Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit rematik dan keradangan sendi merupakan penyakit yang banyak dijumpai di
masyarakat, khususnya pada orang yang berumur 40 tahun keatas. Lebih dari 40 persen
dari golongan umur tersebut menderita keluhan nyeri sendi otot. Dalam hal ini masalah
rematik dipandang sebagai salah satu masalah kesehatan utama sejak tahun 2000 (Dinas
Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2010). Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2008
penyakit sendi/reumatik/encok/osteoartritis adalah penyakit yang sering terjadi dengan
pertambahan umur terutama setelah berumur 45 tahun ke atas.

Saat ini diperkirakan paling tidak 355 juta penduduk dunia menderita rematik, yang
artinya 1 dari 6 penduduk dunia mengalami penyakit rematik. Sementara itu, hasil
survei di benua Eropa pada tahun 2004 menunjukkan bahwa penyakit rematik
merupakan penyakit kronik yang paling sering dijumpai. Kurang lebih 50% penduduk
Eropa yang berusia diatas 50 tahun mengalami keluhan nyeri muskuloskeletal paling
tidak selama 1 bulan pada waktu dilakukan survei (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera
Utara, 2010). Berdasarkan American College Of Rheumathology (2013) menyatakan
bahwa sebanyak 52,5 juta atau sekitar 23 persen penduduk dewasa Amerika Serikat
menderita rheumatoid arthritis.

Menurut Kalim, (2008) prevalensi rematik di kota Semarang sekitar 46% dan Bali
56%. Prevalensi rheumathoid arthtritis di Sumatera Utara sebanyak 22,2 % dari total
penduduk wilayah daerah (Nainggolan, 2011). Dinas Kesehatan Kab. Simalungun,
Pamatang Raya dari 10 penyakit terbanyak Reumathoid Arthritis merupakan angka
kejadian kedua terbesar setelah ISPA yang di derita pada lansia yakni sebanyak 829
kunjungan.

1
2

Menua (menjadi tua) merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan


kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Nugroho. W, 2000).

Seseorang yang sudah mengalami lanjut usia akan mengalami beberapa perubahan pada
tubuh/fisik, psikis/intelektual, sosial kemasyarakatan maupun secara spiritual atau
keyakinan. Salah satu perubahan tersebut terjadi pada Sistem Muskuloskletal dimana
tulang kehilangan cairan dan makin rapuh, tafosis, tubuh menjadi lebih pendek,
persendian membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan menjadi sklerosis, atrofi
serabut otot (Wahjudi Nugroho, 2000). Dengan meningkatnya usia fungsi otot dapat
dilatih dengan baik namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita rematik.
Bagaimana timbulnya kejadian reumathoid arthritis ini sampai sekarang belum
sepenuhnya dimengerti (Bjelle, 2004).

Berdasarkan kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap


sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada 3 keluhan utama pada
sistem Muskuloskeletal yaitu : nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya
tiga tanda utama yaitu : pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan gangguan gerak
(Divisi Geriatri Bagian/Smf Penyakit Dalam Rsup.H.Adam Malik Medan). Nyeri
adalah proses biologis, psikologis, dan sosial yang kompleks dan faktor penting yang
mempengaruhi fungsi dan kualitas hidup bagi individu dengan arthritis (Sridhor dkk,
2003).

Penatalaksanaan rasa nyeri yang direkomendasikan oleh World Health Organization


menganjurkan pengobatan nyeri pada lansia dilakukan secara konservatif dan bertahap
untuk mengurangi terjadinya efek samping (Kasran & Rina, 2006). Prinsip utama pada
penatalaksanaan rasa nyeri adalah menghilangkan serangan rasa nyeri. Manajemen
nyeri yang efektif bagi lansia dapat dilakukan dengan pendekatan secara farmakologik
dan non farmakologik (Kasran & Rina, 2006).

2
3

Tingginya prevalensi penyakit rheumathoid arthritis secara logis akan menimbulkan


implikasi peningkatan biaya kesehatan dan permasalahan lain yang timbul selain
masalah biaya ekonomi yang besar adalah efek samping yang diakibatkan pemakaian
obat-obat sintetis untuk reumathoid arthritis seperti golongan NSAID dan Steroid.
Perdarahan Saluran Makanan Bagian Atas (PSMBA) akibat obat-obat rematik dialami
oleh 1 dari 50 pasien pemakainya. Penelitian di RSCM pada tahun 2005 oleh Marcellus
Simadibrata dkk terhadap 1192 pasien PSMBA menunjukkan NSAID gastropathy
merupakan PSMBA tersering (70 %) (Dinas kesehatan Provinsi Sumatera utara, 2010 ).

Salah satu intervensi non farmakologi yang dapat dilakukan perawat secara mandiri
dalam menurunkan skala nyeri rheumathoid arhtritis yaitu dengan kompres jahe
(Santoso, 2013). Jahe (Zinger Officinale (L) Rosc) mempunyai manfaat yang beragam,
antara lain sebagai rempah, minyak atsiri, pemberi aroma, ataupun sebagai obat. Secara
tradisional, kegunaannya antara lain untuk mengobati rematik, asma, stroke, sakit gigi,
diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi ( Ali et al,
2008 dalam Hernani & Winarti, 2010). Beberapa komponen kimia jahe, seperti
gingerol, shogaol dan zingerone memberi efek farmakologi dan fisiologi seperti
antioksidan, anti inflamasi, analgesik, antikarsinogenik (stoilova et al.2007 dalam
Hernani & Winarti, 2010).

Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi sebagai enhancer yang
dapat meningkatkan permeabilitas oleoresin menembus kulit tanpa menyebabkan
iritasi atau kerusakan hingga ke sirkulasi perifer (Swarbrick dan Boylan, 2002).
Senyawa gingerol telah terbukti mempunyai aktivitas sebagai antipiretik, antitusif,
hipotensif anti inflamasi dan analgesik (Surch et al. 1999 dalam Hernani & Winarti,
2010)

Berdasarkan penelitian Nurul Fitriyah, FMIPA UI,2012 tentang “Efek Ekstrak Etanol
70% Rimpang Jahe Merah (Zingiber Officinale Rosc. Var Rubrum) Terhadap
Peningkatan Kepadatan Tulang Tikus Putih Betina RA (Rheumathoid Arthritis) Yang
Diinduksi oleh Complete Freund’s Adjuvant” dimana hasil penelitian menunjukkan

3
4

bahwa dosis 56 mg/200 g berat badan tikus ekstrak jahe merah memiliki persentase
penghambatan udem terbesar, setara dengan natrium diklofenak dosis 1 mg/200 g bb
tikus, dan ketiga dosis ekstrak jahe merah memiliki efek dalam meningkatkan kadar
kalsium tulang setara dengan natrium diklofenak dosis 1 mg/200 g berat badan tikus dan
kontrol normal.

Badan Pusat Statistik 2010 menyatakan bahwa pada tahun 2025 jumlah lansia akan
berkisar 34,22 juta jiwa hal ini akan mempengaruhi tingginya jumlah penderita
reumathoid artritis di Indonesia. Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan
bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia berjumlah 18,57 juta jiwa, meningkat
sekitar 7,93% dari tahun 2000 yang sebanyak 14,44 juta jiwa. Diperkirakan jumlah
lansia di Indonesia akan terus bertambah sekitar 450.000 jiwa per tahun. Dengan
demikian, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan sekitar 34,22 juta
jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010).

Data penderita rheumathoid arthtritis di lingkungan kerja puskesmas Helvetia pada


tahun 2018 yaitu sebanyak 470 penderita ( SP2TP Puskesmas Helvetia,2018) yang
mengeluh rasa nyeri baik pagi maupun malam serta efek samping dari penggunaan
obat-obat sintesis untuk rheumatoid arthritis dan tingginya komponen kimia jahe
seperti gingerol yang mampu memberi efek farmakologi dan fisiologi seperti
antiinflamasi dan analgesik. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk
meneliti seberapa besar pengaruh kompres jahe terhadap intensitas nyeri pada penderita
rheumathoid arthritis di lingkungan kerja Puskesmas Helvetia.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh kompres jahe
terhadap intensitas nyeri pada penderita rheumathoid arthritis di lingkungan kerja
Puskesmas Helvetia tahun 2019?”

4
5

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh kompres jahe terhadap intensitas nyeri pada penderita
rheumathoid arthritis usia diatas 40 tahun di lingkungan kerja Puskesmas
helvetia tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi data demografi : usia, jenis kelamin, pendidikan dan
pekerjaan penderita rhematoid arthritis di lingkungan kerja puskesmas
Helvetia tahun 2019.
b. Mengidentifikasi intensitas nyeri pada penderita rheumatoid arthritis pada
usia diatas 40 tahun sebelum dan sesudah dilakukan kompres jahe di
Lingkungan Kerja Puskesmas Helvetia tahun 2019.
c. Menganalisa perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan
kompres jahe pada penderita rheumatoid arthritis usia diatas 40 tahun di
Lingkungan Kerja Puskesmas Helvetia Tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Responden
Memberikan masukaan pengetahuan dalam mengatasi nyeri rheumathoid
arthritis, dimana responden dapat mandiri mengolah jahe sebagai terapi
komplementer dalam mengatasi nyeri rheumathoid arthritis.
2. Bagi Praktek Keperawatan
Memberikan masukan pengetahuan terapi komplementer dengan kompres
jahe yang dapat digunakan sebagai tindakan keperawatan baik di komunitas
maupun di rumah sakit untuk mengurangi intensitas nyeri pada penderita
rheumatoid arthritis.
3. Bagi Pendidikan Keperawatan
Memberikan masukan ilmiah kepada pendidik dan mahasiswa terhadap
manajemen nyeri pada kasus rheumatoid arthritis yaitu melalui kompres
jahe dapat dijadikan sebagai komplementer.

5
6

4. Peneliti Selanjutnya
Sebagai salah satu data dasar dalam pengembangan penelitian tentang
keefektifan kompres jahe terhadap penurunan intensitas nyeri pada penderita
rheumatoid arthritis.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Rheumatoid Arthritis


1. Definisi Rheumatoid Arthritis
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti
sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti
radang sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun
dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan,
sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan
kerusakan bagian dalam sendi (Gordon, 2002).

Rheumatoid arthtritis adalah penyakit yang menyerang persendian dan struktur


di sekitarnya (Puslitbang Biomrdis dan Farmasi Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2009)

Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan


manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
Terlibatnya sendi pada pasien-pasien rheumatoid artritis terjadi setelah
penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresivitasnya.

2. Klasifikasi Rheumatoid Arthritis


Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:
a. Rheumatoid arthritis clasik
Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.

b. Rheumatoid arthritis defisit


Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.

7
8

c. Probable rheumatoid arthritis


Pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.

d. Possible rheumatoid arthritis


Pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.

3. Etiologi Rheumatoid Arthritis


Penyebab penyakit rheumatoid arthritis belum diketahui secara pasti, namun
faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas (antigen-antibodi), faktor
metabolik, dan infeksi virus (Suratun, Heryati, Manurung & Raenah, 2008),
faktor resiko terjadinya rheumathoid artritis :
a. Faktor genetik
Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks
histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR
seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relative 4:1 untuk
menderita penyakit ini.
b. Faktor lingkungan termasuk infeksi oleh bakteri atau virus
Umumnya onset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan
disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok.
c. Faktor hormon estrogen
Sering dijumpai remisi pada wanita hamil menimbulkan dugaan
terdapatnya faktor ketidakseimbangan hormonal estrogen.
d. Faktor stress
Pada saat stress keluar heat shock protein (HSP) yang merupakan
sekelompok protein berukuran sedang (60-90 kDa) yang dibentuk oleh
seluruh spesies pada saat stress.
e. Penuaan
Seiring dengan bertambahnya usia, struktur anatomis dan fungsi organ
mulai mengalami kemunduran. Pada lansia, cairan synovial pada sendi
9

mulai berkurang sehingga pada saat pergerakan terjadi gesekan pada


tulang yang menyebabkan nyeri.
f. Inflamasi
Inflamasi meliputi serangkaian tahapan yang saling berkaitan. Antibodi
imunoglobulin membentuk komplek imun dengan antigen. Fagositosis
komplek imun akan dimulai dan menghasilkan reaksi inflamasi
(pembengkakan, nyeri serta edema pada sendi).
g. Degenerasi

4. Patofisiologi & Pathway


Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti
vaskuler, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.
Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi
kartilago. Panus masuk ke tulang subchondria. Jaringan granulasi menguat
karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuler.

Kartilago menjadi nekrosis, tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat


ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi
adhesi di antara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen
jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.
Invasi dari tulang subchondrial bisa menyebabkan osteoporosis setempat.

Lamanya rhematoid arthritis berbeda dari tiap orang ditandai dengan masa
adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Ada juga
klien terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan
rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif (Mujahidullah,
2012).
10

Inflamasi non-bakterial disebabkan


oleh infeksi, endokrin,
autoimun,metabolik, dan faktor
genetic, serta faktor lingkungan.

Arthtris Rheumathoid Gambaran khas


nodul subkutan

Kelainan pada Kelainan pada


Sinovitis Tenosinovilis tulang jaringan ekstra-
artikular

Hiperemia dan Invasi Erosi tulang &


Miopati Kelenjar
pembengkaka kolagen kerusakan pada Saraf
linfe
n tulang rawan
sistemik Inflamasi keluar
ekstra- artikular
Nekrosis dan Ruptur tendon Instabilitas dan
kerusakan secara parsial deformitas sendi Atrofi
dalam ruang atau total otot
sendi Splenomegali

Gangguan Anemia
Hambatan mekanis dan Osteoporosis
Nyeri mobilitas fungsional pada Kelemahan generalisata
fisik sendi fisik

Gambaran
khas nodul Neuropati
subkutan Perubahan perifer
Defisit Resiko
bentuk tubuh
perawatan trauma
pada tulang
diri
dan sendi
Gangguan
Sensorik
Perikarditis,
Kebutuhan miokarditis, dan
Ansietas Informasi radang katup jantung

Kegagalan fungsi
Gangguan konsep jantung
diri, citra diri

Skema 2.1 : Pathway Rheumatoid artritis (Chikoners, 2014)


11

5. Manifestasi Klinis
Kriteria rheumathoid arthritis menurut ARA (American Rheumatism
Association) (ARA, 1987; Daud, 2000).
a. Kaku pada pagi hari (morning stiffness)
Pasien merasa kaku pada persendian dan di sekitarnya sejak bangun
tidur sampai sekurang-kurangnya 1 jam sebelum perbaikan maksimal.
b. Artritis pada 3 daerah
Terjadi pembengkakan jaringan lunak atau persendian (soft tissue
swelling) atau lebih efusi, bukan pembesaran tulang (hipeerostosis).
Terjadi pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan dalam
observasi seorang dokter. Terdapat 14 persendian yang memenuhi
kriteria, yaitu interfalang proksimal, metakarpofalang, pergelangan
tangan, siku, pergelangan kaki, dan metatarsofalang kiri dan kanan.
c. Artritis pada persendian
Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian tangan
seperti tertera di atas.
d. Artritris Simetris
Maksudnya keterlibatan sendi yang sama ; tidak mutlak bersifat
simetris pada kedua sisi secara serentak (symmetrical polyarthritis
simultaneously).
e. Nodul reumatoid
Yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan
ektensor atau daerah jukstarartrikular dalan observasi seorang dokter.
f. Faktor rheumatoid serum positif.
Terdapat titer abnormal faktor reumathoid serum yang diperiksa
dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok
kontrol.
g. Terdapat perubahan gambaran radiologis yang khas
pada pemeriksaan sinar rontgen tangan posteroanterior atau
pergelangan tangan, yang harus menunjukkan adanya erosi atau
12

dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang


berdekatan dengan sendi.

6. Pemeriksaan Penunjang
Tidak banyak berperan dalam diagnosis rheumatoid arthritis, namun dapat
menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis pasien. Pada
pemeriksaan laboratorium terdapat :
a. Tes faktor reuma
Biasanya positif pada lebih dari 75% pasien artritis reumatoid terutama
bila masih aktif. Sisanya dapat dijumpai pada pasien lepra, tuberkulosis
paru, sirosis hepatis, hepatitis infeksiosa, lues, endokarditis bakterialis,
penyakit kolagen, dan sarkoidosis.
b. Protein C-reaktif biasanya positif
c. LED meningkat
d. Leukosit normal atau meningkat sedikit
e. Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik
f. Trombosit meningkat
g. Kadar albumin serum turun dan globulin naik
h. Pada pemeriksaan rontgen
Semua sendi dapat terkena, tapi yang tersering adalah sendi
metatarsofalang dan biasanya simetris. Sendi sakroiliaka juga sering
terkena. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan
demineralisasi juksta artikular. Kemudian terjadi penyempitan. (Kapita
Selekta Kedokteran, jilid 1, Edisi ketiga)

7. Penatalaksanaan
Kekurangan terapi farmakologi dari golongan analgesik dan antiinflamasi
seperti non steroidal anti inflamatory drugs (NSAID) dan disease modifyng
antirhematoid drugs (DMARD) dapat memperberat kondisi osteoarthritis/RA
karena konsumsi dalam jangka waktu yang lama merupakan faktor penyebab
morbiditas dan mortalitas utama (Brunner & Suddarth, 2010).
13

NSAID tidak memiliki khasiat yang dapat melindungi rawan sendi dan tulang
efek analgesiknya lemah, tidak menghentikan kerusakan muskuloskeletal
(WHO, 2010). Kekurangan terapi NSAID pada sistem organ yang lain dapat
menyebabkan erosi mukosa lambung, ruam atau erupsi kulit, menimbulkan
nekrosis papilar ginjal, gangguan fungsi trombosit dan meningkatkan tekanan
darah (Brunner & Suddarth, 2010).
a. Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang
akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan
pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama.
b. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) diberikan sejak dini untuk
mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang
dapat diberikan :
1) Aspirin
Pasien dibawah 65 tahun dapat mulai dengan dosis 3-4 x 1 g/hari,
kemudian dinaikkan 0,3-0,6 g per minggu sampai terjadi perbaikan
atau gejala toksik. Dosis terapi 20-30 mg/dl.
2) Ibuprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak, dan sebagainya
c. DMARD digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses
dekstruksi akibat reumathoid arthritis. Mula khasiatnya baru terlihat
setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka efektivitasnya
dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. Keputusan
penggunaannya bergantung pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter.
Umumnya segera diberikan setelah diagnosis reumathoid arthritis
ditegakkan, atau bila respon OAINS tidak baik, meski masih dalam status
tersangka.
Jenis-jenis yang digunakan adalah :
1) Klorokuin
Paling banyak digunakan karena harganya terjangkau, namun
efektivitasnya lebih rendah dibanding dengan yang lain. Dosis anjuran
klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.
Efek samping bergantunng pada dosis harian, berupa penurunan
14

ketajaman penglihatan, dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan


anemia hemolitik.
2) Sulfasalzin
Dalam bentuk tablet bersalut enterik digunakan dalam dosis 1x500
mg/hari, ditingkatkan 500 mg per minggu sampai mencapai dosis 4 x
500 mg. ssetelah remisi tercapai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g/
hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai remisi
sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini
dihentikan dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. Efek
sampingnya nausea, muntah dan dispepsia.
3) D-penisilamin
Kurang dipakai karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis
250-300 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan ssetiap 2-4 minggu
sebesar dosis 250-300 mg/hari untuk mencapai dosis total 4x 250-300
mg/hari. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria atau
mobiliformis, stomatitis, dan pemfigus.
4) Garam emas
Adalah gold standard bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi
meski sering timbul efek samping. Auro sodium tiomalat (AST)
diberikan intramuskular, dimulai dengan dosis percobaan pertama
sebesar 10 mg, seminggu kemudian disusul dosis kedua sebesar 20
mg. seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama
20 minggu. Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg
tiap dua minggu sampai tiga bulan. Jika diperlukan, dapat diberikan
dosis 50 mg setiap tiga minggu sampai keadaan remisi tercapai. Efek
samping berupa pruritus , stomatitis, proteinuria, trombositopenia,
aplasia sumsum tulang. Jenis yang lain adalah auranofin yang
diberikan dalam dosis 2x3 mg.
5) Obat imunosupresif atau imunoregulator
Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu mula kerjanya relatif
pendek dibandingkan dengan yang lain. Dosis harus ditingkatkan.
15

Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. Efek samping jarang


ditemukan. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masihh
dalam penelitian.
6) Kortikosteroid
Hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi
berat dan mengancam jiwa, seperti vaskulitis, karena obat ini memiliki
efek samping yang sangat berat. Dalam dosis rendah (seperti
prednison 5-7,5 mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai
bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD mulai
bekerja, yang kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan
suntikan kortikosterid intraartikular jika terdapat peradangan yang
berat. Sebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu.

d. Rehabilitasi
Bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya antar lain dengan
mengistirahatkan sendi yang terlibat; latihan, pemanasan dan sebagainya.
Fisioterapi dimulai segera setelah rasa sakit pada sendi berkurang atau
minimal. Bila tidak juga berhasil, mungkin diperlukan pertimbangan untuk
tindakan operatif. Sering pula diperlukan alat-alat. Karena itu, pengertian
tentang rehabilitasi termasuk:
1) Pemakaian alat bidai, tongkat/tongkat penyangga, walking machine,
kursi roda, sepatu dan alat.
2) Alat ortotik protek lainnya
3) Terapi mekanik
4) Pemanasan : baik hidroterapi maupun elektroterapi.
5) Occupational therapy

e. Pembedahan
Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta
terdapat alasan yang cukup kuat, dapat dilakukan pengobatan pembedahan.
Jenis pengobatn inni pada pasien artritis reumatoid umumnya bersifat
16

ortopedik, misalnya sinovektomi, artrodesis, total hip replacement,


memperbaiki deviasi ulnar dan sebagainya. (Kapita Selekta Kedokteran,
jilid 1, Edisi ketiga)

B. Konsep Nyeri
1. Definisi nyeri
International Association for Study of Pain (1979), mendefinisikan nyeri
sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang bersifat aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimmana terjadi
kerusakan.

Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak


menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan baik secara
aktual maupun potensial (Winscon Medical Journal 2003. Volume 102, No,7)

McCaffery (1980) menyatakan bahwa nyeri adalah segala sesuatu yang


dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja saat
seseorang mengatakan merasa nyeri.

2. Fisiologi Nyeri
Nyeri selalu dikaitkan dengan adanya stimulus (rangsang nyeri) dan reseptor.
Reseptor yang dimaksud adalah nosireseptor, yaitu ujung-ujung saraf bebas
pada kulit yang berespon terhadap stimulus yang kuat.

Reseptor nyeri merupakan sel-sel khusus yang mendeteksi perubahan-


perubahan partikular disekitarnya, reseptor ini dapat terbagi menjadi
exteroreseptor, Telereseptor, Propioseptor dan Interoseptor.
17

Stimulus nyeri : biologis, zat kimia, panas, listrik serta mekanik

Stimulus nyeri menstimulasi nosiseptor di perifer

Impuls nyeri diteruskan oleh serat afferen (A-delta & C) ke medulla spinalis melalui
dorsal horn

Impuls bersinapsis di substansia gelatinosa (lamina II dan III)

Impuls melewati traktus spinothalamus

Impuls masuk ke formatio retikularis Impuls langsung masuk ke thalamus


Fast Pain
Sistem limbik

Slow Pain

Skema 2.2 : Proses terjadinya nyeri (Prasetyo,2010)

3. Klasifikasi Nyeri
Berdasarkan awitan nyeri dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu nyeri akut dan
kronik.
a. Nyeri akut
Biasanya timbul secara mendadak dengan durasi yang singkat, terbatas dan
pada umumnya berhubungan dengan suatu lesi yang dapat diidentifikasi.
b. Sedangkan nyeri kronik
Sifatnya menetap dan melampaui batas kesembuhan penyakit dan biasanya
tidak ditemukan suatu penyakit atau kerusakan jaringan. Nyeri kronik pada
lansia dapat menyebabkan lansia sangat tergantung pada orang lain,
depresi dan kehilangan rasa percaya diri.
18

Menurut Potter & Perry (2005) ada beberapa macam klasifikasi nyeri
berdasarkan lokasi yakni:
1) Nyeri superficial/kutaneus (Nyeri akibat stimulasi kulit)
Karakteristik Nyeri berlangsung sebentar dan terlokalisasi. Nyeri
biasanya terasa sebagai sensasi yang tajam. Contoh penyebabnya :
Jarum suntik, luka potong kecil atau terserasi.
2) Viseral dalam Nyeri akibat stimulasi organ-organ internal
Nyeri bersifat difus dan dapat menyebar ke beberapa arah. Durasi
bervariasi tetapi biasanya berlangsung lebih lama daripada nyeri
superficial. Nyeri dapat terasa tajam, tumpul atau unik tergantung dari
organ yang terlibat.
3) Nyeri alih Terjadi pada nyeri visceral karena banyak organ-organ
yang tidak punya reseptor nyeri. Jalan masuk neuron sensoris dan
organ yang terkena kedalam segmen medulla spinalis sebagai neuron
dari tempat asal nyeri dirasakan, persepsi nyeri pada daerah yang tidak
terkena. Nyeri terasa dibagian tubuh yang terpisah dari sumber nyeri
dan dapat terasa dengan berbagai karakteristik
4) Radiasi
Sensasi nyeri meluas dari tempat awal cedera ke bagian tubuh yang
lain. Nyeri serasa akan menyebar ke bagian tubuh bawah atau
sepanjang bagian tubuh. Nyeri dapat bersifat intermitten atau konstan.
Nyeri punggung bagian tubuh akibat diskus intravertebral yang
rupture disertai nyeri yang meradiasi sepanjang tungkai dari iritasi
saraf.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri


Berger (1992) nyeri dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
a. Lingkungan
Lingkungan yang tidak nyaman akan memperkuat persepsi nyeri. Suasana
ribut, panas, dan kotor akan membuat pasien merasa intensitas nyerinya
lebih tinggi. Sebaliknya jika suasana tenang, nyaman, dan bersih akan
19

membantu menciptakan perasaan rileks sehingga rasa nyeri dapat


dikurangi. (Taylor, 1997).
b. Umur
Umur juga berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap nyeri. Anak-
anak dan orang tua mungkin lebih merasakan nyeri dibandingkan orang
dewasa muda karena mereka sering tidak dapat mengkomunikasikan apa
yang dirasakannya, sehingga kemungkinan perawat tidak dapat melakukan
pengukuran untuk menurunkan nyeri secara adekuat (Berger, 1992).
c. Kelelahan
Kelelahan dapat membuat orang merasakan nyeri lebih kuat. Hal ini
disebabkan karena kekurangan energi untuk melawan stimulus nyeri Lelah
juga mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap nyeri. Semakin
diterima rasa nyeri akan semakin berkurang begitu juga sebaliknya
(Alexander & Hill, 1987).
d. Riwayat sebelumnya
Riwayat sebelumnya berpengaruh tehadap persepsi seseorang tentang
nyeri. Orang yang sudah mempunyai pengalaman tentang nyeri akan lebih
siap menerima perasaan nyeri, sehingga dia akan merasakan nyeri lebih
ringan dari pengalaman pertamanya (Taylor, 1997).
e. Mekanisme pemecahan masalah
Mekanisme pemecahan masalah mempengaruhi perasaan nyeri seseorang.
Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk menurunkan rasa nyeri. Ini
sangat membantu orang tersebut untuk menurunkan nyerinya, misal
seseorang terbiasa membayangkan hal-hal yang menyenangkan untuk
mengalihkan perhatiannya terhadap nyeri (Berger, 1992).
f. Kepercayaan/agama
Kepercayaan/agama mempengaruhi persepsi seseorang terhadap nyeri.
Dalam agama tertentu, kesabaran adalah hal yang paling berharga di mata
Tuhan. Kadang-kadang nyeri dianggap sebagai peringatan sebagai
peringatan atas kesalahan yang telah dibuat sehingga orang tersebut
merasa pasrah dalam menghadapi nyeri (Taylor, 1997).
20

g. Budaya, dan
Budaya mempengaruhi bagaimana seseorang mengartikan nyeri,
bagaimana mereka memperlihatkan nyeri serta keputusan yang mereka
buat tentang nyeri yang dirasakannya. Masyarakat dalam suatu
kebudayaan mungkin merasa bangga bila tidak merasakan nyeri karena
mereka menganggap bahwa nyeri tersebut merupakan sesuatu yang dapat
ditahan (Berger, 1997).
h. Orang-orang yang memberi dukungan.
Adanya orang-orang yang memberi dukungan berpengaruh terhadap nyeri
yang dirasakannya, misalnya seorang anak tidak akan berfokus pada nyeri
yang dirasakannya jika ia berada didekat kedua orang tuanya (Taylor,
1997).

5. Penilaian Rasa Nyeri ( Pain Assessment)


Untuk pasien yang mengalami nyeri kronis maka pengkajian yang lebih baik
adalah dengan menfokuskan pengkajian pada dimensi perilaku, afektif, kognitif
(NIH, 1986; McGuire, 1992 dalam Prasetyo, 2010)

Terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan seorang perawat di


dalam memulai mengkaji respon nyeri yang dialami klien. (Donovan &
Girton,1984 dalam Prasetyo, 2010) mengidentifikasi komponen-komponen
tersebut, diantaranya :
a. Penentuan ada tidaknya nyeri
Dalam melakukan pengkajian terhadap nyeri, perawat harus mempercayai
ketika pasien melaporkan adanya nyeri walaupun dalam observasi perawat
tidak menemukan adanya cedera atau luka. Setiap nyeri yang dilaporkan
oleh klien adalah nnyata. Sebaliknya, ada beberapa pasien yang terkadang
justru menyembunnyikan rasa nyerinya untuk menghindari pengobatan.
21

b. Karakteristik nyeri (Metode P,Q,R,S,T)


1) Faktor pencetus (P: Provocate)
Perawat mengkaji tentang penyebab atau stimulus-stimulus nyeri pada
klien, apabila perawat mencurigai adanya nyeri psikogenik maka
perawat harus dapat mengeksplore perasaan klien dan menanyakan
perasaan-perasaan apa yang dapat mencetus nyeri
2) Kualitas (quality)
Kualitas nyeri merupakan sesuatu yang subjektif yang diungkapkan
oleh klien, seringkali klien mendeskripsikan nyeri dengan kalimat-
kalimat tajam, tumpul, berdenyut, berpindah-pindah, seperti tertindih,
perih, tertusuk dan lain-lain, dimana tiap-tiap klien mungkin berbeda-
beda dalam melaporkan kualitas nyeri yang dirasakan.
3) Lokasi (R: Region)
Untuk mengkaji lokasi nyeri maka perawat meminta klien untuk
menunjukkan semua bagian/ daerah yang dirasakan tidak nyaman
oleh klien. Untuk melokalisasi nyeri lebih spesifik, maka perawat
dapat meminta klien untuk melacak daerah nyeri dari titik yang paling
nyeri, kemungkinan hal ini akan sulit apabila nyeri yang dirasakan
bersifat difus (menyebar).
4) Keparahan (S: Severe)
Tingkat keparahan pasien tentang nyeri merupakan karakteristik yang
paling subjektif. Pada pengkajian ini klien diminta untuk
menggambarkan nyeri yang ia rasakan sebagai nyeri ringan, nyeri
sedang atau berat. Namun kesulitannya adalah makna dari istilah-
istilah ini berbeda bagi perawt dan klien serta tidak adanya batasan-
batasan khusus yang membedakan antara nyeri ringan, sedang dan
berat. Hal ini juga bisa disebabkan karena memang pengalaman nyeri
pada masing-masing individu berbeda-beda.
22

Visual Analog Scale (VAS)


Digunakan garis 10 cm batas antara daerah yang tidak sakit ke sebelah
kiri dan daerah batas yang paling sakit.

Tidak Sakit Nyeri paling hebat

Gambar 2.1 : Skala Analog Visual (VAS) (Prasetyo, 2010 )

Verbal Numerical Rating Scale (VNRS)


Sama dengan VAS hanya diberi skor 0-10 daerah yang paling sakit
dan kemudian diberi skala.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Nyeri Nyeri Ringan Nyeri Sedang Nyeri Hebat

Gambar 2.2 : Skala Intensitas Nyeri Numerik (0-10) ( McCaffery et al, 1989)

Grafik Verbal Rating Scale

Tidak ada Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Nyeri


nyeri sangat hebat
Gambar 2.3 : Skala Deskriptif Verbal (Prasetyo, 2010)
23

Gambar 2.4 : Skala nyeri wajah Wong & Baker (Kozier & Erb, 2009)

Jika klien mengerti dalam penggunaan skala dan dapat menjawabnya


serta gambaran-gambaran yang diungkapkan atau ditunjukan padanya
dapat diseleksi dengan hati–hati, maka setiap instrument tersebut
dapat menjadi valid dan dapat dipercaya (Potter & Perry, 2005).

5) Durasi (T : Time)
Perawat menanyakan pada pasien untuk menentukan awitan, durasi,
dan rangkaian nyeri. Perawat menyakan : “Kapan nyeri mulai
dirasakan?”, “Sudah berapa lama nyeri dirasakan?”, “Apakah nyeri
yang dirasakan terjadi pada waktu yang sama setiap hari?”, “Seberapa
sering nyeri kambuh?” atau dengan kata-kata lain yang semakna.

6) Faktor yang memperberat/memperingan nyeri.


Perawat perlu mengkaji faktor-faktor yang dapat meperberat nyeri
pasien, misalnya peningkatan aktivitas, perubahan suhu, stres dan
yang lainnya, sehingga dengan demikian perawat dapat memberi
tindakan yang tepat untuk menghindari peningkatan respon nyeri pada
klien. Demikian halnya perawat perlu mengetahui apakah klien
mempunyai cara-cara sendiri yang efektif untuk menghilangkan atau
menurunkan nyerinya, seperti mengubah posisi, melakukan tindakan
ritual, menggosok/massage bagian tubuh yang sakit, meditasi , atau
24

mengompres bagian tubuh yang nyeri dengan kompres dingin atau


hangat.

c. Respon fisiologis
Pada saat impuls nyeri naik ke medulla spinalis menuju ke batang otak dan
thalamus, sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dari
respon stres, stimulasi pada cabang simpatis pada sistem saraf otonom
menghasilkan respon fisiologi.

Respon fisiologis terhadap Nyeri


Respon simpatik Peningkatan frekuensi pernapasan
Dilatasi saluran bronkiolus
Peninngkatan frekuensi denyut jantung
Vasokontriksi perifer (Pucat, peningkatan tekanan darah)
Peningkatan kadar glukosa darah
Diaforesis
Peningkatan tegangan otot
Dilatasi pupil
Penurunan motilitas saluran cerna
Respon parasimpatik Pucat
Ketegangan otot
Penurunan denyut jantung tau tekanan darah
Pernapasan cepat dan tidak teratur
Mual muntah
Kelemahan atau kelelahan

Tabel 2.1 : Respon Fisiologis terhadap Nyeri (Prasetyo, 2010)

Perawat perlu mengkaji klien berkaitan dengan adanya perubahan-


perubahan pada respon fisiologis terhadap nyeri di atas untuk mendukung
diagnosa dan membantu dalam memberikan terapi yang tepat.
25

d. Respon prilaku
Respon prilaku terhadap nyeri yang biasa ditunjukkan oleh pasien antara
lain : merubah posisi tubuh, menngusap bagian yang sakit, menopang
bagian nyeri yang sakit, menggeretakkan gigi, menunjukkan ekspresi
wajah meringis, mengerutkan alis, ekspresi verbal menangis, mengerang,
mengaduh, menjerit, meraung.

e. Respon Afektif
Respon afektif juga perlu diperhatikan oleh seorang perawat dalam
melakukan pengkajian. Ansietas (kecemasan) perlu digali dengan
menanyakan pada pasien.

f. Pengaruh nyeri terhadap kehidupan klien


Klien yang merasakan nyeri setiap hari akan mengalami gangguan dalam
kegiatan sehari-harinya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui
sejauh mana kemampuan klien dalam berpartisipasi terhadap kegiatan-
kegiatan sehari-hari, sehingga perawat juga mengetahui sejauh mana ia
dapat membantu progran aktivitas pasien. Perubahan-perubahan yang
perlu dikaji antara lain : perubahan pola tidur (apakah nyeri mengganggu
pola tidur klien), pengaruh nyeri pada aktivitas sehari-hari misal : makan,
minum, mandi BAK atau BAB, serta perubahan pola interaksi terhadap
orang lain (apakah nyeri mengganggu dalam berinteraksi terhadap orang
disekitarnya).

g. Persepsi klien tentang nyeri


Dalam hal ini perawat perlu mengkaji persepsi klien terhadap nyeri,
bagaimana klien mengghubungkan antara nyeri yang ia alami dengan
proses penyakut atau hal lain dalam diri atau lingkungan disekitarnya.
26

h. Mekanisme adaptasi klien terhadap nyeri


Terkadang individu memiliki cara masing-masing dalam beradaptasi
terhadap nyeri. Perawat dalam hal ini perlu mengkaji cara-cara apa saja
yang biasa klien gunakan untuk menurunkan nyeri yang ia alami, mengkaji
keefektifan cara tersebut dan apakah bisa digunakan saat klien menjalani
perawatan di rumah sakit. Apabila cara tersebut dapat digunakan, perawat
dapat memasukkannya dalam rencana tindakan.

6. Penatalaksanaan Rasa Nyeri Pada Lansia


Walaupun lansia lebih banyak mengalami rasa nyeri dibandingkan populasi
lainnya, namun laporan rasa nyeri pada lansia seringkali lebih rendah dan
pengobatannya tidak adekuat. Keadaan komorbid seringkali terjadi pada lansia.
Banyak penderita berusia lebih dari 65 tahun menderita penyakit non-reumatik
seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes, hipertensi dan penyakit ginjal yang
membatasi aktifitas fungsional.

Pada tahun 1998, American Geriatrics Society mempublikasikan pedoman


praktek klinik untuk penatalaksanaan rasa nyeri kronik pada lansia. Sejak itu
banyak kemajuan penting dalam bidang farmakologi dan strategi untuk menilai
serta mengelola rasa nyeri pada lansia. Prinsip utama pada penatalaksanaan
rasa nyeri adalah menghilangkan serangan rasa nyeri. Penatalaksanaan nyeri
yang efektif bagi lansia terdiri dari pendekatan secara farmakologik dan non-
farmafologik.
a. Pendekatan farmakologik
Lansia sangat rentan untuk mengalami efek samping suatu pengobatan,
oleh karena itu pada pemberian obat untuk mengobati rasa nyeri perlu
diperhatikan dosis yang akan diminum. Usia berhubungan erat dengan
efek metabolisme obat di dalam tubuh, jadi pemberian obat pada lansia
harus dilakukan dengan hati-hati.
27

World Health Organization (WHO) mengembangkan pendekatan secara


medikasi untuk mengontrolrasa nyeri pada penderita kanker yang ternyata
bermanfat pula bagi penderita rasa nyeri lainnya. Protokol WHO
menganjurkan penatalaksaan rasa nyeri dilakukan secara konservatif dan
bertahap untuk mengurangi terjadinya efek samping. Selanjutnya pasien
diberikan pengobatan bila obat yang diberikan pada tahap awal tidak
efektif. Pendekatan secara “tangga analgesik” (analgesic ladder) diawali
dengan pemberian nonopioid analgesik asetaminofen, siklo-oksigenase 2
(CO-2) inhibitor dan obat anti inflamatori non steroid
(OAINS/nonsteroidal anti-inflammatory drugs/NSAIDs).

Gambar 2.5 : Tangga Analgesik WHO (Prasetyo, 2010)

Asetaminofen merupakan pilihan utama untuk mengobati rasa nyeri ringan


sampai sedang pada lansia dan pemberiannya harus dibatasi. Misalkan
pemberian asetaminofen 4000 mg sehari (dosis 4 kali 1000mg) dalam
jangka lama dapat menimbulkan gangguan pada hepar. Penggunaan
28

OAINS jangka panjang harus dihindari karena seringkali terjadi efek


samping misalnya perdarahan gastrointestinal dan gangguan fungsi ginjal.
Bila diperlukan dapat diberikan pengobatan adjuvan (adjuvant
medications) untuk mengobati rasa nyeri kronik pada lansia seperti
golongan steroid, antikonvulsan, anestesi lokal topikal dan antidepresan
(Kasran & Kusumaratna, 2006)

Pada “tangga kedua” bila rasa nyeri sedang sampai berat asetaminofen
dapat ditambah golongan opioid (hidrokodon, oksikodon, kodein) dan
tramadol. Tramadol dapat digunakan pada lansia yang mengalami
gangguan gastrointesital (konstipasi) dan ginjal Bila digunakan golongan
opioid maka dosis asetaminofen atau oksikodon dapat diturunkan (Kasran
& Kusumaratna, 2006).

Pengobatan secara topikal dapat pula digunakan untuk mengurangi rasa


nyeri yang bersifat neuropatik atau sindrome rasa nyeri kompleks regional
Lidokain 5% secara topikal sangat bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri
yang terjadi pada postherpetic neuralgia. Preparat topikal aspirin,
kapsaisin, antidepresan trisiklik, lidokain, OAINS dan opioids dapat
mengurangi rasa nyeri terutama gangguan muskuloskeletal (Kasran &
Kusumaratna, 2006).

Untuk mengobati rasa nyeri yang berat (“tangga analgesik” ketiga) dapat
digunakan obat golongan opioid. Sebuah studi di Amerika Serikat tentang
strategi untuk mengobati rasa nyeri pada lansia menunjukkan penggunaan
obat analgesik merupakan strategi yang paling banyak digunakan. Obat-
obat yang digunakan adalah golongan asetaminofen, aspirin, COX-2
inhibitors dan opioids. Beberapa penulis menambahkan dan memodifikasi
menjadi empat “tangga pengobatan” yaitu dengan prosedur intervensi
seperti blok sistem saraf, pembedahan, prosedur operatif, dan pengobatan
29

perilaku kognitif bagi penderita dengan rasa nyeri yang tidak dapat
dikendalikan (Kasran & Kusumaratna, 2006).

Prosedur lain untuk mengurangi rasa nyeri dengan menggunakan neural


ablation dapat mengurangi atau menghilangkan ketergantungan pada
golongan analgesik opioid. Termasuk teknik neural ablation adalah dengan
menyuntikkan alkohol atau fenol, krioanalgesik atau tindakan operatif
pada jalur nociceptive. Namun penelitian menunjukkan pengobatan
operatif dengan blok saraf tidak efektif untuk mengobati rasa nyeri kronik
pada lansia.

Interpretasi dari prosedur intervensi ini sudah menerima banyak kritik dari
berbagai studi dan perlu dikaji lebih lanjut. Polifarmasi dan frekuensi
kondisi “komorbid” pada lansia merupakan faktor utama yang harus
dipertimbangkan ketika membuat keputusan dalam pemberian obat
sebagai terapi rasa nyeri. Monitoring harus dilakukan secara seksama pada
pasien lansia yang memperoleh pengobatan multipel tidak saja untuk
menilai efektivitas pengobatan tetapi juga memonitor kemungkinan
muncul reaksi efek samping dari pengobatan yang diperoleh (Kasran &
Kusumaratna, 2006).

b. Pendekatan Non Farmakologi


Walaupun pendekatan secara farmakologik lebih banyak digunakan dalam
penatalaksaan rasa nyeri, intervensi secara non-farmakologik merupakan
strategi yang harus dimasukkan pada penatalaksanaan rasa nyeri kronik
pada lansia. Pendekatan non-farmakalogik merupakan pengobatan yang
efektif untuk rasa nyeri yang ringan dan sedikit terjadi efek samping
(Kasran & Kusumaratna, 2006).

Teknik mengurangi stres (stressreduction), konseling psikososial dan


terapi fisik/pekerjaan (physical/occupational), transcutaneous electric
30

nerve stimulation (TENS), akupuntur dan olahraga teratur bermanfaat


untuk mengobati rasa nyeri kronik (Kasran & Kusumaratna, 2006).

Pengobatan alternatif komplementer (complementary and alternative


medication/ CAM) dapat pula diberikan, terutama bagi penderita yang
menyukainya (Kasran & Kusumaratna, 2006). Pendidikan pada pasien dan
pendampingnya dalam penatalaksanaan rasa nyeri sangat diperlukan dan
efektivitas dari program ini dalam meningkatkan penanganan rasa nyeri
telah dilaporkan.

Pendidikan dapat diberikan secara perorangan atau kelompok dengan


menggunakan media cetak untuk mendorong pasien dan pendampingnya
memahami bahwa penanganan rasa nyeri meliputi terapi secara
farmakologik dan nonfarmakologik (Kasran & Kusumaratna, 2006).
Kegagalan untuk mengobati rasa nyeri pada lansia seringkali terjadi bila
edukasi pada penderita dan pendampingnya tidak cukup memadai.
Penderita dengan rasa nyeri kronik tidak hanya disarankan untuk
meningkatkan kekuatan otot dan mencegah terjadinya disfungsi, tetapi
diperkenalkan pula penggunaan terapi panas, dingin atau mengurut
(massage) (Kasran & Kusumaratna, 2006).

C. Konsep Jahe
1. Definisi Jahe
Tanaman jahe (Zingiber officinale) telah lama dikenal dan tumbuh baik di
indonesia. Jahe merupakan salah satu rempah-rempah penting. Rimpangnya
sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa
pada makanan seperti roti, kue, biscuit, kembang gula dan berbagai minuman.
Jahe adalah tumbuhan tahunan dengan tinggi 50-100 cm. Tumbuhan ini
memiliki rimpang tebal berwarna coklat kemerahan. Daunnya sempit berbentuk
lanset dengan panjang tangaki 10-25 cm dan terdapat daun kecil pada dasar
bunga. Mahkota bunga bentuk corong, panjang 2-2,5 cm, berwarna ungu tua
31

dengan bercak krem-kuning. Kelopak bunga kecil, berbentuk tabung dan


bergerigi tiga (Ross, 1999).

Berdasarkan bentuk, warna dan ukuran rimpang, ada 3 jenis jahe yang dikenal,
yaitu jahe putih besar/jahe badak, jahe putih kecil atau emprit dan jahe sunti atau
merah secara umum ketiga jahe tersebut mengandung pati, minyak atsiri, serat,
sejumlah kecil protein, vitamin, mineral, dan enzim proteolik yang disebut
Zingibain (Denyer et al 1994 dalam Hernani dan Winarti, 2010).

Tanaman jahe memiliki beberapa sebutan, antara lain gember (Aceh), halia
(Gayo). Goraka (Manado). halia, sipadao (Minangkabau), lai (Sunda), jahe
(Jahe), jae (Madura), lia tana’,lia (Gorontalo), gihoro, gisoro (Ternate). (Heyne,
1987). Di luar negeri dikenal dengan nama ginger, red ginger (Inggris), sunthi
(Kanada), adrak, sunthi (Hindi) Djahe (Belanda) (Ross,1999; Khare, 2007).

2. Kandungan Kimia
Jahe mengandung minyak atsiri (1-3%), oleoresin, dan protease. Oleoresin jahe
mengandung banyak zat aktif dan sebagian besar memberikan efek rasa pedas,
yaitu gingerol (Monografi ekstrak, 2004 ; Singh, Kpoor, Singh, P., Heluani,
Lampasona, & Catalan, 2008) Minyak atsirinya terdiri dari monoterpen seperti
geranial (citral a) dan neral (citral b) dan sesquiterpen seperti bisabolone,
zingiberen dan sesquithujen. Gingerol, shogaol, dan paradol merupakan senyawa
identitas dalam jahe merah yang dikenal memiiki berbagai macam aktivitas
biologis termasuk sebagai antiinflamasi, shogaol dan zingeron banyak terdapat
pada jahe yang sudah menjadi serbuk, sebaliiknya jumlahnya sedikit pada jahe
yang masih segar. Gingerol memiliki gugus fenol yang bersifat termolabil,
sehingga bila terkena panas dan udara maka akan berubah menjadi shogaol dan
zingerol. Shogaol bisa berubah menjadi paradol (Sing et all, 2008).

Kandungan jahe bermanfaat untuk mengurangi nyeri osteoarthritis karena jahe


memiliki sifat pedas, pahit dan aromatic dari oleoresin seperti zingeron, gingerol
32

dan shogaol. Oleoresin memiliki potensi antiinflamasi dan antioksidan yang


kuat. Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi sebagai
enhancer yang dapat meningkatkan permeabilitas oleoresin menembus kulit
tanpa menyebabkan iritasi atau kerusakan hingga sirkulasi perifer (Swarbrick
dan Boylan, 2002)

Hasil penelitian Nasuda et al.1995 dan Kim et all. 2005 menyatakan bahwa
senyawa antioksidan alami dalam jahe cukup tinggi. Beberapa senyawa,
termasuk gingenol, shagaol dan zingeron memberikan aktivitas farmakologi dan
fisiologis seperti efek antioksidan, anti inflamasi, analgesik, antikarsinogenik
dan kondiokton.

Penelitian tentang manfaat jahe adalah Jolad, (2004) meneliti kandungan rizoma
jahe segar dan Wohlmuth, (2005) meneliti kandungan zat aktifnya dari oleoresin
yang terdiri dari giingerol, sungaol dan zingeberence yang merupakan homolog
dari fenol melalui proses pemanasan. Degradasi panas dari gingerol menjadi
gingerone, shogaol dan kandungan lain terbentuk dengan pemanasan rimpang
kering dan segar pada suhu pelarut air 100𝑜 C (Badreldin, 2007). Komponen jahe
mampu menekan inflamasi dan mampu mengatur proses biokimia yang
mengaktifkan inflamasi akut dan kronis seperti osteoarthritis dengan menekkan
pro-inflamasi sitokinin dan cemokin yang diproduksi oleh sinoviosit, condrosite,
leukosit dan jahe ditemukan secara efektif menghambat ekspresi cemokin (Phan,
2005).

3. Kegunaan
Jahe memiliki banyak kegunaan. Penelitian untuk menguji aktivitas farmakologi
maupun untuk mengisolasi komponen aktif sudah banyak dilakukan dan
semakin berkembang. Pada pengobatan tradisional China dan India, jahe merah
digunakan untuk mengatasi penyakit batuk, diare, mual, asma, gangguan
pernapasan, sakit gigi, dan arthritis reumatoid, dyspepsia, dan morning sickness.
Beberapa efek farmakologi yang sudah diuji baik pada hewan coba maupun
33

secara in vitro adalah anti oksidan, antiemetik, antikanker, antinfalamasi akut


maupun kronik, antipireti, dan analgesik (Joanne, Anderson, Phillipson, 2007;
Ross,1999)

D. Kompres Jahe
Kompres jahe dapat menurunkan nyeri reumathoid artritis (Santoso, 2013).
Mengompres berarti memberikan rasa hangat pada klien dengan menggunakan
cairan atau alat yang menimbulkan rasa hangat pada bagian tubuh tertentu yang
memerlukannya (Poltekes Kemenkes maluku, 2011 dalam Fanada, 2012).

Komponen utama dari jahe segar adalah senyawa homolog fenolik keton yang
dikenal sebagai gingerol. Pada suhu tinggi gingerol akan berubah menjadi shogaol
yang memiliki efek panas dan pedas dibanding gingerol (Misrah, 2009). Efek panas
dan pedas pada jahe inilah yang dapat meredakan nyeri, kaku dan spasme otot pada
arthritis reumatoid. Sehingga jahe juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit,
jahe juga banyak mempunyai khasiat seperti antihelmetik, antirematik, dan peluruh
masuk angin. Jahe mempunyai efek untuk menurunkan sensasi nyeri juga
meningkatkan proses penyembuhan jaringan yang mengalami kerusakan,
penggunaan panas pada jahe selain memberikan reaksi fisiologis, antara lain :
meningkatkan respon inflamasi (Utami, 2005).
34

E. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen


Kompres jahe Intensitas Nyeri
Reumathoid Artritis

Variabel Confounding

1. Lingkungan
2. Kelelahan
3. Riwayat penyakit sebelumnya
4. Kepercayaan/agama
5. Budaya
6. Orang-orang yang memberi dukungan

Skema 2.3 : Kerangka konsep penelitian intensitas nyeri rheumathoid arthritis

Keterangan :
: Diteliti
: Tidak Diteliti

F. Hipotesis Penelitian
Ha : Ada pengaruh kompres jahe terhadap intensitas nyeri pada penderita
rheumatoid arthritis usia diatas 40 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Helvetia.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian quasy eksperiment atau percobaan dimana
kegiatan percobaan bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang
timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan One Group pretest-postest,


dimana rancangan ini tidak memiliki kelompok pembanding (kontrol) tetapi
dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti menguji
perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (Pratiknya, 2011)

Pretest Perlakuan Post test

01 P 02

Skema 3.1 : Bentuk rancangan penelitian One Group Pretest-postest


(Pratiknya, 2011)
Keterangan :
01 : Sebelum Kompres (Pre-test)
P : Pemberian Kompres
02 : Sesudah Kompres (Post-test)
01-02 : Perbedaan nyeri sebelum dan sesudah perlakuan

B. Lokasi dan waktu penelitian


1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Lingkungan Kerja Puskesmas Helvetia, dimana
penduduk yang berada di wilayah kerja puskesmas Helvetia khususnya
penduduk usia diatas 40 tahun menderita reumathoid artritis.

35
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan januari 2019

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang sudah didiagnosa dokter
menderita Reumathoid Arthritis di lingkungan kerja Puskesmas Helvetia tahun 2018
sebanyak 470 jiwa terhitung sejak Januari-Desember 2014.

2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah penderita dengan nyeri rheumathoid arthtritis usia
diatas 40 tahun di lingkungan kerja Puskesmas helvetia sejak 2018. Adapun
pengambilan sample pada penelitian ini dengan teknik Purposive Sampling dengan
rumus sampel tunggal untuk perkiraan rerata (Sastromoro, 2010).
𝑍𝛼 𝑥 𝑆
𝑛=[ ]²
𝑑
Rumus sampel tunggal perkiraan rerata (Sastroasmoro, 2010)

Keterangan :
n : Besar sampel
𝑍𝑎 : Nilai Z pada derajat kemaknaan (Biasanya 90% = 1,28)
S : Simpang baku nilai rerata dalam populasi, s (dari pustaka)
d : Tingkat ketepatan absolut yang diinginkan : 10% (0,10), 5% (0,05)
atau 1% (0,01)

1,28 𝑥 0,410
𝑛=[ ]²
0,1
0,5248
𝑛=[ ]²
0,1
𝑛 = [5,248]²
𝑛 = 27,5 + (10 % 𝑥 27,5 )
𝑛 = 27,5 + 2,75
𝑛 = 30

36
Jadi sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 30 responden, dengan kriteria sebagai
berikut :
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian yang memenuhi
syarat sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012 ). Kriteria dalam penelitian ini
adalah :
1) Berusia diatas 40 tahun yang menderita penyakit reumathoid arthritis.
2) Pasien dengan intensitas nyeri 1- 6.
3) Dapat berkomunikasi dengan baik.
4) Sedang tidak mengkonsumsi obat RA.
b. Kriteria eksklusi
1) Pasien tidak berada dilokasi pada saat penelitian dilakukan.
2) Menderita komplikasi penyakit lain.
3) Tidak bersedia menjadi responden.
4) Tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

D. Metode Pengumpulan Data


1. Data primer
Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan menggunakan lembar
wawancara serta observasi menggunakan lembar observasi intensitas nyeri pretest dan
postest dengan skala intensitas nyeri numerik (0-10). Adapun waktu pemberian
intervensi adalah 20 menit dan 20 menit setelah intervensi intensitas nyeri diukur
kembali.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari bagian SP2TP Puskesmas Helvetia, 2018.

E. Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana caranya
menentukan variabel dan mengukur suatu variabel, sehingga defenisi operasional ini
merupakan suatu informasi ilmiah yang akan membantu peneliti lain yang ingin
menggunakan variabel yang sama (Setiadi, 2007).

37
No Variabel Defenisi Cara Hasil Skala
Pengukuran Ukur Ukur
1 Independen: Memberikan rasa nyaman pada SOP Dilakukan Nominal
Kompres klien yang merasakan nyeri
jahe dengan menggunakan jahe
sebanyak 20 gr, jahe segar dikupas
dan dibersihkan kemudian diparut
dan tempel jahe ke daerah sendi
yang sakit selama 20 menit lalu
ukur intensitas nyeri setelah 20
menit itervensi kompres. lakukan
pengompresan jahe setiap nyeri
menyerang.
2 Dependen : Tingkat ketidaknyamanan pada Observasi 0 Rasio
Skala Nyeri daerah sendi yang dirasakan 1
seseorang yang bersifat aktual 2
atau potensial akibat terjadinya 3
kerusakan jaringan. 4
5
6
7
8
9
10
Tabel 3.1 : Defenisi Operasional

F. Aspek Pengukuran
Penelitian ini tidak menggunakan uji validitas dan reliabilitas instrument. Adapun aspek
pengukuran pada penelitian ini menggunakan lembar observasi nyeri dengan skala intensitas
nyeri numberik ( 0 – 10 ).

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Gambar 3.1 Aspek pengukuran Skala Intensitas Nyeri Numerik


( McCaffery et al, 1989)
G. Etika Penelitian
Sebelumnya peneliti mendapatkan izin dari Kepala Puskesmas Tiga Balata. Sebelum
melakukan penelitian, peneliti menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian kepada
responden, serta kerahasiaan data yang diberikan. Responden berhak untuk menerima dan
menolak untuk menjadi responden dalam penelitian. Bila calon menyetujui menjadi
responden, maka peneliti meminta responden untuk menandatangani persetujuan yang telah

38
disediakan. Setelah mendapat persetujuan peneliti melakukan penelitian dengan etika peneliti
meliputi :
1. Lembar persetujuan (Informed Consent).
Sebelum kompres hangat dilakukan, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan
peneliti kepada responden yang memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Setelah
mendapat persetujuan dari responden baru peneliti mulai melakukan penelitian
dengan melakukan kompres hangat jahe.
2. Tanpa nama (Anonymity)
Tidak mencantumkan nama responden dalam lembar wawancara yang digunakan,
tetapi menukarnya dengan kode inisial nama responden, termasuk dalam penyajian
hasil penelitian.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi tersebut dijamin oleh peneliti, hanya kelompok dan tertentu
saja yang disajikan atau dilaporkan hasil penelitian (Notoatmodjo, 2012).

H. Pengolahan Data
1. Editing
Setelah selesai melakukan penelitian, maka lembar wawancara demografi dan lembar
observasi dikumpulkan dan peneliti melakukan pemeriksaan ulang dari lembar
wawancara demografi dan observasi dengan benar dan tidak ada tertinggal satu
kuisionerpun.

2. Coding
Mengubah data responden dan hasil wawancara demografi tersebut yakni dengan
memberi pengkodean (Bilangan) seperti Jenis Kelamin “Laki-Laki” diberi kode 1,
“Perempuan” diberi kode 2, Pendidikan “SD” diberi kode 1, “SMP” diberi kode 2,
“SMA” diberi kode 3, “D3/S1” diberi kode 4, dan Pekerjaan “Karyawan” diberi kode 1,
“Petani” diberi kode 2, “Pegawai” diberi kode 3.
3. Entry data
Setelah peneliti mengubah data responden dan hasil observasi kedalam bentuk angka
(Kode), selanjutnya peneliti memasukkan data tersebut kedalam program computer
yaitu dalam bentuk master tabel.

39
4. Tabulating
Selanjutnya peneliti memasukkan data tersebut kedalam bentuk distribusi frekuensi
tabel-tabel sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan peneliti untuk
mempermudah pengolahan data berikutnya.

I. Metode Analisa Data


1. Analisis univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mengidentifikasi data demografi seperti usia,
jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan penderita rheumathoid arthritis yang
mengalami nyeri di lingkungan kerja puskesmas Helvetia 2019.
2. Analisis Bivariat
Analisa bivariat dalam penelitian ini digunakan untuk melihat perbedaan antara
variabel dependen sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan dengan mengunakan
uji t-paired jika data berdistribusi normal, dan dari uji normalitas Shapiro Wilk
diketahui bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal dengan nilai p =
0,00 data dikatakan normal apabila nila p > 0,5 sehingga untuk analisa bivariat pada
penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon.

40