Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................... i
KATAPENGANTAR ………………..….……………….....……....... ii
DAFTARISI ………………………………………………………...... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang……………………………...……….………...... 1
1.2. Rumusan Masalah …………………………………...……......... 1
1.3. Tujuan Penulisan…………………………………………....…... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Perubahan Sosial..………………………….….......... 3
2.2. Teori-teori Perubahan Sosial..…….….......................................... 3
2.3. Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Budaya……...………... 4
2.4. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan
Sosial dan Budaya ….....................................................................6
2.4.1 Faktor-Faktoryang MempengaruhiJalannya
ProsesPerubahan ………………………………...........…........... 9
2.4.2 Proses-proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan........................ 13
2.5. Hubungan antara perubahan sosial dan
perubahan kebudayaan..................................................................15
2.6. Sikap kritis masyarakat terhadap perubahan
sosial dan kebudayaan.................................................................. 17
2.7. Modernlisasi................................................................................. 18

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan………………………………………….…….......... 21
3.2. Saran ……………………………………………………….…... 21

DAFTAR PUSTAKA...……………………………………………..... 22

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Setiap individu yang hidup dalam kelompok bermasyarakat selama ini ia hidup pasti
mengalami peubahan-perubahan, perubahan dalam arti yang tidak mencolok atau
tidak menarik, perubahan yang bersifat terbatas maupun yang tidak tidak menarik,
perubahan yang bersifat terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan yang
lambat sekali, tetapi itu ada juga yang berjalan dengan cepat.
Perubahan-perubahan pada masyarakat atau individu hanya akan dapat dilihat apabila
seseorang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu
waktu dan membandingkannya dengan susunan kehidupan masyarakat tersebut pada
waktu yang lampau.
Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu menuntut acuan nilai-nilai
budaya, masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu seolah-
olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan
kebudayaan dewasa ini.

1.2. Rumusan Masalah


Jika membahas mengenai perubahan sistem sosial budaya Indonesia ini tentunya
sangatlah panjang namun, perlu penulis cantumkan batasan dari pembahasan ini,
yaitu antara lain:
a. Apa pengertian perubahan sosial?
b. Beberapa bentuk perubahan sosial dan budaya?
c. Faktor-faktor menyebabkan perubahan sosial?
d. Apakah faktor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan, sosial budaya,
dan fenomena sosial?

1
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
sosio-antropologi kesehatan. Adapun tujuan penulisan makalah, sebagai berikut:
a. Memahami pengertian perubahan sosial.
b. Memahami bentuk perubahan sosial budaya.
c. Memahami factor-faktor penyebab perubahan social budaya.
d. Memahami factor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan, sosial
budaya, dan fenomena sosial.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Perubahan Sosial


Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta
semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan
masyarakat di pengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola kehidupan,
budaya, dan sistem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-
pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial yang baru.
Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyrakat untuk meniggalkan
unsur-unsur budaya dan sistem sosial lama dan mulai beralih menggunakan unsur-
unsur budaya dan sistem sosial yang baru. Seluruh kehidupan masyarakat baik pada
tingkatan individual, kelompok, Negara, dan dunia yang mengalami perubahan.Hal-
hal penting dalam perubahan sosial menyangkut perubahan-perubahan yang
pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta adapula perubahan-perubahan yang
lambat sekali, tetapi ada pula yang berjalan cepat.

2.2. Teori-teori Perubahan Sosial


Para ahli filsafat, sejarah, ekonomi dan sosiologi telah mencoba untuk merumuskan
prinsip-prinsip atau hokum-hukum perubahan-perubahhan sosial. Banyak yang
berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan social
merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia.
Ahli lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam
unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya
perubahan-perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologi, ekonomis, atau
kebudayaan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan
sosial bersifat periodik dan non periodik, yang pada umumnya menyatakan bahwa
perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian.

3
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap bahwa usaha untuk
mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam
perubahan-perubahn sosial tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan
adanya lingkaran-lingkaran kejadian atau perubahan sosial tersebut. Akan tetapi
perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting lingkaran yang terjadinya
gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat
diperoleh suatu generalisasi.

2.3. Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan


Perubahan sosial dan kebudayaan dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk, yaitu:

a. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat.


Perubahan secara lambat ini yang memerlukan waktu yang sangat lama, dan rentetan-
rentetan perubahan yang kecil yang saling mengikuti dengan lambat di namakan
evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau
kehendak tertentu.
Perubahan tersebut terjadi karena usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan
keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru, yang timbul
sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Sedangkan perubahan sosial yang
berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok
kehidupan masyarakat ( yaitu lembaga-lembaga kemasyrakatan lazimnya disebut
‘revolusi’).

b. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar.


Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang
Tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat.

4
Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode
pakaian.
Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang
membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh
perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi
pola kehidupan masyarakat.

c. Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak


Dikehendaki atau Tidak Direncanakan.
Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang
diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang
hendak mengadakan perubahan didalam masyrakat. Perubahan ini dibuat oleh
masyarakat sendiri yang menginginkan perubahan tersebut. Sedangkan perubahan
sosial yang tidak dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan-perubahan
yang terjadi tanpa terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung diluar jangkauan
danpengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial
yang tidak diharapkan masyarakat.
Apabila perubahan yang tidak direncanakan tersebut berlangsung bersamaan dengan
suatu perubahan yang dikehendaki, perubahan tersebut mungkin mempunyai
pengaruh yang demikian besarnya terhadap perubahan-perubahan yang dikehendaki.
Dengan demikian keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa mendapat halangan-
halangan masyarakat itu sendiri, atau dengan kata lain, perubahan yang dikehendaki
lebih diterima oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan pada
lembaga-lembaga kemasyakatan yang ada atau dengan cara membentuk yang baru.
Sering kali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang
tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling menghargai.

5
2.4. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial dan
Kebudayaan
a. Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri
1. Bertambah atau berkurangnya penduduk
Pertambahan penduduk yang sangat cepat di pulau Jawa menyebabkan terjadinya
perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga
kemasyarakatannya. Missal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah,
sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal.
Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan berpindahnya penduduk dari desa
ke kota atau dari daerah ke daerah lain (misalnya transmigrasi). Perpindahan
penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya, dalam bidang pembagian kerja dan
stratifikasi sosial, yang memengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.

2. Penemuan-penemuan baru
Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi terjadi dalam waktu yang tidak
terlalu lama adalah inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya
unsur-unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-
cara unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam
masyarakat yang bersangkutan. Penemuan baru sebagai akibat terjadinya perubahan-
perubahan dapat dibedakan dalam pengertian dari discovery dan invention.
Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alasan atau
gagasan yang diciptakan oleh seorang individu. Discovery baru berubah menjadi
invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima dan menerapkan penemuan
baru itu.
Apabila ditelaah lebih lanjut agi tentang penemuan baru, terlihat ada beberapa faktor
pendorong yang dipunyai masyarakat, antara lain adalah :
a. Kesadaran individu-individu akan kekurangan dalam kebudayaannya.
b. Kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaan.
c. Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

6
Didalam setiap masyarakat tentu ada individu yang sadar akan adanya kekurangan
dalam kebudayaan masyarakatnya. Sebagian orang menerima kekurangan-
kekurangan tersebut sebagai hal yang diterima begitu saja. Sebagian orang yang tidak
puas dengan keadaan akan tetapi tidak mampu memperbaiki keadaan tersebut.
Mereka inilah yang kemudian menjadi pencipta-pencipta baru tersebut.

3. Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat


Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara individu-kelompok, kelompok-
kelompok. Pada umumnya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif.
Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan individu
walaupun diakui tapi mempunyai fungsi sosial.
Banyak timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya, yang
dalam hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan-perubahan.

a. Sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat


1. Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di
sekitar manusia
Terjadinya gempa bumi, banjir, tanah longsor dan lain-lain mungkin menyebabkan
masyarakatnya terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Missal, pada waktu
dulu masyarakat dulu berburu kini berpindah ke pertanian.
Sebab yang bersumber pada lingkungan alam, kadang-kadang disebabkan oleh
tindakan manusia itu sendiri. Misalnya, penggunaan tanah yang sembrono tanpa
memperhitungkan kelestarian humus tanah, penebangan hutan yang liar dapat
menyebabkan banjir.

7
2. Peperangan
Peperangan dengan Negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan-
perubahan karena biasanya Negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya
pada Negara yang kalah. Contohnya adalah Negara-negara yang kalah dalam Perang
Dunia Kedua banyak sekali mengalami perubahan dalam lembaga
kemasyarakatannya. Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia Kedua seperti
Jerman dan Jepang mengalami perubahan-perubahan besar dalam masyarakat.

3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain


Apabila sebab-sebab bersumber pada masyarakat lain, maka mungkin kebudayaan
lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan secara fisik antara dua masyarakat
mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan hubungan timbal-balik, artinya
masing-masing masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruhnya dari
masyarakat yang lain itu. Apabila salah satu kebudayaan yang bertemu mempunyai
taraf teknologi yang lebih maka yang terjadi adalah proses imitasi yaitu peniruan
terhadap budaya lain. Mula-mula unsur-unsur tersebut ditambahkan kebudayaan asli
namun lambat laun kebudayaan asli diubah dengan kebudayaan asing tersebut.

8
2.4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jalannya Proses
Perubahan
Perubahan sosial budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi itu terdiri dari faktor pendorong dan penghambat yang dapat berasal
dari dalam maupun luar masyarakat. Berikut adalah faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat.

a. Faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan

1. Kontak dengan kebudayaan lain


Perubahan sosial dan budaya akan berjalan dengan cepat apabila masyarakat sering
melakukan kontak dengan kebudayaan lain.

Salah satu proses yang mempercepat kontak dengan kebudayaan lain adalah proses
difusi. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh
masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai semua
masyarakat dapat menikmati kegunaannya.
Selain difusi, proses yang mempercepat kontak sosial juga dapat terjadi karena
akulturasi, namun akulturasi bersifat continue dan memerlukan hubungan dekat.

2. Sistem pendidikan yang maju


Pendidikan formal sangat penting, karena dengan pendidikan formal masyarakat akan
mendapatkan nilai-nilai tertentu untuk menerima hal-hal baru dan berpikir lebih
rasional dan ilmiah serta cara pandang terhadap masalah yang lebih obyektif.

9
3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-
keinginan untuk maju
Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat, masyarakat merupakan
pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Hadiah Nobel, misalnya, merupakan
pendorong untuk menciptakan hasil-hasil karya yang baru. Di Indonesia juga dikenal
sistem penghargaan yang tertentu, walaupun masih dalam arti yang snagat terbatas
dan belum merata.

4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang


Masyarakat yang memiliki sikap toleransi cenderung akan mudah menerima hal-hal
yang baru, sehingga proses perubahan sosial budaya akan berjalan lebih cepat karena
masyarakat sangat toleran dengan perilaku menyimpang. Dalam hal ini dapat berupa
penyimpangan positif maupun negatif.
Contoh : dahulu pekerjaan sopir hanya dilakukan oleh seorang laki-laki, namun
sekarang ini masyarakat tidak merasa risih apabila perempuan bekerja sebagai sopir.

5. Sistem lapisan masyarakat yang terbuka


Dengan sistem stratifikasi terbuka maka hal itu akan memberikan kesempatan adanya
gerak sosial vertical dan peluang yang luas bagi individu untuk meningkatkan diri
untuk maju dan berusaha menaikkan status sosial dalam masyarakat.
Contoh : seorang anak yang terlahir dari keluarga petani miskin, dengan kemampuan
secara akademis anak itu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Dengan begitu anak itu
mampu menaikkan status sosial dirinya dan keluarganya.

10
6. Nilai meningkatkan taraf hidup
Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.

7. Penduduk yang heterogen


Dalam masyarakat heterogen yang memiliki latar kebudayaan, ras dan ideologi yang
berbeda akan mudah dan sering terjadi pertentangan yang akan memicu terjadinya
perubahan tersebut.
Contoh : masyarakat di perkotaan di dalamnya terdapat masyarakat yang berbeda-
beda kebudayaan. Misalnya : Suku Batak, Jawa, Bugis, dsb. Dengan keadaan itu
masyarakat sering berinteraksi dan memungkinkan terjadi perubahan.

b. Faktor-faktor yang menghambat terjadinya perubahan

1. Kurangnya berhubungan dengan masyarakat-masyarakat lain


Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui
perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin
akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Hal itu juga menyebabkan para
warga masyarakat terkungkung pola-pola pemikirannya oleh tradisi.
Contoh : masyarakat suku pedalaman akan sulit mengetahui perkembangan-
perkembangan yang terjadi pada masyarakat lain karena kurang dan sulit
berkomunikasi.

2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat


Hal ini mungkin disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup atau
mungkin karena lama dijajah oleh masyarakat lain.
Contoh : masyarakat kelas bawah sulit mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga
pemikirannya kurang terbuka.

11
3. Sikap masyarakat yang tradisionalistis
Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta anggapan
bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat jalannya proses
perubahan. Keadaan tersebut akan menjadi lebih parah apabila masyarakat yang
bersangkutan dikuasai oleh golongan konservatif.

Contoh : di zaman modern ini masih banyak masyarakat yang mengkaitkan keadaan
alam dengan hal-hal yang irasional, walaupun sebenarnya fenomena alam itu
dijelaskan secara ilmiah.

4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan


kuat
Dalam setiap organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan, pasti aka nada
sekelompok orang yang menikmati kedudukan perubahan-perubahan. Misalnya
dalam masyarakat feodal dan juga pada masyarakat yang sedang mengalami tradisi.
Dalam hal yang terakhir, ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap
sebagai pelopor proses transisi. Karena selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-
usaha dan jasa-jasanya, sukar sekali bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya di
dalam suatu proses perubahan.

12
5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi
kebudayaan
Memang harus diakui kalau tidak mungkin integrasi semua unsur suatu kebudayaan
bersifat sempurna. Beberapa perkelompokan unsur-unsur tertentu mempunyai derajat
integrasi tinggi. Maksudnya unsur-unsur luar dikhawatirkan akan menggoyahkan
integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu
masyarakat.

2.4.2 Proses-proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan


1. Penyesuaian Masyarakat terhadap Perubahan
Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-
lembaga kemasyarakatan yang pokok benar-benar berfungsi dan saling
mengisi.Adakalanya unsur-unsur baru dan lama yang bertentangan secara bersamaan
memengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang kemudian berpengaruh pula pada
kelompok masyarakat.
Keadaan tersebut berarti bahwa ketegangan-ketegangan serta kekecewaan diantara
para warga tidak mempunyai saluran pemecahan. Apabila ketidakserasian dapat
dipulihkan kembali setelah terjadi suatu perubahan, keadaan tersebut dinamakan
penyesuaian (adjustment). Bila sebaliknya terjadi, maka dinamakan
ketidakpenyesuaian sosial (maladjustment) yang mungkin mengakibatkan terjadinya
anomie.

2. Saluran-saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan


Saluran-saluran perubahan social dan kebudayaan (avenue or channel of change)
merupakan saluran-saluran yang dilalui oeleh suatu proses perubahan. Umumnya
saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam bidang
pemerintahan, ekonomi, pendidikan, gama, rekreasi dan lain-lain.

13
Lembaga kemasyarakatan yange mendapatkan penilaian tertinggi dari masyarakat
cenderung menjadi saluran utama perubahan sosial dan kebudayaan. Perubahan
lembaga kemasyarakatan merupakan suatu sistem yang terintegrasi.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa saluran tersebut berfungsi agar sesuatu
perubahan dikenal , diterima, diakui, serta dipergunakan oleh khalayak ramai, atau
dengan singkat, mengalami proses institutional-ization (pelembagaan).

3. Disorganisasi (Disintegrasi) dan Reorganisasi (Reintegrasi)


a. Pengertian
Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan suatu kesatuan
fungsional. Maka, dapat dikatakan bahwa disorganisasi adalah suatu keadaan di mana
tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan. Misalnya dalam
masyarakat, agar dapat berfungsi sebagai organisasi, harus ada keserasian
antarbagiannya
Sementara itu, reorganisasi atau reintegrasi adalah suatu proses pembentukan norma-
norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang
telah mengalami perubahan. Tahap reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma
dan nilai-nilai yang baru telah melembaga (institutionalized) dalam warga
masyarakat.

b. Suatu Gambaran Mengenai Disorganisasi dan Reorganisasi


Gambaran mengenai disorganisasi dn reorganisasi dalam masyarakat pernah
dilukiskan oleh William. I. Thomas dan Florian Znaniecki dalam karya klasiknya
yang berjudul The Polish Peasant in Europe and Amerika. Khusus tentang On
Disorganization and Reorganization, mereka membentangkan pengaruh dari suatu

14
masyarakat yang tradisional dan masyarakat yang modern terhadap jiwa anggotanya.
Watak atau jiwa seseorang paling tidak merupakan pencerminan kebudayaan
masyarakatnya.

c. Ketidakserasian Perubahan-perubahan dan Ketertinggalan Budaya (Cultural Lag)


Pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan tidak selalu perubahan-
perubahan pada unsur-unsur masyarakat dan kebudayaan mengalami kelainan yang
seimbang. Ada unsur-unsur yang dengan cepat berubah, tetapi ada pula unsur-unsur
yang sukar untuk berubah. Biasanya unsur-unsur kebudayaan kebendaan lebih mudah
berubah daripada unsur-unsur kebudayaan rohaniah.
Perbedaan antara taraf kemajuan dari berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu
masyarakat dinamakan cultural lag (artinya ketertinggalan kebudayaan). Pengertian
ketertinggalan dapat digunakan paling sedikit dalam dua arti, yaitu pertama sebagai
jangka waktu antara terjadi dan diterimanya penemuan baru.Artinya kedua dipakai
untuk menunjuk pada tertinggalnya suatu unsur tertentu terhadap unsur lainnya yang
erat hubungannya.
Ketertinggalan yang mencolok adalah tertinggalnya alam pikiran dengan
perkembangan teknologi yang sangat pesat, yang dijumpai terutama pada
masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia ini.

2.5. Hubungan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan

Teori-teori mengenai perubahan-perubahan masyarakat sering mempersoalkan


perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan
kebudayaan. Perbedaan demikian tergantung dari adanya perbedaan pengertian dari
masyarakat dan kebudayaan. Apabila perbedaan pengertian tersebut dapat dinyatakan
dengan tegas, maka dengan sendirinya perbedaan antara perubahan-perubahan sosial
dan perubahan-perubahan kebudayaan dapat dijelaskan.
Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari
perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya

15
yaitu: kesenian, ilmu pengetahuan, tekhnologi, filsafat dan seterusnya, bahkan
perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi sosial. Sebagai
contoh dikemukakanya perubahan pada logat bahasa Aria setelah terpisah dari
induknya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial
masyarakatnya.Perubahan-perubahan tersebut lebih merupakan perubahan
kebudayaan ketimbang perubahan sosial. Masyarakat menurut kingsley davis adalah
sistem hubungan dalam arti hubungan antara organisasi-organisasi, dan bukan
hubungan antara sel-sel, kebudayaan dikatakanya mencakup segenap cara berfikir
dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti
menyampaikan buah pikiran secara simbolis dan bukan oleh karena warisan yang
berdasarkan keturunan.
Apabila diambil definisi kebudayaan dari Tylor yang mengatakan bahwa kebudayaan
adalah suatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan. Keseniaan, moral,
hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga
masyarakat, maka perubahan-perubahan kebudayaan adalah setiap perubahan dari
unsur-unsur tersebut.
Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama yaitu
kedua-duanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu
perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dewasa
ini proses-proses pada perubahan-perubahan sosial dapat diketahui dari adanya ciri-
ciri tertentu, antara lain :

1. Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya, karena setiap masyarakat


mengalami perubahan yang terjadi secara lambat atau secara cepat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu, akan diikuti
dengan perubahan-perubahan pada lembaga lembaga sosial lainnya.
3. Perubahan-perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi
yang bersifat sementara karena berada di dalam proses penyesuaian diri.
Disorganisasi akan di ikuti oleh suatu reorganisasi yang mencakup pemantapan
kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang baru.

16
4. Perubahan-perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang
spiritual saja, karena kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang
sangat kuat.
5. Secara tipologis perubahan-perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai:
a. Social proses : the circulation of various rewards, facilities, and personnel
in an existing structure.
b. Segmentation: the proliferation of structural units that do not differ
qualitatively from existing units.
c. Structural change: the emerge of qualitatively new complexes of roles and
organization
d. Changes in group structure: the shifts in the composition of groups, the
level of consciousness of groups, and the relations among the groups in society.

2.6. Sikap kritis masyarakat terhadap perubahan sosial dan


kebudayaan

Perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat, apapun bentuk dan jenis
unsur yang berubah akan meninggalkan suatu kondisi yang baru. Peralihan dari
kondisi lama kepada kondisi baru tersebut dinamakan transisi.Keadaan lama dan baru
bukan merupakan keadaan yang terpisah, melainkan saling menyambung.secara
singkat dikatakan bahwa kondisi sekarang merupakan hasil dari proses perubahan di
waktu lampau dan kondisi sekarang ini pun akan mengalami perubahan membentuk
keadaan baru di masa depan.
Selain ada unsur-unsur yang berubah, di dalam masyarakat terdapat juga unsu-unsur
sosial dan kebudayaan yang tidak mengalami perubahan.Unsur yang tidak mengubah
unsur kebudayaan fundamental yang diajadikan pedoman hidup, misalnya ideology.
Selain itu ada pula unsur-unsur sosial atau kebudayaan yang jika berubah
dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan system atau menimbulkan
kegoncangan dalammasyarakat. Bierens de Hann menyebutkan adanya dua unsur
perubahan didalam masyarakat:

17
1. Unsur statika, yaitu unsur-unsur di dalam masyarakat yang cenderung
mempertahankan sesuatu keadaan untuk tidak berubah, seperti adanya vested interest
atau golongan orang-orang yang menghendaki status quo(keadaan yang tetap).
2. Unsur dinamika, yaitu unsur-unsur di dalam masyarakat yang menghendaki
adanya perubahan, misalnya perubahan lingkungan alam, perubahan struktur sosial,
nilai-nilai sosial, dan sebagainya,
Oleh karena itu, masyarakat umum dan masyarakat Indonesia pada khususnya,
hendaknya menyikapi perubahan apapun yang terjadi secara selektif.Masyarakat
Indonesia harus mampu mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan setiap
perubahan sosial dan budaya. Perubahan tersebut harus diantisipasi dengan perilaku-
perilaku yang positif. Jangan sampai pada saat terjadi perubahan sosial dan budaya,
masyarakat Indonesia belum punya pegangan nilai dan norma yang kokoh, sehingga
terjadi keadaan anomie. Selain itu, masyarakat Indonesia hendaknya jangan terlalu
bersikap apriori terhadap perubahan sosial dan budaya, hingga tidak ingin menerima
perubahan sama sekali. Sikap apriori ini menyebabkan ketertinggalan kebudayaan.
Kita sadari bahwa perubahan sosial dan budaya akan terjadi dalam masyarakat selama
masyarakat itu masih ada. Sikap terbaik kita adalah haros selektif dalam menerima
perubahan, kita harus mampu memilih yang sesuai dengan norma dan nilai yang ada
dalam kehidupan masyarakat.

2.7. MODERNISASI

1. Pengantar
Secara historis, modernisasi merupakan suatu proses perubahan yang menuju pada
tipe sistem-sistem sosial, ekonomi, dan politik. Negara-negara atau masyarakat-
masyarakat modern pun yang sedang menjalani proses tersebut telah berkembang dari
aneka warna masyarakat tradisional. Setiap Negara-negara atau masyarakat-
masyarakat mengalami persoalan berbeda-beda dalam menghadapi modernisasi
sesuai dengan hukum situasi, pasti ada unsur-unsur yang sama dan berlaku universal.
Menyangkut Indonesia yang mengalami modernisasi melalui perubahan-perubahan

18
yang direncanakan. Misalnya dari orde lama ke orde baru, orde baru ke zaman
reformasi.

2. Pengertian Modernisasi
Pengertian modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang
tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial, kearah pola-
pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil.
Modernisasi merupakan suatu bentuk perubahan sosial. Biasanya merupakan
perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada perencanaan. Modernisasi
merupakan suatu persoalan yang harus dihadapi masyarakat, karena di dalam
prosesnya meliputi bidang yang luas, menyangkut proses disorganisasi, problema-
problema sosial, konflik antar kelompok, hambatan-hambatan terhadap perubahan,
dan sebagainya.

3. Disorganisasi, Transformasi, dan Proses Modernisasi


Di dalam proses modernisasi akan muncul disorganisasi pada masyarakat. Hal
tersebut akan menjadi masalah-masalah sosial. Masalah sosial diartikan sebagai
penyimpangan terhadap norma-norma kemasyarakatan.
Disamping itu, perlawanan terhadap transformasi misalnya keyakinan yang kuat
terhadap kebenaran tradisi, sikap yang tidak toleran terhadap penyimpangan-
penyimpangan, pendidikan dan perkembangan ilmiah yang tertinggal, merupakan
faktor-faktor yang menghambat modernisasi.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang berpengaruh pada modernisasi adalah
sikap dan nilai, kemampuan menunjukkan manfaat unsur yang baru, dan
kesepadanannya dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada. Ada kemungkinan
modernisasi bertentangan dengan kebudayaan yang ada. Selain itu, ada kemungkinan
modernisasi menggantikan unsur-unsur yang lama.

19
4. Syarat-syarat modernisasi
Modernisasi pada awalnya mengakibatkan disorganisasi pada masyarakat. Tetapi
masyarakat akan bisa reorganisasi jika modernisasi bersifat preventif (mencegah) dan
konstruktif (membangun).
Syarat-syarat suatu modernisasi adalah sebagai berikut :
1. Cara berpikir yang ilmiah yang berlembaga dalam kelas penguasa ataupun
masyarakat.
2. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.
3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu
lembaga atau badan tertentu.
4. Penciptaan iklim yang favourable dari masyarakat terhadap modernisasi dengan
cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.
5. Tingkat organisasi yang tinggi yang di satu pihak berarti disiplin, sedangkan
dilain pihak berarti pengurangan kemerdekaan.
6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan social planning
Apabila itu tidak dilakukan, perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan
dari kepentingan-kepentingan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi
kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat.

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dapat diambil kesimpulan bahwa perbahan-perubahan sosial pada masyarakat juga
membawa perubahan-perubahan pada kebudayaan. Berbagai bentuk perubahan sosial
dan kebudayaan disetiap tempat dan daerah tidak sama, hal ini bisa dilihat dari
kambat cepatnya perubahan, kecil besarnya perubahan dan pihak-pihak yang
menginginkan perubahan.
Banyak faktor yang bisa mengakibatkan perubahan sosial dan kebudayaan
kemudian mempengaruhi jalannya proses perubahan tersebut. Setiap perubahan sosial
dan kebudayaan pasti akan menimbulkan disorganisasi, reorganisasi dan cultural lag.
Dewasa ini sulit menentukan kearah mana masyarakat berkembang. Salah satu jenis
arah perubahan adalah modernisasi. Modernisasi pada awalnya mengakibatkan
disorganisasi pada masyarakat. Tetapi masyarakat akan bisa reorganisasi jika
modernisasi bersifat preventif (mencegah) dan konstruktif (membangun).

3.2 Saran
Sebaiknya sebagai suatu kelompok masyarakat kita seharusnya menjaga budaya kita
dan janganlah menghilangkannya, karena itu merupakan hal yang sangat berharga
sekali.Di harapkan juga kepada pemerintah agar lebih memperhatikan
masalah budaya masyarakat khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

21
DAFTAR PUSTAKA

Alex Inkeles, What is Sociology? An Introduction to the Discipline and


Profession, (New Delhi: Prentice Hall Of India (private) Ltd. 1965), hlm
31 dan seterusnya.

Ankie M. Hoogvelt, The Sociology of Developing Societies. (London:


The Macmillan Press Ltd, 1976), hlm 9.

Maclver, Society; A Textbook of Sociology, (New York: Farrar and


Rinehart, 1937), hlm 272 dan seterusnya.

Pitirim A. Sorokin, Contemporary Sociological Theories, (New York:


Harper and Brothers, 1928).

Ralph Linton, The Study of Man, ( New York: Appleton Century Crofts
inc, 1936) hlm 324.

Selo Soemardjan, Perkembangan politik sebagai penggerak dinamika


pembangunan ekonomi, pidato pengukuhan sebagai guru besar luar biasa
pada Fakultas Ekonomi UI. 30 maret 1965, hlm 26 dan seterusnya`

22