Anda di halaman 1dari 2

Nur Ilmi Diniyah

33117015

Salah satu cara pemisahan antar dua komponen atau lebih yang dilakukan dengan cara mekanis yaitu
dengan sedimentasi (pengendapan). Sedimentasi adalah pemisahan antar komponen atau partikel
berdasarkan perbedaan densitasnya melalui suatu medium alir. Secara visual dapat juga dikatakan
bahwa sedimentasi merupakan pemisahan suspensi menjadi dua fraksi, yaitu fraksi supernatan (fraksi
yang jernih) dan fraksi padat pada konsentrasi yang lebih tinggi.

Pada percobaan kali ini bahan yang digunakan adalah kapur yang tujuannya untuk menentukan
kecepatan sedimentasi dari suspensi kapur tersebut. Kemudian kapur sebanyak 0,12 kg dimasukkan
kedalam 4 kg yang berisi air. Setelah kapur dimasukkan kedalam baskom + air, selanjutnya dilakukan
pengadukan sampai merata. Suspensi yang terbentuk diamati pengendapannya dengan mencatat
penurunan tinggi batas beningan dengan slurry pada interval 1 cm. Semakin lama proses
sedimentasinya, maka akan semakin baik pemisahannya. Secara visual, proses sedimentasi
menyebabkan terjadinya pemisahan suspensi menjadi dua fraksi, yaitu fraksi supernatan (fraksi jernih)
dan fraksi keruh/padat (slurry). Pada proses sedimentasi, gaya yang digunakan partikel bahan ketika
jatuh adalah gaya eksternal, dimana gaya tersebut menyebabkan adanya pergerakan dari partikel-
partikel bahan. Disamping gaya eksternal, juga terdapat gaya dorong yang berfungsi untuk menahan
gerakan atau gessekan yang muncul saat bahan bersentuhan dengan air.

Dalam sedimentasi, untuk mengetahui kecepatan pengendapan dari partikel bahan dapat dihitung
dengan menggunakan rumus dari hukum Stokes/dapat diperkirakan dengan pendekatan matematis,
tergantung dari kondisi partikel tersebut. Kondisi gerakan partikel ada dua, yaitu gerak jatuh bebas (free
settling) dan hindered settling. Hindered settling merupakan gerak partikel padat pada konsentrasi yang
tinggi, sehingga antar partikel yang satu dengan yang lain sangat rapat dan saling bertumbukan. Untuk
menentukan kecepatan jatuhnya partikel tidak dapat menggunakan hukum Stokes karena hasil yang
diperoleh nantinya akan lebih besar daripada hasil pengamatan yang sesungguhnya.

Hukum Stokes digunakan untuk menentukan kecepatan sedimentasi pada partikel jatuh bebas dalam
memperkirakan kecepatan jatuh partikel padat yang tidak porous dan non compresible dan melalui
media yang juga non compresibble dalam aliran yang laminair. Sedangkan pada daerah yang turbulen,
kecepatan jatuh atau naiknya partikel padat berbanding langsung dengan akar dari diameternya. Pada
proses sedimentasi terjadi gerakan browning yang merupakan gerak partikell yang lurus dan terputus-
putus, yang terjadi adanya tumbukan antar partikel dalam medium alir.

Dalam proses sedimentasi (pengendapan) terdapat tiga gaya yang dapat mempengaruhi gerak jatuhnya
partikel bahan, yaitu gaya gravitasi, gaya apung dan gaya gesek. Gaya gravitasi menyebabkan suspensi
jatuh bebas, dimana semakin besar gaya tersebut, maka pengendapan partikel bahan semakin cepat.
Untuk gaya apung berhubungan dengan berat bahan, dimana semakin ringan partikel bahan, maka gaya
apungnya semakin besar dan pengendapannya semakin lama. Sedangkan pada gaya gesek partikel,
partikel yang mempunyai bentuk yang kasar akan semakin memperbesar nilai hambatan partikel untuk
mengendap. Ketiga gaya tersebut, selain mempengaruhi kecepatan pengendapn juga dapat
mempengaruhi gerak dari aliran medium alir yang digunakan dalam proses sedimentasi. Gerak aliran
terdiri dari dua macam, yaitu gerak laminair dan gerak turbulen. Aliran laminair adalah aliran yang terjadi
jika unsur-unsur zat cair yang terpisah bergerak dalam aliran atau alur yang lurus dan beraturan,
sedangkan aliran turbulen merupakan aliran yang terjadi karena gerakan yang berputar dan tidak
beraturan.

Pada grafik dilihat waktu kritis dari tabung pertama sebesar 110 sekon, tabung kedua
sebesar 115 sekon dan tabung ketiga sebesar 118 sekon. Sehingga didapakan laju sedimentasi
tabung pertama adalah 4,545 mm/sekon; tabung kedua sebesar 4,348 mm/sekon dan tabung
ketiga sebesar 4,233 mm/sekon. Dari hasil tersebut berbanding terbalik dengan teori karena pada
percobaan tabung pertama dengan penambahan 0,2 g zat flokulan memiliki laju lebih cepat
dibandingkan dengan tabung ketiga dengan penambahan 0,4 g zat flokulan. Hal ini, disebakan
oleh banyak factor seperti pada saat menghomogenkan dan meletakkan tabung kealat para
praktikan tidak bersaman ataupun ketidak akuratan pada saat melihat ketinggian pada rentan
waktu yang telah ditentukan.

Lalu, dengan data dapat dibuat grafik antara ln (H-He) terhadap waktu pada setiap
tabung untuk mencari konstanta sedimentasi dan tinggi kritis berdasarkan perhitungan pada
masing-masing tabung. Berdarkan kuva tersebut untuk tabung pertama di dapatkan persamaan y
= -0,0059x + 4.1783; tabung kedua diadapatkan persamaan y = -0.0065x + 4.2685; dan tabung
ketiga di dapatkan persamaan y = -0.0059x + 4.3266. Dari persamaan tersebut di dapatkan slope
yang merupakan konstanta sedimentasi dan intercept merupakan ln (Hc-He) sehingga akan
didapatkan ketinggian kritis yaitu pada tabung pertama memiliki tinggi kritis sebesar 108,255
mm; tabung kedua memiliki tinggi kritis sebesar 118,414 mm; dan tabung ketiga memiliki tinggi
kritis sebesar 135,69 mm.