Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN STUDI KASUS

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA


CARPAL TUNNEL SYNDROME

Oleh :
RISA RIZKY NURLIA
P27226018425

PRODI FISIOTERAPI PROGRAM PROFESI


JURUSAN FISIOTERAPI
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
SURAKARTA
1
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN STUDI KASUS
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA FCARPAL TUNNEL SYNDROME

Oleh :
RISA RIZKY NURLIA
P27226018425

Telah Diperiksa Dan Disetujui Pembimbing / Clinical Educator


Prodi Fisioterapi Program Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes
Surakarta

Mengetahui Surakarta , Januari 2019


Kaprodi Fisioterapi Program Fisioterapi Pembimbing / Clinical Educator

Ftr. Saifudin Zuhri,SKM,M.Kes Hartono, Ftr

i
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan .................................................................................... i


Daftar Isi ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A.Latar Belakang ................................................................................. 1
B.Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C.Tujuan Penulisan .............................................................................. 2
D.Manfaat penulisan ............................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 3
A.Deskripsi Kasus ................................................................................ 3
B.Anatomi dan Biomekanika............................................................... 4
C.Teknologi Intervensi Fisioterapi ...................................................... 12
BAB III PENATALAKSANAAN STUDI KASUS ...................................... 19
I. Keterangan Umum Penderita ........................................................................ 19
II. Data Medis ................................................................................................... 19
III. Segi Fisioterapi ........................................................................................... 19
A.Pemeriksaan Subyektif ...................................................................... 19
B. Riwayat Penyakit Dahulu ............................................ ..................... 20
C.Pemeriksaan Obyektif ………………………………………… ...... 21
D.Clinical Reasoning ............................................................................. 22
E.Diagnosis Fisioterapi ......................................................................... 23
F.Program Fisioterapi ............................................................................ 23
G.Rencana Fisioterapi ............................................................................ 23
H.Prognosis ........................................................................................... 23
I.Pelaksaan Fisioterapi .......................................................................... 24
J.Evaluasi dan Tindak Lanjut ................................................................. 24
K.Hasil Evaluasi Terakhir ..................................................................... 26
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 28
A.Kesimpulan ........................................................................................ 28
B.Saran .................................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Carpal tunnel syndrome (CTS) atau sindroma terowongan karpal (STK) adalah salah
satu gangguan pada lengan tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan karpal, baik
akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-tulang
kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan.
Carpal Tunnel Syndrome diartikan sebagai kelemahan pada tangan yang disertai nyeri pada
daerah distribusi nervus medianus (Viera ,2003, Sidharta, 2006.
Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan neuropati tekanan saraf medianus
terowongan karpal di pergelangan tangan dengan kejadian yang paling sering, bersifat kronik,
dan ditandai dengan nyeri tangan pada malam hari, parestesia jari-jari yang mendapat
innervasi dari saraf medianus, kelemahan dan atrofi otot thenar (Kao,2003, Susanto, 2004,
Aroori,2008). Dulu, sindroma ini juga disebut dengan nama acroparesthesia, median thenar
neuritis atau partialthenar atrophy (De Jong, 1992)
Terowongan karpal terdapat di bagian depan dari pergelangan tangan dimana tulang
dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit yang dilalui oleh beberapa tendon dan
nervus medianus. Tulang-tulang karpalia membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan yang
keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal
ligament dan palmar carpal ligament) yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang
karpalia tersebut (Krames, 1994,Viera ,2003, Barnardo,2004, Davis,2005). Setiap perubahan
yang mempersempit terowongan ini akan menyebabkan tekanan pada struktur yang paling
rentan di dalamnya yaitu nervus medianus.
satu bagian dari tim medis yang bertanggung jawab terhadap pembangunan
kesehatan. Menurut Purnamadyawati (2006), fisioterapi memiliki peran dalam
mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak serta fungsi tubuh sepanjang daur
kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual maupun dengan peralatan seperti
electrotherapy dan mekanis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, berikut ini dipaparkan
rumusan masalah dalam makalah.
1. Apa yang dimaksud dengan carpal tunnel syndrome?
2. Bagaimana anatomi serta biomekanikanya ?
1
3. Apa etiologi dari carpal tunnel syndrome ?
4. Apa patofisiologi dari carpal tunnel syndrome ?
5. Apakah USD dan IRR dapat mengurangi derajat nyeri pada kasus Carpal Tunnel
Syndrome ?
C. Tujuan
berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, berikut ini dipaparkan
tujuan masalah dalam makalah.

1. Mengetahui definisi carpal tunnel syndrome


2. Mengetahui anatomi dan biomekanika
3. Mengetahui etiologi carpal tunnel sindrome
4. Mengetahui patofisiologi carpal tunnel sindrome
5. Mengetahui manifestasi klinis carpal tunnel sindrome
6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik carpal tunnel sindrome
7. Mengetahui penatalaksanaan carpal tunnel sindrome .

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Carpal Tunnel Syndrome adalah neuropati kompresi simtomatik nervus medianus
pada pergelangan tangan berupa peningkatan tekanan di dalam terowongan carpal dan
penurunan fungsi saraf di tingkat tersebut. Hal ini ditandai dengan keluhan mati rasa,
kesemutan, nyeri tangan dan lengan dan disfungsi otot. Dulu, sindroma ini juga disebut
dengan nama acroparesthesia , median thenar neuritis atau partial thenar atrophy Carpal
Tunnel Syndrome pertama kali dikenali sebagai suatu sindroma klinik oleh Sir James Paget
pada kasus stadium lanjut fraktur radius bagian distal. Istilah Carpal Tunnel Syndrome
diperkenalkan oleh Moersch pada tabun 1938.
(CTS) merupakan gangguan umum yang berhubungan dengan pekerjaan yang
disebabkan gerakan berulang-ulang dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama
yang dapat mempengaruhi saraf, suplay darah ke tangan dan pergelangan tangan. Carpal
Tunnel Syndrome merupakan neuropati terhadap nervus medianus di dalam carpal tunnel
pada pergelangan tepatnya di bawah fleksor retinakulum. Sindrom ini terjadi akibat kenaikan
tekanan dalam terowongan yang sempit yang dibatasi oleh tulang-tulang carpal serta ligament
carpi tranversum yang kaku sehingga menjebak nervus medianus (Rambe, 2004).

3
B. Anatomi Dan Biomekanika
1. Anatomi
Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang,otot,struktur persendian dan
diinervasi oleh beberapa saraf.
a. Tulang pembentuk sendi pergelangan tangan
Tulang-tulang pada sendi pergelangan tangan yaitu ada dua deretan. Daratan
pertama yaitu dari tulang Radius dan Ulna. Deretan yang kedua terdiri atas
delapan tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal deretan
proximal antara scapoideum,lunatum,triquetrum,pisiforme. Sedangkan bagian
distal terdiri atas tulang trapesium,trapesoideum,capitatum, dan hamatum.

1) Tulang scapoideum
Tulang ini berbentuk perahu dengan dataran yang proximal konveksi bersendi
dengan tulang radius. Yulang ini memiliki dataran sendi yaitu ke arah ulnar
bersendi dengan tulang hamatum, ke arah distal bersendi dengan tulang tulang
trapesium, capitatum, dan trapesoideum dan pada permukaaan volar memiliki
tonjolan yang disebut tuberositas scapoideum (Putz R dan R. Pabst,2005).
2) Tulang Lunatum
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial dengan
tulang Scapoideum, ke arah ulnar dengan Triquetrum, ke arah distal dengan
tulang capitatum. Tulang ini memiliki dataran proximal yang konvek yang
bersendi dengan tulang radius, dan berbentuk kecil, seperti bulan sabit (Putz R
dan R. Pabst, 2005).
3) Tulang Triquetrum

4
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan tulang
radius, ke arah radial dengan tulang Lunatum, ke arah ulnar dan polar
berhubungan dengan tulang pisiforme yang melekat pada permukaan polar tulang
triquetrum dan arah distal dengan tulang hamatum (Putz R dan R. Pabst,2005).
4) Tulang Pisiforme
Tulang yang berbentuk kecil,agak bulat seperti biji kacang ini melekat di dataran
polar pada tulang triquetrum (Putz R dan R. Pabst,2005).
5) Tulang Trapesium
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah polar dengan
trapesoideum dan terdapat tonjolan tulang yang disebut tuberositas osis
trapesium, ke arah proximal dengan tulang scapoideum, ke arah distal dengan
tulang metacarpal satu dan dua (Putz R dan R. Pabst,2005).
6) Tulang Trapezoideum
Tulang ini ke arah radial mempunyai hubungan dengan tulang trapesium ke arah
ulnar dengan tulang capitatum, ke arah distal dengan tulang metacarpal dua, dan
ke arah proximal berhubungan dengan tulang scapoideum (Putz R dan R.
Pabst,2005).
7) Tulang Capitatum
Memiliki bangunan bangunan bulat dan panjang sebagai caputnya. Mempunyai
hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial berhubungan dengan tulang
trapesoideum, ke arah proximal dengan tulang scapoideum dan lunatum. Ke arah
ulnar dengan tulang hamatum dan ke arah distal dengan tulang metacarpal dua,
tiga, dan empat (Putz R dan R. Pabst,2005).
8) Tulang Hamatum
Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal dengan tulang
triquetrum ke arah radial dengan tulang capitatum ke arah distal dengan tulang
metacarpal empat dan lima. Dan ke arah polar memliki bangunan seperti lidah
yang disebut hamalus ossis hamati (Putz R dan R. Pabst,2005).
Pada os scapoideum dan os trapesium yang masing-masing memiliki tonjolan tulang
pada bagian colarnya membentuk eminentia carpi radialis. Di sebelah ulnanya
terdapat eminentia carpi ulnaris yang dibentuk oleh os pisiforme dan hamalum ossis
hamati

5
b. Ligamen
Ligamen colateral capri ulnar yang membentang dari procesus styloideus ulna
menuju ke tulang triquetrum ligamen colateral carpi radialis yang membentang
dari prossesus stiloideus radii menuju tulang scapoideum dan ligamen intercarpal
yang terdiri dari ligamen interlaveum collare dan dorsale, ligamen interseum dan
ligamen carpiarquetrum.
c. Otot
Otot merupakan stabilitas aktif dan penggerak tulang pembentuk sentral. Otot
pergelangan tangan secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu otot
fleksor dan ekstensor yang masing-masing terbagi dua bagian superfisialis dan
profunda.
Otot fleksor superficialis yaitu otot fleksor carpi ulnaris, fleksor carpi radialis,
fleksor digitorum sublimes dan palmaris longus (Cailliet,1990).Otot fleksor carpi
radialis dan fleksor carpi ulnaris berfungsi fleksi di pergelanagan tangan, dan otot
ekstensi ekstensor carpi radialis longus brevis dan ekstensor carpi ulnaris
berfungsi ekstensi pergelangan tangan. Pada gerakan ulnar deviasi dilakukan oleh
m.ekstensor carpi ulnaris dan fleksor carpi ulnaris. Sedangkan gerakan radial
deviasi dilakukan oleh m,ekstensor carpi radialis, fleksor carpi radialis, ekstensor
pollicis brevis dan abduktor pollicis longus.
d. Nerves Medianus
Berasal dari pleksus brakhialis dengan dua buah caput yaitu caput medial dari
pasikulus medialis dan caput lateral. Dari pasikulus lateralis kedua caput tersebut
ersatu pada tepi bawah otot pectoralis minor, jadi serabut dalam truncus berasal
dari tiga atau empat segmen medula spinalis (C6-8, Th 1). Dalam lengan serabut
saraf ini tidak bercabang. Truncus berjalan turun sepanjang arteri brachialis dan
melewati sisi polar lengan bawah dna bercabang masuk ke tengah dan berakhir
dengan cabang muscular kutaneus (Chusid, 1993).
Otot-otot yang mensarafi nerves medianus antara lain : m. pronator teres, m.
fleksor carpi radialis, m.palmaris longus, m.fleksor digitorum profundus,
m,fleksor pollicis longus dan pronator quadratus (Chusid, 1993). Apabila ada lesi
yang mengenai nerves medianus akan mengakibatkan terjadinya pengurangan
sensoris pada bagian polar lengan bawah, daerah palmar tangan jari
satu,dua,tiga,dan setengah jari empat.

6
2. Biomekanik
Ditinjau dari morfologinya termasuk articulasio ellipsoidea, tetapi fungsinya
sebagai artikulatio gluboidea. Gerakan yang terjadi pada persendian itu yaitu
fleksi dengan LGS 800 ekstensi 700, ulnar deviasi 300, dan radial deviasi 200.
Derajat fleksi dan ulnar deviasi lebih besar dibandingkan dengan gerakan ekstensi
dan radial deviasi, hal ini disebabkan karena bentuk permukaan sendi radius dari
ligamen bagian dorsal lebih kendor dari bagian palmar (Chuside, 1967).
3. Etiologi
Etiologi CTS dapat terjadi pada keadaan yang menyebabkan penyempitan
terowongan karpal misalnya trauma pada tangan bisa karena fraktur riwayat
immobilisasi lama akibat operasi ataupun karena over use yang bersifat kronik pd
pergelangan tangan, kelainan anatomis bawaan (herediter), gangguan pada otot
dan tulang seperti akromegali osteofit yang dapat mempengaruhi struktur
pergelangan tangan. Etiologi yang paling sering terjadi yaitu penebalan fleksor
retinaculum karena proses radang. Namun secara sekunder CTS dapat timbul juga
pada penderita dengan Osteoarthritis, Diabetes Melitus, Miksedema, Amiloidosis
atau wanita yang hamil (Sidharta,1984).
Penyakit sistemik lainnya misalnya kegemukan dan menopause karena gangguan
keseimbangan hormon yang mengakibatkan penimbunan lemak atau cairan yang
menimbulkan penyempitan dalam terowongan karpal (Katz, 2002).
CTS merupakan neuropati jepitan yang paling banyak dijumpai, yaitu terjebaknya
Nervus Medianus di dalam terowongan Karpal pada pergelangan tangan, di bawah
fleksor retinakulum (DeJong, 1992). American Society for Surgery of the Hand
mendefinisikan CTS sebagai kompresi neuropati dari Nervus Medianus di
pergelangan tangan dimana saraf melewati bawah ligamentum karpal transversus
(Burton, 1983).
Beberapa penyebab dan factor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
carpal tunnel syndrome antara lain :
a. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy,
misalnya HMSN (hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III.
b. Trauma: dislokasi, fraktur atau hematom pada lengan bawah, pergelangan
tangan dan tangan .Sprain pergelangan tangan. Trauma langsung terhadap
pergelangan tangan.

7
c. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
yang berulang-ulang. Seorang sekretaris yang sering mengetik, pekerja kasar
yang sering mengangkat beban berat dan pemain musik terutama pemain piano
dan pemain gitar yang banyak menggunakan tangannya juga merupakan
etiologi dari carpal turner syndrome.
d. Infeksi: tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.
e. Metabolik: amiloidosis, gout, hipotiroid - Neuropati fokal tekan, khususnya
sindrom carpal tunnel juga terjadi karena penebalanligamen, dan tendon dari
simpanan zat yang disebut mukopolisakarida.
f. Endokrin : akromegali, terapi estrogen atau androgen, diabetes mellitus,
hipotiroidi, kehamilan.
g. Neoplasma: kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase, mieloma.
h. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumatoid, polimialgia reumatika,
skleroderma, lupus eritematosus sistemik.
i. Degeneratif: osteoartritis.
j. Latrogenik : punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk dialisis,
hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan.
k. Inflamasi : Inflamasi dari membrane mukosa yang mengelilingi tendon
menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan carpal tunnel
syndrome.

4. Patofisiologi
Patofisiologis CTS masih belum jelas.Beberapa teori telah diajukan untuk
menjelaskan gejala dan gangguan studi konduksi saraf.Yang paling populer adalah
kompresi mekanik, insufisiensi mikrovaskular, dan teori getaran.
Menurut teori kompresi mekanik, gejala CTS adalah karena kompresi nervus
medianus di terowongan karpal.Kelemahan utama dari teori ini adalah bahwa teori
ini menjelaskan konsekuensi dari kompresi saraf tetapi tidak menjelaskan etiologi
yang mendasari kompresi mekanik.Kompresi diyakini dimediasi oleh beberapa
faktor seperti ketegangan, tenaga berlebihan, hiperfungsi, ekstensi pergelangan
tangan berkepanjangan atau berulang (Bahrudin, 2011).
Teori insufisiensi mikrovaskular mennyatakan bahwa kurangnya pasokan darah
menyebabkan penipisan nutrisi dan oksigen ke saraf yang menyebabkan saraf
secara perlahan kehilangan kemampuan untuk mengirimkan impuls saraf.
8
Menurut teori getaran, gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari penggunaan
jangka panjang alat yang bergetar pada saraf median di karpal tunnel.Lundborg
mencatat edema epineural pada saraf median dalam beberapa hariberikut paparan
alat getar genggam.Selanjutnya, terjadi perubahan serupamengikuti mekanik,
iskemik, dan trauma kimia (Bahrudin, 2011).
Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan fleksor
retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. Tekanan
yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan
intrafasikuler, akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti
yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler diikuti oleh anoksia
yang akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocor
protein sehingga terjadi edema epineural. Hipotesa ini menerangkan bagaimana
keluhan nyeri dan sembab yang timbul terutarna pada malam atau pagi hari akan
berkurang setelah tangan yang terlibat digerak-gerakkan atau diurut, mungkin
akibat terjadinya perbaikan sementara pada aliran darah. Apabila kondisi ini terus
berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama-
kelamaan saraf menjadi atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang
mengakibatkan fungsi nervus medianus·terganggu secara menyeluruh (Davis,
2005).
5. Diagnosa
CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala klinis seperti di atas dan diperkuat dengan
pemeriksaan yaitu :
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan
perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom tangan.
Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu menegakkan
diagnosa CTS adalah:
 Phalen test : Penderita diminta melakukan fleksi tangan
secara maksimal. Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS,
tes ini menyokong diagnosis. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes
ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosis CTS.

9
 Torniquet test : Pada pemeriksaan ini dilakukan pemasangan torniquet
dengan menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di
atas tekanan sistolik. Bila dalam kurun waktu 1 menit timbul gejala
seperti CTS, tes ini menyokong diagnosis.
 Tinel test : Tes ini mendukung diagnosa bila timbul parestesia atau
nyeri pada daerah distribusi nervus medianus jika dilakukan perkusi
pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi.

 Flick's sign : Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau


menggerak-gerakkan jari-jarinya. Bila keluhan berkurang atau
menghilang akan menyokong diagnosis CTS. Harus diingat bahwa
tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud.
 Thenar wasting : Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan adanya
atrofi otot-otot thenar.
 Menilai kekuatan dan ketrampilan serta kekuatan otot secara
manual maupun dengan alat dynamometer.
 Wrist extension test : Penderita diminta melakukan ekstensi tangan
secara maksimal, sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan
sehingga dapat dibandingkan. Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala-
gejala seperti CTS, maka tes ini menyokong diagnosis CTS.

10
 Pressure test : Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan
menggunakan ibu jari. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul
gejala seperti CTS, tes ini menyokong diagnosis.
 Luthy's sign (bottle's sign) : Penderita diminta melingkarkan ibu jari
dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. Bila kulit tangan penderita
tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat, tes dinyatakan positif
dan mendukung diagnosis.
 Pemeriksaan sensitibilitas : Bila penderita tidak dapat membedakan dua
titik (two-point discrimination) pada jarak lebih dari 6mm di
daerah nervus medianus, tes dianggap positif dan menyokong
diagnosis.
 Pemeriksaan fungsi otonom : Pada penderita diperhatikan apakah
ada perbedaan keringat, kulit yang kering atau licin yang terbatas pada
daerah innervasi nervus medianus. Bila ada Dari pemeriksaan
provokasi diatas Phalen test dan Tinel tes adalah test yang
patognomonis untuk CTS (Tana,et al.2004).

b. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan tangan untuk melihat
kemungkinan adanya penyebab lain seperti fraktur atau artritis. Foto polos
leher berguna untuk menyingkirkan adanya penyakit lain pada vertebra. USG,
CT-scan, dan MRI dilakukan pada kasus yang selektif (Latov, 2007).
c. Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)
Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik
gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot
thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot
lumbrikal. EMG bisa normal pada 31% kasus CTS. Pada 15-25% kasus,
kecepatan hantar saraf (KHS) bisa normal. Pada yang lainnya KHS akan
menurun dan masa laten distal (distal latency) memanjang, menunjukkan
adanya gangguan pada konduksi saraf di pergelangan tangan. Masa laten
sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik (Latov, 2007).
d. Pemeriksaan Khusus

11
Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk mengetahui penyebab dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat
gangguan tersebut. Dalam kasus ini pemeriksaan khusus yang dilakukan
antara lain:
1) Inspeksi
Inspeksi adalah pemeriksaan secara visual tentang kondisi serta
kemampuan gerak, pengecilan otot (atrofi), deformitas, warna serta
kondisikulit sekitarnya, langkah (gait). Kemampuan beraktifitas serta alat
bantu yangdigunakan untuk melakukan aktivitas, posisi pasien dan lain-
lain.
2) Quick tes
Quick tes atau tes cepat adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk mengetahui secara cepat kasus yang dialami oleh pasien, sehingga
dapat memilahkan pemeriksaan selanjutnya yang berhubungan dengan
kasus yangkemungkinan diderita oleh pasien.
3) Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
Dalam hal ini meliputi fungsi gerak aktif, gerak pasif, dan gerak
isometric.Pada pemeriksaaan ini umumnya pada pasien ditemukan adanya
rasa nyeri,keterbatasan gerak, kelemahan otot dan sebagainya.
4) Tes Khusus
Test khusus yang digunakan untuk mendiagnosa adanya Carpal
TunnelSndrome pada diri seseorang atau tidak meliputi :
a) Phalen Tes
Pergelangan tangan dipertahankan selama 1 menit, dalam posisi
fleksi palmer yang penuh (90°). Apabila posisi ini cukup lama
dipertahankan pada setiap orang, maka akan timbul rasa kesemutan.
Tetapi dalam halCarpal Tunnel Syndrome kesemutan dapat timbul dalam
waktu yangsangat singkat (dalam waktu 30 detik). Kadang-kadang diikuti
dengan parestesia baru akan timbul apabila pergelangan tangan
digerakkankembali dari posisi fleksi palmer yang maksimal.
b) Tinel Tes
Ketokan local pada syaraf medial, memancing timbulnya “nyeri kejut“di
dalam tangan serta parestesia didalam jari.
5) Palpasi
12
Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan
menggunakantangan dan membedakan antara kedua anggota gerak yang
kanan dan kiri.Palpasi
6) Pemeriksaan ROM
Pemeriksaan ROM ini dilakukan pada pergelangan tangan, dengan tujuan
untuk mengetahui apakah ada keterbatasan gerak pada pergelangan
tangan, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan goniometer.
7) Pemeriksaan Nyeri
Pemeriksaan nyeri menggunakan VRS bertujuan untuk
mengetahuikeadaan nyeri yang dirasakan pasien. Baik saat diam atu
gerak.
6. Penatalaksanaan Fisioterapi
A. Terapi Latihan
Terapi awal dapat dilakukan immobilisasi pada pergelangan tangan dengan
menggunakan splint pada malam hari selama 6 sampai 8 minggu dan dapat digunakan secara
selektif pada aktifitas yang memprovokasi CTS (mis:mengetik), posisi pemasangan splint,
wrist pada posisi neutral (0-2 derajat flexi,0-3 derajat ulnar deviasi),tujuan pemakaian splint
adalah untuk mengistirahatkan jaringan lunak yang mengalami peradangan dan untuk
meminimalkan tekanan intra tunnel.Dapat juga dikombinasi dengan ice therapy. Bila
pekerjaan dapat memperparah kondisi, maka perlu disesuaikan dengan posisi yang
ergonomis.Selain medika mentosa , ultra sound dan terapi latihan pada penderita dapat
mengurangi gejala.Bila semua tindakan konservatif tidak dapat membantu maka tindakan
pembedahan (Carpal Tunnel Release) dapat dipertimbangkan.
Therapy Latihan berupa :
1. Tendon Glide Exercise
Tujuan dari tendon glide exercise adalah untuk meningkatkan sirkulasi darah ke
tangan dan pergelangan tangan sehingga akan mengurangi pembengkakan dan
meningkatkan perbaikan pada jaringan lunak (otot, ligamen dan tendon). Tujuan
utama dari latihan ini adalah untuk mengurangi hambatan padaterowongan carpal
sehingga tendon dapat bergerak bebas. tetapi tidak untuk meningkatkan kekuatan
otot pada pergelangan tangan. Latihan2 ini tampak sederhana, tetapi jika dilakukan
secara teratur bersamaan dengan latihan lain, seperti memakai splint saat tidur, dan
memakai carpal tunnel braces saat beraktifitas, menggunakan salep/gel utk
penghilang nyeri dan juga menggunakan therapydingin, maka akan dirasakan
13
perbedaan setelah therapy. Terapi ini memeng efektif untuk carpal tunnel
syndrome yang ditandai dengan kesemutan pada telapak tangan belum terlalu
parah.

Gerakan ini dapat dilakukan 3 atau 4 kali setiap hari.


Step2= hook, step4= fist, step8= straight
2. Nerve Glide Exercise
Tujuan dari Nerve Glide Exercise adalah untuk memelihara flexibilitas
dari nerves dan ligament.

Gerakan dapat diulang 5-10 kali gerakan.statik thenar splint untuk


mencegah adduksi kontraktur. Saran untuk penderita :
 Selalu memelihara posisi pergelangan tangan pada posisi netral saat
melakukan aktifitas sehari-hari.
 Hindari gerakan menjumput , mencengkeram dan menekuk
pergelangan tangan dalam jangka waktu lama. (pada saat tidur hindari
posisi menekuk pergelangan tangan).

14
3. Ressisted exercise
Ressisted exercise yaitu merupakan bagian dari active exercise dengan
dinamik atau statik kontraksi otot dengan tahanan dari luar. Tahanan dari luar
bisa dengan manual atau dengan mekanik.Posisi pasien: duduk di kursi dengan
tangan disangga bantal, terapis duduk berhadapan dengan pasien.
Pelaksanaan:
 Gerakan dorsi fleksi dan palmar fleksi
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh. Latihan
diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri. Terapis menstabilisasi pada
pergelangan tangan kemudian pasien diminta menggerakkan kearah dorsal dan
palmar fleksi dan terapis memberi tahanan kearah palmar dan dorsal tangan
dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan
kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).
Gambar 7. Gerak palmar dan dorsi fleksi dengan tahanan
 Gerakan ulnar deviasi dan radial deviasi
1. Ulnar deviasi:
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi
dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri
Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta
menggerakkan tangan ke ulnar dan terapis memberi tahanan kearah dorsal
tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7
hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).
Gambar 8. Gerak ulnar deviasi dan radial deviasi yang ditahan
2. Radial deviasi:
Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi
dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri
Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta
menggerakkan tangan ke radial deviasi dan terapis memberi tahanan kearah
ulnar tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama
7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan

15
kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992). Untuk (T2
– T6) pemberian terapi latihan pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama
seperti T1 tapi untuk tahanannya ditambah.
B. Teknologi Fisioterapi
1. Ultrasound
Efek terapeutik US masih sedang diperdebatkan. Sampai saat ini, masih sangat sedikit
bukti untuk menjelaskan bagaimana US bisa menyebabkan efek terapeutik dalam
jaringan yang terluka. Namun demikian praktisi di seluruh dunia terus menggunakan
modalitas terapi ini sesuai dengan pengalaman pribadi, bukan bukti ilmiah. Berikut
adalah sejumlah teori oleh US yang berhubungan dengan efek terapeutik.
 Thermal effect
Ketika gelombang ultrasonik lulus dari transuder ke dalam kulit yang
menyebabkan getaran di sekitar jaringan, terutama yang mengandung kolagen.
Getaran yang meningkat ini menyebabkan produksi panas dalam jaringan. Pada
kebanyakan kasus, hal ini tidak dapat dirasakan oleh pasien sendiri.
Peningkatan suhu ini dapat menyebabkan peningkatan Ekstensibilitas struktur
seperti ligamen, tendon, jaringan parut dan kapsul fibrosa sendi. Selain itu,
pemanasan juga dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit dan kejang otot
dan meningkatkan proses penyembuhan.
Efek pada inflamasi dan proses perbaikan :
Salah satu manfaat terbesar terapi US yang disampaikan adalah yaitu
mengurangi waktu
Penyembuhan cedera jaringan lunak tertentu.
 US bertindak untuk mempercepat waktu penyembuhan yang normal dari proses
peradangan dengan menarik lebih banyak “mast sells” ke lokasi cedera. Ini
dapat menyebabkan peningkatan aliran darah yang dapat bermanfaat pada fase
sub-akut pada cedera jaringan. US tidak di anjurkan pada cidera dimana
peningkatan aliran darah masih berlangsung.
 Ultrasonografi juga dapat merangsang produksi kolagen khususnya komponen
protein dalam jaringan lunak seperti tendon dan ligamen. Oleh karena itu US
dapat mempercepat fase proliferatif pada penyembuhan jaringan.
 US berpikir untuk meningkatkan ekstensibilitas kolagen dan dapat memiliki
efek positif pada fibrosa jaringan parut yang dapat terbentuk setelah cedera.

16
a. Persiapan alat
Mesin ditest apakah mesin dalam keadaan baik dan dapat mengeluarkan gelombang
ultra sonic dengan cara memberi air pada tranduser guna menampung air dan dipegang
menghadap ke atas kemudian mesin dihidupkan, bila mesin dalam keadaan baik maka
air akan bergerak seperti mendidih kemudian koupling medium, handuk, tissue, dan
alkohol dipersiapkan.
b. Persiapan pasien
Pasien diposisikan senyaman mungkin, rileks, dan tanpa adanya rasa sakit yaitu posisi
dengan duduk kemudian tangan supinasi diletakkan diatas bed, kemudian pada bagian
tangan disuport oleh bantal. Dan tangan yang akan diterapi harus terbebas dari pakaian
dan segala aksesoris. Sebelum pemberian terapi dilakukan tes sensibilitas dengan
menggunakan tabung berisi air panas dan dingin didaerah tangan bagian palmar. Posisi
terapis duduk di depan pasien. Pasien diberi penjelasan tentang tujuan pengobatan yang
diberikan dan juga rasa panas yang dirasakan dan jika pasien merasakan seperti
kesemutan yang berlebihan saat terapi berlangsung diharapkan pasien langsung
memberitahukan kepada terapis.
c. Pelaksanaan
Alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau tangan yang
akan diterapi kemudian area yang akan diterapi yaitu pada dorsal pergelangan tangan
kanan diberikan koupling medium kemudian tranduser ditempelkan lalu mesin
dihidupkan lalu tranduser digerakan pelan-pelan pada pergelangan tangan kanan pasien
secara tranvers dan irama yang teratur di atas pergelangan tangan dengan arah tegak
lurus dengan area terapi, tranduser harus selalu kontak dengan kulit, dengan intensitas
1,5 watt/cm2 secara continous, lama terapi 5 menit diperoleh dari luas area 25 cm2 dan
ERA 5 cm2. Selama proses terapi berlangsung harus mengontrol panas yang dirasakan
pasien. Jika selama pengobatan rasa nyeri dan ketegangan otot meninggi, dosis harus
dikurangi dengan menurunkan intensitas. Hal ini berkaitan dengan overdosis. Setelah
terapi pada pergelangan tangan kanan selesai intensitas dinolkan dan dilanjutkan untuk
pergelangangan tangan yang kiri sama seperti yang dilakukan pada pergelangan tangan
kanan, setelah selesai kemudian alat dirapikan seperti semula. Untuk (T2 – T6)
pemberian terapi ultra sonic pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama seperti T1.
d. Edukasi
Agar hasil maksimal maka perlu diberikan edukasi pada pasien tentang cara
melakukan aktivitas sehari-hari yang benar dan pemberian modalitas fisioterapi.
17
Edukasi yang diberikan untuk penderita carpal tunnel syndrome yaitu pasien diminta
untuk mengompres dengan air hangat pada kedua pergelangan sampai telapak tangan
kanan dan kiri sekitar 10 menit, menggerakkan kedua pergelangan tangan sebatas nyeri
pasien secara aktif dengan tujuan pemperlancar peredaran darah dan mengistirahatkan
kedua tangan saat timbul nyeri dan juga jangan mengangkat beban berat yang
menimbulkan nyeri, serta melakukan latihan tangan seperti yang diajarkan terapis tapi
menggunakan tahanan kantong pasir, jangan mengangkat beban berat yang
menimbulkan nyeri, jangan memaksakan bekerja secara berlebihan saat tangan merasa
nyeri.

18
BAB III
LAPORAN STATUS KLINIS

NAMA MAHASISWA : RISA RIZKY NURLIA

N.I.M : P27226018425

TEMPAT PRAKTIK : RS ADVENT-BDG

I. KETERANGAN UMUM PASIEN


Nama : Ny I
Umur : 40
Jenis kelamin :P
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Islam
No. Register : 301201
II. DATA MEDIS
Diagnosis Medis : Carpal Tunnel Syndrome
Medika Mentosa :-
III. SEGI FISIOTERAPI
A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF

19
1. Keluhan Utama Dan Riwayat Penyakit Sekarang
Px mengeluh kesemutan pada tangan kanannya kurang lebih 3 bulan yang lalu,
1 bulan kemudian pasien juga mengeluh kesemutan pada tangan kirinya. Pasien
kemudian memeriksakan diri ke dokter saraf dan dikonsulkan ked r rehab medic
lalu dirujuk untuk menjalani Fisioterapi. Sampai saat ini pasien masih aktif
melakukan terapi satu minggu sekali.
2. Riwayat Keluarga & Status Sosial
Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat keluhan seperti pasien.
(Lingkungan kerja, tempat tinggal, aktivitas rekreasi dan diwaktu senggang,
aktivitas sosial).
B. PEMERIKSAAN OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Tanda Vital
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Denyut Nadi : 84 kali per menit
Pernapasan : 20 kali per menit
Temperatur : 36°C
Berat Badan : 51 Kg
Tinggi Badan : 156 cm
2. Inspeksi
a. Statis
1) Keadaan umum pasien Nampak baik
2) Tidak Nampak deformitas
3) Tidak Nampak oedem
4) Tidak Nampak perbahan warna kulit pada tangan kanan maupun kiri
b. Dinamis
Px tidak Nampak kesulitan maupun menahan sakit saat melakukan
gerakan pergelangan tangan nampak baik
3. Palpasi
a. Tidak teraba adanya perbedaan suhu antara tangan kanan dan kiri
b. Terdapat nyeri tekan pada sisi tenar kedua tangan
c. Terdapat spasme otot-otot tenor tangan kanan

20
4. Joint Test

Gerak Aktif Gerak aktif wrist dx + sin kea rah fleksi-ekstensi ulnar
deviasi, tidak full ROM dan terdapat nyeri
Gerak Pasif Gerak wrist dx + sin kea rah fleksi-extensi, ulnar deviasi-
radial deviasi, full ROM dan terdapat nyeri
Gerak Isometrik Wrist Dx + Sin mampu melawan tahanan moderat, akan
tetapi tidak full ROM dan terdapat nyeri

5. Muscle Test Dan Antropometri

MMT
D S
Fleksor Wrist 4 4
Ekstensor Wrist 4 4
Ulnar Deviasi 4 4
Radial Deviasi 4 4

21
C. ALGORITMA (CLINICAL REASONING)

Overuse

Penebalan Ligamen
retinakulum

Elastisitas Berkurang

Kerusakan KApiler Kompresi Saraf Medianus

Peningkatan Permeabilitas Neuropati

Defisit Sensorik Defisit Motorik


Nyeri

Penebalan membransynovial dan


Spasme otot-otot tenar wrist
peningkatan cairan synovial
penurunan kemampuan fungsional

- USD
- IRR
- Mobilisasi Saraf

- Penurunan Nyeri
- Penurunan Spasme otot-otot tenar
wrist
- Peningkatan Kemampuan Fungsional

22
D. DIAGNOSA FISIOTERAPI
1. Impairment
a. Terdapat spasme otot tenar wrist bilateral
b. Terdapat nyeri pada wrist billateral
c. Terdapat paraaestesia pada wrist billateral
2. Kemampuan Fungsional
Pasien mengalami gangguan aktivitas seharian oleh karena adanya nyeri dan
kesemutan pada tangan kanan dan kiri
3. Disability / Participation Restriction
Aktivitas social bersama keluarga atau masyarakat tidak terganggu
E. PROGRAM FISIOTERAPI
1. .Tujuan Jangka Pendek :

a. Menghilangkan spasme otot tenar wrist bilateral


b. Menurunkan atau menghilangkan nyeri pada wrist bilateral
c. Menurunkan atau menghilangkan kesemutan pada wrist billateral

2. Tujuan Jangka Panjang :

Memaksimalkan aktivitas fungsional tangan kanan dan kiri


F. RENCANA FISIOTERAPI
1. IRR
2. USD
3. Mobilisasi saraf dengan ULTT1
G. RENCANA EVALUASI
1. Pengukuran nyeri dengan skala VAS
2. Pengukuran kekuatan otot dengan MMT
3. Pengukuran Antropometri
H. PROGNOSIS
1. Quo ad vitam : baik
2. Quo ad sanam : baik
3. Quo ad cosmeticam : baik
4. Quo ad fungsionam : baik

23
I. PELAKSANAAN FISIOTERAPI
1. Infra Red
Berfungsi untuk merilekskan otot dan melancarkan sirkulasi darah
Posisi Px: duduk di kursi
Penempatan alat: Infra Red diarahkan tegak lurus ke area palmar dan dorsal pasien.
Masing-masing diberikan waktu 15 menit dengan jarak ± 30 cm
2. Mobilisasi Saraf ULTT 1
Posisi pasien terlentang, terapis berada dari sisi bawah. Terapis menginstruksikan
kepada pasien bahwa pasien harus mengatakan bila saat dilakukan exercise, tangan
px mudah merasakan kesemutan pada tangan
3. USD
Berfungsi untuk memecash jaringan fibrous. Dalam kasus ini, USD diaplikasikan
untuk memecah jaringan fibrous di area tenar wrist bilateral.
Persiapan Alat : Sering alat dengan kedalaman 3 Mhz. intensitas 1,5 W/cm³. Waktu
3 menit/segmen
Persiapan Pasien : Pasien melepaskan semua perhiasan yang dikenakan di kedua
tangannya
Pelaksanaan Terapi: Posisi duduk di kursi. Terapis di depan tangan px diletakkan
diatas guling kecil. Aplikasikan Coupling Median di sekitar sisi tenar wrist dextra
(setelah waktu 3 menit selesai, pindah ke tangan yang lain). Kemudian “start” alat
dan aplikasikan tranducer pada sisi tenar wrist secara sirkular perlahan.
J. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
1. EVALUASI
Subjektif:
Setelah px menjalani terapi, px merasa nyeri yang dirasakan mulai berkurang.
Gangguan saat beraktivitas juga mulai berkurang dan semakin saat beraktivitas
Objektif:
Evaluasi dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 19 Desember 2018
dengan mengevaluasi derajat nyeri dengan menggunakan VAS. Kekuatan otot
dengan MMT, LGS dengan Goniometer dan kemampuan fungsional dengan
hand wrist disability

24
a. Hasil Evaluasi Nyeri dengan skala VAS

T1 T2 T3

D S D S D S

Nyeri Diam 0 0 0 0 0 0

Rotator Kepala 6 5 5 5 4 3

Fleksor bahu 3 2 2 2 1 1

b. Hasil Evaluasi Kekuatan Otot dengan MMT

T1 T3

D S D S

Fleksor 4 4 4 4

Ekstensor 4 4 4 4

Fleksor Hip 5 5 4 5

Ekstensor Hip 5 5 4 5

c. Lingkup Gerak Sendi dengan Goniometri

T1 T3

Gerakan Otot D S D S

Fleksor S = 50-0-80 S = 55-0-80 S=50-0-80 S=60-0-80

Ekstensor F = 20-0-30 F = 20-0-30 F= 20-0-30 F=20-0-80

25
d. Kemampuan Fungsional dengan Hand Wrist disability Indeks
T1 T2 T3
Intensitas Nyeri 4 4 4
Mati rasa & Bebal 5 5 5
Perawatan Diri 4 5 5
Kekuatan 3 4 4
Menulis 4 4
3
Pekerjaan 3 3
3
Mengendara 3 3
5
Tidur 5 5
3
Pekerjaan Rumah 3 3
Aktivitas Rekreasi & Olah Raga 4 4 4
Total 39 40 40
Nilai Kemandirian 78% 80% 80%

A: Pasien merasa bahwa setelah menjalani terapi. Nyeri yang dirasakan sudah
mulai berkurang, aktivitas fungsional dan sosialnya tidak begitu
terganggu, seperti saat sebelum mengalahkan terapi
P: Untuk mengurangi nyeri agar akivitas fungsional pasien dapat segera
kembali normal diberikan:
- IRR
- USD
- ULTT 1
2. TINDAK LANJUT
Dari evaluasi diatas dapat disimpulkan bahwa modalitas Fisioterapi berupa
IRR, USD, ULTT 1 yang diberikan kepada pasien berbukti dapat mengurangi
nyeri, meningkatkan LGS, dan menignkatkan kekuatan otot maka dari itu
terapi tersebut dapat terus diberikan kepada pasien karena mempunyai dampak
yang positif.
K. HASIL AKHIR
Pasien dengan diagnose CTS Billateral dengan dilakukan terapi berupa Infra Red,
USD dan ULTT 1 sebanyak 3x diperoleh hasil:

26
Adanya penurunan derajat nyeri, adanya peningkatan kekuatan otot, adanya
peningkatan LGS, adanya peningkatan Kemampuan Aktifitas Fungsional.

Bandung,
Mengetahui,
Pembimbing, Praktikan,

Hartono Santosa,Ftr Risa Rizky Nurlia


NRP. P27226018425

Catatan Pembimbing :

27
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada Bab II telah dipaparkan secara rinci penjelasan tentang (1) Definisi Carpal Tunnel
Syndrome (2) Anatomi Dan Biomekanika Carpal Tunnel Sindrome (3) Etiologi Carpal
Tunnel Sindrome (4) Patofisiologi Carpal Tunnel Sindrome (5) Manifestasi Klinis Carpal
Tunnel Sindrome (6) Pemeriksaan Diagnostik Carpal Tunnel Sindrome (7) Penatalaksanaan
Carpal Tunnel Sindrome. Maka dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.

A. Kesimpulan
Carpal Tunnel Syndrome adalah neuropati kompresi simtomatik nervus medianus pada
pergelangan tangan berupa peningkatan tekanan di dalam terowongan carpal dan penurunan
fungsi saraf.
Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang,otot,struktur persendian dan diinervas oleh
beberapa saraf. Daratan pertama yaitu dari tulang Radius dan Ulna. Deretan yang kedua
terdiri atas delapan tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal deretan
proximal antara scapoideum, lunatum, triquetrum, pisiforme. Sedangkan bagian distal terdiri
atas tulang trapesium,trapesoideum,capitatum, dan hamatum. Disusun juga oleh ligamen
colateral capri ulnar, otot fleksor dan ekstensor yang masing-masing terbagi dua bagian
superfisialis dan profundus.
Etiologi CTS dapat terjadi pada keadaan yang menyebabkan penyempitan terowongan karpal
misalnya trauma pada tangan bisa karena fraktur riwayat immobilisasi lama akibat operasi
ataupun karena over use yang bersifat kronik pd pergelangan tangan, kelainan anatomis
bawaan (herediter), gangguan pada otot dan tulang seperti akromegali osteofit yang dapat
mempengaruhi struktur pergelangan tangan. Etiologi yang paling sering terjadi yaitu
penebalan fleksor retinaculum karena proses radang.
Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan fleksor retinakulum yang
menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama
akan mengakibatkan peninggian tekanan intrafasikuler, akibatnya aliran darah vena
intrafasikuler melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi
intrafasikuler diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan
mengakibatkan kebocor protein sehingga terjadi edema epineural. Apabila kondisi ini terus
berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama- kelamaan saraf

28
menjadi atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus
medianus·terganggu secara menyeluruh .
Gejala awal, pasien sering terbangun di malam hari mengeluhkan tebal, nyeri dan kesemutan
di ibu jari, telunjuk, jari tengah dan setengah sisi radial jari manis kecuali jari kelingking.
Gejala lainnya adalah pergelangan tangan serasa diikat ketat (tightness) dan kaku gerak. Pada
tahap yang lebih lanjut kekuatan tangan menurun. Seringkali penderita mengeluh jari-jarinya
menjadi kurang trampil terutama fungsi menggenggam serta dapat dijumpai atrofi otot-otot
thenar dan otot-otot lainnya yang dipersarafi oleh Nervus Medianus.
Carpal Tunnel Syndrom yang kasusnya idiopatik mempunyai gejala yang timbul dan hilang
dalam beberapa bulan atau tahun tapi rasa tidak enak pada malam hari dapat lebih menonjol
dan berlangsung sehingga mengganggu penderita.
Diagnosa CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala klinis seperti di atas dan diperkuat
dengan pemeriksaan yaitu ; Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan radiologis, Pemeriksaan
neurofisiologi¸
Pemeriksaa Umum dan Penunjang pasien meliputi ; Pemeriksaan Fisik, Pemeriksaan kognitif.
Pemerksaan interpersonal, Pemeriksaan intrapersonal.
Dalam kasus ini pemeriksaan khusus yang dilakukan antara lain ; Inspeksi, Quick tes,
Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar, Tes Khusus, Palpasi, Pemeriksaan ROM, Pemeriksaan
Nyeri. Pelatalaksanaan Fisioterapi meliputi ; Terapi Latihan, Teknologi Fisioterapi, Edukasi.
B. Saran
Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan di atas, dengan ini kami
menyarankan agar pembaca dapat mengetahui apakah itu kasus CTS dan
keterkaitannya terhadap fisioterapi sehingga kita semua dapat mengetahui dan
memberikan penanganan yang tepat kepada penderitanya. Semoga makalah
sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya
penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa
depan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Diakes pada 19 Februari 2019 https://www.scribd.com/doc/307178359/makalah-Carpal-Tunnel

Diakes pada 19 Februari 2019 http://eprints.ums.ac.id/25491/13/02_NASKAH_PUBLIKASI.pdf

30