Anda di halaman 1dari 3

Tugas Tektonika

Javiar Ramadhan
072.15.060

Teori Isostasi menurut Airy dan Pratt


Isostasi adalah kondisi dimana keseimbangan nilai gravitasi antara lapisan kerak bumi dan
mantel yang mengakibatkan kerak seolah "mengapung" di atas mantel. Konsep Isostasi
menjelaskan mengapa ada perbedaan ketinggian topografi bumi. Efek dari gaya isostasi dapat
dianalogikan seperti gunung es yang mengapung di lautan. Bila massa es ditambah ke atas,
maka gunung es akan semakin tenggelam ke dalam air. Namun bila massa es dalam gunung
dikurangi, maka gunung es akan semakin naik dari dalam air. Hal ini juga terjadi pada litosfer
bumi yang mengapung di atas astenosfer.
Teori Airy's
SIR GEORGE BIDDELL AIRY (1801-1892) berasumsi bahwa batuan penyusun kerak bumi
tidak sama densitasnya , bagian yang lebih tebal dari lempeng akan lebih tenggelam kearah
mantel bersamaan dengan bagian yang lebih tipis akan mengambang. perbedaan inu tidaklah
terlalu besar yang dapat menghasilkan perbedaan ketinggian permukaan bumi sedemikian
besarnya.

Pemikiran dari Airy berasal dari fakta/kenyataan yang ada bagaimana Gunung Himalaya
yang begitu tinggi dapat terbentuk hanya dengan menurunnya palung palung laut yang sangat
dalam. Airy memberikan gambaran yang serupa dengan Pratt's, tetapi dengan menggunakan
logam yang sejenis (dengan kata lain densitas batuan penyusun kerak bumi dianggap sama),
namun ketebalannya tidak sama. Setelah diamati, ternyata logam yang lebih tebal tersembul
lebih tinggi di atas permukaan air raksa dibanding logam yang tipis. Dengan demikian Airy
mengambil kesimpulan bahwa perbedaan ketinggian permukaan bumi bukan karena
perbedaan densitas batuan tetapi akibat dari perbedaan ketebalan lapisan kerak bumi.

Airy menganalogikan pada konsepsi terbentuknya pegunungan yang tinggi akarnya akan jauh
masuk ke dalam bumi dibandingkan dengan dasar laut yang belum sebanding. Berdasarkan
teori tersebut, maka teori Airy ini lebih dikenal dengan konsepsi akar pengunungan (The
Roots of Mountain hypothesis of isostasy). Sesuai dengan kemajuan zaman, pendapat Airy
lebih banyak dianut dan dipergunakan oleh para ahli geologi pada saat itu, namun tidak
berarti bahwa pendapat Pratt salah, sebab ternyata batuan penyusun kerak bumi tidak sama
densitasnya. Dengan demikian, kedua teori tersebut pada prinsipnya saling melengkapi
dimana dasar kerak bumi tidak rata sebagaimana diduga oleh Pratt (akar pegunungan
menjorok lebih dalam dibandingkaan dasar laut), dan dipihak lain densitas batuan penyusun
kerak bumi juga tidak sama sebagaimana digunakan Airy dalam mengemukakan teorinya.
Airy memberikan ilustrasi yang mirip dengan ilustrasi Pratt, hanya menggunakan logam yang
sejenis, penampangnya juga dibuat sama tetapi tebalnya tidak sama. Setelah logam
dimasukkan kedalam air raksa, ternyata logam yang lebih tebal tersembul lebih tinggi di atas
permukaan air raksa daripada logam yang tipis. Dengan demikian Airy berkesimpulan bahwa
perbedaan ketinggian permukaan bumi bukan disebabkan oleh perbedaan densitas batuan
tetapi akibat dari perbedaan tebal lapisan kerak bumi. Itulah sebabnya hipotesis Airy ini
sering pula disebut the Roots of Mountains hypothesis of isostasi. Pendapat Airy ini lebih
banyak dianut oleh para ahli geologi, namun tidak berarti bahwa pendapat Pratt salah.
Densitas batuan penyusun kerak bumi memang tidak sama, demikian juga tidak semua
pegunungan akarnya jauh masuk kedalam bumi.

Teori Pratt's
Konsepsi awal tentang isostasi yang dikemukaan oleh JOHN HENRY PRATT (1809-1871)
Pratt's mengemukakan bahwa adanya kelebihan massa di atas daratan dikarenakan oleh
adanya kekurangan massa di dasar laut. Akan tetapi densitas batuan yang menyusun daratan
lebih kecil daripada densitas batuan yang menyusun dasar lautan. Dengan kata lain, adanya
perbedaan ketinggian antara daratan dan lautan karena perbedaan densitas batuan yang
menyusun kerak bumi.
Pada penampang dan beratnya dibuat sama, kemudian diapungkan dalam air raksa. Dari
percobaan tersebut ternyata logam yang bobot jenisnya lebih besar hanya sedikit tersembul di
atas permukaan air raksa, sedang logam yang lebih ringan tidak banyak tenggelam di bawah
permukaan air raksa. Analogi yang dapat diambil dari percobaan tersebut dapat dikatakan
bahwa gunung Himalaya itu merupakan hasil isostasi dari lautan atlantik.
Atau bisa juga Pratt mengatakan bahwa massa benua lebih tinggi daripada massa dasar laut,
tetapi densitas batuan yang menyusun dasar laut lebih besar daripada densitas batuan di
benua. Dengan kata lain adanya perbedaan ketinggian antara benua dan dasar laut adalah
karena perbedaan kepadatan batuan yang menyusun kerak bumi di kedua bagian bumi
tersebut. Ketinggian dikompensasikan oleh densitas batuan.

Sumber
Diakses Tanggal 18 September 2018
http://www.pasqualerobustini.com/en/geologia/la-tettonica-delle-placche-un-pianeta-che-
vive/il-principio-di-isostasia/
http://large.stanford.edu/courses/2007/ph210/pan2/