Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani
yaitu Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita Mitos Yunani tersebut Asclepius
disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun
tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi
diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan
bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik.

Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health)


adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan
meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat “
untuk :

Perbaikan sanitasi lingkungan

Pemberantasan penyakit-penyakit menular

Pendidikan untuk kebersihan perorangan

Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini


dan pengobatan.

Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan


hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.

Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan
seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui
usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.

Dari batasan kedua di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu
meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif,
ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu
kesehatan masyarakat. Untuk itu perlu adanya pendidikan kesehatan agar

1
kesehatan masyarakat dapat lebih ditingkatkan dan dilaksanakan oleh masyarakat.
Oleh karena itu penulis ingin membahasnya dalam makalah ini dengan
judul “PENDIDIKAN DAN PERILAKU KESEHATAN”

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari pembahasan yang akan penulis buat adalah sebagai
berikut:

1. Apa saja prinsip-prinsip pendidikan kesehatan?

2. Bagaimana ruang lingkup pendidikan kesehatan?

3. Apa saja metode dalam pendidikan kesehatan?

4. Apa saja alat bantu dan media yang dipakai dalam pendidikan kesehatan?

5. Bagaimana domain perilaku kesehatan?

6. Bagaimana perubahan-perubahan perilaku kesehatan?

7. Apa saja bentuk-bentuk perilaku kesehatan?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas dari mata
kuliah “Ilmu Kesehatan Masyarakat" dan juga sebagai referensi bagi pembaca
dalam mendapatkan informasi tentang pendidikan dan perilaku kesehatan
sehingga pembaca dapat memahami tentang kesehatan masyarakat yang sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Prinsip-Prinsip Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan penting untuk menunjang program kesehatan yang lain.


Tetapi ini tidak sesuai dengan kenyataannya. Dalam program-program pelayanan
kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan. Meskipun sudah melibatkan
namun kurang memberikan bobot. Argument mereka adalah karena pendidikan
kesehatan tidak segera dan jelas memperlihatkan hasil. Pendidikan kesehatan itu
tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat, dan yang mudah dilihat atau
diukur. Pendidikan adalah merupakan “Behavioral Investment” jangkan panjang.
Hasil investment pendidikan kesehatan baru dapat dilihat beberapa tahun
kemudian. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai
hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan.

a. Peranan Pendidikan Kesehatan

Ahli kesehatan masyarakat dalam membicarakan status kesehatan mengacu


kepada H.L.Blum. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil
yang paling besar terhadap status kesehatan. Disusul oleh perilaku mempunyai
andil nomor dua. Pelayanan kesehatan, dan keturunan mempunyai andil kecil
terhadap status kesehatan.

Lawrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau


dipengaruhi 3 faktor pokok yakni :

1) Faktor-faktor prediposisi (predisposing factors)

2) Faktor-faktor yang mendukung (enabling factors)

3) Faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factors)

3
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan pendidikan
kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu
kelompok atau masyarakat sesuai dengan nila-nilai kesehatan. Dengan kata lain
pendidikan kesehatan adalah suatu usaha ntuk menyediakan kondisi psikologis
dari sasaran agar mereka berperilaku sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kesehatan.

b. Konsep Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang


kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah suatu pedagogik praktis atau praktek
pendidikan. Konsep dasar pendidikan adalah proses belajar yang berarti didalam
pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan yang
lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau
masyarakat. Berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia sebagai makhluk social
dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup didalam masyarakat selalu
memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih
pandai, lebih mampu, lebih tahu dan sebagainya). Dalam mencapai tujuan
tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kegiatan
belajar.

Seseorang dapat dikatakan belajar apabila didalam dirinya terjadi perubahan dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan
sesuatu.

Kegiatan belajar tiu mempunyai ciri-ciri :

1) Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan diri pada individu,


kelompok atau masyarakat yang sedang belajar, baik actual maupun
potensial

2) Hasil belajar adalah bahwa perubahan tersebut di dapatkan karena


kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relative lama

3) Perubahan itu terjadi karena usaha dan disadari bukan karena kebetulan

4
Bertolak dari konsep pendidikan, maka konsep pendidikan kesehatan itu juga
proses belajar pada individu, kelompok atau masyarakat dari tidak tahu tentang
nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah-masalah
kesehatannya sendiri menjadi mampu dan lain sebagainya.

Pendidikan didefinisikan sebagai usaha atau kegiatan untuk membantu individu,


kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (Prilaku)
nya/mereka untuk mencapai kesehatannya/mereka secara optimal. Batasan-
batasan konsep pendidikan kesehatan yang sering dijadikan acuan antara lain dari
: Nyswander, Stuart, Green, tim ahli WHO dan lain sebagainya.

c. Proses Pendidikan Kesehatan

Pokok dari pendidikan kesehatan adalah proses belajar. Kegiatan belajar terdapat
tiga persalan pokok, yakni :

1. Persoalan masukan (input)

Persoalan masukan dalam pendidikan kesehatan adalah menyangkut sasaran


belajar (sasaran didik) yaitu individu, kelompok atau masyarakat yang sedang
belajar itu sendiri dengan berbagai latar belakangnya.

2. Persoalan proses

Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan


kemampuan (prilaku) pada diri subjek belajar tersebut. Di dalam proses ini terjadi
pengaruh timbale balik antara berbagai faktor, antara lain : subjek belajar,
pengajar (pendidik atau fasilitator) metode dan teknik belajar, alat bantu belajar,
dan materi atau bahan yang dipelajari.

3. Keluaran (output)

Keluaran adalah merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu berupa kemampuan atau
perubahan perilaku dari subjek belajar.

5
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar ini ke dalam 4 kelompok besar,
yakni : Faktor materi (bahan mengajar), lingkungan, instrumental, dan subjek
belajar. Faktor instrumental ini terdiri dari perangkat keras (hardware) seperti
perlengkapan belajar dan alat-alat peraga, dan perangkat lunak (software) seperti
fasilitator belajar, metode belajar, organisasi dan sebagainya

B. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi antara
lain

1. Dimensi sasaran pendidikan

Dari dimensi ini dapat di kelompokkan menjadi 3 yakni :

a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu

b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok

c. Pendidikan kesehatan masyrakat dengan sasarn masyarakat

2. Dimensi tempat pelaksanaan

Dapat berlangsung di berbagai tempat, misalnya:

a. Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran


murid

b. Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah sakit dengan


sasaran pasien atau keluarga pasien, di Puskesmas dan sebagainya

c. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau


karyawan yang bersangkutan

3. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan

Pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five


levels of presentation) dari leavel and clark, sebagai berikut :

6
a. Promosi kesehatan

Dalam tingkat ini pendidikan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi,


kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan hygiene perorangan, dan
sebagainya

b. Perlindungan khusus (Specifik Protection)

Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini


pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama dinegara-negara berkembang.
Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai
perlindungan terhadap penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya masih
rendah

c. Diagnosis dini dan pengobatan segera

Dikarenakan rendahnya pngetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan


dan penyakit, maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi dalam
masyarakat.

d. Pembatasan Cacad (Disability Limitation)

Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan cacad atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan
juga diperlukan pada tahap ini.

e. Rehabilitasi (rehabilitation)

Setelah sembuh dari suatu penyakit, seringkali seseorang tidak mau melakukan
latihan-latihan untuk pemulihannya, untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan

7
C. Metode Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu.
Adanya pesan tersebut, masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh
pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Dengan kata lain, dengan adanya
pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.

Pendidikan kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut


mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Faktor-faktor yang
mempengaruhi suatu proses pendidikan disamping masukannya sendiri juga
metode materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya, dan
alat-alat bantu / alat peraga pendidikan. Agar tercapai suatu hasil yang optimal
maka faktor-faktor tersebut harus bekerjasama secara harmonis.

Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok


dan massa (public).

a) Metode Pendidikan Individual (Perorangan)

Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini


digunakan untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah mulai tertarik
kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya seorang ibu yang baru
saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap
imunisasi TT karena baru saja memperoleh / mendengarkan penyuluhan
kesehatan. Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor yang
lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi maka harus didekati
perorangan. Dasar digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena
setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan
dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut.

Bentuk dari pendekatan ini, antara lain :

1. Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling)

2. Interview (Wawancara)

8
b) Metode Pendidikan Kelompok

1) Kelompok Besar

Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih
dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain :

1) Ceramah

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah :

Persiapan

Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi dari yang
akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri dengan :

Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau
disusun dalam diagram atau skema.

Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya makalah singkat, slide,


transparan, sound system, dan sebagainya.

Pelaksanaan

Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah tersebut


dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran (dalam arti
psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :

Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu


dan gelisah.

Suara hendaknya cukup keras dan jelas.

Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.

Berdiri di depan (di pertengahan), tidak boleh duduk.

Menggunakan alat-alat bantu (AVA) semaksimal mungkin.

2) Seminar

9
Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli
tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di
masyarakat. Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan
pendidikan menengah ke atas.

2) Kelompok Kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok
kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil antara lain :

1) Diskusi Kelompok

Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi
dalam diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga
mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya
dalam bentuk lingkaran atau segi empat.

Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-


pancingan berupa pertanyaan-pertanyaan atas kasus sehubungan dengan topik
yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup, pemimpin kelompok harus
mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat
kesempatan berbicara sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang
peserta.

2) Curah Pendapat (Brain Storming)

Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama


dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya pemimpin
kelompok memancing dengan satu masalah kemudian tiap peserta memberikan
jawaban-jawaban atau tanggapan (cara pendapat).

Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart


atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh
diberi komentar oleh siapa pun. baru setelah semua anggota mengeluarkan
pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan akhirnya terjadilah diskusi.

10
3) Bola Salju (Snow Balling)

Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang, 2 orang). Kemudian


dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit, tiap 2
pasang bergabung menjadi 1. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut dan
mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4
orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya
akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.

4) Kelompok Kecil-Kecil (Bruzz Group)

Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil (buzz group) kemudian


dilontarkan suatu permasalahan sama / tidak dengan kelompok lain dan masing-
masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari
tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.

5) Memainkan Peranan (Role Play)

Dalam metode ini, beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang


peranan tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter puskesmas,
sebagai perawat atau bidan dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai
pasien atau anggota masyarakat. Mereka meragakan misalnya bagaimana interaksi
/ komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

6) Permainan Simulasi (Simulation Game)

Metode ini adalah merupakan gambaran antara role play dengan diskusi
kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan
seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain
monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), selain beberan atau
papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi berperan sebagai
nama sumber.

11
c) Metode Pendidikan Massa (Public)

Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan pesan-pesan


kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik
maka cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.

Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah awareness atau kesadaran


masyarakat terhadap suatu inovasi, belum begitu diharapkan sampai dengan
perubahan perilaku. Namun demikian bila sudah sampai berpengaruh terhadap
perubahan perilaku adalah wajar.

Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya
menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh metode ini, antara lain:

a. Ceramah umum (public speaking)

Pada acara-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, menteri


kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di hadapan massa rakyat untuk
menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Safari KB juga merupakan salah satu
bentuk pendekatan massa.

b. Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV


maupun radio, pada hakekatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan
massa.

c. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya
tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga
merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa. Contoh "Praktek Dokter
Herman Susilo" di televisi pada waktu yang lalu.

d. Sinetron "Dokter Sartika" didalam acara TV juga merupakan bentuk


pendekatan pendidikan kesehatan massa.

12
e. Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun
tanya jawab / konsultasi tentang kesehatan atau penyakit juga merupakan bentuk
pendekatan pendidikan kesehatan massa.

f. Billboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan sebagainya


adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh billboard "Ayo ke
Posyandu".

D. Alat Bantu dan Media Pendidikan Kesehatan

a. Alat Bantu (peraga)

a) Pengertian

Yang dimaksud alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh
pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan / pengajaran.

alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada
suatu objek sehingga mempermudah persepsi.

Elgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 macam dan sekaligus
menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam suatu kerucut.

Alat peraga akan membantu dalam melakukan penyuluhan, agar pesan-pesan


kesehatan dapat disampaikan lebih jelas dan masyarakat sasaran dapat menerima
pesan orang tersebut dengan dengan jelas dan tetap pula. Dengan alat peraga,
orang dapat lebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit sehingga mereka
dapat menghargai betapa bernilainya kesehatan itu bagi kehidupan.

b) Faedah Alat Bantu Pendidikan

Secara terperinci, faedah alat peraga antara lain sebagai berikut :

1. Menimbulkan minat sasaran pendidikan.

2. Mencapai sasaran yang lebih banyak.

3. Membantu mengatasi hambatan bahasa.

13
4. Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan
kesehatan.

5. Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.

6. Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang


diterima kepada orang lain.

7. Mempermudah penyampaian bahan pendidikan / informasi oleh para


pendidik / pelaku pendidikan.

8. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.

9. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui kemudian lebih mendalami


dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik.

10. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Didalam menerima


sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan
atau lupa.

c) Macam-Macam Alat bantu Pendidikan

Pada garis besarnya, hanya ada 2 macam alat bantu pendidikan (alat peraga) :

1) Alat Bantu Lihat (Visual Aids)

Alat ini berguna didalam membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada
waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :

Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip, dansebagainya.

Alat-alat yang tidak diproyeksikan :

1) Dua dimensi, gambar, peta, bagan, dan sebagainya.

2) Tiga dimensi misal bola dunia, boneka, dan sebagainya.

2) Alat-Alat Bantu Dengar (Audio Aids)

14
Ialah alat yang dapat membantu menstimulasi indera pendengar pada waktu
proses penyampaian bahan pendidikan / pengajaran. Misalnya piringan hitam,
radio, pita suara, dan sebagainya.

3) Alat Bantu Lihat-Dengar

Seperti televisi dan video cassette. Alat-alat bantu pendidikan ini lebih dikenal
dengan Audio Visual Aids (AVA).

Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menjadi 2


macam menurut pembuatannya dan penggunaannya.

Alat peraga yang complicated (rumit), seperti film, film strip slide dan
sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor

Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-
bahan setempat yang mudah diperoleh, seperti bambu, karton, kaleng bekas,
kertas koran, dan sebagainya. Beberapa contoh alat peraga yang sederhana yang
dapat dipergunakan di berbagai tempat, misalnya :

Di rumah tangga seperti leaflet, model buku bergambar, benda-benda yang


nyata seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan sebagainya.

Di kantor-kantor dan sekolah-sekolah, seperti papan tulis, flipchart, poster,


leaflet, buku cerita bergambar, kotak gambar gulung, boneka dan sebagainya.

Di masyarakat umum, misalnya poster, spanduk, leaflet, fanel graph,


boneka wayang, dan sebagainya.

Ciri-ciri alat peraga kesehatan yang sederhana antara lain :

Mudah dibuat

Bahan-bahannya dapat diperoleh dari bahan-bahan lokal

Mencerminkan kebiasaan, kehidupan dan kepercayaan setempat.

Ditulis (digambar) dengan sederhana.

15
Bahasa setempat dan mudah dimengerti oleh masyarakat.

Memenuhi kebutuhan-kebutuhan petugas kesehatan dan masyarakat.

d) Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Pendidikan

Menggunakan alat peraga harus didasari pengetahuan tentang sasaran pendidikan


yang akan dicapai alat peraga tersebut.

1) Individu atau kelompok

2) Kategori-kategori sasaran seperti kelompok umur, pendidikan, pekerjaan,


dan sebagainya.

3) Bahasa yang mereka gunakan

4) Adat-istiadat serta kebiasaan

5) Minat dan perhatian

6) Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima.

Tempat memasang (menggunakan) alat-alat peraga :

1) Didalam keluarga antara lain dalam kesempatan kunjungan rumah, waktu


menolong persalinan, merawat bayi atau menolong orang sakit dan sebagainya.

2) Di masyarakat, misalnya seperti pada waktu perayaan hari-hari besar,


arisan-arisan, pengajaran, dan sebagainya; serta dipasang juga di tempat-tempat
umum yang strategis.

3) Di instansi-instansi, antara lain puskesmas, rumah sakit, kantor-kantor,


sekolah-sekolah, dan sebagainya.

Alat-alat peraga tersebut sedapat mungkin dapat dipergunakan oleh :

1) Petugas-petugas puskesmas / kesehatan

2) Kader kesehatan

3) Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

16
4) Pamong desa.

e) Merencanakan dan Menggunakan Alat Peraga

Sebelum mempergunakan alat peraga lain sebagai pengganti benda-benda asli,


perlu ditelaah terlebih dahulu apakah penggunaan benda-benda asli
memungkinkan atau tidak.Sebaliknya kalau tidak ada benda-benda asli maka
dibuatlah alat peraga dari benda-benda pengganti.

Sebelum membuat alat peraga kita harus merencanakan dan memilih alat peraga
yang paling tepat untuk digunakan.Untuk itu perlu diperhatikan antara lain hal-hal
sebagai berikut:

Tujuan yang Hendak Dicapai

1) Tujuan pendidikan. Tujuan ini dapat untuk :

Mengubah pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep.

Mengubah sikap dan persepsi

Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru

2) Tujuan penggunaan alat peraga

Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran / pendidikan

Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah

Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi

Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.

Perancanaan dan pemilihan alat peraga ditentukan sebagian besar oleh tujuan ini..

Persiapan Penggunaan Alat Peraga

Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus
diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus

17
mengembangkan keterampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara
tepat sehingga mempunyai hasil yang maksimal.

Sebelum penggunaan alat peraga sebaiknya petugas mencoba terlebih dahulu alat-
alat tersebut, yang masih dalam bentuk kasar sebelum diproduksi seluruhnya.
Gunanya tes percobaan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana alat peraga
tersebut dapat dimengerti oleh sasaran pendidikan.

Cara melakukan percobaan tersebut antara lain sebagai berikut :

1) Merencanakan terlebih dahulu tes pendahuluan untuk suatu media yang


akan diproduksi.

2) Menentukan pokok-pokok yang akan dipesankan dalam media tersebut.

3) Menentukan gambar-gambar pokok atau simbol-simbol yang disesuaikan


dengan ciri-ciri sasaran.

4) Memperlihatkan alat peraga / media tersebut kepada sasaran tercoba.

5) Menanyakan kepada sasaran tercoba :

Apakah mereka mengalami kesukaran dalam memahami pesan-pesan,


kata-kata dan gambar-gambar didalam media tersebut.

Menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.

Mencatat komentar-komentar dari sasaran tercoba.

perbaikan alat peraga (media) tersebut.

6) Mendiskusikan alat yang dibuat tersebut dengan orang lain (teman-teman)


atau dengan para ahli.

Cara Mempergunakan Alat Peraga

Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung pada alatnya. Menggunakan


gambar sudah barang tentu lain dengan menggunakan film strip dan sebagainya.
Disamping itu juga dipertimbangkan faktor sasaran pendidikannya. Untuk
masyarakat yang buta huruf akan lain dengan masyarakat yang telah

18
berpendidikan. Dan yang lebih penting lagi alat yang digunakan harus menarik
sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Pada waktu menggunakan AVA
hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Senyum adalah lebih baik untuk mencari simpati.

2) Tunjukkan perhatian bahwa hal yang akan dibicarakan / diragakan itu


adalah penting.

3) Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar agar mereka tidak


kehilangan kontrol dari pihak pendidik.

4) Nada suara hendaknya ditukar-tukar agar pendengar tidak bosan dan tidak
mengantuk.

5) Ikut sertakan para peserta / pendengar, berikan kesempatan untuk


memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut.

6) Bila perlu, berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan


sebagainya.

b. Media Pendidikan Kesehatan

Yang dimaksud dengan media pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah alat
bantu pendidikan (AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut
merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat
tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi
masyarakat atau klien.

Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media


ini dibagi menjadi 3, yakni :

1) Media cetak

2) Media elektronik

3) Media papan (bill board)

19
1) Media cetak

Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat


bervariasi antara lain :

Booklet

Leaflet

Flyer (selebaran) ialah

Flip chart (lembar balik)

Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah

Poster

Foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.

2) Media Elektronik

Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan atau


informasi-informasi kesehatan, jenisnya berbeda-beda antara lain :

Televisi

Radio

Video

Slide

Film strip

3) Media Papan (Billboard)

Papan (billboard) yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai dan diisi
dengan pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan. Media papan disini juga
mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada
kendaraan-kendaraan umum (bus dan taksi).

20
E. Domain Perilaku Kesehatan

Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat
luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi
perilaku itu kedalam 3 domain (ranah / kawasan) meskipun kawasan-kawasan
tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas.

Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa


dalam tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga
domain perilaku tersebut yang terdiri dari a) ranah kognitif (cognitive domain) b)
ranah afektif (affective domain) c) ranah psikomotor (psychomotor domain).

Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk


kepentingan hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari :

a. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan


(knowledge).

b. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang


diberikan (attitude).

c. Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan
materi pendidikan yang diberikan (practice).

Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada
domain kognitif, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang
berupa materi atau objek di luarnya.

Menurut Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional kita, ketiga kawasan


perilaku ini disebut cipta (kognisi), rasa (emosi) dan karsa (konasi). Tokoh
pendidikan kita ini mengajarkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk dan
atau meningkatkan kemampuan manusia yang mencakup cipta, rasa dan karsa
tersebut. Ketiga kemampuan tersebut harus dikembangkan bersama-sama secara
seimbang sehingga terbentuk manusia Indonesia seutuhnya (harmonis).

21
a. Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk


terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi


perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni :

1) Awareness (kesadaran)

2) Interest (merasa tertarik)

3) Evaluation (menimbang-nimbang)

4) Trial dimana subjek mulai mencoba untuk melakukan sesuatu sesuai dengan
apa yang dikehendaki oleh stimulus.

5) Adoption dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,


kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa


perubahan perilaku tidak selalu melewati tahapan-tahapan tersebut diatas.

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini
dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila
perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung
lama.

22
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :

1) Tahu (Know)

2) Memahami (Comprehension)

3) Aplikasi (Application)

4) Analisis (Analysis)

5) Sintesis (Synthesis)

6) Evaluasi (Evaluation)

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang


menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat
kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

b. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat
dikutipkan sebagai berikut :

"An enduring system of positive or negative evaluations, emotional feelings and


pro or conection tendencies will respect to social object" (Krech et al, 1982)

"An individual's social attitude is an syndrome of respons consistency with regard


to social objects." (Cambell, 1950)

"A mental and neural state of rediness, organized through expertence, exerting
derective or dynamic influence up on the individual's respons to all objects and
situations with which it is related". (Allpor, 1954)

23
"Attitute entails an existing predisposition to respons to social abjects which in
interaction with situational and other dispositional variables, guides and direct the
obert behavior of the individual." (Cardno, 1955)

Dari batasan-batasan diatas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak
dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku
yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi
terhadap stimulus tertentu.

Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3
komponen pokok, yakni :

1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.

2) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

3) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total
attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan
dan emosi memegang peranan penting.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni
:

1) Menerima (Receiving)

2) Merespons (Responding)

3) Menghargai (Valuing)

4) Bertanggung Jawab (Responsible)

Pengukuran sikap dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara
langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek. Misalnya bagaimana pendapat anda tentang pelayanan
dokter di Rumah Sakit Cipto ?

24
c. Praktek atau Tindakan (Practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk tindakan (overt behavior).
Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

Tingkat-Tingkat Praktek

a) Persepsi

b) Respon Terpimpin (Giuded Respons)

c) Mekanisme (Mecanism)

d) Adaptasi (Adaptation)

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan


wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari
atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung
yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

F. Perubahan-perubahan Perilaku

Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan
perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau
penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang
lainnya. Banyak teori tentang perubahan perilaku ini, antara lain akan diuraikan
dibawah.

a. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)

Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku


tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan
organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya
kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan
perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.

25
Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada
hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut
menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

a) Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau


ditolak.

b) Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka


ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

c) Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan


untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

d) Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka


stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan
perilaku).

Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila
stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.
Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan
harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini, faktor
reinforcement memegang peranan penting.

b. Teori Festinger (Dissonance Theory)

Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini
sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti
bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan
psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai
keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu maka
berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut consonance
(keseimbangan).

Dissonance (ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2


elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah
pengetahuan, pendapat, atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu

26
stimulus atau objek dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan
yang berbeda / bertentangan didalam diri individu sendiri maka terjadilah
dissonance.

Sherwood dan Borrou merumuskan dissonance itu sebagai berikut :

Pentingnya stimulus x jumlah kognitif dissonance

Dissonance = --------------------------------------------------------

Pentingnya stimulus x jumlah kognitif consonance

Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang


akan menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya
perbedaan jumlah elemen kognitif yang seimbang dengan jumlah elemen kognitif
yang tidak seimbang serta sama-sama pentingnya. Hal ini akan menimbulkan
konflik pada diri individu tersebut.

c. Teori Fungsi

Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung
kepada kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan
perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam
konteks kebutuhan orang tersebut. Menurut Katz (1960) perilaku dilatarbelakangi
oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Katz berasumsi bahwa :

a) Perilaku itu memiliki fungsi instrumental

b) Perilaku dapat berfungsi sebagai defence mecanism atau sebagai pertahanan


diri dalam menghadapi lingkungannya.

c) Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti.

d) Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam


menjawab suatu situasi.

Teori ini berkeyakinan bahwa perilaku itu mempunyai fungsi untuk menghadapi
dunia luar individu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya

27
menurut kebutuhannya. Oleh sebab itu didalam kehidupan manusia, perilaku itu
tampak terus-menerus dan berubah secara relatif.

d. Teori Kurt Lewin

Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan
yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan
kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces). Perilaku ini dapat berubah apabila
terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut didalam diri seseorang.

Sehingga ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang


itu, yakni :

a) Kekuatan-kekuatan pendorong meningkat.

Kekuatan Pendorong - Meningkat

Perilaku Semula

Kekuatan Penahan

Perilaku Baru

b) Kekuatan-kekuatan penahan menurun.

Kekuatan Pendorong

Perilaku Semula

Kekuatan Penahan – Menurun

Perilaku Baru

c) Kekuatan pendorong meningkat

Kekuatan Pendorong - Meningkat

28
Perilaku Semula

Kekuatan Penahan - Menurun

Perilaku Baru

G. Bentuk Perilaku

Perilaku dapat diartikan suatu respons organism atau seseorang terhadap


rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini ada 2 macam:

1. Bentuk pasif adalah respon internal, yangtejadi di dalam diri manusia dan
tidak secara langsung dapat terlihatoleh orang lain.misalnya berfikir, tanggapan
atau sikap batin dan engetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu
dapat mencegah suatu penyakit tetentu, meskipun ibu tersebut tidak membawa
anaknya ke Puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang
menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri
tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut mereka telah sama-
sama telah mempunyai sikap yang positip untuk mendukung kegiatan tersebut
meskipun mereka sendiri belum melakukannya

2. Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara
langsung. Misalnya dari contoh diatas si ibu telah membawa anaknya ke
Puskesmas atau fasilitas lain untuk imunisasi dan pada kasus kedua dia sudah
mengikuti program KB

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah
merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih
bersifat terselubung, dan disebut “covert behavior”. Sedangkan tindakan nyata
seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice) adalah
merupakan “overt behavior”

29
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah diatas adalah sebagai berikut:

1. Bahwa peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor


perilaku sehingga perilaku individu kelompok atau masyarakat sesuai dengan
nila-nilai kesehatan

2. Konsep pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok


atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari
tidak mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu
dan lain sebagainya.

3. Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu


kedalam 3 domain (ranah / kawasan) yaitu :

a. Pengetahuan

b. Sikap atau tanggapan

c. Praktek

4. Bentuk perilaku kesehatan

1. Pasif artinya mengetahui namun belum melaksanakan

2. Aktif yaitu mengetahui dan melaksanakannya serta dapat diobservasi

B. Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa pendidikan kesehatan itu perlu
untuk diteapkan dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya pendidikan
kesehatan masyarakat Indonesia dapat bertindak sesuai dengan ketentuan dalam

30
kesehatan sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit-penyakit yang
membahayakan diri sendiri.

Meskipun hasilnya akan terlihat dalam beberapa tahun kedepan, namun


pendidikan ini baik adanya untuk membantu masyarakat Indonesia terlepas dari
serangan penyakit serta terhindar dari tindakan pencegahan yang membahayakan.

31