolik dengan

Dan akan berlangsung di sisi katalis pada IMRCF.Konstanta kesetimbangan untuk reaksi ini cukup kecil pada
227°C (yaitu,Kc=0.05 mol/dm3).Membran yang digunakan permeabel terhadap B (contoh:H2) tetapi tidak
terhadap A dan C.Gas murni A memasuki reaktor saat 8.2 atm dan 227°C dengan laju 10 mol/menit.
Sebagai pendekatan pertama mengasumsikan bahwa laju difusi B keluar reaktor per satuan
volume,RB,diambil menjadi sebanding dengan konsentrasi B (yaitu, RB=kcCB).
(a) Lakukan penurunan kesetimbangan mol pada A,B,dan C agar sampai pada saat persamaan diferensial
digabungkan untuk diselesaikan
(b) Menggambarkan laju alir molar tiap jenis sebagai fungsi terhadap waktu ruang
Informasi tambahan:Meskipun reaksi ini termasuk reaksi katalitik padat-gas,kami akan memakai kepadatan
katalis untuk melihat kesetimbangan pada saat volume reaktor daripada berat katalis ( disebut -rA=-raρh).Untuk
sebagian besar densitas katalis dari ρb=1.5g/cm3 dan diameter dalam 2cm dari tabung yang berisi butiran
katalis,laju reaksi spesifik,k,dan koefisien transport,kc,masing masing adalah k=0.7/menit dan kc=0.2/menit
Penyelesaian
Kami memilih reaktor volume daripada berat katalis sebagai variabel independen kami untuk contoh
berikut.Berat katalis,W,dan volume reaktor,V,dengan mudah berhubungan terhadap densitas katalis pada jumlah
yang besar,ρb,yaitu W=ρb V. Pertama kita menunjukkan kesetimbangan mol elemen volume A V yang
ditunjukkan pada Gambar E4-10.1.

Gambar E4-10.1
1.Keseimbangan mol
Keseimbangan pada A di reaktor katalitik:

[Masukan dari aliran]-[Keluaran dari aliran]+ [Jumlah total]=[akumulasi]


Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058

Dibagi dengan A V dan mengambil batas ∆V0

(E4-10.2)
Keseimbangan di A pada reaktor katalitik :

[Masukan dari aliran]-[Keluaran dari aliran]-[Keluaran dari pengenceran]+ [Jumlah total]=[akumulasi]


Dimana RB adalah aliran molar B yang keluar melalui membran per satuan volume reaktor.Dibagi
dengan A V dan mengambil batas ∆V0

Keseimbangan mol di C dilakukan dengan cara yang sama dengan A dan didapat hasil persamaan
adalah

2.Hukum tingkat

3.Pengangkut keluar dari sisi reaktor


Kita mengasumsikan bahwa

Dimana Kc adalah koefisien pengangkut.Pada umumnya koefisien ini dapat berupa fungsi dari sifat
membran dan fluida, kecepatan fluida, diameter tabung, dan sebagainya (lihat Bab 11). Namun, dalam contoh
ini kami berasumsi bahwa resistensi utama untuk difusi B keluar dari reaktor adalah membran itu sendiri dan
akibatnya, kc, dianggap sebagai konstanta.
4.Stoikiometri
Memakai persamaan (3-45) untuk kasus tekanan dan suhu konstan,kami punya untuk operasi
isothermal dan saat tidak ada penurunan tekanan (T=T0,P=P0),
Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058

5.Menggabungkan dan meringkas

6.Evaluasi parameter

7.Penyelesaian numerik.
Persamaan (E4-10.1) sampai (E4-10.10) diselesaikan menggunakan POLYMATH dan ODE Solver MATLAB
lainnya. Profil dari aliran molar ditunjukkan di bawah ini. Tabel E4-10.1 menunjukkan POLYMATH
Genra Sepesiwa Irara Tarigan
21030116120058
187 CHRISTIN EDELINA SITANGGANG - 21030116120027

program-program, dan Gambar E4-10.2 menunjukkan hasil dari penyelesaian numerik dari kondisi awal yang
dimasukkan.

A=0 FA = FA0 FB = 0 FC = 0

Tabel E4-10.1. PROGRAM POLIMATH


Persamaan Nilai Awal
d(Fb) / d(V) = -ra-kc*Ct0* (Fb/Ft) 0
d(Fa) / d(V) = ra 13
d(Fc) / d(V) = -ra 0
kc = 0.2
Ct0 = 0.2
Ft = Fa + Fb + Fc
X = 0.7
Kc = 0.05
Ra = -k*Ct0* ((Fa/Ft)-Ct0/Kc*(Fb/Ft)*(Fc/Ft))
V0 = 0 ,
Vf = 500

Gambar E4-10.2 Penyelesaian secara POLIMATH

4.7. Operasi Reaktor secara Unsteady-State


Dalam subbab ini kita telah mendiskusikan operasi unsteady dalam satu tipe reaktor, yaitu reaktor batch. Dalam
bagian ini kita mendiskusikan dua aspek lain dari operasi unsteady. Pertama, reaktor CSTR digunakan untuk
menentukan
CHRISTIN EDELINA SITANGGANG - 22030116120027

waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady-state (lihat gambar 4-13a). Selanjutnya, kita akan
mendiskusikan reaktor semi-batch. Masing-masing kasus, kita terkesan dalam memprediksi konsentrasi dan
konversi sebagai fungsi waktu. Penyelesaian secara analitik tertutup kedalam persamaan diferensial menghasilkan
kesetimbangan mol dari banyak tipe reaksi yang dapat dinyatakan hanya untuk reaksi orde nol dan orde satu.
Penyelesaian secara ODE harus digunakan untuk menyelesaikan orde reaksi yang lain.

Gambar 4-13 Reaktor semi-batch

Diatas terdiri dari dua jenis dasar dari operasi secara semibatch. Dalam satu jenis, salah satu dari reaktan
ada dalam reaksi.

A+B→C+D
(B) adalah umpan yang masuk reaktor bersama-sama dengan reaktan lain (A), yang sudah dimasukkan ke
reaktor seperti yang ditunjukkan pada gambar 4-13b. Tipe reaktor ini secara umum digunakan ketika reaksi samping
tidak diinginkan untuk terjadi dalam konsentrasi B yang tinggi, atau reaksinya merupakan eksotermis. Dalam
beberapa reakai, rekatan B adalah gas dan gelembungnya secara terus-menrus melewati cairan reaktan A. contoh
dari reaksi pada tipe ini adalah reaktor semibatch termasuk ammonolisis, klorinasi, dan hidrolisis Tipe lain dari
reaktor semibatch ditunjukkan dengan skema pada gambar 4-13c. Disini, reaktan A dan B diisi secara simultan dan
salah satu produk diuapkan secara terus-menerus. Penghilangan salah satu produk dapat menggeser kesetimbangan
ke kanan, dan meningkatkan konversi akhir yang mana dapat dicapai dengan C tidak harus dihilangkan. Sebagai
tambahan, penghilangan salah satu produk lebih lanjut dapat mengkonsentrat reaktannya, dengan demikian
menghasilkan peningkatan dari suatu reaksi dan menurunkan lama waktu prosesnya. Tipe kondisi reaksi ini disebut
destilasi reaktif. Contoh dari rekasi pada tipe ini adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi dimaa kandungan airnya
dihilangkan.
CHRISTIN EDELINA SITANGGANG - 23030116120027

4.7.1 Reaktor CSTR


Memulai dari volume CSTR dengan kondisi isothermal itu sudah jarang, tetapi terjadi dalam beberapa
kesempatan. Disini kita akan menentukan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi setimbang (steady-state).
Kita mulai dengan kesetimbangan mol dalam persamaan pada Gambar 4-13a;

(4-43)

Konversi tidak berarti dalam memulai ini karena salah satu tidak dpaat dipisahkan antara mol yang bereaksi dari
akumulasi mol dalam CSTR. Karena itu, kita harus menggunakan konsentrasi daripada konversi sebagai variabel
dalam persamaan kesetimbangan. Untuk fase cair ( v= v0) reaksi dengan laju yang konstan (V=V0), menggunakan
τ = V0 / v0 kita dapat mengubah ke persamaan (4-43) ke

(4-44)

Untuk reaksi orde satu (-rA = kCA). Persamaan (4-44) kemudian menjadi

(4-45)

Diselesaikan dengan

{ [ ]} (4-46)

Menjadikan t, menjadi waktu yang digunakan untuk menjadi konsentrasi 99% pada kondisi setimbang,
CAs ;

(4-47)

Mengatur kembali persamaan (4-46) untuk yield CA = 0.99CAS

(4-48)

Untuk reaksi lambat :

(4-49)

Untuk reaksi cepat :

(4-48)

Untuk sistem reaksi orde satu, kondisi setimbang dapat dicapai daam 3 sampai 4 waktu tinggal.
CHRISTIN EDELINA SITANGGANG - 24030116120027

4.7.2 Reaktor Semibatch

Dari 2 tipe reaktor semibatch yang sudah dijelaskan lebih awal, kita fokus dalam umpan molar. Skema
diagram A dari reaktor semibatch ini ditunjukkan dalam Gambar 4-14. Kita harus mempertimbangkan reaksi
elementer fase cair.

A+B→C

Gambar 4-14. Reaktor Semibatch

Yang mana reaktan B ditambahkan dengan lambat ke tempat yang mengandung reaktan A, mol A setimbang dalam
yield A

Terdapat 3 variabel yang dapat digunakan untuk memformulasikan dan menyelesaikan masalah reaktor
semibatch : konsentrasi Cj , jumlah mol, Nj, dan konversi X.
Menuliskan Persamaan Reaktor Semibatch dalam sebagai Konsentrasi
Banyaknya mol A hanya merupakan konsentrasi produk A, CA, dan volume Vj kita dapat menuliskan persaaman (4-
51) sebagai

(4-52)

Dicatat bahwa ketika reaktor sudah mulai terisi, volume V yang divariasikan dengan waktu. Volume reaktor pada
berbagai waktu t dapat ditemukan dari kesetimbangan massa keseluruhan :

(4-53)

Untuk densitas yang konstan,


CHRISTIN EDELINA SITANGGANG - 25030116120027

(4-54)

Dengan kondisi awal V = V0 pada t = 0, diintegrsi dalam V0 konstan

V = V0 + v0 t (4-55)

Substitusi persamaan (4-54) ke sisi kanan persamaan )4-52) dan atur ulang menjadi

Kesetimbangan A ( Persamaan (4-52) ) dapat ditulis kembali menjadi

(4-56)

Kesetimbangan mol A dari B yang diumpankan ke dalam reaktor sebagai FB0 adalah

(4-57)

Substitusi persamaan (4-55) yang diistilahkan V dan dideferensialkan, kesetimbangan mol B menjadi :

(4-58)

Jika orde reaksi lebih dari nol atau orde pertama, atau jika reaktan merupakan isothermal, kita harus menggukan
teknik numerik untuk menentukan konversi sebagai fungsi waktu. Persamaan (4-56) dan (4-58) dengan mudah
diselesaikan dengan penyelasaian ODE.

Contoh 4-11 Reaktor Semibatch isothermal dengan reaksi orde 2

Produksi brom metal merupakan reaksi searah dengan fase cair dengan mengikuti reaksi elementer. Reaksinya :

CNBr + CH3NH2 → CH3Br + NCNH2

dibawa keluar secara isothermal dalam reaktor semibatch. Penyelesaian cairan dari metal amin (B) dengan
konsentrasi 0.025 g mol/dm3 diumpankan dengan lanju 0.05 dm3/s ke dalam penyelesaian air dari brom sianida (A)
ke dalam reaktor.
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123
Volume awal cairan di dalam tangki adalah 5 dm3 dengan konsentrasi bromin sianida 0,05 mol / dm3. Konstanta laju
reaksi spesifik adalah

Penyelesaian untuk konsentrasi bromin sianida dan metil bromida dan laju reaksi sebagai fungsi waktu.
Solusi
Secara simbolis, kami menulis reaksi seperti

Reaksi bersifat elementer, jadi kecepatan reaksinya adalah

Mensubstitusikan hukum laju reaksi dalam Persamaan (4-56) dan (4-58) memberi

Demikian berlaku untuk C dan D yang kita miliki

Selanjutnya

Dan
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123

Dapat juga untuk menghitung konversi A

Kondisi awal adalah t = 0, CA = 0,05, C, = 0, Cc = C, = 0, dan Vo = 5.


Persamaan (EX-11.2) hingga (E4-11.10) mudah dipecahkan dengan bantuan pemecah ODE seperti POLYMATH
(Tabel E4-11, l).

Konsentrasi bromin sianida (A), dan metil amina ditunjukkan sebagai fungsi
waktu dalam Gambar EX-1 1.1, dan angka ini ditunjukkan pada Gambar E4-11.2. Untuk orde reaksi pertama dan
nol kita dapat memperoleh solusi analitik untuk reaktor semibatch yang dioperasikan secara isotermal.
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123

mengapa
konsentrasi CH, Br,
melewati waktu
maksimum

mengapa laju reaksi


berlangsung
maksimal

Menulis Persamaan Reaktor Semibatch dalam Ketentuan Jumlah Moles. Kita juga dapat memecahkan masalah
reaktor semibatch dengan menghilangkan keseimbangan mol persamaan dalam hal jumlah mol setiap spesies (NA,
NB, NC dan ND. Mengingat persamaan keseimbangan mol untuk A dan B, Persamaan (4-5 1) dan
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123
(4-57), masing-masing, bersama dengan persamaan untuk volume reaktor, Persamaan
(4-55)

Sekarang ingat dari Bab 3 definisi konsentrasi untuk sistem batch [Persamaan (3-24)]:

dan mengganti persamaan-persamaan ini ke dalam hukum laju untuk mendapatkan persamaan yang dinyatakan
dengan jelas dalam jumlah mol. Misalnya, -rA=kACACB maka

dan

Sekarang, satu hanya untuk menentukan nilai parameter (k, V, V0, FB0) dan awal kondisi untuk membuat persamaan
ini untuk NA dan NB. Menulis Persamaan Reaktor Semibatch dalam Ketentuan Konversi. Mempertimbangkan
reaksinya

di mana B diumpankan ke tangki yang hanya berisi A awalnya. Reaksi adalah orde pertama pada A dan orde
pertama pada B. Jumlah mol A yang tersisa setiap saat, t, dapat ditemukan dari keseimbangan,

jumlah mol A jumlah mol A jumlah mol A


dalam tangki pada = dalam tangki pada - bereaksi hingga
saat t saat mula-mula waktu t

di mana X adalah mol A bereaksi per mol A awalnya di tangki tersebut. Demikian pula, untuk spesi B
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123

jumlah mol B jumlah mol B jumlah mol B di jumlah mol A


dalam tangki pada = dalam tangki pada + tambahkan dalam - bereaksi hingga
saat t saat mula-mula tangki waktu t

NB NBi NA0X

Untuk umpan molar kecepatan konstan

Keseimbangan mol pada spesi A

Jumlah mol C dan D dapat diambil langsung dari tabel stoikiometri ; sebagai contoh,

Untuk reaksi orde kedua reversibel A + B C + D yang hukumnya adalah

konsentrasi A dan B adalah

Konsentrasi dari
reaktan sebagai
fungsi dari konversi
dan waktu

Menggabungkan persamaan (4-611), (4-64), dan (4-65), menggantikan konsentrasi dan membaginya dengan NA0,
kami memperoleh

Persamaan (4-66) harus diselesaikan secara numerik untuk menentukan konversi sebagai fungsi waktu.

Konversi Ekuilibrium. Untuk reaksi reversibel yang dilakukan dalam reaktor semibatch, konversi maksimum yang
dapat dicapai (yaitu konversi kesetimbangan) akan berubah ketika reaksi berlangsung karena lebih banyak reaktan
terus menerus ditambahkan ke reaktor. Penambahan ini menggeser keseimbangan secara kontinu ke kanan.
Pertimbangkan reaksi reversibel
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123

yang hukumnya adalah

Jika reaksi dibiarkan setelah mencapai kesetimbangan pemberian spesi B selama waktu t, konversi kesetimbangan
dapat dihitung sebagai berikut:

Hubungan antara konversi dan jumlah mol setiap spesies adalah sama seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3-1
kecuali untuk spesi B, yang jumlah molnya diberikan oleh Persamaan (4-63).

atau

4.7.3 Distilasi Reaktif


Distilasi campuran reaksi kimia menjadi semakin umum dalam industri kimia? Melakukan dua operasi ini, reaksi
dan distilasi, secara bersamaan dalam satu unit menghasilkan biaya modal dan operasi yang jauh lebih rendah.
Nama : Afif Dharmawan
NIM : 21030116140123
Distilasi reaktif sangat menarik ketika salah satu produk reaksi memiliki titik didih yang lebih rendah, menghasilkan
volatilisasi dari campuran cairan yang bereaksi. Contoh distilasi reaktif adalah produksi methyl acetate:

Dengan terus mengeluarkan produk reaksi yang mudah menguap, metil asetat, dari reaksi fase cair yang bereaksi,
reaksi balik dapat diabaikan dan reaksinya berlanjut menuju penyelesaian ke arah selanjutnya. Meskipun distilasi
reaktif tidak akan dibahas secara terperinci, ada baiknya untuk menyisipkan persamaan yang mengatur. Kami
menganggap dengan reaksi dasar

di mana A dan B dibebankan dalam jumlah molar yang sama dan spesi D terus direbus, keseimbangan diberikan
pada spesi A
Nama : Rima Chairani Yuniar

4.7.3 Distilasi Reaktif


Distilasi campuran yang bereaksi secara kimia umumnya terjadi semakin banyak dalam industri kimia?
Melaksanakan dua operasi ini, reaksi dan distilasi, secara bersamaan dalam satu unit menghasilkan lebih rendah
secara signifikan biaya modal dan operasi. Distilasi reaktif sangat menarik ketika salah satu produk reaksi memiliki
titik didih yang lebih rendah, menghasilkan volatilisasi dari campuran cairan yang bereaksi. Contoh distilasi reaktif
adalah produksi metil asetat:

Dengan terus mengeluarkan produk reaksi yang mudah menguap, metil asetat, dari bereaksi reaksi fase cair, reaksi
terbalik dapat diabaikan dan reaksi terus berlanjut menuju penyelesaian ke arah depan. Meskipun distilasi reaktif
tidak akan diperlakukan secara rinci, itu berharga untuk mengatur persamaan yang mengatur. Kami menganggap
reaksi dasar

di mana A dan B dibebankan dalam jumlah molar yang sama dan spesies D terus dipanaskan, keseimbangan pada
bagian A memberi

Jika kita mendefinisikan konversi sebagai jumlah mol A bereaksi per mol A dibebankan, lalu

dan

Mensubstitusi Persamaan (4-72) ke (4-7 1) memberi


Nama : Rima Chairani Yuniar

Keseimbangan pada bagian D, yang menguap pada tingkat Fo setelah terbentuk, memberi

Integrasi, kami punya

Untuk reaksi dasar yang diberikan,

Kami sekarang perlu menentukan volume sebagai fungsi dari konversi baik atau waktu. Keseimbangan massa
keseluruhan pada semua bagian memberi

di mana MWD adalah berat molekul D. Untuk sistem kepadatan konstan ,,

Persamaan ini sekarang harus diselesaikan secara numerik dan simultan dengan persamaan (4-74) sampai (4-77).
Namun. untuk memecahkan set persamaan di atas kita perlu menentukan tingkat penguapan D, FD.

Kasus 1
Evaporasi langsung Untuk kasus di mana D menguap langsung setelah terbentuk, kita: bisa mendapatkan solusi
analitis. Tanpa akumulasi D dalam fase cair,
Nama : Rima Chairani Yuniar

Menggabungkan Persamaan (4-79) dan (4-81), kita punya

Mengintegrasikan hasil

Menata ulang, sehingga

Dimana

Menggabungkan Persamaan (4-77) untuk kasus CD = 0 dengan (4-83), kita dapatkan

Dengan menggunakan daftar integral dalam Lampiran A.2, kita dapat menentukan t yang benar untuk mencapai
konversi X dalam reaktor:

Dalam hal ini kami menganggap produk reaksi terbawa oleh salah satu dari “mendidih off ”atau gas inert yang
digelembungkan melalui reaktor. Ketika gas meluap melalui reaktor, kita mengasumsikan kesetimbangan uap-cair
dan bahwa mol fraksi dalam gas dan cair terkait dengan hukum Raoult,

di mana P adalah tekanan uap D. Kami sekarang mengatur tingkat boil off oleh pengaturan fluks panas ke reaktor
atau mengatur laju alir molar di mana suatu lembam digelembungkan melalui reaktor, FI.
Laju aliran molar D dalam fasa gas adalah

Dengan asumsi hanya D menguap (lihat CD-ROM untuk situasi saat ini dan kasus) laju aliran gas molar total adalah
laju alir molar gas inert plus laju alir molar dari spesies penguapan, dalam hal ini spesies D, adalah
Nama : Rima Chairani Yuniar

Laju aliran molar dari D meninggalkan cairan

Persamaan ini sekarang digabungkan dengan semua mol seimbang, misalnya

Dan diselesaikan dengan ODE

4.8 Reaktor Daur Ulang


Reaktor daur ulang digunakan ketika reaksi bersifat autokatalitik, atau ketika diperlukan untuk mempertahankan
operasi reaktor yang hampir isotermal atau untuk mempromosikan selektivitas certann (lihat Bagian 5.4.4). Mereka
juga digunakan secara luas dalam biokimia operasi. Untuk mendesain reaktor daur ulang, seseorang hanya
mengikuti prosedur dikembangkan dalam bab ini dan kemudian menambahkan sedikit pembukuan tambahan.
Sebuah diagram skematik reaktor daur ulang ditunjukkan pada Gambar 4-15.

Aliran daur ulang ditarik pada titik Q dan bergabung dengan yang segar pakan pada titik P. Kami akan menetapkan
parameter daur ulang R sebagai mol yang didaur ulang per mol produk dihapus pada titik T:

'Dua konversi biasanya terkait dengan reaktor daur ulang: konversi keseluruhan, X,, dan konversi per pass, X

Putaran minyak dalam menghitung volume reaktor atau konversi untuk mendaur ulang
reaktor adalah keseimbangan mol di persimpangan sungai (titik P dan Q) ke ekspresikan dengan tepat konsentrasi
spesies sebagai fungsi konversi.
Nama : Rima Chairani Yuniar

Seperti yang ditunjukkan dalam CD-ROM, bersama dengan konversi keseluruhan dan
konversi per laluan terkait dengan

Persamaan desain PFR untuk reaktor daur ulang juga dikembangkan dalam CD-ROM.
Nama : Ariel Joshua Martua Siregar
NIM : 21030116120051

RINGKASAN
1. Algoritma Penyelesaian
a. Desain Solusi

b. Laju Reaksi : contoh :

c. Stokiometri
(1) Fase gas

(2) Fase cair

d. Penggabungkan, yang berikut untuk reaksi fase-gas dalam CSTR tanpa A P :

e. Parameter evaluasi

f. Teknik Penyelesaian :
(1) Integrasi Numerikal-Aturan Simson
(2) Tabel Integral
(3) Software:
a. POLYMATH
b. MATLAB

2. Pressure Drop pada Reaktor Isotermal:


a. Variabel Densitas dengan ɛ # 0
Nama : Ariel Joshua Martua Siregar
NIM : 21030116120051

b. Variabel Densitas dengan ɛ = 0 atau ɛX << 1

3. Untuk reaktor semibatch, reaktan B diumpankan terus menerus ke wadah yang awalnya hanya
berisi A:
A+B C
a. Dalam hal konversi

b. Laju reaksi

Persamaan (S4-11) hingga (S4-15) digabungkan dan persamaan yang dihasilkan diselesaikan
secara numerik untuk konversi sebagai fungsi waktu.
c. Dalam hal konsentrasi,

Persamaan (S4-12), (S4-13), dan (S4-16) hingga (S4-18) diselesaikan secara bersamaan.
Nama : Ariel Joshua Martua Siregar
NIM : 21030116120051

4. Reaksi dan Pemisahan Simultan


a. Reaktor Membran

b. Pemisahan Reaktif

ALGORITMA PENYELESAIAN ODE


Ketika menggunakan pemecah persamaan diferensial biasa (ODE) seperti POLYMATH atau
MATLAB, biasanya lebih mudah untuk meninggalkan kesetimbangan mol, laju, dan konsentrasi
sebagai persamaan terpisah daripada menggabungkannya ke dalam persamaan tunggal seperti yang
kita lakukan untuk mendapatkan solusi analitik . Menulis persamaan secara terpisah memberikannya
ke komputer untuk menggabungkannya dan menghasilkan solusi. Formulasi untuk reaktor packed-
bed dengan penurunan tekanan dan reaktor semibatch diberikan di bawah ini untuk dua reaksi
elementer.
Fase Gas Fase Cair
Nama : Ariel Joshua Martua Siregar
NIM : 21030116120051

PERTANYAAN DAN PERMASALAHAN


Subskrip untuk masing-masing nomor masalah menunjukkan tingkat kesulitan: A, paling
tidak sulit; D, paling sulit.
Sebelum
memecahkan negara Di setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak di sekitar
atau sketsa secara jawaban anda, tulis satu atau dua kalimat yang menjelaskan bagaimana Anda memecahkan
kualitatif hasil atau masalah, asumsi yang Anda buat, kewajaran jawaban Anda, apa yang Anda pelajari, dan
tren yang lainnya, fakta yang ingin Anda sertakan. Anda mungkin ingin merujuk ke W. Strunk dan EB
diharapkan. White, The Elements of Style (New York Macmillian, 1979) dan Joseph M. Williams, Style:
Ten Lesson in Clarity and Grace (Glenview, Ill .: Scott, Foresman, 1989) untuk
meningkatkan kualitas kalimat Anda.
P4-1A keadanya melalui semua masalah di akhir bab ini. Buat dan tanggapi masalah asli
berdasarkan materi dalam bab ini. (a) Gunakan data dan reaksi nyata. (B) Buatlah
reaksi dan data. (c) Gunakan contoh dari kehidupan sehari-hari (misalnya, membuat
roti panggang atau spageti memasak). Dalam mempersiapkan masalah orisinal
Anda, pertama-tama daftar prinsip-prinsip yang ingin Anda sampaikan dan mengapa
masalah itu penting. Tanyakan pada diri Anda sendiri bagaimana teladan Anda akan
berbeda dari Xn teks atau ceramah itu. Hal lain yang perlu Anda pertimbangkan
ketika memilih masalah adalah relevansi, minat, dampak solusi, waktu yang
diperlukan untuk mendapatkan solusi, dan tingkat kesulitan. Lihatlah melalui
beberapa jurnal untuk data atau untuk mendapatkan beberapa ide untuk reaksi
penting industri atau untuk aplikasi baru prinsip-prinsip rekayasa reaksi (lingkungan,
pengolahan makanan, dll). Pada akhir masalah dan solusi menggambarkan proses
kreatif yang digunakan untuk menghasilkan ide untuk masalah ini. (D) Tulis
pertanyaan berdasarkan materi dalam bab ini yang membutuhkan pemikiran kritis.
Jelaskan mengapa pertanyaan Anda membutuhkan pemikiran kritis. [Petunjuk: Lihat
kata pengantar e. xx] (e) Dengarkan audio pada CD Notes dan pilih satu dan katakan
mengapa itu bisa dihilangkan.
P4-2B Bagaimana jika ... Anda diminta untuk mengeksplorasi contoh masalah dalam bab
ini untuk mempelajari berbagai efek dari berbagai parameter? Analisis sensitivitas
ini dapat dilakukan dengan mengunduh contoh dari WWW atau dengan memuat
program dari CD-ROM yang disertakan dengan teks. Untuk setiap contoh masalah
yang Anda selidiki, tulislah paragraf yang menjelaskan temuan Anda.
(a) Bagaimana jika Anda diminta untuk memberikan contoh materi dalam buku ini
yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari? Apa yang akan Anda
sampaikan?
(b) Setelah Ploting konversi keluar sebagai fungsi dari parameter penurunan
tekanan a dalam Contoh 4-7, generalisasi apa yang dapat Anda buat?
Bagaimana jawaban Anda akan berubah untuk umpan molar $ qual?
Bagaimana jika partikel katalis dalam Contoh 4-7 adalah p: acqd dalam 100
tabung yang ditempatkan secara seri daripada dalam 100 tabung ditempatkan
secara paralel?
(c) Mempertimbangkan kembali Contoh 4-8. Plot the konversiprofile untuk kasus
ketika tekanan masuk meningkat dengan faktor 5 dan diameter partikel
menurun dengan faktor 5. (Ingat bahwa alpha adalah fungsi dari diameter
partikel dan Po.) Apa yang Anda pelajari dari Anda merencanakan? Apa yang
seharusnya menjadi pengaturan Anda berikutnya dan Po untuk mempelajari
lebih lanjut? Asumsikan aliran turbulen.
(d) Pertimbangkan untuk menambahkan inert terhadap reaksi dalam Contoh 4-9,
menjaga laju alir molar total pada konstanta. Plot konversi keluar dan konversi
kesetimbangan sebagai fungsi fraksi mol inert. Apa kelebihan dan kekurangan
menambahkan sebuah inert?
Nama : Ariel Joshua Martua Siregar
NIM : 21030116120051

(e) Contoh Ulang 4-10. Plot laju alir molar A, B, dan C sebagai fungsi panjang
reaktor (yaitu, volume) untuk berbagai nilai k, antara kc = 0,0 (PFR
konvensional) dan kc = 7,0 menit- '. Parameter apa yang paling Anda harapkan
untuk memengaruhi hasil Anda? Variasikan parameter k, kc, Kc, FAo, untuk
mempelajari bagaimana reaksi dapat dioptimalkan. Ajukan pertanyaan seperti:
Apa pengaruh rasio k ke kc, atau k, τ CAo, kepada Kc, atau ... ke ...? Generalisasi
apa yang bisa Anda buat? Bagaimana jawaban Anda akan berubah jika suhu
reaktor dinaikkan secara signifikan?
(f) Dalam Contoh 4-11, plot waktu di mana laju reaksi maksimum terjadi
(misalnya, dalam contoh tingkat maksimum adalah 0,00017 molSrdm3.s pada t
= 25 s) sebagai fungsi dari laju umpan molar masuk B. Bagaimana jika Anda
diminta untuk mendapatkan konsentrasi maksimum C dan D dalam Contoh 4-
1l? Apa yang akan kamu lakukan?
(g) Variasikan beberapa biaya operasi, konversi, dan pemisahan pada Gambar 4-11
untuk mempelajari bagaimana perubahan laba. Etilen oksida, digunakan untuk
membuat etilena glikol, dijual seharga $0,56/lb. Sementara ethylene glycol
dijual seharga $0,38/lb. Apakah ini proposisi kerugian? Jelaskan.
(h) Bagaimana jika Anda berasumsi bahwa reaksi dalam Contoh 4-11 adalah orde
satu dalam metil amina (B) dan orde nol dalam bromin sianida. Karena
berlebihan pada awal reaksi, tunjukkan bahwa konsentrasi metil amina setiap
saat t adalah :

Sampai kapan dan dalam kondisi apa asumsi tersebut valid? [Lihat W. Emst,
AZChE J., 43, hal. 1114 (1997) .1
(i) Apa yang harus Anda lakukan jika beberapa ethylene glycol terciprat keluar
dari reaktor ke wajah dan pakaian Anda? (Petunjuk: Ingat http://www.siri.org/.)
(j) Tindakan pencegahan keselamatan apa yang harus Anda ambil dengan
pembentukan etilena oksida yang dibahas dalam Contoh 4-6? Dengan sianida
bromin yang dibahas dalam Contoh 4-1l?
(k) tulis program polymath untuk menggantikan solusi analitik yang diberikan
dalam Contoh 4-4.Baca nomor dari parameter (mis., k, y, q), dan jelaskan apa
yang anda temukan.
4-3A Jika perlu 11 menit untuk memasak spaghetti di Ann Arbor, Michigan, dan 14 menit
di Boulder, Colorado, berapa lama waktu yang dibutuhkan di Cuzco, Peru?
Diskusikan cara membuat spaghetti lebih lezat. Jika Anda lebih suka membuat
makan malam spageti yang kreatif untuk keluarga atau teman daripada menjawab
pertanyaan ini, itu juga oke; Anda akan mendapat kredit penuh. (Jawab t = 21
menit).
Nur Asyiah
21030116120064

P4-4A Nutrisi adalah bagian penting dari sereal siap makan. Untuk membuat sereal lebih sehat, banyak
nutrisi ditambahkan. Sayangnya, nutrisi menurun seiring waktu, sehingga perlu menambahkan lebih dari
jumlah yang dinyatakan untuk memastikan cukup untuk kehidupan bagi sereal. Vitamin X dinyatakan
pada tingkat 20% dari tunjangan harian yang disarankan per sewing size (ukuran porsi = 30 g).
Tunjangan saran yang disarankan adalah 6500 IU (1.7 X 106 IU I = 1 g). Telah ditemukan bahwa
degradasi nutrisi ini adalah urutan pertama dalam jumlah nutrisi. Akselerasi

(a) Mengingat informasi di atas dan bahwa sereal perlu memiliki vitamin tingkat di atas nilai yang
dinyatakan dari 6500 Ttr selama 1 tahun pada 25°C apa yang harus IU beri di sereal pada saat diproduksi?
Jawaban Anda juga dapat dilaporkan dalam persen berlebih : (Ans. 12%)
(b) 14t berapa persen vitamin dari nilai yang dideklarasikan dari 6500 1U yang harus Anda terapkan ?
Jika 10.000.000 lb / tahun sereal dibuat dan biaya nutrisi adalah $5 per pon, berapa biaya yang berlebih
ini?
(c) Jika ini adalah pabrik Anda, berapa persen yang berlebih yang akan benar-benar Anda terapkan dan
mengapa ?
d) Bagaimana Anda merubah berubah jawaban jika Anda menyimpan materi dalam Bangkok gudang
selama 6 bulan, di mana suhu harian adalah 40°C, sebelum memindahkannya ke supermarket? (Tabel
hasil penyimpanan akselerasi tes pada sereal; dan Masalah tingkat vitamin sereal setelah penyimpanan
sumber General Mills, Minneapolis, MM.) dan mengapa?

P4-5A Reaksi fase cair

mengikuti hukum tingkat dasar dan dilakukan secara isotermal dalam sistem aliran. Konsentrasi aliran
umpan A dan B adalah 2 M sebelum pencampuran. Laju aliran volumetrik dari setiap aliran adalah 5
dm3 / menit dan suhu yang masuk adalah 300 K. Aliran dicampur segera sebelum masuk. Dua reaktor
tersedia. Salah satunya adalah abu-abu 200.0-dm3 CSTR yang dapat dipanaskan 77°C atau didinginkan
hingga O"C, dan yang lainnya adalah putih 800.0-dm3 PFR yang dioperasikan pada 300 K yang tidak
bisa dipanaskan akan didinginkan tetapi bisa dicat merah atau hitam. (Catatan k = 0,07 dm3 / mol.min
pada 300 K dan E = 20 kkal / mol)
(a) Reaktor dan kondisi apa yang Anda rekomendasikan? Jelaskan alasannya untuk pilihan Anda
(misalnya, warna, biaya, ruang yang tersedia, kondisi cuaca). Cadangan alasan Anda dengan perhitungan
yang tepat.
(b) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai konversi 90% dalam batch 2Wdm3 reaktor
dengan C ,, = C ,, = 1 M setelah pencampuran pada suhu 77 "C?
(c) Bagaimana jawaban Anda bagian (b) berubah jika reaktor didinginkan WC? (Ans. 2.5 hays)
(d) Apa yang harus Anda lakukan jika reaksi pada suhu yang lebih tinggi?
(E) Menjaga Tabel 4-1 dalam pikiran, apa volume reaktor batch akan: diperlukan untuk memproses
jumlah spesies A yang sama per hari sebagai reaktor aliran sementara mencapai konversi tidak kurang
dari 90%? Refemng pada Table 1-1, memperkirakan biaya reaktor batch.
(f) Tulis beberapa kalimat yang menjelaskan apa yang Anda pelajari dari masalah tersebut dan apa yang
Anda yakini sebagai titik masalahnya.

P4-6B Dibutyl phthalate (DBP), sebuah plasticizer, memiliki potensi pasar sebesar 12 juta lb/tahun
(Masalah Pelajar Siswa AZChE) dan harus dihasilkan oleh reaksi n-butanol dengan monobutil ftalat
(MBP). Reaksi mengikuti suatu hukum dasar dan dikatalisis oleh H2S04 (Gambar P4-6). Aliran berisi
MF3P dan butanol harus dicampur dengan katalis H2SO4 segera sebelum aliran memasuki reaktor.
Konsentrasi MBP dalam aliran yang masuk reaktornya 0,2 lb mol / ft3 dan tingkat umpan molar butanol
adalah lima kali bahwa MBP. Tingkat reaksi spesifik pada 100°F adalah 1,2 ft3 / lb mol hr. Ada CSTR
lO00-galon dan peralatan periferal terkait yang tersedia untuk digunakan proyek ini selama 30 hari
setahun (beroperasi 24 jam/hari).

Nur Asyiah
Nur Asyiah
21030116120064

21030116120064

(a) Tentukan konversi keluar di reaktor 1000 galon yang tersedia jika Anda menghasilkan 33% dari
bagian (i.e., 4 juta lb/tahun) dari yang diprediksi pasar. (Ans: X = 0,33).
(b) Bagaimana Anda meningkatkan konversi untuk umpan (Fa0) yang sama? Sebagai contoh, konversi
apa yang akan dicapai jika CSTR 1OOO-gal yang kedua ditempatkan baik secara seri atau paralel
dengan CSTR? X2 = 0,55 (seri)
(c) Untuk suhu yang sama dengan bagian (a), berapa volume CSTR yang diperlukan untuk mencapai
konversi 85% untuk tingkat umpan molar dari MBP 1 lb mol/min?
(d) Bandingkan hasil Anda untuk bagian (c) dengan hasil dari PFR yang diperlukan untuk mencapai
konversi 85%.
(e) Dengan mengingat waktu yang diberikan pada Tabel 4--1 untuk pengisian, dan operasi lainnya,
berapa banyak reaktor 1000 galon yang dioperasikan dalam mode batch diperlukan untuk memenuhi
produksi yang dibutuhkan sebesar 4 juta pound dalam satu Periode 3O hari? Perkirakan biaya reaktor
dalam sistem. [Catatan: Dalam aliran umpan mungkin ada beberapa jejak kotoran, seperti gumpalan
sebagai heksanol. Energi aktivasi diyakini berada di suatu tempat sekitar 25 kkal / mol. The PFR pada
bagian (d) lebih lonjong daripada silinder. dengan rasio sumbu mayor-ke-minor 1,3: I.] (An Am .: 5
reaktor)
(f) Generalisasi apa yang dapat Anda buat dari masalah ini?
(g) Tulis pertanyaan yang membutuhkan pemikiran kritis dan kemudian jelaskan alasan Anda Pertanyaan
membutuhkan pemikiran kritis. [Petunjuk; Lihat Kata Pengantar pxx]

P4-7A Reaksi fase-gas dasar


(CH3),COOC(CH3),+C2H6 + 2CH,COC-H3
dilakukan secara isotermal dalam reaktor aliran tanpa penurunan tekanan. Laju reaksi spesifik pada 50°C
adalah 10-4 menit-1 (dari data perikositas) dan energi aktivasinya adalah 85 kJ / mol. Di-tert-butil
peroksida murni memasuki reaktor pada 10 atm dan 127 ° C dan laju alir molar 2,5 mol/min. Hitung
volume reaktor dan waktu tinggal untuk mencapai konversi 90% dalam:
(a) sebuah CSTR (Ans,:47 00 dm3)
(b) sebuah FFR (Am .: 967dm3)
(c) Jika reaksi ini dilakukan pada 10 atm dan 127°C dalam mode batch dengan konversi 90%, apa ukuran
dan biaya reaktor yang diperlukan proses (2,5 mol / menit X 60 menit / jam X 24 jam / hari) 3600 mol
di-tcsrt-butil peroksida per hari? (Petunjuk: Ingat Tabel 4-1.)
(d) Asumsikan bahwa reaksinya reversibel dengan Kc = 0,025 mo12/dm6 dan hitung konversi
ekuilibrium dan kemudian ulangi (a) sampai (c) mencapai konversi 90% dari konversi kesetimbangan.
(e) Berapa suhu CSTR yang akan Anda rekomendasikan untuk CSTR 500-dm3 dapatkan konversi
maksimum jika deltaRX = - 100.000 kal > mol? (Petunjuk: Ingat bahwa konversi ekuilibrium akan
berbeda untuk a reaktor aliran dan reaktor batch volume konstan untuk reaksi fase gas yang memiliki
perubahan dalam jumlah mol total).

P4-8B Isomerisasi fase-cair dilakukan dalam CSTR 1000-gad yang memiliki


impeler tunggal yang terletak di tengah reaktor. Cairan masuk di bagian atas reaktor dan keluar di bagian
bawah. Reaksinya adalah orde kedua. Data eksperimen yang diambil dalam reaktor batch diprediksi
terhadap konversi CSTR harus 50%. Namun, konversi yang diukur dalam CSTR sebenarnya adalah 57%.
(a) Sugestikan alasan untuk perbedaan dan sugestikan sesuatu yang mendekati persetujuan antara
prediksi dan konversi terukur. Kembali saran Anda dengan perhitungan.
(b) Pertimbangkan kasus di mana reaksi reversibel dengan K,: = 15 pada 300 K, dan AHm = -25.000 kal
/ mol. Dengan asumsi bahwa data batch diambil pada 300 K akurat dan E = 15.000 cdmol, apa CSTR
suhu yang Anda rekomendasikan untuk konversi maksimum?

Nur Asyiah
21030116120064
Nur Asyiah
21030116120064

P4-9 Sargent Nigel Ambexromby. Scoundrels Incorporated, R & D company kecil telah
mengembangkan proses skala laboratorium untuk elementer, padat-catalyzed- reaksi fase-gas

(nama dikodekan karena alasan kepemilikan). Umpan adalah molar yang


sama dalam A dan B dengan laju alir molar yang berpusat dari kis 25 mol / menit dan umpan volumetrik
adalah 50 dm3 / menit. Insinyur di Scoundrels menghitung bahwa reaktor packed packed skala industri
dengan 500 kg katalis logam yang sangat langka dan mahal akan menghasilkan conversioln 66% saat
dijalankan pada 32°C dan tekanan umpan 25 atm. Pada kondisi ini yang spesifik laju reaksi 0,4 dm3 /
mol .min katalis kg. Soundrels menjual proses ini dan katalist ke Clueless Chemicals yang kemudian
memproduksi tempat packed bed yang dikemas. Ketika Clueless meletakkan proses onstream pada
spesifikasi sediakan oleh Scoundrels, mereka hanya bisa mencapai konversi 60% dengan katalis 500
kg.Sayangnya reaksi dilakukan pada 31,5 "C daripada 32°C. 2160 mol/hari produk yang hilang membuat
proses tidak ekonomis.Scoundiels, Inc. mengatakan bahwa mereka dapat menjamin konversi 66% jika
Clueless akan membeli 500 kg katalis lebih dari satu setengah kali biaya asli. Sebagai hasilnya, Clueless
menghubungi Sgt. Ambercromby dari Scotland Yard (pinjaman ke L.A.P.D.) tentang kemungkinan
penipuan industri. Apa tiga pertanyaan pertama Ambercromby Sargent bertanya? Apa penyebab
potensial untuk konversi yang hilang ini (dukungan dengan perhitungan)? Bagaimana menurut Anda
Sgt.Ambercromby menyarankan untuk memperbaiki situasi (dengan Dan Dixon, Reaksi Teknik Alumni
W'97).

P4-10 Pembentukan difenil yang dibahas dalam Bagian 3.1.4 harus dilakukan pada 760 ° C. Pakan harus
benzena murni dalam fasa gas pada tekanan total 5 atm dan 760 ° C. Tingkat reaksi spesifik adalah 1800
ft3 / lb mol. dan konsentrasi konstanta kesetimbangan adalah 0,3 seperti yang diperkirakan oleh trispeed
Davenport oksimeter. Volume reaktor batch [bagian (d)] adalah 1500 dm3. Juga, di dalam dari reaktor
batch berkarat buruk, sebagaimana dibuktikan oleh bahan partikulat yang jatuh dari sisi ke bagian bawah
reaktor, dan Anda mungkin tidak perlu membahas efek ini.
(a) Apa itu konversi ekuilibrium? (X0 = 0,52). Hitung volume reaktor yang diperlukan untuk mencapai
98% dari ekuilibrium konversi benzena dalam
(b) PFR (dengan umpan benzena 10 lb mohin)
(c) CSTR (dengan umpan benzena 10 lb mol / menit)
(D) Hitung volume reaktor batch volume konstan yang memproses jumlah benzena yang sama, hari
sebagai CSTR. Apa yang sesuai biaya reaktor? (Petunjuk: Ingat Tabel 4-1.)
(e) Jika energi aktivasi adalah 30,202 Btu / lb mol, berapa rasio awal laju reaksi (Le., X = 0) pada 1400 °
F hingga pada 800 "F?

P4-11B Reaksi gas memiliki konstanta laju reaksi unimolekul 0,0015 min-l pada
80°F. Reaksi ini harus dilakukan dalam tabung paralel Panjang 10 ft dan 1 inci di dalam di bawah
tekanan 132 psig pada 260 ° F. Tingkat produksi 1000 Ib / jam B diperlukan. Dengan asumsi energi
aktivasi sebesar 25.000 kal / g mol, berapa banyak tabung yang diperlukan jika konversi A menjadi 90%?
Asumsikan hukum gas yang sempurna. A dan B masing-masing memiliki berat molekul 58. (Dari
California Professional Engineers Exam.)

P4-12B Reaksi elementer ireversibel terjadi di dalam gas fase dalam reaktor
tubular isotermal (plug-Jlow). Reaktan A dan pengencer C diberi rasio equimolar, dan konversi A adalah
80%. Jika umpan molar tingkat A dipotong setengah, apa konversi A dengan asumsi bahwa laju umpan
C dibiarkan tidak berubah? Asumsikan perilaku ideal dan suhu reaktor tetap tidak berubah. Apa gunanya
masalah ini? (Dari California Ujian Insinyur Profesional.)

P4-13B Senyawa A mengalami reaksi isomerisasi yang reversibel, lebih dari


katalis logam yang didukung. Dalam kondisi yang bersangkutan, A dan B berbentuk cair, larut, dan
kerapatan hampir identik; konstanta kesetimbangan untuk reaksi (dalam satuan konsentrasi) adalah 5,8.
Di dalam reaktor aliran isoteml berlatar belakang di mana backmixing dapat diabaikan (yaitu, aliran
plug), umpan murni A mengalami konversi bersih menjadi B dari 55%. Reaksinya dasar. Jika sebentar,
reaktor aliran identik pada suhu yang sama ditempatkan di hilir dari pertama, apa konversi keseluruhan
dari A yang Anda harapkan jika:
(a) Reaktor terhubung secara langsung secara seri? (Am: X = 0,74.)
(b) Produk dari reaktor pertama dipisahkan oleh pengolahan yang sesuai dan hanya A yang belum
bertobat yang diumpankan ke reaktor kedua? (Dari California Professional Engineers Exam.)

Nur Asyiah
21030116120064
Nur Asyiah
21030116120064

P4-14C Sebanyak 2.500gal/jam metaxylene sedang diisomerisasi menjadi campuran ortoksilena,


metaxilena, dan paraxilena dalam reaktor yang mengandung 1000 ft3 katalis. Reaksi dilakukan pada
750°F dan 300 psig. Dalam kondisi ini, 37% metanol yang diumpankan ke reaktor diisomerisasi. Pada
laju alir 1667 galih, 50% metaxilena 15 diisomerisasi pada suhu dan tekanan yang sama. Perubahan
energi dapat diabaikan.Sekarang diusulkan bahwa pabrik kedua dibangun untuk memproses 5500 gal /
jam metaxylene pada suhu dan tekanan yang sama seperti yang dijelaskan di atas. Berapa ukuran reaktor
(yaitu, berapa volume katalis) yang diperlukan jika konversi di pabrik baru menjadi 46% bukan 37%?
Membenarkan semua asumsi yang dibuat untuk perhitungan skala-up. (Am .: 293 1 ft3 katalis.) (Dari
California Professional Engineers Exam.) Buat daftar hal-hal yang Anda pelajari dari masalah ini.

P4-15A Diharapkan untuk melakukan reaksi gas dalam reaktor tabung yang ada
yang terdiri dari 50 tabung paralel sepanjang 40 kaki dengan 0,75 inci. diameter dalam. Eksperimen
skala-getar telah memberikan konstanta laju reaksi untuk reaksi orde pertama ini 0,00152 s-I pada 200°F
dan 0,0740 s-l pada 3001°F. Pada suhu berapa reaktor harus dioperasikan untuk memberikan konversi A
80% dengan tingkat umpan 500 lb/h murni A dan tekanan operasi 100 psig? A memiliki berat molekul
73. Gas idela dapat diabaikan, dan reaksi sebaliknya tidak signifikan pada kondisi ini.
(14ns.: T = 275 ° F.) (Dari California Professional Engineers Exam.)

P4-16B Sebuah reaktor plug flow isotermal dengan tekanan konstan, tekanan-konstan dirancang untuk
memberikan konversi 63,2% dari A ke B untuk dekomposisi fase gas orde pertama

untuk umpan murni A dengan laju 5 ft3 / jam. Pada suhu operasi yang dipilih, konstanta laju orde
pertama k = 5,0 h-l. Namun, setelah reaktor dipasang dan dalam operasi, ditemukan bahwa konversi
adalah 92,7% dari konversi yang diinginkan. Perbedaan ini dianggap karena gangguan aliran dalam
reaktor yang menimbulkan zona backmixing yang kuat. Dengan asumsi bahwa zona ini berperilaku
seperti reaktor tangki berpengaduk campuran sempurna secara seri dan di antaranya dua reaktor
plug-flow, berapa fraksi dari total volume reaktor yang ditempati oleh zona ini? (Ans: 57%.)

P4-17B Saat ini, herbisida atrozine yang ditemukan di Sungai Des Plaines sedang diperlakukan dengan
melewati bagian sungai yang cukup rawa, di mana ia terdegradasi (Gambar P4-17). Tingkat degradasi
atrazin, A, dianggap ireversibel dan mengikuti kinetika homogen orde pertama.

Ketika air limbah mengalir dan bereaksi, ia juga menguap dengan laju konstan (Q = kmol air h m2) dari
permukaan. Tak satu pun dari spesies beracun yang hilang ke udara oleh penguapan. Anda dapat
berasumsi bahwa reaktor (rawa) berbentuk persegi panjang dan aliran air yang lembut ke bawah dapat
dimodelkan sebagai aliran sumbat.
(a) Turunkan persamaan untuk CA sebagai fungsi X dan z.
(B) Turunkan persamaan untuk X sebagai fungsi jarak, z, bawah lahan basah.
(Jawab: X = 1 - (1 -az; n = kDpo / Q.)
(c) Plot konversi dan laju reaksi sebagai fungsi jarak untuk:
(1) tidak ada evaporasi atau kondensasi
(2) evaporasi tetapi tidak ada kondensasi
(Ans: CA = CAo (1 - X) / (1 - UZ); U = QW / po.vo)
Nama : KHANSA KHAIRUNNISA
NIM : 21030116140151

(3) kondensasi dengan laju 0,5 kmol /m2.h


Bandingkan hasil anda untuk masing-masing dari tiga kasus.
(D) Gunakan POLYMATH untuk melakukan analisis sensitivitas berbagai parameter
nilai dan rasio (misalnya, apa efek rasio Q/lkCAo pada konversi)?
(e) Pertarungan politik yang panas sedang berkecamuk di antara mereka yang ingin
melestarikan lahan basah (yang saat ini dilindungi oleh hukum) dalam keadaan alami mereka dan mereka yang ingin
membuatnya tersedia untuk pengembangan komersial. Daftar argumen di kedua sisi masalah ini, termasuk satu atau
lebih yang timbul dari pertimbangan masalah ini. Kemudian ambillah posisi dengan satu atau lain cara dan justifikasi
secara singkat. (Nilai anda tidak tergantung pada posisi apa yang anda ambil, hanya pada seberapa baik anda
mempertahankannya.) [Bagian (e) disarankan oleh Prof Richard Felder, North Carolina State University.]
(f) Tanpa menyelesaikan persamaan apa pun, sarankan model yang lebih baik untuk mendeskripsikan lahan basah.
(Petunjuk: Versi panjang dari masalah ini dapat ditemukan di CD-ROM.)

Informasi tambahan:
W = lebar = 100 m, v0 = memasukkan laju alir volumetrik = 2 m3 / jam
L = panjang = 1000 m, CA0 = memasuki konsentrasi racun = mol / dm3
D = rata-rata kedalaman = 0,25 m, pm = kerapatan molar air = 55,5 kmol H2O/ m3
Q = penguapan = 1.11 x 10-3 kmol/hm2
K1 = tingkat reaksi spesifik = 16 x 10-5 h-1

P4-18B Etil Asetat adalah pelarut yang banyak digunakan dan dapat dibentuk oleh esterifikasi fase uap dari asam
asetat dan etanol. Reaksi dipelajari menggunakan resin mikropori sebagai katalisator dalam reaktor packed-bed
[Id.Eng. Chem. Res., 1987)]. Reaksi pertama dalam etanol dan pseudo-zero-order dalam asam asetat. Untuk tingkat
umpan molar yang sama dari asam asetat dan etanol, laju reaksi spesifik adalah 1,2 dm3 * / g cat min. Laju umpan
molar total adalah 10 mol / menit, tekanan awal adalah 10 atm, suhu 118 ° C dan parameter penurunan tekanan, a,
sama dengan 0,01 g- 1
(A) Hitung berat maksimum katalis yang bisa digunakan dan menjaga tekanan keluar di atas 1 atm. (Ans:W = 99g)
(B) Tentukan berat katalis yang diperlukan untuk mencapai konversi 90%. Berapa rasio katalis yang dibutuhkan untuk
mencapai 5% terakhir (85 hingga 90%) konversi ke berat yang diperlukan untuk mencapai konversi 5% pertama (0
hingga 5%) dalam reaktor? Variasikan dan tulis beberapa kalimat yang menggambarkan dan menjelaskan temuan
Anda. Generalisasi apa yang dapat Anda lakukan? (Am.:W = 82g)
Dimatorisasi fase gas mengikuti hukum tingkat dasar dan terjadi secara isotermal dalam PBR yang diisi dengan 1,0
kg catqlyst. Umpan, yang terdiri dari A murni, memasuki PBR pada tekanan 20 atm. Konversi yang keluar dari PBR
adalah 0,3, dan tekanan di pintu keluar PBR adalah 5 atm.
(A) Jika PBR digantikan oleh CSTR "fluidized" dengan 1 kg katalis, apa yang akan menjadi konversi pada saat keluar
dari CSTR? Anda dapat mengasumsikan bahwa tidak ada penurunan tekanan dalam CSTR. (Am .: X = 0,4.)
(b) Berapakah konversi dalam PBR jika laju aliran massa dikurangi dengan faktor 4 dan ukuran partikel digandakan?
Asumsikan aliran turunan. (Ujian akhir)
(c) Discus apa yang saya pelajari dari program ini adalah kekuatan dan kelemahan menggunakan ini sebagai masalah
ujian akhir.
Nama : KHANSA KHAIRUNNISA
NIM : 21030116140151

P4-201 Dekomposisi kumen

Dekomposisi kumen harus dilakukan pada suhu tinggi di reaktor packed-bed. Pada suhu ini reaksi adalah difusi
internal yang terbatas dan urutan pertama yang jelas dalam kumena. Saat ini, 1000 kg katalis dikemas dalam pipa
berdiameter 4 cm. Partikel katalis berdiameter 0,5 cm dan densitas bulk katalis yang dikemas adalah 1000 kg / m3.
Saat ini, konversi 6,4% direalisasikan - ketika cumene murni memasuki reaktor. Tekanan yang masuk adalah 20 atm
dan tekanan di pintu keluar reaktor adalah 2,46 atm.
(a) Konversi apa yang akan dicapai jika PBR diganti oleh CSTR terionisasi yang mengandung 8000 kg katalis dengan
penurunan tekanan yang diabaikan?
(b) Kita tahu dari chapter 12 [misalnya, Persamaan (12-35)] bahwa untuk keterbatasan difusi internal, laju reaksi
bervariasi berbanding terbalik dengan ukuran partikel katalis. Konsekuensinya, salah satu insinyur menyarankan agar
Icatayster digiling menjadi ukuran yang lebih kecil. Dia juga mencatat ada tiga ukuran pipa lain yang tersedia di mana
katalis dapat dikemas. Pipa tahan panas non-korosif ini, yang dapat dipotong panjangnya, memiliki diameter 2 cm, 6
cm, dan 8 cm. Haruskah Anda mengubah ukuran katalis dan diameter pipa di mana katalis dikemas? Jika ya, berapa
ukuran partikel katalis yang sesuai, diameter pipa yang sesuai, dan versi keluarnya? Jika tidak ada yang harus diubah,
jelaskan alasan Anda. Asumsikan bahwa alirannya sangat bergejolak dan bahwa densitas katalis bulk adalah sama
untuk semua ukuran katalis dan pipa. Jelaskan bagaimana jawaban Anda akan berubah jika alirannya "laminar."
(c) Diskusikan apa yang Anda pelajari dari masalah ini dan apa yang Anda yakini sebagai titik masalahnya.

P4-2lC Reaksi fase gas ireversibel

dilakukan dalam reaktor tempat tidur dikemas. Saat ini 1000 kg katalis reforming yang dikemas dalam pipa
berdiameter 4 cm. Partikel katalis adalah 0,5 cm dalam diameter dan densitas bulk katalis yang dikemas adalah 1.000
kg / m3. saat ini 14.1
(a) Konversi apa yang bisa dicapai dalam C dan tidak ada AP? (Jawab: X = 0,18.)
(b) Hitung nilai maksimum dari parameter penurunan tekanan, a, bahwa Anda
dapat memiliki dan masih mempertahankan tekanan keluar 1 atm. (Jawab: a = 9.975 X kg-I.)
(c) Jika Anda mengubah ukuran katalis dan diameter pipa di mana 1000 kg katalis dikemas sambil mempertahankan
berat katalis?
(d) Selanjutnya pertimbangkan bagaimana 01 akan berubah jika Anda mengubah ukuran pipa dan ukuran partikel.
Dapatkah Anda mengubah ukuran pipa dan ukuran partikel pada saat yang sama sedemikian rupa sehingga tetap
konstan pada nilai yang dihitung dalam bagian (b)?
(e) Untuk kondisi bagian (a) [yaitu, menjaga konstanta pada nilai dalam bagian (a)], pilih ukuran pipa dan hitung
ukuran partikel baru. (Jawab: D, = 0,044 cm.) Asumsikan aliran turbulen.
(f) Hitung rasio tingkat reaksi spesifik baru dengan asumsi (Le., ingat faktor efektivitas dari Bab 12)

(g) Dengan menggunakan nilai-nilai baru qf k dan a, hitung konversi untuk PBR untuk ukuran partikel baru untuk
tekanan keluar 1 atm. (Jawab: X = 0,78.)
Nama : KHANSA KHAIRUNNISA
NIM : 21030116140151

P4-22B Sikloheksan alkilasi adalah perantara penting dalam industri parfum dan parfum [Ind. Ya Chem. Res., 28, 693
(1989) l. Pekerjaan terbaru telah berfokus pada hidrogenasi fase-gas dari o-cresol menjadi 2-methylcyclo-hexanone,
yang kemudian dihidrogenasi menjadi 2-methylcyclohexanol. Dalam masalah ini kita fokus hanya pada langkah
pertama dalam reaksi (Gambar P4-22). Reaksi pada katalis nikel-silika ditemukan urutan nol dalam 0-kresol dan orde
pertama dalam hidrogen dengan laju reaksi spesifik pada 170 ° C 1,74 mol o-cresoll (kg kucing. Min. Atrn). Campuran
reaksi memasuki reaktor packed-bed pada tekanan total 5 atm. Umpan molar terdiri dari 67% H, dan 33% o-cresol
pada tingkat molar total 40 mol / menit.

(a) Mengabaikan penurunan tekanan, memplot laju reaksi 0-kresol dan konsentrasi masing-masing spesies sebagai
fungsi berat katalis. Berapa rasio berat katalis yang diperlukan untuk mencapai 5% konversi terakhir ke berat yang
diperlukan untuk mencapai konversi 5% pertama (0 hingga 5%) dalam reaktor aliran sumbat?
(B) Akuntansi untuk penurunan tekanan di tempat tidur dikemas menggunakan nilai
0,034 kg-I, mengulang bagian (a) bersama dengan plot tekanan versus berat katalis.
(c) Insinyur lain menyarankan bahwa alih-alih mengubah ukuran katalis, akan lebih baik untuk mengemas katalis
dalam reaktor yang lebih pendek dengan dua kali dimer piper. Jika semua kondisi lain tetap sama, apakah saran ini
lebih baik?

P4-23C Reaksi Fase Gas

dilakukan di reaktor packed-bed. Saat ini, partikel katalis berdiameter 1 mm dikemas menjadi 4-in. jadwal 40 pipa (4
= 0,82126 dmz). Nilai Boin persamaan penurunan tekanan adalah 0,001 atmldm. Campuran stoikiometri dari A dan
B memasuki reaktor pada laju alir molar total 10 gmolfmin, suhu 590 K, dan tekanan 20 am. Alirannya bergejolak di
seluruh tempat tidur. Saat ini, hanya 12% konversi dicapai dengan 1010 kg katalis.
Disarankan bahwa konversi dapat ditingkatkan dengan mengubah. diameter partikel cat- alyst. Gunakan data di bawah
ini untuk menghubungkan laju reaksi spesifik sebagai fungsi diameter partikel. Kemudian gunakan korelasi ini untuk
menentukan ukuran katalis yang memberikan konversi tertinggi. Seperti yang akan Anda lihat di Bab
12, k ’untuk reaksi pesanan pertama diharapkan bervariasi sesuai dengan hubungan berikut

di mana Q, bervariasi secara langsung dengan diameter partikel, Q, = cd,. Meskipun pengaruhnya tidak orde pertama,
satu catatan dari Gambar 12-5 fungsionalitas untuk reaksi order yang kedua mirip dengan Persamaan (P4- 23.1). (Ans
.: c = 75)
(a) Buat plot konversi sebagai fungsi ukuran katalis.
(b) Diskusshowyouranswerwouldchangeifyouhadusedadalah faktor efektivitas untuk reaksi orde kedua daripada
reaksi orde pertama.
(c) Diskusikan apa yang Anda pelajari dari masalah ini dan apa yang Anda yakini sebagai titik masalahnya.
Nama : KHANSA KHAIRUNNISA
NIM : 21030116140151

Petunjuk: Anda bisa menggunakan Persamaan (P4.23-l), yang akan mencakup dp dan. konstanta proporsionalitas yang
tidak diketahui yang dapat Anda evaluasi dari data. Untuk nilai-nilai yang sangat kecil dari modulus Thiele kita tahu
q = 1 dan untuk nilai-nilai yang sangat besar dari modulus Thiele kita tahu bahwa q = 3 / Q, = 3 / cd

P4-24C (Reaktor berbentuk bulat) Karena sudah tersedia dari batu bara, metanol telah diteliti sebagai bahan baku
alternatif untuk memproduksi olefin yang berharga seperti etena dan propena. Salah satu langkah pertama dalam
proses reformasi melibatkan dehidrasi metanol.

Reaksi fase-gas ini dilakukan di atas katalis zeolit dan mengikuti hukum laju dasar. Katalis dikemas dalam tubular
PBR yang berdiameter 2 m dan panjang 22 m. Metanol murni diberi makan dengan laju alir molar 950 mol, tekanan
1500 H a, konsentrasi 0,4 mol / dm3, dan 490 ° C. Konversi dan tekanan di pintu keluar adalah 0,5 dan 375 kPa,
masing-masing. Aliran di seluruh tempat tidur dikenal sedemikian rupa sehingga kontribusi turbulen dalam persamaan
Ergun (yaitu, G2) dapat diabaikan. PBR tubular harus diganti dengan PBR sferis yang mengandung jumlah identik
yang sama dengan katalis. PBR bulat mengukur diameter 5,2 m dan memiliki layar yang menempatkan
2dmfromeachend (yaitu, L = L ’= 24dm).
(a) Apa yang terjadi pada tekanan keluar yang dapat kita harapkan dari reaktor bulat? [Petunjuk: Apa sajakah nilai
parameter (mis., A, k) untuk PBR (0,1 <k <I.O)? (Am .: X = 0,63.)
(b) Dengan berapa banyak laju umpan ke PBR bola ditingkatkan dan masih mencapai konversi yang sama yang
dicapai, dalam PBR tubular? Asumsikan bahwa aliran sepenuhnya laminar hingga FAo = 2000 mows.
(c) Diharapkan untuk meminimalkan kebutuhan pemompaan untuk umpan ke PBR sferis. Seberapa rendah tekanan
masuk, Po. menjadi dan masih mencapai konversi OS?
(d) PuttwosphericalPBRsinseries.Apa yang Anda tanggapi dan tekan keluar? Bereksperimenlah dengan menempatkan
lebih dari dua reaktor secara seri. Apakah konversi maksimum yang dapat dicapai?
[Data yang diberikan dalam masalah ini didasarkan pada data kinetika yang diberikan dalam H. Schoe-nfelder, J.
Hinderer, J. Werther, FJ Keil, Methanol hingga olefin - prediksi kinerja dari sirkulasi fluidized-bedreactor atas dasar
eksperimen kinetik dalam reaktor fixed-bed. Chem. Ya Sci. 49, 5377 (1994).]

4-25A Sebuah reaksi limbah industri yang sangat eksklusif yang akan kami kode untuk dilakukan dalam 10-dm3
CSTR diikuti oleh 10-dm3 PFR. Reaksinya elementer, tetapi A, yang masuk pada konsentrasi 0,001 moi / dm3 dan
laju alir molar 20 mol / menit, mengalami masalah penguraian. Tingkat reaksi spesifik pada 42 ° C (yaitu, suhu kamar
di gurun Mojave) adalah 0,0001 s - l. Namun, kami tidak tahu energi aktivasi; oleh karena itu, kita melakukan reaksi
ini di musim dingin di Michigan. Akibatnya reaksi ini, meski penting, tidak sepadan dengan waktu Anda untuk belajar.

P4-26B Butanol murni harus dimasukkan ke dalam reaktor semaibatch yang mengandung etil ace murni-
tate untuk menghasilkan butil asetat dan etanol. Reaksi

bersifat elementer dan reversibel. Reaksi dilakukan secara isotermal pada 300 K. Pada suhu ini, konstanta
kesetimbangan adalah 1,08 dan laju reaksi spesifik adalah 9 X 10-5 dm3 / mol1 s. Awalnya, ada 200 dm3of ethyl
Aceate dalam tong dan butanol diberi makan 0,05 dm3 / dtk. Umpan dan konsentrasi awal butanol dan etil asetat
masing-masing adalah 10.93 mol / dm3 dan 7.72 moYdm3.
217
Novita Wuryaningtyas

Ch.4 Pertanyaan dan Masalah

a) Plot konversi ekuilibrium etil asetat sebagai fungsi waktu.


b) Plot konversi etil asetat, laju reaksi, dan konsentrasi butanol sebagai fungsi waktu.
c) Ulangi bagian (a) dan (b) untuk nilai yang berbeda dari tingkat umpan butanol dan
jumlah etil asetat dalam tong.
d) Ulang bagian (b) dengan asumsi bahwa etanol menguap (reaktif distilasi) segera
setelah terbentuk.
e) Gunakan POLYMATH atau beberapa pemecah ODE lainnya untuk mempelajari
sensitivitas konversi ke berbagai kombinasi parameter.
f) Diskusikan apa yang Anda pelajari dari masalah ini dan apa yang Anda yakini sebagai
titik masalah ini.
g) Tuliskan pertanyaan yang membutuhkan pemikiran kritis dan kemudian jelaskan
alasannya: pertanyaan Anda membutuhkan pemikiran kritis. [Petunjuk: Lihat Kata
Pengantar p.xx]

P4-27B Katalis adalah bahan yang mempengaruhi laju reaksi kimia, namun tidak ikut berubah
selama dari reaksi. Misalnya, perhatikan reaksi elementer

dimana B adalah katalis. Reaksi berlangsung di reaktor semibatch, di mana 100 ft 3 dari
larutan yang mengandung 2 Ib mol/ft3 A pada mulanya. Tidak ada B pada awalnya. Mulai
pada waktu t = 0, 5 ft 3/menit dari larutan yang mengandung 0,5 Ib mol/ft3 B dimasukkan
ke dalam reaktor. Reaktornya isotermal, dan k = 0,2 ft 3/lb mol.min.
a) Berapa banyak mol C yang hadir di reaktor setelah setengah jam?
b) Plot konversi sebagai fungsi waktu.
c) Ulangi bagian (a) dan (b) untuk kasus ketika reaktor yang pada mulanya
mengandung 100 ft 3 B dan A diumpankan ke reaktor pada konsentrasi 0,02 lbmol/ft3
dan pada laju 5 ft3/menit. Konsentrasi umpan B adalah 0,5 lbmol/ft 3.
d) Diskusikan apa yang Anda Inginkan dari masalah ini dan apa yang Anda yakini
sebagai titik masalah ini.

P4-28C Reaksi isotermal reversibel dilakukan dalam larutan berair. Reaksi adalah
orde
pertama di kedua arah. Konstanta laju maju adalah 0,4 h-1 dan konstanta kesetimbangan
adalah 4,0. Umpan ke pabik mengandung 100 kg/m3 A dan masuk pada kecepatan 12
m3/jam. Limbah reaktor lolos ke pemisah, di mana B benar-benar pulih. Reaktor adalah
tangki berpengaduk volume 60 m3. Sebagian kecil dari limbah yang tidak bereaksi didaur
ulang sebagai larutan yang mengandung 100 kg/m3 A dan sisanya dibuang. Produk B
bernilai $2 per kilogram dan biaya operasi adalah $50 per meter kubik larutan yang
menggerakkan pemisah. Berapa nilai f yang memaksimalkan laba operasional pabrik?
Berapa fraksi A yang diumpankan ke pabrik dikonversi pada optimum? (H. S. Shankar;
ZIT Bombay)

P4-29, (CSTR train) Reaksi elementer fase cair

harus dilakukan dalam CSTR dengan tiga impeler (Gambar P4-29). Pola pencampuran
dalam CSTR sedemikian rupa sehingga dimodelkan sebagai tiga CSTR berukuran sama
dalam seri. Spesies A dan B dimasukkan ke dalam jalur terpisah ke CSTR, yang awalnya
diisi dengan bahan inert. Setiap CSTR adalah 200 dm3 dan 3 aliran volumetrik ke reaktor
pertama adalah 10 dm3/menit A dan 10 dm3/menit B.
218
Novita Wuryaningtyas

a) Apa yang dimaksud dengan konversi kondisi-mapan (steady-state) dari A? (Jawab:


XGO.55)
b) Tentukan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi tunak (i.e., Ketika C A
keluar dari reaktor ketiga adalah 99% dari nilai kondisi-mapan).
c) Plot konsentrasi A yang keluar dari setiap tangki sebagai fungsi waktu.
d) Anggaplah bahwa umpan untuk spesies B dibagi sehingga separuh diumpankan ke
tangki pertama dan setengah lagi ke tangki kedua. Ulangi bagian (a), (b), dan (c).
e) Variasikan parameter sistem, v0, V, k, dan sebagainya, untuk menentukan
pengaruhnya pada startup. Tulislah paragraf yang menggambarkan tren yang Anda
temukan yang mencakup diskusi tentang parameter yang paling memengaruhi
hasilnya.
Informasi tambahan:
CA0 = CB0 = 2,0 mol/dm3 k = 0,025 dm3/mol.min

P4-30B Isomerisasi reversibel

harus dilakukan dalam reaktor membran (IMRCF). Karena konfigurasi spesies B, ia


mampu menyebar keluar dinding membran, sementara A tidak bisa.
a) Apakah konversi kesetimbangan dengan asumsi bahwa B tidak menyebar keluar dari
dinding reaktor?
b) Plot profil konversi untuk membandingkan PFR konvensional 100-dm3 dengan
reaktor membran 100-dm3. Pernyataan atau generalisasi apa yang dapat Anda buat?
Parameter apa yang memiliki efek terbesar pada bentuk konversi keluar dari plot di
bagian (a)?
c) Plot konversi dan konsentrasi spesies dan laju alir molar di sepanjang reaktor.
d) Variasikan beberapa parameter (mis., K = 0,8 s -1, k, = 0,03 s-l, Kc = 1,0, dll.) Dan
tulis paragraf yang menjelaskan hasil Anda.
e) Diskusikan bagaimana kurva Anda akan berubah jika suhu meningkat secara
signifikan atau menurun secara signifikan untuk reaksi eksotermis dan reaksi
endotermik.
219
Novita Wuryaningtyas

Informasi tambahan:
Kecepatan reaksi spesifik = 0,05 s-1
Koefisien transportasi kc = 0,3 s-l
Konstanta kesetimbangan = Ke = 0,5
Memasukkan laju aliran volumetrik v0 = 10 dm3/dtk
CA0 = 0,2 mol/dm3

P4-31C (Membran reaktor) Reaksi orde pertama, reversibel

sedang berlangsung di reaktor membran. Pure A memasuki reaktor, dan B berdifusi


melalui membran. Sayangnya, beberapa reaktan A juga berdifusi melalui membran.
a) Plot laju aliran A, B, dan C ke bawah reaktor, serta laju aliran A dan B melalui
membran.
b) Bandingkan profil konversi PFR konvensional dengan yang ada pada IMRCF.
Generalisasi apa yang bisa Anda buat?
c) Akankah konversi A menjadi lebih besar atau lebih kecil jika C menyebar keluar
bukannya B?
d) Diskusikan bagaimana kurva Anda akan berubah jika suhu meningkat secara
signifikan atau menurun secara signifikan untuk reaksi eksotermis dan reaksi
endotermik.
Informasi tambahan:
k = 10 menit-1
Kc = 0,01 moI2/dm6
KCA = 1 mnt-l
KCB = 40 menit -1
FA0 = 100 mol/min
v0 = 100 dm3/rnin
Vreaktor = 20 dm3

P4-32A Muatkan Modul Komputer interaktif QCM) dari CD-ROM. Jalankan modul dan kemudian
rekam nomor penampilan Anda untuk madule yang menunjukkan snastering Anda dari
pasangan & l. Profesor Anda memiliki kunci untuk memecahkan kode nomor kinerja
Anda.
(A) ICM Mystery Theater Performance #
(B) ICM Tic Tac Performance #

MASALAH KRITIS JURNAL

P4C-1 Dalam artikel yang menjelaskan reaksi cair isoprena dan anhidrida maleat di bawah
tekanan
[AIChE J., 16 (5), 766 (1970)], penulis menunjukkan laju reaksi akan sangat dipercepat
oleh penerapan tekanan. Untuk pakan equimolar yang mereka tulis ekspresi laju reaksi orde
kedua dalam hal fraksi mol y:

dan kemudian menunjukkan efek tekanan pada k y (s-1). Turunkan ungkapan ini dari prinsip
pertama dan sarankan penjelasan logis yang mungkin untuk peningkatan laju reaksi
spesifik konstan k (dm3/mol.s) dengan tekanan yang berbeda dari para penulis. Lakukan
pemeriksaan cepat untuk memverifikasi tantangan Anda.

P4C-2 Pengurangan NO oleh char dilakukan di 8 tempat tidur tetap antara 500 dan 845°C
[Znt.
Chem. Eng., 20(2), 239, (1980)]. Disimpulkan bahwa reaksi adalah orde pertama dengan
memperhatikan konsentrasi umpan NO (300 hingga 1000 ppm) selama rentang suhu yang
dipelajari. Itu juga menemukan aktivasi itu energi mulai meningkat sekitar 680 ° C.
Apakah urutan pertama urutan reaksi yang benar? Jika ada perbedaan dalam artikel ini, apa
alasannya?
220
Novita Wuryaningtyas

P4C-3 Dalam artikel yang menjelaskan fase esterifikasi uap asam asetat dengan etanol untuk
membentuk etil asetat dan air [Znd. Ya Chem. Res., 26 (2), 198 (1987)], penurunan
tekanan dalam reaktor dicatat dengan cara yang paling tidak biasa [yaitu, P = Po (1 - fx), di
mana f adalah konstanta].
a) Menggunakan persamaan Ergun bersama dengan memperkirakan beberapa nilai
parameter (misalnya, ϕ = 0,4), hitung nilai  dalam reaktor packed-bed (2 cm ID
dengan panjang 67 cm).
b) Dengan menggunakan nilai CY, ulangi bagian (a) akuntansi untuk penurunan
tekanan sepanjang garis yang dijelaskan dalam bab ini.
c) Akhirnya, jika memungkinkan, perkirakan nilai yang digunakan dalam persamaan
ini.

BEBERAPA PIKIRAN ADALAH KRITIQUING APA YANG ANDA BACA

Buku teks Anda setelah kelulusan Anda akan, sebagian, jurnal profesional yang Anda baca. Ketika
Anda membaca jurnal, penting bagi Anda untuk mempelajarinya dengan mata yang kritis. Anda
perlu belajar jika kesimpulan penulis didukung oleh data, jika artikel itu baru atau baru, jika itu
memajukan pemahaman kita, dan untuk pelajari jika analisisnya sekarang. Untuk mengembangkan
teknik ini, salah satu tugas utama yang digunakan dalam program pascasarjana dalam reaksi kimia
teknik di The University of Michigan selama 20 tahun terakhir telah menjadi analisis mendalam
dan kritik terhadap artikel jurnal yang berkaitan dengan materi pelajaran. Upaya signifikan yang
dilakukan untuk memastikan bahwa peninjauan sepintas atau dangkal tidak dilakukan. Siswa
diminta untuk menganalisis dan mengkritik ide daripada mengajukan pertanyaan seperti: Apakah
tekanan diukur secara akurat? Mereka telah diberitahu bahwa mereka tidak diperlukan untuk
menemukan kesalahan atau ketidakkonsistenan dalam artikel untuk menerima nilai bagus, tetapi
jika mereka menemukan hal-hal seperti itu, itu hanya membuat tugas lebih menyenangkan.
Dimulai dengan Bab 4, sejumlah masalah mengakhiri setiap bab dalam buku ini didasarkan pada
analisis dan kritik siswa tentang nilai artikel dan ditentukan dengan C (misalnya, P4C-1). Masalah-
masalah ini melibatkan analisis artikel jurnal yang mungkin memiliki inkonsistensi kecil atau
besar. Pembahasan tentang artikel jurnal kritis dapat ditemukan pada CD-ROM.

MATERI CD-ROM
 Sumber Belajar
1. Ringkasan Catatan untuk Kuliah 4, 5, 6, 7, 8 dan 9
2. Modul Web
A. Lahan basah
B. Reaktor Membran
C. Distilasi Reaktif
D. Reaktor aerosol
3. Modul Komputer Interaktif
A. Teater Misteri
B. Tic-Tac
4. masalah terpecahkan
A. CDP4-AB A Sinister Gentleman Messing with a Batch Reactor
B. Solusi untuk Masalah Ujian Registrasi California
C. Sepuluh Jenis Masalah Rumah: 20 Soal Pemecahan
5. Analogi Algoritma CRE ke Menu di Restoran Prancis yang Halus
6. Algoritma untuk Reaksi Fasa Gas
 Contoh Masalah Hidup
1. Contoh 4-7 Penurunan Tekanan dengan Reaksi-Solusi Numerik
2. Contoh 4-8 Dehidrogenasi dalam Reaktor Bola
3. Contoh 4-9 Bekerja dalam Ketentuan Laju Aliran Molar dalam PFR
4. Contoh 4-10 Membran Reaktor
5. Contoh 4-11 Reaktor Semibatch Isothermal dengan Reaksi Orde Kedua
 Rak Referensi Profesional
1. Saatnya Mencapai Steady State untuk Reaksi Order Pertama dalam CSTR
221
Novita Wuryaningtyas

2. Recycle Reactors
3. Artikel Crifiquing Journal
 FAQ [Pertanyaan yang Sering Diajukan] - Di bagian ikon Pembaruan FAQ
 Masalah Pekerjaan Rumah Tambahan

CDP4-AB Orang-orang jahat tertarik untuk memproduksi metil perklorat dalam reaktor batch.
Reaktor memiliki hukum laju yang aneh dan tidak nyaman [2nd Ed. P4-28]
CDP4-BC (Ecological Engineering) Versi yang jauh lebih rumit dari Soal 4-17 menggunakan
ukuran
aktual kolam (CSTR) dan laju aliran dalam pemodelan situs dengan CSTRs untuk
lahan basah eksperimental Sungai Des Plaines (EW3) untuk menurunkan atrazin.
CDP4-CB Tingkat mengikat ligan reseptor ta dipelajari dalam aplikasi ini kinetika reaksi untuk
bioteknologi. Waktu untuk mengikat 50% ligan ke reseptor diperlukan. [2nd Ed. P4-34]
CDP4-DB Reaktor batch digunakan untuk brominasi p-klorofenil islopropil eter. Hitung waktu
reaksi batch. [2nd Ed. P4-29]
CDP4-EB California Professional Engineers Exam Soal di mana reaksi

dilakukan dalam reaktor batch. [2nd Ed. P4-15]


CDP4-FA Reaksi fase gas

memiliki hukum laju -rA =. Volume reaktor PFR dan CSTR diperlukan dalam masalah
multipartai ini. [2nd Ed. P4-21]
CDP4-GB Apa jenis dan pengaturan reaktor aliran yang harus Anda gunakan untuk reaksi
dekomposisi dengan hukum laju -rA =)? [2nd Ed. P4-14]
CDP4-HA Verifikasi bahwa reaksi fase-cair dari 5,6-benzoquinoline dengan hidrogen adalah
pseudo-first-order. [2nd Ed. P4-7]
CDP4-IB Reaksi fase cair

dilakukan di reaktor semibatch. Plot konversi, volume, dan konktrinasi spesies sebagai
fungsi waktu. Distillatioln reaktif juga dianggap sebagian (e). [2nd Ed. P4-27]
CDP4-JB Dirancang untuk memperkuat prinsip CRE dasar melalui perhitungan yang sangat
lurus
dari CSTR dan volume PFR dan reaktor batch
FAISHAL MAULANA KUSUMAH (21030116130087)

CDP4-KB Hitung konversi keseluruhan untuk reaktor PFR dengan recycle [Edisi ke 2 P4-28]
CDP4-LB Hitung konversi keseluruhan untuk reaktor packed-bed dengan recycle [Edisi ke 2 P4-22]
CDP4-MB Reaktor recycle digunakan untuk sebuah reaksi :
A+B C
Dimana C sebagian mengembun. Volume reaktor PFR yang dibutuhkan untuk mencapai konversi
50% [Edisi ke 2 P4-32]
CDP4-NB Reaktor aliran radial dapat menguntungkan jika digunakan untuk reaksi eksotermis dengan entalpi
reaksi yang besar. Kecepatan radialnya dapat direpresentasikan dengan persamaan berikut.

Variasikan parameter dan plotkan X sebagai fungsi r [edisi ke 2 P4-31]


CDP4-LB Pertumbuhan bakteri dilakukan dengan nutrisi yang berlebih.
Nutrisi + sel more cells + produk

BAHAN BACA TAMBAHAN


HILL, C. G., An Introduction to Chemical Engineering Kinetics and Reactor Design. New York:
Wiley, 1977, Chap. 8.
LEVENSPIEL, O., Chemical Reaction Engineering, 2nd ed: New York Wiley, 1972, Chaps.
4 and 5.
SMITH, J. M., Chemical Engineering Kinetics, 3rd ed. New York McGraw-Hill, 1981.
STEPHENS, B., Chemical Kinetics, 2nd ed. London: Chapman & Hall, 1970,Chaps. 2 and 3.
ULRICH, G. D., A Guide to Chemical Engineering Reactor Design and Kinetics. Printed and
bound by Braun-Brumfield, Inc., Ann Arbor, Mich., 1993.
WALAS, S. M., Reaction Kinetics for Chemical Engineers. New York: McGraw-Hill, 1970.
Informasi tambahan mengenai desain reaktor dapat ditemukan juga di jurnal seperti : Chemical
Engineering Science, Chemical Engineering Communications,Industrial and Engineering
Chemistry Research, Canadian Journal of Chemical Engineering, AKhE Journal,
Chemical Engineering Progress.
FAISHAL MAULANA KUSUMAH (21030116130087)

Koleksi dan Analisis Data Kecepatan

Dalam bab 4 menunjukkan bahwa setelah hokum kecepatan diketahui, itu dapat digantikan ke dalam
persamaan desain yang tepat, dan melalui penggunaan hubungan stoikiometrik yang tepat dapat mengukur sistem
reaksi isotermal apa pun. Di dalam bab ini fokus pada cara memperoleh dan menganalisis data laju reaksi untuk
mendapatkan hukum laju untuk reaksi tertentu. Secara khusus, membahas dua jenis reaktor umum untuk
memperoleh data laju: reaktor batch, yang digunakan terutama untuk reaksi homogen, dan reaktor diferensial, yang
digunakan untuk reaksi cairan padat. Dalam eksperimen reaktor batch, konsentrasi, tekanan, dan volume atau
biasanya diukur dan dicatat pada waktu yang berbeda selama reaksi. Data dikumpulkan dari reaktor batch selama
operasi unsteady-state, sedangkan pengukuran pada reaktor yang berbeda dilakukan selama operasi steady-state.
Dalam percobaan dengan reaktor diferensial, konsentrasi produk biasanya dipantau untuk umpan yang berbeda
kondisi.
Dua teknik akuisisi data disajikan: pengukuran konsentrasi-waktu dalam reaktor batch dan pengukuran
konsentrasi dalam reaktor diferensial. Enam metode berbeda untuk menganalisis data yang dikumpulkan digunakan
metode diferensial, metode integral, metode half-life, metode tingkat awal, dan regresi linier dan nonlinear (analisis
kuadrat terkecil). Metode diferensial dan integral digunakan terutama dalam menganalisis reaktor batch
data. Karena sejumlah paket perangkat lunak (misalnya, POLYMATH, MATLAB) sekarang tersedia untuk
menganalisis data, diskusi yang lebih luas tentang regresi linear dan nonlinear disertakan. menutup bab ini dengan
diskusi tentang perencanaan eksperimental dan reaktor laboratorium (CD-ROM).

5.1 Data Reaktor Batch

Reaktor batch digunakan untuk menentukan parameter kecepatan pada reaksi homogen. Parameter tersebut
dapat diperoleh dengan menghitung konsentrasi sebagai fungsi waktu yang kemudian didiferensialkan, integral, atau
Mengunakan metode least square untuk menetukan reaksi order, alpha, dan laju reaksi, k. Jika beberapa parameter
reaksi yang lain dibanging konsentrasinya dimonitori, seperti tekanan, neraca massa harus ditulis ulang untk
menghitung variabel (seperti tekanan).

5.1.1 Metode Diferensial pada Analisis Kecepatan


Saat reaksi bersifat irreversibel, mungkin dalam beberapa kasus untuk menentukan reaksi order
alpha dan konstanta kecepatan reaksi denga mendiferensialkan konsentrasi versus waktu. Metode ini dapat
diaplikasikan saat kondisi reaksi seperti kecepatan reaksi yang merupakan fungsi kosentrasi hanya satu
reaktan. Contohnya pada reaksi dekomposisi
A -> produk
-rA = kCaA
Namun, dengan memanfaatkan metode kelebihan, juga mungkin untuk menentukan hubungan antara - rA
dan konsentrasi reaktan lainnya. Yaitu, untuk reaksi irreversibel :
A+B -> produk
dengan laju reaksi
-rA = kACaACbB
Dimana nilai a dan b tidak diketahui, reaksi yang reaktan B nya berlebih kemudian C

-rA = k’CaA
dimana
k’ = kCbB ~ kCbB0
setelah menentukan a, reaksi dilakukan dengan melebihkan reaktan A, sehingga laju reaksi
-rA = k”CBb

Setelah a dan b dapat ditentukan, k dapat dihitung dengan rumus


KA = = (dm3/mol)a+b-1/s
Baik a dan b dapat ditentukan dengan menggunakan metode kelebihan, ditambah dengan analisis
diferensial data untuk sistem batch. Untuk menguraikan prosedur yang digunakan dalam metode analisis
diferensial, kami menganggap reaksi dilakukan secara isotermal dalam reaktor batch volume konstan dan
FAISHAL MAULANA KUSUMAH (21030116130087)

konsentrasi dicatat sebagai fungsi waktu. Dengan menggabungkan keseimbangan mol dengan hukum laju
yang diberikan oleh Persamaan (5-l), kita dapatkan

Setelah keduanya dikali dengan logaritma narutal menjadi

amati bahwa kemiringan plot In (-dC, ldt) sebagai fungsi dari (InC,) adalah reaksi order (Gambar 5-1).

Gambar 5.1 Metode diferensial untuk menentukan reaksi order

Gambar 5-l (a) menunjukkan plot - (dC, / dt) versus CA pada log-log paper di mana kemiringan sama dengan orde
reaksi a. Tingkat reaksi spesifik, k ,, dapat ditemukan dengan terlebih dahulu memilih konsentrasi dalam plot,
katakanlah C ,,, dan kemudian menemukan nilai yang sesuai - (dCA / dt) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-l
(b). Setelah menaikkan CAp, kita membaginya menjadi - (dC, / dt), untuk menentukan k ,:

Untuk memperoleh derivatif -dCA / dt yang digunakan dalam plot ini, kita harus membedakan data konsentrasi-
waktu secara numerik atau grafis. Kami menjelaskan tiga metode untuk menentukan turunan dari data yang
memberikan konsentrasi sebagai fungsi waktu. Metode-metode ini adalah:

 Diferensiasi grafis
 Rumus diferensiasi numerik
 Diferensiasi kecocokan polinomial ke data

Metode grafis. Dengan metode ini disparitas dalam data mudah dilihat. Sebagaimana dijelaskan dalam Lampiran
A.2, metode grafis melibatkan merencanakan –dC/dt sebagai fungsi t dan kemudian menggunakan diferensiasi
sama-daerah untuk mendapatkan dCA / dt, Contoh ilustratif juga diberikan dalam Lampiran A.2.Selain teknik grafis
yang digunakan untuk membedakan data, dua metode lain yang umum digunakan: rumus diferensiasi dan
polynomial

Metode Numerik. Rumus doferensiasi numerik dapat digunakan saat data pada variabel independen memiliki space
yang sama, seperti t1-t0 = t2-t1 = :

3 poin rumus diferensiasi


Poin inisial :
FAISHAL MAULANA KUSUMAH (21030116130087)

Poin interior :

Poin akhir :

Persamaan tersebut dapat digunakan untuk menghitung dCA/dt, ketiga persaman diatas digunakan untuk data
pertama dan terakhir, sementara persamaan yang ketiga digunakan untuk poin data intermediet.
Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

Fit Polinomial. Salah satu teknik lain untuk membedakan data adalah terlebih dahulu
menyesuaikan data konsentrasi-waktu dengan suatu polinomial orde ke-n:

(5-11)

Banyak paket perangkat lunak komputer pribadi berisi program yang akan menghitung nilai
terbaik untuk konstanta . Penggunanya hanya harus memasukkan data konsentrasi-waktu dan
memilih orde polinomial. Setelah menentukan konstanta, , pengguna hanya perlu membedakan
Persamaan (5-11) terhadap waktu:

(5-12)

Maka, konsentrasi dan laju perubahan konsentrasi waktu keduanya diketahui pada t kapan saja.

Memilih orde polinomial harus dilakukan secara berhati-hati. Bila ordenya terlalu rendah,
fit polinomialnya tidak akan menunjukkan tren pada data dan tidak melalui sebagian besar
titiknya. Bila terlalu tinggi, kurva fitnya dapat memiliki puncak dan lembah karena melalui
sebagian besar titik data, sehingga menghasilkan galat yang besar saat turunan ⁄ dibuat
pada titik-titik yang beragam. Salah satu contohnya ditunjukkan pada Gambar 5-2. Fit data
tekanan-waktu pada polinomial orde tiga (a) dan polinomial orde lima yang sama. Perhatikan
turunan pada perubahan orde lima dari nilai positif pada 15 menit ke nilai negative pada 20
menit.
Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

Gambar 5-2 Fit polinomial dari data tekanan-waktu

Gambar 5-2 (lanjutan)


Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

Menemukan α dan k. Sekarang, dengan menggunakan metode grafis, rumus diferensial, atau
turunan polinomial, tabel berikut ini dapat dibuat:

Waktu
Konsentrasi

Turunan ( ) ( ) ( ) ( )

Orde reaksi dapat ditemukan dari plot antara ( ⁄ ) sebagai suatu fungsi ,
seperti ditunjukkan pada Gambar 5-1(a), karena

( )

Sebelum menyelesaikan suatu soal contoh, mari membuat daftar langkah-langkah untuk
menentukan hukum laju reaksi dari suatu set titik data (Tabel 5-1).

Tabel 5-1. Langkah Menganalisis Data Laju

1. Buat suatu hukum laju.


2. Proses data Anda dengan variabel terhitungnya (tulis ulang kesetimbangan mol dengan
memperhatikan variabel terhitungnya).
3. Sederhanakan.
4. Hitung sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan untuk menentukan orde reaksi.
a. Bila batch:
Tentukan ⁄
b. Bila reaktor packed-bed diferensial (Bagian 5.3):
Hitung
5. Tentukan laju reaksi spesifik, k.

Contoh 5-1 Metode Diferensial Analisis Data Tekanan-Waktu

Tentukan orde reaksi dekomposisi fase gas dari di-tert-butilperoksida,


Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

Reaksi ini dilaksanakan di laboratorium dalam sistem batch isotermal. Tekanan total
dicatat pada waktu yang berbeda-beda selama reaksi. Data yang diberikan di Tabel E5-1.1
berlaku pada reaksi ini. Hanya di-tert-butil peroksida murni yang awalnya ada dalam wadah
reaksi.

Tabel 5-1.1. Data Tekanan-Waktu

Waktu (menit) Tekanan Total (mmHg)


0,0 7,5
2,5 10,5
5,0 12,5
10,0 15,8
15,0 17,9
20,0 19,4

Walau satuan SI tekanan adalah pascal (Pa) atau kilopascal (kPa), banyak data kinetis
dalam literatur sebelumnya dicatat dengan satuan mmHg, atm, atau psi. Akibatnya, kita harus
dapat menganalisis data laju tekanan-waktu dalam satuan apapun.

Penyelesaian

Anggap A sebagai di-tert-butil peroksida.

1. Buat suatu hukum laju.


(E5-1.1)
Suatu kombinasi kesetimbangan mol dalam reaktor batch dengan volume konstan dan
hukum laju menghasilkan

(E5-1.1)

dengan α dan k akan ditentukan dari data yang ada di Tabel E5-1.1.
2. Proses data Anda dengan variabel terhitungnya (tulis ulang kesetimbangan mol
dengan memperhatikan variabel terhitungnya). Saat tidak ada peningkatan dan
penurunan net dari jumlah total mol dalam suatu reaksi fase gas, orde reaksi dapat
Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

ditentukan dari percobaan yang dilakukan dalam reaktor batch volume konstan dengan
cara memantau tekanan total sebagai fungsi waktu. Data tekanan total tidak diubah
menjadi konversi dan dianalisis sebagai data konversi-waktu hanya karena persamaan
rancangan ditulis berdasarkan konversi variabel. Melainkan, ubah persamaan
rancangan menjadi variabel terukur, yang merupakan tekanan dalam kasus ini.
Akibatnya, kita harus menunjukkan konsentrasi berdasarkan tekanan total, lalu diganti
dengan konsentrasi A dalam persamaan (E5-1.1).
Pada kasus reaktor batch volume konstan, kita membutuhkan Persamaan (3-26) dan
(3-38):
( ) (3-26)

( ) (3-38)

Untuk operasi isotermal dan volume konstan, Persamaan (3-38) diselesaikan menjadi
( ) ( )

( ) (E5-1.2)

dengan

Menggabungkan Persamaan (3-26) dan (E5-1.2) menghasilkan


[( ) ]
(E5-1.3)

Untuk di-tert-butil peroksida, awalnya = 1,0 maka . Stoikiometri


menghasilkan δ = 1 + 2 - 1 = 2.
[( ) ]
(E5-1.4)

Substitusi Persamaan (E5-1.4) ke (E5-1.1) akan menghasilkan

( )

Dengan k’ = k( )1 – α; maka
( ) (E5-1.5)

Logaritma kedua ruas akan memberikan kita


( ) (E5-1.6)
Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

Lihat bahwa orde reaksi, α, dapat dihitung dari slope plot ( ⁄ ) dengan (
). Setelah α diketahui, konstanta k’ dapat dihitung dari rasio

( )
(E5-1.7)

pada titik mana pun.


3. Sederhanakan. Kita telah berasumsi bahwa reaksinya ireversibel. Periksa bila ada
bagian dari persamaan yang dapat dianggap tidak ada [contoh, EX dalam (1 + EX) saat (ε
EX ≪1)].
4. Tentukan dP/dT dari data tekanan-waktu, lalu orde reaksi α. Data dicatat
berdasarkan tekanan total sebagai suatu fungsi waktu; akibatnya, kita harus diferensiasi
data secara numerik atau grafis sebelum menggunakan Persamaan (E5-1.6) dan (E5-1.7)
untuk menemukan orde reaksi dan laju reaksi spesifik. Pertama-tama, kita harus
menghitung dP/dT dengan diferensiasi grafis. Kebanyakan orang lebih memilih analisis
grafis karena dapat digunakan untuk menggambarkan ketidaksesuaian data.

Metode Grafis. Turunan dP/dT ditentukan dengan menghitung dan plot ΔP/Δt sebagai fungsi
waktu, t, lalu dengan menggunakan teknik diferensiasi luas sama (Lampiran A.2) untuk
menentukan (dP/dt) sebagai fungsi P dan t. Pertama-tama, kita menghitung rasio ΔP/Δt dari dua
kolom pertama Tabel E5-1.2; hasilnya ditulis di kolom ketiga. Lalu, kita menggunakan E5-1.2
untuk plot kolom ketiga sebagai suatu fungsi dari kolom pertama di Gambar E5-1.1. Dengan
diferensiasi luas sama, nilai dP/dT dibaca dari gambar (yang diwakili oleh panah) lalu digunakan
untuk menyelesaian kolom keempat Tabel E5-1.2.

Tabel E5-1.2. Data yang Telah Diproses

t (menit) P (mmHg) (mmHg/menit) (mmHg/menit)


0,0 7,5 1,20 1,44
2,5 10,5 0,80 0,95
5,0 12,5 0,66 0,74
10,0 15,8 0,42 0,53
15,0 17,9 0,30 0,34
Chloe Tiara Marannu Siagian 21030116130081

20,0 19,4 0,25


Suhu = 170°
Ignatius Bernadi

Gambar E5-1.1 Grafik diferensial


Beda Hingga. Selanjutanya kita menghitung dP/dt dari rumus beda hingga (5-8) melalui (5-10) :
( ) ( )
t = 0: ( ) = 1.40
( )

t = 2.5: ( ) =1
( )

t = 5: Disini kita memiliki perubahan dalam peningkatan waktu At, antara P1 dan P, dan antara P, dan P3. Sehingga,
kita memiliki 2 pilihan untuk eva;uasi (dP/dt)2 :

(a) ( ) = 0.83
( ) ( )

( ) ( )
(b) ( ) = 0.78
( ) ( )

t = 10: ( ) = 0.54
( )

t = 15: ( ) = 0.36
( )

( ) ( )
t = 15: ( ) = 0.24
( ) ( )

Polinominal (POLYMATH). Metode lainnya menentukan dP/dt adalah menyesuaikan tekanan total dengan
polinomial dalam waktu dan kemudian untuk membedakan polinomial yang dihasilkan. Memilih polinomial orde
keempat
P = a1+a1t+a2t2+a3t3+a4t4 (E5-1.8)
Ignatius Bernadi

Kita menggunakan paket perangkat lunak POLYMATH untuk mengekspresikan tekanan sebagai fungsi waktu. Di
sini kita pertama memilih orde polinomial (dalam hal ini orde keempat) dan kemudian ketik nilai P pada berbagai
waktu t untuk memperoleh
P = 7.53 + 1.31t – 0.0718t2 + 0.00276t3 – 4.83 X 10-5t2 (E5-1.9)
Plot P terhadap t dan kecocokan polinomial orde keempat ditunjukkan dalam gambar E5-1.2. Hasil Persamaan
differensial (E5-1.9)

= 1.31 – 0.1441 + 0.00828t2 – 0.000193t3 (E5-1.10)

Gambar E5-1.2 Polynominal Fit.


Untuk menemukan turunan pada berbagai waktu kita mensubsitusi waktu yang tepat ke dalam persamaan (E5-1.10)
untuk sampai pada kolom keempat pada tabel E5-1.3. Kita dapat melihat bahwa ada cukup persama yang erat antara
teknik grafis, beda hingga, dan
Tabel E5-1.3. Ringkasan Data Proses
Ignatius Bernadi

Gambar E5-1.3. Plot untuk memnentukan k dan α


POLYMATH analisis polinomial. Kolom kedua, ketiga, keempat, dan kelima dari data yang diproses pada tabel E5-
1.3 diplot pada Gambar E5-1.3 untuk menentukan orde reaksi dan laju reaksi spesifik. Kita akan menentukan orde
reaksi, a, dari kemiringan plot log-log dari dP/dt sebagai fungsi dari fungsi tekanan f (P) untuk kondisi awal dan
stoikiometri reaksi ini ternyata menjadi (3P0 – P) (lihat Tabel E5- 1 .3).3 Ingat bahwa

= α ln(3P0 – P) + ln k’ (E5-1.6)

Menggunakan garis melalui titik-titik data pada Gambar E5-1.3 menghasilkan

α = slope = =

Orde reaksi adalah


a = 1.0
k’ = k(2RT)1-a = k (E5-1.1)
-rA=kCA (E5-1.12)
5. Menentukan laju reaksi spesifik. Tingkat reaksi spesifik dapat: ditentukan menggunakan persamaan (E5-1.7)
dengan α = 1 dan kemudian mengevaluasi pembilang dan penyebut pada titik mana pun, p.

( )
k’ = k = ( – )
Ignatius Bernadi

pada (3P0 – P) = 5.0 mmHg,

= 0.4 mmHg/mon

Dari persamaan (E5-1.5),

( )
k=( - = 0.08 min-1
– )

Hukum laju adalah

-rA =

5.1.2 Metode Integral


Untuk menentukan orde reaksi dengan metode integral, kita tebak orde reaksi dan mengintegrasikan
persamaan diferensial yang digunakan untuk memodelkan sistem batch. Jika urutan yang kita anggap benar, plot
yang sesuai (ditentukan dari integrasi ini) dari data konsentrasi-waktu harus linier. Metode integral digunakan paling
sering ketika orde reaksi diketahui dan diinginkan untuk mengevaluasi konstanta laju reaksi spesifik pada
temperatur yang berbeda untuk menentukan energi aktivasi.
Dalam metode integral analisis data, kita mencari fungsi konsentrasi yang sesuai sesuai dengan hukum
tingkat tertentu yang linier dengan waktu. Anda harus benar-benar mengenal dengan metode ini untuk mendapatkan
plot linear pada reaksi nol, pertama, dan urutan kedua.
Untuk reaksi
A + products
dilakukan dalam reaktor batch volume konstan, keseimbangan mol adalah

Untuk reaksi orde nol, rA = -k, dan gabungan hukum laju dan keseimbangan mol adalah;

(5-13)

Integrasi dengan CA = CA0 saat t = 0, kita mempunyai


CA= CA0 – kt (5-14)
Plot konsentrasi A sebagai fungsi waktu akan linear (Gambar 5-3) dengan kemiringan (-k) untuk reaksi orde nol
yang dilakukan dalam reaktor batch volume konstan.

Gambar 5-3. Orde reaksi nol


Ignatius Bernadi

Jika reaksi adalah urutan pertama (Gambar 5-4), gabungan integrasi keseimbangan mol dan hukum laju

Dengan batas CA = CA0 saat t = 0

(5-15)

Gambar 5-4 Orde Rekasi 1


Shabrina Atwinda Rafi : 45

Akibatnya, kita melihat bahwa kemiringan plot dalam sebagai fungsi dari
waktu linear dengan kemiringan k.
Jika reaksi merupakan reaksi orde 2, maka :

Integrasikan dengan CA=CA0

Kita dapat lihat bahwa untuk reaksi


orde 2, plot 1/Ca sebagai fungsi waktu harus linier dengan slop k.
Dalam kita gambar yang sudah dijelaskan, kita lihat bahwa ketika memplotkan sesuai fungsi dari
konsentrasi (Ca,ln Ca, atau 1/Ca) vs waktu, plot akan linier dan kita menyimpulkan bahwa reaksi adalah orde
nol, pertama atau kedua. Bagaimanapun, jika plot dari konsentrasi vs waktu berubah menjadi linier seperti pafa
gambar 5-6, kita dapat mengatakan bahwa tujuan orde reaksi tidak sesuai dengan data. Pada kasus seperti
gambar 5-6, kita dapat menyimpulkan bahwa reaksi bukan orde 2.
Hal ini penting untuk mengatakan bahwa memberikan hukum laju rekasi, kamu harus bisa memilih
dengan cepat fungsi yang sesuai reaksi atau konversi yang linier ketika diplotkan pada waktu tinggal.

Gunakan metode
integral untuk mengkonfirmasi bahwa urutan reaksi untuk di-tert-butil peroksidadekomposisi yang dijelaskan
dalam Contoh 5-1 adalah urutan pertama.LarutanMengingat
Shabrina Atwinda Rafi : 45

Contoh 5-1, keseimbangan mol gabungan dan hukum laju untuk volume konstanreaktor batch dapat dinyatakan
dalam bentuk

Untuk

Integrasi dengan limit P=Po ketika t = 0

Jika reaksi orde 1, plotkan ln[2Po/(3Po-P)] vs t adalah linier


Tabel E5-2.1

t (min) P (mmHg) 2Po/(3Po-P)


0,0 1,5 1
2,5 10,5 1,25
5,0 12,5 1,5
10,0 15,8 2,24
15,0 17,9 3,26
20,0 19,4 4,84

Setelah melengkapi tabel diatas, gunakan data yang asli, plot dari 2Po/(3Po-P) sebagai fungsi waktu
dibuat menggunakan kertas semilog yang ditunjukkan pada gambar E5.2.1. Dari

alur plot kita melihat bahwa alam [2P0 / (3P0- P)] memang linier dengan waktu, dan kita belum menyimpulkan
bahwa dekomposisi di-ters-butil peroksida mengikuti kinetika orde pertama.Dari kemiringan plot pada Gambar
E5-2.1, kita dapat menentukan laju spesifik reaksi, k == 0,08 menit - l. [Ingat k ’= k karena = 1 (E5-1.5 hal.
23O)
Kita menemukan plot In [2P ,, l (3P ,, - Pi)] versus t linear, menunjukkan reaksinya orde pertama
(yaitu, a = 1). Jika kita mencoba nol, pertama, atau orde kedua seperti yang ditunjukkan pada CD-ROM, dan
mereka tampaknya tidak menggambarkan persamaan laju reaksi, biasanya lebih baik untuk mencoba beberapa
metode lain untuk menentukan urutan reaksi, seperti metode diferensial.
Shabrina Atwinda Rafi : 45

Dengan membandingkan metode analisis laju yang disajikan di atas,kami mencatat bahwa metode
diferensial cenderung menunjukkan ketidakpastian dalam data., sedangkan metode integral cenderung
memperhalus data, sehingga menyamarkan ketidakpastian di dalamnya. Dalam kebanyakan analisis, penting
sekali bagi insinyur untuk mengetahui batas dan ketidakpastian dalam data. Pengetahuan awal ini diperlukan
untuk menunjukan faktor keamanan ketika meningkatkan proses dari percobaan laboratorium untuk mendesain
pabrik percontohan atau pabrik industri skala penuh.
5.2 Metode dari Laju Awal
Penggunaan metode diferensial analisis data untuk menentukan persamaan reaksi dan laju reaksi
spesifikmerupakan salah satu cara yang paling mudah, karena hanya membutuhkan satu eksperimen. Namun,
efek lainnya, seperti adanya reaksi signifikan yang terbalik, bisa membuat metode diferensial tidak efektif.
Dalam kasus ini, metode awal dapat digunakan untuk menentukan urutan reaksi dan konstanta laju spesifik. Di
sini, serangkaian eksperimen dilakukan dengan konsentrasi awal yang berbeda, Cao dan laju reaksi awal, -rAO,
ditentukan untuk setiap run. Pada tahap awal, -rAO, dapat ditemukan dengan membedakan data dan ekstrapolasi
ke waktu nol. Misalnya, dalam dekomposisi di-tert-butil peroksida yang ditunjukkan pada Contoh 5-1, tingkat
awal ditemukan 1,4 mmHg / mnt. Dengan berbagai teknik analisis plot atau numerik yang berkaitandengan
yAo,to, Cao kita dapat memperoleh laju yang sesuai. Jika hukum laju ada dalam bentuk

Slop dari –ln(rao) vs ln C akan membentuk reaksi orde a


Contoh 5-3 Metode laju awal kinetika larutan padat-cair
Pemisahan dolomit, kalsium magnesium karbonat, dalam asam klorida adalah reaksi yang sangat penting dalam
stimulasi asam dari dolomit. Minyak terkandung dalam ruang pori bahan karbonat dan harus mengalir melalui
pori-pori kecil untuk mencapai sumber. Dalam stimulasi matriks, HC1 diinjeksikan ke dalam sumber untuk
melarutkan matriks karbonat berpori. Dengan melarutkan karbonat padat pori-porinya akan bertambah besar,
dan minyak dan gas akan dapat mengalir keluar lebih cepat, sehingga meningkatkan produktivitas baik. Reaksi
pemisahan adalah
4HC: + CaMg(C0,),+Mg2+ + Ca2+ + 4C1- + 2C0, + 2H20
Konsentrasi HCl pada berbagai waktu ditentukan dari serapan atom spektrofotometer dari ion kalsium dan
magnesium.
Tentukan urutan reaksi terhadap HC1 dari data yang disajikan dalam Gambar E5-3.1 untuk reaksi batch ini.
Asumsikan bahwa hukum laju reaksi dalam bentuk yang diberikan oleh Persamaan (5-1) dan bahwa hukum laju
reaksi gabungan dan keseimbangan mol untuk HC1 diberikan oleh Persamaan (5-6).

Penyelesaian
keseimbangan mol pada reaktor batch volume konstan pada t = 0 memberikan :

( )
Shabrina Atwinda Rafi : 45

Dengan log didapatkan :

( )

Waktu derivat pada t=0 dapat ditemukan dari plot konsentrasi vs waktu

Konversi laju per unit area, -rAn, dan untuk waktu (30cm padatan per liter), laju reaksi pada 1 N dan 4 N menjadi
1,2 x 10-7 mol/cm2 dan 2,0 x 10-7 mol/cm2. Kita juga dapat menggunakan polymath yang lain atau persamaan
diferensial untuk menemukan derivativ pada t = 0
Jika kita melanjutkan penyelesaian ini, kita akan mendapatkan data :

Kemudian data tersebut diplotkan pada E5-3.2.


46. Mohammad Ghimnastiar Ulsak/ 21030116140192

5.3 Metode Waktu Paruh


Waktu paruh reaksi t1/2, didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk konsentrasi reaktan menuju nilai
setengah dari nilai awalnya. Dengan menentukan paruh reaksi sebagai fungsi dari konsentrasi awal, reaksi order
dan laju reaksi spesifik dapat ditentukan. Jika dua reaktan terlibat dalam reaksi kimia, peneliti akan
menggunakan metode yang sama namun mempunyai ekses yang hubungannya dengan metode waktu paruh
menggunakan rumus:
-rA = k. (5-1)
Untuk reaksi irreversibel menggunakan:
A Produk
keseimbangan mol pada spesies A dalam sistem reaksi batch volume konstan
ditentukan dalam persamaan berikut:

= -rA = k. (E5-1.1)

Dengan mengintergalkan dimana CA = CA0 ketika t = 0 maka didapat:

t= ( ) ( ] (5-17)

Waktu paruh didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk konsentrasi turun menjadi setengahnya dari
nilai awalnya, yang diinterpretasikan dengan:

t = t1/2 ketika CA = CA0

subtitusi CA pada persamaan (5-17) sehinga menghasilkan persamaan:

t1/2 = (5-18)

Tidak ada yang istimewa untuk menggunakan waktu konsentrasi


untuk turun menjadi setengah dari nilai awalnya. Kita bisa menggunakan waktu yang
diperlukan untuk konsentrasi yang menuju nilai 1/n dari nilai awal, dalam hal ini:

t1/2 = (5-19)

Untuk mendapatkan metode waktu paruh, ganti dengan logaritmik natural dari Persamaan (5-18)

Ln t1/2 = ln = + (1- ) ln CA0

kita melihat bahwa kemiringan plot ln t1/2 sebagai fungsi dari lnCAO sama dengan 1dikurangi urutan reaksi,
seperti pada grafik berikut:

Dimana: α = 1- slope
Untuk slope pada figure 5-7 slope yang mempunyai nilai -1, sehingga:
46. Mohammad Ghimnastiar Ulsak/ 21030116140192

α = 1- (-1) = 2
hukum yang sesuai untuk persamaan diatas adalah:
-rA = k CA2
5.4 Reaktor bertipe Diferensial
Akuisisi data menggunakan metode laju awal dan reaktor diferensial sama dalam hal tingkat reaksi ditentukan
untuk jumlah tertentu saja .Sebuah reaktor diferensial biasanya digunakan untuk menentukan laju reaksi sebagai
fungsi baik konsentrasinya atau tekanan parsial. Reaktor Ini terdiri dari tabung yang berisi sejumlah kecil katalis
yang biasanya diatur dalam bentuk wafer atau disk tipis. Suatu susunan tipikal yang ditunjukkan secara skematis
pada Gambar 5-8. Kriteria untuk reaktor yang diferensial adalah bahwa konversi reaktan di tempat tidur sangat
kecil. Akibatnya, konsentrasi reaktan melalui reaktor pada dasarnya konstan dan kurang sama dengan
konsentrasi inlet. Artinya, reaktor dianggap tanpa gradien dan laju reaksi dianggap seragam secara seragam di
dalam volume reaktor.

Reaktor bertipe diferensial relatif mudah untuk dibangun karena biaya rendah. bereaksi ke konversi yang
rendah; pelepasan panas per satuan volume akan menjadi kecil (atau dapat dibuat kecil dengan mengencerkan
volume cairan dengan padatan inert) sehingga reaktor beroperasi pada dasarnya dengan cara isotermal. Saat
mengoperasikan reaktor ini, tindakan pencegahan harus dilakukan sehingga gas atau cairan reaktan tidak
memotong atau menyalurkan melalui katalis yang dikemas, tetapi mengalir secara merata melintasi katalis.
Karena jika tidak maka katalis yang terlibat dalam pengoperasiannya akan membusuk/ rusak dengan cepat,
reaktor diferensial bukan merupakan pilihan yang baik karena parameter laju reaksi pada awal masuk akan
berbeda dari yang di ujung keluar. Dalam beberapa kasus, pengambilan sampel dan analisis aliran produk
mungkin sulit untuk menghasilkan konversi yang kecil karena sistem berada pada multikomponen. Laju aliran
volumetrik melalui dasar katalis dipantau, seperti juga konsentrasi yang masuk dan keluar (Gambar 5-9).

katalis W, diketahui, laju reaksi per satuan massa katalis rA dapat dihitung, dari reaktor diferensial dapat
diasumsikan gradien, persamaan desain reaktor ini akan mirip dengan persamaan desain CSTR. Keseimbangan
mol steady state pada reaktan A adalah:
46. Mohammad Ghimnastiar Ulsak/ 21030116140192

[umpan masuk] – [umpan keluar] + [reaksi] = [akumulasi]


FA – FAe + (rA’)(W) = 0
Dari persamaan diatas bisa disusun sedimikian rupa agar memperoleh nilai –rA’ =

-rA’ = (5-20)

Begitu juga dengan neraca molnya akan didapat nilai –rA’ =

-rA’ = (5-21)

Untuk konversi produk Fp adalah:

-rA’ = = (5-22)

pengertian FA0X memberikan laju pembentukan produk Fp, ketika Koefisien stoikiometri A dan P identik.
Untuk aliran volumetrik konstan, Persamaan (5-21) mengurangi ke

-rA’ = = (5-23)

Akibatnya kita melihat bahwa laju reaksi -rA’, dapat ditentukan dengan mengukur konsentrasi produk, Cp.
Dengan menggunakan katalis sangat kecil dan laju aliran volumetrik yang besar, perbedaan konsentrasi, (CA0 –
CAe), dapat dibuat cukup kecil. Laju reaksi yang ditentukan dari Persamaan (5-23) dapat diperoleh sebagai
fungsi dari konsentrasi reaktan dalam unggun katalis, CAb:
-rA’ = -rA’(CAb) (5-24)
dengan memvariasikan konsentrasi inlet. Satu pendekatan konsentrasi A dalam volume ruang reaktor, C Ab, akan
menjadi rerata aritmetik konsentrasi inlet dan outlet

CAb = (5-25)

Namun, karena reaksi yang sangat sedikit terjadi di dalam volume ruang, maka diasumsikan konsentrasi pada
dasarnya sama dengan konsentrasi inlet,
CAb = CA0
Karena -rA’ merupakan fungsi dari CA0 :
-rA’ = -rA’(CA0) (5-26)
Karinta Eldiarosa
21030116140162
Laju alir volumetrik keluar dari packed bed berbeda yang mengandung 10 g katalis dibuat
300 dm3/min untuk setiap percobaan. Tekanan parsian dan CO dipertahankan pada
pemasukan reaktor, dan konsentrasi metana diukur pada bagian keluar reaktor.
Jawab
(a) Pada contoh ini komposisi produk, dibanding dengan konsentrasi reaktan, sedang diukur.
–rA dapat ditulis dalam persamaan laju alir metama dalam reaksi

Substitusi untuk FCH4 dalam persamaan laju alir volumetrik dan konsentrasi metana

Karena V0, CCH4, dan A W diketahui pada setiap percobaan, maka kita dapat menghitung
laju konsentrasi.
Untuk percobaan 1:

Laju pada percobaan kedua hingga keenam dapat dihitung dengan cara serupa (Tabel E5-4.2).
Tabel E5-4.2. Data Kalkulasi

Untuk konsentrasi hidrogen konstan, hukum laju:

Dapat ditulis juga dengan

Didapat dari persamaan log (E5-4.4) menjadi

Sekarang kita membuat kurva ln(r’CH4) dengan ln PCO untuk percobaan 1, 2, dan 3.
Karinta Eldiarosa
21030116140162

Gambar E5-4.1 Laju reaksi sebagai fungsi dari tekanan parsial


(b) Percobaan 1, 2, dan 3, dimana konsentrasi H2 adalah konstan, digambar dalam gambar
E5-4.1. Dari slope pada gambar E5-4.1, kita dapat menemukan α = 1.

Menentukan Hukum Laju Berdasarkan pada H2


Dari tabel E5-4.2, disitu menunjukan ketergantungan pada –r’CH4 terhadap PH2 yang tidak
dapat dijelaskan pada hukum energi. Apabila membandingkan percobaan 4 dengan percobaan
5 dan percobaan 1 dengan percobaan 6, kita dapat melihat bahwa hukum laju pertama
meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan parsial hidrogen, dan selanjutnya menurun
seiring dengan kenaikan PH2. Di sana muncul konsentrasi hidrogen ketika lajunya maksimum.
Satu kesatuan hukum laju adalah konsisten berdasarkan pada observasi ini:
1. Pada konsentrasi H2 rendah dimana –r’CH4 meningkat seiring PH2 meningkat, hukum
laju menjadi

2. Pada konsentrasi H2 tinggi dimana –r’CH4 menurun seiring PH2 meningkat,


Karinta Eldiarosa
21030116140162
Kita ingin menemukan satu hukum laju yang konsisten dengan data laju reaksi pada
konsentrasi hidrogen yang tinggi maupun rendah. Persamaan (E5-4.6) dan (E5-4.7) dapat
digabung menjadi satu persamaan

Kita akan melihat pada Bab 10 bahwa pada kombinasi ini dan hukum-hukum laju yang
serupa dimana memiliki reaktan. Konsentrasi (atau tekanan parsial) dalam numerator dan
denominator pada umumnya di dalam katalis heterogen.
Mari lihat apakah hasil hukum laju (E5-4.8) cukup konsisten secara kualitatif dengan laju
observasi.
1. Untuk kondisi I: Pada PH2, b((PH2)β2 << 1) rendah dan persamaan (E5-4.8) dapat
disederhanakan menjadi

2. Untuk kondisi 2: Pada PH2, b((PH2)β2 << 1) tinggi dan persamaan (E5-4.8) dapat
disederhanakan menjadi

Dimana β2 > β1. Persamaan (E5-4.10) adalah konsisten dengan keadaan


perbandingan antara percobaan 5 dan 6.
Secarqa teoritis jenis tersebut didiskusikan pada bab 10 dengan memperkirakan bila
batasan laju pada seluruh reaksi adalah reaksi antara atom hidrogen yang terabsorbsi
pada permukaan nikel dengan CO dalam fase gas, kemudian hukum lajunya akan
berbentuk

Hukum laju ini konsisten secara kualitatif dengan percobaan observasi. Untuk
menghasilkan parameter a dan b, kita membentuk kembali persamaan (E5-4.11)
menjadi bentuk
Karinta Eldiarosa
21030116140162
Plot PCOP1/2H2/r’CH4 sebagai fungsi dari PH2 seharusnya membentuk garis lurus dengan
intercept 1la dan a menjadi slope dari b/a. dari plot pada Gambar E5-4.2 kita dapat
melihat bahwa hukum laju telah konsisten dengan data hukum laju yang ada.

Gambar E5-4.2 Linearisasi data


Sebagai latihan, gunakan analisis 5.5 untuk menemukan hukum laju yang ditampilkan
pada Gambar E5-4.2.

5.5 Analisis Least-Squares


5.5.1 Linearisasi dari Hukum Laju
Apabila hukum laju berdasarkan pada konsentrasi lebih dari satu jenis dan
tidak mungkin menggunakan metode berlebih, kita dapat memilih untuk
menggunakan metode linearisasi leasi-squares. Metode analisis data ini juga berguna
untuk menentukan nilai terbaik dari parameter hukum laju dari suatu pengukuran
ketika tida atau lebih parameter yang terlibat (orde reaksi, α, faktor frekuensi, A; dan
energi aktivasi, E).
Kesetimbangan mol pada reaktor batch dengan volume konstan dijabarkan
dalam persamaan

Bila sekarang kita menggunakan metode initial rates, maka

Dengan me-log kedua sisi, kita dapat


Karinta Eldiarosa
21030116140162

Ubah Y = ln(-dCA/dt)0, X = ln CB0, a, = ln k, α, = a,, dan α2 = β, maka

Bila kita membawa percobaan N, untuk percobaan j t h, persamaan (5-29) berbentuk

Dimana Xi j = ln CA0j, dengan CA0j menjadi konsentrasi awal A untuk percobaan j t h.


Nilai terbaik dari parameter a0, a1, dan a2 ditemukan dengan persamaan (5-31) melalui
(5-33) secara simultan.
Untuk percobaan N, 1, 2, ......, N,

Kita memiliki tiga persamaan linear dan tiga yang tidak diketahui dimana dapat kita
selesaikan untuk: a0, a1, dan a2 Contoh detail dari reaksi kinetik

Menggunakan analisis least-squares linear kita dapat menemukan pada persamaan


10-2. Apabila kita menetapkan a2 = 0 dan hanya berdasarkan pada dua variabel, Y
dan X, persamaan (5-31) dan (5-32) dapat disederhanakan menjadi persamaan least-
squares yang familiar untuk dua yang tidak diketahui.

Contoh 5-5 Menggunakan Analisis Least-Squares Untuk Menentukan Parameter


Hukum Laju
Penggoresan semikonduktor pada industri chip komputer adalah reaksi disolusi padat-
cair (lihat masalah P5-12 dan Sesi 12.10). Disolusi semikonduktor MnO2 telah
dipelajari menggunakan berbagai asam dan garam. Laju disolusi telah ditemukan
Karinta Eldiarosa
21030116140162
dalam suatu fungsi reaksi potensial redoks larutan cair berhubungan dengan tingkat
energi konduksi semikonduktor. Hal tersebut ditemukan bahwa laju reaksi dapat
meningkat dengan faktor 105 secara sederhana dengan mengubah anion asam dari
data di bawah, tentukan orde reaksi dan laju reaksi spesifik dari disolusi MnO 2 dalam
HBr.

Jawab
Kita asumsikan hukum laju berbentuk

Anggap A = HBr, ln pada kedua sisi persamaan E5-5.1), dan menggunakan laju awal
dan konsentrasi maka akan berbentuk

Anggap Y = ln(-r’’A0), a = lnk, b = α, dan X = ln CA0. Maka

Persamaan least-squares diselesaikan dengan nilai terbaik dari a dan b untuk


percobaan ke-N

Dimana i = jumlah percobaan. Substitusi dengan nilai yang sesuai dari tabel E5-5.1
menjadi persamaan (E5-5.4) dan (E5-5.5)
Ilham Nur Hakim Rambe
21030116120050

5.5.2 Nonlinear Least-Squareslo Analysis


Pada Nonlinear Least-Squareslo Analysis kita akan mencari nilai parameter tersebut yang meminimalkan
jumlah kuadrat dari berbagai variasi antara nilai yang terukur dan nilai yang dihitung untuk semua titik data.
Beberapa program perangkat lunak telah tersedia untuk menemukan nilai parameter ini dan semua yang harus
dilakukan yaitu hanya memasukkan data. Perangkat lunak POLYMATH digunakan untuk mengilustrasikan teknik
ini. Usaha untuk melakukan pencarian efisien dalam beberapa kasus yaitu harus memasukkan perkiraan nilai
parameter yang mendekati nilai sebenarnya. Perkiraan ini diperoleh menggunakan teknik linear-least-squares yang
baru saja dibahas.
Sekarang kita akan menerapkan analisis kuadrat nonlinier ke data laju reaksi untuk menentukan parameter
hukum laju. Di sini kita membuat perkiraan nilai parameter (misalnya, urutan reaksi, konstanta laju spesifik) untuk
menghitung laju reaksi, r ,. Kita kemudian mencari nilai-nilai yang akan meminimalkan jumlah perbedaan kuadrat
dari tingkat reaksi yang diukur, Y ,, dan tingkat reaksi dihitung, Y ,. Artinya, kita ingin jumlah (Y, - rJ2 untuk semua
titik data menjadi minimum. Jika kita melakukan eksperimen N, kita ingin mencari nilai parameter (misalnya, E,
energi aktivasi, perintah reaksi) yang akan mini - mize kuantitas
Ilham Nur Hakim Rambe
21030116120050

s2 = ∑ (rim - rie)2
N = jumlah run
K = jumlah parameter yang akan ditentukan
rim = laju reaksi terukur untuk run i (i.e., - rAIm)
rie = laju reaksi dihitung untuk menjalankan i (i.e ~, - rAr,)
Untuk mengilustrasikan teknik ini, ita pertimbangkan reaksi orde pertama
A  Produk
yang ingin kita pelajari urutan reaksi, a, dan laju reaksi spesifik,
k,= kCi
Laju reaksi akan diukur pada sejumlah konsentrasi yang berbeda dan pengukuran ini ditunjukkan di sebelah kiri
Tabel 5-2.
Kita sekarang memilih nilai k dan a dan menghitung laju reaksi (rlC) di setiap konsentrasi di mana titik
eksperimental diambil. Kita kemudian kurangi nilai yang dihitung dari nilai yang terukur (rllrL), kuadrat hasilnya,
dan jumlah kuadrat untuk semua jalan untuk nilai-nilai k dan CY yang telah kita pilih. Untuk uji-ple, pertimbangkan
set data yang diberikan untuk berjalan 1 sampai 4 di kolom kedua dan ketiga.umns. Dalam percobaan 1 kita pertama
menebak k = 1 dan CY = 1 dan kemudian menghitung tarif berdasarkan pada nilai-nilai ini. Untuk menjalankan 1,
nilai yang dihitung dari tarif adalah r, = (1) (0,6) '= 0,6. Perbedaan antara tingkat yang diukur dan tingkat yang
dihitung adalah Y ,, - r ,, = 1.9 - 0.6 = 1.3. Perbedaan kuadrat (rrm - rrm) * adalah 1,69. Weniake perhitungan serupa
untuk menjalankan 2 hingga 4 dan ditunjukkan di kolom keenam. Selanjutnya kita menjumlahkan semua perbedaan
kuadrat [s2 = Cr (r ,, - r ,,) 2] untuk semua lari dan dapatkan s2 = 114.04 untuk nilai yang dipilih: CY = 1, k = 1.
Selanjutnya pilih baru nilai-nilai a dan k. Di kolom ketujuh dan kedelapan, tarif dihitung dan perbedaan (rflj1 - r ,,) 2
diberikan untuk CY = 1, k = 4. Selanjutnya, nilai baru untuk k dan CY dipilih dan prosedurnya diulang. Perkiraan
awal k dan kaleng diperoleh dengan analisis kuadrat-linier linier. Tabel 5-2 menunjukkan sebuah contoh bagaimana
jumlah kuadrat (u: dan 0 :) dihitung untuk N.
Ilham Nur Hakim Rambe
21030116120050

Prosedur ini dilanjutkan dengan memvariasikan a dan k sampai kita menemukan mereka nilai terbaik, yaitu
nilai-nilai yang meminimalkan jumlah kuadrat. Banyak teknik pencarian terkenal tersedia untuk mendapatkan nilai
minimum u & .I1 Gambar 5-10 menunjukkan plot hipotetis dari jumlah kuadrat sebagai a fungsi parameter a dan k:

Dalam mencari untuk mencari nilai parameter yang memberikan minimum jumlah kuadrat u2, seseorang
dapat menggunakan sejumlah teknik pengoptimalan atau soft- paket ware. Prosedur dimulai dengan menebak nilai
parameter [misalnya, Tabel 5-2 (a = 1, k = 1 s-l)] dan kemudian menghitung r, dan kemudian u2 untuk nilai-nilai ini
(lihat, misalnya, kolom keenam di Tabel 5-2). Berikutnya beberapa set parameter dipilih sekitar tebakan awal, dan
u2 dihitung untuk set ini juga. Itu teknik pencarian mencari nilai terkecil dari u2 di sekitar awal tebak dan kemudian
hasilkan sepanjang lintasan ke arah penurunan u2 kepilih nilai parameter yang berbeda dan tentukan sesuai u2. Itu
lintasan terus disesuaikan agar selalu bergerak ke arah menurunkan u2 hingga nilai minimum u2 tercapai. Skema ini
prosedur ditunjukkan pada Gambar 5-1 1, di mana nilai parameter pada ibu adalah = 2 dan k = 5 s-], Jika
persamaannya sangat nonlinear, yang awal tebakan itu sangat penting. Dalam beberapa kasus, berguna untuk
mencoba awal yang berbeda tebakan parameter untuk memastikan bahwa program perangkat lunak menyatu
Ilham Nur Hakim Rambe
21030116120050

minimum yang sama untuk tebakan awal yang berbeda. Garis-garis gelap dan berat panah mewakili lintasan
komputer, dan garis cahaya dan anak panah mewakili perhitungan tangan ditunjukkan pada Tabel 5-2.
Sejumlah paket perangkat lunak tersedia untuk melaksanakan prosedur untuk menentukan perkiraan terbaik
dari nilai parameter dan yang sesuai batas keyakinan. Yang harus dilakukan hanyalah mengetikkan nilai
eksperimental dalam komputer, tentukan model, masukkan tebakan awal parameter, dan lalu tekan tombol
komputer, dan perkiraan terbaik dari nilai parameter bersama dengan 95% batas keyakinan muncul. Jika batas
keyakinan untuk yang diberikan parameter lebih besar dari parameter itu sendiri, parameternya mungkin tidak
signifikan dan harus diturunkan dari model. Setelah model yang sesuai parameter dihilangkan, perangkat lunak
dijalankan lagi untuk menentukan yang paling sesuai dengan persamaan model baru.
Model Diskriminan.
Kita juga dapat menentukan model atau persamaan mana yang paling sesuai dengan data eksperimen
dengan membandingkan jumlah kuadrat untuk masing-masing model dan kemudian memilih persamaan dengan
jumlah kuadrat dan error yang lebih kecil dengan melakukan F-test. Atau, kita dapat membandingkan plot sisa untuk
masing-masing model. Plot-plot ini menunjukkan kesalahan yang terkait dengan setiap titik data dan satu terlihat
untuk melihat apakah kesalahan secara acak didistribusikan atau jika ada kecenderungan di (kesalahan). Ketika
kesalahan didistribusikan secara acak, ini merupakan indikasi tambahan bahwa aturan tarif yang benar telah dipilih.
Untuk mengilustrasikan prinsip-prinsip ini, mari lihat contoh berikut.
Contoh 5-6 Hidrogenasi Etilena menjadi Etana
Hidrogenasi (H) dari etilen (E) untuk membentuk etana (EA),
H2 + C2H4  C6H6
dilakukan menggunakan katalis kobalt molibdenum [CoNecr. Ceko. Chem. Commun., 51, 2760 (198S) l. Lakukan
analisis kuadrat nonlinier pada data yang diberikan di Tabel E5-6.1, dan tentukan rate law mana yang paling tepat
menggambarkan data.
Ilham Nur Hakim Rambe
21030116120050

Tentukan hukum tarif berikut yang paling tepat menggambarkan data.

Solusi :
penyelesaian POLYMATH dipilih sebagai paket perangkat lunak untuk memecahkan masalah ini. Data
dalam Tabel E5-6.1 diketik ke dalam sistem. Salinan berikut dari computer layar menggambarkan prosedurnya.
1. Pertama kita masukkan data pada Tabel E5-6.1 ke dalam tabel POLYMATH yang ditunjukkan
pada Tabel E5-6. Setelah memasukkan data dan menekan shift F7. Penyelesaian di bawah ini akan muncul pada
layar:

Selanjutnya kita tulis R dan pilih sebuah model untuk menyocokkan dengan data.
2. Specify the model and determine the model parameters and a2. Model pertama yang kita pilih adalah yang
kita pilih adalah (a).

Selanjutnya kita enter persamaan model (E5-6.1) dan perkiraan awal nilai parameter
MEIRISCA RIVANI ANGELA / 21030116120024

257 – 261

No Pe Ph2 Pea ra
1 1 1 1 1.04
2 1 3 1 3.13
3 1 5 1 5.21
4 3 3 1 3.82
5 5 3 1 4.19
6 0.5 3 1 2.391
7 0.5 5 0.5 3.867
8 0.5 3 3 2.199
9 0.5 1 5 0.74
10
11
12

Setelah memasukkan perkiraan layar berikut muncul:

Non Linear Regression Rate Data


Non linear regression model equstion
ra = k*Pe*Ph2*/(1+Ke*Pe+Ka*Pea)
Initial perkiraan:
k=1
Ke = 1
Ka = 0.01

REGRESSION OPTIONS
Change the model equation
F7
For the problem

setelah itu kita tekan pergeseran F7 untuk memecahkan masalah dan layar berikut
muncul :
Param. Converged Conf. interfal Lower list Upper list
Value
MEIRISCA RIVANI ANGELA / 21030116120024

k 3.34788 0.391055 2.95682 3.73891


Ke 2.21108 0.318885 1.89298 2.5299
Ka 0.0428414 0.0713596 -0.285181 0.114201

Model : ra = k*Pe*Ph2*/(1+Ke*Pe+Ka*Pea)
k = 3,34788
Ke = 2.21108
Ka = 0.0428414
6 positif residual, 3 negatif residual. Jumlah dari squares = 0.0296167

(E5-6.2)

3. Selanjutnya kita memeriksa diperkirakan parameter.


Kita melihat dari output terakhir ini bahwa nilai rata-rata dari KA adalah 0.043
atm-1 , dengan batas kecepatan 95% menjadi + 0.0712. Batas kepercayaan 95%
pada KA berarti pada dasarnya bahwa jika percobaan dilakukan 100 kali, nilai
yang dihitung dari K , akan jatuh antara -0.028 dan 0.144sembilan puluh lima
dari serratus kali yaitu ,
K = 0.043 + 0.07 (E5-6.3)
Untuk model ini, nilai interval kepercayaan 95% lebih besar dari nilai dari
parameter itu sendiri! Akibatnya, kita akan mengatur nilai parameter K, sama
dengan nol. Ketika kita menetapkan K, sama dengan nol ini menghasilkan model
kedua, Model (b).

(E5-6.4)

4. Tentukan parameter model dan σ2 untuk model kedua.


Kapan model ini dimasukkan, diperoleh hasil sebagai berikut:

(E5-6.5)

Nilai dari jumlah minimum kotak adalah σB2 = 0.042

Param. Converged Conf. interfal Lower list Upper list


Value
k 3,15675 0,288026 2,89876 3,47481
Ke 2,10113 0,263925 1,83741 2,36526

Model : ra = k*Pe*Ph2/(1+Ke*Pe)
k = 3,15675
Ke = 2,10113
5 positif residual, 4 negatif residual. Jumlah dari squares = 0.0423735

5. Tentukan parameter dan σ2 untuk model ketiga.


MEIRISCA RIVANI ANGELA / 21030116120024

Kita sekarang melanjutkan ke Model (c),

(E5-6.6)

dimana diperoleh hasil sebagai berikut:

Param. Converged Conf. interfal Lower list Upper list


Value
k 2,00878 0,2661 98 1,74259 2,27498
Ke 0,361667 0,0623113 0,293356 0.423979

Model :
ra = k*Pe*Ph2/(1+Ke*Pe)^2
k = 2,00878
Ke = 0,361667
5 positif residual, 4 negatif residual. Jumlah dari squares = 0.436122

(E5-6.7)

Membandingkan jumlah kuadrat untuk model (b) dan (c), kita melihat bahwa
model (b) memberikan lebih kecil
Sum σB2 = 0,042 vs σC2 = 0,436 oleh urutan besarnya,

Oleh karena itu, kita menghilangkan Model (c) dari consideration.

6. Tentukan parameter dan σ2 untuk model kuasa hokum


Akhirnya kita memasuki model (d)

(E5-6.8)

Hasil sebagai berikut diperoleh


Param. Converged Conf. interfal Lower list Upper list
Value
k 0.894025 0.256901 0.637124 1,15093
a 0.258441 0.0708914 1.89298 0.329332
b 1,06155 0.209307 0,85224 1,27086

Model : ra = k*Pe^a*Ph2^b
k = 0.894025
a = 0.258441
b = 1,06155
MEIRISCA RIVANI ANGELA / 21030116120024

5 positif residual, 4 negatif residual. Jumlah dari squares = 0.297223


Satu mengamati kesalahan(rim – ric) memang didistribusikan secara acak,
menunjukkan model yang dipilih adalah yang paling mungkin yang benar.

7. Pilih model terbaik


Sekali lagi, jumlah kuadrat untuk model (d) secara signifikan lebih tinggi
daripada dalam model (b) ( σB = 0,042 VS σD = 0,297 ). Oleh karena itu, kita
memilih model (b) sebagai pilihan kami untuk menyesuaikan data. Untuk kasus-
kasus ketika jumlah kuadrat relatif dekat bersama-sama, kita dapat menggunakan
F-test untuk membedakan antara model untuk mengetahui apakah satu model
secara statistik lebih baik dari yang lain.

Kesalahan = rate – (k*Pe*Ph2/1+Ke*Pe)


k = 3,18678
Ke = 2,10133
Gambar E5-6.1 error sebagai function tingkat dihitung.

Namun. ada hati-hati yang! Satu tidak bisa hanya melakukan regresi dan
kemudian memilih model dengan nilai terendah dari jumlah kuadrat. Jika ini
terjadi, kami akan memilih model yang (a) dengan σ2 = 0,03. salah satu
keharusan mempertimbangkan realisme fisik parameter. Dalam model (a)
interval dence 95% lebih besar dari parameter itu sendiri, sehingga menghasilkan
nilai negatif dari parameter, yang secara fisik tidak mungkin. Kita juga bisa
menggunakan regresi nonlinier untuk menentukan parameter hukum laju dari
data konsentrasi-waktu yang diperoleh dalam percobaan batch. Kita ingat bahwa
tingkat gabungan keseimbangan hukum stoikiometri-mol untuk reaktor batch
konstan-volume

Kami sekarang mengintegrasikan Persamaan (5-6) memberi

Menata ulang untuk mendapatkan konsentrasi sebagai fungsi dari waktu, kita
memperoleh
MEIRISCA RIVANI ANGELA / 21030116120024

(5-
36)

Sekarang kita bisa menggunakan polymath atau MATLAB untuk menemukan


nilai-nilai dan k bahwa akan meminimalkan kuadrat perbedaan antara
diukur dan dihitung konsentrasi. Artinya, untuk N titik data,

N N

kami ingin nilai-nilai α dan k yang akan membuat s2 minimal. Jika polymath
adalah digunakan, salah satu harus menggunakan nilai mutlak untuk CAC yang
adalah: istilah dalam kurung dalam Persamaan (5-37) itu adalah,

∑ (5-38)

Cara lain untuk memecahkan nilai parameter adalah dengan menggunakan waktu
daripada konsentrasi:

(5-39)

Artinya, kita menemukan nilai-nilai k dan yang meminimalkan

∑ ∑ (5-40)

5.5.3 tertimbang Kuadrat- Analisis


Kedua linear dan nonlinear kuadrat-analisis yang disajikan di atas menganggap
bahwa varians konstan sepanjang rentang dari variabel yang diukur. Jika hal ini
tidak terjadi, analisis kuadrat-terkecil tertimbang harus digunakan untuk
mendapatkan estimasi yang lebih baik dari parameter hukum laju. Jika kesalahan
dalam pengukuran adalah pada tingkat tetap, kesalahan relatif dalam variabel
dependen akan meningkat dengan meningkatnya variabel independen (menurun).
Sebagai contoh, dalam reaksi pembusukan orde pertama ( CA = CAO e-kt ) jika
kesalahan dalam pengukuran konsentrasi 0.01 kesalahan relatif dalam
pengukuran konsentrasi akan meningkat dengan waktu. Ketika kondisi kesalahan
ini terjadi, jumlahnya menjadi untuk pengukuran adalah

Dimana Wi adalah bobot factor. Untuk estimasi parameter yang melibatkan


eksponen, telah ditunjukkan bahwa sebuah setidaknya-tertimbang, analisis kotak
biasanya diperlukan. pembahasan lebih lanjut tentang tertimbang setidaknya
yang diterapkan pada orde pertama diberikan pada CD-ROM.
Alexander Karindra Ario Hadrianto -21030116140105

5.6 Perencanaan Eksperimental

Sejauh ini, bab ini telah menyajikan berbagai metode analisis data tingkat. Ini sama
pentingnya untuk mengetahui di mana syarat untuk menggunakan setiap metode seperti itu
untuk mengetahui mekanisme dari metode ini. Pada bagian ini kita membahas sebuah
heuristik untuk merencanakan eksperimen untuk menghasilkan data yang diperlukan untuk
desain reaktor. Namun, hanya sketsa kecil yang disajikan maka dari itu untuk diskusi yang
lebih menyeluruh pembaca dirujuk ke buku dan artikel oleh Box dan Hunter.15
Gambar 5-12 menyediakan peta jalan untuk membantu merencanakan program
eksperimental. Diskusi tentang masing-masing item pada Gambar 5-12 muncul di CD-ROM
bersama dengan contoh desain eksperimental untuk mempelajari lunetika a reaksi enzimatik
yang bergantung pada pH, suhu (T), dan konsentrasi (C). Gambar 5-13 menunjukkan
penempatan pengaturan tinggi dan rendah dari masing-masing variabel.

Degradasi enzim diyakini terjadi pada suhu sekitar 50 ° C dan nilai pH di atas 9.5 dan di
bawah 3.0. Laju reaksi dapat diabaikan pada suhu di bawah 6 ° C. Untuk konsentrasi urea di
bawah 0,001 M, reaksi
Alexander Karindra Ario Hadrianto -21030116140105

tidak akan diproses pada tingkat yang dapat diukur dan tarif tampaknya tidak bergantung
konsentrasi di atas 0,1 M, Akibatnya, nilai higMob berikut dari parameter dipilih:

5.7 Evaluasi laboratorium reaktor

Desain reaktor industri yang sukses terutama terletak pada keandala parameter yang
ditentukan secara eksperimental yang digunakan dalam peningkatan skala. Karena itu, itu
ilmperative untuk merancang peralatan dan eksperimen yang akan menghasilkan nccurate
dan data yang berarti. Sayangnya, biasanya tidak ada satu pun yang komprehensif reaktor
laboratorium yang dapat digunakan untuk semua jenis reaksi dan katalisator. Di bagian ini
kami membahas berbagai jenis reaktor yang bisa dipilih untuk mendapatkan parameter
kinetik untuk sistem reaksi spesifik. Kita ikuti dengan seksama strategi luar biasa yang
disajikan dalam artikel oleh V. W. Weelanan Mobil Kriteria yang digunakan untuk
mengevaluasi berbagai jenis reaktor laboratorium terdaftar iii Tabel 5-3.
Alexander Karindra Ario Hadrianto -21030116140105

5.7.1 Integral (Fixed-Bed) Reactor

Salah satu keuntungan dari reaktor integral adalah kemudahan konstruksinya (lihat Gambar
5-14). Di sisi lain, saat menyalurkan atau melewati beberapa katalis oleh aliran reaktan
mungkin tidak sama fatalnya dengan interpretasi data dalam kasus reaktor ini seperti pada
reaktor diferensial, mungkin masih menjadi masalah

5.7.2 Stirred Batch Reactor

Dalam reaktor batch yang diaduk, katalis terdispersi sebagai bubur, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 5-15. Meskipun akan ada kontak yang lebih baik antara katalis dan cairan
dalam reaktor ini daripada reaktor diferensial atau integral, ada masalah sampling dalam
reaktor ini.

5.7.3 Stirred Contained Solids Reactor (S’CSR)

Meskipun ada sejumlah desain untuk reaktor padat yang terkandung. ai! ekuivalen secara
essensial dalam hal kinerja :. Desain khas ditampilkan pada Gambar 5-16
Alexander Karindra Ario Hadrianto -21030116140105

5.7.4 Continuous-Stirred Tank Reactor (CSTR)

Reaktor CSTR (Gambar 5-17) digunakan di mana terjaid katalis signifikan mengalami
kerusakan. Katalis baru diumpankan ke reaktor bersama dengan umpan cairan catalyst
meninggalkan reaktor dalam aliran produk pada tingkat yang sama di mana ia diumpankan,
untuk mengimbangi peluruhan katalis dengan waktu

5.7.5 Straight-Through Transport Reactor

Secara komersial, reaktor transportasi (Gambar 5-1 8) digunakan secara luas dalam produksi
bensin dari fraksi minyak bumi yang lebih berat. Selain itu, sudah ditemukan digunakan
dalam pengeringan biji-bijian. Dalam reaktor ini, baik gas inert atau reaktan itu sendiri
mengangkut katalis melalui reaktor.
Alexander Karindra Ario Hadrianto -21030116140105

5.7.6 Recirculatlng Transport Reactor

Dengan meresirkulasi gas dan katalis melalui reaktor transportasi (Gambar 5-19), seseorang
dapat mencapai kondisi yang tercampur dengan baik asalkan resirkulasi rate besar
sehubungan dengan laju umpan.
Egy Rakhmasari
21030116120018
5.7.7 Ringkasan Peringkat Reaktor
CSTR dan recirculating transport reactor tampaknya menjadi pilihan terbaik karena mereka unggul dalam setiap
kategori kecuali untuk konstruksi. Namun, jika katalis yang diteliti tidak mengalami pembusukan, maka reaktor batch
yang diaduk dan terkandung padatan tampaknya menjadi pilihan terbaik. Jika sistem tidak dibatasi oleh difusi internal
dalam pelet katalis, pelet yang lebih besar dapat digunakan dan padatan yang diaduk adalah pilihan terbaik. Jika katalis
tidak panas dan panas efek dapat diabaikan, reaktor fixed-bed akan menjadi pilihan utama, karena kemudahan
konstruksi dan operasinya. Namun, dalam praktiknya, biasanya tetap dari satu jenis reaktor digunakan dalam
menentukan parameter hukum laju reaksi.

Kesimpulan
1. Metode diferensial untuk sistem volume konstan
Persamaan 1 :

a. plot ∆CA / ∆t sebagai fungsi t


b. Tentukan dCA/dt dari plot ini
c. Dari persamaan 1 dibuat ln
Persamaan 2 :

Plotkan ln(-dCA/dt) versus ln CA. Slopnya dari reaksi a.


2. Metode Integral
a. Tebak R reaksi dan integrasikan persamaan keseimbangan mol.
b. Hitung fungsi konsentrasi yang dihasilkan untuk data dan plot itu sebagai fungsi waktu. Jika plot yang
dihasilkan adalah linear, Anda punya mungkin menebak urutan reaksi yang benar.
c. Jika plot tidak linier, tebak urutan lain dan ulangi prosedur.
3. Metode Reaksi Awal
Dalam metode analisis data laju ini, kemiringan plot ln (-rAo) versus ln CA0 akan menjadi urutan reaksi.
4. Memodelkan reaktor diferensial
Tingkat reaksi dihitung dari persamaan

5. Analisis Least Square


Linearisasikan hukum laju dan selesaikan hasilnya persamaan aljabar untuk parameter hukum laju reaksi.

b. Non-linear Least Square


Cari parameter hukum laju yang a kan meminimalkan jumlah kuadrat dari perbedaan antara laju reaksi terukur
dan laju reaksi dihitung
Egy Rakhmasari
21030116120018

Pertanyaan dan Masalah


(A) Bandingkan Tabel 5-4 pada reaktor laboratorium dengan tabel yang sama pada halaman
269 dari Bisio dan Kabel (lihat Bacaan Tambahan, daftar 4). Apa persamaan dan perbedaannya?
(b) Manakah dari ICM untuk Bab 4 dan 5 yang paling baik?
(c) Chwse FAQ dari Bab 4 dan 5 dan mengapa itu sangat membantu.
(D) Dengarkan audio pada CD dan pilih satu dan mengapa itu bisa dihilangkan.
(E) Buat masalah asli berdasarkan materi Bab 5. (Rancang percobaan untuk laboratorium sarjana yang
menunjukkan prinsip rekayasa reaksi kimia dan biayanya kurang dari $ 500 dalam bagian yang dibeli untuk
membangun. (1998 AIChE National Student Chapter Conpetition) Aturan disediakan di CD-ROM.
(8) Tanam sejumlah biji dalam pot yang berbeda (jagung berfungsi dengan baik). Tanaman
dan tanah masing-masing pot akan dikenakan kondisi yang berbeda, Ukur Ketinggian tanaman sebagai fungsi
waktu dan konsentrasi pupuk. Variabel lain mungkin termasuk pencahayaan, pH, dan suhu ruangan.
P5-3A Isomerisasi Irreversibel
AB
dilakukan dalam reaktor batch dan data konsentrasi-waktu berikut diperoleh:

(a) Tentukan orde reaksi, a, dan laju reaksi spesifik, k


(B) Jika Anda mengulang percobaan ini untuk menentukan kinetika, apa
apa yang akan Anda lakukan berbeda? Akankah Anda berlari lebih tinggi, lebih rendah, atau sama
suhu? Ambil titik data yang berbeda? Menjelaskan.
(c) Dipercaya bahwa teknisi membuat kesalahan pengenceran dalam konsentrasi
diukur pada 17,5 menit. Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana jawaban Anda
bandingkan dengan menggunakan regresi (POLYMATH atau perangkat lunak lain) dengan itu
diperoleh dengan metode grafis? (Am: (a) k = 0,2 (m ~ l / drn ~) * ~ / min)
P5-4A Reaksi ireversibel fase cair
AB+C
dilakukan dalam reaktor CSTR. Untuk mempelajari tingkat hukum laju alir volumetrik, uo,
(maka T = V / u,) bervariasi dan konsentrasi limbah spesies A dicatat sebagai fungsi dari ruang waktu T. Pure A
memasuki reaktor pada konsentrasi dari 2 mol/dm3. Kondisi steady state ada saat pengukuran
dicatat.

(A) Tentukan urutan reaksi dan laju reaksi spesifik.


(B) Jika Anda mengulang percobaan ini untuk menentukan kinetika, apa yang akan Anda lakukan berbeda?
Akankah Anda memilih lebih tinggi, lebih rendah, atau sama suhu? Jika Anda mengambil lebih banyak data, di
mana Anda akan menempatkan pengukuran (mis., T)?
(c) Dipercaya bahwa teknisi mungkin telah membuat faktor pengenceran-dari-10 kesalahan dalam salah satu
pengukuran konsentrasi. Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana lakukan jawaban Anda dibandingkan
menggunakan regresi (POLYMATH atau perangkat lunak lainnya) dengan yang diperoleh dengan metode
grafis?
Catatan: Semua pengukuran dilakukan pada kondisi steady-state.
Egy Rakhmasari
21030116120018
P5-5B Reaksi :
AB+C
dilakukan dalam reaktor batch volume konstan di mana konsentrasi berikut pengukuran dicatat sebagai fungsi
waktu.
(a) Gunakan kuadrat terkecil nonlinier (yaitu, regresi) dan satu metode lainnya untuk de1t: nnine urutan reaksi
dan laju reaksi spesifik.
(B) Jika: Anda mengambil lebih banyak data, di mana Anda akan menempatkan poin? Mengapa?
P5-6B GaInAs film adalah bahan yang penting dalam komunikasi serat optik dan perangkat mikroelektronik
berkecepatan tinggi. Reaksi prelirriiner antara triethylindiurn dan arsine dilakukan untuk membentuk intermediate,
yang kemudian digunakan dalam deposisi untuk membentuk GaInAs. Reaksinya adalah :

Data pada Tabel P5-6 diperoleh dalam reaktor plug-flow [JECS, 1,35 (6), 1530 (1988) l. Tekanan total
(termasuk tanda) = 152.0 torr.

Cari hukum law consistent rate dengan data eksperimen!


P5-7B Data berikut dilaporkan [C. N. Hinshelwooc! dan P. J. Ackeq, Rroc. R. Soc. (Lond)., A11.5, 215 (1927)
l untuk gas-p! ase-volume dekomposisi konstan dimetil eter pada 504 ° C dalam reaktor batch. Awalnya, hanya
(CH,), O yang ada.

(a) Mengapa menurut Anda pengukuran total tekanan pada t = 0 dihilangkan?


Bisakah kamu memperkirakannya?
(B) Dengan asumsi bahwa reaksi

Tentukan urutan reaksi dan laju reaksi spesifik k.


Raihan Pradana

272
Collection and Analysis of Rate Data Chap. 5

(c) Kondisi experimen apa yang kamu sarankan jika ada penambahan data?
(d) Bagaimana perubahan data dan jawaban Anda jika reaksi dijalankan pada
suhu yang lebih tinggi atau lebih rendah?

P5-8g Untuk mempelajari peluruhan fotokimia dari bromin berair di bawah sinar matahari,
sejumlah kecil bromin cair dilarutkan dalam air yang terkandung dalam
tabung baterai kaca dan ditempatkan di sinar matahari langsung. Data berikut ini
diperoleh:

(a) Tentukan apakah laju reaksi adalah nol, pertama, atau urutan kedua dalam bromin, dan hitung
konstanta laju reaksi konstan pada unit pilihan Anda.
(b) Dengan asumsi kondisi eksposur yang sama, hitung yang diperlukan setiap jam tingkat injeksi bromin
(dalam pound) ke dalam badan air yang diterangi matahari, 25.000 gal dalam volume, untuk
mempertahankan tingkat sterilisasi bromin dari 1,0 ppm. (Ans.: 0.43 lb/h)
(c) Kondisi experimen apa yang kamu sarankan jika ada penambahan data?
(Note: pprn = parts of bromine per million parts of brominated water by
weight. In dilute aqueous solutions, 1 ppm =_ 1 milligram per liter.) (California
Professional Engineers Exam)

P5-9C Fase gas decomposition


A  B+2C
dilakukan dalam reaktor batch volume konstan. Run 1 hingga 5 dilakukan
keluar pada 100 ° C sambil menjalankan 6 dilakukan pada 110 ° C.
(a) Dari tabel P5-9 Tentukan orde reaksi dan kecepatan laju reaksi
(b) Energi aktivasi apa yang digunakan pada reaksi ini?

P5-10C Reaksi ozon dipelajari dengan adanya alkena [R. Atkinson et al., Int. J. Clzem. Kinet., 15 (8), 721
(1983)]. Data dalam Tabel P5-10 adalah untuk mempelajari salah satu alkena, cis-2-butena. Reaksi
dilakukan isothermal di 297 K. Tentukan hukum tingkat dan nilai-nilai parameter hukum tingkat.

RAIHAN PRADHANA (URUTAN 52)


21030116130089
Raihan Pradana

273
Chap. 5 Questions and Problems

Pengujian dilakukan pada reaktor eksperimen kecil yang digunakan untuk pengurai
nitrogen oksida dalam aliran pembuangan mobil. Dalam satu rangkaian tes, sebuah nits-
ogen aliran yang mengandung berbagai konsentrasi NO, diumpankan ke reaktor dan Data
kinetik yang diperoleh ditunjukkan pada Gambar P5-11. Setiap titik mewakili satu jalankan
comple1.e. Reaktor beroperasi pada dasarnya sebagai reaktor backmix isotermal (CSTR).
Apa yang bisa Anda simpulkan tentang urutan reaksi yang nyata selama rentang suhu yang
dipelajari?
Plot memberikan dekomposisi fraksional NO, umpan versus rasio volume reaktor V (dalam
cm3) ke NO, laju umpan, FNo2 ,, (mg olh), di berbagai pakan, konsentrasi NO, (dalam per
juta berat).

Perangkat
mikroelektronik dibentuk dengan membentuk SiO pertama, pada silikon .wafer oleh deposisi
uap kimia (Gambar P5-12; bnd. Masalah P3-25). Prosedur ini diikuti dengan melapisi SiO,
dengan polimer yang disebut photoresist. pola sirkuit elektronik tersebut kemudian diletakkan
pada polimer dan sampel diradiasi dengan sinar ultraviolet. Jika polimer adalah fotoresis positif,
maka bagian yang diiradiasi akan larut dalam pelarut yang sesuai dan itu bagian yang tidak
disinari akan melindungi SO, dari perawatan lebih lanjut. Wafer kemudian terkena asam kuat,
seperti HF, dll (mis., melarutkan)

RAIHAN PRADHANA (URUTAN 52)


21030116130089
Raihan Pradana

274
Collection and Analysis of Rate Data Chap. 5

terkena SiO,. Sangat penting untuk mengetahui kinetika reaksi sehingga kedalaman saluran yang
tepat dapat dicapai. Reaksi pelarutannya adalah
SiO, + 6HF  H,SiF, + 2H,O
Dari data rate awal berikut, tentukan konstanta kecepatan:

Sebanyak 1000 keping wafer tipis


ditempatkan pada 0,5 dm3 20% HE Jika a saluran spiral lebar 10 pm dan panjang 10 m harus sampai
ke kedalaman 50 pm di kedua sisi masing-masing wafer, berapa lama chip tersisa solusinya?
Asumsikan solusinya tercampur dengan baik. (Am .: 330 menit)
Oksidasi propena (P) menjadi acrolein (A) dilakukan melalui Mo-Pr-Bi katalisator [Znd. Ya Chem.
Res., 26, 1419 (1987) .
CHJH = CH, + O,  CH, = CHCHO + H,O
Telah diusulkan untuk menghubungkan data menggunakan power law model untuk hukum rate
[lih. Persamaan (5-2)].
racrolein = kPPPO2

RAIHAN PRADHANA (URUTAN 52)


21030116130089
Raihan Pradana

275
Chap. 5 Questions and Problems
Reaksi dilakukan dalam suatu reaktor diferensial dengan 0,5 g katalis pada 623 IS. Dari data di bawah
ini, tentukan persamaan reaksi sehubungan dengan propena: fa) dan oksigen (p) dan laju Feaksi spesifik,
k.

H, + C,H, -> 2CH,


(a) Tentukan parameter hukum tingkat dari data pada Tabel P5-14. Ada empat spinning basket,
masing-masing dengan 10 g katalis. Hanya hidrogen dan etana diumpankan ke reaktor pada 300 °
C. (Seni: k = 0,48 (mol.atm / kg.h))

(b) Kondisi experimen apa yang


kamu sarankan jika ada penambahan data?

P5-15 Dekomposisi thernial isopropil isosianat dipelajari dalam diferensial reaktor packed-bed. Dari data
pada Tabel P5-15, tentukan reaksi law rate.

RAIHAN PRADHANA (URUTAN 52)


21030116130089
Raihan Pradana

276
Collection and Analysis of Rate Data Chap. 5

Campuran hidrokarbon (misalnya, bahan baku minyak bumi) yang mengalami reaksi retak
atau hidrodemethylation kadang-kadang dapat disamakan sebagai satu reaktan atau
sebagai dua atau lebih reaktan, Dalam banyak kasus sulit untuk membedakan lumping
sebagai reaktan tunggal dengan kinetika orde kedua dari lumping sebagai dua reaktan
masing-masing dengan kinetika orde pertama [Znd. Ya Chem. Des proses. Dev., 19, 197
(1980) l. Untuk membedakan antara dua kasus ini, konsentrasi reaktan awal harus
divariasikan dalam lebih dari satu run dan konversi yang lebih besar dari 92% harus dicari
dalam mengambil data.
Dari data reaktor batch di bawah ini, tentukan apakah kinetika orde pertama untuk
penggumpalan sebagai dua reaktan A dan B atau kinetika orde kedua untuk menyatukan
satu reaktan D paling menggambarkan sistem. Kondisi eksperimental sedemikian rupa
sehingga seseorang dapat mengabaikan perubahan volume.

Hanya konsentrasi total reaktan yang disatukan, C (t), dapat dimonitor sebagai fungsi
waktu, Untuk dua-parameter lumping, perkiraan konsentrasi awalbadalah C AO = 0,008
kmol / m3 dan C BO = 0,006 kmol / m3.

Di mana Anda akan menempatkan poin data tambahan?


P5-17 Siapkan rencana eksperimen mendetail untuk mempelajari rate law
(a) Hidrogenasi siklopentana pada katalis Pt / Al, O,.
(b) Produksi fase cair metil bromida dari larutan berair metil amina dan bromin sianida.
(C) Produksi etilena glikol yang dikatalisis oleh asam dari larutan berair dari etilena
oksida.
P5-18, The irreversible liquid-phase reaction
A->B+C
dilakukan dalam reaktor batch. Data berikut dikumpulkan selama jalannya reaksi:

RAIHAN PRADHANA (URUTAN 52)


21030116130089
Eltiara Indra Vidanti

Diferensiasi bidang tekniqueequal grafis. (Gunakan 0 untuk mewakili titik-titik ini pada grafik apa pun
yang Anda buat.) Membedakan suatu polinomial. (gunakan x untuk titik-titik ini)
(B) Tentukan urutan reaksi.
(C) Asumsikan hukum tingkat bentuk
−𝑟𝐴 = 𝑘𝐶𝐴𝑛
Mengintegrasikan persamaan untuk keseimbangan mol gabungan dan menilai hukum dan kemudian
menggunakan analisis kuadrat terkecil nonlinier untuk menentukan a dan k.
(D) Di mana Anda akan menempatkan poin data tambahan?
P5-191, Dehidrogenasi metilsikloheksana (M) untuk menghasilkan toluena (T) dilakukan melalui katalis
WA1,03 0,3% dalam reaktor katalitik diferensial. Reaksi dilakukan dengan adanya hidrogen (H) untuk
menghindari coking [J. Phys. Chern., 64, 1559 (1960) l.
(A) Tentukan parameter model untuk masing-masing hukum tarif berikut.

Gunakan data pada Tabel P5-19.


TABEL P5-19 DEHIDROGENASI METHYLCYCLOHEXANE

(b) Undang-undang tarif mana yang paling tepat menggambarkan data? (Petunjuk: Kita akan belajar di
Bab 10 bahwa baik KHZ maupun KM tidak dapat mengambil nilai negatif.)
(c) Di mana Anda akan menempatkan poin data tambahan?
Eltiara Indra Vidanti

P5-2OC Dalam produksi amonia

reaksi samping berikut terjadi:

Ayen dan Peters [Ind. Ya Chem. Des proses. Dev., 1, 204 (1962) l mempelajari reaksi katalitik nitrit
oksida dengan katalis Girdler G-50 dalam reaktor diferensial pada tekanan atmosfir. Tabel P5-20
menunjukkan laju reaksi dari reaksi samping sebagai fungsi PH, dan PNo pada suhu 375 ° C.
TABEL P5-20 FORMASI AMMONIA

Hukum tingkat berikut untuk reaksi samping (2), berdasarkan berbagai mekanisme katalitik,
disarankan:

Temukan nilai parameter dari undang-undang tarif yang berbeda dan tentukan tingkat mana
yang paling baik mewakili data eksperimen.

P5-21B Untuk reaksi


Eltiara Indra Vidanti

data tingkat eksperimental yang tercantum dalam Tabel PS-21 telah diperoleh.
(a) Apakah reaksi ini bersifat elementer? Pertahankan kesimpulan Anda dengan alasan dan /
atau analisis pendukung.
(b) Mengapa urutannya ditentukan seperti itu?
(c) Di mana Anda akan menempatkan eksperimen tambahan?

TABEL P5-21 DATA RAW

P5-22 * buruknya Modul Komputer Interaktif menjalankan CD-ROM. Jalankan modul dan
kemudian hitung nomor kinerja Anda untuk dule yang menunjukkan pengirisan materi Anda.
Profesor Anda memiliki kunci untuk memecahkan kode nomor kinerja Anda. Kinerja Ekologi
ICM

JURNAL KRITIK PERJALANAN

P5C-1 Reaktor packed-bed digunakan untuk mempelajari reduksi nitric oxide dengan ethylene pada
katalis tembaga-silika [Znd. Ya Chem. Des proses. Dev., 9, 455 (1970) l. Kembangkan
persamaan desain integral dalam hal konversi pada berbagai tekanan dan suhu awal. Apakah
ada perbedaan yang signifikan: pancy antara hasil eksperimen yang ditunjukkan pada Gambar
2 dan 3 dalam artikel dan hasil yang dihitung berdasarkan hukum tingkat yang diusulkan? Jika
ya, apa kemungkinan sumber penyimpangan ini?

P5C-2 Persamaan (3) dalam artikel [J. Chem. Technol. BiotechnoE., 31, 273 (19131) l adalah laju
reaksi dan dimasukkan ke dalam persamaan desain (2). Rederasi persamaan desain dalam hal
konversi. Tentukan tingkat ketergantungan pada H, berdasarkan persamaan baru ini.
Bagaimana urutan yang diperoleh dibandingkan dengan yang ditemukan oleh penulis?

P5C-3 Dalam "The kinetika dari oksidasi hidrogen klorida atas katalis garam cair," Chem. Ya Sci., 23,
981 (1968), gunakan Gambar 2 dalam artikel untuk menentukan tingkat awal oksidasi HCl
untuk berbagai konsentrasi oksigen. Sertakan data ini dalam Gambar 3 bersama dengan data
lainnya. Apakah mungkin untuk menjelaskan kelengkungan di garis pada tekanan parsial kecil
klorin (akar kuadrat dari tekanan parsial Cl2)?

P5C-4 Lihat “Kinetika esterifikasi katalis dari terephthalic aci'd dengan uap metanol,” Chem. Ya Sci.,
28, 337 (1973). Ketika seseorang mengamati titik-titik data pada Gambar 2 dari makalah ini
untuk waktu yang besar, perlu dicatat bahwa titik data terakhir selalu jatuh secara signifikan
Eltiara Indra Vidanti

dari interpretasi garis lurus. Apakah mungkin untuk menganalisis kembali data ini untuk
menentukan apakah urutan reaksi yang dipilih memang benar? Isikan hukum tarif baru Anda
ke dalam persamaan (3), dapatkan bentuk persamaan baru (10) dalam makalah yang
menghubungkan waktu dan jari-jari partikel.

P5C-5 Kinetika amoksidasi fase-uap dari 3-metilpiridina atas katalis V20, -A1,0, yang dipromosikan
dilaporkan dalam Chem. Ya Sci., 35, 1425 (1980). Sarankan mekanisme dan langkah
pembatasan laju yang konsisten dengan masing-masing dari dua mekanisme yang diusulkan.
Dalam setiap kasus bagaimana Anda merencanakan data untuk mengekstrak parameter hukum
tingkat? Mekanisme mana yang didukung oleh data?

P5C-6 Oksidasi selektif dari toluena dan metanol atas katalis sulfat logam alkali vanadium pentoksida
yang diteliti baru-baru ini dipelajari [AIChE J., 27 (1), 41 (1 98l) l. Periksa teknik eksperimental
yang digunakan (peralatan, variabel, dll.) Dengan mempertimbangkan mekanisme yang
diusulkan. Berikan komentar tentang kekurangan analisis dan bandingkan dengan studi lain
dari sistem ini yang disajikan dalam AZChE J., 28 (5), 855 (1982).

MATERI CD-ROM

Sumber Belajar
1. Catatan Ringkasan untuk Kuliah 9 dan 10
3, Modul Komputer Interaktif A. Ekologi
4. Soal Terpecahkan
A. CDP5-B, Oksigenasi Darah
B. Contoh CD5-1 Metode Integral Analisis Data Tekanan-Waktu
Contoh Masalah Hidup
1. Contoh 5-6 Hidrogenasi Etilena menjadi Etana
Rak Referensi Profesional
1. Analisis Kotak Kuadrat Terbobot
2. Perencanaan Eksperimental
3. Evaluasi FAQ Reaktor Laboratorium [Pertanyaan yang Sering Diajukan] - Di bagian
ikon Pembaruan FAQ
Masalah Pekerjaan Rumah Tambahan

CDP5-AB Reaksi penicillin G dengan ", OH dilakukan dalam reaktor batch. Sebuah colorimeter
digunakan untuk mengukur daya serap sebagai fungsi waktu. [Lst Ed. P5-iOJ
CDP5-BB Kinetika deoksigenasi hemoglobin dalam darah dipelajari dengan bantuan reaktor tubular.
[lst Ed. P5-31
CDP5-CB Kinetika pembentukan bahan propelan penting, triaminoguanedine, dipelajari dalam reaktor
batch di mana konsentrasi amonia diukur sebagai fungsi waktu. [2nd Ed. P5-61
CDP5-DB Waktu paruh dari salah satu polutan, TIDAK, dalam autoexhaust diperlukan.
CDP5-EB Kinetika reaksi fase-gas A2 + 2A dipelajari dalam reaktor batch tekanan konstan di mana
volume diukur sebagai fungsi waktu. [lst Ed. P5-61

BACA TAMBAHAN

1. Berbagai teknik untuk mengukur konsentrasi reaktan yang bereaksi.


Eltiara Indra Vidanti

ROBINSON, J. W., Undergraduate Instrumental Analysis, 5th ed.. New York. Marcel Dekker, 1995.
SKOOG, D. A., Principles of Instrumental Analysis, 3rd ed. Philadelphia: Holt Rinehart and
Winston, 1985

2. Diskusi H pada metode interpretasi data reaksi batch dapat ditemukan


CRYNES, B. L., and H. S. FOGLERed, s., AIChE Modular Instruction Series E: Kinetics, Vol. 2.
New York: American Institute of Chemical Engineers 1981, pp. 51-74.

3. Interpretasi data yang diperoleh dari reaktor aliran juga dibahas dalam
CHURCHILL, S. W., The Interpretation and Use of Rate Data. New York: McGraw-Hill, 1974.
SMITH, J. M., Chemical Engineerrng Kinetics, 3rd ed. New York McGraw-Hill 1981, Chap. 4.

4. Rancangan reaktor katalitik laboratorium untuk memperoleh data laju ditampilkan


RASE, H. F., Chemical Reactor Design for Process Plants, Vol. 1. New York: Wiley, 1983, Chap.
5.

Sebagian besar jenis reaktor ini juga dibahas dalam


ANDERSON, R. B., ed. Experimental Methods in Catalytic Researih. New York: Academic Press,
1968.

5. Model buildling dan metode statistik saat ini diterapkan untuk interpretasi data rate disajikan dalam
FROMENT, G. E, and K. B. BISCHOFF, Chemicai' Reactor Analysis and Design. New York:
Wiley, 1979.
KITTRELIJ.,. R., in Advances in Chemical Engineering, Vol. 8, T. B. Draw et al., eds. New York:
Academic Press, 1970, pp. 97-183.
JOHANSENS,. , Functional Relations, Random Coeficients, and Nonlinear Regression with
Application to Kinetic Data, New York: Springer-Verlag, 1984
MARKERr, B. A., Instrumental Element and Multi-Element Analysis of Plant Samples: Methods
and Applications, New York: Wiley, 1996.

6. Desain berurutan dari eksperimen dan estimasi parameter tercakup dalam


BOX, G. E. P., W. G. HUNTER, and J. S. HUNTER Statistics for Experimenters:An Introduction
to Design, Data Analysis, and Model Building. New York: Wiley, 1978.
GRAHAM, R. J., and E D. STEVENSON, Ind. Eng. Chem. Process Des. Dev+, 11, 160 (1972).
Novriadi Tri Kurnianto - 21030116140159

Multiple Reactions 6

Sarapan seorang pemenang bukanlah sereal, melainkan lawanmu


- Nick Seitz

Jarang sekali reaksi tunggal terjadi dalam reaktor kimia. Biasanya beberapa reaksi akan terjadi, beberapa yang
diinginkan dan beberapa yang tidak diinginkan. Salah satu faktor kunci dalam keberhasilan ekonomi pabrik
kimia adalah meminimalisir reaksi samping yang tidak diinginkan yang terjadi bersama dengan reaksi yang
diinginkan. Dalam bab ini kita akan membahas pemilihan reaktor dan keseimbangan mol umum untuk berbagai
reaksi. Ada tiga tipe dasar dari beberapa reaksi: seri, paralel, dan independen. Dalam reaksi paralel (juga disebut
reaksi bersaing) reaktan digunakan oleh dua jalur reaksi yang berbeda untuk membentuk produk yang berbeda:
Reaksi Paralel

Sebuah contoh reaksi paralel yang signifikan dalam sebuah industri adalah oksidasi etilena menjadi etilena
oksida sembari menghindari terjadinya pembakaran sempurna terhadap karbon dioksida.

Dalam reaksi seri, yang juga disebut reaksi berurutan, reaktan membentuk intermediet, yang mana akan bereaksi
lebih lanjut untuk membentuk produk lainnya:
Reaksi Seri

Sebuah contoh reaksi seri yang melibatkan etilen oksida (E.O.) adalah reaksi dengan arnmonia untuk
membentuk mono-, di-, dan trietanolamina:

Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran telah menuju produksi diethanolamine sebagai produk yang
diinginkan daripada trietanolamina.
Reaksi multipel melibatkan kombinasi bo & seri dan reaksi paralel, seperti

Contoh kombinasi reaksi paralel dan seri adalah pembentukan butadiena dari etanol:
Reaksi Seri dan Paralel Simultan

Reaksi independen adalah tipe dan terjadi dalam stok umpan yang mengandung banyak reaktan.
Cracking minyak mentah untuk membentuk bensin adalah contoh di mana reaksi independen terjadi.
Reaksi Independen

Bagian pertama bab ini akan mengutamakan pembahasan dengan reaksi paralel. Bagian yang menarik
adalah reaktan yang digunakan dalam pembentukan produk yang diinginkan, D, dan pembentukan produk yang
tidak diinginkan, U, dalam reaksi yang bersaing atau samping. Dalam urutan reaksi
Novriadi Tri Kurnianto - 21030116140159

kita ingin meminimalkan pembentukan U dan memaksimalkan pembentukan D, karena semakin besar jumlah
produk yang tidak diinginkan yang terbentuk, semakin besar biaya untuk memisahkan produk yang tidak
diinginkan dari produk D yang diinginkan (Gambar 6-1).

Gambar 6-1 Reaksi sistem separasi memproduksi baik produk yang diinginkan maupun tidak.
Dalam skema reaktor yang sangat efisien dan murah di mana sangat sedikit produk U yang tidak
diinginkan pembentukannya dalam reaktor, biaya proses pemisahan bisa sangat rendah. Di sisi lain, bahkan jika
skema reaktor murah dan tidak efisien, menghasilkan pembentukan sejumlah besar U, biaya sistem separasi bisa
cenderung tinggi. Normalnya, sebagai biaya dari sistem reaksti meningkat dalam upaya untuk meminimalisir U,
biaya separasi komponen U dari D berkurang (Gambar 6-2).

Gambar 6-2 Efisiensi sebuah sistem reaktor.

6.1 Memaksimalkan Produk yang Diinginkan dalam Reaksi Paralel

Di bagian ini kita akan mendiskusikan berbagai maksud dari meminimalisir produk yang tidak diinginkan, U,
melalui pemilihan tipe dan kondisi reaktor. Kita juga mendiskusikan pengembangan skema reaktor efisien.
Untuk reaksi yang bersaing

Hukum lajunya adalah

Laju hilangnya A untuk reaksi bagian ini adalah penjumlahan dari laju pembentukan U dan D:

di mana α1 dan α2 adalah konstanta positif. Kita ingin laju pembentukan D, rD, menjadi tinggi sehubungan
dengan tingkat pembentukan U, rU. Dengan mengambil rasio dari tarif ini [yaitu, Persamaan (6-1) hingga
Persamaan (6-2)], kita memperoleh laju selektivitas parameter, S, yang dimaksimalkan:
Selektivitas Instan
Novriadi Tri Kurnianto - 21030116140159

6.1.1 Memaksimalkan Laju Selektivitas Parameter S untuk Satu Reaktan

Pada bagian ini kita menguji cara untuk memaksimalkan S, yang kadang-kadang disebut sebagai
selektivitas instan, untuk urutan reaksi yang berbeda dari produk yang diinginkan dan tidak diinginkan.

Kasus 1: α1>α2 Untuk kasus di mana orde reaksi produk yang diinginkan lebih besar daripada orde reaksi dari
produk yang tidak diinginkan, biarkan a menjadi bilangan positif yang merupakan perbedaan antara orde reaksi
berikut:

Kemudian

Untuk membuat rasio ini sebesar mungkin, kita ingin melakukan reaksi dengan cara yang akan
membuat konsentrasi reaktan A setinggi mungkin selama reaksi. Jika reaksi dilakukan dalam fase gas, kita harus
menjalankannya tanpa inert dan tekanan tinggi untuk menjaga C A tinggi. Jika reaksi dalam fase cair,
penggunaan pengencer harus dijaga seminimal mungkin.
Reaktor batch atau plug-flow sebaiknya digunakan dalam kasus ini, karena di kedua reaktor ini,
konsentrasi A dimulai pada nilai tinggi dan turun secara progresif selama reaksi berlangsung. Dalam CSTR
campuran sempurna, konsentrasi reaktan dalam reaktor selalu pada nilai terendah (misalnya, bahwa dari
konsentrasi outlet) dan karena itu tidak dipilih dalam keadaan ini.

Kasus 2: α2>α1 Saat orde reaksi produk yang tidak diinginkan lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang
diinginkan,

Biarkan a = α2 - α1, dimana a adalah angka positif; maka

Agar rasio rD/rU tinggi, konsentrasi A harus serendah mungkin.


Konsentrasi rendah ini dapat dicapai dengan mengencerkan umpan dengan inert dan menjalankan
reaktor pada konsentrasi A yang rendah. Reaktor CSTR harus digunakan, karena konsentrasi reaktan
dipertahankan pada tingkat rendah. Reaktor recycle di mana aliran produk bertindak sebagai pengencer dapat
digunakan untuk mempertahankan konsentrasi A masuk pada nilai rendah.
Karena energi aktivasi dari dua reaksi dalam kasus 1 dan 2 tidak diketahui, tidak dapat ditentukan
apakah reaksi harus dijalankan pada suhu tinggi atau rendah. Sensitivitas dari laju parameter selektivitas
terhadap suhu dapat ditentukan dari rasio laju reaksi spesifik,

di mana A adalah faktor frekuensi, E energi aktivasi, dan subskrip D dan U mengacu pada produk yang
diinginkan dan yang tidak diinginkan.

Kasus 3: ED> E, Dalam kasus ini laju reaksi spesifik dari reaksi yang diinginkan kD (dan laju keseluruhan rD)
meningkat lebih cepat dengan peningkatan suhu daripada laju spesifik dari reaksi yang tidak diinginkan kU.
Akibatnya, sistem reaksi harus dioperasikan pada suhu setinggi mungkin untuk memaksimalkan S DU.

Kasus 4: E > ED, Dalam kasus ini reaksi harus dilakukan pada suhu rendah untuk memaksimalkan S DU, tetapi
tidak begitu rendah sehingga reaksi yang diinginkan tidak berlanjut sampai tingkat yang signifikan.

Contoh 6-1 Meminimalisir Produk yang Tidak Diinginkan untuk Reaktan Tunggal

Reaktan A terdekomposisi melalui tiga reaksi simultan untuk membentuk tiga produk: satu yang dinginkan, D,
dan dua yang tidak diinginkan, Q dan U. Reaksi fase gas tersebut, secara bersama-sama dengan hukum laju
yang berkaitan, adalah:
SHEILA AMANDA PUTRI
21030116140187

Bagian. 6.1 Memaksimalkan Produk yang Diinginkan dalam Reaksi Paralel

Produk yang diinginkan:

Produk U yang tidak diinginkan:

Produk Q yang tidak diinginkan:

Bagaimana dan dalam kondisi apa (mis., Jenis reaktor, tekanan, suhu, dll.) sebaiknya
reaksi di atas dilakukan untuk meminimalkan konsentrasi produk yang tidak
diinginkan U dan Q?

Solusi

Karena faktor pra eksponensial dapat dibandingkan, tetapi energi aktivasi dari ~
reaksi (E6-1.1) dan (E6-1.2) jauh lebih besar daripada energi aktivasi reaksi (E6-1.3),
laju pembentukan Q akan diabaikan sehubungan dengan tingkat pembentukan D dan
U pada suhu tinggi:

Sekarang kita hanya perlu mempertimbangkan tingkat relatif pembentukan D dan U


pada suhu tinggi:

Dari Persamaan (E6-1.5) kami mengamati bahwa jumlah produk yang tidak
diinginkan, U, dapat diminimalkan dengan melakukan reaksi pada konsentrasi rendah.
Karena itu, untuk memaksimalkan konversi A ke D kita ingin mengoperasikan reaktor
kita pada suhu tinggi (untuk meminimalkan pembentukan Q) dan pada konsentrasi
rendah A (untuk meminimalkan fiormasi U). Yaitu, melakukan reaksi pada:
1. Suhu tinggi.
2. Konsentrasi rendah A, yang dapat dicapai dengan:
a. Menambahkan inerts.
b. Menggunakan tekanan rendah (jika fase gas).
c. Menggunakan CSTR atau reaktor daur ulang.

287
SHEILA AMANDA PUTRI
21030116140187

Bagian 6.1. memaksimalkan produk yang diinginkan dalam Reaksi Paralel

Selanjutnya perhatikan dua reaksi simultan di mana dua reaktan, A dan B, sedang
dikonsumsi untuk menghasilkan produk yang diinginkan, D, dan yang tidak diinginkan
produk, U, dihasilkan dari reaksi samping. Tingkat hukum untuk reaksi

adalah

Parameter tingkat selektivitas

Selektivitas sesaat

adalah untuk dimaksimalkan. Ditampilkan pada Gambar 4-3 adalah berbagai skema dan
kondisi reaktor yang mungkin digunakan untuk memaksimalkan SDu.

Pilih dari skema ini


atau yang serupa
untuk mendapatkan
jumlah terbesar
produk yang
diinginkan dan paling
sedikit produk yang
tidak diinginkan

Gambar 6-3 Berbagai reaktor dan skema untuk meminimalkan produk yang tidak
diinginkan.

288
SHEILA AMANDA PUTRI
21030116140187

Bagian 6.1. memaksimalkan produk yang diinginkan dalam Reaksi Paralel

Contoh 6-2 Meminimalkan Produk Yang Tidak Diinginkan Untuk Dua Reaktan

Untuk reaksi parallel

mempertimbangkan semua kemungkinan kombinasi dari perintah reaksi dan pilih skema
reaksi yang akan memaksimalkan SDU

solusi

Case I: a1>a2, b1>b2. Maka a=a1-a2 dan b=b1-b2,di mana a dan b adalah konstanta positif.
Menggunakan definisi ini kita dapat menulis Persamaan (6-11) dalam bentuk

Untuk memaksimalkan rasio rD / ru, m aintain konsentrasi A dan E setinggi mungkin.


Untuk melakukan ini, gunakan:
 Sebuah reaktor tubular.
 Reaktor batch.
 Tekanan tinggi (jika fase gas).

Case II: a1>a2, b1<b2. Maka a=a1-a2 dan b=b2-b1. Dimana a dan b adalah konstanta
positif. Menggunakan definisi ini kita dapat menulis Persamaan (E6-2.1) dalam bentuk

Untuk membuat SDU, sebanyak mungkin kita ingin membuat konsentrasi A tinggi dan
konsentrasi B rendah. Untuk mencapai hasil ini, gunakan:
 Sebuah reaktor semibatch di mana B diberi makan perlahan-lahan ke dalam jumlah
besar A (Gambar 6-3d).
 Reaktor tubular dengan aliran samping E terus diumpankan ke reaktor (Gambar 6-
30).
 Serangkaian CSTR kecil dengan A hanya diberikan ke reaktor pertama dan
sejumlah kecil B yang diumpankan ke setiap reaktor. Dengan cara ini B sebagian
besar dikonsumsi sebelum aliran keluar CSTR mengalir ke reaktor berikutnya
(Kebalikan Gambar 6-3i).

Case III: a1<a2, b1<b2. Maka a=a2-a1 dan b=b2-b1. Dimana a dan b adalah konstanta
positif. Menggunakan definisi ini kita dapat menulis Persamaan (E-2.1) dalam bentuk

Untuk membuat SDU seluas mungkin, reaksi harus dilakukan pada konsentrasi rendah A
dan B. Gunakan:
 Sebuah CSTR.
 Sebuah reaktor tubular di mana ada rasio recycle yang besar.
 Sebuah umpan diencerkan dengan inerts.
 Tekanan rendah (jika fase gas).

289
SHEILA AMANDA PUTRI
21030116140187

Case IV: a1<a2, b1>b2, maka a-a2-a1 dan b=b1-b2, di mana a dan b adalah konstanta
positif. Menggunakan definisi ini kita dapat menulis Persamaan (E6-2.1) dalam bentuk

Untuk memaksimalkan SDU, jalankan reaksi pada konsentrasi B yang tinggi dan
konsentrasi A. yang rendah. Gunakan:
 Reaktor semibatch di mana A secara perlahan diumpankan ke sejumlah besar B.
 Reaktor tubular dengan aliran samping A.
 Serangkaian CSTR kecil dengan A segar yang diumpankan ke setiap reaktor.

Definisi lain dari selektivitas yang digunakan dalam literatur saat ini, SDU, diberikan dalam
hal laju aliran meninggalkan reaktor. SDU adalah selektivitas keseluruhan.

Untuk reaktor batch, selektivitas keseluruhan diberikan dalam hal jumlah mol D dan U pada
akhir waktu reaksi:

Satu juga menemukan bahwa hasil reaksi, seperti selektivitas, memiliki dua definisi: satu
berdasarkan rasio laju reaksi dan satu berdasarkan rasio laju aliran molar. Dalam kasus
pertama, hasil pada suatu titik dapat didefinisikan sebagai rasio dari laju reaksi dari produk
yang diberikan kepada laju reaksi dari reaktan A. Kunci ini kadang-kadang disebut sebagai
hasil seketika.

Dalam kasus hasil reaksi berdasarkan laju alir molar, hasil keseluruhan, YD, didefinisikan
sebagai rasio mol produk yang terbentuk pada akhir reaksi terhadap jumlah mol reaktan
kunci, A, yang telah dikonsumsi.

Untuk system batch:

Untuk system kontinu:

Sebagai konsekuensi dari definisi yang berbeda untuk selektivitas dan hasil, ketika
membaca literatur berurusan dengan beberapa reaksi, periksa dengan hati-hati untuk
memastikan definisi yang dimaksudkan oleh autl_lor tersebut. Dari sudut pandang ekonomi,
ini adalah sedasi yang berlebihan, S, dan hasil, Y, yang penting dalam keuntungan
determinlii. namun, selektivitas berbasis-nilai memberikan wawasan dalam memilih skema
reaktor dan reaksi yang akan membantu memaksimalkan laba. Namun, seringkali ada
konflik antara selektivitas dan konversi (hasil) karena Anda ingin membuat banyak produk
yang Anda inginkan (D) dan pada saat yang sama meminimalkan produk yang tidak
diinginkan (U). Namun, dalam banyak contoh, konversi yang lebih besar yang Anda capai,
bukan saja Anda membuat lebih banyak D, Anda juga memberi lebih banyak U.

290
SHEILA AMANDA PUTRI
21030116140187

6.2 Memaksimalkan Produk yang Diinginkan dalam Reaksi Seri

Dalam Bagian 6.1 kami melihat bahwa produk yang tidak diinginkan dapat diminimalkan
dengan menyesuaikan kondisi reaksi (misalnya, konsentrasi) dan dengan memilih reaktor
yang tepat. Untuk serangkaian reaksi berturut-turut, variabel yang paling penting adalah
waktu: ruang-waktu untuk reaktor aliran dan real-time untuk reaktor batch. Untuk
mengilustrasikan pentingnya faktor waktu, kami mempertimbangkan urutannya

J. J. Carberry, in Applied Kinetics and Chemical Reaction Engineering, R. L. Gorring


and V. W. Weekman, eds. (Washington, D.C.: American Chemical Society, 1967), p.
89.

291
Arvin M. Yafiz / 21030116120041

Tugas Poin “No urut 56”


Praktikum Model & Komputasi Proses
Elements of Chemical Reaction Engineering – H. Scott Fogler (2004)
Halaman 292 sampai 296

6.2 Memaksimalkan Jumlah Produk yang Diinginkan dalam Reaksi Seri


Dalam Bagian 6.1 kita melihat bahwa hasil yang diinginkan bisa diminimalkan dengan
menyesuaikan kondisi reaksi (misalnya, konsentrasi) dan dengan memilih reaktor yang tepat.
Serangkaian reaksi berturut-turut, variabel paling penting waktu: ruang-waktu untuk sebuah
reaktor aliran dan real-time untuk sebuah reaktor batch. Untuk menggambarkan pentingnya
faktor waktu, kita mempertimbangkan urutan reaksi seperti :
ABC
Dengan komponen B merupakan produk yang diinginkan.
Jika reaksi pertama lambat dan reaksi kedua cepat, maka akan sangat sulit untuk
menghasilkan spesies B. Jika reaksi pertama (pembentukan B) cepat dan reaksi pembentukan
C lambat, hasil B yang besar dapat dicapai. Namun, jika reaksi diperbolehkan untuk
melanjutkan untuk waktu yang lama dalam batch reactor, atau jika aliran tabung reaktor terlalu
panjang, produk yang diinginkan B akan dikonversi ke C. Dalam tidak ada jenis reaksi adalah
ketepatan dalam perhitungan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan reaksi lebih penting
daripada dalam reaksi berturut-turut (seri).

Contoh 6-3, Memaksimalkan yield dari produk intermediet


Oksidasi ethanol dari asetaldehida dilakukan dengan bantuan katalis 4%wt Cu, 2%wt Cr dalam
Al2O3. Sayangnya asetaldehida juga dapat teroksidasi oleh bantuan katalis ini menghasilkan
CO2. Reaksi dilakukan dengan oksigen berlebih 3 kali lipat dan di dalam konsentrasi encer
(0,1% ethanol, 1% O2, dan 98,9% N2). Akibatnya, perubahan volume dengan reaksi dapat
diabaikan. Menentukan nconcentration asetaldehida sebagai fungsi dari space-time.

Reaksi diatas merupakan reaksi irreversibel dan merupakan reaksi order 1.


Penyelesaian :
Karena Oksigen berlebih, maka kita dapat menuliskan persamaan reaksi menjadi :

Neraca komponen A :
𝑑𝐹𝐴
= 𝑟′𝐴
𝑑𝑊
Kecepatan reaksi :
-rA = k1CA
Stoikiometri ( E << 1 )
FA = CAv0
Kombinasi :

Mari lihat

Dimana ρb is bulk density dari katalis.


Integrasi dengan CA = CA0 dan W =0 sehingga :
Arvin M. Yafiz / 21030116120041

Neraca komponen B :

Kecepatan reaksi :

Stoikiometri :
FB = v0CB
Kombinasi :

Dengan mensubstitusi CA, maka di dapat :

Dengan menggunakan penyelesaian Faktor Integrasi (FI) maka didapat :

Pada saat memasuki reaktor,

Kemudian diitegrasi dapat menghasilkan persamaan :

Didapat grafik konsentrasi A, B, dan C berdasarkan fungsi waktu

Mencari Optimum Yield


Konsentrasi komponen B mencapai maksimum di salah satu titik dalam reaktor, sehingga
untuk mencari optimum yield kita harus mendiferensiasi persamaan berikut :

Dan untuk mendapatkan t optimum dapat diberikan :


Arvin M. Yafiz / 21030116120041

Sehingga didapat :

Dan yield dapat didefinisikan sebagai :

Fungsional konversi dari tiap-tiap komponen dapat dilihat dalam gambar berikut :

Teknik lain yang sering digunakan dalam dua reaksi seri , konsentrasi A, B, dan C
diplotkan dalam titik singular dengan perbedaan space-time dalam diagram segitiga. Dengan
vertikalnya mengindikasikan pure komponen A, B, dan C

6.3 Algoritma Untuk Menyelesaikan Reaksi Kompleks


Arvin M. Yafiz / 21030116120041

6.3.1 Neraca Mol


Dalam reaksi kompleks sistem terdiri dari kombinasi reaksi paralel dan serial yang
ketersediaan paket perangkat lunak (ODE pemecah) membuatnya lebih mudah untuk
memecahkan masalah menggunakan tahi lalat Nj atau laju aliran molar 5 daripada konversi.
Untuk sistem cair, konsentrasi mungkin disukai variabel yang dipakai dalam persamaa
keseimbangan tahi lalat. Persamaan diferensial ditambah yang dihasilkan dapat diselesaikan
dengan mudah menggunakan pemecah ODE. Bahkan, Bagian ini telah dikembangkan untuk
mengambil keuntungan dari sejumlah besar komputasi teknik IIQW tersedia di mainframe
(misalnya, Simulsolv) dan komputer pribadi (POLYMATH).
Tabel berikut ini merupakan neraca mol yang sebaiknya kita gunakan untuk reaksi
kompleks dimana rA dan rB merupakan harga bersih dari reaksi.

Setelah menulis saldo mol, titik kunci untuk beberapa reaksi adalah untuk menulis bersih
tingkat pembentukan masing-masing spesies (misalnya, A, B). Itulah, kita harus
menyimpulkan tingkat pembentukan untuk reaksi masing-masing untuk mendapatkan tingkat
bersih formasi, contoh: seorang r. Jika q reaksi sedang berlangsung :

Sehingga kecepatan reaksi komponen A dan B dapat didefinisikan sebagai :

Ketika kita jumlah tingkat reaksi individu untuk spesies, kita perhatikan bahwa untuk
reaksi orang-orang di mana spesies (misalnya, A, B) tidak muncul, tingkat adalah nol. Untuk
reaksi pertama tiga di atas, r3A = 0, r2B = 0, r2D = 0.
Untuk menulis reaksi di atas dalam notasi lebih kompak kita bisa membiarkan AI = A,
A, = B, dan seterusnya, sampai di urutan generik q reaksi yang ditunjukkan dalam tabel 6-2.
Huruf A, mewakili spesies kimia (contoh,: seorang, = HCl, A, = NaOH). Pertama subskrip,
aku vE koefisien stoichiometic, dan rlJrefers tingkat reaksi ke nomor reaksi sementara subskrip
kedua, j, merujuk pada spesies tertentu dalam reaksi. Kini kita berada dalam posisi untuk
mengevaluasi tingkat total pembentukan masing-masing spesies dari semua reaksi. Bersih laju
Arvin M. Yafiz / 21030116120041

reaksi untuk spesies Aj adalah jumlah dari semua tingkat reaksi dalam spesies yang Aj muncul.
Untuk q reaksi berlangsung,
Reza Maula Dikrama
21030116140150
Kelompok : 4 Kamis Pagi
Halaman : 297 – 301

Artinya, laju reaksi bersih untuk spesies Aj adalah jumlah semua laju reaksi di mana spesies Aj muncul. Untuk
reaksi q sebegai berikut,

6.3.3 Hukum Laju


Hukum jalu untuk masing-masing reaksi individu dinyatakan dalam bentuk konsentrasi, Cj, dari spesies
yang bereaksi. Misalnya, jika reaksi 2 di atas (yaitu, A+2C3E) mengikuti hukum tingkat dasar, maka tingkat
penghilangan A bisa menjadi

atau dalam hal laju pembentukan A dalam reaksi 2,

Untuk set reaksi umum yang diberikan dalam Tabel 6-2, hukum laju untuk laju pembentukan spesies reaktan A,
dalam reaksi i mungkin tergantung pada konsentrasi spesies A, dan spesies Aj, misalnya,

Kita perlu menentukan hukum laju untuk setidaknya satu spesies dalam setiap reaksi.

6.3.4 Stoikiometri : Laju Reaksi Relatif


Langkah selanjutnya adalah menghubungkan hukum laju untuk reaksi dan spesies tertentu dengan spesies
lain yang berpartisipasi dalam reaksi tersebut. Untuk mencapai hubungan ini kita cukup mengingat reaksi generik
dari Bab 2 dan 3,

dan menggunakan persamaan (2-20) untuk menghubungkan laju penghilangan A dan B ke 1 laju pembentukan C
dan D:

Dalam bekerja dengan berbagai reaksi biasanya lebih menguntungkan untuk menghubungkan laju pembentukan
masing-masing spesies satu dengan lainnya. Ini dapat dicapai dengan menulis ulang (2-20) dalam bentuk untuk
reaksi i

Misalnya untuk reaksi 2 :

Menerapkan persamaan (6-17) ke reaksi 2 di atas [yaitu, (A + 2C  3E) dimana r2A = -k2ACACC2], lau pembentukan
spesies E, r2E, adalah

Dan laju formasi C yaitu


Reza Maula Dikrama
21030116140150

Untuk menghubungkan laju relatif formasi dalam notasi yang lebih ringkas, misalkan hukum laju untuk laju
pembentukan spesies A, diberikan dalam reaksi i sebagai

Untuk menemukan laju formasi pada spesies A, dalam reaksi i, rij, kita mengalikan hukum laju untuk spesies A,
dalam reaksi i dengan rasio koefisien stoikiometri spesies A,, vij, dan spesies A,, vik, dalam reaksi i:

Hubungan ini hanya berlaku untuk laju relatif dalam reaksi yang sama (yaitu, reaksi i). Ketika mengaitkan
laju relatif dari pembentukan, koefisien stoikiometrik, vij, dari reaktan diambil sebagai negatif dan koefisien dari
produk sebagai positif.
Dalam menganalisis beberapa reaksi pada Tabel 6-2, kami melakukan prosedur yang ditunjukkan pada
Tabel 6-3 (tidak harus dalam urutan yang tepat) ketika hukum laju dikenal untuk setidaknya satu spesies dalam
setiap reaksi individu.
Table 6-3 Langkah-Langkah dalam Menganalisis Reaksi Ganda
1. Nomor tiap reaksi
2. Wnte keseimbangan mol tiap spesies
3. Menentukan hukum laju untuk setiap spesies pada tiap reaksi
4. Hubungkan laju reaksi tiap spesies ke spesies dimana hukum laju diberikan untuk tiap reaksi
5. Menentukan laju bersih formasi tiap spesies
6. Menyatakan hukum laju sebagai fungsi konsentrasi, C,, untuk kasus tidak ada perubahan volume
7. Menyatakan hukum laju sebagai fungsi mol, Nj, (batch), atau laju alir molar, Fj, (aliran) ketika ada
perubahan volume dengan reaksi
8. Kombinasikan semua yang diatas dan selesaikan rangkain diferensial yang digabungkan (PFR, BPR, batch)
atau persamaan aljabar (CSTR)

Contoh 6-4 Stoikiometri dan Hukum Laju untuk Reaksi Ganda

Meninjau reaksi dibawah ini :

Tuliskan hukum laju untuk setiap spesies dalam setiap reaksi dan kemudian tuliskan laju bersih pembentukan NO,
O2, dan N2.

Penyelesaian
Hukum laju untuk reaksi 1, 2, dan 3 diberikan dalam bentuk spesies NO, N 2, dan O2, masing-masing. Akibatnya,
untuk menghubungkan setiap spesies yang bereaksi dalam setiap reaksi terhadap hukum lajunya dengan lebih jelas,
kita membagi masing-masing reaksi melalui koefisien stoikiometri dari spesies yang diberikan hukum laju.

Hukum laju yang sesuai terkait dengan :


Memanggil persamaan (6-17)
Reza Maula Dikrama
21030116140150

Reaksi 1 : Hukum laju w.r.t NO adalah :

Laju relatif yaitu :

Lalu, laju penghilangan NH3 yaitu :

Reaksi 2 :

Reaksi 3 :

Selanjutnya, mari kita periksa laju bersih formasi. Laju bersih pembentukan NO adalah:

Lalu meninjau N2

Akhirnya O2

6.3.5 Stoikiometri : Konsentrasi


Sekarang untuk menyatakan konsentrasi dalam hal laju aliran molar kita ingat bahwa untuk cairan
Reza Maula Dikrama
21030116140150

Fase cair

Untuk gas ideal memanggil kembali persamaan (3-45)

Fase gas

Dimana

Dan

Untuk sistem isothermal tanpa penurunan tekanan

Fase gas

Dan kita dapat menyatakan laju penghilangan setiap spesies sebagai fungsi laju alir molar (F1, ...Fj):

Dimana fn merepresentasikan ketergantungan fungsional pada konsentrasi laju bersih formasi seperti yang diberikan
dalam Persamaan (E6-4.12) untuk N2.

6.3.6 Menggabungkan Langkah


Sekarang kita memasukkan hukum laju yang ditulis dalam bentuk laju alir molar [misalnya, Persamaan (3-
45)] ke dalam keseimbangan mol (Tabel 6-1). Setelah melakukan operasi ini untuk masing-masing spesies, kami
tiba pada seperangkat gabungan persamaan diferensial orde pertama yang harus dipecahkan untuk laju alir molar
sebagai fungsi dari volume reaktor (yaitu, jarak sepanjang reaktor). Dalam reaksi fase-cair, pengalibrasian dan
penyelesaian untuk laju alir molar total tidak diperlukan pada setiap langkah sepanjang jalur solusi karena tidak ada
perubahan volume dengan reaksi.
Menggabungkan keseimbangan mol, hukum laju, dan stoikiometri untuk spesies 1 melalui spesies j dalam
fase gas dan untuk operasi isotermal tanpa penurunan tekanan, diberikan
Khoirun Nisa (21030116120069): 58 : halaman 302-306

Untuk sistem batch tekanan konstan kita hanya akan mengganti Ni , untuk Fi di persamaan di
atas. Untuk sistem batch volume konstan, kita akan menggunakan konsentrasi:
Cj = Nj /V0 (6-27)
Kita melihat bahwa kita memiliki j untuk menggabungkan persamaan diferensial biasa yang
harus diselesaikan bersamaan dengan paket numerik atau dengan menulis pemecahan
menggunakan ODE. Bahkan, prosedur ini telah dikembangkan untuk memanfaatkan
sejumlah besar teknik perhitungan kini tersedia di mainframe (misalnya, Simusolv) dan
komputer pribadi (POLYMATH, Mathematica, MATLAB).
Contoh 6-5 Menggabungkan kesetimbangan mol, hukum laju reaksi, dan stoikiometri untuk
multipel reaksi
Pertimbangkan lagi reaksi dalam Contoh 6-4. Tuliskan kesetimbangan mol pada PFR di
istilah laju alir molar untuk setiap senyawa.
2 5
Reaksi 1 𝑁𝑂 + 3 𝑁𝐻3 → 6 𝑁2 + 𝐻2 𝑂

Reaksi 2 2𝑁𝑂 → 𝑁2 + 𝑂2
1
Reaksi 3 𝑂2 + 2 𝑁2 → 𝑁𝑂2

Penyelesaian
Untuk reaksi fase gas, konsentrasi dari senyawa j yaitu:
𝐹𝑗 𝑃 𝑇0
𝐶𝑗 = 𝐶𝑇0
𝐹𝑇 𝑃0 𝑇
Untuk keadaan tidak ada hilang tekan dan operasi berjalan isothermal,
𝐹𝑗
𝐶𝑗 = 𝐶𝑇0 (E6-5.1)
𝐹𝑇

Di dalam kombinasi kesetimbangan mol, laju reaksi dan stoikiometri, kita akan menggunakan
hasil dari contoh 6-4. Total laju molar dari semua gas adalah
𝐹𝑇 = 𝐹𝑁𝑂 + 𝐹𝑁𝐻3 + 𝐹𝑁2 + 𝐹𝐻2 0 + 𝐹𝑂2 + 𝐹𝑁𝑂2 (E6-5.2)
Kita sekarang menulis ulang kesetimbangan mol untuk setiap senyawa di dalam total laju
molar.
(1) Kesetimbangan mol untuk NO:
𝑑𝐹𝑁𝑂 1.5 2
= 𝑟𝑁𝑂 = −𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑁𝐻3 𝐶𝑁𝑂 − 2𝑘2𝑁2 𝐶𝑁𝑂
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑁𝑂 𝐹𝑁𝐻3 𝐹 1.5 𝐹 2
2.5 2
= −𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑇𝑂 ( ) ( 𝐹𝑁𝑂 ) − 2𝑘2𝑁2 𝐶𝑇𝑂 ( 𝐹𝑁𝑂 ) (E6-5.3)
𝑑𝑉 𝐹𝑇 𝑇 𝑇

(2) Kesetimbangan mol untuk NH3 :


Khoirun Nisa (21030116120069): 58 : halaman 302-306

𝑑𝐹𝑁𝐻3 2 2 1.5
= 𝑟𝑁𝐻3 = 𝑟1𝑁𝐻3 = 𝑟1𝑁𝑂 = − 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑁𝐻3 𝐶𝑁𝑂
𝑑𝑉 3 3
𝑑𝐹𝑁𝐻3 2 𝐹𝑁𝐻3 𝐹 1.5
2.5
= − 3 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑇𝑂 ( ) ( 𝐹𝑁𝑂 ) (E6-5.4)
𝑑𝑉 𝐹𝑇 𝑇

(3) Kesetimbangan mol untuk H2O:


𝑑𝐹𝐻2 𝑂 1.5
= 𝑟𝐻2 𝑂 = 𝑟1𝐻2 𝑂 = −𝑟1𝑁𝑂 = 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑁𝐻3 𝐶𝑁𝑂
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝐻2 𝑂 𝐹𝑁𝐻3 𝐹 1.5
2.5
= 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑇𝑂 ( ) ( 𝐹𝑁𝑂 ) (E6-5.5)
𝑑𝑉 𝐹𝑇 𝑇

(4) Kesetimbangan mol untuk N2:


𝑑𝐹𝑁2 5 1.5 2
1
= 𝑟𝑁2 = 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑁𝐻3 𝐶𝑁𝑂 + 𝑘2𝑁2 𝐶𝑁𝑂 − 𝑘3𝑂2 𝐶𝑁2 𝐶𝑂22
𝑑𝑉 6 2
𝑑𝐹𝑁3 5 𝐹𝑁𝐻3 𝐹 1.5 𝐹 2 1 𝐹𝑁 𝐹𝑂 2
2.5 2 2
= 6 𝑘1𝑁𝑂 𝐶𝑇𝑂 ( ) ( 𝐹𝑁𝑂 ) + 𝑘2𝑁2 𝐶𝑇𝑂 ( 𝐹𝑁𝑂 ) − 2 𝑘3𝑂2 𝐶𝑇0 ( 𝐹 2) ( 𝐹 2)
𝑑𝑉 𝐹𝑇 𝑇 𝑇 𝑇 𝑇

(E6-5.6)
(5) Kesetimbangan mol untuk O2:
𝑑𝐹𝑂2
= 𝑟𝑂2 = 𝑟2𝑂2 + 𝑟3𝑂2 = 𝑟2𝑁2 + 𝑟3𝑂2
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑂3 𝐹 2 𝐹𝑁 𝐹𝑂 2
2 2
= 𝑘2𝑁2 𝐶𝑇𝑂 ( 𝐹𝑁𝑂 ) − 𝑘3𝑂2 𝐶𝑇0 ( 𝐹 2) ( 𝐹 2) (E6-5.7)
𝑑𝑉 𝑇 𝑇 𝑇

(6) Kesetimbangan mol untuk NO2:


𝑑𝐹𝑁𝑂2 𝐹𝑁 𝐹𝑂 2
2
= 𝑟𝑁𝑂2 = 𝑟3𝑁𝑂2 = −𝑟3𝑂2 = 𝑘3𝑂2 𝐶𝑇0 ( 𝐹 2) ( 𝐹 2) (E6-5.8)
𝑑𝑉 𝑇 𝑇

Laju alir molar masuk, Fj0, bersama dengan suhu masuk T0, dan tekanan, P0(CT0=P0/RT0),
ditetapkan sebagai laju alir spesifik kij [misalnya, k1NO=0.43 (dm3/mol)1.5/s, k2N2 =2.7
dm3/mol . s, dll]. Akibatnya, (E6-5.1) hingga (E6-5.8) dapat diselesaikan secara simultan
dengan ODE (misalnya, POLYMATH, MATLAB).
Ringkasan sampai materi titik ini, kita tampilkan di tabel 6-4 persamaan untuk setiap
senyawa j dan reaksi i yang akan dikombinasikan ketika kita memiliki q reaksi dan n
senyawa.
Tabel 6-4 ringkasan dari hubungan untuk multipel reaksi pada PFR
𝑑𝐹𝑗
Kesetimbangan mol: = 𝑟𝑗 (6-26)
𝑑𝑉

Laju reaksi: 𝑟𝑖𝑗 = 𝑘𝑖𝑗 𝑓𝑖 (𝐶𝑖 , 𝐶𝑗 , 𝐶𝑛 )


Stoikiometri: 𝑟𝑗 = ∑𝑞𝑖=1 𝑟𝑖𝑗 (6-16)
𝑟𝑖𝐴 𝑖𝐵 𝑟 𝑟𝑖𝑐 𝑟𝑖𝐷
= −𝑏 = = (6-17)
−𝑎𝑖 𝑖 𝑐𝑖 𝑑𝑖

Stoikiometri: 𝐹𝑇 = ∑𝑛𝑗=1 𝐹𝑗 (6-20)


Khoirun Nisa (21030116120069): 58 : halaman 302-306

Stoikiometri:
𝐹 𝑃 𝑇0
(fase gas) 𝐶𝑗 = 𝐶𝑇0 𝐹 𝑗 𝑃 (3-45)
𝑇 0 𝑇

𝐹𝑗
(fase cair) 𝐶𝑗 = (6-19)
𝑣0

Contoh 6-6 Hidroalkalinasi mesitylen pada PFR


Produksi m-xylene dengan hidrodealkalinasi berlebih dengan katalis Houdry detrol
melibatkan reaksi-reaksi sebagai berikut:

m-xylen dapat juga terhidrodealkalinasi menjadi toluen:

Reaksi kedua tidak diinginkan, karena m-xylene dijual dengan harga lebih tinggi daripada
toluena (65 sen / lb vs 11.4 sen / lb) . Jadi kita melihat bahwa ada yang signifikan insentif
untuk memaksimalkan produksi m-xylene.
Hidrodealkalinasi dari mesitylene harus dilakukan pada kondisi isothermal pada
15000R dan 35 atm pada packed-bed reaktor dimana umpan 66.7 %mol hidrogen dan 33.3
%mol mesitylene. Laju umpan volumetrik 476 ft3/h dan volume reaktor 238 ft3.
Laju reaksi 1 dan 2 meliputi:
−𝑟1𝑀 = 𝑘1 𝐶𝑀 𝐶𝐻0.5 (E6-6.3)
𝑟2𝑇 = 𝑘2 𝐶𝑥 𝐶𝐻0.5 (E6-6.4)
Dimana: M= mesitylene, X=m-xylene, T=toluene, Me=methane, H=hidrogen.
Pada 15000R laju reaksi spesifik:
Reaksi 1 : k1 = 55.20 (ft3/lb mol)0.5/h
Reaksi 2 : k2 = 30.20 (ft3/lb mol)0.5/h
Bulk density katalis telah dimasukkan dalam laju reaksi spesifik (k1=k’1pb)
Memplot konsentrasi hidrogen, mesitylene, dan xylene sebagai fungsi waktu. Hitung
selang-waktu di mana produksi xylene maksimum (𝜏𝑜𝑝𝑡 ).
Penyelesaian
Reaksi 1: M + H → X + Me (E6-6.1)
Khoirun Nisa (21030116120069): 58 : halaman 302-306

Reaksi 2: X + H → T + Me (E6-6.2)
1. Kesetimbangan mol :
𝑑𝐹𝐻
Hidrogen: = 𝑟1𝐻 + 𝑟2𝐻 (E6-6.5)
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑀
Mesitilene: = 𝑟1𝑀 (E6-6.6)
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑋
Xylene: = 𝑟1𝑋 + 𝑟2𝑋 (E6-6.6)
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑇
Toluene: = 𝑟2𝑇 (E6-6.8)
𝑑𝑉
𝑑𝐹𝑀𝑒
Methana: = 𝑟1𝑀𝑒 + 𝑟2𝑀𝑒 (E6-6.9)
𝑑𝑉

2. Laju reaksi:
Reaksi 1: −𝑟1𝑀 = 𝑘1 𝐶𝑀 𝐶𝐻0.5 (E6-6.3)
Reaksi 2: 𝑟2𝑇 = 𝑘2 𝐶𝑥 𝐶𝐻0.5 (E6-6.4)
3. Stoikiometri:
a. Laju reaksi:
Reaksi 1: −𝑟1𝐻 = −𝑟1𝑀 = 𝑟1𝑋 = 𝑟1𝑀𝑒 (E6-6.10)
Reaksi 2: −𝑟2𝐻 = −𝑟2𝑋 = 𝑟2𝑇 = 𝑟2𝑀𝑒 (E6-6.11)
b. Laju alir:
𝐹𝐻 = 𝑣0 𝐶𝐻 (E6-6.12)
𝐹𝑀 = 𝑣0 𝐶𝑀 (E6-6.13)
𝐹𝑋 = 𝑣0 𝐶𝑋 (E6-6.14)
𝐹𝑀𝑒 = 𝑣0 𝐶𝑀𝑒 = 𝐹𝐻0 − 𝐹𝐻 = 𝑣0 (𝐶𝐻0 − 𝐶𝐻 ) (E6-6.15)
𝐹𝑇 = 𝐹𝑀0 − 𝐹𝑀 − 𝐹𝑋 = 𝑣0 (𝐶𝑀0 − 𝐶𝑀 − 𝐶𝑋 ) (E6-6.16)
4. Kombinasi dan substitusi pada rentamg waktu untuk yield
𝑉
𝜏=
𝑣0
Jika kita tahu CM, CH, dan Cx, maka CMe dan CT , dapat dihitung dari reaksi stoikiometri.
Akibatnya, kita hanya perlu menyelesaikan tiga persamaan berikut:
𝑑𝐶𝐻
= −𝑘1 𝐶𝑀 𝐶𝐻0.5 − 𝑘2 𝐶𝑥 𝐶𝐻0.5 (E6-6.17)
𝑑𝜏
𝑑𝐶𝑀
= −𝑘1 𝐶𝑀 𝐶𝐻0.5 (E6-6.18)
𝑑𝜏
𝑑𝐶𝑥
= 𝑘1 𝐶𝑀 𝐶𝐻0.5 − 𝑘2 𝐶𝑥 𝐶𝐻0.5 (E6-6.19)
𝑑𝜏

5. Evaluasi parameter:
Khoirun Nisa (21030116120069): 58 : halaman 302-306

𝑦𝐻0 𝑃0 (0.667)(35)
𝐶𝐻0 = = = 0.021 𝑙𝑏 𝑚𝑜𝑙 ⁄𝑓𝑡 3
𝑅𝑇 (0.73)(1500)
1
𝐶𝑀0 = 𝐶 = 0.0105 𝑙𝑏 𝑚𝑜𝑙 ⁄𝑓𝑡 3
2 𝐻0
𝐶𝑋0 = 0
𝑉 238 𝑓𝑡 3
𝜏= = = 0.5 ℎ
𝑣0 476 𝑓𝑡 3 /ℎ𝑟
Kita sekarang memecahkan tiga persamaan ini secara bersamaan menggunakan
POLYMATH. Program dan keluaran dalam bentuk grafik ditunjukkan pada Tabel E6-6.1 dan
Gambar E6-6.1, masing-masing. Namun, saya segera menunjukkan bahwa persamaan ini
dapat diselesaikan secara analitis dan solusinya diberikan dalam edisi pertama teks ini.
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

- TABEL E6-6.1. POLYMATH PROGRAM -


- Equations Initial Values
d(ch) /d(t) -rl+r2 0.021
d(cm) /d(t)=rl 0. 01135
d (cx) /d (t) =-rl+rZ 0
kl=55.2
k2=30.2
rlr-kl*cm* (ch**.5)
rZ=-k2*cx* (ch**.5)
T0 = 0, tf = 0.5

6.3.7 Multiple Reactions in a CSTR


Untuk CSTR, satu set gabungan persamaan aljabar analog dengan
persamaan diferensial PFR harus diselesaikan

Tata ulang hasilnya,


F1.0 -F.J = -r.JV
Ingat bahwa rj dalam Persamaan (6-16) adalah fungsi (Fj) dari
konsentrasi spesies4

Setelah menulis keseimbangan mol pada masing-masing spesies dalam


set reaksi, kita mengganti dengan colncentratious dalam hukum tingkat
masing-masing. Jika tidak ada perubahan volume dengan reaksi, kami
menggunakan konsentrasi, Cj, sebagai variabel. Jika reaksinya
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

308 Multiple Reactions Chap. 6


fase gas dan ada perubahan volume, menggunakan laju aliran molar, 5,
sebagai variabel. Laju alir molar total untuk n spesies adalah

Untuk reaksi q yang terjadi di fase gas, di mana ada spesies yang
berbeda, kami memiliki seperangkat persamaan aljabar berikut:

Kita dapat menggunakan pemecah persamaan dalam POLYMATH atau


serupa untuk menyelesaikan Persamaan (6-31) melalui (6-33).

Example 6 7 HydrodealkyyEation of Mesitylene dalam sebuah CSTR


Untuk berbagai reaksi dan kondisi yang diuraikan dalam Contoh 6-6,
hitung konversi hidrogen dan mesitylene bersama dengan konsentrasi
eksitasi mesitylene, hidrogen, dan xilena dalam CSTR.
Solution
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

Sec. 6.3 Algorithm for Solution to Complex Reactions 309

Selanjutnya, kami menempatkan persamaan ini dalam bentuk


sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dipecahkan
menggunakan POIXMATH.
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

Program dan solusi POLYMATH ditunjukkan pada Tabel E6-7.1.


Masalahnya diselesaikan untuk nilai-nilai yang berbeda dari z dan
hasilnya diplot pada Gambar E6-7.1.
Untuk ruang-waktu z = 0,5, konsentrasi yang keluar adalah CH =
0,0089, CM = 0,0029, dan Cx = 0,0033. Konversi keseluruhan adalah

TABLEE6 -7.1. POLYMATH howAN D SOLUTION

31 0 Multiple Reactions Chap. 6

Kami menyelesaikan Persamaan (E6-7.17) hingga (E6-7.19) untuk nilai


z yang berbeda untuk sampai pada Gambar E6-7.1.
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

Mol-mol hidrogen yang dikonsumsi dalam reaksi 1 sama dengan mol-


mol mesitylene yang dikonsumsi. Oleh karena itu, konversi hidrogen
dalam reaksi 1 adalah

Konversi hidrogen dalam reaksi 2 adalah


X2H =XH – XIH =0.58 - 0.36 = 0.22
Selanjutnya, kita menentukan selektivitas dan hasil. Pertama, perhatikan
parameter selektivitas laju, SxT, pada ruang waktu optimum. Pada zopt
(lihat Gambar E6-7.1), konsentrasi xilena adalah maksimum. Karena itu,

Dengan demikian, tingkat (yaitu, sesaat) parameter selektivitas dari


xylene relatif toluene adalah

Demikian pula, hasil xilena berdasarkan tingkat reaksi juga nol.


Akibatnya, kita melihat bahwa di bawah kondisi ini (zOp) t selektivitas
sesaat dan hasil instan, yang didasarkan pada reaktor? tarif, bukan
parameter yang sangat berarti dan kita harus menggunakan keseluruhan
selektivitas SXT dan hasil keseluruhan YXT, yang didasarkan pada laju
aliran molar. Hasil xilena dari mesitylene berdasarkan laju alir molar
keluar dari CSTR untuk 'c = 0,5 adalah

Sec. 6.:3 Algorithm for Solution to Complex Reactions 31 1


Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

Selektivitas keseluruhan dari xylene relatif toluene adalah

dua contoh sebelumnya tidak ada perubahan volume dengan


reaksi; akibatnya, kita bisa menggunakan konsentrasi sebagai
variabel dependen kita. Kami sekarang mempertimbangkan
reaksi fase-gas dengan perubahan volume yang terjadi dalam
PFR. [Jnder kondisi ini, kita harus menggunakan laju alir molar
sebagai variabel dependen kita.

Example 6-8 Menghitung Konsentrasi sebagai Fungsi Posisi untuk


NH, Oksidasi dalam PFR
Reaksi fase-gas berikut terjadi secara simultan pada katalis yang dialiri
oleh oksida logam:

1. 4NH,+5O2 + 4NO+6H20
2. 2NH3+ 1.50, ___) N2+3H@
3. 2NO+02 ___$ 2N02
4. 4NH,+6NO ___i) 5N2+6H20

Memanfaatkan persamaan ini dalam hal hasil simbol


Reaction 1: 4A + 5B __3 4c + 6D -r,, = k,ACACi (B6-8.1)
Reaction 2: 2A 1.5B __3 E + 3D -r2~ = k2ACACB (B6-8.2)
Reaction 3: 2C -t B 2F -rSB = k3BCicB (E16-8.3)
Reactioii 4: 4A + 6C + 5E + 6D -r4c = k4cCcCF3 (B6-8.4)
with7 k,, = 5.0 (m3/km0l)~/rnin k2,= 2.0 m3/kmol-min
k3B = 10.0 (m3/kmol)2/min k4c = 5.0 (m3/km01)2'3/min
Arjuna Sinaga
Halaman 307-311

Note: Kami telah mengkonversikan laju reaksi spesifik ke basis volume


unit aper dengan mengalikan k 'pada massa basis katalis dengan densitas
bulk dari tempat tidur yang dikemas.

Tentukan konsentrasi sebagai fungsi posisi (yaitu, volume) dalam PFR.


Informasi tambahan: Feed rate = 10 dm3/min; volume of reactor = 10
dm3; and
cAO = cBO = 1.0 m0i/dm3
- C, = 2 mol/dm3
Pesanan reaksi dan konstanta laju diperkirakan dari pengukuran
periskositas untuk densitas katalis massal 1,2 kg / m3.
SHOFA FARADILLA
21030116120019

Penyelesaian
Pertama, kita membagi semua persamaan dengan koefisien stokiometri senyawa yang mana telah diketahui laju
reaksinya:
1: 𝐴 + 1,25𝐵 → 𝐶 + 1,5𝐷 −𝑟1𝐴 = 𝑘1𝐴 𝐶𝐴 𝐶𝐵2 (E6-8.5)
2: 𝐴 + 0,75𝐵 → 0,5𝐸 + 1,5𝐷 −𝑟2𝐴 = 𝑘2𝐴 𝐶𝐴 𝐶𝐵 (E6-8.6)
3: 𝐵 + 2𝐶 → 2𝐹 −𝑟3𝐵 = 𝑘3𝐵 𝐶𝐶2 𝐶𝐵 (E6-8.7)
2 5 2/3
4: 𝐶+ 𝐴→ 𝐸+𝐷 −𝑟4𝐶 = 𝑘4𝐶 𝐶𝐶 𝐶𝐴 (E6-8.8)
3 6

Stoikiometri. Kita akan mengekspresikan konsentrasi dalam bentuk laju alir molar

Kemudian, substitusi konsentrasi setiap senyawa reaksi dalam ketetapan laju. Menulis tetapan laju untuk senyawa A
dalam reaksi 1 dalam hal laju pembentukan, 𝑟1𝐴 , dan laju alir molar, FA dan FB, didapatkan:

Sehingga,

(E6-8.9)
Sama dengan reaksi lainnya,

(E6-8.10)

(E6-8.11)

(E6-8.12)
Selanjutnya, kami menentukan laju reaksi bersih untuk setiap senyawa dengan menggunakan koefisien stoikiometri
yang tepat dan kemudian menjumlahkan laju reaksi individu.

Laju pembentukan bersih:

Senyawa A:
Senyawa B:
Senyawa C:
Senyawa D:
Senyawa E:
Senyawa F:

Akhirnya, kita menulis neraca mol dari setiap spesies.


SHOFA FARADILLA
21030116120019

Neraca mol:

Spesies A:

Spesies B:

Spesies C:

Spesies D:

Spesies E:

Spesies F:

Total:

Kombinasi
Daripada mengombinasikan konsentrasi, laju reaksi, dan neraca mol untuk menulis semua berkaitan dengan
laju alir molar yang telah dilakukan, akan lebih mudah di sini untuk menulis penyelesaian komputernya (baik
POLYMATH atau program kita sendiri) menggunakan persamaan 𝑟1𝐴 , FA, dan lainnya. Akibatnya, kita akan menulis
persamaan (E6-8.9) melalui (E6-8.12) dan (E6-8.19) melalui (E6-8.25) sebagai garis individu, dan biarkan komputer
menggabungkannya untuk mendapatkan solusi. Program POLYMATH dalam masalah ini ditunjukkan pada Tabel
E6-8.1 dan plot keluaran ditunjukkan pada Gambar E6-8.1. Catatan: konsentrasi NO maksimum (C) sekitar 1,5 dm3.

Tabel E6-8.1. Program POLYMATH


SHOFA FARADILLA
21030116120019

Gambar E6-8.1. Profil konsentrasi

Namun, ini mungkin tidak dimungkinkan untuk menentukan laju reaksi umtuk masing-masing reaksi. Dalam
hal ini mungkin perlu mengerjakan sebagian reaksi dengan harapan bahwa laju reaksi untuk setiap reaksi dapat
ditemukan. Artinya, Anda perlu mencari reaksi independen yang linear dalam dari beberapa reaksi. Pada Contoh 6-8
yang baru saja dibahas, ada empat reaksi yang diberikan [(E6-8.5) hingga (E6-8.6)]. Namun, hanya tiga dari reaksi ini
yang independen, karena keempatnya dapat terbentuk dari kombinasi linear tiga lainnya. Teknik untuk menentukan
jumlah reaksi independen diberikan oleh Aris.

6.4 Menyortir Semua


Pada Contoh 6-8 kita diberi ketetapan laju dan diminta untuk menghitung distribusi produk. Kebalikan dari
masalah yang dijelaskan pada Contoh 643 harus sering diselesaikan. Secara khusus, ketetapan laju sering harus
ditentukan dari variasi distribusi produk yang dihasilkan dengan mengubah konsentrasi umpan. Dalam beberapa hal,
penentuan ini tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan percobaan independen pada beberapa reaksi dalam urutan.
Strategi terbaik yang digunakan untuk memilah semua parameter ketetapan laju akan bervariasi dari urutan reaksi ke
urutan reaksi. Akibatnya, strategi yang dikembangkan untuk satu sistem mungkin bukan pendekatan terbaik untuk
sistem reaksi-ganda lainnya. Satu aturan umum adalah memulai analisis dengan mencari spesies yang dihasilkan
hanya dalam satu reaksi; selanjutnya, pelajari spesies yang terlibat hanya dalam dua reaksi, lalu tiga, dan seterusnya.
Ketika produk antara (misalnya, spesies G) adalah radikal bebas, mungkin tidak mungkin melakukan
percobaan independen untuk menentukan parameter ketetapan laju. Akibatnya, kita harus menyimpulkan parameter
ketetapan laju dari perubahan distribusi produk reaksi dengan kondisi umpan. Dalam keadaan ini, analisis berubah
menjadi masalah optimasi untuk memperkirakan nilai terbaik dari parameter yang akan meminimalkan jumlah kuadrat
antara variabel yang dihitung dan variabel yang diukur. Proses ini pada dasarnya sama dengan yang dijelaskan pada
Bagian 5.4.2, tetapi lebih kompleks, karena jumlah parameter yang lebih besar akan ditentukan. Kita mulai dengan
memperkirakan 12 nilai parameter menggunakan beberapa metode yang baru saja dibahas. Selanjutnya, kita
menggunakan perkiraan untuk menggunakan teknik regresi nonlinier untuk menentukan perkiraan nilai parameter
terbaik dari data untuk semua percobaan. Paket perangkat lunak seperti SimuSolvlo dapat digunakan untuk analisis
seperti ini.

6.5 Bagian yang Menyenangkan


Saya tidak berbicara tentang kesenangan yang dapat Anda miliki di taman hiburan, tetapi CRE
menyenangkan. Sekarang kita memiliki pemahaman tentang bagaimana menentukan konsentrasi keluar dari beberapa
reaksi dalam CSTR dan bagaimana memplot konsentrasi spesies di sepanjang PFR atau PBR, kita dapat mengatasi
salah satu bidang yang paling penting dan menyenangkan dari teknik reaksi kimia. Area ini, dibahas dalam Bagian
6.1, belajar bagaimana memaksimalkan produk yang diinginkan dan meminimalkan produk yang tidak diinginkan.
Area inilah yang dapat membuat atau menghancurkan proses kimia secara finansial. Ini juga merupakan bidang yang
SHOFA FARADILLA
21030116120019

membutuhkan kreativitas dalam merancang skema reaktor dan kondisi unpan yang akan memaksimalkan keuntungan.
Di sini Anda dapat mencampur dan mencocokkan reaktor, aliran umpan, dan aliran samping serta memvariasikan
rasio konsentrasi umpan untuk memaksimalkan atau meminimalkan selektivitas spesies tertentu. Masalah dari jenis
ini adalah apa yang saya sebut masalah era digital karena kita biasanya perlu menggunakan penyelesaian ODE
bersama dengan keterampilan berpikir kritis dan kreatif untuk menemukan jawaban terbaik. Sejumlah masalah pada
akhir bab ini akan memungkinkan Anda untuk melatih keterampilan berpikir kritis dan kreatif ini. Masalah-masalah
ini menawarkan kesempatan untuk mengeksplorasi banyak alternatif solusi yang berbeda untuk meningkatkan
selektivitas dan bersenang-senang melakukannya.
Namun, untuk membawa CRE ke tingkat berikutnya dan untuk lebih banyak memecahkan beberapa masalah
reaksi, kita harus bersabar sedikit lebih lama. Alasannya adalah bahwa dalam bab ini kita hanya mempertimbangkan
reaksi ganda isotermal, dan itu adalah reaksi ganda non-isotermal dimana hal-hal menjadi menarik. Akibatnya, kita
harus menunggu untuk melaksanakan skema untuk memaksimalkan produk yang diinginkan dalam beberapa reaksi
non-isotermal sampai kita mempelajari efek panas dalam Bab 8 dan 9. Setelah mempelajari bab-bab ini kita akan
menambahkan dimensi baru ke beberapa reaksi, karena kita sekarang memiliki variabel yang lain, suhu, yang mungkin
atau tidak mungkin dapat digunakan untuk mempengaruhi selektivitas dan hasil. Salah satu problem yang sangat
menarik (P8-30) yang akan kita pelajari adalah produksi styrene dari ethylbenzene di mana dua reaksi samping, satu
endotermik, dan satu eksotermik, harus diperhitungkan. Di sini kita dapat memvariasikan seluruh variabel, seperti
memasukkan suhu, tingkat pengencer, dan mengamati optima dalam produksi styrene. Namun, kita harus menunda
gratifikasi penelitian styrene sampai kita menguasai Bab 8.

6.6 Wilayah yang Dapat Dicapai


Sebuah teknik yang dikembangkan oleh Profesor Glasser dan Hildebrandt memungkinkan seseorang untuk
menemukan sistem reaksi optimal untuk jenis tetapan laju tertentu. WWW menggunakan kinetika van de Vussse yang
dimodifikasi, yaitu,

untuk mengilustrasikan kombinasi reaktor PFR/CSTR apa yang harus digunakan untuk mendapatkan jumlah
maksimum B. Kombinasi neraca mol dan ketetapan laju untuk reaksi fase cair ini dapat ditulis sebagai
Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114

Gambar 6-5 Plot bidang fase C, sebagai fungsi C


Satu Cim memecahkan set ODES ini untuk mendapatkan plot C, sebagai fungsi CA
ditunjukkan pada Gambar 6-5.
Dengan cara yang sama orang dapat memecahkan saldo mol CSTR gabungan
dan menilai undang-undang, yaitu,
CSTR

Persamaan ini dapat dipecahkan untuk memberikan CA dan C, sebagai fungsi waktu ruang
dan juga CB sebagai hnction dari C ,. Yang terakhir ditunjukkan sebagai garis putus-putus pada
Gambar 6-5.
Nilai dari laju reaksi spesifik atau kl
WWW12 menunjukkan bagaimana menggunakan plot ini bersama dengan yang dapat dicapai
teknik wilayah untuk memaksimalkan jumlah B yang dihasilkan.
Dari Gambar 6-5, kita melihat bahwa jika ruang-waktu adalah sedemikian rupa sehingga
konsentrasi efluen dari A adalah antara 0,38 dan 1,0 km0l/m3, CSTR dengan by-pass akan memberi
kita konsentrasi maksimum B. Jika konsentrasi limbah A tepat 0,38, maka CSTR tunggal adalah
pilihan terbaik. Akhirnya, jika total ruang-waktu ~~ d + T ~ adalah sedemikian rupa sehingga
konsentrasi limbah di bawah 0,38 kmol / m3, kemudian CSTR diikuti oleh PFR akan memberikan
jumlah maksimum B.
Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114

RINGKASAN
Untuk reaksi yang bersaing

1. ekspresi tarif yang khas adalah

dan parameter selektivitas sesaat ditentukan. Sebagai sebuah

a.Jika ED> Eu, parameter selektivitas S, akan meningkat dengan


meningkatkan tempratur.
b. Jika al> a2 dan p2> p1, reaksi harus dilakukan dengan tinggi
konsentrasi A dan konsentrasi B yang rendah untuk mempertahankan
parameter selektivitas S , pada nilai tinggi. Gunakan reaktor senlibatch
dengan A murni awalnya atau reaktor tubular di mana B diberi makan berbeda
lokasi di bawah reaktor. Kasus-kasus lain yang dibahas dalam teks adalah

2. Hasil sesaat pada suatu titik didefinisikan sebagai rasio tingkat


pembentukan produk D yang ditentukan untuk laju penipisan kuncinya
reaktan A:

Hasil keseluruhan adalah rasio jumlah mol produk diakhir reaksi terhadap jumlah mol reaktan kunci
itu telah dikonsumsi:

Untuk sistem aliran, hasil ini


Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114

Selektivitas keseluruhan, berdasarkan laju alir molar yang meninggalkan reaktor,


untuk reaksi yang diberikan oleh Persamaan (S6-1) dan (S6-2) adalah
Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114
Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114

Di setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak

sekitar: jawaban Anda, tulis satu atau dua kalimat yang menjelaskan bagaimana Anda memecahkan
masalah,

asumsi yang Anda buat, kewajaran jawaban Anda, apa yang Anda pelajari, dan

fakta lain yang ingin Anda sertakan.

P6-1 (a) Buatlah dan pecahkan masalah asli untuk mengilustrasikan prinsip-prinsip ini

bab. Lihat Masalah P4-1 untuk panduan.

(B) Tulis pertanyaan berdasarkan materi di bab ini yang membutuhkan pemikiran kritis.

Jelaskan mengapa pertanyaan Anda membatasi pemikiran kritis. [Hint: Lihat sebelumya
hal.xx]

(c) pilih sebuah FAQ dari Bab 6 untuk dihilangkan dan katakan mengapa hal itu harus
dihilangkan.

(d) Dengarkan audio pada CD dan pilih satu dan katakan mengapa itu adalah

sangat membantu.

(e) Contoh mana pada CD ROM Catatan kuliah untuk Bab 6 paling tidak membantu?

P6-2 (a) Bagaimana jika Anda dapat memvariasikan suhu dalam Contoh 6-_1? Suhu apa

dan ruang waktu CSTR yang akan Anda gunakan untuk memaksimalkan YD untuk masuk

konsentrasi A dari 1 mol / dm3? Suhu berapa yang Anda pilih?

(b) Bagaimana jika reaksi dalam Contoh 6-3 dilakukan dalam CSTR sebagai gantinya

dari sebuah PBR? Apa yang akan menjadi konversi optimum yang sesuai dan

ruang-waktu, topt?

(c) Bagaimana jika Anda memvariasikan ukuran partikel katalis dalam Contoh 6-6? Apakah
itu

menambah atau mengurangi SXT? [Petunjuk: Gunakan bentuk Persamaan (S6-18) dan

membuat plot SXT versus a.]

(d) Apa kondisi pakan dan reaktor atau kombinasi reaktor ditampilkan

Gambar 6-3 yang akan Anda gunakan

(1) memaksimalkan selektivitas keseluruhan dalam Contoh 6-8? Mulai dengan plot-

(2) memaksimalkan hasil YFA dengan dan selektivitas keseluruhan &?

(e) Bagaimana jika Anda dapat memvariasikan rasio hidrogen menjadi mesitylene dalam
umpan

(0,2 <OH <5) pada Contoh 6-6. Apa efek dari OH pada topt? Merencanakan

hasil xilena optimal sebagai fungsi QH. Plot selektivitas 5,


Nama: Muhammad Rifqi Dharmawan Hal: 317-321
Nim: 21030116140114

sebagai fungsi BH. Anggaplah reaksi bisa dijalankan dengan berbeda

suhu. Apa yang akan menjadi efek dari rasio k, ke k2 pada topt dan

pada selektivitas SXT dan hasil?

(f) Ulangi bagian (d) untuk Contoh 6-7.

(g) Bagaimana penurunan tekanan akan mempengaruhi hasil yang ditunjukkan pada
Gambar E6-8.1; '

Hidrogenasi 0-cresol 2-methylphenol (MP) dilakukan di atas aNi-katalis [Znd. Ya Chem. Res.,
28, 693 (1989) l untuk membentuk 2-methylcyclo ~ hexanone (ON), yang kemudian bereaksi
untuk membentuk dua stereoisom, cis- (cs-OL) dan trans (tr-OL) -2-methylcyclohexanol.
Komposisi kesetimbangan (pada a bebas hidrogen) ditunjukkan pada Gambar

P6-3. (a) Plot (sketsa) selektivitas ON ke cs-OL dan tr-OL ke cs-OL sebagai fungsi temperatur
dalam kisaran 100 hingga 300 ° C.

(b) Perkirakan panas reaksi untuk isomerisasiting SCF sebagai fungsi OB dalam PFR 10-dm3;

(c) Plot (sketsa) hasil MP ke tr-OL dan MP ke ON sebagai fungsi

suhu dengan asumsi pakan stoikiometri.

(d) Skema dan kondisi reaksi apa yang akan Anda gunakan untuk memaksimalkan '

parameter selektivitas S untuk reaksi paralel berikut:

di mana D adalah produk yang diinginkan dan U, adalah produk yang tidak diinginkan?
SITI HAJAR/21030116120053

Gambar P6-3 [dicantumkan dengan izin dari W.K. Schumann, O. K. Kut, dan A. Baiker, [Ind. Gig. Chem.
Res., 28, 693 (1989). Copyright © (1989) American Chemical Society.]
(b) Nyatakan bagaimana jawabanmu untuk bagian (a) akan berubah jika C bereaksi dengan D untuk
membentuk produk lain yang tidak diinginkan.
D + C → U2 𝑟𝑈 2 = 106e(-8000/T)CCCD
(c) Untuk a 2-dm3 CSTR laboratorium dengan CC0 = CA0 = 1 mol/dm3 dan v0 = 1 dm3/min, berapa
temperature yang akan Anda rekomendasikan untuk memaksimalkan YD?
(d) Reaksi 2 fase terjadi di dalam sebuah reaktor tubular plug-flow, yang dioperasikan dengan isothermal
pada temperature sebesar 440oF dan tekanan sebesar 5 atm. Reaksi pertama merupakan orde 1 :
A→B -rA = k1CA k1 = 10 s-1
dan reaksi kedua merupakan orde 0 :
C→D+E -rC = k2 k2 = 0,03 lb mol/ft3.s
Umpan masuk, yang mana ekuimolar pada A dan C, masuk dengan laju alir sebesar 10 lb mol/s.
Berapa volume reaktor yang diperlukan agar didapat konversi A ke B sebesar 50%?
(Jawaban: V = 105 ft3)

P6-5B Sebuah campuran 50% A, 50% B dimasukkan ke dalam rekator batch dengan volume konstan dimana
kesetimbangan dengan cepat dapat dicapai. Total konsentrasi mula – mula ialah 3,0 mol/dm3.
(a) Hitung konsentrasi kesetimbangan dan konversi A pada suhu 330 K untuk urutan reaksi :
Reaksi 1 : A + B ↔ C + D k,, (330 K) = 4,0 kC1 (350 K) = 2,63
Reaksi 2 : C + B ↔ X + Y kC2 (330 K) = 1,0 kC2 (350 K) = 1,51
(b) Dianggap suhu sekarang meningkat sampai 350 K. Sebagai hasil, reaksi ketiga harus dipertimbankan
selain reaksi di atas :
Reaksi 3 : A + X ↔ Z k,, (350 K) = 5,0 dm3/mol
Hitung konsentrasi kesetimbangan, konversi A dan semua selektifitas SCX, SDZ, dan SYZ.
(c) Variasi suhu pada kisaran 300 sampai 500 K untuk mempelajari efek dari selektifitas SCX, SDZ, dan
SYZ pada suhu.
Informasi tambahan :
ΔHR1 = - 20.000 J/mol A ΔHR2 = + 20.000 J/mol B
ΔH,, = - 40.000 J/mol A
SITI HAJAR/21030116120053

P6-6A Pertimbangkan system reaksi fase gas berikut :


A→X -rX = k, k, = 0,002 mol/dm3.menit
A→B -rB = k2CA k2 = 10 menit-1
A→τ -rY = k3CA 2
k, = 10 mol/dm3.menit
B merupakan produk yang diinginkan, X dan Y merupakan polusi pengotor yang mana mahal untuk
dapat dihilangkan. Laju spesifik reaksi ialah pada 27oC. Sistem reaksi dioperasikan pada 27oC dan 4 atm.
A murni masuk system pada laju alir volumetrik sebesar 10 dm3/min.
(a) Gambarkan selektifitas seketika (SBX, SBY, dan SB/XY = rB/(rX+rY)) sebagai fungsi dari konsentrasi CA.
(b) Pertimbangkan serangkaian dari reaktor. Berapa volume seharusnya reaktor pertama?
(c) Berapa volume limbah A, B, X, dan Y dari reaktor pertama?
(d) Berapa konversi A pada reaktor pertama?
(e) Jika konversi A didapatkan sebesar 90%, Bagaiama skema dari reaktor dan ukuran reaktor yang
digunakan?
(f) Jika diketahui E1=10.000 kal/mol, E2=20.000 kal/mol, dan E3=30.000 kal/mol. Berapa suhu yang
akan Anda rekomendasikan untuk CSTR tunggal dengan ruang waktu 10 menit dan masuk dengan
konsentrasi A sebesar 0,1 mol/dm3?
P6-7B Farmakokinetik menyangkut konsumsi, distribusi, reaksi, dan reaksi eliminasi obat di dalam tubuh.
Pertimbangkan penerapan farmakokinetik untuk salah satu masalah utama yang kita miliki di Amerika
Serikat, minum dan mengemudi. Di sini kita akan memodelkan berapa lama seseorang harus menunggu
untuk mengemudi setelah mengonsumsi martini tinggi. Di sebagian besar negara batas intoksikasi yang
diperbolehkan atau legal ialah sebesar 1,0 gram etanol per liter cairan tubuh. (Di Swedia sebesar 0,5 g/L,
dan di Eropa Timur dan Rusia ialah di atas 0,0 g/L.). Pemasukan etanol ke dalam aliran darah dan
eliminasi selanjutnya dapat dimodelkan sebagai reaksi seri. Laju penyerapan dari saluran gastrointestinal
ke dalam aliran darah dan tubuh merupakan reaksi orde pertama dengan konstanta laju reaksi spesifik
sebesar 10 jam-1. Pada laju dimana etanol yang dipecah dalam aliran darah dibatasi oleh regenerasi sebuah
koenzim. Akibatnya, proses dapat dimodelkan sebagai reaksi orde nol dengan laju reaksi spesifik sebesar
0,192 g/jam.L cairan tubuh. Berapa lama seseorang harus menunggu (a) di Amerika Serikat; (b) di
Swedia; dan (c) di Rusia jika mereka minum dua martini tinggi segera setelah tiba di sebuah pesta?
Bagaimana jawaban Anda akan berubah jika (d) diminum setelah jarak 0,5 jam; (e) dua minuman
dikonsumsi dengan laju seragam selama satu jam pertama? (f) Anggaplah yang pergi ke pesta memiliki
satu dan setengah martini tinggi, dan kemudian menerima panggilan telepon yang mengatakan keadaan
darurat telah muncul dan mereka perlu segera pulang ke rumah. Berapa menit mereka harus sampai di
rumah sebelum menjadi mabuk (intoksikasi) secara hokum atau legal, dengan asumsi bahwa orang
tersebut tidak minum apa-apa lagi? (g) Bagaimana jawaban Anda akan berbeda untuk orang kurus? orang
yang berat? Untuk setiap kasus buat plot konsentrasi sebagai fungsi waktu. (Petunjuk: semua konsentrasi
etanol pada volume cairan tubuh. Plot konsentrasi etanol dalam darah sebagai fungsi waktu.) Bagaiamana
generalisasi yang dapat Anda buat? Apa poin dari masalah ini?
Informasi tambahan :
Etanol di dalam martini tinggi : 40 gram
Volume cairan tubuh : 40 L (SADD-MADD problem)
P6-8B (Farmakokinetik) Tarzlon merupakan antibiotik cair yang diambil secara oral untuk mengobati infeksi
limpa. Hanya efektif jika dapat mempertahankan konsentrasi dalam aliran darah (berdasarkan volume
cairan tubuh) di atas 0,4 mg/dm3 cairan tubuh. Idealnya, konsentrasi 1,0 mg/dm3 dalam darah ingin
direalisasikan. Namun, jika konsentrasi dalam darah melebihi 1,5 mg/dm3, efek samping yang berbahaya
dapat terjadi. Setelah Tarzlon mencapai perut, kemudian dapat diproses dalam dua jalur, pertama: (1)
Diserap ke dalam aliran darah melalui dinding lambung; (2) dapat lewat melalui saluran pencernaan dan
tidak diserap ke dalam darah. Kedua proses ini merupakan urutan pertama dalam konsentrasi Tarzlon di
perut. Ketika di dalam aliran darah, Tarzlon menyerang sel-sel bakteri dan kemudian terdegradasi oleh
proses orde nol. Tarzlon juga dapat dikeluarkan dari darah dan dikeluarkan melalui urin melalui proses
orde pertama di dalam ginjal. Di dalam perut :
Absorpsi ke dalam darah k1 = 0,15/jam
Eliminasi melewati gastrointestinal k2 = 0,6/jam
Di dalam aliran darah :
Degradasi Tarzlom k3 = 0,1 mg/dm3.jam
Eliminasi melewati urin k4 = 0,2/jam
(a) Plot konsentrasi Tarzlon di dalam darah sebagai fungsi waktu ketika 1 dosis (yaitu satu kapsul cair)
Tarzlon.
(b) Bagaimana seharusnya Tarzlon diberikan (dosis dan frekuensi) selama periode 48 jam untuk menjadi
efektif?
SITI HAJAR/21030116120053

(c) Berikan komentar terkait konsentrasi dosis dan potensi bahaya.


(d) Bagaimana jawaban berbeda Anda jika obat dikonsumsi pada perut terisi atau perut kosong?
Satu dosis Trazlon ialah 250 mg dalam bentuk cair: Volume cairan tubuh = 40 dm3
P6-9B Reaksi elementary seri fase cair
𝒌𝟏 𝒌𝟐
A→ B→ C
Diproses di dalam 500 dm3 reaktor batch. Konsentrasi A mula – mula ialah 1,6 mol/dm3. B merupakan
produk yang diinginkan dan separasi dari C yang mana merupakan produk yang tidak diinginkan sangat
sulit dan mahal. Karena reaksi dijalankan pada suhu yang relatif tinggi, reaksi mudah dipadamkan atau
didinginkan.
Informasi tambahan :
Harga reaktan A murni = $10/mol A
Harga jual B mureni = $50/mol B
Harga separasi A dari B = $50/mol A
Harga separasi C dari B = $30 (e0,5CC – 1)
k1 = 0,4/jam
k2 = 0,01/jam pada 100oC
(a) Asumsikan setiap reaksi bukan merupakan reaksi bolak – balik, plot konsentrasi A, B dan C sebagai
fungsi waktu.
(b) Hitung waktu reaksi harus dipadamkan atau didinginkan untuk mencapai keuntungan maksimal.
(c) Untuk CSTR dengan ruang waktu sebesar 0,5 jam, Berapa suhu yang akan Anda rekomendasikan
untuk memaksimalkan B? (E1=10.000 kal/mol, E2=20.000 kal/mol)
(d) Asumsikan reaksi pertama berupakan reaksi bolak – balik dengan k-1 = 0,3/jam. Plot konsentrasi A,
B, dan C sebagai fungsi waktu.
(e) Plot konsentrasi A, B, dan C sebagai fungsi waktu untuk kasus dimana kedua reaksi merupakan reaksi
bolak – blaik dengan k-2 = 0,005/jam.
(f) Variasi k1, k2, k-1, k-2. Jelaskan konsekuensi k1 > 100 dan k2 < 0,1 dengan k-1 = k-2 = 0 dan dengan k-
2 = 1, k-1 = 0, dan k-2 = 0,25.
(g) Pertimbangkan kembali bagian (a) untuk reaksi yang dijalankan di dalam reaktor packed-bed dengan
100 kg katalis dengan k1 = 0,25 dm3/kg cat.`menit dan k2 = 0,15 dm3/kg cat.`menit. Aliran merupakan
aliran turbulen dengan v0 = 10 dm3 dan CA0 = 1 mol/dm3. Telah disarankan untuk memvariasikan
ukuran partikel, mempertahankan W = 100 kg, dengan tujuan untuk meningkatkan F B, YB, dan SBC.
Jika ukuran partikel bias bervariasi antara 2 dan 0,1 cm, Berapa ukuran partikel yang akan Anda pilih?
Parameter penurunan tekanan untuk pertikel berdiameter 1 cm ialah α = 0,00098 kg -1. Apakah ada
cara yang lebih baik untuk meningkatka selektifitas?
P6-10B Anda sedang mendesain sebuah reaktor plug-flow untuk reaksi fase gas berikut :
A→B rB = k1CA2 k1 = 15 ft3/lb mol.s
Sayangnya, terdapat pula reaksi samping :
A→C rC = k2CA k, = 0,015 s-1
C merupakan polutan dan menghabiskan banyak uang untuk menghilangkannya. B merupakan produk
yang diinginkan.
(a) Berapa ukuran reaktor yang akan menyediakan aliran limbah dengan nilai dolar maksimum? B
memiliki nilai $60/lb mol, yang mana memerlukan $15/lb mol untuk menghilagkan C. A memiliki
nilai $10/lb mol. (Jawaban: V = 896 ft3)
(b) Dimisalkan E1=10.000 Btu/lb mol dan E2=20.000 Btu/lb mol. Berapa suhu (400 sampai 700oF) yang
akan Anda rekomendasikan untuk CSTR dengan 400 ft3?
Informasi tambahan :
Umpan masuk : A murni 22,5 SCF/s
Kondisi reaksi : 460oF, tekanan 3 atm
Laju alir volumetric : 15 ft3/s pada konsdisi reaksi
Konsentrasi A masuk umpan : 4,47 x 10-3 lm mol/ft3
P6-11B Berikut merupakan reaksi fase cair yang dioperasikan di dalam CSTR pada suhu 325 K.
3A → B + C -r1A = k1ACA k,, = 0,7 menit-1
2C + A → B r2D = k2DCC CA k2D = 0,3 dm6/mol2.menit
2

4A + 3C → B r3E = k3ECDCC k3E = 0,2 dm3/mol.menit


Konsentrasi tehitung di dalam reaktor CA = 0,10, CB = 0,93, CC = 0,51 dan CD = 0,049 dalam satuan
mol/dm3.
SITI HAJAR/21030116120053

(a) r1A, r2A, dan r3A? (r1A = -0,07 mol/dm3.menit)


(b) r1B, r2B, dan r3B?
(c) r1C, r2C, dan r3C? (r1C = 0,023 mol/dm3.menit)
(d) r1D, r2D, dan r3D?
(e) r1E, r2E, dan r3E?
(f) Laju bersih untuk pembentukan A, B, C, D, dan E?
(g) Laju alir volumetric masuk ialah 100 dm3/min dan konsentrasi A masuk ialah 3 M. Berapa volume
reaktor CSTR? (Jawaban: V = 4000 dm3)
(h) Tuliskan program polymath untuk menghitung konsentrasi keluar ketika volume = 6000 dm3.

P6-12 Hitung ruang waktu untuk reaksi parallel. m-Xylene direaksi dengan katalis ZSM-5 zeolit. Reaksi
elementary parallel yang berlangsung ialah sebagai berikut [Ind. Eng. Chem Res., 27, 942 (1988)]
(a) Hitung ruang waktu untuk mencapai konversi m-xylene sebesar 90% dalam reaktor packed-bed. Plot
selektivitas keseluruhan dan hasil sebagai fungsi dari τ. Laju reaksi spesifik k, = 0,22 s-l dan k2 = 0,71
s-1 pada suhu 673°C. Campuran 75% m-xilena dan 25% inert diumpankan ke dalam reaktor tubular
pada laju alir volumetrik sebesar 2000 dm3/menit dan konsentrasi total 0,05 mol/dm3. Sebagai
pendekatan pertama, abaikan reaksi lain seperti reaksi balik dan isomerisasi ke o-xilena.
(b) Misalkan E, = 20.000 kal/mol dan E2 = 10.000 kal/mol, berapa suhu yang akan Anda rekomendasikan
untuk memaksimalkan pembentukan p-xylene dalam CSTR dengan ruang waktu 0,5 s?

P6-13B Berikut merupakan reaksi fase cair dijalankan dengan isotermis di dalam PFR dengan 50 dm3 :
A + 2B→ C + D rD1 = kD1CACB2
2D + 3A → C + E rE2 = kE2CACD
B+ 2C → D + F rF3 = kF3CBCC2
NAMA : MIFTAQUL HUDA
NIM : 21030116120078

Informasi tambahan:
kD1 = 0.25 dm6/mol2.min v0 = 10 dm2/min
kE1 = 0.1 dm3/mol.min CA0 = 1.5 mol/dm3
kF1 = 5.0 dm6/mol2.min CB0 = 2.0 mol/dm3
(a) Plot masing konsentrasi masing komponen dan konversi A sebagai fungsi
hubungan (seperti volume) pada 50 dm3 reaktor PFR. Tidak ada batas maksimal
(b) Hitung konsentrasi effluen dan konversi untuk volume 50 dm3 dengan reaktor
CSTR. Hasilnya (CA= 0.61, CE= 0.79, CF= 0.25, CD= 0.45 mol/dm3)
(c) Plot masing masing konsentrasi komponen dan konversi A sebagai fungsi waktu
ketika reaksi dijalankan secara semibatch dengan cairan 40 dm3. Berdasarkan kasus : (1)
A sebagai umpan B dan (2) B sebagai umpan A. Bandingakn keduanya.
P6-14 B. Dilakukan pegujian produksi asam maleat anhidrit dengan oksidasi udara dengan
menggunakan benzena dengan katalis vanadium pentaoksida. Reaksi yang terjadi adalah
Reaksi 1:
Reaksi 2:
Reaksi 3:
Karena reaksi berjalan dengan udara ekses, perubahan volume dengan reaksi dapat
diabaikan, dan reaksi dapat dinyatakan sebagai reaksi pseudo- reaksi orde pertama sesuai
dengan

Dimana A = Benzene. B= Maleat anhidrit, C = produk (H2O, CO2), D = produk (CO2,


H2O). Satuan laju reaksinya (k1) adalah (m3/kg.cat.s):

Pada suhu 848 K, k1= 1.4x10-3, k2= 1.46x10-3, k3= 7.65x10-3. Reaksi berjalan secara
isotermal pada kedua reaktor CSTR dan PBR. Benzena masuk reaktor dengan konsentrasi
0.01 mol/dm3. Dan kecepatan volumetrik 0.0025 m3/s.
(a) Yang mana reaksi yang mendominasi pada temperatur rendah dan pada temperatur
tinggi? Untuk kepentingan perbandingan, asumsikan bahwa 848 K adalah suhu
sedang,
(b) Untuk berat katalitik 50 kg, tentukan konsentrasi keluar dari CSTR "terfluidasi" pada
848 K. (Jawaban : CB = 0,3 mol / dm3)
(c) Berapa selektivitas B terhadap C dan B terhadap D dalam CSTR?
(d) Plot konsentrasi semua komponen sebagai fungsi berat katalis PBR (10 kg) dengan
asumsi operasi isotermal pada 848 K.
(e) Apa kondisi umpan dan reaktor atau kombinasi reaktor yang ditunjukkan pada
Gambar 6-3 yang akan Anda gunakan untuk memaksimalkan produksi Maleat
anhidrat?
(f) Bagaimana hasil pada bagian (d) jika hilang tekan diperhitungkan (α = 0,099 kg cat.-
1
dalam PBR? Buatlah plot serupa dengan bagian (d) dan jelaskan perbedaannya.
P6-15 B.
(a) Kerjakan ulang contoh 6-6 & 6-7 untuk kasus di mana toluena yang terbentuk dalam
reaksi (E6-6.2) dapat dilakukan hidrodealkilasi untuk menghasilkan benzena, B:
NAMA : MIFTAQUL HUDA
NIM : 21030116120078

Kecepatannya:

Dengan k, = 11.2 (ft3/lbmol)0.5/h


Masukkan konsentrasi toluen dan benzena pada hasil jawabanmu. Kondisi umpan
diberikan sebagai contoh 6-6 dan 6-7 digunakan untuk penyelesaian dimana terjadi
3 reaksi.
(b) Gunakan rasio dari hidrogen menjadi mesitylene (1 < C < 20) dan jelaskan yang
kamu dapatkan
(c) Skema reaktor dan kondisi umpan yang bagaimana yang anda sarankan agar didapat
SXT dan STB yang maksimum?
(d) Dengan kondisi energi aktivasi E1 = 20,000 cal/mol, E2 = 10,000 cal/mol, dan E3
= 30,000 cal/mol. Pada temperatur berapakah yang anda sarnkan dengan reaktor
CSTR seperti pada contoh 6-7?
P6-16 C. Mengikuti reaksi hidrodealkilasi dengan katalis Houdry Detol pada 800 K dan 3500 kPa:

k1 k2 k3 k4

Umpan equimolar hidrogen dan pentamethylbenzene.

(a) Untuk laju aliran volumetrik yang masuk sebesar 1 m3 / dtk, berapa rasio hidrogen
terhadap pentarnethylbenzene dan berapa volume reaktor PFR yang akan buat untuk
memaksimalkan pembentukan C6H4 (CH3)? (Plot selektifitas sebagai fungsi volume
reaktor)
(b) Bagaimana jawaban anda akan berubah jika anda memaksimalkan selektivitas
keseluruhan ke C8 ke C9? Ke 8, ke C 7?
(c) Menurut Anda, apa inti masalah ini? Buat plot fraksi mol setiap komponen sebagai
fungsi konversi pentamethylbenzene.
Buat plot fraksi mol setiap komponen sebagai fungsi dari volume reaktor plug-flow.
Diskusikan setiap optimalisasi yang bisa dilakukan.
P7-16 C Tinjau kembali oksidasi formaldehida menjadi reaksi asam formiat dengan katalis
titanium oksida vandium [Znd. Ya Chem. Res., 28, 387 (1 989)] ditampilkan dalam
penyelesaian algoritma ODE.
(A) Plot konsentrasi komponen sebagai fungsi jarak dengan PFR untuk laju aliran masuk
100 dm3 / menit pada 5 atm dan 140 ° C. Feednya adalah 66.7% HCHO dan 33.3%
0 2.
(B) Plot yield HCOOH keseluruhan dan selektivitas keseluruhan HCOH ke CO,
HCOOCH, untuk CH30H dan HCOOH ke HCOOCH, sebagai fungsi O 2. Sarankan
NAMA : MIFTAQUL HUDA
NIM : 21030116120078

beberapa kondisi untuk menghasilkan asam forrnic terbaik. Tulis paragraf yang
menjelaskan, apa yang anda temukan.
(C) Bandingkan plot Anda di bagian (a) dengan plot yang sama ketika penurunan
tekanan diperhitungkan dengan α = 0,002 dm-3
(D) Misalkan E, = 10.000 kal / mol, E2 = 30.000 kal / mol, E, = 20.000 callmol, dan E4
= 10,000 cal / mol, suhu berapa yang akan Anda rekomendasikan untuk 1000-dm3
PFR?

P6-18B Pencairan Kentucky Coal No. 9 dilakukan dalam reaktor sluri (D. D. Gertenbach, R. M.
Baldwin, and.R. L. Bain, Ind. Eng. Chem. Des proses. Dev., 21, 490 (1982) l. Partikel
batubara, yang kurang dari 200 mesh, dilarutkan dalam -250 ° C vakum memotong
recycle minyak jenuh dengan hidrogen pada 400 ° C. Pertimbangkan orde reaksi

yang merupakan versi modifikasi dari yang diberikan oleh Gertenbach et al. Semua reaksi
adalah orde pertama. Hitung laju alir molar dari masing-masing spesies sebagai fungsi
ruang-waktu pada
(a) Reaktor plug-flow.
(b) A 3-m3 CSTR.
(c) Apa inti dari masalah ini?

Informasi tambahan:
Konsentrasi batubara masuk: 2 kmol / m3
Laju aliran masuk: 10 dm3 / menit
Pada 400 ° F. k1 = 0,12 min-l, k2= 0,046 menit-I, k3 = 0,020 menit-I, k4 = 0,034 menit-
1, k5 = 0,04 menit-1.
P6-19C Cairan umpan ke reaktor campuran yang terdiri dari 0,4 g mol / dm3 A dan konsentrasi
molar E yang sama. Produk C terbentuk dari A oleh dua mekanisme reaksi yang berbeda:
baik dengan transformasi langsung atau melalui perantara B. B juga terbentuk dari E
Bersama dengan C, yang tetap dalam larutan, gas tidak larut D yng di separasi pada
reaktor.
Semua reaksi irreversibel dan orde pertama, kecuali untuk pembentukan B dari F,
yang merupakan orde kedua dalam F. Pembawa cairan untuk reaktan dan produk adalah
pelarut inert, dan tidak ada hasil perubahan volume dari reaksi:

(A) Berapa konsentrasi molar C maksimum yang mungkin dalam produk?


(B) Jika laju umpan adalah 2,0 dm3 / menit, berapakah hasil C (dinyatakan sebagai
persentase maksimum), dan berapa fraksi mol C dalam produk berdasarkan bebas
pelarut ? (Jawab: 0,583.)
(California Professional Engineers Exam)
P6-20C Urutan reaksi yang didiskusikan pada Contoh 6-8 harus dilakukan dalam CSTR
"fluidized" mikro. Berat katalis CSTR adalah 3 g. Semua kondisi dalam pernyataan
masalah adalah sama kecuali bahwa reaksi harus dilakukan pada suhu yang sedikit lebih
tinggi dan konstanta laju adalah:
NAMA : MIFTAQUL HUDA
NIM : 21030116120078

(A) Berapa laju alir molar keluar dari masing-masing komponen.


(B) Berapa hasil keseluruhan dari
(1) A pada E?
(2) B pada F?
(3) A pada C?

P6-21D (Flame retardants) Dengan mempertimbangkan versi yang lebih komprehensif dari
pembakaran CO yang dibahas dalam P7-3. Reaksi dan parameter rate yang bersesuaian
diberikan dalam Tabel P6-21. Semua reaksi diasumsikan sebagai reaksi elementer
[Combustion and Flame, 69, 113 (1987) l. Komposisi precombustion (% mol) adalah:

A. Tanpa HCI:
CO: 20%, 02: 10% H ,: 1%, N2: 69%
B. Dengan HCl:
CO: 20%, 02:%, HI: 1%, NZ: 67%, HCI: 2%
Pembakaran terjadi pada 1000 K dan 1 atm dan fraksi mol hidrogen awal adalah 10-7.
Reaksi pembakaran diasumsikan batch
(a) Plot fraksi mol setiap komponen dan radikal bebas sebagai fungsi waktu untuk kedua
pembakaran tanpa hambatan dan terhambat.
(b) Ulangi bagian (a) untuk suhu dan tekanan yang berbeda.
(S. Senkan, UCLA)

P6-22B Produksi asetilena dideskripsikan oleh R. W. Wansbaugh [Chem. Eng., 92 (16), 95 (1985)],
Menggunakan reaksi dan data dalam artikel ini, kembangkan masalah dan solusi.

16-23C Hidrogenasi benzena (B) dilakukan dalam reaktor slurry CSTR dimana produk yang
diinginkan adalah sikloheksena (C) [Chem. Ya Sci., 51, 2873 (1996)].
NAMA : MIFTAQUL HUDA
NIM : 21030116120078

Laju reaksi pada reaksi (1) dan (2) pada suhu 403 K adalah

Dengan,

Laju aliran molar benzena yang masuk adalah 2 mol / s dan perlu untuk mencapai
setidaknya 40% konversi benzena pada 403 K. Pada kondisi apa reaksi harus dilakukan
untuk memaksimalkan hasil sikloheksena? P6-24,
P6-24C (Sintesis metanol) Katalis baru telah diusulkan untuk sintesis metanol dari karbon
monoksida dan gas hidrogen. Katalis ini cukup aktif antara temperatur 330 K sampai 430
K Reaksi isotermik yang terlibat dalam sintesis sebagai beikut
DIANA NOVASARI / 21030116120042

Reaksi isotermis yang termasuk dalam sistesis :


CO + 2H2  CH3OH
CO +H2O  CO2 + H2
CH3OH  CH2O + H2
Reaksi bersifat elementer dan berlangsung dalam fase gas. Reaksi harus dilakukan secara isotermal dan sebagai
perkiraan pressure drop akan diabaikan. Umpan masuk terdiri dari 7/15 gas hidrogen, 1/5 karbon
monoksida,1/5 karbondioksida, 2/15 uap. Laju alir molar total adalah 300 mol / s. Tekanan yang masuk dapat
bervariasi antara 1 atm dan 160 atm dan suhu yang masuk antara 300 K dan 400 K. Volume reaktor tubular
(PFR) antara 0,1 m3 dan 2m3.
(a) Tentukan kondisi masuk dari temperatur dan tekanan dan volume reaktor yang akan mengoptimalkan
produksi dari methanol. (Petunjuk : Pertama mencoba T 0 = 330 pada saat P0 = 40 atm, kemudian mencoba
T0 = 380, P0 = 1 atm)
(b) Variasikan rasio dari reaktan CO yang masuk untuk memaksimalkan produksi methanol. Bagaimana
hasilnya apabila dibandingkan pada bagian (a)? deskripsikan apa yang kamu dapat.
Informasi tambahan :
V = 40 dm3, T dalam kelvin. R = 1.987 cal/mol

P6-25 Asam oleat epoksida (E) dihasilkan dari epoksidasi katalitik asam oleat (OA) [J. Fotopoulos, C. Georgakis,
dan H. Stenger, Chern. Eng. Sci., 51, 1899 (1996) ]. Bahan baku yang digunakan adalah benzaldehida murni
(B) dan asam oleat (OA). Namun, produk yang tidak diinginkan juga terbentuk, termasuk benzoic (BA) dan
perbenzoic acids (PBA). Urutan reaksi yang terjadi adalah:
k1
(1) O2 + B  PBA

k2
(2) PBA + OA  E + BA

k3
(3) B + PBA  2BA
Informasi tambahan :
Konsentrasi B murni = 9.8 kmol/m3
Konsentrasi OA murni = 3.15 kmol/m3
Konsentrasi katalis = 4 x 10-5 kmol/m3
DIANA NOVASARI / 21030116120042

Bagaimana seharusnya reaksi dilakukan (misalnya jenis reaktor , volume, suhu, laju umpan) untuk
menghasilkan 100 kmol asam oleat epoksida (E) per hari? Akan ada hadiah untuk solusi yang memenuhi
kriteria ini dan meminimalkan produk yang tidak diinginkan.Jika biaya peralatan tersedia, mereka harus
disertakan.

P6-26 Katalitik jalur baru untuk intermediet penting dalam produksi obat anti-inflamasi ibuprofen nonsteroid
(misalnya, Advil) telah dikembangkan [Chern. Eng. Sci., 5I, 10, 1663 (1996) ]. Jalur ini melibatkan
hidrogenasi p-isobutil asetofenon (B) dalam larutan metanol yang mengandung katalis zeolit HY dan jenuh
dengan hidrogen. Produk antara adalah p-isobutylphenyl itanol (C), p-isobutylphenylethyl methyl ether (E) dan
p-isobutylethyl benzene (F). Skema reaksi ditunjukkan di bawah ini.
(1) A + B  C
(2) C + A  F + H2O
(3) C + M  E + H2O
(4) E + E  F + M
Hukum yang berlaku untuk persamaan di atas adalah :
DIANA NOVASARI / 21030116120042

Karena metanol, M, berlebih, itu tidak muncul dalam hukum laju reaksi. Konstanta laju dan kesetimbangan
diberikan dalam Tabel P6-26. Katalis W, adalah 10 kg/m3 dan konsentrasi awal p-isobutil asetononon, (B)
adalah 0,54 kmol/dm3, tekanan parsial hidrogen 5,9 MPa, dan suhu 393 K. Plot konsentrasi A, B, C, D, E, dan
F sebagai fungsi waktu.

P6-27 untuk reaksi elementer van de Vusse


A  B  C
2A  D
Tentukan reactor atau kombinasi reactor untuk memaksimalkan jumlah pembentukan B.
Informasi tambahan :
k1 = 0.01 s-1 k2 = 0.05 s-1 k3 = 10s-1 k4= 100 m3/kmol.s
CAO = 2 kmol/m3 dan vo = 0.2 m3/s
Ulangi untuk k2 = 0.002 s-1
DIANA NOVASARI / 21030116120042

P6-28 Reaksi fase gas berlangsung secara isotermal dalam membran packed reaktor dengan katalis. Umpan A
memasuki reaktor pada 24.6 am dan 500K dan laju aliran A dari 10 mol/min
A  B + C
AD
2C + D  2E

Hanya spesies B yang berdifusi keluar dari reaktor melalui membran.


(a) Plot konsentrasi ke bawah sepanjang reaktor.
(b) Jelaskan mengapa kurva terlihat seperti yang telah dibuat.
(c) Variasikan beberapa parameter (misalnya, kB, klc. Klc) dan tulis paragraf yang menjelaskan apa yang anda
temukan.
Koefisien transfer massa kB = 1.0 dm3/kg cat .min
klC = 2 dm3/kg cat min
Klc = 0.2 mol/dm3
k2D = 0.4 dm3/ kg cat min
k3E = 400 dm2 / mol2 kg cat min
Wf = 100 kg
A = 0.008 kg-1

P6-29 Baca modul cobra pada CD.


(A) Tentukan berapa banyak gigitan kobra yang diperlukan agar tidak ada obat anti-racun yang diperlukan
untuk menyelamatkan korban.
(B) Misalkan korban adalah dengan ular tanpa rahim dan tidak digigit oleh kobra dan anti-racun disuntikkan.
berapa banyak anti-racun yang perlu disuntikkan untuk menyebabkan kematian?
(c) Berapa waktu dan jumlah anti-racun yang dapat disuntikkan setelah digigit sehingga korban tidak akan
mati?
(D) Ajukan pertanyaan lain tentang permasalahan ini.
Petunjuk: Program Living Example Polymath ada di CD ROM.

P6-30 Baca melalui modul reaksi berosilasi. Untuk 4 reaksi yang melibatkan I- dan IO-3:
(A) Apa faktor yang mempengaruhi amplitudo dan frekuensi reaksi osilasi?
(B) Mengapa Anda berpikir bahwa osilasi akhirnya berhenti (dalam percobaan asli oleh Belousov, berlangsung
sekitar 50 menit)?
(c) Apa yang menyebabkan osilasi ini? (Dengan kata lain: Apa yang membuat reaksi ini berbeda dari yang lain
yang telah kita pelajari sejauh ini di Bab 6?)
(D) Bagaimana jika ... bermain-main dengan Living Example Polymath Program pada CD ROM - apa efek dari
perubahan nilai-nilai k0, dan k1? Bisakah Anda membuat osilasi teredam atau tidak stabil?

P6C-1 Apakah mungkin mengekstrapolasikan kurva pada Gambar 2 [AIChE J., 17,856 (1971) ] untuk
mendapatkan laju reaksi awal? Gunakan kriteria Wiesz-Prater untuk menentukan apakah ada batasan difusi
dalam reaksi ini. Tentukan tekanan parsial produk pada permukaan berdasarkan selektifitas untuk etilena
oksida yang berkisar antara 51 dan 65% dengan konversi antara 2,3 dan 3,5%.
DIANA NOVASARI / 21030116120042

P6C-2 Persamaan 5 [Chem Eng. Sci., 35,619 (1980) ] ditulis untuk menyatakan tingkat pembentukan C
(olefin). Seperti yang dijelaskan dalam persamaan 2, tidak ada perubahan dalam konsentrasi C dalam reaksi
ketiga dari seri:

(A) Tentukan apakah hukum yang digunakan dalam persamaan 5 benar.


(B) Dapatkah persamaan 8.9, dan 12 diturunkan dari persamaan 5?
(c) Apakah persamaan 14 benar?
(d) Apakah koefisien-koefisien adsorpsi bi dan bj dihitung dengan benar?
Leonardo Agusta

CDP6-EB Reaktor Batch dengan A ↔ B ↔ D, hitung komposisi setelah 6,5 jam


CDP6-FB Klorinasi Benzena menjadi monoklorobenzena dan diklorobenzena dalam CSTR
CDP6-GC Tentukan jumlah reaksi independen dalam oksidasi amonia
CDP6-HB Oksidasi Formaldehid
HCHO + 1/2O2 ↔ HCOOH
2HCHO ↔ HCOOCH2

CDP6-IB Lanjutan dari CDP6-H


HCOOH ↔ CO2 + H2
HCOOH ↔ CO + H2O

CDP6-JB Lanjutan CDP6-H dan I


HCOOCH2 ↔ CH3OH + HCOOH

CDP6-KC Desain reaktor untuk alkilasi benzena dengan selektivitas maksimal pada propilen dari
isopropilbenzene
CDP6-LD Reaksi antara parafin dan olefin untuk membentuk parafin bercabang dalam reaktor slurry
untuk meningkatkan angka oktan pada bensin
CDP6-MA Desain sistem reaktor untuk memaksimalkan produksi alkilklorida
CDP6-NC Desain sistem reaktor untuk memaksimalkan selektivitas p-xylene dari metanol dan toluen
melalui katalis zeolit HZSM-8.
CDP6-OB Oksidasi propilen menjadi akrolein

BACAAN SUPLEMEN

1. Selektivias, skema reaktor, dan tingkatan untuk reaksi ganda, dengan evaluasi dari persamaan reaksi yang
bersangkutan, terdapat pada
DENBIGH, K. G., and J. C. R. TURNER, Chemical Reactor Theory, 2nd ed. Cam,bridge: Cambridge
University Press, 1971, Chap. 6.
LEVENSPIEL, O., Chemical Reaction Engineering, 2nd ed. New York Wiley, 1972, Chap. 7.
Beberapa problem mengenai desain reaktor untuk reaksi ganda terdapat pada:
HOUGEN, O. A., and K. M. WATSON, Chemical Process Principles, Part 3: Kinetics and Catalysis.
New York:Wiley, 1947. Chap. XVIII.
SMITH, J. M., Chemical Engineering Kinetics, 3rd ed. New York. McGraw-Hill, 1980, Chap. 4.
2. Buku-buku yang memiliki solusi analitis untuk reaksi seri, paralel, dan kombinasi
CAPELLOS, C., and B. H. J. BIELSKI, Kinetic Systems. New York: Wiley, 1972.
WALAS, S. M., Chemical Reaction Engineering Handbook of : Solved Problems. Neeark, N.J.: Gordon
and Breach, 1995.
3. Diskusi singkat mengenai referensi bersangkutan mengenai reaksi seri dan paralel
ARIS, R., Elementary Chemical Reactor Analysis. Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall, 1969, Chap.
5.
4. Contoh yang baik mengenai penentuan kecepatan reaksi spesifik, ki, dalam reaksi ganda
BOULDART, M., and G. DJEGA_MARIADASSOU, Kinetics of Heterogeneous Catalytic Reactions.
Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1984.
Leonardo Agusta

Kinetika
7
Reaksi
Non Elementer

The next best thing to knowing something is knowing where to find it.
Samuel Johnson (1709-1784)

Hingga sekarang, kita telah berdiskusi mengenai kinetika reaksi homogen dimana konsentrasi dinaikkan dengan
pangkat n, yang mana merupakan sebuah bilangan. Hal ini merupakan hukum kecepatan

-rA = kCAn (7-1)

Katakanlah bila n=1, maka reaksi tersebut adalah reaksi orde 1 terhadap A, bila n=2 maka reaksi merupakan
reaksi orde 2 terhadap A, dan seterusnya. Reaksi homogen dalam jumlah besar melibatkan pembentukan reaksi
selanjutnya dari spesies intermediet. Ketika kasus ini yang terjadi, maka nilai orde dapat bukan merupakan
bilangan bulat. Contohnya pada reaksi dekomposisi asetaldehid

CH3CHO ↔ CH4 + CO

Pada suhu 500oC, maka

-rCH3CHO = k3/2CCH3CHO (7-2)

Bentuk umum lain dari hukum kecepatan yang dihasilkan dari reaksi yang melibatkan intermediet aktif adalah
reaksi yang kecepatannya proporsional terhadap konsentrasi reaktan dan berbanding terbalik pada jumlah
konstanta dan konsentrasi reaksi. Contoh kinetika ini terdapat pada pembentukan hidrogen iodida

H2 + I2 ↔ 2HI

Kecepatan reaksinya:

𝑘1 𝑘3 𝐶𝐼2 𝐶𝐻2
𝑟𝐻𝐼 = (7-3)
𝑘2 +𝑘3 𝐶𝐻2

Untuk reaksi serupa dengan persamaan 7-3, orde reaksi tidak dapat ditentukan. Hal itu merupakan
hukum reaksi dimana denominator merupakan fungsi polinomial dari spesies konsentrasi, orde reaksi hanya
sebagai nilai pembatas reaktan atau konsentrasi produk. Reaksi tipe ini adalah non elementer, tidak ada
koresponden yang tepat antara orde reaksi dan stoikiometrinya.
Pada chapter ini, kita membahas 4 topik : hipotesis pseudo-steady-state (PSSH), polimerisasi, enzim,
dan bioreaktor. PSSH memainkan peran yang penting dalam pengembangan hukum kecepatan non elementer.
Sehingga kita akan membahas fundamental PSSH terlebih dahulu, diikuti penggunaannya dalam reaksi
polimerisasi dan reaksi enzimatis. Karena enzim termasuk dalam semua makhluk hidup, dan kita menutup
chapter ini dengan pembahasan mengenai bioreaktor.

7.1 Fundamental

Hukum kecepatan non elementer mirip dengan persamaan 7-2 dan 7-3 sebagai hasil dari reaksi
keseluruhan dalam mekanisme yang terdiri dari step reaksi seri. Dalam analisa kami, kami mengasumsikan
setiap step reaksi dalam mekanisme reaksi sebagai elementer, orde reaksi dan koefisien stoikiometri identik.
Untuk mengilustrikan bagaimana hukum kecepatan ini terbentuk, kita melihat terlebih dahulu pada
dekomposisi azometana fase gas, AZO, menghasilkan ethana dan nitrogen
Leonardo Agusta

(CH3)2N2 ↔ C2H6 + N2 (7-4)

Observasi eksperimen menunjukkan bahwa kecepatan untuk N 2 merupakan orde 1 terhadap AZO pada tekanan
lebih dari 1 atm (konsentrasi relatif tinggi).

rN2 ∞ CAZO

dan orde 2 pada tekanan dibawah 50 mmHg (konsentrasi rendah)

rN2 ∞ C2AZO

7.1.1. Intermediet Aktif

Perubahan pada orde reaksi ini dapat dijelaskan dengan teori yang dikembangkan oleh Lindemann.
Molekul teraktivasi, [(CH3)2N2], yang dihasilkan dari interaksi antar molekul:

(CH3)2N2 + (CH3)2N2 ↔ (CH3)2N2 + [(CH3)2N2]* (7-5)

Aktivasi ini terjadi ketika energi kinetik translasional yang ditrasnfer menjadi energi yang
disimpan dalan derajat kebebasan internal. Molekul tidak stabil (intermediet aktif) tidak dibentuk sebagai
konsekuensi dari pergerakan molekul pada kecepatan tinggi (energi kinetik translasional tinggi). Energi
haris diserap dalam chemical blonds dimana amplitudo tinggi dari osilasi akan menyebabkan kerusakan
ikatan, perubahan molekular, dan dekomposisi. Tidak adanya efek fotokimia pada fenomena serupa,
trasnfer dari energi translasional menjadi energi vibrasi untuk menghasilkan intermediet aktif dan terjadi
sebagai akibat dari interaksi antar molekul. Tipe lain intermediet aktif yang dapat dibentuk adalah radikal
bebas (1 atau lebih elektron yang tidak berpasangan), intermediet ion (ion carbonium), dan substrat enzim
kompleks, dan lain-lain.
Dalam teori Lindemann mengenai intermediet aktif, dekomposisi intermediet tidak terjadi secara
instant setelah aktivasi internal dari molekul, namun terdapat time lag, ketika spesies masih teraktifasi.
Untuk reaksi azomethana, intermediet aktif terbentuk melalui reaksi:

(CH3)2N2 + (CH3)2N2 ↔ (CH3)2N2 + [(CH3)2N2]* (7-5)

Karena reaksi ini elementer, laju pembentukan intermediet aktif pada persamaan 7-5 adalah

rAZO*(7-5) = k1C2AZO (7-6)

dimana

AZO = [(CH3)2N2]

Terdapat 2 jalur reaksi dimana intermediet aktif (kompleks teraktivasi) dapat mengikuti setelah terbentuk.
Dalam satu jalur molekul teraktivasi dapat menjadi terdeaktivasi melalui tabrakan dengan molekul lain

[(CH3)2N2]* + (CH3)2N2 ↔ (CH3)2N2 + (CH3)2N2 (7-7)

Dengan

rAZO*(7-7) = - k2CAZOCAZO* (7-8)

Reaksi ini merupakan reaksi terbalik dari persamaan 7-5. Jalu alternatif dari intermediet aktif
terdekomposisi secara spontant untuk membentuk ethana dan nitrogen:

[(CH3)2N2]* ↔ C2H6 + N2 (7-9)

rAZO*(7-9) = - k3CAZO* (7-10)


Nama : Lea Arse Farissa
NIM : 21030116120052
342-436

Reaksi keseluruhan [Persamaan (7-4)], dimana laju non-elementer, terdiri dari urutan reaksi elementer,
Persamaan (7-5), (7-7), dan (7-9).
Nitrogen dan etana terbentuk pada reaksi yang ditunjukkan pada persamaan (7-9). Akibatnya, laju bersih
pada pembentukan nitrogen adalah
𝑟𝑁2 = 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗

(7-11)
Konsentrasi dari intermediet aktif, AZO*, sangat sulit diukur karena sangat reaktif dan sangat cepat (~10 -9
s). Akibatnya, evaluasi hukum laju reaksi, (7-8). (7-10), dan (7-11), dalam bentuk ini menjadi cukup sulit. Untuk
mengatasi hal ini, kita harus menentukan konsentrasi intermediet aktif, CAZO*, pada konsentrasi azomethane, CAZO.
Seperti yang di sebutkan dalam Bab 3, total atau laju keseluruhan dari pembentukan spesies tertentu yang terlibat
dalam reaksi simultan dalah penjumlahan laju pembentukan dari tiap reaksi untuk spesies tersebut.
Kita dapat menggeneralisasi laju pembentukan dari spesies j yang terjadi pada reaksi yang berbeda.
𝑛

𝑟𝑡 = ∑ 𝑟𝑗𝑖
𝑖=1

(7-12)
Karena intermediet aktif, AZO*, ada pada reaksi ketiga-tiganya dalam mekanisme dekomposisi, total laju
pembentukan AZO* adalah jumlah dari masing-masing persamaan reaksi (7-5), (7-7), dan (7-9):

Total laju Laju pembentukan Laju pembentukan Laju pembentukan


[Permbentukan ] = [ AZO pada ]+[ AZO pada ]+[ AZO pada ]
AZO∗ Persamaan (7 − 5) Persamaan (7 − 7) Persamaan (7 − 9)

𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗ = 𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗ (7−5) + 𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗ (7−7) + 𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗(7−9)

(7-13)
Dengan menjumlahkan persamaan (7-6), (7-8), dan (7-10) menjadi seperti persamaan (7-13), maka kita
dapatkan
2
𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗ = 𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂 − 𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗ + 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗
(7-14)
Untuk menentukan CAZO* pada perhitungan konsentrasi, kita perlu pseudo-steady-state hypothesis (PSSH).

7.1.2 Pseudo-Steady-State Hypothesis (PSSH)


Dalam banyak hal, tidak mungkin mengurangi konsentrasi intermediet aktif dalam bentuk persamaan diferensial
keseimbangan mol untuk mendapatkan solusi bentuk tertutup. Namun, solusi perkiraan dapat diperoleh. Molekul
intermediet aktif memiliki masa hidup yang singkat karena reaktivitasnya tinggi (laju reaksi spesifik yang besar).
Kami juga akan mempertimbangkan untuk membuat dalam konsentrasi rendah. Kedua kondisi ini mengarah ke
pseudo-steady-state, dimana laju pembentukan intermediet aktif diasumsikan sama dengan laju hilangnya. Sehingga
hasilnya, total laju pembentukan intermediet aktif, r*, adalah nol:
𝑟∗ = 0
Kita dapat menemukan laju pembentukan produk, nitrogen, adalah
Nama : Lea Arse Farissa
NIM : 21030116120052
𝑟𝑁2 = 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗

(7-11)
dan laju pembentukan AZO* adalah
2
𝑟𝐴𝑍𝑂 ∗ = 𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂 − 𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗ + 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗
(7-14)
Menggunakan pseudo-steady-state hypothesis (PSSH), persamaan (7-11) dan (7-14) dapat digabung untuk
mendapatkan laju baru untuk N2 untuk konsentrasi azomethane. Pertama, kita mencari konsentrasi intermediet aktit
AZO* dalam konsentrasi azomethane, AZO. Dari PSSH,
𝑟𝐴𝑍𝑂 = 0
(7-15)
2
𝑟𝐴𝑍𝑂∗ = 𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂 − 𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂 𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗ − 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂∗ = 0
(7-16)
Kita dapat memecahkan persamaan (7-16) untuk CAZO* pada CAZO:
2
𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂
𝐶𝐴𝑍𝑂 ∗ =
𝑘3 + 𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂
(7-17)
Substitusi persamaan (7-17) menjadi persamaan (7-11), didapatkan
2
𝑘1 𝑘3 𝐶𝐴𝑍𝑂
𝑟𝑁2 =
𝑘3 + 𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂
(7-18)
Pada konsentrasi rendah
𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂 < 𝑘3
Maka didapatkan hukum second order rate:
2
𝑟𝑁2 = 𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂

(7-19)
Pada konsentrasi tinggi
𝑘2 𝐶𝐴𝑍𝑂 > 𝑘3
Dalam hal ini didapat kinetika first-order
𝑘1 𝑘3
𝑟𝑁2 = 𝐶 = 𝑘𝐶𝐴𝑍𝑂
𝑘2 𝐴𝑍𝑂
(7-20)
Dalam mendeskripsikan orde reaksi pada persamaan ini, bisa dikatakan bahwa reaksi tersebut orde pertama
pada konsentrasi azometana tinggi dan orde dua pada azometana rendah.
7.2 Mencari Mekanisme
Nama : Lea Arse Farissa
NIM : 21030116120052
Dalam banyak contoh, data laju berkorelasi sebelum mekanisme ditemukan. Ini adalah prosedur yang normal
untuk mengurangi konstanta aditif dalam penyebut ke-1. Karena kita membagi pembilang dan penyebut persamaan
(7-18) oleh k3, maka didapat
2
𝑘1 𝐶𝐴𝑍𝑂
𝑟𝑁2 =
1 + 𝑘′𝐶𝐴𝑍𝑂
(7-21)
7.2.1 Pertimbangan Umum
Aturan yang tercantum pada Tabel 7-1 mungkin akan membantu dalam pengembangan mekanisme yang
konsisten dengan hukum laju eksperimental. Setelah menerapkan Tabel 7-1 untuk contoh azomethane yang baru saja
dibahas, kita melihat persamaan laju (7-18) bahwa:
1. Intermediet aktif, AZO*, bertabrakan dengan azomethane, AZO [Persamaan (7-7)], menghasilkan
konsentrasi AZO di penyebut.
2. AZO* terurai secara spontan [Persamaan (7-9)], menghasilkan konstanta dalam penyebut ekspresi laju.
3. Hasil dari AZO* dibentuk dari AZO. Berdasarkan Persamaan (7-5), kita dapat melihat bahwa ini
memang benar.

Tabel 7-1. Aturan yang Tercantum Untuk Pengembangan Mekanisme


1. Spesies yang memiliki konsentrasi (s) berada di penyebut dari hukum laju mungkin
bertabrakan dengan perantara aktif, misalnya,
A + A’ [produk bertabrakan]
2. Jika konstan yang muncul di penyebut, salah satu dari reaksi mungkin terurai spontan oleh
intermediet aktif, misalnya,
A* [produk terurai]
3. Spesies yang memiliki konsentrasi (s) berada pada pembilang dari hukum laju mungkin
menghasilkan intermediet aktif pada salah satu reaksi, misalnya,
[reaktan] A” + [produk lain]

Contoh 7-1 Persamaan Stern-Volumer


Cahaya dilepaskan ketika gelombang ultrasonik intensitas tinggi di terapkan pada air. Cahaya ini dihasilkan dari
gelembung mikro yang dibentuk oleh gelombang dan kemudian dikompresi olehnya. Selama tahap kompresi
gelombang, isi gelembung (misalnya, air dan apa pun yang terlarut dalam air) dikompres secara adiabatis. Kompresi
ini menimbulkan suhu tinggi, yang menghasilkan intemediet aktif dan menyebabkan reaksi kimia terjadi dalam
gelembung. Intensitas cahaya yang dilepaskan, I, sebanding dengan laju reaksi molekul air aktif yang telah terbentuk
di microbubble.
H2O* K3 H2O + hv
Intensitas α (−𝑟𝐻2𝑂∗ ) = 𝑘3 𝐶𝐻2𝑂∗

Peningkatan urutan intensitas sonoluminescence diamati ketika karbon disulfida atau karbon tetraklorida ditambahkan
ke air. Intensitas luminescence, I, untuk reaksi
K4
CS; CS, + hv
Hasil serupa ada untuk CCl4.
Namun, ketika alkohol alifatik, X, ditambahkan ke larutan, intensitas menurun dengan meningkatnya konsentrasi
alkohol. Data biasanya dilaporkan dalam bentuk plot Stern-Volmer di mana intensitas relatif diberikan sebagai fungsi
dari konsentrasi alkohol, C ,. (Lihat Gambar E7-1.1, di mana I0, adalah intensitas sonoluminescence dengan tidak
adanya alkohol dan I adalah intensitas sonoluminesclence di hadapan alkohol.) Jelaskan mekanisme yang konsisten
dengan pengamatan eksperimental.
Nama : Lea Arse Farissa
NIM : 21030116120052

Gambar E7-1.1
Solusi
Dari garis linear, dapat diketahui
𝐼0
= 𝐴 + 𝐵𝐶𝑋 = 𝐴 + 𝐵(𝑋)
𝐼
(E7-1.1)
Dimana CX = (X), dibalik hasilnya
𝐼 1
=
𝐼0 𝐴 + 𝐵(𝑋)
(E7-1.2)
Dari aturan 1 pada Tabel 7-1, penyebut menunjukkan bahwa alkohol bertabrakan dengan intermediet aktif:
X + intermediet produk penonaktifan
(E7-1.3)
Alkohol bertindak sebagai apa yang disebut menonaktifkan perantara aktif. Fakta bahwa penambahan CC1 4 atau CS2
meningkatkan intensitas pendaran.
I α (CS2)
(E7-1.4)
Menurut aturan 3 dari tabel 7-1 bahwa perantara aktif mungkin terbentuk dari CS2:
M + CS2 CS2* + M
(E7-1.5)
Dimana M adalah komponen ketiga (CS2, H2O, dll)
Kita tahu bahwa penonaktifan dapat terjadi dengan membalikkan reaksi (E7-1.5).
Menggabungkan informasi ini, maka kita dapatkan mekanisme:
K1
Aktivasi: M + CS2 CS2* + M
(E7-1.5)
Deaktivasi: M + CS2 K2 CS2* + M
(E7-1.6)
Nama : Lea Arse Farissa
NIM : 21030116120052
K3
Deaktivasi: X + CS2 CS2 + X
(E7-1.3)
K4
Luminescene: CS; CS2 + hv
(E7-1.7)
I = k4 (CS2*)
(E7-1.8)
Menggunakan PSSH pada yield CS2*
𝑟𝑐𝑠2∗ = 0 = 𝑘1 (𝐶𝑆2 )(𝑀) − 𝑘2 (𝐶𝑆2∗ )(𝑀) − 𝑘3 (𝑋)(𝐶𝑆2∗ ) − 𝑘4 (𝐶𝑆2∗ )

Selesaikan CS2* dan substitusi menjadi Persamaan (E7-1.8) didapat


𝑘4 𝑘1 (𝐶𝑆2 )(𝑀)
𝐼=
𝑘2 (𝑀) + 𝑘3 (𝑋) + 𝑘4
(E7-1.9)
Dengan tidak adanya alkohol,
𝑘4 𝑘1 (𝐶𝑆2 )(𝑀)
𝐼0 =
𝑘2 (𝑀) + 𝑘4
(E7-1.10)
ICHWANUL MUTTAQIN
21030116130132

Untuk konsentrasi konstan CS2 dan M, kita menggunakan rasio persamaan (E7-1.10) hingga (E7-1.9):

dimana memiliki bentuk yang sama seperti yang disarankan oleh Gambar E7-1.1. Persamaan (E7-1.11) dan persamaan
serupa yang melibatkan pemulung disebut persamaan Stem-Volmer.
Sekarang, mari kita lanjutkan ke beberapa contoh yang sedikit lebih rumit yang melibatkan reaksi berantai. Reaksi
berantai terdiri dari urutan berikut:
1. Inisiasi: pembentukan perantara aktif.
2. Propagasi atau transfer rantai: interaksi perantara aktif dengan reaktan atau produk untuk menghasilkan zat
antara aktif lainnya.
3. Pengakhiran: penonaktifan perantara aktif.

Contoh 7-2 PSSH Diterapkan pada Thermal Cracking of Ethane


Dekomposisi termal etana menjadi etilen, metana, butana, dan hidrogen

a. Gunakan PSSH untuk memperoleh laju pembentukan etilen


b. Membandingkan penyelasian PSSH pada poin a untuk menyelesaikan neraca mol ODE
Penyelesaian
Bagian (a) Mengembangkan Hukum Kecepatan
Laju pembentukan etilen
Untuk reaktor batch dengan volume konstatn, neraca mol dan hukum kecepatan dikombinasi untuk menghilangkan
etana (P1) dan pembentukan etilen (P5)
P dalam P1 (contoh., Cpl) dan P5 (Contoh., Cp5) adalah untuk mengingatkan kita bahwa kita telah menggunakan
PSSH dalam mendatangkan persamaan ini
Pada suhu 1000 K, konstanta laju reaksinya k1 = 1,5 X 10 -3 s-1, k2 = 2,3 X 106 dm3 / mol.s, k3 = 5.71 X 104 s-l, k4 =
9.53 X 108 dm3 / mol.s, dan k5 = 3.98 X IO9.
Untuk konsentrasi etana yang masuk 0,1 mol / dm3 dan suhu 1000 K, Persamaan (E7-2.13) dan (E7-2.14) telah
dipecahkan dan konsentrasi ethane, Cpl, dan ethylene, Cp3, ditunjukkan sebagai fungsi waktu dalam Gambar E7-2.1
dan E7-2.2. Dalam mengembangkan hubungan konsentrasi-waktu di atas, kami menggunakan PSSH. Namun,
sekarang kita dapat memanfaatkan teknik yang dijelaskan pada Bab 6 untuk menyelesaikan set lengkap persamaan
untuk perengkahan etana dan kemudian membandingkan hasil ini dengan solusi PSSH yang jauh lebih sederhana.

Bagian (b) Menguji PSSH untuk Ethane Cracking


Keretakan termal etana diyakini terjadi oleh urutan reaksi yang diberikan di Bagian (a). Tingkat reaksi spesifik
diberikan sebagai fungsi suhu:

Bagian (b): Memplot konsentrasi etana dan etilena sebagai fungsi waktu dan membandingkan dengan pengukuran
konsentrasi-waktu PSSH. Konsentrasi awal etana 0,1 mol / dm3 dan suhunya l000 K.

Penyelesaian Bagian (b)


Program Polymath diberikan pada Tabel E7-2.1.

Tabel E7-2.1. Program Polymath

Gambar E7-2.1 menunjukkan perbandingan lintasan konsentrasi waktu untuk etana yang dihitung dari PSSH (CPI)
dengan lintasan etana (Cl) yang dihitung dari penyelesaian keseimbangan mol Persamaan (E7-2.14) sampai (E7-2.20).
Gambar E7-2.2 menunjukkan perbandingan serupa untuk ethyIene (CP5) dan (C5). Satu catatan bahwa kurva itu
identik, menunjukkan validitas PSSH dalam kondisi ini. Gambar E7-2.3 menunjukkan perbandingan lintasan
konsentrasi waktu untuk metana (C3) dan butana (CS). Masalah W-2 (a) mengeksplorasi suhu di mana PSSH berlaku
untuk perengkahan etana.
Sona Fatiya R
21030116140098

Gambar E7-2.3 Perbandingan lintasan konsentrasi-waktu untuk metana (C3) dan butana (C8).
7.2.2 Jalur Reaksi
Retaknya Etana Dengan peningkatan daya komputasi, semakin banyak analisis yang melibatkan reaksi
radikal bebas sebagai perantara dilakukan menggunakan set gabungan persamaan diferensial (lihat. Contoh
7-2). Kuncinya ada analisis tersebut adalah untuk mengidentifikasi reaksi antara mana yang penting dalam
urutan keseluruhan dalam memprediksi produk akhir. Begitu reaksi utamanya diidentifikasi, seseorang
dapat membuat sketsa jalur dengan cara yang mirip dengan yang ditunjukkan untuk retak etana pada
Contoh 7-2 (lihat Gambar 7-1).

Gambar 7.1 Jalur Patahan Etana

Formasi Smog. Nitrogen dan oksigen bereaksi membentuk oksida nitrat dalam silinder mesin mobil. NO
dari knalpot mobil teroksidasi menjadi NO2 di hadapan radikal peroksida.
Sona Fatiya R
21030116140098

Nitrogen dioksida kemudian diurai fotokimia untuk memberikan oksigen yang baru terbentuk,

yang bereaksi untuk membentuk ozon:

Ozon kemudian terlibat dalam serangkaian reaksi dengan hidrokarbon di atmosfer untuk membentuk
aldehid, berbagai radikal bebas, dan lainnya interniediates, yang bereaksi lebih jauh untuk menghasilkan
produk yang tidak diinginkan di udara polusi:

Salah satu contoh spesifik adalah reaksi ozon dengan 1,3-butadiena terbentuk acrolein dan formaldehyde,
yang merupakan iritasi mata yang parah.
Iritasi mata

Dengan
regenerasi NO2, lebih banyak ozon dapat terbentuk dan siklus berlanjut. Satu berarti dengan mana
regenerasi ini dapat dicapai adalah melalui reaksi NO dengan radikal bebas di atmosfer (Rl). Misalnya,
yang gratis: radikal terbentuk dalam Reaksi (R4) dapat bereaksi dengan 0, untuk memberikan peroksi bebas
radikal,

Gabungan semua reaksi di atas ditunjukkan secara skematik pada Gambar 7-2.
Dapat bahwa siklus telah selesai, dengan hasil relatif kecil jumlah nitrogen oksida, sejumlah besar polutan
dapat diproduksi. Tentu saja, banyak reaksi lain yang terjadi, jadi jangan disesatkan oleh keringkasannya
dari diskusi sebelumnya. Namun demikian, ia berfungsi menyajikan, secara kasar garis besar, peran
nitrogen oksida dalam polusi udara.
Menemukan Mekanisme Reaksi. Sekarang hukum tarif telah disintesis dari data eksperimen, kami akan
mencoba mengusulkan mekanisme yang konsisten dengan persamaan ini. Metode serangan akan seperti
yang diberikan pada Tabel 7-2.
Sona Fatiya R
21030116140098

Gambar 7-2 Jalur Reaksi di Formasi smog


Tabel 7-2 Langkah Untuk Deduasi Hukum Rate
1. Asumsikan intermediet yang diaktifkan.
2. Postulat mekanisme, memanfaatkan hukum laju yang diperoleh dari data eksperimen, jika
memungkinkan.
3. Model setiap reaksi dalam urutan mekanisme sebagai reaksi elementer.
4. Setelah menulis undang-undang tarif untuk tingkat pembentukan produk yang diinginkan dimulai dari
intermediet aktif.
5. Menggunakan PSSH.
6. Hilangkan konsentrasi spesies perantara dalam hukum laju dengan memecahkan simultan persamaan
dikembangkan dalam langkah 4 dan 5.
7. Jika hukum tarif turunan tidak sesuai dengan observasi eksperimental, asumsikan mekanisme baru dan
intermediet dan lanjutkan ke langkah 3. Latar belakang yang kuat dalam kimia organik dan anorganik
membantu dalam memprediksi intermediet yang diaktifkan untuk reaksi yang sedang dipertimbangkan.

7.3 Polimerisasi
Polimer semakin banyak digunakan di masyarakat kita. Lebih dari 100 milyar pon polimer diproduksi
setiap tahun dan diharapkan angka ini akan berlipat ganda di tahun-tahun mendatang sebagai plastik
berkekuatan tinggi dan material komposit mengganti logam dalam mobil dan produk lainnya. Akibatnya,
lapangan rekayasa reaksi polimerisasi akan memiliki tempat yang lebih menonjol dalam profesi teknik
kimia. Karena ada banyak buku di bidang ini (lihat Bacaan Tambahan) maksudnya di sini adalah hanya
memberikan yang paling dasar saja sketsa thumbnail dari beberapa prinsip polimerisasi.
Polimer adalah molekul yang terdiri dari struktur berulang (monomer) unit. Misalnya, polyethylene, yang
digunakan untuk hal-hal seperti tubing, dan insulasi listrik terdiri dari unit-unit ethylene yang berulang

Dimana n mungkin 25.000 atau lebih tinggi.


Polimerisasi adalah proses di mana unit monomer terhubung. Polietilen bersama dengan reaksi kimia
membentuk rantai panjang. Ini adalah rantai panjang itu mengatur pohymers terpisah dari spesies kimia
lainnya dan memberi keunikan.
Rantai polimer dapat linier, bercabang, atau silang (Gambar 7-3).
Sona Fatiya R
21030116140098

Contoh
Polietilen
Softdrinkcups
Sifat-sifat khas tas
sandwich.
Poli (vinil klorida)
Pipes
Tirai mandi
Tubing Tygon
Poli (vinyl acetate)
Mengunyah
permen karet

Gambar 7-3 Type Rantai Polimer

Homopolimer adalah polimer yang terdiri dari unit pengulangan tunggal, seperti [-CH2-CH2- ].
Homopolimer juga dapat dibuat dari dua yang berbeda monomer yang unit strukturalnya membentuk unit
berulang seperti formasi dari poliamida (misalnya, Nylon) dari diamina dan asam.
Reaksi polimerisasi dibagi menjadi dua kelompok yang dikenal sebagai langkah reaksi (juga disebut reaksi
kondensasi) dan reaksi berantai, juga dikenal sebagai reaksi adisi. Reaksi langkah membutuhkan
bifunctional atau polyfunctional monomer, sementara reaksi berantai membutuhkan kehadiran inisiator.

Kopolimer adalah polimer yang terdiri dari dua atau lebih unit berulang. Ada lima kategori dasar kopolimer
yang memiliki dua unit pengulangan yang berbeda Q dan S. Yaitu :

Kategori
dari kopolimer

Contoh masing-masing dapat ditemukan di Young dan Lovell.6

7.3.1 Langkah Polimerisasi

Langkah polimerisasi mensyaratkan bahwa setidaknya ada fungsional reaktif kelompok pada setiap ujung
monomer yang akan bereaksi dengan gugus fungsi dengan monomer lainnya. Misalnya, asam amino-
caproic

memiliki gugus amina di satu ujung dan kelompok karboksil di ujung yang lain. Sebagian umum
gugus fungsi adalah -OH, -COOH, -COCH, -NH2
Sona Fatiya R
21030116140098

Dalam polimerisasi langkah berat molekul biasanya menumpuk perlahan

Untuk kasus yang ditunjukkan di atas unit struktural dan unit pengulangan adalah sama.

Membiarkan A = H, R = NH-R-CO, -CO, dan B = OH, AB = H20. Reaksi diatas dapat tulis sebagai :

Dapat dilihat bahwa dari tetramers diatas, the -mer dapat dibentuk oleh sejumlah berbeda jalur.
Kelompok fungsional A dan B juga dapat berada pada monomer yang berbeda seperti reaksi untuk
pembentukan poliester (kaos) dari diol dan asam dibasic.
Fikri Mudzakir Marasabessy

Halaman 357-361
Halaman 357
Dengan menggunakan diol dan diacid kita dapat membentuk polimer dengan dua struktur yang berbeda unit yang
bersama-sama menjadi unit berulang. Contoh dari ARIA plus Reaksi BR, B adalah yang digunakan untuk
membuat botol Coca-cola @, yaitu asam tereftalat ditambah ethylene glycol untuk membentuk poli (ethylene
glycol terephthalate). Ketika membahas kemajuan langkah polimerisasi itu tidak berarti untuk menggunakan
konversi monomer sebagai ukuran karena reaksi masih akan dilanjutkan meskipun semua monomer telah
dikonsumsi. Misalnya, jika monomer A-R-B telsah dikonsumsi. Polimerisasi masih berlanjut dengan

karena ada kelompok fungsional A dan B yang dapat bereaksi. Karena itu, kami mengukur kemajuan dengan
parameter p yang merupakan fraksi fungsional kelompok, A, B, yang bereaksi. Kami hanya akan
mempertimbangkan reaksi dengan sama pakan molar kelompok fungsional. Pada kasus ini

Sebagai contoh langkah polimerisasi, perhatikan reaksi poliester di mana asam sulfat digunakan sebagai katalis
dalam reaktor batch. Dengan asumsi tingkat penghilangan adalah urutan pertama dalam konsentrasi A, B, dan
katalis (yang konstan untuk katalis yang ditambahkan secara eksternal). Saldo pada A adalah

Untuk pakan molar sama yang kita miliki

Dalam hal konversi fungsional fxactional kelompok, p,

Jumlah rata-rata derajat polimerisasi, x ,,, adalah jumlah rata-rata unit struktural per rantai
Fikri Mudzakir Marasabessy

Halaman 358
Jumlah berat molekul rata-rata, Mn ,, hanyalah molekul rata-rata berat unit struktural Ms, kali jumlah rata-rata
unit struktural per rantai, Xn ,, ditambah berat molekul dari kelompok akhir, Meg

Karena Meg biasanya kecil (1 8 untuk reaksi poliester), itu diabaikan dan

Selain konversi gugus fungsi, derajat polimerisasi, dan jumlah berat molekul rata-rata kita tertarik dalam
distribusi panjang rantai, n, (yaitu berat molekul Mn,).
Example 7-3
Tentukan konsentrasi dan fraksi mol polimer panjang rantai j dalam hal konsentrasi awal ARB, M ,,, konsentrasi
gugus fungsi M yang tidak bereaksi, konstanta propagasi k dan waktu t.
Penyelesaian
Membiarkan P, = A-R-B, P, = A-R2, -B, ... Pj, = A-R, -B dan menghilangkan produk kondensasi air AB untuk
setiap reaksi yang kita miliki

Faktor 2 dalam istilah penghilangan (mis. -R3p3 = 2kP, P,) muncul karena ada dua cara A dan B dapat bereaksi

Tingkat bersih reaksi P,, P2 dan P, untuk reaksi (1) sampai (4) adalah
Fikri Mudzakir Marasabessy

Halaman 359
Jika kita terus dengan cara ini kita akan menemukan bahwa tingkat bersih dari pembentukan PI adalah

Akan tetapi, sigma P adalah total konsentrasi dari A dan B, dengan M = sigma Pj

Demikian pula kita dapat menggeneralisasi reaksi (1) melalui (4) untuk mendapatkan laju bersih pembentukan j-
mer, untuk j? 2

Untuk reaktor batch keseimbangan mol pada PI dan menggunakan Persamaan (7-23) untuk menghilangkan M
memberi

Sehingga

Setelah menemukan P, gunakan rj untuk mencari nilai Pj

Setelah itu, didapatkan persamaan umumnya


Fikri Mudzakir Marasabessy

Halaman 360

Fraksi mol polimer dengan panjang rantai saja

Ini adalah distribusi Flory-Schulz. Kami mendiskusikan distribusi lebih lanjut setelah kami mendiskusikan
reaksi berantai.
7.3.2. Reaksi Ikatan Polimerisasi
Chains (yaitu, penambahan) polimerisasi membutuhkan inisiator (I) dan melanjutkan dengan menambahkan satu
unit berulang pada suatu waktu.

Di sini berat molekul dalam rantai biasanya meningkat dengan cepat begitu rantai dimulai. Pembentukan
polystyrene

adalah contoh polimerisasi rantai. Proses batch untuk menghasilkan polystyrene untuk digunakan
dalam sejumlah benda yang dicetak ditunjukkan pada Gambar 7-4.
Kita dapat dengan mudah memperluas konsep yang dijelaskan di bagian sebelumnya ke reaksi
polimerisasi. Pada bagian ini kami menunjukkan bagaimana undang-undang tarif diformulasikan sehingga
seseorang dapat menggunakan teknik yang dikembangkan dalam Bab 6 untuk beberapa reaksi untuk
menentukan distribusi berat molekul dan properti lainnya. dalam materi yang mengikuti kita fokus pada
polimerisasi radikal bebas
7.3.2.1. Langkah dalam Polimerisasi bebas radical
Langkah-langkah dasar dalam polimerisasi radikal bebas adalah inisiasi, propagasi, transfer rantai, dan terminasi
Fikri Mudzakir Marasabessy

Halaman 361

Inisiasi. Reaksi polimerisasi rantai berbeda karena langkah inisiasi diperlukan untuk memulai pertumbuhan
rantai polimer. Inisiasi dapat dicapai dengan menambahkan sejumlah kecil bahan kimia yang terurai dengan
mudah untuk membentuk r bebas (adikal. Inisiator bisa monofungsional dan membentuk radikal bebas yang
sama:

atau mereka bisa multifungsi dan membentuk radikal yang berbeda. Imitator multifungsi mengandung lebih dari
satu grup labil * [misalnya, 2,5 dimetil-2,5-bis (menjadi: nzoylperoxy) heksana].
Dita Baeti Pridiana 21030116120002

Untuk inisiator monofungsioal urutan reaksi antara monomer M dan inisiator I adalah

Contoh

Propagasi. Urutan propagasi antara radikal bebas R1 dengan unit monomer adalah

Secara umum,

Contoh

Tingkat laju reaksi spesifik kp diasumsikan sama untuk setiap penambahan monomer ke rantai berikutnya. Hal ini
merupakan asumsi ideal untuk tiap dua atau lebih monomer yang ditambahkan ke R dan untuk konversi monomer
yang rendah. Tingkat laju reaksi spesifik k, sering dianggap sama dengan kp.

Transfer Rantai. Pemindahan radikal dari rantai polimer yang sedang tumbuh dapat terjadi dengan cara-cara berikut:
1. Transfer ke monomer

Di rantai live polimer dari unit monomer j memindahkan radikal bebasnya ke monomer untuk membentuk
radikal R dan rantai dead polimer dari unit monomer j.
2. Transfer ke spesies lain
Dita Baeti Pridiana 21030116120002

3. Transfer radikal ke pelarut

Spesies yang terlibat dalam berbagai reaksi transfer rantai seperti CCl3* dan C6H5CH2- semuanya
diasumsikan memiliki reaktivitas yang sama dengan R1. Dengan kata lain, semua Rl yang diproduksi dalam
reaksi transfer rantai dianggap sama. Namun, dalam beberapa kasus transfer rantai berifat tidak reaktif untuk
menyebarkan rantai. Dalam reaksi polimerisasi pemilihan pelarut menjadi hal yang penting. Sebagai contoh,
pelarut mentransfer laju reaksi spesifik k, adalah 10.000 kali lebih besar dalam CCl4 daripada di benzena.
Tingkat laju reaksi spesifik dalam transfer rantai semua dianggap: d harus independen dari panjang rantai.
Tercatat bahwa rasio R sementara yang diproduksi di setiap langkah transfer rantai berbeda, mereka berfungsi
pada dasarnya sama seperti R1 radikal dalam langkah propagasi untuk membentuk radikal R.

Terminasi. Pemutusan untuk membentuk dead polimer terjadi terutama oleh dua mekanisme:
1. Penambahan dari polimer pertumbuhan

2. Terminasi dengan disproporsionasi

Contohnya

Langkah-langkah dalam reaksi polimerisasi radikal bebas dan laju reaksi yang sesuai dirangkum dalam Tabel
7-3. Untuk polimerisasi styrene pada 80°C yang diprakarsai oleh 2,2-azobisisobutyronitrile konstanta laju
reaksinya adalah
k0 1.4 x 10-3 s-1 km 3.2 x 10-2 dm3/mol.s
2 3
kp 4.4 x 10 dm /mol.s ka 1.2 x 108 dm3/mol.s
-3 3
ks 2.9 x 10 dm /mol.s kd 0
Dita Baeti Pridiana 21030116120002

Tabel 7-3

Hukum Kelajuan
Inisiasi:

Propagasi:

Transfer rantai ke:


Monomer:

Spesies lain:

Pelarut:

Terminasi:
Adisi:

Disproposionasi:

Konsentrasi awal yang khas untuk polimerisasi larutan stirena adalah 0,01 M untuk inisiator, 3M untuk
monomer dan 7 M untuk pelarut.

7.3.2.2 Pengembangan Hokum Kelajuan Untuk Total Reaksi

Dimulai dengan mempertimbangkan tingkat pembentukan inisiator radikal Z. Karena pada


pembentukan ini terjadi rekombinasi dari radiasi primer dan hanya fraksi tertentu yang akan
memulai pembentukan rantai polimer.

Karena setiap langkah reaksi diasumsikan bersifat elementer, hukum laju untuk pembentukan inisiator radikal
bebas adalah

dimana f adalah fraksi inisiator radikal bebas yang berhasil dalam memulai pengikatan rantai dan memiliki
nilai kisaran 0,2 hingga 0,7. Hukum untuk pembentukan R, dalam langkah inisiasi adalah

(7-28)
Menggunakan PSSH untuk inisiator radikal bebas, I, maka

(7-29)
Dita Baeti Pridiana 21030116120002

Maka

(7-30)

Laju Inisiasi

Sebelum menulis tingkat hilangnya R perlu membuat beberapa poin. Pertama, radikal R1 dapat
mengalami urutan terminasi berikut dengan adanya adisi.

Terminasi R1, secara umum

Akibatnya, total hilangnya radikal Rl dalam reaksi di atas ditemukan dengan menambahkan radikal R1
dalam setiap reaksi sehingga tingkat penambahan terminasi yaitu

Radikal bebas biasanya memiliki konsentrasi dalam kisaran hingga 10 -6 sampai 10-8 mol / drn3 sehingga
dapat menentukan laju keseluruhan dari hilangnya radikal bebas, R1- [Rl 'l (R1) CR.

(7-31)

Pada umumnya laju kehilangan rantai live polimer dengan unit monomer j (Panjang j) untuk (j > 2) adalah

(7-32)
Dita Baeti Pridiana 21030116120002

Pada titik ini dapat digunakan metode yang dikembangkan di Bab 6 untuk beberapa reaksi yang
mengikuti proses polimerisasi. Namun, dengan menggunakan PSSH, dapat memanipulasi laju reaksi ke
dalam bentuk tertutup untuk sejumlah reaksi polimerisasi.
Pertama, radikal R * dijadikan konsentrasi total radikal Rj:

(7-33)

dan k, menjadi konstanta terminasi, k, = (k, + kd). Selanjutnya dijumlahkan Persamaan (7-32) di atas dari
j = 2 to j = ∞ dan kemudian menambahkan hasilnya ke Persamaan (7-31) untuk mendapatkan

Laju reaksi terminasi adalah

(7-34)

Menggunakan PSSH untuk semua radikal bebas total konsentrasi radikal bebas ialah

(7-35)

kemudian menggunakan hasil ini untuk menentukan laju keseluruhan monomer. Sebagai pendekatan
pertama kita akan mengabaikan monomer yang digunakan untuk transfer rantai monomer. Laju
keseluruhan monomer, -rM, adalah laju inisiator ditambah laju semua radikal Rj di masing-masing langkah
propagasi (rp).
Hendra Harles
21030116130137
Kode tugas: 71
Sekarang kita menggunakan LCA. LCA digunakan saat laju propagasi sangat besar dibandingkan laju
inisiasi:
𝑟𝑝
LCA >1
𝑟𝑖

Subtitusi untuk rp dan ri,maka akan diperoleh


0.5
2𝑘 𝑓(𝐼 )
𝑟𝑝 −𝑘𝑝 𝑀𝑅 𝑘𝑝 ( 0 2 )

𝑘𝑡
= −
𝑟𝑖 −𝑘𝑖 𝑀𝐼 2𝑘 𝑓(𝐼 )
𝑘𝑖 ( 0 2 )
𝑀2𝑘𝑖

𝑀 𝑘𝑝2
= √
𝐼20.5 2𝑘0 𝑓𝑘𝑡

Sehingga, kita dapat melihat bahwa LCA berlaku hanya saat rasio konsentrasi monomer dengan
inisiator dan rasio 𝑘𝑝2 dengan (𝑘0 𝑓𝑘1 ) tinggi.

Asumsi LCA memberikan

Laju
Penggunaan −𝑟𝑀 = 𝑘𝑃 𝑀 ∑∞
𝑗=1 𝑅𝑗 = 𝑘𝑃 𝑀 𝑅

(7-36)

Monomer
Laju penghilangan monomer, −𝑟𝑀 , juga sama denga rasio propagasi, 𝑟𝑃 :

2𝑘0 (𝐼2 )𝑓
𝑟𝑃 = −𝑟𝑀 √ (7-37)
𝑘𝑡

Akhirnya, laju net dari pembentukan polimer yang mati 𝑃𝑗 dengan tambahan:
𝑘=𝑗−1
𝑟𝑝𝑗 = 0.5 𝑘𝑎 ∑𝑘=1 𝑅𝑘 𝑅𝑗−𝑘 (7-38)

Laju pembentukan semua polimer mati


𝑚
Laju
𝑟𝑝 = ∑ 𝑟𝑝𝑗
Pembentukan 𝑗=1

Polimer 𝑟𝑝 = 0.5 𝑘𝑎 (𝑅∗ )2

Mati

7.3.3 PERMODELAN REAKTOR POLIMERISASI BATCH


pada bagian ini kita akan menentukan monomer sebagai fungsi waktu dalam reactor batch.
Keseimbangan monomer pada LCA adalah

Keseimbangan 𝑑𝑀 2𝑘0 (𝐼2 )𝑓


− = 𝑘𝑝 𝑀 ∑ 𝑅𝑗 = 𝑘𝑝 𝑀𝑅 ∗ = 𝑘𝑝 𝑀√ (7-39)
𝑑𝑡 𝑘𝑡
Monomer
Keseimbangan inisiator 𝐼2 memberikan
𝑑𝐼2
− = 𝑘0 𝐼2
Keseimbangan Inisiator 𝑑𝑡
Intergrasikan dan menggunakan kondisi awal 𝐼2 = 𝐼20 saat t=0, kita mendapatkan persamaan
profile konsentrasi inisiator:
𝐼2 = 𝐼20 exp(−𝑘0 𝑡) (7-40)
Subtitusi konsentrasi inisiator pada persamaan (7-39), maka kita mendapatkan
1
𝑑𝑀 2𝑘 𝐼 𝑓 2 𝑘
= −𝑘𝑝 𝑀 ( 0 20 ) exp(− 0 𝑡) (7-41)
𝑑𝑡 𝑘𝑡 2

Integrase persamaan (7-41) memberikan


Hendra Harles
21030116130137
Kode tugas: 71
2 𝑓𝐼 1/2
𝑀 8𝑘𝑝 20 𝑘0 𝑡
𝑙𝑛 =( ) [exp(− ) (7-42)
𝑀0 𝑘0 𝑘𝑡 2

Saat penting saat t mendekati tak hingga, aka nada beberapa monomer yang tidak bereaksi.
Kenapa?
Plot konsentrasi monomer ditunjukkan sebagai fungsi waktu di gambar 7-5 untuk konsentrasi
inisiator yang berbeda-beda.
Konversi monomer monofungsional adalah
𝑀0 − 𝑀
𝑋=
𝑀0
Kita lihat pada gambar 7-5 bahwa saat konsentrasi inisiator 0.001 M, konsentrasi monomer
dimulai pada 3 M dan turun pada konsentrasi 0.6 M, sesuai dengan konversi maksimum 80%.
Sekarang kita dapat menentukan fungsi konsentrasi monomer sebagai fungsi waktu, kita akan
focus dalam menentukan distribusi polimer mati, P,. konsentrasi polimer mati dan distribusi massa
molecular dan berubah ubah. Probabilitas propagasi adalah

Gambar 7-5 konsentrasi monomer sebagai fungsi waktu,


𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑝𝑟𝑜𝑝𝑎𝑔𝑎𝑠𝑖 𝑟𝑝
𝛽= =
𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑝𝑟𝑜𝑝𝑎𝑔𝑎𝑠𝑖 + 𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑟𝑝 + 𝑟𝑡
𝑘, 𝑀𝑅 ∗
𝛽=
𝑘𝑝 𝑀𝑅 ∗ + 𝑘𝑠 𝑆𝑅 ∗ + 𝑘𝑚 𝑀𝑅∗ + 𝑘𝑐 𝐶𝑅 ∗ + 𝑘𝑡 (𝑅 ∗ )2

Disederhanakan menjadi
𝑘, 𝑀
𝛽= (7-43)
𝑘𝑝 𝑀+𝑘𝑠 𝑆+𝑘𝑚 𝑀+𝑘𝑐 𝐶+√2𝑘𝑡 𝑘0 𝑓(𝐼2 )

Saat tidak ada transfer rantai, konsnetrasi monomer, 𝑀1 dapat ditentukan dari persamaan (7-43)
dan konsentrasi inisiator, 𝐼2 , dari persamaan (7-40). Sehingga kita mendapatkan β sebagai fungsi
waktu. Sekarang kita buat
β =p
untuk digunakan dalam distribusi flory.
Dapat terlihat bahwa saat tidak ada terminasi dan kombinasi, mol: fraksi yf, dan fraksi massa
wf bernilai sama seperti saat tahap polimerisasi. Sehingga dapat ditentukan bahwa konsentrasi
polimer mati dan distribusi massa polimer mati dalam polimerisasi radikal bbebas untuk distribusi
flory. Sebagai contoh, konsentrasi polimer mati untuk panjang rantai n adalah
∞ ∞

𝑃𝑛 = 𝑦𝑛 (∑ 𝑃𝑗 ) = (∑ 𝑃𝑗 )(1 − 𝑝)𝑝𝑛−1
𝑗=2 𝑗=2

Dimana (∑∞
𝑛=2 𝑃𝑛 ) adlah total konsentrasi polimer mati dan
Hendra Harles
21030116130137
Kode tugas: 71
𝑦𝑛 = (1 − 𝑝)𝑝𝑛−1 (7-27)
Dimana sama seperti fraksi mol didapat dari tahap polimerisasi,menggunakan persamaan (7-27).

Jika terminasi hanya oleh disproporsionasi, polimer mati 𝑃𝑗 akan memiliki distribusi yang sama
seperti polimer hidup 𝑅𝑗 .

Kita akan membahas penggunaan persamaan flory setelah kita membahas distribusi massa.

7.3.4 Distribusi massa molekul


Walaupun kebutuhan untuk mengetahui konsentrasi monomer sebagai fungsi waktu (gambar
7-5), konsentrasi polimer, massa molekul rata rata, dan distribusi panjang rantai memberikan
polimer sifat unik. Sehingga untuk mencapai hal seperti panjang rantai rata rata polimer, kita perlu
menentukan distribusi massa molekul radikal, (polimer hidup) R,, dan selanjutnya polimer mati Pj
begitupula distribusi massa molekul. Sehingga kita perlu memperhitungkan parameter berikut.
Tipikal distribusi panjang rantai untuk semua Pj (j=1 sampai j=n) ditunjukkan pada gambar 7-6.
Jel permiasi kromatografi biasanya digunakan untuk menentukan distribusi massa molekul. Kita
sekarang akan mencari beberapa sifat dari distribusi ini. Jika y-axis adalah= total konsentrasi
polimer (∑ 𝑃𝑗 ), axis tersebut menjadi fraksi mol polimer dengan j sebagai jumlah pengulangan.

5000 10000 15000


Gambar 7-6 distribusi konsentrasi polimer mati dengan panjang j.
Sifat penyebaran. Dari penyebaran berat molekul polimer, beberapa parameter satu dapat
digunakan untuk menentukan distribusi seperti gambar 7-6 dan hubungannya dijelaskan seperti
dibawah.
1. Saat penyebaran

𝜆𝑛 = ∑ 𝑗 𝑛 𝑃𝑗
𝑛=1
Hendra Harles
21030116130137
Kode tugas: 71
2. Momen awal hanya konsentrasi polimer total
𝑚

ℎ, = ∑ 𝑃𝑗 = 𝑝
𝑗=1

3. Momen pertama berhubungan dengan jumlah total unit monomer(seperti massa)


𝜆1 = ∑ 𝑗 𝑃𝑗
𝑛=1

4. Momen pertama dibagi oleh momen awal menghasilkan panjang rantai rata-rata (NACL), µ𝑛 :
𝜆1 ∑ 𝑗𝑃𝑗
NACL = µ𝑛 = = ∑ 𝑃𝑗
𝜆0

Untuk polimerisasi, NACL juga terkadang disebut derajat polimerisasi. Jumlah rata rata unit
struktur per rantai dapat dihitung dari .
µ𝑛 = 𝑋𝑛 =
1−𝐷

5. Berat molekul rata-rata


𝑀𝑛 = µ𝑛 𝑀𝑠

Dimana 𝑀𝑠 adalah berat molekul rata rata dari unit structural. Dalam polimerisasi rantai, berat
molekul rata raya dari unit structural adalah berat molekul monomernya, 𝑀𝑀 .

6. Momen kedua memberikan tekanan ke rantai yang lebih panjang


𝜆2 = ∑ 𝑗 2 𝑃𝑗
𝑗=1

7. Massa per unit volume dari setiap polimer hanya 𝑀𝑠 𝑗𝑃𝑗 , massa panjang rata rata rantai adalah
rasio momen dua dengan momen pertama:
𝜆2 ∑ 𝑗 2 𝑃𝑗
𝑊𝐴𝐶𝐿 = = µ𝑊 =
𝜆1 ∑ 𝑗 𝑃𝑗
Shelyn Patricia

8. Jumlah rata-rata berat molekul adalah


̅ =M
M ̅ s μw (7-51)
9. Jumlah rata-rata varian adalah
λ2 λ 2
σ2n = − ( 1) (7-52)
λ0 λ0

10. Indeks polidispersity (D)


μw λ0 λ2
D= = 2 (7-53)
μn λ1

Ketika nilai indeks polidispersity satu menandakan bahwa panjang semua polimer sama dan
ketika nilainya polidisperitynya 3 menandakan ada distribusi ukuran polimer yang luas. Nilai
polidispersity polimer berkisar atara 2-10.

Example 7-4 Parameter polimer distribusi


Polimer difraksinasi dengan enam fraksinasi :
Berat
Fraksi Fraksi mol
Molekul
1 10,000 0.1
2 15,000 0.2
3 20,000 0.4
4 25,000 0.15
5 30,000 0.1
6 35,000 0.05

Berat molekul monomernya 25 Dalton.


Hitung NACL, WACL, nomer variasi, dan polidispersitynya,

Solusi
MW J400 Y jy 𝜌y
10,000 400 0.1 40 16,000
15,000 600 0.2 120 17,000
20,000 800 0.4 320 256,000
25,000 1000 0.15 150 150,000
30,000 1200 0.1 120 144,000
35,000 1600 0.05 70 98,000
820 736,000

Nomer panjang rantai rata-rata, Persamaan (7-74), dapat dijabarkan kembali seperti
∑ jPj Pj
NACL = ∑ Pj
= ∑j∑ = ∑ jyj (E7-4.1)
Pj

= μw = 820 unit structural (monomer)


Rata-rata berat molekulnya adalah
̅ n = μn Mm = a20 ×25 = 20,500
M
Mengingat kembali Persamaan (7-50), dan menjabarkannya, kita dapat
Shelyn Patricia

∑ j2 Pj ∑ 𝑗 2 (𝑃𝑗/ ∑ Pj )
WACL = ∑ Pj
= ∑ j(𝑃𝑗 / ∑ Pj )
(E7-4.2)

∑ j2 Pj 73,600
= ∑ Pj
= = 897,5 unit monomer
820

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎-rata molekul adalah


̅ w = μw Mm = 25 × 897.5 = 22,434
M
Varian
λ2 λ 2
σ2n = − ( 1 ) = 736,000 − (820)2
λ0 λ0

= 63,600
σ𝑛 = 252,2 (E7-4.3)
Indeks polidispersity D adalah
̅w
M 22,439
D= ̅n
= = 1.09 (E7-4.4)
M 20,500

Statistik Flory distribusi berat molekul. Penyelesaian untuk set komplit ( j=1 sampai j=10,000 ) dari
persamaan diferensial biasa nonlinear untuk menghitung distribusi berat molekul dibutuhkan usaha
yang besar sekalipun menggunakan computer cepat. Namun, kita dapat menggunakan teori
probabilitas untuk memperkirakan. Teori ini dikembangkan oleh pemenang Nobel Paul Flory. Kami
telah menerangkan langkah polimerisasi dan polimerisasi radikal bebas di mana terminasi adalah
disproporsi fraksi mol polimer dengan panjang rantai j adalah
𝑦𝑗 = (1 − 𝑃)𝑝 𝑗−1 (7-27)
Penentuan konsentrasi polimer
𝑃𝑗 = 𝑦𝑗 M = 𝑀𝑜 (1 − 𝑃)2 𝑝 𝑗−1 (7-54)
Jumlah rata-rata berat molekul

̅ n = ∑∞
M ∞ ̅
𝑗=1 𝑦𝑖 𝑀𝑗 = ∑𝑗=1 𝑦𝑖 𝑗𝑀𝑠

1
̅𝑠 (1 − 𝑃) ∑∞
𝑀 𝑗=1 𝑗𝑃
𝑗−1 ̅𝑠 (1 − 𝑃)
= 𝑀
(1−𝑃)2

dan kita melihat bahwa jumlah berat molekul rata-rata identik dengan Persamaan (7-26)
1
̅n = ̅
M ̅s
Xn M
(1 − 𝑃)
Fraksi berat polimer rantai panjang j adalah

𝑃𝑗 𝑀𝑗 ̅𝑠
𝑃𝑗 𝑗𝑀 𝑗𝑃𝑗
wj = = = ∞
∑∞
𝑗=1 𝑦𝑖 𝑀𝑗
̅ ∑ ∞
𝑀𝑠 𝑗=1 𝑗𝑃𝑗 ∑ 𝑗=1 𝑗𝑃𝑗

𝑗(1 − 𝑃)2 𝑝 𝑗−1


wj = ∞
(1 − 𝑃)2 ∑
⏟𝑗=1 𝑗𝑃
𝑗−1

1
(1−𝑃)2

wj = 𝑗(1 − 𝑃)2 𝑝 𝑗−1 (7-56)


Fraksi berat ditunjukkan pada Gambar 7-7 sebagai fungsi dari panjang rantai. Berat rata-rata berat
molekul adalah
∞ ∞
̅ w = ∑ 𝑤𝑗 𝑀𝑗 = 𝑀
M ̅𝑠 ∑ 𝑗𝑤𝑗 =
𝑗=1 𝑗=1

(1 + 𝑃)
̅w = 𝑀
M ̅𝑠
(1 − 𝑃)
Persamaan ini juga akan berlaku untuk polimer ARIA dan BR2B jika monomer masuk dalam bagian
stoikiometri. Persamaan (7-54) hingga (7-56) juga dapat digunakan untuk memperoleh distribusi
konsentrasi dan berat molekul untuk reaksi radikal di mana terminasi terjadi dengan transfer rantai atau
dengan proporsionasi jika disebabkan p digunakan Persamaan (7-43). Namun, persamaan tersebut
tidak dapat digunakan untuk terminasi oleh kombinasi. Gambar 7-7 membandingkan distribusi berat
molekul untuk poli (hexame- thylene adipamide) yang dihitung dari distribusi Flory yang paling
memungkinkan.
Shelyn Patricia

Gambar 7-7 Distribusi Molekul. [Dikutip dari G.Tayler, Journal of the American Chemical Society,
69, p. 638, 1947. Dicetak ulang dengan izin.]

[Equation (7-56)] untuk konversi 99% dengan nilai eksperimental yang diperoleh dengan fraksinasi.
Satu mengamati bahwa perbandingan itu cukup menguntungkan. Untuk terminasi dengan kombinasi,
fraksi mol polimer dengan unit pengulangan adalah
𝑦𝑗 = (𝑗 − 1)(1 − 𝑃)2 𝑝 𝑗−2 (7-57)
sedangkan fraksi berat yang sesuai adalah
1
𝑤𝑗 = 𝑗(1 − 𝑃)3 (𝑗 − 1)𝑝 𝑗−2 (7-58)
2

dimana P ditunjukan oleh persamaan (7-43) [i.e., p = p].

7.3.5 Polimeriasi Anionik


Untuk mengilustrasikan perkembangan pertumbuhan rantai polimer hidup dengan waktu,
kita akan menggunakan polimerisasi anionik. Dalam polimerisasi anionik, inisiasi terjadi dengan
penambahan anion, yang dibentuk oleh pemisahan basa kuat seperti hidroksida, alkyllithium atau
alkoxides yang bereaksi dengan monomer untuk membentuk pusat aktif, Ri. Disosiasi inisiator sangat
cepat dan pada dasarnya berada pada ekuilibrium. Propagasi berlangsung dengan penambahan unit
monomer ke ujung rantai dengan muatan negatif. Karena ujung yang hidup dari polimer bermuatan
negatif, terminasi dapat terjadi hanya dengan transfer muatan baik ke monomer atau pelarut atau
dengan penambahan zat penetral ke larutan. Biarkan k; = R, dan urutan reaksi untuk polimerisasi
anionik menjadi
K1
A+B A- + B+
K2
Inisiasi
kp
A- + M R1

kp
R1 + M R2
Propagasi Kp
Rj + M Rj+1

transfer rantai ke pelarut Kis


Rj + S Pj + S-

transfer ke monomer Kim


Perhitungan Batch Reaktor Rj + M Pj + R1

Penggabungan yang sesuai dengan kesetimbangan mol dengan reaktor batch dengan hokum laju
adalah: untuk inisiator:
𝑑𝐴 −
= 𝑘𝑖 𝐴𝐵 − 𝑘−𝑖 𝐴− 𝐵 + − 𝑘𝑝 𝐴− 𝑀
𝑑𝑡
Shelyn Patricia

Untuk polimer hidup


𝑑𝑅1
= 𝑘𝑝 𝐴− 𝑀-𝑘𝑝 𝑅𝑖 𝑀 + 𝑘𝑡𝑚 𝑀 ∑∞
𝑗=1 𝑅𝑗
𝑑𝑡
𝑑𝑅𝑗
= 𝑘𝑝 (𝑅𝑗−1 − 𝑅𝑗 )𝑀 − 𝑘𝑡𝑠 𝑆𝑅𝑗 − 𝑘𝑡𝑚 𝑀𝑅𝑗
𝑑𝑡

Untuk polimer mati


𝑑𝑃𝑗
= 𝑘𝑡𝑠 𝑆𝑅𝑗 +𝑘𝑡𝑚 𝑀𝑅𝑗
𝑑𝑡
Secara teori hal ini dapat dipecahkan, dengan gabungan persamaan diferensial. Namun, proses ini
sangat menjemukan dan hampir tidak dapat diatasi jika seseorang menjalankannya untuk bobot
molekul puluhan ribu Dalton, bahkan dengan komputer tercepatpun. Untungnya, untuk beberapa reaksi
polimerisasi ada jalan keluar dari masalah ini.

Beberapa Aproksimasi. Untuk menyelesaikan rangkaian ODES yang digabungkan ini kita perlu
membuat beberapa perkiraan, ada sejumlah perkiraan yang dapat dibuat, tetapi kita akan membuat
beberapa perkiraan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan solusi yang menjelaskan tentang
bagaimana rantai polimerisasi hidup tumbuh dan rantai polimer mati terbentuk. Pertama Kami
mengabaikan istilah terminasi (k6SRj dan kmRjA4) sehubungan dengan istilah propagasi dalam
kesetimbangan mol. Asumsi ini adalah yang terbaik selama konsentrasi monomer tetap lebih besar dari
pada konsentrasi polimer hidup. Untuk poin ini ada beberapa asumsi yang bisa kita buat. Kita dapat
mengasumsikan bahwa inisiator (I = A-) bereaksi perlahan untuk membentuk R, (seperti yang terjadi
pada Soal P7-22).
Dedi Situmorang

k1
I+M R1
𝒅𝑹𝟏
Insiasi = k0MI-kp R1 M
𝒅𝒕

Asumsi lain adalah bahwa tingkat pembentukan R, dari inisiator adalah seketika dan pada saat t = 0 konsentrasi
awal polimer aktif adalah Rlo = Io. Asumsi ini sangat masuk akal untuk mekanisme inisiasi ini. Di bawah
asumsi terakhir, keseimbangan mol menjadi.
𝒅𝑹𝟏
Propagasi = -kpMR1 (7-59)
𝒅𝒕

𝒅𝑹𝟐
= kpM(R2-R1) (7-60)
𝒅𝒕

.
𝒅𝑹𝒋
= kp (Rj-1-Rj)M (7-61)
𝒅𝒕

Untuk polimer aktif dengan rantai panjang terbesar yang akan ada, keseimbangan mol adalah
𝒅𝑹𝒏
= kp MRn-1 (7-62)
𝒅𝒕

Jika kita menjumlahkan Persamaan (7-59) hingga (7-62), kita memperoleh bahwa

𝒅𝑹𝒋 𝒅𝑹∗
∑𝒏𝒋=𝟏 = =0
𝒅𝒕 𝒅𝒕

Akibatnya, kita melihat konsentrasi polimer aktif bebas total adalah konstan pada

R*=RI0=I0

Ada sejumlah teknik berbeda yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ini, seperti
penggunaan transformasi Laplace, fungsi pembangkit, metode statistik, dan teknik numerik dan analitik. Kita
dapat memperoleh solusi analitis dengan menggunakan transformasi berikut, Misalkan

d𝜃= kp M dt (7-63)

Kemudian Persamaan (7-59) menjadi


𝑑𝑅1
= -R1 (7-64)
𝑑𝜃

Menggunakan kondisi awal ketika t = 0, kemudian 𝜃=0 dan R1=RI0=I,. Persamaan (7-64) dapat diselesaikan ke
dalam bentuk

R, = I0 𝑒 −𝜃 (7-65)

Selanjutnya kita mengubah Persamaan (7-60) menjadi


𝑑𝑅2
=R1–R2
𝑑𝜃

dan kemudian substitusikan R1:


𝑑𝑅2
+ R2 = I0 𝑒 −𝜃
𝑑𝜃
Dedi Situmorang

Dengan bantuan faktor integrasi, 𝑒 −𝜃 bersama dengan kondisi awal bahwa pada saat t=0, 𝜃=0, R2 = 0 , kita
dapatkan

R2 = I0 (𝜃 𝑒 −𝜃 )

Dengan cara yang sama


𝜃2
R3= I0 ( 𝑒 −𝜃 )
2.1

𝜃3
R4 = I0 ( 𝑒 −𝜃 )
3.2.1

Secara umum,

𝜃 𝑗−𝑖
Konsentrasi polimer aktif Rj = I0 ((𝑗−𝑖)! 𝑒 −𝜃 ) (7-66)
dari panjang rantai j

Konsentrasi polimer hidup ditunjukkan sebagai fungsi waktu dan panjang rantai dan waktu pada Gambar 7-8
dan 7-9, masing-masing.

Polimerisasi
anionik

Gambar 7-8 Konsentrasi polimer aktif sebagai fungsi waktu yang diperkecil.

Gambar 7-9 Konsentrasi polimer aktif sebagai fungsi rantai panjang pada waktu yang berbeda.
Dedi Situmorang

Mengabaikan laju transfer rantai ke monomer sehubungan dengan laju propagasi, keseimbangan
mol pada monomer memberikan

dM- pM ∑ 𝑅 i = -kpMR10=-kpMI0 (7-67)

Mengetahui konsentrasi monomer awal, Mo, kita dapat memecahkan konsentrasi monomer setiap saat:

M= MO 𝑒 −𝐼0 𝑘𝑝 𝑡 (7-68)

Kita juga dapat mengevaluasi skala waktu 0:


𝑡 𝑡 𝑀𝑜 𝑘𝑝
𝜃 = ∫0 𝑘p M dt = M0 kp ∫0 𝑒 𝑥𝑝(-I0 kp t dt) = + 𝑒 (−𝐼0 𝑘𝑝 𝑡)
Hubungan antara waktu 𝑘𝑝 𝐼0
yang diperkecil, 0, dan 𝑀0
waktu nyata t 𝜃= (1-𝑒 (−𝑡0 𝑘𝑝 𝑡 ) (7-69)
𝐼0

Satu sekarang dapat menggantikan Persamaan (7-69) ke dalam Persamaan (7-66) untuk menentukan konsentrasi
polimer aktif setiap saat t.

Untuk polimerisasi anionik, terminasi dapat terjadi dengan menetralisir polimer aktif R J ke PJ.

Contoh 7-5 Menghitung Parameter Distribusi dari Ekspresi Analitis untuk Polimerisasi Anionik

Hitunglah 𝜇 m , 𝜇 n dan D untuk rantai polimer aktif

Penyelesaian

𝜃 𝑗−𝑖
Rj = I0 ((𝑗−𝑖)! 𝑒 −𝜃 ) (7-66)

Kita ingat bahwa momen nol hanyalah konsentrasi radikal total:

𝜆 0 = ∑∞
𝑗−1 𝑅 J = I0 (E7-5.1)

Saat pertama adalah

𝜃 𝑗−𝑖
𝜆 1 = ∑𝑚 𝑚
𝑗−1 𝑅 J = I0 ∑𝑗−1 ((𝑗−𝑖)! 𝑒
−𝜃
) (E7-5.2)

Misalkan k = j-1

𝜃𝑘
𝜆1 = I0 (k+1) ∑𝑚
𝑘=0 ((𝑘)! 𝑒
−𝜃
) (E7-5.3)

Memperluas (k + 1) memberi istilah

𝜃𝑘 𝑘 𝜃𝑘
𝜆1 = I0 (∑∞
𝑘=0 (𝑘)!
𝑒 −𝜃 + ∑∞
𝑘=0 (𝑘)!
𝑒 −𝜃 ) (E7-5.4)

Ingat bahwa

𝜃𝑘
∑∞
𝑘=0 = 𝑒 +𝜃 (E7-5.5)
(𝑘)!

Karena itu,

𝜃𝑘
𝜆1 = I0 (1 + ∑∞
𝑘=0 (𝑘)!
𝑒 −𝜃 (E7-5.6)

Misalkan l=k-1

𝜃𝑙
𝜆1 = I0 (1 + ∑∞
𝑘=0 (𝑙)!
𝑒 −𝜃 𝜃 = 𝜆1 = I0 (1 + 𝑒 −𝜃 𝜃 𝑒 𝜃 ) (E7-5.7)

Momen pertama adalah


Dedi Situmorang

𝜆1 = I0 (1 + 𝜃) (E7-5.8)

Jumlah rata-rata panjang dari radikal polimer yang sedang tumbuh (yaitu, polimer hidup) adalah
𝜆1
𝜇n = = 1+𝜃 (E7-5.9)
𝜆0

𝜃 𝑗−𝑖
𝜆1 = I0 (∑𝑚 2 ∞ 2
𝑗=0 𝑗 Rj = I0 ∑𝑗=0 ((𝑗−𝑖)! 𝑗 ) (E7-5.10)

Mengingat bahwa j = 0 istilah dalam penjumlahan adalah nol dan setelah mengubah indeks penjumlahan dan
beberapa manipulasi, kita mendapatkan

𝜆2 = I0 (1+ 3𝜃 + 𝜃2) (E7-5.11)


𝜆1 1+ 3𝜃 + 𝜃2
𝜇n = = (E7-5.12)
𝜆0 1+ 𝜃

𝜇𝑤 1+ 3𝜃 + 𝜃2
D= = (E7-5.13)
𝜇𝑛 (1+ 𝜃)2

Plot 𝜇 n dan 𝜇 w bersama dengan polidispersitas, D, ditunjukkan pada Gambar E7-5.1.

Gambar E7-5.1 Momen-momen panjang rantai polimer aktif: (a) panjang rantai nomor rata-rata; (b) panjang
rantai rata-rata berat; (c) polidispersitas.

Kami mencatat dari Persamaan (7-69) bahwa setelah waktu yang lama, nilai maksimum 𝜃, 𝜃M ,akan tercapai:
𝑀0
𝜃M =
𝐼0

Distribusi spesies polimer aktif untuk polimerisasi anionik yang dikeluarkan dalam CSTR dikembangkan dalam
Soal P7-19.
Agus Setiawan Marbun

Contoh 7-6. Penentuan Distribusi Dead Polymer Ketika Transfer ke Monomer dengan
Mekanisme Pemutusan Utama.
Tentukan persamaan untuk konsentrasi polimer sebagai fungsi waktu yang diperkecil. Setelah
kita memiliki konsentrasi live polymer sebagai fungsi waktu, kita dapat menentukan
konsentrasi dead polymer sebagai fungsi waktu. Jika transfer ke monomer adalah mekanisme
utama untuk penghentian,

Keseimbangan “dead” dari rantai polimer j adalah,


(E7-6.1)

Sebagai pendekatan pertama, kami mengabaikan laju transfer ke ‘’dead’’polimer dari


“live”polimer dengan memperhatikan laju propagasi :

sehingga solusi analitik yang diperoleh dalam Persamaan (7-65) dapat digunakan. Kemudian
(E7-6.2)

Mengintegrasikan, kita mendapatkan konsentrasi “dead” polimer sebagai fungsi skala waktu
dari Tabel Integral Matematika CRC nomor 521:

(E7-6.3)
Seperti yang kita tahu bahwa skala waktu dapat dihitung dari

Dalam banyak contoh, terminasi polimerisasi anionik terjadi dengan menambahkan basa untuk
menetralkan ujung propagasi rantai polimer.

Definisi Lain, Panjang rantai kinetik rata-rata, VN, adalahrasio laju laju propagasi ke tingkat
penghentian
(7-70)
Paling sering, PSSH digunakan saat rt = ri,
Agus Setiawan Marbun

Pendekatan rantai panjang digunakan ketika harga VN besar.


Untuk polimerisasi radikal bebas di mana terminasi adalah dengan transfer ke molomer
atau agen transfer rantai dan dengan penambahan, panjang rantai kinetik adalah

(7-71)

Untuk penghentian oleh kombinasi

dan untuk penghentian oleh disproporsi

Contoh-contoh yang akan memperkuat dan memperluas prinsip-prinsip yang dibahas


dalam bagian ini dapat ditemukan di Holland dan Anthony,12 dan pembaca didorong untuk
mengkonsultasikan teks ini sebagai langkah selanjutnya dalam mempelajari rekayasa reaksi
polimer.

7.4 Fundamental Reaksi Enzymatic


7.4.1 Definis dan Mekanisme
Reaksi lain di mana PSSH digunakan adalah reaksi enzimatik katalis, yang merupakan
karakteristik sebagian besar reaksi biologis. Enzim, E, adalah protein atau zat yang mirip
protein dengan sifat katalitik. Substrat, S, adalah substansi yang secara kimia berubah pada
tingkat yang dipercepat karena aksi enzim di atasnya. Suatu, sifat penting dari enzim adalah
bahwa mereka spesifik dalam satu enzim yang dapat mengkatalisasi hanya satu reaksi. Sebagai
contoh, protease menghidrolisis hanya ikatan spesifik antara asam amino spesifik dalam
protein, amilase bekerja pada ikatan antara molekul glukosa dalam pati, dan lemak serangan
liptase, menurunkannya menjadi asam lemak dan gliserol. Akibatnya, produk yang tidak
diinginkan mudah dikendalikan. Enzim hanya diproduksi oleh organisme hidup, dan enzim
komersial umumnya diproduksi oleh bakteri. Enzim biasanya bekerja (yaitu, mengkatalisis
reaksi) dalam kondisi ringan: pH 4 hingga 9 dan suhu 75o hingga 160 ° F.
Gambar 7-10 menunjukkan skema enzim chymotrypsin. Dalam banyak kasus, situs
katalitik aktif enzim ditemukan di mana berbagai loop berinteraksi. Untuk chymotrypsin situs
katalitik dicatat oleh angka 57, 102, dan 195 pada Gambar 7-10. Sejumlah struktur enzim atau
informasi terkait dapat ditemukan di situs WWW berikut:
http://expasy.hcuge.ch/sprot/enzyme. html
http://www.wcslc.edu/pers_pages/w-pool/chem35O/chap6
Situs diatas juga memberi informasi tentang reaksi enzimatik secara umum.
Agus Setiawan Marbun

Chymotrypsin
Sebagian besar enzim dinamai berdasarkan reaksi yang dikatalisasi. Merupakan
praktik kebiasaan untuk menambahkan kasus akhiran ke bagian utama dari nama substrat
tempat enzim bekerja. Sebagai contoh, enzim yang mengkatalisis dekomposisi urea adalah
urease dan enzim yang menyerang tyrosine adalah tyrosinase.
Ada tiga jenis utama reaksi enzim:
I. Substrat yang larut dalam enzim yang tidak larut
II. Substrat larut dalam enzim yang tidak larut
III. Substrat larut dalam enzim terlarut
Contoh reaksi tipe I adalah penggunaan enzim seperti protease atau amilase dalam
detergen pencuci; Namun, reaksi enzim ini telah menyebabkan beberapa kontroversi dalam
kaitannya dengan pencemaran air. Sekali dalam larutan, enzim yang larut dapat mencerna
(yaitu, memecah) substrat yang tidak larut seperti noda darah.
Upaya penelitian besar saat ini sedang diarahkan pada reaksi tipe II. Dengan
melampirkan gugus enzim aktif ke permukaan padat, unit pemrosesan kontinu yang mirip
dengan reaktor katridis pembungkus yang dibahas dalam Bab 10 dapat dikembangkan.
Jelas, aktivitas terbesar dalam studi enzim adalah dalam kaitannya dengan reaksi
biologis, karena hampir setiap reaksi sintetik dan degradasi di semua sel hidup telah terbukti
dikendalikan dan dikatalisis oleh enzim spesifik.13 Banyak dari reaksi ini homogen dalam fase
cair; yaitu, reaksi tipe III (substrat larut-larut enzim). Dalam presentasi singkat berikut ini kami
membatasi diskusi kami dengan reaksi tipe III, meskipun persamaan yang dihasilkan telah
ditemukan berlaku untuk reaksi tipe I dan tipe II dalam kasus-kasus tertentu.
Dalam mengembangkan beberapa prinsip dasar dari kinetika reaksi enzim, kita akan
membahas reaksi enzimatik yang telah disarankan oleh Levine dan LaCourse sebagai bagian
Agus Setiawan Marbun

dari sistem yang akan mengurangi ukuran ginjal buatan.14 Hasil yang diinginkan adalah
produksi ginjal buatan yang dapat dipakai oleh pasien dan akan menggabungkan unit yang
dapat diganti untuk eliminasi produk limbah nitrogen seperti asam urat dan kreatinin. Dalam
skema mikroenkapsulasi yang diajukan oleh Levine dan LaComse, enzim urease akan
digunakan dalam penghilangan urea dari aliran darah. Di sini, aksi katalitik dari urease akan
menyebabkan urea terurai menjadi amonia dan karbon dioksida. Mekanisme reaksi dilanjutkan
oleh urutan reaksi dasar berikut:

1. Enzim urease bereaksi dengan substrat urea untuk membentuk kompleks enzim-
substrat,E- S:
(7-72)
2. Kompleks ini dapat terurai kembali menjadi urea dan urease:

(7-73)

3. Atau dapat bereaksi dengan air untuk menghasilkan amonia, karbon dioksida, dan
urease:

(7-74)

Kami melihat bahwa beberapa enzim yang ditambahkan ke larutan mengikat urea, dan
beberapa tetap tidak terikat. Meskipun kita dapat dengan mudah mengukur konsentrasi total
enzim, (Et), sulit untuk mengukur konsentrasi enzim bebas, (E).
Membiarkan E, S, W, ES, dan P mewakili enzim, substrat, air, kompleks enzim-
substrat, dan produk reaksi, masing-masing, kita dapat menulis Reaksi (7-72), (7-73), dan ( 7-
74) secara simbolis dalam bentuk
(7-75)
(7-76)
(7-77)
Disini P = 2NH3 + CO2

Tingkat hilangnya substrat, -rs, adalah


(7-78)
Tingkat bersih pembentukan kompleks enzim-substrat adalah
(7-79)
Agus Setiawan Marbun

Kami mencatat dari urutan reaksi bahwa enzim tidak dikonsumsi oleh reaksi. Konsentrasi
total enzim dalam sistem, (Et), adalah konstan dan sama dengan jumlah konsentrasi enzim E
yang bebas atau tak terikat dan kompleks enzim-substrat E * S:
(7-80)
Menata ulang Persamaan (7-80), konsentrasi enzim menjadi
(7-81)
Mensubstitusi Persamaan (7-81) ke dalam Persamaan (7-79) dan menggunakan PSSH untuk
memberi kompleks enzim
(7-82)
Memecahkan untuk hasil (E * S)
(7-83)

Selanjutnya, gantikan Persamaan (7-81) menjadi hasil Persamaan (7-78)


(7-84)
Menguraikan Persamaan (7-82) dari Persamaan (7-84), kita dapatkan
(7-85)
Substitusi untuk (E-S) memberi kita

(7-86)
Catatan: Sepanjang, E, = (E,) = konsentrasi total enzim dengan unit-unit khas (kmol / m3)

7.4.2 Persamaan Michaelis-Menten


Karena reaksi urea dan urease dilakukan dalam larutan encer, tentu saja airnya
berlebihan, dan karenanya konsentrasi air dianggap konstan.
Nama : Kusuma Dewi
NIM : 21030116120067

Membagi pembilang dan penyebut pada persamaan (7-86) dengan k, maka akan diperoleh bentuk
persamaan Michaelis-Menten:
k' 3 (S)(Et ) 7-87
-rs =
(S)+ Km

Di mana nilai Km disebut sebagai konstanta Michaelis. Nilai Vmax menunjukkan laju reaksi
maksimum untuk konsentrasi enzim total yang diberikan,
Vmax = k' 3 (Et ) 7-88

Maka persamaan Michaelis-Menten didapatkan sebagai berikut:


Vmax (S)
Michaelis – menten -rs = 7-89
equation Km +(S)

Untuk konsentrasi enzim yang diberikan, grafik tingkat pengurangan jumlah substrat
ditunjukkan sebagai fungsi dari konsentrasi substrat pada Gambar 7-11. Pada konsentrasi
substrat rendah dapat dirumuskan:
Vmax (S)
-rs =
Km

Pada konsentrasi substrat tinggi


(S) > Km
dan
-rs = Vmax

Ketika konsentrasi substrat mempunyai suatu kondisi dimana laju reaksi sama dengan satu
setengah tingkat maksimum maka dapat dirumuskan:
Vmax
-rs =
2
Vmax (S1 )
Vmax 2
= 7-90
2 Km + (S1 )
2

Penyelesaian persamaan (7-90) untuk nilai konstan yield Michaelis


Interpretasi dari Km = (S1/2) 7-91
konstan Michaelis
Konstanta Michaelis sama dengan konsentrasi substrat di mana laju reaksi sama dengan satu
setengah tingkat maksimum.
Nama : Kusuma Dewi
NIM : 21030116120067

Karakteristik dari parameter Vmax dan Km yaitu reaksi enzimatik yang dijelaskan oleh kinetika
Michaelis-Menten. Vmax tergantung pada konsentrasi enzim total, sedangkan K m, tidak
tergantung pada konsentrasi enzim total.

Contoh 7-7 Evaluasi Parameter Michaelis-Menten Vmax dan Km


Tentukan parameter Michaelis-Menten Vmax dan Km, untuk reaksi

Tingkat reaksi diberikan sebagai fungsi konsentrasi urea pada tabel berikut:

Jawab

Pada persamaan (7-89) maka akan didapatkan


1 (S)+Km 1 Km 1
= = + E7-7.1
-rs Vmax (S) Vmax Vmax (S)

Atau
1 1 Km 1
= + E7-7.2
-rurea Vmax Vmax (Curea )

Sebuah grafik dari tingkat reaksi timbal balik versus konsentrasi urea timbal balik harus berupa
garis lurus dengan intercept 1/Vmax dan kemiringan Km /Vmax. Jenis grafik ini adalah grafik
Lineweaver-Burk. Data dalam Tabel E7-7.1 disajikan pada Gambar E7-7.1 dalam bentuk grafik
Lineweaver-Burk. Intercept adalah 0,75, jadi:
1 s
=0.75 m3 .
Vmax kmol
Maka, kecepatan reaksi maksimum adalah
Vmax = 1.33 kmol/m3.s = 1.33 mol/dm3.s
Nama : Kusuma Dewi
NIM : 21030116120067

Dari nilai slope yaitu 0.02s, maka dapa


Pada reaksi
dihitung konstan Michaelis, Km =
enzimatik, terdapat 2
parameter kunci
yaitu Vmax dan Km
𝐾𝑚
= 𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒 = 0.02 𝑠
𝑉𝑚𝑎𝑥
Km = 0.0266 kmol/m3

Subtitusi nilai Km dan Vmax pada persamaan (7-89) maka akan didapat
1.33 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎
−𝑟𝑠 =
0.0266 + 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎

Dimana Curea, memiliki satuan kmol/ m3 dan -rs memiliki satuan kmol/m3.s. Levine dan LaCourse
menunjukkan bahwa konsentrasi total urea, (E,), sesuai dengan nilai V max di atas adalah sekitar
5 g /dm3.

7.4.3 Perhitungan Reaktor Batch

Keseimbangan mol pada urea dalam reaktor batch


dNurea
Kesetimbangan mol - = -rurea. V
dt

Karena reaksi ini adalah fase cair, keseimbangan mol dapat dirumuskan dalam bentuk berikut:
dCurea
− = -rurea. 7-92
dt
Kecepatan reaksi dari dekomposisi urea
Vmax . Curea
Hukum Kecepatan -rurea. = -
Km + Curea 7-93

Subtitusi persamaan (7-93) ke persamaan (7-92) lalu menyusun dan mengintegralkan menjadi :
𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0
Combinasi 𝑑𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎 𝐾𝑚 + 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎
𝑡= ∫ = ∫ 𝑑𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎
𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎 −𝑅𝑢𝑟𝑒𝑎 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎

𝐾𝑚 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 − 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎


Integral 𝑡= ln + 7-94
𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎 𝑉𝑚𝑎𝑥

Kita dapat menulis persamaan (7-94) dalam bentuk konversi menjadi


Nama : Kusuma Dewi
NIM : 21030116120067

Waktu untuk 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎 = 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 ( 1 − 𝑋)


mencapai konversi X 𝐾𝑚 1 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 𝑋
𝑡= ln + 7-95
dalam reaksi 𝑉𝑚𝑎𝑥 1 − 𝑋 𝑉𝑚𝑎𝑥
enzimatik batch

Parameter Km, dan Vm, dapat dengan mudah ditentukan dari data reaktor batch dengan
menggunakan analisi metode integral. Membagi kedua sisi Persamaan (7-95) dengan tKm/ Vmax
dan lalu yield dapat dihasilkan
1 1 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 𝑋 7-96
ln = −
𝑡 1−𝑋 𝐾𝑚 𝐾𝑚 𝑡

Kita melihat bahwa Km, dan Vmax dapat ditentukan dari kemiringan dan intersepsi dari plot llt ln
[l / (l - X)] versus X/t. Kita juga bisa dapat menuliskan persamaan Michaelis-Menten dalam hal
konsentrasi substrat S:
1 𝑆0 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝑆0 − 𝑆
ln = − 7-97
𝑡 𝑆 𝐾𝑚 𝐾𝑚 𝑡

Dimana So adalah konsentrasi awal substrat. Dalam kasus serupa dengan Persamaan (7-97) di
mana tidak ada kemungkinan merasa bingung, kita tidak perlu repot-repot menyertakan substrat
atau spesies lain dalam tanda kurung untuk mewakili konsentrasi [yaitu, Cs = (S) = S]. Plot yang
sesuai dalam hal konsentrasi substrat ditunjukkan pada Gambar 7-12

Contoh 7-8 Reaktor Enzim Batch

Hitung waktu yang diperlukan untuk mengkonversi 80% dari urea ke amonia dan karbon
dioksida dalam reaktor batch 0.5-dm3. Konsentrasi awal urea adalah 0,1 mol / dm3, dan
konsentrasi urease adalah 0,001 g / dm3. Reaksi harus dilakukan secara normal pada suhu yang
sama di mana data pada Tabel E7-7.1 diperoleh.
Jawab :
Kita dapat menggunakan persamaan (7-95)
𝐾𝑚 1 𝐶𝑢𝑟𝑒𝑎0 𝑋
𝑡= ln + 7-95
𝑉𝑚𝑎𝑥 1 − 𝑋 𝑉𝑚𝑎𝑥

dimana Km = 0,0266 g mol / dm3, X = 0,8, dan Curea = 0,1 g mol/dm3, Vmax adalah 1,33 g
mol/dm3.s. Namun, untuk kondisi dalam reaktor batch, Konsentrasi enzim hanya 0,001 g / dm 3.
Karena Vmax= Et.k3.Vmax untuk konsentrasi enzim kedua adalah
Nama : Kusuma Dewi
NIM : 21030116120067

𝐸𝑡 2 0.001 𝑚𝑜𝑙
𝑉𝑚𝑎𝑥2 = 𝑉𝑚𝑎𝑥1 = × 1.33 = 2.66 × 10−4 . 𝑑𝑚3
𝐸𝑡 1 5 𝑠
𝑋 = 0.8
0.0266 1 (0.8)(0.1)
𝑡= ln +
0.000266 0.2 0.000266
= 160.9 + 300.8
= 461.7 𝑠

7.4.4 Penghamatan Reaksi Enzym


Faktor lain yang sangat mempengaruhi laju reaksi enzim-katalis selain pH adalah adanya
inhibitor. Konsekuensi paling dramatis dari inhibisi enzim ditemukan pada organisme hidup,
ketika:
HERTANTO
21030116120048

7.4.4. Penghambatan Reaksi Enzim


Faktor lain yang sangat mempengaruhi tingkat reaksi enzim-katalis selain pH adalah adanya
inhibitor. Konsekuensi paling dramatis dari inhibisi enzim ditemukan pada organisme hidup, ketika:
penghambatan enzim tertentu yang terlibat dalam urutan metabolik primer akan membuat seluruh urutan
menjadi tidak aktif, mengakibatkan kerusakan serius atau kematian organisme. Sebagai contoh,
penghambatan enzim tunggal, oksidase sitokrom, oleh sianida akan menyebabkan proses oksidasi
aerobik berhenti; kematian terjadi dalam beberapa menit. Ada juga inhibitor yang bermanfaat seperti
yang digunakan dalam pengobatan leukemia dan penyakit neoplasma lainnya. Tiga tipe penghambat
reversibel yang paling umum terjadi dalam reaksi enzimatik adalah kompetitif, non-kompetitif, dan un-
kompetitif. (Lihat Soal P7-12B) Molekul enzim analog dengan permukaan katalitik heterogen karena
mengandung situs aktif. Ketika penghambatan kompetitif terjadi, substrat dan inhibitor biasanya molekul
serupa yang bersaing untuk situs yang sama pada enzim. Penghambatan yang tidak kompetitif terjadi
ketika inhibitor menonaktifkan kompleks enzim-substrat, biasanya dengan menempelkan dirinya sendiri
ke substrat dan molekul enzim kompleks. Penghambatan nonkompetitif terjadi dengan enzim yang
mengandung setidaknya dua jenis situs yang berbeda. Inhibitor menempel hanya pada satu jenis situs dan
substrat hanya untuk yang lain. Penurunan tingkat hukum untuk ketiga jenis penghambatan ini
ditunjukkan pada CD-ROM.

7.4.5 Multiple Enzim and Substrat Sistem


Pada bagian sebelumnya, kita membahas bagaimana penambahan substrat kedua, I, terhadap
reaksi enzim yang dikatalisasi dapat menonaktifkan enzim dan sangat menghambat reaksinya. Pada
bagian ini kita melihat tidak hanya pada sistem di mana penambahan substrat kedua diperlukan untuk
mengaktifkan enzim, tetapi juga sistem multi-enzim dan multi-substrat lainnya di mana regenerasi siklik
dari enzim yang diaktifkan terjadi.
Regenerasi Enzim. Contoh pertama yang dipertimbangkan adalah oksidasi glukosa (S,) dengan
bantuan enzim oksidase glukosa [direpresentasikan sebagai G.O atau (E,)] untuk memberikan 6-gluk,
onolakton (P):

Dalam reaksi ini, bentuk reduksi glukosa oksidase (G.0.H2), yang akan diwakili oleh E, tidak
dapat mengkatalis reaksi lebih lanjut sampai teroksidasi kembali ke E ,. Oksidasi ini biasanya dilakukan
dengan menambahkan molekul oksigen ke sistem sehingga glukosa oksidase, E, diregenerasi. Hidrogen
peroksida juga diproduksi dalam tahap regenerasi oksidasi ini:

Secara keseluruhan, reaksi ditulis

Dalam teks biokimia, reaksi jenis ini melibatkan regenerasi biasanya ditulis dalam bentuk

Penurunan tingkat hukum untuk urutan reaksi ini diberikan pada CD-R.OM.
Kofaktor Enzim. Dalam banyak reaksi enzimatik, dan khususnya reaksi biologis, substrat kedua
(yaitu, spesies) harus diperkenalkan untuk mengaktifkan enzim. Substrat ini, yang disebut sebagai
kofaktor atau koenzim. enzim seperti itu, melekat pada enzim dan paling (sering baik berkurang atau
teroksidasi selama reaksi. Kompleks enzim-kofaktor disebut sebagai holoenzyme. Bentuk tidak aktif dari
'kompleks enzim-kofaktor untuk spesifik reaksi dan arah reaksi disebut apoenzim.Contoh dari jenis
sistem di mana kofaktor digunakan adalah pembentukan etanol dari asetaldehida dengan adanya enzim
alkohol dehidrogenase (ADH) dan kofaktor nikotinamida adenin dinukleotida (NAD):
HERTANTO
21030116120048

Penurunan tingkat hukum untuk urutan reaksi ini diberikan pada CD-ROM.
Karena reaksi enzimatik terlibat dalam pertumbuhan mikroorganisme, sekarang kita melanjutkan
untuk mempelajari pertumbuhan mikroba dan bioreaktor. Tidak mengherankan, persamaan Monod, yang
menggambarkan hukum pertumbuhan untuk sejumlah bakteri, mirip dengan persamaan Michaelis-
Menton. Akibatnya, meskipun bioreaktor tidak benar-benar homogen karena adanya sel-sel hidup, kami
memasukkannya dalam bab ini sebagai perkembangan logis dari reaksi enzimatik. Penggunaan sel-sel
hidup untuk menghasilkan produk-produk kimia yang dapat dipasarkan menjadi semakin penting. Pada
tahun 2000, bahan kimia, produk pertanian, dan makanan yang diproduksi oleh biosintesis akan
meningkat dari pasar tahun 1990 sebesar $ 2752 miliar menjadi sekitar $ 17 miliar. Baik mikroorganisme
dan sel mamalia sedang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk, seperti insulin, sebagian besar
antibiotik, dan polimer. Diharapkan bahwa di masa depan sejumlah bahan kimia organik yang saat ini
berasal dari minyak bumi akan diproduksi oleh sel-sel hidup. 'Keuntungan biokonversi adalah kondisi
reaksi ringan, hasil tinggi (misalnya, konversi 100% glukosa menjadi asam glukonat dengan Aspergillus
niger), bahwa organisme mengandung beberapa enzim yang dapat mengkatalisasi langkah-langkah
berturut-turut dalam suatu reaksi, dan yang paling penting, bahwa organisme bertindak sebagai katalis
stereospesifik. Contoh umum dari spesifisitas dalam produksi biokonversi dari satu isomer yang
diinginkan yang ketika diproduksi secara kimia menghasilkan campuran isomer adalah konversi asam
cis-proenilfosfonat ke antibiotik (-) cis-1,2-epoxypropyl-phosphonicacid.
Dalam biosintesis, sel juga disebut sebagai biomassa, mengkonsumsi nutrisi untuk tumbuh dan
menghasilkan lebih banyak sel dan produk penting. Secara internal, sel menggunakan nutrisi untuk
menghasilkan energi dan lebih banyak sel. Transformasi nutrisi menjadi energi dan bioproduk ini dicapai
melalui penggunaan sejumlah enzim yang berbeda (katalis) dalam serangkaian reaksi untuk
menghasilkan produk metabolik. Produk-produk ini dapat tetap di dalam sel (intraseluler) atau
disekresikan dari sel-sel (ekstraseluler). Dalam kasus pertama sel harus dilarutkan (pecah) dan produk
dimurnikan dari seluruh kaldu (campuran reaksi).
Secara umum, pertumbuhan organisme aerobik mengikuti persamaan

(7-98)

Bentuk yang lebih umum digunakan adalah

Substrate more cells + product (7-99)

Produk dalam Persamaan (7-99) termasuk CO2, air, protein, dan spesies lain yang spesifik untuk
reaksi tertentu. Sebuah diskusi yang sangat baik tentang stoikiometri (atom dan saldo mol) dari
Persamaan (7-98) dapat ditemukan di Wang16 dan di Bailey dan Ollis.17 Media kultur substrat
mengandung semua nutrisi (karbon, nitrogen, dll) bersama dengan lainnya. bahan kimia yang diperlukan
untuk pertumbuhan. Karena, seperti yang akan segera kita lihat, laju reaksi ini sebanding dengan
konsentrasi sel, reaksi bersifat autokatalitik. Skema kasar dari reaktor biokimia batch sederhana dan
pertumbuhan dua jenis mikroorganisme, cocci (yaitu, bola) bakteri dan ragi, ditunjukkan pada Gambar 7-
13.

7.5.1 Pertumbuhan Sel


Tahapan pertumbuhan sel dalam reaktor batch ditunjukkan secara skematik pada Gambar 7-14. Di
sini, log jumlah sel hidup ditampilkan sebagai fungsi waktu. Awalnya, sejumlah kecil sel diinokulasi ke
(mis., Ditambahkan ke) reaktor batch yang mengandung nutrisi dan proses pertumbuhan dimulai.
Pada fase I, yang disebut fase lag, ada sedikit peningkatan konsentrasi sel. Selama fase lag sel-sel
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka,
HERTANTO
21030116120048

Gambar 7-13 batch bioreactor

hanya jalur metabolisme mereka untuk memungkinkan mereka untuk mengkonsumsi nutrisi di
lingkungan baru mereka.
Fase II disebut fase pertumbuhan eksponensial karena fakta bahwa laju pertumbuhan sel
sebanding dengan konsentrasi sel. Pada fase ini sel-sel membagi pada tingkat maksimum karena semua
jalur enzim, untuk memetabolisme media berada di tempat (sebagai akibat dari fase lag) dan sel-sel dapat
menggunakan nutrisi paling efisien.
Fase III adalah fase stasioner, di mana sel-sel mencapai ruang biologis minimum di mana
kurangnya satu atau lebih nutrisi membatasi pertumbuhan sel. Selama fase stasioner, tingkat
pertumbuhan nol sebagai akibat dari depletioa nutrisi dan metabolit esensial. Banyak produk fermentasi
yang penting, termasuk sebagian besar antibiotik, diproduksi di. fase stasioner. Sebagai contoh, penisilin
diproduksi secara komersial menggunakan jamur Penicillium chrysogenum terbentuk hanya setelah
pertumbuhan sel telah berhenti. Pertumbuhan sel juga diperlambat oleh penumpukan asam organik dan
bahan beracun yang dihasilkan selama fase pertumbuhan.
Fase terakhir, Fase IV, adalah fase kematian di mana terjadi penurunan konsentrasi sel hidup.
Penurunan ini adalah hasil dari produk samping beracun dan / atau berkurangnya pasokan nutrisi.

7.5.2 Menilai Hukum


Sementara ada banyak hukum untuk tingkat pertumbuhan sel sel baru, yaitu,
HERTANTO
21030116120048

ekspresi yang paling umum digunakan adalah persamaan Monod untuk pertumbuhan eksponensial:

(7-100)

di mana rg = laju pertumbuhan sel, g / dm3 - s


Cc = konsentrasi sel, g / dm3
μ = laju pertumbuhan spesifik, s-l
Tingkat pertumbuhan sel spesifik dapat dinyatakan sebagai

(7-101)

di mana μmax = laju reaksi spesifik pertumbuhan maksimum, s -l


Ks = konstanta Monod, g / dm3
Cs = konsentrasi substrat, g / dm3
Untuk sejumlah bakteri yang berbeda, konstanta K, kecil, dalam hal ini hukum laju diturunkan menjadi

(7-102)

Tingkat pertumbuhan, rg, sering bergantung pada lebih dari satu konsentrasi nutrisi; Namun,
nutrisi yang membatasi biasanya. yang digunakan dalam Persamaan (7-101). Menggabungkan Persamaan
(7-100) dan (7-101) menghasilkan
Nama : Dwi Anggraeni Mulatsih
Nim : 21030116140090

Sec - 7.5 Bioreactor

Dalam banyak sistem, produk menghambat laju pertumbuhan. Contoh klasik penghambatannya dalam
pembuatan anggur, di mana fermentasi glukosa menjadi menghasilkan etanol yang dihambat oleh produk etanol.
Ada sejumlah persamaan yang berbeda untuk memperhitungkan penghambatan, satu hukum yaitu

Dimana,

Penghambatan produk

dengan
Cp* = konsentrasi produk di mana semua metabolisme berhenti, g / dm3
n = konstanta empiris
Untuk fermentasi glukosa-ke-etanol, parameter inhibisi yang khas dengan ,
n = 0,5 dan Cp*=93 g / dm3
Selain persamaan Monod, dua persamaan lainnya juga umum , digunakan untuk menggambarkan laju pertumbuhan
sel adalah persamaan Tessier,

Dan persamaan Moser

di mana ᵡ dan k adalah konstanta empiris yang ditentukan oleh kecocokan data yang paling baik. Hukum
pertumbuhan Moser dan Tessier sering digunakan karena dua rumus itu mempunyai lebih kesesuaian dengan data
eksperimen pada awal atau akhir fermentasi. Persamaan pertumbuhan lainnya dapat ditemukan di Dean.I8

Tingkat kematian sel diberikan oleh

dimana Ct, adalah konsentrasi zat beracun ke sel. Spesifik angka kematian konstanta kd dan kt, merujuk pada
kematian dan kematian alami karena zat beracun. Nilai-nilai kurang representatif rentang kd dari 0,1 h-l ke daari
0,0005 h-I. Nilai k, tergantung pada sifat toksinnya.

Doubling Time
Tingkat pertumbuhan mikroba diukur dalam waktu dua kali lipat. Doubling time adalah waktu yang dibutuhkan
untuk suatu massa organisme untuk digandakan. Kali lipat dua kali untuk bakteri berkisar dari 45 menit hingga 1
Nama : Dwi Anggraeni Mulatsih
Nim : 21030116140090

jam tetapi bisa sama cepat yaitu 15 menit. Doubling Time untuk eukariota sederhana, seperti ragi, rentang 1,5-2 jam
tetapi mungkin bisa cepat sekitar 45 menit.

7.5.3 Stoikiometri
Stoikiometri untuk pertumbuhan sel sangat kompleks dan bervariasi dengan mikroorganisme kondisi sistem dan
lingkungan seperti pH, suhu, dan potensi redoks. Kerumitan ini terutama berlaku ketika lebih dari satu nutrisi
berkontribusi terhadap pertumbuhan sel, seperti biasanya terjadi. Kami akan fokus diskusi pada versi yang
disederhanakan untuk pertumbuhan sel, yang dibatasi oleh hanya satu nutrisi dalam medium. Secara umum,

dimana hasil koefisien


Yc/s =
Dengan

Koefisien hasil stoikiometri yang berhubungan dengan jumlah produk massa produk yang terbentuk per massa
substrat yang dikonsumsi ,

Yc/s =

Selain mengkonsumsi substrat untuk menghasilkan sel-sel baru, bagian dari substrat harus digunakan hanya untuk
mempertahankan kegiatan sehari-hari sel. Pemanfaatan pemeliharaan adalah terbentuk per massa substrat yang
dikonsumsi , perawatan sel :

m=

Nilai tipikal adalah

Tingkat konsumsi substrat untuk pemeliharaan baik tidaknya sel tumbuh adalah

Koefisien hasil Y’c/s menyumbang konsumsi substrat untuk pemeliharaan:

Y’c/s =

Pembentukan produk dapat terjadi selama fase-fase dereg pertumbuhan sel. Ketika produk diproduksi hanya selama
fase pertumbuhan, kita bisa menulis
rp = Y p/c rg
dimana,
Nama : Dwi Anggraeni Mulatsih
Nim : 21030116140090

Y p/c =

Namun, ketika produk diproduksi selama fase diam, kita dapat menghubungkan formasi produk dengan konsumsi
substrat

Sekarang kita sampai pada tugas yang sulit untuk menghubungkan tingkat konsumsi nutrisi, -rs, dengan tingkat
pertumbuhan sel, generasi produk, dan pemeliharaan sel. Secara umum, kita bisa menulis

Dalam sejumlah kasus, perhatian ekstra harus diberikan pada keseimbangan substrat. Jika produk diproduksi selama
fase pertumbuhan, mungkin tidak mungkin untuk memisahkan jumlah substrat yang dikonsumsi untuk pertumbuhan
dari yang dikonsumsi untuk produk. Dalam keadaan ini semua substrat yang dikonsumsi adalah disamakan dengan
koefisien stoikiometri, Y c/s dan tingkat hilangnya substrat,

Formasi produk dalam fase pertumbuhan,

,
Tingkat yang sesuai dari formasi produk adalah tingkat yang sesuai dari formasi produk

Karena tidak ada pertumbuhan selama fase diam, jelas itu Persamaan (7-1 12) tidak dapat digunakan untuk
memperhitungkan konsumsi substrat, atau tingkat pembentukan produk dapat dikaitkan dengan tingkat pertumbuhan
[mis., Persamaan (7-113)]. Banyak antibiotik, seperti penicillin, diproduksi dalam fase diam. Pada fase ini, nutrisi
yang dikonsumsi untuk pertumbuhan telah menjadi hampir habis dan nutrisi yang berbeda, yang disebut nutrisi
sekunder, digunakan untuk pemeliharaan sel dan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Biasanya, tingkat
hukum untuk pembentukan produk selama fase stasioner serupa dalam bentuk dengan Monod persamaan, yaitu,

Formasi produk dalam tahap stasioner

di mana
kp = laju konstan tertentu sehubungan dengan produk, (dm3 / g s )
Csn = konsentrasi nutrisi sekunder, g / dm3
Cc = konsentrasi sel, g / dm3
Ksn = konstan, g / dm3
rp = Yp / sn (-rsn)

Tingkat bersih konsumsi substrat selama fase diam adalah


Nama : Dwi Anggraeni Mulatsih
Nim : 21030116140090

Karena produk yang diinginkan dapat diproduksi ketika tidak ada pertumbuhan sel, hal itu selalu terbaik untuk
menghubungkan konsentrasi produk dengan perubahan konsentrasi substrat. Untuk sistem batch, konsentrasi
produk, Cp, terbentuk setelah waktu t dapat dikaitkan dengan konsentrasi substrat, Cs pada waktu itu.

Di stasioner fase konsentrasi sel hidup adalah konstan

Kami telah mempertimbangkan dua situasi yang membatasi untuk menghubungkan konsumsi substrat dengan
pertumbuhan sel dan pembentukan produk, pembentukan produk hanya selama fase pertumbuhan dan pembentukan
produk hanya selama fase diam. Contoh di mana tidak satu pun dari situasi ini berlaku adalah fermentasi
menggunakan lactobacillus dimana asam laktat dihasilkan selama pertumbuhan logaritmik dan fase diam.

7.5.4 Jumlah Massa


Ada dua cara yang bisa kami pertanggungjawabkan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Salah satunya adalah
menghitung jumlah sel hidup dan yang lainnya adalah untuk massa sel-sel hidup dengan menggunakan yang
terakhir. Keseimbangan massa pada mikroorganisme dalam CSTR (chemostat) (ditunjukkan pada Gambar 7-15)
konstan volume adalah

7-15 Bioreactor
Jumlah substrat yang sesuai adalah

cell
Nama : Dwi Anggraeni Mulatsih
Nim : 21030116140090

Dalam kebanyakan sistem, konsentrasi mikroorganisme yang masuk ke Cc, adalah nol. Untuk sistem batch, jumlah
massa yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

Batch :

Dibagi oleh volume reaktor V memberi

Substrat Akumulasi hilangnya substrat, -rsn, hasil dari substrat yang digunakan untuk pertumbuhan sel dan substrat
yang digunakan untuk pemeliharaan sel,
78| DYAH AYU PRATIWI | 21030116120047

(7-120)
Dibagi dengan V menghasilkan

Untuk sel pada fase stasioner, dimana tidak terdapat pertumbuhan, pengendalian sel dan pembentukan produk
merupakan hanya reaksi yang mengkonsumsi substrat. Di bawah kondisi ini, substrate balance, persamaan (7-
118), menjadi

(7-121)
akan memiliki bentuk yang sama dengan rate law sebagai [pers. (7-114)]

Produk
Laju pembentukan produk, dapat disamakan dengan laju laju konsumsi substrat melalui kesetimbangan
berikut:

(7-122)
Selama fase pertumbuhan kita juga dapat menyamakan laju pembentukan produk, pada laju pertumbuhan sel,
Kedua persamaan diferensial biasa orde satu di bawah dapat diselesaikan dengan cara numeric.

Contoh 7-9 Pertumbuhan Bakteri pada Reaktor Batch

Fermentasi Glukosa menjadi Etanol dilakukan pada sebuah reaktor batch menggunakan organisme
Saccharomyces cerevisiae. Plot konsentrasi sel, substrat, dan produk dan laju pertumbuhan sebagai fungsi
waktu. Konsentrasi sel mula-mula yaitu 1 g/dm3 dan konsentrasi substrat (glukosa) yaitu 250 g/dm3.
Data tambahan :
Cp = 93 g/dm3 Yc/s = 0,08 g/g
n= 0,52 Yp/s = 0,45 g/g
= 0,33 h-1 Yp/c = 5,6 g/g
Ks = 1,7 g/dm3 ka = 0,01 h-1
m = 0,03 (g substrat) / (g sel. h)

Penyelesaian
1. Neraca massa :
Sel :
Substrat :
Produk :
78| DYAH AYU PRATIWI | 21030116120047

2. Rate law :

3. Stoikiometri :

4. Combine

Tabel E7-9.1 POLYMATH PROGRAM


Persamaan : Nilai Awal
1
250
0
78| DYAH AYU PRATIWI | 21030116120047

7.5.5 Chemostat
Chemostat pada dasarnya merupakan CSTRs yang mengandung mikroorganisme. Jenis chemostat
ditunjukkan pada gambar 7-16, bersama dengan peralatan monitoring dan pengontrol pH. Salah satu fitur
terpenting dari chemostat adalah diperbolehkannya operator untuk mengontrol laju pertumbuhan sel.
Pengontrolan laju pertumbuhan ini dilakukan dengan menyesuaikan volumetric feed rate (dilution rate).

7.5.6 Design Equation


Pada bagian ini kita kembali pada neraca massa pada sel [Persamaan (7-117)] dan substrat [Persamaan
(7-118)] dan berdasarkan kasus dimana volumetric flow rate masuk dan keluar sama dan sel viable masuk pada
chemostat. Kemudian kita menentukan suatu parameter umum untuk bioreactor yang disebut dilution rate, D,
dengan persamaan
78| DYAH AYU PRATIWI | 21030116120047

dan hanya timbal balik dari space time . Membagi persamaan (7-117) dan (7-118) dengan V dan menggunakan
definisi dari dilution rate,
akumulasi = in – out + generation
Sel : – (7-123)
Substrat : – (7-124)
Menggunakan persamaan Monod, laju pertembuhan dapat ditentukan menjadi
(7-100)
Dimana
(7-101)
Untuk operasi steady state
(7-125)
dan
– = (7-126)
Kita sekarang mengabaikan laju kematian, , dan mengkombinasikan Persamaan (7-100) dan (7-125)
untuk operasi steady-state untuk memperoleh laju alir massa dari sel keluar dari sistem, mc.
(7-127)
Setelah dibagi dengan ,
Dilution rate :
(7-128)
Tinjauan dari Persamaan (7-128) menunjukkan bahwa specific growth rate dari sel dapat dikontrol oleh operator
dengan mengontrol dilution rate D. Menggunakan Persamaan (7-101) untuk mensubstitusi pada persaamaan
konsentrasi substrat kemudian menyelesaikan konsentrasi substrat steady state menghasilkan
(7-129)
Dengan mengasumsikan bahwa salah satu nutriet dilimitasi, pertumbuhan sel hanya dipengaruhi penggunaan
substrat, dan pemeliharaan sel dapat diabaikan, dengan stoikiometri
(7-130)
(7-131)
Substitusi menggunakan Persamaan (7-129), diperoleh
( ) (7-132)

7.5.7. Wash out


Untuk mempelajari mengenai pengaruh dari peningkatan dilution rate, kita dapat mengkombinasikan
Persamaan (7-123) dan (7-100) dan mengatur = 0 untuk memperoleh
(7-133)
78| DYAH AYU PRATIWI | 21030116120047

Dapat dilihat bahwa jika D > , maka dCc/dt akan negative dan konsentrasi sel akan berkurang terus menerus
sampai mencapai suatu titik dimana seluruh sel akan rusak :

Dilution rate ketika wash-out akan terjadi ditentukan dari Persamaan (7-132) dengan mengatur
(7-134)

Kemudian kita ingin menentukan dilution rate yang lain, yang merupakan laju produksi sel maksimum.
Laju produksi sel per satuan volume reaktor merupakan laju alir massa dari sel keluar reaktor ( dibagi
dengan volume V, atau

Substitusi menghasilkan
(7-135)
Nama : Yeni Maryani Candra
NIM : 21030115120078

Figure 7-11 menunjukkan tingkat produksi, konsentrasi sell dan konsentrasi substrat sebagai fungsi
pengenceran.kita dapat mengamati tingkat produksi maksimum dan hal tersebut dapat kita cari dengan cara
diferensiasi produksi yang sehubungan dengan tingkat pengenceran D :

Lalu

7.5.8 Fermentasi Oksigen-Terbatas

Oksigen diperlukan untuk fermentasi aerobik (berdasarkan definisi).


Mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut yang tepat dalam fermentasi adalah
penting untuk operasi fermentor yang efisien. Untuk sistem yang terbatas oksigen,
perlu untuk merancang fermentor untuk memaksimalkan transfer oksigen antara
gelembung udara yang disuntikkan dan sel. Biasanya, fermentor mengandung
sparger gas, permukaan transfer panas, dan impeler, untuk reaktor batch. Sebuah
chemostat memiliki konfigurasi serupa dengan penambahan aliran masuk dan keluar. CD-ROM membahas
langkah-langkah transportasi dari cairan curah ke dan di dalam mikroorganisme. Serangkaian korelasi transfer
massa juga diberikan.

7.5.9 Scale-Up (peningkatan skala)

Peningkatan skala untuk pertumbuhan mikroorganisme biasanya didasarkan pada mempertahankan 8


konsentrasi oksigen terlarut yang konstan dalam cairan (kaldu), independen dari ukuran reaktor. Panduan untuk
penskalaan dari bioreaktor pilot-plant ke reaktor plant komersial diberikan pada CD-ROM. Salah satu kunci
peningkatan skala adalah memiliki kecepatan ujung (ujung) dari impeler yang sama dengan kecepatan di kedua
reaktor pilot laboratorium dan reaktor pembangkit skala penuh. Jika kecepatan impeler terlalu cepat, ia dapat
melisiskan bakteri; jika kecepatan terlalu lambat, isi reaktor tidak akan tercampur dengan baik. Kecepatan tip
tipikal berkisar dari 5 hingga 7 m / s.
Nama : Yeni Maryani Candra
NIM : 21030115120078

RINGKASAN

1. Mekanisme dekomposisi azomethane (AZO) adalah

Harga laju untuk mekanisme dan dekomposisi ini adalah

menunjukkan ketergantungan orde pertama terhadap AZO pada konsentrasi AZO tinggi dan
ketergantungan orde kedua terhadap AZO pada konsentrasi AZO rendah.
2. Dalam PSSH, kita mengatur laju pembentukan intermediet aktif sama dengan nol. Jika intermediet
aktif A * terlibat dalam berbagai reaksi, kita mengaturnya

Pendekatan ini dibenarkan ketika intermediet aktif sangat reaktif dan hadir dalam konsentrasi rendah.
3. Polimerisasi: (reaksi langkah dan reaksi berantai)
(a) Langkah-langkah: inisiasi, propagasi, transfer, penghentian.
(b) Fraksi gugus fungsi yang bereaksi adalah

(c) Tingkat polimerisasi

(D) Distribusi Flory untuk fraksi mol adalah

dan untuk fraksi beratnya

4. Reaksi enzimatik untuk dekomposisi urea, S, dikatalisis oleh urease, E, adalah

Ini mengikuti kinetika Michaelis-Menten dan ekspresi laju


Nama : Yeni Maryani Candra
NIM : 21030115120078

di mana Vmax adalah laju reaksi maksimum untuk konsentrasi enzim yang diberikan dan Km adalah
konstanta Michaelis.

5. Jumlah total enzim yang diberikan dalam sistem adalah jumlah enzim bebas, E, dan enzim
terikat, E * S:

Untuk sampai pada Persamaan (S7-8), kami memperlakukan setiap reaksi sebagai elemenlary,
menerapkan PSSH ke kompleks, dan menggunakan Persamaan (S7-9).

6. Bioreaktor

(a) Fase pertumbuhan bakteri:

1. Lag 11. Exponential 111. Stationary IV. Kematian

(b) hukum tingkat pertumbuhan Monod:

(c) Stoikiometri

(d) Keseimbangan massa yang tidak seimbang pada sebuah chemostat:

PERTANYAAN DAN JAWABAN

Subskrip untuk masing-masing nomor masalah menunjukkan tingkat kesulitan: A, paling tidak sulit;
D, paling sulit.

Dalam setiap pertanyaan dan masalah di bawah ini, daripada hanya menggambar kotak. Di sekitar
jawaban Anda, tulis satu atau dua kalimat yang menjelaskan bagaimana Anda memecahkan
masalah, asumsi yang Anda buat, kesesuaian jawaban Anda, apa yang Anda pelajari, dan fakta
lainnya yang ingin Anda sertakan. Anda mungkin ingin merujuk ke W. Strunk dan EB White, The
Nama : Yeni Maryani Candra
NIM : 21030115120078

Elements of Style (New York: Macmillan, 1979) dan Joseph M. Williams, Style: Ten Lessons in
Clarity & Grace (Glenview, 111 .: Scott, Foresman, 1989 ) untuk meningkatkan kualitas kalimat
Anda. Lihat Pendahuluan untuk bagian generik tambahan (x), (y), (z) ke masalah utama.

P7-1c Baca semua masalah bab ini. Buatlah masalah asli itu

menggunakan konsep yang disajikan dalam bab ini. Untuk mendapatkan solusi:

(a) Buatlah data dan reaksi Anda.

(b) Gunakan reaksi nyata dan data nyata.

Lihat R. M. Felder, Chem. Ya Educ., 19 (4), 176 (1985).

P7-2A Bagaimana jika.. .

(a) Anda melakukan reaksi etana dalam Contoh 7-2 pada 1500 K atau 2000 K? Apakah
PSSH akan tetap berlaku? Dapatkah Anda menemukan suhu di mana PSSH bukanlah
pendekatan yang baik? jelaskan.

[Petunjuk: Hitung rasio radikal yang berbeda (misalnya, CH, * / H *, CH, * / C2H5 *, dll.).]

(b) Anda dapat memilih dari sejumlah pemrakarsa yang berbeda cepat untuk
memperlambat, ko = 0,01 s-l, ko = 0,0001 s- 1, dan ko = 0,00001 s-l, dan konsentrasi inisiator,
10-1 ke 10-5 M? Apa yang akan pilij? (Petunjuk: Plot M vs t.)

(c) reaksi enzimatik dalam Contoh 7-7 adalah eksotermik? Mana yang lebih berpengaruh
menaikkan atau menurunkan suhu pada hukum kenaikan parameter pada tingkat
keseluruhan?

(D) reaksi enzimatik dalam Contoh 7-8 dilakukan dalam CSTR dengan waktu ruang 400 s?
Konversi apa yang akan dicapai? Bagaimana jawaban Anda akan berubah untuk dua CSTR
dalam seri, dengan T = 200 untuk masing-masing? Bagaimana jika kedua konsentrasi enzim
total dan konsentrasi substrat meningkat dengan faktor 4 dalam CSTR dengan Ƭ = 400 S?

(e) Anda diminta untuk melakukan bioreaksi dalam Contoh 7-9 pada yang lebih tinggi dan
suhu yang lebih rendah? Menurut Anda, bagaimana konsentrasi substrat, sel, dan produk
akan terlihat? Sketsa masing-masing sebagai fungsi waktu untuk temperatur yang berbeda.
Bahaslah asumsi yang sesuai. Apa hubungan antara C*p dan ꙋp/s untuk konsentrasi sel
terakhir yang invarian? Dapatkah persamaan untuk laju pengenceran washout diturunkan
untuk Tessier Eqn.? Jika demikian apa itu?

(Flame retardants) Radikal hidrogen penting untuk mempertahankan reaksi pembakaran.


Akibatnya, jika senyawa kimia diperkenalkan yang dapat mengambil radikal hidrogen, api
dapat dipadamkan. Sementara banyak reaksi terjadi selama proses pembakaran, kita akan
memilih api CO sebagai sistem model untuk mengilustrasikan proses [S. Senkan dkk.,
Pembakaran dan Flame, 69, hal. 113 (1987) l. Tanpa adanya inhibitor.

Dua reaksi terakhir cepat dibandingkan dengan dua yang pertama. Ketika HCl dimasukkan
ke nyala api, reaksi adisi menjadi sebagai berikut:
Nama : Yeni Maryani Candra
NIM : 21030115120078

Asumsikan semua reaksi adalah dasar dan PSSH berlaku untuk O., OH., Dan C1. radikal.

(A) Turunkan undang-undang tarif untuk konsumsi CO ketika tidak ada retardant hadir.

(B) Turunkan persamaan untuk konsentrasi H. sebagai fungsi waktu dengan asumsi
konsentrasi konstan 02, CO, dan H20 untuk kedua pembakaran tanpa hambatan dan
pembakaran dengan HCl hadir. Sketsa H- versus waktu untuk kedua kasus.

(c) Buat sketsa diagram jalur reaksi untuk reaksi ini.

Bentuk yang lebih rumit dari masalah ini dapat ditemukan di Bab 6, di mana PSSH tidak
diminta.

P7-4A Pirolisis acetaldehyde diyakini terjadi menurut urutan berikut:

(a) Turunkan ekspresi laju untuk laju hilangnya asetaldehida,

- rAC.

(b) pada kondisi apa Persamaan (7-2) tereduksi?

(c) Buat sketsa diagram jalur reaksi untuk reaksi ini.

P7-5B Oksidasi homogen-fasa gas nitrogen monoksida (NO) menjadi dioksida (NO2),

memiliki bentuk kinetika orde ketiga yang menunjukkan bahwa reaksi adalah dasar seperti
yang tertulis, untuk tekanan parsial rendah dari oksida nitrogen. Namun, tingkat konstanta k
sebenarnya menurun dengan meningkatnya suhu absolut, menunjukkan energi aktivasi yang
tampaknya negatif. Karena energi aktivasi dari setiap reaksi elementer harus positif, beberapa
penjelasan sudah sesuai.

Berikan penjelasan, mulai dari komonen perantara aktif, NO2 sebagai salah satu dalam
beberapa reaksi lain yang melibatkan oksida nitrogen.

P7-6B untuk dekomposisi laju dalam inert gas M, maka memiliki laju

Saran suatu mekanisme


Abdillah Iman Izzan/21030116130155

P7-7C (Tribology) Salah satu alasan utama degradasi oli mesin adalah oksidasi dari oli motor. Untuk
memperlambat proses degradasi, sebagian besar minyak mengandung suatu antioksidan [lihat Znd. Ya
Chem 26, 902 (1987) J. Tanpa inhibitor oksidasi, mekanisme yang disarankan pada suhu rendah adalah

dimana I2 adalah inisiator dan RH adalah hidrokarbon dalam minyak. Ketika suhu dinaikkan sampai
100 oC, reaksi tambahan berikut terjadi sebagai hasil dekomposisi ROOH yang tidak stabil.

Ketika suatu antioksidan ditambah untuk memperlambat degradasi pada suhu rendah, langkah-langkah
terminasi tambahan terjadi sebagai berikut.

Turunkan rate law untuk degradasi oli motor tanpa adanya antioksidan pada
a) Suhu rendah.
b) Suhu tinggi.
Turunkan rate law untuk laju degradasi oli motor dengan adanya antioksidan untuk
c) Suhu rendah,
d) Suhu tinggi. Di sini asumsikan bahwa produk tidak aktif yang terbentuk dengan antioksidan tidak
terurai (mungkin asumsi yang buruk).
e) Bagaimana anda menjawab bagian (a) berubah jika radikal I dihasilkan dengan laju konstan di
mesin dan kemudian menemukan jalan mereka ke dalam minyak?
f) Buat sketsa diagram jalur reaksi untuk suhu tinggi dan rendah, dengan dan tanpa antioksidan.

P7-8A Pertimbangkan penerapan PSSH untuk epidemiologi. Kita akan memperlakukan masing masing langkah
berikut secara elementer, bahwa laju akan proporsional terhadap jumlah orang dalam keadaan kesehatan
tertentu. Orang yang sehat, H, secara spontan bisa menjadi sakit, I.

(P7-8.1)
atau dia dapat menjadi sakit melalui kontak dengan orang sakit yang lain.

(P7-8.2)
Orang sakit mungkin dapat menjadi sehat.

(W-8.3)
atau dia mungkin dapat meninggal.
Abdillah Iman Izzan/21030116130155

(P7-8.4)
Pada reaksi (P7-8.4), normalnya ditetapkan sebagai ireversibel sepenuhnya, meskipun reaksi bolak balik
dapat terjadi.
(a) Turunkan persamaan untuk laju kematian.
(b) Pada konsentrasi orang sehat apa, tingkat kematian menjadi kritis? [Jawab: ketika [HI] = (k3 + k4) /
k2.]
(c) Komentari validitas PSSH dalam kondisi bagian (b).
(d) Jika k1 = 10-5 h-1, k2 = 10-7 (orang.h)-1, k3 = 5 x 10-6 h, k4 = 10-7 h, dan Ho = 109 orang, plotkan H, I,
dan D versus waktu. Variasikan k1 dan deskripsikan apa yang kamu temukan. Cek dengan disease
control center ditempatmu atau cari WWW untuk memodifikasi model dan/atau subtitusi nilai k
yang tepat.

P7-9C (Postacidijication dalam yogurt) Yogurt diproduksi dengan menambah dua strain bakteri (Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus thermophilus) untuk susu pasteurisasi. Pada suhu 110 oC, bakteri tumbuh
dan menghasilkan asam laktat. Asam berkontribusi pada rasa dan menyebabkan protein mengental,
memberi karakteristik khas yoghurt. Ketika asam yang dihasilkan telah mencukupi (sekitar 0,90%),
yoghurt didinginkan dan disimpan sampai dikonsumsi oleh konsumen. Batas asam laktat yang dapat
diterima adalah 1,10 %. Satu limit 0111 yangmumur simpan yogurt adalah "postacidification," atau
melanjutkan produksi asam oleh kultur yoghurt selama penyimpanan. Tabel berikut menunjukkan
produksi asam (% asam laktat) dalam yogurt dibandingkan waktu pada empat suhu yang berbeda.

Produksi asam oleh kultur yoghurt adalah proses biokimia yang kompleks. Untuk pemecahan masalah
ini, asumsika produksi asam mengikuti kenetika first-order berkenaan dengan konsumsi laktosa pada
yogurt untuk menghasilkan asam laktat. Pada awal produksi asam, konsentrasi laktosa adalah sekitar
1,5%, konsentrasi bakteri adalah 1011 sel/dm3, dan konsentrasi asam di mana semua aktivitas metabolik
berhenti adalah 1,4% asam laktat.
(a) Tentukan energi aktivasi untuk reaksi.
(b) Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 1,10% asam pada 38 oF?
(c) Jika Anda membiarkan yoghurt keluar pada suhu kamar, 77 oF, berapa lama
untuk mencapai 1,10% asam laktat?
(d) Dengan asumsi bahwa asam laktat diproduksi dalam keadaan stasioner, lakukanlah data sesuai
dengan modul yang dikembangkan di bab ini?
[Soal dikembangkan oleh General Mills, Minneapolis, Minnesota]

P7-10C Hidrolisasi enzimatik dari minyak ikan yang diekstraksi dari minyak mentah belut telah dilakukan
menggunakan lipase L (Proc. 2nd Joint ChindUSA Chemical Engineering. Konferensi, Vol. 111, hal.
1082, 1997). Salah satu produk yang diinginkan adalah docosahexaenic asam, yang digunakan sebagai
obat di Cina. Untuk 40 mg enzim, Konstanta Michaelis adalah 6,2 x 10-2 (mL/mL) dan Vmax, adalah 5,6
mol / mL min. Hitung waktu yang diperlukan untuk mengurangi konsentrasi minyak ikan dari 1,4%
menjadi 0,2% vol. Catatan: Mungkin ada ketidakkonsistenan dalam artikel. Half life volume awal 25%
minyak ikan dinyatakan 4,5 hari. Namun, ini menghasilkan konsentrasi minyak ikan awal yang berbeda
dari yang ditemukan di literatur. Cari web untuk minyak forjsh. Sarankan cara untuk menyelesaikan
kontroversi ini.

P7-11B katalase daging sapi telah digunakan untuk mempercepat dekomposisi hidrogen peroksida untuk
menghasilkan air dan oksigen [Chem. Ya Educ., 5, 141 (1971) l. Konsentrasi hidrogen peroksida
diberikan sebagai fungsi waktu untuk suatu reaksi campuran dengan pH 6,76 dijaga pada 30 °C.
Abdillah Iman Izzan/21030116130155

(a) Tentukan parameter Michaelis-Menten Vmax dan Km.


(b) Jjika total konsentrasi enzim ditiga kali lipatkan, berapa konsentrasi subtract setelah 20 menit?
(c) Bagaimana anda dapat membuat soal ini menjadi lebih sulit?

P7-12B Dalam soal ini, tiga jenis reaksi berbeda ditelaah:


(a) Dalam inhibitor kompetitif, sebuah inhibitor mengabsorpsi pada jenis sisi substrat yang sama.
Kompleks enzim inhibitor yang dihasilkan tidak aktif. Tunjukkan bahwa rate law untuk inhibitor
kompetitif

adalah

(b) Dalam inhibisi uncompetitive, inhibitor menarik dirinya ke enzim-substrat kompleks,


membuatnya tidak aktif. Tunjukkan bahwa untuk uncompetitive inhibitor,

Laju reaksinya adalah

(c) Dalam inhibisi nonkompetitif, inhibitor mengadsorpsi dirinya sendiri ke jenis sisi yang berbeda
dari substrat untuk membuat kompleks enzim-substrat tidak aktif. Dengan asumsi bahwa semua
konsentrasi suatu spesies dapat diekspresikan oleh konsentrasi kesetimbangan mereka, tunjukkan
bahwa untuk penghambatan nonkompetitif

Laju reaksinya adalah

(d) Sketsakan tiga inhibisi diatas pada Lineweaver-Burk plot.

P7-12B Telah diobservasi inhibisi substrat yang terjadi pada reaksi enzimatik berikut:

(a) Tunjukaan laju reaksi urutan diatas itu konsisten dengan plot pada gambar P7-13, -rs (mmol/L min)
versus konsentrasi substrat S (mmol/L). (lihat soal P7-12
Abdillah Iman Izzan/21030116130155

(b) Jika reaksi dilakukan dalam CSTR yang memiliki volume 1000 dm3, kecepatan aliran
volumetriknya 3,2 dm3/min, tentukan tiga kemungkinan steady state, jika mungkin, mana yang
stabil. Konsentrasi substrat yang masuk adalah 50 mmol/dm3, tentukan konversi tertinggi?
(c) Apa yang akan menjadi konsentrasi substrat efluen, jika total konsentrasi enzim dikurangi 33%?

P7-14B Data berikut adalah hubungan khamir roti dalam medium tertentu pada suhu 23,4 oC dan tekanan partial
oksigen yang bervariasi.

(a) Hitung QO2 maksimum (Vmax) dan konstanta Michaelis-Menten Km (Jawaban: Vmax = 52,63 L
O2/h mg sel)
(b) Dengan menggunakan Lineweaver-Burk plot, ttentukan apakan sulfanilamide itu kompetitif atau
nonkompetitif inhibitor terhadap serapan O2.

W-15 (a) Gunakan bacaan tambahan untuk mendapatkan masing masing tiga contoh pembentukan polimer
dengan step polimerisasi dan chain polimerisasi. Deskripsikan monomer-monomer, unit struktural
dan unit berulang dalam setiap kasus.
(b) Plotkan yj, wj, sebagai fungsi j untuk derajat polimerisasi 5, 10, dan 20. Plotkan P10 sebagai fungsi
dari konversi grup fungsional, p, untuk Mo = 1 mol/dm3.
(c) Plotkan yj dan wj sebagai fungsi j untuk terminasi radikal bebas dengan kombinasi untuk p = 0,8, p=
0,9 dan p = 0,95.
(d) Tentukan distribusi berat molekul untuk pembentukan polistirena dengan konsentrasi inisiator 10 -3
molar dan konsentrasi monomer 3 molar. Tentukan Mn, Mm, dan polydispersity, D, setelah 40 jam?
Jika transfer chain diabaikan, bagaimana perubahan Mn yang akan terjasi?
(e) Polimerisasi stirena dilakukan dalam reaktor batch. Plotkan fraksi mol polistirena dengan panjang
rantai 10 sebagai fungsi waktu untuk konsentrasi mula mula 3 M monomer dan 0,01 M inisiator.
Konsentrasi pelarut adalah 10 molar.

P7-16B Derajat rata rata polimerisasi, Xn, dapat dirumuskan sebagai


Abdillah Iman Izzan/21030116130155

(P7-16.1)
(a) Tentukan langkah terminasi tambahan yang menghasilkan dari kombinasi molekul inisiator dan
redikal bebas R
Dwi Novitasari

Rj  Pj
(b) Tunjukkan bahwa

dimana

(c) Dengan mengabaikan transfer solven, tunjukkan bahwa

(d) Jelaskan bagaimana cara menentukan rate low parameter dari data eksperimen yang diperoleh
dalam CSTR. Gunakan sketsa untuk menjelaskan penjelasan Anda.
(e) Energi aktivasi untuk langkah inisiasi, propagasi, dan terminasi adalah: 20 kJ/mol, 20 kJ/mol, dan 9
kJ /mol. Diskusikan pengaruh suhu pada polimerisasi radikal bebas.
P7-17B Reaksi polimerisasi radikal bebas yang dibahas dalam Bagian 7.3.3 untuk reaktor batch harus
dilakukan dalam CSTR dan PFR.
(a) Plot inisiator efluen dan konsentrasi monomer sebagai fungsi dari ruang-waktu .
(b) Bandingkan hasil jawaban Anda untuk dua CSTR yang berukuran sama dalam satu seri dengan
satu CSTR. Total volume sama pada kedua kasus.
(c) Variasikan nilai parameter (Le., k0, kp,) dan diskusikan hasil Anda.
Informasi tambahan:
Mo= 3 mol/dm3 I20= 0.021 mol/dm3
-3 -1
k0= 10 s kp=10 mol/dm3 kt= 5 x 107 dm3/mol.s

P7-18A (Polimerisasi Anionik)


(a) Tentukan jumlah panjang rata-rata dan berat rata-rata rantai panjang dan berat molekul dengan
tingkat polimerisasi dan polidispersitas dalam polimerisasi anionik untuk konsentrasi monomer
awal 2 M dan untuk konsentrasi inisiator 1, 0.01, dan 0.0001 Ai.
(b) Hitung konsentrasi radikal dan konsentrasi polimer sebagai fungsi waktu untuk j = 3, 7, 10 dengan
konsentrasi monomer dan inisiator yang sama. kt= , kp= 100 dm3/mol.s
(c) Ulangi (b) untuk kasus ini

dan

dengan ki= 10 dm3/mol.s dan Ki= 10-8 mol/ dm3


P7-19A Sebuah polimerisasi anionik dilakukan dalam CSTR. Langkah-langkah reaksinya :
I+M R1
RJ + M  RJ+1
Konsentrasi yang masuk monomer dan inisiator masing-masing adalah Mo dan Io.
(a) Turunkan persamaan yang melibatkan konsentrasi monomer dan hanya variabel kp, kl, Io, t (yaitu,
=V/ ), dan MQ.
(b) Turunkan persamaan konsentrasi radikal sebagai fungsi ruang waktu, .

(c) Pilih nilai yang mewakili nilai ki (0,015 dm3/mol.s) dan kp (103 dm3/ mol.s) ke plot I dan M sebagai
fungsi . Bagaimana jika ki >> kp dan R1 = Io.
(d) Turunkan persamaan untuk momen pertama dan kedua serta μn, μw, dan D.

P7-20 Poliester (kaos) dapat dibentuk oleh reaksi diakonia dan diol

[COOH] mewakili konsentrasi gugus fungsi karboksil dan [-OH] mewakili konsentrasi gugus
hidroksil. Umpan equimolar di [OH] dan [COOH]. Kombinasi kesetimbangan mol dan kecepatan
reaksi adalah

(a) Asumsikan bahwa polimerisasi dikatalisis sendiri [cat] [COOH], plot fungsi yang sesuai dari
fraksi gugus fungsi yang direaksikan, p, sebagai fungsi waktu untuk memperoleh plot linier. Plot
data eksperimen di plot yang sama. Di bagian mana teori dan eksperimen tersebut sesuai, dan di
bagian mana mereka tidak sesuai?
(b) Asumsikan bahwa reaksi dikatalisis oleh ion (H+) dan bahwa ion (H+) dipasok oleh disosiasi asam
lemah [COOH]. Tunjukkan bahwa tingkat reaksi keseluruhan memiliki orde 5/2. Plot fungsi yang
Dwi Novitasari

sesuai dari p versus waktu sehingga plotnya linear. Di bagian mana teori dan eksperimen tersebut
sesuai, dan di bagian mana mereka tidak sesuai?
(c) Dinyatakan bahwa mekanisme untuk polimerisasi adalah

Dapatkah mekanisme ini dibuat konsisten dengan kedua kecepatan reaksi?


Informasi tambahan
Data Eksperimen
t (min) 0 50 100 200 400 700 1200 1600
P 0 0.49 0.68 0.8 0.88 0.917 0.936 0.944
P7-21B Sketsa konsentrasi polimer, Pj, fraksi mol polimer dengan unit j monomer, yj, dan fraksi berat yang
sesuai, wj, untuk j = 2, 10, 20 sebagai fungsi dari konversi monomer dalam Styrene polimerizatio-n
untuk
(a) Terminasi dengan cara lain selain kombinasi.
(b) Terminasi dengan kombinasi. Berat molekul monomer adalah 25 dan konsentrasi awalnya adalah 3
M serta konsentrasi inisiator adalah 0,01 M.
(c) Bagaimana perubahan jawaban terhadap bagian (a) dan (b) jika konsentrasi inisiator adalah 4.000
M?
(d) Berapakah bobot molekul rata-rata yang sesuai pada X = 0,2, 0,8, dan 0,999?
P7-22B Kerjakan ulang Contoh 7-5 untuk kasus ketika inisiator tidak segera bereaksi dengan monomer untuk
membentuk R radikal; (yaitu, R1), tetapi sebaliknya bereaksi pada tingkat yang terbatas dengan laju
reaksi spesifik ko:
I + M  Ri
Kecepatan reaksinya adalah

Konsentrasi inisiator pada saat di t = 0 adalah I o


(a) Turunkan persamaan untuk Rl sebagai fungsi Θ.
(b) Untuk Mo= 3 mol/dm3, Io= 10-3 mol/dm3, ko= 0.1 dm3/mol.s, kp= 10 dm3/mol.s. Plot R8 dan P8
sebagai fungsi t waktu nyata.
P7-23B Kerjakan kembali masalah P7-22 untuk kasus di mana reaksi dilakukan dalam CSTR. Turunkan
persamaan untuk R, sebagai fungsi dari waktu tinggal, .
P7-24B Pertumbuhan bakteri Stepinpoopi dapat dijelaskan oleh kecepatan pertumbuhan logistik

dengan μm= 0.5 h-1 dan Cm= 20 g/dm3, Substrat bersifat excess
(a) Pertumbuhan sel dilakukan dalam reaktor batch 2-dm3. Plot laju pertumbuhan dan konsentrasi sel
(g/dm3) sebagai fungsi waktu setelah inokulasi 0,4 g sel ke dalam reaktor (abaikan periode lag).
(b) Reaktor batch pada bagian (a) harus diubah menjadi CSTR. Turunkan persamaan untuk kecepatan
pencucian. Tentukan nilai untuk laju alir volumetrik dari substrat yang masuk dan plot konsentrasi
sel sebagai fungsi waktu setelah inokulasi.
P7-25B Data berikut diperoleh untuk Pyrodictium occulturn pada 98°C. Run 1 dilakukan tanpa adanya ekstrak
ragi dan Run 2 dengan ekstrak ragi. Kedua Run awalnya mengandung Na 2S. Persentase volume
produk pertumbuhan H2S yang dikumpulkan di atas kaldu dilaporkan sebagai fungsi waktu. [Ann. N.
E ,A.cad. Sci., 506, 51 (1987)].
Run 1:
Time (h) 0 10 15 20 30 40 50 60 70
Densitas Cell
2.7 2.8 15 70 400 600 775 600 525
(cells/mL) x 10-4
% H2S 0.5 0.8 1.0 1.2 6.8 4.7 7.5 8.0 8.2

Run 2:
Time (h) 0 5 10 15 20 30 40 50 60
Dwi Novitasari

Densitas Cell
2.7 7 11 80 250 350 350 250 ---
(cells/mL) x 10-4
% H2S 0.1 0.7 0.7 0.8 1.2 4.3 7.5 11.0 12.3

(a) Berapa lama lag dengan dan tanpa ekstrak ragi?


(b) Apa perbedaan dalam tingkat pertumbuhan spesifik, μmax dari bakteri dengan dan tanpa ekstrak
ragi?
(c) Berapa lama fase stasioner?
(d) Selama fase apakah mayoritas produksi H2S terjadi?
(e) Volume reaktor cair di mana percobaan batch ini dilakukan adalah 0.2 dm3. Jika reaktor ini diubah
menjadi reaktor aliran kontinu, berapa kecepatan pencucian yang sesuai?
P7-26C Pertumbuhan sel dengan inhibisi substrat yang tidak kompetitif terjadi dalam CSTR. Hukum laju
pertumbuhan sel untuk sistem ini

Dengan μmax =1.5 h-1, Ks= 1 g/dm3, KI =50 g/dm3, Cs0= 30 g/dm3, Yc/s=0.08, Cc0=0.5 g/dm3, dan
D=0.75 h-1 ,
(a) Buat plot dari konsentrasi sel steady state Cc sebagai fungsi D.
(b) Buat plot konsentrasi substrat Cs sebagai fungsi D pada grafik yang sama seperti yang digunakan
untuk bagian (a).
(c) Awalnya, 0,5 g/dm3 bakteri ditempatkan di dalam tangki yang berisi substrat dan aliran ke tangki
dimulai. Plot konsentrasi bakteri dan substrat sebagai fungsi waktu.
P7-27B Larutan yang mengandung bakteri pada konsentrasi 0,001 g /dm3 diumpankan ke reaktor semibatch.
Nutrisi dalam keadaan excess dan laju pertumbuhan adalah orde pertama dalam konsentrasi sel.
Reaktor kosong pada awal percobaan. Jika konsentrasi bakteri dalam reaktor pada akhir 2 jam adalah
0,025 g/dm3, berapa tingkat pertumbuhan spesifik k dalam min-1?
P7-28A Pemahaman tentang transportasi bakteri dalam media berpori sangat penting untuk operasi yang
efisien dari banjir air dari reservoir minyak bumi. Bakteri dapat memiliki efek menguntungkan dan
berbahaya pada reservoir. Dalam enhanced oil recovery mikroba, Emor, bakteri yang disuntikkan
untuk mensekresikan surfaktan untuk mengurangi tegangan antar muka pada antarmuka minyak-air
sehingga minyak akan mengalir keluar lebih mudah. Namun, dalam beberapa keadaan bakteri dapat
berbahaya, dengan memasukkan ruang pori dan dengan demikian menghalangi aliran air dan minyak.
Satu bakteri yang telah diteliti, Leuconostoc mesenteroides, memiliki perilaku yang tidak biasa bahwa
ketika disuntikkan ke dalam media berpori dan diberi makan sukrosa, itu sangat mengurangi kecepatan
aliran (yaitu, merusak formasi dan mengurangi permeabilitas). Ketika bakteri diberi makan fruktosa
atau glukosa, tidak ada kerusakan pada media berpori. [R. Lappan dan H. S. Fogler, SPE Prod. Eng., 7
(2), 167-171 (1992)]. Konsentrasi sel, Cc diberikan di bawah ini sebagai fungsi waktu untuk
konsentrasi sukrosa awal yang berbeda.
(a) Dari data di bawah ini, tentukan jeda waktu, waktu untuk mencapai fase diam, konstanta Michaelis,
Ks dan kecepatan reaksi, EL, sebagai fungsi konsentrasi sukrosa.
(b) Akankah model hambatan dalam bentuk

di mana n dan C*p adalah parameter, sesuai dengan data Anda?


Data Konsentrasi Cell
Waktu Kons. 1g/cm3 5g/cm3 10g/cm3 15g/cm3
-7 -7
Sukrosa (jam) Cc x 10 Cc x 10 Cc x 10-7 Cc x 10-7
3 3
(no./cm ) (no./cm ) (no./cm3) (no./cm3)
0.00 3.00 2.00 2.00 1.33
1.00 4.16 3.78 6.71 5.27
2.00 5.34 5.79 1.11 0.30
3.00 7.35 --- 5.72 3.78
4.00 6.01 9.36 3.71 7.65
5.00 8.61 6.68 8.32 10.3
6.00 10.1 17.6 21.1 17.0
7.00 18.8 35.5 37.6 38.4
8.00 28.9 66.1 74.2 70.8
9.00 36.2 143 180 194
10.00 42.4 160 269 283
11.00 44.4 170 237 279
12.00 46.9 165 256 306
13.00 46.9 163 149 289

P7-29A CSTR dioperasikan pada kondisi steady state. Pertumbuhan sel mengikuti hukum pertumbuhan
Monod tanpa penghambatan. Substrat dan konsentrasi sel yang keluar diukur sebagai fungsi dari laju
alir volumetrik (direpresentasikan sebagai laju pengenceran), dan hasilnya ditunjukkan di bawah ini.
Dwi Novitasari

Tentu saja, pengukuran tidak diambil sampai kondisi stabil tercapai setelah setiap perubahan dalam
laju aliran. Abaikan konsumsi substrat untuk pemeliharaan dan tingkat kematian, dan asumsikan
bahwa Yplc adalah nol. Untuk Run 4, konsentrasi substrat yang masuk adalah 50 g/dm3 dan laju alir
volumetrik dari substrat adalah 2 dm3/s.

Cs D Cc
Run
(g/dm3) (s-1) (g/dm3)
1 1 1 0.9
2 3 1.5 0.7
3 4 1.6 0.6
4 10 1.8 4
Muhammad Jiihaan Muqorrobiin – 21030116130178

422- 426 (82)

P7-30B (a) Menentukan parameter monod growth µmax dan Ks.


(b) Memperhitungkan koefisien stoikiometri Ycls dan Yslc.
Produksi gliserol dari amilum jagung hasil fermentasi menggunakan sel ragi (Proc. 2nd Joint
China/USA Chemical Engineering Conference, Beijing, China, Vol. 111, p. 1094, 1997).
Pertumbuhannya:
rg=µCC
dengan

µo = 0.35 h—1
Ks = 0.018 mg/mL
KSI = 11.8 mg/mL
Ckp = 32.4 mg/mL
KPI = 0.06 Ml/mg

Plot konsentrasi sel, substrat, dan produk sebagai fungsi dari waktu untuk konsentrasi mula-mula
sel 10-8 g/dm3. Dan konsentrasi substrat 50 g/dm3.
P7-31B Air limbah mengandung asam terephtalic (TA) diperlakukan menggunakkan dua aerobic sludge
tanks secara seri (Proc. 2nd Joint China/USA Chemical Engineering Conference, Beijing, China,
Vol. 111, p. 970, 1997). Tangki pertama dengan volume 12 dm3 dan tangki kedua dengan volume
24 dm3. Digunakan untuk menentukan pengurangan konsentrasi TA (bentuk COD, mg/dm3) dari
5000 mg/dm3 menjadi dibawah 100 mg/dm3. Hasil dari percobaan dijelaskan dalam persamaan di
bawah:
Tangki 1:

Dengan µo = 1.61 hari—1 (gram substrat/gram sel) dan Ks = 0.25 g/dm3 untuk persamaan
monod.
Tangki 2:

Dimana CC adalah konsentrasi dari biomassa dalam tangki dan CS0 dan CS menunjukkan masuk
dan keluarnya konsentrasi dari TA pada air limbah.
Desain CSTR system endapan lumpur untuk menangani air limbah dengan laju alir 1000 m3/hari:

P7-32B Produksi dari asam L-malic (untuk medis dan zat aditif makanan) diproduksi oleh sel Bacillus
flavum MA-3 (Proc. 2nd Joint China/USA Clzemical Engineering Conference, Beijing, China,
Vol. 111, p. 1033, 19971].

Laju diatas didapatkan dari laju pembentukkan produk:

Dimana Vmax = 76. Km = 0.048 mol/dm3, dan Ckp = 1.69 mol/ dm3. Desain reactor untuk proses 10
m3/hari dari 2 mol/dm3 asam fumaric.

CD-ROM MATERIAL
 Learning Resources
Muhammad Jiihaan Muqorrobiin – 21030116130178

422- 426 (82)

1. Ringkasan lecture 25,26,36,37,38, dan 39


2. Solved problems
A. Hydrogen Bromide
Contoh CD7-1 Deducing the Rate Law
Contoh CD7-2 Find a Mechanism
 Living Contoh Problems
1. Contoh 7-2 PSSH Applied to Thermal Cracking of Ethane
2. Contoh 7-9 Bacteria Growth in a Batch Reactorb
 Professional Reference Shelf
1. Enzyme Inhibition
A. Competitive
B. Contoh CD7-3 Derive a Rate Law For Competitive Inhibition
13. Uncompetitive
C. Non-Competitive
Contoh CD7-4 Derive a Rate Law For Non-Competitive Inhibition
Contoh CD7-5 Match Eadie Plots to the Different Types of Inhibition
2. Multiple Enzymes and Substrate SysLems
A. Enzyme Regeneration
Contoh CD7-6 Construct a Lineweaver-Burk Plot for Different
Oxygen Concentrations
B. Enzyme Co-factors
Contoh CD7-7 Derive an Initial Rate Law for Alcohol Dehydrogenases
Contoh CD7
C. Multiple-Substrate Systems
Contoh CD7-8 Derive a Rate Law for a Multiple Substrate System
Contoh CD7-9 Calculate the Initial Rate of Formation of Ethanol in the
Presence of Propanediol
D. Multiple Enzyme Systems
3. Oxidation Limited Fermentation
4. Fermentation Scale up
 Additonal Homework Problems
CDP7-AA Menenetukan laju dan mekanisme untuk reaksi

[2nd Ed. P-7-6A]


CDP7BA Mekanisme untuk reaksi

[2nd Ed. P-7-8B]


CDP7-CA Mengembangkan laju untuk menghambat substrat dari reaksi enzimatis.
[2nd Ed. P-7-16A]
CDP7-DB Gunakan POLYMATH untuk menganalisa reaksi enzimatis [2nd Ed. P-7-19B]

CDP7-EB Redo problems P7-17 untuk melibatkan rantai transfer [2nd Ed. P-7-23B]
CDP7-FB Menentukan laju dari disfusi oksigen ke sel [2nd Ed. P12-12B]
CDP7-GB Menentukan kecepatan pertumbuhan dari amoeba predatory pada bakteri
[2nd Ed. P12-15C]
CDP7-HC Perencanaan scale-up dari oksigen fermentor [2nd Ed. P12-16B]
CDP7-IB Menilai keefektifan penggunaan bakteri untuk denitrifikasi pada reactor batch [2nd
Ed. P12-18B]
CDP7-JA Menentukan parameter kecepatan untuk persamaan Monod [2nd Ed. P12-19A]

JOURNALCRITIQUE PROBLEMS
Wc-1 Membandingkan antara kurva teoritis dengan data yang sebenarnya pada gambar 5b [Biotechnol.
Bioeng., 24, 324(1982)],kurva normalized residence-time. Dua kurva tidak pada kondisi konversi
tertingginya. Pertama, persamaan kecepatan, dan persamaan normalized residence-time yang
digunakan, kemudian nilai untuk kinetic konstan dan konsentrasi lactase, dapat dilihat jika kurva
teoritis dan terduplikat. linearisasi persamaan normalized residence-time dan plot kembali data ,
Muhammad Jiihaan Muqorrobiin – 21030116130178

422- 426 (82)

kurva pada gambar 5b dan kurva teoritis didapatkan dengan menggunakan nilai konstan dari paper.
Apa penjelasan paling sederhana dari hasil observasi?
Wc-2 Pada gambar 3 [Biofechnol. Bioeng., 23, 361 (1981)], 1/V diplotkan terhadap (1/S) (10PGM) pada
tiga kondisi konsentrasi 7-ADCA konstan, dengan percobaan duntuk ekstrak Vmax untuk reaksi.
apakah Vmax didapatkan dengan cara ini telah sesuai dengan nilainya? Bagaimana percobaan Vmax
terpengaruh oleh nilai level PGM pada media?
Wc-3 Pada J. Catal., 79, 132 (1983), mekanisme untuk katalis hidrogeasi piridin pada reactor slurry.
Periksa kembali data dan model menggunakan mekanisme adsorpsi Eley-Rideal dan berikan
analisis baru yang sesuai

SUPPLEMENTARY READING
1. Diskusi mengenai reaksi kompleks melibatkan intermediate aktif
FROST, A. A., and R. G. PEARSON, Kinetics and Mechanism, 2nd ed. New York:
Wiley. 1961, Chap.10.
LAIDLER, K. J., Chemical Kinetics, 3rd ed. New York: HarperCollins, 1987.
PILLING, M. J., Reaction Kinetics, New York: Oxford University Press, 1095.
SEINFELD, J. H., and S. N. PANDIS, Atmospheric Chemistry and Physics, New
TEMKIN, 0. N., Chemical Reaction Networks: A Graph-Theoretical Approach, York: Wiley,
1998. Boca Raton, Fla: CRC Press, 1996.
2. Diskusi lanjut mengenai reaksi enzimatis
ORNISH-BOWDEN, A., Analysis of Enzyme Kinetic Data, New York: Oxford
University Press, 1995.
VAN SAWTEN, R. A. and J. W. NIEMANTSVERDRIET, Chemical Kinetics and Catalysis,
New York: Plenum Press, 1995.
WARSHEL, A., Computer Modeling of Chemical Reactions in Enzymes and Solutions, New
York: Wiley, 1991.
WINGARD, L. B., Enzyme Engineering. New York: Wiley-Interscience, 1972.
3. Referensi mengenai reaksi polimer perteknikan
BILLMEYER, E W., Textbook of Polymer Science, 3rd ed. New York: 'Wiley,
1984.
DOTSON, N. A,, R. GALVAN, R. L. LAWRENCE, and M. TIRRELL, Polymerization
Process Modeling, New York: VCH Publishers, 1996.
HOLLAND, C. D., and R. G. ANTHONY, Fundamentals of Chemical Reaction Engi-neering,
2nd ed. Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall, 1989, Chalp. 10.
ODIAN, G., Principles of Polymerization, 3rd ed. New York: Wiley, 1983.
SCHORK, F. J., P. B. DESHPANDE, and K. W. LEFFEW, Control of Polymerization
Reactors, New York: Marcel Dekker, 1993.
YOUNG, R. J. and P. A. LOVELL, Introduction to Polymers, 2nd ed., New York: Chapman
& Hall, 1991.
4. Material pada bioreactor
AIBA, S., A. E. HUMPHREY, N. F. MILLIS, Biochemical Engineering, 2nd ed. San Diego,
Calif.: Academic Press, 1973.
BAILEY, T. J., and D. OLLIS, Biochemical Engineering, 2nd ed. New York: McGraw-Hill,
1987.
CRUEGER, W., and A. CRUEGER, Biotechnology: A Textbook of Industrial Micro- biology.
Madison, Wisc.: Science Tech., 1982.
SCRAGG, A. H., ed., Biotechnology for Engineers. New York: Wiley, 1988.

8
STEADY STATE NON-ISOTHERMAL REACTOR DESIGN

Sekarang kita focus terhadap efek panas pada reactor kimia. Desain persamaan dasar,
kecepatan, dan hubungan stoikiometri dan penggunaannya pada chapter 4 untuk desain reactor
isothermal yang masih berlaku untuk desain reactor non-isotermal. Perbedaan utama jelas ada
pada metode evaluasi desain persamaan ketika variasi temperature sepanjang PFR atau ketika
panas dihilangkan dari CSTR. Pada bagian 8.1 menunjukkan mengapa kita membutuhkan
kesetimbangan energy dan bagaimana kesetimbangan energy itu dapat digunakan untuk
memecahkan masalah desain reactor. Bahagian 8.2 fokus pada asalnya dan mengontrol
kesetimbangan energinya untuk aplikasi pada berbagai tipe reactor. Pada bagian 8.3 dan 8.4,
Muhammad Jiihaan Muqorrobiin – 21030116130178

422- 426 (82)

kesetimbangan energy berhubungan dengan kesetimbangan mol, kecepatan, dan stoikiometri


untuk merancang reactor non-isotermal. Pada bagian 8.5 mengenai industry reactor non-
isotermal dan reaksinya, oksidasi SO2, dijelaskan secara rinci. Multiple steady state pada
bagian 8.6 dan penutup bab denagan bagaian 8.7, reaksi multiple non-isotermal.

8.1 Dasar Pemikiran


Untuk mengidentifikasi tambahan informasi yang dibutuhkan untuk merancang reactor non-
isotermal, kita mempertimbangkan contoh yang ada, dimana reaksi eksotermis yang tinggi
dibawa pada proses adiabatis dalam reactor plug-flow.

Contoh 8-1 apa tamabahan informasi yang dibutuhkan?


Perhitungkan volume reactor yang dibutuhkan untuk konversi 70%

.
Diah Ayu Almaas Salwa
21030116140118

Sec 8.2 Keseimbangan Energy 427

Reaksinya eksotermik dan reaktor dioperasikan secara adiabatis. Akibatnya, suhu akan meningkat
dengan konversi ke bawah panjang reaktor.

Penyelesaian

1. Rumus Persamaan :

(E8-1.1)

2. Hukum Laju Reaksi :

(E8-1.2)

3. Stokiometri (fasa cair) :

(E8-1.3)

4. Kombinasi dan mengabaikan konsentrasi yang masuk, CA0, yield

(E8-1.4)

Memanggil kembali persamaan Arhenius,

(E8-
1.5)

kita tahu bahwa k adalah fungsi temperatur, T. Akibatnya, karena tegangan bervariasi
Kenapa kita sepanjang reaktor, k juga akan bervariasi, yang tidak terjadi pada reaktor aliran plug
isotermal. Menggabungkan Persamaan (E8-1.4) dan (ES-1.5) didapatkan
membutuhkan
keseimbangan
(E8-
energi
1.6)

Dapat dilihat bahwa dibutuhkan hubungan lain terkait X dan T atau T dan V untuk
menyelesaikan persamaan ini. Keseimbangan energi akan memberikan hubungan ini.

8.2 Keseimbangan Energi

8.2.1 Hukum Pertama dari Termodinamika

Kita mulai dengan penerapan hukum pertama termodinamika terlebih dahulu ke sistem tertutup
dan kemudian ke sistem terbuka. Suatu sistem adalah bagian yang terikat dari alam semesta, bergerak
atau stasioner, yang dipilih untuk aplikasi berbagai persamaan termodinamika. Untuk sistem tertutup,
di mana tidak ada massa
Diah Ayu Almaas Salwa
21030116140118

428 Rancangan Reaktor Steady-State NonIsotermal


Chap.8

melintasi batas-batas sistem, perubahan total energi sistem, dÊ, sama dengan aliran panas ke sistem,
δQ, minus pekerjaan yang dilakukan oleh sistem di sekitarnya, δW Untuk sistem tertutup,
keseimbangan energy adalah

(8-1)

Simbol menandakan bahwa δQ dan δW bukan merupakan perbedaan fungsi yang tepat.
Reaktor aliran kontinyu yang telah kita diskusikan dianggap sebagai sistem terbuka di mana
massa melintasi batas sistem. Kami harus memasukkan keseimbangan energi pada sistem terbuka
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8-1. Untuk sistem terbuka di mana beberapa pertukaran energi
dibawa oleh aliran massa melintasi batas-batas sistem, keseimbangan energi untuk kasus hanya satu
spesies yang masuk dan keluar menjadi

-Q - W + FinEin - FoutEout

(8-2)

Gambar 8.1 Keseimbangan Energi untuk Sistem Terbuka: Skema

Keseimbangan energi unsteady-state untuk sistem terbuka yang memiliki ɳ spesies, masing-
masing memasuki dan meninggalkan sistem pada tingkat aliran molar masing-masing Fi (mol i per
waktu) dan dengan energi masing-masing Ei Cjoules per mol i), adalah

(8-3)

Kita akan mendiskusikan setiap istilah di salam persamaan (8.3)


Diah Ayu Almaas Salwa
21030116140118

Sec. 8.2 Keseimbangan Energi 429

8.2.2 Mengevaluasi Istilah Kerja

Merupakan kebiasaan untuk memisahkan istilah kerja, W, menjadi alur kerja yang ringan dan
kerja lain, Ws. Alur Kerja adalah pekerjaan yang diperlukan untuk memasukkan massa ke dalam
dan keluar dari sistem. Sebagai contoh, ketika tegangan geser tidak ada, kita menulis

[Kecepatan Alur Kerja]


Alur kerja dan
poros kerja
(8-4)

di mana P adalah tekanan (Pa) dan Vi adalah volume spesifik (m3 / mol i)
Istilah Ws, sering disebut sebagai kerja shu $, dapat dihasilkan dari hal-hal seperti
pengaduk dalam CSTR atau turbin dalam PFR. Dalam banyak hal, aliran, istilah kerja
dikombinasikan dengan istilah-istilah dalam keseimbangan energi yang mewakili pertukaran
energi dengan aliran massa melintasi batas-batas sistem. Substitusi Equation (8-4) ke dalam (8-3)
dan istilah pengelompokan, kami punya

Energi E, adalah jumlah dari energi internal (Ui), energi kinetik (ui2 / 2), energi potensial
(gzi), dan energi lainnya, seperti energi atau cahaya listrik atau magnet:

(8-6)

Dalam hampir semua situasi reaktor kimia, istilah energi kinetik, potensial, dan "lainnya" dapat
diabaikan dibandingkan dengan entalpi, perpindahan panas, dan istilah kerja, dan karenanya akan
dihilangkan; itu adalah,

(8-7)

Kami ingat bahwa entalpi, H, (J / mol), didefinisikan dalam hal energi internal: U i (J / mol), dan
PV produk, (1 Pa.m3 / mol = 1 J / mol. ):

Entalpi (8-8)

Satuan Hi adalah

Enthalpy dibawa ke (atau keluar dari) sistem dapat dinyatakan sebagai jumlah energi internal
bersih dibawa ke (atau keluar dari sistem dengan aliran massa ditambah alur kerja:
Diah Ayu Almaas Salwa
21030116140118

430 Rancangan Reaktor Steady-State NonIsotermal


Chap.8

Menggabungkan Persamaan (8-5), (8-7), dan (8-8), kita sekarang dapat menulis keseimbangan energi
dalam bentuk

Energi sistem pada setiap saat, Êsys, adalah jumlah produk dari jumlah mol setiap spesies
dalam sistem dikalikan dengan energi masing-masing. Istilah ini akan dibahas secara lebih rinci ketika
operasi reaktor goyah-negara dipertimbangkan dalam Bab 9.
Kami akan membiarkan subscript “0” mewakili kondisi inlet. Variabel unsub-scripted
mewakili kondisi di outlet volume sistem yang dipilih.

(8-9)

Untuk menempatkan persamaan ini dalam bentuk yang lebih dapat diterapkan, ada dua item untuk
dibedah:
1. Molar Laju Alir, Fi dan Fi0
2. Molar Entalpi, Hi, Hi0 [H,=H,(T) dan Hi0=Hf(T0)]

Animasi CD-ROM Versi animasi dari apa yang mengikuti untuk derivasi energi bal-ance dapat ditemukan dalam modul
rekayasa reaksi "Efek Panas i" dan "Efek Panas 2" pada CD-ROM

8.2.3 Membedah Laju Aliran Molar Steady State untuk Mendapatkan Panas Reaksi

Kami sekarang akan mempertimbangkan sistem aliran yang dioperasikan pada kondisi mapan.
Keseimbangan energi steady-state diperoleh dengan menetapkan (dÊsys/dt) sama dengan nol dalam
Persamaan (8-9) untuk menghasilkan

Steady state
Keseimbangan Energi
(8-10)

Untuk melakukan manipulasi untuk menulis Persamaan (8-10) dalam hal panas reaksi kita akan
menggunakan reaksi umum

(2-2)

Istilah inlet dan outlet dalam Persamaan (8-10) diperluas, masing-masing, untuk:
Diah Ayu Almaas Salwa
21030116140118

Sec. 8.2 Keseimbangan Energi 431

Masuk: (8-11)
And
Keluar: (8-12)
Kami terlebih dahulu menyatakan laju aliran molar dalam hal .conversion.
Secara umum, laju alir molar dari spesies i untuk kasus tanpa akaunulasi dan
koefisien stoikiometrik vf adalah

Terutma, untuk reaksi (2-2) kita mempunyai

Kita bias substitusi nilai-nilai itu ke dalam persamaan (8-11) dan (8-12), lalu substrak
persamaan (8-12) dari (8-11) untuk memberikan

(8-13)

ΔΗRx

Istilah dalam tanda kurung yang dikalikan dengan F A0X disebut panas reaksi pada
suhu T dan ditunjuk ΔΗRx.
Panas reaksi saat (8-14)
temperature T’
Semua entalpi (misalnya, HA, HB) dievaluasi pada suhu pada keluaran volume
sistem, dan akibatnya, [ΔΗRx (T)] adalah panas reaksi pada suhu spesifik T: Panas reaksi
selalu diberikan per mol
Adam Nurfalah Erdian – 21030116120070 432

spesies yang menjadi dasar perhitungan [yaitu, jenis A (joule per mol A bereaksi)].
Mengganti persamaan (8-14) menjadi (8-13) dan kembali ke notasi penjumlahan untuk spesies, Persamaan
(8-13) menjadi

Menyatukan Persamaan (8-10) dan (8-15), sekarang kita dapat menulis steady-state [yaitu, (dEsys/dt = 0)]
keseimbangan energi dalam bentuk yang lebih bermanfaat:

Dapat menggunakan bentuk keseimbangan energi steady-state ini jika entalpi tersedia.

Jika Perubahan Fase terjadi selama reaksi, bentuk keseimbangan energi ini [yakni, Persamaan (8-16)] harus
digunakan, misalnya, Masalah (8-3).

8.2.4 Membedah Enthalpi

Kita mengabaikan perubahan entalpi pada pencampuran sehingga entalpi molal parsial sama dengan entalpi
molal dari komponen murni. Entalpi molal spesies i pada suhu dan tekanan tertentu, Hi, biasanya dinyatakan dalam
bentuk entalpi pembentukan spesies i pada beberapa suhu referensi TR, Hio(TR), ditambah perubahan entalpi yang
menghasilkan ketika suhu dinaikkan dari suhu referensi ke beberapa suhu T, HQi :

Hi = Hio (TR) + HQi (8-17)

Suhu referensi di mana Hio diberikan biasanya 25°C. Untuk zat apa pun dimana i dipanaskan dari T1 ke T2 tanpa
adanya perubahan fasa,

Unit-unit khas dari kapasitas panas, CPi, adalah

Contoh 8-2 Menghubungkan HA (T) dengan HAo (TR)

Menghitung entalpi saat perubahan fase terjadi.

Spesies A adalah padatan pada suhu 25°C. Entalpi pembentukannya adalah HAo (298 K). Tulis ekspresi untuk entalpi
zat A dalam keadaan gas pada suhu T.

Solusi

Di sini, selain peningkatan entalpi dari padat, cair, dan gas dari kenaikan suhu, harus memasukkan panas meleleh
pada titik lelehnya, HmA (Tm), dan panas penguapan pada titik didih, HvA (Tb).
Adam Nurfalah Erdian – 21030116120070 433

Sejumlah besar reaksi kimia yang dilakukan dalam industri tidak melibatkan perubahan fasa. Oleh karena itu,
kita akan lebih menyempurnakan keseimbangan energi kita untuk diterapkan pada reaksi kimia fase-tunggal. Dalam
kondisi ini entalpi spesies i pada suhu T berhubungan dengan pembentukan cf entalpi pada suhu referensi TR oleh

Jika perubahan fasa terjadi berlangsung dari suhu T, yang diketahui entalpi formasi dan suhu reaksi, Persamaan (E8-
2.2:) harus digunakan sebagai pengganti Persamaan (8-19).

Kapasitas panas pada suhu T sering mengekspresikan fungsi kuadrat suhu, yaitu,

Untuk menghitung perubahan entalpi (Hi – Hi0) ketika cairan yang bereaksi dipanaskan tanpa perubahan fase
dari suhu masuknya Ti0 ke suhu T, kita menggunakan Persamaan (8-19) untuk menulis

Mengganti Hi dan Hi0 pada Persamaan (8-16) menghasilkan


Adam Nurfalah Erdian – 21030116120070 434

8.2.5 Menghubungkan HRx (T), HoRx (TR), dan Cp

Panas reaksi pada suhu T diberikan dalam bentuk entalpi setiap spesies pada suhu T, yaitu,

dimana entalpi dari setiap spesies diketahui oleh

Apabila kita mensubstitusikan entalpi dari setiap spesies, kita mendapatkan

Kumpulan istilah pertama di sisi kanan Persamaan (8-23) adalah panas reaksi pada suhu referensi TR,

Entalpi pembentukan banyak senyawa, Hio(TR), biasanya ditabulasikan pada 25°C dan dapat dengan mudah
ditemukan dalam buku Handbook of Chemistry arid Physics dan sejenisnya. Untuk zat lain, panasnya pembakaran
(juga tersedia di buku pegangan ini) dapat digunakan untuk menentukan entalpi pembentukan. Metode perhitungan
dijelaskan dalam buku pegangan ini. Dari nilai-nilai ini dari panas standar formasi, Hio (TR), kita dapat menghitung
panas reaksi pada suhu referensi TR dari Persamaan (8-24).

Istilah kedua dalam tanda kurung di sisi kanan Persamaan (8-23) adalah perubahan keseluruhan dalam
kapasitas panas per mol A bereaksi, Cp,

Menggabungkan Persamaan (8-25), (8-24), dan (8-23) menghasilkan


Adam Nurfalah Erdian – 21030116120070 435

Persamaan (8-26) memberikan panas reaksi pada setiap suhu T dalam hal dari panas reaksi pada suhu
referensi (biasanya 298 K) dan integral yang melibatkan istilah Cp. Teknik untuk menentukan panas reaksi pada
tekanan di atas atmosfer dapat ditemukan di Chen. Untuk reaksi hidrogen dan nitrogen pada 400°C ditunjukkan
bahwa panas reaksi meningkat hanya 6% saat tekanan dinaikkan dari 1 atm menjadi 200 atm.

8.2.6 Kapasitas Panas Konstan Atau Rata-rata

Untuk kasus kapasitas panas konstan atau rata-rata, Persamaan (8-26) menjadi

Sirkompleks menunjukkan bahwa kapasitas panas dievaluasi pada beberapa rata-rata nilai temperatur antara TR dan
T.

Dengan cara yang sama kita dapat menulis integral yang melibatkan Oi dan Cpi dalam Persamaan (8-22) sebagai

Cpi adalah kapasitas panas rata-rata spesies i antara Tio dan T :

Mengganti kapasitas panas rata-rata ke dalam Persamaan (8-22), kondisi-stabil keseimbangan energi menjadi

Di hampir semua sistem yang akan kita pelajari, reaktan akan memasuki sistem pada suhu yang sama; oleh karena
itu, Tio = T0.
Adam Nurfalah Erdian – 21030116120070 436

8.2.7 Kapasitas Panas Variabel

Kita selanjutnya ingin sampai pada suatu bentuk keseimbangan energi untuk kasus di mana kapasitas panas
adalah fungsi kuat dari suhu pada rentang temperatur yang luas. Di bawah kondisi ini nilai rata-rata yang digunakan
dalam Persamaan (8-30) mungkin tidak memadai untuk hubungan antara konversi dan suhu. Menggabungkan
Equation (8-23) dengan bentuk kuadrat dari kapasitas panas, Persamaan (8-20),

kita menemukan bahwa

dengan mengintegralkan diperoleh

dimana

Dengan cara yang sama, kita dapat mengevaluasi jangka kapasitas panas dalam Persamaan (8-22):

Mensubstitusikan Persamaan (8-31) dan (8-32) ke dalam Persamaan (8-22), bentuk dari keseimbangan energi adalah
TIFANY MINASHEILA 21030116130148

Contoh 8-3 Panas Reaksi


Hitunglah panas reaksi dalam pembentukan amonia dari hidrogen dan nitrogen pada suhu 150 celsius dalam
kcal/mol N2 yang bereaksi dan kJ/mol H2 yang bereaksi.
Penyelesaian
N2 + 3H2 → 2NH3
Hitung reaksi panas pada referensi suhu menggunakan panas pembentukan dari senyawa yang bereaksi dalam buku
Perry atau pedoman buku kimia dan fisika lain.

Panas reaksi dari pembentukan senyawa H2 dan N2 adalah nol pada suhu 25 celcius.

= -22,040 cal/mol
atau

Tanda negatif menandakan bahwa reaksi bersifat eksotermis. Apabila kapasitas panas konstan atau apabila rata-rata
kapasitas panas di atas interval 25 sampai 150 celsius, maka keadaan tersebut telah siap untuk terjadi, penentuan
pada 150 celcius sangat mudah ditemukan.

Panas reaksi berdasarkan mol H2 yang bereaksi yaitu :

8.2.8 Panas yang ditambahkan ke dalam reaktor, Q


Panas yang mengalir ke dalam reaktor, Q, sudah dicontohkan dengan istilah koefisien perpindahan panas
keseluruhan, U, luas daerah pertukaran panas, A, dan perbedaan antara suhu lingkungan, Ta, serta temperatur
reaksi, T.

CSTR. Gambar 8-2 menunjukkan skema dari CSTR dengan alat penukar panas. Pendingin memasuki alat penukar
pada laju alir masa mc dengan temperatur masuk Ta1 dan keluar pada temperatur Ta2. Laju transfer panas dari alat
penukar menuju reaktor adalah
TIFANY MINASHEILA 21030116130148

Untuk reaksi eksoteris (T > Ta2 > Tai)


Untuk reaksi endotermsis (Ta1 > Ta2 > T)

Gambar 8-2 Tangki CSTR dengan heat exchanger


Sebagai penebakan pertama, kita mengasumsikan nilai steady state untuk aliran pendingan dan mengabaikan
akumulasi (dTa/dt = 0). Kesetimbangan energi pada fluida dingin masuk dan keluar dari exchanger adalah

[laju energi yang masuk] – [laju energi yang keluar] – [laju transfer panas dari exchanger menuju reaktor] = 0
ṁcCpc(Ta1 - Tr) - ṁcCpc(Ta2 - Tr) -
dimana Cpc adalah kapasitas panas pada fluida pendingin dan Tr adalah suhu lingkungan. Apabila disederhanakan
menjadi :
Q = ṁcCpc(Ta1 – Ta2) =
Menyelesaikan persamaan 8-37 untuk temperatur keluar pada hasil fluida pendingin
T = T – (T-Ta1)exp(
Dari persamaan (8-37)
Q = ṁcCpc(Ta1 – Ta2)
Substitusikan Ta2 pada persamaan (8-39), kita mendapatkan

Untuk nilai yang besar pada laju alir pendingin, perpangkatan dapat dijabarkan dengan Taylor series dimana suku
orde dua diabaikan untuk mendapatkan :

Lalu,
Q = UA (Ta – T)
Dimana Ta1 = Ta2 = Ta

Reaktor Tubular (PFR/PBR). Ketika panas mengalir sepanjang reaktor, hal tersebut akan menjadi kasus pada
reaktor tubular, kita harus mengintegrasikan flux panas sepanjang panjang reaktor untuk mendapatkan total panas
yang ditambahkan pada reaktor,
TIFANY MINASHEILA 21030116130148

Dimana a adalah area penukar panas per unit volume reaktor. Variasi panas yang ditambahkan sepanjang panjang
reaktor dicari menggunakan menurukan Q terhadap V

Untuk reaktor tubular dengan diameter D,


a = 4/D
Untuk reaktor packed bed, kita dapat menuliskan persamaan (8-44) dalam berat katalis dengan pembagian sederhana
melalui densitas katalis sebagai berikut :

8.3 Reaktor Alir Kontinyu Nonisotermal


Pada bagian ini, kita mengaplikasikan kesetimbangan energi umum pada CSTR dan reaktor tubular yang
dioperasikan pada kondisi steady state. Kemudian kita memperlihatkan contoh masalah yang menunjukkan
bagaimana keseimbangan mol dan energi dikombinasikan pada reaktor yang dioperasikan secara adiabatik.
Substitusikan persamaan 8-26 ke dalam persamaan 8-22, dimana keseimbangan energi steady state ini menjadi :

Catatan : Pada banyak perhitungan, keseimbangan mol pada CSTR (FaoX=-raV) akan digunakan untuk
menggantikan bagian di bawah ini pada persamaan 8-47, dimana FaoX akan digantikan oleh -raV. Menyusun
kembali hasil keseimbangan steady state pada kasus baik konstan maupun rata-rata kapasitas panas melalui formula
berikut :

Bagaimana kita menggunakan informasi tersebut? Mari kta berhenti beberapa saat dan perhatikan sistem dengan
kondisi khusus dimana tidak ada usaha, Ws=0, operasi adiabatik, Q=0, dan kemudian susun kembali persamaan 8-
48 menjadi persamaan di bawah ini

Pada beberapa contoh, Cp(T-Tr) yang menjadi denominator pada persamaan 8-49 diabaikan seiring dengan suku
sehingga dapat dibuat grafik X vs T yang linear digambarkan pada gambar 8-3. Untuk mengingatkan kita
bahwa konversi yang digambarkan didapatkan dari keseimbangan energi daripada keseimbangan mol maka
diberikan subscrip EB (misanya XEB) pada gambar 8-3. Persamaan 8-49 diaplikasikan pada CSTR, PFR, PBR dan
juga reaktor batch. Untuk Q = 0 dan Ws = 0, persamaan 8-49 memberikan hubungan eksplisit antara X dan T yang
digunakan pada konjungsi keseimbangan mol untuk menyelesaikan reaksi masalah keteknikan yang sudah
didiskusikan pada bagian 8.1
TIFANY MINASHEILA 21030116130148

Gambar 8-3 Hubungan konversi dengan temperatur adiabatik


8.3.1 Aplikasi CSTR
Walaupun CSTR tercampur dengan baik dan temperaturnya seragam di setiap bagian pada tabung reaksi,
keadaan ini bukan berarti reaksi terjadi secara isotermal. Kondisi isotermal terjadi ketika temperatur umpan identik
dengan temperatur fluida di dalam CSTR. Persamaan desain CSTR dimana tidak terjadi variasi laju reaksi yaitu :
V=
Persamaan (2-13) digabungkan dengan penyusunan ulang persamaan (8-48) menjadi:
Rizky Laksmita Dewi
21030116120071

Tabel 8.1 Algoritma Reaktor CSTR


Reaksi fase liquid Irreversibel Orde 1
AB
Dilakukan secara adiabatis
1. Persamaan desain CSTR
T8-1.1

2. Laju Reaksi

T8-1.2

T8-1.3

3. Stoikiometri (fase liquid, v=vo):

4. Kombinasi

T8-1.4

Kasus A. Variabel X, v0, Cao, dan Fio spesifik dan volume reaktor V harus ditentukan dulu.
Prosedurnya adalah:
5. A. Temperatur T, untuk A masuk dan Untuk kasus adiabatik T
menjadi

T8-1.5
Untuk kasus adiabatik dengan Q=UA(Ta-T), T menjadi :

T8-1.6

6. Hitung nilai K dari persamaan Arhenius.

7. Hitung volume reaktor, V, dari persamaan T8-1.4

Kasus B. Variabel v0, Cao, V, dan Fio spesifik dan temperatur keluaran T, konversi X, dan
bilangan tak diketahui. Prosedurnya:

8. Selesaikan neraca panas (adiabatis) untuk X sebagai fungsi T

T8-1.7
Untuk non adiabatis dengan Q=UA(Ta-T), untuk

T8-1.8

9. Penyelesaian persamaan TS-1.4 untuk X sebagai fungsi T

T8-1.9
Rizky Laksmita Dewi
21030116120071

10. Temukan nilai X dan T yang memenuhi keseimbangan energi [Persamaan (TS-1.7)] dan
keseimbangan mol [Persamaan (T8-1.9)]. Hasil ini bisa 8e dicapai baik secara numerik
atau secara grafis [menggunakan X vs T menggunakan Equauons (T8-1 7) dan (T8-1 9)
pada grafik yang sama]

dan digunakan untuk mendesain CSTR (yaitu, untuk mendapatkan volume reaktor atau suhu
operasi). Jika perlu, CSTR baik dipanaskan atau didinginkan oleh pemanasan atau coolingjacket
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8-2, atau dengan koil yang ditempatkan di dalam reaktor.
Reaksi sering dilakukan secara adiabatis, seringkali dengan pemanasan atau pendinginan yang
disediakan hulu atau hilir bejana reaksi. Dengan pengecualian proses yang melibatkan bahan
sangat kental seperti di Soal P8-4, pekerjaan yang dilakukan oleh pengaduk biasanya dapat
diabaikan. Setelah mengganti Persamaan (8-42) untuk Q, keseimbangan energi dapat ditulis
sebagai
Rizky Laksmita Dewi
21030116120071

Di bawah kondisi operasi adiabatik dan pekerjaan stimulasi yang dapat diabaikan, keduanya Q dan
ada nol, dan keseimbangan energi menjadi

Prosedur untuk desain reaktor non-panas dapat diilustrasikan dengan mempertimbangkan reaksi
fase cair ireversibel orde pertama yang ditunjukkan pada Tabel 8-1. Algoritma untuk bekerja
melalui kasus A atau B dirangkum dalam Gambar 8-4. Penerapannya diilustrasikan dalam contoh
berikut. Mulai dari sini, demi singkatnya kita akan membiarkan

Kecuali ditentukan
Contoh 8.4 Produksi propylene Glikol dalam reaktor CSTR adiabatis

Lebih dari 800 juta pon propilen glikol diproduksi pada tahun 1997 dan penjualan harga sekitar $
0,67 per pon. Propilen glikol membentuk sekitar 25% dari turunan utama dari propilena oksida.
Reaksi berlangsung dengan mudah di ruangan suhu saat dikatalisis oleh asam sulfat. Anda adalah
insinyur yang bertanggung jawab atas CSTR adiabatik yang memproduksi propilena glikol dengan
metode ini. Sayangnya, reaktor mulai bocor, dan Anda harus ganti itu. (Anda memberi tahu atasan
Anda beberapa kali bahwa asam sulfur bersifat korosif dan itu baja ringan adalah bahan yang
buruk untuk konstruksi.) Ada CSTR meluap yang bagus dari Kapasitas 33-gal berdiri
menganggur; itu dilapisi kaca dan Anda ingin menggunakannya.
Anda memberi makan 2500 lb / jam (43,04 lb mol / jam) dari propilena oksida (P.O.) ke Reaktor.
Aliran umpan terdiri dari (1) campuran equivolumetric propilena oksida (46,62 ft3 / jam) dan
metanol (46,62 ft3 / jam), dan (2) air mengandung 0,1% berat H, SO, Laju aliran volumetrik air
adalah 233,1 ft3 / jam, yaitu 2,5 kali metanol-P.O. laju aliran. Kecepatan umpan molar yang sesuai
dari metanol dan air masing-masing adalah 71,87 dan 802,8 lb mol / jam. Air-propilena oksida-
metanol campuran mengalami sedikit penurunan volume saat pencampuran (sekitar 3%), tetapi
Anda mengabaikan penurunan ini dalam perhitungan Anda. Suhu kedua umpan strani adalah 58 °
F sebelum pencampuran, tetapi ada kenaikan suhu 17 F segera pada pencampuran dua aliran
umpan yang disebabkan oleh panas pencampuran. Yang masuk suhu semua aliran umpan dengan
demikian diambil menjadi 75 ° F (Gambar E8-4.1).

Furosawa et a1.S menyatakan bahwa dalam kondisi yang sama dengan kondisi Anda saat itu
operasi, reaksi adalah orde pertama dalam konsentrasi propilena oksida dan jelas urutan nol
melebihi air dengan laju reaksi spesifik

Satuan E adalah Btu / lb mol.


Rizky Laksmita Dewi
21030116120071

Ada kendala penting dalam operasi Anda. Propilena oksida: adalah sebuah zat agak mendidih (b.p.
at 1 atm, 93,7 "F). Dengan campuran yang Anda gunakan, Anda merasa bahwa Anda tidak dapat
melebihi suhu operasi 125 "F, atau Anda akan kalah terlalu banyak oksida oleh penguapan melalui
sistem ventilasi. Dapatkah Anda menggunakan CSTR yang menganggur sebagai pengganti untuk
salah satu bocor jika itu akan terjadi opeirated adiabatically? Jika demikian, apa yang akan
menjadi konversi oksida menjadi glikol?
Penyelesaian:
(Semua data yang digunakan dalam masalah ini adalah qbtained dari Handbook of Chemistry dan
Fisika kecuali dinyatakan lain.) Biarkan reaksi diwakili oleh:

A+BC

Dalam masalah ini baik konversi keluar maupun suhu reaktor adiabatik diberikan. Dengan aplikasi
keseimbangan material dan energi kita bisa memecahkan dua persamaan dengan dua yang tidak
diketahui (X dan T) .Menggabungkan persamaan-persamaan yang digabungkan ini, kami
menentukan konversi keluar dan suhu untuk reaktor berlapis kaca untuk melihat jika dapat
digunakan untuk menggantikan reaktor ini.

1. Neraca mol dan persamaan desain

Persamaan desain X adalah

2. Laju Reaksi:

3. Stoikiometri untuk fase liquid v=vo

4. Kombinasi

5. Penyelesaian X untuk fungsi T

Persamaan ini berkaitan dengan temperatur dan konversi sesuai dengan neraca mol.
6. Neraca panas untuk reaksi adiabatis adalah:

Penyelesaian X kita dapatkan,


Malvin Muhammad

Persamaan berikut merupakan hubungan X dan T pada energy balance. Dapat dilihat ada dua persamaan
(Pers.E-8-4.5) dan (Pers.E8-4.6) yang harus diselesaikan untuk mengetahui nilai X dan T :
7. Perhitungan :
a. Panas Reaksi pada temperatur T :

(8-27)

/lb mol

/lb mol
/lb mol

= -36,400Btu/lb mol propylene oxide


ACp = Cpc - CpB – Cp (E8-4.7)
= 46-18-35 = -7 Btu/lb mol. OF
b. Stokiometry (CA0,, 0,, 7) : Kecepatan total volume cairan yang memasuki reaktor adalah
V0 = VA0 + VM0 +VB0
= 46.62+46.62+233.1=326.3ft 3/h
V = 300gal=40.1ft3

7 =

= 0.132 lb mol/ft 3 (ER-4.9)


Untuk Metanol :

Untuk Air :

c. Energi Kesetimbangan :

= 35 + (18.65)(18)+(1.67)(19.5)
= 403.3 Btu/lb mol. oF

Malvin M Zain-2103011614073
Malvin Muhammad

T0=T00+ Δmix = 58 oF + 17 oF = 75 oF
= 535 oR (E8-4.11)
TR=68 oF= 528 oR
Konversi dihitung dari energi kesetimbangan, XEB, untuk reaksi adiabatis dihitung menggunakan persamaan (8-
52) :

(E8-4.6)
Mensubtitusi nilai yang diketahui ke mol dan energi kesetimbangan menghasilkan persamaan :

= (E8-4.12)

Konversi hasil perhitungan dari mol kesetimbangan, XMB, didapatkan dari persamaan (E8-4.5)

XMB=

(E8-4.13)

8. Penyelesaian
Ada sejumlah cara yang berbeda untuk menyelesaikan dua simultan ini persamaan [mis., mengganti Persamaan
(E8-4.12) menjadi (E8-4.13)]. Untuk memberikan wawasan tentang hubungan fungsional antara X dan T untuk
mol dan keseimbangan energi, kita akan mendapatkan solusi grafis. Di sini X diplot sebagai fungsi T untuk
keseimbangan mol dan energi, dan perpotongan kedua kurva memberikan solusi di mana keseimbangan mol dan
energi solusi puas. Selain itu, dengan memplot dua kurva ini kita bisa belajar jika ada lebih dari satu
persimpangan (yaitu, beberapa kondisi tunak) untuk yang mana keseimbangan energi dan keseimbangan mol
dipenuhi. Jika numerik teknik pencarian akar digunakan untuk memecahkan X dan T, itu sangat mungkin untuk
mendapatkan hanya satu root padahal sebenarnya ada lebih dari satu. Kita harus diskusikan beberapa kondisi
stabil lebih lanjut di Bagian 8.6. Kami memilih T dan kemudian hitung X (Tabel E8-4.1). Perhitungan diplot
pada Gambar E8-4.2.

T XMB XEB
O
R [Eq.(E8-4.13)] [Eq.(E8-4.12)]
535 0.108 0.000
550 0.217 0.166
565 0.379 0.330
575 0.500 0.440
585 0.620 0.550
595 0.723 0.656
605 0.800 0.764
615 0.860 0.872
625 0.900 0.980

Malvin M Zain-2103011614073
Malvin Muhammad

hampir garis lurus sesuai dengan keseimbangan energi [Persamaan (E8-4.12)] dan garis
lengkung sesuai dengan keseimbangan mol [Persamaan (E8-4.13)]. Kami amati dari plot ini bahwa satu-satunya
titik persimpangan adalah pada konversi 85% dan 613 "R. Pada titik ini baik keseimbangan energi dan
keseimbangan mol berada puas. Karena suhu harus tetap di bawah 125 ° F (585 R), kami tidak dapat
menggunakan reaktor 300-gal seperti sekarang.
Contoh 8.5 CSTR dengan Koil pendingin
Suatu koil pendingin telah ditempatkan untuk digunakan dalam hidrasi propilena oksida yang dibahas dalam
Contoh 8-4. Koil pendingin memiliki 40 ft2 permukaan pendinginan dan pendinginan laju aliran air di dalam
kumparan cukup besar bahwa pendingin konstan suhu 85 ° F dapat dipertahankan. Koefisien transfer panas
keseluruhan tipikal untuk koil tersebut adalah 100 Btu / h * ft *. "F. Akankah reaktor memenuhi batasan
sebelumnya Suhu maksimum 125 ° F jika koil pendingin digunakan?
Penyelesaian
Jika kita mengasumsikan bahwa koil pendingin mengambil volume reaktor yang diabaikan, konversi dihitung
sebagai fungsi suhu dari keseimbangan mol adalah sama dengan bahwa pada Contoh 8-4 [Persamaan (E8-4.13)].
1. Kombinasi mol kesetimbangan, stokiometri dan kecepatan

XMB (E8-4.13)

Malvin M Zain-2103011614073
Malvin Muhammad

2. Energi Kesetimbangan. Kombinasi persamaan (8-42) dan (8-50) untuk mendapatkan

(E8-5i)
Menyelsaikan energi kesetimbangan untuk XEB

(E8.-5.2)
Persamaan Koil pendingin (E8-5.2)

(E8.-5.3)
Nilai dari persamaan (E8-5.2) sama dengan persamaan (E8.4.12)

(E8.5.4)

Persamaan Nilai
F(x)=X-(403.3*(T-535)+92.Q*(T-545))/(36400+7*(T-528) 0.367
f(T)=X-tau*k/(1+tau*k) 564
Tau=0.1229
E-32400
R=1.987
K=A*exp(-E/(RT)

Variabel Larutan F()


Nilai
X 0.363609 -6779e-16
T 563.729 -6.855e-16
Tau 0.1229
A 1.696e+13
E 32400
R 1.987
k 1.64898

Malvin M Zain-2103011614073
Malvin Muhammad

Program POLYMATH dan solusi untuk Persamaan (E8-4.13), XM ~ a, n d (E8-5.4), X ,,, diberikan dalam
Tabel E8-5.1. Suhu dan konversi yang keluar adalah 103,7 "F (563,7 R) dan 36,4%, masing-masing.

8.3.2 Reaktor Tubular Adiabatis\


Keseimbangan energi yang diberikan oleh Persamaan (8-48) menghubungkan konversi pada setiap titik
dalam reaktor ke suhu campuran reaksi pada saat yang sama titik (yaitu, memberikan X sebagai fungsi T).
Biasanya, ada jumlah yang dapat diabaikan pekerjaan yang dilakukan pada atau dengan campuran bereaksi, jadi
biasanya, istilah kerja dapat diabaikan dalam desain teactor tubular. Namun, kecuali reaksi itu dilakukan secara
adiabatis Persamaan (8-48) masih sulit untuk dievaluasi, karena dalam reaktor non adiabatis, panas yang
ditambahkan ke atau dikeluarkan dari sistem bervariasi sepanjang panjang reaktor. Masalah ini tidak terjadi di
adiabatik reaktor, yang sering ditemukan di industri. Oleh karena itu, reaktor tubular adiabatis akan dianalisis
terlebih dahulu.
Karena Q dan Ws sama dengan nol untuk alasan yang disebutkan di atas, Persamaan (8-47)
mengurangi

Persamaan ini dapat dikombinasikan dengan diferensial mol kesetimbangan

untuk mendapatkan suhu, konversi, dan profil konsentrasi sepanjang panjang reaktor. Salah satu cara untuk
mencapai kombinasi ini adalah dengan menggunakan Persamaan (8-53) 1.0 membangun tabel T sebagai fungsi
X. Setelah kita memiliki T sebagai fungsi X, kita dapat memperoleh k (T) sebagai fungsi X dan karenanya -rA
sebagai a fungsi X saja. Kami kemudian menggunakan prosedur yang diperinci dalam Bab 2 untuk ukuran
berbagai jenis reaktor. Algoritma untuk menyelesaikan PFR dan PBR dioperasikan secara adiabatis ditampilkan
pada Tabel: 8-2.

Malvin M Zain-2103011614073
HANIFA AVIANA

21030116140125

TABEL 8-2a. ALGORITMA PFR/PBR ADIABATIS


Reaksi dasar fase gas reversibel

Dioperasikan dalam PFR dimana hilang tekan diabaikan dan komponen A murni masuk reaktor.

Kesetimbangan Mol:

Hukum Laju:

Dengan

Stoikiometri:

Kombinasi:

Keseimbangan Energi
Untuk menghubungkan suhu dan konversi, kita terapkan keseimbangan energi dalam PFR adiabatis.
Jika semua senyawa masuk pada suhu yang sama, T i0 = T0.
Persamaan Penyelesaian (8-50) untuk mendapatkan fungsi dari konversi yield

Jika A murni masuk dan ΔĈP = 0, maka

Persamaan (T8-2.1) sampai (T8-2.9) dapat dengan mudah diselesaikan menggunakan Persmaan
Simpson maupun penyelesaian PDB.

TABEL 8-2B. PROSEDUR PENYELESAIAN UNTUK PFR/PBR ADIABATIS


A. Teknik Numerik
HANIFA AVIANA

21030116140125

Mengintegralkan keseimbangan mol PFR,

1. Membuat X = 0
2. Menghitung T menggunakan Persamaan (T8-2.9)
3. Menghitung k menggunakan Persamaan (T8-2.3)
4. Menghitung KC menggunakan Persamaan (T8-2.4)
5. Menghitung T0/T (fase gas)
6. Menghitung –rA menggunakan Persamaan (T8-2.7)
7. Menghtiung (1/–rA)
8. Jika X kurang dari X3 yang ditetapkan, maka X bertambah (contoh Xi+1 = Xi + AX) dan kembali ke
langkah 2
9. Membuat tabel X vs (1/–rA)
10. Menggunakan rumus inetgral numerik, sebagai contoh

Dengan

B. Penyelesaian Persamaan Diferensial Biasa (PDB)

1.

2.

3.

4.

5. Masukan nilai parameter k,, E, R, KC2, ΔHRx (TR), CρA, CA0, T0, T,, T2
6. Masukkan nilai pembatas X = 0, V = 0 dan nilai akhir X = Xf dan V = Vf

Contoh 8 – 6 Isomerisasi Fase Cair dari Butana Normal


Butana normal, C4H10, diisomerisasi menjadi isobutana dalam reaktor alir pipa. Isobutana merupakan produk
yang bernilai yang digunakan dalam meproduksi zat aditif bahan bakar. Sebagai contoh, isobutana dapat
direaksikan lebih lanjut untuk membentuk isooktana. Harga jual pada tahun 1996dari n-butana mencapai 37,2
sen tiap galon, sedangkan harga dari isobutana 48,5 sen tiap galon.
Reaksinya dioperasikan secara adiabatis dalam fase cair dibawah tekanan tinggi menggunakan sisa dari katalis
cair dimana memberikan laju reaksi spesifik 31,1 h-1 pada suhu 360 K. Hitunglah volume PFR yang dibutuhkan
untuk memproses 100.000 gal/hari (163 kg mol/h) dari campuran 90% mol n-butana dan 10% mol i-pentana,
yang dianggap inert. Umpan masuk pada suhu 330 K.

Informasi tambahan:
HANIFA AVIANA

21030116140125

ΔHRx = - 6900 J/mol butana


Butana i-pentana
Cpn.B = 141 J/mol K Cpi.P = 161 J/mol K
Cpi.B = 141 J/mol K Energi aktivasi = 65,7 kJ/mol
KC = 3,03 pada 60oC
CA0 = 9,3 g mol/dm3 = 9,3 kg mol/m3
Penyelesaian

Keseimbangan mol:

Hukum laju:

Stoikiometri (fase cair v = v0):

Kombinasi:

Persamaan Integral (E8-6.1) Yields

Keseimbangan Energi. Memanggil kembali persamaan (8-30), sehingga kita mempunyai

Dari penryataan permasalahan

Memasukkan kondisi di atas ke dalam Persamaan (8-30) sehingga memberikan


HANIFA AVIANA

21030116140125

Mensubstitusi energi aktivasi, T1, dan k1 ke dalam persamaan (E8-6.3), kita mendapatkan

Mensubstitusi ΔHRx, T2, dan KC (T2) ke dalam persamaan (E8-6.4) yields

Memanggil kembali hukum laju sehingga memberikan kita

Dalam kesetimbangan

Sehingga kita dapat menyelesaikan persamaan (E8-6.7) untuk konversi kesetimbangan

Penyelesaian menggunakan Perhitungan Manual


Kita sekarang akan mengetahui persamaan integral (E8-6.8) menggunakan Peraturan Simpson setelah membuat
tabel (E8-6.1) untuk menghitung (FA0/-rA) sebagai fungsi X. Cara ini sama seperti yang dideskripsikan pada
Chapter 2. Kita sekarang mendeskripsikan contoh perhitungan untuk menunjukkan bagaimana Table E8-6.1
terbentuk, sebagai contoh, pada X = 0,2
HANIFA AVIANA

21030116140125

TABEL E8-6.1 PERHITUNGAN MANUAL

Menggunakan Persamaan (A-24) dan (A-22), kita dapatkan


Shafira Salsabila
21030116120021 HAL 457-461

Penyelesaian Komputer

Kita dapat juga menyelesaikan masalah ini dengan menggunakan POLYMATH atau penyelesaian ODE lainnya.
Program POLYMATH menggunakan Persamaan (E8-6.1), (E8-6.10), (E8-6.7), (E8-6.11), (E8-6.12), dan (E8-6.13)
yang ditampilkan pada tabel E8-6.2. Keluaran grafisnya adalah:

Tabel E8-6.2. Program POLYMATH

Gambar E8-6.1 Konversi, temperatur, dan kinetika laju reaksi

Kita dapat melihat pada Gambar E8-6.1.(a) bahwa 1.15 m3 dibutuhkan untuk konversi 40%. Konversi, temperatur,
dan kinetika laju reaksi ditunjukkan pada Gambar E8-6.1. Salah satunya untuk mengamati laju reaksi dari reaksi

yang mencapai pada maksimum. Dekat dengan jalan masuk ke reaktor, bagian A meningkat lebih cepat
dibandingkan bagian B yang berkurang dan demikian laju reaksi meningkat. Dekat dengan akhir dari reaktor, bagian
B berkurang lebih cepat dibanding bagian A yang mengalamikenaikan. Oleh karena adanya duaefek yang bersaing
ini, kita memiliki laju reaksi yang maksimum.

Hitung volume CSTR yang dibutuhkan untuk mendapatkan koversi sebesar 40%. Neraca massanya:

Gunakan Persamaan (E8-6.2) pada neraca massa, kita mendapatkan:


Shafira Salsabila
21030116120021 HAL 457-461

Dari neraca panas, kita mendapatkan Persamaan (E8-6.10):

Gunakan Persamaan (E8-6.11) dan (E8-6.12) atau dari Tabel E8-6.1.

Kemudian

Kita dapat melihat bahwa volume CSTR (1 m3) untuk mendapatkan konversi 40% pada reaksi adiabatik ini kurang
dari volume PFR (1.15 m3)

8.3.3. Reaktor Tubular Steady State dengan Penukar Panas

Pada bagian ini, kita mempertimbangkan sebuah reaktor tubular yang mana panasnya ditambahkan atau
dihilangkan melalui dinding-dinding silinder pada reaktor (Gambar 8-5). Pada Pemodelan, reaktor ini kita anggap
tidak ada gradien radial pada reaktor dan bahwa fluks panas melalu dinding per unit volume dari reaktor ditampilkan
pada Gambar 8-5

Gambar 8-5 Reaktor Tubular dengan Peningkatan atau Penurunan Panas

Memanggil kembali Persamaan (8-47) dan mengabaikan pekerjaan lainnya pada mereaksikan cairan, kita
mendapatkan
Shafira Salsabila
210301161200