Anda di halaman 1dari 7

22 Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir

Lengkap Normal
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir adalah metode yang sangat penting untuk dilakukan oleh
setiap dokter atau bidan. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi fisik bayi, apakah normal
ataukah ada tanda-tanda cacat serta gangguan kesehatan lainnya.

Sebagaimana diketahui, kondisi bayi baru lahir sangat lemah. Setelah berbulan-bulan hidup
dalam rahim dan bernafas lewat cairan ketuban (amniom), saat lahir bayi harus beradaptasi
dengan dunia. Organ paru-parunya juga mulai bekerja untuk mengatur sistem pernafasan.
Initnya, ada banyak perubahan fisiologik yang dialami bayi. Maka itu, perlu adanya
pemeriksaan fisik secara lengkap sebelum bayi dipulangkan ke rumah.

Umumnya pemeriksaan fisik bayi baru lahir dilakukan sebanyak 3 kali, yakni:

 Pemeriksaan awal yang dilakukan sesegera mungkin setelah bayi dilahirkan


 Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan saat kondisi bayi sudah stabil, sekitar 7-24 jam
ketika bayi berada dalam kamar perawatan
 Pemeriksaan tahap akhir, dilakukan sebelum bayi pulang ke rumah

Nah, berikut ini beberapa tahap pemeriksaan fisik bayi baru lahir lengkap!

Baca juga: Penyebab belum lahi padahal sudah waktunya – Penyebab bayi terlambat lahir –
Bahaya janin terlalu lama dikandung

1. Pemeriksaan Tahap Awal

Pemeriksaan tahap awal dilakukan segera setelah bayi dilahirkan. Umumnya saat bayi berada
di ruang bersalin. Pemeriksaan ini meliputi:

A. Pemeriksaan Score APGAR

Pemeriksaan score APGAR adalah metode akurat untuk menentukan kondisi bayi baru lahir
secara cepat. Pemeriksaan ini meliputi warna kulit, denyut jantung, kepekaan reflek bayi,
tonus otot dan sistem pernafasannya. Dengan dilakukannya penentuan nilai APGAR,
nantinya dokter bisa memutuskan untuk melakukan tindakan darurat pada bayi atau tidak.

Penilaian APGAR ini dilakukan secara berulang-ulang, pada 5 menit pertama bayi dilahirkan,
10 menit, 15 menit, 20 menit dan 24 menit. Apabila bayi memperoleh total keseluruhan nilai
APGAR 10, maka bayi dinyatakan sehat. Sebaliknya jika nilai APGAR dibawah 5 berarti
bayi membutuhkan perawatan intensif.

Cara menentukan nilai APGAR

 Warna Kulit (Appearance)

Nilai APGAR 0 : kulit bayi berwarna biru pucat (sianosis)


Nilai APGAR 1 : kulit bayi kemerahan dengan tangan dan kaki berwarna biru

Nilai APGAR 2: kulit bayi berwarna kemerahan atau merah muda

 Denyut Jantung (Pulse)

Nilai APGAR 0 : tidak ada denyut jantung

Nilai APGAR 1 : denyut jantung kurang dari 100 per menit

Nilai APGAR 2: denyut jantung lebih dari 100 per menit

 Kepekaan Reflek (Gremace)

Nilai APGAR 0 : tidak ada respon

Nilai APGAR 1 : meringis atau menangis lemah

Nilai APGAR 2: respon kuat

 Tonus Otot (Pulse)

Nilai APGAR 0 : tidak ada gerakan

Nilai APGAR 1 : gerakan lemah pada tangan dan kaki

Nilai APGAR 2: gerakan akti

 Pernafasan (Respiration)

Nilai APGAR 0 : tidak ada nafas

Nilai APGAR 1 : nafas tidak teratur

Nilai APGAR 2: nafas normal dna teratur

B. Pemeriksaan Anamnesa

Pemeriksaan ini meliputi pengumpulan data-data yang berkaitan dengan kondisi bayi.
Nantinya data tersebut dijadihan bahan dasar untuk penentuanya adanya kelainan kongenital
atau tidak. Ibu akan ditanya beberapa hal meliputih riwayat kehamilan dan keluarga. Serta
bagaimana pola hidup selama mengandung.

Beberapa hal yang menjadi poin penting di pemeriksaan ini, yakni:

 Riwayat kehamilan : apakah ada penyakit yang diidap, bagaimana kondisi psikis dan
fisik ibu, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, dan sebagainya
 Riwayat persalinan : bagaimana proses persalinan, adakah trauma dan gangguan
selama persalinan, tanggal lahir dan jam persalinan, dsb.
 Faktor genetik : meliputi riwayat penyakit pada keluarga

C. Pemeriksaan Tali Pusat

Pemeriksaan tali pusat dilakukan untuk mendukung data amnanesis. Dengan melihat kondisi
tali pusat (mulai dari teksturnya, kesegarannya, jumlah pembuluh darah arteri dan vena, serta
ada tidaknya tali simpul) dokter dapat mendiagnosis gangguan pada sistem kardiovaskular
bayi. Serta pada sistem pernafasan, urogenital (organ reproduksi dan sistem kemih) dan
pencernaan. (baca: janin terlilit tali pusat)

D. Pemeriksan Cairan Ketuban (Amniom)

Selain dilakukan pada saat kehamilan, pemeriksaan cairan ketuban juga masuk prosedur
pemeriksaan setelah melahirkan. Pemeriksaan ini meliputi vomule dan warna ketuban.
Tujuannya untuk mengetahui adanya kelainan kromosom atau ganggulan lain pada si bayi,
misalnya gangguan ginjal, paru-paru dan sendi.

Baca: Bahaya bayi minum air ketuban hijau– Penyebab air ketuban sedikit – Ciri-ciri air
ketuban pecah/merembes, Ciri-ciri air ketuban kering–Akibat kelebihan air ketuban– Air
ketuban sedikit saat hamil

E. Pemeriksaan Plasenta

Pemeriksaan plasenta juga dilakukan untuk memastikan kondisi bayi baru lahir. Apakah
benar-benar sehat ataukah ada gangguan kesehatan. Cara pemeriksaan plasenta ini meliputi
beberap hal, yakni:

 Pengukuran berat plasenta


 Pengurkuran ketebalan plasenta
 Mengukur diameter dan melihat ukuran plasenta
 Menghitung jumlah kotiledon
 Pemeriksaan bagian martenal, fetal, selaput untuk memastikan keutuhannya ataukah
ada yang robek
 Pemeriksaan jumlah korion untuk bayi kembar
 Pemeriksaan trauma, kerusakan sel, perkapuran dan sebagainya pada plasenta
 Melakukan rangsangan taktil untuk memantau kontraksi
 Dan sebagainya

(baca: plasenta letak rendah – Ciri kehamilan bermasalah)

2. Pemeriksaan Fisik Secara Lengkap

Pemeriksaan fisik secara lengkap dilakukan saat kondisi bayi sudah stabil dan berada di
ruang perawatan yang terang, hangat dan bersih. Pemeriksaan fisik ini meliputi

A. Pemeriksaan Komponen Pertumbuhan (atropometrik)


Pertama dilkaukan pemeriksaan paling ringan, yaitu komponen-komponen pertumbuhan pada
bayi yang terdiri dari berat badan, tinggi, lingkar dada dan lingkar kepala.

Berat badan normal: 2,5 – 4 kg

Tinggi badan normal: 48- 52 cm

Lingkar dada normal: 32 – 35 cm

Lingkar kepala normal: 32 – 37 cm

B. Pemeriksaan Bagian Kepala

Saat dilahirkan, terkadang bayi mengalami cedera ringan di bagian kepalanya akibat tekanan-
tekanan tertentu. Misalnya kondisi wajah yang sedikit tidak rata (asimetris), caput
suksedangeum (pembengkakan pada kulit kepala yang berisi getah bening) atau cephal
hematoma (pendarahan dari lapisan subperiosteum). (baca: Hidrosefalus pada bayi – Operasi
hidrosefalus pada bayi)

C. Pemeriksaan Mulut

Pemeriksaan mulut juga dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada bayi,
seperti hipersaliva (produksi air liur yang berlebihan), labiopalatoskisis (kelainan pada daerah
mulut, misalnya bibir sumbing) dan sebagainya. (baca: Penyebab bayi lahir sumbing – Cara
merawat bayi dengan bibir sumbing)

D. Pemeriksaan Sistem Indera

Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya gangguan sistem sensorik pada bayi, serta
diagnosis cacat fisik. Pemeriksaan ini meliputi:

 Indera pengelihatan (mata) – visual


 Indera pengecap (lidah) – gustatory
 Indera pendengaran (telinga) -auditori
 Indera penciuman (hidung) – okfaktori
 Indera peraba (kulit) – taktil

Baca juga: penyebab janin cacat sejak dalam kandungan – ciri ciri anak keterbelakangan
mental – gangguan tumbuh kembang anak–Tanda-tanda janin cacat

E. Pemeriksaan Organ Pada Bagian Dada

Kondisi organ bagian dalam tubuh juga penting untuk diperiksa guna memastikan tidak ada
kelainan. Umumnya pemeriksaan pada bagian dada dilakukan melalui pengukuran denyut
jantung, pernafasan, dan payudara.

 Pernafasan bayi baru lahir, sekitar 60-40 kali per menit


 Denyut jantung bayi baru lahir, sekitar 120-160 kali per menit
 Payudara, normalnya payudara berada pada posisi sejajar satu dengan yang lain,
ukurannya cenderung sama dan puting pada tiap payudara hanya berjumlah satu
F. Pemeriksaan Organ Pada Bagian Perut (Abdomen)

Organ di bagian perut juga memerlukan pemeriksaan untuk memastikan fungsi kerjanya
normal dan tidak ada kelainan. Organ-organ tersebut meliputi ginjal, hati, limpa, lambung,
dan usus. Salah satu cara untuk memastikan kondisi organ pencernaan bayi sehat, yakni bayi
mengeluarkan air kencing dan mekonium (feses yang bewarna hijau kehitaman) dalam 24
jam pertama setelah dilahirkan. (baca: Tanda-tanda bayi susah BAB)

G. Pemeriksaan Leher

Struktur dan bentuk leher juga perlu diperiksa untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan
kongetinal. Bagaimana refleks leher, apakah ada pembengkakan kelenjar getah bening atau
kelenjar tiroid, semuanya akan diperiksa secara mendetail.

Baca juga:

 penyebab bayi sungsang


 ciri bayi sungsang
 cara agar bayi tidak sungsang
 bahaya melahirkan bayi sungsang

H. Pemeriksaan Tulang Belakang

Pemeriksaan tulang belakang untuk melihat apakah ada gangguan tulang, seperti skoliosis,
kifosis dan lordosis. Selain itu, dokter juga memperhatikan adanya pembangkakan,
kemerahan atau keabnormalan lain. (baca: penyebab bayi bungkuk – Akibat kekurangan
kalsium pada bayi – Akibat kekurangan kalsium pada anak – Manfaat kalsium bagi ibu
hamil)

I. Pemeriksaan Panggul, Paha dan Betis

Selain tulang belakang, bagian tubuh lain seperti panggul, paha dan betis juga dilakukan
pemeriksaan. Dokter akan melakukan gerakan-gerakan tertentu pada bayi untuk menguji
fungsi kerja bagian-bagian tubuh tersebut.

J. Pemeriksaan Genetelia (Alat Kelamin)

Pemeriksaan genetelia dilakukan dengan cara melihat kelengkapan dan struktur kelamin bayi.
Apabila dia berkelamin laki-laki, maka normalnya memliki dua skrotum (pembungkus testis
atau buah zakar) diantara anus dan penis. Sedangkan perempuan terdapat labia minora (di
bagian dalam) dan labia mayora (di bagian luar). (baca: fimosis – penanganan fimosis pada
bayi)

K. Pemeriksaan Anus

Pada bayi normal, posisi anus berada di belakang kemaluan. Dokter juga perlu mematiskan
apakah ada masalah anus buntu atau tidak. Seorang bayi yang mengalami gangguan anus
buntu biasanya tidak bisa mengeluarkan mekonium. (baca: Cara Mengatasi Bayi Jarang
Pipis– tanda tanda bayi dehidrasi)
L. Pemeriksaan Suhu Tubuh

Untuk mendeteksi adanya gangguan hipotermia, hipertermia, dehidrasi, infeksi atau


gangguan lain, perlu dilakukan pemeriksaan suhu tubuh bayi. Umumnya seorang bayi normal
memiliki suhu sekitar 36,5 0C– 37 0C.

Baca juga:

 hipotermia pada bayi baru lahir


 penanganan hipotermia pada bayi
 Pneumonia pada bayi
 cerebral palsy pada anak

M. Pemeriksaan Syaraf

Untuk memeriksa fungsi kerja syaraf bayi biasanya dokter melakukan pengujian gerak
refleks, yang meliputi:

 Refleks menghisap: meletakkan benda di dekat mulut bayi, dan seharusnya bayi
menghisapnya
 Refleks moro : bayi dikejutkan, maka seharusnya posisi kaki dan tangan telentang,
kepala mendongak ke belakang dan jari-jari menggengam
 Refleks Mencucur: menyentuh salah satu sisi mulut bayi, maka seharusnya kepala
bayi menoleh ke arah tersebut

N. Pemeriksaan Tekanan Darah

Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan dengan tensimeter atau sfignomanometer ai


raksa. Alat ini dipasang pada lengan atas bayi secara perlahan saat bayi telentang. Normalnya
bayi baru lahir memiliki tekanan darah 60-80/40-50 mmHg.

Baca juga: gejala preeklampsia pada ibu hamil– penyebab hipertensi pada ibu hamil–
hipertensi dalam kehamilan –Cara mencegah hipertensi pada ibu hamil)

O. Pemeriksaan Denyut Nadi

Pemeriksaan denyut nadi umumnya dilakukan saat bayi dalam kondisi tidur. Dokter
melakukan pengukuran dengan meraba pembuluh darah arteri yang terletak pada tangan
kanan bayi. Normalnya denyut nadi bayi baru lahir berkisar 140 kali per menit.

P. Pemeriksaan Ekstremitas

Pemeriksaan ini meliputi tulang gerak bagian atas (ekstremitas atas-lengan tangan) dan
bagian bawah (ekstremitas bawah – kaki).

 Ekstremitas atas: pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sendi bahu,
siku, tangan, dan jari. Dokter juga melihat strukturnya, bagaimana reflek genggam
tangan, jumlah jari, panjang kuku dan sebagainya.
 Ekstremitas bawah: pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh mulai dari paha, lutut,
tungkai, pergelangan kaki, tumit hingga jari-jari kaki. Dokter akan melihat
kelengkapan jari, menguji reflek, dan adakah kelainan bentuk pada tulang atau sendi.

Baca juga: cara menjaga agar bayi tidak mudah sakit– cara agar balita tidak mudah sakit–tips
agar anak tidak mudah sakit–tips agar anak balita tidak mudah sakit

3. Pemeriksaan Tahap Akhir

Pemeriksaan tahap akhir dilakukan beberapa jam sebelum bayi pulang. Tujuannya untuk
mengetahui apakah ada perubahan dari hasil pemeriksaan sebelumnya. Sehingga nantinya
dokter bisa memutuskan ada tidaknya kelainan pada bayi. Pemeriksaa ini meliputi:

 Pemeriksaan tali pusat


 Pemeriksaan denyut jantung
 Pemeriksaan sistem pernafasan
 Pemeriksaan abdomen
 Pemeriksaan kulit
 Pemeriksaan syaraf pusat

Apabila tidak ditemukan adanya kelaianan maka bayi akan segera diperbolehkan pulang,
kira-kira hanya sekitar 1-2 hari. Sedangkan jika bayi didiagnosis mengidap kelainan tertentu,
biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tahap lanjut untuk si bayi. Dengan demikian,
bayi perlu dirawat lebih lama lagi.