Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Koro benguk (Mucuna pruriens L.) merupakan salah satu jenis komoditas

kacang lokal yang belum banyak dimanfaatkan namun ketersediaannya cukup

banyak di masyarakat. Hal ini dikarenakan, koro benguk memiliki sifat yang adaptif

yang mudah tumbuh di lahan sawah maupun lahan kering. Koro benguk merupakan

salah satu jenis kacang lokal yang cenderung terabaikan namun berpotensi sebagai

alternatif bahan pangan fungsional. Hal ini dapat diketahui dari kandungan gizi

yang terdapat pada biji koro benguk yang tidak jauh berbeda apabila dibandingkan

dengan jenis kacang lain. Biji koro benguk memiliki kandungan protein yang cukup

tinggi sekitar 23,4 %, karbohidrat sebesar 59,5% dan lemak sebanyak 5,7%

(Supriyono, 2010).

Kendala yang dihadapi dalam pengolahan biji koro benguk adalah

terdapatnya glikosida sianogenik yang apabila terhidrolisis akan membentuk

senyawa racun berupa asam sianida (HCN) yang berbahaya apabila terkonsumsi.

Efek yang ditimbulkan dari HCN yaitu mulai dari muntah, diare, bahkan pada kadar

tertentu dapat menyebabkan kematian. Dalam biji segar, koro benguk mengandung

HCN sebesar 5,1-10,8 mg (Gandjar, dkk., 1973).

Berdasarkan SNI 01-7152-2006, batas maksimum sianida dalam produk

pangan terutama pada produk yang mengandung jenis kacang dan umbi adalah 50

mg/kg. Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kandungan sianida pada

koro benguk, sehingga dapat dikonsumsi secara aman.

(Badan Standardisasi Nasional, 2006)


2

Salah satu tanaman leguminosa di Indonesia yang masih kurang dikenal

meskipun biji-bijinya yang tua dan kering cukup banyak dijual belikan di daerah-

daerah tertentu ialah Mucuna pruriens L. utilis atau koro benguk. ,Dalam

kepustakaan koro benguk seringkali tercantum dengan nama Mucuna utilis (2.3)

atau stizo- lobium pruriens (4). Dalam penelitiannya mengenai makanan daerah

Gunung Kidul Bailey (5) telah menganjurkan penggunaan kacang-kacangan,

diantaranya koro benguk, sebagai lauk-pauk. Tanaman ini merambat secara liar

pada pagar-pagar'kebun atau ladang dan di galangan sawah. Polongnya lonjong

panjang (4- 15 cm), berbulu halus dan mengandung 3 sampai 6 biji setiap polong

(6). Kulit biji dapat berwarna putih, abu-abu, hitam, coklat atau bercak.

(Gandjar, dkk., 1973).

Biji koro benguk mengandung protein 28,94%, serat kasar 6,71%, lemak

12,73%, kalsium 1,5% dan energi metabolis 2925 kkal/kg (Sunaryo, 2009).

Tingginya kandungan nutrisi pada biji koro benguk tersebut, menjadikannya

berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak dan pakan ikan.

Tujuan penulisan

Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui manfaat

pemangkasan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil produksi koro benguk

sebagai bahan pangan.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat untuk

dapat memenuhi komponen penilaian Praktikum Dasar Agronomi dan dapat

digunakan untuk menambah wawasan kita.


3

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Koro Benguk

Koro benguk termasuk dalam Kingdom Plantae dan Sub kingdom

Tracheobionta . Super divisi Spermatophyta dan Divisi Magnoliophyta. Termasuk

dalam Class Magnoliopsida dan Sub class Rosidae. Koro benguk atau mucuna

pruriens memiliki Ordo/Bangsa Fabales ,termasuk dalam Familia Fabaceae

(Leguminosae), Genus Mucuna Adans serta Species Mucuna pruriens L.

(Wulijarni, dkk., 1996 ).

Tanaman koro benguk berbentuk perdu dan tergolong tanaman yang melilit.

Bila tidak diberi air, tanaman ini akan membelit dan merambat pagar atau batang

tanaman yang dapat dijangkaunya. Dari sisi morfologi, koro benguk tergolong

tanaman semak yang merambat dengan panjang lebih dari 15 m. (Atun, 2009)

Kara benguk berbentuk lonjong-menjorong, sedikit pipih, warna beragam,

mulai dari coklat terang atau coklat-merah muda, ungu atau hitam, hampir seluruh

hitam, abu, hitam keabuan atau putih (Retnaningsih, dkk., 2011).

Daunnya beranak tiga helai, berbentuk bulat telur, belah ketupat, dengan

ujung tumpul atau membulat, permukaan daun sebelah bawah tidak berbulu.

Bunganya berwarna putih atau ungu tergantung varietasnya. Polongnya berbulu,

berukuran panjang 10-15 cm dengan lebar 1,5-2 cm, masing-masing berisi 5-6 biji

(Purwanto, 2007).

Tanaman ini memiliki bunga yang tersusun aksial. Bunga koro benguk

berwarna putih, lavender atau ungu. Buahnya berupa polong yang dilindungi kulit
4

berbulu. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau dan berbulu halus menyerupai

kain bludru. Jika buah telah tua, bulu - bulu halus yang tadinya berwarna cokelat

muda berubah menjadi hitam. (Nugroho, 2010).

Kara benguk memiliki bintil sebagaimana pada tribus Vicieae dan

Trifolieae yang memiliki meristem apikal, pertumbuhan indeterminate, satu cabang

dari stele akar atau lebih masuk dan bercabang di antara bintil. Elemen baru

terdeferensiasi dalam hubungannya dengan pertumbuhan bintil dan percabangan

bebas pada ujung apikal bintil. Bintil Vicieae dan Trifolieae juga disebut tipe

memanjang. Fiksasi nitrogen terus berkembang ke daerah meristem baru selama

kehidupan tanaman (Muljanto, 1991).

Syarat Tumbuh

Iklim

Koro benguk dapat tumbuh dengan ketinggian 10-15 meter, menjalar pada

permukaan tanah, merambat atau membelit ke arah kiri pada ajir atau tanaman

lainnya. Tanaman ini merupakan semak tahunan yang akar utamanya memiliki

banyak akar samping (Puri, dkk., 2010).

Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 100 m sampai 2100 m diatas

permukaan laut dengan curah hujan antara 650 mm/tahun sampai 2500 mm/tahun.

Tumbuh pada tanah yang mempunyai struktur berpasir sampai berliat dan agak

tahan pada tanah yang berreaksi masam dan berkapur serta tumbuh baik pada

daerah yang lembab dan kering (Ariaty, 1997).


5

Koro benguk adalah tumbuhan hari pendek. Diperlukan suhu rata–rata 20°C

sampai 30°C. Tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman lahan kering di daerah

yang curah hujannya kurang dari 900 mm/tahun. (Somaatmadja ,1993).

Tanaman ini sensitif pada suhu rendah dan memerlukan keadaan bebas suhu

rendah pada periode pembungaan hingga pengisian biji. Suhu dibawah 5°C selama

24 hingga 36 hari dapat merusak karabenguk. Selama musim pertumbuhan, suhu

20 hingga 30°C dianjurkan, suhu 21°C pada malam hari dikatakan memacu

pembungaan. (Duke, 1991).

Koro benguk dapat tumbuh di daerah yang kurang subur, kering, serta

kondisi cuaca ekstrim (Rahardi 2008). Penanamannya banyak dilakukan di huma-

huma atau di tanah tegal. Karabenguk merupakan tanaman hari pendek yang

tumbuh subur pada curah hujan 380 hingga 3150 mm per tahun, rata-rata suhu

tahunan antara 18,7 hingga 27,1°C. (Aiming, dkk., 1999).

Tanah

Karabenguk tumbuh subur pada tanah geluh pasiran (sandy loam) hingga

geluh lempungan dengan pengatusan yang baik. Umumnya karabenguk menyerbuk

sendiri. Tanaman ini sensitif pada suhu rendah dan memerlukan keadaan bebas

suhu rendah pada periode pembungaan hingga pengisian biji. (Duke, 1981).

Inokulasi pada karabenguk dapat dilakukan menggunakan inokulan yang

biasa digunakan pada limabean (kacang tunggak) dan lespedeza. Pada pertanaman

karabenguk dapat di lakukan pergiliran tanaman dengan jagung atau kapas (Duke

1981). Kondisi lahan yang tergenang dan tanah masam dengan pH< 4,5 tidak cocok

untuk karabenguk (Hairiah, dkk., 1991).


6

Kacang ini tumbuh baik pada pasir berdrainase baik, tanah liat dan utisols

dengan pH 5-6.5, tetapi juga tumbuh dengan baik pada lahan berpasir asam, tidak

toleran terhadap air yang berlebih. Pada lahan yang memiliki humus subur dan

lapisan tanah dibawahnya asam, lapisan berikutnya rendah P dan tinggi Al, maka

pertumbuhan akar akan berkumpul hanya pada lapisan humus. Jika humus subur

tidak ada maka sistem perakaran akan di kembangkan luas hingga ke tanah asam.

(Haryoto, 2000).

Tanaman koro benguk dapat tumbuh baik dan berproduksi optimal pada

tanah yang kritis dan miskin unsur hara. Pada tanah yang sangat subur dengan

kandungan bahan organik sangat tinggi pertumbuhan koro benguk mengarah pada

pembentukan daun sehingga produksi biji sangat rendah. (Soenarjono, 2001).

Tanaman koro benguk yang telah berumur 4 bulan sudah mulai berbuah.

Buah koro benguk yang sudah tua ditandai dengan warna halus yang menyelimuti

kulitnya menjadi kehitam - hitaman. Panenan buah koro benguk umumya

diperhitungkan jatuh pada musim kering. Maka penanaman benguk umumnya

dilakukan menjelang akhir musim hujan. (Haryoto, 2000)


7

MANFAAT PENYIANGAN DAN PEMBUMBUNAN TANAMAN


TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI KACANG KORO
BENGUK (Mucuna pruriens L.)

Pengertian Penyiangan dan Pembumbunan

Membumbun adalah kegiatan untuk memperkuat berdirinya batang dan

perakaran tanaman . Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan

pertama sekitar 15 hst atau penyiangan kedua .Disamping itu pembumbunan juga

dapat memperbaiki aerasi tanah memperlancar drainase karena ketinggian tanah

berbeda sehingga tidak ada genangan air yang dapat mengganggu pertumbuhan

tanaman jagung. (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2015).

Pembumbunan merupakan teknik penimbunan tanah dipangkal rumpun

tanaman sehingga menutup rimpang yang mungkin muncul dipermukaan

tanah. (Budiman, dkk., 2015)

Penyiangan, yaitu berupa kegiatan penebasan terhadap semak belukar dan

padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat tertentu agar tidak mengganggu

ruang tumbuh tanaman.Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk memperbaiki

struktur tanah dengan cara mencanggkul atau membajak (sesuai dengan kebutuhan)

(Aldi, 2012).

Penyiangan merupakan salah satu tahapan dalam mempersiapkan lahan siap

untuk ditanami. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dalam

pekerjaan clearing, antara lain: 1) kelebatan pohon; 2) penggunaan setelah

penegerjaan, misalnya untuk jalan raya sehingga aka mempengaruhi pada metode
8

clearing; 3) keadaan dan daya dukung tanah; 4) topografi; 5) iklim; dan 6)

kekhususan pekerjaan (Forbaginfo, 2010).

Weeding is cosidered as an integral part of the collection development program

by authors of standards collection development yang artinya adalah bahwa penyiangan

merupakan bagian integral dalam pengembangan koleksi. (Evans, 2000)

Tujuan Penyiangan dan Pembumbunan

Penanaman bibit sebaiknya di lakukan pembumbunan, untuk menghindari

serangan hama dan penyakit, sebelumdi tanam, sehingga dapat menjadikan

tanaman yang diusahakan menjadi tidak berkompetisi dalam penyerapanunsur

makanan yang terkandung di dalam tanah (Prajnanta,2003).

Pembumbunan di lahan yang miring atau lahan yangberbentuk terasering

harus dimulai dari lahan bagian bawah.Pembumunan dengan cara ini di maksudkan

untuk mencegah penularan serangan hama dan penyakit daritanaman yang di tanam

lebih dahulu (yang biasanya jugaterserang hama dan penyakit terlebih dahulu) ke

tanamanyang di tanam belakangan. Saat turun hujan,air hujan akanmengalir dari

tempat penanaman di bagian atas ke bagianbawah yang berpotensi membawa

penyakit lewat air(Suseno, 2004).

Penyiangan dan pembuatan lubang tanaman dikerjakan beberapa hari

sebelum penanaman agar terbentuk kelembaban dan aerasi yang bai bagi tanaman.

(Wanggai, 2014).

Penyiangan lahan bertujuan untuk membuang sumber patogen atau

pembawa patogen yang berada pada tumbuhan yang ada disekitar tanaman itu
9

tumbuh sehingga tanaman yang dibudidayakan kemungkinan tidak terserang

patogen. (Suseno, 2004).

Pembumbunan dalam penanaman di laksanakansetelah tanaman tumbuh

beberapa bulan dalam plot, dengandemikian persiapan dan pelaksanaan penanaman

harus dilakukan dengan benar, dan tujuan pembuatan media tanamadalah untuk

memberikan media tumbuh yang baik bagiakar tanaman pada saat pertumbuhan

awal danmempermudah peresapan pupuk ke dalam tanah sehinggamempercepat

tanaman mengabsorbsi pupuk tersebut. (Berdardinus, 1999).

Manfaat Penyiangan dan Pembumbunan

Pembumbunan pada tanaman sangat perlu di perhatikandalam penanaman,

karena jarak tanam pada tanaman tidak semuanya sama. Jarak tanam yang terlalu

rapat dapatmengakibatkan pemeliharaan tanaman tidak dapat

dengansempurna ( Anonim, 2002 ).

Penyiangan berfungsi supaya gulma yang berada di sekitar tumbuhnya

tanaman tidak tumbuh atau tidak ada, sehingga tanaman yang dibudidayakan

dengan tumbuhan yang tidak dibudidayakan atau gulma yang berada diareal

tanaman yang dibudidayakan tidak bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan

untuk mendapatkan unsur hara atau zat-zat kimia yang diperlukan tanaman dan

tumbuhan untuk proses pembuatan makanan yang berada didalam ditanah.

(Cahyono, 2007).

Pembumbunan dapat memperbaiki struktur tanah yang telah padat menjadi

gembur kembali dan melindungi akar dan biji dari hama. Kondisi yang gembur
10

berpengaruh terhadap peningkatan peredaran oksigen(aerasi) sehingga

ketersediaan oksigen di dalam tanah mencukupi untuk pernapasan akar tanaman

dan aktifitas jasad jasad renik di dalam tanah yang berguna untuk kesuburan tanah.

(Rosmanidar, 2013)

Kondisi tanah yang gembur dapat meningkatkan drainase tanah sehingga

dapat mencegah genangan air serta mengatur suhu dan kelembapan tanah.

Pembumbunan juga dapat memperbaiki peredaran udara, memperkuat tumbuhnya

tanaman dan juga meningkatkan jumlah polong. (Cahyono, 2007).

Pembumbunan dapat memudahkan perakaran berkembang dan

memudahkan bakal buah menembus permukaan tanah, sehingga pertumbuhannya

optimal. (Marzuki, 2007).

Waktu dan Tehnik Pembumbunan Yang Tepat

Penyiangan dilakukan pada .aktu tanaman jagung berumur kurang lebih 15

harisetelah tanam atau pertumbuhan tanaman mencapai setinggi lutut.Alat bantu p

enyiangan dapat menggunakan tangan,kored,cangkul atau alat lainnya.Penyiangan

adalah dengan membersihkan atau mencabut seluruh gulma secara hati-hati agar

tidak merusak akar tanaman.Penyiangan dan pembumbunan berikutnya (kedua)

dilakukan pada waktu tanaman jagung berumur 89 hari setelah tanam. Cara

penyiangan dan pembumbunan kedua sama seperti pada

penyiangan pertama. Penyiangan dilakukan sesegera dan sesering mungkin, sebai

knya dilakukan sebelum pemupukan. (Brown, 2008).

Penyiangan dengan tangan (hand weeding) yang pertama dilakukan pada

umur 15 hari dan harus, dijaga agar, jangan sampai mengganggu/merusak akar
11

tanaman. Penyiangan kedua dilakukan sekaligus dengan pembumbunan pada waktu

pemupukan kedua: Pembumbunan ini berguna untuk memperkokoh batang dalam

menghadapi angin besar, juga dimaksudkan untuk memperbaiki drainase dan

mempermudah pengairan bilama diperlukan. ( Berdardinus, 1999).

Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 mingu setelah

tanam dan pertumbuhan berikutnya (kedua) dilakukan pada waktu tanaman

berumur 5 minggu setelah tanam. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan

dilakukan dengan mengunakan decis 2,5 EC. (Setiadi, dkk., 2011)

Pembumbunan dapat dilakukan dengan efektif bila dilaksanakan sedini

mungkin pada waktu bibit tanaman mulai menggalami pertumbuhan

vegetatif. Pada penanaman bibit sebaiknya di lakukan pembumbunan, untuk

menghindari serangan hama dan penyakit, sebelum di tanam, sehingga dapat

menjadikan tanaman yang diusahakan menjadi tidak berkompetisi dalam

penyerapan unsur makanan yang terkandung di dalam tanah. (Setiadi, dkk., 2011)

Pembumbunan dilakukan setelah pengendalian kedua dan pemupukan

susulan atau pada tanaman nerumur 4-5 minggu setelah tanam. Cara pembumbunan

dilakukan dengan meninggikan tanah di se keliling deretan koro benguk

membentuk suatu guludan, tinggi guludan dibuat antara 6-16 cm. .

(Berdardinus, 1999).

Manfaat Penyiangan dan Pembumbunan Tanaman Terhadap Pertumbuhan

dan Hasil Produksi koro Benguk (Mucuna Pruriens L.)

Rendahnya pertumbuhan dan hasil tanaman kacang koro benguk dijumpai

pada perlakuan tanpa pembumbunan. Hal ini disebabkan karena kondisi tanah yang
12

padat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Sesuai denga pendapat

sumarno (2003), menyatakan polong buah yang tumbuh pada tanah gembur

biasanya lebih banyak dibandingkan dengan polong buah yang tumbu di tanah

padat.

Pembumbunan tidak perlu terlalu tinggi karena dapat merangsang

pertumbuhan akar akar baru yang tidak produktif pada bagian atas tanaman kacang.

Pembumbunan selain berperan penting dalam peningkatan hasil kacang, juga

berfungsi untuk menguatkan akar tanaman dari erosi karena hujan. ( Dinas

Pertanian Tanaman Pangan, 1989).

Pembumbunan terbukti dapat menurunkan jumlah polong polong hampa

disebabkan pembumbunan membuat struktur tanah dan drainase menjadi lebih baik

untuk perkembangan ginofor dan juga merupakan usaha untuk mendekatkan

ginofor dengan pupuk agar dapat diabsorpsi langsung oleh polong. Namun tanah

yang dibumbun dapat menjadi rusak akibat curah hujan yang tinggi yang

menyebabkan erosi tanah sehingga pembumbunan menjadi tidak efektif dilakukan

(Arfian, 1992).

Pada tanah yang dibumbun dan longgar, ginofor akan mudah menembus

lapisan tanah, dan yang kemudian membentuk polong buah. Polong buah yang

tumbuh pada tanah yang gembur biasanya lebih banyak dibandingkan dengan

polong buah yang tumbuh di tanah yang padat. (Tim Bina Karya Tani, 2009).
13

KESIMPULAN

1. Koro benguk merupakan tumbuhan hari pendek dapat tumbuh pada ketinggian

100 m sampai 2100 m diatas permukaan laut dengan curah hujan antara 650

mm/tahun sampai 2500 mm/tahun.

2. Penyiangan pada tanaman koro benguk sebaiknya dilakukan secara kontiniu

agar tidak terlalu banyak gulma yang menyebabkan persaingan unsur hara.

3. Pembumbunan lebih mudah di lakukan pada keadaan tanah lembab agar

mempermudah proses tersebut.

4. Pembumbunan dapat meningkatkan hasil polong kacang koro benguk.

5. Pembumbunan menyebabkan tanah menjadi gembur sehingga struktur tanah

terjaga dan menguatkan akar tanaman.


14

DAFTAR PUSTAKA

Aiming Q.I., R.H. Ellis, J.D.H.Keatinge, T.R. Wheeler, S.A.Tarawali, and R.J.
Summerfield, 1999. Differences in the effects of temperature and
photoperiod on progress to flowering among diverse Mucuna spp. Crop
Science, 182 : 249–258.

Aldi, 2012. Persiapan Pembukaan Areal Tanaman. Serial online (http://


pagemenu.blogspot.com/2012/07/persiapan-pembukaan-areal- tanaman.
html) . diakses pada tanggal 08 Mei 2014. Pukul 14.00 Wib.

Anonim. 2002. Tanaman Budidaya yang baik. Serial Online http://www.lembagapenelitian


hortikultura.com. Diakses Diakses 18 Nopember 2011.
Arfian, D. 1992. Pengaruh Jarak Tanam dan Waktu Pembumbunan Terhadap

Pertumbuhan dan Produksi Kacang Bogor (Vigna subterranea L.). IPB.


Bogor.

Ariaty, 1997. Budidaya dan Manfaat Koro Benguk. Departemen Pertanian, BPTP
Ungaran.
Atun S. 2009. Kandungan nutrisi dan potensi pemanfaatan koro benguk.
Disampaikan pada Pelatihan Beberapa Teknologi Pengembangan Produk
Pangan sesuai Potensi Daerah untuk Menumbuhkan Jiwa Wirausaha
sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan Kulon
Progo, Yogyakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 2006. SNI 01-7152-2006: Bahan Tambahan Pangan-
Persyaratan Persia dan Penggunaan dalam Produk Pangan. Badan
Standarisasi Nasional. Jakarta.
Berdardinus. 2001. Pengolahan Tanaman Yang Efektif. Serial Online

Brown. 2008. Budidaya jagung hibrida. serial online: Program Studi


Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura.
Cahyono, B. 2007. Tehnik Budidaya Kacang Tanah. Aneka Ilmu. Semarang.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 1989. Daerah Istimewa Aceh. Daerah Aceh. 20
hlm.http:// www.anekaplanta wordpress. com. Diakses 18 Nopember 2011.

Duke, JA. 1981. Hand book of Legumes of World Economic Importance. Plenum
Press, NewYork.

Forbaginfo, 2010. Clearning atau Pemberishan Lahan. Serial online


(http://forbaginfo.wordpress.com/2010/09/16/clearing-atau-pembersihan-
lahan/). diakses pada tanggal 08 Mei 2014. Pukul 14.00 Wib.
Gandjarl, I, Dewi S.S dan Moeljonos. 1973. Kadar Zat Gizi Dalam Tempe Benguk.
15

Hairiah K, M Van Noordwijk, dan S Setijono 1991. Tolerance to acid soil condition
of Velvet beans Mucuna pruriens var. utilis and deeringiana. Dev Plant Soil
Sci 45 : 227–237.
Haryoto, 2000. Tempe Benguk. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Marzuki, HAR. 2007. Bertanam Kacang Tanah(edisi revisi). Penebar Swadaya.
Jakarta. 72 hlm.
Muljanto, Djoko 1991. Effect of Defolination and Water Stress on the Root Growth
, the Biological and Histological aspect of the nodules in White Clover
(Trifolium repens L.). Institute National Polytechnique de Lorraine.
Nugroho, 2010. Peran Jarak Tanam dan Saat Penanaman Karabenguk (Mucuna
Pruriens L.) Tanpa Penjalar Pada Dua Lokasi Tanam Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil. Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Prajnanta. 2003. Perawatan Tanaman .Agro Media Pustaka: Jakarta.

Puri, R. K. Ph. D. and Raman P., Md. (2010) Natural Aphrodisiacs : Myth or
Reality, First Edition.
Purwanto, I. (2007). Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae: Nama Daerah,
Morfologi, Kegunaan, Penyebaran, Kaniskus, Yogyakarta.

Retnaningsih, Ch., Setiawan, A., Sumardi. (2011). Potensi Antiplatelet Kacang


Koro (Mucuna pruriens L.)Dari Fraksi Heksan dibandingkan dengan
Aspirin pada Tikus Hiperkolesterolemia. Seri Kandungan Ilmiah, Vol. 14,
No. 1: 80.

Rosmanidar. 2013. Pengaruh Jarak Tanam dan Sistim Pembumbunan Teradap


Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea L).
Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala.

Rustam .2001.Tehnik Penanaman Dan Penyiangan. Serial Online http://www.genesa


exad.com . Diakses Diakses 18 Nopember 2011.

Setiadi, R., K,Anjaria., MP,Doddy., R,Ayoga., Fatkhonuddin. 2011. Dasar Dasar


Agronomi Budidaya Penanaman Jagung. Fakultas Pertanian. Universitas
Jambi.

Somaatmadja, S., 1993. Proses Sumber Daya Nabati Asia Tenggara I.


Kacangkacangan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumarno. 2003. Tehnik Budidaya Kacang Tanah. Sinar Baru. Bandung. 79 hlm

Sunarjono, H., 2001. Budidaya Koro. Trubus 381 (XXXII), Rubrik Pakar
Menjawab. Trubus, Jakarta.
16

Sunaryo. 2009. Performas Itik Pejantan Tegal Akibat Pemberian Ransum Yang
Mengandung Berbagai Hasil Olahan Koro Benguk (Mucuna Pruriens Var
Utilis). UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret. Solo.

Supriyono, MS. 2008. Pengembangan Budidaya Koro Benguk (Mucuna pruriens


(L.) DC.) Sebagai Salah Satu Alternatif Penyedia Sumber Bahan Pangan
Lokal. Universita Sebelas Maret . Surakarta.

Suseno. 2004. Cara Penanaman Yang Ideal Dan Pendangiran. Serial


Onlinehttp://www.Penanaman dan Perawatan. com. Diakses Diakses 18
Nopember2011.

Tim Bina Karya Tani. 2009. Pedoman Bertanam Kacang Tanah. Yrama Widya,
Bandung.
Wanggai, 2014. Manajemen Hutan. Grasindo. Yogyakarta. Hal : 65

Wulijarni, S. N., And R.F maligalig. 1996. Mucuna pruriens (L) DC. cv.Group
Utilis. Prosea handbooks no. 11, Auxiliary plants. Prose/Bogor.
Wageningen. The Netherlands. Pp.199-203.