Anda di halaman 1dari 14

CRITICAL BOOK REOPRT

GEOGRAFI DESA KOTA

Dosen pengampu : Dr. Nina Novira, M.Si.

Oleh :

Nama : Ade Wiranda (3173131004)

Kelas : Pendidikan Geografi C/2017

PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTASILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia, berupa nafas serta kemudahan kepada saya dalam menyusun
tugas ini dengan tepat waktu. Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan terima
kasih kepada ibu Dr. Nina Novira, M.Si. selaku dosen pada matakuliah
“GEOGRAFI DESA KOTA” yang telah memberikan kesempatan kepada saya
untuk menyusun makalah ini.
Saya sadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan dan harapan Ibu. Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna
dalam rangka menambah wawasan ilmu serta pengetahuan kita. Akan tetapi,
dengan segala kekurangan dan keterbatasan makalah ini. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna di
dunia ini tanpa saran yang membangun.
Demikianlah makalah yang saya buat, diharapkan Ibu dapat menerima
nya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan maupun kata – kata.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Medan, September 2018

Ade wiranda

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1

1.3 Tujuan ....................................................................................................................... 1

BAB II INTISARI BUKU ......................................................................................2

2.1 Identitas Buku ........................................................................................................... 2

2.1.1 Buku Utama........................................................................................................ 2

2.1.2 Buku Pembanding .............................................................................................. 2

2.2 Ringkasan Isi buku .................................................................................................... 3

2.2.1 Bab IV (Buku Utama) ......................................................................................... 3

2.2.2 Bab I (Buku Pembanding) .................................................................................. 6

BAB III PEMBAHASAN ......................................................................................9

3.1 Kelebihan Buku ........................................................................................................ 9

3.2. Kelemahan Buku ...................................................................................................... 9

BAB IV PENUTUP ..............................................................................................10

4.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 10

4.2. Saran ...................................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Laporan resensi buku adalah laporan yang bertujuan untuk mengetahui isi
buku, tetapi lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi, dan
analisis) kita mengenai keunggulan dan kelemahan buku, apa yang menarik dari
buku tersebut dan bagaimana isi buku tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir
kita dan menambah pemahaman kita terhadap suatu bidang kajian tertentu.
Sehingga laporan resensi buku merupakan suatu proses yang dilakukan untuk
mencari kelebihan dan kelemahan buku.
Materi yang akan dikritik mengenai Perkembangan dan Pembangunan
Desa dan Kota. Diharapkan dengan adanya laporan resensi buku ini, mahasiswa
dapat menambah pemahaman tentang materi ini dan mampu berpikir lebih kritis
maupun sistematis, sehingga untuk kedepannya mahasiswa sebagai calon guru
dapat mengaplikasikan materi ini di lapangan atau setelah menjadi guru.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan dari latar belakang, penulis membatasi materi yang akan
kami kritik, antara lain:
1. Apa dan bagaimana isi di setiap struktur ?
2. Bagaimana inti sari atau ringkasan dari setiap bab buku ?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan buku ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan critikal book ini untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan isi buku, menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap
karya dari penulis yang sama atau penulis lainnya. Kemudian manfaatnya untuk
memenuhi tugas kuliah dan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana
mengkritik sebuah buku.

1
BAB II
INTISARI BUKU

2.1 Identitas Buku

2.1.1 Buku Utama

Judul : Geografi Kota dan Desa


Penulis : N. Nugrahini
Penerbit : Ombak
Kota Terbit : Yoyakarta
Tahun Terbit : 2014
Urutan Cetakan : Cerakan Pertama
Dimensi Buku : 14,5 x 21 cm
Tebal Buku : xvi + 192 Halaman
ISBN : 978-602-258-202-1

2.1.2 Buku Pembanding

Judul : Pembangunan Kota


Penulis : Ir. Budi D. Sinulingga
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1989
Urutan Cetakan : Cetakan Pertama
Dimensi Buku : 21 cm
Tebal Buku : xii, 271 Halaman
ISBN : 979-416-611-1

2
2.2 Ringkasan Isi buku

2.2.1 Bab IV (Buku Utama)

A. Pembangunan ditinjau dari geografi


Di buku ini di jelaskan bahwa pembangunan daerah yang digalakkan
melalui berbagai program pelita menyangkut alam dan manusia. Dalam
pengertian pembangunan atau devlopment terkandung tiga unsur: perubahan,
tujuan, dan potensi. Dengan perubahan itu dimaksudkan adanya kemajuan dari
kondisi yang kurang memuaskan menjadi lebih baik. Adapun tujuannya
menyangkut kepentingan manusia yang harus diperjuangkan demi tercapainya
kesejahteraan. Akhirnya, potensi menyangkut dana dan saya yang terdapat dalam
masyarakat untuk digunakan dalam pembanguan.
Sebenarnya di belakang itu semua, terkadang pula unsur-unsur spiritual.
Sehubungan itu Morris Ginsberg dalam bukun Ruopp (approaches to community
development) menunjukkan tiga kriteria pembangunan, sebagai berikut:
a. Bila sudah ada penguasaan manusia atas lingkungan alam, sehingga nampak
adanya, swadaya pada masyarakat.
b. Bila ada peningkatan tata kerja kooperatif diantara warga masyarakat yang
membangun.
c. Bila timbul kebebasan, ini menyangkut kesadaran manusia pembangunan.

Di negara-negara yang sedang berkembang, dimana taraf kehidupan


penduduknya serba kurang di bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya,
kesadaran membanguan itu perlu di bangkitkan. Dengan sendirinya manusia
menyadarai tempat dan kemampuannya di tengah-tengah lingkungan alam sebagai
wadah sumber daya yang berisi tenaga air, kesuburan tanah, bahan mentah.
Geografi pemukiman dalam membahas pembangunan memperhatikan
dengan sendirinya interaksi kota-desa; didalamnya dibutuhkan langkah-langkah
yang sinkronis yaitu sederap. Sehubungan dengan itu perencanaan pembangunan
di kota dan di perdesaan harus disimak sekaligus karena saling berkaitan.

B. Kota dan wilayah di sekelilingnya

3
Kota selalu mempunyai ikatan erat dengan wilayah yang mengelilinginya.
Memang nampaknya tembok kota itu memisahkan penduduk kota dari penduduk
yang bertani diluarnya, tetapi sebenarnya antara kota dan wilayah sekelilingnya
itu terdapat relasi yang simbiotis
Penghuni kota yang terdiri atas kaum pedagang, pegawai pemerintah,
tukang-tukang, seniman, dan guru hidup darikelbiha bahan pangan yang
dihasilkan petani. Sebaliknya kota selalu berusaha memenuhi apa-apa yang
diperlukan oleh masyarakat bertani.ketergantungan secara ekonomis pihak kota
kepada pedesaan dimana pun dan di berbagai zaman, merupakan kenyataan yang
hakiki, meskipun saling ketergantungan diantara dua pihak itu dapat berubah-ubah
seiring perkembangannya zaman.

C. Masalah kelebihan penduduk


DI buku ini di jelaskan dalam masa pembangunan di negara sedang
berkembang ada kesan bahwa bertambahnya penduduk kota dengan pesat itu
karena migrasi masuknya orang-orang dari desa. Tetapi jang dilupakan bahwa
penduduk kota sendiri juga mengalami pertambahan yang alami, di samping itu
sementar tahap-tahap pembangunan berlangsung, kota telah mencaploki kawasan-
kawasan desa yang ada disekitarnya, sehingga otomatis jumlah penduduknya
bertambah terus.
Pertumbuhan penduudk yang tidak seimbang secara demografis ekonomis
seperti disebutkan tadi, berkaitan erat dengan apa yang di sebut overurbanisasi.
Overurbanisasi bukan hanya karena tak seimbangnya jumlah penduduk dengan
lapangan kerja di kota, tetapi menyangkut langsung atau tak langsung kehidupan
di perdesaan sekitarnya.
Dapat disimpulkan bahwa pedesaan yang umumnya menderita kelebhan
penduduk, di sana perbandingan yang oincang anatra penduduk dan mata
pencaharian (inilah hakikat kelebihan penduduk) relatif lebih besar di bandingkan
dengan yang di kota. Datangnya teknologi maju dan cara-cara pemberian upah
kepada buruh tani, ditentukan oleh orang-orang kota atau mereka yang berakibat
kepada kepentingan kota.

4
Arus migrasi masuk kota dapat berkurang pada saat-saat kota kurang
menawarakan tawaran kerja yang menguntungkan. Sebaliknya ada juga terjadi
migrasi musiman; artinya pada waktu pedesaan tak ada kerja bagi kaum buruh
tani, ternyata kota menawarkan aneka pekerjaan meski hanya serabutan, sehingga
pengguran yang sementara tadi dapat diatasi.

D. Kota parasitis, heterogenetis, dan pra-industri


Sifat parasitis menunjukkan peranan negatif kota terhadap daerah di
sekitarnya; sebaliknnya yang generatif itu peranan yang menguntungkan. Tipe
parasitis dan generatif ini berasal dari Hoselitz; ia menerangkan juga bahwa kota
dapat saja bergeser dari tipe pertama ke tipe kedua.
Adapun redfield menemukan sebutan kota heterogenetis sebagai lawan
dari yang orthogenetis. Yang disebut terlebih dahulu menyangkut kota-kota dalam
tata moral. Sifat heterogenitis menunjukkan terjadinya penciptaan gagasan-
gagasan baru yang tingkatnya ada di atas budaya dan peradaban yang lama,
sehingga membawakan konflik.
Dikota pra-industri berkubu pemerintah, lembaga keagaaman, lembaga
keilmuan, dan anekakegiatan kerohanian; tetapi secara ekonomis hubungan
dengan daerah sekitarnya serba lepaslepas karena tak terdapatnya pembagian kerja
secara tentorial. Sedangkan kota industri, pembagian kerja tentoriaal nampak
jelas, sehingga organisasinya dapat diterapkan untuk menggalakkan perpabrikan.

E. Kota dan perdesaan: pusat dan pinggiran


Dikalangan para sosiolog ada kecendrungan kuat untuk melukiskan relasi
antara kota dan pedesaan di sekelilingnya dalam peristilah relasi antara pusat dan
pinggiran. Terutama itu kepadatan pada mereka yang ingin melihat perubahan
sosial di negara-negara sedang berkembang sebagai proses modernisasi. Di situ
kota-kota terutama ibu kota menjadi pusatnya, kemudian modernisasi menyebar
lampat laun ke sekelilingnya dan merembesi masyarakat pedesaan, yang
sebenarnya segan menerimanya.

5
F. Masalah pemiskinan desa
Terhadap efek-efek negatif dari usaha modernisasi pedesaan, sosiologi
wertheim mengajukan keritik. Kesimpulan dari frank bahwa kota tak mampu
membangun pedesaan di hinterlandnya, bahkan justru meningkatkan
keterbelakangan, disebbakan karena ia memakai antitese kota-desa sebagai
sentrum-periferi. Disitu relasinya hanya satu arah, padahal untuk meningkatkan
taraf kehidupan di pedesaan perlu relasi dua arah. Di Indonesia para ekonom kini
menggalakkan gagasan bagaimana cara membangun tetapi memihak rakyat. Jika
yang dipakai sebgai pedoman tata kerja membangun itu meniru pengalaman di
Eropa Barat yang ditandai oleh revolusi industri, yang terjadi adalah perembesan
atau pentesan ke bawah. Kota industri dulu yang berhasil barulah kemudian
merembes ke kawasan di sekelilingnya.

2.2.2 Bab I (Buku Pembanding)

A. Pengertian lingkungan kehidupan perkotaan (urban area)


Kota sebagai lingkungan kehidupan perkotaan mempunyai ciri non agraris
dalam aspek perekonomian, membedakan desa dan kota, dimana desa adalah
lingkungan kehidupan perdesaan yang berciri agraris. Dimana samping aspek
perekonomian maka dalam aspek sosial budaya, kota juga menunjukkan ciri
sendiri, seperti di kemukakan oleh Constandse, bahwa spirit kota berciri mandiri,
rasional dinamis dan berorientasi kearah kemajuan.

B. Wilayah/kota Metropolitan
Wilayah metropolitan itu adalah suatu wilayah yang mencakup suuatau
kota inti dengan beberapa kota yang melindungi kota inti tadi. Jadi sebetulnya
wilayah metropolitan adalah sutu bentuk dari pada kesatuan sistem perkotaan
anatar kota besar (kota inti) dengan kota di sekelilingnya, dimana terdapat
pembagian tugas antara kota inti dan kota satelit dalam hal memberikan
pelayanan, sehingga dikatakan bahwa kota inti dan kota satelit mempunyai kaitan
yang erat.

6
C. Perkembangan kota di indonesia
Sejarah Pertumbuhan Beberapa Kota di Indonesia

Kota-kota yang terdapat di negeri kita mulanya hanya merupakan sebuah


pemukiman penduduk biasa, seperti desa. Lama-kelamaan tumbuh dan
berkembang berdasarkan latar belakang atau sejarahnya masing-masing.
Ada yang berkembang karena tempat tersebut merupakan kawasan
perdagangan, karena merupakan pusat perkebunan, pertambangan, atau karena
dijadikan pusat administrasi pemerintahan.

a. Pertumbuhan Kota yang Berlatar Belakang sebagai Pusat Perdagangan

Kota yang tumbuh atas dasar pusat perdagangan, antara lain, Jakarta, Aceh, dan
Ujungpandang. Sejak zaman Portugis, kota-kota itu merupakan tempat
persinggahan dan perdagangan, tidak hanya pedagang dari Nusantara melainkan
juga dari mancanegara, seperti pedagang dari Portugis, Spanyol, Belanda, India,
Arab, juga Cina.

Sekarang kota-kota itu tidak hanya merupakan pusat perdagangan, melainkan juga
merupakan pusat-pusat pemerintahan.

b. Pertumbuhan Kota yang Berlatar Belakang sebagai Pusat Perkebunan

Kota Jambi dan Maluku dapat digolongkan ke dalam jenis kota yang mengalami
pertumbuhan atas dasar pusat perkebunan.

Jambi, mulanya unit-unit perkebunan yang berskala besar yang kemudian


berkembang seiring dengan peningkatan pendapatan penduduk dan kemajuan di
bidang teknologi. Sampai pada tahun 1990, Jambi memiliki 48,7% hutan produksi
dan 24,7% hutan konsumsi dari 2.947.200 ha hutan yang dimilikinya.

Maluku, adalah pusat rempah-rempah yang sejak dulu telah menjadi rebutan
pedagang-pedagang Eropa. Setelah dikuasai 3,5 abad oleh Belanda, Maluku
semakin berkembang dan sampai sekarang tetap menjadi pusat perkebunan
rempah-rempah.

7
c. Pertumbuhan Kota yang Berlatar Belakang sebagai Pusat Pertambangan

Yang tergolong ke dalam kota kategori ini, antara lain:

Cepu dan Surabaya tumbuh dan berkembang karena terdapat pertambangan


minyak bumi.

Bangka, Belitung, Linggas, dan Singkep dapat tumbuh dan berkembang karena
adanya sumber tambang timah.

d. Pertumbuhan Kota yang Berlatar Belakang sebagai Pusat Administrasi


Pemerintahan

DKI Jakarta dan DI Yogyakarta merupakan kota yang tergolong kategori


ini. Pada abad ke-16, Jakarta atau Jayakarta ketika itu merupakan pusat kekuasaan
Kerajaan Fatahillah.

Sejak Perjanjian Giyanti ditandatangani tahun 1955, Yogya merupakan


pusat kesultanan Yogyakarta, dan pernah menjadi ibu kota negara pada tahun
1949. Pertumbuhan kota yang berlatar belakang sebagai pusat administrasi
pemerintahan.

Kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dapat berkembang


menjadi pusat pertumbuhan. Hal ini terjadi karena kota sebagai pusat administrasi
pemerintahan biasanya berdiri berbagai gedung-gedung pemerintahan seperti
kantor kepolisian, gedung pengadilan, dan kantor pemerintahan lainnya.

Dengan adanya kantor-kantor pemerintahan maka akan menarik orang dari


wilayah lain untuk datang mengurus masalah politik, sosial, dan ekonomi. Dengan
adanya aktivitas-aktivitas tersebut, kota akan sering dikunjungi. Hal ini akan
mempercepat kota menjadi pusat pertumbuhan.

8
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kelebihan Buku


Setelah melakukan pembandingan dengan materi buku pembanding, maka
penulis dapat menyimpulkan bahwa memiliki beberapa kelebihan, diantaranya
buku ini sudah memiliki penerbit dan sudah memiliki ISBN sehingga mudah
untuk didapat dan dicari, dalam penulisannya buku tersebut menggunakan
sistematika penulisan yang bagus. Materi yang ada dalam buku dijelaskan secara
runtut dan tidak memberikan kesan membingungkan. Sistematika dalam buku
juga tidak memberikan kebingunan bagi Pembacanya. Materi pada buku utama
lebih menekankan kepada perkembangan dan pembangunan kota dan desanya
sedangkan untuk buku pembanding lebih menekankan pada sisi kotanya,.
Penulisan dalam buku juga sangat jelas menggunakan ukuran huruf yang tidak
terlalu kecil dan tidak terlalu besar sehingga mudah dibaca oleh peserta didik.

3.2. Kelemahan Buku


Disamping kelebihan-kelebihan buku yang sudah ada di atas, buku ini juga
memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan buku pembanding yang patut
untuk di koreksi. Pengkoreksian ini ditujukan agar dapat memperbaiki pembuatan
buku-buku yang akan datang. Adapun kekurangan atau kelemahan buku
pembanding tersebut ilahan penggunaan warna dalam buku yang terkesan
monoton dan terlihat kusam, sehingga memberikan kesan sedikit kurang menarik
ketika melihat kedalam buku. Jika melihat perkembangan zaman yang ada maka
buku ini juga perlu menambahkan contoh berbentuk gambar yang lebih menarik
sehingga pembaca lebih tertarik membacanya. Dan masih adanya pengetikan kata
yang salah pada buku utama seperti “bertalian erat” yang seharusnya “berkaitan
erat” yang terdapat di hlm 74 bab ke IV buku utama.Tidak hanya itu masih
terdapat kata kata yang kurnag baku seperti mencaploki, yang berkiblat, melulu
yang terdapat di halaman 74-75 di bab IV buku utama. sehingga pembacanya sulit
untuk memahami makna kalimat selanjutnya. Secara materi pada materi
pembanding kurng pembahasannya mengenai desanya, sehingga hanya
menekankan pada materi kotanya.

9
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa
critical book merupakan kegiatan untuk mengkritisi buku untuk mengetahui
kelemahan dan kekurangan dalam buku, baik dalam sistematika penulisan,
penggunaan bahasa, isi materi dan tampilan buku. Hal tersebut dilakukan agar
buku yang di kritik dapat direvisi agar menjadi buku yang lebih baik.
Buku utama dan buku pembanding, sudah baik, dan kedalaman materi
yang cocok untuk pembacanya. Meskipun demikian buku tersebut juga memiliki
beberapa kelemahan yang membuat buku ini menjadi tidak sempurna, hal tersebut
ialah penggunaan warna pada pengetikannya yang masih memiliki kualitas yang
kurang baik, tidak adanya warna yang lain selain warna hitam dan putih sehingga
kurang menarik. Dan masih adanya pengetikan kata yang salah seperti yang di
tuangkan pada kelemahan buku diatas.

4.2. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna serta minimnya
sumber yang dimiliki oleh penulis, maka penulis akan selalu menerima kritik dan
saran yang membangun untuk menjadikan critical buku ini menjadi lebih baik.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan critical buku yang telah di
jelaskan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Nugrahini N. (2014). Geografi Kota dan Desa.Ombak: Yogyakarta

Sinulingga D Budi. (1989). Perkembangan kota. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta

11